Anda di halaman 1dari 26

PENATALAKSANAAN SINDROM

MYELODISPLASIA

Pembimbing :
Dr. S P Gultom, Sp. PD

Disusun Oleh :
Ricky Agung Kurniawan
0961050073

KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT DALAM


PERIODE 3 OKTOBER 2016 10 DESEMBER 2016
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2016

0
KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmatNya, referat dengan judul Penatalaksanaan Sindrom
Mielodisplasia dapat diselesaikan. Referat ini ditulis dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk menyelesaikan stase kepaniteraan ilmu penyakit dalam
pada program pendidikan dokter umum fakultas kedokteran Universitas Kristen
Indonesia.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan referat ini. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. S P Gultom, Sp. PD selaku dokter pembimbing yang telah
menyediakan waktu dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam
penyusunan referat ini.
2. Para dokter, perawat, serta staf yang telah banyak memberikan saran
saran yang berguna bagi penulis dalam menjalani kepaniteraan di
rumah sakit UKI
3. Orang tua, keluarga terdekat dan teman sejawat yang telah
memberikan doa dan semangatnya kepada penulis.

Akhir kata, penulis berharap semoga referat ini membawa manfaat bagi
pengembangan ilmu dan bagi para pembacanya.

Jakarta, November 2016

Penulis

DAFTAR ISI

1
KATA PENGANTAR.............. 1
DAFTAR ISI.. 2
BAB 1 PENDAHULUAN. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Definisi...5
Etiologi...5
Prevalensi.. 6
Patofisiologi... 7
Gejala klinis... 8
Diagnosis... 8
Pemeriksaan penunjang. 13
Penatalaksanaan. 17
Prognosis 22
Kesimpulan 23

BAB I

2
PENDAHULUAN

Sindrom myelodisplasia (MDS) adalah gangguan sumsum tulang, ditandai


dengan hematopoesis yang tidak efektif, berbagai tingkat sitopenia serta
peningkatan risiko leukemia akut. MDS mewakili spektrum gangguan neoplastik
sel induk klonal yang ditandai oleh kegagalan sumsum tulang dengan sitopeni,
dan persentase leukemia berkisar dari kurang dari 5% sampai 19% dan terjadi
pada populasi lanjut usia. Kejadian MDS dalam data yang baru-baru ini
diterbitkan oleh Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) meningkat
dari kurang dari 5 per 100.000 pasien di bawah usia 60 menjadi 36,2 per 100.000
pada pasien lebih dari 80 tahun. Dengan rata-rata usia diagnosis 76 tahun. Secara
umum, pria dan kulit putih memiliki insiden yang lebih tinggi dari penyakit ini.
Seperti halnya penyakit kanker pada umumnya, penyebab MDS yang pasti
belum diketahui. Studi epidemiologi menunjukkan MDS dihubungkan dengan
paparan bahan kimia seperti benzen, halogenated hydrocarbon, hydrogen
peroksida serta paparan radiasi. Beberapa hal dapat mendasari patologi fenotip
dan biologi pada penyakit ini, termasuk kelainan kromosom dan genetik,
perubahan epigenetic serta dearrangements sitokin dan sistem imun. Onkogenesis
pada MDS bersifat multistep dimana proses akumulasi perubahan genetik yang
pada akhirnya menuju suatu neoplasma ganas setelah sebelumnya melewati fase
pre maligna. Pada fase awal, sel induk normal dan abnormal sama-sama
berfungsi, tetapi pada fase selanjutnya klon ganas lebih dominan. Ciri dari
penyakit ini pada usia dini adalah apoptosis yang dipercepat pada sel induk
hematopoietik disertai dengan peningkatan kompensasi dalam proliferasi.
Setelah diagnosis dibuat, hematologi / onkologi medis mencoba untuk
mengklasifikasikan pasien ke kategori untuk memprediksi prognosis dan
memutuskan strategi pengobatan yang akan dilakukan. Tujuan pengobatan pada
kelompok risiko rendah (kelompok dengan prognosis yang lebih baik) adalah
untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi kebutuhan untuk transfusi,
yang dapat dicapai melalui pilihan yang berbeda, termasuk faktor pertumbuhan

