Anda di halaman 1dari 165

FHENOMENA PERPINDAHAN

Dr.Ir.Muhammad Yerizam, M.T.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2016/2017
FENOMENA PERPINDAHAN

I. PENDAHULUAN

1.1 PERISTIWA PERPINDAHAN

Dalam menghadapi perancangan alat proses, orang ingin mendapatkan


gambaran sejelas mungkin dari kejadian yang akan berlangsung dalam alat itu. Dari
gambaran atau perkiraan itu ia dapat memperolehkan keterangan-keterangan kualitatif
dan semi kuantitatif tentang proses itu. Keterangan-keterangan ini akan berguna sekali
dalam perancangan alat tadi.
Kejadian fisis akan selalu diikuti oleh berpindahnya satu atau lebih dari tiga
besaran yang berikut : massa, momentum dan energi (panas). Peristiwa perpindahan ini
akan dijumpai dalam semua operasi teknik kimia. Cabang ilmu yang disebut peristiwa
perpindahan mempelajari kejadian-kejadian fisis yang berlangsung selama suatu
operasi teknik kimia, dan mencari suatu model matematis, yang dapat menggambarkan
perubahan-perubahan yang berlangsung dalam peristiwa itu.
Model matematis ini menggambarkan kejadian itu secara ideal dalam operaasi
teknik kimia dihadapi peristiwa-peristiwa dalam keadaan yang nyata. Keadaan yang
sebenarnya itu memperlihatkan adanya berbagai factor teknis yang berpengaruh, yang
tidak terdapat dalam keadaan ideal.
Untuk dapat menerapkan persamaan-persamaan, yang diperoleh secara teori
dalam peristiwa perpindahan, ke dalam masalah-masalah teknik diperlukan pengetahuan
tentang factor-faktor teknis yang disebut diatas dan cara mengatasinya. Biarpun hasil-
hasil penurunan secara teori tidak dapat diterapkan secara langsung, namun persamaan
itu dapat memberikan gambaran dan pengertian yang lebih jelas dari besaran-besaran
yang berpengaruh dalam peristiwa itu dan perilakunya.
Peninjauan mekanisme peristiwa-peristiwa itu dilakukan dengan menggunakan
matematika sebagai alat bantu utama. Karena itu mereka yang ingin mendalami
peristiwa perpindahan, perlu menguasai bagian-bagian matematika yang dibutuhkan,
yaitu terutama ilmu hitung diferensial dan integral serta menyelesaikan persamaan
diferensial dalam menggunkan matematika itu, semua besaran dan sifat fisis diperlukan
sebagai perubah. Dengan sendirinya ketentuan-ketentuan ilmu-ilmu fisika, kimia fisik
dan termodinamika masih tetap berlaku terhadap perubahan-perubahan itu mewakili
besaran dan sifat fisis tadi.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 1


FENOMENA PERPINDAHAN

Hal yang terakhir memerlukan pemahaman yang mendalam. Jadi harus selalu
diingat, bahwa perubahn-perubahan yang digunakan dalam bentuk-bentuk matematis itu
tetap merupakan besaran fisis. Dengan demikian tiap-tiap perubahan (= besaran fisis)
itu tetap mengikuti ketentuan dan hukum fisiska yang berlaku baginya. Pengertian yang
makin mendalam tentang hal ini akan diperoleh, bila kita makin sering mencoba
memecahkan masalah-masalah perpindahan.
Dengan menggunakan matematika diusahakan supaya perubahan-perubahan
dalam suatu peristiwa dapat dinyatakan dengan persamaan matematis. Usaha ini selalu
diawali dengan momentum atau neraca panas. Neraca-neraca itu didasarkan atas ketiga
hukum kekekalan:

Hukum kekekalan massa


Hukum kekekalan momentum
Hukum kekekalan energi

Yang menyatakan bahwa massa momentum dan energi( panas) tidak dapat
musnah, kan tetapi hanya berubah bentuk.
Semua peristiwa menunjukkan adanya perubahan. Juga peristiwa perpindahan
memperlihatkan berubahnya besaran dan sifat fisis. Perubahan itu dinyatakan dengan
perbandingan diferensial sesuai dengan ilmu hitung diferensial.
Untuk dapat menyatakan perpindahan diperlukan pula satu sistem koordinat dan
satu sistem satuan. Untuk memudahkan perhitungan maka selalu dipilih sistem
koordinat yang sesuai dengan bentuk geometri dalam persoalan
Dengan menggunakan segala alat bantu yang diuraikan diatas, maka ilmu
peristiwa perpindahan bertujuan menemukan fungsi matematis yang dapat menyatakan
perubahan-perubahan dalam peristiwa itu sebaik mungkin.
Perpindahan momentum, perpindahan panas, dan perpindahan massa.
Pembahasan perpindahan momentum itu didahulukan dan pembicaraanya lebih luas dari
kedua bab yang lain. Karena kedudukannya, sebab hampir tidak ada masalah teknik
yang tidak menyangkut suatu fluida yang mengalir atau bergerak. Pembahsan
perpindahan panas dan perpindahan momentum. Karena itu untuk dapat mengikuti
pembicaraan perpindahan panas dan massa, maka perlu di kuasai bab tentang
perpindahan momentum.
Pembahasan tiap jenis perpindahan diawali dengan pembicaraan dasar-dasar
perpindahan dan masalah-masalah pokok. Kemudian menyusul contoh-contoh yang
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 2
FENOMENA PERPINDAHAN

dimaksud untuk memberikan pengertian yang lebih mendalam dalam pengenalan


dengan masalah-masalah yang termasuk dalam ruang lingkung teori.
Selain mempelajari teori yang disajikn dalam catatan kuliah ini. Perlu dilakukan
latihan membuat soal secara luas,agar dapat menerapkan ilmu itu secara lancer. Untuk
itu dimuat soal-soal untuk latihan yang ditempatkan sesudah pembahasan teori yang
bersangkutan. Dalam lampiran dimuat juga penyelesaian secara ringkas, beberapa soal
latihan, dengan maksud membantu mahasiswa dalam memecahkan soal-soal yang
serupa.
Catatan kuliah ini disusun berdasarkan kedua buku yang disebut dibawah ini.
Buku-buku ini memuat masalah yang lebih banyak.baik jenis baikpun jumlahnya.
Untuk memperdalam pengetahuan dan untuk mendapatkan cara penjelasan yang lain
terutama tentang bagian-bagian yang rumit. Sangat dianjurkan untuk membaca kedua
buku ini

Buku-buku pegangan itu adalah:


1. W. J Beek & K. M. K. Muttall, Transport Phenomena, John Wiley, 1975.
2. R. B. Bird, W. E. Stewart & E. N. Lightfoot, Transport Phenomena, John
Wiley, 1965.

Perlu diperhatikan bahwa kedua buku tersebut tidak memakai sistem satuan dan
tanda-tanda yang sama. Untuk penuju ke penggunaan sistem satuan yang mantap, maka
dalam catatan kuliah ini akan dipakai sistem satuan internasional SI, dan tanda-tanda
yang digunakan disesuaikan dengan kebiasaan dalam pelajaran operasi teknik kimia.
Karena pustaka menggunakan rupa-rupa sistem satuan.maka diperlukan
keterampilan mengubah satuan besaran dari satu sistem ke sistem yang lain. Untuk itu
didalam lampiran dimuat daftar konversi satuan-satuan itu.

1.2 HUKUM-HUKUM KEKEKALAN

Analisa peristiwa-peristiwa fisis didasarkan atas tiga hukum kekekalan yang


sudah disebut lebih dulu. Jika X itu dimisalkan massa, momentum atau energi, maka
secara umum hukum kekekalan itu dapat dinyatakan sebagai berikut:

(akumulasi X dalam sistem per satuan waktu)


(laju alir X masuk sistem per satuan waktu)
(laju alir X keluar sistem per satuan waktu)
(Timbulnya X baru dalam sistem persatuan waktu) .(1.1)
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 3
FENOMENA PERPINDAHAN

Sistem yang dimaksud dapat apa saja,akan tetapi dalam soal teknik biasanya
suatu alat. Dapat juga yang ditinjau itu hanya sebagai dari suatu sistem, jadi suatu sub-
sistem. Dalam hal sub-sistem itu sebuah sistem tanpa batas nyata. Maka batas-batas itu
harus ditetapkan, sebab tanpa menetapkan batas sistem persamaan (1.1) tidak dapat
ditetapkan. Jadi perlu ditetapkan batas-batas sistem, yang disebut volume-banding.

Marilah neraca itu kita terapkan pada contoh yang berikut :

Misalkan ada satu sistem dengan luas penampang S dan panjang L. (Gb 1.1) laju
alir besaran X persatuan luas penampang adalah Gx. Kecepatan X baru yang timbul atau
diproduksi persatuan volume dalam sistem adalah Rx. Akumulasi X per satuan waktu

dX
dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi X per satuan waktu atau dt .

Akumulasi dalam seluruh sistem menjadi Sr, Ld/Xt/dc. Dimana Sr = luas penampang
rata-rata.

Volume banding
S1 S2
Gx.1 Gx.2

Gambar 1.1 Neraca Makro

Dalam penerapan persamaan (1.1) dibuat neraca besaran X untuk sistem itu dan
diperoleh:

d (X )
SrL =Gx .1. S 1Gx .2 . S 2+ ( SrL ) Rx (1.2)
dt

(cobalah periksa satuan masing-masing suku). Persamaan (1.2) telah diperoleh


dengan menyusun masing-masing suku dalam persamaan (1.1). sesuai dengan sistem
yang sedang dipelajari, sebagai berikut:

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 4


FENOMENA PERPINDAHAN

Akumulasi X = (Volum) (perubahan konsentrasi per satuan waktu) = (SrL) .

dX
dt

Laju alir X masuk = (laju alir pada penampung 1) ( luas penampung1) = Gx.1 . S1

Laju alir X keluar = (laju alir pada penampung 2) ( luas penampung2) = Gx.2 . S2

Timbulnya X baru = (volume)(laju produksi X) = (Sr.L)Rx

Kalau keempat besaran diatas dimasukkan kedalam persamaan (1.1), diperoleh


persamaan (1,2), persamaan (1,2) selalu merupakan persamaan diferensial, yang
umumnya dapat diselesaikan secra langsung dengan cara-cara matematika. Hasil
penyelesaian persamaan diferensial itu menghasilkan suatu fungsi yang secra matematis
menggambarkan peristiwa yang sedang ditinjau itu. Fungsi tadi disebut model
matematis untuk kejadian itu.
Persamaan (1.1) dapat diterapkan pada sembarang sistem. Untuk itu terlebih
dahulu harus diterapkan volum banding dan besaran yang akan ditinjau, hal ini akan
sering dilakukan selama mempelajari selama mempelajari peristiwa perpindahan.

2. PERPINDAHAN MOMENTUM

Dalam bab ini akan dipelajari peristiwa-peristiwa dimana terjadi perpindahan


momentum, yaitu semua kerja diam yang menyangkut aliran atau gerakan fluida.aliran
fluida digolongkan menjadi aliran laminar dan aliran bergolak(turbulen). Pengetahuan
kita tentang aliran laminar lebih jelas, sehingga memudahkan analisinya, Dalam
meninjau aliran bergejolak masih banyak digunkan keterangan hasil percobaan.
Dengan membuat neraca energi mekanis dapat diperoleh persamaan untuk factor
gesekan, dan dapat dihitung energi yang hilang, dan daya diperlukan untuk aliran
dalam pipa. Akan dibicarakan juga perhitungan alat-alat pengukur aliran, hambatan
terhadap aliran oleh benda-benda yang terendam dan beberapa penerapan.

2.1 ALIRAN LAMINAR

Dalam suatu aliran laminar bagian-bagian fluida bergerak melalui jalur-jalur


yang sejajar satu dengan lain. Dan tetap mengikuti aliran alir. Dalam suatu aliran
bergolak terdapat banyak banyak gejolak kesamping, meninggalkan arah aliran, akan
tetapi secara keseluruhan terdapat gerakan kearah alir.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 5
FENOMENA PERPINDAHAN

Aliran laminar Aliran bergolak

Gambar 2.1 Aliran Fluida

Misalkan ada bidang padat yang berbatasan dengan cairan. Umpannya sebuah
miacar yang sebagian dicelupkan dalam air.Andaikan bahwa mula-mula tidak ada
gerakan pada suatu waktu bidang digerakkan dengan kecepatan yang tetap(V). maka
akan terlihat bahwa mula-mula bagian cairan yang menempel pada bidang akan
bergerak akan tetap, kemudian bagian-bagian cairan yang agak berjauhan dari bidang
itu. Juga akan ikut bergerak searah dengan arah gerakan bidang.

Gambar 2.2 Perpindahan Momentum

Molekul- molekul cairan yang tidak langsung bersentuhan dengan bidang padat
itu, bergerak dengan kecepatan yang lebih kecil dari v, makin jauh dari bidang makin
kecil kecepatannya. Bidang padat dapat memindahkan momentum kearah tegak lurus
pada arah kecepatan v, kearah berpindahnya momentum itu(tegak lurus pada arah v)
terdapat suatu peruabahan dalam besarnya kecepatan terdapat suatu perubahan dalam

dv
besarnya kecepatan terdapat suatu gradien kecepatan, dy terjadinya perpindahan

momentum itu disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antar molekul, yang
menimbulkan tegangan geser.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 6


FENOMENA PERPINDAHAN

Peristiwa ini digambarkan oleh hukum II newton untuk viskositas:

dVx
yx=
dy

Viskositas dalam sistem cgs mempunyai satuan (g.massa)(1/cm)(detik), yang


juga disebut poise. Factor-faktor dalam persamaan (2.1) dalam sistem cgs mempunyai
satuan sebagai berikut:
Vx=cm per det

y=cm

=g cm1 det 1

yx diperoleh sataun :
Sehingga untuk

yx=g cm2 ( cm . det2 ) =dine . cm2

= g det 1 ( cm . det 1 ) cm2=g . v .cm 2 det1

Dari uraian diatas terlihat, bahwa tegangan geser merupakan gaya yang bekerja
per satuan luas sejajar dengan arah sumbuh X, tetapi dapat juga dianggap sebagai
banyaknya momentum persatuan waktu yang melewati satu satuan luas kearah y yang
terakhir ini disebut laju alir momentum, persatuan luas atau fluksi momentum.
yx berati bahwa kecepatan Vx yang menimbulkan perpindahan

momentum,arah ke X dan arah pindah momentum itu sendiri telah lurus hanyalah satu

dari Sembilan suku-urai (komponen) tensor tegangan geser ( .

Sekalipun persamaan (2.1) merupakan definisi untuk viskositas ( ). Fluida

yang mengikuti Hukum Newton ini disebut fluida Newton, yang mempunyai harga

yang tetap untuk temperature tertentu. Viskositas merupakan sifat fisis fluida yang

besarnya tergantung pada tekanan dan temperature.


Fluida yang viskositasnya selain pada tekanan dan temperature, juga tergantung
pada factor-faktor lain. Misalnya waktu disebut fluida tak- Newton. Contoh cairan tak-
Newton ialah pasta,aspal cair, dsb. Fluida-fluida ini tidak dibahas lebih lanjut.
Untuk mengenal soal aliran laminar, marilah kita tinjau contoh dibawah ini:

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 7


FENOMENA PERPINDAHAN

Contoh 2.1 Aliran Laminar antarA dua lempeng datar

Gambar 2.3 Aliran laminar antara 2 lempeng

Suatu cairan Newton mengalir dengan kecepatan tetap secara laminar antara 2
lempeng mendatar yang berjarak (d) satu dari yang lain. Kedua lempeng itu tak teringga
panjang dan lebarnya.
vx
Diminta mencari penyebaran (distribusi)kecepatan , yang berarti mencari

vx
fungsi matematis yang menyatakan bagaimana berubah dalam arah y sewaktu

cairan mengalir diantara kedua lempeng . marilah masalah ini kita analisa lebih dahulu.
Arah perpindahan momentum adalah dari tengah-tengah aliran kearah kedua
lempeng, karena itu sebagai sistem koordinat dipilih sistem sumbu tengak lurus dengan
bidang v = 0 di tengah-tengah aliran. Sistem sumbu ini akan memudahkan menyatakan
bentuk matematis aliran.
Volume-banding dipilih sedemikian, supaya hanya dihadapi satu arah
perpindahan, yaitu volume antara bidang y = 0, lempeng atas selebar 3 dan antara
bidang :1 dan 2 yang berjarak L. Untuk pembuatan neraca dipilih arah pindah
keatas dalam gamabr 2.3.

