Anda di halaman 1dari 12

SUMMARY

Pengauditan 2
Sampling and Materiality

Disusun Oleh:

Dwi Rilvina Suci 1406534393


Ghea Lita Wijayasari 1406555712
Karina 1406555750

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2017
SAMPLING

Auditor dalam membuat opini diharuskan untuk mencari bukti audit yang agar melakukan
pekerjaan yang sufficient appropriate dan dapat dipastikan bahwa kesimpulan audit berdasarkan
kebijaksanaan dengan biaya yang masuk akal. Salah satu dari banyak prosedur yang dilakukan
oleh auditor untuk memperoleh bukti audit adalah audit sampling dimana auditor memilih
sample dari keseluruhan data (populasi) untuk diuji. Audit sampling merupakan metode yang
digunakan auditor untuk mengumpulkan bukti bukti audit untuk dapat membuat opini atas
laporan keuangan. Di dalam ISA 530 paragraf 4 menyatakan bahwa tujuan dari audit sample
adalah untuk memberikan basis yang sesuai bagi auditor untuk mendapatkan kesimpulan
mengenai populasi dimana sample diambil. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa audit
sample termasuk penerapan prosedur audit dengan menggunakan kurang dari 100% item dari
populasi yang berhubungan dengan audit dimana semua unit sample memiliki kesempatan untuk
dipilih sebagai sample audit. Pada awalnya auditor harus menentukan pendekatan yang akan
digunakan dan kapan waktu yang sesuai untuk menggunakan audit sampling. Kriteria yang biasa
digunakan untuk mencari bukti audit seperti sufficiency, relevance, dan reliability juga dapat
diterapkan pada audit sampling.

Designing and Selecting the Sample for Testing

Jika auditor dapat mendapatkan sample dari saldo atau transaksi yang dapat merepresentasikan
keseluruhan populasi saldo atau transaksi, maka auditor dapat membuat kesimpulan yang
menggambarkan keseluruhan populasi. Keuntungan dari penggunaan sampling yaitu
berkurangnya biaya audit. Namun jika auditor mengabaikan level risiko atau sample tidak
merepresentasikan populasi, auditor akan gagal mengumpulkan bukti yang sufficient dan
appropriate.

Audit sampling dapat dilakukan dengan basis non-statistik ataupun statistik. Jika auditor
menggunakan statistical sampling, mereka akan menggunakan teori probabilitas untuk
menentukan sample size dan random selection untuk memastikan bahwa setiap item dari
populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sample audit. Namun biasanya
statistical method tidak digunakan untuk mengevaluasi atapun untuk menentukan sample size.
Sedangkan pada non-statistical sampling biasanya menggunakan metode haphazard selection
atau terkadang menggunakan random selection.
Ada dua alasan mengapa dibutuhkan perencanaan yang cermat dalam proses sampling, yaitu :

1. Menggunakan sampling meningkatkan risiko bahwa auditor akan gagal untuk mendeteksi hal
yang penting. Risiko tersebut harus dievaluasi terlebih dahulu oleh auditor untuk memutuskan
apakah hal tersebut sesuai dengan keadaan dan audit perusahaan.
2. Karakteristik populasi harus dikenali dengan jelas sebelum mengambil sample.

Judgmental Sampling

Judgment dilakukan tidak hanya pada non-statistical sampling namun juga pada statistical
sampling. Namun biasanya judgmental sampling digunakan sebagai sinonim dari non-statistical
sampling karena dalam non-statistical membutuhkan judgment pada segala aspeknya.

Case Study 11.1

An example of judgmental sampling: Broomfield plc

Broomfield plc has 500 trade receivables at 30 September 2010 with total amount outstanding of
4.352.636. During your audit work you have to analysed the trade receivables according to size as
shown in Table 11.1. This work is an example of analytical procedure.

