Anda di halaman 1dari 11

NAMA : LUH PUTU DEVI KARTIKA

NIM : P07134014006
SEMESTER : IV

PEMERIKSAAN HBsAg

Tanggal Praktikum : 9 Juni 2016


Tempat Praktikum : Laboratorium Imunoserologi

I. TUJUAN
Untuk determinasi kualitatif antigen permukaan hepatitis B dalam
serum/plasma.

II. METODE
Immunokromatografi

III. PRINSIP
Rapid test HBsAg adalah uji kualitatif berdasarkan aliran lateral
immunoassay untuk mendeteksi HBsAg dalam serum/plasma. Ketika specimen
yang mengandung HBsAg ditambahkan maka akan bereaksi dengan partikel yang
dilapisi antibodi anti HBsAg pada membran garis tes, dan akan membentuk
komplek antibodi-antigen. Campuran ini akan bermigrasi secara kromatografi
oleh gaya kapiler akan melewati garis test dan membentuk warna pada garis
tersebut.
IV. DASAR TEORI
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B
(HBV) dari family Hepadnaviridae dan genus Orthohepadnavirus. Infeksi virus
hepatitis B terjadi hampir di seluruh dunia dan merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang penting. Lebih dari 380 juta orang di seluruh dunia adalah
pembawa HBV kronis dan lebih dari 2 juta kematian terjadi setiap tahun akibat
penyakit HBV. Di Afrika sekitar 65 juta individu terinfeksi HBV kronis bahkan di
Kamerun prevalensi HBV mencapai 10,1% dan 12,1%. (Andreas A Besong
Frambo,dkk. 2014).

Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) adalah ciri khas dari infeksi HBV.
HBsAg merupakan selubung yang terdapat pada bagian paling luar. Bagian
sebelah dalamnya yang merupakan inti atau core dari virus mengandung hepatitis
core antigen (HBcAg), dan Hepatitis Be antigen (HBeAg), partially double
stranded DNA, DNApolimerase (DNA-p) dan suatu aktifitas polymerase. HBsAg
dapat dideteksi dalam serum atau plasma untuk melihat indikasi adanya infeksi
virus hepatitis B. Infeksi awal hepatitis B tidak memunculkan gejala klinis karena
gejala klinis muncul 2-3 minggu setelah infeksi, sebagian besar penderita tidak
mengetahui jika telah terinfeksi virus ini sehingga dapat menularkan virus ke
individu rentan lainnya (Tai Chung Tseng dan Jia Horng Kao. 2013).

Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) pertama kali ditemukan oleh Blumberg


pada tahun 1968. Sejak saat itu, HBsAg telah digunakan sebagai penanda untuk
diagnosis infeksi HBV. HBsAg merupakan tes kualitatif untuk menentukan
etiologi hepatitis, tetapi tidak untuk memantau perkembangan penyakit pada
pasien dengan infeksi HBV kronis. Selain HBsAg, tes serologi lainnya yang dapat
digunakan untuk mendiagnosis hepatitis adalah hepatitis B e antigen (HBeAg),
serta tes biokimia hati, untuk menentukan tahapan penyakit pembawa HBV.
HBeAg adalah peptida yang beredar berasal dari gen inti, kemudian dimodifikasi
dan disekresikan dari sel-sel hati. Ini biasanya berfungsi sebagai penanda replikasi
virus aktif. Sejak tahun 2007, muncul tes HBsAg secara kuantitatif yang dapat
menilai risiko pengembangan penyakit dan memprediksi respon pengobatan terapi
antiviral pada pasien dengan infeksi HBV kronis (Tai Chung Tseng dan Jia Horng
Kao. 2013).

V. SAMPEL
Serum / plasma (EDTA, heparin, sodium citrate)
Bila tidak segera diperiksa maka serum disimpan pada suhu 2-8 0C sampai 48
jam atau -200C sampai 4 minggu. Sebelum dilakukan pemeriksaan sampel
harus dikondisikan pada suhu ruang (15-30 C). Sampel tidak dapat digunakan
apabila hemolisis, lipemik, ikterik, dan mengandung Reumatoid Faktor.

