Anda di halaman 1dari 26

REFRESHING

MANAGEMENT TRAUMA

Disusun oleh:
Siti Sahara A. H
2012730156

Pembimbing:
dr. Gatot Sugiharto, Sp. B

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


BLUD RUMAH SAKIT SEKARWANGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2017
TINJAUAN PUSTAKA

ATLS atau Advance Trauma Life Support (Bantuan Hidup Tingkat Lanjut)
merupakan bagian dari ilmu medis yang khusus membahas tentang masalah
trauma yang bersifat gawat darurat. Namun yang perlu di ingat, trauma yang
bersifat gawat darurat disini, secara khusus dikerucutkan pada kondisi2
kecelakaan atau disaster (bencana), sebab pembahasan terkait misalnya status
asmatikus atau diare dengan dehidrasi berat yang sebenarnya juga gawat tidak
dibahas pada materi ATLS ini.

Pada prinsipnya ATLS menganut pedoman ABCDE (Airway, Breathing,


Circulation, Disability dan Exposure) pada setiap kasus emergensi, apapun
itu, dan juga prinsip 'ini' menjadi prosedur tetap dasar yang sama yang dianut
oleh seluruh dunia (same languages).

Pada ATLS kita mengenal tentang initial assessment (atau penilaian awal)
yang mana terdiri dari :

1. Persiapan awal

2. Triage

3. Primary survey (ABCDE)

4. Resusitasi

5. Tambahan pada Primary survey dan Resusitasi

6. Pertimbangkan Rujukan

7. Secondary survay

8. Tambahan pada secondary survay

9. Re - evaluasi
10. Terapi Definitif

1. Persiapan Awal :

Tahapan untuk mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk


proses primary survey dan resusitasi, dan yang lebih penting lagi adalah
alat proteksi diri (sarung tangan, masker, kacamata, dll) untuk mencegah
penularan penyakit yang mungkin dialami oleh penderita trauma yang
nantinya akan ditolong.

2. Triage :

Adalah pengambilan keputusan oleh tenaga kesehatan untuk menentukkan


pasien mana yang harus diprioritaskan penangannanya terlebih dahulu
berdasarkan jumlah sumber daya yang tersedia. Contoh : jumlah korban
yang melebihi kemampuan sumberdaya rumah sakit, maka korban yang
diprioritaskan adalah yang memiliki kemampuan survive (hidup) lebih
besar, dan sebaliknya jika jumlah korban tidak melebihi kemampuan
sumberdaya rumah sakit, maka korban yang diprioritaskan adalah korban
yang sangat terancam kehidupannya.

3. Primary Survey (ABCDE)

Merupakan penilaian cepat, untuk menemukan kondisi yang mengancam


nyawa dan harus segera ditangani pada SAAT ITU JUGA. Secara teoritis,
ditulis secara berurutan (ABCDE), namun pada kenyataannya dapat
dilakukan secara simultan.

4. Resusitasi

Adalah tindakan cepat restorasi untuk penanganan kondisi yang


mengancam nyawa, yang ditemukan saat dilakukan primary survey
5. Tambahan Pada Primary Survey

Pemeriksaan penunjang "terbatas" dan pemasangan alat untuk monitor atau


evaluasi pasca resusitasi, contoh pemasangan EKG, Pulse Oxymeter,
Rontgen Cervical, Thorak, Pelvis, Kateter Urine, dan nasogastric tube
(NGT).

6. Pertimbangkan Rujukan

Pada fase ini, tenaga kesehatan telah memiliki informasi yang cukup
tentang keadaan pasien, dan telah mampu untuk membuat keputusan untuk
merujuk atau hanya dirawat setempat.

7. Secondary Suvey

Adalah pemeriksaan lengkap yang dimulai dari anamnesis, riwayat trauma,


pemeriksaan head to toe, dan pemeriksaan lengkap neurologis.

8. Tambahan Pada Secondary Survey

Pada bagian ini, pemeriksaan penunjang lengkap dapat dikerjakan, contoh


Ct Scan, foto polos kepala, foto abdomen, analisa gas darah dll. Namun,
keputusan untuk pemeriksaan - pemeriksaan ini, sebaiknya tidak sampai
menyebabkan penundaan pada proses rujukan pasien.

