Anda di halaman 1dari 14

Nama : Putu Rina Widhiasih

NIM : P07134014002
Semester : V (lima)
Pemeriksaan Malaria (Rapid Test)

Tanggal praktikum : Rabu, 5 Oktober 2016


Materi praktikum : Pemeriksaan Malaria (Rapid Test)

I. Tujuan
Pemeriksaan immunokromatografi (rapid test) untuk mendeteksi dan membedakan secara
kualitatif infeksi malaria dengan antibodi monoklonal terhadap antigen Pf.HRP-2 dari
P.falciparum dan PLDH dari P.vivax dalam sampel whole blood.

II. Metode
Immunokromatografi

III. Prinsip
Berdasarkan reaksi antara membran tes yang dilapisi dengan antibodi monoklonal dengan
antigen Pf.HRP-2 dari P.falciparum dan PLDH dari P.vivax dalam sampel whole blood yang
terkonjugasi dengan gold colloidal bergerak sepanjang membran secara kromatografi menuju
daerah tes dan memberikan garis berwarna akibat reaksi antigen-antibodi

IV. Dasar Teori


Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit, yang umum terjadi diseluruh dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan data terbaru menunjukkan 216 juta kasus
malaria yang terjadi setiap tahunnya, mengakibatkan 655.000 kematian. Penyakit ini menyerang
manusia dari segala umur yaitu mulai dari anak-anak di bawah usia 5 tahun, wanita hamil, dan
orang dewasa nonimmune (dimana sistem imunnya sangat rentan terhadap penyakit). (Alberto
Moreno,dkk.2013). Penyebaran penyakit malaria yaitu pada daerah endemik tropis dan sub-
tropis di seluruh dunia namun setengah dari populasi penduduk dunia berisiko tertular malaria
(Chandrasekhar Bhaskaran Nair,dkk.2016).
Malaria adalah penyakit mematikan yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina
yang terinfeksi, terutama nyamuk Anopheles gambiae di Afrika. Penyakit ini disebabkan oleh
parasit protozoa genus Plasmodium dari keluarga Apicomplexa obligat intraseluler. (Peter D.
Crompton,dkk.2014., dan Balbir Singh,dkk.2013). Yang memiliki Lebih dari 150 spesies yang
dapat menginfeksi mamalia, burung, dan reptil. (Balbir Singh,dkk.2013). Manusia adalah tuan
rumah alami (host) dari 4 spesies Plasmodium yaitu, P. falciparum, P. vivax, P. malariae, dan P.
ovale tetapi parasit P. falciparum dan P. vivax merupakan parasit yang paling banyak
menginfeksi diseluruh dunia. (Katharine Abba,dkk.2014).. Sedangkan kera ekor panjang
(Macaca fascicularis) adalah host untuk 5 spesies Plasmodium yaitu, P. knowlesi, P. fieldi , P.
coatneyi, P. cynomolgi, dan P. Inui. Namun pada tahun 2004 ditemukan bahwa P.knowlesi adalah
spesies kelima yang dapat menyebabkan malaria pada manusia. (Balbir Singh,dkk.2013).

Gejala dari penyakit malaria yaitu demam atau suhu tubuh tinggi, sakit kepala atau nyeri
tubuh, kurang nafsu makan, kelemahan atau kelelahan, mual, muntah atau diare, menggigil atau
dingin, dan gejala flu seperti termasuk pilek, batuk atau bersin. (Jessica Cohen,dkk.2015). Upaya
untuk memberantas vektor dari penyakit ini didasarkan pada intervensi yang komprehensif,
termasuk menggunakan obat antimalaria, kelambu berinsektisida tidur, penyemprotan residu
dalam ruangan, dan pemberantasan sarang vektor pada daerah peternakan. (Sean C.
Murphy,dkk.2013).