VI. ALAT DAN BAHAN


Alat
1. Mikropipet
2. Yellow tip
3. Stopwatch / timer
Bahan
1. SD Bioline HBsAg test
Disimpan pada suhu 1 30 C, dan tidak direkomendasikan
disimpan pada freeze.

VII. CARA KERJA


1. Disiapkan alat dan bahan dan kondisikan pada suhu ruang sebelum
digunakan.
2. Alat uji dibuka dari kantong foil atau pembungkusnya dan
diletakkan pada tempat yang datar dan kering serta segera
digunakan.
3. diteteskan 100 l serum/plasma pada sumur, hindari adanya
gelembung saat penetesan.
4. Saat tes mulai bekerja, dapat dilihat pergerakan warna ungu pada
alat uji
5. Hasil diinterpretasikan atau dibaca dalam waktu 20 menit
Catatan: jangan membaca hasil tes setelah 30 menit. Pembacaan yang
terlambat dapat memberikan hasil yang salah.

VIII. INTERPRETASI HASIL


Interpretasi hasil Gambar
Negatif : hanya terdapat satu garis
berwarna pada control line C saja.
Ini berarti tidak terdapat HBsAg dalam
sampel.
Positif : terdapat dua garis berwarna
pada control line C dan test line T.
Ini berarti terdapat HBsAg dalam
sampel.
Invalid :tidak terdapat garis berwarna
pada control line C dan test line T
atau hanya terdapat garis berwarna
pada test line T saja

IX. HASIL PENGAMATAN


a. Reagen atau bahan yang digunakan pada pemeriksaan HBsAg
Rapid test

HBsAg test (merck: SD Bioline)

b. Identitas probandus
Nama Probandus I : Putu Rina
Widhiasih
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 19 tahun
Sampel : serum
1
Nama Probandus II :X
Jenis Kelamin :-
Umur :-
Sampel : serum
2

c. Hasil Pemeriksaan
Sampel serum 1 Sampel serum 2

Terdapat Tidak Sumur Terdapat Terdapa Sumur


garis terdapa tempat garis t garis tempat
berwarna t garis menete berwarna berwarn menetes
pada berwarn s- pada a pada -
control a pada kan control test line kan
line C test line sampel line C T sampel
T
Hasil negatif HBsAg Hasil positif HBsAg
hanya terdapat satu garis berwarna terdapat dua garis berwarna pada
pada control line C control line C dan test line T

X. PEMBAHASAN
Virus hepatitis B adalah agen penyebab penyakit hati akut dan kronis,
termasuk kegagalan fulminan hati, sirosis hati, dan karsinoma hepatoseluler.
Antigen komplek yang terdapat pada permukaan virus hepatitis B disebut dengan
HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen ). Adanya HBsAg dalam serum atau plasma
mengindikasikan penyakit hepatitis B baik kronis maupun akut. Penyakit hepatitis
digolongkan kronis apabila keberadaan HBsAg bertahan lebih dari 6 bulan. Jika
HBsAg bertahan kurang dari 6 bulan maka hepatitis digolongkan akut (Takayuki
Minekawa,dkk. 2013).

Hepatitis dapat disebabkan oleh banyak faktor yang dapat digolongkan


menjadi dua yaitu disebabkan oleh virus dan non virus, penyebab hepatitis non-
virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan. Hepatitis B dapat menyebar
melalui kontak dalam darah, air mani dan cairan vagina yang terinfeksi. Virus
yang menginfeksi manusia masuk ke aliran darah dan terbawa sampai ke hati,
agen infeksi ini akan menetap dan mengakibatkan peradangan yang
mengakibatkan terjadinya kerusakan sel-sel hati. Akibat kerusakan ini maka
terjadi penurunan penyerapan dan konjugasii bilirubin sehingga terjadi disfungsi
hepatosit. Sehubungan dengan hal itu maka pemeriksaan HBsAg diperlukan bagi
setiap individu untuk mencegah terjadinya penularan terutama setiap donor darah
dan setiap kehamilan sehingga bayi yang baru lahir dari ibu penderita hepatitis B
dapat segera diberikan pengobatan prophylactic. Salah satu gejala penyakit
hepatitis adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku dan bagian putih bola
mata. Peradangan pada sel hati dapat menyebabkan kerusakan sel-sel dan
jaringan, bahkan semua bagian dari organ hati. Jika semua bagian organ hati telah
mengalami kerusakan maka akan terjadi gagal hati yang menyebabkan kematian
(Tai Chung Tseng dan Jia Horng Kao. 2013).

Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan Hepatitis B Surface Antigen


(HBsAg) pada serum manusia dengan menggunakan alat test SD BIOLINE
HBsAg. Tes ini dapat digunakan untuk mendeteksi antigen permukaan virus
hepatitis B (HBsAg) yang memanfaatkan perangkat aliran lateral melalui dua
membran, dimana pada membran pertama mengandung antibodi mouse
monoklonal HBsAg (antibodi primer), membran kedua berisi mouse antibodi
monoklonal untuk hapten yang terkonjugasi pada gold koloid (antibodi sekunder).
Saat specimen yang mengandung HBsAg ditambahkan pada tempat sampel maka
akan bereaksi dengan membran yang dilapisi antibodi primer dan sekunder
HBsAg dan membentuk komplek antibodi-antigen. Campuran ini akan bermigrasi
secara kromatografi oleh gaya kapiler akan melewati garis test dan membentuk
warna pada garis tersebut. Terbentuknya warna pada garis test menunjukkan hasil
positif, sedangkan jika tidak terbentuk warna pada garis test menunjukkan hasil
negative. Pada garis control C harus selalu terdapat garis berwarna untuk
menunjukkan prosedur yang dilakukan benar dan alat uji yang digunakan masih
layak pakai (Helena Medina Cruz,dkk. 2015)
Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah serum. Untuk memperoleh
sampel yang berupa serum maka digunakan sampel darah yang disimpan dalam
tabung vaccutainer tanpa antikoagulan. Darah dibiarkan untuk menggumpal di
dalam tabung vaccutainer selama 30 menit dan serum dipisahkan dengan
sentrifugasi pada 3000 rpm selama 15 menit. Apabila tidak segera dilakukan
pemeriksaan maka harus disimpan terlebih dahulu pada suhu 2-8 0C sampai 48
jam atau suhu -200C sampai 4 minggu. Sampel tidak dapat digunakan jika
hemolisis, lipemik, ikterik dan mengandung Rheumatoid Faktor karena hal ini
dapat menggangu hasil pemeriksaan. Sedangkan alat uji disimpan pada suhu 1-
400C dan tidak direkomendasikan disimpan di freeze (Insert kit. 2012).
Adapun langkah-langkah saat praktikum yaitu, yang pertama dilakukan
adalah menggunakan alat pelindung diri dengan baik dan benar, kemudian alat
dan bahan yang akan digunakan disiapkan dan dikondisikan pada keadaan suhu
ruang. Kemudian alat uji dikeluarkan dari pembungkusnya dan diletakkan pada
tempat datar serta kering. Lalu ditambahkan 100 l sampel ke dalam tempat
sampel dengan menggunakan mikropipet dengan tip sekali pakai atau tip yang
berbeda untuk setiap sampel. Hal ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi
silang antara sampel satu dengan yang lainnya. Kemudian hasil diinterpretasikan
atau dibaca pada waktu 20 menit, hal ini dilakukan agar reaksi antara HBsAg
dalam sampel dan antibodi anti HBsAg pada garis tes dapat bereaksi secara
sempurna untuk membentuk ikatan antibodi-antigen sehingga terbentuk warna
pada garis tersebut. Jangan membaca hasil tes lebih dari 30 menit karena
pembacaan yang terlambat dapat memberikan hasil yang salah (Insert kit. 2012).

Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan pada 2 sampel serum yaitu
sampel 1 atas nama Putu Rina Widhiasih yang berusia 19 tahun dan sampel 2
dengan kode X. Pemeriksaan pada sampel 1 menunjukkan hasil negatif HBsAg
yang ditandai dengan adanya satu garis berwarna pada control line C. Hasil ini
sesuai dengan keadaan probandus yang sehat dan tidak memiliki gejala klinis dari
penyakit hepatitis. Sedangkan pada sampel 2 menunjukkan hasil positif HBsAg
yang ditandai dengan adanya dua garis berwarna pada control line C dan test
line T. Hasil ini menunjukkan bahwa dalam serum pasien terdapat Hepatitis B
Surface Antigen (HBsAg). Jika hasil invalid maka tidak akan terbentuk warna
merah pada garis control C. Hal ini disebabkan karena alat uji tidak disimpan
dengan baik dan benar atau telah kadaluwarsa.