9. Re-evaluasi

Sangat penting untuk melakukan reevaluasi pasien, karena ada dugaan late
onset atau proses on going yang berlangsung. contoh pasien cedera kepala
+ epidural hematom yang mungkin pada awal masuk RS masih sadar,
kemudian menjadi tidak sadar, dll.

10. Terapi Definitif


Adalah pengobatan beradasarkan penyebab perlukaan, contoh jika trauma
tersebut disertai fraktur maka harus dilakukan operasi ORIF atau OREF,
atau pada pasien cardiac tamponade dengan darah yang telah membeku
maka dibutuhkan pericardioctomy dll.

Sekali Lagi... Tahapan penting pada ATLS ini adalah primary survey dan
resusitasi. Menegakkan diagnosis pasti pada keadaan gawat darurat tidak
terlalu penting. Temukan masalah yang mengancam nyawa (assessment) dan
resusitasi segera.
PRIMARY SURVEY - AIRWAY 1st

Slogan : Apapun makanannya, minumnya Tetap 'ABCDE'

Primary Survey, merupakan penilaian cepat oleh tenaga kesehatan terhadap


keadaan yang mengancam nyawa. Mari kita bahas one by one, from A to E
not zero to hero.

A : Airway (jalan nafas, yang dimulai dari hidung dan mulut ke arah trachea)

ada 2 hal yang penting

- Harus mengenal macam - macam penyebab gangguan airway

- Harus mengetahui teknik dasar dan teknik lanjutan untuk menjaga patensi
airway

Hal pertama - macam - macam penyebab gangguan airway

Penyebab gangguan airway yang utama adalah obstruction / sumbatan, hal ini
dapat sebabkan baik oleh karena :

1. Posisi kepala (sniffing position)

2. Adanya darah dan gigi yang patah dalam rongga mulut (akan tampak suara
gurgling)
3. Lidah yang jatuh ke belakang (akan tampak suara snoring)

4. Fraktur pada laring, atau edema pada laring akibat luka bakar (akan tampak
suara snoring)

5. Adanya trauma multiple pada wajah

6. GCS 8 atau kurang - cedera kepala berat (CKB)

* Nilai dengan cara "LOOK, LISTEN, FEEL"

Hal Kedua - teknik dasar dan teknik lanjutan untuk menjaga patensi airway

Teknik dasar dan teknik lanjutan untuk menjaga patensi airway dapat
dilakukan dengan bantuan alat, maupun tanpa bantuan alat.

1. Jaw thrust dan Chin lift Manuver

2. Nasofaring dan orofaringeal airway

3. Intubasi Nasotrakheal dan Orotrakheal

4. Needle Crycothyroidektomy

5. Surgical Crycothyroidektomy

Penting : Pada pasien sadar dan bisa "berbicara", dapat kita


anggap sementara airway-nya clear

Head tilt-Chin lift


Orofaringeal airway

Endotrakeal intubation

Needle Crycothyroidekto
my

Surgical Crycothyroidektomy
Discuss :

1. Pasien dengan posisi kepala sniffing position / posisi bernafas, cenderung


memiliki airway yang sempit. sehingga perlu kita lakukan manuver chin lift
untuk clear airway (tapi ingat! tidak boleh sampai hiperekstensi kepala,
karena dapat memperburuk cedera cervical yang mungkin ada) dan dapat
dilanjutkan dengan pemasangan naso atau orofaringeal airway.

2.. Pasien dengan darah dan gigi yang patah dalam rongga mulut, maka
darahnya di suction atau giginya di swap finger, kemudian dilanjutkan dengan
manuver chin lift dan pemasangan naso atau orofaringeal airway.

3. Pasien dengan lidah yang jatuh ke belakang, maka setelah dilakukan


manuver chin lift, dapat langsung dilanjutkan dengan pemasangan
orofaringeal airway.

4. Pasien dengan fraktur pada laring, atau edema pada laring akibat luka
bakar, maka penting untuk melakukan intubasi endotrakeal lebih dini, untuk
menjaga patensi airway dari ancaman edema laring late onset.

5. Pasien dengan trauma multiple pada wajah, jika tidak memungkinkan


untuk dilakukan intubasi dini maka, lakukan needle crycothyroidektomy dan
dilanjutkan dengan surgical crycothyroidektomy
6. Pada pasien dengan GCS 8 atau kurang - cedera kepala berat (CKB), maka
merupakan indikasi untuk melakukan intubasi endotrakeal dini untuk
mempertahankan airway.

