Anda di halaman 1dari 21
Teori Hukum 1 (Suatu Tinjauan Singkat tentang Posisi, Sejarah Perkembangan dan. Ruang ‘Lingkupnyay’ Muchyar Yara Meskipun Konsorsium Hii Hukum telah mem- berikan pengakuan terhadap mata kuliah "Teor Hukum" dan menjadikannya mata kuligh wajio pada Program Pascasarjana Program Studi Imu Hukum, baik pada $-2 maupun $-3, namun materi-materi yang diajarkan dalam mata kuliak ini masih sering berbeda antara Program’ Pasca- sarjana suatu universitas dengan universitas lainnya. Akibatnya penyafion materi mata kailiah ini sering tumpang tindih dengan materi kuliak “Filsafat Hukum", atau merupakan pengulang- an dari materi kuliah ”Pengantar Ilmu Hukum” pada tingkat pendidikan S-1. A. Pendahuluan, Apresiasi kalangan ahli hukum di Indonesia terhadap Teori Hukum dai’ waktu kewaktuterus meningkat, hal mana dapat dibuktikan dengan pengakuan Korisorsiium Ilmu Hukum atas cabiang ilmy pengetahuan hukum ini sebagai salah satu miatakuliah wajib pada tingkat pendidikan pascasarjana bidang studi flmu Hukum, baik untuk Strata 2 (S-2) maupun Strata’3 ($3). Namun demikian pemahaman para ahli hukum di indoriesia terhadap muatan inateri serta ruanglingkup mata kuliah Teori Hukum masih sangat beragam, sehingga penyajian matakuliah'ini menjadi saling berbeda antara satu program pascasarjana dengan program pascasarjana lainnya. ‘Keadaan diata-sepenuhaya dapat dipahaini, mengingat Teori *Tulisan ni disusun berdasarkan materi kuliah Teori Hukum yang disampaikan oleh Prof. Me: Roeslan Saleh pada Strata-3 Program Pascasarjana Bidang Studi mu Hukum Universitas Indonesia Tabun Akademis 1995-1996, * Nomor 1 - 3 Tahun XXViIt 2 Hukum dav Pembangunait Hukum sebagai cabang imu pengetahuan hukum yang mandiri baru mulai dikenali di-Indonesia pada pertengahan dekade tahun 80'an. Sedangkan sebelunmya, Teori Hukum senantiasa diasosiasikan sebagai bagian dari studi khusus Filsafat Hukum, atau sebagai studi lanjutan’-dari ‘teori-teori Tu Hukuz (seperti misalnya teori-teori Hukum Tata Negara, Hukum Pidana, Hukum Perdata dan seterus- nya). Akibatnya, penyajian materi kuliah Teori Hukum seringkali tumpang tindih dengan materi kuliah Filsafat Hukum, atau menjadi pengulangan materi kuliah IImu Hukum ditingkat pendidikan hukum Strat Tulisan singkatini dimaksudkan sebagai upayamemipetkenalkan lebih lanjut posisi Teori Hukumn sebagai iim pengetahuan hukum yang mandiri, sejarah kelahiran dan perkembangannya.serta ruang lingkup kajiannya. Diharapkan melalui uraian ini dapat ditumbuhkan kesamaan pemahaman di kalangan ‘dunia pendidikan hukum pada ‘umumnya serta para pengajat Teori Hukum pada khususnya terhadap muatan materi kuliah Teori Hukum. B. Posisi Teori Hukuni sebagai Imu Pengetahiuan Hukum yang mandisi Sampai dengan akhir abad 19, pandangan-pandangan atau amuatan kajian yang kemudian dimasukkan kedalam bidang garapan Teori Hukum hanyalah dianggap sebagai hasil sampingan dari peng- kajian Filsafat Hukum. Hal ini, terjadi karena' baik Filsafat Hukum maupun Teori Hukum bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang pengertian-pengertian yang asasi dari hukum. Hanya sajajika pada Filsafat Hukuin yang dikaji adalah pengertian-pengertian asasi dari hukum yang bersifat universal, maka pada Teori Hukum yang dikaji adalah pengertian-pengertian asasi yang terkandung didalam suatu hukum positif tertentu. Disamping itu, terjadi pula” keranicuan tenting wilayah kerja antara Teori.Hukim dan Dogmatik Hukum, yang merupakan ilmu pengetahuan yang mengyraikan,, mensistemkan Serta dalam batas- batas tertentu menjelaskan suatu hukum positif tertentu. Schingga tidak jarang pula diantara kedua disiplin iimu pengetahuan tidak bisa dibedakan, karena keduanya mempunyai obyek kajian hukum konkrit yang sama, yaitu hukum positif tertentu. Hanya saja berbeda dengan Dogmatik Hukum, maka yang dikaji oleh Teori Hukim adalah ‘Januari = juiti 1998 Teor Hukum 3 pengertian-pengertian asasi pada hukum positif yang bersangkutan guna memperoleh pengetahuan yang lebih mendasar lagi tentang hukum positif tersebut. Dan bila metoda pokok pada Dogmatik ‘Hakum adalah pendekatan yuridis dengan seberapa perlu ditambah dengan ilmu,pengetahuan pembantu lainnyz, maka meioda pokok pada Teori Hukum adalah interdisipliner. Sejakawal/pertengahan Abad 20 Teori Hukum telah memperolch pengakuan yang luas sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri sebagai cabang dari’ Imu Hukumt (tetapi bukan sebagai ilmu pem- bantu), yang terletak tepat ditengah-tengah antara Filsafat Hukum dan Dogmatik Hukum, dengan ciri- ciri sebagai berikut: Sudut pandang Teori Hukum di dalam menyoroti hukum yang berlaku (hukum positif tertentu) adalah sudut pandang para ahli hukum, baik yang bergerak. dibidang. pemtbentukan hukum maupun yang bergerak dibidang praktek hukum. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa pandarigan Teori Hukum mengenai hukum yang berlaki, merupakan juga pandangan ‘orang dalam’. 