Anda di halaman 1dari 61

1

BAB I

PENDAHULUAN

Pengenalan jenis dan klasifikasi unggas merupakan kegiatan mempelajari

pengelompokan unggas berdasarkan persamaan dan mengetahui karakteristik dari

unggas tersebut. Klasifikasi ayam ras dibedakan menjadi tiga yaitu berdasarkan

tujuan pemeliharaanya, berdasarkan buku The American Standard of Perfection

dan ayam ras atau buras, serta perbedaan unggas air dan unggas darat secara

fisiologis. Anatomi dan identifikasi ternak unggas dibutuhkan untuk mengenali

ciri dan fungsi organ untuk mengidentifikasi penyakit pada unggas. Anatomi

unggas terdiri dari anatomi sistem pecernaan, sistem pernafasan, sistem

reproduksi jantan, sistem reproduksi betina, sistem urinari, dan sistem kekebalan

tubuh.Produktifitas dapat dimaksimalkan dengan cara mengetahui pemberian

pakan dalam bentuk ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak unggas.

Ransum sendiri adalah campuran bahan makanan yang berfungsi untuk memenuhi

kebutuhan unggas selama 24 jam. Rasum yang baik mengandung sumber energi,

sumber protein, sumber mineral, sumber vitamin dan sumber zat aditif. Umumnya

terdapat dua sistem perkandangan yaitusistem kandang tertutup (closed house)

dimana keadaan dalam kandang dapat diatur sesuai kebutuhan, dan sistem

kandang terbuka (open house) dimana keadaan dalam kandang tergantung pada

kondisi lingkungan sekitarnya.

Tujuan dari praktikum Produksi Ternak Unggas adalah untuk

meningkatkan pengetahuan tentang klasifikasi atau taksonomi unggas ayam,


2

puyuh, merpati dan itik, perbedaan unggas darat dan unggas air, dapat mengetahui

karakteristik dari masing-masing organ dan fungsinya dan mengetahui penyakit

padaunggas,mengetahuicaradanmetodedalammemformulasikanransumternakungg

as dan mengetahui bentuk perkandangan yang baikuntuk unggas. Manfaat dari

Praktikum Produksi Ternak Unggas adalah mampu menjelaskan secara mendetail

ciri-ciri unggas puyuh, merpati, itik dan ayam, dapat memberi pencegahan dan

pengobatan pada unggas yang terjangkit penyakit, dapatmenyusunransum yang

tepatuntukternakunggas, serta dapat membuat kandang impian yang sesuai dengan

perkandangan yang baik.


3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas

Unggas adalah jenis ternak bersayap dari kelas Aves yang daur hidupnya

diatur manusia yang bertujuan untuk menambah nilai ekonomis (Yuwanta 2008).

Ayam pedaging, ayam petelur, ayam kampung, kalkun, itik, burung merpati dan

burung puyuh merupakan kelompok unggas (Murtidjo, 2006).

2.1.1. Klasifikasi Secara Internasional

Klasifikasi standart Internasional adalah pengelompokan jenis-jenis ayam

berdasarkan buku The American Standar of Perfection yang dikelompokan

berdasarkan ras, bangsa, varietas, dan strain (sdkk., 2011). Berdasarkan buku

standar terdapat sebelas kelas, namun hanya beberapa spesies yang telah

mengalami domestikasi, seperti Kelas Asia, Kelas Mediterania, Kelas Amerika

dan Kelas Inggris (Yuwanta, 2008).

Kelas Asia, memiliki ciri umum badan relatif besar, daun telinga

berwarna merah, kerabang berwarna coklat dan tumbuh bulu pada cakar seperti

bangsa ayam chocin, brahman dan langshan (Rahayu dkk, 2011). Bangsa ayam

kelas Asia terbentuk karena pengaruh lingkungan sekitarnya secara alami, bukan

sengaja dibentuk oleh peternak tertentu (Sudrajat, 2002).


4

Kelas Mediterania, ciri umum ukuran badan relatif kecil dan cakar tidak

berbulu seperti bangsa ayam ancona, leghorn dan minorca (Sudrajat, 2002). Kelas

mediterania berasal dari Italia dan daerah Laut Tengah (Susilorini dkk., 2008)

Kelas Amerika, memiliki ciri umum kerabang telur berwarna coklat,

kulit kuning dan cakar tidak berbulu seperti bangsa ayam plymounth rock

dan rhode island (Yuwanta, 2008). Kelas ini dikembangkan di benua Amerika.

Nenek moyangnya berasaldari bangsa ayam dari Asia (Susilorini dkk., 2008).

Kelas Inggris, memiliki ciri umum kulit putih, kulit telur

coklat dan cakar tidak berbulu seperti bangsa ayam cornish dan

ausralorp (Rahayu dkk., 2011). Semua bangsa ayam yang termasuk kelas Inggris

memiliki kulit telur berwarna coklat, kecuali ayam Dorking (Sudrajat, 2002).

2.1.2. Klasifikasi Berdasar Tujuan Pemeliharaan

Berdasarkan tujuan pemeliharaan atau nilai ekonomisnya, dikenal 4 tipe

yaitu tipe pedaging, tipe petelur, tipe dwiguna, dan tipe hias (fancy). Tipe

pedaging adalah ayam yang sangat efisien dalam menghasilkan daging. Umumnya

ayam pedaging memiliki ciri umum bentuk badan besar, gerakannya lambat dan

kemampuan bertelurnya rendah (Sudrajat, 2002). Tipe petelur khusus

menghasilkan telur dengan ciri umum badan langsing dan menghasilkan telur

200 300 per tahun (Rahayu dkk., 2011).

Tipe dwiguna efisien dalam menghasilkan telur dan daging yang

umumnya sifat-sifat dari ayam tipe dwiguna berada di antara sifat ayam tipe

petelur dan ayam tipe pedaging yaitu badanya besar dan menghasilkan telur
5

banyak (Yuwanta, 2008). Tipe hias (fancy) dipelihara untuk dijual biasanya harga

jualnya tinggi karena keistimewaan yang dimiliki unggas tersebut seperti

keindahan bentuk, kemerduan suaranya dan kekuatanya (Rahayu dkk., 2011).

2.1.3. Unggas Darat

Unggas darat memiliki ciri-ciri bentuk jari-jari pada cakarnya terpisah

dan tidak memiliki selaput pada sela-sela jari cakarnya yang terdapat pada

unggas air (Hamdan dkk., 2011). Jengger yang terdapat pada ayam jantan

berukuran lebih besar, bergerigi dan berdiri tegak juga memiliki pial yang

berukuran sedang dan berwarna cerah sedangkan pada ayam betina jengger

berukuran lebih kecil, tebal, tegak dan berwarna merah cerah serta memiliki pial

yang lebih kecil dan memiliki warna merah cerah (Cahyono, 2011).

2.1.3.1. Ayam

Ayam memiliki banyak jenis dan macamnya salah satunya yaitu ayam

buras yang memiliki jenis yaitu ayam kampung. Ayam kampung memiliki

bentuk badan yang kecil dan memiliki bulu warna putih, cokelat, hitam,

kuning kemerahan, kuning taupun kombinasi (Cahyono, 2011). Tipe ayam

pedaging banyak juga dibudidayakan di Indonesia karena memiliki

karakteristik bentuk tubuh yang relatif besar, tidak gampang stress atau

lebih tenang, memiliki pertumbuhan yang cepat serta produksi telur yang

dihasilkan rendah (Suprjatna dkk., 2005).


6

2.1.3.2. Puyuh

Burung puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran

tubuh relatif kecil, berkaki pendek. Puyuh merupakan salah satu unggas darat.

Unggas puyuh tidak dapat terbang dalam waktu yang lama tapi mampu berlari

kencang dan terbang dalam jarak dekat jika didekati. Puyuh jantan lebih kecil dari

puyuh betina. Puyuh jantan dewasa bulu dadanya berwarna hitam, sedangkan

puyuh betina bulu dadanya berwarna coklat terang dan terdapat totol coklat di

bagian dada (Wuryadi, 2011). Puyuh dapat dibedakan jenis kelaminnya

pada umur 3 minggu berdasarkan warna bulunya. Puyuh akan mencapai

dewasa kelamin pada umur 6 minggu dan akan segera memulai

periode bertelur (Hanafiah, 2013).

2.1.3.3. Merpati

Burung Merpati atau Columba domestica merupakan salah satu dari class

aves. Burung ini termasuk hewan berdarah panas dan berkembang biak dengan

ovipar atau bertelur. Columba domestica mampu mengenal habitatnya. Ketika

burung dilepas maka ia akan kembali ke sarangnya (Storer dan Usinger, 1978).

Perbedaan karakteristik bentuk kepala pada merpati jantan dan betina yaitu pada

merpati jantan permukaan kepalanya terlihat kasar dan terlihat lebih maskulin

sedangkan merpati betina permukaan kepalanya terlihat lebih rata danlebih

halus (Tanudimandja, 1978).

Perbedaan bentuk paruh pada merpati jantan dan betina yaitu pada merpati

jantan permukaan paruh lebih terlihat kering dan lancip sedangkan paruh pada
7

merpati betina lebih tipis dan panjang serta ujung paruh lebih melengkung

kebawah (Sutejo, 1998). Membedakan merpati jantan dan betina dapat dibedakan

dengan cara memegang badan merpati dengan benar, posisikan badan horizontal,

lalu luruskan leher merpati secara vertikal, bila bentuk leher darikepala sampai

badan sama sama besar dapat dipastikan merpati jantan namun bila bentuk leher

merpati agak menyempit ditengah adalah merpati betina dan warna bulu leher

merpati jantan lebih berkilau dibandingkan merpati betina (Tanudimandja, 1978).

2.1.4. Unggas Air

Unggas air memiliki sifatkhasyang tidak dimiliki oleh unggas darat yaitu

bersifat omnivorous, yaitu hewan pemakan bijibijian, rumputrumputan, umbi-

umbian dan makanan yang berasal dari hewan (Rasyaf, 2011). Unggas air juga

memiliki timbunan lemak yang terdapat di bagian bawah kulit berfungsi sebagai

insulator sehingga itik tahan dingin walaupun berada dalam air untuk jangka

waktu yang cukup lama (Ranto dan Sitanggang, 2005)

2.1.4.1. Itik

Itik termasuk dalam kelas Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub

family Anatinae, dan genus Anas. Ordo Anseriformes mempunyai family antara

lain Anatidae, subfamily Anatinae dan Anserinae. Anatinae menurunkan genus

Anas dan Cairina yang masing-masing menurunkan spesies itik yaitu

Anasplathyrynchos (Yuwanta, 2004). Itik petelur merupakan jenis itik yang

memilikikarakteristikekonomisebagaipenghasil telur yang baik


8

karenamenghasilkan telur lebih banyak daripada jenis pedaging.Adapunjenis-

jenisdariitikadalah Indian Runner, Khaki Campbell, Buff Orpington, Cayuga,

Cherry Valley, AnasJavanicaatau yang seringdisebutitikJawa (Suprijatna 2008).

Bulubulu pada itik tebaldanberminyak karena berfungsiuntuk agar air

tidak masuk kedalam tubuh serta bentuk kaki itiklebihpendek dari unggas

darat (Martawijaya, 2005). Itik memiliki ciri khusus pada bagian kakinya yaitu

lebih pendek daripada unggas darat dan diantara jari kaki terdapatselaput

renang(Suharno, 2006). Itik memilkiselaputrenang karena berguna untuk

membantuitikberjalan ketika berada di air, paruh itik ditutupioleh

selaputhalus yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk, dan daging itik

tergolong gelap (Septyana, 2008).