Setelah bantuan airway diberikan, lakukan pemberian oksigenasi, baik


melalui face mask breathing / nonrebreathing, nasal canul, maupun simple
face mask.

Contoh kasus :
Laki - Laki 39 tahun, mengalami kecelakaan kendaraan bermotor, dibawa ke
UGD oleh petugas lapangan dengan kondisi sadar, lemah, dapat berbicara ada
luka memar di daerah kepala samping, dengan perdarahan pada kulit kepala
yang tidak aktif, TD : 110/80, Nadi, 90x/menit, RR 24x/menit, GCS 13.

KeyPoint :

Karena dia 'sadar' dan dapat 'berbicara', maka sementara dapat kita anggap
airway-nya clear, sehingga hanya kita lakukan manuver chin lift kemudian
proteksi cervical dengan cervical collar, serta dilanjutkan dengan pemberian
oksigen 10 L/m via simple face mask.

1 jam kemudian, pasien mengalami penurunan kesadaran, GCS 8, TD 140/90


ND 90x/m, RR 24x/m dan terdengar suara tambahan snoring dari jalan nafas.

Key Point :

Pasien ini, mungkin mengalami lucid interval akibat epidural hemorage pada
perlukaan di kepalanya. Sehingga pada keadaan ini, menjadi penting untuk
kita lakukan intubasi endotrakeal agar menjamin pasokan oksigen yang
adekuat pada pasien tersebut.

All of them :

Maka Prinsipnya semua tindakan untuk


menjaga patensi airway tergantung dari
kondisi pasien pada saat penilaian dan sangat
penting untuk kita lakukan evaluasi untuk
menemukan ancaman airway lanjut (late
onset).

Epidural Hemorage
PRIMARY SURVEY - BREATHING 2nd

Baik. Setelah kita assesment airway dan kita pastikan patensi-nya clear, maka
kondisi hipoksia yang mengancam jiwa masih dapat terjadi jika ada gangguan
pada breathing-nya. So... Breathing atau bernafas itu sendiri, dapat menjadi
baik atau buruk ditentukan oleh beberapa lembaga, yang antara lain adalah 1),
Nerve, 2) Pulmo, 3) Diafragma dan 4), Stabilitas costa.

B : Breathing juga mempunyai 2 keharusan yang penting untuk kita ketahui,


yakni :

- Harus mengenal macam - macam penyebab gangguan breathing

- Harus mengetahui bagaimana penatalaksanaan awal gangguan breathing.

Hal pertama - macam - macam penyebab gangguan breathing (yang


biasanya terjadi oleh karena keadaan traumatik)

1. Tension Pneumothorak

2. Open Pneumothorak

3. Hemothorak Massive

Tension Penumothorak :

Adalah kondisi dimana adanya tekanan positif didalam paru, akibat trauma
tumpul dada yang pada akhirnya membuat paru disisi yang sakit menjadi
kolaps, sehingga muncul gejala sesak yang nampak pada pasien.

Diagnosis tension pneumothoraks adalah diagnosis klinis, yang ditandai


dengan :

- sesak nafas yang hebat pada pasien post trauma

- adanya suara nafas yang hilang pada salah satu hemithorak dan asimetri
- adanya pergeseran trakhea dari midline ke arah yang sehat

- adanya peningkatan tekanan vena leher (dapat juga tidak)

- adanya hiperresonansi pada saat dilakukan perkusi

Diagnosis tidak membutuhkan pemeriksaan foto rontgen.

Tension Pneumothorak

Open Penumothorak

Adalah kondisi yang hampir mirip dengan tension pneumothorak, namun


lebih jelas karena tampak luka tembus yang terbuka pada dinding dada yang
disertai dengan gejala :

- sesak nafas

- adanya suara nafas yang menurun pada hemithorak yang terluka dan
asimetri

- adanya pergeseran trakhea dari midline ke arah yang sehat

- adanya peningkatan tekanan vena leher (dapat juga tidak)

- adanya hiperresonansi pada saat dilakukan perkusi


Open Pneumothorak

Hemothorak Massive

Adalah kondisi perdarahan intra thorak akibat trauma yang dapat


teraklumulasi hingga 1,5 liter, dengan gejala :

- sesak nafas

- adanya suara nafas yang menurun pada hemithorak yang sakit dan asimetri

- adanya suara yang redup pada saat dilakukan perkusi

Hemothorak Massive

Hal Kedua, mengetahui bagaimana tatalaksana awal gangguan


breathing.

