Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakng
Audit Investigasi merupakan bagian dari manajemen kontrol yang dilaksanakan
dalam kegiatan internal audit, di samping audit lainnya, seperti audit keuangan dan audit
kepatuhan atau complience audit. Dalam tata cara pemeriksaan dan sifat pemeriksaannya,
audit investigasi lebih dikenal dengan istilah fraud audit atau pemeriksaan kecurangan. Fraud
audit adalah kombinasi aspek audit forensik/investigasi forensik/uji menyeluruh semua
materi pemeriksaan dengan teknik internal kontrol dalam tata cara internal audit. Seorang
auditor investigatif haruslah memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan auditor
keuangan, mengerti lebih banyak bidang keilmuan misalnya keuangan, hukum, teknologi,
dan lainnya. Auditor investigatif layaknya gabungan dari seorang akuntan, pengacara, dan
detektif. Dalam melakukan audit Investigasi, auditor harus melakukan penilaian secara
obyektif atas suatu transaksi, kejadian, tindakan, atau pelanggaran dan auditor bertujuan
untuk menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan
serta menentukan pihak yang bertanggung jawab terhadap pelanggaran tersebut.
Tindak pidana kecurangan semakin berkembang seiring dengan perkembangan
inteligensia frauder dan menyelaraskan dengan perkembangan ilmu dan teknologi
informatika modern digital elektronik. Sebagai contohnya adalah kecurangan dalam bentuk
pencucian uang/money laundering dan penggelapan asset. Tentunya dibutuhkan peran
lembaga yang mampu mengendus tindak kecurangan lebih dini dengan menggunakan
teknologi modern melalui sistem lembaga-lembaga keuangan untuk menghentikan tindak
pidana tersebut.
Audit investigasi/forensik dapat merupakan pengembangan lebih lanjut atas hasil
audit operasional, audit kinerja yang memuat adanya indikasi KKN dengan konsekuensi
terjadinya kerugian keuangan negara, namun demikian audit investigasi dapat juga
didasarkan indikasi kerugian yang tertayang sebagai berita dalam media massa maupun
dalam laporan atau pengaduan masyarakat. Meskipun merupakan audit yang bersifat khusus,
namun demikian teknologi atau metodologi auditnya dapat menggunakan teknik audit secara
umum sesuai dengan standar audit yang berlaku dengan menggunakan teknik audit yang
sifatnya eksploratif melalui Pengujian terhadap fisik/physical examination yang meliputi
penghitungan uang tunai, kertas berharga, persediaan barang, aktiva tetap dan barang
berwujud lainnya, Meminta konfirmasi /confirmation dalam investigasi bahwa tindakan
konfirmasi harus dikolaborasi-padukan dengan sumber lain/substained, Mengaudit dokumen
atau buril /documentation termasuk dokumen digital, electrical dan lainnya. Teknik audit
selanjutnya adalah Reviu yang sifatnya analitis/analytical review yaitu teknik menjawab
terjadinya kesenjangan atas perbandingan yang dihadapi dengan apa yang layaknya harus
terjadi, Meminta informasi lisan atau tertulis dari pihak yang diaudit/inquiry of the auditee
untuk mendukung masalah, Menghitung kembali/reperformance yang mana penggunaan
teknik ini dilakukan dengan menguji kebenaran perhitungan (perkalian, pembagian,
penambahan, pengurangan) dalam rangka memberikan jaminan atas kebenaran secara
aritmatikal, Mengamati/observation ini lebih menggunakan intuisi auditor terhadap
kemungkinan adanya hal-hal yang disembunyikan. Maka perluluan teknik audit yang sagat
maksimal dengan didukungnya bukti-bukti investigasi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa tujuan investigasi?
2. Bagaimana pendekatan elemen Fraud triangle?
3. Bagaimana bentuk bukti?
4. Bagaimana investigasi dan pembuktian serta alat bukti?
5. Bagaimana kesalahan dan kekeliruan yang berpotensi pada investigasi?
6. Bagaimana kunci informasi sebagai kunci investigasi?
7. Bagaimana teknik investigasi?
8. Bagaimana investigasi dengan teknik audit?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui tujuan investigasi?
2. Untuk mengetahui pendekatan elemen Fraud triangle?
3. Untuk mengetahui bentuk bukti?
4. Untuk mengetahui investigasi dan pembuktian serta alat bukti?
5. Untuk mengetahui kesalahan dan kekeliruan yang berpotensi pada investigasi?
6. Untuk mengetahui kunci informasi sebagai kunci investigasi?
7. Untuk mengetahui teknik investigasi?
8. Untuk mengetahui investigasi dengan teknik audit?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tujuan Investigasi
Strategi akan mengarahkan pada teknik investigasi apa yang cocok untuk diterapkan
pada kasus dan situasi yang terjadi. Siklus atau lingkaran fraud theory pada dasarnya
bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang: siapa, kapan apa, bagaimana, dan mengapa
perbuatan fraud tersebut terjadi. Auditor investigatif, fraud examiner ataupun
investigator/reserse (orang-orang yang bergerak di bidang penyelidikan dan penyidikan) pada
kasus fraud atau korupsi harus bekerja sama karena kedua-duanya memiliki keunggulan
masing-masing. Auditor investigatif memiliki keahlian di bidang lingkungan bisnis,