2.2. Anatomi dan Identifikasi Ternak Unggas

Anatomi ternak unggas sangat penting karena digunakan untuk

memahami fungsi dan siklus selama pertumbuhan, memahami syarat hidup

dan ancaman penyakit, mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan

karakter masing-masing (Yaman, 2012). Hampir semua permukaan tubuh

unggas ditumbuhi bulu dari daerah kepala, leher, dada, bahu, punggung,

sayap, perut, paha, kaki, dan ekor kecuali daerah paruh, mata dan kaki

bagian bawah yang salah satu fungsinya adalah untuk menjaga suhu tubuh dan

melindungi dari temperatur ekstrim (Roni dan Polana, 2004). Fisiologi hewan

merupakan ilmu yang mempelajari fungsi normal tubuh hewan dengan berbagai
9

macam gejala yang muncul pada suatu sistem serta semua fungsinya dalam sistem

tersebut (Isnaeni, 2010).

2.2.1. Sistem Pencernaan

Organ pencernaan pada unggas terdiri dari paruh, kerongkongan,

tembolok, proventriculus, ventriculus, duodenum, jejenum, illeum, sekum, usus

besar dan kloaka serta pendukung sistem pencernaan seperti pankreas, empedu,

limpa dan hati (Sinuratdkk., 2014).Organ-organ pencernaan berbeda sesuai

fungsinya masing-masing, yaitu esofagus untuk mentransportasikan pakan dari

paruh ke tembolok, tembolok untuk menyimpan pakan sementara, proventriculus

untuk mencerna kimiawi dibantu dengan enzim pepsin dan asam lambung,

ventriculus/gizard untuk mencerna secara mekanik dibantu grit yang berfungsi

seperti gigi, usus kecil untuk pemecahan protein, pemecahan lemak dan

pemecahan karbohidrat agar dapat diserap, usus besar untuk penyerapan air yang

berlebihan, sekum untuk memecah serat yang masih kasar dan kloaka untuk

membuang feses (Kartadisastra, 2012).

Rataan presentase gizzard pada ternak unggas berkisar antara

1,6% - 2,3% (32,50 gram) dari berat hidupnya (Sturke, 2002). Perbedaan

presentase gizzard disebabkan karena perbedaan bentuk fisik pakan sehingga

mempengaruhi ukuran gizzard, besar kecilnya gizzard dipengaruhi oleh

aktifitasnya dalam mencerna pakan yang diperoleh (Tulidkk., 2014).

Unggas yang sehat bebas dari penyakit, nafsu makan dan

minum baik, bulu cerah, tidak kusam dan penuh, anus bersih dengan
10

tidak adanya kotoran atau pasta putih dan berat badan sesuai dengan standar

stainnya (Roni dan Polana, 2004). Ayam terkena penyakit helicopter disease maka

akan muncul gejala diare, gangguan syaraf, gangguan pertumbuhan, pembesaran

proventiculus, perubahan pankreas, timus, tulang, kehilangan

pigmen pada kulit kaki, usus pucat berisi mukus berwarna kuning

kemerahan (Tabbu, 2012).

2.2.2. Sistem Pernafasan

Sistem pernafasan pada unggas berbeda dengan sistem pernafasan pada

mamalia, perbedaan tersebut ada pada paru-paru yang berhubungan langsung

dengan kantong udara dan rongga pada tulang tulang. Urutan sistem pernafasan

unggas dari luar ke dalam yaitu lubang hidung, glottis, laring, trakea, syrinx,

bronkus, dan paru-paru (Yuwanta, 2004). Unggas memiliki sistem kantong udara

yang berfungsi untuk menampung udara, kantong udara juga berfungsi untuk

mekanismen pendinginan bagi tubuh unggas apabila kelembaban dikeluarkan

melalui pernafasan yang berupa uap air (Suprijatna dkk.,2008). Paru-paru kiri

unggas terlihat lebih lebar dan tipis dibandingkan dengan paru-paru kanan. Hal

tersebut karena posisi anatomi jantung bagian atrium kiri menekan paru-paru kiri

unggass (Syafirdi, 2007).

Paruparu ayam bentuknya berlobus dan memiliki berat normal sekitar 40-

60 gram. Apabila paruparu berukuran terlalu besar maka bisa saja karena

berbagai penyakit atau terjadi akumulasi peradangan yang menimbulkan eksudat

berlebih (Marchelinda, 2011). Metabolismemembutuhkan suplai oksigenyang


11

lebih banyak, oksigen yang terikatdengan zat besi dalam darah akandiedarkan ke

seluruh tubuh. Dalam haltersebut membuat tingkat persaingan dalam

mendapatkan oksigen yang tinggi (Nurfaizin dkk., 2014).

Sistem pernafasan unggas sehat dapat diketahui dari kriteria sistem

pernafasan unggas lancar yaitu apabila unggas memiliki hidung dan mulut bersih,

tidak terdapat lendir dan kotoran, pernapasan ayam lancar, tidak ngorok, bersin

ataupun batuk.

2.2.3. Sistem Reproduksi Jantan

Organ reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis, duktus

epididimis, sepasang duktus deferen dan sebuah alat kopulasi yang disebut

phalus, yang seluruhnya terletak di dalam rongga perut (Toelihere, 1985).

Bentuk testis ayam yaitu bulat oval seperti kacang dengan warna pucat

kekuningan (Yuwanta, 2004). Testis merupakan tempat terjadinya proses

spermatogenesis yang menghasilkan sel-sel sperma yang berperan dalam

fertilisasi (Juan dkk.,2005).

Alat kopulasi berfungsi untuk memproduksi cairan transparan yang

bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi. Alat kopulasi pada ayam

berbentuk papilla dan alat kopulasi pada itik berbentuk spiral. Alat kopulasi pada

itik dan angsa memiliki organ yang berkembang lebih maju, yaitu berupa phallus

yang spiral berpilin (Rirgiyensi, 2014). Alat kopulasi mengalami rudimenter pada

ayam berupa papila (penis), kecuali pada itik berbentuk spiral dengan panjang

12 - 18 cm (Yuwanta, 2004).
12

Besar kecilnya ukuran testis tergantung dari beberapa faktor, salah satunya

adalah faktor pakan (Waty dkk.,2015). Produksi hormon dipengaruhi oleh

dipengaruhi oleh pakan dan cahaya, rumput laut mengandung mineral dan vitamin

E yang berguna untuk produksi hormon-hormon reproduksi pemacu kematangan

alat reproduksi yang lebih baik (Horhoruw, 2012).

2.2.4. Sistem Reproduksi Betina

Sistem reproduksi pada unggas betina terdiri atas organ-organ reproduksi

yang saling bersinergi satu sama lain. Organ-organ reproduksi unggas betina

diantaranya adalah ovarium, infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina, dan

kloaka (Horhoruw, 2012). Masing-masing organ reproduksi memiliki fungsi yang

berbeda. Ovarium memiliki fungsi menghasilkan gamet betina dan sebagai tempat

pembentukan kuning telur. Infudibulum memiliki fungsi untuk menangkap ovum

atau sel telur yang telah matang serta merupakan tempat terjadinya proses

fertilisasi. Magnum memiliki fungsi untuk mensintesis serta mensekresikan putih

telur serta merupakan bagian yang terpanjang dibandingkan dengan yang lain.

Isthmus memiliki fungsi untuk membentuk selaput telur atau membran yang

merupakan cangkang atau kerabang yang masih tipis. Uterus memiliki fungsi

sebagai tempat pembentukan kerabang atau penebalan kerabang serta memberi

warna kerabang. Vagina sebagai tempat terjadinya pembentukan kutikula. Kloaka

sebagai jalan keluar nya telur atau proses peneluran (Yuwanta, 2004).

Unggas yang mulai mengalami dewasa kelamin ditandai dengan

meningkatnya hormon estrogen serta folikel pada ovariumnya sudah mulai


13

berkembang (Wiradimadjadkk.,2007). Ukuran saluran reproduksi ditentukan oleh

hormon reproduksi seperti hormon estrogen dan androgen, dimana

hormon-hormon tersebut dapat dipengaruhi oleh cahaya dan pakan yang

didapat (Sidadolog, 2001). Bobot badan unggas untuk mencapai dewasa

kelamin dapat dipengaruhi oleh pakan yang dikonsumsi oleh unggas

tersebut (Sihombingdkk.,2006).

2.2.5. Sistem Urinari

Sistem urinari merupakan sistem pembuangan air dan hasil metabolisme

yang diatur dan disaring oleh ginjal. Hasil penyaringan air dan sisa

metabolik pada ginjal adalah asam urat yang dibuang bersama urine

dan fases (Yuwanta,2008). Organ yang termasuk sistem urinari antara lain ginjal,

ureter dan kloaka. Ginjal merupakan salah satu sistem urinari yang berfungsi

mengendalikan seluruh ekskresi bermacam-macam produk buangan dari dalam

dan membantu menyaring darah agar bebas toksin (Sahara, 2010). Sistem urinaria

ayam terdiri dari dua ginjal yang terletak di belakang paru-paru dan tiap ginjal

berhubungan dengan ureter yang dihubungkan dengan kloaka (Aini, 2008).

Ureter merupakan saluran yang berfungsi mengalirkan urine ke kloaka.

Kloaka tempat keluarnya ekskreta karena urodeuman dan koprodeum

berhimpitan, kloaka jalur keluarnya sistem urinari, sistem reproduksi dan sistem

pencernaan (Yuwanta, 2008). Ginjal pada ayam memiliki ukuran yang besar

karena ukuran glomerulus medula sebesar 110 x 100 m ( Marshall, 1960). Ginjal

burung memiliki ukuran 6% - 7% dari panjang tubuh dan terdiri dari medula
14

sekitar 42 x 32 m dan kortek 22 x 21 m (Nutriana dan Jatman, 2010). Ginjal

dikatakan normal apabila ginjal berwarna merah tidak pucat atau kehitaman dan

bentuk normal tidak kempis dan tidak membengkak ( Sahara dkk.,2013).

2.2.6. Sistem Kekebalan Tubuh

Sistem kekebalan spesifik atau yang lebih dikenal dengan sistem

kekebalan humoral, didalamnya terdapat makrofag menghasilkan sel limfosit yang

terbagi menjadi dua yaitu limfosit T dan B. Fungsi dari sel T yaitu

menghancurkan sel-sel asing yang masuk ke dalam tubuh unggas dengan cara

kontak langsung tanpa menghasilkan antibodi(Darmono, 2006).Sel B

memproduksi sel-sel yang berperan sebagai sel memori (memory cells). Produksi

antibodi dapat sebagai sel memori dan mampu menghancurkan sel yang terinfeksi

virus pertahanan terhadap infeksi ekstraselular virus dan bakteri serta menetralisir

toksinnya. (Rahmaningsih, 2016). Sistem kekebalan humoral unggas dicirikan

dengan antibodi yang diproduksi oleh sel B yang berada di bawah kontrol bursa

fabrisius. Bursa fabrisius berfungsi sebagai imunitas humoral, timus dan imunitas

seluler. Bursa fabrisius terletak pada dorsal kloaka yang merupakan tempat

pertautan kloaka dan kolon danmerupakan tempat diferensiasi pematangan sel

limfosit B (Hewajuli dan Dhamayanti, 2015).