3
erythropoietic, lenalidomide, dan agen hypomethylating. Pada kelompok risiko
tinggi (kelompok dengan prognosis buruk), tujuan pengobatan adalah untuk
meningkatkan kelangsungan hidup dan memperlambat perkembangan penyakit.
Pilihan pengobatan bagi kelompok ini termasuk transplantasi stem cell alogenik
pada pasien yang memenuhi kriteria dan penggunaan agen hypomethylating.
Meskipun tersedia berbagai pengobatan alternatif yang dapat dilakukan, sebagian
besar pasien meninggal karena komplikasi dari penyakit atau transformasi
menjadi leukemia myeloid akut (AML).

BAB II

4
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Sindrom myelodisplasia atau myelodisplasia syndrome (MDS) adalah
kelainan neoplastik hemopoetik klonal yang disebabkan oleh transformasi
ganas sel induk myeloid sehingga menimbulkan gangguan maturasi dan
diferensiasi seri myeloid, eritriod atau megakariosit, yang ditandai dengan
hematopesis inefektif, sitopenia pada darah tepi dan sebagian akan
mengalami transformasi menjadi leukemia myeloid akut.

B. ETIOLOGI
Etiologi MDS tidak diketahui secara pasti, namun dapat terjadi karena
bertambahnya usia, perubahan genetik yang diwariskan atau disebabkan oleh
paparan zat berbahaya. Faktor risiko meliputi pemaparan terhadap pelarut
benzena atau bahan lainnya, halogenated hydrocarbon, tembakau dan asap
rokok serta penurunan sistem imun. Kemoterapi dan radiasi yang
berhubungan dengan terapi juga dapat terkait dengan MDS.
1. Penuaan
Sebagaimana disebutkan di atas, penuaan tampaknya menjadi faktor
risiko terpenting dalam perkembangan MDS karena risiko terjadinya
mutasi meningkat sebanding dengan usia.
2. Kimia
Paparan tingkat tinggi dari beberapa bahan kimia lingkungan,
terutama produk benzena dan minyak bumi, terkait dengan
perkembangan MDS.
3. Rokok
Paparan bahan kimia dalam asap tembakau / rokok dapat
meningkatkan risiko perkembangan MDS.

4. Sitotoksik kemoterapi
Pasien yang sebelumnya mengalami pengobatan kanker atau kondisi
lain dengan kemoterapi, akan meningkatkan risiko untuk terjadinya
MDS sekunder atau terkait pengobatan. Ini mewakili kurang dari 10

5
persen dari semua kasus MDS. Sekunder MDS dikaitkan dengan
mutasi yang berbeda yang terjadi pada MDS spontan dan memiliki
prognosis yang lebih buruk. Waktu antara paparan obat dan terjadinya
MDS dapat 2-3 tahun hingga lebih dari 10 tahun.
5. Radiasi
Terapi radiasi sebelumnya, atau paparan radiasi lingkungan tingkat
tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko MDS. Dalam beberapa
kasus mungkin tidak terlihat sampai 40 tahun setelah paparan.
6. Kelainan Bawaan
Beberapa kelainan bawaan seperti sindrom Bloom, Down Syndrome,
anemia Fanconi dan neurofibromatosis memiliki risiko lebih untuk
terjadinya mutasi yang menyebabkan kanker atau MDS (Leukaemia
Fondation, 2009)

C. PREVALENSI
Perkiraan terbaru dari American Cancer Society (2009), MDS di Amerika
Serikat berkisar 12.000 kasus baru setiap tahun. Jumlah kasus baru
nampaknya akan meningkat karena peningkatan usia rata-rata populasi.
Sekitar 80% sampai 90% dari semua pasien dengan MDS umumnya lebih
dari 60 tahun.
Sedangkan insidens MDS dalam data yang baru-baru ini diterbitkan oleh
Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) meningkat dari kurang
dari 5 per 100.000 pasien di bawah usia 60 menjadi 36,2 per 100.000 pada
pasien lebih dari 80 tahun. Dengan rata-rata usia diagnosis 76 tahun. Secara
umum, pria dan kulit putih memiliki insiden yang lebih tinggi dari penyakit
ini.