keuangan, akuntansi, dan auditing. Fraud pasti berkaitan dengan hal-hal tersebut. Di sisi lain
dalam mengungkap secara totalitas, auditor investigatif tidak dapat bekerja sendiri melainkan
dibutuhkan pengalaman dan keahlian investigasi dari fraud examiner atau
investigator/reserse.
Tujuan utama investigasi adalah bukan untuk mencari-cari kesalahan seseorang
karena keseluruhan tujuan adalah untuk menemukan dan menentukan adanya fakta kebenaran
yang harus dijalankan secara objektif. Jadi pada investigasi sama sekali tidak boleh ada
rekayasa, termasuk tidak boleh ada penangkapan sebelum diketahui siapa pelakunya secara
jelas, tidak boleh ada tuduhan sebelum reverse proof sudah dipastikan dievaluasi dan seluruh
bukti/ fakta menguatkan serta berbicara yang sebenarnya terjadi dan tidak bertentangan satu
dengan yang lain. Oleh karena itu 6W+1H sangat penting untuk menjadi kerangka investigasi
dan 6W+1H itu terdiri dari:
1. Where : Dimana locus fraud terjadi (di satu tempat ataukah beberapa tempat)?
2. Who : Siapa saja yang melakukan fraud (sendiri ataukah konspirasi/ komplotan)?
3. Whom : Siapa yang dirugikan akibat adanya fraud itu?
4. When : Kapan mulai dan sampai kapan fraud terjadi?
5. What : Menyangkut jumlah, apa yang digelapkan/diselewengkan?
6. Whay : Motif (Mengapa orang melakukan fraud yang dijelaskan dengan fraud
triangle)?
7. How : Bagaimana caranya, trik-trik atau modus operandi seseorang melakukan
fraud?
Istilah 6W+1H SIADI DEMEN BABI untuk memudahkan para dalam istilah
kepolisian disebut investigator kepolisian mengingatnya. SIADI DEMEN BABI adalah
kependekan: siapa (who/ whom), dimana (where), dengan apa (what), mengapa (why),
bagaimana (how), bilamana (when).
Untuk menjawab 6w+1H, investigasi bertujuan untuk mengumpulkan bukti yang
cukup dalam rangka :
1. Affix blame atau menyatakan secara pasti adanya kesalahan atau menentukan apakah
fraud benar terjadi atau tidak (fraud against organization), atau untuk menjawab
apakah fraud melanggar hukum positif (illegal act atau fraud by Organization) atau
tidak.
2. Membongkar misteri fraud (karena pada umumnya fraud disembunyikan sesuai
aksioma fraud pertama) sehingga 6W+1H terjawab tuntas. Hasil investigasi akan
melaporkan motif dan modus operansi sehingga dapat dilakukan langkah perbaikan
pada sebab-sebab terjadinya fraud, besarnya kerugian diketahui pasti sehingga dapat
dilakukan strategi penyelamatan kerugian karena fraud, siapa saja yang terlibat fraud
diketahui sehingga dapat diberikan atau penyelesaian hukum yang sesuai.
3. Menyusun tuduhan atau gugatan karena bukti-bukti yang cukup dan sah meyakinkan
telah dikumpulkan sehingga fraud examiner atau auditor investigatif dan investigator
berkeyakinan kuat dapat memenangkan perkara atau meyakinkan hakim/juri sesuai
aksioma fraud ketiga (eksistensi fraud adalah kewenangan hakim/juri)
4. Menentukan keadaan (extent) dan tingkatan fraud yang terjadi. Kesimpulan ini
biasanya diperlukan pada fraud yang terjadi di sektor swasta, atau kesimpulan ini
diperlukan untuk menganalisis fraud dalam upaya membuat perbaikan. (perhatikan
Strategi Anti Fraud Bank Indonesia yang membutuhkan pelaporan ini agar Bank
Indonesia dapat membina industri perbankan yang kuat, sehat, dan dipercaya
masyarakat) :
Seberapa jauh fraud menyebabkan kerusakan, misalnya apakah fraud tersebut
sudah sampai mengancam kelangsungan hidup perusahaan.
Seberapa luas fraud melibatkan orang-orang di perusahaan, misalnya berapa
banyak orang dalam perusahaan tersebut yang ikut melakukan fraud.
Bagaimana fraud terjadi? Artinya bagaimana trend fraud yang terjadi, apakah
semakin canggih dengan menggunakan teknologi atau cybercrime.
2.2 Pendekatan Fraud Element Triangle
Menurut Dr. Steven Albrecht :
1. Investigasi untuk membongkar fraud dengan tujuan investigasi yang ujung akhirnya
adalah pembuktian perbuatan fraud yang disengaja oleh pelaku/komplotan pelaku dan
dapat menunjuk dengan tegas pelaku atau komplotannya dan bila perlu menangkap dan
menahan mereka. Investigasi ini disebut follow the suspect (FTS).
2. Investigasi untuk memulihkan kerugian fraud akibat ulah pelaku dan komplotannya
dengan membongkar conversion melalui penelusuran atau investigasi harta kekayaan
pelaku dan komplotannya yang diduga terkait dengan hasil kejahatan fraud atau disebut
follow the money (FTM). Penerapan FTM ini juga bermanfaat menelusuri pelaku dan
komplotannya (khususnya pelaku yang menjadi otak yang biasanya tersembunyi
identitas dan lokasi kedudukan/kediamannya) melalui investigasi penyembunyian hasil
fraud dengan teknik investigasi money laundering sehingga dapat dipetakan siapa saja
yang terlibat dan lokasi mereka sehingga turut memudahkan penangkapan.
Fraud triangle menggambarkan tingkat kerumitan fraud serta beberapa pendekatan
atau teknik investigasinya. Dr. Steve Albrecht menyarankan pendekatan yang dapat dipakai
untuk menginvestigasi segitiga elemen fraud sebagai berikut