Unggas yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik yaitu memiliki

Timus terletak berdekatan dengan saraf vagus hambatan respon kekebalan

sekunder dan vena jugularis pada leher. Timus mengecil dengan bertambahnya

umur, sebagai tanda maturitas sistem imun pada individu. Timus merupakan organ
15

untuk perkembangan limfosit T yang sudah matang lalu berpindah dari bagian

kortek ke medula timus, memasuki sirkulasi tubuh melalui pembuluh medulla

timus (Olh dan Vervelde, 2008).Tonsil merupakan suatu organ kompleks yang

terdiri dari jaringan epitel yang dikelilingi oleh jaringan limfoid. Organ tonsil

terletak antara esofagus dan proventrikulus, sebagai garis pertahanan pertama

(Olh dkk.,2003). Sel B berkembang dengan cepat pada unggas yang sehat

sehingga mempertcepat pengulangan respon tersebut. Jumlah sel limfosit B dalam

keadaan normal berkisar antara 10 dan 15%. Imunisasi aktif atau vaksinasi aktif

yaitu memberikan antigen tertentu kepada hewan untuk membentuk kekebalan

protektif terhadap penyakit tersebut (Islam, 2013).

2.3. Formulasi Ransum Ternak Unggas

Kebutuhan nutrisi itik merupakan jumlah zat makanan yang dibutuhkan

untuk melakukan aktivitas hidupnya, kebutuhan nutrisi pada masing-masing fase

pertumbuhan berbeda-beda tergantung fase pertumbuhannya (Supriyadi, 2009).

Kebutuhan protein pada itik periode starter sebesar 22%, pada itik periode grower

sebesar 16%, dan pada itik periode finisher sebesar 15% (NRC, 1994).

Bahan makanan sumber energi merupakan porsi terbesar dalam

penyusunan ransum. Sumber energi yang banyak digunakan adalah jagung

kuning, bungkil kelapa, minyak atau lemak hewan, bekatul, tepung tapioka dan

lain lain. Susunan ransum pada produksi telur adalah 40 70 % terdiri dari jagung

kuning guna pembentukan kuning telur dan sisanya pakan hijauan sebagai

pelengkap (Rasyaf, 2011). Ayam makan hanya untuk aktivitas (memenuhi


16

kebutuhan energinya maka apabila energi sudah terpenuhi, ayam akan berhenti

makan (Rasyaf, 2007)

Protein memiliki banyak fungsi diantaranya adalah untuk membentuk

jaringan tubuh, memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, memenuhi kebutuhan

produksi, dan untuk mempertahankan jaringan bulu (Zulfanita, 2011). Kelebihan

protein menyebabkan penuruna pertumbuhanbsehingga penyimpanan lemak tubuh

juga berkurang, meningkatnya asam urat dalam darah, dan dapat menimbulkan

stress, sedangkan kekurangan protein menyebabkan kelebihan enegi sehingga

menyebabkan penimbunan lemak (Iskandar dkk., 2001).

Sumber vitamin dan mineral yang sering digunakan adalah tepung kerang,

tepung tulang, vitamin mix dan lain lain yang mensuplai Ca dan P guna

pembentukan kulit telur unggas dengan tingkat produksi tinggi (Rasyaf, 2011).

Unsur unsur mineral biasanya berbentuk garam garam mineral seperti kapur,

natrium, klorida, besi dan magnesium. Kegunaan vitamin dan mineral adalah

untuk pertumbuhan, pembentukan tulang, bereproduksi, dan meningkatkan daya

tahan tubuh (Sudrajad, 2003).

2.3.1. Cara pencampuran ransum

Metode pencampuran ransum mempunyai beberapa cara, salah satunya

adalah metode trial and eror. Metode trial and eror adalah metode pencampuran

ransum dengan cara memodifikasi formula dari suatu ransum yang telah ada

dengan cara mengganti satu bahan pakan atau lebih komponen ransum yang telah

ada dengan bahan pakan yang lainnya (Mangisah, 2003). Pada pemilihan bahan
17

pakan atau ransum untuk unggas sebaiknya memperhatikan beberapa syarat

diantaranya yaitu mengandung zat pakan yang sesuai dengan tujuan beternak,

tidak terdapat racun, harga yang terjangkau dan bahan tersebut mudah untuk

diperoleh para peternak (Sunarso dan Christyanto, 2000). Ciri-ciri bahan baku

pakan yang memiliki kondisi adalah bahan pakan yang tidak terjadi penguraian

zat-zat pakan yang ditandai dengan tidak adanya penggumpalan, jamur ataupun

bau tengik (Kushartono, 2000). Presentase protein pada unggas diperhitungkan

untuk memenuhi nutrisi unggas. Kebutuhan protein ayam pedaging fase starter

yaitu 23% sedangkan pada fase finisher adalah 18% (Ketaren, 2010).

2.3.2. Cara penyajian ransum

Pemberian ransum untuk itik biasanya ditambahkan dengan air, sehingga

agak basah agar memudahkan itik makan dan mengurangitercecernya pakan

selama itik makan (Kususiyah dan Desia, 2008). Frekuensi pemberian pakan

untuk itik dilakukan tiga kali sehari(pagi, siang, dan sore) namun secara terbatas,

sedangkan airminum diberikan secara ad libitum (Subhan dkk., 2010)

2.4. Sistem Kandang

Kandang adalah tempat untuk unggas beristirahat setelah beraktivitas,

tempat bereproduksi, dan tempat agar memudahkan peternak dalam memantau

ternak (Samin, 2001). Bentuk kandang dibuat agar unggas dapat hidup dengan

nyaman dan aman di lingkungannya, sehingga unggas dapat berproduksi dengan

optimal.Konstruksi kandang meliputi atap, dinding, lantai dan sistem ventilasi


18

pada kandang (Fadilah, 2007).Konstruksi kandang tidak harus mahal, yang

penting kuat dan tahan lama,selanjutnya perlengkapan kandang hendaknya

disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan, tempat minum, dan alat

penerangan (Agustin, 2009). Fungsi utama kandang adalah untuk menjaga supaya

ternak tidak berkeliaran dan memudahkan pemantauan serta perawatan

ternak (Sudaryani dan Santosa, 2003).

2.4.1. Layout kandang

Kandang ayam yang menghadap dari timur ke barat memiliki tujuan agar

kandang mendapatkan sinar mataharisecara baik (Dahlan dan Hudi, 2011).

Kandang ayam harus diletakkan pada tempat atau lokasi yang strategis. Letak

kandang ayam yang baik adalah jauh dari rumah warga, keramaian dan terletak

pada daerah yang sunyi atau sepi (Nadzir dkk., 2015).

2.4.2. Konstruksi Kandang

Atap kandang berbahan seng akan membuat kondisi kandang dan

sekitarnya menjadi tambah panas (Mulyantono dan Isman, 2008). Ventilasi udara

pada yang berada di sekitar atap monitor berfungsi untuk membantu kelancaran

sirkulasi udara dan membantu mengeluarkan gas-gas yang dihasilkan di dalam

kandang (Setyono dan Ulfah, 2011). Kandang tipe slat sering memiliki masalah,

beban yang cukup berat karena menopang bobot ayam, pakan dan minum untuk

ayam akan membuat alas rusak (Fadilah, 2013). Tipe alas litter merupakan
19

lantai yang disemen atau tanah yang dipadatkan lalu ditaburkan sekam di

permukaannya (Rasyaf, 2008).

2.4.3. Kapasitas dan Daya Dukung Kandang

Kapasitas kandang ayam broiler dapat mempengaruhi produktivitas ayam

broiler. Salah satu yang perlu diperhatikan saat memelihara ayam broiler adalah

manejemen pemeliharan, terutama menentukkan tingkat kepadatan kandang.

Penyediaan ruang kandang yang nyaman dengan tingkat kepadatan yang sesuai

berdampak pada performa produksi yang akan dicapai. Standar kandang ayam

broiler yang baik di iklim tropis adalah tiap m 2 berisi 8-12 ekor dibuat dengan

ketinggian dari lantai hingga atap teratas sekitar 6-7 meter, dan dari lantai hingga

atap terendah sekitar 3,5 hingga 4 meter (Murni, 2009). Kepadatan kandang

mempengaruhi faktor lingkungan salah satunya suhu. Ketika suhu tinggi dan

populasi terlalu padat ayam mudah stress dan lebih banyak minum

daripada mengkonsumsi pakan sehingga berpengaruh terhadap

penurunanproduktivitas (Nadzir, 2015).

Kandang yang baik memiliki daya dukung yang optimal yang ada di

dalamnya, karena ayam akan terus menerus berada di kandang sehingga kandang

harus memiliki daya dukung yang memberikan kebutuhan hidup sesuai seperti

lampu yang berfungsi untuk menstimulasi kelenjar tiroid mensekresikan hormon

tiroksin yang berfungsi mengatur kecepatan metabolisme tubuh sehingga dapat

meningkatkan pertumbuhan (Bayram dkk.,2010). Lalu alat makan dan alat minum

tempat makanan ayam. Jarak tempat makan dan tempat minum sebaiknya
20

diletakkan di tempat yang tidak berjauhan dan tidak terlalu berdekatan, karena

jika berdeakatan air dapat terkonaminasi oleh makanan ayam dapat menyebabkan

penyakit (Siregar dkk., 1982).


21

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Produksi Ternak Unggas dengan materi Pengenalan Jenis dan

Klasifikasi Ternak Unggas, Anatomi dan Idetifikasi Ternak Unggas dilaksanakan

padaSenin, 14 Maret 2017 pukul 11.00 - 15.00 WIB dan materi Formulasi

Ransum Ternak Unggas dan sistem perkandangan pada Senin, 27 Maret 2017

pukul 11.00 - 13.00 WIB di Laboratorium Produksi Ternak Unggas dan

Labolatorium Penetasan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas

Diponegoro, Tembalang, Semarang.

3.1. Materi

Materi yang digunakan dalam praktikum produksi ternak unggas adalah

buku praktikum, kamera untuk dokumentasi, alat seksio untuk membedah unggas,

nampan sebagai wadah untuk pengamatan unggas, timbangan untuk menimbang

berat organ dalam dan interior-eksterior unggas, pita ukur untuk mengukur

panjang organ-organ unggas, alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan, nampan

untuk meletakkan masing-masing bahan pakan, timbangan untuk mengukur

banyaknya bahan pakan yang dibutuhkan, dan meteran untuk mengukur ukuran

kandang ayam petelur sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah ayam, itik, puyuh

dan merpati baik jantan maupun betina, bahan pakan berupa jagung, bungkil

kedelai, MBM, tepung ikan, bekatul, CPO, dan premix serta kandang ayam

petelur tipe terbuka.


22

3.2. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum pengenalan jenis ternak unggas

adalah mengamati materi yang telah diberikan asisten pada saat asistensi

kemudian mengamati karakteristik eksterior masing-masing jenis unggas.