Table 11.1 Broomfield plc: analysis of trade receivables

Number of trade Value of trade


% of total % of total value
receivables receivable
105 21 233 562 6
70 14 298 110 7
80 16 339 726 8
58 12 364 145 8
70 14 343 973 8
48 9 408 733 9
28 6 433 151 10
18 4 550 355 13
18 3 636 986 14
5 1 743 895 17
Total 500 100 4 352 636 100

ACTIVITY 11.1

Suggest how a sample should be selected from trade receivables shown in Table 11.1, with the
purpose of confirming that Broomfield plcs sales and trade receivables system is operating
properly and that the trade receivables balances recorded in Broomfields accounting records are
Trade receivables yang tertera merupakan hasil dari transaksi melalui sistem penjualan dan
accurate and complete.
receivable yang terkait. Disini auditor memiliki dua hal yang perlu ditelusuri mengenai
receivables yaitu bahwa system mencatat receivables dengan baik (diuji dengan test of control)
dan bahwa receivables yang ada pada system valid (diuji dengan prosedur substantive). Dalam
meemilih sample, harus dilakukan analisa terhadap receivables terlebih dahu seperti :

1. 44% nilai dari receivables menggambarkan 8% jumlah receivables.


2. 459 sisanya menggambarkan 92% jumlah receivables dann 56% nilai receivables.

Auditor harus mempertimbangkan berapa jumlah sample yang akan diambil. Pada kasus ini,
sebelumnya auditor telah menemukan kelemahan system perusahaan yang akan mempengaruhi
auditor dalam menentukan jumlah-jumlah dan pemilihan sample. Disini auditor tahu bahwa jika
mereka menulis 41 kredit konsumen dan semua telah dicatat dengan akurat, maka mereka telah
memiliki 44% receivable yang terbukti. Namun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang
dimiliki tentang perusahaan, auditor dapat menyimpulkan bahwa mereka hanya perlu untuk
meminta 20 kredit konsumen.

Selain itu, auditor juga tahu bahwa saldo receivables telah diproses oleh system dan auditor
sebaiknya menguji operasi dari system dengan memilih sample. Jika semua receivable yang ada
pada pembukuan Broomfield tercatat secara akurat, auditor dapat memperoleh bukti melalui test
of control. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki tentang perusahaan, auditor
dapat menyimpulkan bahwa mereka hanya perlu sample sebanyak 30 receivables untuk
melakukan test of control.

Statistical Sampling

Dalam statistical sampling juga masih diperlukan judgment meskipun tida sebanyak pada non-
statistical sampling. Disini, diperlukan pengetahuan mengenai homogenitas populasi. Ada
beberapa contoh factor yang menyebabkan kurangnya homogenitas, yaitu :

1. Transaksi yang tidak menggunakan kontrol internal yang sama selama periode berjalan
tidak dapat dianggap sebagai homogen;
2. Saldo pada populasi dapat memiliki nilai yang berbeda jauh.

Dikarenakan kurangnya homogenitas pada populasi, hal yang biasa dilakukan adalah
membaginya kedalam tingkatan tingkatan dan menggunakan perlakuan yang berbeda pada tiap
tingkatan sebagai populasi yang berbeda.

Pentingnya mengumpulkan bukti audit yang appropriate dan sufficient menggambarkan


pentingnya pemilihan sample size untuk pengujian yang lebih detail. Termasuk didalamnya level
of confidence yang dicari auditor dan expected dan acceptable error atau tingkat deviasi. Level
of confidence auditor ditentukan oleh penilaian risiko inherent dan control. Penilaian risiko
inherent akan mempengaruhi seberapa percaya auditor mengenai salah saji yang ada pada suatu
transaksi atau saldo sebelum menerapkan kontrol internal. Jika auditor telah memperoleh bukti
dari pengujian audit yang relevan lainnya yang telah dilakukan pada system test of control atau
saldo yang mereka uji, maka degree of confidence yang diperlukan dari sampling akan
berkurang.

Expected error merupakan penentu yang penting dalam sample size. Ketika auditor menguji
control internal suatu perusahaan, mereka menggunakan istilah attribute sampling. Ada dua
respon terhadap pengujian di attribute sampling yaitu ya, control telah diterapkan dengan benar
atau tidak, control belum diterapkan. Dalam attribute sampling, auditor mencari tingkat ketidak
beradaan prosedur control internal yang diterapkan. Semakin tinggi expected error maka
semakin besar sample size yang diperlukan.

