Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Transfusi darah merupakan proses penerimaan darah ke orang lain secara


intravena dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan umum orang tersebut.
Pemikiran dasar pada transfusi adalah cairan intravaskuler dapat diganti atau
dengan cairan pengganti yang sesuai dari luar tubuh. Proses perkembangan
transfusi darah dimulai pada abad 17 melalui tansfusi dari hewan ke manusia, dan
selalu berujung pada kegagalan. Pada tahun 1900, Landsteiner menemukan
golongan darah sistem ABO dan kemudian sistem antigen Rh (rhesus) ditemukan
oleh Levine dan Stetson di tahun 1939. Kedua sistem ini menjadi dasar penting
bagi transfusi darah modern. Sekitar tahun 1937 dimulailah sistem
pengorganisasian bank darah yang terus berkembang sampai kini (1,2).
Setiap tahun, angka transfusi darah di dunia mencapai 85 juta kali
dilakukan. Proses ini dilakukan dengan berbagai tujuan, seperti penanganan
perdarahan aktif, perbaikan keadaan umum pre operatif atau sebelum dilakukan
terapi sitostatika. Transfusi darah dengan whole blood sendiri saat ini sudah mulai
ditingalkan, karena memilki sifat alergenik yang lebih besar. Saat ini transfusi
darah lebih banyak menggunanakan komoponen darah yang mengalami
kekurangan. Sistem transfusi darah diberikan berdasar pada komponen darah yang
kurang saja, seperti transfusi Packed Red Cell (PRC) dan Fresh Frozen Plasma
(FFP) (3).
Pada awalnya tranfusi sel darah merah dilakukan bila kadar hemoglobin
(HB) turun dibawah 10 g/dl atau kadar hematokrit turun dibawah 30% dari level
normal. Saat ini transfusi darah merah dilakukan bila kadar HB berada dibawah
level 7-8 g/dl. Hal ini didasarkan atas hasil akhir yang lebih baik pada pasien
dengan kadar HB tersebut (4).
Terdapat beberapa reaksi yang terjadi setelah transfusi dilakukan. Hal ini
meliputi gangguan volume darah yang berkaitan dengan hemodinamik pasien
terutama pada pasien dengan gagal jantung, sehingga harus diperhatikan jumlah
volume cairan yang dimasukkan kedalam intravena, serta perlunya diberikan obat-
obatan diuretik. Reaksi transfusi lain yang dapat muncul ialah reaksi alergi.
Reaksi ini muncul sebagai akibat adanya reaksi antigen antibodi pada tubuh (1).