Anda di halaman 1dari 17

Demam Berdarah Dengue

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi : Jalan Arjuna Utara no. 6, Jakarta Barat (11510)

Pendahuluan

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai leukopenia,
ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diathesis hemoragik.Pada DBD terjadi perembesan
plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematocrit) atau penumpukan
cairan di rongga tubuh.Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam
berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok.Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan
penyakit yang disebabkan oleh Virus Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Nyamuk ini menyukai berkembang biak di air yang jernih, tidak menempel langsung pada
tanah. Penularan terjadi pada awal musim penghujan dan akhir musim kemarau.Dengan
banyaknya kasus DBD di Indonesia, diperlukan pengetahuan yang baik seputar penyakit
demam berdarah dengue itu sendiri, mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, serta berbagai aspek lainnya sehingga kita dapat melakukan pencegahan secara
efektif.1

Anamnesis
Jenis anamnesis yang dapat dilakukan ialah autoanamnesis dan alloanamnesis.
Autoanamnesis dapat dilakukan jika pasien masih berada dalam keadaan sadar. Sedangkan
bila pasien tidak sadar, maka dapat dilakukan alloanamnesis yang menyertakan kerabat
terdekatnya yang mengikuti perjalanan penyakitnya.

1
Pada setiap anamnesis selalu ditanyakan identitas pasien terlebih dahulu. Indentitas
pasien meliputi nama, tanggal lahir, umur, suku, agama, alamat, pendidikan dan pekerjaan.
Setelah itu dapat ditanyakan pada pasien apa keluhan utama dia datang. Kemungkinan arah
working diagnosis pada demam berdarah ditinjau bila pasien manyatakan ia demam yang
disertai dengan salah satu gejala demam dengue seperti perdarahan intradermal (petikie dan
ekimosis) ataupun nyeri pada otot. Untuk menguatkan kemungkinan ke arah diagnosis terhadap
penyakit demam berdarah maka ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan pada pasien.
Kemungkinan pertanyaan yang diajukan ialah sebagai berikut :
1 Jenis demam yang dialami. Apakah demamnya menetap atau naik-turun secara tiba-tiba.
Seperti yang diketahui kurva suhu pada demam berdarah ialah bifasik.
2 Apabila pasien datang dengan suhu tubuh yang menurun, tanyakan apakah saat panas ia
mengalami ruam (kemerah-merahan) pada kulit dan apakah ruam itu hilang pada saat suhu
tubuhnya turun. Selain ruam juga dapat timbul bintik pada tempat tersebut.
3 Apakah pasien mengalami myalgia (nyeri pada otot), terutama nyeri pada otot perut dan
matanya.
4 Apakah pasien mengalami gambaran klinis lain seperti sakit kepala yang menyeluruh, mual
ataupun muntah.
5 Apakah pasien pernah melakukan perjalanan ke tempat endemik penyakit demam
berdarah dalam kurun waktu masa inkubasi demam berdarah (5-8 hari).

Riwayat keluarga dan kerabat yang berhubungan juga perlu ditanyakan untuk
menguatkan dugaan.Misalnya apakah ada kerabat yang dalam kurun waktu belakangan ini
mengalami penyakit demam berdarah dan apakah ada kontak antara pasien dengan
kerbabatnya tersebut. Jika data-data dari pasien sudah lengkap untuk anamnesi, maka dapat
dilakukan pemeriksaan fisik untuk menunjang anamnesis tadi.2

Pemeriksaan Fisik
Pada pasien DD hampir tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan nadi pasien mula-mula
cepat kemudian menjadi normal dan melambat pada hari ke 4 dan ke 5, lalu bradikardi dapat
menetap selama beberapa hari selama masa penyembuhan. Denyut nadi yang melemah tentu

