Anda di halaman 1dari 12

Pendahuluan1

Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, yang
disebabkan golongan jamur dermatofita. Tinea kruris adalah dermatofitosis pada
lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut dan
menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi
kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural saja atau meluas ke daerah sekitar
anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang lain.
Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas.
Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya. Efloresensi terdiri
atas macam-macam bentuk, primer dan sekunder, bila penyakit ini menjadi
menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya
cairan biasanya terjadi akibat garukan. Beberapa faktor yang berperan untuk
terjadinya tinea adalah iklim yang panas, hygiene masyarakat yang kurang, adanya
sumber penularan di sekitarnya, penggunaan obat-obatan antibiotik, steroid dan
sitostatika yang meningkat, adanya penyakit kronis dan penyakit sistemik lainnya.
Tahanan penjara, anggota militer, anggota tim atletik, orang yang memakai celana
panjang yang sempit atau ketat cenderung lebih berisiko terserang
dermatophytosis.

Pasien yang didiagnosis mengalami tinea kruris biasanya tinggal didaerah


dengan iklim tropis, memiliki riwayat pemakaian baju ketat untuk waktu yang lama
atau bertukar pakaian dengan orang lain atau memiliki riwayat diabetes mellitus
dan obesitas. Overweight dan obesitas erat hubungannya dengan peningkatan
risiko sejumlah komplikasi yang dapat terjadi sendiri-sendiri atau secara
bersamaan. ko-morbiditas itu dapat berupa hipertensi, dislipidemia, penyakit
kardiovaskular, stroke, diabetes tipe 2, penyakit gallblader, disfungsi pernapasan,
gout, osteoarthritis, dan jenis kanker tertentu. Penyakit kronis yang paling sering
menyertai obesitas adalah diabetes tipe 2, hipertensi, dan hiperkolesterolemia.

Suhu dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, infeksi


sering berlokalisasi pada daerah yang mengandung banyak keringat seperti pada
lipat paha dan sela-sela jari. Maserasi dan oklusi kulit lipat paha menyebabkan
peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan infeksi. Tinea
kruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain, juga melalui

1
kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda
yang mengandung skuama terinfeksi.

Anamnesis2

Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan
dapat meluas ke sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke
supra pubis dan abdomen bagian bawah. Rasa gatal akan semakin meningkat jika
banyak berkeringat. Riwayat pasien sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan
yang sama. Pasien berada pada tempat yang beriklim agak lembab, memakai
pakaian ketat, bertukar pakaian dengan orang lain, aktif berolahraga, menderita
diabetes mellitus. Penyakit ini dapat menyerang pada tahanan penjara, tentara, atlit
olahraga dan individu yang beresiko terkena dermatophytosis.

Pemeriksaan Fisik2

Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder.


Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau
pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula
hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan kronis
dapat menimbulkan gambaran likenifikasi. Manifestasi tinea cruris:

1. Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal, distal lipat


paha, dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis.
2. Daerah bersisik.
3. Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif.
4. Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan
disertai likenifikasi.
5. Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus
yang tersebar dan sedikit skuama.
6. Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena.
7. Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan impetiginasi mungkin
muncul karena garukan.

2
8. Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga
tampak kulit eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula
folikuler.
9. Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis.

Pemeriksaan Penunjang2

Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas


pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik
untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang
sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%.

1. Pemeriksaan dengan sediaan basah


Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi
dengan memakai scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi
KOH 10-15 % 1-2 tetes tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan
lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45 kali, akan didapatkan hifa,
sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora
berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati, dan
miselium.
2. Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium
saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide
(mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun
jamur kontaminan. Identifikasi jamur biasanya antara 3-6 minggu.
3. Punch biopsy
Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun
sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc Acid
Schiff, jamur akan tampak merah muda atau menggunakan pengecatan
methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam.
4. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya
eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata.

