Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Darah
Darah yang semula dikategorikan sebagai jaringan tubuh, saat ini telah
dimasukkan sebagai suatu organ tubuh terbesar yang beredar dalam sistem
kardiovaskuler, tersusun dari komponen korpuskuler atau seluler dan komponen
cairan. Komponen korpuskuler yaitu materi biologis yang hidup dan bersifat
multiantigenik, terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan keeping trombosit,
yang kesemuanya dihasilkan dari sel induk yang senantiasa hidup dalam sumsum
tulang. Ketiga jenis sel darah ini memiliki masa hidup terbatas dan akan mati jika
masa hidupnya berakhir. Agar fungsi organ darah tidak ikut mati, maka secara
berkala pada waktu-waktu tertentu, ketiga butiran darah tersebut akan diganti,
diperbarui dengan sel sejenis yang baru. Komponen cair yang juga disebut
plasma, menempati lebih dari 50 volume % organ darah, dengan bagian terbesar
dari plasma (90%) adalah air, bagian kecilnya terdiri dari protein plasma dan
elektrolit. Protein plasma yang penting diantaranya adalah albumin, berbagai
fraksi globulin serta protein untuk factor pembekuan dan untuk fibrinolisis. 3,6
Peran penting darah adalah :
a Sebagai organ transportasi, khususnya oksigen (O2), yang dibawa dari
paru-paru dan diedarkan ke seluruh tubuh dan kemudian mengangkut sisa
pembakaran (CO2) dari jaringan untuk dibuang keluar melalui paru-paru.
Fungsi pertukaran O2 dan CO2 ini dilakukan oleh hemoglobin, yang
terkandung dalam sel darah merah. Protein plasma ikut berfungsi sebagai
sarana transportasi dengan mengikat berbagai materi yang bebas dalam
plasma, untuk metabolism organ-organ tubuh.
b Sebagai orgam pertahanan tubuh (imunologik), khususnya dalam menahan
invasi berbagai jenis mikroba pathogen dan antigen asing. Tranfusi darah
adalah salah satu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam
sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan.Mekanisme pertahanan
ini dilakukan oleh leukosit (granulosit dan limfosit) serta protein plasma
khusus (immunoglobulin).
c Peranan darah dalam menghentikan perdarahan (mekanisme homeostasis)
sebagai upaya untuk mempertahankan volume darah apabila terjadi
kerusakan pada pembuluh darah. Fungsi ini dilakukan oleh mekanisme
fibrinolisis, khususnya jika terjadi aktifitas homeostasis yang berlebihan.3,7
Apabila terjadi pengurangan darah yang cukup bermakna dari komponen
darah korpuskuler maupun non korpuskuler akibat kelainan bawaan ataupun
karena penyakit yang didapat, yang tidak dapat diatasi oleh mekanisme
homeostasis tubuh dalam waktu singkat maka diperlukan penggantian dengan
tranfusi darah, khususnya dari komponen yang diperlukan.3,8

II.2 Transfusi Darah


Transfusi darah adalah proses pemindahan darah atau komponen darah ke
sistem sirkulasi penerima melalui pembuluh darah vena. Berdasarkan sumber
darah atau komponen darah, transfusi darah dapat dikelompokkan menjadi 2
kelompok, yaitu:
1. Homologous atau allogenictransfusion, yaitu transfusi menggunakan darah dari
orang lain. Kendati masih sering digunakan, transfusi jenis ini masih
kontroversial karena meningkatkan resiko transmisi penyakit infeksi serta
reaksi immunologik yang dapat terjadi.
2. Autologoustransfusion, yaitu transfusi dengan menggunakan darah resipien itu
sendiri yang diambil sebelum transfusi dilakukan. Jenis transfusi ini mulai
banyak digunakan di negara maju, dengan mendonorkan darah tersebut untuk
disimpan ketika suatu saat di perlukan transfusi darah untuk orang tersbut.
Pada transfusi jenis ini, dapat meminimalisir penularan penyakit infeksi serta
reaksi alergi.

