Anda di halaman 1dari 49

REFERAT

GIZI DAN DIET

Penyusun:
dr. Ayu Fitriani
dr. Lucky Ariesandi
dr. Nevi Yulitasari
dr. Rahman Wahyudin

Pembimbing:
dr. Rizki Aliana, Sp. PD

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TALANG UBI


KABUPATEN PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR
Pola Makan Pada Penderita Diabetes Mellitus

Pola makan adalah makanan yang seimbang antara zat gizi karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral. Makanan yang seimbang adalah makanan yang
tidak mementingkan salah satu zat gizi tertentu dan dikonsumsi sesuai dengan
kebutuhan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pola diartikan sebagai suatu sistem,
cara kerja atau usaha untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian pola makan dapat
diartikan sebagai suatu cara untuk melakukan kegiatan makan secara sehat.

Pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis
makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi,
mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Pola makan sehari-hari merupakan
pola makan seseorang yang berhubungan dengan kebiasaan makan setiap harinya
Pengaturan makan merupakan pilar utama dalam pengelolaan diabetes
mellitus, namun penderita diabetes mellitus sering memperoleh sumber informasi
yang kurang tepat yang dapat merugikan penderita tersebut, seperti penderita tidak
lagi menikmati makanan kesukaan mereka. Sebenarnya anjuran makan pada penderita
diabetes mellitus sama dengan anjuran makan sehat umumnya yaitu makan menu
seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori masing-masing penderita diabetes
mellitus

2
Pengaturan diet pada penderita diabetes mellitus merupakan pengobatan yang
utama pada penatalaksanaan diabetes mellitus yaitu mencakup pengaturan dalam:

2.7.1. Jumlah Makanan

Syarat kebutuhan kalori untuk penderita diabetes mellitus harus sesuai untuk
mencapai kadar glukosa normal dan mempertahankan berat badan normal. Komposisi
energi adalah 60-70 % dari karbohidrat, 10-15 % dari protein, 2025 % dari lemak.
Makanlah aneka ragam makanan yang mengandung sumber zat tenaga, sumber zat
pembangun serta zat pengatur.
a. Makanan sumber zat tenaga mengandung zat gizi karbohidrat, lemak dan
protein yang bersumber dari nasi serta penggantinya seperti: roti, mie, kentang
dan lain-lain.
b. Makanan sumber zat pembangun mengandung zat gizi protein dan mineral.
Makanan sumber zat pembangun seperti kacang-kacangan, tempe, tahu, telur,
ikan, ayam, daging, susu, keju dan lain-lain.
c. Makanan sumber zat pengatur mengandung vitamin dan mineral. Makanan

sumber zat pengatur antara lain: sayuran dan buah-buahan.

Ada beberapa jenis diet dan jumlah kalori untuk penderita diabetes mellitus
menurut kandungan energi, karbohidrat, protein dan lemak.

3
Table 1. Jenis Diet Diabetes Mellitus Menurut Kandungan Energi, Karbohidrat,
Protein dan Lemak

Jenis Diet Energi (kal) Karbohidrat (g) Protein (g) Lemak (g)
I 1100 172 43 30
II 1300 192 45 35
III 1500 235 51,5 36,5
IV 1700 275 55,5 36,5
V 1900 299 60 48
VI 2100 319 62 53
VII 2300 369 73 59
VIII 2500 396 80 62
Sumber: Almatsier, 2006

Keterangan:

- Jenis diet I s/d III diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk.

- Jenis diet IV s/d V diberikan kepada penderita diabetes tanpa komplikasi.

- Jenis diet VI s/d VIII diberikan kepada penderita kurus, diabetes remaja
(juvenile diabetes) atau diabetes dengan komplikasi.

2. Jenis Bahan Makanan

Banyak yang beranggapan bahwa penderita diabetes mellitus harus makan


makanan khusus, anggapan tersebut tidak selalu benar karena tujuan utamanya adalah
menjaga kadar glukosa darah pada batas normal. Untuk itu sangat penting bagi kita
terutama penderita diabetes mellitus untuk mengetahui efek dari makanan pada
glukosa darah. Jenis makanan yang dianjurkan untuk penderita diabetes mellitus
adalah makanan yang kaya serat seperti sayur-mayur dan buah-buahan segar. Hal
yang terpenting adalah jangan terlalu mengurangi jumlah makanan karena akan
mengakibatkan kadar gula darah yang sangat rendah (hypoglikemia) dan juga jangan
terlalu banyak makan makanan yang memperparah penyakit diabetes mellitus.
Ada beberapa jenis makanan yang dianjurkan dan jenis makanan yang tidak
dianjurkan atau dibatasi bagi penderita diabetes mellitus yaitu:

a. Jenis bahan makanan yang dianjurkan untuk penderita diabetes mellitus


adalah:
1). Sumber karbohidrat kompleks seperti nasi, roti, mie, kentang, singkong,
ubi dan sagu.
2). Sumber protein rendah lemak seperti ikan, ayam tanpa kulitnya, susu skim,
tempe, tahu dan kacang-kacangan.
3). Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu bentuk makanan yang mudah
dicerna. Makanan terutama mudah diolah dengan cara dipanggang,
dikukus, disetup, direbus dan dibakar.
b. Jenis bahan makanan yang tidak dianjurkan atau dibatasi untuk penderita
diabetes mellitus adalah:
1). Mengandung banyak gula sederhana, seperti gula pasir, gula jawa, sirup,
jelly, buah-buahan yang diawetkan, susu kental manis, soft drink, es krim,
kue-kue manis, dodol, cake dan tarcis.

2). Mengandung banyak lemak seperti cake, makanan siap saji (fast-food),
goreng-gorengan.

3). Mengandung banyak natrium seperti ikan asin, telur asin dan makanan
yang diawetkan (Almatsier, 2006).

3. Interval Makan Penderita Diabetes Mellitus

Makanan porsi kecil dalam waktu tertentu akan membantu mengontrol kadar
gula darah. Makanan porsi kecil dapat menyebabkan peningkatan gula darah
mendadak bila berulang-ulang dalam jangka panjang, keadaan ini dapat
menimbulkan komplikasi diabetes mellitus. Oleh karena itu makanlah sebelum lapar
karena makan disaat lapar sering tidak terkendali dan berlebihan. Agar kadar gula
darah lebih stabil, perlu pengaturan jadwal makan yang teratur. Makanan dibagi
dalam 3 porsi besar yaitu makan pagi (20 %), siang (30 %), sore (25 %) serta 2-3 kali
porsi kecil untuk makanan selingan masing-masing (10-15 %)
Tabel .2. Contoh Menu Sehari dengan Jenis Diet DM 1900 Kalori

Jenis Makanan Berat (gr) URT


Makan Pagi
Nasi/penukar 100 1 gls
Lauk hewani 50 1 ptg
Lauk nabati 25 ptg
Sayuran A 100 1 gls
Buah 0 0 ptg
Minyak 10 1 sdm
Gula 0 0 sdm
Jam 10.00
Buah 100 1 ptg
Makan Siang
Nasi/penukar 200 1 gls
Lauk hewani 50 1 ptg
Lauk nabati 50 1 ptg
Sayuran B 100 1 gls
Buah 100 1 ptg
Minyak 10 1 sdm
Gula 0 0 sdm
Jam 16.00
Buah 100 1 ptg
Makan Malam
Nasi/penukar 150 1 gls
Lauk hewani 50 1 ptg
Lauk nabati 25 gls
Sayuran B 100 1 gls
Buah 100 1 ptg
Minyak 10 1 sdm
Gula 0 0 sdm

Sumber : Depkes RI, 2009


Keterangan:

- Gls : gelas

- Sdm : sendok makan

- Ptg : potong

- Sdg : sedang
Nilai Gizi :

- Energi : 1912 kkal

- Protein : 60 g (12,5 % energi total)

- Lemak : 48 g (22,5 % energi total

- Karbohidrat : 299 g (62,5 % energi total)