Diagnosis malaria telah berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir yaitu dengan
menggunakan mikroskop, rapid tes, tes serologi, dan tes molekuler (PCR). PCR mengukur
prevalensi DNA parasit dalam sampel, dan mungkin jauh lebih sensitif dibandingkan mikroskop
cahaya. (Lucy S. Tusting,dkk.2014). Pemeriksaan mikroskopik yaitu membuat apusan darah
dengan dua cara yang disebut apusan darah tebal dan apusan darah tipis. Pemeriksaan
mikroskopis ini merupakan standar emas penegakkan diagnosis malaria. (Sean C.
Murphy,dkk.2013). Sementara rapid tes adalah tes immunochromatographic yang mendeteksi
antigen parasit dalam sampel darah. Antigen Plasmodium laktat dehidrogenase (PLDH) untuk
deteksi parasit Plasmodium vivax. (M. L. McMorrow,dkk.2011). Antigen dari P.falciparum
adalah histidin rich protein-2 (PfHRP2) yang dideteksi dengan antibodi monoklonal pada
membran test (Juan Yan,dkk.2013). Adapula antigen pLDH pan-spesifik untuk semua
spesies Plasmodium (yaitu, P. malariae dan P. ovale). (Liony Fransisca,dkk.2015)
V. Alat dan Bahan
Alat
1. Mikropipet
2. Yellow tip
3. Stopwatch / timer
4. Pipet dispossible
Bahan
1. Casette MONO malaria (p.f/p.v) Rapid Test
Disimpan pada suhu 1 30 C ( 34-86 F),, tidak direkomendasikan disimpan
pada freeze/tidak boleh dibekukan.
2. Dilluent

3. Sampel whole blood yang diambil saat pemeriksaan akan dilakukan, jika
pemeriksaan ditunda sampel dapat disimpan dalam kulkas / dalam suhu 2-80C
dan tambahkan 0,1% sodium azide sebagai pengawet agar sampel tidak rusak
dan dapat digunakan sebagai sampel pemeriksaan

VI. Cara Kerja


1. Disiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan
2. Kondisikan sampel dan casette sampai mencapai suhu ruang 30 menit
3. Dibuka pembungkus dari cassette dan letakkan di tempat yang kering dan datar
4. Ditambahkan 10 l sampel whole blood ke dalam sumur sampel yang bertanda S
5. Ditambahkan 3 tetes dilluent kedalam sumur dillunt yang bertanda D
6. Dilihat pergerakan warna merah yang terjadi
7. Hasil diinterpretasikan pada 15 menit
Peringatan : Jangan membaca hasil lebih dari 30 menit, karena dapat memberikan hasil
yang salah.
VII. Interpretasi Hasil

(-) = Terdapat 1 garis hitam pada line C, berarti tidak terdapat antigen virus
hepatitis C
(+) =
Terdapat 2 garis hitam pada line C dan line T1 hal itu menandakan
terdapat antigen Pf.HRP-2 dari P.falciparum
Terdapat 2 garis hitam pada line C dan line T2 hal itu menandakan
terdapat antigen PLDH dari P.vivax
Terdapat 3 garis hitam pada line C, T1, dan T2, hal itu menandakan
terdapat antigen Pf.HRP-2 dari P.falciparum dan antigen PLDH dari
P.vivax. intensitas warna yang terbentuk sesuai dengan konsentrasi antigen
dalam sampel.
Invalid = Tidak terdapat garis hitam pada line C atau terdapat garis hitam pada line
T saja

VIII. Hasil Pengamatan


Identitas Probandus 1
Nama : Putu Rina Widhiasih
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 20 tahun
Sampel : whole blood
Hasil : (-) negative tidak terdapat antigen Pf.HRP-2 dari P.falciparum
dan PLDH dari P.vivax
Hanya terdapat satu garis hitam pada control line (C)

MONO malaria (p.f/p.v) Rapid Test Diluent MONO

Rapid Test malaria (p.f/p.v)

Terdapat garis Tidak Tidak Lubang Lubang


berwarna terdapat terdapat specimen diluents
hitam pada garis garis bertanda bertanda
garis control berwarna berwarna S D
C hitam pada hitam pada
IX. Pembahasan
Parasit malaria termasuk dalam genus Plasmodium dan menginfeksi banyak host vertebrata,
termasuk spesies primata non-manusia. Lima spesies Plasmodium parasit yang menginfeksi
manusia yaitu, P. falciparum, P. malariae, P. ovale, P. vivax dan P. knowlesi. Pada umumnya,
prevalensi infeksi parasit P. vivax dan P. falciparum sebagian besar dapat menyebabkan
morbiditas malaria dan kematian. Infeksi parasit P. falciparum yang paling berbahaya diantara
infeksi parasit lainnya dan dapat menyebabkan komplikasi yang parah. (Chandrasekhar
Bhaskaran Nair,dkk.2016). Transmisi penularan malaria sangat bervariasi dalam daerah endemis
penularan malaria tidak hanya ditentukan oleh kapasitas vector dari populasi nyamuk tetapi juga
terdapat faktor-faktor lain, termasuk kekebalan tubuh dari manusia tersebut dan lingkungan
ditempat tersebut. (Lucy S. Tusting,dkk.2014).

