Anda di halaman 1dari 6

PSIKOLOGI DAN KOMUNIKASI AUDIT

Psikologi (psyche=jiwa; logos=ilmu)ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang


berhubungan dengan lingkungannya. Auditor perlu memahami psikologi agar: (1)dapat
mengenal dan memahami diri sendiri dan orang lain mengenai sifat, sikap, motif dan
kepribadiannya. (2)dapat memilih cara yg tepat untuk berkomunikasi (3)dapat bekerja sama
secara harmonis dengan auditee, sehingga kegiatan audit berjalan lancer.

Hal di atas perlu dipelajari, karena auditor internal memeriksa teman sendiri dalam satu
organisasi (berbeda dengan ex auditor, yang memeriksa orang /pihak lain)

SUASANA PSIKOLOGI AUDIT YANG SESUAI


1. Menjaga perilaku diri: sopan, hormat, halus tutur kata, simpati dan empati, jujur,
tegas.
2. Menyesuaikan persepsi auditee
Menghindari halo effect (kesan awal yang bias) & stereotyping (kesan yang
terbangun sejak lama)
Memberi kesan pertama yang positif
Menjaga kesan selevel dengan auditee (mengenalkan diri dengan pokok
pembicaraan yang sesuai tingkatan auditee)
3. Menghindari kesan mencari kesalahan
4. Menciptakan suasana yang menyenangkan (menggunakan kata yang positif, tidak
mengancam/menakut-nakuti, tidak mondar-mandir selama pemeriksaan/sambil
bertanya).

KOMUNIKASI AUDIT YANG SESUAI


Mengenal tipe kepribadian auditee (introvert, extravert atau ambivert?) & latar
belakangnya
Menggunakan lambang dan message yang sesuai dengan norma dan kepribadian
auditee
Menggunakan teknik wawancara yang baik:
1. Persiapkan kuisioner dan pem bukaan yang baik
2. Hindari pertanyaan yang menuduh&memojokkan
3. Hindari istilah teknis audit yang tidak dikenal auditee
4. Cegah sikap defensif auditee dengan bersikap positif, mencari solusi bersama
5. Batasi informasi yang berlebihan
6. Menjadi pendengar yang baik
7. Kenali namanya dan sebut sesering mungkin
8. Hindari wawancara pada saat yang tidak sesuai (misalnya Jumat sore,
menjelang makan siang, sehari setelah sebelum libur)
9. Perhatikan tanda-tanda non-verbal bila auditee sudah jenuh
10. Akhiri wawancara dengan baik (gunakan hubungan interpersonal)

MENGHADAPI SIKAP AUDITEE YANG TIDAK BERSAHABAT (VERSI SAWYER)


Memilih waktu yang tepat
Jangan pernah mengambil posisi (pendapat) yang terkunci rapat
Jangan mengandalkan logika dari pemikiran (auditee) yang tertutup
Jangan pernah memojokkan diri anda pada posisi yang tidak dapat mundur dengan
terhormat
Hindari penggunaan kekuatan dan gunakan persuasi
Sejak awal, cari titik (solusi) yang dapat disetujui bersama
Undang klien untuk menjelaskan posisi mereka
Lakukan usaha secara aktif untuk menempatkan diri Anda di dalam posisi mereka
Bantu mereka untuk pembenaran

CONTOH SIKAP TIDAK BERSAHABAT

Auditee sering membandingkan kesenioran dirinya dengan auditor, membandingkan


almamater, terkadang memberi jawaban yang berkonotasi menguji pengetahuan
auditor yang lebih yunior (jawaban atas pertanyaan proses kegiatan/produksi,
penyusunan harga pokok,metode akuntansi auditee,dll)

Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahap awal, audit auditor yunior lebih baik
melakukan kegiatan audit yang umum dan mudah dikuasai (stock opname, cash
opname, meneliti akun tertentu; sambil mempelajari data dan meyakinkan diri untuk
wawancara lebih lanjut)

BILA TERJADI KONFLIK DENGAN AUDITEE


1. Jangan abaikan aspek positif konflik (mendapat solusi bersama, membantu kemajuan
organisasi)
2. Lakukan kompromi, pertimbangkan keberatan auditee terhadap wording dan temuan
yang kurang signifikan
3. Negosiasi secara win-win solution, dengan mengingatkan tujuan efisiensi dan
efektifitas kegiatan auditee dan tujuan organisasi; perhatikan sumber konflik serta opsi
yang ditawarkan auditee
4. Kalau terpaksa, dapatkan dukungan pihak lain (Direksi? Komite Audit?)
5. Jangan merasa bertanggung jawab atas permasalahan orang lain (misalnya: bila
sampai auditee dikenai sanksi perusahaan)

TAHAP PERKEMBANGAN KONFLIK

1. Latent stage: auditor dan auditee belum sadar ada potensi konflik (mereka sulit
bertemu)

2. Perceived stage: mulai dirasa potensi bahaya konflik (terbatasnya waktu dan biaya
dan mereka masih sulit bertemu)

3. Felt stage: merasa tertekan/stress, gelisah dan bermusuhan (adanya beda pendapat
dalam komunikasi)

4. Manifest stage: konflik sudah bersifat terbuka dan jelas

5. Conflict outcome: dampak konflik mulai terjadi dan dapat diukur besarnya

KONFLIK KONSTRUKTIF
Interpersonal conflict:
1. Mendorong kearah win-win outcome,
2. Konflik bersifat existing opportunity (dengan unsur-unsur: a. lebih siap
menghadapi konflik, b.memberikan tantangan dan perbaikan kedepan,
c.memperkuat hubungan antar anggota, d.meningkatkan kompetensi dalam
pengelolaan persoalan interpersonal dan interdepartemental, e.mendorong
pemecahan masalah secara bersama).