2. Teori Hukum bertujuan mendapatkan pengetahuan yang lebih +, baik dan lebih mendagar:tentang hukum yang berlaku, untuk kepentingan hukum. positif'tersebut sendiri, dalam arti pan- dangan-pandangan Teori Hukum dapat dipergunskan untuk memperbaiki atau meningkatkan huikum positif termaksud. ~ 3. . Di dalam: rangka mencapai tujuannya’Teori Hukum ‘memper- gunakan metoda interdisipliner, dengan: memanfaatkan faktor- faktor non-yuridis yang terdapat di dalam masyarakat ‘yang bersangkutan. ° LL wagon Bertitik tolak dari uraian diatas, maka ménurut Prof: MrRoeslan Saleh, pengajar matakuliah Teoti Hukum pada Strata 3 Program Pascasarjana Bidang Studi Mima Hukum pada Universitas Indonesia, definisi Teori Hukum adalah sebagai berikut: v vTeori Hukum adalah cabang iu pengetakuan horkurn yong mer pelajari berbagai aspek.téoritismaupun praktis:dari hukum positif tertentu secara tersendiri dan dalam keseluruhannya secara inter- disipliner, yang bertujuan memperoleh jengetahuan dan penjelasan erg Ibi by bi jelas da bit medasar mengena hui posi yang ng bang . Nomor 1-3 Tahun XXVUL 4 Hukum dan Pembangunan C. Sejarah Perkembangan Teori Hukum L. . Ajaran Hukum Umuom ue Dunia ilmu pengetahuan pada Abad 19 sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dan kemajuan pesat yang dialami oleh ilmu-ilmu penge- tahuan alam yang bersifat positif. Hat ini mendorong para ilmuwan dari cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya untuk mencoba menerapkan-metoda-metoda ilmu pengetahuan alam yang positif sebisa mungkin terhadap obyek kajiannya masing-masing. Dikalangan para ahli hukum di Abad 19 itu lahir pula dorongan untuk menerapkan pendekatan-pendekatan yang.‘iimiah' (menurut metoda ilmu pengetahuan alam) di dalam melakukan kajianterhadap ciri-ciri serta hakekat hukum positif dan tertib hukum positif yang berlaku sama pada. semua-stelsel hukum. Afau dengan kata lain, timbul keinginan untuk menemukan ‘semacam hukum kodrat alam’ tetapi, yang .bersifat ilmiah positif, guna mengisi kekurangan- kekurangan. yang muncul,:sebagai akibat runtuhnya keyakinan terhadap, adanya hukum kodrat alam yang berlaku uhiversal. . Dengan latar belakang situasi dunia ilmu pengetahuan di Eropah Barat sebagaimana dikemukakan diatas, kemudianlah lahirlah Ajaran Hukum.-: Umum, (Allgemeine Rechtlehré/General Jurisprudence/ ” Theorie 'Generaledu Droit merupakan .cikal-bakal. Teori Hukum- yang dikenal dewasa ini. Melalui Ajaran Hukém Umum inilah dilakukan pengkajian terhadap asas-asas hukum (seperti pacta sunt servanda dsb.), pengertian-pengertian hukum (seperti hak milik, - kedaulatan, sanksi dsb.) dan pembedaan-pembedaan hukum (seperti antara hukum publik dan hukum privat, atau antara hukum domes- - tik/positifidan hukum intemasional) yang diarigeap terkandung dan merupakan bagian:mutlak dari ‘semua sistém-hukum/tertib hukum positif. Atau dengan kata lain-Ajardn Hukum Umum berupaya mene- mukanasas-asas, pengertian-pengertian serta pembedaan-pembedaan hukum.yang bersifat ilmiah positif guna menishuskan cifi-ciri umum dari semua: aturan.hukum dan-sistem! radar yang ada: 2. Teori-Hukum merupakin kelanjutan. dari Ajaran Hukum Uicin Istilah atau penamaan Teor.-Hukunt:sendiri’ (yang, digunakan secara berbeda dengan istilah Allgemeine Rechtlehrey Ajaran. Hukum Umum) pertama-tama dipergunakan didatam majalah yang bemama Internationale Zeitschrift fur Theorie des Rechts, yang didirikan oleh Hans Kelsen, Leon Duguit dan Francois Weyr pada tahun 1926. 4 Januari -Jini-1998 Teori Hukum ... 5 Perlu-kiranya dipertanyakan disini mengapa Teori Hukum dika- takan sebagai Kelanjutan dari Ajaran Hukum Umum; dan.mengapa pula tidak dikatakan bahwa Teori Hukum adalah sama atax merupakan penamaan lain dari Ajaran Hukum: Umum? Sebagai kelanjutan ‘dari ‘Ajaran Hukum Umum, maka TeoriHukum pada satu pihak memiliki ciri-ciri yang sama dan karenanya menunjukan adanya kesinambung- an dengan. Ajaran Hukum Umuin, tetapi.pada_pihak lain terdapat pula perbedaan-perbedaan yang hakiki diantara-kéduanya..- Oleh karena itu pula Teori Hukum tidak dapat disamakan dengan‘Ajaran Hukum Umum, ataupun dikatakan sebagai penamaan lain dari Ajeran Hukum Umum. Ciri-ciri kesamaan diantara, Teori Hukum dan Ajaran Hukum ‘Unwum dapat dilihat pada letak dan’sifat keduia disiplin imu penge- tahuan ini, dimana baik’Teori Hukum maupon Ajaran Hukum Umum berupaya menempatkan ‘posisinya diantara Filsafat Hukum dan Dogmatik Hukury;demikian pula keduanya memiliki sifatyangbebas nilai dan’ tidak bersifat normatif..Kédua ciri ini merupakan bagion dari latar belakang pemikiran yang menjadi pangkal tolak kelahiran Ajaran Hukum Umum sebagaimana telah dikemukakan sebelumniya. Namun diantara Teori Hukum dan Ajaran Hukum Umunijuga terda- pat perbedaan yang hakiki, dimana secara umum dapat dikatakan bahwa apabila Ajaran Hukum Umum belum dapat diakul ‘sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri;. maka sebaliknya Teori Hukum justra telah diakui secara‘luas sebagai suatu ‘disiplin ilmu yang mandiri. Meskipun sejak awalnya Ajaran Hukum Umum dirancang seba- gai disiplin ilmu yang berada ditengah-tenpah antara Filsafat Hukum dan Dogmatik Hukam, namun karena sebahagian terbesar para pelo- pomnya berlatar belakang pendidikan sebagai ahli filsafat, maka sulit dihindari masuknya unsur-unsur pendekatan filsafat yang niengaki- batkan pengkajian Ajaran Hukum Umum ini lebih diwamai pende- katan filsafat yang, bercirikan metafisis dan tidak ilmiah. Perlanyaan pokok yang diajukan.oleh Ajaran Hukum Umum’ adalah, “unsur hakiki apakah yang terdapal dan merupakari-bagian mutlak dari setiap sistem hukum yang ada?” Disini terlihat bahwa Ajaran Hukum Umum secara apriori berangkat dari anggapan adanya ciri-ciri yang bersifat universal pada semua sistem -hukum. Akibatnya Ajaran Hukum Umum ini iebih banyak dianggap sebagai bagian dari Filsafat Hukum katimbang sebagai disiplin ilmu yarig berdiri sendiri Sementara itu Teori Hukum yang pembentukannya lebih banyak Nomor 1 - 3 Tahun XXVUE 6 Hukum dan Pembaiigunon dipelopori oleh kalangan