Anda di halaman 1dari 13

BUKTI AUDIT

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi Tugas UTS Mata Kuliah
Auditing dan Atestasi

DISUSUN OLEH :
NUR ARIANA DWI N

PROGRAM PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2017
A. Bukti Audit (Audit Evidence)
Tujuan auditor dalam hal merencang dan melaksanakan prosedur audit sedemikian rupa untuk
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang apakh terdapat kesalahan penyajian
material, melalui perancangan dan penerapan respons yang tepat terhadap risiko yang dinilai.
Bukti audit merupakan salah satu pendukung dalam hal pelaksanaan audit, dan dari bukti audit
ini yang akan membantu para auditor untuk menentukan opini apa yang akan diberikan pada
perusahaan yang diperiksa atau diaudit.
Maka adapun pengertian dari bukti audit menurut Standar Audit 200 (2015) adalah informasi
yang digunakan oleh auditor dalam mencapai kesimpulan yang mendasari opini auditor. Bukti
audit mencakup informasi yang terdapat dalam catatan akuntansi yang mendasaro laporan
keuangan dan informasi lainnya. Hal ini untuk tujuan SA :
(i) Kecukupan bukti audit merupakan ukuran kuantitas bukti audit. Kuantitas bukti audit
yang diperlukan dipengaruhi oleh penilaian auditor atas risiko kesalahan penyajian
material dan juga oleh kualitas bukti audit tersebut.
(ii) Ketepatan bukti audit merupakan ukuran kualitas bukti audit, yatiu kerelevansian dan
keandalan bukti tersebut dalam mendukung kesimpulan yang mendasari opini auditor.

Menurut Mulyadi (2002) bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka
atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan yang dapat digunakan oleh auditor
sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapatnya. Bukti audit yang mendukung
laporan keuangan adalah terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat yang
tersedia bagi auditor.

1. Data akuntansi
Salah satu tipe bukti audit adalah data akuntansi, jurnal, buku besar dan buku pembantu
serta buku pedoman akuntansi, memorandum dan catatan tidak resmi seperti kertas kerja
yang mendukung alokasi biaya, perhitungan dan rekonsiliasi secara keseluruhan
merupakan bukti yang mendukung laporan keuangan.
2. Informasi penguat
Tipe bukti audit lain yang dikumpulkan oleh auditor sebagai dasar pernyataan
pendapatanya atas laporan keuangan adalah informasi penguat. Informasi penguat ini
meliputi segala dokumen seperti cek, faktur, surat kontrak, notulen rapat, konfirmasi dan
pernyataan tertulis dari pihak yang mengetahui, informasi yang diperoleh auditor melalui
permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi dan pemeriksaan fisik, serta informasi lain
yang dikembangkan oleh atau tersedia bagi auditor yang memungkinkannya untuk
menarik kesimpulan berdasarkan alasan yang kuat.

Menurut Hayes (2005) bukti audit berbeda dengan bukti hukum, dimana bukti audit yang
dibutuhkan untuk membutkikan alasan penilaian, sedangkan di dalam lingkungan hukum,
bukti merupakan sebuah standar yang kaku dari bukti dan dokumentasi.

Gambar 1.

Sumber : Hayes (2005)

Dalam Standar pekerjaan lapangan ketiga yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia
yang berbunyi :

bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan atas
laporan keuangan auditan

Hal ini juga diatur dalam Standar Audit 500 tentang bukti audit yang berbunyi :

6. auditor harus merancang dan melaksanakan prosedur audit yang tepat sesuai dengan
kondisi untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat.
7. Pada waktu merancangan dan melaksanakan prosedur audit, auditor harus
mempertimbangkan relevansi dan keandalan informasi yang digunakan sebagai bukti
audit.