2
saja akan menyebabkan penurunan tekanan darah. Tekanan darah yang sangat rendah
menyebabkan kadang tidak terdengar melalui stetoskop, sehingga hanya dapat dilakukan
palpasi. Pada palpasi hanya dapat terasa denyut sistolik.
Dapat ditemukan lidah kotor dan kesulitan buang air besar. Pada mata dapat ditemukan
pembengkakan, injeksi konjungtiva, lakrimasi dna fotofobia. Eksantem dapat muncul di awal
demam yang terlihat jelas di muka dan dada, berlangsung beberapa jam lalu akan muncul
kembali pada hari ke 3-6 berupa bercak ptekiae di lengan dan kaki lalu seluruh tubuh.
Penyakit ini awalnya akan menyerang organ hati. Pada pembuluh darah di hati seperti v.
hepatika dapat terjadi dilatasi akibat kebocoran plasma. Selain itu pada organ hati sendiri dapat
terjadi pembesaran yang disebut sebagai hepatomegali. Pemeriksaan palpasi dapat
membuktikan adanya hal ini.
Bila terjadi komplikasi hingga menyerang paru, bisa didapatkan penurunan kemampuan
pernapasan.Hal ini bisa diketahui dengan melakukan fremitus taktil pada paru melemah dan
terdengar redup saat diperkusi. Selain itu, bila dilakukan auskultasi akan didapatkan suara
vesikular yang melemah
Pada DBD (demam berdarah dengue) dapat terjadi gejala pendarahan pada hari ke 3
atau ke 5 berupa ptekiae, purpura, ekimosis, hematemesis, melena dan epitaksis.Hati
umumnya membesar dan terdapat nyeri tekan yang tak sesuai dengan beratnya penyakit.
Pada DSS (dengue shock syndrome), gejala renjatan ditandai dengan kulit yang terasa
lembab dan dingin, sinosis perifer yang terutama tampak pada ujung hidung, jari-jari tangan dan
kaki, serta penurunan tekanan darah. Renjatan biasanya terjadi pada waktu demam atau saat
dengan turun antara hari ke 3 dan hari ke 7 penyakit.2,3,4

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendekatkan ke arah diagnosis penyakit
demam berdarah ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit serta
hapusan darah tepi untuk melihat gambaran limfosit serta untuk menghitung jumlah leukosit.3
Selain pemeriksaan darah juga dapat dilakukan pemeriksaan serologis. Deteksi pastinya ialah
menggunakan teknik deteksi antigen virus RNA dengue menggunakan teknik PCR, namun
teknik ini cukup rumit. Teknik lain yang dapat digunakan ialah mendeteksi antobodi total, IgG
maupun IgM. Selain pemeriksaan darah, dapat pula dilakukan rontgen untuk melihat adanya
kemungkinan dilatasi pada pembuluh darah paru, efusi pleura, kardiomegali, serta efusi
perikard. Cairan dalam rongga peritonium yang timbul sebagai akibat bocornya plasma juga
dapat dilihat dengan menggunakan USG.4

3
Leukosit : Leukosit secara normal terdapat dalam jumlah 5.000 10.000/L darah.
Mulai hari ke- 3 dapat ditemui limfositis relatif (>45% dari total leukosit)
disertai adanya limfosit plasma biru > 15 % dari jumlah leukosit yang pada
fase asyik akan meningkat.
Trombosit : Umumnya terdapat trombositopenia yaitu terjadi penurunan kadar
trombosit.
Sebagai akibat terjadinya koagulasi.Dimana koagulasi ini terjadi karena
aktivitas komplek virus-antibody demam berdarah.Trombositopenia mulai
tampak beberapa hari setelah panas, dan mencapai titik terendah pada
fase renjatan / shock.Kadar trombosit normal dalam darah ialah 200.000-
300.000/l. Penderita DBD umumnya mengalami penurunan hingga angka
100.000/l. Bahkan DBD dengan renjatan bisa mengalami trombositopenia
lebih parah dari angka tadi.
Hematokrit : Kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan
hematokrit lebih dari sama dengan 20% hematokrit awal, umumnya
dimulai pada hari ke 3 demam. Nilai hematokrit normal ialah 40-48
volume % bagi pria dan 37-43 volume % bagi wanita.
Tes serologi : Pemeriksaan yang dilakukan bisa meliputi uji HI
(hemagglutination inhibition tes), uji Pengikatan komplemen, uji
neutralisasi, uji Mac. Elisa dan uji IgG Elisa indirek.Uji HI adalah uji
serologi yang paling sering digunakan karena lebih sederhana, mudah,
murah serta sensitif.Antibodi HI ini dapat berada dalam kurun waktu yang
sangat lama hingga lebih dari 50 tahun begitu seseorang mendapat infeksi
demam berdarah. Kadar antibody ini akan meningkat bila demam
berdarah terus berlanjut.
Radiologi : Pada foto dada didapatkan efusi pleura atau terisinya pleura oleh cairan.
Efusi terutama pada hermitoraks tetapi apabila terjadi perembesan plasma
hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua hermitoraks.
Albuminuria ringan dan sementara terkadang muncul
Sering ditemukan darah dalam tinja
Pada kebanyakan kasus, uji terhadap koagulasi dan faktor fibrinolitik menunjukan
adanya penurunan kadar fibrinogen, protombin, faktor VIII,faktor XII, dan antitrombin III.
Penurunan kadar antiplasmin juga terlihat pada beberapa kasus. Pada kasus berat yang
ditandai dengan disfungsi hati, penurunan yang terjadi tampak pada kadar kelompok
protombin vitamin K-dependen, misalnya faktor V,VII, IX, dan X.

