Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

Inkontinensia Urin pada Wanita Tua

Oleh:
Firina Adelya Sinaga
1215137

Pembimbing:
dr. Vera, SpPD-KGer

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG
2017

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL 1
DAFTAR ISI 2
DAFTAR TABEL 3
DAFTAR GAMBAR 4
BAB 1 PENDAHULUAN 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 6
BAB 3 SIMPULAN 25
DAFTAR PUSTAKA 26

2
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perubahan fisiologis saluran kemih pada lansia

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kandung kemih dan persarafannya


Gambar 2.2 Proses pada fase pengisian dan fase pengosongan
Gambar 2.3 Proses berkemih
Gambar 2.4 Perubahan fisiologis saluran kemih pada lansia
Gambar 2.5 Obat-obatan penyebab inkontinensia urin
Gambar 2.6 Contoh catatan berkemih (diary voiding)

4
BAB I
PENDAHULUAN

Pada lansia atau usia di atas 60 tahun, akan mengalami perubahan fisik, mental, sosial
yang mempengaruhi semua asepek kehidupan. Berbagai masalah fisik dan sosial akan muncul
akibat dari proses menua. Proses ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh dalam
menyesuaikan diri terhadap perubahan terkait penurunan jumlah dan ukuran sel tubuh dan
penurunan fungsi, fisik, mental dan sosial. Penurunan secara fungsi dan fisik yang timbul
diantaranya pembatasan gerak yang terjadi pada lansia menyebabkan hilangnya kekuatan otot
dan hilangnya masa tulang sehingga gerakan menjadi lambat. Selain itu, adanya penurunan
kekuatan otot dasar panggul yang dapat menyebabkan inkontinensia urin. Perubahan mental juga
sering terjadi pada seseorang lanjut usia seperti penurunan daya ingat.
Inkontinensia urin dapat mengenai wanita pada semua usia dengan derajat dan perjalanan
penyakit yang bervariasi. Walaupun jarang mengancam jiwa tapi inkontinensia urin dapat
memberikan dampak pada kesehatan fisik, psikologi, dan sosial pasien. Selain itu inkontinensia
urin juga dapat berdampak bagi keluarga pasien. Prevalensinya berkisar antara 3-55 %
bergantung pada batasan dan kelompok usia. Prevalensi akan meningkat seiring dengan
pertambahax usia. Sedangkan prevalensi pada wanita usia di atas 80 tahun mencapai 46 %.
Inkontinensia urin berhubungan dengan penurunan kualitas hidup pasien seperti isolasi
sosial, kesendirian, dan kesedihan; gangguan psikiatri seperti depresi; rasa malu yang
mempengaruhi aktivitas sehari-hari; dan gangguan tidur. Mengingat Inkontinensia urin sangat
erat kaitannya dengan morbiditas, fungsional, dan psikologi maka upaya identifikasi dini
penyebabnya menjadi sangat penting sebagai dasar tata laksana atau rujukan ke pusat kesehatan
spesialistik.

5
BAB II
PENDAHULUAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi Berkemih

2.1.1 Anatomi Saluran Kemih


Sistem saluran kemih manusia terdiri dari:
- 2 buah ginjal yang mempunyai peranan dalam pembentukan urin
- 2 buah ureter sebagai penyalur urin
- 1 buah kandung kemih sebagai tempat menyimpan urin sementara
- 1 buah uretra yang menyalurkan urin dari kandung kemih keluar

a. Ginjal
Ginjal berbentuk seperti kacang tanah, terletak di dinding abdomen posterior, tertutup
oleh peritoneum dikedua sisi columna vertebralis pada level vertebrae TXII-LIII. Disebelah
posterior dilindungi oleh kosta dan otot-otot yang meliputi kosta, sedangkan dianterior
dilindungi oleh bantalan usus yang tebal. Pada orang dewasa ginjal panjangnya 10cm,
lebar 5cm, tebal 2 cm dan beratnya antara 120-150 gram.
Fungsi Ginjal menurut Pearce, Evelyn C (2006) berfungsi sebagai berikut :
1) Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh akan dieksresikan
oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar, kekurangan air
(kelebihan keringat) menyebabkan urine yang di eksresi berkurang dan konsentrasinya
lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relatif
normal.
2) Mengatur keseimbangan osmotic dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal
dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan/pengeluaran yang
abnormal ion ion akibat pemasukan garam yang berlebihan/penyakit perdarahan (diare,
muntah) ginjal akan meningkatkan eksresi ion ion yang penting (mis. Na, K, Cl, Ca dan
fosfat).
3) Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh bergantung pada apa yang dimakan,
campuran makanan menghasilkan urine yang bersifat agak asam, pH kurang dari 6 ini
disebabkan hasil akhir metabolisme protein. Apabila banyak makan sayur sayuran,