- Kolestrol : 303 mg

- Serat : 37 g

Daftar Bahan Makanan Penukar

Daftar bahan makanan penukar yang digunakan adalah bahan makanan


penukar II yaitu suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan
dikelompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang yang
diberikan oleh rumah sakit. Setiap kelompok bahan makanan mempunyai nilai gizi
yang kurang lebih sama. Menurut (Arisman, 2002) bahan makanan dikelompokkan
menjadi 7 bagian yaitu:
a. Golongan 1 : Bahan Makanan Sumber Karbohidrat

1 Satuan Penukar = 175 kalori

4 gr protein

40 gr karbohidrat

Tabel 3. Makanan Penukar dari Sumber Karbohidrat

Bahan Makanan URT Berat (gr)


Nasi gls 100
Nasi tim 1 gls 200
Bubur beras 2 gls 400
Nasi jagung gls 100
Talas 1 bj bsr 200
Ubi 1 bj sdg 150
Roti putih 4 Iris 80
b. Golongan 2 : Bahan Makanan Sumber Protein Hewani

1 Satuan Penukar = 95 kalori

10 gr protein

6 gr lemak

Tabel 4. Makanan Penukar dari Sumber Protein Hewani

Bahan Makanan URT Berat (gr)


Daging sapi 1 ptg sdg 50
Daging ayam 1 ptg sdg 50
Telur ayam 2 btr 60
Ikan segar 1 ptg sdg 50
Udang basah 50

c. Golongan 3 : Bahan Makanan Sumber Protein Nabati

1 Satuan Penukar = 80 kalori

6 gr protein

3 gr lemak

8 gr karbohidrat

Tabel 5. Makanan Penukar dari Sumber Protein Nabati

Bahan Makanan URT Berat (gr)


Kacang hijau 20 sdm 25
Kacang kedele 20 sdm 25
Kacang merah 20 sdm 25
Oncom 2 ptg sdg 50
Tahu 1 bj bsr 100
Tempe 2 ptg sdg 50
d. Golongan 4 : Sayuran

1. Sayuran A

Bebas dimakan, kandungan kalori dapat diabaikan, sumbernya dari gambas


(oyong), jamur kuping sedang, ketimun, jamur segar, lobak, selada dan
tomat.

2. Sayuran B

1 Satuan Penukar 1 gls

(100 gr) = 25 kalori

1 gr protein

5 gr karbohidrat

Sumber bahan makanannya yaitu dari bayam, labu siam, bit, buncis, brokoli,
genjer, jagung muda, kol, wortel, sawi, toge kacang hijau, terong, kangkung,
kacang panjang, pare, rebung, papaya muda.

3. Sayuran C

1 Satuan Penukar 1 gls

(100 gr) = 50 kalori

3 gr protein

10 gr karbohidrat

Sumber bahan makanannya yaitu dari bayam merah, daun katuk, daun
melinjo, daun papaya, daun singkong, toge kacang kedele, daun talas,
melinjo, nangka muda.

e. Golongan 5 : Buah-buahan

1 Satuan Penukar = 40 kalori

10 gr karbohidrat
Tabel 6. Makanan Penukar dari Sumber Buah-buahan
Bahan Makanan URT Berat (gr)
Alpukat 1 bh bsr 50
Apel 1 bh bsr 75
Belimbing 1 bh bsr 125
Duku 15 bh 75
Jambu air 2 bh sdg 100
Jambu biji 1 bh sdg 100
Jeruk manis 1 bh bsr 100
Mangga 1 bh sdg 50
Nanas 1/6 bh sdg 75
Papaya 1 ptg sdg 100
Pir 1 bh 100
Pisang ambon 1 bh sdg 75
Pisang raja 2 bh kcl 50
Semangka 1 ptg sdg 150

f. Golongan 6 : Susu

1 Satuan Penukar = 110 kalori

7 gr protein

9 gr karbohidrat

7 gr lemak

Tabel 2.7. Makanan Penukar dari Sumber Susu

Bahan Makanan URT Berat (gr)


Susu sapi 1 gls 200
Susu kambing 1 gls 150
Susu kental manis 1 gls 100
Tepung susu skim 4 sdm 20
Yoghurt 1 gls 200

2.8. Makanan Penukar Dari Sumber Minyak


Bahan Makanan URT Berat (gr)
Minyak goring 1 sdm 5
Minyak ikan 1 sdm 5
Margarin 1 sdm 5
Kelapa 1 ptg kcl 30
Kelapa parut 5 sdm 30
Lemak sapi 1 ptg kcl 5
Diet Demam Typhoid

Diet demam thypoid adalah diet yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan makan
penderita thypoid dalam bentuk makanan lunak rendah serat.
Tujuan utama diet demam thypoid adalah memenuhi kebutuhan nutrisi penderita demam thypoid
dan mencegah kekambuhan.
Penderita penyakit demam Tifoid selama menjalani perawatan haruslah mengikuti petunjuk diet
yang dianjurkan oleh dokter untuk di konsumsi, antara lain:
a. Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein.
b. Tidak mengandung banyak serat.
c. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
d. Makanan lunak diberikan selama istirahat.
Makanan dengan rendah serat dan rendah sisa bertujuan untuk memberikan makanan sesuai
kebutuhan gizi yang sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume
feses, dan tidak merangsang saluran cerna. Pemberian bubur saring, juga ditujukan untuk
menghindari terjadinya komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus. Syarat-syarat
diet sisa rendah adalah:
1. Energi cukup sesuai dengan umur, jenis kelamin dan aktivitas
2. Protein cukup, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total
3. Lemak sedang, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total
4. Karbohidrat cukup, yaitu sisa kebutuhan energi total
5. Menghindari makanan berserat tinggi dan sedang sehingga asupan serat maksimal 8
gr/hari. Pembatasan ini disesuaikan dengan toleransi perorangan
6. Menghindari susu, produk susu, daging berserat kasar (liat) sesuai dengan toleransi
perorangan.
7. Menghindari makanan yang terlalu berlemak, terlalu manis, terlalu asam dan berbumbu
tajam.
8. Makanan dimasak hingga lunak dan dihidangkan pada suhu tidak terlalu panas dan dingin
9. Makanan sering diberikan dalam porsi kecil
10. Bila diberikan untuk jangka waktu lama atau dalam keadaan khusus, diet perlu disertai
suplemen vitamin dan mineral, makanan formula, atau makanan parenteral.

Makanan yang dianjurkan antara lain :


1. Sumber karbohidrat : beras dibubur/tim, roti bakar, kentang rebus, krakers, tepung-
tepungan dibubur atau dibuat pudding
2. Sumber protein hewani: daging empuk, hati, ayam, ikan direbus, ditumis,
dikukus,diungkep, dipanggang; telur direbus, ditim, diceplok air, didadar, dicampur
dalam makanan dan minuman; susu maksimal 2 gelas per hari
3. Sumber protein nabati : tahu, tempe ditim, direbus, ditumis; pindakas; susu kedelai
4. Sayuran : sayuran berserat rendah dan sedang seperti kacang panjang, buncis muda,
bayam, labu siam, tomat masak, wortel direbus, dikukus, ditumis
5. Buah-buahan : semua sari buah; buah segar yang matang (tanpa kulit dan biji) dan
tidak banyak menimbulkan gas seperti pepaya , pisang, jeruk, alpukat
6. Lemak nabati : margarin, mentega, dan minyak dalam jumlah terbatas untuk
menumis.
7. Minuman : teh encer, sirup
8. Bumbu : garam, vetsin, gula, cuka, salam, laos, kunyit, kunci dalam jumlah terbatas
9.
Sedangkan makanan yang tidak dianjurkan adalah :
1. Sumber karbohidrat : beras ketan, beras tumbuk/merah, roti whole wheat, jagung, ubi,
singkong, talas, tarcis, dodol dan kue-kue lain yang manis dan gurih
2. Sumber protein hewani : daging berserat kasar (liat), serta daging, ayam, ikan diawetkan,
telur mata sapi, didadar
3. Sumber protein nabati : Kacang merah serta kacang-kacangan kering seperti kacang
tanah, kacang hijau, kacang kedelai, dan kacang tolo
4. Sayuran : sayuran yang berserat tinggi seperti : daun singkong, daun katuk, daun pepaya,
daun dan buah melinjo, oyong,timun serta semua sayuran yang dimakan mentah
5. Buah-buahan : buah-buahan yang dimakan dengan kulit seperti apel, jambu biji, jeruk
yang dimakan dengan kulit ari; buah yang menimbulkan gas seperti durian dan nangka
6. Lemak : minyak untuk menggoreng, lemak hewani, kelapa dan santan
7. Minuman : kopi dan teh kental; minuman yang mengandung soda dan alcohol
8. Bumbu : cabe dan merica

Terapi diet Pada Penderita DBD


Tujuan Diet: Memberikan makanan dan cairan secukupnya untuk memperbaiki jaringan
tubuh yang rusak serta mencegah komplikasi pendarahan.

