Anda di halaman 1dari 8

-1-

PRINSIP-PRINSIP ASESMEN GERIATRI SECARA MENYELURUH


Ika Syamsul Huda MZ
http://www.media-geriatri.com

Strategi pendekatan yang efektif untuk pengelolaan pasien geriatri membutuhkan pemahaman yang benar
bahwa disabilitas fungsional dan keluhan yang ada pada pasien lansia merupakan akibat dari banyak faktor,
termasuk diantaranya adalah faktor medik, sosial, kesehatan mental dan lingkungan.[1] Faktor-faktor
tersebut ber-interaksi melalui jalan yang kompleks mempengaruhi status kesehatan dan fungsional seorang
lanjut usia (lansia).[2] Atas dasar ini evaluasi kesehatan lanjut usia ini menjadi berbeda daripada cara
pendekatan standar evaluasi medik yang berkonsentrasi pada kerapuhan lansia dengan segala kompleksitas
permasalahannya. Pada asesmen geriatri perhatian kepada aspek status fungsional dan kualitas hidup pasien
lansia lebih difokuskan. Status fungsional adalah kemampuan individu untuk berpartisipasi secara penuh
didalam aktifitas hidup harian baik secara fisik, mental maupun sosial.[3]

Status fungsional pasien lansia sangat penting sebagai dimensi yang harus di-evaluasi, yang untuk
kemudian dapat ditingkatkan atau dipertahankan.[1] Asesmen geriatri mengupayakan identifikasi defisit
fungsional, dan kemudian dapat membuat rekomendasi, selain untuk memperbaiki defisit tersebut juga untuk
memodifikasi lingkungan dan sistim dukungan sosial dengan tujuan untuk meng-optimalkan tingkat
kemandirian pasien lansia.[4] Asesmen geriatri dapat bermakna sebagai proses diagnostik, evaluasi dan
manajemen (penatalaksanaan) pasien lansia.[1]

Tujuan utama asesmen geriatri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup pasien lansia. Perlu diingat
bahwa kualitas hidup pasien lansia dipengaruhi oleh status kesehatan dan faktor sosial ekonomik dan
lingkungan. Terdapat hubungan yang saling berpengaruh antara status kesehatan dan status fungsional.
Asesmen geriatri komprehensif semestinya dapat meng-evaluasi dan membuat rencana perawatan pada
seluruh komponen tersebut. (Gbr. 1)[3]

Gambar1. Konsep komponen kualitas hidup. Hubungan


status kesehatan dan fungsional.(Dikutip dari: [3])
Melalui asesmen geriatri diharapkan dapat diketahui kapasitas fungsional seorang pasien lansia
sebagai satu hal yang penting menentukan secara menyeluruh tingkat kesehatan, kesejahteraan, dan
kebutuhan pelayanan kesehatan dan sosial lansia tersebut.[2]

Status fungsional yang menjadi fokus asesmen geriatri sesungguhnya dapat dimengerti sebagai
keadaan lansia akibat dari interaksi antara komponen kesehatan fisik, psikologik san sosial-ekonomi yang
menggambarkan keadaan fungsional organ dan/atau tubuh secara keseluruhan dan menggambarkan
-2-
kesehatan secara luas pada seorang lansia. Pada populasi lansia kapasitas fungsional ini dimanifestasikan
dengan AHS (=aktifitas hidup sehari-hari), sindroma geriatrik dan penyakit. (Hadi Martono, 2008)

Dalam pengertian geriatri, maka asesmen geriatri diberikan batasan sebagai: ...suatu analisis
multi-disiplin yang dilakukan oleh seorang geriatris atau suatu tim interdisipliner geriatri atas
seorang penderita usia lanjut untuk mengetahui kapabilitas medis, fungsional, dan psiko-sosial agar
dapat dilakukan penatalaksanaan menyeluruh dan berkesinambungan... (Dikutip oleh Hadi Martono,
2004 dari Shaw et al, 1984; Mykyta, 1992).[5]