ahli hukum sendiri pada satu’ gisi’berhasil -menghilangkan-unsur-unsur yang bersifat metafisis, dan pada sisi yang.lain fuga marnpu menjaga jarak dengan: Dogmatik Hukum, ‘sehingga’ keberadaan Teori Hukum ‘sebagai disiptin ihnu ‘mandiri yang berada ditengah-tengah Filsafat Hukum dan Dogmatik Hukuin dengan -pasti diakui secara luas. Pertanyaan,pokok-yang idiajukan oleh Teori Hukum adalah, "apa dan bagai- ‘manakah hal-hal yang mendasar.pada suatu sistem: hukumtertentu?” Disini terlihat bahwasanya Teori Hukum dengan sengaja memba- tasidirinya hanya sampai pada anatisa ilmiah terhadap hukum posit Schingga tidaklah keliru jika ada yang beranggapan bahwa Teor Hukum adalah teorinya dari hukur positif. i ‘Perbedaan penting ainnya antara Teor Hukim dan Ajaran Hukum Umum adalah berkenaan dengan wilayah kajian dan sasaran Kajiannya. Jika tema pokok kajian Ajarary Hukum:Umum adalah asas-asas, pengertian-pengertian:serta pembedaar-pembedaan hukum, maka tema pokok kaj Teoxi Hukum.adalah’struktur dan fungsi norma-norma hukum positif serta sistem hukum positif, Sedangkan jlka sasaran. kajian Ajaran Hukum Umium: adalah menemukan “hakekat hukum" yang, berlaku:umum pada semua sistem hukum, maka sasaran kajian Teori Hukum-adalah memperoleh pemahaman yang lebih baik dan lebih mendasar tentang ‘normia-norma hukum positif dan sistem hukum ‘positif dengan :tujuan:‘untik membuat sistem hukum positif yang bersangkutan menjadi Jebih baik lagi. 3. Teori Hukum mengalami kemandekan Kemunculan Nasionalisme Sosialisme (Nazi) diJerman pada awal tahun 30-an merupakan-sebab utama kemandekan Teori Hukum. Hal ini Kemudian juga disusul dengan meletusnya Perang Dunia I pada tahun 1938. Keadaan ini-terus berlangsung sampai akhir tahun 60'an/awal tahun, 70-an. : Secara tradisional daerah- yang menggunakan bahasa Jerman dianggap sebagai ‘centra.ahli-ahli pikir" dibidang filsafat hukum dan Teor} Hukum. Kehadiran Nazi di Jerman dengan ideologi nasionalis- me-sosialismenya mendorong para’ ahli hukum Jerman secara sadar mengenyampingkan perundang-undangan yang ada scbelumnya ataupun menafsirkan perundang-undangan yang ada sejalan dengan ideologi Nazi..Sehingga secara terang-terarigani térjadi pelanggaran terhadap tujuan dan arti perundang-undangan sebagaimana ditetap- kan-oleh para pembuatnya, dan terjadi pula perierapan perundang- ‘Januari - Juni 1998 Teori Hukunt . . 7 undangan secara imoral. Situasi hukuim di jerman pada masa Nazi ini dikenal sebagal masa ‘positivisnie hukum', Setelah berakhimya Perang Dunia Il yang ditandai dengan kerun- tuhati Jerman/Nazi, maka banyak Kalangan ahli hukam di luar Jer- man yang beranggapan bahwa Teori Hukiin (Recht Theorie) adalah sama dengan positivism hukum yang berkembang dimasa pemerin- tahan Nazi'di Jerman, Disamping itu incu! pula kecenderungan untuk melakukan réfleksi kritis tentang isi dari nilai-nilai hukum/ normia-norma serta tefitang legitimasi falsafah dan moral dari sistem- sistem hukum yang ada. Kecenderungan ini mendorong mengalimya perhatian kepada Filsafat Hukum, sedangkan analisa ilmiah terhadap unsur-unsur ‘hakiki dari gejala hukum positif dan prakiek hukum yafig merupakan bidang garapan Tedri Hukurh menjadi kurang mendapat perhatian. Akibat dari semua ini Teori Hukum kehi- langan posisinya untuk sementara sebagai cabang ilmu pengeta: huan hukum yang berdiri sendiri. Selama masa kegelapan ini, Teori Hukumi kembali terjerumus dan dianggap sebagai Ajaran Hukum Umunt yang terus bertahan hidup sebagai ‘pengantar unum ilmu pengetahuan kukum’ dan sebagai sinonim dari ‘Ensiklopedi Hukum’ yang artinya disini Ajaran Hukum Umum tersebut tidak dianggap sebagai suatu ilmu pengetaiuan melainkan hanya dianggap sébagat keseluruhan informasi umum yang bersifat didaktis tentang kukum. Padahal sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, ‘bahwa sejak dwal Abad 20 diantara Ajaran Hukum Umum dan Teori Hukum sudah sangai bérbéda. Teori Hukui di masa Kegelapan iti mengalami kemerosotan sampai menjadi bagian ‘matakuliah yang bersifat’ pengantar pada tingkat Strata 1, yaitu menjadi bagian dati ‘Allgemeine Rechtslehre/ Pengantar [mu Fukum-dan Perigantar Tata Hukum.-Hal ini berarti pula Teor? Hukum yang sehérusnya bertugas menganalisa secara ilmiah hukum positif, dipaksa menjalankan tugas sebagai pehgantar hukum positif, yang sebenamyamerupakan tiigas dati Ajaran Hukum Umum sebagat ensiklopedi hukum.” 4° Kelahiras hémbalt Teor Huktim ‘Setelah + selama dua dasarwarsa sejak berakbisnyé Perang Dunia Ti terintergrasi kedalam Ajaten' Hukumi-Umum,'‘mtaka sejak akhir dekéde tahun 60-an atau awal dekade tahun 70-an Teori Hukum kemi- bali menduduki tempatnya seinula sevagal lina sapengetahuan nuk yang berdiri sendiri. >: Norhor 1'- 3 Takun XXVUT 8 Hukum dan Pembongunan Kelahiran kembali Teori Hukum pada belahan kedua Abad ke-20 ini dapat disinonimkan dengan kelahiran Ajaran Hukum Umum pada Abad ke-19 yang dilatarbelakangi keberhasilan metoda.ilmu-iimu pengetahuan alam. Dalam hal ini kelahiran kembali Teori Hukum jugatidak dapat dilepaskan dari kenyataan berkembangnyailm pengetahuan kemasyarakatan baru atau cabang-¢al J ilmu-ilmu pengetahuan kemasyarakatan,yang sudah ada pada masa pasca Perang Dunia IJ, yang mengarahkan kajiannya pada kenyataan dan gejala hukum, seperti: Sosiologi Hukum, Sejarah Hukum, Anthropologi Hukum, Logika Hulu, Informatika Hukum, dan sebagainya. Masing-masing ini ‘pehgetahuran bari “eersebut memang mempu- nyai kesamaan ‘sasaran kajian, yaitu kenyataan dan gejala