Anda di halaman 1dari 9

TANAH DAN TANAMAN

3.1 PERAN TANAH SEBAGAI SUMBER NUTRISI

Tiga komponen utama tanah yang menyediakan nutrient bagi


pertumbuhan tanaman adalah bahan organik, turunan bahan batuan induk,
dan serpih-serpih lempung. Nutrien pertama-tama dibebaskan ke dalam
larutan tanah (air tanah) sebelum dipindahkan ke dalam sistem perakaran
tanaman.

Nitrogen bebas merupakan 79% dari udara. Unsur N2 hanya dapat


dimanfaatkan oleh tumbuhan, umumnya dalam bentuk nitrat, dan
pengambilannya khususnya lewat akar. Terbentuknya nitrat itu karena jasa-
jasa mikroorganisme. Penyusunan nitrat dilakukan secara bertahap oleh
beberapa genus bakteri secara sinergetik. Beberapa genera bakteri yang
hidup bebas di dalam tanah mampu untuk mengikat molekul-molekul
nitrogen guna dijadikan senyawa-senyawa pembentuk tubuh mereka,
misalnya protein

Bakteri, fungi, aktinomisetes, mikroflora, dan protozoa) serta fauna tanah.


Masing-masing biota tanah mempunyai fungsi yang khusus. Dalam kaitannya
dengan tanaman, mikroorganisme sangat berperan dalam membantu
pertumbuhan tanaman melalui penyediaan hara (mikroorganisme penambat
N, pelarut P), membantu penyerapan hara (cendawan mikoriza arbuskula),
memacu pertumbuhan tanaman (penghasil hormon), dan pengendali hama-
penyakit (penghasil antibiotik, antipatogen)

3.2 SIFAT TANAH

A struktur

Struktur tanah terbentuk melalui Agregasi berbagai partikel tanah yang menghasilkan
bentuk/susunan tertentu pada tanah.Struktur tanah juga menentukan ukuran dan jumlah
rongga antar partikel tanah yang mempengaruhi pergerakan air,udara,akar tumbuhan,dan
organisme tanah.Beberapa jenis struktur tanah adalah remah,butir(granular), lempeng,
balok,prismatik, dan tiang.

Macam-macam struktur tanah

1. Struktur tanah berbutir (granular): Agregat yang membulat, biasanya diameternya tidak
lebih dari 2 cm. Umumnya terdapat pada horizon A.
2. Kubus (Bloky): Berbentuk jika sumber horizontal sama dengan sumbu vertikal. Jika
sudutnya tajam disebut kubus (angular blocky) dan jika sudutnya membulat maka
disebut kubus membulat (sub angular blocky). Ukuranya dapat mencapai 10 cm.
3. Lempeng (platy): Bentuknya sumbu horizontal lebih panjang dari sumbu vertikalnya.
Biasanya terjadi pada tanah liat yang baru terjadi secara deposisi (deposited)
4. Prisma: Bentuknya jika sumbu vertikal lebih panjang dari pada sumbu horizontal. Jadi
agregat terarah pada sumbu vertikal. Seringkali mempunyai 6 sisi dan diameternya
mencapai 16 cm. Banyak terdapat pada horizon B tanah berliat. Jika bentuk puncaknya
datar disebut prismatik dan membulat disebut kolumner.

B. tekstur

tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Tekstur tanah merupakan


perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan liat. Tekstur tanah dikelompokkan dalam 12
klas tekstur. Kedua belas klas tekstur dibedakan berdasarkan prosentase kandungan pasir,
debu dan liat.

1. Apabila rasa kasar terasa sangat jelas, tidak melekat, dan tidak dapat dibentuk bola dan
gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Pasir (Sandy).

2. Apabila rasa kasar terasa jelas, sedikit sekali melekat, dan dapat dibentuk bola tetapi
mudah sekali hancur, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Pasir Berlempung (Loam
Sandy).
3. Apabila rasa kasar agak jelas, agak melekat, dan dapat dibuat bola tetapi mudah hancur,
maka tanah tersebut tergolong bertekstur Lempung Berpasir (Sandy Loam)

4. Apabila tidak terasa kasar dan tidak licin, agak melekat, dapat dibentuk agak teguh, dan
dapat sedikit dibuat gulungan dengan permukaan mengkilat, maka tanah tersebut tergolong
bertekstur Lempung (Loam).

5. Apabila terasa licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan gulungan dengan
permukaan mengkilat, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Lempung Berdebu (Silty
Loam).

6. Apabila terasa licin sekali, agak melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan dapat digulung
dengan permukaan mengkilat, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Debu (Silt).
7. Apabila terasa agak licin, agak melekat, dapat dibentuk bola agak teguh, dan dapat
dibentuk gulungan yang agak mudah hancur, maka tanah tersebut tergolong bertekstur
Lempung Berliat (Clay Loam)

8. Apabila terasa halus dengan sedikit bagian agak kasar, agak melekat, dapat dibentuk bola
agak teguh, dan dapat dibentuk gulungan mudah hancur, maka tanah tersebut tergolong
bertekstur Lempung Liat Berpasir (Sandy-Clay-Loam).

9. Apabila terasa halus, terasa agak licin, melekat, dan dapat dibentuk bola teguh, serta
dapat dibentuk gulungan dengan permukaan mengkilat, maka tanah tersebut tergolong
bertekstur Lempung Liat Berdebu (Sandy-silt loam).
10. Apabila terasa halus, berat tetapi sedikit kasar, melekat, dapat dibentuk bola teguh, dan
mudah dibuat gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Liat Berpasir (Sandy-
Clay).