Temuan umum lainnya antara lain hipoproteinemia, hiponatremia, dan kadar


aminotransferase aspartat serum naik sedikit. Asidosis metabolik juga sering ditemukan

4
pada kasus yang mengalami syok cukup lama. Kadar nitrogen urea darah meningkat
pada tahap terminal kasus dengan syok yang berkepanjangan.3

Diagnosis
Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal di bawah ini
dipenuhi:

Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik.
Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut :
- Uji bending positif
- Petekie, ekimosis, atau purpura.
- Perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi), atau perdarahan
dari tempat lain.
- Hematemesis atau melena.
Trombisitopenia (jumlah trombosit < 100.000/ul).
Terdapat minimal satu tanda- tanda plasma leakage (kebocoran plasma ) yaitu
peningkatan hematokrit >20% seteleah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan
nilai hematokrit sebelumnya.
Tanda kebocoran plasma seperti : efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.3

Diagnosis Banding
Kemungkinan diagnosis banding dari penyakit demam berdarah ialah terdapatnya
kemiripan gejala klinis dengan beberapa penyakit yaitu :
Demam Tifoid
Pada demam tifoid terdapat gejala yang mirip dengan demam berdarah yaitu adanya
gejala demam, nyeri otot, mual, muntah, dan batuk. Selain itu juga dapat ditemukan
hepatomegali dan gangguan kesadaran berupa berupa somnolen hingga koma. Namun
ciri khas dari demam tifoid ialah ditemukan lidah tifoid yaitu lidah yang kotor di tengah,
tepi dan ujung merah. Selain itu pada demam tifoid tidak ditemukan adanya bercak-
bercak merah seperti pada demam berdarah. Pada demam tifoid tidak dapat ditemukan
gejala panas yang naik turun yang sangat khas pada demam berdarah. Untuk lebih
spesifiknya pada demam tifoid ditemukan biakan tinja positif Salmonella typhi.

Masa tunas demam tifoid berlangsung 10-14 hari. Gejala gejala klinis yang timbul
sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat, dari asimtomatik hingga gambaran
penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian.

5
Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serupa
dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri
otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk
dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan pada suhu badan
meningkat.Sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore
hingga malam hari.Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa
demam, bradikardia relative, lidah yang berselaput, hematomegali, splenomegaly, koma,
delirium atau psikosis.Roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.

Malaria
Mempunyai gambaran karakteristik demam periodic, anemia dan splenomegaly. Masa
inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium. Keluhan prodromal dapat terjadi
sebelum terjadinya demam berupa kelesuhan, malaise, sakit kepala, sakit belakang,
merasa dingin dipunggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia, perut tak
enak, diare ringan dan kadang-kadang dingin. Bila dilihat secara umum malaria memiliki
beberapa gejala yang mirip dengan demam berdarah dengue, namun pada malaria tidak
ditemukan adanya ruam pada kulit dan tidak ada epitaksis.

Sepsis
Gejala klinik sepsis biasanya tidak spesifik, biasanya didahului oleh tanda-tanda sepsis
non spesifik, meliputi demam, menggigil dan gejala konstitutif seperti lelah, malaise,
gelisah atau kebingungan.Gejala tersebut tidak khusus untuk infeksi dan dapat dijumpai
pada banyak macam kondisi inflamasi non-infeksius. Tempat infeksi yang paling sering :
paru, traktus digestivus, traktus urinarius, kulit, jaringan lunak dna saraf pusat. Sumber
infeksi merupakan diterminan penting untuk terjadinya berat dan tidaknya gejala-gejala
sepsis. Gejala sepsis tersebut akan menjadi lebih berat pada penderita usia lanjut,
penderita diabetes, kanker, gagal organ utama dan pasien dengan granulosiopenia.
Yang sering diikuti gejala MODS sampai dengan terjadinya syok sepsis.