Asesmen geriatri dapat dikerjakan oleh klinisi secara individual melalui cara evaluasi medik tradisional
dengan tetap menyertakan asesmen atas dimensi kognitif, afektif, sosial, ekonomik, lingkungan, dan status
spiritual pasien lansia. (Gbr. 2).[1] Asesmen geriatri yang ideal melibatkan suatu tim dari multipel disiplin yang
termasuk didalamnya adalah dokter, pekerja sosial, ahli farmasi, ahli terapi fisik, dll. Melalui asesmen geriatri
komprehensif seringkali dapat diidentifikasi masalah-masalah medis dan psikososial yang sebelumnya tidak
diketahui. Dengan cara asesmen yang sistimatik atas dimensi-dimensi asesmen geriatri, klinisi dapat
memperoleh kepastian bahwa evaluasi telah dilakukan secara menyeluruh.[6]

Gambar 2. Interaksi dimensi-dimensi asesmen geriatri. (Dikutip dari: [1])


Pada dasarnya sebuah asesmen lengkap geriatri yang baik haruslah dapat mengungkap
kelainan-terutama fungsional-dari semua organ atau sistema penderita usia lanjut secara keseluruhan, bukan
saja fungsi yang bersifat organ fisik, akan tetapi juga fungsi kejiwaan dan fungsi sosial penderita .[5]

Dengan mengetahui tujuan asesmen geriatri tersebut jelaslah bahwa istilah tim interdisipliner yang
dimaksud dalam definisi asesmen geriatri tersebut minimal harus beranggotakan:[5]
Dokter yang mengetahui berbagai penyakit organ/sistem.
Tenaga sosio-medik yang meneliti keadaan sosial/lingkungan penderita.
Tenaga perawat yang meng-ases dan mengadakan upaya keperawatan pada penderita.

Didalam pelaksanaannya, tim asesmen geriatri yang bekerja secara interdisipliner sering
menggunakan alat-alat asesmen berupa skala asesmen kuantitatif[3] yang telah dikembangkan dan dapat
digunakan secara mudah dan cepat untuk mengkaji pasien lansia.[4] Instrumen asesmen ini dapat digunakan
sebagai panduan evaluasi tetapi harus di-interpretasikan secara hati-hati karena sifat keterbatasannya.
-3-
Meskipun terkadang dapat membantu sebagai alat diagnostik, tetapi masih diperlukan evaluasi lanjutan.[1]

Hal yang harus diingat pada pengerjaan asesmen geriatri tersebut adalah:[5]
Form harus mudah dimengerti dan dikerjakan
Kegunaan dan tujuan dari pembuatan form tersebut harus jelas
Form harus bisa digunakan oleh berbagai anggota tim

Pelaksanaan asesmen geriatri dapat berbeda-beda tergantung pada tempat dimana pasien lansia
di-evaluasi. Di rumah sakit, asesmen awal biasanya diarahkan pada problem medis akut. Sejalan dengan
perbaikan kondisi pasien dan ada recana pemulangan pasien, maka komponen lain (seperti dukungan sosial,
lingkungan) kepentingannya meningkat di dalam asesmen.[1]

Didalam setiap proses asesmen geriatri harus terdapat juga kesinambungan yang jelas dengan tindak
lanjut (follow-up) yang telah ditentukan dalam setiap pelayanan kepada pasien geriatri.[2] Asesmen ulang
dapat diadakan sesuai kebutuhan pelayanan.