P. falciparum memiliki siklus hidup yang kompleks yang melibatkan manusia dan nyamuk
hos. Proses penularan malaria dari nyamuk sehingga dapat menginfeksi manusia tidak lain
adalah proses parasit malaria melengkapi siklus hidupnya. (Lucy S. Tusting,dkk.2014). Parasit
Plasmodium ditularkan dari nyamuk ke manusia dan menyebabkan berbagai manifestasi
penyakit yang dikenal sebagai malaria. Siklus penularannya dimulai ketika kulit manusia digigit
oleh vektor nyamuk Anopheles betina yang sedang mengambil makanan darah dari manusia. Air
liur dari nyamuk yang mengandung bentuk sangat motil dari parasit P. falciparum yang disebut
sporozoite. Tahap sporozoit berjalan menyeberangi dan menginfeksi endotelium kapiler di kulit
masuk ke dalam darah dan berjalan menuju ke hati. Didalam organ hati yang mengandung
sporozoit melintasi sel Kupffer dan hepatosit kemudian menyerangi sejumlah kecil hepatosit.
Dalam hepatosit sporozoit akan berkembang dari waktu ke waktu selama satu minggu dan mulai
meningkat jumlahnya hingga 40 ribu kali lipat sehingga menimbulkan bentuk parasit dalam
darah yang mengalami reproduksi aseksual yang disebut merozoit. Selama tahap ini individu
yang terinfeksi tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi karena tidak ada gejala klinis.
Kemudian Merozoit dilepaskan ke dalam aliran darah melalui tunas parasit, kemudian menuju
vesikel hepatosit yang disebut merosomes dan akan dilepaskan kedalam aliran darah. Dalam
aliran darah, merozoit mengalami siklus untuk dapat menginvasi sel darah merah, lalu
melanjutkan replikasi parasit, dan terakhir RBC akan pecah serta melepaskan merozoit sehingga
dapat menginvasi sel darah merah lainnya. (Peter D. Crompton,dkk.2014). Siklus pecahnya
eritrosit yang terinfeksi menyebabkan pelepasan antigen parasit dan racun lalu akan terjadi
penyerapan endotel spesies tumbuh menjadi trofozoit P. falciparum. Selanjutnya parasit akan
mengalami pertumbuhan intraseluler (sebagai trofozoit), dan mitosis (sebagai skizon).
menyebabkan manifestasi klinis yang terkait dengan malaria, termasuk anemia berat, patologi
endotel, dan kegagalan organ akhir. (Sean C. Murphy,dkk.2013). Pada tahap ini mengandung
parasitemia yang melebihi kepadatan 50.000 sel darah merah akibat infeksi malaria (iRBCs) per
mikroliter darah. Akibat adanya RBC lisis akan meniimbulkan gejala malaria seperti sakit
kepala, demam dan lesu. Parasit malaria pada tahap aseksual berdiferensiasi menjadi gametosit
jantan dan betina. Dalam midgut nyamuk, gamet jantan dan betina akan membentuk ookinetes
yang melintasi epitel midgut dan akhirnya berdiferensiasi menjadi sporozoit yang menyerang
kelenjar ludah nyamuk, menyelesaikan siklus hidup parasit di host invertebrata. (Peter D.
Crompton,dkk.2014). Pasien dapat terinfeksi oleh beberapa strain dari spesies yang sama atau
lebih dari satu spesies parasit malaria, meskipun dampak dari infeksi campuran lebih berisiko.
(Sean C. Murphy,dkk.2013).