Pada autologoustransfusion darah dapat diperoleh dengan 3 cara, yaitu:


1. Cara Leaffrog
Darah diambil dari resipien sendiri tiap minggu. Minggu berikutnya
ditransfusikan kembali diikuti pengambilan dan penyimpanan dalam jumlah
lebih banyak dan seterusnya sehingga terkumpul jumlah darah yang
diperlukan.
2. Cara Infra Operative Deposit
Darah diambil sebelum operasi dan digantikan dengan koloid, pasca operasi
darah yang diambil ditransfusikan kembali.
3. Cara Infra Operative Salvage
Darah dalam rongga dada/abdomen diisap, disaring kemudian ditansfusikan
kembali.
Tujuan tranfusi darah adalah :
a Mengembalikan dan mempertahankan volume yang normal
peredaran darah
b Menggantikan kekurangan komponen seluler atau kimia darah
c Meningkatkan oksigenasi jaringan
d Memperbaiki fungsi homeostasis
e Tindakan terapi khusus

Darah dan berbagai komponen- komponen darah, dengan kemajuan


teknologi kedokteran, dapat dipisah- pisahkan dengan suatu proses dan
ditransfusikan secara terpisah sesuai kebutuhan.3 Darah dapat pula disimpan
dalam bentuk komponen- komponen darah yaitu: eritrosit, leukosit, trombosit,
plasma dan factor- factor pembekuan darah dengan proses tertentu yaitu dengan
Refrigerated Centrifuge.4,6
Pemberian komponen-komponen darah yang diperlukan saja lebih
dibenarkan dibandingkan dengan pemberian darah lengkap (whole blood). Dasar
pemikiran penggunaan komponen darah lebih efisien, ekonomis, memperkecil
reaksi transfusi dan lebih rasional karena darah terdiri dari komponen seluler
maupun plasma yang fungsinya sangat beragam, serta merupakan materi biologis
yang bersifat multiantigenik, sehingga pemberiannya harus memenuhi syarat-
syarat variasi antigen minimal dan kompatibilitas yang baik. Transfusi selain
merupakan live saving therapy tetapi juga replacement therapy sehingga darah
yang diberikan haruslah safety blood. Kelebihan terapi komponen dibandingkan
dengan terapi darah lengkap yaitu disediakan dalam bentuk konsentrat sehingga
mengurangi volume transfusi, resiko reaksi imunologik lebih kecil, penularan
penyakit lebih kecil, aggregate trombosit dan leukosit dapat dihindari, pasien akan
memerlukan komponen yang diperlukan saja, masalah logistic lebih mudah,
pengawasan mutu lebih sederhana.4,
II.3 Indikasi Tranfusi darah
Secara garis besar Indikasi Tranfusi darah adalah :
a Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu volume
peredaran darah yang normal, misalnya pada anemia karena
perdarahan, trauma bedah, atau luka bakar luas.
b Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia
darah, misalnya pada anemia, trombositopenia,
hipotrombinemia, dan lain-lain.
Keadaan yang memerlukan Tranfusi darah :
a Anemia karena perdarahan, biasanya digunakan batas Hb 7-8
g/dL. Bila telah turun hingga 4,5 g/dL, maka penderita tersebut
telah sampai kepada fase yang membahayakan dan tranfusi harus
dilakukan secara hati-hati.
b Anemia haemolitik, biasanya kadar Hb dipertahankan hingga
penderita dapat mengatasinya sendiri. Umumnya digunakan
patokan 5g/dL. Hal ini dipertimbangkan untuk menghindari
terlalu seringnya tranfusi darah dilakukan.
c Anemia aplastik
d Leukimia dan anemia refrekter
e Anemia karena sepsis

5 Prosedur pelaksanaan tranfusi darah


Banyak laporan mengenai kesalahan tatalaksana tranfusi,
misalnya kesalahan pemberian darahmilik pasien lain. Untuk
menghindari berbagai kesalahan, maka perlu diperhatikan :
a Identitas pasien harus dicocokan secara lisan maupun tulisan
b Identitas dan jumlah darah dalam kemasan dicocokkan dengan
formulir permintaan darah
c Tekanan darah, frekuensi denyut jantung dan suhu harus diperiksa
sebelumnya, serta diulang secra rutin.