D. PATOFISIOLOGI
Penyebab MDS masih belum dikehui dengan pasti, dan sulit dipisahkan
dari penyebab leukemia dan penyakit mieloproliferatif lainnya. Diajukan
sebuah hipotesis bahwa pengaruh factor lingkungan, kelainan genetic dan
interaksi sel menimbulkan mutasi pada tingkat selinduk sehingga
menimbulkan ketidakseimbangan proses proliferasi dan diferensiasi. Variasi

6
perubahan prose situ akan menyebabkan transformasi kea rah leukemia akut,
MDS atau penyakit myeloproliferatif (MPD).
Pada MDS terjasi ketidakserasian antara proliferasi dengan diferensiasi,
dimana daya proliferadi masih cukup tetapi terjadi gangguan diferensiasi atau
maturasi sehingga terjasi hemopoesis inefektif, dengan kematian premature
sel (eritroid, myeloid, megakariosit) dalam sumsum tulang sebelum sempat
dilepaskan ke darah tepi. Hal ini berakibat terjadinya sumsum tulang
hiperseluler, tetapi terjadi sitopenia pada darah tepi.

Bagan 1. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya MDA

E. GEJALA KLINIS
Gejala MDS sering tidak jelas dan spesifik, dan diagnosis sering dibuat
selama pemeriksaan untuk anemia, trombositopenia, atau neutropenia pada
pemeriksaan darah rutin. Jika tampak tanda-tanda dan gejala, biasanya
tergantung pada jenis sel yang terpengaruh.
Ketika eritrosit terpengaruh (situasi yang paling umum), pasien datang
dengan tanda-tanda anemia, termasuk pucat, konjungtiva anemis, takikardi,
hipotensi, kelelahan, sakit kepala, dan intoleransi latihan, atau dengan tanda
dan gejala memburuknya kondisi atau penyakit yang mendasari seperti angina
pectoris, gagal jantung, atau emfisema.
Ketika trombosit yang terpengaruh, kurang dari 20% dari pasien datang
dengan gejala trombositopenia terisolasi sebagai perdarahan kecil (misalnya,

7
perdarahan mukosa, petechie, mudah memar, epistaksis) atau perdarahan
besar (misalnya, perdarahan gastrointestinal, perdarahan intrakranial).
Ketika neutrofil yang terpengaruh, terjadi neutropenia terisolasi misalnya
infeksi bakteri yang sering terjadi pada sistem organ yang berbeda. Infeksi
merupakan keluhan utama dari 10% kasus dan penyebab kematian dari 21%
kasus.
Splenomegali dan limfadenopati jarang terjadi pada MDS. Jika
terdeteksi, maka harus curiga terhadap adanya neoplasma myeloproliferatif
atau limfoproliferatif.

F. DIAGNOSIS
Langkah diagnosis MDS adalah sebagai berikut :
1. Diagnosis MDS sangat dicurigai apabila dijumpai gejala klinik yang
sesuai, terutama pada orang tua, yang disertai sitopenia (anemia,
leukopenia, trombositopenia) persisten atau monositosis yang tidak
dapat diterangkan.
2. Kemudian dilakukan pemeriksaan teliti terhadap apusan darah tepi dan
sumsum tulang untuk mencari tanda-tanda displastik. Abnormalitas
morfologi pada penderita MDS dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Abnormalitas Morfologi pada Penderita MDS

Jenis sel Apus darah tepi Sumsum tulang

Eritroid Ovalomakrosit Eritropoiesis megaloblastoid


Eliptosit Nuclear budding
Akantosit Ringed sideroblast
Stomatosit Internuclear bridging
Teardrops Karioreksis
Normoblas Fragmen nuclei
Basophilic stippling Vakuolisasi sitoplasma
Howel-Jolly bodies Multinuklearitas