Influenza
Influenza merupakan penyakit dengan gejala demam, sakit kepala, sakit otot, batuk,
pilek hingga suara serak. Hal ini sama dengan gejala demam yang lain pada umumnya.
Tapi tentu saja pada influenza tidak ditemukan gambaran khas demam berdarah seperti

6
petekie maupun ekimosis, adanya penumpukan cairan yang bisa menyebabkan asites
dan hal lain yang mendukung ke arah diagnosis demam berdarah.

Chikungunya
Chikungunya memiliki gejala yang khas berupa nyeri pada sendi lutut, pergelangan kaki
serta persendian tangan dan kaki, demam mendadak yang dapat mencapai 39 o C, ruam
pada kulit seperti pada demam berdarah, sakit kepala dan sedikit fotofobia. Meskipun
terjadi ruam, namun yang harus diperhatikan bahwa pasien tidak mengalami nyeri yang
menusuk hingga tulang dan persendian pada demam berdarah. Selain itu pada
chikungunya jarang dijumpai pendarahan sebagai manifestasi kebocoran plasma yang
dapat terlihat pada penderita demam berdarah. Chikungunya biasanya tidak akan diikuti
shock seperti akral yang tiba-tiba terasa dingin. Penyakit ini dapat sembuh dengan
sendirinya tanpa harus menggunakan obat.

Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Leptospira interrogans.
Penderita yang terinfeksi leptospirosis biasanya akan mengalami meningitis, hepatitis,
nefritis, maupun influenza. Gejala yang didapati ialah berupa demam yang muncul
mendadak, sakit kepala bagian frontal, nyeri otot, mata merah, mual dan muntah. Gejala
laboratorium yang mirip demam berdarah ialah didapatinya trombositopenia (pada 50%
kasus leptospirosis) dan leukopenia yang relatif sedikit. Perbedaan utamanya ialah tidak
ditemukannya manifestasi pendarahan seperti petekia maupun manifestasi kebocoran
plasma (misalnya pada perut) pada penderita leptospirosis.2,3

Epidemiologi

Demam darah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik barat dan
Karibia.Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air.
Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk dna pernah meningkat
tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998, sedangkan
mortalitas DBD cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999.

Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk genus aedes (terutama A.
aegypti dan A. albopicus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi
lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi
air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya).3

7
Beberapa factor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi biakan virus dengue :

Vector : perkembangbiakan vector, kebiasan menggigit, kepadatan vector di lingkungan,


transportasi vector dari satu tempat ke tempat lain.
Pejamu : terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan
terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin.
Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.

Factor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat kompleks,
yaitu :

Pertumbuhan penduduk yang tinggi


Urbaninasi yang tidak terencana dan tidak terkendali
Tidak adanya control vector nyamuk yang efektif di daerah endemis
Peningkatan sarana transportasi.3

Etiologi

Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang
termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae.Flavivirus merupakan virus dengan
diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106.

Terdapat 4 serotip virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang semuanya dapat
menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Keempat serotype ditemukan di
Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara
serotype dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow fever, Japanese encehphalitis dan west
Nile virus.

Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti tikus,
kelinci, anjing, kelelawar dan primate. Survey epidemiologi pada hewan ternak didapatkan
antibody terhadap virus dengue pada hewan kuda, sapid an babi. Penelitian pada artropoda
menunjukkan virus dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus aedes dan toxorhynchites.3