Selanjutnya menggambar dan mendeskripsikan data-data yang diperoleh. Metode

yang digunakan dalam praktikum anatomi fisiologi dan identifikasi penyakit

ternak unggas yaitu unggas yang akan diamati terlebih dahulu disembelih dengan

metode penyembelihan modified khoser (Islam). Sebelum penyembelihan lakukan

penimbangan bobot badan hidup dan selanjutnya melakukan bleeding,

menimbang bobot mati, menimbang bobot darah, mencatat waktu pengeluaran

darah kemudian melakukan seksio. Langkah selanjutnya membasahi dan

membersihkan bulu-bulu di sekitar area yang akan disayat. Kemudian buat

sayatan dengan cara menghitung horizontal otot perut di dekat tulang rusuk

hingga pertautan antara tulang dada dan sayap. Potong bagian dada dari

persendian scaptulanya sehingga bagian tersebut terbuka. Selanjutnya

mengamati dan mendokumentasikan preparasi utuh sebelum dilakukan

pemisahan masing-masing saluran dan organ yang akan diamati. Terakhir

memisahkan masing-masing saluran dan organ yang diamati lalu ditimbang dan

diukur panjang dari masing-masing saluran dan organ yang diamati termasuk

cakar, kepala dan leher.

Metode yang digunakan dalam praktikum formulasi ransum ternak

unggas adalah pertama menentukan standar kebutuhan ransum yang diukur dan

menentukan bahan pakan yang tersedia dan akan digunakan. Melakukan


23

organoleptik terhadap bahan pakan tersebut, selanjutnya memformulasikan bahan

pakan sehingga memenuhi standar kebutuhan ternak menggunakan metode Trial

and Error. Terakhir catat hasil formulasi dan susunlah ransum sesuai perhitungan

yang telah dilakukan. Pencampuran dilakukan secara merata dari bahan pakan

dengan komposisi terbesar hingga terkecil.Metode yang digunakan dalam

praktikum perkandangan adalah pertama mengukur panjang, lebar dan tinggi

kandang ayam petelur, selanjutnya melakukan evaluasi terhadap arah kandang dan

bentuk kandang dari atap, dinding, dan lantai. Selanjutnya melakukan perhitungan

kapasitas kandang ayam petelur jika digunakan sebagai kandang ayam brioler.
24

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pengenalan Jenis dan Klasifikasi Ternak Unggas

Unggas adalah jenis ternak bersayap dari kelas Aves yang daur hidupnya

diatur oleh manusia yang bertujuan untuk menambah nilai ekonomis dari

unggas tersebut (Yuwanta 2008). Unggas memiliki banyak kelompok diantaranya

adalah ayam pedaging, ayam petelur, ayam kampung, kalkun, itik, burung merpati

dan burung puyuh. Ternak unggas yang bersifat komersil seperti ayam broiler,

ayam petelur, ayam petelur sekaligus pedaging berasal dari keturunan

unggas-unggas liar di Asia(Murtidjo, 2006).

4.1.1. Ayam

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

ayam sebagai berikut :

Ayam Jantan Ayam Betina

Ilustrasi 1. Eksterior Ayam Jantan dan Betina


25

Ayam yang digunakan praktikum adalah jenis ayam kampung pedaging

yang termasuk dalam klasifikasi buras pedaging. Ayam kampung memiliki bentuk

badan yang kecil serta memiliki warna bulu yang coklat. Hal ini sesuai dengan

pendapat Cahyono (2011) yang menyatakan bahwa ayam kampung memiliki

bentuk badan yang kecil dan memiliki bulu warna putih, cokelat, hitam, kuning

kemerahan, kuning taupun kombinasi. Bentuk tubuh pada ayam tersebut juga

relatif bersar atau berisi karena ayam tersebut merupakan ayam pedaging.Tipe

ayam ini sangat banyak dibudidayakan di Indonesia karena masyarakat Indonesia

banyak mengkonsumsi ayam sebagai kebutuhan pokok sehari-hari. Hal ini sesuai

dengan pendapat Suprijatna dkk. (2008) yang menyatakan bahwa tipe ayam

pedaging memiliki karakteristik bentuk tubuh yang relatif besar, tidak gampang

stress atau lebih tenang, memiliki pertumbuhan yang cepat serta produksi telur

yang dihasilkan rendah.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa

pada unggas darat memiliki ciri-ciri yaitu terdapat jengger berwarna merah,

warna bulunya beragam, paruh yang runcing serta memiliki cakar yang

ditumbuhi selaput kasar dan tidak berselaput. Hal ini sesuai dengan

pendapat Hamdan dkk. (2011) yang menyatakan bahwa unggas darat memiliki

ciri-ciri yaitu bentuk jari pada cakarnya terpisah dan tidak memiliki selaput pada

sela-sela jari cakarnya yang terdapat pada unggas air. Cakar ini digunakan ayam

untuk dapat mengais dalam mencari makanannya serta sebaga perlindungan diri

dari mangsa yang mengancam keberadaannya. Perbedaan pada ayam jantan dan

betina salah satunya terletak pada bentuk jengger serta bentuk pialnya. Hal ini
26

sesuai dengan pendapat Cahyono (2011) yang menayatakan bawa jengger yang

terdapat pada ayam jantan berukuran lebih besar, bergerigi dan berdiri tegak juga

memiliki pial yang berukuran sedang dan berwarna cerah sedangkan pada ayam

betina jengger berukuran lebih kecil, tebal, tegak dan berwarna merah cerah serta

memiliki pial yang lebih kecil dan memiliki warna merah cerah.

4.1.2. Itik

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

itik sebagai berikut :

Itik

Betina

Itik Jantan

Ilustrasi 2. Eksterior Itik Jantan dan Itik Betina

Itik yang

digunakandalampraktikumadalahjenisitikpedaging.Ukuranitikpedagingumumnyab

erbadanbesardanpadat agar biasdiambildagingnya. Hal ini sesuai dengan pendapat

RantodanSitanggang (2005) yang menyatakanbahwabebekdenganukuran yang

besar biasa paling baikuntukdipelihara sebagai itik pedaging. Itik yang hidup
27

dalam keadaan liarbersifat monogamous, yaituhidupberpasangan, namun setelah

dijinakkan menjadi bersifat polygamous, yaituhidupbersama

samadalamsuatukelompok. Hal ini sesuai denganpendapat Rantodansitanggang

(2005) yang menyatakanbahwaparaahliberpendapatbahwajenisternakitikdomestik

yang kitakenalsekarang (kecualiMuskovi = Entok)

merupakanketurunanlangsungdariitik.

4.1.3. Puyuh

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

puyuh sebagai berikut :

Puyuh Jantan Puyuh Betina

Ilustrasi 3. Eksterior PuyuhJantan dan PuyuhBetina

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa

puyuh yang digunakan adalah jenis coturnix japonica. Hal ini sesuai dengan

pendapat Rasyaf (1995) yang menyatakan bahwa

coturnixjaponica merupakanjenis puyuh petelur yang menghasilkan telur berkisar

250 - 300 butir per tahun. + 1 sitasi


28

Puyuh merupakan salah satu jenis unggas darat karena habitatnya berada

di daratan yang antara puyuh jantan dan betina mempunyai beberapa persamaan

dan perbedaan. Persamaan puyuh jantan dan betina terdapat pada mata, paruh,

leher, sayap, dada, ekor, kaki dan cakar sedangkan perbedaannya adalah puyuh

jantan memiliki bulu berwarna hitam sedangkan puyuh betina bulunya bewarna

coklat terang. Hal ini sesuai pendapat Wuryadi (2011) yang menyatakan bahwa

puyuh jantan dan puyuh betina memiliki perbedaan pada warna bulunya yaitu

warna bulu dada serta ukuran tubuh puyuh betina lebih besar dari puyuh jantan.

Area sekitar dubur pada jantan dan betina memiliki perbedaan yaitu terdapat

lubang melebar pada betina dan terdapat bulatan pada jantan. Hal ini sesuai

dengan pendapat Dwiyanto (2010) yang menyatakan bahwa bagian yang berada di

daerah sekitar dubur pada puyuh jantan terdapat bulatan dan keluar cairan putih

(sperma) jika dipencet.

4.1.4. Merpati

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

merpati sebagai berikut :


29

Merpati Jantan Merpati Betina

Ilustrasi 4. Eksterior Merpati Jantan dan Merpati Betina

Berdasarkanhasilpraktikum yang

telahdilakukandapatdiketahuibahwamerpati yang digunakanadalahjenis Columba

domestica. Hal inisesuaidenganpendapatStorerdan Usinger (1978) yang

menyatakanbahwa merpatimerupakansalahsatudari kelas aves,

hewanberdarahpanasdanovipar. Merpati merupakan hewan yang dapat beradaptasi

dengan lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Storerdan

Usinger (1978) yang menyatakan bahwa merpati memiliki kemampuan dalam

mengenalhabitatnya, ketika merpati dilepasmaka merpati

akankembalikesarangnya.

Perbedaan antar merpati jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk

kepalanya, jika melengkung berarti jantan dan jika agak datar berarti betina. Hal

ini sesuai dengan pendapat Mulyana (2005) yang menyatakan bahwa

merpatijantandanbetinamemiliki beberapa perbedaan yaitu pada

jantankepalakasar, tulangkaki kuat, leherbesardancenderungkaku, dan jarikaki

panjang sedangkan pada betinakepala rata danhalus, tulangkaki ramping

danleherkecil, dan jarikakipendek. +1 sitasi


30

4.1.5. Perbedaan Unggas Darat dan Unggas Air

Berdasarkan praktikum dengan materi pengenalan karakteristik unggas

darat dan unggas air diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Perbedaan unggas darat dan air

No Karakteristik Unggas darat Unggas air


1. Jengger Ada Tidak ada
2. Paruh Runcing Pipih
3. Leher Pendek Lebih panjang
4. Bulu Tidak berminyak Berminyak
5. warna bulu Bervariasi Dominan 1 warna
6. Bentuk tubuh Mengembang Ramping
7. Bentuk punggung Melengkung Agak tegak
8. Kaki Tidak berselaput Berselaput
9. Taji Ada Tidak ada
10. Jenis makanan Butiran Lembek
Sumber: Data Primer Praktikum Produksi Ternak Unggas, 2017.

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa paruh unggas darat berbeda

dengan unggas air karena bentuk makanan yang dikonsumsi unggas darat dengan

unggas air berbeda yaitu berbentuk biji-bijian dan berbentuk lembek. Hal ini

sesuai dengan pendapat Rasyaf (2006) yang menyatakan bahwa paruh yang lancip

menyebabkan ayam menyukai makanan yang berbentuk biji-bijian dibandingkan

paruh yang pipih menyebabkan bebek lebih mudah untuk memakan makanan

yang bentuknya berbentuk bubur. Sedangkan pada unggas darat bulunya tidak

berminyak berkebalikan dengan unggas air yang berminyak karena memiliki

fungsi yang berbeda. Hal ini sesuai dengan pendapat Martawijaya (2005) yang

menyatakan bahwa bulubulu pada itik tebaldanberminyak karena berfungsiuntuk

agar air tidak masuk kedalam tubuh serta bentuk kaki itiklebihpendek dari unggas

darat.
31

4.2. Fisiologi, Anatomi dan Identifikasi Penyakit Ternak Unggas

4.2.1. Sistem Pencernaan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

terhadap sistem pencernaan sebagai berikut :

1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
a. Ayam b. Itik
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
c. Puyuh
d. Merpati

Ilustrasi 5. Sistem pencernaan


32

Keterangan :
1. Paruh 6. Ileum
2. Esofagus 7. Sekum
3. Tembolok 8. Usus besar
4. Proventiculum 9. Kloaka
5. Ventriculum 10. Pankreas
6. Duodenum 13. Hati
7. Jejenum 14. Empedu

Berdasarkan praktikum diketahui bahwa sistem pencernaan unggas

terdiri dari 11 organ pencernaan dimulai dari paruh dan berakhir di kloaka, dan 3

organ pembantu pencernaan yaitu pankreas, hati dan empedu. Hal ini sesuai

dengan pendapat Sinurat dkk. (2014) yang menyatakan bahwa organ pencernaan

pada unggas terdiri dari paruh, esofagus, tembolok, proventriculus,ventriculus,

duodenum, jejenum, illeum, sekum, usus besar dan kloaka sertapendukung sistem

pencernaan seperti pankreas, empedu, limpa dan hati. Setiaporgan dalam sistem

pencernaan memiliki fungsi yang bebeda-beda sepertitembolok sebagai

peyimpanan sementara, proventiculus yang berfungsi untuk mencerna makanan

secara kimiawi, dan ventriculus berfungsi untuk mencerna makanan secara

mekanik. Hal sesuai dengan pendapat Kartadisastra (2012) yang menyatakan

bahwa organ-organ pencernaan berbeda sesuai fungsinya masing-masing,

yaitutembolok untuk menyimpan pakan sementara, proventriculus untuk

mencerna kimiawi dibantu dengan enzim pepsin dan asam lambung,

ventriculus/gizard untuk mencerna secara mekanik dibantu grit yang berfungsi

seperti gigi.