Observasi ketat, terutama pada 15menit pertama setelah tranfusi darah


dimulai. Sebaiknya 1unit darah diberikan dalam waktu 1-2 jam tergantung status
kardiovaskuler dan dianjurkan tidak lebih dari 4 jam mengingat kemungkinan
proliferasi bakteri pada suhu kamar.4,5

II. 4 Sediaan Transfusi Darah

1. Whole blood
Darah lengkap segar digunakan pada perdarahan akut, syok hemovolemik,
dan bedah mayor dengan perdarahan >1500 mL. Whole blood akan meningkatkan
kapasitas pengangkutan oksigen dan peningkatan volume darah. Transfusi 1 unit
whole blood akan meningkatkan hemoglobin 1 gr/dl. Sekarang produk ini sudah
jarang digunakan, para klinisi lebih senang menggunakan produk komponen darah
saja.
Darah lengkap ada 3 macam, yaitu:
2. Darah segar yaitu darah yang baru diambil dari donor samapi 6 jam
sesudah pengambilan. Keuntungan darah segar ini faktor pembekuan
masih lengkap termasuk faktor V dan VII dan fungsi eritrosit masih
relatif baik. Kerugiannya sulit diperoleh dalam waktu yang tepat karena
untuk pemeriksaan golongan, reaksi silang dan transportasi diperlukan
waktu lebih dari 4 jam dan resiko penularan penyakit relatif lebih
banyak.
3. Darah baru yaitu darah yang disimpan antara 6 jam sampai 6 hari
sesudah diambil dari donor.
4. Darah simpan yaitu darah yang disimpan lebih dari 6 hari.
Keuntungannya mudah tersedia setiap saat, bahaya penularan sifilis dan
sitomegalovirus hilang. Kerugiannya faktor pembekuannya V dan VII
sudah habis. Kemampuan transportasi oksigen oleh eritrosit menurun
yang disebabkan karena afinitas hemoglobin terhadap oksigen yang
tinggi, sehingga oksigen sukar dilepas ke jaringan.
Jumlah WB yang diperlukan dapat dihitung denga rumus : (Hb yang
diinginkan Hb sebelum transfusi) x 6 x BB

2. Sel darah merah


Biasa juga disebut PRC (packed red blood cells), mengandung konsentrat
eritrosit dari whole blood yang disentrifugasi atau dengan metode apheresis.
Kandungan yang terdapat dalam PRC: hematokrit sekitar 50-80%, +50 mL
plasma, 42,5-80 hemoglobin (128-240 mL eritrosit murni), 147-dan 278 mg besi.
Dosis pada dewasa tergantung kadar hemoglobin sekarang dan yang akan
dicapai. Satu kantong akan menaikkan kadar hemoglobin sekitar 1 g/dL. Pada
neonatus, dosisnya 10-15 mL/kgBB akan meningkatkan kadar hemoglobin 3
g/dL. Jumlah PRC yang diperlukan untuk menaikkan hemoglobin dapat dihitung
dengan rumus : (Hb yang diinginkan Hb sebelum transfusi ) x 3 x BB.
Secara umum pemakainan PRC dipakai pada pasien anemia yang tidak
disertai penurunan volume darah, misalnya pasien dengan anemia hemolitik,
anemia hipoplastik kronis, leukimia akut, leukimia kronik, penyakit keganasan,
talasemia, gagal ginjal, dan perdarahan-perdarahan kronis yang ada tanda oxygen
need ( sesak, mata berkunang, palpitasi, pusing dan gelisah ). Indikasi mutlak
pemberian PRC adalah bila Hemoglobin 5 gr%.
Keuntungan menggunakan PRC dibandingkan dengan Wholee blood
adalah kenaikkan Hemoglobin dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan,
mengurangi kemungkinan reaksi imunologis, volume darah yang diberikan lebih
sedikit sehingga kemungkinan overload berkurang dan komponen darah lainnya
dapat diberikan pada pasien lain.
Kerugian dari PRC adalah masih cukup banyak plasma, lekosit dan
trombosit yang tertinggal sehingga masih bisa terjadi sensitivitas yang dapat
memicu timbulnya pembentukan antibodi terhadap darah donor.
Pada pasien yang memerlukan tranfusi berulang, misalnya pada pasien
talasemia, paroksimal nokturnal hemoglobinuria, anemia hemolitik karena proses
imunologik serta pasien yang pernah mengalami reaksi demam sebelumnya dapat
diberikan PRC yang dicuci atau washed PRC. Washed PRC dibuat dari darah utuh
yang dicuci dengan normal saline sebanyak 3 kali untuk menghilangkan antibodi.
Washed PRC hanya dapat disimpan 4 jam pada suhu 4 oC sehingga harus segera
diberikan.

