Anda di halaman 1dari 6

NAMA : MADE WULAN KESUMASARI

NIM : P07134014028
SEMESTER : V
Tanggal Praktikum : Rabu, 21 September 2016
Tempat Praktikum : Laboratorium Imunoserologi

PEMERIKSAAN TUBEX

I. TUJUAN
Untuk dapat mendeteksi demam tifoid primer (Antibodi IgM) terhadap
antigen Salmonella typhi O9 Lipopolisakarida.

II. METODE
Inhibition Magnetic Binding Immunoassay (IMBI).

III. PRINSIP
Berdasarkan hasil pengendapan yang terjadi akibat reaksi antibody terhadap
Salmonella typhi O9 pada serum probandus yang dapat menghambat ikatan antara
antibody monoclonal (reagen biru) dengan partikel magnet yang dilapisi antigen (reagen
coklat). Penghambatan yang terjadi sebanding dengan antibody yang terdapat pada
sampel.

IV. DASAR TEORI

V. ALAT DAN BAHAN


5.1 Alat
1. Mikropipet dan Yellow tip
2. V-shape reactive well dan skala warna
3. Beaker glass
5.2 Bahan
1. Serum dan plasma
2. Kontrol positif dan control negative
3. Reagen Tubex (Reagen Coklat dan Reagen Biru)

VI. PROSEDUR KERJA


1. Disiapkan alat, bahan dan reagen yang akan digunakan.
2. Semua sample dan reagen kit disuhu-kamarkan 15-30 menit
3. Dipipet 45 l reagen cokelat ke dalam 3 sumur.
4. Pada masing-masing sumur ditambahkan :
45 l sampel pada sumur 1
45 l control positif pada sumur 2
45 l control negative pada sumur 3
5. Dihomogenkan masing-masing campuran pada setiap sumur dengan
menggunakan pipet yang berbeda (hindari terbentuknya gelembung saat
menghomogenkan).
6. Dilakukan inkubasi selama 2 menit.
7. Ditambahkan 90 l reagen biru pada semua sumur.
8. Ditutup sumur dengan sealing tape dan ditekan hingga erat untuk menghindari
kebocoran.
9. Diguncangkan selama 2 menit dengan memegang sumur menggunakan ibu jari
dan telunjuk pada sudut kemiringan 90o ke arah depan dan belakang.
10. Diinkubasi ketiga sumur tersebut pada V-shape reactive well selama 5 menit
11. Kemudian hasil dapat dibaca dengan membandingkan skala warna pada V-shape
reactive well.

VII. INTEPRETASI HASIL


Nilai berkisar dari 0 (merah muda) ke 10 (biru intens).
Skor Inerpretasi Hasil
0-2 Negatif, tidak ada indikasi infeksi demam tifoid
2-4 Inconclusive score.
Tes dapat diulang atau menggunakan Tubex Wash Buffer,
jika tetap tidak konklusif, pengambilan darah dapat diulang
pada waktu yang berbeda.
4-10 Positif, semakin tinggi skor menandakan indikasi infeksi
demam tifoid yang lebih kuat
Indeterminate Tidak ada warna yang sesuai, diakibatkan karena :
1. Prosedur pengujian yang tidak sesuai. Analisis
sebaiknya diulang
2. Kualitas specimen yang buruk. Analis sebaiknya
diulang atau dapat menggunakan Tubex Wash Buffer

Hasil dapat dibaca secara visual dengan membandingkan skala warna.


Hasil dapat dibaca dalam selang waktu 30 menit setelah pemisahan. Namun
dianjurkan untuk tidak dilakukan penundaan guna menghindari adanya
guncangan yang dapat menyebabkan kesalahan interpretasi.