Berat venticulus pada ayam sebesar 36 gram sedangkan pada itik berat

ventriculusnya sebesar 10 gram, dari hasil ini diketahui bahwa berat ventriculus
33

pada ayam lebih besar daripada itikdikarenakan perbedaan pakan yang

dikonsumsi. Hal ini sesuai pendapat Sturke (2002) yang menyatakan bahwa rataan

presentase gizzard pada ternak unggas berkisar antara 1,6% - 2,3% (32,50 gram)

dari berat hidupnya. Tembolok pada ayam, itik, puyuh dan merpati memiliki

perbedaan ukuran karenamakanan yang dicerna berbeda-beda untuk setiap

unggas. Hal ini sesuai dengan pendapat Zainuddin dkk. (2015) yang menyatakan

bahwa tembolok pada ayam memiliki dinding yang keras, kuat dan tebal karena

makanan ayam sifatnya agak keras sehingga dapat melindungi dari iritasi

makanan, pada bebek tembolok lebih tipis karena makanannya bersifat berair

sehingga dapat menyerap air lebih banyak.

Ciri-ciri unggas yang sehat adalah bulu cerah, pertumbuhan normal dan

organ pencernaan yang berfungsi dengan baik. Hal ini sesuai dengan

pendapat Roni dan Polana (2004) yang menyatakan bahwa unggas yang sehat

bebas dari penyakit, nafsu makan dan minum baik, bulu cerah, tidak kusam dan

penuh, anus bersih dengan tidak adanya kotoran atau pasta putih dan berat badan

sesuai dengan standar stainnya. Jenis unggas yang sehat salah satunya dapat

dilihat dari sistem pencernaannya, salah satunya bisa dilihat dari organ hati yang

berukuran normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Fadilah dan Pollana (2004)

yang menyatakan bahwa hati yang tidak mempunyai kelainan memiliki ciri-ciri

berwarna coklat kemerahan, bertekstur kenyal, dan terdapat kantong empedu

karena fungsi hati adalah untuk produksi empedu.


34

4.2.2. Sistem Pernafasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

terhadap sistem pencernaan sebagai berikut :

4
a. Ayam b.Itik

3
4
c. Puyuh d. Merpati

Ilustrasi 6. Sistem pernafasan

Keterangan : 1. Laring 3. Bronkus


2. Trakea 4. Paru-paru

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh hasil bawa

system pernafasan dari unggas terdiri dari laring, trakea, paru-paru, bronkus,
35

dan bronkiolus serta terdapat kantong udara. Hal tersebut sesuai dengan

pendapat Yuwanta (2004) yang menyatakan bahwa urutan sistem pernafasan

unggas dari luar ke dalam yaitu lubang hidung, glottis, laring, trakea, syrinx,

bronkus, dan paru-paru. Kantong udara pada unggas yaitu sebagai tempat

cadangan O2 saat unggas terbang diudara dan untuk mengambil oksigen sebanyak

mungkin. Hal ini sesuai dengan pendapat Suprijatna dkk.(2008) yang menyatakan

bahwa unggas mempunyai kantong udara yang berfungsi untuk menampung

udara.

Paru-paru unggas sebelah kiri lebih besar daripada yang sebelah kanan

dikarenakan terdapat jantung pada paru-paru sebelah kiri. Hal ini sesuai dengan

pendapat Syafirdi (2007) yang menyatakan bahwa paru-paru kiri unggas terlihat

lebih lebar dan tipis dibandingkan dengan paru-paru kanan karena posisi anatomi

jantung bagian atrium kiri menekan paru-paru kiri unggas. Organ pernafasan

unggas terdapat perbedaan antara ayam, itik, puyuh dan merpati. Ukuran

paru-paru dari keempat ungas diatas memiliki bobot yang berbeda, bobot

paru-paru ayam lebih berat daripada bobot paru-paru puyuh. Hal ini sesuai dengan

pendapat Marchelinda (2011) yang menyatakan bahwa paruparu ayam bentuknya

berlobus dan memiliki berat normal sekitar 40 - 60 gram. Jika

paruparu berukuran terlalu besar maka bisa saja karena berbagai penyakit.

Sistem pernafasan unggas yang telah diamati menunjukkan bahwa

unggas tersebut dalam keadaan sehat, hal tersebut dapat diketahui dari unggas

yang sehat dengan ciri-ciri hidung tidak berlendir dan apabila bernafas tidak

ngorok. Hal ini sesuai dengan pendapat Prawira (2014) yang menyatakan bahwa
36

kriteria sistem pernafasan unggas lancar yaitu apabila unggas memiliki hidung

dan mulut bersih, tidak terdapat lendir dan kotoran, pernapasan ayam lancar, tidak

ngorok, bersin ataupun batuk. Kriteria sistem pernafasan sehat dapat dilihat dari

penampakan paru-paru yang berwarna merah dan tidak terdapat bercak. Hal ini

sesuai dengan pendapat Marchelinda (2011) yang menyatakan bahwa paruparu

unggas yang baik umumnya berwarna merah, berukuran kecil, dan menempel

dikiri-kanan tulang rangka.

4.2.3. Sistem reproduksi jantan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan di dapatkan hasil sebagai

berikut :

a. Ayam 2b. Itik

c. Puyuh d. Merpati
37

Ilustrasi 7. Sistem Reproduksi Jantan

Keterangan : 1. Testis 3. Ureter


2. Vas Deferens

Berdasarkan praktikum sistem reproduksi jantan, dapat diketahui bahwa

Sistem reproduksi pada unggas jantan terdiri dari sepasang testis, saluran vas

deferens, alat kopulasi dan kloaka. Hal ini sesuai dengan Toelihere (1985) yang

menyatakan bahwa organ reproduksi unggas jantan terdiri dari sepasang testis,

duktus epididimis, sepasang duktus deferen dan sebuah alat kopulasi yang disebut

phalus, yang seluruhnya terletak di dalam rongga perut. Testis pada unggas jantan

berbentuk elips atau berbentuk bulat seperti kacang, berwarna terang kekuningan.

Fungsi dari testis adalah tempat terjadinya spermatogenesis. Hal ini sesuai dengan

pendapat Yuwanta (2004) yang menyatakan bahwa testis ayam berbentuk bulat

oval seperti kacang dengan warna pucat kekuningan. Hal ini diperkuat oleh

pendapat Juan dkk. (2005) yang menyatakan bahwa organ testis merupakan

tempat terjadinya proses spermatogenesis yang menghasilkan sel-sel sperma yang

berperan dalam fertilisasi. Pada masing-masing testis terdapat saluran sperma

yang bernama vas deferens. Vas deferens merupakan saluran yang berkelok-kelok

berfungsi untuk menyalurkan sperma dari testis menuju alat kopulasi lalu ke

kloaka. Selain itu vas deferens berfungsi untuk menyimpan dan mematangkan

sperma sebelum diejakulasikan.

Alat kopulasi berfungsi untuk memproduksi cairan transparan yang

bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi. Alat kopulasi pada ayam

berbentuk papilla dan alat kopulasi pada itik berbentuk spiral. Hal ini sesuai
38

dengan pendapat Rirgiyensi (2014) yang menyatakan bahwa itik dan angsa

memiliki organ yang berkembang lebih maju, yaitu berupa phallus yang berbentuk

spiral berpilin. Fungsi utama dari phallus sebagai alat kopulasi.Hal ini diperkuat

oleh pendapat Yuwanta (2004) yang menyatakan bahwa alat kopulasi pada ayam

berupa papila (penis), kecuali pada itik berbentuk spiral dengan panjang 12-18

cm. Hasil praktikum menunjukkan bahwa testis pada itik jantan lebih panjang

dibandingkan testis ayam, merpati dan puyuh. Besar kecilnya organ reproduksi

dipengaruhi oleh kualitas pakan, semakin baik pakan maka hormon pada organ

reproduksi mendapatkan asupan yang baik sehingga organ reproduksi akan

memicu kematangan alat reproduksi dan menghasilkan sperma yang lebih banyak.

Hal ini sesuai dengan pendapat Waty dkk. (2015) yang menyatakan bahwabesar

kecilnya ukuran testis tergantung dari beberapa faktor, salah satunya adalah faktor

pakan.

Pada organ reproduksi jantan pada unggas tidak ditemukan adanya suatu

kelainan atau penyakit ditandai dengan lengkapnya organ reproduksi yang terdiri

dari sepasang testis, epididymis, vas deferen dan alat kopulasi. Hal ini sesuai

dengan pendapat Toelihere (1985) yang menyatakan bahwa organ reproduksi

ayam jantan terdiri dari sepasang testis, duktus epididimis, sepasang duktus

deferen dan sebuah alat kopulasi yang disebut phalus, yang seluruhnya terletak di

dalam rongga perut.Hal ini diperkuat oleh pendapat Rasyaf (2011) yang

menyatakan bahwa alat reproduksi ayam jantan terdiri dari sepasang testis,

epididymis,vas deferensdan alat kelamin (copulatory organ).


39

4.2.4. Sistem reproduksi betina

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

terhadap sistem reproduksi betina sebagai berikut :

7
a. Ayam b. Itik

1.

2.

3.

4.

5.

6.

c. Puyuh 7.
d. Merpati

Ilustrasi 7. Sistem Reproduksi Betina

Keterangan :
1. Ovarium 3. Magnum 5. Uterus 7. Kloaka
2. Infundibulum 4. Isthmus 6. Vagina
40

4.2.5. Sistem urinari

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

terhadap sistem reproduksi betina sebagai berikut :

1
a. Ayam b. Itik

c. Puyuh d. Merpati

Ilustrasi 8. Sistem urinari

Keterangan:
1. Ginjal
2. Ureter

Sistem urinari adalah sitem yang berfungsi sebagai tempat pembentukan

urine berupa penyaringan darah dan sisa sisa metabolisme yang dihasilkan oleh
41

tubuh. Hal ini sesuai dengan pendapat Yuwanta (2008) yang menyatakan bahwa

Sistem urinari merupakan sistem pembuangan air dan hasil metabolisme yang

diatur dan disaring oleh ginjal. Hasil penyaringan air dan sisa metabolik pada

ginjal adalah asam urat yang dibuang bersama urine dan fases. Sistem urinari pasa

unggas terdiri dari ginjal, ureter sebagai saluran penghubung antara ginjal dan

kloaka. Hal ini sesuai dengan pendapat Aini (2008) yang menyatakan bahwa

sistem urinaria ayam terdiri dari dua ginjal yang terletak di belakang paru-paru

dan tiap ginjal berhubungan dengan ureter yang dihubungkan dengan kloaka.