Jangan merujuk pasien yang mengalami gangguan breathing tanpa dilakukan


penatalaksanaan awal, karena akan meningkatakan resiko kematian pada saat
pasien dalam rujukan.
1. Tension Pneumothorak.

Keadaan klinis yang mendukung adanya keadaan tension pneumothorak


mengharuskan tenaga kesehatan secara dini untuk melakukan needle
thoracosintesis . Needle thoracosintesis adalah prosedur invasif menggunakan
jarum kaliber besar yang di insersi pada sela iga II midline clavicula
hemithorak yang sakit.

Needle Thoracosintesis

Prosedur needle thoracosintesis adalah tindakan emergency yang hanya


mengubah keadaan tension pneumothorak menjadi simple pneumothorak,
yang sewaktu - waktu masih berpeluang untuk kembali lagi menjadi tension
pneumothorak. Maka dari itu, perlu dilanjutkan dengan pemasangan chest
tube, untuk drainase (udara / darah) secara komplit. Chest tube merupakan
prosedur lanjutan yang dikerjakan untuk mengatasi baik keadaan tension
pneumothorak, open pneumothorak, dan hemothorak. Chest tube, dipasang
pada midline axilaris anterior, pada intercosta 5 yang sejajar dengan papilla
mamae pada pria dan atau lipatan mamae pada wanita.
Setelah pemasangan chest tube pada tension penumothorak, perlu dievaluasi
mengenai adanya undulasi, fogging dan bublling

Hematnya : Assesment for Tension pneumothorak --> Needle thoracosintesis


--> Chest Tube

2. Open Pneumothorak.

Sesak nafas yang disertai luka terbuka pada dinding anterior maupun inferior
dapat diketahui dengan inspeksi yang cepat, tepat dan terukur. Kondisi yang
jelas menunjukkan adanya keadaan open pneumothorak, merujuk pada
pemasangan cepat occlusiv dressing (dapat digunakan plastic wrap) dengan
metode three valve yang mana akan menyebabkan keluarnya udara positif
dari thorak pada saat inspirasi dan mencegah masuknya udara positif dari luar
ke dalam thorak pada saat ekspirasi.

Occlusive Dressing dengan three valve


Setelah occlusive dressing terpasang, dilanjutkan dengan pemasangan chest
tube sesuai dengan prosedur yang sama dengan keadaan tension
pneumothorak.

3. Hemothorak Massive

Pemeriksaan klinis tepat, dapat membedakan dengan baik keadaan baik


hemothorak atau tension penumothorak. Assesment yang telah dibuat untuk
kondisi hemothorak maka harus dilanjutkan dengan pemasangan chest tube
untuk drainase darah intrathorak, maupun untuk kebutuhan autotransfusi.
Prosedur pemasangan chest tube sama dengan dua kondisi diatas. Namun
pada keadaan yang berat, dimana kebutuhan pasien dengan hemothorak akan
cairan dan transfusi darah yang besar, maka intervensi bedah untuk prosedur
thoracotomy harus segera dipertimbangkan dan dilaksanakan.

Identifikasi masalah breathing


dengan menggunakan
pemeriksaan dasar IPPA
(Inspeksi, Palpasi, Perkusi,
Auskultasi) kemudian assesment
masalah dan dilanjutkan dengan
resusitasi segera sesuai prosedur
sebelum merujuk, sehingga yang
kita rujuk adalah pasien yang
akan membaik, bukan pasien
yang akan memburuk.

PRIMARY SURVEY - CIRCULATION 3rd


Circulation System

Circulation atau sirkulasi adalah proses pengaliran darah yang seharusnya


baik untuk menjamin pasokan oksigen ke sel-sel tubuh termasuk sel otak.
Keadaan dimana terjadinya gangguan sirkulasi, khususnya dalam hal trauma,
kita sebut sebagai syok.