Volume-banding digambarkan pada gambar 2.4

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 8


FENOMENA PERPINDAHAN

Gambar 2.4 Volume-banding contoh 2.1

Dalam menerapkan persamaan (1.2) perlu diperhatikan, bahwa:


mv
X = mv , jadi (X) = v
volume =

mv
Gx = xy =
t .luas

Vol . Rx = jumlah semua gaya yang bekerja pada sistem = Fx(selain tegangan geser).

Besaran-besaran ini dimasukkan ke dalam persamaan (1.2)

1
Y =0 xy BL Y = Fx(2.2)
2
BL d ( c v x)
= xy . BL
dt

Dalam contoh ini Fx merupakan jumlah hasil kerja tekanan dan gravitasi.

Fx = P1. BXP 2 BX+ PL X c g

Karena dalam hal ini pengaruuh garvitasi dapat diabaikan , maka substitusi persamaan
(2.3) kedalam (2.2) memberikan:
d ( Vx) 1
BL = xy BL Y =0 YX . BL (P1-P2) B (2.4)
dc 2

Kalau semua suku persamaan (2.4) dibagi dengan volume Pl5, sambil

dibuat sekecil mungkin, maka:

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 9


FENOMENA PERPINDAHAN

1
xy Y =0 xy BL Y =
2 menjadi - d xy

majadi dy , dan diperoleh :

d (v x ) d xy ( p 1 p2)
= + (2.5)
dt dy L

Jika sistem itu pada semua bagian-bagiannya mempunyai sifat yang tidak
berubah dengan waktu, maka keadaan itu disebut MANTAP, dan

d (v x )
=0
dt

Yang berarti tidak ada kumulasi momentum dalam sistem itu dan diperoleh:

( p1 p2 )
d xy= dy (2.6)
L

d xy
Yang merupakan persamaan diferensial untuk . Jika diintegralkan akan

xy
didapatkan persamaan yang dapat dipakai untuk menghitung .

( p1 p2 )
d xy=
L
dy

( p1 p 2)
xy = . y +C1 (2.7)
L

xy
Persamaan (2.7) disebut persamaan penyebaran tegangan geser , yang

xy
memperlihatkan bahwa berubah secara lurus dengan y. jika dikendaki

keterampilan keterangan tentang kecepatan Vx, maka persamaan (2.6) diubah dengan
menggunakan hukum newton (2.1) menjadi:

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 10


FENOMENA PERPINDAHAN

d xy=d ( ddtv )=
x ( p1 p2 )
L dy

(2.8)

Untuk memperoleh persamaan penyebaran Vx. Persamaan (2.8) diintegralkan dua kali :

( ddtv )=
x ( p1 p2 )
L dy + C

(2.9)

( p 1 p2) 2
Vx = y +C 1 y +C 2 (2.10)
2 L

C1 C2
Kedua tetapan integrasi dan harus diberikan nilai dengan

menggunakan syarat batas. Syarat batas adalah keterangan tentang besaran-besaran

xy dan v x
yang sedang ditinjau ( yaitu ) pada batas-batas volum-banding atau sistem.

v x pa da
Salah satu SYARAT BATAS memberikan harga permukaan

lempeng. Molekul-molekul yang bersentuhan dengan lempeng dapat dianggap

v x =0.
menempel erat pada permukaan,sehingga kecepatanya

Karena kecepatan alir itu simetris terhadap bidang y=0. Maka kecepatan terbesar akan
menjadi ditengah-tengah dan disitu tegangan geser adalah nol.
d vx
( v x maksimum dan xy = .
dt

Uraian diatas memberikan syarat batas :

1
, v x =0
S. B. 1. Pada y = 2 (2.11)

xy =0
S.B. 2. Pada y = 0, (2.12)

Kalau kedua syarat batas ditetapkan pada persamaan (2.10) diperoleh :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 11


FENOMENA PERPINDAHAN

( p 1 p2) 2 1
S.B.1. 0 = + C1 +C 2 (2.13)
L 2

d vx dv
S. B. 2. xy = =0+ x =0
dy dy

Hasil terakhir dan y = 0 dimasukkan persamaan (2.9)

( p1 p 2 )
0 = .0+C1
L

C1 =0 (2.14)

persamaan ( 2.14 ) dimasukkan persamaan ( 2.13 )

(p 1 p2) 2
C2 =
8 L

(2.15)

kalau kedua harga untuk C1 dan C2 diamsukkan persamaan (2.10) dan

vx
diperbaiki susunannya, didapat PERSAMAAN PENYEBARAN .

( p 1 p2 ) 2 2
v x= .( Y )
2 L 4

(2.16)

v x merupakan fungsi kuadrat dalam y dan garis penyebarannyaberbentuk parabola (g

ambar 2.5)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 12


FENOMENA PERPINDAHAN

Gambar 2.5 penyebaran tegangan geser dan kecepatan dalam aliran laminar
yang mantap antara 2 lempeng.

v x , dapat diturunkan
Sesudah diperoleh persamaan penyerapan berbagai

besaran lain.
v x didefinisikan sebagai berikut :
1. kecepatan rata-rata

Sesudah persamaan (2.16) disubstitusikan kedalam persamaan (2.17) dan dilaksanakan


pengintegrasikan didapat.
( p 1 p2 ) 2
v x= (2.18)
12 L

v x , maks diperoleh
2. kecepatan maksimum dengan mencari maksimum fungsi

Vx (2.16)

Karena geometri sistem ini mepunyai bidang simetris, dapat dilihat secara mudah bahwa

v x maks
tercapai pada y = 0,

sehingga:
( p 1 p2 ) 2
v x maks= (2.19)
8 L

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 13


FENOMENA PERPINDAHAN

Atau
3
v x maks= ( v x )
2

v
3. laju aliran volum Q diperoleh dengan menghitung hasil kali ( x) , x laus

penampang.
+1

B 2
Q= v x dy . dz (2.20)
0 1

2

vx ( p 1p 2 ) B 3
Q=( ).B = 12 L

Laju alir massa rata-rata adalah :

( p1 p2 ) B 3
G=Q. =
12 L

4. besarnya tegangan geser pada permukaan lempeng dihitung dari persamaan (2.7)

1

dengan mengisikan y = 2


1 ( p1 p 2 )
xy y = =
2 2L

(2.21)

2. 2 BEBERAPA CONTOH SOAL


Mempelajari ilmu pengetahuan teknik tidak cukup jika hanya dilakukan sampai
tahap pengertian. Penguasaan bahan pelajaran perlu dilanjutkan sampai diperoleh
keterampilan dalam menyelesaikan soal-soal dalam waktu cukup singkat. Untuk
memperoleh keterampilan menyelesaikan soal itu, diperlukan latihan. Untuk
mmembantu memberi dayaguna yang lebih besar kepada latihan menyelesaikan soal
oleh mahasiswa sendiri. Maka di bawah ini akan diberikan contoh-contoh penyelesaian
soal, menurut METODA PENYELESAIAN SOAL SECARA SISTEMATIS.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 14


FENOMENA PERPINDAHAN

Skema dan keterangan tentang metoda itu dimuat sebagai lampiran II catatan
kuliah ini.

Bacalah dengan seksama lampiran II lebih dulu sebelum mempelajari contoh-


contoh soal berikut:
a) Aliran laminar dalam pipa
SOAL:
Suatu cairan Newton mengalir secara laminar dan mantap dalam pipa datar.
Carilah penyebaran kecepatan dalam aliran itu terhadap jari-jari r. Marilah soal ini kita
selesaikan menurut metoda penyelesaian soal secara matematis (PSSS). Buka
halaman yang memuat lampiran II ke luar, sehingga anda dapat memeriksa setiap
langkah, sambil membaca uraian di bawah ini.
ANALISA:
Kita mulai dengan membaca soal di atas dengan seksama., dan kemudian
membuat analisa dari soal tadi. Analisa itu diawali dengan membuat skema sistem pipa
itu dan menuliskan semua besaran yang sudah diketahui dan yang ditanyakkan. Satuan
dari dimensi tidak menjadi masalah dalam soal ini, sehingga tidak perlu dicatat.

Gambar II.6 Aliran laminar dalam pipa

Skema terlihat pada gambar II. 6. Besaran yang diketahui V Z, laminar dan
mantap. Penyebaran VZ (yang ditanyakan) dinyatakan sebagai suatu fungsi VZ (r). VZ (r)
INILAH YANG DICARI.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 15


FENOMENA PERPINDAHAN

Volume banding yang dipilih berupa silinder (jari-jari r, panjang L), yang
diporosnya sama dengan poros pipa. Jari-jari pipa dan panjang pipa dinamakan R dan L.
Sebagai sistem koordinat dipilh sistem silinder. Dalam geometri yang mempunyai
bidang atau garis simetris, maka kecepatan maksimum terdapat pada sumbu simetri itu.

Ditempat itu r bernilai 0. Sebaiknya pada dinding atau permukaan saluran terdapat

maksimum. Kecepatan pada permukaa itu dianggap sama dengan 0 atau dasar anggapan
bahwa ditempat itu molekul-molekul fluida terikat erat pada dinding dan tidak bergerak.
Anggapan-anggapan ini kemudian akan menghasilkan syarat-syarat batas.
RENCANA:
Rencana pemecahan mengikuti cara pemecahan contoh Soal II. 1 perhitungan
penyebaran suatu besaran termasuk soal baku yang penyelesaiannya selalu dapat
dilakukan dengan tahap-tahap yang berikut:
1) Buat neraca momentum dalam volum banding.
2) Sederhanakan persamaan neraca itu dan bagi oleh volume.
3) Masukkan keterangan tentang keadaan sistem (keadaan mantap; gravitasi
tidak berpengaruh, dls.)
4) Peroleh suatu persamaan differensial dari hasil akhir neraca dengan
membuat r sekali.
5) Tetapkan syarat batas untuk menentukan nilai tetapan integrasi.
6) Subsitusikan nilai tetapan integrasi.

Dalam hal ini HUBUNGAN POKOK adalah neraca momentum. Disamping itu

berlaku HUKUM NEWTON dan anggapan, bahwa dan adalah tetap.

Neraca momentum: pers. (I. 1) untuk x = mv.


dv 2
Hukum newton : 0 rx = dr

tetap, du = 0
tetap, du = 0

PENYELESAIAN:
DALAM PENYELESAIAN kia lakukan lagkah-langkah yang disebut dalam
neraca. Untuk pembuatan neraca perlu ditetatapkan bahwa arah perpindahan momentum
adalah ke arah sumbu r positif. Berdasarkan persmaan (I.1) unsur-unsur neraca itu
adalah sebagai berikut.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 16


FENOMENA PERPINDAHAN

Akumulasi = 0, karena keadaan mantap


Laju alir momentum yang masuk pada r = 0:
0 rz .2 xrL r=0

Laju alir momentum yang keluar pada r = r :



0 rz .2 xrL r =r

Gaya-gaya dari luar yang bekerja pada sistem ialah:


0 + P 1. 2
Pada x = x r (karena arahnya ke z positif)

L P 2. 2
Pada x = x r (karena arahnya ke z negatif)

Gaya-gaya dari luar inilah yang dapat menimbulkan momentum dalam sistem di luar
momentum dari kecepatan.
Unsur-unsur di atas disusun sebagai neraca yang berikut:
2
0 = rz .2r apodioiini L r=0 rz .2 rL r=r +(P1P2 ) r

Neraca diatas harus diperbaiki susunannya untuk memudahkan penyelesaianya. Faktor-


faktor tetap dikeluarkan. Faktor-fktor yang berubah disatukan.

P
( 1P2) r 2
0=
2 rL { rz . r r=0 rz .r r =r } +

Ruas kiri dan kanan dibagi dengan besarnya volume banding : r2L.

P
( 1P2 )
L
0=
2 { rz . r r=0 rz .r r=r }
+
r2

Sekarang semuah selisih dan r dibuat kecil sekali mendekati nol. Perubahan-perubahan
yang terjadi ialah:

rz . r r=0 rz . r r =r
menjadi - d ( rz . r)

r2 menjadi d(r2) = 2 rdr

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 17


FENOMENA PERPINDAHAN

P1P2 menjadi - dp

Hasil neraca ialah:


( rz .r ) dp
2 d (2.22)
2 r dr L
0=


( rz .r ) dp
d =
r dr L


dp
( rz . r) =- rdr
L
d

jika diintegrasikan, diperoleh:

P 2
rz . r r + C1 P=P 1P2
= 2L ( )

P C 1
rz r+ (2.23)
2L r

Gaya-gaya dari luar inilah yang dapat menimbulkan momentum dalam sistem
diluar momentum dari kecepatan. Unsure-unsur di atas disusun sebagai neraca yang
berikut :

2
0 = 0 rz .2 xrL r=00 rz .2 xrLrr +( p1 p 2) r

Neraca diatas harus diperbaiki susunanya untuk memudahkan penyelesaiaannya.


Factor-faktor tetap dikeluarkan. Factor-faktor yang berubah disatukan.

r 2
0 = 2 L(0 rz .0 r =00 rz . rr r)+( p1 p 2) r

2
Ruas kiri dan kanan dibagi dengan besarnya volume banding: r L .

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 18


FENOMENA PERPINDAHAN

2(0 rz 0 |r =00 rz 0 |r =r ) ( p 1 p 2)
r r
0= 2
+
r L

Sekarang semua selisih dan r dibuat kecil sekali mendekati nol. Perubahan-
perubahan yang terjadi ialah:
0 rz 0 r|r=00 rz 0 r|r=r
r
menjadi -d( 0 rz 0

2 2
r menjadi d( r ) = 2 r dr

p1 p2 menjadi - dp

Hasil Neraca massa ialah:

r
2 d (0 rz 0 ) dp
0=
2r dr L

(2.24)
d (0 rz 0r ) dp
=
2 r dr L

r dp
d ( 0 rz 0 ) = rdr
L

Jika diintegralkan, diperoleh :


0 p 2
0 rz 0 r= r +C1 ( p= p 2 p 1) (2.25)
2L

Untuk memudahkan penulisan, syarat batas pertama gunakan di sini

S . B . 1 : pada r = 0, =0
rz

Substitusi syarat batas pertama ke dalam persamaan (2. 24) menghasilkan C1 = 0


Selanjutnya HUKUM NEWTON dimasukkan ke dalam persamaan (2. 25).

dv z p
rz =u = r
dr 2L

p
dv z= rdr
2uL

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 19


FENOMENA PERPINDAHAN

p 2
v z= r + C2
Integrasi memberikan : 4 uL

Dengan syarat batas kedua diperoleh harga C2 .