THEFT ACT

CONCEALMENT ACT CONVERSION ACT

Bagian-bagian dari setiap element-element :


THEFT ACT:
1. Surveillance and covert operations
2. Invigilation
3. Seizing and searching computers
4. Physical evidence Inquiry
Methods Metode yang digunakan:
1. Interviewing Interrogation
2. Honesty Testing
CONCEALMENT ACT:
1. Proactive Auditing
2. Document Examination
3. Phsycal Asset Count
4. Computer Searches
CONVERSION ACT:
1. Searching Publik Records
2. Net Worth Analysis
3. Searching Online Resources

2.3 Bukti
2.3.1 Jenis bukti
Pada fraud di sektor swasta dimana fraud diputuskan untuk diselesaikan secara
internal, maka bukti yang harus didapatkan tidak perlu mengikuti KUHAP sehingga tidak
dikenal istilah alat bukti dan barang bukti. Bukti perbuatan fraud menurut Dr. Steve Albrecht
terbagi atas:
1. Testimonial Evidence adalah bukti yang berupa keterangan dari pihak-pihak yang
berkaitan fraud yang diperoleh dengan melakukan wawancara (interview), interogasi,
ataupun tes kejujuran individu. Bahan bukti ini diperoleh langsung dari orang yang
terkait, sehingga pihak investigator harus cermat dalam memilih pihak-pihak yang
akan dimintai keterangan sehingga tidak menyebabkan keliru, bias dan rancu
pembuktian fraud.
2. Documentary Evidence merupakan bukti yang didapat dari sumber-sumber tertulis
yang ada, seperti laporan dan catatan, dokumen-dokumen yang mendukung, ataupun
informasi dari komputer. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi,
pencarian bukti lebih mudah untuk didapat karena semua aktivitas organisasi
dilakukan oleh sistem komputer, sehingga mestinya mempermudah penelusuran
(tracing) kejadian.
3. Physical Evidence adalah bukti secara fisik yang dapat mendukung investigasi terkait
dengan fraud. Bukti fisik ini biasanya ditemukan di tempat kejadian perkara (crime
scene) pada saat penyelidikan dilakukan Contoh bukti fisik dapat diperoleh dengan
analisis forensik di tempat kejadian perkara, penggeledahan (search) dan penyitaan
(seizure). Kategori bukti fisik adalah sebagai berikut:
objects seperti aset perusahaan yang dicuri, senjata tajam, kunci yang dirusak
Substances seperti bahan materi, zat kimia
Traces (jejak-jejak) seperti pints (cat), stains (noda/bercak), sidik jari, tapak
sepatu
Impressions seperti bekas potongan/sayatan (cutting marks) ukuran ban (tire
tracks)
4. Personal observation Tugas ini dilakukan dengan panca indra secara teliti dan
ditujukan terhadap orang benda, tempat, dan kejadian dengan maksud mendapatkan
bahan bukti, mencari hubungan subjek dengan peristiwa pidananya, maupun
mendapatkan konfirmasi keterangan
2.3.2 Kriteria bukti berkualitas yang dapat meyakinkan (rules of evidence)
Agar bukti dapat meyakinkan adanya fraud dan menjelaskan 6W+1H maka bukti itu
harus:
1. Relevan artinya bukti yang diperoleh wajib yang berkaitan dengan kasus yang hendak
diungkap. Auditor investigatif atau fraud examiner harus fokus pada kasus posisi dan
bukti yang harus dicari dan didapatkan. Relevan berarti bukti terkait langsung dengan
unsur-unsur pidana atau perdata yang hendak dituduhkan atau bukti terkait langsung
dengan fraud dan pelanggaran internal perusahaan.
2. Material berarti bukti yang didapat harus memiliki isi signifikansi untuk membuktikan
fraud. Material bukanlah mendapatkan bukti yang banyak. Bukti yang banyak bukan
berarti sesuai atau cocok untuk menunjukkan adanya fraud. Tetapi bukti yang sedikit
juga tidak benar bila tidak cukup kuat untuk membuktikan adanya fraud.
3. Kompeten berarti bukti yang didapat ada nilainya (berbobot) untuk membuktikan
fraud. Material pada hukum pidana artinya dapat membuktikan terpenuhinya unsur-
unsur pidana yang disangkakan atau pada hukum perdata juga dapat membuktikan
adanya kerugian karena perbuatan atau kelalaian yang menjadi tanggung jawab
pelaku.
Persoalan mendapatkan bukti bukan hanya milik auditor investigatif atau fraud
examiner investigator/reserse juga mendapat kesulitan mendapatkan bukti pada tahap
penyelidikan. Upaya mendapatkan bukti menjadi lebih mudah apabila pelaku sudah
ditetapkan menjadi tersangka karena investigator/reserse dapat melakukan upaya paksa
seperti penggeledahan. Investigasi di sektor publik dapat melakukan upaya mendapatkan
bukti dengan pemaksaan atas kekuatan undang-undang. Contoh: penggeledahan, penyegelan,
penyitaan. Upaya paksa ini jelas mengganggu privasi atau hak pribadi, namun atas kekuatan
undang-undang dimana ketentuan formal telah dipenuhi oleh investigator (penyidik) maka
hak privasi atas benda dapat diabaikan. Bagaimana dengan sektorswasta? Upaya
mendapatkan bukti yang berpotensi mengganggu privasi atau hak pribadi semestinya diatur
dengan tegas dan jelas pada kebijakan fraud govermance, standar prosedur investigasi
internal, dan perjanjian kerja bersama antara perusahaan dengan pekerja. Umumnya
investigasi internal di perusahaan bersifat sungkan untuk mendapatkan bukti dengan
pemaksaan sehingga dibuatlah kriteria investigasi untuk memperoleh bahan bukti yang
akomodatif yang tidak melanggar hak pribadi seperti :
1. Menyediakan pemberitahuan yang memadai kepada pihak yang akan diselidiki
2. Memenuhi kewajiban komunikasi dengan serikat pekerja.
3. Menjaga harga diri pihak yang diselidiki dan penyelidikan dilakukan pada jam kerja
dengan aturan yang beralasan.
4. Tidak mengaitkan dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan kejadian fraud.
5. Penyelidikan dilakukan bersama-sama dengan pihak yang diselidiki.
Hal ini penting diperhatikan karena informasi yang didapat hukum tidak dengan cara
yang melanggar balik dapat digunakan sebagai bahan bukti. Selain itu, pihak yang
diselidikijuga dapat menuntut investigator dengan alasan/anggapan :
1. Pelanggaran atas hak pribadi
2. Pengenaan dugaan dan hukuman yang salah
3. Pembunuhan terhadap karakter (fitnah) atau pencemaran nama baik
4. Penyerangan tiba-tiba terhadap hak keperdataan/kebendaan.
2.3.3 Filosofi bukti fraud
Pada hukum acara pidana, bukti telah diatur mengenai alat bukti dan barang bukti.
Untuk meyakinkan kebenaran dugaan kasus fraud, diperlukan bukti.
1. Bukti yang didapat apakah mampu membuktikan atau tidak membuktikan fakta-fakta.
Hanya ada dua pilihan bagi fraud examiner atau auditor investigatif dan investigator
bahwa Prove (terbukti) atau disprove (tidak terbukti secara absolut atau tidak ada
keraguan dan pertentangan.
2. Kasus fraud yang timbul mewajibkan untuk mencari dan mendapatkan bukti yang
akurat,
3. Tidak ada bukti, tidak ada kasus. Bukti menunjukkan seseorang bersalah guilty) atau
tidak (innocent. Lihat gambar di bawah. Oleh karena itu, tanpa adanya bukti kita tidak
dapat menentukan apakah seseorang itu benar bersalah dan tidak dapat menuntaskan
suatu kasus. Juga tidak boleh kekurangan bukti untuk meyakinkan kesalahan
seseorang.
4. Evidence versus truth (bukti vs kejujuran), maksudnya adalah bukti yang didapat
bukan bukti untuk melawan kejujuran. Justru bukti harus menunjukkan sesuatu yang
apa adanya, bukan rekayasa karena banyak auditor investigatif, fraud examiner,
investigator yang mencari atau mendapat bukti dengan cara rekayasa agar tugasnya
cepat selesai.
5. Fraud evidence seharusnya memiliki muatan yuridis, sehingga seharusnya tidak sama
seperti bukti audit (audit evidence) yang hanya bersifat bukti yang dapat meyakinkan
(persuasive evidence) untuk memberi keyakinan memadai (reasonable assurance).

2.3.4 Bukti yang dibutuhkan (kriminal vs. perdata)


Pada kasus pidana, bukti harus dapat membutikan tanpa keraguan sedikitpun
beyond a reasonable doubt bahwa perbuatan pidana terjadi dan tersangkalah pelakunya.
Bukti harus memuaskan pertanyaan atau menjawab keraguan dan bantahan atau sangkalan
dan alibi sehingga tidak meninggalkan kesimpulan lain selain kesimpulan bersalah (guilty).
Selain itu maksud "beyond a reasonable doubt di sini menurut sistem pembuktian menurut
undang- undang secara negatif adalah bahwa hakim tidak boleh ragu dan harus yakin bahwa
pidana itu ada berdasarkan alat bukti yang diajukan penuntut.
Tugas investigator adalah untuk menyediakan bukti-bukti agar menghilangkan
keraguan dalam membuat keputusan. Upaya mencari buktinya harus lebih sahih, harus
memuaskan dan tidak menimbulkan kesimpulan lain yang tidak jelas.
Pada kasus perdata, bukti harus membuktikan bahwa kesalahaan atau kekeliruan dan
kehilafan (wrong) terjadi dan memiliki bukti-bukti dalam jumlah besar atau berupa
demonstrasi (pertunjukan) yang bukan kepastian tetapi sebuah kemungkinan (probabilitas)
yang lebih besar "preponderance of the proof or a demonstration, not of certainty, but of
greater probability." Bukti juga harus jelas dan membuktikan "clear and convincing
sehingga berdasarkan bukti yang ada hakim sudah bisa membuat keputusan. Perbedaan
tingkat bukti yang dibutuhkan:

Pidana

Perdata

2.4 Investigasi dan pembuktian serta alat bukti


Rangkaian kegiatan untuk mencari dan menemukan bukti disebut penyelidikan dan
upaya mendapatkannya dengan pemaksaan atas kekuatan undang-undang dijumpai pada
tahap penyidikan. Dengan demikian tahapannya adalah sebagai berikut:

MENCARI MENEMUKAN MENDAPATKAN BUKTI

Mengacu pada pengertian alat bukti dan barang bukti menurut KUHAP, maka bukti
adalah benda, surat dan atau keterangan, yang ditemukan/didapatkan dalam penyelidikan dan
atau penyidikan dugaan tindak pidana, dimana benda, surat dan atau keterangan tersebut
setelah dijadikan fakta yuridis/hukum dalam persidangan merupakan alat bukti yang syah.
alat bukti, barang bukti, atau bukti bisa didapat karena :
1. Adanya penyerahan sukarela oleh pemilik atau pemegang bukti
2. Adanya penyerahan terpaksa oleh pemilik atau pemegang bukti
3. Bukti ditemukan auditor investigatif, fraud examiner, atau investigator/reserse yang
biasanya didapat pada tempat kejadian peristiwa
4. Bukti didapat saat atau karena adanya penyelidikan
5. Bukti didapat saat atau karena adanya penyidikan
2.4.1 Cara mencari alat bukti,
Barang bukti atau bukti disebut teknik investigasi. Petugas yang melaksanakan fraud
examination, investigasi/reserse, dan audit investigatif dalam mencari alat bukti, barang bukti
atau bukti dapat menggunakan teknik antara lain:
1. Pengolahan tempat kejadian perkara (crime scene investigation)
2. Penggeledahan, penyegelan, dan penyitaan
3. Pengamatan atau observasi
4. Wawancara (interview) dan interogasi
5. Pembuntutan (Surveilance)
6. Penyamaran (undercover)
7. Penelusuran transaksi dan penerapan teknik audit yang relevan
8. Penyadapan
Kasus korupsi di sektor publik, berhubung pada penyelidikan tidak ada upaya paksa
untuk mendapatkan barang bukti dan/atau alat bukti serta merupakan proses yang bertujuan
untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan serta memperhatikan kekeliruan yang
potensial merusak investigasi dan bukti maka investigasi khususnya penyelidikan diusahakan
dengan operasi tertutup atau samar (covert operation) dimana target operasi ("TO") tidak
disentuh, petugas menjaga jarak, petugas tidak membuka identitas. Sebaliknya pada tahap
penyidikan maka operasi investigasi dilakukan secara terbuka bahkan tersangka yang
menghadapi ancaman pidana tertentu wajib didampingi penasehat hukum. Pada penyidikan,
sekali lagi, diperkenankan: adanya upaya paksa seperti penggeledahan, pemanggilan paksa
untuk memberikan keterangan, dan pemeriksaan (pemberkasan/Berita Acara Pemeriksaan)
sehingga tindak pidana menjadi terang modus operandinya, 6W+1H, dan unsur-unsur pidana
yang dilanggar dapat dibuktikan dengan alat bukti minimal dua.
2.5 Kesalahan dan kekeliruan yang berpotensi kontraproduktif pada investigasi
Pada pelaksanaan investigasi seringkali dijumpai kesalahan yang tidak disengaja atau
tidak diketahui oleh para investigator, auditor investigatif, dan fraud examiner yang
mengakibatkan atau berpotensi proses dan hasil investigasi tidak maksimal. Kesalahan atau
kekeliruan itu adalah sebagai berikut:
1. Tidak memperlakukan informasi pengaduan (whistleblowe) dengan baik karena
analisator atau investigator menganggap remeh informasi yang diterima, apalagi bila
pelapornya memiliki penampilan atau gaya bahasa tidak meyakinkan, berpendidikan
rendah, atau dari kalangan masyarakat dan pegawai bawah. Demikian pula
menganggap remeh orang lain pada saat investigasi adalah kontraproduktif
2. Tidak memperlakukan kejanggalan atau anomali transaksi, anomali data dan
dokumen, anomali akun, perilaku yang tidak biasa dan gaya hidup mewah dengan
penanganan yang pantas. Pada saat penanganan kejanggalan tersebut atau saat
melakukan auditing ditemukan adanya informasi yang tidak material maka pada
umumnya auditor atau auditor investigatif yang tidak berpengalaman akan
mengabaikannya. Padahal apabila informasi tidak material itu didalami lebih lanjut
bukan tidak mungkin akan membongkar fraud
3. Memanggil tersangka atau para tersangka lebih awal sementara penanganan kasus
melalui investigasi sedang atau belum berjalan dan belum menghasilkan data, bukti,
fakta yang memberatkan dan mengunci (seal) tersangka/para tersangka. Biasanya
pemanggilan ini didorong oleh rasa marah dan malu atasan tersangka dan
keingintahuan yang segera dari atasan itu untuk mengetahui motif dan modus
operandi tersangka padahal tindakan inisangat kontraproduktif dan dalam banyak
kisah mendorong pelaku menghilang dan perusahaan korban gagal memperoleh
penyelesaian hukum dan kerugian. Demikian pula wawancara atau interogasi yang
segera di awal oleh investigator, auditor investigatif, dan fraud exam yang tidak
berpengalaman dalam wawancara atau interogasi juga kontr aproduktif.
4. Memberhentikan atau memecat tersangka atau para tersangka sementara penanganan
kasus melalui investigasi sedang atau belum berjalan. Biasanya pemecatan ini
didorong oleh rasa marah atasan kepada tersangka padahal tindakan ini sangat kontra
produktif dan perusahaan korban gagal memperoleh penyelesaian hukum dan
kerugian.
5. Pengelolaan insiden atau kejadian fraud yang salah yang dengan tersangka, tempa
berkaitan kejadian, dan barang bukti. Adalah hal yang baik penanganan yang segera
pada insiden atau kejadian fraud (fraud incident response), namun apabila tidak
dilakukan sesuai prosedur dan tidak dilakukan dengan profesional justru
kontraproduktif. Pada organisasi yang besar seperti mempunyai unit usaha di linta
negara, lintas provinsi, lintas pulau maka hal yang lumrah bila unit investigasi tidak
mengetahui dan tidak menangani dengan segera fraud yang terjadi sehingga pimpinan
unit kerja yang mengalami fraud melakukan fraud incident response. Pada tindak
pidana, pengolahan tempat kejadian perkara baik kepada tempat, barang bukti, korban
sangat kritikal untuk memberikan informasi dan bukti sementara untuk investigasi.
Namun apabila fraud incident response yang notabene adalah pengolahan tempat
kejadian perkara tidak dilakukan dengan baik justru akan kontraproduktif.
6. Penerapan asumsi yang berlebihan dan tidak tepat. Penggunaan asumsi yang
berlebihan biasanya terjadi pada saat menganalisis dan menginterpretasi informasi
yang didapat dari data atau dokumen dan keterangan wawancara. Hal ini terjadi
karena fraud examiner, auditor investigatif atau investigator menggunakan kotak
pengetahuan dan pengalamannya yang berada dalam ingatannya sehingga ia lompat
pada kesimpulan (umping to conclusion) yang dibangunnya sendiri tanpa memeriksa
secara detil dan mengkonfirmasi ulang ke bukti yang lain. Selain itu fraud examiner,
auditor investigatif atau investigator tidak melakukan sealing (pembungkusan dan
penguncian) pada "informasi kunci yang dapat menyudutkan tersangka serta
membiarkan "informasi kunci" terbuka yang memungkinkan tersangka dan saksi yang
tidak kooperatif membantah keterangan atau data sebelumnya.
7. Kesalahan berikutnya adalah fraud examiner, auditor investigatif atau investigator
secara tidak sadar merusak bukti padahal bukti tersebut bersifat direct evidence atau
barang bukti yang penting dan alat bukti surat atau petunjuk yang akan digunakan
untuk memenangkan tuduhan atau gugatan. Misal: auditor investigatif yang paling
mudah mendapatkan akses ke pembukuan, catatan, laporan, dokumen transaksi