Syok merupakan keadaan yang dijabarkan secara klinis, yakni adanya :

- Penurunan tekanan darah,

- Peningkatan denyut nadi,

- Penyempitan tekanan nadi,

- Penurunan jumlah pengeluaran urin,

- Akral dingin,

- Gangguan kesadaran.
Secara global syok mempunyai banyak jenis dan macamnya, ada syok
hipovolemik, syok kardiogenik, syok neurogenik, syok septik, dan syok
spinal, yang mana tidak semua tanda klinis yang penulis tulis diatas dapat
muncul secara general pada setiap kelas syok tersebut. Namun perlu
ditekankan untuk kesekian kalinya, bahwa pembahasan pada bab ATLS ini
adalah segala hal yang menyangkut trauma dan bersifat emergency, sehingga
semua keadaan syok yang terjadi pada pasien yang mengalami trauma,
HARUS dianggap sebagai syok hipovolemik sampai terbukti sebaliknya.

Syok hipovolemik, berhubungan erat dengan kehilangan sejumlah darah dari


tubuh pasien yang mengalami trauma, baik yang sifatnya perdarahan luar
(external bleeding), maupun perdarahan dalam (internal bleeding), dan
jumlah kehilangan darah pasien tersebut sebenarnya dapat kita perkirakan
dengan pendekatan Estimate Blood Loss (EBL) untuk kebutuhan penggantian
cairan nantinya.

Prinsip dasar dari BAB circulation ini adalah hentikan perdarahan (Stop
Bleeding) dan penggantian cairan (Fluid Replacment) dalam keadaan
emergency. Tapi harus tetap kita sadari, bahwa kedua tindakan ini BUKAN
tindakan definitif, sebab jika ada pasien yang datang dengan perdarahan
cukup banyak karena fraktur femur, maka definitifnya masih tetap operasi,
bukan fluid replacment secara terus - menerus. Ini harus dipahami.

Baik, hampir sama persis saat kita mengawali airway dan breathing pada
BAB terdahulu, didalam BAB circulation ini pun, kita masih harus
mengawalinya dengan meng-assessment permasalahannya dengan pendekatan
Periksa dan Lihat, serta kemudian di treatment permasalahnnya secara
emergency.

Assessment

Harus dilakukan dengan penuh ketelitian dan ketepatan dengan pendekatan


periksa dan lihat.
- Periksa tekanan darah, nadi, laju pernafasan, suhu, keasadaran, akral,
pengisian kapiler distal.

- Buka seluruh pakaian pasien dan lihat adanya hematome, external bleeding,
deformitas tulang atau kelemahan dari salah satu atau lebih anggota gerak
mulai dari head to toe.

Good Examination

Treatment

Setelah, assessment permasalahannya, maka jadikan Stop bleeding dan Fluid


replacment sebagai prinsipnya.

- Pasang IV line pada dua jalur vena, menggunakan jarum kaliber besar
(ambil sample darah untuk keperluan pemeriksaan), berikan kristaloid yang
telah dihangatkan (untuk mencegah hipotermi) dengan dosis 1-2 liter dewasa,
dan 20ml/kgbb anak-anak. Siapkan darah yang juga telah dihangatkan jika
sewaktu-waktu diperlukan transfusi.

- Pasang kateter urine untuk melihat jumlah output sebagai monitor sederhana
yang akan menilai adekuat tidaknya fluid replacment yang kita berikan.
(sebelum pemasangan, perhatikan indikasikontra, e.c Ruptur Uretra)

- Adanya jejas atau hematome pada kepala, thorak dan abdomen mungkin
memberi informasi untuk suatu internal bleeding yang mungkin saja
membutuhkan intervensi pembedahan secara dini (konsultasikan).

- Penemuan adanya external bleeding yang aktif, langsung dilakukan balut


tekan (direct pressure on the wound)
- Deformitas atau kelemahan pada salah satu atau lebih anggota gerak yang
merujuk pada suatu keadaan fraktur, maka perlu dilakukan realignment first
(luruskan se-anatomis mungkin) kemudian di bebat bidai.

- Pada fraktur pelvis yang sifatnya open book fractur harus segera di pasang
sling atau kain (sarung) untuk mengecilkan volume pelvis.

Sling untuk Mengecilkan Volume Pelvis

Dalam hal keberhasilan resusitasi, ada beberapa hal yang perlu dipahami
bersama, yakni : jumlah total darah, estimate blood loss (EBL), perbandingan
kristaloid dengan volume darah, dan respon pasien terhadap usaha emergency
yang telah kita berikan pada fase awal.