Aedes aegypti

8
Gambar 1. Nyamuk Aedes aegypti

Ciri ciri :memiliki warna dasar hitam dengan bintik putih pada kakinya.
Tempat perindukan :air jernih, yang biasanya tidak berjarak jauh dari rumah penduduk.
Tempat perindukan yang memungkinkan ialah tempat penyimpanan air minum, bak
mandi, pot bunga, kaleng, botol, ban bekas dan segala jenis tempat yang dapat
menampung air hujan
Daur hidup : Dalam setiap kali proses bertelur, seekor nyamuk betina dapat meletakkan
rata-rata 100 butir telur setiap kali bertelur. Umumnya 2 hari kemudian telur-telur
tersebut menetas menjadi larva untuk kemudian mengadakan pengelupasan kulit
sebanyak 4 kali dan kemudian menjadi pupa. Pupa akan berkembang menjadi dewasa.
Total siklus ini biasanya terjadi dalam selang waktu 9 hari.
Perilaku nyamuk betina : Nyamuk betina sering mengisap darah binatang dan manusia.
Pengisapan darah dilakukan dari pagi hingga petang dengan dua puncak yaitu setelah
matahari terbit (jam 08.00 10.00) dan sebelum matahari terbenam (15.00 17.00).
Tempat istirahat nyamuk ini berupa semak-semak atau tanaman rendah termasuk
rerumputan yang terdapat di halaman/kebun/ perkarangan rumah.Juga berupa benda-
benda yang tergantung dalam rumah seperti pakaian, sarung dan sebagainya.Umur
nyamuk dewasa betina ini di alam bebas kira-kira 10 hari, sedangkan di laboratorium
mencapai dua bulan. Nyamuk ini mampu terbang sejauh 2 kilometer,walaupu umumnya
jarak terbangnya adalah pendek yaitu kurang lebih 40 meter.
Nyamuk Aedes aegypti dapat membawa virus dengue yang memiliki masa inkubasi
antara 3-10 hari. Virus ini ditularkan melalui liur nyamuk saat ia menusuk daerah kulit
manusia dan hewan dengan probosisnya untuk mengambil darah yang menjadi sumber
makanannya.4
siklus hidup nyamuk Aedes aegypty

9
Patofisiologi

Nyamuk aedes aegepti dan aedes albopictus membawa virus dengue menggigit
manusia.Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala demam dengue. Jika orang itu
mendapat infeksi berulang oleh tipe virus yang berlainan maka akan mendapatkan reaksi yang
berbeda. DBD dapat terjadi jika seseorang yang telah terinfeksi dengue pertama kali,
mendapatkan infeksi berulang virus dengue lainnya. Virus akan bereplikasi di nodus limfatikus
regional dan menyebar ke jaringan lain, terutama ke sistem retikuloendotelial dan kulit serta
bronkogen maupun hematogen.5

Tubuh akan membentuk kompleks virus antibody dalam sirkulasi darah, aktivasi sistem
komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoksin C3a dab C5a sehingga permeabilitas
pembuluh darah meningkat. Akan terjadi juga agregasi yang bersifat meningkatkan
permeabilitas kapiler dan melepaskan Trombosit factor 3 yang merangsang koagulasi
intravaskuler. Terjadi aktivasi factor Hageman (factor 7) akan menyebabkan pembekuan
intravascular yang meluas dan meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah.

Pada mekanisme patogenesis demam terjadi kompleks antibodi non netralisasi virus
akan difagositosis oleh makrofag. Hal ini memudahkan virus bereplikasi didalam makrofag.
Infeksi makrofag oleh virus menyebabkan aktivasi T-helper dan T-sitotoksik sehingga diproduksi
limfokin dan inferferon gamma. Interferron gamma akan mengaktivasi monosit untuk