hukum, tetapi sudut pandang yang dipergunakay\ adalah saling berbeda antara satu dengan lainnya, yang. tergantung pada sudut pandang yang dipergunakan oleh induk ilmu pengetahuannya masing-masing. Karena pada hakekatnya ilmu-ilmu pengetahuan bam tersebutadalah tetap Sosiologi, atau tetap Sejarah,,atau tetap Anthropologi dan seterusnya, yang memfokuskan perhatiannya untuk mengkaji secara khusus gejala hukum yang hidup ditengah masyarakat. Sebagai contohnya dalam pénelitian tentang suatu norma hukum positif seperti UU Lalu Lintas, maka Sosiologi Hukum akan meng- kajinya dari sudut pandang, kesadaran hukum, warga’ masyarakat terhadap UU Lalu Lintas, bagaimana proses penegakan hukumnya, kemudian peranan petugas Polisi Lalu-Lintas dsb. Sedangkan Sejarah Hukum, akan mengkajinya dari sudut..sejarah _perkembangan Reratran lala lintas, d acon lesan jengan cal grakangs Tain pengetahuan hukum positif. Nav ‘Karena 8 ilmu-ilmu kemasyarakatan baru itu saling berbeda gudu nya serta sangat kurang akan Kandungan-kandungan teknik hukum, maka hasil-hasil penelitian tersebut tidak dapat langsung dimanfaat- kan oleh ilmu pengetahuan hukum. positif..Disinilah muncul kebu- tuhan akan.Teori Hukum yang dengan‘pendekatan multisipliner mengerjakan. semua asi). penelitian ilmu-ilmu pengetahuan Kemasyarakatan dibidang hukum,secara, koheren, ‘sehingga dapat diperoleh . kesimpulan-kesimpulan :yang:dapat dimanfaatkan. dan diterapkan bagi teknik-teknik hukum, dan disamping itu juga dapat Januari - Juni 1998 Teori Hukum, 9 merumuskan masalah-masalah yang muncul bagi penelitian-penelitian termaksud untuk diteruskan menjadi kajian Filsafat Hukum, Demikianlah, sebagai akibat perkembatigan yang pesat dati ilmu- ilmu pengetahuan kemasyarakat yang secara khusus mengkaji gejala hukum, melahirkan kebutuhan kehadiran Teori Hukum. setiagai cabang ilmu pengetahuan hukum yang mandiri-dengan:pendekatari- nya yang multidisipliner. Dan hal ini menandakan kémbalinya Teori Hukum pada posisinya semula sebagai ilmu. pengetahuan yang berdiri sendiri dan terlepas dari Ajaran Hukum Umum. Sejak akhir tahun 60-an atau awal tahun'70 an berbagai univer- sitas di Eropa Barat memulai lagi-penerbitan majalah-majalah’Teori Hukum, dan sejak itu pula berbagai literatur dan-publikasi Teori Hukum kembali marak. D. Ruang lingkup-Kajian Teori Hukum, Berbicara tentang ruanglingkup suatu ilmu pengetahuan sama artinya dengan membahas batas-batas wilayah kajian iimu pengeta- huan yang bersangkutan, dimana Kal itu dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara, yaitu secara ekstern dan secara intern. Meruimuskan ruang- lingkup secara ekstern dilakukan -dengan -cara meletakan’ imu pengetahuan yang bersangkutan pada keseluruhan disiplin ilmu yang memiliki kesamaan dalam ébyek kajiannya. Sedangkan ruanglingkup secara intern dilakukan dengan cara menguraikan’tentang sasaran, tujuan, metoda serta bidang-bidang kajiannya. - ~ 1. Tinjauan Ekstera Ruanglinghup Teori Huw Ruang lingkup Teori Hukum secara ekstem berarti membahas garis batas antara kajian ilmu pengetahuan ini-dengan batas-batas kKajian ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang memilikikesamaandalam obyek pengkajiansiya, yaitu hukum. Secara umum ilmucilma pengetahuan ‘yang: “amengkaii hukum dapat dibedakan atas2 (dua) kelompok, yaitu ilmu pengetahuan yang, bersifat murni hukum seperti Dogmatik Hukum, dan ilniu-pengeta- huan. yang bersifat tidak. murni hukum, seperti ‘Filsafat Hukum; Sosiologi Hukum, Sejarah. Hukum, Logika Hukum, ‘dan sebagainya: Iimu pengetahuan yang termasuk dalam kelompok:kedua ini: pada hhakekatya adalah: Filsafat, Sosiologi, Sejarah yang mengarahkan kajiannya secara khusus kepada hukum, dan yang kemudian berkem- Nomor 1 - 3 Tahun XXVIII 10 Hukum dan Pembangunon barig menjadi disiplin atau ilmu pengetahuan yang berdiri sendizi terlepas:dari inciuknya masing-masing. ‘un Sejak semula telah dikatakat’ bahwa Teori- ‘Hukum terletak tepat diantara: Dogmatik Hukum.dan Filsafat Hukum. Oleh karenanya pembahasan tentang ruang lingkup Teori Hukum pertama-tama akan diarahikan untuk mengetahui garis batas kajian diantara Teor! Hukum dan Dogmatik Hukum pada satu pihak dan antara Teori Hukum dan Fisafar Huan peda pitok yang lin a. Teoti. Hulu dan Dogmatik‘Hukum Dogmatik Hukum atau disebut juga Ajaran Hukum atau juga dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan hukum dalam arti sempit merupakan cabang ilmu pengetahuan hukum yang bertugas mengu- raikan, menerangkan /menjelaskan (menafsirkan) dan mengsistemkan hukum positif yang berlaku pada masyarakat terientu dan pada waktu tertentu dari sidut pandangnormatif. Sudut pandangnormatif ini dapat bersifat yuridis ataupun non-yuridis. Suatu pandangan - normatif.yuridis adalah pandangan yang disandarkan pada prinsip- prinsip teknis yuridis, seperti misalnya peraturan yang lebih rendah tunduk-kepada peraturan yang lebih tinggi, atau peraturan yang lama dianggap. tidak: berlaku jika bertentangan dengan peraturan yang baru. Sedangkan pandangan normatif-noii yuridis adalah pandangan tentang suatu:masalah hukum konkrit yang didasari prinsip-prinsip diluarteknis hukum, seperti misalnya tindakan-tindakan yang secara formal.adalah sah namun mengandung elemen iminoral, tidak boleh melahirkan akibat-akibat hukum;. atau -peraturan yang melanggar nilai-nilai keadilan dianggap tidak berlaku. Secara umum Teori Hukum dapat dikatakan sebagai teori meta dari Dogmatik Hukum, artinya bahwa Dogmatik Hukum merupakan obyek