11. Apabila terasa halus, berat, agak licin, sangat lekat, dapat dibentuk bola teguh, dan mudah
dibuat gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Liat Berdebu (Silty-Clay).
12. Apabila terasa berat dan halus, sangat lekat, dapat dibentuk bola dengan baik, dan mudah
dibuat gulungan, maka tanah tersebut tergolong bertekstur Liat (Clay).

C. KOLOID TANAH

Koloid Tanah adalah : Bahan mineral dan bahan organik tanah yang
sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi
persatuan berat (massa). Termasuk koloid tanah adalah liat (koloid anorganik)
dan humus (koloid organik). Koloid tanah merupakan bagian tanah yang
sangat aktif dalam reaksi-reaksi fisikokimia di dalam tanah.

1. Koloid liat (Koloid Anorganik)


Koloid liat tersusun dari mineral mineral liat silikat dan bukan silikat
yang yang mengkristal secara amorf. Sifat dan ciri masing-masing
mineral liat akan menentukan sifat dan ciri koloid liat. Mineral liat
merupakan mineral baru hasil pengkristalan dari berbagai senjawa
hasil penguraian mineral primer. Liat ini terbentuk dari senyawa
SiO2, Al2O3 dan air, adakalanya magnesium, besi, dan kalium.

2. Koloid Humus (Koloid Organik)


Koloid humus yang terbentuk dari proses humifikasi, yaitu
perombakan bahan organik yang kemudian menguraikannya
sehingga terbentuk humus. Humus adalah bahan organik yang
tidak dapat melapuk lagi dan berukuran koloid, yaitu dapat
mengikat kation kation, mengadakan pertukaran ion-ion, dan
menjerap molekul air. Humus ini berwarna kehitam-hitaman sampai
hitam, terdiri dari campuran antara sisa-sisa penguraian bahan
organik dengan subtitusi sel-sel jasad hidup dalam tanah, dan
keadaanya agak mantap sampai mantap. Sifat yang lebih baik dari
liat ialah bahwa koloid humus dapat mengikat ion-ion lebih banyak
dari pada liat, pada berat yang sama , selain itu daya mengikat
molekul airnya jauh lebih besar.

Tabel 1. Perbedaan Antara Koloid Humus dan Koloid Liat

3.3 KETERSEDIAAN UNSUR HARA YANG DAPAT DISERAP TUMBUHAN

Penyerapan unsur hara dilakukan oleh akar tanaman dan diambil dari kompleks jerapan tanah
ataupun dari larutan tanah berupa kation dan anion. Adapula usur hara yang dapat diserap oleh akar
dalam bentuk khelat yaitu ikatan kation logam dengan senyawa organik. Biasanya unsur hara mikro
juga dapat diberikan melalui daun (foliar spray).

1. Nitrogen (N) diserap dari tanah dalam bentuk anion nitrat (NO 2-), nitrit (NO3-) dan kation
ammonium (NH4+).
2. Phosphorus (P) diserap dari tanah dalam bentuk anion (H 2PO4- atau HPO42- ).

3. Sulfur (S) diserap dari tanah dalam bentuk anion sulfat (SO 42-) dalam jumlah sedikit diserap
oleh daun dalma bentuk gas SO2.

4. Kalium (K) diserap dalam bentuk kation K+

5. Magnesium (Mg) diserap dalam bentuk kation Mg2+.

6. Kalsium (Ca) diserap dalam bentuk kation Ca 2+

7. Besi (Fe) diserap dalam bentuk kation Fe2+ dan Fe3+.


8. Mangan (Mn) diserap dalam bentuk kation Mn2+

9. Seng (Zn) diserap dalam bentuk kation Zn2+

10. Boron (B) diserap dalam bentuk anion borate (BO33- atau B4O72-).

11. Tembaga (Cu) diserap terutama dalam bentuk kation Cu2+ .

12. Molibdenum (Mo) diserap dari tanah dlaam bentuk kation molybdate (M oO22+) .

13. Khlorine (Cl) diserap dalam bentuk anion Cl-.

3.5 MASUKNYA ION MELALUI JARINGAN AKAR SECARA SIMPLAS DAN


APOPLAS
Pengangkutan Ekstravaskuler

3.6 PERAN MIKORIZA TERHADAP EFEKTIVITAS PENYERAPAN NUTRISI

1. Meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara


penting yang terdapat dalam tanah, seperti unsur N, P, K, Ca, Cu, Mn, dan
Mg. Hal ini disebabkan karena akar tanaman dibantu oleh miselium jamur
mikoriza eksternal dengan memperrluas permukaan penyerapan akar.
Kerjasama simbiosis mutualisme yang terjadi antara tanaman dan
mikoriza dilakukan oleh tanaman dengan memberikan sisa karbohidrat
dan gula yang tidak terpakai kepada mikoriza yang kemudian ditukar oleh
unsur-unsur tersebut
2. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah
mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya
memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak
tersedia bagi tanaman karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah
peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari
mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba
yang mampu melarutkan P, antara lain Aspergillus, Penicillium,
Pseudomonas, dan Bacillus Megatherium. Mikroba yang berkemampuan
tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam
melarutkan K.
Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh
tanaman. Selain itu, tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap
kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus dan
Gigaspora.