3. Platelet
Merupakan derivat dari whole blood dengan kandungan >5,5 x 1010
platelet per kantong, dan 50 mL plasma. Dosis pada kasus trombositopenia cukup
1 kantong, atau sesuai target kadar platelet biasanya 40.000-50.000/mm3. 1
kantong dapat meningkatkan platelet sekitar 50-100.000/mm3 .
Indikasi untuk mengatasi perdarahan karena kurangnya jumlah platelet,
dan fungsi platelet yang tidak normal dengan kadar platelet kurang dari 40.000
pada dewasa, dan kurang dari 100.000/mm3 pada neonatus. Kontraindikasi
autoimun trombositopenia, trombotik trombositopeniapurpura.

4. Frozen plasma
Biasa disebut fresh frozen plasma (FFP) mengandung semua protein
plasma (faktor pembekuan). 1 kantong berjumlah sekitar 250 mL yang dibekukan
pada suhu -180C dalam 6-8 jam. FFP dalam 24 jam mengandung Faktor V dan
Faktor VIII. Setiap 1 unit FFP dapat menaikkan masing-masing kadar faktor
pembekuan 2-3% pada orang dewasa.
FFP diindikasikan pada perdarahan masif, setelah terapi warfarin dan
kuagulopati pada penyakit hati, trombotik trombositopenia purpura. Dosis 10-20
mL/kg.

5. Cryoprecipitated AHF
Biasa disebut cryoprecipitated antihemophilic faktor. Didapatkan dengan
mencairkan FFP pada suhu 1-60C. Mengandung 150 mg fibrinogen, 80 IU faktor
VIII:C, faktor VIII:vWF (von Willebrand factor), faktor XIII, fibronectin, dan 5-
20 mL plasma.
Dosis kebutuhan fibrinogen : 250 fibrinogen/kantong. Biasanya sekitar 1
kantong per 7-10 kgBB. Indikasi perdarahan karena defisiensi fibrinogen dan
faktor XIII, pasien dengan hemofili A atau von Willebrands disease

6. Granulosit
Transfusi Granulosit, yang dibuat dengan leukapheresis, diindikasikan
pada pasien neutropenia dengan infeksi bakteri yang tidak respon dengan
antibiotik. Transfusi granulosit mempunyai masa hidup dalam sirkulasi sangat
pendek, sedemikian sehingga sehari-hari transfusi 1010 granulosit pada umumnya
diperlukan. Iradiasi dari granulosit menurunkan insiden timbulnya reaksi graft-
versus-host, kerusakan endothelial berhubungan dengan paru-paru, dan lain
permasalahan berhubungan dengan transfusi leukosit tetapi mempengaruhi fungsi
granulosit. Ketersediaan filgrastim (granulocyte colony-stimulating faktor, atau
G-CSF) dan sargramostim (granulocyte-macrophage colony-stimulating faktor,
atau GM-CSF) telah sangat mengurangi penggunaan transfusi granulosit.