kajian dari Teori Hukum. Bilamana Dogmatik Hukum meng- kaji aturan-aturan‘hukum positif dari sudut pandang teknis yuridis, maka Teori Hukum melakukan refleksi terhadap teknik-teknik yuridis tersébut. Sélanjutnya_. jika. Dogmatik Hukum’ membahas: tentang hukum, maka Teori'Huktm mengkaji bagaimana.caranya para ahli Dogmatik ‘Hiikum itu.thembahas hukum. Kemudian bila ahli Dog- matik Hukuim berbicara tentang hukum dengan menggunakan sudut pandang ‘normatifi:maka Teor Hlukush.mehgkajt hukum:dari sudut pandang yang ‘multidisipliner.: aie . Dogmatik Hukum-mencurahkanperhatiafinya pada perumusan. mengenai -hukum positif; dan kemudian mensistemkannya. Sedangkan Janis - Juni 1998 Teori Hukum ast ‘Téoti Hukum melakitkan refleksi terhadap perumusan dansistimatika hukum positif tersebut- Dat yang terpenting Dogmatik Hukum ber- upayd meriemukan cara‘cara inenyelesaikan masalah-masalah hikum- yang konkrit, sementara Teori Hukum: tidak sméngkaji_ masalah- masalah hukum yang’ konkrit itu;-melainkan lebih ‘memperhatikan bagaimiana ‘caranya Doginatik Hukum mienyelesaikan miasalah- masalah hitkam tersebut.: Namuiv demikian adalah keliru jika menganggap Teoti Hukum adalah sekedar merupakan féori meta'dari Dogmatik Huktin dan tidak menyinggung hukuin itu sendiri, karenia di dalam perkembangannya Teori Hukism juga mengkaji masalah-masalah mendagat yang ber- kaitan dengan hukum positif,“ seperti’ misalnya: ‘sifat-sifat norma hukum, penemuan hukum, keberlakuan hukum, hubungan antara hukum dengan ‘moral, dan -sebégainya. Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa baik Dogmatik Hukum maupun Teori Hukuny memiliki daerah/wilayah kajiannya senidiri-sendiri, sehingga didntara-kedanya dapat ditarik garis batas yang tegas. b. Teori Hukim dant Fileafal Hukum °y and Filsafat Hukum ‘pada hakikatnya ‘adalah filsafat’ umum yang mengkaji hukum atau gejala’ huktim secara khusiis, yang berupaya menemukan’ pemahaman-pemahaman ‘yang -terdalam (essensial) tentang hukim dai gejala-gejala hukum yang bersifat transédéntal, berikut: a . ; tle a. ~ Ontologi Hukum (ajaran tentang hakekat keadaan), yaitu kajian tentang: hakekat hukum, seperti misalnya: hakekat kedaulatan, hakekat keadilan, hakekat deinokrasi, hakekat hubungan antara ‘hukundan moral, dan-sébagainya. | b: Axiologi Hukum (ajaran mengenai riilai), yaitui kajian tentang isi " - nilai-nilai: keadilan, sspatican, kebenaran, kebebasan, ‘pelang- a: Episterologi- Mukeuim (ajaran™ tetarig ! ‘pongetahuan) Nomor'l «3 Tahun XXVII 12 Hukum dan Pembangunan pengkajian lebih-lanjut tentang: hakekat hukum, dan masalah- masalah fundamental.pada hukam sebagai, peng ¢. , Teleologi Hukum (ajaran tentang. tujuan), yaitu: kajian tentang vartidan tujuan hukum. f. . Ajaran keilmuan tentang hukum, ‘merupakan meta+ -teori ‘dari ilmu pengetahuan hukum yang didalamnyadikaji tentang sampai_ scjauhmana kriteria-kriteria keilmuan’ dapat. diterapkan pada hukum, pembagian ilmu hukum, dan metoda-metodayang dapat : dipergunakan dalam, Filsafat Hukum , Loh at g ~ Logika, Hukum, yaitu kajian tentang Aukum berdasarkan cara - berpikir-menurut hukum, tentang argumentasi_ uk, susunan logis dari struktur sistent hukum. © Didalam petkemibangan "selanjutnya, opika ‘Huakcum hi kemu- dian berkembang menjadi cabang ilmu pengelahuan, yang. terlepas dari Filsafat Hukum, bahkan: Jebih, jauh: Jagi: ii tahuan’ yang, berdiri sendiri dilingkungan i hukum. . Ciri yang menonjol dari kajian Filsafat Hukum yang didasarkani pada refleksi adalah tidak dapat dapat:diuji'secara empiris: Namun demikian kajian tersebut harus memenuhi persyaratan rasionalitas tertentu dan .tersusun secara logis, sehingga dapat, dimanfaatkan untuk diskusi yang rasional. Sebagaimana telah -dikemukakan -sebelumnya “pahwa ‘Teori Hukum pada awalnya bersumber dari Filsafat Hukum,-y dian berkerbang inenjadi Ajaran Hukum Umum, ‘dan akhirnya menjadi disiplin tersendiri diantara. Dogmatik-Hukum dan Filsafat Hukum. Pemtsahan diri Teori Hukum ini terutama sekali disebabkan_ mmwan yang hasil-1 -hasilnya dapat diuj secara empi Teori.Hukum senantiasa harus, dikaitan dengan keh secara positif ‘pada suatu masyarakat tertentu, sedangkan Filsafat Hukum melihat hukum sebagai gejala yang memiliki’ kesamaan- kesamaan bersifat transendental. Jadi apabila Teori Hukum mengkaji hukum positif tertentu, misalnya hukum: positif Indonesia, maka Filsafat Hukum mengkaji hukum sebagai gejala.universal yang sama dimana saja. Contohnya jika Teori Hukum mengkaji dasar keberla- kuan sistem hukum Indonesia; maka Filsafat-Hukum mengkaji dasar Januari - Juni 1998 Teori,Hukum . B keberlakuan sistem hukum yang-dianggap sama dimanapun. Dari sini kiranya jelas:bahwa wilayah kajian Teori Hukum dan: Filsafat Hukum. adalah saling -berbeda;. meskipun: tidak. tertutup kemungkinan bagi Teori Hukum untuk mempergunakan‘hasil-hasil. kajian Fllsafat Hukum-di dalam melaksanakan pengkején terhadap suatu gejala hukum positif. c Teori Hulu dan Imu Pengetahuan Lainnya Sebagian terbesar dari -pelaksanaan. tugas Teori Hukum akan’ memanfaatkan hasil-hasil kajian yang dilakukan oleh cabang-cabang ilmu pengetahuan: lainnya yang ‘memiliki obyek ‘kajian yang sama yang hukum. tnilah sebab utama mengapa Teori Hukum mempunyai ciri sebagai ilmu pengetahuan. multidisipliner. Dani ini berarti juga Teori Hukum memainkan fungsi integrasi baik dalam hubungannya dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya, maupun dalam hubungannya dengan Doginatik Hukumdan Filsafat Hukum. Namun’ hal ini tidaklah berarti Teori Hukum ‘hanya semata-mata. akan mem- pergunakan hasil-hasil kajian yang:telah dilaksanakan leh cabang- cabang ilmu pengetahuan tersebut! Di dalam hal belum:tersedianya hasil-hasil kajian dari cabang-cabang ilmu pengetahiuan lain terhadap suatu gejala hukum tertentu yang dikaji ‘oleh Teori:-Hukum, ‘maka’ lesan-penjelasan yang bersifat multi-disipliner; danvini berarti juga pata ahli Teori Hukum harus pula memiliki kualifikasi yang memadai atas cabang-cabang ilmu pengetahuan lain yaiig relevan dengan penelitian yang dilakukannya.;, ©. 