Mieloid Anomali Pseudo-Pelger- Huet Defektif granulasi

8
Hipogranulasi Hambatan maturasi pada
tingkat mielosit
Peningkatan bentuk
Nuclear sticks
monositoid
Hipersegmentasi Lokasi abnormal prekursor
imatur
Ring-shaped nuclei
Auer rods

Megakariosi Giant platelet Mikromegakariosit


t Trombosit hipogranuler/ Agranuler Hipogranulasi
Nukleus kecil multipel

3. Jika dijumpai tanda displastik pada satu alau lebih jenis sel, penyebab
dysplasia di luar MDS harus disingkirkan (dengan anamnesis,
pemeriksaan klinik, laboratorium atau pemeriksaan lain). Penyebab
dysplasia diluar MDS antara lain: defisiensi vitamin B12, defisiensi
folat, infeksi virus seperti HIV, pemakaian antibiotika tertentu, agen
kemoterapi, etanol, benzene, atau timah hitam. Apabila penyebab-
penyebab ini telah dapat disingkirkan, diagnosis MDA sudah dapat
ditetapkan.
4. Langkah selanjutnya adalah melakukan klasifikasi berdasarkan FAB
atau WHO.
5. Jika fasilitas tersedia, pemeriksaan sitogenetik dikerjakan untuk
menilai prognosis. Pemeriksaan sitokimia, imunofenotiping,
imunokimia, pemeriksaan onkogen dan kultur jaringan dapat
membantu dignosis, tetapi secara rutin tidak selalu diperlukan.

Sebenarnya untuk diagnosis SDM perlu dibantu dengan pemeriksaan


pembiakan sel-sel sumsum tulang dan pemeriksaan sitogenetik. Sitogenetik
sumsum tulang dapat memberikan informasi prognosis dan adanya
abnormalitas kromosom yang merupakan kunci untuk membedakan MDS
primer dan sekunder. Kromosom abnormal sumsum tulang ditemukan pada

9
30 50 % pasien MDS de novo. Berbagai kelainan sitogenetik pada MDS
termasuk delesi, trisomi, monosomi dan anomali struktur.

10
Bagan 2. Panduan Diagnosis MDS

11
Has there been exposure to cytotoxic drugs or irradiation ? YES

Therapy Related MDS


NO

YES
Are there 5-19% blast cells in the blood or 10-19% blast cell in the bone marrow or Auer rods ?

RAEB-II
NO

Are there no more than 5% blast cells in the blood and 5-9% in the bone marror ?
YES

RAEB-I
NO

Is there an isolates 5q- ? YES

5q - syndrome
NO

Is there multiliniage dysplasia ?


YES

RCMD or RCMD-RS
NO

RA or RARS

Bagan 3. Algoritma Diagnosis MDS menurut kriteria WHO

12
KLASIFIKASI
FAB membuat klasifikasi khusus untuk MDS yang diterima secara luas
sampai saat ini. FAB membagi MDS menjadi 5 kategori berdasarkan jumlah
blast dalam darah tepid an sumsum tulang, jumlah monosit dalam darah tepi,
serta jumlah ringed sideroblast dalam sumsum tulang.
1. Refractory Anemia (RA)
Pada RA dijumpai sitopenia, paling sedikit pada satu turunan sel
(cell lineage), pada umumnya pada seri eritroid. Sumsum tulang
hiperseluler atau normoseluler dengan perubahan displastik
terutama pada sistem eritroid, system granulosit dan megakariosit
mengalami perubahan displastik dalam derajad yang lebih ringan.
Blast dalam darah tepi < 1 % dan dalam sumsum tulang < 5%.
2. Refractory Anemia with Ringed Sideroblast (RARS)
Pada RARS dijumpai sitopenia (hampir selalu disertai anemi),
perubahan displastik, jumlah blast seperti dapa RA. Ring
sideroblast dijumpai > 15% dari sel eritroid berinti dalam sumsum
tulang.
3. Refractory Anemia with Excessive Blast (RAEB)
Pada RAEB dijumpai sitopenia dari dua atau lebih turunan sel pada
darah tepi. Perubahan displastik pada ketiga lineage dalam
sumsum tulang lebih nyata. Blast darah tepi < 5%, dan dalam
sumsum tulang antara 5-20 %.
4. RAEB in Transformation to Leukemia (RAEBt)
Pada RAEBt gambaran hematologi sama dengan RAEB, tetapi
blast darah tepi > 5% atau blast dalam sumsum tulang 21-30% atau
adanya auer rod pada sel blast.
5. Chronic Myelo-Monocytic Leukemia (CMML)
Pada CMML dijumpai monositosis pada darah tepi (monosit >
1.109 per liter). Dalam darah tepi < 5%, sedangkan dalam sumsum
tulang sampai dengan 20% (Brunning et al, 2001).