6
urine akan bersifat basa. pH urine bervariasiantara 4 , 8 8,2. Ginjal menyekreksi urine
sesuai dengan perubahan pH darah.
4) Eksresi sisa hasil metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin) zat zat toksik , obat
obatan, hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida).
5) Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresi hormon rennin yang mempunyai
peranan penting mengatur tekanan darah (system rennin angiotensin aldesteron)
membentuk eritropoiesis mempunyai peranan penting untuk memproses pembentukan sel
darah merah (eritropoiesis).

b. Ureter
Ureter adalah tabung/saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih.
Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, menuju distal & bermuara pada vesica urinaria.
Persarafan ureter oleh plexus hypogastricus inferior T11- L2 melalui neuron-neuron
simpatis. Terdiri dari 2 ductus muscularis, masing masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang 0,5 cm.
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali
yang akan mendorong urin masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Gerakan
peristaltik mendorong urin melalui ureter yang di ekskresikan oleh ginjal dan
disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum ureteris masuk ke dalam kandung
kemih.

c. Vesica Urinaria
Disebut juga bladder/kandung kemih. Vesica urinaria merupakan kantung berongga
dengan dinding muskular yang kuat yang dapat diregangkan dan volumenya dapat
disesuaikan dengan mengubah status kontraktil otot di dindingnya. Secara berkala urin
dikosongkan dari kandung kemih ke luar tubuh melalui ureter. Organ ini mempunyai
fungsi sebagai reservoir urine (200 - 400 cc).
Fungsi vesica urinaria:
(1) Sebagai tempat penyimpanan urine
(2) Mendorong urine keluar dari tubuh.

d. Uretra

7
Merupakan saluran keluar dari urin yang berpangkal pada kandung kemih. Panjangnya
4 cm dengan diameter 6 mm. Uretra feminine berjalan anteroinferior dari ostium uretra
internum hingga ostium uretra externum. Otot disekitar ostium uretra externum diliputi
m.spinchter uretra externus dan oto dasar panggul. Muara uretra pada wanita terletak
anterior terhadap vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran
ekskresi.

2.1.2 Fisiologi Berkemih

Berkemih (Miksi) adalah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi urin. Miksi
melibatkan dua tahap utama:
1. Kandung kemih terisi secara progresif hingga pada tegangan pada dindingnya meningkat
melampaui nilai ambang batas; pada tahap ini akan mencetuskan tahap kedua.
2. Reflex miksi, reflex yang akan mengosongkan kandung kemih, atau, jika gagal
setidaknya akan menyebabkan keinginan berkemih yang disadari. Meskipun reflex ini
merupakan reflex medulla spinalis yang bersifat otonom, reflex ini dapat dihambat atau
difasilitasi oleh pusat-pusat di korteks serebri atau batang otak4.

Kandung kemih merupakan suatu ruang otot polos yang terdiri atas dua bagian utama.
Pertama, bagian korpus yang merupakan tempat pengumpulan urin. Bagian kedua, leher yang
berbentuk corong, yang merupakan perpanjangan dari bagian korpus kandung kemih, berjalan
kebawah dan berhubungan dengan uretra. Otot polos kandung kemih disebut otot detrusor,
dimana saat berkontraksi terjadi peningkatan tekanan di dalam kandung kemih hingga 40-60
mmHg. Jadi kontraksi otot detrusor merupakan tahap utama pada proses pengosongan kandung
kemih. Cara kerja otot detrusor adalah menyebarkan potensial aksi ke seluruh otot, dari satu sel
ke sel lain, menyebabkan kontraksi kandung kemih pada saat yang bersamaan.
Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan rangkaian
koordinasi proses fisiologik berurutan yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 fase yaitu fase
pengisian dan fase pengosongan. Pada fase pengisian kandung kemih, terjadi peningkatan
aktivitas saraf otonom simpatis yang menyebabkan penutupan katup leher kandung kemih,
relaksasi dinding kandung kemih, serta penghambatan saraf parasimpatis dan mempertahankan

8
inervasi somatik pada otot dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktifitas simpatis dan somatik
menurun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi otot detrusor dan
pembukaan leher kandung kemih. Pada proses berkemih melibatkan mekanisme volunter dan
involunter. Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada di bawah kontrol volunter dan
disuplai oleh nervus pudendus, sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter uretra
internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom, yang mungkin dimodulasi oleh korteks
otak.