1° ’Disamping itu perlu kiranya dipahami-bahwa Kajian sosiologi hukum, sejarah hukum, psychologi:shukumi, logika hukwm: dan seterusnya atas suatu gejala hukum. yang sama; selain berbeda antara satu dengan lainnya, juga berbeda dengan kajian Teori Hukum. Setiap cabang ilmu pengetahuan lain itu akan mendekati gejalahukum yang sama dari sudut disiplin induknya masing-maaing.. -Didalam -meneliti; suatu--putusan.: pengadilan,’ maka sosiologi hukum akan mengkajinya dari sudut keduidukan dan:peran hakim- yang membuat putusan, sedangkan sejarah‘hukush akan menyoroti- nya dar] suduit proses pembuatan putusannya, demikiari seterusnya. Singkatnya:cabang:cabang 'ilmy pengetahuan Jain ini:akan méngkaji dan, menyoroti gejala hukum yang sama sejalari dengam‘interestatau’ minat. -disiplin- induknya imasing-masitg, kareha: memang: pada hakekatnya sosiologi-hukum adalah-sosiologi, sejarah hukum adalah: Nomor-1.+ 3: Tahun, XXVIII 14 Hukum dan Pembangunai: sejarah, psychologi hukum :adalali -psychologi, ‘hanya: saja: fokus kajiannya sama yaitu hukum,-Jadi hasil-kajian cabang-cabang imu pengetahuan lain ini akan bersifat spesifik; yaitu menjelaskan gejala hukum -tertentu dari sudut satu aspek tertentu. Sedangkan ‘suatu penelitian ‘Teori Hukum ‘terhadap ‘gejala hukum yang"saina akari berbeda sama sekali, karena yang dipergunakan adalah sudut-pende- katan hukum, yang bertujuan menjelaskan, mensistematiskan, serta mengintegrasikan gejala-hukum yang diteliti itu: kedalam hukum positif secara holistik (secara'keseluruhan): Kiranya dari sini dapat’ disimpulkan bahwa ‘sudut pendekatan yuridis-yang.digunakan oleh Teori Hukum di dalam mengkaji suatu: gejala hukum memberikan ciri khusus yang membedakannya dengan’ cabang-cabang: imu pengelaiuar Jain Yang -menjadikan hukumn sebagai obyek kajiannya pula. 2. ‘Tinjauan Intern Ruang.lingkup Teor Hakum Sejalan dengan tahapan perkembangan dari Teori Hakim, maka’ dapatlah dikemukakan bahwa.secara umum Tuanglingkup kajian disiplin ima pengetabuarinimneliput4(empat) dacrah;kajin, yas a, Analisa yuridis; b.. Ajaran metoda hukum; ¢. ~ Ajaran Keilmuan dan ajaran’ di. Kritik ideologterhadup hak \etoda Dogmatik Fukui dan ada. Analisa Yuridis ; a: Pada tahapan awal porientCheait “Teoti Hukim ‘ketika miasih dinaniakan sebagai “Ajaran Hukum’ Umum')imaka. tugasnya’ yang utama adalah mengkajistruktur dasar; asas-asas; pengertian-penger- tian yang seharisnya-terdapat pada setiap'sistem:hokum: positif tertentu. Namun di dalam perkembangan: selanjutnya,'séjalan dengan semakin mehipisnya harapan’ dan :keyakinan ‘untuk menemukan ‘hukum kodrati' yang berlaku pada setiap sistent hukum positif maka ruanglingkup kajian Teori Hukum mengarah pada penelitian'struktur dasar;! asas-asas, pengeftian-péngertian yang: tetdapat pada suatu’ sistem. hukum positif tertenta: a Pada tahapan sélanjutnya:ruanglingkup’ kajian. Tebri Hoku mengalamievolisi schingga mencakup pila kejian-Kajian tentang sis- tem hukum, tertib hukum, norma hukum,;:asas-asas hukum, penger- tian-pengertian hukum, hubungan‘hukum, dan‘ bahasa‘hukum: Di: dalanv hal ini ruanglingkup Teor! Huikum ‘sangat dekat sekali-pada 2 Janitari= Juni-2998: Teori Hukum - 5 Dogmatik Hukum, bahkan agak sulit membedakan. diantara-kedua= nya. Misalnya saja tidak mudah untuk menentukan kajian tentang pengertian ‘perbuatan melawan hukum' masuk kedalam daerah kajian Teori Hukum ataukah daerah kajian Dogmatik Hukum?. Sementarainimasih banyak terdapatkesalahpahaman dikalangan para ahli hukum sendiri didalam menentukan garis batas pemisah antara Teori Hukum pada satu pihak dan’ Dogmatik Hukum' pada pihak yang lain. Bilamana. kajian. yang dilakukan bersifat teoritis, maka.dikatakan sebagai daerah kajian Teori Hukum, sedangkan jika kajiannya bersifat praktis dikatakan sebagai daerah kajian Dogmatik Hukum. Kekeliruan ini dapat berakibat fatal, karena pada gilirannya akan memisahkan ‘aspek’ teoritis-dari,Dogmatik Hukum dan juga memisahkan aspek praktisdari Teori Hukum. Seakan-akan dikesan- kan disini bahwa kajlan Dogmatik Hukum hanya meluly memperhati- kan aspek praktisnya serta tidak memberikan tempat bagi kegiatan yang bersifat teoritis; dan sebaliknya Teori Hukum hanya melulu merupakan kegiatan teoritis yang tidak ada: kaitannya dengan Kegunaan praktisnya.. Dogmatik Hukum tidak hanya bertugas ‘me- nguraikan’ sistem -hukum. positif- yang ada, tetapi juga melakukan aktivitas mengkaji sistem hukum positif tersebut, sebaliknya:juga Teori Hukum tidak berhenti sampai' 'menganalisa sistem-hukum positif tertentu’, tetapi lebih jauh lagi hasil-analisa itu,diharapkan dapat dimanfaatkan (secara praktis) bagi upaya membuat hukum positif termaksud menjadi lebih baik.lagi. Berkaitan dengan: contoh, yang dikemukekan ai ates,: yaitu pengertian “perbuatan melawan hukum', bagaimanakah:menentukan tempatnya? Jika pengertian‘perbuatan melawan hukum ini dikaji dan dianalisa dalam kerangkasuatu sistem hukum positif tertentu dengan mempergunakan kriteria-kriteria. yang berlaku pada keseluruhan aturan hukum pada sistem hukum positif tersebut, maka jelas disini bahwa kajiannya termasuk kedalam daerah Dogmatik Hukum. Tetapi Jika_pengertian.'perbuatan melawan,hukumt’-tersebut dikaji, untuk mengetahui sampai sejauhmana dapat dipertanggungjawabkan secara logis, atau dikaji untuk mengetahui apakah istilah. yang digunakan sudah tepat, mengapa.