Prinsip Diet:
Pemberian diet pada kasus demam berdarah dengue ini dilakukan secara bertahap
kemudian ditingkatkan sesuai dengan kemampuan penderita.
Diet Tahap I diberikan setelah fase akut teratasi dan dipastikan tidak ada pendarahan
gastrointestinal. Penderita diberikan makanan saring setiap tiga jam dan tetap diberikan
makanan parenteral untuk memenuhi kebutuhan cairan dan energi.
Diet Tahap II diberikan setelah suhu badan stabil. Makanan diberikan dengan porsi kecil
dan konsistensi lunak.
Diet tahap III diberikan setelah suhu badan stabil. Konsistensi makanan yang diberikan
lunak atau biasa tergantung toleransi pasien, tetapi kansungan serat tetap terbatas.

Syarat Diet:

Mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan bentuk makanan disesuaikan kemampuan
penderita

Energy dan protein tinggi / cukup sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya. Faktor
stress tergantung ada tidaknya komplikasi..

Lemak rendah yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara
bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan.

Rendah serat terutama serat tidak larut air. Pemberian serat ditingkatkan secara bertahap.

Cukup cairan/tinggi dan vitamin, terutama vitamin C untuk meningkatkan faktor


pembekuan.

Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis, mekanis
maupun kimia (disesuaikan dengan daya terima perorangan)

Makanan parenteral selalu diberikan pada fase akut, baik total, maupun suplemen.

Bila terlihat tanda-tanda pendarahn saluran pencernaan penderita dipuasakan.

Bahan Makanan yang Dianjurkan:


Beras dibubur atau ditim; kentang direbus atau dipure; makaroni, mi, soun, misoa
direbus; tepung-tepungan dibuat bubur atau pudding; roti dipanggang; biskuit.

Daging, ikan, ayam, unggas tidak berlemak digiling lalu direbus atau dikukus;
ommelette, boiled egg, poached egg, atau scrambled egg; susu dalam bentuk lowfat.

Tempe dan tahu direbus, dikukus, ditumis; kacang hijau direbus dan dihaluskan; susu
kedelai.

Sayuran tidak banyak serat dan gas, dimasak seperti bayam, bit, labu siam, labu kuning,
dan labu air; tomat direbus atau ditumis.

Buah segar : pisang, papaya, alpukat, jeruk, manis; buah lain disetup dengan
menghilangkan kulit dan biji seperti nenas dan jambu biji, apel; buah-buahan dalam
kaleng.

Mentega, margarin, minyak goreng untuk menumis; santan encer.

Bumbu-bumbu dalam jumlah terbatas : bumbu dapur, pala, kayu manis, asam, gula,
garam, salam, lengkuas.

Sirop, teh encer, kopi encer, jus sayuran dan jus buah, coklat, dan susu

Bahan makanan yang dibatasi/dihindari

Beras ketan, beras merah, roti whole wheat, ubi, singkong, talas, cantel, jagung, bulgur.

Daging, ikan, ayam, unggas berlemak dan berurat banyak; diawetkan berupa dendeng;
digoreng.

Tempe dan tahu digoreng; kacang tanah, kacang merah, kacang tolo,

Sayuran mentah; sayuran banyak serat dan gas.

Buah-buahan yang banyak serat dan menimbulkan gas; buah kering.

Lemak hewan dan santan kental

Cabe, merica, dan bumbu-bumbu lain yang merangsang.


Minuman yang mengandung alkohol, soda, dan es krim.

DIET HATI
Diet hati diberikan pada pasien dengan penyakit hati yaitu hepatitis dan sirosis hepatis

Tujuan diet :
1. Mencegah kerusakan jaringan hati lebih lanjut
2. Mengurangi beban kerja hati
3. Memperbaiki jaringan hati yang rusak
4. Memperbaiki atau mempertahankan status gizi pasien
5. Menghindari komplikasi
Syarat diet :
1. Energi : 40-45 kkal/kg BB per hari
2. Lemak : 20-25% dari kebutuhan energi total
3. Proten : 1,25-1,5 g/kg BB. Pada pasien hepatitis fulminan dengan nekrosis dan gejala
ensefalopati yang disertai peningkatan amoniak dalam darah protein dibatasi : 30-40 g/hari.
Pada sirosis hepatis terkompensasi protein diberikan 1,25 g/kg BB. Asupan minimal
protein sehari 0,8-1 g/kg BB/hari.
4. Bila ada anemia diberikan suplementasi vitamin B kompleks, vitamin C, dan vitamin K.
5. Pemerian garam dibatasi apabila ada oedema dan asites.
6. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan saluran cerna.

DIET HATI I
Pasien sirosis hepatis berat, hepatitis akut, Pre Koma atau pasien dapat makan
Protein dihindarkan
Berupa cairan KH sederhana : sari buah, sirup, teh manis
Cairan : 2 liter (tanpa asites), 1 liter (acites)
DIET HATI II
Keadaaan akut / pre koma dapat diatasi, ada nafsu makan
Bentuk makanan lunak atau cincang
Protein dibatasi 30 gr/hari
Lemak mudah cerna
DIET HATI III
Nafsu makan cukup
Bentuk makanan lunak atau biasa
Protein 1 gram/Kg BB
Lemak mudah cerna
Rendah garam
DIET HATI IV
Nafsu makan baik
Protein tinggi (tidak menunjukkan gejala sirosis aktif)
Rendah garam (asites)

Pengaturan makanan
Bentuk Dianjurkan Dibatasi Dihindari
Makanan
SUMBER Nasi, kentang, Ketan, ubi,
KARBOHIDRA roti, mie, singkong,
T makaroni, talas, kue
bihun, gula, gurih, dan
tepung- cake
tepungan yang
dibuat bubur
atau puding
SUMBER Daging tidak Daging
PROTEIN berlemak, berlemak,
HEWANI ikan, ayam, daging asap,
hati yang sosis, sarden,
dipanggang, daging atau
diungkep, ikan yang
disemur, ditim, diawetkan,
telur susu full
rebus/didadar cream, susu
kental manis,
dan hasil
olahannya
seperti keju,
es krim
SUMBER Kacang-
PROTEIN kacangan
NABATI
SAYURAN Sayuran yang Sayuran yang
tidak banyak berserat dan
serat dan tidak menimbulkan
menimbulkan gas, seperti :
gas : bayam, kol, sawi,
labu kuning, lobak, daun
labu siam, singkong,
wortel, kacang nangka muda,
panjang kembang kol
BUAH- Pepaya, Buah-buahan
BUAHAN pisang, melon, yang tinggi
jeruk, serat, tinggi
semangka lemak, dapat
menimbulkan
gas, seperti :
nangka,
nanas, durian,
kedondong
MINUMAN Kopi encer, Minuman
susu yang
mengandung
soda dan
alcohol
LAIN-LAIN Garam dapur, Goreng-
margarine, gorengan,
mentega, santan kental,
minyak tape.
goreng, santan Bumbu : cabe,
encer cuka, lada,
kecap asin,
saos tomat

Hal-hal yang harus diperhatikan :