3
Diagnosis Banding

Candidosis intertriginosa3

Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida


biasanya oleh Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat
mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki. Penyakit ini terdapat di seluruh dunia,
dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Patogenesisnya
dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen. Faktor
endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina, kegemukan
karena banyak keringat, debilitas, endokrinopati, penyakit kronis orang tua dan
bayi, imunologik (penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan
kelembapan, kebersihan kulit kurang, kebiasaan berendam kaki dalam air yang
lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur, kontak dengan
penderita. Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian bawah
payudara, bagian pusat, lipat bokong, selangkangan, dan sela antar jari. Dapat juga
mengenai daerah belakang telinga, lipatan kulit perut, dan glans penis. Pada sela
jari tangan biasanya antara jari ketiga dan keempat, pada sela jari kaki antara jari
keempat dan kelima, keluhan gatal yang hebat, kadang-kadang disertai rasa panas
seperti terbakar. Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang
berbatas tegas, bersisik, basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lenting-
lenting yang dapat berisi nanah berdinding tipis, ukuran 2-4 mm, bercak
kemerahan, batas tegas, Pada bagian tepi kadang-kadang tampak papul dan
skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting-lenting atau papul di sekitarnya berisi
nanah yang bila pecah meninggalkan daerah yang luka, dengan pinggir yang kasar
dan berkembang seperti lesi utama. Kulit sela jari tampak merah atau terkelupas,
dan terjadi lecet. Pada bentuk yang kronik, kulit sela jari menebal dan berwarna
putih.

Erytrasma3

Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang


disebabkan oleh Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa eritema dan
skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Gejala klinis lesi berukuran
sebesar milier sampai plakat. Lesi eritroskuamosa, berskuama halus kadang terlihat

4
merah kecoklatan. Variasi ini rupanya bergantung pada area lesi dan warna kulit
penderita. Tempat predileksi kadang di daerah ketiak dan lipat paha. Kadang-
kadang berlokasi di daerah intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk.
Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang eritematosa dan serpiginose. Lesi tidak
menimbul dan tidak terlihat vesikulasi. Efloresensi yang sama berupa eritema dan
skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari eritrasma. Skuama kering
yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada pemeriksaan
dengan lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red).

Psoriasis3

Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan


residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan
skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin,
Auspitz, dan Kobner. Tempat predileksi pada skalp, perbatasan daerah tersebut
dengan muka, ekstremitas ekstensor terutama siku serta lutut dan daerah
lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak eritema yang meninggi (plak) dengan
skuama diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium
penyembuhan sering bagian di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir.
Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan.
Besar kelainan bervariasi dapat lentikular, numular atau plakat, dapat
berkonfluensi.

Dermatitis Seboroik3

Dermatitis seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang mengenai daerah


kepala dan badan. Prevalensi dermatitis seboroik sebanyak 1-5% populasi. Lebih
sering terjadi pada laki-laki daripada wanita. Penyakit ni dapat mengenai bayi
sampai orang dewasa. Umumnya pada bayi terjadi pada usia 3 bulan sedang pada
dewasa pada usia 30-60 tahun. Kelainan kulit berupa eritema dan skuama yang
berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas. Bentuk yang berat
ditandai dengan adanya bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai eksudat
dan krusta tebal.

Diagnosis Kerja4

5
Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar
anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan
penyakit yang berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah
genito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan
perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain.

Etiologi4

Dermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis.


Golongan jamur ini mencernakan keratin. Penyebab utama dari tinea cruris
Trichopyhton rubrum (90%) dan Epidermophython fluccosum, Trichophyton
mentagrophytes (4%), Trichopyhton tonsurans (6%).

Epidemiologi4

Tinea cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah
tropis. Angka kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki
dibandingkan perempuan. Tidak ada kematian yang berhubungan dengan tinea
cruris. Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan
diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab.

Patofisiologi4

Cara penularan jamur dapat secara langsung maupun tidak langsung.


Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur
baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui
tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebab juga dapat
ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau
autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum. Jamur ini
menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan
invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-
cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim
keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi
peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum
menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi
(ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu

6
reaksi peradangan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan
di kulit adalah:

1. Faktor virulensi dari dermatofita


Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik,
zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini masing-masing jamur berbeda pula satu
dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-
bagian dari tubuh misalnya Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut,
Epidermophython fluccosum paling sering menyerang lipat paha bagian
dalam.
2. Faktor trauma
Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
3. Faktor suhu dan kelembapan
Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak
pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha,
sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur.
4. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat
insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah
sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik.
5. Faktor umur dan jenis kelamin