10
menghasilkan berbagai mediator peradangan seperti TNF-, IL-1, PAF, IL-6 dan histamin yang
menyebabkan disfungsi sel endotel sehingga akhirnya terjadi kebocoran plasma.
Pada kasus demam berdarah dapat terjadi trombositopenia. Kemungkinan penurunan jumlah
keping darah ini disebabkan oleh supresi pada sumsum tulang ataupun dektruksi dan
pemendekan masa hidup trombosit. Koagulasi dapat terjadi akibat interaksi virus dengan
endotel yang menyebabkan disfungsi endotel. Aktivasi koagulasi pada demam berdarah dapat
terjadi melalui jalur ekstrinsik.6
Adanya interleukin-1 sebagai mediator peradangan akan merangsang dikeluarkannya
prostaglandin yang akan berperan dalam proses peningkatan suhu tubuh. Hal inilah yang
memicu terjadinya demam. Demam yang terjadi dapat dibedakan menjadi demam berdarah
dengue dan demam dengue. Pada demam dengue terjadi gejala yang mirip yaitu adanya nyeri
kepala, mialgia, ruam kulit, manifestasi perdarahan seperti petekie dan juga terjadi leukopenia.
Sedangkan demam berdarah dengue ialah demam dengan gejala yang mirip dengan demam
dengue yang diikuti dengan adanya kebocoran plasma (hal ini yang membedakannya dengan
demam dengue) yang dapat menyebabkan peningkatan hematokrit dan menimbulkan efusi
paru.
Umumnya masa inkubasi demam berdarah memiliki rentang antara 3-15 hari, dengan
rata-rata 5-8 hari. Pada penyakit ini terdapat peningkatan suhu secara tiba-tiba yang disertai
dengan sakit kepala, nyeri pada otot dan tulang, batuk, mual bahkan muntah. Selain itu sakit
kepala yang terjadi bersifat menyeluruh dan berpusat pada daerah supraorbital. Selain itu
didapati gejala pegal disekitar otot mata.
Biasanya penyakit ini diikuti dengan kurva suhu yang bersifat bifasik (naik-turun).
Biasanya demam ini diikuti dengan ruam pada kulit yang akan berkurang pada saat suhu tubuh
turun. Ruam ini bekasnya akan terasa gatal. Pada pertengahan demam (kurang lebih hari
kelima) didapati penurunan suhu sebelum kembali lagi. Hal ini memberi gambaran yang khas
pada kurva siklus demam berdarah sehingga sering disebut sebagai kurva pelana kuda.
Penurunan suhu tubuh di tengah perjalanan siklus tersebut bisa mengecoh pasien maupun
keluarganya. Apalagi pada fase ini tidak segera diberi tindakan medis, maka kemungkinan
dapat memperburuk keadaan pasien bahkan bukan tidak mungkin dapat menyebabkan
kematian. Buruknya kondisi dari pasien dapat menyebabkan dengue shock syndrome, yaitu
terjadinya demam berdarah yang disertai renjatan. Yang dimaksud dengan renjatan ialah ialah
rasa lembab dan dingin pada kulit, sianosis perifer pada ujung hidung, jari tangan dan kaki,
serta penurunan tekanan darah. Kemungkinan terjadi renjatan paling besar ialah pada saat

11
terjadi penurunan suhu tubuh dalam pertengahan siklus demam. Hal ini dapat menjadi
gambaran klinis dari patogenesis penyakit demam berdarah yang terjadi dalam tubuh.3

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan DD atau DBD tanpa penyulit adalah :

Tirah berbaring
Makanan lunak dan bila belum nafsu makan diberikan minum 1,5-2 liter dalam 24 jam
atau air tawar ditambah garam
Medikamentosa yang bersifat simptomatis
Untuk hiperpireksia dapat diberi kompres, antipiretik golongan asetaminofen, leukinin
atau dipiron dan jangan diberi asetosal karena bahaya perdarahan
Antibiotic bila terjadi infeksi sekunder

Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan :

Pemasangan infuse dan dipertahankan selama 12-48 jam setelah renjatan diatasi
Observasi : keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, pernapasan tiap jam, Hb dan Ht
tiap 4-6 jam pada hari pertama dan selanjutnya tiap 24 jam

Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi
suportif.Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang
dari 1%.Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam
penanganan kasus DBD.Asupan cairan pasien harus tetap dijaga, terutama cairan oral.Jika
asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan
melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara bermakna.

Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia bersama dengan Divisi Penyakit
Tropik dan Infeksi dan Divisi Hematologi dan Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia telah menyusun protocol penatalaksanaan DBD pada pasien dewasa berdasarkan
kriteria :

Penatalaksanaan yang tepat dengan rancangan tindakan yang dibuat sesuai atas
indikasi
Praktis dalam pelaksanaannya
Mempertimbangkan cost effectiveness

12
Sebelum mengetahui penatalaksanaan pada pasien penderita demam berdarah dengue, maka
harus diketahui terlebih dahulu tingkatan demam dengue yang dialami pasien. Berdasari
klasifikasi dari WHO, ada 5 tingkatan dengue, yaitu:
1 Dengue Fever : demam yang disertai dengan dua atau lebih tanda berikut: sakit kepala,
nyeri retro-orbital, mialgia dan atralgia.
2 Demam Berdarah Dengue I : Gejala DD ditambah uji bendung positif
3 Demam Berdarah Dengue II : Gejala DBD I ditambah pendarahan spontan
4 Demam Berdarah Dengue III : Gejala DBD II ditambah kegagalan sirkulasi (kedinginan dan
lembab serta gelisah)
5 Demam Berdarah Dengue IV : Syok berat disertai tekanan darah dan nadi yang tidak
terukur
Berdasarkan tingkatan gejala yang dialami, Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia
telah membuat protokol untuk menangangi pasien DBD dewasa.3