S . B. 2 : pada r = R. Vz = 0
p 2
c 2= R
4u L

Akhirnya dengan memasukkan nilai c2 diperoleh fungsi penyebaran vz :


p 2 p 2
v z= r R
4 uL 4 uL

p 2
v z= ( r R2 ) (II. 24)
4 uL

p R2 r 2 ( p1 p2 ) R2 2

Atau v z =
4 uL (( ) )
R
1 =
4 uL ( ( ))
1
r
R

PENILAIAN
Hasil penurunan itu memperlihatkan bahwa penyebaran kecepatan dalam aliran
laminer mantap dalam pipa merupakan fungsi parabola. Terhadap hasil ini kita lakukan
penilaian kembali.
Bentuk parabola sesuai dengan perkiraan, bahwa harga untuk kecepatan tercapai
pada r = 0. Tidak ada hal lain yang ditanyakan, sehingga besaran-besaran lain tidak
perlu diturunkan.

b. Aliran berlapis melalui anulus


SOAL
Dalam ruang antara dua pipa konsentris mengalir suatu cairan newton secara
laminer dan mantap. Jika kedua pipa itu tegak lurus dan cairan mengalir ke bawah,
carilah penyebaran kecepatan dan tegangan geser dalam aliran tadi.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 20


FENOMENA PERPINDAHAN

ANALISA
Skema sistem digambar pada gambar II. 7. Jari-jari penampang pipa dinamakan
R dan kR, dan panjang pipa disebut L.
Diketahui bahwa cairan Newton mengalir secara laminar dan mantap.

Ditanyakan : penyebaran vz dan .


rz

Dengan sendirinya dipilih sistem koordinat silinder dengan sumbu z di poros


kedua pipaitu. Sebagai volume-banding dipilih bagian anulus yang terletak antara
bidang-bidang datar z = 0 dan z = L, dan bidang silinder yang melalui vmaks (misalkan
pada r = R2). Momentum berpindah secara radial.
RENCANA
Rencana penyelesaian adalah sama dengan contoh 11. 2. a. Rencana ini berlaku
untuk semua penyelesaian soal untuk memperoleh penyebaran kecepatan.
Biasanya lebih mudah untuk mencari penyebaran v rz lebih dahulu, kemudian
baru penyebaran vz. Di sini berlaku hal lain, sebabnya diuraikan dibawah ini.
Juga di sini besarnya nilai vz menjadi vz maks dan vrz = 0. Pada r = R2. R < R1. kR.
Akan tetapi nilai R1 untuk sementara belum diketahui. Karena itu R 1 tidak boleh dimuat
dalam syarat batas.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 21


FENOMENA PERPINDAHAN

Sebagai latihan, tulislah secara tepat dengan kata-kata sendiri rencana


penyelesaian soal itu dengan terperinci, tanpa melihat pada contoh II. 2. a.
PENYELESAIAN
Penyelesaian dimulai dengan membuat neraca momentum dalam volume-
banding.
2 2 2 d( v z)
akumulasi=( k R1R1 ) L
dt

Selisih laju pindah momentum, 2 r rL=R L


- rz 2 r r =kR
rz 1

Gaya-gaya yang bekerja pada sistem,


2 2 2
Tekanan : (pO pL) = ( k R R1
2 2 2
Gaya berat : = ( k R R1 Lg

L
Dalam hal penulisan laju pindah momentum 2 r r =R perlu
rz 1

diperhatika, bahwa tanda | ditulis di sebelah kanan dari sebuah perubah, yaitu rz

Dan r. Di sini ( rz , r) merupakan satu besaran yang belum diketahui

bentuknya, dan karena itu harus dianggap sebagai satu perubah baru, yang berubah

menjadi d ( rz , r) sewaktu r menjadi dr.

Penerapan persamaan (I. 2) memberikan

d (v z )
( k 2 R2R 21 ) L = 2 r rL=R
dt rz 1 rz

2 r rL=kR + ( po pL ) ( k 2 R2R21 ) + ( k 2 R2R 21) log

Kalau dibagi dengan volume = ( k 2 R2R 21 ) L , serta semua selisih dan t dibuat kecil

sekali, maka :
( k 2 R2R 21 ) menjadi dr2
|r= R r =kR
rz r 1
rz r menjadi d (r )
rz

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 22


FENOMENA PERPINDAHAN

Dan diperoleh :

d (o v z ) 2 d (r rz ) ( po p L )
= 2
+ +o g (2. 26)
dt dr L

Untuk keadaan mantap persamaan (II. 25), menjadi :

d (r rz ) ( po p L )
0=- + +o g
rdr L

d (r rz ) ( p o p L ) + o gL
rdr = L

d (r rz )
( p o p L ) + o gL
= rdr
L

Integrasi memberikan :

r rz
( p o p L ) + o gL
= r 2+ c1
2L

po p L + o gL c 1
rz = r+
2L r

rz =0
Karena R1 sebenarnya tidak diketahui, maka disini syarat batas r = R 1,

tidak dapat dipakai. Pemakaian syarat batas ini akan menghasilkan nilai c 1 yang memuat

rz
R1, yang berarti nilai c1 belum diketahui juga. Karena penyebaran dicari

kemudian.
Substitusi hukum newton dalam persamaan diatas memberikan :
d v z po p L + o gL c 1
= r+
dr 2L r

integrasi memberikan

p o p L + gL 2 c 1
v z= r lnr + c2
4 uL

syarat batas 1:r =R , v z = 0

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 23


FENOMENA PERPINDAHAN

,vz
Syarat batas 2 : r = kR =0

Subtitusi syarat batas memberikan :


( po p L + gL) R2 ( k 21)
c 1=
4L ln k

( po p L + gL ) R2 k 21
c 2=
4 L ( 1
ln k
ln R )
rz
Akhirnya diperoleh penyebaran dan vz

( p o p L + gL ) R r k 2 1 R
rz
= 2L
(
R 2 ln k r ( ))
(2. 27)
( p o p L + gL ) R 2 r 2 k 21
Vz = 4 L ( ()
1
R

ln k ( ))
ln
r
R

(2. 28)

Bandingkan persamaan (2. 27) dengan persamaan (2. 24) contoh 2.2. a. Kedua
persamaan itu pada umumnya mirip dengan dua perbedaan, yaitu :
- Pengaruh gravitasi gLR2
2
k 1 r
- Suku ln k
ln
R ( )
yang merupakan penyimpangan terhadap

persamaan parabola untuk k = 1 persamaan (II. 27) berubah menjadi


parabola
rz
Penyebaran dan vz digambarkan dalam gambar II. 8

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 24


FENOMENA PERPINDAHAN

c. Aliran tangensial dalam anulus


SOAL
Ruangan anulus antara dua silinder tegak terisi oleh cairan. Kedua silinder
tertutup pada satu ujungnya. Mula-mula kedua silinder dan cairan itu diam, pada suatu

v
saat silinder-luar diputar dengan kecepatan sudut yang tetap. Carilah penyebaran

dan hitung momen yang bekerja pada silinder luar

ANALISA
Bagan sistem digambarkan pada gambar II. 9. Dipilih sistem koordinat silinder
dengan sumbu z pada poros kedua silinder. Sebagai volum-banding dipilih bagian
anulus yang terletak antara bidang- bidang z = 0 dan z = L. Momentum berpindah
secara radial ke arah sumber r negatif. Tidak ada selisih tekanan, karena aliran ke arah a
tidak disebabkan oleh selisih tekanan, tetapi oleh gerakan suatu permukaan padat. Juga
tidak ada pengaruh gravitasi, karena alas silinder meniadakan pengaruh itu.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 25


FENOMENA PERPINDAHAN

r v
Untuk merubah dimensi , maka dinyatakan sebagai kecepatan linier

v r ( r r ) . Dengan ini maka ruas kiri persamaan neraca


r dan menjadi

momentum di atas mempunyai dimensi yang sama dengan ruas kanan


Perlu diingat bahwa tidak ada pengaruh selisih tekanan dan gravitasi. Pembagian
2 2 2
dengan ( k R R ) L , dan membuat semua selisih dan r kecil sekali memberikan :


rv

d

2
2 d (r r )
Untuk keadaan mantap : 2
=0
dr

d ( r 2 r ) =0 (II. 28)

Integrasi memberikan :
2
r r =c 1

c1
r =
r2

Dengan hukum newton :


d v
r =r
dr r ( ) (lihat bawah)

d v c1
( )
dr r
= 3
r

Integrasi memberikan :
c 1
v = c 2 r
r

v =0
Syarat batas 1 : r = R,

v =kR
Syarat batas 2 : r = kR,

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 26


FENOMENA PERPINDAHAN

Substitusi syarat batas memberikan :


c 1=

Besarnya momen untuk memutar silinder luar adalah gaya x jarak:

KETERANGAN
Salah satu komponen tegangan geser dalam sistem koordinat silinder adalah:

Untuk daftar komponen yang lengkap, lihatlah dalam ini


II. 3 . RINGKASAN DAN SOAL-SOAL
RINGKASAN BAB I, II. 1, II. 2.
1. Telah dibahas pengertian pokok :
- Hukum kekekalan
- Neraca makro
- Aliran laminar dan bergolak
- Momentum
- Viskositas (kekentalan)
2. Telah dipelajari cara mencari penyebaran tegangan geser dan kecepatan dalam
suatu aliran :
- Neraca momentum
- Penyelesaian persamaan diferensial
- Syarat batas
- Besaran yang diturunkan
3. Coba katakan dengan kata-kata sendiri arti dan maksud tiap pokok bahasan
diatas

SOAL-SOAL
Dalam catatan kuliah ini setiap kali diberikan soal-soal, akan diberikan nomor
urut baru. soal yang mudah tidak diberi tanda. Soal yang agak sukar diberi huruf a
sesudah nomor soal, sedang soal yang lebih sukar lagi diberi huruf b sesudah nomor
soal :
1) Suatu lapisan cairan newton, mengalir ke bawah pada bidang tegak lurus. Tebal
lapisan cairan adalah d. Ambil lebar bidang = B dan perpotongan sumbu
koordinat pada bidang. Turunkan persamaan penyebaran tegangan geser dan
kecepatan alir.
Jawab :
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 27
FENOMENA PERPINDAHAN

xz dan v z
2) Gambarkan grafik antara x = 0 dan x = 6. Dari soal nomor 1.

Dimana terdapat vz maks, turunkan persamaan untuk laju alir volum Q


Jawab :
3) Pada dinding sebelah dalam sebuah pipa tegaklurus (jari-jari R, panjang L)
mengalir suatu lapisan cairan newton secara laminar. Keadaan adalah mantap
dan tebal lapisan = . ambillah arah sumbu z positif kebawah, carilah fungsi
penyebaran kecepatan vz
Jawab :
4) Antara dua bidang sejajar, yang berdiri tegaklurus dan berjarak 2 B, mengalir

suatu fluida newton karena gravitasi ( p=0 ), secara laminer kebawah.

Keadaan dianggap mantap. Carilah fungsi penyebaran kecepatan alir vz


Jawab :
5) Dari soal no. 4 carilah perbandingan antara kecepatan rata-rata (v z) dan
kecepatan maksimum vz maks. Cari juga besarnya laju alir volum Q
Jawab :
6) Sebuah silinder yang berdiri tegaklurus terisi suatu cairan newton. Silinder itu

0
(jari-jari R) berputar dengan kecepatan sudut . Carilah penyebaran

kecepatan v (r ) dalam cairan


v =0 r
Jawab :
2
7) Suatu cairan newton yang kental ( =1 N det /m ) dipompa melalui pipa yang

datar (diameter 2 x 10-2 m dan panjang 1 m) kedalam sebuah tangki yang


terbuka. Tekanan mutlak dalam pipa sesudah pompa 3 atm, dan tekanan
barometer 1 atm. Hitunglah laju alir cairan itu dalam liter/detik
Jawab : 0,8 l/detik
8) Celah (lebar 1. 10-3 m) antara 2 bidang datar yang sejajar terisi dengan suatu
2 2
cairan Newton yang kental (100 N det/ m luas bidang 10-2 m . Hitunglah

gaya yang diperlukan untuk menggerakkan satu bidang sejajar dengan bidang
yang lain. Sehingga tercapai kecepatan tetap 1.10-2 m/det. Hitunglah nilai
maksimum tekanan gesek dan kecepatan alir, dan gambarkan penyebarannya
antara dua bidang itu.
1000 N
maks= , v maks=
Jawab: F = 10 N, m2 1.10-2 m/det

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 28


FENOMENA PERPINDAHAN

9) Sebuah viscometer-putar terdiri dari sebuah silinder yang berputar (diameter 2


b, kecepatan sudut ) dan sebuah silinder lain (pelampung, diameter 2 a) yang
digantungkan secara konsentris dalam silinder yang pertama dengan tali torsi.
Untuk tali torsi berlaku hubungan a= C M.
a = perubahan sudut pada pelampung
M = besarnya momen yang bekerja pada pelampung
C = tetapan
Pelampung berada setinggi h dalam cairan yang akan ditetapkan kekentalannya.
Turunkan suatu hubungan antara peruabahan sudut pelampung dan kekentalan
cairan, jika cairan itu mengikuti hukum Newton, abaikan pengaruh alas silinder.
a b 2a2
Jawab: X= 4Co h ( a 2b2 )

10) Dalam sebuah saluran tegak lurus (berpenampung persegi sisi 2A. panjang L)
mengalir suatu cairan secara laminar. Carilah penyebaran kecepatan alirnya
po pL+ 2 gL 2 2 2
( 2 A x y )
Jawab: Vz= 4L

2.4 ANALISA DIMENSI

Dalam teknik kimia hubungan antara beberapa perubah sering dinyatakan


dengan menggunakan kelompok-kelompok yang tidak berdimensi. Kelompok semacam
itu disebut BILANGAN TANPA DIMENSI, dan terdiri dari gabungan besaran fisis dan
ukuran geometri. Persamaan- persamaan itu diperoleh melalui ANALISA DIMENSI,
dan kemudian disempurnakan dengan hasil percobaan.

Cara tersebut mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:

a) Persamaan yang diperoleh mempunyai suku-suku yang sama dimensinya, dan


memeriksa kesamaan dimensi ini dapat dilakukan dengan mudah.
b) Banyaknya perubah berkurang, yang akan mempermudah perencanaan
percobaan.
c) Selalu dapat diperoleh satu persamaan untuk satu masalah. Koefisien dan
eksponen yang belum diketahui, dapat ditentukan dengan percobaan.

Terhadap keuntungan- keuntungan itu dapat dikemukakan kerugian, bahwa


persamaan yang diperoleh dengan analisa dimensi itu tidak menggambarkan mekanisme
peristiwa yang bersangkutan. Fungsi yang sebenarnya hanya dapat diperoleh dengan
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 29
FENOMENA PERPINDAHAN

analisa yang lengkap. Kelemahan yang lain ialah, bahwa tidak dapat diketahui apakah
semua perubah yang berpengaruh sudah tercakup dalam persamaan hasil analisa
dimensi itu.
Pemakaian bilangan- bilangan tanpa dimensi dalam analisa dimensi akan
dijelaskan dengan contoh di bawah ini. Perhatikan urutan tahap-tahap yang dipakai.

Contoh II.4.a.
SOAL
Andaikan bahwa kita ingin mengetahui gaya yang bekerja pada sebuah bola
padat di dalam fluida, yang mengalir dengan kecepatan v0 terhadap bola itu.

ANALISA
Berdasarkan tinjauan secara fisis dapat dinyatakan bahwa besarnya gaya itu akan
tergantung pada diameter, sifat-sifat fisis fluida, dan kecepatan alir fluida, sehingga
dapat ditulis :

d , , , v
F= 0) (II,32)

Persamaan (II,32) harus mempunyai dimensi yang homogen, artinya suku-suku


diruas kiri harus mempunyai dimensi yang sama dengan suku-suku diruas kanan.
Kesamaan dimensi itu akan tetap ada kalau persamaan (II,32) ditulis sebagai berikut :

p q r s
F = d v0 tetapan

(II,33)

RENCANA :
Soal ini akan dipecahkan menurut cara analisa dimensi. Untuk itu persamaan
(II,33) dinyatakan dalam dimensi baku. Kemudian dicari kelompok-kelompok tanpa
dimensi untuk menggantikan perubah-perubah dalam persamaan (II,33).