melipat atau mewarnai/ menandai bagian yang penting pada dokumen asli kontrak
pengadaan. Hal ini sangat terlarang. Prosedur pemeliharaan, penyimpanan dan
penggunaan dokumen atau bukti disebut chain custody harus dibangun di unit kerja
investigasi. Termasuk yang dilarang adalah kekeliruan penanganan tempat kejadian
perkara yang umumnya terjadi pada fraud incident response sehingga tempat kejadian
perkara menjadi tercemar
8. Pada audit keuangan atau audit atas laporan keuangan, selain pengabaian bukti
indikasi fraud yang tidak material sehingga auditor kehilangan peluang membongkar
fraud, disebut loose thread theory, terdapat kesalahan lain yang juga dapat
menyebabkan kehilangan peluang membongkar fraud yaitu small stuff. Transaksi dan
akun beban (expense) dan biaya (cos) merupakan bagian yang tidak dilakukan
pengujian tersendiri seperti halnya pengujian atas saldo a laporan posisi keuangan
(balance sheet). Beban atau biaya diuji pada saat pengujian atas pengendalian dan
pengujian substantif atas transaksi sehingga fraud pada costexpense yang tidak masuk
ke dalam cakupan pengujian dan/atau tidak terdeteksi maka fraud tersebut
"menghilang" atau selamat tidak terekspos pada aktivitas perusahaan atau organisasi p
suatu tahun atau periode buku. Untuk itu, auditor wajib cermat (bersifat proactive
fraud auditing) pada saat pengujian atas pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi dan diharapkan memiliki pengetahuan tentang fraud pada cost/expense
seperti modus expense reimbursement (lihat kembali pembahasan fraud tree)
9. Fraud examiner, auditor investigatif atau investigator seringkali asyik dan terlalu
semangat memburu bukti yang bersifat positif melumpuhkan lawan (tersangka) dan
memenangkan tuduhan atau gugatannya tetapi melupakan bukti negatif yang justru
dapat melumpuhkan perjuangannya memenangkan tuduhan. Untuk itu di setiap
informasi yang didapat untuk memvalidasi hipotesa yang dibangun pada fraud theory
hendaknya fraud examiner, auditor investigatif atau investigator membangun kondisi
what if yaitu segala kemungkinan seandainya konstruksi tuduhan dan bukti yang
didapat dipatahkan atau dilemahkan oleh sangkalan, bantahan, tangkisan, alibi atau
tantangan dari pihak tersangka dan penasehat hukumnya. Sekali lagi jangan lupa dan
jangan dianggap remeh reverse proof.
10. Akhirnya meskipun sepele, fraud examiner, auditor investigatif atau investigator
seringkali terlalu percaya pada ingatannya. Memang benar bahwa pada saat
penyelidikan lapangan dan wawancara disukai tidak mencatat atau tidak
menggunakan daftar pertanyaan sehingga memudahkan membangun pendekatan
antara pewawancara dengan terwawancara, namun sayangnya fraud examiner, auditor
investigatif atau investigator lupa mencatat atau membuat laporan hasil wawancara
setelah melakukan wawancara tersebut. Saat ini terdapat alat perekam yang dapat
tersembunyi atau gadget yang dapat merekam, maka gunakanlah atau segera membuat
catatan dan laporan atas informasi yang didapat. Jangan lupa mencatat nama dan
alamat terwawancara, saat wawancara, dan informasi (clues) yang didapatkan.
11. Prioritas investigasi kadangkala dilakukan berdasarkan pertimbangan estimasi
kerugian yang paling besar padahal kasus fraud yang dihadapi kompleks dan rumit.
Atau dalam melakukan investigasi, fraud examiner, auditor investigatif atau
investigator sering terjebak dan emosional pada sasaran yang fenomenal seperti
tertantang mencari dan mendapatkan bukti yang sulit, bukti yang berhubungan dengan
kerugian yang besar. Pandangan ini keliru karena semestinya sasaran didahulukan dari
yang paling mudah ditemukan namun tepat, serta tidak memakan waktu. Pada kasus
pidana, bukti yang tepat justru akan menjadi sealing (pengunci dari bantahan,
sanggahan dan alibi tersangka dan menjadi pintu masuk untuk membuka fraud
lainnya melalui pengakuan tersangka, keterangan saksi dan bukti lain karena fraud
yang dinilai kecil itu berhasil dibongkar dengan tak terbantahkan dan dapat menjadi
bola salju (snow ball efect untuk membongkar fraud yang lebih besar atau kompleks.
Jadi, apabila seorang investigator menerima banyak laporan dugaan fraud yang
melibatkan seorang tersangkan pelaku, maka mulailah dari kasus yang akan memiliki
snow ball effect.
2.5 Informasi menjadi kunci investigasi
Mengungkap kasus dibuat fraud theory dimana di dalamnya terdapat strategi yang
akan diterapkan yang akan mengarahkan teknik investigasi apa yang akan dilaksanakan. Pada
dasarnya apapun jenis teknik investigasi yang dilaksanakan fraud examiner, auditor
investigatif atau investigator adalah dalam rangka mendapatkan informasi untuk
mengembangkan, memperdalam dan memperkuat temuan yang sudah didapat termasuk untuk
reverse proof yang akhirnya adalah untuk memvalidasi hipotesa yang dibuat. Informasi
dimaksud disebut petunjuk (bukan alat bukti petunjuk) atau clue atau lead investigasi.
Informasi itulah yang harus dicari dan ditemukan. Ingat kembali esensi penyelidikan yang
sebenarnya adalah dalam rangka mencari dan menemukan bukti, sedangkan mendapatkan
bukti dapat dilakukan pada tahap penyidikan. Jangan dibayangkan bahwa audit investigatif
pasti selalu mendapatkan bukti, apalagi audit investigatif sebenarnya merupakan salah satu
teknik investigasi yaitu penelusuran transaksi dan penerapan teknik audit yang relevan.
Informasi untuk mengembangkan, memperdalam dan memperkuat temuan. Temuan
disini artinya adalah apapun informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan investigasi yang
dapat mengarahkan fraud examiner, auditor investigatif atau investigator mendapatkan direct
evidence atau bukti yang sah dan meyakinkan terjadinya fraud dan menunjuk siapa
pelakunya. Jelas bahwa titik akhir adalah bukti, barang bukti dan alat bukti yang sah dan
meyakinkan. Untuk menuju titik ahir itu, fraud examiner, auditor investigatif atau
investigator pasti menjalani jalan terjal dan berliku-liku yang harus ia taklukan. Pada
umumnya fraud examiner, auditor investigatif atau investigator tidak mendapatkan titik akhir
dengan sekali jalan. Oleh karena itu ia harus mendapatkan informasi petunjuk tersebut
setahap demi setahap alias mengembangkan, memperdalam, dan memperkuat temuan sampai
titik akhir.
Pencarian dan atau penemuan alat bukti dalam proses penyelidikan fraud sebaiknya
memilih atau menemukan barang bukti dan atau alat bukti yang tidak mudah dimentahkan
oleh tersangka terdakwa dan atau penasehat hukumnya di sidang pengadilan, antara lain surat
dan atau data tertulis, keterangan ahli, keterangan dari saksi yang konsisten.
2.6 Teknik investigasi
Dalam mencari alat bukti dapat menggunakan teknik-teknik antar lain adalah sebagai
berikut:
2.6.1 Pengamatan (observasi).
Pengamatan adalah penggunaan panca indera fraud errminer, auditor investigatif atau
investigator secara teliti dan ditujukan terhadap orang, benda, tempat, kejadian/stuasi dengan
maksud untuk :
1. Menemukan Barang Bukti dan atau Alat Bukti
2. Memperoleh gambaran yang jelas, lengkap dan terperinci terhadap sasaran
3. Menemukan keidentikan subjek dengan informasi atau gambaran yang telah diperoleh
sebelumnya
4. Melengkapi informasi yang sudah ada
5. Mencari hubungan antara subjek dengan peristiwa pidananya.
6. Konfirmasi keterangan, data atau fakta.