VIII. HASIL PENGAMATAN


1) Identitas Sampel I :
Kode Sampel :C
Sampel : Serum
Asal : RSUP Sanglah
Hasil Pemeriksaan : Positif (+) dengan skor 4

2) Identitas Sampel II :
Nama Probandus : Rianita
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Hasil Pemeriksaan : inconclusive skor

Gambar Pemeriksaan TPHA :

Control
Positif

Control
Test Cell Negatif
Control Cell
Diluent

Sampel Serum dengan


Reagen TPHA
kode TP
Hasil Pengujian Kualitatif terhadap Sampel TP

1 2 3 4 5

Hasil pengujian kualitatif menunjukkan hasil negative, tidak terjadi hemaglutinasi


Keterangan :
1 = Sampel diluents (pengenceran sampel)
2 = Control well (tidak terdapat hemagglutinasi atau awetan eritrosit
mengendap didasar sumur membentuk titik merah,hasilnya negatif)
3 = Test well (Tidak terdapat hemagglutinasi atau awetan eritrosit mengendap
di dasar sumur membentuk titik merah,hasilnya negatif)
4 = Kontrol Positif (terjadi hemagglutinasi yang menyebar pada permukaan
sumur, hasilnya positif)
5 = Kontrol Negatif (tidak terjadi hemagglutinasi atau awetan eritrosit
mengendap didasar sumur membentuk titik merah,hasilnya negatif)

IX. PEMBAHASAN

X. SIMPULAN
Berdasarkan pemeriksaan Tubex pada sampel dengan kode C didapatkan hasil
positif dengan skor 4, sedangkan pada sampel atas nama Rianita (20 th, ) diperoleh
hasil inconclusive skor.
DAFTAR PUSTAKA

David majs., dkk. 2011. Genetic diversity in Treponema pallidum: implications for
pathogenesis, evolution and molecular diagnostics of syphilis and yaws. [online].
tersedia: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3786143/ (Diakses 15
September 2016. Jam 06:55)
Emily L. Ho dan Sheila A. Lukehart. 2011. Syphilis: using modern approaches to
understand an old disease. [online]. tersedia:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3225993/ (Diakses 15 September
2016. Jam 18:50)
Fadima Yaya Bocoum., dkk. 2015. Evaluation of the diagnostic performance and
operational characteristics of four rapid immunochromatographic syphilis tests in
Burkina Faso. [online]. tersedia:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4480460 (Diakses 15 September
2016. Jam 07:25)
Islay Rodrguez., dkk. 2015. Considerations on the use and interpretation of Treponema
pallidum hemagglutination test for diagnosis of syphilis. [online]. tersedia:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4660574/ (Diakses 15 September
2016. Jam 07:15)
Manju Bala., dkk. 2012. Evaluation of the usefulness of Treponema
pallidum hemagglutination test in the diagnosis of syphilis in weak reactive
Venereal Disease Research Laboratory sera. [online]. tersedia:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3505284 (Diakses 15 September
2016. Jam 06:50)
Narinder Kaur Naidu., dkk. 2012. Comparative study of Treponemal and non-
Treponemal test for screening of blood donated at a blood center. [online].
tersedia: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3353627/ (Diakses 15
September 2016. Jam 06:50)
Pieter W Smit., dkk. 2013. The development and validation of dried blood spots for
external quality assurance of syphilis serology. [online]. tersedia:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3586363/ (Diakses 15 September
2016. Jam 15:30)
Pyadala, Nagababu., dkk. 2016. Seroprevalence of Syphilis Infection among Rural
Pregnant Women Attending to a Rural Teaching Hospital at Sangareddy. [online].
tersedia: http://www.gkpublication.in/IJRR_Vol.3_Issue1_Jan2016/IJRR001.pdf
International Journal of Research and Review (Diakses 15 September 2016. Jam
15:50)
Solanke., dkk. 2014. A Relevance of Serological Tests in Diagnosis of Early Congenital
Syphilis: A Case Report. [online]. tersedia:
http://article.sapub.org/pdf/10.5923.j.ijpt.20140301.02.pdf International Journal of
Prevention and Treatment 2014 (Diakses 15 September 2016. Jam 06:50)