PENYELESAIAN :
Persamaan (II,33) hanyalah cara menulis yang lain untuk persamaan (II,32). Ini

tidak berarti menyatakan, bahwa adalah fungsi eksponensial, karena semua

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 30


FENOMENA PERPINDAHAN

persamaan dapat diperlakukan demikian tanpa melihat pada sifat peristiwa yang
bersangkutan.
Menurut dasar analisa dimensi besaran-besaran dalam persamaan (II,33) dapat
dinyatakan dalam dimensi baku, umpamanya: panjang(L), waktu(t), dan massa(m),
sehingga diperoleh :
mLt-2 = Lp(mL-3)q (mt-1L-1)r (Lt-1)s . tetapan

Persamaan di atas masih tetap mempunyai dimensi yang homogen, jika dimensi
itu dinyatakan dengan L, m, dan t. Karena itu jika untuk satu dimensi eksponen-
eksponen dijumlahkan, maka jumlah eksponen dalam ruas kiri akan sama dengan
jumlah eksponen dalam ruas kanan.

Hal ini memberikan hasil yang berikut : m = mq+r l =

q+r

L = Lp-3q-r+s l = p-3q-r+s

t-2 = t-r-s -2 = -r-s

Ketiga persamaan di sebelah kanan memberikan penyelesaian :


p=s
q = s-1
r = 2-s

Kalau harga eksponen-eksponen itu dimasukkan dalam persamaan (II,33) didapat


persamaan dengan dimensi yang homogen :

s s1 2s s
F = d v0 tetapan (II,34)

Persamaan diatas memuat 3 besaran (F, d , , , v 0 ) yang dinyatakan dalam 3

dimensi baku (L,m,t), sedang untuk sementara besarnya s belum diketahui. Banyaknya
perubah dapat dikurangi dari 5 menjadi (5-3)=2 dengan membentuk 2 bilangan tanpa
dimensi. Pemilihan bilangan tanpa dimensi tidak dilakukan sembarang saja, akan tetapi
sedemikian hingga bilangan tanpa dimensi itu mempunyai arti khusus
Andaikan dipilih bilangan tanpa dimensi :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 31


FENOMENA PERPINDAHAN

F d
I= v 0 dan II = v 0

dalam mana v telah dipilih sebagai penyebut. Maing-masing bilangan I


0

dan II itu tidak berdimensi, sehingga jumlah eksponen setiap dimensi baku dalam
pembilang harus sama dengan jumlah eksponen dimensi tadi dalam penyebut.
Untuk bilangan tanpa dimensi I:
Pembilang I : mLt-2
Penyebut II : (mL-3)a (mt-1L-1)b (Lt-1)c
Jika jumlah eksponen masing-masing dimensi disamakan, didapat persamaan-
persamaan yang berikut:

m: l = a+b a = -1
L: l = -3a-b+c b=2
t: -2 = -b-c c=0

F
Bentuk I akhirnya menjadi I =
2

v0 d
Dengan cara yang sama diperoleh untuk bilangan tanpa dimensi II bentuk .

F
Sekarang persamaan (II,34) dapat diubah sehingga merupakan hubungan antara 2

s
v0 d F v 0 d
dan , menjadi : 2
=( ) tetapan

F v0 d
Karena gabungan perubah
2 dan keduanya tidak berdimensi,

maka sembarang hubungan antara keduanya juga akan tidak berdimensi :

v0 d
F
2
= ( )= (Re)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 32


FENOMENA PERPINDAHAN

v0 d
Kelompok disebut bilangan Reynolds (disingkat Re), yang sebenarnya telah

disusun sebagai perbandingan :

perpindahan momentum secara konveksi v0 v0 v0 d


gesekan dalam = v0 2d
=

Dari contoh ini dapat dilihat bahwa banyaknya perubah yang semula lima
berkurang menjadi dua. Hal ini akan sangat mempermudah pembuatan grafik dari hasil

percobaan, yang dilakukan untuk menentukan bentuk fungsi .

Contoh II.4.b.

H 60

SOAL

Sebuah takik berbentuk V seringkali dipakai untuk mengukur laju alir Q suatu
cairan dalam saluran terbuka. Untuk takik yang bersudut 60 telah diketahui untuk air,
bahwa laju alir besarnya 20 liter/detik, jika tinggi H itu 25 cm. Alat yang sama akan
dipakai untuk mengukur laju alir minyak dengan kekentalan kinematis (v= /s) yang
besarnya 10 kali v air. Perkirakan suatu titik peneraan untuk aliran minyak dari
ketentuan untuk aliran air.
Soal ini dapat diselesaikan dengan analisa dimensi, asalkan kedua aliran itu
sama sifatnya, misalnya keduanya berlapis. Dari keterangan untuk aliran air harus
disusun sebuah persamaan tanpa dimensi, yang juga berlaku untuk aliran minyak karena
kedua aliran mempunyai kesamaan dimensi, yaitu geometri dan sifat kedua aliran sama.

ANALISA

Q diperkirakan bergantung pada: H, , g dan . Jadi ada 5 perubah yang dapat

dinyatakan dengan 3 dimensi baku : m,L,t.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 33


FENOMENA PERPINDAHAN

Q = L3t-1
H=L
g = Lt-2
=mL -3

=mL -1 -1
t

Dari kelima perubah itu harus disusun 2 kelompok tanpa dimensi. Kita pilih
kelompok-kelompok yang berikut :

Q
a= 2,5
(I) = H b gc
a
b=0
c = 0,3

Q
(I) = 2,5
H g
0,3



(II) = H b gc
a
a = 1,5
b=1
c = 0,5 (II) =


H g0,5
1,5

Dari aliran air diketahui, bahwa :

Q = 20 l/det
Q 1,50,5
2,5 0,3 = H g ), untuk H = 25 cm
H g

RENCANA
Persamaan di atas harus dibuat berlaku untuk minyak. Pada nilai bilangan I dan
II yang sama persamaan itu berlaku untuk semua sistem yang serupa dimensinya.
Rencana pemecahannya adalah sebagai berikut.
Harga v untuk minyak disubstitusikan ke dalam bilangan II, Nilai H diubah
sehingga nilai II tetap sama seperti semula. Nilai H untuk minyak disubstitusikan ke
dalam bilangan I, dan Q diubah supaya nilai bilangan I tetap. Inilah Q untuk minyak.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 34


FENOMENA PERPINDAHAN

PENYELESAIAN
Untuk memberi nilai kepada bilangan tanpa dimensi, diperlukan penggunaan
satuan yang tetap, misalnya L = cm, m = gram, t = detik.

Kalau (II) diberi nilai untuk aliran minyak, maka pembilang ( ) menjadi 10

kali lebih besar. Supaya (II) mempunyai nilai yang sama dengan nilai untuk aliran air,
maka penyebut juga harus menjadi 10 kali lebih besar.

H
1 ( 2)1,5
(25)
1,5
= 10 H2 = 116 cm.

Nilai H2 sekarang disubstitusikan ke dalam (I), yang juga harus mempunyai nilai
yang sama dengan nilai untuk aliran air.

20 Q2
Q = 928 l/det.
(25)2,5 = (116)2,5 2

Kesimpulan :
Aliran minyak akan mempunyai laju alir sebesar 928 l/detik, jika H = 116 cm.
Dalam dua hal pengertian dimensi mendapat penggunaan yang penting.
1. Dimensi dapat dipakai untuk memeriksa kebenaran suatu persamaan. Suatu
persamaan harus mempunyai dimensi yang homogen: semua suku di ruas kiri
dan ruas kanan harus mempunyai dimensi yang sama. Karena itu setiap kali
disusun suatu persamaan, kehomogenan dimensinya harus diperiksa.
2. Penggunaan dimensi dalam analisa dimensi dan persamaan tanpa dimensi. Hal
ini akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

Dalam operasi teknik kimia banyak digunakan persamaan-persamaan tanpa


dimensi yang diperoleh dari hasil percobaan. Untuk memberikan kepada persamaan-
persamaan itu bentuk yang lebih sesuai dengan pemikiran teori maka kadang-kadang
diadakan penyesuaian berdasarkan hasil analisa dengan neraca mikro.
Jalan lain dapat juga ditempuh, yaitu hasil analisa dengan neraca mikro dapat
dituangkan dalam persamaan tanpa dimensi. Kemudian semua tetapan dapat diberi nilai
dengan menggunakan data hasil percobaan.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 35


FENOMENA PERPINDAHAN

Dalam contoh II.4.a di atas dapat diadakan pemikiran lebih lanjut berdasarkan
pengalaman percobaan. Dalam percobaan dengan bola diperoleh pengalaman, bahwa
pada kecepatan alir fluida yang sangat rendah, gaya F pada bola tidak tergantung pada

density fluida. Jadi dalam persamaan (II,34) eksponen untuk mempunyai harga 0,

atau
q = 0 = s-1 s=1

Dengan demikian persamaan akhir, yang berlaku untuk aliran yang sangat
rendah, ialah :
F v 0 d
= tetapan
2

F
v0 d = tetapan

Dengan menggunakan penelaahan menurut teori Stokes dapat menurunkan,


bahwa :

v 0 d
F=3

yang terkenal dengan nama Hukum Stokes. Hukum Stokes ini berlaku untuk
aliran yang sangat rendah Re < 0,1 dalam hal partikel yang jatuh dengan kecepatan
akhir yang tetap. Contoh ini dengan jelas menunjukkan adanya hubungan antara
kebiasaan-kebiasaan dalam operasi teknik kimia dan analisa berdasarkan teori, yang
digunakan dalam peristiwa perpindahan.
Perlu diterangkan, bahwa setiap kali digunakan bilangan Re untuk suatu sistem,
maka untuk d harus diambil ukuran panjang yang menjadi ciri sistem itu. Untuk bola
diambil d = diameter bola, untuk aliran dalam pipa d = diameter dalam pipa, dst. Karena
itu nilai bilangann Re hanya dapat dibandingkan untuk sistem-sistem yang sejenis.
Nilai Re = 0 berarti tidak ada aliran. Kalau kecepatan alir bertambah besar, maka

nilai Re akan naik, sebab untuk satu fluida yang mengalir dalam satu sistem ,

, dan d akan tetap. Jika kecepatan bertambah terus, sifat aliran akan berubah dari

berlapis ke bergolak melalui suatu daerah peralihan. Berakhirnya aliran berlapis selalu
terjadi pada nilai Re yang sama. Bermulanya aliran bergolak juga terjadi pada nilai Re

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 36


FENOMENA PERPINDAHAN

yang tetap. Dalam daerah peralihan aliran tidak menunjukkan sifat yang mantap,
kadang-kadang berlapis, kadang-kadang bergolak.
Kalau suatu cairan dialirkan dalam pipa dari berbagai diameter, maka untuk
mencapai nilai Re yang sama, kecepatan dalam pipa yang kecil harus lebih besar dari
pada kecepatan dalam pipa yang lebih besar. Sehingga pada umumnya aliran dalam pipa
yang besar lebih cepat menjadi bergolak daripada dalam pipa yang kecil.
Begitu pula kalau dalam satu pipa dialirkan cairan dari berbagai density, maka
cairan dengan density yang lebih besar akan lebih cepat menjadi bergolak, artinya
cairan itu mulai mengalir secara bergolak pada kecepatan yang lebih rendah. Sebaliknya
cairan dengan kekentalan yang lebih besar, akan lebih lama mempertahankan sifat
berlapisnya.

II.5 SOAL-SOAL

1. Dua buah bola, yang berbeda beratnya akan tetapi sama diameternya, jatuh
secara bebas tanpa hambatan. Bagaimanakah perbandingan kecepatan akhir
kedua bola itu?
Jawab : v1 = v2
2. Dua buah bola, yang sama beratnya akan tetapi diameternya berbanding seperti
d1/d2 = , jatuh secara bebas tanpa hambatan. Bagaimanakah perbandingan
kecepatan akhir kedua bola itu?
Jawab : v1/v2 = 2
3. Dalam percobaan dengan sebuah reaktor yang berbentuk silinder, dengan
volume 1 liter, diameter 10 cm, telah dicapai pengadukan yang cukup baik
dengan sebuah pengaduk, diameter 3 cm, pada 250 putaran per menit (rpm).
Dikehendaki untuk melakukan percobaan yang serupa dengan reaktor bervolume
10 liter, sehingga tercapai taraf pengadukan yang sama. Untuk pelaksanaan
percobaan itu, buatlah usul tentang ukuran reaktor dan pengaduk, serta
kecepatan perputaran pengaduk.
Jawab : reaktor baru, diameter = 21,6 cm
tinggi = 27,5 cm
pengaduk, diameter = 6, 5 cm
perputaran = 53 rpm
4. Pada ujung sebuah pipa kaca sedang terbentuk, tetes-tetes tunggal cairan, yang
kemudian lepas dan jatuh. Jika diameter tetes pada waktu lepas disebut diameter
kritis, carilah suatu persamaan tanpa dimensi yang dapat dipakai untuk
memperkirakan diameter kritis tetes.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 37


FENOMENA PERPINDAHAN

3
gd kr
Jawab : d pipa =6
5. Gunakan hasil soal nomor 4 di atas untuk memperkirakan diameter kritis tetes
air, yang terbentuk pada ujung pipa kapiler dengan diameter luar 2 mm.
Jawab : d = 4,4 mm
6. Carilah hubungan antara besarnya gaya, yang diberikan oleh aliran kepada
dinding pipa, dan sifat-sifat aliran. Dinding pipa dianggap licin. Ingat, bahwa

w
gaya itu sama dengan x luas permukaan dinding pipa.
Fp vd L
= { ,
Jawab : 2
D }

7. Tunjukkan, bahwa daya D yang diperlukan untuk memutar sebuah pengaduk

(diameter d) dengan kecepatan putar n(det -1) dalam fluida dengan density

dan kekentalan v, dapat dinyatakan dengan persamaan yang berikut :


2
D nd 2
nd

n d = , g )
3 5

II.6 ALIRAN DALAM PIPA

Dalam teknik banyak dijumpai aliran dalam pipa. Dalam fasal II,2 contoh a,
untuk aliran laminar dalam pipa telah diperoleh penyebaran kecepatan yang berikut :

r
( p 0 pL ) R 2
v z=
4 L {1-( R2
}

(II,24)

Aliran dalam pipa akan menimbulkan gaya yang bekerja pada permukaan
padatan, yaitu dinding pipa sebelah dalam. Gaya itu dapat dibedakan dalam dua jenis.
Yang satu, Fs adalah gaya statis, yang juga akan diterima oleh dinding pipa kalau fluida
itu tidak pengalir. Yang lain adalah gaya tambahan F k yang ditimbulkan oleh gerakan
fluida, yaitu TEGANGAN GESER.
Arah Fk sama dengan arah kecepatan alir dan dikenal sebagai akibat dari
ENERGI KINETIS. Fk dapat diartikan sebagai hasil perkalian suatu luas A, sejumlah

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 38


FENOMENA PERPINDAHAN

energi kinetis per satuan volume K dan suatu bilangan tak berdimensi f, yang disebut
FAKTOR GESEKAN, sehingga dapat ditulis :

Fk = Akf (II,35)

Periksalah dimensi persamaan (II,35)

Persamaan (II,35) bukanlah sebuah hukum , akan tetapi hanya merupakan


definisi untuk f, A dan K mempunyai sifat khusus yang berhubungan dengan sistem, dan
karena itu sebelum A dan K ditetapkan, maka f belum didefinisikan secara jelas. Dalam
menetapkan A dan K harus dijaga agar persamaan (II,35) tetap mempunyai dimensi
yang homogen.
Dalam hal aliran dalam saluran biasanya untuk A diambil permukaan yang

L
dibasahi dan untuk K diambil <v>2. Untuk pipa dengan diameter R dan
2

L
panjang L didapat : Fk = (2 x RL) ( 2 <v>2)f

(II,36)