2.6.2 Wawancara (interview) dan interogasi


Wawancara pada dasarnya adalah usaha/kegiatan untuk memperoleh keterangan dan
informasi dari orang yang memiliki atau diduga memiliki keterangan dimana orang tersebut
secara sukarela memberikannya. Sedangkan interogasi pada dasarnya adalah usaha/ kegiatan
untuk memperoleh keterangan dan informasi dari orang (saksi atau tersangka) yang memiliki
atau diduga memiliki keterangan bersifat direct evidence. Dalam hal tertentu, interogasi
terhadap tersangka bertujuan untuk mendapatkan pengakuan. Dalam melakukan wawancara
hendaknya memperhatikan:
1. Dilakukan pendekatan yang tepat
2. Tujuan yang akan diperoleh dalam wawancara sudah harus dimiliki oleh penyelidik
3. Mengajukan pertanyaan secara sistematis
4. Sasaran (pemilik informasi dibiarkan untuk berbicara bebas dan leluasa serta
menghargai pendapat dan apa yang dikemukakan
5. Dilakukan perekaman dengan tidak diketahui oleh sasaran

2.6.3 Pembuntutan (surveillance)


1. Kegiatan pembuntutan dilakukan secara sistimatis terhadap orang, tempat dan benda
namun biasanya sasaran yang dituju adalah orang:
Dilakukan secara tetap atau statis, artinya pelaksana surveillance tidak
berpindah- pindah mengikuti sasaran atau sasaran tidak banyak
bergerak/berpindah
Dilakukan secara mobile adalah kebalikan dari pembuntutan secara tetap
Dilakukan secara longgar artinya sasaran tidak ditempel terus, tetapi hanya
sesaat sesaat, misal pembuntutan dilakukan pada waktu makan siang, pada
waktu pulang kerja, dan lain-lain.
Dilakukan secara ketat artinya target selalu ditempel terus-menerus (hampir 24
jam), sampai pelaksana surveillance puas atau tujuan tercapai.
Dilakukan gabungan antara longgar dan ketat
2. Kegiatan pembuntutan harus direncanakan secara teliti dan matang serta fleksibel
termasuk memperhitungkan risiko dan situasi yang mungkin terjadi
3. Petugas harus dengan cepat menyesuaikan diri dengan objek dan subjek serta situasi
kondisi yang terjadi dan berubah dengan cepat
4. Dilakukan dengan atau tanpa bantuan alat rekam visual atau suara elektronik yang
bersifat portabel (dibawa bersama pelaku pembun
2.6.4 Penyadapan
Pembuntutan (surveillance) selalu diidentikkan dengan kegiatan manual yang
melibatkan panca indera, fisik, dan alat gerak pelaksana surveillance. Namun ada bentuk lain
surveillance yaitu penyadapan pembicaraan. Penyadapan merupakan alat efektif untuk
menangkap basah transaksi koruptif seperti penyuapan dan pemerasan ekonomi. Dalam
penyelidikan dugaan Tindak Pidana Korupsi, penyadapan pembicaraan dapat juga diartikan
merupakan tugas pembuntutan. Pada fraud korupsi penyadapan sangat diandalkan.
Penyadapan pembicaraan dilakukan terhadap sarana telekomunikasi melalui alat yang
ditanam pada para penyedia jasa telekomunikasi, termasuk telekomunikasi selular. Tentu saja
auditor investigatif dan fraud examiner tidak memiliki kemampuan dan kewenangan
menyadap pembicaraan pada sarana telekomunikasi pada kasus fraud di sektor swasta.
Namun, auditor investigatif dan fraud examiner dapat membuntuti pada perangkat kerja
komunikasi di perusahaan seperti e-mail, faximili dan PABX atau disebut electronic (digital
surveillance. Digital surveillance dilakukan setelah diperoleh indikasi atau gejala fraud yang
bisa dideteksi melalui data analytics atas misalnya e-mail yang janggal.
2.6.5 Penyamaran (undercover)
Penyamaran dilakukan karena penyelidik dari melakukan investigasi secara terbuka
tidak mungkin mendapatkan sesuatu yang diharapkan, sehingga ia perlu melakukan
penyamaran Penyamaran adalah kegiatan menyusup ke dalam komunitas, kediaman,
keberadaan dan tempat kerja sasaran. Misal untuk membongkar perdagangan (trafficking)
wanita, polisi reserse wanita harus melakukan undercover. Penyamaran merupakan teknik
investigasi yang sulit dan kompleks sehingga pelaksana penyamaran dituntut harus dapat
menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, antara lain dilakukan dengan cara:
1. Mempelajari sasaran untuk mendapatkan cara dan strategi untuk masuk ke sasaran
dan menyatu dengan sasaran.
2. Melakukan pendekatan dengan sasaran yang telah ditentukan untuk dapat menyatu
dengan sasaran.
3. Apabila menjumpai hambatan pada penyamaran, maka penyamaran dapat melalui
orang lain atau disebut informan.
4. Setelah pelaksana penyamaran berhasil menyatu dengan sasaran, maka ia melakukan
kegiatan yang menumbuhkan kepercayaan dari sasaran atau menghilangkan
kecurigaan sasaran serta sasaran memberikan informasi tanpa diketahui/disadarinya.
5. Agar pelaksana penyamaran menghindari perbuatan yang negatif, kalaupun harus
dilajutkan sebelumnya melapor terlebih dahulu kepada atasan.
6. Penggunaan peralatan penyamaran harus benar-benar dikuasai sehingga tidak
menimbulkan kecurigaan dari sasaran,
7. Agar tidak membuat catatan catatan karena berisiko menimbulkan kecurigaan
sehingga penyamaran dapat terbongkar.
8. Agar tidak menggunakan atau membuang identitas dan simbol instansi karena
berisiko menimbulkan kecurigaan
Penyamaran dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih sempurna (rinci,
akurat, valid) langsung dari lingkungan di sekitar sasaran. Hal ini dilakukan karena
penyelidik belum puas terhadap bukti-bukti yang dikumpulkan. Penyamaran merupakan
teknik paling sulit dilakukan karena selain harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru,
pelaksana harus memiliki keterampilan dan pengalaman khusus. Oleh karena itu sebelum
penyamaran pelaksana harus mencari informasi yang lengkap tentang target sehingga ketika
ia masuk ke dalam sasaran ia bisa cepat menyesuaikan diri. Banyak reserse a investigator
yang meninggal karena terungkap penyamarannya.
2.6.6 Penelusuran/Trasir
Penelusuran biasa dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antar dokumen, surat dan
atau data yang membentuk suatu rangkaian proses yang terkait dengan suatu fraud. Biasanya
kegiatan penelusuran ini merupakan keahlian auditor. Untuk melakukan penelusuran, auditor
perlu mengetahui secara mendalam proses bisnis atau sistem yang akan ditelusuri, dan
dokumen, surat atau data yang dihasilkan dari proses tersebut. Dokumen, surat atau data
tersebut biasanya tersimpan di lemari, file book, filling cabinet, komputer, ruang arsip
Auditor harus melakukan penelusuran dengan cermat dan teliti sehingga sasaran
yangdiharapkan bisa ditemukan, selanjutnya tehadap penemuan tersebut dilakukan
pencatatan dan pemotretan, di foto copy dan dibuatkan berita acara. Hal itu dilakukan agar
dokumen, surat atau data tidak menjadi berkurang, bertambah dan atau dihilangkan. Sebagai
pertanggungjawaban dan untuk menjamin tidak adanya perubahan perlu dimintakan
pernyataan pada berita acara dari oran pejabat yang menguasai dokumen, barang atau data
tersebut.