Selain itu, auditor juga harus menentukan tingkat tolerable error pada populasi yang merupakan
tingkat maximum error yang dapat diterima auditor dalam menentukan apakah evaluasi control
risk awal mereka valid atau apakah total catatan transaksi dan saldo dapat dianggap akurat dan
lengkap. Semakin kecil tingkat tolerable error semakin besar sample size. Sample size dapat
dihitung dengan cara :

Reability factor
Sample
Tolerable error rate

Faktor reliability pada rumus tersebut didapat dari table berikut:

Table 11.2 Reliability factors (extract)

Number of Confident Levels


70% 80% 90% 95% 99%
sample error
0 1.21 1.61 2.31 3.00 4.61
1 2.44 3.00 3.89 4.75 6.64
2 3.642 4.28 5.33 6.30 8.41
3 4.77 5.52 6.69 7.76 10.05

Dapat dikatakan bahwa risiko merupakan komplemen dari confidence level. Ketika confidence
level 90% maka level risikonya yaitu 10%. Risiko ini dapat dikatakan sebagai sampling risk
yang menggambarkan kemungkinan auditor gagal untuk mendeteksi tingkat error yang lebih
besar dari tolerable error rate.

Sample Selection Methodology


1. Random Sampling
Metode sampling yang mencoba untuk setiap item yang ada didalam populasi memiliki
kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sample audit. Metode ini merupakan metode
statistic dan dibutuhkan untuk statistical sampling namun juga dapat digunakan untuk metode
non-statistik. Auditor akan menempatkan individual indentifier untuk masing masing unit
sampling dan menggunakan random procedure untuk memilih unit sampling yang akan dipiih
untuk diuji.
2. Systematic or Interval Sampling
Metode sampling dengan menggunakan titik awal yang random dan kemudian memilih setiap
interval ke-n. Metode ini dapat memiliki hasil yang sama dengan random sampling jika error
tersebar kesemua populasi. Jika tidak, maka systematic sampling tidak menghasilkan sample
yang representative.
3. Block or Cluster Sampling
Metode sampling yang tidak berusaha untuk memiih sampling melainkan menggunakan
pemilihan blok misalkan blok transaksi dan menguji adanya kriteria tertentu. Auditor dapat
menggunakan metode ini ketika menguji sebuah sistem. Namun ISA 530 menyatakan bahwa
metode ini bukanlah metode pemilihan sample yang sesuai untuk digunakan ketika tujuan
pengujian audit adalah untuk menggambarkan kesimpulan mengenai populasi dari sample.
4. Haphzard Sampling
Metode sampling dimana pemilihan sample dilakukan dengan blindfold dan kocokan atau hari
ulang tahun. Masalah yang timbul dari metode ini bahwa sample yang dihasilkan dapat bias.

Evaluation Of Test Results

Setelah menentukan sample size, auditor akan memilih sample menggunakan random sampling
dan menjalankan pengujian apakah sample tersebut terbebas dari berbagai macam kesalahan.
Untuk menguji kesalahan ini, auditor harus mengartikan apa itu kesalahan, sebelum tingkat
kesalahan dapat dibentuk.

Berdasarkan pada data Activity 11.2 , diasumsikan bahwa auditor menemukan 2 kesalahan yang
ada dalam 75 sampel. Kesalahan ini dapat ditemukan melalui pengukuran :
berdasarkan tingkat keyakinan (Confidence level) auditor menggunakan angka 80% , dengan
number of sample error dibagian 2 yaitu 4,28 . sehingga tingkat upper error rate yang dapat
dihitung adalah : Upper error rate = 4,28 / 75 sampel = 5,7% . artinya auditor dapat menentukan
batasan tingkat keyakinan (limit confidence) yang sesuai dengan adanya penemuan dua
kesalahan dalam 75 sampel tersebut. Oleh karena itu, untuk menentukan tingkat keyakinan
(Confidence level) yang tepat maka auditor membutuhkan satu set lengkap data dari tabel faktor
keandalan (Reliability factor).

Selain itu, auditor juga dapat menentukan tindakan yang tepat berdasarkan hasil sampel tersebut.
Seperti contohnya, auditor mungkin dapat mengurangi jumlah ketergantungan mereka ketika
menempatkan bagian tertentu dari sistem kontrol yang sedang diuji. sebagai konsekuensinya,
mereka mungkin akan memperluas lingkup dari prosedur substantif yang dilakukan pada neraca
yang relevan atau laba rugi, yang mana jumlah yang di kontrol termasuk ke dalam daftar
pengujian. Berdasarkan dari dua contoh diatas, evaluasi ini lebih berfokus pada attribute
sampling dan pengujian pada sistem internal controlnya.