II.5 Pemeriksaan Darah

1. Tes ABO-Rh
Reaksi Transfusi yang paling berat adalah yang berhubungan dengan
inkompatibilitas ABO. antibodi yang didapat secara alami dapat bereaksi
melawan antigen dari transfusi, mengaktifkan komplemen, dan mengakibatkan
hemolisis intravaskular. Sel darah merah pasien diuji dengan serum yang dikenal
mempunyai antibodi melawan A dan B untuk menentukan jenis darah. Oleh
karena prevalensi secara umum antibodi ABO alami, konfirmasi jenis darah
kemudian dibuat dengan menguji serum pasien melawan sel darah merah dengan
antigen yang dikenal.
Reagen golongan darah A, B, O, AB ini terdiri dari invitro kultur
supernatants dari immunoglobulin sel tikus, kemudian dicampur dengan buffer
phosphate, sodium chloride, dimana terjadi Anti serum A berwarna biru,
Antiserum B berwarna kuning, Antiserum AB tidak berwarna
Setelah darah ditetesi serum maka akan terjadi beberapa kemungkinan
yang
akan menunjukkan golongan darah tersebut. Beberapa kemungkinan tersebut
yaitu:
a. Jika serum anti-A menyebabkan aglutinasi pada tetes darah, maka individu
tersebut memiliki aglutinogen tipe A (golongan darah A).
b. Jika serum anti-B menyebabkan aglutinasi, individu tersebut memiliki
aglutinogen tipe B (golongan darah B).
c. Jika kedua serum anti-A dan anti-B menyebabkan aglutinasi induvidu
tersebut memiliki aglutinogen tipe A dan tipe B (golongan darah AB).
d. Jika kedua serum anti-A dan anti-B tidak mengakibatkan aglutinasi,maka
individu tersebut tidak memiliki aglutinogen (golongan darah O).
Berdasarkan ada tidaknya antigen-Rh, maka golongan darah manusia
dibedakan atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang dengan
Rh-positif (Rh+), berarti darahnya memiliki antigen-Rh yang ditunjukkan dengan
reaksi positif atau terjadi penggumpalan eritrosit pada waktu dilakukan tes
dengan anti-Rh (antibodi Rh). Kelompok satunya lagi adalah kelompok orang
dengan Rh-negatif (Rh-), berarti darahnya tidak memiliki antigen-Rh yang
ditunjukkan dengan reaksi negatif atau tidak terjadi penggumpalan saat dilakukan
tes dengan anti-Rh (antibodi Rh).
2. Pemeriksaan lain terhadap infeksi.
Risiko transmisi agen-agen infeksi sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan rutin terhadap produk-produk darah dapat dilihat di tabel 1

Tabel 1. Risiko transmisi agen-agen infeksi


3. Tes Kompatibilitas
Tujuan tes ini adalah untuk memprediksi dan untuk mencegah reaksi
antigen-antibodi transfusi sel darah merah. Sebelum dilakukan transfusi darah,
perlu dilakukan penetuan tipe ABO-Rh darah donor maupun resipien,
pemeriksaan kecocokan silang (cross match) dan pemeriksaan antibodi (antibodi
screening).
Pemeriksaan kecocokkan silang merupakan transfusi percobaan didalam
tabung reaksi, dimana eritrosit donor dicampurkan dengan serum resipien untuk
mendeteksi kemungkinan reaksi transfusi berat. Pemeriksaan kecocokkan silang
dilakukkan dalam 3 tahap, yaitu:
a. Tahap antara ( intermediate )
Dilakukan dalam suhu kamar untuk memeriksa ulang adanya kesalahan
dalam penentuan tipe ABO. Tahap ini mendeteksi ketidakcocokkan ABO
dan memerlukan waktu 1-5 menit.
b. Tahap inkubasi
Tahap ini menyangkut inkubasi sel darah merah yang dites dengan
serum. Sel darah merah kemudian dicuci bersih dengan air garam untuk
mengelurkan globulin bebas dan memerlukan waktu 30-45 menit.
c. Tahap uji anti globulin tak langsung
Pada tahap ini ditambahkan anti human globulin (AHG) ke dalam tabung
yang telah diinkubasi. Tahap ini memerlukan waktu 10-15 menit.