2.6.7 penggeledahan di ruang kerja pegawai (employee premises searches)


Teknik deteksi lainnya adalah menggeledah komputer, meja dan lemari kerja
pegawai, oker kotak makan, dan lain-lain. Bagi kebanyakan orang menggeledah ruang atau
tempat kerja pegawai sangat terlarang padahal justru tanpa menggeledah upaya mendapatkan
bukti menjadi sulit sebab sebagaimana aksioma fraud kesatu bahwa fraud disembunyikan
atau tersembunyi maka bukti langsung (direct evidence) yang sah dan meyakinkan pasti tidak
akan ditempatkan pada ruang terbuka atau arsip terbuka. Namun yang harus diperhatikan
adalah selain harus terlebih dahulu dgovernance, prosedur investigasi termasuk berhati- yang
berkaitan dengan sumber daya manusia adalah ketika menggeledah, anda harus keempat hati
untuk tidak mengganggu dan menghargai privasi seseorang. Bukti harus didapat dengan cara
yang legal. Jika tidak maka bukti tersebut bisa dikatakan tidak layak.
Bagaimana melakukan penggeledahan secara legal?
1. Harus dibuat kebijakan dan prosedur perusahaan mengenai penggeledahan
2. Menyediakan atau memberikan pemberitahuan yang cukup kepada tergeledah
3. Membuat perianjian dengan serikat pekerja tentang penggeledahan dan memenuhinya
pada saat pelaksanaan penggeledahan
4. Melakukan penggeledahan pada saat jam kerja
5. Menggeledah dengan cara yang tepat
6. Jangan menggeledah sambil memegang tubuh yang digeledah. Pada penyidikan
tindak pidana pajak menggeledah badan dilarang, namun pada tindak pidana lainnya
dimungkinkan menggeledah badan
7. Menggeledah dengan menhadirkan saksi, jangan menggeled

Penggeladahan tanpa menunda dan parsial


Kebanyakan fraud examiner, auditor investigatif, dan investigator tidak memahami
pentingnya penggeledahan secara serentak dan tanpa penundaan sebab jika penggeladahan
secara parsial dan tertunda akan menyebabkan:
1. Lupa: fraud examiner, auditor investigatif, dan investigator lupa sudah sampai dimana
investigasi dilakukan. Biasanya fraud examiner, auditor investigatif, dan investigator
menunda penggeledahan sampai dengan dipandang bukti yang harus didapat melalui
penggeledahan diperkirakan akan banyak didapat. Pandangan ini salah, selain
menyebabkan keterlambatan penggeledahan mungkin akan menyebabkan lupa.
Padahal penggeledahan dapat dilakukan beberapa kali di objek yang sama.
2. Kehilangan bukti yangada Musuh terbesarfraudexaminer,auditorinvestigatif, dan
investigator adalah bukti yang dihilangkan apalagi jika target atau calon tersangka
dapat mencium adanya penyelidikan atau investigasi. Ingat kembali aksioma fraud
kesatu.
3. Penelusurannya menjadi dingin dan sulit untuk penjejakkannya (cold trails sehingga
Penelusuran menjadi tersendat dan sulit
4. Tidak menarik lagi. Fraudexaminer, auditor investigatif, dan investigator kehilangan
mood atau menjadi dianggap tidak perlu karena fraud examiner, auditor investigatif,
dan penggeledahan investigator berasumsi sudah mendapat informasi atau bukti dari
bukti atau informasi yang lain, padahal belum tentu asumsi itu valid.
5. Bingung tentang fakta yang ada Karena terlalu lama ditunda, fraud examiner,
auditor.investigatif, dan investigator jadi bingung antara fakta dan bukan fakta.