Protocol ini terbagi dalam 5 kategori :

Protocol 1 : penanganan tersangka DBD dewasa tanpa syok


Protocoll 1 ini digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama
pada penderita DBD atau yang diduga DBD instalasi gawat darurat dan juga dipakai
sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat.
Protocol 2 : pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat
Pasien yang tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan massif dan tampak syok
maka di ruang rawat diberikan cairan infus kristaloid.
Protocol 3 : penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematocrit >20%
Meningkatnya Ht > 20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami deficit cairan sebanyak
5%.Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah dengan memberikan infus
cairan kristaloid.
Protocol 4 : penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa
Perdarahan spontan dan massif pada penderita DBD dewasa adalah perdarahan
hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon hidung,
perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kencing, perdarahan otak.
Protocol 5 : tatalaksanaan sindrom syok dengue pada dewasa
Bila kita berhadapan dengan syndrome syok dengue maka hal pertama yang harus
diingat adalah bahwa renjatan harus segera diatasi dan oleh karena itu penggantian
cairan intravskular yang hilang harus segera dilakukan.3,4,6

Komplikasi

13
Tanda tanda ensefalitis seperti kejang dan koma jarang ditemukan.Akan tetapi, tanda-
tandadiatas mungkin muncul sebagai komplikasi pada kasus syok yang cukup lama yang
disertai dengan perdarahan berat pada berbagai organ termasuk otak.Intoksikasi air, akibat
penggunaan larutan hipotonik yang tidak tepat untuk terapi pasien DHF yang mengalami
hiponatremia, merupakan satu komplikasi iatrogenik yang relatif umum yang dapat
menyebabkan ensepalopati.
Manifestasi sistem saraf pusat yang tidak biasa, misalnya kejang, spastisitas, perubahan
kesadaran, dan paresis sementara juga tampak.Beberapa kasus tersebut mungkin mengalami
ensefalopati sebagai komplikasi demam berdarah dengue dengan koagulasi intravascular
diseminata berat yang mungkin mengakibatkan perdarahan atau oklusi fokal.
Ensefalopati yang berhubungan dengan gagal hati akut umumnya terlihat sementara gagal
ginjal biasanya terjadi pada tahap terminal. Pada kasus tersebut, enzim hati menunjukkan
peningkatan yang jelas, dengan kadar amiotransferase aspartat serum menjadi 2-3 kali lebih
tinggi daripada aminotransferase alanin serum.
Manisfestasi tidak biasa lainnya yang jarang tampak pada kasus demam berdarah
dengue mencakup gagal ginjal akut dan sindrom uremik hemolitik. Beberapa kasus ini juga
terjadi pada pasien yang memiliki faktor-faktor utama pejamu ( mis, defisiensi G6P dan
hemoglobinopati) yang dapat mengakibatkan hemolisis intravaskular. Infeksi ganda dengan
penyakit endemic lain, seperti leptospirosis, hepatitis B virus, dan melioidosis juga dilaporkan
terjadi pada kasus dengan manifestasi tidak biasa.2

Pencegahan
Pencegahan utama yang dilakukan ialah berusaha mengurangi vektor virus dengue,
yaitu nyamuk Aedes aegypti. Seperti telah dibahas, nyamuk ini senang hidup didalam segala
macam jenis benda yang dapat menampung air yang jernih di sekitar rumah. Oleh karena itu
sangat diperlukan bagi masyarakat untuk selalu membersihkan dan membuang barang-barang
bekas seperti kaleng, plastik maupun ban yang dapat dijadikan tempat perindukan nyamuk
tersebut.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah berjangkitnya demam berdarah ialah
sebagai berikut:
Makan, minum dan berolahraga secara teratur.
Apabila memasuki musim pancaroba selalu perhatikan kebersihan lingkungan dan lakukan
cara 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah tempat penampungan air serta

14
mengubur barang bekas sehingga tempat-tempat tersebut tidak dijadikan tempat
perkembangan jentik-jentik nyamuk. Sebenarnya penguburan barang bekas dapat
menyebabkan polusi tanah sehingga bila masih ada barang bakas yang bisa didaur ulang
tentu saja akan jauh lebih berguna dan tidak mengganggu ekosistem.