Monetary Unit Sampling ( MUS )

Monetary unit sampling adalah suatu metode sampling yang digunakan untuk menyatakan suatu
kesimpulan tentang nilai yang sebenarnya dari saldo suatu akun atau untuk menentukan
besarnya nilai suatu kesalahan, yang disajikan dalam nilai moneter yaitu dolar atau rupiah.

Penggunaan sampling dalam metode ini ialah nilai rupiah yang besar akan lebih besar
probabilitasnya akan terpilih dalam sampel dibandingkan dengan nilai rupiah yang kecil, karena
pemilihan sampel dengan nilai rupiah yang besar, mempunyai resiko lebih dibandingkan dengan
sampel yang mempunyai nilai rupiah yang kecil. Selain itu, kelebihan menggunakan metode ini
adalah kesalahan yang ditemui dapat diproyeksi. Seperti misalnya kesalahan atau selisih yang
ditemukan sebesar $ 40,000 dari total nilai yang disampel $ 400,000, auditor bisa menarik
kesimpulan bahwa 10% dari saldo yang $ 600,000 adalah salah saji.

Selanjutnya Langkah-langkah audit dalam sampling monetary unit sampling, adalah sebagai
berikut :
1. menentukan tujuan pengujian yang hendak dilakukan oleh auditor, seperti pengujian
substantifatau pengujian tujuan berganda
2. mendefinisikan populasi dan unit sampling, dengan cara menentukan jumlah populasi
dan unit sampling dari total populasi tersebut.
3. Menyusun perkiraan tingkat kesalahan maksimal yang dapat ditoleransi
4. Mentukan besarnya sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Risiko data yang dapat diterima
b. Tingkat kesalahan yang dapat ditoleransi
c. Perkiraan mengenai tingkat penyimpangan dalam populasi, apakah kesalahannya
100% atau kurang
5. Memilih sampel secara acak, secara sistematis atau dengan bantuan computer
6. Melakukan prosedur audit seperti tracing, vouching, konfirmasi, perhitungan ulang atau
prosedur yang lain
7. Mengevaluasi hasil audit sampel dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Aapakah tidak ada kesalahan yang dijumpai
b. Apakah kesalahan yang dijumpai 100%
c. Apakah kesalahan yang dijumpai kurang dari 100%
d. Aspek-aspek kualitatif dari penyimpangan tersebut
e. Aspek-aspek kuantitatif dari penyimpangan tersebut.
8. Buat kesimpulan secara menyeluruh mengenai pengendalian intern atau pengujian yang
dilakukan.

Comparative Advantage of Statistical and Non-Statistical Sampling

Dalam Statistical Sampling, terdapat 4 keunggulan yang bisa didapat oleh auditor dalam
menggunakan teknik ini, yaitu auditor dapat menghitung reliabilitas sampel dan risiko
berdasarkan sampel, Mengharuskan auditor merencanakan sampling dengan lebih baik (more
orderly manner) dibandingkan dengan sampling non statistic, Auditor bisa mengoptimalkan
sampel size, tidak overstated atau understated, dengan risiko yang hendak diterima terukur
secara matematis, dan auditor bisa membuat statement yang obyektif mengenai populasi sampel
tersebut. Namun sampling statistical juga memilikki kelemahan yaitu dalam penggunaannya
memerlukan biaya yang lebih banyak dibandingkan penggunaan sampling Non-statistical. Hal
ini disebabkan karena harus ada biaya yang dikeluarkan untuk training bagi staf auditor untuk
menggunakan statistik dan adanya biaya pelaksanaan sampling secara statistik.

Sedangkan untuk Non-statistical Sampling, walaupun penggunaan sampling ini sering dikritik
akibat sering mengandalkan intuisi secara berlebihan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor
subyektif. Selain itu, Kecukupan ukuran sampel juga tidak bisa secara obyektif ditentukan,
seperti reaksi personal auditor terhadap karyawan klien, proses pengadilan, dan waktu yang
tersedia untuk menyelesaikan penugasan juga bisa sangat mempengaruhi ukuran sampel Namun
terlepas dari hal tersebut, sampling non-statistik ini apabila digunakan dan direncanakan dengan
tepat maka hasilnya juga dapat seefektif penggunaan sampling statistik.
Alternative Statistical Sampling Methods