2.6.8 Investigasi dan olah tempat kejadian perkara (crime scene investigation)
Pada penanganan fraud yang memiliki unsur tindak pidana, terlebih penanganan
fraud yang terjadi di internal perusahaan, konsep pengolahan tempat kejadian perkara atau
olah TKP (crime scene investigation atau csl tentu saja asing didengar, bahkan terdapat
pertanyaan apakah perlu olah TKP. Pertanyaan ini benar karena CSI pasti berkenaan dengan
tindak pidana umum bukan kejahatan kerah putih. olah TKP atau CSI dibutuhkan pada kasus
pembunuhan, kebakaran, atau peristiwa lainnya. Pertanyaan bantahan ini sangat benar karena
pada tindak pidana umum, bukti yang terdapat pada tempat kejadian perkara (TKP) akan
menjadi petunjuk penting untuk investigasi atau penelusuran berikutnya. Bahkan bukti yang
didapat pada TKP dapat menjadi bukti langsung. Apakah benar pada investigasi fraud tidak
dibutuhkan CSI? Mengingat perbuatan fraud terjadi pada suatu tempat atau lokasi (locus) dan
meninggalkan jejak maka beberapa konsep CSI masih relevan diperhatikan pada investigasi
fraud terutama bagimana mengamankan atau memelihara bu fisik, melindungi alat atau media
dan tempat yang dipakai untuk melakuan fraud, menemukan bukti di luar bukti akuntansi
seperti si jari atau potongan dokumen yang perlu diuji kebenarannya. Bukti fisik sangat
kritikal berperan dalam investi dan penyelesaian hukum atas perbuatan tindak pidana. Oleh
karena itu, pemahaman CSI penting diketahui pada saat insiden fraud terjadi (reponse of
fraud atau first handling of fraud atau fraud incidence response). Tindakan atau respon awal
yang tepat sangat menentukan dalam menjaga keotentikan bukti.
Perkembangan teknologi dan perbaikan teknik analisis dan interpretasi atas bukti
fisik yang ditemukan di TKP atau bukti dari TKP yang dapat dipulihkan dari kerusakan saat
ini telah membantu jalannya penyelidikan. Salah satu teknik yang digunakan adalah digital
forensik terhadap bukti fisik penyimpanan data elektronik yang dirubah, dihapus, ditambah,
atau diganti. Bahkan bukti fisik yang berhasil dipulihkan (physical evidence recovered) dari
TKP lebih penting dari pada bukti fisik yang terdokumentasi dengan rapi. Mengapa
demikian? Hal ini karena fraud berusaha disembunyikan melalui upaya atau unsur
concealment (penyembunyian) Salah satu faktor penting yang mempengaruhi signifikansi
yuridis (legal) dari bukti fisik yang ditemukan secara ilmiah ini adalah investigator yang
mengikuti tujuan dan pendekatan yang cermat dan bijaksana dalam menangani bukti fisik
agar sasaran utama dari proses CSI yaitu mengakui dan melindungi bukti fisik tercapai
sehingga bukti itu dapat menghasilkan informasi yang andal untuk membantu investigasi dan
yang terpenting bukti itu dapat dipercaya otentiknya oleh pengadilan. Ingat aksioma ketiga
bahwa hakim atau jurilah yang memutus keberadaan atau eksisten fraud melalui bukti-bukti
yang dihadapkan di persidangan, salah satunya adalah bukti yang diperoleh melalui CSI.
Oleh karenanya, investigator harus menerapkan pendekatan crime scene investigation karena
barangkali hanya melalui CSI didapat peluang menjaga dan memulihkan petunjuk fisik
(physical clues) Investigasi dapat merubah suatu kasus posisi beberapa kali melalui
wawancara, pengamatan, atau petunjuk fisik. Suatu petunjuk atau bukti-bukti yang ditemukan
di TKP pada awalnya dinilai tidak berguna barangkali dengan seiringnya waktu dan
perkembangan jalannya investigasi bukti tersebut menjadi krusial untuk kesuksesan
penyelesaian kasus. Oleh karena itu, Investigator yang menangani fraud seharusnya
memahami CSI, Investigator atau fraud examiner atau auditor perlu secara kontinyu
mengembangkan dan memperbaharui pengetahuan dan keterampilan CSI melalui pendidikan
dan pelatihan. Terdapat beberapa tahap CSI yaitu :
1. Menerima laporan dan meresponnya dengan mendatangi lokasi kejadian. Berbeda
dengan tindak pidana umum lainnya, fraud yang dilaporkan jarang ditemukan bukti
fisiknya atau seringkali investigator bingung barang apa yang harus diamankan dan
bagaimana cara mengamankannya. Apabila penerima laporan adalah pimpinan unit
kerja tempat terjadinya dugaan fraud seringkali response pertama dilakukan secara
ceroboh yang merusak bukti langsung atau bukti yang menjadi petunjuk (clue). Untuk
itu, pada tahap ini perlu dibuat prosedur penerimaan informasi, prosedu rtanggap
informasinya serta barang bukti. Penggunaan larangan melintas adalah upaya untuk
mengamankan tempat kejadian dan barang bukti. Termasuk bagaimana caranya
mengamankan orang yang diduga dapat memberikan informasi atau petunjuk.
2. Setelah tiba di lokasi, langkah berikutnya adalah melakukan penilaian awal terhadap
TKP Investigator dapat melakukan wawancara awal dengan orang-orang yang berada
di sekitar kejadian, melakukan walk through, dan menilai serta mengevaluasi TKP
untuk menentukan TKP dan pendekatan CSI yang diperlukan. Misalnya apakah
diperlukan digital forensik atau spesialis lain.
3. Mengolah TKP setelah memperoleh gambaran dan penilaian atas TKP dasarnya
adalah menyisiri atau menelusuri dan mencari barang bukti yang dapat menjadi
petunjuk untuk dikembangkan atau didalami lebih lanjut atau dipastikan. Misalnya
suatu kartu ATM tanpa nama barang bukti di TKP ini ditelusuri lebih lanjut. Kesulitan
utama pada olah TKP adalah menimbang dan memutuskan apakah suatu barang bukti
adalah relevan atau tidak Namun, sebagaimana telah di muka, barang bukti yang
semula dianggap tidak bernilai dapat menjadi krusial setelah penyelidikan berjalan
Pada olah TKP, jangan lupa melakuan dokumentasi. Bahasan tentang dokumentasi
bukti investigasi custus).
Dalam melakukan CSI, selain pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
investigator atau fraud examiner perlu ditunjang dengan peralatan CSI untuk menemukan dan
mendapatkan barang bukti di TKP. Untuk pengujian barang bukti tersebut, misal sidik jari,
tulisan tangan, jejak ban, tinta dan lain-lain dapat menggunakan bantuan laboratorium
forensik kepolisian.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Untuk mendapatkan hasil investigasi yang maksimal, seorang fraud auditor harus juga
menguasai beberapa teknik investigasi, antara lain:
1. Pengamatan
2. Wawancara
3. Penuntutan
4. Penyadapan
5. Penyamaran
6. Penelusuran
7. Penggeledahan di ruangkerja
8. Investigasi dan oleh tempat kejadian perkara
Pekerjaan fraud auditor mirip dengan pekerjaan penyelidikan atau penyidikan
kepolisian, di mana penyidikan kepolisian dipakai untuk suatu projustisia, sedangkan fraud
audit investigasi digunakan untuk keperluan internal. Apabila seorang audit BPK, misalnya,
ia harus melaporkan hasil audit investigasi kepada Ketua BPK dalam bentuk laporan rahasia
yang memuat kesimpulan hasil audit, atau opini, lengkap dengan semua berkas, bukti, foto,
hasil wawancara, bukti material, dan lain sebagainya, sesuai dengan maksud audit forensik
tersebut.