Ukuran organ ginjal ayam dan itik lebih besar daripada merpati dan

puyuh. Hal ini sesuai dengan pendapat Marshall (1960) yang menyatakan bahwa

ginjal pada ayam memiliki ukuran yang besar karena ukuran glomerulus medula

sebesar 110 x 100m. Berat dan ukuran ginjal merpati dan puyuh relatif kecil. Hal

ini sesuai dengn pendapat Nutriana dan Jatman (2010) yang menyatakan bahwa

ginjal burung memiliki ukuran 6% -7% dari panjang tubuh dan terdiri dari medula

sekitar 42 x 32 m dan kortek 22 x 21 m. Unggas yang diamati dalam praktikum

dalam keadaan sehat, artinya tidak terjangkit penyakit apapun dibuktikan dengan

warna ginjal yang merah kecoklatan, warna ureter tidak pucat. Hal ini sesuai

dengan pendapat Sahara dkk (2013) yang meyatakan bahwa. Ginjal dikatakan

normal apabila ginjal berwarna merah tidak pucat atau kehitaman. Bentuk normal

tidak kempis dan tidak membengkak.

4.2.6. Sistem kekebalan tubuh


42

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pengamatan

terhadap sistem imun sebagai berikut :

2
b. Itik
a. Ayam

c. Puyuh d. Merpati

Ilustrasi 9. Sistem Kekebalan Tubuh

Keterangan:
1. Timus
2. Limpa
3. Bursa of fabricius

Berdasarkan ilustrasi diatas dapat diketahui bahwa organ sistem imun

pada unggas terdiri dari tiga bagian yaitu limpa, bursa of fabricius dan timus yang
43

mempunyai fungsi berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pendapat Darmono (2008)

yang menyatakan bahwa limpa menghasilkan limfosit yang terdiri dari limfosit T

dan limfosit B yang berfungsimenghancurkan sel-sel asing yang masuk ke dalam

tubuh unggas. Sedangkan sel B berfungsi sebagai kekebalan tubuh humoral yang

antibodinya berada dibawah control bursa fabricius. Hal ini sesuai dengan

pendapat Hewajuli dan Dhamayanti (2015) yang menyatakan bahwa bursa

fabrisius berfungsi sebagai imunitas humoral, timus dan imunitas seluler yang

terletak pada dorsal kloaka yang merupakan tempat pertautan kloaka dan kolon

danmerupakan tempat diferensiasi pematangan sel limfosit B.

Sistem kekebalan tubuh pada unggas normal memiliki ciri tersendiri pada

limpa, bursa of fabricius dan timus yaitu timus terletak berdekatan dengan saraf

vagus hambatan respon kekebalan sekunder dan vena jugularis pada leher. Hal ini

sesuai dengan pendapat Olh dan Vervelde (2008) yang menyatakan bahwa timus

mengecil dengan bertambahnya umur, sebagai tanda maturitas, limfa terletak di

dekat hati dan menghasilkan limfosit. Limfosit yang sudah matang lalu berpindah

dari bagian kortek ke medula timus, memasuki sirkulasi tubuh melalui pembuluh

medulla timus. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Olh dkk (2003) yang

menyatakan bahwa bursa fabricius dikelilingi oleh lapisan otot polos tebal

berfolikel, posisi anatomi jaringan limfoid stabil dan strukturnya sangat konsisten

terdapat pada seka tonsil dan pada kloaka dan berkembang pada saat DOC.

4.3. Formulasi Ransum Unggas


44

Ransum merupakan gabungan beberapa bahan pakan dengan formulasi

tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak

mengganggu kesehatan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1994)

yang menyatakan bahwa ransum merupakan campuran dari dua atau lebih bahan

pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam.Penyusunan

ransum seimbang yang sesuai dengan kebutuhan ternak, diharapakan akan dapat

menghasilkan produksi yang optimal. Ransum yang berkualitas baik mampu

memberikan kebutuhan nutrien secara tepat.Bahan yang digunakan dalam

mencampur ransum terdiri dari sumber protein, energi, dan mineral sehingga

akan mempengaruhi kebutuhan tenak itu sendiri. Hal ini sesuai dengan

pendapat Tillman dkk. (1998) yang menyatakan bahwa zat nutrien adalah zat-zat

gizi di dalam bahan pakan yang sangat diperlukan untuk hidup ternak meliputi

protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air.

Tujuan formulasi ransum adalah untuk menyediakan zat makanan yang

dibutuhkan unggas sehingga menghasilkan telur atau daging yang menguntungkan

maka dibutuhkan pengetahuan tentang zat makanan, bahan makanan dan fase

produksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Adnan (2005) yang menyatakan bahwa

formulasi ransum adalah upaya mengkombinasikan bahan makanan ternak untuk

memenuhi kebutuhan ternak akan zat makanan dengan meniminalkan biaya yang

ditimbulkan. Hal ini didukung oleh pendapat Kaswari (2008) yang menyatakan

bahwa ransum yang yang diformulasikan harus mendapat cukup palatable agar

dapat meransang nafsu makan, karena apabila ransum yang dibuat ditolak oleh

ternak maka dapat dikatakan ransum tersebut kurang baik.


45

4.3.1. Cara pencampuran ransum

Berdasarkan formulasi ransum pada ternak unggas di dapatkan hasil

sebagai berikut:

Tabel 2. Formulasi ransum unggas


Protein Energi
No. Bahan Pakan Komposisi Kasar Metabolisme Harga (Rp/kg)
(%) (kkal/kg)
1. Jagung 54,3 5,21 1.536,15
2. Bekatul 26 3,61 845,78
Bungkil
3. 14 7,19 449,82
Kedelai
4. CPO 2 0 162
Tepung
5. 0,8 0.36 23,47
Ikan
6. MBM 0,9 0,47 24,92
7. Premix 2 0 0
Total 100 16,84 3.042,14
Sumber : Data Praktikum Primer Produksi Ternak Unggas, 2017.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa

cara penyusunan ransum dilakukan dengan menggunakan metode trial and eror.

Metode ini merupakan cara memodifikasi suatu bahan pakan yang ada dengan

bahan pakan yang lain untuk kebutuhan ternak unggas. Hal ini sesuai dengan

pendapat Mangisah (2003) yang menyatakan bahwa metode trial and eror adalah

metode dengan cara memodifikasi formula dari suatu ransum yang telah ada

dengan cara mengganti satu bahan pakan atau lebih komponen ransum yang telah

ada dengan bahan pakan yang lainnya. Pemilihan bahan pakan untuk ransum yang

diberikan pada unggas terdapat beberapa persyaratan yaitu bahan mudah

didapat, harga yang terjangkau dan tidak beracun. Hal ini sesuai dengan

pendapat Sunarso dan Christyanto (2000) yang menyatakan bahwa dalam


46

pemilihan bahan pakan atau ransum untuk unggas sebaiknya memperhatikan

beberapa syarat diantaranya yaitu mengandung zat pakan yang sesuai dengan

tujuan beternak, tidak beracun, harga yang terjangkau dan bahan tersebut mudah

untuk diperoleh.

Pemilihan bahan baku untuk ransum harus memiliki kondisi yang bagus

agar tidak mengganggu pertumbuhan ternak unggas yang sedang dibudidayakan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Kushartono (2000) yang menyatakan bahwa bahan

baku pakan yang memiliki kondisi adalah bahan pakan yang tidak terjadi

penguraian zat-zat pakan yang ditandai dengan tidak adanya penggumpalan,

jamur ataupun bau tengik. Kebutuhan gizi pada ayam pedanging di bagi

menjadi dua kelompok yaitu umur 0-3 minggu berada pada fase starter

dan 3-6 minggu berada pada fase finisher. Kebutuhan protein untuk

ayam pedaging juga diperhitungkan agar kebutuhan nutrisi unggas terpenuhi

fase finishermembutuhkan protein sekitar 18%. Hal ini sesuai dengan

pendapat Ketaren (2010) yang menyatakan bahwa kebutuhan protein ayam

pedaging fase starter yaitu 23% sedangkan pada fase finisher adalah 18%.

4.3.2. Cara penyajian ransum

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat diketahui bahwa

penyajian ransum kepada itik fase finisher yaitu dengan mencampurkan beberapa

bahan pakan dengan tekstur yang berbeda, ransum untuk itik biasanya berbentuk

tepung dan lembek. Hal tersebut karena itik lebih menyukai makanan yang agak

lembek karena mudah dicerna dan mengurangi konsumsi air. Hal ini sesuai
47

dengan pendapat Kususiyah dan Desia (2008) yang menyatakan bahwa pemberian

ransum ditambah dengan air, sehingga agak basah agar memudahkan itik makan

dan mengurangitercecernya pakan selama itik makan.Frekuensi pemberian pakan

untuk itik sangat mempengaruhi produktivitas itik, pemberian pakan dilakukan

pagi, siang, dan sore hari. Pemberian pakan yang sering bertujuan agar pakan

secara efisien akan di konversi menjadi daging. Hal ini sesuai dengan pendapat

Subhan dkk. (2010) yang menyatakan bahwa pemberian pakan untuk itik

dilakukan tiga kali sehari(pagi, siang, dan sore) namun secara terbatas, sedangkan

airminum diberikan secara ad libitum.

4.4. Sistem Kandang

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dikandang ayam petelur

(layer) dapat dtemukan bahwa atapnya bentukgable dengan jenis bahan atap yakni

seng, dindingnya terbuka dan alasnya slat. Hal ini sesuai dengan pendapat

Fadillah (2007) yang meyatakan bahwa kontruksi kandang itu terdiri dari atap,

dinding, sistem ventilasi dan alas pada kandang agar unggas (ayam) tidak

kehujanan atau kepanasan dan terhindar dari pemangsa serta agar mudah dipantau.

Kandang ayam petelur tersebut menggunakan tipe dinding terbuka yang

menggunakan kawat sebagai dindingnya, hal ini dilakukan agar sirkulasi udara

berjalan dengan lancar. Hal ini sesuai dengan pendapat Juriah (2013) yang

menyatakan bahwa kandang dengan tipe dinding terbuka yang terbuat dari kawat

yang dilapisi plastik berfungsi untuk menghalangi angin langsung dan

mempertahankan suhu udara pada malam hari. Alas pada kandang ayam
48

petelur menggunakan slat karna mudah dibersihkan. Hal ini sesuai dengan

pendapat Engga (2011) yang menyatakan bahwa alas tipe slat yakni kotoran ayam

jatuh ke kolong kandang sehingga lantai tetap kering dan tidak kotor. Hal ini dapat

mengurangi resiko terkena penyakit yang berhubungan dengan kotoran.

Pemilihan bahan atap kandang juga merupakan salah satu cara agar

unggas dapat hidup dengan nyaman, karena setiap bahan atap memiliki

kemampuan yang berbeda-beda dalam menyebarkan panas. Hal ini sesuai dengan

pendapat Wathes (l98l) yang menyatakan bahwa bahan atap kandang yang berasal

dari seng mempunyai koefisien konduksi yang besar sehingga panas yang

diterima sebagian diteruskan ke dalam kandang yang menyebabkan suhu dalam

kandang lebih tinggi. Kandang ayam petelur tersebut memiliki tempat pakan,

minum dan alat penerangan. Hal ini sesuai pendapat Agustin (2009) yang

berpendapat bahwa kandang harus dilengkapi dengan tempat pakan, tempat

minum dan alat penerangan dengan tujuan agar unggas (ayam) dapat

berkembangbiak dengan baik.