Dengan tatacara asesmen geriatri yang terarah dan terpola, maka kemungkinan terjadinya mis/under
diagnosis yang sering didapatkan pada praktek geriatri dapat dihindari atau dieliminasi sekecil mungkin.[5]

ASESMEN FUNGSIONAL

Gangguan fungsional umum dijumpai pada lansia dan mempunyai beragam sebab potensial, termasuk
didalamnya adalah perubahan-perubahan yang terkait menua, faktor sosial dan penyakit. Sekitar 25% lansia
lebih dari 65 tahunmembutuhkan bantuan orang lain untuk mengerjakan aktifitas hidup sehari-hari (AHS /
ADL: mandi, memakai baju, menyantap makanan, berpindah tempat, kontinens, toileting) atau AHS
Instrumental (IADL: tarnsportasi, belanja, memasak, menggunakan telepon, mengatur uang, meminum obat,
bersih-bersih, cuci baju). Pengamatan langsung atas pengerjaan fungsi-fungsi tersebut merupakan metode
yang akurat tetapi sulit dipraktekkan. Dapat diterapkan juga metode pelaporan diri atas ADL dan IADL bila
memungkinkan.

Informasi kapasitas fungsional dapat digunakan sebagai garis dasar untuk penentuan adanya
penurunan fungsi pada waktu-waktu selanjutnya, dan untuk mempertimbangkan perlunya intervensi medis,
rehabilitatif atau bedah. Sejumlah instrumen penapisan geriatrik sederhana sudah dikembangkan untuk
meningkatkan deteksi kondisi geriatrik umum. Walaupun tidak ada bukti bahwa penggunaan instrumen
tersebut memperbaiki outcome, terdapat alasan bahwa peningkatan deteksi masalah-masalah geriatrik umum
akan menghasilkan perbaikan outcome apabila deteksi dikaitkan dengan intervensi yang efektif.

ASESMEN MEDIS

Masalah Mobilitas dan Keseimbangan

Kondisi medis umum yang sering dialami lansia seperti osteoartritis, khususnya pada lutut dan
pinggul, dapat mengganggu gaya berjalan dan keseimbangan. Gangguan lainnya diantaranya adalah kondisi
neurologis yang mengganggu persepsi (neuropatis) dan fungsi motorik (seperti stroke). Demikian juga gejala
sisa sebab riwayat jatuh sebelumnya (seperti fraktur, panjang tungkai tak sama, perasaan takut jatuh).[1]
Jatuh merupakan kondisi umum dan membahayakan pada lansia yang dapat menyebabkan penurunan
fungsional, kehilangan kemandirian, institusionalisasi, dan cidera serius. Etiologi jatuh seringkali multifaktorial,
yang mana banyak dari faktor-faktor tersebut dapat dimodifikasi.[7] Dokter perlu menanyakan kepada
pasien secara spesifik tentang jatuh. Pertanyaan seperti berikut dapat diajukan: Selama 12 bulan yang lalu
-4-
apakah Anda jatuh dan mengenai sesuatu seperti kursi atau anak tangga?. Respon positif atas pertanyaan
tersebut hendaklah diteruskan dengan pengkajian lanjutan atas gangguan gaya berjalan dan keseimbangan.
Test yang dapat dikerjakan antara lain seperti The Timed Up & Go test dan The Performance
Oriented Assessment of Balance.[1] Pasien lansia yang khususnya berisiko jatuh hendaklah di-evaluasi
secara tepat untuk mencegah jatuh.[7]

Gangguan Penglihatan

Pemerikasaan secara periodik oleh optometris atau oftalmologis khususnya penting pada pasien
dengan risiko glaukoma atau dengan diabetes. Pemerikasaan tajam penglihatan dapat menggunakan Snellen
Eye Chart untuk penglihatan jauh dan Kartu Jaeger untuk penglihatan dekat.[6] Empat penyakit mata utama
(seperti: katarak, degenerasi makular terkait usia, retinopati diabetik dan glaukoma) diketahui prevalensinya
meningkat seiring bertambahnya lansia.[1]