II.6 Komplikasi Tranfusi Darah

1. Reaksi transfusi darah secara umum


Tidak semua reaksi transfusi dapat dicegah. Ada langkah-langkah tertentu
yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya reaksi transfusi, walaupun
demikian tetap diperlukan kewaspadaan dan kesiapan untuk mengatasi setiap
reaksi transfusi yang mungkin terjadi. Ada beberapa jenis reaksi transfusi dan
gejalanya bermacam-macam serta dapat saling tumpang tindih. Oleh karena itu,
apabila terjadi reaksi transfusi, maka langkah umum yang pertama kali dilakukan
adalah menghentikan transfusi, tetap memasang infus untuk pemberian cairan
NaCl 0,9% dan segera memberitahu dokter jaga dan bank darah.6,9

2. Reaksi Transfusi Hemolitik Akut


Reaksi transfusi hemolitik akut (RTHA) terjadi hampir selalu karena
ketidakcocokan golongan darah ABO (antibodi jenis IgM yang beredar) dan
sekitar 90%-nya terjadi karena kesalahan dalam mencatat identifikasi pasien atau
unit darah yang akan diberikan.2,3
Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHA adalah demam dengan atau
tanpa menggigil, mual, sakit punggung atau dada, sesak napas, urine berkurang,
hemoglobinuria, dan hipotensi. Pada keadaan yang lebih berat dapat terjadi
renjatan (shock), koagulasi intravaskuler diseminata (KID), dan/atau gagal ginjal
akut yang dapat berakibat kematian.2,3 Untuk mengatasi hal tersebut perlu
dilakukan tindakan sebagai berikut:
(a) meningkatkan perfusi ginjal,
(b) mempertahankan volume intravaskuler,
(c) mencegah timbulnya DIC.2,3
3. Reaksi Transfusi Hemolitik Lambat
Reaksi transfusi hemolitik lambat (RTHL) biasanya disebabkan oleh adanya
antibodi yang beredar yang tidak dapat dideteksi sebelum transfusi dilakukan
karena titernya rendah. Reaksi yang lambat menunjukkan adanya selang waktu
untuk meningkatkan produksi antibodi tersebut. Hemolisis yang terjadi biasanya
ekstravaskuler.2,9
Gejala dan tanda yang dapat timbul pada RTHL adalah demam, pucat, ikterus,
dan kadang-kadang hemoglobinuria. Biasanya tidak terjadi hal yang perlu
dikuatirkan karena hemolisis berjalan lambat dan terjadi ekstravaskuler, tetapi
dapat pula terjadi seperti pada RTHA. Apabila gejalanya ringan, biasanya tanpa
pengobatan. Bila terjadi hipotensi, renjatan, dan gagal ginjal, penatalaksanaannya
sama seperti pada RTHA.6,9

4. Reaksi Transfusi Non-Hemolitik


Demam
Demam merupakn lebih dari 90% gejala reaksi transfusi. Umumnya ringan
dan hilang dengan sendirinya. Dapat terjadi karena antibodi resipien bereaksi
dengan leukosit donor. Demam timbul akibat aktivasi komplemen dan lisisnya
sebagian sel dengan melepaskan pirogen endogen yang kemudian merangsang
sintesis prostaglandin dan pelepasan serotonin dalam hipotalamus. Dapat pula
terjadi demam akibat peranan sitokin (IL-1b dan IL-6). Umumnya reaksi demam
tergolong ringan dan akan hilang dengan sendirinya.

Reaksi alergi
Reaksi alergi (urtikaria) merupakan bentuk yang paling sering muncul,
yang tidak disertai gejala lainnya. Bila hal ini terjadi, tidak perlu sampai harus
menghentikan transfusi. Reaksi alergi ini diduga terjadi akibat adanya bahan
terlarut di dalam plasma donor yang bereaksi dengan antibodi IgE resipien di
permukaan sel-sel mast dan eosinofil, dan menyebabkan pelepasan histamin.
Reaksi alergi ini tidak berbahaya, tetapi mengakibatkan rasa tidak nyaman dan
menimbulkan ketakutan pada pasien sehingga dapat menunda transfusi.
Pemberian antihistamin dapat menghentikan reaksi tersebut.