Di daerah endemis, banyak pasien yang diduga malaria dirawat berdasarkan gejala demam
saja. Namun, malaria bukan satu-satunya penyebab demam. Dengan demikian, maka pemberian
obat anti-malaria pada pasien yang tidak terinfeksi malaria dapat menyebabkan resistensi obat
dan gagal mencegah kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang mencoba untuk
menghilangkan dugaan pengobatan malaria. Sesuai pedoman (WHO) tahun 2010 pengobatan
malaria merekomendasikan bahwa semua kasus malaria yang dicurigai harus dikonfirmasi
dengan tes diagnostik. Diagnosis malaria dibuat dengan menunjukkan kehadiran parasit dalam
eritrosit, dan banyak teknik telah dikembangkan untuk tujuan ini. Metode diagnostik malaria saat
ini yaitu mikroskop, analisis serologi, diagnostik molekuler, dan modalitas lainnya, beberapa di
antaranya terdapat pula metode point-of-perawatan (POC). Dimana hasil positif palsu dapat
mengarah pada pengobatan yang tidak perlu dengan terkait peningkatan biaya keuangan, efek
samping, dan menyebabkan resistensi parasit malaria. Sebaliknya, hasil negatif palsu
menyebabkan kelebihan morbiditas, mortalitas dan penularan.(Sean C. Murphy,dkk.2013).
Pengobatan malaria sangat tergantung dengan diagnosis yang akurat dan cepat. Selain itu penting
juga untuk memilih sensitif dan spesifik alat diagnostik malaria agar tidak terjadi over-
pengobatan dan penggunaan gegabah anti-malaria (Katharine Abba,dkk.2014).

Pada praktikum kali ini dilakukan diagnosis malaria dengan menggunakan rapid tes, dimana
pemeriksaan rapid itu sendiri adalah pemeriksaan immunochromatographic dengan mendeteksi
antigen parasit spesifik dalam sampel darah menggunakan antibodi monoklonal yang bergerak
sepanjang membran strip uji dengan teknologi aliran lateral. Hasil ditentukan dengan melihat ada
atau tidaknya garis berwarna pada strip tes yang muncul setelah 5-20 menit. Selain itu juga
terdapat control internal untuk memastikan prosedur yang kita lakukan sudah benar, serta
memantau kualitas dan validitas cassete. (Sean C. Murphy,dkk.2013).

Rapid tes digunakan untuk tes skrining diagnosis untuk menegakkan diagnosis malaria
sebelum memberikan pengobatan. (Katharine Abba,dkk.2014). Prosedur penggunaan rapid tes
yaitu Lima microlitres dari seluruh darah segar ditambahkan ke sampel well kemudian
tambahkan tiga tetes diluent. Hasil dibaca dalam 15-20 menit. Tes ini dianggap valid jika
munculnya garis kontrol pada strip tes. (Juan Yan,dkk.2013). Rapid tes terbaru dapat mendeteksi
1-3 antigen plasmodium yaitu histidin kaya protein 2 ( HRP2), laktat dehidrogenase (LDH), dan
aldolase. Antigen HRP-2 (Histidin rich protein 2) yang spesifik diproduksi oleh tropozoit, skizon
dan gametosit muda dari Plasmodium falciparum. Antigen Enzim parasite lactate dehydrogenase
(p-LDH) dan aldolase yang diproduksi oleh parasit bentuk aseksual atau seksual Plasmodium
falciparum, P.vivax, P.ovale dan P.malariae. Antigen aldolase adalah enzim glikolitik ditemukan
di semua spesies Plasmodium. Semenatara antigen lactate dehydrogenase (p-LDH) dapat dibagi
menjadi 2 yaitu laktat dehidrogenase yang spesifik terhadap parasit P. vivax (P. vivax -pLDH),
dan pLDH pan-spesifik untuk semua spesies Plasmodium yaitu, P. malariae dan P. ovale. (Liony
Fransisca,dkk.2015). Antigen HRP-2 dapat bertahan dalam darah sampai dua minggu setelah
infeksi parasit dalam darah. Antigen laktat dehidrogenase beredar dalam darah perifer dalam
waktu yang lebih pendek dari HRP2. (Sean C. Murphy,dkk.2013).