Gangguan Dengar

Gangguan dengar merupakan kondisi medis yang banyak dilaporkan oleh lansia, mengenai hampir
sepertiga lansia. Gangguan dengar dapat berkaitan dengan penurunan kognitif, emosional, sosial dan fungsi
fisik pada lansia. Pemeriksaan penyaring untuk kurang dengar dapat menggunakan beberapa metode.
Metode alternatif sederhana adalah dengan uji suara berbisik. Dari belakang telinga pasien dibisikan secara
acak tiga sampai 6 kata, dari jarak tertentu (misal 6, 8, 12, atau 24 inchi). Satu telinga harus ditutup. Pasien
diminta mengulang kata yang dibisikan. Pasien dianggap gagal bila mereka tidak dapat mengulang 50 persen
kata yang dibisikkan. Sedang yang paling akurat tentunya pemeriksaan secara audiometri.[1]

Malnutrisi

Status nutrisi yang buruk dan penurunan berat badan pada lansia mungkin merupakan indikator
penurunan kapasitas fungsional, demensia, atau penyakit medis. Evaluasi lanjutan perlu dikerjakan bila
didapatkan kasus penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya mencapai >5% dalam waktu 1
bulan atau 10% dalam waktu 6 bulan, yang mana hal ini terkait dengan peningkatan morbiditas dan
mortalitas. Pemeriksaan adanya penurunan berat badan, penurunan indeks massa tubuh dan adanya petanda
malnutrisi (seperti, pengurangan massa otot) dapat mudah dikerjakan.[6] Beberapa daftar pertanyaan untuk
dikerjakan oleh pasien sendiri telah dikembangkan, yang paling terkenal adalah dari The Nutrition Screning
Initiatives (NSIs) 10-item checklist.[1]

Polifarmasi
Penggunaan yang optimal atas obat-obatan pada lansia seringkali sulit dan tentunya membutuhkan
perhatian terhadap adanya perubahan komposisi tubuh dan fisiologi seiring dengan proses menua. Perubahan
ini berimbas pada absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi pada tiap-tiap obat. Hal ini tentunya
menjadi rumit karena pada kebanyakan lansia seringkali memerlukan beberapa obat. Penggunaan obat-obat
yang tidak perlu resep lebih banyak dijumpai pada lansia. Efek samping interaksi obat-obat menjadi lebih
banyak terjadi. Hindari obat-obat yang secara umum menimbulkan efek samping pada lansia. Apabila
memulai suatu obat baru, hendanya dimulai dari dosis efektif terkecil dan di-tritasi naik bertahap. Kepatuhan
pengobatan dapat digunakan beberapa strategi, yakni komunikasikan secara jelas, regimen tetap sederhana,
gunakan bantuan dari caregiver, tetap murah, gunakan kotak obat dan kalender.[8]

Inkontinensia
-5-

Kasus inkontinensia urin seringkali terlewatkan karena pasien tidak mengutarakan keluhan
inkontinensia. Pada kenyataannya inkontinensia umum dijumpai pada lansia, yang mana lansia perempuan
dua kali jumlah laki-laki dengan inkontinesia. Hampir 14% perempuan lansia mengalami inkontinesia pada
setiap harinya.[6] Status kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, status sosial, dan pembiayaan perawatan
kesehatan dapat terimbas buruk akibat inkontinensia.
Terdapat empat katagori dasar sebagai penyebab inkontinensia urin pada lansia, yaitu sebab dari urologis,
neurologis, fungsional/psikologis, dan iatrogenik/lingkungan. Bentuk persisten dari inkontinensia secara klinis
dibagai kedalam empat tipe dasar, yaitu urgensi, stress, fungsional dan overflow.[9] Dapat diajukan
pertanyaan sederhana untuk menyaring kasus ini, yaitu apakah mereka merasa ngompol menjadi masalah
atau menyebabkan mereka memakai popok (diaper) akibat bocornya urin.[6] Inkontinensia fekal kurang
sering dibandingkan inkontinensia urin. Penyebab paling umum inkontinensia fekal adalah masalah konstipasi
dan penggunaan laksansia, gangguan neurologis, dang kelainan kolorektal.[9]