Selain atribut sampling dan Monetary Unit Sampling, ada sejumlah metode sampling lainnya,
yaitu :

1. Discovery Sampling
Sampling Penemuan adalah teknik sampling yang bertujuan untuk menemukan suatu
kejadian serius atau penyimpangan yang perlu mendapat perhatian dalam populasi yang
diuji. Contohnya, seorang karyawan yang memilikki tingkat gaji yang rendah namun
memilikki gaya hidup yang tinggi. Hal ini menimbulkan kecurigaan auditor terhadap
sang karyawan apakah telah melakukan fraud. Sehingga, auditor diminta untuk
melakukan investigasi dan mencari tahu Fraud seperti apa yang sebenarnya terjadi. Dan
hal ini dilakukan oleh auditor dengan cara pengambilan sampling, dimana sampling ini
direncanakan agar memilikki probabilitas yang tinggi untuk mendeteksi Fraud dalam
populasi, sehingga memilikki tingkat kesalahan yang masih dapat dipertimbangkan oleh
auditor. Selain itu, proses pengambilan discovery sampling ini akan diberhentikan setelah
Fraud berhasil di deteksi, sehingga membuat tipe sampling ini lebih efisien dan
cenderung membutuhkan ukuran sampel yang lebih kecil.

2. Variables Sampling
Variables Sampling adalah teknik pengambilan sampling statistik yang digunakan oleh
auditor untuk menguji kewajaran suatu jumlah atau saldo, dan untuk mengestimasi
jumlah rupiah saldo akun atau kuantitas yang lain. Kegunaan dari variables sampling,
yaiu :
- auditor dapat menggunakan estimasi Mean Per Unit, dimana estimasi ini mencakup
penentuan nilai audit untuk setiap item dalam sampel, contohnya pada sales invoices,
dan dari perhitungan Mean dan Standar deviasi dari nilai sampel
- auditor dapat menggunakan distribusi normal untuk mengekstrapolasi dan
mengestimasi sample, beberapa level keandalan, nilai populasi dan standar deviasi
- auditor juga dapat membandingkan perhitungan kisaran nilai antara nilai buku
perusahaan atau laporan keuangan.
- auditor juga dapat menentukan nilai audit untuk setiap item dalam sampel dengan
menggunakan metode rasio ( Rasio and difference method ), dengan membagi jumlah
nilai audit dengan jumlah nilai buku untuk setiap item sampel tersebut.
Dan variable sampling ini hanya cocok digunakan oleh auditor untuk mengantisipasi
sejumlah kesalahan yang besar, sehingga teknik ini tidak cocok dilakukan dalam praktek
umum, karena membutuhkan ukuran sample yang besar dalam mengenerasi suatu
populasi sehingga membuat metode sampling ini tidak efisien

Materialitas

1. Pengertian materialitas

Pengertian materialitas menurut Standar Audit Internasional 320-Materialitas dalam


perencanaan dan pelaksanaan audit:

Salah saji, termasuk kelalaian-kelalaian dikatakan material apabila salah saji tersebut secara
individu atau secara agregat dapat mempengaruhi keputusan ekonomi dari pengguna laporan
keuangan. Penilaian terhadap materialitas dibuat berdasarkan keadaan perusahaan, dan
dipengaruhi oleh ukuran dan nature dari salah saji, atau kombinasi keduanya.

2. Materialitas dan pengambilan keputusan

Berdasarkan pengertian materialitas di atas, kita dapat melihat bahwa salah satu hal terpenting
dalam menentukan salah saji materil atau tidak, adalah bagaimana pengaruh salah saji terhadap
keputusan pengguna laporan keuangan. Auditor harus mengetahui siapa saja pengguna dari
laporan keuangan dan auditor harus memiliki persepsi tentang kebutuhan informasi keuangan
oleh para pemakai laporan keuangan. Umumnya pengguna utama dari laporan keuangan suatu
perusahaan adalah para pemegang saham dan pengguna laporan keuangan memiliki
pengetahuan terkait bisnis dan akuntansi termasuk pengetahuan tentang laporan keuangan dan
lain-lain, sehingga pada tahapan awal audit khususnya pada tahap perencanaan auditor harus
menentukan sejauh mana tingkat eror atau salah salah saji dalam laporan keuangan suatu
perusahaan dapat terjadi sebelum mempengaruhi keputusan dari para pemegang saham.