- Masaklah dengan cara merebus, mengkukus, memanggang, mengungkep, pepes
- Hindarkan menggreng, dianjurkan menggunakan minyak kedele atau minyak jagung untuk
menumis
- Sayuran dimasak matang
- Memasak sayuran jangan menggunakan santal kental

Contoh menu
Pagi Siang Malam
Nasi tim Nasi tim Nasi tim
Telur dadar Semur ayam Perkedel daging bakar
Asem buncis Tahu bumbu kuning Tempe baem
Teh manis Cah wortel dan jagung Sup sayuran
muda Pisang
Selingan : Selada buah Pepaya Selingan : Roti bakar
dan sirup Selingan : puding dan dan teh manis
sari buah jeruk

DIET HIPERTENSI

Diet hipertensi diberikan kepada pasien dengan tekanan darah di atas normal.
Tujuan diet :
- Membantu menurunkan tekanan darah
- Membantu menghilangkan penimbunan caran dalam tubuh atau edema (bengkak)

Syarat diet :
- Makanan beraneka ragam mengikuti pola gizi seimbang
- Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita
- Jumlah garam disesuaikan dengan berat ringannya penyakit dan obat yang diberikan

Pengaturan makanan
Pengaturan makanan
BAHAN MAKANAN DIANJURKAN - Makanan yang segar : sumber hidrat
arang, protein nabati, dan hewani,
sayuran dan buah-buahan yang banyak
mengandung serat
- Makanan yang diolah tanpa atau sedikit
menggunakan garam natrium, vetsin,
kaldu bubuk
- Sumber protein hewani: penggunaan
daging/ayam/ikan paling banyak 00
gram/hari. Telur ayam/bebek 1/hari.
- Susu segar 200 ml/hari
BAHAN MAKANAN YANG - Pemakaian garam dapur
DIBATASI - Penggunaan bahan makanan yang
mengandung soda kue
BAHAN MAKANAN YANG - Otak, ginjal, paru, jantung, daging,
DIHINDARI kambing
- Makanan yang diolah menggunakan
garam natrium
Crackers, pastries, dan kue lain-lain
Krupuk, kripik dan makanan kering
yang asin
- Makanan dan minuman dalam kaleng:
sarden, sosis, kornet, sayuran, dan
buah-buahan dalam kaleng
- Makanan yang diawetkan: dendeng,
abon, ikan asin, ikan pindang, udang
kering, telur asin, selai kacang, acar,
manisan buah
- Mentega dan keju
- Bumbu-bumbu : kecap asin, terasi,
petis, garam, saos tomat, saus sambel,
tauco dan bumbu penyedap lainnya
- Makanan yang mengandung alkohol
misalnya : durian, tape

Cara mengatur diet :


- Rasa tawar dapat diperbaiki dengan menambah gula merah, gula pasir, bawang merah,
bawang putih, jahe, kencur, salam dan bumbu lain yang tidak mengandung atau sedikit
garam Na
- Makanan lebih enak ditumis, digoreng, dipanggang, walaupun tanpa garam
- Bubuhkan garam saat di atas meja makan, gunakan garam beryodium (30-80 ppm), tidak
lebih dari sendok teh/hari
- Dapat menggunakan garam yang mengandung rendah natrium

Contoh menu
Pagi Siang Malam
Nasi Nasi Nasi
Telur bumbu balado Ikan pepes Ayam bakar
Tumis buncis Sambel goreng kering Oseng-oseng tahu dan
tempe cabe hijau
Pukul 10.00 Sayur bening bayam Cah sayuran
(selingan) jus buah Buah : pepaya Buah : jeruk manis

Pukul 21.00
Crackers tawar atau
buah

Sumber : Kementrian Kesehatan RI Direktorat Bina Gizi, Subdit Bina Gizi, 2011
DIET PENYAKIT JANTUNG

Tujuan Diet :
1. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung
2. Menurunkan berat badan bila terlalu gemuk
3. Mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air

Syarat Diet :
1. Energi cukup, umtuk mencapai dan mempertahankan berat badan normal
2. Protein cukup, yaitu 0.8 g/kg BB
3. Lemak sedang, yaitu 25-30% dari kebutuhan energi total
4. Kolesterol rendah, terutama jika disertai dengan dislipidemia.
5. Vitamin dan mineral cukup
6. Garam rendah, 2-3 gr/hari, jika disertai hipertensi atau edema
7. Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas
8. Serat cukup untuk menghindari konstipasi
9. Cairan cukup, 2 liter/hari sesuai dengan kebutuhan
10. Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit, diberikan dalam porsi kecil
11. Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melalui makanan dapat diberikan tambahan
berupa makanan enteral, parenteral, atau suplemen gizi.

Jenis Diet dan Indikasi Pemberian


Diet Jantung I
Diet jantung I diberikan kepada pasien penyakit jantung akut seperti Myocard Infarct (MCI) atau
Dekompensasio Kordis berat. Diet diberikan berupa 1-1,5 liter cairan/hari selama 1-2 hari
pertama bila pasien dapat menerimanya. Diet ini sangat rendah energi dan semua zat gizi,
sehingga sebaiknya hanya diberikan selama 1-3 hari.
Diet Jantung II
Diet jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Diet diberikan sebagai
perpindahan dari diet jantung I, atau setelah fase akut dapat diatasi. Jika disertain hipertensi
dan/atau edema, diberikan sebagai diet jantung II garam rendah. Diet ini rendah energi, protein,
kalsium dan tiamin.

Diet Jantung III


Diet jantung III diberikan dalam bentuk makanan lunak atau biasa. Diet diberikan sebagai
perpindahan dari diet jantung II atau kepada pasien jantung dengan kondisi yang tidak terlalu
berat. Jika disertai hipertensi dan/atau edema, diberikan sebagai diet jantung III garam rendah.
Diet ini rendah energi dan kalsium, tetapi cukup zat gizi lain.

Diet Jantung IV
Diet jantung IV diberikan dalam bentuk makanan biasa. Diet diberikan sebagai perpindaan dari
diet jantung III atau kepada pasien jantung dengan keadaan ringan. Jika disertai hipertensi
dan/atau edema, diberikan sebagai diet jantung IV garam rendah. Diet ini cukup energi dan zat
gizi lain, kecuali kasium.
DIET PADA PENYAKIT GINJAL

TUJUAN DIET
1) Gagal Ginjal Akut :
1. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan fungsi ginjal.
2. Menurunkan kadar ureum darah.
3. Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Memperbaiki dan mempertahankan status gizi optimal dan mempercepat penyembuhan.

2) Gagal Ginjal Kronis :


1. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dengan memperhitungkan sisa fungsi
ginjal, agar tidak memberatkan kerja ginjal.
2. Mencegah dan menurunkan kadar ureum yang tinggi.
3. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Mencegah atau mengurangi progresivitas gagal ginjal, dengan memperlambat penurunan
laju filtrasi glomerulus.
3) Gagal Ginjal dengan Dialisis :
1. Mencegah defisiensi gizi serta mempertahankan dan memperbaiki status gizi, agar pasien
dapat melakukan aktivitas normal.
2. Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
3. Menjaga agar akumulasi produk sisa metabolisme tidak berlebihan.

SYARAT DIET
1) Gagal Ginjal Akut :
1. Energi cukup untuk mencegah katabolisme, yaitu 25 35 kkal/kg BB.
2. Protein disesuaikan dengan katabolisme protein, yaitu 0,6 1,5 g/kgBB. Pada katabolik
ringan kebutuhan protein 0,6 1 g/kgBB, katabolik sedang 0,8 1,2 g/kgBB, dan
katabolik berat 1 1,5 g/kgBB.
3. Lemak sedang, yaitu 20 30 % dari kebutuhan energi total, atau antara 0,5 1,5 g/kgBB.
Untuk katabolisme berat dianjurkan 0,8 1,5 g/kgBB.
4. Karbohidrat sebanyak sisa kebutuhan energi setelah dikurangi jumlah energi yang
diperoleh dari protein dan lemak. Apabila terdapat hipertrigliseridemia, batasi
penggunaan karbohidrat sederhana atau gula murni.
5. Natrium dan kalium batasi bila ada anuria.
6. Cairan, sebagai pengganti cairan yang keluar melalui muntah, diare, dan urin + 500 ml.
7. Bila kemampuan untuk makan rendah, makanan diberikan dalam bentuk formula enteral
atau parenteral. Bila diperlukan, tambahan suplemen asam folat, vitamin B6, C, A dan K.