‘melawan', dan. bukan..bertentangan’, atau bagaimanakah konsekwensi ‘perbuatan melawan hukum dilihatdari sudut penilaian moral, dan seterusnya, maka. kajian-kajian,ini.akan termasuk kedalam daerah Teori Hukum. Singkatnya,penentuan apa: keh suatu: kajian, mengenai -hukum, merupakan kajian Dogmatik Hukum ataukah kajiian Tec ‘Hukum, haruslah dilihat dari- -sudut Nomor 1 - 3, Tahun XXVIL 36 Hukum dan Pémbangiinan bagaimana kajian itu dilakukan. Jika kajiannyadilakukan dengan pen- dekatan yuridis, maka kajian ita tergolong sebagai kajian Dogmatik Hukum, sedangkan’Jika. kajiarinya dilakukan dengan -pendekatan mulidisipliner,-maka tergolong sebagai kaj Didalam daerah‘kajian Analisa Yuridis ini/ maka Tedri Hukum berupaya menggali pemahaman yang'lebih' dalam lagi’ mengenai pokok-pokok permasalahan, antara lain: (1)Perigeitian ‘Flukum’; (2) Norma dan Sistem Huikum; (3) Pengertian-péngertian Téknis Hukum; @) Fungsisungst Yaridis, ® Swinber-sumber yang bersifat Hukum. ad.b, Ajaran Metoda’Hukuin * “Ruang lingkup kedua yang secara tradisional termasuk kedalam daerah ‘kajiari Teori Hukum adalah metodologi praktek hukum yang Mieliputi metoda pembentukan hukum dan metoda penerapan hukum, Pertanyaan pokok ‘pada ajafan’ metodologi hukunt ini adalah seberapa jauhkah card kerja yang metodologis dapat dilerapkan pada hukum? Pertanyaan’ ini secata konkrit: dapat dirumuskan sebagai, ‘bagaimanakah seharusnya kegiatan pembentukari' dan penerapan hukum dapat: dipandang sebagel oktivitas yang rasional?’* (1) -Mitodologi Pernbentukan Buk gue Pengkajian Teéri Hukum atas inetodologi -pembentiakan hokum ini berpusat -pada .teknik perundang-undangan, tetapi bukan dalam artiannya yang ansich (dalam arti sempit) adalah sepenuhnya meru- pakan daerah kajian Dogmatik Hukum. Teknik perundang-undangan disini dilihat oleh Teori Hukum-sebagai salah satu upaya mengen- dalikan dan imengatur kehidupan masyatakat kearah yang direncana- kandan dikehendaki oleh pembentuk undang-uindang melalui pener- bitan norma-norma yang terpus (2), Metodologi Penerapan Hukumi:? ° : Metodologi penerapan‘hukum: rmeripakan masalah yang paling banyak dikaji baik oleh ilmu pengetahuan hukum tnaupun ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang sieiniliki obyek kajian hukum. ° ‘Teori Hukurn sendiri meiganalisa metodologi penerapah hukiim terutama sekali dari sudut penerapan’ huktim yang ‘dilakukan oleh Hakim /Pengadilan: Artinya disiti Teori Hukuim berupaya mengana- lisa. apakah putusan hakiin pada suatu pérkara hukum konkrit telah diambil berdasarkah metodologi yarig logis dan obyektif. Disamping itu juga’ dapat diteliti sejauhrnana pengaruh kemagyarakatan yang Januari - juni 1998 Teori Hukum 5s 5 7 ditimbulkan oleh:putusan hakim tersebut, bagaimana’hakim menaf- sirkan peristiwa konkrit (kasus hukum) didalam kaitahnya dengan penafsiran peraturan perundang-undangan yang berlaku: Termasuk pula di dalam daerah kajian metodologi penerapan hukum-bebérapa masalah terkait yaitu antara lain: (1) masalah penafsiran undang- undang; (2) masalah kekurangan hukum; (3) masalah antinomi dalam hukum; (4) masalah penerapan pengertian yang samat-samar; (5) masalah penafsiran fakta-fakta; dan (Gimasalah argumentasi yuridis ade. Aor an Keilmuan dan Ajaran Metida Dogmatik Hukum Ruanglingkup kajian yang ketiga dari Teori Hukum ditinjau secara intern adalah. analisa terhadap ajaran keilmuan’ Dogmatik Hukum dan ajaran metoda-Dogmatik Hukum. Bertitik tolak dari ruang lingkup kegistan pengkajian niJah Teori Hukum menempatkan dirinya sebagai meta-teori dari’ Dogmatik Hukum. (2). Ajaran Keilmuan Dogmatik Hukum Dewasa ini diskusi mengenai apakah ieee see ign merupa: kan suatu ilmu pengetahuan ataukah bukan ilmu pengetahuan, sudah diyakini tidak menghasiikan manfaat, karena jawabannya sangat tergantung pada definisi ilmu pengetahuan yang dipergunakan. . Definisi ilmu pengetahuan yang-sempit yang berkembang pada Abad 17 kini telah ditinggalkan dan‘digantikai dengan definisi iu pengetahuan yang has, sehingga’arialisa terhadap' aspek Keilimuari dari Dogmatik: Hukuin Kini tidak lagi menyangkut tentang Kedudu- kannya sebagai ilmu pengetahuan, melainkan lebih ditujukan untuk mencari jawaban-jawaban'atas pertanyaan-pertanyaan: ' —- }termasuk jenis pengetahuan apakah Dogmatik:Hukum ‘itu?’ --. pengetahuar-apakah’ yang térangkum di-dalatii | Dogmatik Hue kum dan apakah sasaran studinya? ~~ Bagaimanakeh Dogmatik’ ‘Bukum- (metoda)? - : ~~ Bagaimanakah Dogmatik’ Hukunt melakakart ‘Klasifikasi (classifi- . _ cation), Penjelasan (explanation) da dan an peramalan (prediction)? nendekat matéri_ studinya - ° sGaunmanasen, atsuart terhadap, getian/ eopoast tentang Nomor 1. 3 Tahun XXVIIT 18 ‘Hukurs don Pembangunan “kebertaran dapat diterima dan dipéngunakan: leh: Dogmatik ‘Hukum?.