Penatalaksanaan5

Pada infeksi tinea cruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti jamur
topikal saja dari golongan imidazole dan allynamin yang tersedia dalam beberapa
formulasi. Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang tinggi 70-100% dan
jarang ditemukan efek samping. Obat ini digunakan pagi dan sore hari kira-kira 2-4
minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar batas lesi, dan diteruskan sekurang-
kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. Terapi sistemik dapat diberikan jika
terdapat kegagalan dengan terapi topikal, intoleransi dengan terapi topikal.
Sebelum memilih obat sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-
obatan tersebut. Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi
sistemik diberikan lebih dari 4 mingggu. Pengobatan tinea cruris tersedia dalam
bentuk pemberian topikal dan sistemik. Pengobatan anti jamur untuk tinea cruris
dapat digolongkan dalam empat golongan yaitu:

7
1. Golongan azol, menghambat enzim lanosterol 14 alpha demetylase (sebuah
enzim yang berfungsi mengubah lanosterol ke ergosterol), dimana struktur
tersebut merupakan komponen penting dalam dinding sel jamur.
2. Golongan alynamin, menghambat kerja dari squalen epokside yang
merupakan enzim yang mengubah squalene ke ergosterol yang berakibat
akumulasi toksik squalene didalam sel dan menyebabkan kematian sel.
Dengan penghambatan enzim-enzim tersebut mengakibatkan kerusakan
membran sel sehingga ergosterol tidak terbentuk.
3. Golongan benzilamin, mekanisme kerjanya diperkirakan sama dengan
golongan alynamin
4. Golongan lainnya seperti siklopiros, tolnaftan, haloprogin. Mekanisme
kerjanya sama dengan golongan azole.

Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah:

1. Golongan Azol
a. Clotrimazole (Lotrimin, Mycelec)
Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam pengobatan
tinea cruris karena bersifat broad spektrum antijamur yang
mekanismenya menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah
permeabilitas membran sel sehingga sel-sel jamur mati. Pengobatan
dengan clotrimazole ini bisa dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa ada
perbaikan klinis. Penggunaan pada anak-anak sama seperti dewasa.
Obat ini tersedia dalam bentuk cream 1%, solution, lotion. Diberikan 2
kali sehari selama 4 minggu. Tidak ada kontraindikasi obat ini, namun
tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas,
peradangan infeksi yang luas dan hindari kontak mata.
b. Mikonazole (Icatin, Monistat-derm)
Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel jamur yang rusak akan
menghambat biosintesis dari ergosterol sehingga permeabilitas
membrane sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Tersedia
dalam bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak. Diberikan 2 kali sehari
selama 4 minggu. Penggunaan pada anak sama dengan dewasa. Tidak
dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari
kontak dengan mata.
c. Econazole (Spectazole)
Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang berhubungan
dengan kulit yaitu menghambat RNA dan sintesis, metabolisme protein

8
sehingga mengganggu permeabilitas dinding sel jamur dan
menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat
dilakukan dalam 2-4 minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2 kali
atau 4 kali dalam sediaan cream 1%. Tidak dianjurkan pada pasien
yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.
d. Ketokonazole (Nizoral)
Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang bersifat
broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga
komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati.
Pengobatan dengan ketokonazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu.
Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas,
hindari kontak dengan mata.
e. Oxiconazole (Oxistat)
Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad spektrum akan
menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur
meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan
oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tersedia dalam
bentuk cream 1% atau bedak kocok. Penggunaan pada anak-anak 12
tahun penggunaan sama dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada
pasien yang menunjukkan hipersensitivitas dan hanya digunakan
untuk pemakaian luar.
f. Sulkonazole (Exeldetm)
Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Titik
tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan
menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan
kematian sel jamur. Tersedia dalam bentuk cream 1% dan solutio.
Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan
orang dewasa (dioleskan pada daerah yang terkena selama 2-4
minggu sebanyak 4 kali sehari).
2. Golongan Alynamin
a. Naftifine (Naftin)
Bersifat broad spektrum anti jamur dan merupakan derivat sintetik dari
alynamin yang mekanisme kerjanya mengurangi sintesis dari
ergosterol sehingga menyebabkan pertumbuhan sel jamur terhambat.
Pengobatan dengan naftitine dievaluasi setelah 4 minggu jika tidak ada
perbaikan klinis. Tersedia dalam bentuk 1% cream dan lotion.