ASESMEN KOGNITIF

Demensia

Diagnosis dini terhadap kasus penyakit Alzheimer dan ganggua yang terkait dengannya sangat
penting karena penatalaksanaan menjadi lebih efektif. Prevalensi penyakit Alzheimer dan demensia lainnya
meningkat seiring dengan pertambahan lansia. Pemeriksaan penyaring untuk gangguan fungsi kognitif dapat
menggunakan Mini-Mental State Examination (MMSE) 30-item dan Clock Drawing Test.[6] Terhadap
pasien rawat inap di rumah sakit, status mental hendaklah dikaji pada saat masuk dan kemudian diulang
secara periodik karena lansia khususnya sering mengalami delirium selama tinggal di rumah sakit.[1]

ASESMEN AFEKTIF

Depresi

Prevalensi depresi pada populasi lansia dirawat jalan mencapai 10-15%, sedangkan yang dirawat
inap di rumah sakit diketahui mencapai 20%. Depresi yang tidak diobati menyebabkan penurunan fungsional,
gangguan kognitif, isolasi sosial, dan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas. Banyak kasus-kasus
depresi yang tidak dikenali karena gejala yang tidak khas dibandingkan depresi pada usia muda. Identifikasi
depresi sangat penting, sebab pengobatan seringkali efektif pada kebanyakan pasien. Penghuni panti wredha
dan pasien yang dirawat inap mengalami peningkatan risiko depresi sebagaimana pada pasien dengan
masalah medis yang multipel. Diperlukan penyaringan terhadap depresi dengan mengajukan pertanyaan
seperti, Selama satu bulan yang lalu, apakah Anda seringkali merasa kesusahan berupa perasaan tak
berdaya, tertekan atau putus asa?, Selama satu bulan yang lalu, apakah Anda merasa kesusahan berupa
hanya sedikit minat untuk mengerjakan sesuatu?.[7] Geriatric Depression Scale (GDS) versi singkat yang
terdiri atas 15 pertanyaan [10] dapat digunakan untuk penyaringan kasus depresi pada usia lanjut.

ASESMEN DUKUNGAN SOSIAL

Dukungan terhadap Caregiver (Perumat)


-6-
Caregiver sebagai perumat lansia semestinya juga mendapat perhatian, hal mana adanya saling
keterkaitan antara kesehatan dan kesejahteraan lansia dan perumatnya tersebut. Abuse dan neglect sering
timbul pada kondisi adanya beban berat pada caregiver akibat tingkat ketergantungan fungsional yang tinggi
seorang lansia terhadap perumatnya. Dapat diajukan pertanyaan kepada caregiver tentang perasaan
tertekan, marah dan rasa bersalah yang mungkin terjadi.[6] Derajat beban yang dirasakan oleh caregiver
dapat di-skala menurut The Burden Interview, yang berisi 22 pertanyaan untuk mencari respon caregiver
tentang akibat perumatan pasien dengan disabilitas terhadap kehidupannya.[11] Terhadap caregiver yang
tertekan, seorang pekerja sosial seringkali dapat membuat program yang membantu seperti program
respite.[6]

Abuse

Beberapa faktor risiko terjadinya abuse terhadap lansia antara lain adalah adanya gangguan kognitif,
ketergantungan pelaku (abuser) terhadap korban, faktor-faktor eksternal penyebab stress, riwayat tindakan
kekerasan sebelumnya, gangguan fungsional dan status kesehatan yang buruk, isolasi sosial, gangguan mental
dan penyalahgunaan obat oleh abuser.[12] Terhadap lansia yang terancam kemungkinan mengalami abuse,
hendaklah disempatkan untuk diwawancari secara sendirian, dengan menggunakan pertanyaan langsung
mengenai abuse dan neglect.