13
Tabel 2. Kelainan Darah Tepi dan Sumsum Tulang pada MDS Menurut
Klasifikasi FAB

Jenis MDS Darah Tepi Sumsum Tulang

Refractory Anemia (RA) Anemia < 5% blast


<1% blasts < 15% ring sideroblast
of erythroblast
monocytes < 1.109 /l

Refractory Anemia with Anemia < 5% blast


Ringed Sideroblast <1% blasts > 15% ring sideroblast
(RARS) of erythroblast
monocytes < 1.109 /l

Refractory Anemia with Anemia 5% blast


Excess Blast >1% blasts
monocytes < 1.109 /l

Refractory Anemia with Anemia 20% blast


Excessive Blast in >5% blasts
Transformation to
Leukemia (RAEB-t)

Chronic MyeloMonocytic Monocytes < 1.109 /l Blast up to 20%


Leukemia (CMML) Granulocytes often Promonocytes often
increased increased
<5% blasts

Pada tahun 2001 WHO membuat klasifikasi yang lebih detail yang
memunyai hubungan yang lebih baik dengan prognosis. Penggolongan yang
diusulkan WHO untuk MDS adalah :
1. Refractory Anemia (RA)
2. Refractory Anemia with Ringed Sideroblast (RARS)
3. Refractory Cytopenia with Multilineage Dysplasia (RCMD)
4. Refractory Anemia with Excessive Blast-1 (RAEB-1)
5. Refractory Anemia with Excessive Blast-2 (RAEB-2)
6. Myelodiaplasiasyndrome unclassified
7. MDS associated with del-5q syndrome

14
Tabel 3. Kelainan Darah Tepi dan Sumsum Tulang pada MDS Menurut
Klasifikasi WHO 2001

Jenis MDS Darah Tepi Sumsum Tulang


Refractory Anemia (RA) Anemia Erythroid dysplasia only
No or rare blast < 5% blast
< 5% ring sideroblast
Refractory Anemia with Anemia 5% ring sideroblast
Ringed Sideroblast No blast Erythroid dysplasia only
(RARS)
< 5% blast
Refractory Cytopenia Cytopenias (bicyto- Dysplasia in > 10% of
with Multilineage penia/pancytopenia) the cell in two or more
Dysplasia (RCMD) myeloid cell lines
No or rare blast 5% ring sideroblast
No Auer rods < 5% blast
No Auer rods
Refractory Anemia with Cytopenias Unliniage or multilineage
Excessive Blast-1 <5% blasts dysplasia
(RAEB-1) 5-9% blast
No Auer rods
< 1.109 monocytes No Auer rods

Refractory Anemia with Cytopenias 5-19% Unliniage or multilineage


Excessive Blast-2 blast dysplasia
(RAEB-2) Auer rods 10-19% blast
Auer rods
Myelodiaplasiasyndrome Cytopenias Unlineage dysplasia : one
unclassified (MDS-U) lyeloid cell line
No or rare blast < 5% blast
No Auer rods No Auer rods

MDS associated with Anemia Normal to increased


del-5q syndrome Usually normal or megakaryocytes with
increased platelet hypolobulated nuclei
<5% blast <5% blast
Isolated del(5q) cyto-
genetic abnormality
No Auer rods

