Anda di halaman 1dari 5

Iga Mawarni.

S (90400114126) kelas Akuntansi C

Pengendalian Diri

Aku duduk didepan laptop, tidak tau harus mulai


darimana menyelesaikan tugas ini. Aku mencoba utuk
mengingat kembali hal-hal yang sudah terjadi, dan hal apa
yang bisa kutulis sebagai contoh pengendalian diri. Lama
waktu yang terlewat, tak ada yang terpikirkan. Setelah cukup
lama, aku berpikir untuk memulainya saja dengan mengetik
apa saja yang kulakukan awal hari ini, mungkin saja secara
perlahan akan kuingat pengendalian diri yang sudah
kulakukan.

Suara yang secara tiba-tiba berbunyi dalam gelap,


semakin lama suara itu membuatku merasakan getaran,
angin terasa dingin membuatku membuka mata, ternyata
alarm handphone ku yang sudah menunjukkan pukul 5, dan
kipas angin yang terus menyala semalaman, terdengar suara
air menjatuhi atap rumah, sepertinya hari ini diawali dengan
hujan. Suasana yang dingin, namun aku tetap hangat karena
selimut yang belum aku pindahkan dari kasurku, seakan
suasana yang sangat pas untuk melanjutkan tidur. Mataku
rasanya semakin berat saja dan akhirnya kubiarkan
terpejam. Dalam gelap itu, tak ada suara lagi, namun
kumerasa masih ada yang menggangguku, perasaan yang
tidak tenang, sepertinya aku bergumam sendiri tanpa aku
sadari, pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuatku tak
tenang, apa kamu lebih memilih tidur daripada sholat ?,
kamu dengan sengaja mengabaikan sholatmu ?, apakah
hatiku sudah dibutakan dari rahmatNya ?, pertanyaan itu
terus berputar dikepalaku. Aku membuka mata, dan segera
menarik diri dari tempat tidur sembari memohon ampunan
kepada-Nya yang sempat berpikir untuk lalai. Air dari kran
terasa sangat dingin terlebih lagi disubuh itu tengah hujan
tapi semuanya menjadi sejuk saat aku berwudhu. Pada
akhirnya, aku bisa menggunakan kesempatanku memohon
ampun disubuh itu, melawan godaan dan mengucap syukur
atas ketidaktenangan yang kurasakan saat aku mulai ingin
lalai, dan jauh dari-Nya.
Memulai semester 6 ini, melewatkan sehari saja dengan
santai saat itu juga tugas sudah menumpuk, hingga begitu
sibuk dengan urusan kuliah, hari berlalu begitu cepat. Pada
suatu malam setelah maghrib, aku duduk didepan rumah
sembari bersantai sejenak, suara yang paling terdengar
hanya suara jengkrik, hanya ada satu lampu disudut jalan
setapak yang saat itu menerangi, meskipun hanya sedikit hal
itu membuatku cukup merasa aman, terlebih sudah sejak
lama aku tinggal dirumah kontrakan yang menurutku cukup
besar untuk ku tinggali sendiri, awalnya aku berdua dengan
kakakku, tapi dia ada pekerjaan di kampung dan
mengharuskanku tinggal sendirian. Aku sadar dikondisi ini
aku harus pandai menjaga diriku sendiri. Terkadang, aku
merasa takut dirumah, namun aku harus bisa kendalikan,
tidak membiarkan pikiran-pikiran yang menakuti diriku
sendiri, dan rasa takut itupun perlahan menghilang, karena
aku berlindung kepada-Nya, kepada sebaik-baik pemberi
pelindungan.

Tidak terasa hari berlalu begitu cepatnya, manajemen


waktu yang kususun sangat jelas terlihat ketidakseimbangan
antara urusan dunia dan akhirat. Sibuk dengan pekerjaan
menjadi alasan utama, dipikiranku shalat saja sudah cukup,
itupun hanya berlangsung beberapa menit saja, sangat
singkat, hingga pada suatu pagi aku mendengar sebuah
ceramah islami, yang paling berkesan saat itu adalah
tentang membaca al-Quran. Apa yang disampaikan sangat
berkesan buatku, dan sampai saat ini hal itu menjadi salah
satu yang membantuku untuk mengendalikan diri dalam
membagi waktu. Memang benar apa yang disampaikannya,
kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi, terlalu sibuk
memikirkan bagaimana masa depan nanti bisa hidup enak,
tapi kita lupa bagaimana mati enak, salah satu contohnya
saja, kebanyakan dari kita yang ketika sudah sholat tidak
menyempatkan mengaji, padahal waktu yang kita gunakan
untuk mengerjakan urusan lain begitu banyak, beberapa
menit untuk al-Quran saja tidak ada. Kita berpikir, tak
membaca Quran karena sedang sibuk, tak cukup waktu,
kerjaan mendesak tapi, apakah hal itu memang demikian ?,
atau bisa jadi Al-Quran sendirilah yang tak ingin kita sentuh,
tak sudi untuk kita baca, atau bisa jadi hati kita yang sudah
tertutup untuk hidayah-Nya. Renungan ini cukup membuatku
bisa mengendalikan diriku untuk tidak melewatkan hari tanpa
membaca Al-Quran, walaupun hanya beberapa ayat, karena
sesungguhnya al-Quran akan memberikan syafaat di akhirat
kelak pada orang yang senantiasa membacanya .