2) Gagal Ginjal Kronis :


1. Energi cukup, yaitu 35 kkal/kg BB.
2. Protein rendah, yaitu 0,6 1,5 g/kgBB. Sebagian harus bernilai biologik tinggi.
3. Lemak cukup, yaitu 20 30 % dari kebutuhan energi total. Diutamakan lemak tidak
jenuh ganda
4. Karbohidrat cukup, yaitu kebutuhan energi total dikurangi jumlah energi yang diperoleh
dari protein dan lemak.
5. Natrium dibatasi apabila ada hipertensi, edema, asites, oliguria, atau anuria. Banyaknya
natrium yang diberikan antara 1 3 g.
6. Kalium dibatasi (40 70 mEq) apabila ada hiperkalemia (kalium darah > 5,5 mEq),
oliguria, atau anuria.
7. Cairan dibatasi, yaitu sebanyak jumlah urin sehari ditambah pengeluaran cairan melalui
keringat dan pernafasan ( 500 ml).
8. Vitamin cukup, bila perlu diberikan tambahan suplemen asam folat, vitamin B6, C, dan
D.

3) Gagal Ginjal dengan Dialisis :


1. Energi cukup, yaitu 35 kkal/kg BB ideal/hari pada pasien Hemodialisis (HD) maupun
Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Pada CAPD diperhitungkan jumlah
energi yang berasal dari cairan dialisis. Bila diperlukan penurunan berat badan, harus
dilakukan secara berangsur (250 500 g/minggu) untuk mengurangi risiko katabolisme
massa tubuh tanpa lemak (Lean Body Mass).
2. Protein tinggi, untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen dan mengganti asam
amino yang hilang selama dialisis, yaitu 1 1,2 g/kgBB ideal/hari pada HD dan 1,3
g/kgBB ideal/hari pada CAPD. 50% protein hendaknya bernilai biologik tinggi.
3. Lemak normal, yaitu 15 30 % dari kebutuhan energi total.
4. Karbohidrat cukup, yaitu 55 75 % dari kebutuhan energi total.
5. Natrium diberikan sesuai dengan jumlah urin yang keluar/24 jam, yaitu : 1 g +
penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 g untuk tip liter urin (HD) 1 4 g +
penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 g untuk tiap liter urin (CAPD)
6. Kalium diberikan sesuai dengan jumlah urin yang keluar/24 jam, yaitu : 2 g +
penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 g untuk tip liter urin (HD) 3 g +
penyesuaian menurut jumlah urin sehari, yaitu 1 g untuk tiap liter urin (CAPD)
7. Kalsium tinggi, yaitu 1000 mg/hari. Bila perlu diberikan suplemen kalsium.
8. Cairan dibatasi, yaitu jumlah urin/24 jam ditambah 500 750 ml.
9. Bila kemampuan untuk makan rendah, makanan diberikan dalam bentuk formula enteral
atau parenteral. Bila diperlukan, tambahan suplemen terutama vitamin larut air seperti
asam folat, vitamin B6, dan C.

JENIS DIET DAN INDIKASI PEMBERIAN


1) Gagal Ginjal Akut Jenis diet yang diberikan adalah :
1. Diet gagal ginjal akut lunak
2. Diet gagal ginjal akut cair
Apabila pasien makan per oral, semua bahan makanan boleh diberikan; batasi
penambahan garam apabila ada hipertensi, edema, dan asites, serta batasi makan sayur dan
buah tinggi kalium bila ada hiperkalemia.
Tabel 5. Bahan Makanan Sehari Untuk ARF dengan Katabolik Ringan, BBI 60 kg

* Kue RP = Kue Rendah Protein

2) Gagal Ginjal Kronis


Ada tiga jenis diet yang diberikan menurut berat badan pasien, yaitu:
1. Diet Protein Rendah I : 30 g protein. Diberikan pada pasien dengan berat badan 50 kg.
2. Diet Protein Rendah II : 35 g protein. Diberikan pada pasien dengan berat badan 60 kg.
3. Diet Protein Rendah III : 40 g protein. Diberikan pada pasien dengan berat badan 65 kg.
Karena kebutuhan gizi pasien penyakit ginjal kronik sangat tergantung pada keadaan dan
berat badan perorangan, maka jumlah protein yang diberikan dapat lebih tinggi atau
lebih rendah daripada standar. Mutu protein dapat ditingkatkan dengan memberikan
asam amino essensial murni.

Tabel 6. Bahan Makanan Sehari GGK


Tabel 8. Bahan Makanan yang dianjurkan dan tidak Dianjurkan
3) Gagal Ginjal dengan Dialisis
Diet pada dialisis bergantung pada frekuensi dialisis, sisa fungsi ginjal, dan ukuran badan
pasien. Diet untuk pasien dengan dialisis biasanya harus direncanakan perorangan.
Berdasarkan berat badan dibedakan 3 jenis diet dialisis:
1. Diet dialisis I, 60 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 50 kg
2. Diet dialisis II, 65 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 60 kg
3. Diet dialisis III, 70 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 65 kg

4) Diet Sindroma Nefrotik


1. TUJUAN DIET
Tujuan Diet Sindroma Nefrotik adalah untuk :
1. Mengganti kehilangan protein terutama albumin.
2. Mengurangi edema dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.
3. Memonitor hiperkolesterolemia dan penumpukan trigiserida.
4. Mengontrol hipertensi.
5. Mengatasi anoreksia.

2. SYARAT DIET
Syarat-syarat Diet Sindroma Nefrotik adalah :
1. Energi cukup untuk mempertahankan keseimbangan nitroge positif, yaitu 35 kkal/kgBB
per hari.
2. Protein sedang, yaitu 1,0 g/kg BB, atau 0,8 g/kgBB ditambah jumlah protein yang
dikeluarkan melalui urin. Utamakan penggunaan protein bernilai biologik tinggi.
3. Lemak sedang, yaitu 15 20% dari kebutuhan energi total. Perbandingan lemak jenuh,
lemak jenuh tunggal, dan lemak jenuh ganda adalah 1 : 1 : 1.
4. Karbohidrat sebagai sisa kebutuhan energi. Utamakan penggunaan karbohidrat
kompleks.
5. Natrium dibatasi, yaitu 1 4 g sehari, tergantung berat ringannya edema.
6. Kolesterol dibatasi
7. Cairan disesuaikan dengan banyaknya cairan yang dikeluarkan melalui urin ditambah
500 ml pengganti cairan yang dikeluarkan melalui kulit dan pernafasan.

3. JENIS DIET dan CARA PEMBERIAN


Karena gejala penyakit bersifat individual, diet disusun secara individual pula dengan
menyatakan banyak protein dan natrium yang dibutuhkan di dalam diet.
Pendidikan Pasien.
Prinsip diet tinggi protein, rendah natrium dan diet rasional
Pasien harus dianjurkan untuk makan 2 3 sajian daging, ikan, ayam atau leguminosa
(untuk anak-anak 56,6 84,9 g persajian, dan untuk remaja serta dewasa 113,2 141,5
g), dan 3 4 sajian susu, keju, atau yoghurt setiap hari. Untuk mengurangi masukan
kolesterol dan lemak jenuh dianjurkan untuk makan daging tanpa lemak, ikan dan ayam
yang sudah dibuang kulitnya, dan menggunakan susu skim. Daging segar yang belum
diproses dengan garam, keju tidak asin ini dapat digunakan untuk mengurangi natrium
pada diet. Pasien harus diterangkan bahwa keinginan akan makanan asin akan menurun
setelah 3 bulan mengikuti diet dengan pembatasan natrium.
Pemantauan retensi Pasien harus diajarkan untuk memeriksakan berat badannya setiap
hari, serta memeriksa adanya odema, terutama pada tungkai bawah dan sekitar mata.