15
Tabel 5. Kelainan Darah Tepi dan Sumsum Tulang pada MDS Menurut
Klasifikasi WHO 2008

Perbedaan Klasifikasi MDS Menurut FAB dan WHO


Sebetulnya tidak terdapat perbedaan yang bermakna berdasarkan
klasifikasi FAB dan WHO, tetapi klasifikasi WHO dimodifikasi untuk
menajamkan prognosis, yaitu :
1. WHO memasukkan refractory cytopenia sebagai salah satu kategori
MDS karena pada kenyataannya ada kasus-kasus MDS tanpa disertai
anemia sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi FAB

16
2. FAB memakai istilah RAEB dan RAEB-t, sedangkan WHO
menggunakan istilah RAEB-1 dan RAEB-2 dengan titik pemilah
jumlah blast yang sedikit berbeda
3. WHO memasukkan satu kategori baru MDS associated with del(5q), di
klinik dikenal sebagai 5q-syndrome yang mempunyai prognosis yang
sangat baik.

MDS seharusnya dibedakan dengan myeloproliferative disorder yang lain


dan beberapa variasi dari SDM sekunder termasuk defisiensi nutrisi, proses
infeksi, efek obat dan toxic exposures (Hoffbrand, 2005).

G. TATA LAKSANA
Beberapa regimen terapi telah digunakan pada pasien SDM, tetapi
sebagian besar tidak efektif di dalam merubah perjalanan penyakitnya.
Karena itu pengobatan pasien SDM tergantung dari usia, berat ringannya
penyakit dan progresivitas penyakitnya. Berbagai macam regimen terapi telah
dan sedang dicobakan pada penderita MDS namun sampai saat ini
transplantasi sumsum tulang masil merupakan satu-satunya terapi yang
memberikan kepastian hingga terapi simtomatik masih memegang peranan
yang penting bagi pasien MDS.

Transplantasi Sumsum Tulang (Bone Marrow Transplatation)


Cangkok sumsum tulang alogenik merupakan pengobatan utama
pada SDM terutama dengan usia < 30 tahun, dan merupakan terapi kuratif,
tetapi masih merupakan pilihan < 5% dari pasien. Pada pasien MDS
dengan prognosis jelek, transplantasi sumsum tulang merupakan satu-
satunya pilihan yang memberikan harapan. Transplantasi stem sel
autologus akhir-akhir ini mulai mendapatkan perhatian mengingat pada
beberapa kasus MDS dapat dijumpai hemopoesis poliklonal yang normal
setelah kemoterapi. Satu studi mendapatkan angka disease free survival >
30% setelah 2 tahun pasca transplantasi stem sel autologus.

17
Kemoterapi
Pilihan kemoterapi pada MDS bervariasi dari kemoterapi intensif
sampai terapi sitostatika dosis rendah. Penggunaan kemoterapi pada MDS
biasanya diberikan pada tipe RAEB, RAEB-t dan CMML. Sejak tahun
1968 pengobatan ARA-C dosis rendah yang diberikan pada pasien SDM
dapat memberikan response rate antara 50 75 % dan respons ini tetap
bertahan 2 14 bulan setelah pengobatan. Dosis ARA-C yang
direkomendasikan adalah 20 mg/m2/hari secara drip atau 10 mg/m2/hari
secara subkutan setiap 12 jam selama 21 hari. Komplikasi akibat terapi
ditemukan sangat tinggi 13-30% pada beberapa studi yang berbeda,
bahkan pada studi lainnya survival didapatkan lebih pendek dibandingkan
penderita yang tidak mendapatkan terapi.