Gambar 2-1 Kandung kemih dan Persarafannya

Kontraksi kandung kemih disebabkan oleh aktifitas parasimpatis yang dipicu oleh
asetilkolin pada reseptor muskarinik. Sfingter uretra internal menyebabkan uretra terturup,
sebagai akibat kerja aktivitas saraf simpatis yang dipicu oleh noradrenalin. Ketika kandung
kemih mulai terisi oleh urin, rangsang saraf diteruskan melalui saraf pelvis dan medula spinalis
ke pusat saraf kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada ganglia basalis dan serebelum)
menyebabkan kandung kemih berelaksasi sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang
mengalami desakan berkemih. Ketika pengisian kandung kemih berlanjut, rasa pengembungan
kandung kemih disadari, dan pusat kortikal (pada lobus frontal), bekerja menghambat
pengeluaran urin. Ketika terjadi desakan berkemih, rangsang saraf dari korteks disalurkan
melalui medula spinalis dan saraf pelvis ke otot detrusor. Otot detrusor berkontraksi sehingga
terjadi pengosongan kandung kemih (Gambar 2-2).

9
Gambar 2-2 Proses pada fase pengisian dan fase pengosongan

Gangguan pada pusat kortikal dan subkortikal karena obat atau penyakit dapat
mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin. Komponen penting dalam mekanisme
sfingter adalah hubungan urethra dengan kandung kemih dan rongga perut. Mekanisme sfingter
berkemih memerlukan agulasi yang tepat antara urethra dan kandung kemih. Fungsi sfingter
urethra normal juga tergantung pada posisi yang tepat dari urethra sehingga dapat meningkatkan
tekanan intraabdomen secara efektif ditrasmisikan ke ureter. Bila uretra pada posisi yang tepat,
urin tidak akan keluar pada saat tekanan atau batuk yang meningkatkan tekanan intraabdomen.
Setelah urin dari kandung kemih kosong, otot sfingter uretra dan otot pelvis berkontraksi
kembali, menutup uretra, dan otot kandung kemih berelaksasi.
Pada orang dewasa volume urine normal dalam kandung kemih yang mengawali reflek kontraksi
adalah 300-400 ml. Didalam otak terdapat daerah perangsangan untuk berkemih di pons dan

10
daerah penghambatan di mesensefalon. Kandung kemih dapat dibuat berkontraksi walau hanya
mengandung beberapa milliliter urine oleh perangsangan volunter reflek pengosongan spiral.
Orang dewasa dengan kandung kemih yang normal, yang minum 2 L cairan per hari, umumnya
akan berkemih 4-7 kali sehari (setiap 3-4 jam). Rata-rata, setiap orang akan berkemih sebanyak
250-500 mL urin setiap kalinya.

Gambar 2-3 Proses Berkemih

2.2 Perubahan Saluran Kemih pada Lansia

Berbagai perubahan anatomis dan fisiologis terjadi pada orang tua. Perubahan-perubahan
tersebut berkaitan dengan penurunan kadar estrogen pada perempuan. Pada dinding kandung
kemih terjadi peningkatan fibrosis dan kandungan kolagen, sehingga menyebabkan fungsi
kontraktil tidak efektif lagi dan dapat menyebabkan peningkatan volume residu. Selain itu juga
terjadi atrofi mukosa, perubahan vaskularisasi submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra,

11
sehingga terjadi penurunan tekanan penutupan uretra. Terjadi penurunan kapasitas penampungan
kandung kemih, maka dengan jumlah urin yang sedikit pun dapat memicu reflek ingin berkemih.
Dasar panggul mempunyai peran penting dalam mempertahankan miksi. Melemahnya
fungsi dasar panggul disebabkan berbagai faktor fisiologis dan patologis (trauma, operasi).
Perubahan fisiologis dasar tercantum pada tabel di bawah ini :

Tabel pada
Perubahan-perubahan fisiologik terkait Proses Menua 2-1 Perubahan Fisiologik
Saluran Kemih BawahSaluran Kemih Pada Lansia
Kandung Kemih Perubahan Fisiologis
Kapasitas
Kemampuan menahan kencing
Kontraksi involunter
Volume residu setelah berkemih
Uretra Perubahan Morfologis
Komponen seluler
Deposit kolagen
Perubahan Fisiologis
Tekanan penutupan
Vagina Komponen seluler
Mukosa atrofi
Dasar Panggul Deposit kolagen
Rasio jaringan ikat-otot
Otot melemah
Secara keseluruhan perubahan akibat proses menua pada sistem urogenital menyebabkan
posisi kandung kemih prolaps sehingga melemahkan tekanan akhiran kemih keluar.