Biasanya yang diukur bukan Fk, akan tetapi selisih tekanan p0 pL dan selisih
tinggi permukaan cairan h0 hL. Kalau dibuat suatu neraca gaya pada fluida dalam pipa
itu antara 0 dan L , maka untuk aliran yang sudah berkembang sepenuhnya dalam pipa

datar didapat : Fk = {( p0 pL) + g(h h )} vR2 = ( p p ) vR2 (II,37)


0 L 0 L

Eliminasi Fk antara persamaan (II,36) dan (II,37) menghasilkan :

p0 p L
L
< v >2
f=k( 2 ) (II.38)
d

L

f dalam bentuk di atas disebut FAKTOR GESEKAN FANNING. Persamaan (II,38)


menunjukkan bagaimana f dapat dihitung dari data yang diperoleh dari percobaan.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 39


FENOMENA PERPINDAHAN

Jika digunakan penyebaran kecepatan untuk aliran laminar (pers.II.24), maka


penerapan pers.(II,17) untuk <Vz> memberikan :
2
( p 0 p L) R
<Vz> = 8 L

Kalau <Vz> dipakai untuk mengeliminasikan ( p0 pL) dari persamaan (II.38)


akan didapat :

f = 16( < v >d

atau
16
f=

(II.39)

Pengalaman menunjukkan, bahwa persamaan (II,39) memang berlaku dalam


praktek operasi teknik kimia. Dengan demikian faktor gesekan untuk aliran laminar
dapat dihitung, jika diketahui bilangan Reynoldsnya. Cara penentuan faktor gesekan
untuk aliran bergolak akan dibicarakan kemudian. Dari analisa dimensi dapat
ditunjukkan, bahwa baik untuk aliran laminar maupun bergolak, faktor gesekan f

L

merupakan fungsi bilangan Reynolds dan bilangan tak berdimensi ( d , yaitu :

f = (Re,L/d) (II.40)

Grafik hasil percobaan untuk faktor gesekan yang diperoleh dalam operasi

teknik kimia memang sesuai dengan persamaan (II,40). Bentuk fungsi tergantung

dari sistem yang sedang menyalurkan aliran. Bentuk Re harus pula disesuaikan dengan
sistem.
Tegangan geser yang bekerja pada dinding pipa menimbulkan gesekan pada
permukaan itu. Kalau ingin diketahui besarnya tegangan geser pada dinding, maka perlu

diketahui lebih dahulu penyebaran . Untuk aliran berlapis dalam pipa penyebaran

telah diturunkan dalam contoh II.2a, yaitu :


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 40
FENOMENA PERPINDAHAN

( p 0 p L)

rz = 2L r

Selanjutnya dapat dihitung tegangan geser pada dinding :


( p 0 p L) R

w= |
rz r=R = 2L

Dan gaya yang bekerja pada seluruh permukaan pipa sepanjang L :

Fw = w. (2 RL) = ( p0 pL) vR2


(II.41)

Persamaan (II,41) memperlihatkan, bahwa besarnya gaya pada dinding sama


dengan selisih tekanan kali luas penampang, atau selisih gaya antara kedua ujung pipa.
Selama mengalir di dalam pipa sepanjang L itu, aliran kehilangan gaya sama besar
dengan yang digunakan untuk mengatasi gesekan pada dinding.
Gaya itu sebenarnya bukan musnah, akan tetapi berubah menjadi panas yang
akan menaikkan entalpi dinding pipa. Kehilangan energi karena gesekan (viscous
energy dissipation) tidak hanya terjadi antara fluida dan dinding, akan tetapi juga antara
molekul-molekul fluida sendiri. Dalam masalah-masalah aliran dalam saluran pendek
kehilangan energi karena gesekan itu kecil sekali., jika dibandingkan dengan perubahan
yang lain (tekanan, energi kinetis, tekanan hidrostatis), akan tetapi gesekan bertambah
besar jika saluran bertambah panjang.

11.7 ALIRAN BERGOLAK


Dalam aliran laminar arah perpindahan momentum dapat diketahui dengan pasti,
yaitu tegak lurus pada arah kecepatan linear. Ini disebabkan karena semua kecepatan
setempat mempunyai arah yang sama.
Dalam aliran bergolak vector kecepatan diberbagai bagian aliran tidak lagi
searah. Di semua titik, kecuali dekat sekali pada dinding saluran. kecepatan setempat
selalu berubah dari saat ke saat. setiap kecepatan setempat dapat diuraikan dalam tiga
suku urai sesuai dengan system sumbu yang digunakan. Dengan demikian tegangan
geser dalam aliran bergolak juga berubah-ubah arah. tegangan geser dan juga fluksi
momentum dapat dibagi menjadi 2 jenis. Satu jenis tegangan geser itu ditimbulkan oleh
suku kecepatan yang searah dengan arah alir aliran dan disebut Tegangan Geser Aliran
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 41
FENOMENA PERPINDAHAN

Laminar. salah satu persamaan newton yang berhubungan dengan ini sudah
dikenallebih dahulu (persamaan 11.1). sebenarnya semuanya ada 9 persamaan, masing-
masing untuk satu suku tensor. (lihat lampiran 111).
Selain tegangan geser aliran berlapis itu ada lagi tegangan geser yang
ditimbulkan oleh suku kecepatan ke kedua arah sumbu yang lain. Tegangan geser ini
disebut Tegangan Geser Aliran Bergolak. Menganalisa tegangan geseran aliran
bergolak sampai sekarang menemui kesukaran-kesukaran yang belum semuanya dapat
diatasi. Sekarang dikenal berbagai persamaan untuk itu, yang semuanya diperoleh dari
pengalaman percobaan(persamaan empiris) untuk memperoleh fungsi penyebaran
kecepatan dalam aliran bergolak tidak dapat ditempuh jalan analisa lengkap, akan tetapi
terpaksa digunakan juga persamaan hasil percobaan diatas.
Dari hasil analisa dapat diperoleh penyebaran kecepatan untuk Aliran Laminar
dalam Pipa :

Vz r V z> 1
= [1 ( 2
) ]; Vz , maks =
V zmaks R 2

(11.42)

Untuk aliran bergolak dalam pipa maka dari hasil percobaan telah didapat
penyebaran kecepatan secara kasar yang berlaku hanya untuk billangan Reynold antara
10.000 dan 100.000 :

Vz r V z>
= (1 1/7
) ; Vz , maks = 4/5
V z , maks R

(11.43)

Perbandingan penyebaran kecepatan dalam aliran laminar dan bergolak dalam


pipa dapat dilihat pada gambar 11.11

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 42


FENOMENA PERPINDAHAN

Gambar 11.11 penyebaran kecepatan aliran laminar dan bergolak dalam pipa

Gejolak kecepatan yang meninggalkan arah alir utama. Juga disebut


turbulensi.berkurang jika semakin mendekati dinding. Hal ini menjadi sebab munculnya
Teori Lampiran Batas Yang Laminar. Teori ini mengemukakan, bahwa dari aliran
bergolak bagian yang dekat dinding merupakan lapisan tipis yang mengalir secara
laminar. Dapat dimisalkan, bahwa ada bagian setebal 6 yang mengalir secara laminar
dan mempunyai gradient kecepatan yang tetap.berbatasan dengan bagian yang mengalir
secara bergolak dan mempunyai gradient kecepatan yang besarnya hamper nol.
Besarnya tegangan geser pada dinding ialah:

dv z V z>

w = - dr r=R =

Jika besarnya faktor gesekan f diketahui.maka untuk aliran dalam pipa 6 dapat
diperkirakan dari persamaan hasil analisa dimensi yang berikut :

1 Vz>
. 2 A
w = f. 2 < Vz > =

untuk aliran laminar dalam pipa telah diketahui dari pengamatan percobaan.

16
.
Bahwa hubungan f dan bilangan Reynolds f = hanya berlaku sampaibilangan

Reynolds 2100. Ini berarti bahwa aliran dalam pipa, yang mempunyai bilangan
Re < 2100, selalu laminar. Jadi, bilangan Reynolds dapat dipakai sebagai petunjuk
tentang sifat aliran. Ingat, bahwa batas Re- 2100 hanya berlaku untuk aliran dalam pipa.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 43


FENOMENA PERPINDAHAN

Untuk bilangan Reynolds yang lebih besar dari 2100 sampai kira-kira 4000
terdapat daerah peralihan yang memperlihatkansifat kecepatan yang tidak mantap.dalam
daerah peralihan aliran kadang-kadang bersifat laminar.kadang-kadang bergolak.untuk
aliran bergolaktelah diperoleh harga-harga faktor gesekan,yang dengan menggunakan
persamaan(11.43) dapat diubah menjadi rumus Blasius(11.44).
maka didapat hubungan-hubungan yang berikut :

16
f = : Re < 2100 Mantap (11.39)

------- : 2100 < Re < 4000 Tak Mantap

0.0791
f= : 4000 < Re < 100.000 Perkiraan

(11.44)

Untuk harga bilangan Reynolds lebih besar dari 100.000, tidak dapat dipakai
rumus,tetapi harus digunakan data percobaan seperti pada gambar 11.12

Gambar 11.12 Hubungan f dan Re aliran dalam pipa

11.8 SELISIH TEKANAN ALIRAN DALAM PIPA

Perhitungan selisih tekanan dalam pipa yang lurus untuk aliran laminar, dapat
dilakukan dengan mudah dengan lebih dahulu menurunkan pe rsamaannya dari
persamaan penyebaran kecepatan (pers 11.24) .

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 44


FENOMENA PERPINDAHAN

penurunan itu akan menghasilkan persamaan untuk laju alir Q :

( P 0P L )R 4
Q = 8 L

(11.45)
Persamaan ini terkenal sebagai HUKUM HAGEN-POISEUILLE, menurut
nama kedua orang ilmuwan yang berhasil menyusunnya untuk pertama kali. Persamaan
(11.45) menyatakan hubungan antara laju alir Q. ukuran pipa (R, L) dan gaya-gaya yang

menimbulkan aliran { (P0 PL) (P0 PL) + g (Z Z ) }. Kesemua besaran ini


0 L

dapat diukur karena dalam penurunan persamaan (11.45) gesekan tidak diperhitungkan.
Maka Hukum Hagen-Polseuille hanya berlaku untuk saluran yang pendek dimana
gesekan dapat diabaikan. Jika diketahui Q maka persamaan (11.45) dapat dipakai untuk
memperkirakan selisih tekanan dalam pipa lurus. Cara ini tidak dapat digunakan
terhadap suatu system perpipaan, yang memuat berbagai jenis sambungan yang
beberapa kali berubah arah. Karena neraca momentum itu akan menjadi rumit jika
dikerjakan secara matematis meliputi ketiga arah kedalam system sumbu.
Bernoulli telah menyelesaikan masalah ini dengan menurunkan suatu persamaan
dari neraca momentum, yang sebenarnya adalah suatu Neraca Energi Mekanis.
Persamaan itu disebet persamaan Bernoulli, dan dapat diterapkan pada bagian pipa
antara penampang 1 dan 2.

2
1
( 1 dp + g (h2 h1) + 2 (< V2 >2 - < V1 >2) G ) = 0
1

(11.46)

Dalam mana G = Laju Alir Massa

Dalam bentuk aslinya seperti diatas persamaan Bernoulli berlaku untuk fluida
yang tidak menunjukkan gesekan antara molekul-molekulnya. Untuk keperluan
penggunaan dalam teknik pers.(11.46) diperluas hingga dapat dipakai untuk fluida yang
mempunyai viskositas, menjadi :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 45


FENOMENA PERPINDAHAN

2
1
1 dp + g (h2 h1) + 2 (< V2 >2 - < V1 >2) + + = 0
1

(11.47)

Dalam nama :
Q = usaha mekanis yang di berikan oleh fluida per satuan massa kepada
E = energy mekanis per satuan massa yang diubah menjadi panas karena
gesekan molekul

Persamaan (11.47) seringkali juga disebut persamaan Bernoulli yang diperluas


bentuk integral dalam persamaan (11.47) dapat dihitung kalau diketahui persamaan
keadaan fluida itu. Jadi, kalau diketahui sebagai fungsi P atau sebaliknya dalam
perhitungan sering dipakai anggapan bahwa fluida itu memenuhi salah satu dari
keadaan batas yang berikut :
2 2
1 RT RT P2
Gas ideal padatemperatur tetap : 2 MP
dp= dp=
M
ln
P1
1 1

Fluida yang tak termampatkan : 1 dp= 1 ( P2 P1 )


1

Besarnya E tidak dapat dihitung, akan tetapi harus ditetapkan dengan percobaan.
Sekarang terdapat banyak daftaratau grafik untuk memperkirakan Rugi-Gesekan .
Karena rugi gesekan itu besarnya tergantung pada kecepatan, maka dapat

1
dinyatakan sebagai fungsi energy kinetis 2 <V>2, dalam hal ini ada dua perumusan.

Untuk bagian pita yang lurus dipakai :

1 L
= 2 <V>2 . Rn f

(11.48)

L adalah panjang pipa. F faktor gesekan dan R n jari-jari hidrolisis yang didefinisi
sebagai berikut :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 46


FENOMENA PERPINDAHAN

Luas Penampang
Rn = Keliling Yang Terbasahi

Untuk selokan, sambungan pipa dan katup digunakan :

1
= 2 <V>2 . ev (11.49)

ev disebut faktor rugi gesekan dan untuk aliran bergolak dapat diperkirakan dari daftar
yang dimuat sebagai lampiran IV.

11.9 ALIRAN DALAM SALURAN DENGAN LUAS PENAMPANG YANG


BERUBAH

Dalam teknik kimia sering dihadapi aliran dalam saluran yangluas


penampangnya tidak tetap. Saluran itu mungkin bagian dari alat atau sebuah alat sendiri.
Untuk penyelesaian soal-soal macam ini, tersedia tiga buah persamaan.
Dibawah ini ketiga persamaan itu akan dibahas untuk keadaan mantap. Jadi,

tidak ada akumulasi. Cairan yang ditinjau tidak termampatkan, dengan dan u

tetap.

Gambar 11.13 saluran dengan luas penampang yang berubah

Perhatikan gambar 11.13. pertama-tama dapat digunakan nerasa massa :


<v1> A1 = <v2> A2

Kalau laju alir massa disebut G, maka :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 47


FENOMENA PERPINDAHAN

G = <v > A = <v2> A2


1 1

Kemudian dapat dipakai neraca momentum untuk keadaan mantap. Yang dapat
diturunkan dengan menggunakan persamaan (1.1) untuk perpindahan momentum.
Seperti pada neraca massa diatas, yang digunakan sebagai volume dinding ialah bagian
alat itu yang terletak antara penampang 1 dan 2. Cara kerja ini disebut pembuatan
neraca secara makro.dalam hal ini momentum yang ditinjau ialah momentum yang

berpindah secara konveksi. vv dan gaya-gaya yang bekerja ialah tekanan.

Grafitasi dan gaya F oleh permukaan padat terhadap fluida. Yang terakhir ini adalah
gaya reaksi terhadap gaya gesekan fluida -Fk pada permukaan padat. Tanda kurang
untuk Fk ialah karena Fk keluar dari system. Maka neraca momentum itu dapat ditulis
sebagai berikut :

0= <v >2 A - <v2>2 A2 + P1A1 P2A2 + mt g + F (11.50)


1 1

Jika mt adalah massa total yang ada dalam volum-banding itu. Persamaan ketiga
yang dapat digunakan adalah persamaan Bernoulli yang diperluas :
2
1
dp + g (h1 h2) + 2 (<v2>2 - <v1>2) + + = 0
1

(11.47)

Yang berlaku untuk satu-satuan massa. Untuk mendapatkan harga


keseluruhannya, tiap besaran harus dikalikan dengan G.
Untuk saluran yang Datar atau Pendek pengaruh gravitasi dapat diabaikan,
sehingga persamaan (11.50) menjadi :

-F = <v >2 A - <v >2 A + P A P A


1 1 2 2 1 1 2 2

Untuk saluran datar dan tanpa penggunaan energy persamaan (11.47) menjadi :
1
1
1 dp + 2 (< V2 >2 -1 < V2 >2 ) + = 0
2

Penerapan persamaan-persamaan itu akan dijelaskan dalam contoh-contoh di bawah ini:

a Pipa Lurus

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 48


FENOMENA PERPINDAHAN

Jika luas penampang dikedua ujung sama, maka A1 = A2 dan Neraca Massa menjadi :

< V1 > = < V2 >


Neraca Momentum menjadi :

F = - (P1 P2) A

karena cairan hanya memberikan gaya berupa tegangan geser pada dinding pipa, maka

: F = - Fk = - w . SL (11.51)

Jika S adalah keliling penampang pipa dan L panjang pipa.