3. Materialitas dalam laporan keuangan

Dalam praktiknya auditor menentukan tingkat materialitas menggunakan persentase dari suatu
tolak ukur misalnya seperti profit, turn over, total aset, net asset dan lain-lain. Contohnya jika
auditor menentukan tingkat materialitas sebesar 10% dari profit, maka jika salah saji
menyebabkan profit bertambah atau berkurang sebesar 10% atau lebih dari profit maka auditor
dapat mengatakan salah saji tersebut material. Jika auditor mengaudit expense, auditor
menentukan tingkat material berdasarkan profit, dan jika auditor mengaudit piutang maka
auditor dapat menggunakan net asset dalam menentukan tingkat materialitas. Penentuan tolak
ukur ini berdasarkan sifat entitas, industri, serta lingkungan ekonomi tempat entitas tersebut
beroperasi. Penentuan tingkat materialitas perusahaan berbeda-beda tergantung keadaan dari
masing-masing perusahaan sehingga biasanya auditor menentukan tingkat materialitas ini
berdasarkan professional judgement dari masing-masing auditor.

4. Materialitas pada tahapan perencanaan

Auditor biasanya menentukan tingkat materialitas pada tahap awal audit khususnya pada
tahapan perencanaan audit berdasarkan draf laporan keuangan yang diberikan oleh klien. Alasan
auditor menentukan tingkat materialitas di awal (pada tahapan planning) adalah agar auditor
dapat menentukan risiko-risko apa saja yang akan muncul, yang disebabkan karena terdapat
salah saji material sehingga auditor dapat menentukan prosedur audit yang tepat untuk
memperoleh bukti audit yang appropriate and sufficient, dan auditor juga mempertimbangkan
risiko-risiko apa saja yang dapat diterima jika auditor gagal menemukan adanya salah saji
material dalam laporan keuangan. Terdapat hubungan yang kuat antara risiko dengan
materialitas, jika auditor tidak mampu menemukan adanya salah saji material yang ada di dalam
laporan keuangan yang ternyata jumlahnya material maka risiko audit yang dihadapi oleh
auditor tentu saja tinggi. Meskipun banyak risiko yang mempengaruhi perusahaan, namun
sebagian besar risiko yang dihadapi adalah risiko yang berhubungan dengan heading laporan
keuangan sehingga auditor harus mempertimbangkan beberapa komponen dalam laporan
keuangan dan menentukan tingkat materialitas untuk setiap komponen. Contohnya apabila
auditor menetapkan tingkat materilaitas untuk inventory sebesar 100.000, maka apabila
inventory yang terdapat di dalam laporan keuangan under atau over stated kurang dari 100.000
karena eror maka inventory tersebut dapat dikatakan tidak material, namun apabila inventory
under atau over stated lebih dari 100.000 maka inventory tersebut dikatakan salah saji tersebut
material.

5. Materialitas selama audit

Selama melakukan proses audit auditor dapat mengubah pandangannya terkait tingkat
materialitas yang tepat untuk akun-akun tertentu. Hal tersebut bisa saja terjadi apabila draf
laporan keuangan yang diberikan oleh klien ternyata mengalami perubahan. Apabila angka
profit berubah atau inventory atau angka piutang berubah, auditor harus memperhatikan
implikasi-implikasi dari adanya perubahan tersebut dan memutuskan apakah tingkat materialitas
yang telah ditetapkan sebelumnya akan berubah atau tidak. Hal ini juga akan mempengaruhi
jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan oleh auditor selama melakukan prosedur audit.
Contohnya ketika auditor menngaudit inventory dan menemukan jumlah eror yang lebih besar
dibandingkan dengan yang diharapkan, maka auditor akan memutuskan bahwa tingkat
materialitas harus diturunkan (semakin rendah tingkat materialitas maka semakin banyak bukti
audit yang harus dikumpulkan). Dikarenakan terdapat reassessment auditor mungkin akan
mengubah jenis dan scope dari pengujian audit.

6. Isu Kualitatif
Apakah komponen yang tedapat di dalam laporan keuangan diharuskan untuk
diungkap oleh hukum atau profesional
Ketidaktepatan pengungkapan kebijakan akuntansi
Ketidaktepatan klasifikasi dalam laporan keuangan