\.:.. + ta eat - Ssjauhmasaalsperaran resonate dialam keangiaDogmai -Hukum?:: - = dan sebagainys ey Te ; (2° ‘Ajaran Metoda Dogri Hukum os y Kajian terhadap ajaran metoda Dogmatik Hukum n tetkait erat dengan kajian terhadap ajaran keilmuan Dogmatik Hukum, terutama kajian terhadap sifat Dogmatik Hokum sebagaj:disiplin ilmu penge- tahuan. ; Schubungan dengan kajian terhadap.ajaran méioda dati Dogme tik Hukum,;Teori Hukum ‘dapat mempertanyakan sejauhmanakah pembentukan teori dalam: Dogmatik. Hukum dimungkinkan, ‘dan apakah untuk setiap aspek/bidang hukum (misalnya bidang hukum Lalu-Lintas, bidang Hukum Kebendaan, bidang Hukum Pidana, dan sebagainya) diperukan metod ologi atau teknikcteknikiyang berbeda- beda? gf ad.d. Kritik Ideologi , Ruang lingkup. Kaji yang. keempat atau: ‘eralchir ft Teori Hukum ditinjau secara interr.adalah kritik ideologi, dimana melalui kajian.ini_Teori..Hukum- melakukan:.analisa-konstruksi-konstruksi Dogmatik Hukum, Teori Hukum:maupun Filsafat Hukum yang bberistkan nilaimnilai yang menujukan adanyaketerikates Dersifatideo- logis. Kajian kritik. ideologi ini-akan_ Gover pada analisa ionsepsi- konsepsi kemasyarakatan ideologi yang metatarbelakangi konstruksi- konstruksi bentuk hukum, seperti-hak milik; Kebebasan -berkontrak, hak mogok, hak-hak asasi manusia dan sebagainya;/Disamping itu juga Teori Hukum berupayamengungkapkan peranan serta pengaruh konsep kemanusiaan dan konsep kemasyarakat didalam ipenerapan ukum.atas pengertian-pengertian hukum yang samar-samar (seperti pengertian itikad baik, -kepatutan; kepentingan buruh;kepentingan anak, dan sebagainya) oleh hakim dalam peristiwa hukum yang kon- krit. Akhimya dapat dikatakan:disini bahwa Teori Hukum akan ber- upaya menganalisa serta mengkritik sernua muatan yang bersifat ide- ologiyang terkandung di dalam hukumberdasarkan keterangan-kete- rangan yang obyektif,dan tidak mendasarkan penilaiannya dan kri- tiknya pada nilai-nilai atau norma-horma.atawidedlogi-idedlogi lain. 2.» Januarie Juni-1998 Teori Hukum 19 " E.Penutup Dari uraian singkat diatas tentang sejarah dan. perkembangan serta ruanglingkup Teori Hukum diharapkan dapat diperoleh gam- baran yang memadai tentang cakupan daerah kajian Teori Hukum, dan darinya dapat lebih diperjelas lagi kedudukan Teori Hukum sebagal ilmu pengetahuan hukum yang mandiri, yang terletak tepat ditengah antara Dogmatik Hukum dan Filsafat Hukum. Bahan Bacaan Bankowski, Zenon, Revolutions i Law, and-Legal Thought. Aberdeen: Aberdeen University Press, 1991 Betitham, jeremy and Wilfrid Harrison. A Fragment on Government and An Introduction to the Principle of morals and ee. Oxford - Basil Blackwell, 1960. Black, Donald. The Behaviour of Law, New York: Academic Press, 1976. Davies, Howard. and..David Holdcroft, Jurisprudence, Text and Commentaty. London - Butterworths, 1991. D'Amato, Anthony, Jurisprudence, A Descriptive and Normative Analysis of Law. Dordrecht - Martinus Nijhoff Publishers, 1984. Dias, R.W.M. Jurisprudence, Fifth Edition. London- Butterworths, 1985. Finch, John D. Introduction to “al Theory. Second, Editon. London: Sweet & Maxwell, 1974... Friedmann, W. Legal Theory. F Fourth Edition. Lond Limited, 1960. itevens & Sons Hart, H.L.A. The Concept of Law, Oxtord! Oxford ‘University Press, 1988. Nomor 1 - 3 Tahun XXVIE 20 Hukum dan Peinbingisrian Kelsen, Hans. General Theory of Law and State. Translated by Andres Wedberg. New York: Russet & ‘Russel, 1973. Lloyd of Hampstead, Lord. Introduction to Jurisprudence. Third Edition. London Stevens & Sons, 1972 Mermin, | Samu Meriokusumo, 1 Bukauni: Youy; Myren, Richard A. Law and Justice, An Wr _ Brooks /Cole Publishing Company, 1988, Patton, George Whitecross. A Tex “* Baition.Oxtordl: Oxidid Univers Raz, Joseph. The Concept 7 a ° Theory, af a Leg T'Systi Ross, Alf On Law and Justice. Berkeley Los Angeles University of ‘California’ Préss;'1959: Saleh, H!°Roeslan’ Pertbintian’ Cita Hidkuni “th Nasional. Jakarta: Karya Dunia Fikiry 1995. * Sv = Catatan Pengantar' Mengenai Teori Hitkiom, ‘Balan’ Kuliah Strata “Program Pascasarjana Bidang Studi ‘ilma- Hukum Universitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. wl . Ketunggatikaan Yuridis Dalam Kebhinekaan Yuridis, Bakan Kuliah Strata 3 Program Pascasarjana Bidang Studi flmu Hukum Universitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. * Jaitiiari - fun’ 1998 Teori Hukumt at . Pengertian Hukum Sebagai Sistem. Bahan Kuliah Strata 3 Program Pascasarjana Bidang Studi Imu Hukum Universitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. . Tertib Hukum, Bahan’ Kuliah Strata 3 Programi Pascasarjana Bidang Studi IImu Hukum Universitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. . . . Tentang Sumber Hukum, Bahan Kuliah Strata 3 Program Pascasarjana Bidang Studi lmu Hukum Universitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. . Beberapa Teori Sumber Hukum, Bahan Kuliah Strata 3 Prog- ram Pascasarjana Bidang Studi Imu Hukum Universitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. , Tentang Norma Hukum, Bahan Kuliah Strata 3 Program Pascasarjana Bidang Studi Ilmit Hukum Uriiversitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. . Tentang Kekuatan dan Keberlakuan Hukum, Bahan Kuliah Strata 3 Program Pascasarjana Bidang Studi Imu Hukum ‘Universitas Indonesia, Tahun Akademis 1995/1996. Summers, Robert S and Charles G. Howard. Law, its nature, functions, and limits, New Jersey: Prentise-Hall, Inc. 1972. “Dua hal memenuhi pikiranku dengan keheranan dan ketakjuban yang semakin besar, semakin sering dan semakin kuat aku merenungkannya: langit berbintang di atasku dan hukum moral di dalam diriku.” (I. Kant {1724 - 1804, perkataannya yang kemudian di pahatkan pada pusaranya di Konigsberg) Nomor 1 - 3 Tahun XXViil