DIET PENYAKIT LAMBUNG

Gambaran Umum
Penyakit lambung atau gastrointestinal meliputi gastritis akut dan kronis, ulkus peptikum,
pasca-operasi lambung yang sering diikuti dengan dumping syndrome dan kanker lambung.
Gangguan gastrointestinal sering dihubungkan dengan emosi atau psikoneurosis dan atau makan
terlalu cepat karena kurang dikunyah serta terlalu lama banyak merokok.
Gangguan pada lambung umumnya berupa sindroma dyspepsia, yaitu kumpulan gejala
yang terdiri dari mual, muntah, nyeri epigastrium, kembung, napsu makan berkurang dan rasa
cepat kenyang.
Syarat Diet
Syarat-syarat diet penyakit lambung yaitu:
1. Makanan yang disajikan harus mudah dicerna, tidak merangsang tetapi dapat memenuhi
kebutuhan energi dan gizi, jumlah energi pun harus disesuaikan dengan kebutuhan
penderita.

2. Asupan protein harus cukup tinggi (sekitar 20-25% dari total jumlah energi yang biasa
diberikan), sedangkan lemak perlu dibatasi. Protein berperan dalam menetralisir asam
lambung. Bila terpaksa menggunakan lemak, pilih jenis lemak yang mengandung jenis
asam lemak tak jenuh. Pemberian lemak atau minyak perlu dipertimbangka dengan teliti.
Lemak yang berlebihan dapat menimbulkan rasa mual, rasa tidak enak di ulu hati dan
muntah karena tekanan dari dalam lambung meningkat.

3. Lemak rendah, yaitu 10-15% dari kebutuhan energy total yang ditingkatkan secara
bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan.

4. Mengkonsumsi jenis makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh secukupnya
merupakan pilihan tepat, sebab lemak jenis ini lebih mudah di cerna.

5. Porsi makanan yang diberikan dalam porsi kecil tapi sering.

6. Kebutuhan zat gizi, jenis energi yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan berat badan
dan umur penderita.

7. Rendah serat, terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara bertahap.

8. Cairan cukup, terutama bila ada muntah.

9. Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam baik secara termis, mekanis,
maupun kimia (disesuaikan dengan daya terima perorangan)
10. Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa: umumnya tidak dianjurkan minum susu
terlalu banyak (frekuensi makan dan minum susu yang sering pada pasien tertentu dapat
merangsang pengeluaran asam lambung secara berlebihan)

11. Makan secara perlahan di lingkungan yang tenang

12. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam untuk memberi
istirahat pada lambung.

Macam Diet Dan Indikasi Pemberian


Diet lambung diberikan kepada pasien dengan gastritis, ulkus peptikum, tifus abdominalis,
dan pasca bedah saluran cerna atas. Pada penderita gastritis menghindari makanan yang bersifat
merangsang, diantaranya makanan berserat dan penghasil gas maupun mengandung banyak
bumbu-bumbu rendah. Selain itu perlu memperhatikan tehnik memasaknya, direbus, dikukus,
atau dipanggang adalah tehnik masak yang dianjurkan. Sebaliknya, menggoreng bahan makanan
tidak dianjurkan.
Diet Lambung I
Diet lambung I diberikan kepada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, pasca pendarahan,
dan tifus abdominalis berat. Makanan diberikan dalam bentuk saring dan merupakan
perpindahan dari diet pasca hematemesis melena, atau setelah fase akut teratasi. Makanan
diberikan setiap 3 jam (lihat makanan saring) selama 1-2 hari saja karena membosankan serta
kurang energy, zat besi, tiamin dan vitamin C
Diet Lambung II
Diet lambung II diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung I, kepada pasien dengan
ulkus peptikum atau gastritis kronis, dan tifus abdominalis ringan. Makanan berbentuk lunak,
porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali makanan lengkap dan 2-3 kali makanan selingan.
Makanan ini cukup energy, protein, vitamin C, tetapi kurang tiamin.
Diet Lambung III
Diet lambung III diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung II pada pasien dengan
ulkus peptikum, gastritis kronik, atau tifus abdominalis yang hampir sembuh. Makanan
berbentuk lunak atau biasa bergantung pada toleransi pasien. Makanan ini cukup energy dan zat
gizi lainnya.
Makanan Yang Dianjurkan Dan Tidak Dianjurkan Pada Penderita Dengan Diet Lambung
II
Sumber Karbohidrat

1. Dianjurkan

Beras dibubur atau di tim, kentang di pure, macaroni di rebus, roti dipanggang,
biscuit, krekers, mie, bihun, tepung-tepungan di buat bubur, atau pudding.
2. Tidak Dianjurkan

Beras ketan, beras tumbuk, roti whole wheat, jagung, ubi, singkong, tales, cake,
dodol, dan berbagai kue yang terlalu manis dan berlemak tinggi
Sumber Protein Hewani

1. Dianjurkan

Daging sapi empuk, hati, ikan, ayam digiling atau dicincang dan direbus,
disemur, di tim, dipanggang, telur ayam rebus, di dadar, di tim, diceplok air dan di
campur dalam makanan, susu.
2. Tidak Dianjurkan

Daging, ikan, ayam yang diawet, di goreng, daging babi, telur diceplok atau di
goreng.
Sumber Protein Nabati

1. Dianjurkan

Tahu, tempe di rebus di tim, ditumis, kacang hijau direbus, dan dihaluskan.
2. Tidak Dianjurkan

Tahu, tempe digoreng, kacang tanah, kacang merah, kacang tolo.


Sayuran

1. Dianjurkan
Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas dimasak, bayam,
bit, labu siam, labu kuning, wortel, tomat direbus, dan di tumis.
2. Tidak Dianjurkan

Sayuran mentah, sayuran berserat tinggi dan menimbulkan gas seperti daun
singkong, kacang panjang, kol, lobak, sawi dan asparagus.
Buah-Buahan

1. Dianjurkan

Papaya, pisang, jeruk manis, sari buah, pir dan peach dalam kaleng
2. Tidak Dianjurkan

Buah yang tinggi serat dan atau dapat menimbulkan gas seperti jambu biji,
nanas, apel, kedondong, durian, nangka, buah yang dikeringkan.
Lemak

1. Dianjurkan

Margarin dan mentega, minyak untuk menumis dan santan encer.


2. Tidak Dianjurkan

Lemak hewan, santal kental

Minuman

1. Dianjurkan

Sirup, teh.
2. Tidak Dianjurkan

Minuman yang mengandung soda dan alcohol, kopi, ice cream.


Bumbu

1. Dianjurkan

Gula, garam, vetsin, kunci, kencur, jahe, kunyit, terasi, laos, salam, sereh.
2. Tidak Dianjurkan

Lombok, bawang, merica, cuka, dan sebagainya yang tajam.

Makanan Yang Dianjurkan Dan Tidak Dianjurkan Pada Penderita Dengan Diet Lambung
III
Sumber Karbohidrat

1. Dianjurkan

Beras di tim, nasi, kentang direbus, di pure, macaroni, mie, bihun direbus, roti,
biscuit, krekers, tepung-tepungan di buat pudding, atau dibubur.
2. Tidak Dianjurkan

Beras ketan, beras tumbuk, roti whole wheat, jagung, ubi, singkong, tales,
kentang di goring, dodol, dan sebagainya.

Sumber Protein Hewani

1. Dianjurkan

Daging sapi empuk, hati, ikan, ayam direbus, disemur, di tim, dipanggang, telur
ayam di rebus, di tim, didadar, diceplok air dan di campur dalam makanan, susu.
2. Tidak Dianjurkan

Daging, ikan, ayam yang di kaleng, dikeringkan, diasap, diberi bumbu-bumbu


tajam, daging babi, telur goreng.
Sumber Protein Nabati

1. Dianjurkan

Tahu, tempe di rebus, di tim, ditumis, kacang hijau direbus.


2. Tidak Dianjurkan

Tahu, tempe digoreng, kacang tanah, kacang merah, kacang tolo.