Disebabkan oleh sifat bukti audit serta pertimbangan biaya untuk melaksanakan suatu audit
maka tidaklah mungkin bagi auditor untuk memperoleh keyakinan mutlak bahwa opini yang
dipilihnya sudah benar. Dua penentu persuasifitas bukti audit adalah kompetensi dan
kecukupan yang langsung diambil dari standar pekerjaan lapangan ketiga (Wardoyo, 2011) :
1. Kompetensi Kompetensi bukti pemeriksaan dimaksudkan sebagai suatu tingkat dimana
buktibukti yang diperoleh dapat dipercaya. Jika bukti-bukti yang diperoleh
dipertimbangkan sangat kompeten, maka hal ini akan sangat membantu auditor dalam
menentukan bahwa laporan keuangan yang diperiksanya telah disajikan secara wajar.
Untuk dapat dikatakan kompeten, bukti-bukti pemeriksaan bergantung kepada beberapa
faktor. Pertimbanganpertimbangan yang telah dilakukan secara luas dalam pemeriksaan
antara lain adalah:
a. Relevan (Relevance)
Bukti yang diperoleh haruslah berhubungan dengan tujuan auditor. Jika tujuan auditor
adalah untuk menentukan keberadaan (existence) suatu persediaan, auditor dapat
memperoleh bukti dengan mengadakan observasi secara langsung terhadap
persediaan tersebut tetapi, bukti tersebut bisa tidak relevan dalam hal menentukan
apakah persediaan tersebut milik klien atau dalam hal penilaiannya. Jadi dalam hal
ini, suatu bukti mungkin relevan dalam suatu tujuan audit, tetapi tidak relevan dalam
tujuan audit yang lain.
b. Sumber perolehan (Sources)
Secara garis besarnya sumber-sumber informasi yang dapat mempengaruhi
kompetensi bukti yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Apabila bukti yang diperoleh berasal dari sumber yang independen di luar
perusahaan bukti tersebut dapat memberikan jaminan yang keandalan yang lebih
besar dibandingkan dengan bukti yang diperoleh dari dalam perusahaan itu
sendiri.
Semakin effektif struktur pengendalian intern perusahaan, semakin besar jaminan
yang diberikan mengenai keandalan data akuntansi dan laporan keuangan.
Pengetahuan auditor secara pribadi dan secara langsung yang diperoleh melalui
pemeriksaan fisik, pengamatan, perhitungan, dan inspeksi lebih bersifat
meyakinkan dibandingkan dengan informasi yang diperoleh secara tidak
langsung.
c. Ketepatan waktu (Timeliness)
Ketepatan waktu berhubungan dengan tanggal pada waktu bukti itu terjadi. Ketepatan
waktu ini penting terutama dalam melakukan penilaian terhadap aktiva lancar, hutang
lancar, dan yang berhubungan dengan saldo-saldo daftar rugi laba. Untuk
perkiraanperkiraan ini auditor mencari bukti apakah klien telah melakukan cutoff
yang tepat terhadap transaksi kas, penjualan dan pembelian pada tanggal dilaporkan.
Hal ini memungkinkan apabila auditor melakukan prosedur audit menjelang atau
pada tanggal tersebut. Jadi dalam hal ini bukti yang diperoleh dari perhitungan fisik
pada tanggal neraca akan menghasilkan bukti perhitungan yang lebih baik
dibandingkan perhitungan yang dilakukan sesudah waktu tersebut.
d. Objektifitas (Objectivity)
Bukti yang bersifat objektif umummya lebih dapat dipercaya. Misalnya, bukti yang
diperoleh dari pihak luar perusahaan yang independen akan lebih objektif daripada
bukti yang semata-mata diperoleh dari klien itu sendiri. Dalam menilai objektifitas
suatu bukti, perlu juga penilaian mengenai kualifikasi personal yang menyediakan
bukti tersebut. Sesuai dengan standar pekerjaan lapangan, audit yang dilakukan
auditor independen bertujuan untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup
untuk dipakai sebagai dasar yang memadai dalam merumuskan pendapatnya.
Kompetensi data akuntansi yang mendasari dan informasi yang menguatkan, secara
langsung berhungan dengan efektifnya internal kontrol klien.
2. Kecukupan
Jumlah bukti yang diperoleh menentukan cukup tidaknya (sufficiency) bukti tersebut.
Jumlah ini diukur melalui ukuran sampel yang diambil oleh auditor. Ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi pertimbangan auditor mengenai cukup tidaknya suatu bukti
yang diperlukan, antara lain:
a. Tingkat Materialitas dan Risiko
Secara umum, bukti yang diperlukan bagi perkiraanperkiraan yang materiil terhadap
laporan keuangan akan lebih banyak dibandingkan bagi perkiraan-perkiraan yang
kurang atau tidak materiil. Jadi, dalam melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan
industri, jumlah bukti yang diperlukan untuk mendukung pemeriksaan persediaan
akan lebih besar dibandingkan dengan jumlah yang diperlukan dalam pemeriksaan
biaya yang dibayar dimuka. Demikian juga sama halnya perkiraan-perkiraan yang
kelihatannya diragukan akan memerlukan bukti yang lebih banyak dibandingkan
dengan perkiraan-perkiraan yang kelihatannya benar.
b. Faktor-faktor Ekonomi
Auditor bekerja dalam batas-batas pertimbangan ekonomis, jangka waktu yang
pantas, dan dengan biaya yang wajar dalam memperoleh bukti-bukti yang diperlukan.
Dalam hal ini auditor harns memutuskan dengan menggunakan pertimbangan
profesionalnya apakah bukti audit yang tersedia dengan batasan waktu dan biaya
cukup memadai untuk mendukung pernyataan pendapatnya. Sebagai pegangan, harus
terdapat hubungan yang rasional antara biaya untuk mendapatkan bukti dengan
manfaat informasi yang diperoleh. Masalah kesulitan dan biaya pengujian suatu
perkiraan bukan merupakan dasar yang sah untuk menghilangkan pengujian tersebut
dalam proses audit.
c. Ukuran dan Karakteristik Populasi
Ukuran populasi dimaksudkan sebagai jumlah item-item yang terdapat pada populasi
tersebut, seperti jumlah transaksi penjualan dalam jumlah penjualan, jumlah perkiraan
langganan di dalam buku besar piutang. Umumnya, semakin besar populasi, semakin
besar pula jumlah bukti yang diperlukan untuk mendapatkan dasar yang masuk akal
untuk mencapai kesimpulan tentang populasi itu.