1

Berdasarkan persamaan (11.36) : F = - f (SL) 2 <v>2

Dalam hal ini perlu diadakan pembedaan yang jelas antara Fk dari persamaan
(11.36), yaitu gaya yang diberikan oleh cairan terhadap permukaan padat, dan F dari
persamaan (11.51) dan (11.52) yaitu gaya yang diberikan oleh permukaan padat

terhadap cairan. Fk searah dengan w dan searah dengan energy kinetis, sedangkan F

berlawanan arahnya. Berdasarkan hukum aksi-reaksi, maka:


Fk = - F
Jika F dihilangkan dari persamaan (11.51) dan (11.52) dan digunakan juga persamaan

1
(11.47), diperoleh : SL = f (SL) <v>2 = (P1 P2) A
w. 2

P1 P 2 1 SL
= f 2 <v>2 A

Untuk pipa lurus persamaan Bernoulli menjadi :


1
(P1 P2) + = 0

P1 P 2 1 SL
= = f 2 <v>2 A

A
Kalau diingat, bahwa S = Rn , maka persamaan (11.53) itu adalah tidak lain

dari pada Rugi-Gesekan untuk pipa lurus, persamaan (11.48).

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 49


FENOMENA PERPINDAHAN

Kalau persamaan (11.53) dibandingkan dengan persamaan (11.49), maka dapat

SL
ditulis, bahwa pipa lurus : ev = f A

dari contoh ini menjadi jelas bahwa dengan menggunakan ketiga persamaan :

Neraca Massa
Neraca Momentum Secara Makro
Persamaan Bernoulli yang diperluas

Dapat diperkirakan besarnya rugi-gesekan E , asal dapat ditemukan pernyataan


tentang besarnya gaya yang diberikan oleh cairan terhadap permukaan padat.
Pernyataan tentang besarnya gaya itu dapat disusun dari keterangan, bahwa besarnya

gaya itu sama dengan tegangan geser pada dinding, dikalikan dengan luas
w

permukaan dinding.

b Pelebaran Mendadak
Dalam hal pelebaran mendadak seperti digambarkan oleh gambar 11.14, akan
terjadi gejolak-gejolak yang akan memperbesar rugi-gesekan.

Gambar 11.14 pelebaran mendadak pada pipa.

Untuk keadaan mantap Neraca Massa adalah :


<v > A = <v2> A2
1 1

A2 1
<v1> = A1 <v2> = <v2>

(11.54)
Dan Neraca Momentum :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 50


FENOMENA PERPINDAHAN

-F = <v1>2 A1 - <v2>2 A2 + P1A1 P2A2 (11.55)

Besarnta F dapat diperkirakan, kalua gesekan pada dinding diabaikan dan


tekanan segera sesudah pelebaran (pada bidang 3) dianggap sama besar dengan tekanan
di bidang I. besarnya F itu akan sama dengan tekanan kali selisih luas permukaan :
-F = -P1 (A2 A1)
Yang dengan persamaan (11.54) dan (11.55) menghasilkan :
P2 P 1 1
= <v2>2 ( 1)

(11.56)

Persamaan Bernoulli untuk pelebaran mendadak dapat ditulis sebagai berikut :

1 1
2 (P2 P2) + 2 (<v2>2 - <v1>2 + - 0

(11.57)

Dengan memasukkan persamaan (11.56) kedalam persamaan (11.57) dan lagi


menggunakan persamaan (11.54) diperoleh :

1 1
= 2 <v2>2 ( - 1 )2

(11.58)

Dengan memasukkan persamaan (11.56) sesuai dengan hasil percobaan. Kalua

deperlihatkan, bahwa < 1, maka :

1 1
> 1 dan ( - 1 ) > 0 , sehingga persamaan (11.56) memberi

kesimpulan :
P2 P1 > 0

Yang berarti sesudah pelebaran mendadak ada kenaikan tekanan.

c Aliran Cairan Melalui Orifis

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 51


FENOMENA PERPINDAHAN

Sebuah orifis adalah sebuah lubang pada sebuah lempeng, yang dipasang tegak
lurus pada arah alir didalam pipa. Selisih tekanan yang timbul digunakan untuk
mengukur besarnya aliran yang lewat.

Gambar 11.15 Aliran Lewat Orifis

Pada lubang orifis luas penampang mendadak menjadi kecil dan energy kinetis
menjadi besar. Sesudah lewat lubang luas penampang lebih dahulu mengecil untuk
segera menjadi besar dan akhirnya memenuhi pipa.tempatsesudah setelah lubang
dengan luas penampang terkecil disebut VENA CONTRACTA.
Segera sesudah orifis aliran terlepas dari dinding dan ditempat itu menjadi
banyak gejolak, yang menyebabkan banyak energy yang hilang. Ditempat ini tekanan
turun terhadap tempat sebelum orifis.
Untuk keadaan mantap Neraca Massa menghasilkan (lihat gambar 11.15)
<v > A = <v > A
1 1 2 2

Karena A1 = A2 , maka <V1> = <V2>

Persamaan Bernoulli memberikan :

1 1 1 1 1 1
(P2 P1) + a2 2 <v2>2 - a1 2 <v1>2 + 2 <v2>2

ev = 0

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 52


FENOMENA PERPINDAHAN

1 P2
P

<v2> = 2



1 P2
P


G= <v> A = A 2



(11.59)
a2 dan a1 adalah faktor-faktor koreksi.karena sebenarnya < V2 >2 dan < V1 >2 adalah
penyederhanaan dari :
v 2> v 2>
v2 > v2>
3 3
dan

selanjutnya dianggap :
ev = 0
a1 = 1
A
a2 = ( A 0 )2

dalam nama A0 adalah luas penampang lubang orifis. Persamaan 11.59 menjadi :
P1P2

A0 2

A
G = A0
1
2

Untuk mengimbangi kesalahan-kesalahan yang telah dibuat dalam ketiga


anggapan diatas,maka dalam teknik biasa ditambahkan satu koefisien buang.Yaitu Cd :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 53


FENOMENA PERPINDAHAN

P1P2

A0 2

A
G = CdA0 (11.60)
1
2

Besarnya Cd tergantung dari A0/A. ukuran pipa dan letak titik 2 . suku-suku
tentang alat-alat pengukur aliran biasanya memuat daftar harga Cd.

d Tabung Venturi

Dalam tabung venture atau venture tube perubahan diameter dibuat lambat laun
supaya aliran dapat mengikuti batas pipa tanpa menimbulkan gejolak yang akan
memperkecil energy yang hilang.

Gambar 11.16 Tabung Venturi

Biasanya dalam teknik dipakai untuk tabung venture persamaan yang serupa dengan
orifismeter, akan tetapi dengan koefisien-buang yang lain :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 54


FENOMENA PERPINDAHAN

P1P2

A0 2

A
Gm = CdA0 (11.61)
1
2

e Rotameter

Sebuah rotameter ialah alat pengukur aliran. Yang terdiri dari sebuah pipa dengan
diameter yang mengecil kebawah, dan sebuah pelampung.

Gambar 11.17 Rotameter

Tekanan terhadap sebelah bawah penampung sepanjang pipa itu tetap P1 dan
tekanan dari atas tetap P2. Sehingga selisih tekanan melewati pelampung P1 P2 .
dengan demikian, gaya terhadap pelampung setimbang dengan berat semu pelampung.
Kalau laju alir membesar, pelampung akan didesak keatas sehingga luas penampang
sesuai dengan besarnya laju alir.kesetimbangan dapat ditulis sebagai berikut :

F = (P1 P2) Ap

F = VPg ( )
P c

(P1 P2) Ap = Vp g ( )
P c

(11.62)

Jika Ap = luas penampang terbesar pelampung


Vp = volum pelampung

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 55


FENOMENA PERPINDAHAN

= berat jenis pelampung


p

= berat jenis cairan


c

Kalau persamaan 11.62 disubstitusikan kedalam persamaan orifismeter 11.60


diperoleh :
AS 2
}
At

G = CrAs A p {1
2 c V p g( pPc )

Jika As = At - Ap
At = Luas Penampang Tabung Pada Tempat Pembacaan

AS 2
}
At
Faktor {1 biasa disatukan dengan koefisien rotameter Cr.

G = Cr ( At Ap ) 2 c V p g( pPc )
Ap (11.62)

Seperti pada orifismeter dan tabung venture, koefisien-buang rotameter berubah


dengan kecepatan alirdan sifat fluida,lagi pula untuk rotameter tergantung pada bentuk
pelampung.

f Tabung Pitot

Tabung pitot terdiri dari dua pipa konsentris.pada mulut tabung dipasang tegak
lurus pada arah alir, akan timbul perbedaan tekanan yang menunjukkan besarnya aliran
ditempat sekitar mulut tabung.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 56


FENOMENA PERPINDAHAN

Gambar 11.18 tabung pitot

Mula-mula cairan mengalir masuk mulut tabung pitot. Sampai kenaikan tekanan
didalam tabung mengimbangi kecepatan alir cairan, tepat didepan mulut tabung, cairan
itu berhenti mengalir.tekanan statis pada tempat pengukuran diukur pada lubang lain
yang sejajar dengan arah alir.
Penerapan persamaan Bernoulli menghasilkan:
1 1
2 (v2 2 v1 2) + (P2 P2) + = 0

Jika dianggap sebagai sebagian dari suatu tetapan C p dan < V2 > dinyatakan
sebagai perbandingan terhadap < V1 >, yang juga ditampung dalam tetapan. Maka
diperoleh persamaanuntuk tabung pitot :

V1 = Cp 2(P2P 1)
Pc

(11.63)
Jika Cc = Berat Jenis Cairan Yang Diukur
Cp = Koefisien-Buang Tabung Pitot
V1 = Kecepatan Alir Setempat

g). Aliran Melalui Bendung

Aliran dalam hal ini dapat dinyatakan sebagai fungsi dari tinggi permukaan
cairan diatas bibir bendung.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 57


FENOMENA PERPINDAHAN

Gambar 11.19
weir atau bending

Tekanan pada tempat-tempat setinggi h dari bibir bending adalah P0 + Pg (5- h).
jika P0 tekanan sekeliling. Diatas bending cairan mulai mengalir lebih cepat dan tekanan
ditempat itu boleh dianggap sama dengan P0. Lebih kehulu kecepatan alir tidak seberapa
dan untuk mudahnya dapat diabaikan. Dengan anggapan-anggapan ini, penerapan
persamaan Bernoulli antara suatu tempat di sebelah hulu dan tempat diatas bending,
keduanya setinggi h, memberikan :

1 1
{ < vh >2 - < v >2 ) + ( P0 P0 g ( h }=0
2 p

Jika Vh = Kecepatan Alir diatas Bendung Pada h = n


V = Kecepatan alir disebelah Hulu

Jika V diabaikan, akan diperoleh :

< vh > = 2 g( h)

Yang menunjukkan, bahwa < Vh > = 0 pada h = dan <Vh > itu maksimum pada h = 0.
Jika lebar bending itu w, maka besarnya kecepatanalir volume setempat adalah :

dQ = Vh . W. dh

sehingga kecepatan alir keseluruhan menjadi :


Q = w V h dh
0

h


Q = w 2g dh

2
Q = 3 w 2 g 3

karena terjadi kontruksi dan rugi-gesekan, maka dipakai rumus praktek :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 58


FENOMENA PERPINDAHAN

Q = 0.59 w 2 g 3
(11.64)

11.10 BEBERAPA CONTOH SOAL


SOAL
a Turunkan suatu hubungan antara faktor gesekan dan bilangan Reynolds untuk
laminar cairan yang mengalir kebawah secara laminar pada sebuah dinding

tegaklurus.

ANALISA
Karena soal tidak memberikan batas geometri yang jelas, maka batas itu harus
ditetapkan lebih dahulu.yaitu seperti gambar dibawah ini :

Hubungan untuk f didapat dari persamaan (11.35) dan besarnya Fk = w. A

Diambil : A = WL
1
K= <vz>2
2

RENCANA
Untuk dapat menggunakan persamaan (11.35) perlu diketahui < V z >, dan
supaya dapat menurunkan persamaan untuk <Vz > perludiketahui penyebaran Vz .
karena itu untuk system ini harus dibuat neraca momentum lebih dahulu.
Sebagai volum-banding diambil suatu bagian dengan panjang L, Lebar W dan
Tebal , dengan system koordinat tegak lurus seperti pada gambar arah perpindahan
momentum adalah kearah Y positif.

PENYELESAIAN

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 59


FENOMENA PERPINDAHAN

d ( vz ) WL
Neraca Momentum : (WL ) dt =
yz
y=0
yz

WL
y= + (WL ) g

d ( vz ) yz y=0 yz y=
Dibagi WL : dt = + g

yz y=0 yz y=
dibuat kecil sekali, menjadi dy dan menjadi -d yz

d ( vz ) d yz
dt = - dy + g

Untuk keadaan mantap :


d yz
dy = g

Diintegrasikan dua kali :


yz gy + C
= 1

g C1
Vz = - 2 y2 - y+ C 2

d vz
yz
Syarat batas : 1. Y = 0 = 0 dy = 0


2. y = vz = 0

Substitusi kedua syarat batas memberikan hasil :


C1 = 0
g
C2 = 2
2

yz gy
Sehingga : =

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 60


FENOMENA PERPINDAHAN


g
Vz = 2 y2)

Dan
w

v z dxdy g
0 0 2
<vz> = =
w
3
dxdy
0 0

Persamaan 11.35 memberikan


1
Fk = f . (WL) <v >2
2 z

Fk = . WL
w

y= g
w = yz | =

1
Jadi, ( g )(WL) = f (WL) <vz>2
2

g g
1 1 g
f = v2
2
= = v
2
2 2 3 2

v 2 >=
f =

v2>
jika, = Re

Perhatikan bahwa hubungan untuk f diatas berbeda dari hubungan untuk aliran
laminar dalam pipa.

SOAL

b Melalui pipa mendatar yang licin ditekan air sebanyak 1 kg/detik (Re = 2.10 4).
selisih tekanan antara kedua ujung pipa dalam 2.105 N/m2. Berapa besarkah
energy p yang diperlukan? Kalua dianggap tidak ada perpindahan panas dengan
keliling, hitunglah kenaikan temperature air.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 61
FENOMENA PERPINDAHAN

ANALISA

Batas geometri yang diberikan dalam soal adalah seperti gambar diatas.

RENCANA
Dalam soal ditanyakan energy p dan diberikan selisih tekanan yang juga suatu
bentuk energy. Hal-hal ini memberi saran, bahwa persamaan Bernoulli dapat dipakai
karena persamaan itu merupakan neraca energy mekanis.