Gambar 2-4 Perubahan Fisiologi Saluran kemih pada Lansia

12
2.3 Inkontinensia Urin
Menurut International Continence Society, inkontinensia urin adalah keluhan berkemih
tanpa disadari (involunter) akibat gangguan fungsi saluran kemih bagian bawah yang dipicu oleh
sejumlah penyakit sehingga menyebabkan pasien berkemih pada situasi yang berbeda. Biasanya
orang awam menyebutnya dengan beser atau mengompol. Bataasan inkontinensia adalah
pengeluaran urin tanpa disadari, dalam jumlah dan frekuensi yang cukup hingga mengakibatkan
masalah gangguan kesehatan dan social.

Inkontinensia urin merupakan salah satu masalah dibidang geriatric dan merupakan
masalah yang kompleks. Pasien inkontinensia urin sering mengalami masalah social, psikologik,
fisik seperti gangguan tidur, depresi, berkurangnya interaksi social, aktivitas social dan aktivitas
fisik. Selain itu juga, secara tidak langsung dapat menyebabkan decubitus, infeksi saluran kemih
berulang, jatuh, dan biaya perawatan yang tinggi.

Gangguan berkemih pada usia lanjut tidak hanya disebabkan karena abnormalitas
mekanisme neurologis yang mengatur saluran kemih bawah seperti pada penyakit system saraf
pusat (e.g gangguan serebrovaskular) dan diabetes mellitus, tapi juga disebabkan karena
beberapa perubahan fisiologis kandung kemih akibat menua.

2.3.1 Penyebab dan Faktor Risiko Inkontinensia Urin

Usia tua seringkali memiliki kondisi medic yang dapat mengganggu proses berkemih
yang secara lagsung mempengaruhi fungsi saluran berkemih, perubahan status volume dan
ekskresi urin, atau gangguan ke jamban. Inkontinensia urin dikaitkan dengan demensia, depresi,
Parkinson, gagal jantung, stroke, obesitas, ISK, batuk kronik dan gangguan mobilitas. Tiga
factor risiko yang dapat dimodifikasi dan berhubungan secara bermakna dengan inkontinensia
urin, yaitu infeksi saluran kemih, keterbatasan aktivitas, dan factor gangguan lingkungan.
Penyebab inkontinensia urin Adanya perubahan fisiologis saluran kemih akibat proses
menua, orang tua akan lebih mudah mengalami inkontinensia urin bila terdapat factor pencetus
lainnya seperti infeksi saluran kemih, obat-obatan, kesulitan bergerak dan lainnya (Gambar 2-5).

13
Gambar 2-5 Obat-obatan Penyebab Inkontinensia Urin

2.3.2 Patofisiologi

Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:


1. Perubahan yang terkait dengan usia pada sistem Perkemihan Vesika Urinaria (Kandung
Kemih). Kapasitas kandung kemih yang normal sekitar 300-600 ml. Dengan sensasi
keinginan untuk berkemih diantara 150-350 ml. Berkemih dapat ditundas 1-2 jam sejak
keinginan berkemih dirasakan. Ketika keinginan berkemih atau miksi terjadi pada otot
detrusor kontraksi dan sfingter internal dan sfingter ekternal relaksasi,yang membuka
uretra. Pada orang dewasa muda hampir semua urine dikeluarkan dengan proses ini.Pada
lansia tidak semua urine dikeluarkan, tetapi residu urine 50 ml atau kurang dianggap
adekuat. Jumlah yang lebih dari 100 ml mengindikasikan adanya retensi urine.Perubahan
yang lainnya pada peroses penuaan adalah terjadinya kontrasi kandung kemih tanpa
disadari. Wanita lansia, terjadi penurunan produksi esterogen menyebabkan atrofi jaringan

14
uretra dan efek akibat melahirkan mengakibatkan penurunan pada otot-otot dasar (Stanley
M & Beare G Patricia, 2006).
2. Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih. Terjadi
hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam
kandung kemih sampai kapasitas berlebihan. Fungsi sfingter yang terganggu
menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin.