Dalam buku Hayes (2005) menjelaskan bahwa auditor harus mengidentifikasi beberapa data
atau pernyataan yang dibuat oleh manajemen perusahaan yang berhubungan dengan laporan
keuangan perusahaan yang dijadikan sebagai bukti audit. Adapun standar dari pernyataan
yang dibuat oleh perusahaan adalah kelengkapan, kejadian, ketepatan, hak dan kewajiban,
penilaian dan keberadaaan.

a. Kelengkapan
Semua transaksi dan peristiwa yang harus tercatat, telah tercatat dan tidak ada transaksi
atau peristiwa yang tidak diungkapkan.
b. Kejadian
Asumsi bahwa transaksi dan peristiwa yang telah tercatat telah terjadi dan berkaitan
dengan entitas selama periode tertentu.
c. Hak dan Kewajiban
Bahwa pernyataan yang dibuat oleh perusahaan sudah sesuai mengenai hak dan kewajiban
yang dimiliki oleh perusahaan yang berkaitan dengan aset dan kewajiban yang dimiliki
oleh perusahaan.
d. Keberadaan
Artinya manajemen mempertahankan semua aset, kewajiban dan ekuitas pada tangga
tertentu yang telah diberikan kepada auditor.

Selain itu, data tersebut haruslah akurasi, cut off, klasifikasi dan understandbility, presentasi
dan pengungkapan, dan pengukurna. Akurasi, bahwa jumlah dan data lain yang berhubungan
dengan catatan transaksi atau peristowa telah dicatat secara akurat. Cut-off, menegaskan
bahwa transaksi dan peristiwa telah tercatat pada periode akuntansi yang benar. Klasifikasi,
bahwa seluruh akun yang terdapat dalam data tersebut sudah diklasifikasikan sesuai dengan
rekening yang tepat. Understandbility, artinya data tersebut telah diungkapkan dengan
cukup. Presentasi dan pengungkapan, menegaskan bahwa akun-akun yang diungkapkan,
diklasifikasikan, dan dijelaskan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
Pengukurna, ini meurpakan penegasan bahwa transaksi yang telah dicatat dalam jumlah yang
tepat dan pendapatan atau biaya yang dialokasikan tepat.

Hal di atas juga diatur dalam Standar Audit 500 (2015), pada par 8 dan 9 yang berbunyi :

8. jika informasi yang digunakan sebagai bukti audit telah disusun dengan
menggunakaan pekerjaan pakat manajemen, auditor, sejauh diperlukan, harus
mempertimbangkan signifikansi pekerjaan pakar tersebut untuk tujuan auditor,
dengan :
a) Mengevaluasi kompetensi, kapabilitas, dan objektivitas pakat tersebut;
b) Memperoleh pemahaman atas pekerjaan pakar; dan
c) Mengevaluasi kesesuaian pekerjaan pakar tersebut sebagai bukti audit untuk
asersi yang relevan.
9. Pada waktu menggunakan informasi yang dihasilkan oleh suatu entitas, auditor harus
mengevaluias apakah informasi tersebut andal untuk tujuan auditor, termasuk, jika
relevan, dalam situasi untuk :
a) Memperoleh bukti audit tentang akurasi dan kelengkapan informasi; dan
b) Mengevaluasi apakah informasi tersebut cukup tepat dan rinci untuk memenuhi
tujuan auditor.