1. Jumlah total darah

Jumlah total darah pada orang dewasa normal adalah 7% dari berat badannya
(Rumus), yang artinya jika berat badannya adalah 70 kg, maka jumlah total
darahnya adalah sekitar 4.900ml atau 4,9 L, atau bisa kita jadikan 5 liter.

Sedangkan anak - anak adalah 8- 9% dari berat badannya (Rumus), yang


artinya jika anak tersebut beratnya 20 kg, maka jumlah darahnya adalah
sekitar 1600ml - 1800 ml, atau 1,6 L - 1,8 L.

2. Perbandingan kristaloid dengan volume darah

Kristaloid dapat digunakan sebagai pengganti volume darah dalam waktu -


waktu tertentu dengan roul 3 : 1, yang artinya, 300 ml kristaloid = 100 ml
darah. Maka, misalkan seorang pasien dia mengalami kehilangan darah
sekitar 3 liter pasca trauma, maka pasien tersebut membutuhkan 9 liter cairan
kristaloid untuk mengganti darahnya yang hilang tersebut.

3. Estimated blood loss

Estimasi kehilangan darah dapat dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan tanda


klinis.

Kelas 1 : kehilangan darah 15 % dari jumlah total darah

Kelas 2 : kehilangan darah antara 15 - 30% dari jumlah total darah

Kelas 3 : kehilangan darah 30 - 40 % dari jumlah total darah

Kelas 4 : kehilangan darah > 40% dari jumlah total darah.

Contoh kasus :

Si A, laki - laki, BB 70 kg, melompat dari lantai tingkat rumahnya karena


frustasi akibat kucing kesayangannya meninggal. Saat di bawa ke rumah sakit
pasien tampak somnolen (seperti mengantuk), TD 90/70, Nadi, 125x/menit,
RR, 29x/menit, suhu badan 36,5, akral dingin, dengan pengisian kapiler yang
lambat. Tampak ada deformitas pada paha kiri tanpa adanya perdarahan
eksternal. Dari tanda - tanda klinis tersebut, pasien dimasukkan dalam EBL
kelas 3. Bagaimana kebutuhan cairan pasien tersebut?

Jawab :

Pasien, berat badan 70kg, sehingga jumlah total darahnya sekitar 5 liter.
Secara klinis pasien masuk dalam kategori EBL kelas 3 yang artinya, pasien
kehilangan darah sekitar 30-40% dari jumlah total darahnya atau 30-40% dari
5 liter = 1,5 - 2 liter.

Selanjutnya roul 3 : 1. Yang berarti 1,5 -2 liter tersebut di kalikan 3.

Sehingga hasil akhirnya menjelaskan bahwa kabutuhan cairan kristaloid pada


pasien ini adalah 4,5 - 6 liter.
(ini hanya contoh kasus, karena pada keadaan sebenarnya mungkin saja
pasien tersebut sudah membutuhkan transfusi darah).

4. Respon pasien

Mengenal respon pasien terhadap fluid replacment

Hanya ada tiga pembagian :

1. Immediate respon (respon cepat)

2. Transient respon (respon sementara)

3. No respon (tidak berespon)

1. Immediate respon.

Pasien hipovolemik jenis ini, cukup berespon baik dengan dosis cairan awal
yang kita berikan (1-2 liter, dewasa / 20ml/kgbb, anak - anak) dalam keadaan
- keadaan awal dan bertahan hingga kondisi pemulihan pasien. Biasanya
perdarahan yang terjadi pada pasien ini tidak massive dan secara EBL kurang
dari 20%

2. Transient respon

Pasien hipovolemik jenis ini, pada keadaan awal berespon cukup baik dengan
dosis cairan awal yang kita berikan, namun beberapa saat kemudian jatuh
kembali dalam keadaan hipovolemik. Hal ini dapat disebabkan oleh karena
perdarahan yang masih berlangsung (on going process), atau mungkin saja
bukan syok hipovolemik melainkan syok neurogenik dan EBL-nya biasanya
antara 30-40 %. Pasien seperti ini mungkin membutuhkan transfusi darah.