2.3.3 Klasifikasi Inkontinensia Urin

Inkontinensia Urin Akut


Inkontinensia yang terjadi secara akut memiliki onset yang mendadak, reversible, biasanya
dihubungkan dengan penggunaan obat-obatan atau penyakit akut. Inkontinensia akan membaik,
bila penyakit akut yang diderita sembuh atau obat penyebab dihentikan. Untuk mempermudah
mengingat penyebab inkontinensia urin akut reversible dapat menggunakan akronim (Resnick
1984) di bawah ini :
D : Delirium
I : Infection of urinary tract or other infection
A : Atrophic urethritis and vaginitis
P : Pharmaceutical (diuretics, anticholinergic, antihistamine, Ca channel blocker)
P : Psychological Problems, especially depression
E : Excess urine output (eg. congestive heart failure, hyperglycaemia)
R : Restricted mobility
S : Stool impaction
Atau dapat juga digunakan akronim DRIP, yang merupakan kependekan dari (Kane dkk,
dalam Buku Ajar geriatri Boedhi-Darmojo) :

D : Delirium

R : Retriksi mobilitas

I : Infeksi, Inflamasi, Impaksi feses

P : Pharmasi (obat-obatan), Poliuria

15
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi ke toilet
sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi maka inkontinensia urin
umumnya juga akan teratasi. Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat memicu
timbulnya inkontinensia urin fungsional atau memburuknya inkontinensia persisten, seperti
fraktur tulang pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.

Resistensi urin karena obat-obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula menyebabkan
inkontinensia urin. Keadaan inflamasi pada vagina dan urethra (vaginitis dan urethritis) mungkin
akan memicu inkontinensia urin. Konstipasi juga sering menyebabkan inkontinensia akut.

Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya inkontinensia


urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan insufisiensi vena dapat menyebabkan
edema dan nokturia yang kemudian mencetuskan terjadinya inkontinensia urin nokturnal.
Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti Calcium
Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic narcotic, psikotropik, antikolinergik dan
diuretic.

Inkontinensia Urin Persisten

Inkontinensia urin persisten atau kronik/menetap, dapat diklasifikasikan dalam berbagai


cara, meliputi anatomi, patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis, klasifikasi
klinis lebih bermanfaat karena dapat membantu evaluasi dan intervensi klinis.

a. Inkontinensia tipe stress (stres incontinence)

Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan intraabdominal, seperti pada
saat batuk, bersin atau berolah raga. Umumnya disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul,
merupakan penyebab tersering inkontinensia urin pada lansia di bawah 75 tahun. Lebih sering
terjadi pada wanita tetapi mungkin terjadi pada laki-laki akibat kerusakan pada sfingter urethra

16
setelah pembedahan transurethral dan radiasi. Pasien mengeluh mengeluarkan urin pada saat
tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin yang keluar dapat sedikit atau banyak.

b. Inkontinensia tipe urgensi (urgency incontinence)

Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan berkemih.
Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan kontraksi detrusor tak terkendali
(detrusor overactivity). Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia urin
urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis. Pasien
mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk berkemih
sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia tipe urgensi ini merupakan penyebab
tersering inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi inkontinensia urgensi adalah
hiperaktifitas detrusor dengan kontraktilitas yang terganggu. Pasien mengalami kontraksi
involunter tetapi tidak dapat mengosongkan kandung kemih sama sekali. Mereka memiliki gejala
seperti inkontinensia urin stress, overflow dan obstruksi. Oleh karena itu perlu untuk mengenali
kondisi tersebut karena dapat menyerupai ikontinensia urin tipe lain sehingga penanganannya
tidak tepat.

c. Inkontinensia tipe luapan / overflow (overflow incontinence)

Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi kandung kemih yang
berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis, seperti pembesaran prostat, faktor
neurogenik pada diabetes melitus atau sclerosis multiple, yang menyebabkan berkurang atau
tidak berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor obat-obatan. Pasien umumnya mengeluh
keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung kemih sudah penuh.

d. Inkontinensia tipe fungsional

Memerlukan identifikasi semua komponen tidak terkendalinya pengeluaran urin akibat


faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab tersering adalah demensia berat, masalah

17
muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan kesulitan untuk pergi ke kamar
mandi, dan faktor psikologis.