GM-CSF atau G-CSF


Sitokin dan hematopoietic growth factor (HGF) memainkan
peranan penting sebagai bagian dari terapi simtomatik menderita MDS,
baik GM-CSF atau G-CSF. Pada pasien MDS yang mengalami pansitopeni
dapat diberikan GM-CSF atau G-CSF untuk merangsang diferensiasi dari
hematopoetic progenitor cells. GM-CSF diberikan dengan dosis 30500
mcg/m2/hari atau G-CSF 501600 mcg/m2/hari (0,10,3
mcg/kgBB/hari/subkutan) selama 714 hari. Studi multisenter
membuktikan bahwa pemberian GM-CSF dapat meningkatkan granulosit
dan tidak terbukti dapat meningkatkan kadar hemoglobin dan trombosit.
Terapi dengan eritropoetin dapat meningkatkan hemetokrit 25% penderita
sehingga kebutuhan akan transfusi menjadi jauh berkurang.

Lain-lain
Piridoksin, androgen, danazol, asam retinoat dapat digunakan
untuk pengobatan pasien SDM. Piridoksin dosis 200 mg/hari selama 2
bulan kadang-kadang dapat memberikan respon pada tipe RAEB

18
walaupun sangat kecil. Danazol 600 mg/hari/oral dapat memberikan
response rate 21 33 % setelah 3 minggu pengobatan.

Strategi Terapi
Kategori MDS ada dua kelompok, terdiri atas :
1. Low Risk MDS, yaitu penderita dengan blast <5% dalam sumsum
tulang. Low Risk MDS dapat dikelola secata konservatif, dengan
transfusi sel darah merah atau trombosit dan pemberian antibiotika
bila terjadi infeksi. Dapat juga diberikan eritropoetin atau growth
factor seperti G-CSF untuk mengatasi leukopenia. Pemberian obat
imunosupresif, seperti siklosporin dan ATG dapat dipertimbangkan
2. High Risk MDS, yaitu penderita dengan blast sumsum tulang 5% atau
lebih. Untuk High Risk MDS dapat dipertimbangkan pemberian
kemoterapi, baik tunggal maupun intensif disamping terapi suportif.
Pada pendetita kurang dari 50 tahun, stem cell transplantation
merupakan satu-satunya pengobatan yang sapat menberikan
kemungkinan kesembuhan. Untuk High Risk MDS dengan umur tua
(65 tahun) dianjurkan hanya pemberian terapi suportif karena manfaat
kemoterapi tidak sebanding dengan efek sampingnya.

19
Bagan 4. Algoritma Penatalaksanaan MDS

20
Terapi Suportif pada MDS

21
H. PROGNOSIS
MDS adalah kumpulan beberapa sindrom dengang sifat biologis yang
berbeda-beda sehingga prognosis MDS sangat bervariasi. Banyak faktor yang
berperan dalam prognosis MDS, antara lain klasifikasi, umur, jenis kelamin,
kadar jemoglobin, jumlah netrofil, jumlah trombosit, jumlah monosit, adanya
sel muda (blast) dalam sirkulasi, perubahan displastik dari sumsum tulang,
persentase sel blast dalam sumsum tulang, sitogenetik dan kultur dari
sumsum tulang.
Sistem scoring menurut International Prognostic Scoring System
menggunakan analisis multivariat dengan mengkombinasikan subklasifikasi
dari sitogenetik, presentase sel blast sumsum tulang dan sitopenia sehingga
model ini memunginkan penilaian prognosis lebih baik dibandingkan dengan
beberapa sistem terdahulu.

Tabel 6. Survival and AML Evolution Score Value


Prognosis variabel 0 0,5 1.0 1.5 2.0
Kriteria penilaian
Marrow blast (%) <5 5-10 - 11-20 21-30
Karyotype Good Intermediate Poor
Cytopenias 0-1 2-3