Petunjuk adanya kemungkinan abuse antara lain adalah adanya perubahan tingkah laku, penundaan
pengobatan setelah terjadinya cidera, ketidaksesuaian antara cidera yang teramati dengan keterangannya,
resep yang tidak terbeli. Pertanyaan sederhana - Apakah anda pernah merasa tidak aman atau terancam?,
dapat digunakan pertanyaan yang tepat sebagai penapisan awal.[6] Apabila dicurigai adanya abuse, maka
diperlukan evaluasi lebih lanjut dengan pertanyaan yang lebih mendalam dan mendokumentasikan secara
hati-hati temuan fisik maupun psikologi korban, serta dapat membuat pelaporannya pada instansi terkait
seperti pada bidang hukum, kepolisian dan dinas sosial.[13]

ASESMEN LINGKUNGAN

Terdapat dua fokus utama dari asesmen lingkungan, yakni perhatian pada keamanan linkungan rumah
dan kemudahan akses yang diperlukan baik untuk personal lansia maupun pelayanan medis. Lingkungan
rumah berpengaruh pada kapasitas fungsional lansia. Khususnya untuk lansia yang sudah rapuh, dengan
masalah mobilitas dan keseimbangan lingkungan rumah harus dikaji keamanannya. Tim asesmen bila
diperlukan dapat melakukan kunjungan rumah untuk selanjutnya dapat memberikan rekomendasi pemakaian
piranti adaptif.[1]

ASESMEN EKONOMI

Sumber Daya Penghasilan & Emosional

Perlu diperhatikan bahwa pada usia lanjut seringkali merupakan masa dimana lansia mengalami
sejumlah penurunan sumber daya, baik sumber penghasilan maupun ketahanan emosional. Risiko terjadinya
isolasi sosial dan hidup dalam kondisi miskin, khususnya dijumpai pada lansia yang sudah sangat lanjut.
Pertanyaan penapis mengenai riwayat kontak sosial dan sumber keuangan diperlukan untuk membantu tim
asesmen merancang penatalaksaan yang realistik dan perencanaan bantuan sosial.[6]

ASESMEN SPIRITUALITAS
-7-

Spiritualitas individu pasien lansia, entah dia menganut agama secara formal atau tidak, diketahui
merupakan komponen penting kesehatan. Data terbaru mengindikasikan bahwa seringnya menghadiri acara
religius dikaitkan dengan lebih rendahnya laju mortalitas. Dapat ditanyakan kepada pasien lansia apakah
agama atau spiritual itu penting bagi mereka. Di rumah sakit dapat dilibatkan rohaniwan-rohaniwan yang
mungkin dapat bermanfaat untuk men-support pasien sesuai dengan kepercayaan masing-masing pasien
lansia.[1]

EFISIENSI ASESMEN GERIATRI

Asesmen geriatri dapat menyita waktu. Perlu diterapkan sejumlah strategis agar prosesnya menjadi
lebih efisien, yakni antara lain dengan cara penggunaan instrumen asesmen yang singkat dan sensitif, follow up
dengan instrument yang lebih dalam bila diperlukan, penggunaan tenaga bukan dokter untuk membantu
pengerjaan standar asesmen geriatri, dan observasi yang membantu membuat diagnosis (misal observasi gaya
berjalan sebagai bagian pemeriksaan fisik).[6]

KESIMPULAN

Asesmen geriatri merupakan tatacara evaluasi yang komprehensif atas status kesehatan seorang
individu lansia, yang merupakan aspek terpenting didalam pelayanan geriatri yang baik. Didalam
penerapannya sangat dibutuhkan adanya kepekaan perhatian terhadap lansia, kewaspadaan atas banyak
aspek-aspek unik permasalahan medis lansia, kemampuan untuk ber-interaksi secara efektif dengan beragam
profesional kesehatan, dan seringkali juga dengan kesabaran yang tinggi. Dan yang terpenting adalah,
dibutuhkan perspektif (cara pandang) yang berbeda dengan yang digunakan didalam evaluasi terhadap
pasien yang lebih muda. Tidak hanya karena kemungkinan diagnosis yang berbeda, akan tetapi juga
dibutuhkan kesanggupan untuk membiasakan diri pada temuan-temuan yang lebih samar (tidak kentara).
Untuk itu diperlukan kesungguhan dan kreatifitas didalam pelaksanaannya.[2]