2.3.4 Diagnosis

a. Anamnesis
Pada inkontinensia urin, pasien datang dengan keluhan sering tidak dapat menahan kencing
sehingga sering kencing dicelana sebelum sampai ke kamar mandi. Passien juga mengatakan
kadang saat tertawa terbahak, tanpa sadar terkencing-kencing. Sedangkan penyakit jantung,
darah tinggi, kencing manis sebelumnya tidak ada.
b. Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik adalah mengenali pemicu inkontinensia urin dan membantu
menetapkan patofisiologinya. Selain pemeriksaan fisik umum yang selalu harus dilakukan,
pemeriksaan terhadap abdomen, genitalia, rectum, fungsi neurologis, dan pelvis (pada wanita)
sangat diperlukan.
Pemeriksaan abdomen harus mengenali adanya kandung kemih yang penuh, rasa nyeri,
massa, atau riwayat pembedahan. Kondisi kulit dan abnormalitas anatomis harus diidentifikasi
ketika memeriksa genitalia. Pemeriksaan rectum terutama dilakukan untuk medapatkan adanya
obstipasi atau skibala, dan evaluasi tonus sfingter, sensasi perineal, dan refleks bulbokavernosus.
Nodul prostat dapat dikenali pada saat pemeriksaan rectum. Pemeriksaan pelvis mengevaluasi
adanya atrofi mukosa, vaginitis atrofi, massa, tonus otot, prolaps pelvis, dan adanya sistokel atau
rektokel.
Evaluasi neurologis sebagian diperoleh saat pemeriksaan rectum ketika pemeriksan sensasi
perineum, tonus anus, dan refles bulbokavernosus. Pemeriksaan neurologis juga perlu
mengevaluasi penyakit-penyakit yang dapat diobati seperti kompresi medula spinalis dan
penyakit parkinson. Pemeriksaan fisik seyogyanya juga meliputi pengkajian tehadap status
fungsional dan kognitif, memperhatikan apakah pasien menyadari keinginan untuk berkemih dan
mengunakan toilet.
c. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Ouslander, tes diagnostik pada inkontinensia perlu dilakukan untuk
mengidentifikasi faktor yang potensial mengakibatkan inkontinensia, mengidentifikasi
kebutuhan klien dan menentukan tipe inkontinensia. Mengukur sisa urin setelah berkemih,

18
dilakukan dengan cara setelah buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter
diukur atau menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti
pengosongan kandung kemih tidak adekuat. Pemeriksaan urinalisis dilakukan terhadap spesimen
urin yang bersih untuk mendeteksi adanya faktor yang berperan terhadap terjadinya
inkontinensia urin seperti hematuri, piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik
lanjutan perlu dilanjutkan bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut
adalah:
- Laboratorium tambahan
Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk menentukan
fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria. Tes laboratorium tambahan
seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosasitol.
- Tes urodinamik
Untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian bawah. Uji urodinamik
sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat mahal. Sisa-sisa urin pasca
berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisis. Pengukuran yang spesifik dapat
dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi urin. Merembesnya urin pada saat
dilakukan penekanan dapat juga dilakukan. Evaluasi tersebut juga harus dikerjakan
ketika kandung kemih penuh dan ada desakan keinginan untuk berkemih. Diminta
untuk batuk ketika sedang diperiksa dalam posisi litotomi atau berdiri. Merembesnya
urin seringkali dapat dilihat. Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat pertama
ada keinginan berkemih, ada atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak
terkendali, dan kapasitas kandung kemih.
- Tes tekanan urethra
Mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat dianmis.
- Radiologi
Imaging --> tes terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.

Selain itu pemeriksaan penunjang inkontinensia urine menurut (Soeparman&Waspadji S,


2001) adalah Catatan Berkemih (voiding diary) dimana tujuan dilakukan diari ini untuk
mengetahui pola berkemih (Gambar 2-6). Catatan ini digunakan untuk mencatat waktu dan
jumlah urin saat mengalami inkontinensia urine dan tidak inkontinensia urine, dan gejala

19
berkaitan denga inkontinensia urine. Pencatatan pola berkemih tersebut dilakukan selam 1-3
hari. Catatan tersebut dapat digunakan untuk memantau respons terapi dan juga dapat dipakai
sebagai intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien faktor pemicu.