Dalam buku Hayes (2005) Seorang auditor harus menyimpulkan bahwa bukti audit yang
dikumpulkan sudah cukup untuk mengurngi tingkat risiko material. Bukti audit tersebut
haruslah cukup dan layak. Kecukupan adalah mengukur kuantitas (jumlah) bukti-bukti audit.
Artinya bukti audit yang dikumpulkan haruslah cukup untuk mendukung proses audit itu
sendiri. Kelayakan adalah ukuran kualitas dari bukti-bukti audit, adapun ukuran kualitas dari
bukti audit tersebut adalah relevansi dan keandalan. Keandalan adalah kualitas informasi
bebas dari kesalahan dan dapat diandalkan oleh pengguna untuk mewakili. Relevansi bukti
merupakan kesesuaian dari bukti-bukti untuk tujuan audit. Hal ini juga diatur dalam SA 500
dalam paragraph 7 yang dijelaskan secara rinci dalam paragraph A26-A31, yang berbunyi :

Informasi yang Digunakan Sebagai Bukti Audit


Relevansi dan Keandalam
Relevansi
A27. Relevansi berkaitan dengan hubungan logis dengan tujuan prosedur audit dan jika
relevan, dengan asersi yang dipertimbangkan. Relevansi digunakan sebagai bukti
audit mungkin dipengaruhi oleh ..
A28. Keandalahan infromasi digunakan sebagai bukti audit dan oleh karena itu
merupakan bukti audit itu sendiri, dipengaruhi oleh sumber bukti tersebut dan
sifatnya serta kondisinya saat bukti tersebut dipeorleh, termasuk pengendalian
dalam penyusunan dan pemeliharaannya, jika relevan. Oleh karena itu, .
B. Jenis-Jenis Bukti Audit
Menurut Konrath (2002) dalam buku Agoes (2012) ada enam jenis bukti audit, yaitu :
1. Physical Evidence
Physical Evidence atau bukti fisik adalah bukti yang terdiri atas segala sesuatu yang bisa
dihitung, dipelihara, diobservasi atau diinspeksi dan terutama berguna untuk mendukung
tujuan eksistensi atau keberadaan. Contoh : bukti phisik yang diperoleh dari kas opname,
observasi dari perhitungan phisik persediaan, pemeriksaan phisik surat berharga dan
inventarisasi aktiva tetap.

2. Evidence Obtain Through Confirmation


Evidence Obtain Through Confirmation (confirmation evidence) atau bukti konfirmasi
adalah bukti yang diperoleg dari mengenai eksitensi, kepemilikan atau penilaian,
langsung dari pihak ketiga diluar klien. Contoh : jawaban konfirmasi piutang, utang,
barang konsinyasi, surat berharga yang disimpan Biro Administrasi Efek, konfirmasi dari
penasehat hukum klien.
3. Documentary Evidence
Documentary Evidence atau bukti documenter adalah bukti audit yang terdiri atas
catatan-catatan akuntansi dan seluruh dokumen pendukung transaksi. Bukti ini berkaitan
dengan asersi manajemen mengenai completeness dan eksistensi dan berkaitan dengan
audit trail yang memungkinkan auditor untuk mentrasir dan melakukan vouching atas
transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian dari dokumen ke buku besar dan sebaliknya.
Contoh : faktur pembelian, copy faktur penjualan, journal voucher, general ledger dan
sub ledger
4. Mathematical Evidence
Mathematical evidence atau bukti mathematis adalah bukti audit yang merupaka
perhitungan, perhitungan kembali dan rekonsiliasi yang dilakukan oleh auditor. Contoh
footing, cross footing dan extension dari rincian persediaan, perhitungan dan alokasi
beban penyusutan, perhitungan beban bunga, laba/rugi penarikan aktiva tetap, PPh dan
accruals) dan rekonsiliasi (pemeriksaan rekonsiliasi bank, rekonsiliasi saldo piutang
usaha dan hutang menurut buku besar dan sub buku besar, rekonsiliasi inter company
account).
5. Analytical Evidence
Analytical Evidence atau bukti analisis adalah bukti audit yang diperoleh melalui
penelaahan analitis terhadap informasi keuangan klien. Penelaahan analitis ini harus
dilakukan pada waktu membuat perencanaan audit, sebelum melakukan substantive test
dan pada akhir pekerjaan lapangan. Prosedur analitis bisa dilakukan dalam bentuk :
a. Trend (horizontal) Analysis, yaitu membandingkan angka-angka laporan keuangan
tahun berjalan dengan tahun-tahun sebelumnya dan menyelidiki kenaikan/penurunan
yang siginikan baik dalam jumlah rupiah maupun persentase.
b. Common Size (Vertical) Analysis
c. ratio Analysis, misalnya menghitung rasio likuidias, rasio profitabilitas, rasio
laverage dan rasio manajemen aset.
6. Hearsey Evidence
Hearsey Evidence atau bukti lisan adalah bukti audit yang merupakan bentuk jawaban
lisan dari klien atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan auditor. Contoh pertanyaan
auditor mengenai pengendalian intern, ada tidaknya contingent liabilities, persediaan
yang bergerak lambat atau rusak, kejadian penting sesudah tanggal neraca. Adapun urutan
reliabilitas dari keenam jenis bukti audit ini adalah :