49

4.4.1. Layout kandang

Tampak depan Tampak samping Tampak belakang

Ilustrasi 10. Kandang Ayam Petelur

Berdasarkan arah dan letak kandang, kandang ayam petelur tersebut

menghadap ke barat yang sudah sesuai dengan arah kandang yang baik. Kandang

yang menghadap ke arah barat mendapat sinar matahari yang cukup. Hal ini

sesuai dengan pendapat Nadzir dkk (2015) yang menyatakan kandang ayam yang

menghadap dari timur ke barat memiliki tujuan agar kandang mendapatkan sinar

matahari secara baik. Letak kandang ayam sendiri berada di lingkungan kampus

dimana kurang strategis. Hal ini sesuai dengan pendapat Dahlan dan Hudi (2011)

yang menyatakan bahwa letak kandang ayam yang baik adalah jauh dari rumah

warga, keramaian dan terletak pada daerah yang sunyi atau sepi.

4.4.2. Konstruksi kandang

Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa kandang ayam

petelur di Fakultas Peternakan dan Pertanian memiliki bentuk atap gable dan

berbahan seng. Tipe atap gable merupakan atap dengan dua sisi dan tidak

memiliki lubang sirkulasi udara pada bagian atas. Hal ini sesuai dengan

pendapat Muslin (1993) yang menyatakan bahwa tipe atap gable memiliki dua sisi
50

dan tidak memiliki lubang pada bagian puncaknya. Penggunaan atap berbahan

seng ini kurang efisien untuk ayam petelur karena suhu dalam kandang akan

menjadi panas. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyantono dan Isman (2008)

yang menyatakan bahwa penggunaan seng akan membuat kondisi kandang dan

sekitarnya menjadi tambah panas. Apabila kondisi suhu dalam kandang panas

ayam akan kepanasan dan tidak nyaman, sehingga ayam akan lebih banyak

mengkonsumsi air minum dibandingkan mengkonsumsi pakan.

Sebaiknya atap pada kandang ayam petelur berbahan asbes dan tipe

monitor. Tipe atap monitor terdiri dari dua sisi, bersusun dan terdapat lubang pada

bagian atas, sehingga akan menyebabkan lancarnya sirkulasi udara. Hal ini sesuai

dengan pendapat Setyono dan Ulfah (2011) yang menyatakan bahwa ventilasi

udara pada atap monitor berfungsi untuk membantu kelancaran sirkulasi udara

dan membantu mengeluarkan gas-gas yang dihasilkan di dalam kandang. Atap

sebaiknya terbuat dari bahan asbes karena asbes tidak menyerap sinar matahari

sebanyak seng. Selain itu, asbes merupakan bahan yang awet, ringan dan aman

bagi ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyantono dan Isman (2008) yang

menyatakan bahw atap asbes merupakan bahan yang awet, tahan tampias, ringan

dan pemasangannya pun mudah.

Alas kandang ayam petelur di Fakultas Peternakan dan Pertanian bertipe

slat. Slat adalah tipe kandang panggung dengan alas yang renggang. Tetapi tipe

alas slat ini menyebabkan timbulnya bau menyengat dari kotoran ayam jika tidak

dibersihkan secara rutin. Selain itu, tipe alas slat ini juga akan mudah rusak karena

menopang beban dari ayam, pakan dan minum untuk ayam. Hal ini sesuai dengan
51

pendapat Fadilah (2013) yang menyatakan bahwa kandang tipe slat sering

memiliki masalah, beban yang cukup berat karena menopang bobot ayam, pakan

dan minum untuk ayam akan membuat alas rusak. Sebaiknya alas kandang untuk

ayam petelur bertipe litter. Tipe alas litter merupakan alas yang ditaburi oleh

bahan-bahan yang mudah menyerap air, ringan, aman dan mudah didapat. Salah

satunya adalah sekam. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2008) yang

menyatakan bahwa tipe alas litter merupakan lantai yang disemen atau tanah yang

dipadatkan lalu ditaburkan sekam di permukaannya. Sekam dapat mempengaruhi

suhu di dalam kandang yang dingin menjadi hangat. Hal ini sesuai dengan

pendapat Tohir dan Wahyu (2008) yang menyatakan bahwa sekan berfungsi untuk

membuat suhu dalam kandang menjadi hangat. Sekam dapat membantu

penyerapan air dari feses atau dari tumpahan air minum sehingga tidak

menyebabkan lantai kandang menjadi lembab dan sekam mudah untuk diganti.

Dinding pada kandang ayam petelur ini merupakan tipe dinding terbuka

yang bertujuan agar aliran udara lancar dan udara panas dalam kandang akan

berkurang. Hal ini sesuai dengan pendapat Priyatno (2004) yang menyatakan

bahwa sebaiknya dinding kandang ayam petelur menggunakan tipe dinding

terbuka, agar pergantian udara lancar dan dapat mengurangi suhu panas dalam

kandang. Kandang ayam petelur menghadap dari arah timur ke barat atau

sebaliknya, ini bertujuan agar kandang ayam selalu mendapatkan sinar matahari.

Hal ini sesuai dengan pendapat Tohir dan Wahyu (2008) yang menyatakan bahwa

arah kandang yang baik membujur dari arah timur ke barat atau sebaliknya agar

selalu sejalan dengan arah sinar matahari.


52

4.4.3. Kapasitas dan daya dukung kandang

Berdasarkan praktikum yang telah kita lakukan, diperoleh hasil

pengamatan bahwa kapasitas kandang ayam broiler dengan panjang 1,3 meter dan

lebar 5,25 meter diperoleh luas 59,32 m2 yang memiliki kapasitas 949 kg ayam

broiler. Hal ini sesuai dengan pendapat Murni (2009) yang menytakan bahwa

kandang ayam broiler yang baik di daerah iklim tropis tiap m 2 berisi 8-12 ekor

dibuat dengan ketinggian dari lantai hingga atap teratas sekitar 6-7 meter, dan dari

lantai hingga atap terendah sekitar 3,5 hingga 4 meter. Kandang ayam broiler yang

diamati belum memenuhi standar hal tersebut dapat mempengaruhi suhu dalam

kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Nadzir (2015) yang menyatakan bahwa

ketika suhu tinggi dan populasi terlalu padat ayam mudah stress dan lebih banyak

minum daripada mengkonsumsi pakan sehingga berpengaruh terhadap penurunan

produktivitas. Kandang yang terlalu padat akan meningkatkan kompetisi

mendapatkan ransum, air minum dan oksigen.

Daya dukung yang terdapat pada kandang terdiri dari lampu yang

berfungsi untuk penerangan dan kinerja hormon. Hal ini sesuai dengan pendapat

Bayram dkk.(2010) yang menyatakan bahwa rangsangan cahaya yang berfungsi

untuk menstimulasi kelenjar tiroid, mensekresikan hormon tiroksin yang

berfungsi mengatur kecepatan metabolisme tubuh sehingga dapat meningkatkan

pertumbuhan. Bentuk alat makan dan alat minum tempat makanan ayam yang

adalah setengah lungkaran dan memanjang sepanjang kandang, di sebelah atasnya

adalah tempat minum untuk ayam tersebut, posisinya berada di jangkauan ayam
53

dalam posisi kepala tegak untuk minum dan untuk makanan agak dibawah

sehingga ayam ayam akan makan dengan posisi seperti membungkuk. Hal ini

sesuai dengan pendapat Siregar dkk. (1982) yang menyatakan bahwajarak tempat

makan dan tempat minum sebaiknya diletakkan di tempat yang tidak berjauhan

dan tidak terlalu berdekatan, karena jika berdeakatan air dapat terkontaminasi oleh

makanan ayam dapat menyebabkan penyakit.


54

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diimpulkan bahwa

sistem pencernaan unggas terdiri dari paruh, kerongkongan, tembolok,

proventriculus, ventriculus, duodenum, jejenum, illeum, sekum, usus besar dan

kloaka, sedangkan sistem pernafasan unggas terdiri dari lubang hidung, glottis,

laring, trakea, syrinx, bronkus, paru-paru, dan kantung udara. Sistem reproduksi

jantan dari unggas terdiri dari sepasang testis, duktus epididimis, sepasang duktus

deferen dan phalus dan sistem reproduksi betina terdiri dari ovarium,

infundibulum, magnum, isthmus, uterus, dan vagina. Sistem urinari unggas terdiri

dari ginjal dan ureter serta sistem kekebaan tubuh unggas terdiri dari limpa, bursa

of fabricius dan timus. Perbedaan nyata yang terlihat dari keempat unggas yaitu

ayam, itik, puyuh dan merpati adalah perbedaan panjang dan berat masing-masing

organ dalamnya.

5.2. Saran

Diharapkan dengan adanya laporan ini pembaca dapat mempelajari

hal-hal yang berkaitan dengan materi produkai ternak unggas sehingga dapat

menambah wawasan mengenai peternakan unggas dalam bidang pertanian.


55

DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2005. Tabel Komposisis Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada


UniversityPress. Yogyakarta.

Aini, U. P. 2008. Kajian Histopatologi Pemberian Kombinasi Herbal (Bawang


putih dan Kunyit) dengan Zink. Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Skripsi)

Bayram. A, and S. Ozkan, 2010. Effects of a 16-hour light, 8-hour dark lighting
schedule on behavioral traits and performance in male broiler chickens.
Journal of Poultry Science. 19: 263-273.

Cahyono, B. 2011. Ayam Buras Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.

Cartmill, A. M. 1991. Raising Pigeon. Kansas Pigeon Association Poultry.Poultry


Science 1-7-91-2.

Dahlan, M. dan N. Hudi. 2011. Studi Manajemen Perkandangan Ayam Broiler di


Dusun Wangket Desa Kaliwates Kecamatan Kembangbahu Kabupaten

Darmana, Wirawan dan Sitanggang. 2002. Meningkatkan produktifitas Ayam


Arab Petelur. AgroMedia Pustaka. Jakarta.

Darmono. 2006. Farmakologi dan toksikologi sistem kekebalan pengaruh


penyebab dan akibatnya pada kekebalan tubuh. Universitas Indonesia,
Jakarta.

Dwiyanto, M. 2010. Beternak Burung Puyuh. Musi Perkasa Utama, Jakarta.

Fadilah, R. dan A. Polana. 2004. Aneka Penyakit Pada Ayam dan Cara
Mengatasinya. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Gustira.,D.E.,Riyanti dan Kurtini.,T. 2015. Pengaruh kepadatan kandang terhadap
performa produksi ayam petelur fase awal grower. Jurnal Ilmiah
Peternakan Terpadu Lampung. 3(1): 87-92.

Hamdan, T. H. Wahyuni dan N Siwi. 2011. Identifikasi morfologi dan morfometri


organ pencernaan serta sifat kualitatif warna bulu belibis kembang dan
belibis batu. J. Peternakan Integrati. 2 (2) : 193-208.

Hanafiah, M. A. 2013. Analisis Agribisnis Ternak Puyuh. Universitas Bengkulu,


Bengkulu. (Skripsi)
56

Hewajuli, D.A. dan Dharmayanti. 2015. Peran sistem kekebalan non spesifik dan
spesifik pada unggas terhadap newcastle disease. J. Imune. 25 (3) : 135
146.