Meskipun tidak semua penelitian terkontrol menunjukkan perbaikan pada semua outcome, dapat
kiranya diringkaskan disini bahwa dengan asesmen geriatri menunjukkan perbaikan status fungsional,
meningkatkan ketahanan hidup (survival), penurunan tingkat mortalitas, menurunkan kemungkinan dirawat di
rumah sakit, pengurangan penghunian panti werdha permanen, perlambatan terjadinya disabilitas.[2, 3]

DAFTAR PUSTAKA

1. Reuben, D.B., Principles of Geriatric Assessment, in Principles of Geriatric Medicine and


Gerontology, W.R. Hazard, J.P. Blass, and W.H. Etinger, Editors. 1999, The McGraw-Hill
Companies: New York.
2. Kane, R.L., J.G. Ouslander, and I.B. Abrass, eds. Evaluating The Geriatric Patient. 4 ed.
Essential of Clinical Geriatrics. 1999, McGraw-Hill: New York. 43-73.
3. Brocklehurst, J.C. and S.C. Allen, eds. Geriatric Medicine for Students. 3 ed. Multidimensional
Geraitric Asesmen, ed. L.Z. Rubenstein and L.V. Rubenstein. 1987, Churchill-Livingstone:
Edinburgh. 291-299.
4. Birge, S.J. and S.R. Lai, eds. Approach to Geriatric Patient: The Comprehensive Geriatric
Assessment. The Washington Manual Geriatrics Subspeciality Consult, ed. K.C. Moylan. 2004,
Lippincott Willams & Wilkins: Philadelphia. 1-5.
5. Boedhi-Darmojo, R. and H. Hadi-Martono, eds. Penderita Geriatrik dan Asesmen Geriatri. 3
ed. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), ed. H. Hadi-Martono. 2004, Balai Penerbit
-8-
FKUI: Jakarta. 126.
6. Johnston, B., Geriatric Assessment, in Current Geriatric. Diagnosis & Treatment, C.S.
Landefeld, et al., Editors. 2004, The McGraw-Hill Companies: Boston. p. 16-26.
7. Moylan, K.C., Depression in the Older Adult, in The Washington Manual Geriatrics
Subspeciality Consult, K.C. Moylan, Editor. 2004, Lippincott Willams & Wilkins: Philadelphia. p.
28-34.
8. Wooley, R. and K.C. Moylan, eds. Approach to Polypharmacy and Appropriate Medication
Use. The Washington Manual Geriatrics Subspeciality Consult, ed. K.C. Moylan. 2004, Lippincott
Willams & Wilkins: Philadelphia. 35-38.
9. Kane, R.L., J.G. Ouslander, and I.B. Abrass, eds. Incontinence. 4 ed. Essential of Clinical
Geriatrics. 1999, McGraw-Hill: New York. 181-230.
10. Sheikh, J.I. and J.A. Yesavage, Geriatric Depression Scale (GDS): recent evidence and
development of a shorter version, in Clin Gerontol. 1986. p. 165-173.
11. Brown, J.L., J.F. Potter, and B.G. Foster, Caregiver burden should be evaluated during
geriatric assesement. J Am Geriatr Soc. , 1990. 38(4): p. 455-460.
12. Reuben, D.B., et al., Geriatrics at Your Fingertips. 2003. p. 4-8.
13. Brownell, P. and G.R. Rosich, Elder Abuse, in Handbook of Gerontology. Evidence-Based
Approaches to Theory, Practice, and Policy, J.A. Blackburn and C.N. Dulmus, Editors. 2007,
John Wiley & Sons, Inc.: New Jersey. p. 498-518.

Anda mungkin juga menyukai