Reaksi anafilaktik
Reaksi yang berat ini dapat mengancam jiwa, terutama bila timbul pada
pasien dengan defisiensi antibodi IgA atau yang mempunyai IgG anti IgA dengan
titer tinggi. Reaksinya terjadi dengan cepat, hanya beberapa menit setelah
transfusi dimulai. Aktivasi komplemen dan mediator kimia lainnya meningkatkan
permeabilitas vaskuler dan konstriksi otot polos terutama pada saluran napas yang
dapat berakibat fatal. Gejala dan tanda reaksi anafilaktik biasanya adalah
angioedema, muka merah (flushing), urtikaria, gawat pernapasan, hipotensi, dan
renjatan.
Penatalaksanaannya adalah :
(1) menghentikan transfusi dengan segera,
(2) tetap infus dengan NaCl 0,9% atau kristaoid,
(3) berikan antihistamin dan epinefrin.
Pemberian dopamin dan kortikosteroid perlu dipertimbangkan. Apabila terjadi
hipoksia, berikan oksigen dengan kateter hidung atau masker atau bila perlu
melalui intubasi.2,3

5. Efek samping lain dan resiko lain transfusi


a. Komplikasi dari transfusi massif
Transfusi massif adalah transfusi sejumlah darah yang telah disimpan,
dengan volume darah yanglebih besar daripada volume darah resipien dalam
waktu 24 jam. Pada keadaan ini dapat terjadi hipotermia bila darah yang
digunakan tidak dihangatkan, hiperkalemia, hipokalsemia dan kelainan
koagulasi karena terjadi pengenceran dari trombosit dan factor- factor
pembekuan. Penggunaan darah simpan dalam waktu yang lama akan
menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi diantaranya adalah kelainan
jantung, asidosis, kegagalan hemostatik, acute lung injury.3,5
b. Penularan penyakit Infeksi
1 Hepatitis virus
Penularan virus hepatitis merupakan salah satu bahaya/
resiko besar pada transfusi darah. Diperkirakan 5-10 % resipien
transfusi darah menunjukkan kenaikan kadar enzim transaminase,
yang merupakan bukti infeksi virus hepatitis. Sekitar 90% kejadian
hepatitis pasca transfusi disebabkan oleh virus hepatitis non A non
B. Meski sekarang ini sebagian besar hepatitis pasca transfusi ini
dapat dicegah melalui seleksi donor yang baik dan ketat, serta
penapisan virus hepatitis B dan C, kasus tertular masih tetap terjadi.
Perkiraan resiko penularan hepatitis B sekitar 1 dari 200.000 dan
hepatitis C lebih besar yaitu sekitar 1:10.000. 2,3
2 AIDS (Acquired Immune Deficiency syndrome)
Penularan retrovirus HIV telah diketahui dapat terjadi melalui
transfusi darah, yaitu dengan rasio 1:670.000, meski telah
diupayakan penyaringan donor yang baik dan ketat.
3 Infeksi CMV
Penularan CMV terutama berbahaya bagi neonatus yang lahir
premature atau pasien dengan imunodefisiensi. Biasanya virus ini
menetap di leukosit danor, hingga penyingkiran leukosit merupakan
cara efektif mencegah atau mengurangi kemungkinan infeksi virus
ini. Transfusi sel darah merah rendah leukosit merupakan hal
terbaik mencegah CMV ini.2,3
4 Penyakit infeksi lain yang jarang
Beberapa penyakit walaupun jarang, dapat juga ditularkan melalui
transfusi adalah malaria, toxoplasmosis, HTLV-1, mononucleosis
infeksiosa, penyakit chagas (disebabkan oleh trypanosoma cruzi),
dan penyakit CJD ( Creutzfeldt Jakob Disease).
Pencemaran oleh bakteri juga mungkin terjadi saat pengumpulan
darah yang akan ditransfusikan. Pasien yang terinfeksi ini dapat
mengalami reaksi transfusi akut, bahkan sampai mungkin renjatan.
Keadaan ini perlu ditangani seperti pada RTHA ditambah dengan
pemberian antibiotic yang adekuat.

5 GVHD (Graft versus Host disease)


GVHD merupakan reaksi/ efek samping lain yang mungkin terjadi
pada pasien dengan imunosupresif atau pada bayi premature. Hal
ini terjadi oleh karena limfosit donor bersemai (engrafting) dalam
tubuh resipien dan bereaksi dengan antigen penjamu. Reaksi ini
dapat dicegah dengan pemberian komponen SDM yang diradiasi
atau dengan leukosit rendah.7,8