Gambar 2 Reliabilitas dari Bukti Audit


RELIABILITAS TERTINGGI RELIABILITAS TERENDAH

Physical
Evidence

Confirmation
Evidence

Mathematical
Evidence

Analytical
Evidence

Internal Document
Under Conditions of
Strong Internal

Internal DocumentHearsay
Under ConditionsEvidence
of
Weak Internal
Sumber : Agoes (2012 : 123)

C. Prosedur Memperoleh Bukti Audit


Di atas telah dijelaskan jeni-jenis bukti audit yang akan mendukung pelaksanaannya audit
yang akan dilakukan oleh auditor. Di bawah ini beberapa prosedur dalam memperoleh bukti
audit yaitu :
1. Inspeksi
Inspeksi mencakup pemeriksaan atas catatan atau dokumen, baik internal maupun
eksternal dalam bentuk kertas, elektronik, atau media lain atau pemeriksaan fisik aast
suatu aset. Dokumen internal adalah dokumen yang dipersiapkan dan dipergunakan
dalam organisasi klien sendiri serta tidak pernah disampaikan kepada pihak-pihak di luar
organisasi seperti pelanggan atau pemasok klien. Contoh dari dokumen ini adalah salinan
faktur penjualan, laporan waktu kerja karyawan, serta laporan penerimaan persediaan.
Dokumen eksternal adalah dokumen yang pernah berada dalam genggaman seseorang di
luar organisasi yang mewakili pihak yang menjadi klien dalam melakukan transaksi tetapi
dokumen tersebut saat ini berada di tangan klien atau dengan segera dapat diakses oleh
klien. Contoh dokumen eksternal adalah faktur-faktur dari pemasok, surat utang yang
dibatalkan serta polis-polis asuransi.
Contoh dari Inspeksi adalah :
a. Review sales orders
b. Review sales invoices
c. Review shipping documents
d. Review bank statement
e. Review customer return document
f. Review customer complaint letter
2. Observasi
Observasi terdiri dari melihat langsung suatu proses atau prosedur yang dilakukan oleh
orang lain. Observasi memberikan bukti audit tentang pelaksanaan suatu proses atau
prosedur, namun hanya terbatas pada titik waktu tertentu pada saat observasi dilakukan.
Contoh dari observasi adalah :
a. Observasi yang dilakukan oleh auditor atas perhitungan persediaan yang dilakukan
oleh personel entitas.
b. Auditor melihat langsung pelaksanaan aktivitas pengendalian
3. Konfirmasi
Konfirmasi merupakan bukti audit yang diperoleh auditor sebagai respons langsung
tertulis dari pihak ketiga (pihak yang mengonfirmasi), dalam bentuk kertas atau secara
elektronik atau media lain. Permintaan ini ditunjukan bagi klien, klien meminta pihak
ketiga yang independen untuk memberikan tanggapannya secara langsung kepada
auditor. Karena konfirmasi ini datang dari berbagai sumber yang independen untuk klien,
maka jenis bukti audit ini sangatlah dihargai dan merupakan jenis bukti yang paling
sering digunakan. Konfirmasi diidentifikasikan menjadi dua jenis yaitu: (1) konfirmasi
positif, konfirmasi yang membutuhkan jawaban dalam situasi apapun, (2) konfirmasi
negatif, konfirmasi yang dijawab hanya jika terdapat perbedaan saldo.
Contoh dari Konfirmasi adalah :
a. Auditor meminta konfirmasi tentang syarat-syarat perjanjian atas transaksi yang
dimiliki oleh perusahaan kepada pihak ketiga.
b. Dapat mengkonfirmasi akun piutang yang dibayarkan kepada pihak ketiga.
c. Mengkonfirmasi untuk memverifikasi saldo bank.
d. Mengkonfirmasi kepada pihak ketiga tentang pembayraan atas pinjaman atau
pemegang obligasi.
4. Perhitungan ulang (recalculation)