Sayuran

1. Dianjurkan

Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas seperti, bayam,
buncis, kacang panjang, bit, labu siam, wortel, tomat, labu kuning, direbus, di tumis,
disetup dan diberi santan.
2. Tidak Dianjurkan

Sayuran dikeringkan.
Buah-Buahan

1. Dianjurkan

Papaya, pisang, sawo, jeruk manis, sari buah, buah dalam kaleng

2. Tidak Dianjurkan

Buah yang tinggi serat dan atau dapat menimbulkan gas seperti jambu biji,
nanas, kedondong, durian, nangka, dan buah yang dikeringkan.
Lemak

1. Dianjurkan

Margarin, minyak dan santan encer.


2. Tidak Dianjurkan

Lemak hewan, santal kental


Minuman

1. Dianjurkan

Sirup, teh encer.


2. Tidak Dianjurkan
Kopi, teh kental, minuman yang mengandung soda dan alcohol, ice cream.
Bumbu

1. Dianjurkan

Garam, gula, vetsin, dalam jumlah terbatas: jahe, kunyit, jahe, kunci, kencur,
laos, salam, sereh, terasi, dan sebagainya.
2. Tidak Dianjurkan

Lombok, merica, cuka, dan bumbu lainnya yang tajam.

Contoh Jumlah Pembagian Makanan Sehari Sekitar 1700 Kkal :


Energi: 1625,0 Kkal Lemak : 45,1 gram
Protein : 49,5gramKarbohidrat:255,2gram
DIET ASAM URAT

Asam urat merupakan produk akhir dari katabolisme adenin dan guanin yang berasal dari
pemecahan nukleotida purin. Asam urat adalah produk akhir metabolisme purin yang terdiri dari
komponen karbon, nitrogen, oksigen, dan hidrogen dengan rumus molekul C5H4N4O3. Pada pH
alkali kuat, asam urat membentuk ion urat dua kali lebih banyak dibandingkan pada pH asam.
Purin yang berasal dari katabolisme asam nukleat dalam diet diubah menjadi asam urat
secara langsung. Pemecahan nukleotida purin terjadi di semua sel, tetapi asam urat hanya
dihasilkan oleh jaringan yang mengandung xantin oksidase terutama di hepar dan usus kecil.
Rerata sintesis asam urat endogen setiap harinya adalah 300-600 mg per hari, dari diet 600 mg
per hari lalu dieksresikan ke urin rerata 600 mg per hari dan ke usus sekitar 200 mg per hari.
Dua pertiga total asam urat tubuh berasal dari pemecahan purin endogen, hanya sepertiga
yang berasal dari diet yang mengandung purin. Pada pH netral urat dalam bentuk ion asam urat
(kebanyakan dalam bentuk monosodium urat), banyak terdapat di dalam darah. Konsentrasi
normal kurang dari 420 mol/L (7,0 mg/dL). Kadar asam urat tergantung jenis kelamin, umur,
berat badan, tekanan darah, fungsi ginjal, status peminum alkohol, dan kebiasaan memakan
makanan yang mengandung diet purin yang tinggi. Kadar asam urat mulai meninggi selama
pubertas pada laki-laki tetapi wanita tetap rendah sampai menopause akibat efek urikosurik
estrogen. Dalam tubuh manusia terdapat enzim asam urat oksidase atau urikase yang akan
mengoksidasi asam urat menjadi alantoin. Defisiensi urikase pada manusia akan mengakibatkan
tingginya kadar asam urat dalam serum. Asam urat dikeluarkan di ginjal (70%) dan traktus
gastrointestinal (30%). Kadar asam urat di darah tergantung pada keseimbangan produksi dan
ekskresinya.
Sintesis asam urat dimulai dari terbentuknya basa purin dari gugus ribosa, yaitu 5-
phosphoribosyl-1-pirophosphat (PRPP) yang didapat dari ribose 5 fosfat yang disintesis dengan
Adenosine triphosphate (ATP) dan merupakan sumber gugus ribosa. Reaksi pertama, PRPP
bereaksi dengan glutamin membentuk fosforibosilamin yang mempunyai sembilan cincin purin.
Reaksi ini dikatalisis oleh PRPP glutamil amidotranferase, suatu enzim yang dihambat oleh
produk nucleotide inosine monophosphate (IMP), adenosine monophosphat (AMP) dan guanine
monophosphate (GMP). Ketiga nukleotida ini juga menghambat sintesis PRPP sehingga
memperlambat produksi nukleotida purin dengan menurunkan kadar substrat PRPP.
Inosine monophosphat (IMP) merupakan nukleotida purin pertama yang dibentuk dari
gugus glisin dan mengandung basa hipoxanthine. IMP berfungsi sebagai titik cabang dari
nukleotida adenin dan guanin. AMP berasal dari IMP melalui penambahan sebuah gugus amino
aspartat ke karbon enam cincin purin dalam reaksi yang memerlukan Guanosine triphosphate
(GTP). Guanosine monophosphat (GMP) berasal dari IMP melalui pemindahan satu gugus
amino dari amino glutamin ke karbon dua cincin purin, reaksi ini membutuhkan ATP.

Gambar 2.1 Jalur Metabolisme Pembentukan Asam Urat

AMP mengalami deaminasi menjadi inosin, kemudian IMP dan GMP mengalami
defosforilasi menjadi inosin dan guanosin. Basa hipoxanthine terbentuk dari IMP yang
mengalami defosforilasi dan diubah oleh xanthine oxidase menjadi xanthine serta guanin akan
mengalami deaminasi untuk menghasilkan xanthine juga. Xanthine akan diubah oleh xanthine
oxsidase menjadi asam urat. Asam urat diginjal akan mengalami empat tahap yaitu asam urat
dari plasma kapiler masuk ke glomerulus dan mengalami filtrasi di glomerulus, sekitar 98-100%
akan direabsorbsi pada tubulus proksimal, selanjutnya disekresikan kedalam lumen distal tubulus
proksimal dan direabsorbsi kembali pada tubulus distal. Asam urat akan diekskresikan kedalam
urine sekitar 6% - 12% dari jumlah filtrasi. Setelah filtrasi urat di glomerulus, hampir semua
direabsorbsi kembali di tubuli proksimal. pH urin yang rendah di traktus urinarius menjadikan
urat dieksresikan dalam bentuk asam urat.
Hiperurisemia didefinisikan sebagai peningkatan kadar asam urat dalam darah. Batasan
hiperurisemia untuk pria dan wanita tidak sama. Seorang pria dikatakan menderita hiperurisemia
bila kadar asam urat serumnya lebih dari 7,0 mg/dL. Sedangkan hiperurisemia pada wanita
terjadi bila kadar asam urat serum di atas 6,0 mg/dL. Saat ini angka kejadian pasti hiperurisemia
di masyarakat masih belum jelas. Prevalensinya di masyarakat dan berbagai kepustakaan barat
sangat bervariasi antara 2,3 17,6%. Penelitian yang dilakukan oleh Indrawan (2005) pada
penduduk kota Denpasar, Bali mendapatkan prevalensi hiperurisemia sebesar 18,2%.
Asam urat sendiri merupakan hasil akhir dari metabolisme purin. Proses pembentukan
asam urat sebagian besar berasal dari metabolisme nukleotida purin endogen, guanylic acid
(GMP), inosinic acid (IMP), dan adenylic acid (AMP). Perubahan intermediate hypoxanthine
dan guanine menjadi xanthine dikatalisis oleh enzim xanthine oxidase dengan produk akhir asam
urat. Asam urat merupakan produk yang tidak dapat dimetabolisme lebih lanjut. Hanya 5% asam
urat yang terikat plasma dan sisanya akan difiltrasi secara bebas oleh glomerulus. Dari semua
asam urat yang difiltrasi, 99% akan direabsorpsi oleh tubulus proksimal. Kemudian 7-10% fraksi
asam urat akan disekresi oleh tubulus distal.