Risk Category Combined Score


Low 0
Int-1 0,5-1,0
Int-2 1,5-2,0
High 2,5

22
BAB III
KESIMPULAN

Myelodisplasia sindrom adalah suatu kelainan sumsum tulang yang berakibat


pada ketidakefektifan hematopoesis, yang mana menimbulkan sitopenia serta
cenderung berisiko pada akut leukimia. Gangguan ini diketahui dapat terjadi oleh
sebab bertambahnya usia, perubahan genetik yang diwariskan atau disebabkan
oleh paparan zat berbahaya. Gejala yang dapat ditimbulkan adalah berkaitan
dengan kejadian sitopenia seperti anemia, bercak-bercak petechie atau perdarahan
dari akibat rendahnya platelet serta infeksi. Sehingga pasien dengan kecurigaan
gejala sindrom myelodisplasia ini perlu melakukan pemeriksaan darah tepi serta
sitogenik. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan pencangkokan
sumsum tulang untuk usia di bawah 30 tahun, kemudian kemoterapi, serta
pemberian GM-CSF atau G-CSF untuk perangsangan hematopoetic progenitor
cells.

23
DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2009. Myelodisplastic Syndrome Overview. Diunduh


dari : www.cancer.org.
Asharianti A. 2009. Sindrom Dismielopoetik. Dalam : Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibrata MI (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II.
Edisi 5. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hal: 1241.
Attilio O and Magdalena B. 2009. MyelodiaplasiaSyndromes. Am J Clin Patho
132:290-305
Barbara B. 2004. The WHO Classification of the Myelodiaplasia Syndromes.
Experimental Oncology (26) : 166-9.
Barzi A and Sekkeres MA. 2010. Myelodiaplasiasyndromes: A practical approach
to diagnosis and treatment. Cleveland Clinical Journal of Medicines 77
(1):37-44.
Brain BJ. 2003. Leukaemia Diagnosis. 3rd edition. Oxford: Blackwell Publishing.
P: 117.
Brunning RD, Bennet JM, Flandrin G, et al. 2001. Myelodiaplasiasyndromes.
IARC Press : 63-7.
Epling-Burnette PK and List AF. 2009. Advancements in the molecular pathogen-
esis of myelodiaplasiasyndrome. Curr Opin Hematol (16):70-76.
Hoffbrand AV. 2001. Sindrom Myelodisplasia. Dalam : Moss P and Pettit JE
(eds). At a Glance Hematologi. Edisi 2. Jakarta: Erlangga. Hal: 79-81.
Hoffbrand AV. 2005. Myelodisplasia Sindrom. Dalam : Pettit JE and Moss P (eds).
Kapita Selekta Hematologi. Edisi 4. Jakarta: EGC. Hal: 139-41.
Itzykson R, Ades L and Fenaux P. 2011. Biology and Prognostic Factors of
Myelodysplastic Syndrome. American Society of Clinical Oncology :251-5.
Leukaemia Foundation. 2009. Understanding Myelodisplastic Syndrome (MDS) :
A guide for patiens and families. Diunduh dari : www.leukaemia.org.au (
29 Agustus 2011)

24
List AF and Doll DC. 2009. The MyelodiaplasiaSyndromes. In : Lee GR, Foerster
J, Lukens J, Parakevas F, Greer JP, Rodgers GM (eds). Wintrobes Clinical
Hematology, tenth ed. Vol 2. Philadelphia : Lippincott Williams and
Wilkins. Pp : 2320 33.
Peter L, Eyal A, John M et al. 2011. MyelodiaplasiaSyndromes : Clinical Practice
Guidelines in Oncology. Journal of the National Comprehensive Cancer
Network (9) 1 : 30-56.
Rami SK and Alan F. 2011. Management of MyelodiaplasiaSyndromes: Starting a
New Decade. American Society of Clinical Oncology : 262-8.
Rami SK and John MB. 2009. What Is WHO ?: MyelodiaplasiaSyndrome
Classification and Prognosis. American Society of Clinical Oncology:413-9.
Steensma DP. 2007. The spectrum of molecular aberrations in
myelodiaplasiasyndromes : in the shadow of acute myeloid leukemia.
Haematologica (92):723-727.
Steensma DP and Tefferi A. 2003. The myelodiaplasiasyndrome(s) : a perspective
and review highlighting current controversies. Leuk Res (27):95120.
Uwe P, Michelle M and Gerhard E. 2007. The pathogenesis of
myelodiaplasiasyndromes (MDS). Cancer Treatment Reviews (33) : S53
S58.

25