Horhoruw, W. M. 2012. Ukuran saluran reproduksi ayam petelur fase pullet yang
diberi pakan dengan campuran rumput laut (gracilari edulis). J. Ilmu Ternak
dan Tanaman. 2 (2) : 75 - 80.

Islam, S. 2013. Clinical Evaluation of Hyperimmune Serum for The Treatment of


Newcastle Disease in Indigenous Layer Birds. Bangladesh Agricultural
University. (Thesis)

Isnaeni, W. 2010. Fisiologi Hewan. Kanisius, Yogyakarta.

Jasin, Maskoeri. 1989. SistematikaHewan Vertebrata danInvertebrata. SinarJaya,


Surabaya.

Juan, E.M., E.G. Pons, T. Munuera, J. Ballester, E.J. Rodriguez dan J.M. Planas.
2005. Trans-resveratol, a natural antioxidant from grapes, increases sperm
output in healthy rats. J. Nutrient. 135: 757 760.

Kartadisastra. 2012. Pengelolaan Pakan Ayam. Kanisius, Yogyakarta.

Kaswari. T. 2008. Diktat Nutrisi Ternak dasar. Fakultas Peternakan Universitas


Jambi. Jambi.

Ketaren, P. P. 2010. Kebutuhan Gizi Ternak Unggas di Indonesia. Wartazoa 20


(4) : 172-180.
Kushartono, B. 2000. Penentuan kualitas bahan baku pakan dengan cara
organoleptik. Temu teknis fungsional. Balai penelitian Ternak. Bogor.
Kususiyah, K., & Desia, K. (2008). Performance of male and female talang benih
duck growth reared intensively. J. Sains Peternakan Indonesia. 3(1). 5-9.
Lamongan. J. Ternak. 2 (1) : 24 - 29.

Mangisah, I. 2003. Ilmu nutrisi dan makan ternak babi. Fakultas Peternakan.
Universitas Diponegoro. Semarang
Marchelinda, C. 2011. Kajian Histopatologi ParuParu Ayam Broiler yang Diuji
Tantang Virus Avian Influenza (H5N1) Setelah Pemberian Ekstrak Tanaman
Sirih Merah (Piper Crocatum). Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Skripsi)

Marshall, A. J. 1960. The Biology and Compatarive Physiology of Bird Volume I.


Academic Press, New York.
Martawaijaya, E. I., E. Martanto dan N. Tinaprilla. 2005. Panduan Beternak Itik
Petelur Secara Intensif. PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.
57

Matitaputty, P. R., Noor, R. R., Hardjosworo, P. S., dan Wijaya, C. H. 2011.


Performa, persentase karkas dan nilai heterosis itik Alabio, Cihateup dan
hasil persilangannya pada umur delapan minggu. J. Ilmu Ternak dan
Veteriner. 16(2). 90-97.

Murni, M.C. 2009. Mengelola Kandang dan Peralatan Ayam Pedaging.


Departemen Peternakan. VEDCA. Cianjur.
Murtidjo, B. A. 2006. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Nadzir., A. Tusi, A. Haryanto. 2015. Evaluasi desain kandang ayam broiler di desa
Rejobinangun, Kecamatan Raman Utara, Kabu-paten Lampung Timur.
Jurnal Teknik Pertanian Lampung 4(4): 255-266

Nurfaizin, L.D Mahfudz, U. Atmomarsono. 2014. Profil hemotologi ayam broiler


akibar pemeliharan dengan kepadatan kandang dan penambahan jintan
hitam (Nigella saltiva l.) yang berbeda. J. Agromedia. 32(1). 81-88.

Nutriana, C. Dan S. Jatman. 2010. Anatomi ginjal burung walet dan burung
sarang putih (collocalia fuciphaga) dan sriti (collocalia linchi). J. Sains
Vet. 28 (2) : 55 62.

Olh I., N. Nagy , A. Magyar, dan V. Palya. 2003. Esophageal tonsil : a novel gut-
associated lymphoid organ. Poult Sci. 82 : 767 - 770.

Olh, I. Dan Vervelde L. 2008. Structure of the avian lymphoid system. In:
Davison F, Kaspers B, Schat KA, editors. Avian Immunol. California (US):
Academic Press is an imprint of Elsevier. p. 13 - 50.

Parker JE. 1969. Reproduction Physiology in Poultry. Dalam Reproduction in


Farm Animals. Edt. ESE Hafez. Second Edition. Lea & Febiger.
Philadelphia.

Prawira, Andhika. Yudha. 2014. Struktur Anatomi Syrinx Pada Ayam Ketawa.
Universitas Hassanudin, Makassar. (Thesis)

Priyatno, 2004. Membuat Kandang Ayam. Cetakan ke-8. Penebar Swadaya,


Jakarta
Rahayu, I., T. Sudaryani., dan H. Santosa. 2011. Panduan Lengkap Ayam. Penebar
Swadaya, Jakarta.
58

Rahmaningsih, S. 2016. Hama dan Penyakit Ikan. Deepublish, Yogyakarta.

Ranto dan M. Sitanggang. 2005. Paduan Lengkap Beternak Itik. Agromedia


Pustaka, Depok.

Rasyaf, M. 1995. Memelihara Burung Puyuh. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rasyaf, M. 2006. Seputar Makanan Ayam Kampung. Kanisius, Yogyakarta.

Rasyaf, M. 2007. Enam Kunci Sukses Beternak Ayam Kampung. Kanisius.


Yogyakarta.

Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Kanisius, Yogyakarta

Rasyaf, M. 2011. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.

Rasyaf, M. 2012. Beternak Itik. Kanisius, Yogyakarta.

Rirgiyensi, C., Y. Sistina dan F. N. Rachmawati. 2014. Ukuran organ sistem


reproduksi itik jantan yang disuplementasi probiotik mep+ berbagai dosis
selama 30 hari. J. Scripta Biologica. 3 (1) : 1 - 6.

Roni, F., dan A. Polana. 2004. Aneka Penyakit pasa Ayam dan Caea
Mengatasinya. Agromedia Pustaka, Depok.

Sahara, A., J. Prastowo, D. P. Widodo, E. S. Rohayati dan Widyarini. Identifikasi


cacing trematoda dan gambaran pantologi ginjal burung merpati yang
terinfeksi. J. Vaterienor. 14 (4) : 402 407.

Sahara, E. 2010. Pengaruh pemberian daun kaliandra (calliandra calothyrsus) dan


kepala udang terhadap keamanan organ dalam ternak itik. J. Peternakan. 5
(2) : 95 10

Septyana, M. 2008. Performa Itik Petelur Lokal dengan Pemberian Tepung Daun
Katuk (Sauropus androgynus) dalam Ransumnya.Institut Pertanian Bogor,
Bandung.(Skripsi)

Sidadolog, J.H.P. 2001. Manajemen Ternak Unggas. Universitas Gadjah Mada,

Sihombing, G., Avivah, dan S. Prastowo. 2006. Pengaruh penambahan zeolit


dalam ransum terhadap kualitas telur burung puyuh. J. Pengembangan
Peternakan Tropis. 31 (1) : 28 - 31.
59

Sinurat, A.P., S. Iskandar, D. Zainuddin, H. Resnawati, dan M. Purba. 2014.


Pemberian Pakan Ayam KUB Berbasis Bahan Pakan Lokal. IAARD Press,
Jakarta.

Siregar. A. P.,M. Sabrani dan Soeprawiro 1982. Tehnik Beternak Ayam Pedaging
di Indonesia. Merdie Group. Jakarta.

Storer, T.I and R.L. Usinger. 1978. General Zoology. Mc Graw-Hill, New York.

Sturkie, P. D. 2002. Avian Physiology. 3rd Edition. Spinger-Verlag. New York.

Subhan, A., Yuwanta, T., &Sidadolog, J. H. P. 2012. Pengaruh Kombinasi Sagu


Kukus (Metroxylon Spp) dan Tepung Keong Mas (Pomacea Spp) sebagai
Pengganti Jagung Kuning terhadap Penampilan Itik Jantan Alabio, Mojosari
dan Hasil Persilangannya (The Effect of Steaming Sago (Metroxylon Spp)
and Golden Snail Meal. J. Buletin Peternakan. 34(1). 30-37.

Sudrajat. 2002. Asal-usul dan Klasifikasi Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sudrajat. 2003. Beternak Ayam Pelung. Kanisius. Yogyakarta.

Suharno, B. 2006.Beternak Itik Secara Intensif. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sunarso., Christiyanto, M. 2000. Manajemen Pakan. Universitas Gadjah Mada.


Yogyakarta.
Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Susilorini, T. E., M. E. Sawitri dan Muharlien. 2008. Budi Daya 22 Ternak


Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.
Syafirdi, R. H. (2007). Kajian Morfologi Saluran Pernafasan Burung Walet Linchi
(Collocalia linchi) dengan Tinjauan Khusus pada Trakea dan Paru-paru.
Institut Pertanian Bogor, Bogor. (Skripsi)

Tabbu, C. R. 2012. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 2. Kanisius,


Yogyakarta.

Tanudimadja. 1978. School of Environmental Conservation Management.


Ciawi,Bogor.
60

Tillman, Hartadi. H, Rekso Hadiprojo. S., Prowirokusumo, Lebdosoekodjo. 1998.


Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Fakultas
Peternakan UGM. Yogyakarta.

Toelihere, M. R. 1985. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung.

Topan. 2007. Sukses Beternak Puyuh. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Tuli, N., F. J. Nangoy, E.S. Tangkere, dan L.M.S. Tangkau. 2014. Efektifitas
penambahan tepung rimpang temulawak (curcuma xanthorrhiza roxb) dan
temu putih (curcuma zedoria rosc) dalam ransum terhadap high density
lipoprotein (hdl), low density lipoprotein (ldl) dan berat organ dalam pada
ayam broiler. J. Zootek 34 : 95 107.

Wathes, C.M. l98l. Insulation of Animal Houses. In : J.A. Clark, Ed.


Environmental Aspect of Housing for Animal Production. University of
Nottingham.

Waty, M., T. Silvana dan S. T. Rini. 2015. Histologis testis pada keturunan f1 dari
induk puyuh (coturnix coturnix japonica l.) yang diberi suplemen serbuk
kunyit (curcuma longa l.) dalam pakan. Seminar Nasional Biologi II.
Universitas Diponegoro.

Wiradimadja, R., W. G. Piliang, M. T. Suhartono, dan W. Manalu. Dewasa


kelamin puyuh jepang betina yang diberi tepung daun katuk
(sauropusandrogynus, l. Merr.). J. Animal Production. 9 (2) : 67 - 72.

Wuryadi, S. 2011. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Puyuh. Agromedia Pustaka,
Jakarta.

Yaman, M. A. 2010. Ayam Kampung Unggul 6 Minggu Panen. Penebar Swadaya,


Jakarta.

Yaman, M. A. 2012. Ayam Kampung, Agribisnis Pedaging dan Petelur. Agriflo,


Jakarta.

Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Yuwanta, T.. 2008. Dasar Ternak Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Zainuddin, D. Masyitha, Fitriani, F. Muharrami, S. Wahyuni, Roslizawaty, dan M.


Adam. 2015. Gambaran histologi kelenjer tembolok ayam kampung, bebek,
dan merpati. Jurnal Medika Veterinaria. 9 (1) : 68 70.
61