Gambar 2.2 Metabolisme Urat


Kadar asam urat pada tiap individu sangat bervariasi tergantung pada sintesis dan
ekskresinya. Hiperurisemia terjadi bila kadar asam urat melebihi daya larutnya dalam plasma
yaitu 6,7 mg/dL pada suhu 37C. Kondisi ini dapat disebabkan karena ketidakseimbangan antara
produksi yang berlebihan, penurunan ekskresi atau gabungan keduanya. Produksi yang
berlebihan terjadi pada keadaan diet tinggi purin, alkoholisme, turn over nukleotida yang
meningkat, obesitas, dan dislipidemia. Sedangkan penurunan ekskresi asam urat terjadi pada
penyakit ginjal, hipertensi, penggunaan diuretik, resistensi insulin, dan kadar estrogen yang
rendah.
Berdasarkan penyebabnya, hiperurisemia dapat diklasifikasikan menjadi hiperurisemia
primer, sekunder, dan idiopatik. Hiperurisemia primer merupakan hiperurisemia yang tidak
disebabkan oleh penyakit lain. Biasanya berhubungan dengan kelainan molekuler yang belum
jelas dan adanya kelainan enzim. Sedangkan hiperurisemia sekunder merupakan hiperurisemia
yang disebabkan oleh penyakit atau penyebab lain. Hiperurisemia jenis ini dibagi menjadi
beberapa kelompok, yaitu kelainan yang menyebabkan peningkatan de novo biosynthesis,
peningkatan degradasi ATP, dan underexcretion. Hiperurisemia idiopatik merupakan jenis
hiperurisemia yang tidak jelas penyebab primernya dan tidak ada kelainan genetik, fisiologi serta
anatomi yang jelas.
Hiperurisemia (konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih besar dari 7,0 mg/dL) dapat
menyebabkan penumpukan kristal monosodium urat. Peningkatan atau penurunan kadar asam
urat serum yang mendadak mengakibatkan serangan gout. Apabila kristal urat mengendap dalam
sebuah sendi, maka selanjutnya respon inflamasi akan terjadi dan serangan gout pun dimulai.
Apabila serangan terjadi berulang-ulang, mengakibatkan penumpukan kristal natrium urat yang
dinamakan tofus akan mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan, dan
telinga.
Pada manifestasi sindrom gout mencakup atritis gout yang akut (serangan rekuren
inflamasi artikuler dan periartikuler yang berat), tofus (endapan kristal yang menumpuk dalam
jaringan artikuler, jaringan oseus, jaringan lunak serta kartilago), nefropati gout (gangguan
ginjal) dan pembentukkan batu asam urat dalam traktus urinarius. Ada empat stadium penyakit
gout yang dikenal: hiperurisemia asimtomatik, arthritis gout yang kronis, gout interkritikal dan
gout tofeseus yang kronik.
Ada 4 tahap penyakit gout yaitu : tahap asimptomatik, akut (serangan pertama mendadak
dan memuncak, menyebabkan rasa nyeri yang hebat pada sendi yang terkena, disertai tanda
peradangan, cepat berlalu, dan kembali lagi dalam waktu tertentu), tahap interkritikal (masa
bebas serangan), dan tahap kronis (terdapat timbunan kristal asam urat dalam bentuk tofus, yang
ditemukan pada jaringan lunak, tulang rawan, selaput diantara tulang dan tendon).
Untuk memudahkan diagnosis gout arthritis akut, dapat digunakan kriteria dari American
College Of Rheumatology tahun 1977 sebagai berikut :
A. Ditemukannya kristal urat di cairan sendi, atau
B. Adanya tofus yang berisi Kristal urat, atau
C. Terdapat 6 dari 12 kriteria klinis, laboratoris, dan radiologis sebagai berikut :
a. Terdapat lebih dari satu kali serangan arthritis akut
b. Inflamasi maksimal terjadi dalam waktu 1 hari
c. Arthritis monoartikuler
d. Kemerahan pada sendi
e. Bengkak dan nyeri pada metatarsophalangeal-1 (MTP-1)
f. Arthritis unilateral yang melibatkan MTP-1
g. Arthritis unilateral yang melibatkan sendi tarsal
h. Kecurigaan terhadap adanya tofus
i. Pembengkakan sendi yang asimetris (radiologis)
j. Kista subkortikal tanpa erosi (radiologis)
k. Kultur mikroorganisme negatif pada cairan sendi

Pengaturan diet
Selain jeroan, makanan kaya protein dan lemak merupakan sumber purin. Padahal walau
tinggi kolesterol dan purin, makanan tersebut sangat berguna bagi tubuh, terutama bagi anak-
anak pada usia pertumbuhan. Kolesterol penting bagi prekusor vitamin D, bahan pembentuk
otak, jaringan saraf, hormon steroid, garam-garaman empendu dan membran sel. Orang yang
kesehatannya baik hendaknya tidak makan berlebihan. Sedangkan bagi yang telah menderita
gangguan asam urat, sebaiknya membatasi diri terhadap hal-hal yang bisa memperburuk
keadaan. Misalnya, membatasi makanan tinggi purin dan memilih yang rendah purin.
Makanan yang sebaiknya dihindari adalah makanan yang banyak mengandung purin
tinggi. Penggolongan makanan berdasarkan kandungan purin:
Golongan A: Makanan yang mengandung purin tinggi (150-800 mg/100 gram makanan)
adalah hati, ginjal, otak, jantung, paru, lain-lain jeroan, udang, remis, kerang, sardin,
herring, ekstrak daging (abon, dendeng), ragi (tape), alkohol serta makanan dalam kaleng.
Golongan B: Makanan yang mengandung purin sedang (50-150 mg/100 gram makanan)
adalah ikan yang tidak termasuk golongan A, daging sapi, kerang-kerangan, kacang-
kacangan kering, kembang kol, bayam, asparagus, buncis, jamur, daun singkong, daun
pepaya, kangkung.

Golongan C: Makanan yang mengandung purin lebih ringan (0-50 mg/100 gram
makanan) adalah keju, susu, telur, sayuran lain, buah-buahan.

Pengaturan diet sebaiknya segera dilakukan bila kadar asam urat melebihi 7 mg/dl dengan
tidak mengonsumsi bahan makanan golongan A dan membatasi diri untuk mengonsmsi bahan
makanan golongan B. Juga membatasi diri mengonsumsi lemak serta disarankan untuk banyak
minum air putih. Apabila dengan pengaturan diet masih terdapat gejala-gejala peninggian asam
urat darah, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
Hal yang juga perlu diperhatikan, jangan bekerja terlalu berat, cepat tanggap dan rutin
memeriksakan diri ke dokter. Karena sekali menderita, biasanya gangguan asam urat akan terus
berlanjut.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier S. Penuntun Diet Edisi baru. Instalasi Gizi Perjan RS. Dr. Cipto Mangunkusumo. Dan

asosiasi dietisian Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2006.

Hendra Budiman. Peran gizi pada penyakit artritis. Maj. Kedokt. Atma Jaya Mei 2005; 4(2): 129-

35.

Wardlaw GM, Smith AM. Contemporary nutrition 6th edition update. New York: The McGraw-

Hill Companies; 2007. p.304-14.

Wortmann RL.Gout and Other Disorders of Purine Metabolism. In: Harrisons Principles of

Internal Medicine 16th Ed. Editors: Isselbacher KJ, Braunwald E, Wilson JD, Martin JB,

Fauci AS and Kasper DL. McGraw Hill, New York. 2005, pp. 2079-2088.

Zuljasri Albar. Nutrisi pada gout. Dalam: Daldiyono Harjodisastro, Ari F Syam, Lugyanti

Sukrisman (Eds.). Dukungan nutrisi pada kasus penyakit dalam. Jakarta: PP Departemen

Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006. p.127- 32.

Diet pada Diabetes Mellitus gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2013/09/Brosur-Diet-

Diabetes-Melitus.pdf

Kementrian Kesehatan RI Direktorat Bina Gizi, Subdit Bina Gizi, 2011

DIET PADA DEMAM BERDARAH http://rsulin.kalselprov.go.id/berita-165-diet-pada-demam-

berdarah.html