Perhitungan kembali atau recalculation terdiri dari pengecekan akurasi perhitungan
matematis dalam dokumen atau catatan, perhitungan ulang dapat dilakukan secara
manual atau secara elektronik.
Contoh dari Perhitungan kembali adalah :
a. Pengujian dalam faktur penjualan dan persediaan.
b. Memeriksa perhitungan biaya penyusutan dan biaya prabayar.
c. Pengujian terhadap jurnal dan catatan subsidiary.
5. Pelaksanaan kembali (reperformance)
Pelaksanaan kembali adalah pelaksanaan prosedur atau pengendalian secara independen
oleh auditor yang semula merupakan bagian pengendalian intern entitas.
Contoh dari Pelaksanaan Kembali adalah :
a. Menggunakan CAATs untuk memeriksa pengendalian catatat transaksi dalam
database perusahaan.
b. Reperform umur akun piutang.
6. Prosedur analitis
Prosedur analitis adalah terdiri dari pengevaluasian atas informasi keuangan yang
dilakukan dengan menelaah hubungan yang dapat diterima antara data keuangan dengan
data non keuangan. Prosedur analitis juga meliputi investigasi atas fluktuasi yang telah
diidentifikasi, hubungan yang tidak konsisten antara satu informasi dengan informasi
lainnya atau data keuangan yang menyimpang secara signifikan dari jumlah yang telah
diprediksi sebelumnya.
Contoh dari Prosedur Analitis adalah :
a. Melakukan perbandingan presentase antara laba kotor yang diperoleh selama tahun
berjalan terhadap laba kotor yang diperoleh tahun sebelumnya.
b. Menghitung tren dalam penjualan selama beberapa tahun.
c. Membandingkan rasio lancar klien untuk rasio industry saat ini.
d. Membandingkan anggran dengan actual.
7. Permintaan Keterangan (Inquiry)
Permintaan keterangan ini terdiri dari pencarian informasi atas orang yang memiliki
informasi baik keuangan maupun non keuangan di dalam atau di luar perusahaan.
Permintaan keterangan dapat berupa permintaan keterangan resmi secara tertulis maupun
permintaan keterangan secara lisan. Walaupun banyak bukti dari klien berasal dari hasil
prosedur ini, bukti tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai bukti yang meyakinkan karena
tidak diperoleh dari sumber yang independen dan barangkali cenderung mendukung
pihak klien. Oleh karena itu, saat auditor memperoleh bukti dari hasil wawancara ini,
maka pada umumnya merupakan suatu keharusan bagi auditor untuk memperoleh bukti
audit lainnya yang lebih meyakinkan melalui berbagai prosedur lainnya.
Contoh dari Permintaan Keterangan :
Memperoleh informasi tertulis atau lisan dari klien dalam menanggapi pertanyaan
spesifik selama audit.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. 2012. Auditng (Petunjuk Praktis Pemeriksaan AKuntan oleh Akuntan Publik.
Salemba Empat : Jakarta
Hayes, Rick., Roger D., Arnold S., and Philip W., 2005. Principles Of Auditing An Introduction
to International Standards on Auditing, 2nd Edition, Person Education Limited.
Institut Akuntan Publik. 2012. Standar Audit (SA 200) Tentang Tujuan Keseluruhan Auditor
Independen dan Pelaksanaan Audit Berdasarkan Standar Audit.. Salemba Empat : Jakarta
Institut Akuntan Publik. 2012. Standar Audit (SA 500) Tentang Bukti Audit. Salemba Empat :
Jakarta
Wardoyo, T. Setyo., Putri Ayu S,. 2011. Pengaruh Pengalaman Dan Pertimbangan Profesional
Auditor Terhadap Kualitas Bahan Bukti Audit Yang Dikumpulkan (Studi Kasus Pada
Kantor Akuntan Publik Di Bandung). Jurnal Ilmiah Akuntansi, Sept-Des, : 1-27