Sampel yang digunakan adalah sampel darah whole blood. Dimana sampel diambil saat
akan melakukan pengujian. Darah diambil pada darah kapiler yang terdapat dijari tangan 3 dan 4
dengan menggunakan lancet dan memipetnya dengan menggunakan pipet dispossible. Langkah
awal yang dilakukan yaitu dikeluarkan diluent dan alat kaset dari kulkas untuk mengkondisikan
alat hingga mencapai suhu ruang. Karena sensitivitas alat akan berkurang pada suhu rendah.
Kemudian dibuka alat kaset dari pembungkusnya dan tempatkan pada tempat yang datar dan
kering. Selanjutnya pilih jari tangan pasien pada jari ke-3 atau jari ke-4, lalu pijat-pijat tangan
tersebut dan lakukan desinfektan dengan alkohol swab pada daerah penusukan. Tusuk jari tangan
dengan lancet, hapus darah pertama yang keluar karena itu merupakan darah yang
terkontaminasi dengan akohol. Darah yang keluar kedua dipipet dengan pipet dispossible dan
tambahkan 1 tetes sampel darah atau setara dengan 5 l darah kedalam sumur sampel dan
tambahkan 3 tetes dilluent pada sumur dilluent. Amati pergerakan warna merah dimana apabila
tidak terlihat pergerakkan warna merah setelah 1 menit, tambahkan 1 tetes dilluent. Hasil dibaca
setelah 15 menit dan dihindari pembacaan lebih dari 30 menit karena akan memberikan hasil
yang salah. Apabila sampel tidak langsung diperiksa, sampel dapat disimpan dikulkas dengan
penambahan 0,1% sodium azide sebagai pengawet dan digunakan agar stabilitas sampel terjaga,
namun diusahakan pemeriksaan dilakukan langsung saat pengambilan sampel agar sampel tidak
terkontaminasi dan tidak rusak. Interpretasi hasil, hasil dianggap negatif jika hanya terdapat garis
berwarna hitam pada control line, garis kontrol line harus selalu muncul dan merupakan kontrol
dari prosedur yang kita lakukan apakah sudah benar dan menyatakan kondisi reagen masih
dalam keadaan baik, hasil dianggap positif mengandung antigen Pf.HRP-2 dari P.falciparum jika
terdapat 2 garis hitam pada control line dan test 1 line, hasil dinyatakan positif mengandung
antigen PLDH dari P.vivax jika terdapat 2 garis berwarna hitam pada control line dan test 2 line,
dan hasil dinyatakan positif mengandung antigen Pf.HRP-2 dari P.falciparum dan PLDH dari
P.vivax jika terdapat 3 garis hitam pada control line, test 1 line dan test 2 line. Intensitas warna
yang terbentuk sesuai dengan konsentrasi antigen tersebut. Jika konsentrasi antigen dalam
jumlah yang besar maka dalam 1 menit sudah terlihat warna garis hitam yang sangat jelas pada
membran tes. (Insert Kit.)
Pada praktikum kali ini sampel yang digunakan berasal dari probandus (Putu Rina
Widhiasih), dimana sampel dikumpulkan dan langsung diperiksa hasilnya menunjukkan reaksi
negatif dimana hanya terbentuk garis warna hitam pada control line, garis pada control line ini
harus selalu menunjukkan reaksi kompleks membentuk garis berwarna hitam karena control line
digunakan sebagai control alat uji tersebut apakah prosedur yang kita lakukan sudah benar atau
tidak serta mengetahui kondisi reagen kita apakah masih valid. Jika pada control line tidak
menunjukkan reaksi kompleks membentuk garis warna merah-ungu, maka itu dianggap invalid
yang artinya ada kesalahan dari tahapan prosedur uji yang kita lakukan atau kondisi reagen kita
yang invalid.
Rapid tes untuk malaria telah meningkatkan ketersediaan diagnosis berbasis parasit di
seluruh dunia endemis malaria. Diagnosis malaria yang akurat sangat penting untuk manajemen
kasus malaria, pengawasan, dan eliminasi dari penyakit malarai. Kelebihan dari rapid tes yaitu
murah, sederhana untuk melakukan, tidak memerlukan listrik atau peralatan yang mahal dan
memberikan hasil dalam 15-20 menit serta memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.
Meskipun sensitivitas tinggi dan spesifisitas untuk infeksi Plasmodium falciparum, rapid tes
memiliki beberapa keterbatasan yaitu tidak mampu mendeteksi dalam kondisi low-density
parasitemia (200 parasit / uL), dan masih kurang sensitif untuk mendeteksi infeksi Plasmodium
vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae. Rapid tes tidak dapat membedakan fase
infeksi atau fase baru diobati, terutama yang mendeteksi antigen HRP2, yang mungkin tetap
positif selama beberapa minggu setelah pengobatan. Gambaran hasil positif dari rapid tes dapat
menyebabkan salah penafsiran oleh petugas kesehatan yang menganggap adanya kegagalan
pengobatan dan kurangnya efektivitas obat anti-malaria. Antibodi monoklonal yang digunakan
untuk mengikat antigen sangat sensitif terhadap panas dan kelembaban, terutama yang
menggunakan antigen laktat dehidrogenase, dan dapat menurun dalam kondisi tropis. Maka dari
itu diperlukan kemasan yang berkualitas agar hasil yang didapatkan juga akurat. Hasil negatif
palsu dari pemeriksaan ini karena rendahnya konsentrasi dari parasit dalam darah dan hasil
positif palsu biasanya karena masih adanya antigen protein kaya histidin setelah pengobatan
selain itu juga terdapat faktor rheumatoid juga dapat menghasilkan hasil positif palsu karena
mengikat imunoglobulin G. (M. L. McMorrow,dkk.2011)