2.3.5 Penatalaksanaan Gambar 2-6 Contoh Catatan Berkemih


(Diary voiding)

Penatalaksanaan pada inkontinensia urin kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan
terapi konservatif. Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling populer,
selain itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan pemakaian alat mekanis. Tujuan dari
penatalaksanaan inkontinensia urin adalah untuk mengurangi faktor resiko, mempertahankan
homeostasis, mengontrol inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis
dan pembedahan.
Dari beberapa hal tersebut di atas, dapat dilakukan sebagai berikut :

20
a. Pemanfaatan kartu catatan berkemih yang dicatat pada kartu tersebut misalnya waktu
berkemih dan jumlah urin yang keluar, baik yang keluar secara normal, maupun yang
keluar karena tak tertahan, selain itu dicatat pula waktu, jumlah dan jenis minuman yang
diminum.
b. Terapi non farmakologi
Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya inkontinensia
urin, seperti infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun
terapi yang dapat dilakukan adalah : Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang
interval waktu berkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi
berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila
belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-
mula setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin berkemih
setiap 2-3 jam. Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai
dengan kebiasaan lansia. Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia
mengenal kondisi berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau
pengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan
fungsi kognitif (berpikir). Melakukan latihan otot dasar panggul dengan
mengkontraksikan otot dasar panggul secara berulang-ulang.
Adapun cara-cara mengkontraksikan otot dasar panggul tersebut adalah dengan
cara :
Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan terbuka, kemudian pinggul
digoyangkan ke kanan dan ke kiri 10 kali, ke depan ke belakang 10 kali. Gerakan
seolah-olah memotong feses pada saat kita buang air besar dilakukan 10 kali. Hal ini
dilakukan agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan urethra dapat tertutup dengan
baik.

c. Terapi farmakologi
Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah antikolinergik
seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine. Pada inkontinensia
stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan
retensi urethra. Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau
alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan
secara singkat.

21
d. Terapi pembedahan
Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila
terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe
overflow umumnya memerlukan tindakan pembedahan untuk menghilangkan retensi urin.
Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu, divertikulum, dan prolaps pelvic (pada
wanita).

e. Modalitas lain
Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan
inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang mengalami
inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter, dan alat bantu toilet seperti
urinal, komod dan bedpan.
Pampers

Dapat digunakan pada kondisi akut maupun pada kondisi dimana pengobatan sudah tidak
berhasil mengatasi inkontinensia urin. Namun pemasangan pampers juga dapat
menimbulkan masalah seperti luka lecet bila jumlah air seni melebihi daya tampung
pampers sehingga air seni keluar dan akibatnya kulit menjadi lembab, selain itu dapat
menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan alergi.

Kateter

Kateter menetap tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin karena dapat
menyebabkan infeksi saluran kemih, dan juga terjadi pembentukan batu. Selain kateter
menetap, terdapat kateter sementara yang merupakan alat yang secara rutin digunakan
untuk mengosongkan kandung kemih. Teknik ini digunakan pada pasien yang tidak dapat
mengosongkan kandung kemih. Namun teknik ini juga beresiko menimbulkan infeksi
pada saluran kemih.

Alat bantu toilet

22
Seperti urinal, komod dan bedpan yang digunakan oleh orang usia lanjut yang tidak
mampu bergerak dan menjalani tirah baring. Alat bantu tersebut akan menolong lansia
terhindar dari jatuh serta membantu memberikan kemandirian pada lansia dalam
menggunakan toilet.

f. Pemantauan Asupan Cairan


Pada orang dewasa minimal asupan cairan adalah 1500 ml perhari dengan rentan yang
lebih adekuat antara 2500 dan 3500 ml perhari dengan asumsi tidak ada kondisi
kontraindikasi. Lansia yang kontinen dapat membatasi asupan cairan secara tidak tepat
untuk mencegah kejadian-kejadian yang memalukan. Pengurangan asupan cairan
sebelum waktu tidur dapat mengurangi inkontinensia pada malam hari, tetapi cairan harus
diminum lebih banyak selama siang hari sehingga total asupan cairan setiap harinya tetap
sama.
2.3.6 Komplikasi

Inkontinensia urin dapat menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih, lecet pada area
bokong sampai dengan ulkus dekubitus karena selalu lembab, serta jatuh dan fraktur akibat
terpeleset oleh urin yang tercecer.

2.3.7 Prognosis

Inkontinensia urin tipe sterss biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar panggul,
prognesia cukup baik.
Inkontinensia urin tipe urgensi atau overactive blader umumnya dapat diperbaiki dengan
obat obat golongan antimuskarinik, prognosis cukup baik.
Inkontinensia urin tipe overflow, tergantung pada penyebabnya (misalnya dengan mengatasi
sumbatan / retensi urin).