PENYELESAIAN
Persamaan Bernoulli
1 1
(P2 P1) + g (h2 h1) + 2 (<v2>2 - <V1>2) + Q + = 0

Diketahui bahwa :
P2 P1 = - 2.105 N/m2
g (h2 h1) = 0, karena h2 = h1
1
2 (<v2>2 - <V1>2) = 0, karena <v2>2 = <V1>2

Q = 0, karena pompa terletak diluar system yang ditinjau


jadi, energy p diperlukan hanya untuk mengatasi gesekan :
P2 P 1
- = .| H2O = 1000 kg/m3

| G = 1 kg/detik
1.2 x 105
P = - = -G . = 10
3 = 200 N m/detik = 200 Watt

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 62


FENOMENA PERPINDAHAN

Panas yang timbul dalam peristiwa ini hanya mungkin datang dari energy yang
hilang karena gesekan dengan dinding pipa. Namun panas itu dalam hal ini dianggap
tidak diserap oleh pipa tetapi hanya oleh air.

Jadi, panas yang timbul = - = 200 Watt

Panas yang diserap oleh air ialah :

G = Cp . = 200 Watt

Cp = 4,19.103 J/kg oC

1.4,19. 103 = 200

200
= 3 = 0.048 oC
4,19 .10

SOAL

c Berapa daya kuda diperlukan untuk memompa air dalam system dalam diagram
dibawah ini? Air harus disalurkan kedalam tangki atas sebanyak 340 liter per
menit. Semua pipa berpenampang lingkaran dan licin dengan diameter dalam 10
cm.

air = 1.0 Cp . air = 1000 kg/m3 . g = 9,81 m/det2

ANALISA
Daya penggerak aliran merupakan salah satu suku persamaan Bernoulli (11.47).
penggunaan persamaan Bernoulli memang khas untuk perhitungan aliran dalam pipa.
Selain itu akan dipakai daftar faktor rugi-gesekan (lampiran IV).
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 63
FENOMENA PERPINDAHAN

RENCANA
Besarnya daya kuda dapat dihitung secara aljabar dengan persamaan Bernoulli.
Dengan lebih dahulu menghitung semua suku yang lain.

PENYELESAIAN
Sifat aliran harus diketahui dulu. Yaitu laminar atau bergolak. Untuk itu harus
dihitung Re. kecepatan rata-rata dihitung sebagai berikut :

Q 0,340/60
<v> = R2 = 25.104 = 0,722 m det-1

v >d ( 1000 )( 0.722 ) (0.10)


Re = = 0.001 = 7,22 x 104

Re > 4000

Jadi, aliran adalak bergolah dan lampiran IV dapat dipakai persamaan Bernoulli :
2
1
1 dp + g (h2 h1) + 2 (<v2>2 - <v1>2 + Q + = 0
1

(11.47)

Mula-mula harus ditetapkan :

Bidang 1 : permukaan air dalam sumber


Bidang 2 : permukaan air dalam tangka

Semua suku dalam persamaan Bernoulli yang sudah diketahui harus dihitung.
rugi-gesekan dihitung dalam dua bagian. Bagian pipa yang lurus dan sambungan-
sambungan.
Untuk bagian pipa yang lurus dipakai persamaan (11.48) :

L = 2 90 + 36 + 24 +12 = 164 m
R 2 1 1 1
Rn = 2 R = 2 R= 2 d = 0.025 m = 40 m

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 64


FENOMENA PERPINDAHAN

0.0791
1
Dari persamaan (11.44) : f = 2 = 0.0048
72200

1 L
Jadi, 1 = 2 <v>2 . Rn f

1
= 2 (0.722)2 (164) (0.0048) (40) = 8,21 m2 det-2

Rugi-gesekan sambungan dihitung dengan persamaan 11.49 sebagai berikut :

Ujung pipa hisap : ev = 0.45


Ujung pipa tekan : e v = 12 = 1
1,5
3 belokan 90o : ev = 3x0.5 = 2,95

1
Jadi, 2 = 2 <v>2 ev

1
= 2 (0,722)2 (2,95) = 0,77 m2 det-2

= 1 + 2 = 8,21 +0,77 = 8,98 m2 det-2

Kemudian dihitung suku-suku lain :


2
1
1 dp + 2 (P2 P1) = 0, karena P1 = P2 = 1 a cm
1

g (h2 h1) = 9,81 (2 + 36 12) = 255 m2 det-2


1
2 (<v2>2 - <v1>2) = 0, karena <v2>2 = <V1>2 = 0

Kalau semua suku dimasukkan ke dalam persamaan bernoulli akan diperoleh :


0 255 + 0 + Q + 8,98 = 0
Q = -255 8,98 = -264 m2 det-2 (per kg)

Ini adalah usaha yang dibawa oleh aliran keluar. Pompa itu sendiri melakukan
usaha + 264 m2 det-2 untuk setiap satuan massa aliran atau 264/9,81 = 26,91 kgf m/kgm

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 65


FENOMENA PERPINDAHAN

0,340 1000
G = Q0 = 60 = 5,67 kgm det-1

Daya yang harus diberikan oleh pompa ialah :

-w = -G . w = (5,67) (26,91) = 152,58 kgf m det-1

= 152,58 : 75 = 2,03 = 2 daya kuda

SOAL

d Pada dasar tangki yang berisi air, ada lubang yang menyerupai orifice berpinggir
tajam. Luas penampang tangki yang berbentuk silinder itu adalah 0,5 m 2, tinggi
air h = 3 m, dan luas lubang = 5 . 10-4 m2
Hitunglah waktu yang diperlukan sampai semua air habis keluar dari lubang.
Koefisien-buang orifice c = 0,632 dianggap tidak terpengaruh oleh perubahan
tinggi air.

ANALISA
Tinggi permukaan air akan merupakan gaya pendorong. Untuk mengalirnya air
keluar orifis. Tinggi permukaan air ini akan berkurang, sehingga laju alir keluar orifis
akan berkurang juga, bergantung pada waktu. Jadi, laju alir akan merupakan fungsi
waktu

RENCANA
Persamaan laju alir harus dicari, yang memuat tinggi permukaan air dan waktu.
Persamaan ini umumnya berbentuk persamaan diferensial. Integrasi akan menghasilkan
waktu yang ditanyakan

PENYELESAIAN
Terlebih dahulu perlu dicari hubungan antara laju alir volum dengan ukuran
tangka.

Misalkan : Laju alir volum = Q


Luas penampang tangki = A1
Luas lubang = A0

Maka diperoleh persamaan :


dh
Q= A1
dt

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 66


FENOMENA PERPINDAHAN

Persamaan ini harus dihubungkan dengan persamaan orifis (II. 60)

G= < v> A 0= . Q=C A 0


2 ( p1 p2 )
1( A0 / A1 )
2

Dalam persamaan diatas :


2
5. 104
2
( A0 / A1 ) diabaikan karena ( 5 .10 )
1
=106=0

Q dihilangkan dari kedua persamaan diatas, yang menghasilkan :

dh
Q = -A1 dt = C A0 2( p1 p 2)

Diketahui bahwa :
P1 = tekanan pada dasar tangki
P2 = tekanan luar
Sehingga diperoleh :

P1 = P2 + gh

P1 - P2 = gh

Substitusi memberikan :

dh C . A0
- dt = 2 gh
A1

A1
dt= h1 /2 dh
- C . A 0 2 g

A 1
2 h1/ 2+ c 1
Integrasi memberikan : t= C . A02 g

2 .5 .101 1/ 2
h + c1
= 4
0,632.5 . 10 ( 2.9.81 ) 1 /2

1 /2
t = -714,4 h +c 1

dengan syarat batas t=0+h=3


c1
diperoleh =1237

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 67


FENOMENA PERPINDAHAN

1 /2
t = 1237 - 714,4 h

air dalam tangki akan habis pada waktu h = 0, sehingga diperoleh t = 1237 detik

II.11 RINGKASAN DAN SOAL-SOAL


RINGKASAN PASAL II.4 s/d II.10
Analisa dimensi
- Persamaan harus mempunyai dimensi homogen
- Bagaimana melakukan analisa dimensi
- Keuntungan dan kerugian analisa dimensi
- Memperkirakan pembesaran alat
Aliran dalam saluran
- Faktor gesekan fanning
- Gaya pada dinding saluran
- f merupakan fungsi Re
- Hukum Hagen-Poiseuille, kapan berlaku ?
- Persamaan bernoulli, sebutkan berbagai kegunaannya
- Sebutkan berbagai macam alat ukur alir

SOAL-SOAL
1. hubungan antara faktor gesekan dan bilangan reynold dalam suatu aliran cairan
berlapis :
a Antara dua lempeng datar
b Dalam sebuah saluran tegaklurus, yang berpenampang persegi, lebar 2A x
2A
12 6
Jawab : a. f= b. f=

2. Dua buah silinder yang berporos sama, memuat suatu cairan newton dalam
ruang anulusnya. Silinder-luar diam, sedang silinder-dalam berputar dengan
kecepatan sudut yang tetap, sehingga menimbulkan aliran tangensial yang
berlapis. Nyatakan faktor gesekan sebagai fungsi bilangan reynold. Gunakan
kecepatan putar silinder-dalam sebagai kecepatan sistem
4
Jawab : f=

3. hitunglah selisih tekanan melalui sebuah alat ukur aliran yang kapilar. Dengan
dinding licin, jika kecepatan udara yang melaluinya :
a 5 m detik-1 b. 100 m detik-1
Panjang pipa kapiler 10 cm, diameter 1 mm
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 68
FENOMENA PERPINDAHAN

Udara : p = 2 . 10-5 N det m-2


= 1,2 kg m-3

Jawab : a) p = 3,2 . 102 N m-2

b) p = 2,2 . 104 N m-2

4. Melalui pipa baja yang panjangnya 60 m, dipompakan air hingga mencapai laju
alir volum 120 m3/jam pada ujung pipa yang letaknya 25 m lebih tinggi.
Berapakan selisih tekanan antara kedua ujung pipa, kalau :
a) pipa mempunyai penampang bulat dengan diameter 10 cm
b) pipa mempunyai penampang bujur sangkar, 10 x 10 cm
c) air dialirkan melalui anulus dengan d1 = 14 cm, d2 = 10 cm
jawab : a) 3,2 . 105 N m-2
b) 3,15 . 105 N m-2
c) 6,3 . 105 N m-2
5. Sebuah pipa 8 inci menghubungkan sebuah saringan putar dengan tempat, yang
terletak 3,75 m dibawahnya, untuk mengalirkan bubur selulosa. Panjang pipa 15

m, memuat 2 belokan pendek 90 dan 1 gate valve. Berapakah laju alir

volum aliran bubur itu ? kekentalan bubur selulosa = 5 . 10 -3 N det/m2 pada 20

, densiti bubur 1200 kg/m3

Jawab : Q = 557 m3 jam-1


6. air ditekan melalui pipa datar yang licin (Re = 2 . 10 4), sehingga terjadi selisih
tekanan sebesar 2. 105 N/m2. Berapakah energi yang diperlukan untuk menekan
itu, jika 1 kg/detik air ditekan melalui pipa yang 1,5 kali lebih sempit
Jawab : 1370 watt
7. Air mengalir dari pipa datar. Diameter 10 cm dengan kecepatan 2 m/detik.
Menyembur dinding lebar yang dipasang tegaklurus dekat ujung pipa. Hitunglah
gaya sembur air yang bekerja pada dinding itu, jika dianggap bahwa sesudah
kena dinding, air mengalir kesamping melewati permukaan dinding
Jawab : 31,4 N
8. Suatu alat memberikan aliran yang tetap, disusun
seperti gambar disebelah bawah ini ke dalam botol
terbuka B dialirkan larutan encer garam dalam air
sedemikian banyaknya, hingga tinggi permukaan

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 69


FENOMENA PERPINDAHAN

dalam botol tetap 30 cm dan kelebihan larutan


terbuang melalui pipa p1. Jika pipa kaca p2
berdiameter 10 mm dan panjangnya 200 cm.
Berapakah laju alir yang keluar dari pipa p2 ?
jawab : Q = 0,041 m3 det-1

9. hitunglah berapa rugi energi mekanis total E.


G, per satuan waktu bergantung pada laju alir
volum dalam :
a. orifismeter
b. rotatometer
jawab : a) E.G ( ; ) Q3
b) E. G (; ) Q
10. apakah sebuah rotatometer yang telah ditera oleh air dapat digunakan untuk
mengukur laju alir alkohol tanpa meneranya kembali ? kalau dapat, hitunglah
faktor konversinya
alkohol = 760 kg/m3; pelampung = 7000 kg/m3

Jawab : 0,89
11. sebuah tangki minyak, diameter 5 m dan tinggi 5 m, terisi penuh dengan minyak

kelapa ( = 900 kg m-3, p = 7.10-2 N det m-2). Dalam suatu serangan udara

tangki itu terkena peluru dan terdapat lubang pada sisinya. Diameter 2 cm dan
tinggi titik tengah 101 cm dari dasar tangki. Dalam berapa waktu minyak akan
berhenti keluar, jika selama itu lubang tidak disumbat ?
C untuk lubang = 0,52
Jawab : 6351 detik
12. Suatu cairan newton mengalir secara bergejolak (Re = 10 4) melalui suatu pipa
datar yang licin. Kalau laju alir dilipatkan tiga, berapa lipatkah selisih
tekanannya ?
Supaya pada laju alir yang lipat tiga itu, selisih tekanannya sama dengan semula,
pipa itu harus diganti dengan pipa berdiameter berapa ?

Jawab : p menjadi 6,83 x ; d = 1,5 d


2 1

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 70


FENOMENA PERPINDAHAN

13. penyaring dari no. 5a. Mempunyai palung, yang pada salah sebuah sisinya ada
palang selebar 2,85 m, bubur selulosa yang mengalir melewati palang itu
biasanya tingginya 2,5 cm diatas bibir palang. Hitunglah banyaknya selulosa
yang mengalir
Jawab : 75 m3 jam-1
14. Gas hasil bakar dialirkan kedalam cerobong dengan tekanan 250 N m -2 di bawah
tekanan luar. Cerobong dibuat dari baja, berupa silinder dengan diameter dalam
1,68 m. Gas hasil bakar dialirkan sebanyak 15 ton jam-1 dengan temperatur rata-

rata 260 . Temperatur udara luar adalah 21 dan tekanan 1 bar.

Densiti gas hasil bakar pada 25 = 1,27 kg m-3 dan p = 15,6 . 10-6 N

det m-2. Perkirakan tinggi cerobong


Jawab : 44 m

IV. PERPINDAHAN PANAS (ENERGI)

IV.1 PENDAHULUAN

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 71


FENOMENA PERPINDAHAN

Energi dikenal dalam berbagai bentuk. Beberapa dijumpai dalam bidang teknik
kimia diantaranya sebagai berikut :

Energi dalam
Energi kinetik
Energi potensial
Energi mekanik
Energi panas (kalor)

Dalam bidan teknik kimia didapati banyak masalah perpindahan panas.


Pengetahuan tentang mekanisme perpindahan panas mutlak diperlukan untuk dapat
memahami peristiwa yang berlangsung didalam pemanasan, pendinginan, pengeringan,
distilasi, evaporasi, kondensasi dan lain-lainnya.
Ada tiga cara perpindahan panas yang mekanismenya sama sekali sangat
berlainan, yaitu :
Secara molekuler : disebut KONDUKSI
Secara aliran : disebut KONVEKSI
Secara gelombang elektromaknit : disebut RADIASI

Dalam zat yang tidak bergerak misalnya padatan. Panas berpindah hanya secara
konduksi. Dalam hal ini panas berpindah karena getaran molekul dari satu molekul ke
molekul yang lain. Besarnya fluksi panas antara dua tempat dalam padatan dinyatakan
dengan HUKUM FOURIER :

dTx
Q=kA (Persamaan IV.1)
dx

Q adalah laju perpindahan kalor (Watt)


dT adalah selisih temperatur antara dua tempat
dx adalah jarak antara dua tempat tersebut
k disebut koefisien konduksi panas tersebut, yang hanya berubah
harganya jika temperatur padatan berubah dengan satuan dalam SI
yaitu Watt (m-1)(OK-1) atau kkal (m-2) (jam-1) (OC/m)-1 dalam satuan
teknik.