Untuk menegakkan penyakit malaria dapat pula dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis
dan PCR. Pemeriksaan mikroskopis dengan hapusan darah, dikenal sejak penemuan Laveran,
ilmuwan Prancis yang pertama kali diidentifikasi parasit Plasmodium dengan metode hapusan
darah yang paling dapat diandalkan untuk mendiagnosis malaria. Spesimen yang digunakan
adalah darah, karena mengandung parasit dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari pada cairan
tubuh lainnya seperti air liur atau urin juga dapat digunakan namun kurang invasif. (CCA
Azikiwe,dkk.2012). Pemeriksaan mikroskopis Giemsa dengan hapusan darah tebal dan tipis
tetap metode laboratorium konvensional dan masih dianggap sebagai 'standar emas'.
Pemeriksaan dilakukan dengan membuat hapusan darah kemudian diwarnai dengan pewarnaan
Romanovsky seperti Giemsa selama 10-60 menit agar dapat melisiskan eritrosit. (Sean C.
Murphy,dkk.2013). Pemeriksaan mikroskopis memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang
memungkinkan mengidentifikasi spesies mulai dari tahap diferensiasi dan jumlah parasit dimana
hal tersebut sangat penting dalam menilai tingkat keparahan penyakit dan resep terapi yang tepat.
Selin itu pemeriksaan mikrospkopis juga dilakukan untuk mendiagnosis infeksi saat infeksi pada
fase tanpa gejala. Namun pemeriksaan harus intensif karena parasit dapat terlewatkan jika tidak
berhati-hati dalam memeriksa slide. (Wongsrichanalai 2007). Jika parasitemianya sangat rendah
akan sangat mungkin terlewatkan bahkan dengan kualitas mikroskop yang baik. Batas deteksi
metode mikroskopi diperkirakan sekitar empat sampai 20 parasit aseksual per uL, meski masih di
bawah kondisi lapangan ambang batas 50 sampai 100 parasit aseksual per uL.(Wongsrichanalai
2007). Hasil positif palsu juga mungkin jika slide darah tidak dibuat dengan tidak hati-hati, akan
terbentuk artefak yang berberntu menyerupai parasit Plasmodium. Hal lain yang dapat
menyebabkan negatif palsu jika eritrosit menumpuk dan parasit bersembunyi dibalik tumpukkan
eritrosit tersebut. (Katharine Abba,dkk.2014). Dalam pengaplikasian pemeriksaan dengan
metode mikroskopis diperlukan Latihan untuk mengevaluasinya sehingga didapatkan hasil yang
akurat, selain itu juga diperlukan peralatan yang mahal dan lama dalam menegakkan
diagnosisnya.(Sean C. Murphy,dkk.2013). Polymerase chain reaction (PCR), yang merupakan
metode molekuler berdasarkan amplifikasi DNA, adalah metode yang paling akurat untuk
mendeteksi parasit dalam darah. Dibandingkan dengan mikroskop, PCR kurang rentan terhadap
kesalahan pengamat dan lebih sensitif pada tingkat rendah parasitemia. Untuk PCR, batas
deteksinya yaitu 0.004 parasit aseksual per uL. (Katharine Abba,dkk.2014). Kelemahan dari PCR
yaitu biaya tinggi, dan jumlah infrastruktur yang diperlukan untuk peralatan dan setup
laboratorium canggih dengan daya listrik yang stabil serta lemari es untuk penyimpanan reagen.
Kebanyakan mesin PCR komersial modern tidak portabel sehingga tidak cocok untuk lapangan,
terutama di daerah dengan sumber daya yang rendah. (Chandrasekhar Bhaskaran Nair,dkk.2016).