23
24
Bab III

KESIMPULAN

Inkontinensia urin adalah keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan atau dikontrol,
secara obyektif dapat diperlihatkan dan merupakan suatu masalah sosial atau higienis.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik, dengan beberapa prosedur diagnostik yang
diperlukan mempunyai hasil yang baik untuk menegakkan diagnosis gangguan ini. Jenis
inkontinensia urine yang utama yaitu inkontinensia stres, urgensi, luapan dan fungsional.
Inkontinensia pada usia lanjut bukan merupakan kondisi normal , namun merupakan
faktor predisposisi terjadinya inkontinensia urin. Berbagai perubahan anatomis dan fisiologis
terjadi pada orang tua. Perubahan-perubahan tersebut berkaitan dengan penurunan kadar
estrogen pada perempuan.
Penatalaksanaan konservatif dilakukan pada kasus inkompeten sfingter uretra sebelum
terapi bedah. Bila dasar inkontinensia neurogen atau mental maka pengobatan disesuaikan
dengan faktor penyebab.

DAFTAR PUSTAKA

25
1. AAFP.Voiding diary. [online] 2013.
http://www.aafp.org/fpm/2013/0500/fpm20130500p24-rt4.pdf

2. Alex Gomelsky; Roger R Dmochowski.Urinary Incontinence in the Aging Female. Aging


Health. 2011;7(1):79-88.
3. Abrams P, et al. Guidelines on Urinary Incontinence. European Association of Urology.
2006.

4. Abrams P, Cardozo L, Fall M, et al: The standardization of terminology of lower urinary


tract infection: Report from the Standardization Sub-committee of the International
Continence Society. Neurourol Urodyn 2002; 21:167-178.
5. Cannon TW, Chancellor MB. Pharmacotherapy for Stress Urinary Incontinence. Reviews
in Urology. 2003;5(3):135-141
6. Darmojo R Boedhi, Martono H Hadi. Buku Ajar Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut.
hlm 177-188
7. Hudak, C. M. (1997). Keperawatan Kritis (Pendekatan Holistik). Jakarta: EGC.
8. Hall, Guyton. 2014. Guyton Dan Hall Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed 12. Jakarta:
Elsevier
9. Juniati, S. (2001). Keperawatan Gerontik, Koordinator Keperawatan Komunitas. Jakarta:
Fakultas Ilmu Keperawatan UI.
10. Kong TK. Clinical Guidelines on Geriatric Urinary Incontinence. Desember 2003

11. Mayoclinic. Bladder control problems: Medications for treating urinary


incontinence. [online] 2014. http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/urinary-
incontinence/in-depth/bladder-control-problems/art-20044220

12. Rebecca Anderson. Using a Voiding Diary Form Helps Overactive Bladder and
Incontinent Patients. [online] 2015. http://blog.cogentixmedical.com/using-a-voiding-
diary-form-helps-overactive-bladder-and-incontinent-patients
13. Richard W. Besdine, MD. Merck Manual. [online]. 2017.
http://www.merckmanuals.com/professional/geriatrics/approach-to-the-geriatric-
patient/physical-changes-with-aging

26
14. Santoso BI. Inkontinensia urin pada perempuan. MKI. 2008 Juli; vol 58(no.7): 258-64
15. Setiati S dan Pramantara IDP. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .Sudoyo AW et al. editor.
Jakarta : Interna Pulishing ;2009 : 865-875
16. Setiati S, Pramantara IDP. Buka ajar ilmu penyakit dalam. Inkontinensia urin dan
kandung kemih hiperaktif. Jilid I. Edisi ke-5. Jakarta: InternaPublishing; 2009: hal 865
75.
17. Soeparman, Waspadji Sarwono, Buku Ilmu Penyakit Dalam edisi 3, Balai penerbit FKUI
Jakarta, 2001 :127
18. Stanley, Mickey dan Patricia G. Beare. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2.
Jakarta: EGC
19. Supartondo, Setiati Siti.2003. Penatalaksanaan Pasien Geriatri dengan Pendekatan
Interdisiplin. Jakarta: FK UI
20. Therapeutic Brief 26 - The impact of commonly used medicines on urinary incontinence.
Mar 2011.
21. Urol IJ. Prevalence and risk factors of urinary incontinence in Indian women: A hospital-
based survey. Indian Journal of Urology. 2013; 29(1): 3136

27