Pakaian mengurangi resiko tergigit nyamuk jika pakaian itu cukup tebal dan longgar. Baju
lengan panjang dan celana panjang dengan kaus kaki dapat melindungi tangan dan kaki
yang paling sering terkena gigitan nyamuk.
Menggunakan repellant atau obat nyamuk bakar, maupun semprot untuk menghindari
gigitan nyamuk.
Fogging atau pengasapan untuk mematikan nyamuk dewasa. Usahakan untuk melakukan
fogging pada waktu aktif nyamuk Aedes aegypti yaitu pada selang waktu antara jam 08.00
10.00 ataupun pada 15.00 - 17.00.
Tidak menggantung pakaian didalam rumah secara sembarangan karena dapat menjadi
tempat peristirahatan nyamuk.
Memberi saluran keluar air pada pot atau vas bunga. Serta membuang dan mengganti air
dalam pot atau vas bunga setiap minggu dan membersihkan vas atau pot bunga sebelum
dipakai kembali.
Wadah penampungan hasil kondensasi di bawah lemari es, dan AC harus diperiksa dan
dibersihkan secara teratur.

15
Memberi obat penurun panas bila ada anggota keluarga yang demam dan segera
membawa pasien ke rumah sakit maupun tempat praktek dokter bila didapati gejala panas
yang naik turun dan kemerahan pada kulit.8

Prognosis
Kematian telah terjadi pada 40-50 % penderita dengan syok, tetapi dengan perawatan
intensif yang cukup kematian akan kurang dari 2 %. Ketahanan hidup secara langsung terkait
dengan kecepatan manajemen penanganan awal secara intensif.9
Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DB dan DBD tidak ada yang
mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak teratasi,
efusi pelura dan asites yang berat dan kejang. 5 Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis
karena tindakan dan lingkungan basal rumah sakit yang kurang bersih. Kematian terjadi pada
kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf,kardiovaskuler,
pernapasan, darah, dan organ lain

Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :

- keterlambatan diagnosis
- keterlambatan diagnosis shock
- keterlambatan penanganan shock
- shock yang tidak terastasi
- kelebihan cairan
- kebocoran yang hebat
- pendarahan masif
- ensefalopati
- sepsis
- kegawatan karena tindakan.7

Kesimpulan
Demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
disebarkan nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini biasanya memiliki tanda gejala seperti ruam-
ruam bahkan syok, serta sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang. Dalam hasil laboratorium

16
juga ditemukan beberapa hal yang umumya terjadi pada penderita demam berdarah yaitu
seperti penurunan jumlah sel darah putih, penurunan leukosit, serta hematokrit meningkat. Jika
terlambat ditangani dapat menyebabkan kematian.Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa
hipotesis diterima yaitu, demam sejak 5 hari dengan tanda-tanda syok dan mengalami
epistaksis mengarah ke dengue syok syndrome.Untuk menghindari terjadi penyakit demam
berdarah dengue ini adalah melakukan pencegahan sedini mungkin dengan memberantas
keberadaan nyamuk Aedes aegypty.

Daftar pustaka
1 Gubler DJ. Dengue/dengue haemorrhagic fever: history and current status. In: New treatment
strategies for dengue and other flaviviral diseases. Chicheter: John Wiley&Sons; 2006.
2 Tumbelaka AR, Darwis D, Gatot D, dkk. Demam berdarah dengue. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2005.
3 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar ilmu penyakit dalam.
edisi 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.2773-79.
4 Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran UKRIDA. Penuntun patologi klinik hematologi.
Jakarta: Biro Publikasi Fakultas Kedokteran UKRIDA; 2009.h.51-60.
5 Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Parasitologi
kedokteran edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009.h.265-8
6 Brooks GF, Butel JS, Ornston LN. Mikrobiologi kedokteran. 20th ed. Jakarta : EGC; 2004.
h.116-139.

7 Mandal BK, Wilkins EGL, Dunbar EM, Mayon WRT. lecture notes : penyakit infeksi. Edisi ke-
6. Jakarta : Erlangga;2008.h. 273.
8 World Health Organization. Panduan lengkap pencegahan dan pengendalian dengue dan
demam berdarah dengue. Jakarta: EGC.;2002.

17