9
Penggunaan pada anak sama dengan dewasa (dioleskan 4 kali sehari
selama 2-4 minggu).
b. Terbinafin (Lamisil)
Merupakan derifat sintetik dari alynamin yang bekerja menghambat
skualen epoxide yang merupakan enzim kunci dari biositesis sterol
jamur yang menghasilkan kekurangan ergosterol yang menyebabkan
kematian sel jamur. Secara luas pada penelitian melaporkan
keefektifan penggunaan terbinafin. Terbenafine dapat ditoleransi
penggunaanya pada anak-anak. Digunakan selama 1-4 minggu.
3. Golongan Benzilamin
a. Butenafine (Mentax)
Anti jamur yang poten yang berhubungan dengan alynamin. Kerusakan
membrane sel jamur menyebabkan sel jamur terhambat
pertumbuhannya. Digunakan dalam bentuk cream 1%, diberikan
selama 2-4 minggu. Pada anak tidak dianjurkan. Untuk dewasa
dioleskan sebanyak 4kali sehari.
4. Golongan lainnya
a. Siklopiroks (Loprox)
Memiliki sifat broad spektrum anti fungal. Kerjanya berhubungan
dengan sintesis DNA.
b. Haloprogin (Halotex)
Tersedia dalam bentuk solution atau spray, 1% cream. Digunakan
selama 2-4 minggu dan dioleskan sebanyak 3 kali sehari.
c. Tolnaftate
Tersedia dalam cream 1%, bedak, solution. Dioleskan 2 kali sehari
selama 2-4minggu.

Pengobatan secara sistemik dapat digunakan untuk untuk lesi yang luas atau gagal
dengan pengobatan topikal, berikut adalah obat sistemik yang digunakan dalam
pengobatan tinea cruris:

1. Ketokonazole
Sebagai turunan imidazole, ketokonazole merupakan obat jamur oral yang
berspektrum luas. Kerja obat ini fungistatik. Pemberian 200mg/hari selama 2-
4 minggu.

2. Itrakonazole
Sebagai turunan triazole, itrakonazole merupakan obat anti jamur oral yang
berspektrum luas yang menghambat pertumbuhan sel jamur dengan

10
menghambat sitokrom P-450 dependent sintetis dari ergosterol yang
merupakan komponen penting pada selaput sel jamur. Pada penelitian
disebutkan bahwa itrakonazole lebih baik daripada griseofulvin dengan hasil
terbaik 2-3 minggu setelah perawatan. Dosis dewasa 200mg PO selama 1
minggu dan dosis dapat dinaikkan 100mg jika tidak ada perbaikan tetapi
tidak boleh melebihi 400mg/hari. Untuk anak-anak 5mg/hari PO selama 1
minggu. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitivitas,
dan jangan diberikan bersama dengan cisapride karena berhubungan dengan
aritmia jantung.
3. Griseofulfin
Termasuk obat fungistatik, bekerja dengan menghambat mitosis sel jamur
dengan mengikat mikrotubuler dalam sel. Obat ini lebih sedikit tingkat
keefektifannya dibanding itrakonazole. Pemberian dosis pada dewasa 500mg
microsize (330-375 mg ultramicrosize) PO selama 2-4 minggu, untuk anak 10-
25mg/kg/hari PO atau 20 mg microsize/kg/hari.
4. Terbinafine
Pemberian secara oral pada dewasa 250mg/hari selama 2 minggu. Pada anak
pemberian secara oral disesuaikan dengan berat badan:
12-20kg :62,5mg/ hari selama 2 minggu
20-40kg :125mg/ hari selama 2 minggu
>40kg :250mg/ hari selama 2 minggu

Komplikasi6

Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain.
Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.
Bakteri infeksi kulit, selulitis, gangguan kulit seperti pioderma atau dermatophytid,
penyebaran tinea di kaki, selangkangan, kulit kepala, atau kuku, dan
penatalaksaanaan medikamentosa yang berefek pada sistemik tubuh

Prognosis6

Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat asalkan
kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.

Daftar Pustaka

11
1. Djaenudin N. Parasitologi kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2009. Hlm: 274-276
2. Robbin, Cotran. Buku saku dasar patologis penyakit. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2003. Hlm: 1121-1130
3. Budimulja U. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi 6. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2011. Hlm: 107-8, 189-90, 200-2, 334-5.
4. Sylvia P, Lorraine M. Patofisiologi konsep klinis. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006. Hlm: 14-23
5. Swartz H. Diagnostic fisik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005. Hlm:
134-5
6. Anonymous. Tinea corporis - treatment. 2010. Dikutip dari:
http://www.umm.edu/ency/article/000877trt.htm diunduh 13 April 2012

12