Intergroup conflict, dengan 4 perubahan positif:


1. Meningkatkan kohesifitas (barisan makin rapat)
2. Meningkatkan loyalitas
3. Lebih menerima kepemimpinan otokratif
4. Lebih mengutamakan pencapaian tugas group
Manfaat bagi group: meningkatkan koordinasi di antara group, memberikan
kontribusi memadai untuk pencapaian tugas, penggunaan efisien sumber-sumber,
pelayanan pelanggan yang meningkat.
Potensi pengaruh positive conflict group:
1. Peningkatan kesadaran akan permasalahan
2. Berkurangnya ketegangan hubungan
3. Penyesuaian tugas dan sumber-sumber
4. Pembentukan mekanisme kerja untuk feedback
5. Klarifikasi prioritas tugas dan peran.
KONFLIK DESTRUKTIF
Merintangi pencapaian tujuan individu, group dan organisasi keseluruhan.
Menghasilkan lose-lose outcome
Bancrupty & jobless
Pengaruh negatif:
1. Individual conflict: perilaku bermusuhan, sikap pandang berbeda, komunikasi
semakin berkurang
2. Intergroup conflict: mengurangi kekompakan antar group, menurunkan
produktivitas dan semangat kerja, mengancam going concern organisasi.
SEBAB UTAMA KONFLIK
Ketidak sesuaian tujuan (goal tidak selaras, sumber tidak mencukupi, periode waktu
berbeda)
Struktur (interdependensi, power diferrensials, lack of substitute-ability)
Ekspektasi peran yang berbeda (role ambiguity/ tidak jelas, role conflict, role
overload, uncertainty reduction)
Kemunduran kondisi (mengarah terjadinya konflik destruktif, sulit untuk recovery,
timbul akibat perbedaan nilai dan ekspektasi)
Perbedaan personal (tata nilai, cara untuk berperilaku, persepsi atas kehidupan)
CONFLICT AUDITOR VS AUDITEE
1. Penyebab yang dianggap umum
2. Dari segi auditee: Auditee merasa terganggu dengan kehadiran auditor; auditee tidak
suka auditor campur tangan dalam aktivitasnya
3. Dari segi auditor: Sikap auditee mempengaruhi penyelesaian tugas audit ; Temuan &
rekomendasi auditor ditanggapi kasar dan tidak bersahabat oleh auditee; adanya task
oriented auditor : harus mendapat temuan
4. Adanya emotional conflict: Sifat dan perilaku yang melekat pada diri auditor maupun
auditee

AKIBAT JIKA CONFLICT BENAR TERJADI


Too much cost to be paid by auditor
Cenderung lose-lose solution
Uncomfortable, suspectcious & distrust
The unresolved conflict:
1. Bagi auditee: tingkat moralitas kerja rendah, produktivitas turun, tingkat
perputaran pegawai tinggi,mudah sensitif, tersinggung dan marah
2. Bagi auditor: terhambat/tidak tercapainya tugas audit

MENANGKAP NILAI POSITIF KONFLIK


Antisipasi potensi terjadinya
Jika memang harus terjadi, mampu memberi peluang dan pengaruh positif, misalnya:
1. Membantu perkembangan organisasi
2. Membantu aktivitas auditee mencapai tujuan dengan 3E(efisien, efektif,
ekonomis)
3. Menstimulisasi kreativitas auditor
4. Bersama auditee, melakukan brainstorming masalah dan pemecahannya

FAKTOR KUNCI MENGAMBIL NILAI POSITIF KONFLIK


Mengetahui bagaimana berinteraksi di situasi dimana terjadi ketidak-sepahaman
Menghindari dari kondisi yang mengarah atau membawa pada situasi yang makin
panas.
oleh karena itu, auditor harus mengembangkan secara terus menerus ketrampilan
menangani dan mengatasi konflik serta mengetahui langkah-langkah praktis dan taktis
dalam sinergi hubungan auditor-auditee (EQ-ESQ)

MEMAHAMI KONFLIK AUDITOR-AUDITEE


Dalam praktek, sulit untuk menghindari konflik auditor-auditee, dengan kasus
utamanya:
1. Ketidak sepahaman dalam proses pembahasan.
2. Action plan untuk rekomendasi
3. Ketidak cocokan penggunaan istilah atau bahasa/redaksional dalam laporan
hasil audit

PENGEMBANGAN DIRI AUDITOR DALAM MENGHADAPI KONFLIK


Auditor harus mampu mengidentifikasi proses perkembangan konflik & langkah
antisipasinya
Harus mampu membatasi konsekuensi konflik
Dapat mengidentifikasi penyebab konflik dan alternatif pemecahannya
Mendorong auditee utk bersama memecahkan konflik yang terjadi
Mampu berempati utk menyatu padukan diri, terbuka /transparan & jujur terhadap
konflik yang ada
Mampu menguraikan dengan bahasa yang mudah dipahami pd saat konflik berhasil
diidentifikasi
Mampu meminimasi konsekuensi konflik
TUGAS RESUME AUDIT INTERNAL
Psikologi Dan Komunikasi Audit

Disusun Oleh:
Dyka Fajar M. (1351151)
Abiel Juniagawan (1351230)
Ulayya Kamillah (1451250)

Kelas AK-Q

Dosen:
Trimanto Setyo Wardoyo, S.E., M.Si., Ak., CA

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
2017