HBsAg dalam darah dapat dideteksi dengan berbagai metode yaitu enzyme
immunoassay (EIA), enzyme linked immunoassay (ELISA), enzyme linked
fluorescent assay (ELFA), atau immunochromatography test (ICT). Masing-
masing metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing
sehingga dalam pemilihan metode pemeriksaan harus benar-benar diperhatikan.
Pemeriksaan dengan metode ELISA memiliki kekurangan yaitu pemeriksaan ini
menggunakan jenis antibodi monoclonal yang harganya relatif mahal namun,
kelebihannya dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen dalam kadar
yang sangat rendah dan memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi (Andreas A
Besong Frambo,dkk. 2014).

Pemeriksaan HBsAg secara rapid test memiliki beberapa kelebihan


dibandingkan pemeriksaan lainnya. Kelebihan yaitu memiliki sensitivitas yang
dan spesifisitas yang tinggi. Apabila ada hasil yang positif maka hasil ini
menunjukkan bahwa di dalam tubuh terdapat Hepatitis B Surface Antigen
(HBsAg). Sedangkan hasil jika negatif berarti di dalam tubuh tidak terdapat
Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg). Hasil dari pemeriksaan ini tergolong cepat,
mudahnya cara pemakaian serta biaya yang relatif murah dibanding pemeriksaan
yang lain, hasil uji dari pemeriksaan ini dapat dilihat secara langsung dan dapat
dilakukan oleh setiap orang karena tidak memerlukan keterampilan khusus seperti
halnya dalam uji ELISA. Selain itu, metode ini dapat dijadikan sebagai
pemeriksaan awal (screening test).

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil yaitu sampel yang hemolisis
ditandai dengan adanya warna merah pada serum akibat lisis atu pecahnya sel
darah merah, lipemik yaitu serum keruh akibat adanya lemak, ikterik ditandai
dengan adanya warna yang terlalu kuning pada serum. Pada kasus hepatitis maka
sampel yang diperiksa sebagian besar adalah ikterik sehingga perlu di tambahkan
catatan pada hasil pemeriksaan bahwa sampel yang digunakan ikterik sehingga
akan memudahkan dokter dalam mendiagnosis penyakit. Sedangkan penggunaan
antikoagulan seperti heparin, EDTA, dan sitrat pada sampel plasma tidak
berpengaruh pada hasil.

XI. SIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari hasil praktikum pemeriksaan Hepatitis B
Surface Antigen (HBsAg) pada sampel serum 1 atas nama Putu Rina Widhiasih
adalah negatif HBsAg dan sampel serum 2 dengan kode X adalah positif HBsAg.
DAFTAR PUSTAKA

Andreas A Besong Frambo,dkk. 2014.Prevalence of HBsAg and knowledge about


hepatitis B in pregnancy in the Buea Health District, Cameroon: a cross-
sectional study.
(online).tersedia:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4082373/.
[Diakses: 10 Juni 2016. 8:53 Wita]

Helena Medina Cruz,dkk.2015.Evaluating HBsAg rapid test performance for


different biological samples from low and high infection rate settings &
populations.[online].tersedia :
http://bmcinfectdis.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12879-015-1249-5.
[diakses 11 Juni 2016. 17:34 Wita]

Insert kit.2012. SD Bioline HBsAg

Takayuki Minekawa,dkk.2013.Development of a Highly Sensitive Bioluminescent


Enzyme Immunoassay for Hepatitis B Virus Surface Antigen Capable of
Detecting Divergent Mutant.(online).tersedia:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3754505/.[Diakses: 13 Juni
2016. 07:01 Wita]
Tai Chung Tseng dan Jia Horng Kao.2013.Clinical utility of quantitative HBsAg
in natural history and nucleos(t)ide analogue treatment of chronic
hepatitis B: new trick of old dog.
(online).tersedia:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3698422/.
[Diakses: 13 Juni 2016. 07:09 Wita]