Anda di halaman 1dari 4

Sejarah Pendekatan Reggio Emilia

Asal mula Pendekatan Reggio dimulai setelah Perang Dunia II di utara Kota
yaitu kota Reggio Emilia. Model pendidikan Reggio Emilia merupakan contoh
model pendidikan untuk periode kanak-kanak yang dicetuskan oleh Loris
Malaguzzi. Pada awalnya, Reggio Emilia memiliki tiga bentuk pelayanan anak
usia dini diantaranya yaitu pelayanan swasta (scuola maternal) yang biasanya
diberikan di Gereja Khatolik, prasekolah yang didanai oleh negara dan
program kota.

Pembelajaran Reggio Emilia berkeyakinan bahwa anak memiliki


kemampuan yang tidak terbatas. Melalui pengalaman Reggio Emilia anak usia
dini belajar untuk terlibat dalam komunikasi dengan orang lain tanpa
kekerasan dan bersifat membangun, seperti halnya untuk mengembangkan
keterampilan berpikir kritis. Anak-Anak juga didukung untuk menyatakan dan
mendiskusikan gagasan secara terbuka dalam suasana yang demokratis untuk
membentuk kedekatan hubungan jangka panjang dengan orang lain di
sekolah.

Kurikulum
Sebuah kurikulum yang muncul adalah salah satu yang dibangun
berdasarkan kepentingan anak-anak. Topik untuk studi ditangkap dari
pembicaraan anak-anak, masyarakat atau keluarga melalui peristiwa, serta
kepentingan yang diketahui anak-anak misalnya genangan air, bayangan,
dinosaurus, dll. Tim perencanaan adalah komponen penting dalam membuat
kurikulum. Guru bekerja sama untuk merumuskan hipotesis tentang
kemungkinan arah dari suatu proyek, bahan-bahan yang diperlukan, dan
mungkin orang tua dan / atau dukungan dan keterlibatan masyarakat.

Pendekatan Reggio Emila memiliki keyakinan yang kuat bahwa anak-


anak belajar melalui interaksi dengan orang lain, termasuk orangtua, staf dan
teman-teman di lingkungan belajar yang ramah. Inti kurikulum Reggio Emilia
adalah perencanaan proyek sebagai hasil dari ketertarikan anak pada suatu
hal. Proyek ini tumbuh dari pengalaman pertama yang direncanakan oleh guru
untuk membantu anak-anak mengeksplorasi adat budaya mereka atau
lingkungan fisik sekitar mereka atau hasil dari kejadian spontan seperti ide
anak atau pertanyaan pada guru.
Prinsip pembelajaran
Pendidikan didasarkan pada komunikasi dalam hubungan guru-guru, anak-
anak, guru-anak, orangtua-anak, orangtua-guru dan orangtua-orangtua. Hal
ini menciptakan lingkungan belajar yang sangat kaya bagi semua pihak yang
terlibat. Dalam pendekatan Reggio Emilia, guru adalah seorang peneliti dan
sekolah dipandang sebagai tempat-tempat penelitian yang partisipasi dan
berbagi konstruksi nilai dan makna.

Lingkungan

Sekolah Reggio Emilia memberi perhatian besar pada penampilan dan


perasaan di dalam kelas. Lingkungan dipertimbangkan sebagai guru yang
ketiga. Para guru secara hati-hati menata ruang untuk karya anak-anak
dalam kelompok kecil dan besar, sekaligus ruang bagi masing-masing anak
secara individual. Nuansa di dalam kelas dibuat ceria dan penuh dengan
kegembiraan. Guru mengatur agar lingkungan belajar memancing dan
menantang siswa dalam eksplorasi dan pemecahan masalah, biasanya dalam
kelompok-kelompok kecil di mana kerjasama dan perbedaan pendapat
berbaur namun tetap menyenangkan.

Atelier. Atelier adalah kamar kerja khusus atau studio, yang ada dan
digunakan oleh semua anak dan guru disekolah. Studio ini berisi beragam alat
dan bahan dan juga catatan proyek dan kegiatan yang lalu

Orang tua merupakan komponen vital dalam pendekatan ini

Orang tua dipandang sebagai mitra, kolaborator dan advokasi untuk anak-
anak mereka. Guru menghormati setiap orang tua sebagai guru pertama dan
melibatkan orang tua dalam setiap aspek kurikulum. Hal ini dapat terlihat
melalui partisipasi orang tua di dalam kelas. Program Reggio Emilia
menggabungkan prinsip-prinsip dalam mengasuh anak dan kehidupan rumah.

Peran guru dalam pembelajaran Reggio Emilia

a. Sebagai peneliti saat anak-anak bereksplorasi


b. Sebagai teman dalam memperoleh pengalaman belajar dan
merumuskan pengetahuan yang diperoleh.
c. Sebagai pemberi gagasan, pemecahan masalah dalam konflik.
d. Untuk mengambil gagasan anak dan mengembalikannya dalam
eksplorasi selanjutnya.
e. Untuk mengorganisasi ruangan kelas dan alat-alat yang dgunakan
dalam pemuasan estetika.
f. Untuk mengorganisasi material.
g. Untuk membantu anak-anak membuat keputusan yang bijaksana
mengenai media.
h. Untuk mendokumentasikan kemajuan anak-anak : visual, rekaman
kaset, dan portofolio.
i. Untuk membantu anak melihat hubungan antara belajar dan
pengalaman.
j. Untuk membantu anak-anak dalam mengungkapkan pengetahuan
mereka melalui pekerjaan yang dilakukan.
k. Untuk membentuk kolektivitas antar orangtua dan para guru.
l. Untuk mengadakan dialog dengan orangtua atau dengan guru yang lain
tentang kegiatan.
m. Untuk membentuk hubungan/jaringan antara rumah, sekolah, dan
lingkungan masyarakat.
n. Memunculkan minat dan gagasan anak-anak.
o. Memprovokasi anak untuk beraktivitas.

Atelierista. Atelierista adalah guru yang terlatih dalam bidang seni visual,
yang bekerja dengan guru lain dan anak di TK. Atelierista membantu anak-
anak mengunakan bahan-bahan untuk membuat proyek yang merefleksikan
keikutsertaan dan usaha mereka untuk memecahkan persoalan.

Dokumentasi

Transkipsi komentar dan diskusi anak, foto kegiatan mereka, dan representasi
dari pemikiran dan pembelajaran mereka dengan menggunakan banyak
media diatur dengan seksama oleh atelierista dengan guru lain. ini
mendokumentasikan karya dan proses belajar anak. Dokumentasi ini memiliki
lima fungsi :

1. Untuk mengetahui kegiatan anak dan mempertahankan keikutsertaan


mereka
2. Untuk memudahkan guru memahami anak dan mengevalusi tugas
mereka sendiri, sehingga dapat meningkatkan perkembangan
profesional
3. Untuk memudahkan komunikasi dan pertukaran ide diantara guru
4. Untuk membuat anak mengetahui bahwa usaha mereka dihargai
5. Untuk membuat arsip yang melacak sejarah sekolah dan kegembiaraan
belajar oleh anak dan guru
Daftar pustaka

Morrison, george s. 2012. Dasar-dasar pendidikan anak usia dini (PAUD).


Jakarta: indeks

Pendekatan paud reggio emilia.


staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/KKN%20PPBI%20REA.pdf
diakses tanggal 10 Oktober 2016