3. No respon

Pasien hipovolemik jenis ini, sama sekali tidak berespon dengan resusitasi
cairan yang kita berikan. Perdarahannya cukup massive dengan EBL bisa
mencapai > 40%. Pasien seperti ini membutuhkan intervensi pembedahan se-
dini mungkin.

Jadi, dari semua hal diatas ketepatan dan kecepatan penanganan (STOP
BLEEDING and FLUID REPLACMENT) serta reevaluasi yang sering dan
berkesinambungan diharapkan dapat mengurangi hal - hal yang tidak kita
inginkan bersama, dan setidaknya juga sebagai fase pengujian eksistensi kita
sebagai pelayan yang profesional bagi masyarakat dalam keadaan emergency.
PRIMARY SURVEY - DISABILITY 4th

Setelah sukses menjalani prosedur dari airway, breathing, dan circulation,


saatnya kita memeriksa keadaan neurologis terbatas. iya terbatas, karena
kondisinya emergency, sehingga pemeriksaan neurologis yang lengkap hanya
akan membuang - buang waktu pada fase ini.

Pemeriksaan neurolgis terbatas yang perlu di periksa pada BAB disability ini
ada 3, yakni :

1. Derajat kesadaran yang diukur dengan skala GCS

2. Respon pupil dan diameter pupil

3. Tanda - tanda adanya lateralisasi.

Derajat kesadaran dapat memberikan informasi kepada tenaga kesehatan


tentang respon pasien terhadap usaha life saving yang telah dilakukan dari
awal serta setidaknya menentukkan kebutuhan pasien akan tindakan /
prosedur lain (seperti pembedahan)
Respon dan diameter pupil serta tanda - tanda lateralisasi akan memberikan
informasi mengenai adanya proses di intra kranial selain adanya luka
eksternal pada kepala yang dapat kita lihat secara langsung.

Pemeriksaan ini dapat saja di tunda pada secondary survey tergantung pada
keadaan pasien dan keputusan tenaga kesehatan yang merawat.

PRIMARY SURVEY - EXPOSURE 5th

Exposure atau paparan dalam dunia ATLS, tidak hanya tentang bagaimana
mencegah hipotermi, namun secara mendalam, adalah usaha untuk mencari
trauma atau jejas lain yang mengancam nyawa dan pencariannya didasarkan
pada mekanisme trauma.

Hipotermi

Hipotermi, atau keadaan suhu tubuh dibawah normal, dapat menjadi pencabut
nyawa yang kadang luput dari pantauan tenaga kesehatan.

Maka saran penulis, lakukanlah hal - hal dibawah ini untuk mencegah
kedatangan sang pencabut nyawa tersebut :

1. Hindari ruangan dingin atau ber-AC dalam perawatan pasien trauma.

2. Setelah pasien dibuka seluruh pakainnya untuk kebutuhan pemeriksaan,


jangan lupa di beri selimut tebal untuk penghangatan.

3. Saat melakukan resusitasi yang agresif baik dengan menggunakan cairan


kristaloid maupun darah, maka bahan - bahan tersebut harus dihangatkan
terlebih dahulu.
4. Pada pasien dengan trauma tenggelam, maka dengan cepat pakainnya harus
ditanggalkan.

Trauma dan atau Jejas lain

Setiap pasien, yang dibawa ke bangsal perawatan rumah sakit, hampir selalu
dalam kondisi supinasi (terlentang) dan jarang sekali, bahkan hampir tidak
pernah dalam posisi pronasi (telungkup). Artinya, saat pasien dalam posisi
supinasi, terkadang trauma dan jejas di bagian belakang (back) terlewatkan
(tidak diperiksa). Ini harus menjadi perhatian khusus, bahwa pada pasien
multi trauma, seluruh sisi tubuh harus diperiksa.

Jika pasien dalam kondisi supinasi dan tenaga kesehatan curiga ada cedera
spinal, maka untuk evaluasi sisi bagian belakang pasien, dapat dilakukan log
rolling dengan tetap menjaga kesegarisan anatomis tubuh.

Teknik log rolling Luka terbuka pada bagian


belakang

Dengan menyelesaikan seluruh BAB Primary Survey ini, maka pasien yang
mengalami trauma accident maupun disaster dengan bentuk apapun itu,
diharapkan dapat ditangani secara profesional dengan ABCDE sebagai
pembicara tunggal.