X. Kesimpulan
Pada praktikum kali ini probandus atas nama Putu Rina Widhiasih mendapatkan hasil
negatif tidak terdapat antigen dari parasit Plasmodium dalam wholeblood probandus karena
hanya membentuk 1 garis warna hitam pada control line C.
DAFTAR PUSTAKA

Alberto Moreno,dkk.2013.Plasmodium coatneyi in Rhesus Macaques Replicates the


Multisystemic Dysfunction of Severe Malaria in Humans.[online].tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3676004/.[diakses 6 Oktober 2016, 06.30]

Balbir Singh,dkk.2013. Human Infections and Detection of Plasmodium knowlesi


[online].tersedia : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3623376/.[diakses 6
Oktober 2016, 07.00]

CCA Azikiwe,dkk.2012.A comparative laboratory diagnosis of malaria: microscopy versus rapid


diagnostic test kits.[online].tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3609291/.[diakses 6 Oktober 2016, 06.10]

Chandrasekhar Bhaskaran Nair,dkk.2016. Differential Diagnosis of Malaria on Truelab Uno, a


Portable, Real-Time, MicroPCR Device for Point-Of-Care Applications .[online].tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4718663/.[diakses 6 Oktober 2016, 06.45]

Insert Kit.-.MONO Malaria (p.f/p.v) rapid test

Jessica Cohen,dkk.2015. Determinants of malaria diagnostic uptake in the retail sector:


qualitative analysis from focus groups in Uganda.[online].tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4338828/.[diakses 6 Oktober 2016, 06.24]

Juan Yan,dkk .2013.Performance of two rapid diagnostic tests for malaria diagnosis at the China-
Myanmar border area.[online].tersedia :
https://malariajournal.biomedcentral.com/articles/10.1186/1475-2875-12-73.[diakses 6
Oktober 2016, 07.45]

Katharine Abba,dkk.2014. Rapid diagnostic tests for diagnosing uncomplicated non-falciparum


orPlasmodium vivax malaria in endemic countries .[online].tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4453861/.[diakses 6 Oktober 2016, 07.14]

Liony Fransisca,dkk.2015 . Comparison of rapid diagnostic test Plasmotec Malaria-3,


microscopy, and quantitative real-time PCR for diagnoses ofPlasmodium
falciparum and Plasmodium vivax infections in Mimika Regency, Papua, Indonesia.
[online].tersedia : https://malariajournal.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12936-015-
0615-5.[diakses 6 Oktober 2016, 07.56]

Lucy S. Tusting,dkk.2014. Measuring changes in Plasmodium falciparum transmission:


Precision, accuracy and costs of metrics.[online].tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4847140/.[diakses 6 Oktober 2016, 07.18]

M. L. McMorrow,dkk.2011.Malaria rapid diagnostic tests in elimination settingscan they find


the last parasite?.[online].tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4821879/[diakses 6 Oktober 2016, 08.00]

Peter D. Crompton,dkk.2014. Malaria immunity in man and mosquito: insights into unsolved
mysteries of a deadly infectious disease.[online].tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4075043/.[diakses 6 Oktober 2016, 06.50]

Sean C. Murphy,dkk.2013. Malaria Diagnostics in Clinical Trials.[online].tersedia :


https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3820323/.[diakses 6 Oktober 2016, 07.35]