Logam memiliki koefisien konduksi panas yang besar harganya dan penghantar
panas yang baik. Sebaliknya asbes memiliki koefisien konduksi panas yang kecil
harganya dan insulasi panas yang baik.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 72


FENOMENA PERPINDAHAN

Didalam fluida terjadi juga konduksi panas, akan tetapi panas lebih banyak
dipindahkan secara konveksi. Dalam hal ini panas berpindah karena terbawa massa
fluida yang bergerak sebagai aliran. Jadi konveksi hanya dapat terjadi dalam suatu
fluida.

Berdasarkan gerakan fluida, terdapat dua cara konveksi


1) Konveksi Alamiah
Dalam konveksi alamiah, gerakan fluida disebabkan oleh perbedaan densitas
antara beberapa tempat karena adanya selisih antara tempat-tempat tersebut.

2) Konveksi Paksa
Dalam konveksi paksa, gerakan fluida disebabkan usaha dari luar terhadap
fluida umpamanya oleh sebuah pompa atau kompresor.

TAHANAN terhadap perpindahan panas secara konveksi berpusat ditempat


pertemuan fluida dengan permukaan padat. Fluks panas dinyatakan dengan persamaan
hukum Pendinginan Newton :

Q=h ( T padatanT fluida ) (Persamaan IV.2)

h disebut koefisien pindah panas untuk permukaan itu dengan satuan W (m-2)
(OK-1) dalam satuan SI dan kkal (m-2) (OC-1). Terlihat bahwa h bukanlah sifat fisis
karena h selalu menyangkut dua zat, yaitu permukaan padat dan fluida.
RADIASI adalah perpindahanpanas secara gelombang elektromagnit antara dua
permukaan berbeda temperatur. Untuk radiasi tidak diperlukan zat-antara, akan tetapi
supaya terjadi radiasi zat antara dua permukaan harus tembus cahaya inframerah.
Menurut hukum STEFAN-BOLTMANN, semua permukaan hitam memancarkan panas
menurut persamaan :

I =e T 4 (Persamaan IV.3)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 73


FENOMENA PERPINDAHAN

I adalah intensitas radiasi pada permukaan benda hitam


T adalah suhu mutlak benda
adalah tetapan Stefan-Boltmann dengan nilai 5,67 x 10-8 Wm-2K-4 dalam

satuan SI dan 1,355 x 10-12 kal detik-1 cm-2 K-4

Panas selalu berpindah dari tempat dengan temperatur tinggi ke tempat dengan
temperatur rendah. Untuk perpindahan panas, selisih temperatur itu merupakan gaya
geraknya.

IV.2 PERSAMAAN ENERGI

Untuk penurunan persamaan energi akan dipakai lagi unsur volum silinder Gb.
IV. 1. Berdasarkan apa yang telah dibahas dalam pendahuluan, neraca energi akan
dibuat untuk bentuk-bentuk energi yang dijumpai dalam teknik kimia dan disusun
sebagai berikut :
(laju akumulasi energi dalam dan energi kinetis) = (selisih laju alir energi
dalam dan kinetis antara yang masuk dan keluar oleh konveksi) + (selisih laju
perpindahan panas karena konduksi) + jumlah usaha yang dikerjakan oleh
lingkungan pada sistem). (Persamaan IV.4)

Lebih dahulu masing-masing suku dalam persamaan laju akumulasi energi


dalam dan energi kinetis akan dihitung satu demi satu.

1
laju akumulasi=r r z
t( + v 2
2 ) (Persamaan IV.5)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 74


FENOMENA PERPINDAHAN

Disini adalah jumlah energi dalam persatuan massa sehingga persamaan


akumulasi menyatakan perubahan energi dalam dan energi kinetis per satuan waktu
dalam unsur volume.
Selisih laju alir energi dalam dan energi kinetis karena konveksi adalah :

Ke-arah r : {( 1
)| (
1
r z v r + v 2 rv r + v 2 r + r
2 2 )| } +

Ke-arah : {( 1
)| (
1
r z v + v 2 v + v 2 +
2 2 )| } +

{(
1 2 1 2
)| (
Ke-arah z : r r v z + 2 v zv z + 2 v z+ z )| } (Persamaan IV.6)

Selisih laju perpindahan panas karena konveksi adalah :

r z { qr|r q r|r + r }+ r . z { q|q|+ }+r . r { q z|z q z| z+ z }

(Persamaan IV.7)

USAHA yang dilakukan lingkungan terhadap unsur volume terdiri atas dua
bagian, yaitu usaha yang dilakukan oleh gaya-gaya permukaan (tekanan dan tegangan
geser) dan usaha usaha yang dilakukan oleh gaya volume (gravitasi). Untuk
memudahkan memahami yang diuraikan dibawah ini perlu dingat, bahwa :

Usaha = (gaya) x (jarak dalam arah gaya)


Laju pengerjaan usaha = daya = (gaya) x (kecepatan ke arah gaya)

Selisih usaha oleh tekanan adalah :

r z { ( p v r )|r ( p v r )|r + r }+ r z {( p v )|( p v )|+ }+ r r { ( p v z )| z( p v z )| z+ z }

(Persamaan IV.8)

Selisih usaha oleh tegangan geser adalah :

r z {( rr v r + r v + rz v z )|r ( rr v r + r v + rz v z )|r + r }+ r z {( r v r + v + z v z )| ( r v r +

(Persamaan IV.9)
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 75
FENOMENA PERPINDAHAN

Selisih usaha oleh gravitasi adalah :

z
v r g r +v g +v z g (Persamaan IV.10)
+r r z

Kalau dari persamaan (IV.5) s/d (IV.10) disusun neraca, kemudian neraca itu

dibagi dengan volume r r z dan akhirnya diambil limit dari masing-masing

suku pada waktu , r dan z mendekati nol.

Maka diperoleh persamaan energi :

1
t (
+ v 2 =
2 )

z
v r g r +v g

{ (
1
v + v 2 +
r r 2

) 1
( 1
)
v + v 2 + v z + v 2
2 z 2

(
q+ q + q
r r z z

)} (
pv +
r r )(
(Persamaan IV.11)

Persamaan IV.11 dapat ditulis lebih singkat dalam simbol-simbol vektor


tensor sebagai berikut :

t ( 1
2 ) { 1
2 ( )}
+ v 2 = v + v 2 ( q ) ( v )( ( v ) )+ ( v g )

(Persamaan IV.12)

Bentuk diatas dari persamaan energi berlaku untuk unsur volum yang tetap
letaknya didalam ruang. Kalau suku pertama dalam ruas kanan dipindahkan ke ruas
kiri dan diferensial itu dilakukan, maka diperoleh bentuk lain dari persamaan energi.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 76


FENOMENA PERPINDAHAN


[ (

t
1
2 ) 1
2 ( 1
+ v 2 +v + v 2 + + v 2
2

t )] ( )[ ]
+ ( v ) =( q )( v )( [ v ] )+ ( v g )

(Persamaan IV.13)

Suku kedua dalam ruas kiri adalah persamaan KONTINUITAS dikalikan

( + 12 v ) 2
. Sehingga harganya sama dengan nol.

dc y
= +v c
Jika dt x , maka persamaan IV.13 dapat ditulis sebagai berikut :

D 1

Dt ( 2 )
+ v 2 =( q )( p v ) ( [ v ] )+ p( v g ) (Persamaan IV.14)

Persamaan IV.14 adalah bentuk lain persamaan energi yang berlaku jika unsur
volum ikut bergerak dengan aliran fluida. Kedua bentuk persamaan energi (IV.12) dan
(IV.14) masih belum memenuhi keperluan operasi teknik kimia. Oleh karena itu
persamaan ini haruslah diubahsehingga merupakan fungsi dari temperatur
sehinggadapat digunakan untuk menghitung penyebaran temperatur.

Jika dalam persamaan (IV.14) masing-masing suku dikalikan dengan v ,

D 1 2
diperoleh

Dt 2( )
v =( p v )( v [ ] ) + ( v g )
(Persamaan IV.15)

Atau
D 1 2

Dt 2 ( )
v = ( v )( p v )( [ v ] ) + ( : v ) + p( v g )

(Persamaan IV.16)
Kalau persamaan (IV.14) dikurangi dengan (IV.16), diperoleh neraca energi dalam (
:

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 77


FENOMENA PERPINDAHAN

D
=( q ) p ( v )+ ( : v ) (Persamaan IV.17)
Dt

Energi dalam ( ) sebenarnya fungsi danT . Sehingga dapat ditulis :

d = (
) Td + (

) {
Td = p+T (
T ) }
p
d + C dT v (Persamaan

IV.18)

D

Dari persamaan (IV.18) dapat dibentuk perkalian p dan Dt menjadi :


D
Dt
= p+T
{p
T

D
Dt ( )}
+ C v
DT
Dt (Persamaan IV.19)

D D 1 1 1 D
Suku

Dt
=
Dt
= () ( )
2
=
Dt

Berdasarkan persamaan kontinuitas :


1 D D
=( v )= (Persamaan
Dt Dt

IV.20)

Kalau persamaan (IV.20) dimasukkan kedalam persamaan (IV.19) dan


disubstitusikan ke persamaan (IV.17), didapat persamaan energi dengan temperatur
fluida.

v
C
DT
Dt
=( q ) p+ T
{ ( )
p
T
V ( v ) ( : v )
} (Persamaan IV.21)

Persamaan (IV.21) mengatakan bahwa temperatur suatu unsur fluida yang


bergerak berubah karena :

a ( q ) : konduksi panas

b
T ( Tp )V ( v ) : pengaruh ekspansi

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 78


FENOMENA PERPINDAHAN

c ( : v ) : timbulnya panas karena gesekan

molekul fluida

Untuk dapat menggunakan persamaan (IV.21) yang digunakan untuk mencari


penyebarantemperatur, maka tiap suku dalam ruas kanan perlu diuraikan lebih lanjut.

q perlu diganti dengan komponen fluksi energi q yang sesuai. Dibawah ini

diberikan bentuk q untuk semua sistem koordinat.

KOMPONEN-KOMPONEN FLUKSI q

Tegak Lurus Silinder Bola


T T T
q x =k q r=k q r=k
x r r
T k T k T
q y =k q = q =
y r r
T T k T
q z=k q z=k q =
z z r sin

Untuk menyelasaikan ( Tp ) V perlu diketahui fungsi p = p (T). Suku ( : v )

dapat dijabarkan menjadi :


( : v )= v

v =fungsi disipasi (Persamaan IV.22)

Dalam persamaan energi (IV.21) dijabarkan secara lengkap dalam ketiga sistem

koordinat, untuk fluida Newtonian dengan dan yang tetap.

Beberapa bentuk khusus yang sederhana untuk persamaan energi diberikan dibawah
ini. Konduktivitas panas dianggap tetap.

a) Untuk gas ideal ( Tp ) V = Tp dan persamaan IV.21 berubah menjadi :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 79


FENOMENA PERPINDAHAN

v DT 2
C =k T p ( v ) (Persamaan IV.23)
Dt

b) Untuk suatu fluida pada tekanan tetap, dalam mana kehilangan panas karena
gesekan diabaikan didapat :
DT
p
C =k 2 T (Persamaan IV.24)
Dt

p =C
C v
c) Untuk suatu fluida yang tak termampatkan, p = tetap, dan

( v ) =0 , diperoleh :

DT
p
C =k 2 T (Persamaan IV.25)
Dt

p =C
C v
d) Untuk suatu fluida yang tak termampatkan, p = tetap, dan

( v ) =0 , diperoleh :

C p DT =k 2 T
Dt (Persamaan IV.26)

e) Untuk padatan, p = tetap dan v =0 , diperoleh :

DT
v
C =k 2 T (Persamaan
Dt

IV.27)

IV.3 PENERAPAN PERSAMAAN ENERGI


Sifat-sifat perpindahan menentukan mudah atau tidaknya penyelesaian soal.
Karena konduksi dan aliran berlapis dapat diselesaikan secara analisa. Jika ada
konveksi tidak mungkin lagi diadakan perhitungan yang tepat.

a Konduksi melewati padatan tunggal

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 80


FENOMENA PERPINDAHAN

SOAL
Sebuah lempeng padatan setebal d, kedua permukaannya pada temperatur T 1
dan T2. Temperatur lingkungan pada kedua permukaan itu adalah Ta dan Tb, seperti
pada gambar diatas.

ANALISA
Contoh ini dan semua contoh dalam fasal ini adalah soal konduksi dan akan
menggunakan persamaan IV.26 (padatan). Karena semua contoh itu serupa, maka
analisa dan rencana penyelesaian tidak akan diulang dalam contoh-contoh yang
berikut.Untuk soal ini dipilih system koordinat tegak lurus.

RENCANA
Penyesuaian persamaan energi sebenarnya sudah dilakukan pada persamaan IV.26.

i Sesuaikan persamaan energi pada batas-batas sistem


ii Tetapkan syarat-syarat dan integrasikan persamaan differensial
iii Substitusikan nilai tetapan integrasi

PENYELESAIAN
Kalau hanya ditinjau dari konduksi panas melalui padatan tadi. Berlaku
persamaan IV.26, yang menjadi

p DT d2 T
C =k (Persamaan IV.27)
Dt d x2

ATAU

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 81


FENOMENA PERPINDAHAN

DT d2T k
= =
Dt d x 2 Kalau C p , difusivitas termal.

d2T
Untuk keadaan mantap diperoleh =0 (Persamaan
d x2
IV.28)
Persamaan IV.23 dapat diselasaikan dengan syarat batas :
1 X = 0 T = T1
2 X = d T = T2
Dan menghasilkan penyebaran T dalam padatan :
T T 1 x
= (Persamaan
T 2T 1 d

IV.29)

Penyebaran T dalam fluida sekitar permukaan lempeng hanya dapat


diselesaikan dengan analisa, kalau diketahui penyebaran kecepatan kecepatan fluida
ditempat itu.

PENILAIAN
Perpindahan panas pada kedua permukaan dengan lingkungan berlangsung
secara konveksi dan dapat diselesaiakan dengan persamaan empiris IV.2 yang
menghasilkan :
Pada permukaan 1 : q1 = h1 (ra T1) (Persamaan IV.30)
Pada permukaan 2 : q2 = h2 (r2 Tb) (Persamaan IV.31)
Karena terdapat keadaan mantap, maka :
q1 =q12=q2

Namun cara ini tidak dapat memberikan fungsi sekitar permukaan lempeng secara
jelas.

b Konduksi melewati beberapa lapisan padatan

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 82


FENOMENA PERPINDAHAN

SOAL
Sebuah batang terdiri dari tiga lapis padatan yang sejajar. Ketiga padatan
berlainan bahannya dan memiliki ukuran seperti gambar diatas. Temperatur lingkungan
adalah Ta dan pada permukaan 1 dan Tb pada permukaan 2. Buatlah analisa tentang
perubahan temperatur dalam sistem ini.

PENYELESAIAN
Analisa soal disatukan dengan penyelesaiaannya.
Dalam masing-masing lapisan berlaku apa yang telah diperoleh dalam contoh
sebelum ini, yaitu bahwa perubahan temperatur dalam masing-masing lapisan adalah
linear (IV.29), sehingga dapat ditulis :
dT
q=k
dx

2
dT
q12=k
1 dx

(T 1T 2)
q12=k 12 (Persamaan IV.32)
(x 2x 1)

( T 2T 3)
q 21=k 23 (Persamaan IV.33)
( x 3x 2 )
(T 3T 4 )
q3 4=k 34 (Persamaan IV.32)
(x 4 x3 )

Karena keadaan mantap, maka :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 83


FENOMENA PERPINDAHAN

q12=q23=q34 =q1

Sehingga persamaan IV.32 s/d IV.33 dapat diubah menjadi :

(q1 )
T 1 T 2= (x x ) (Persamaan IV.35)
k 12 2 1

( q1 )
T 2 T 3= ( x 3x 2 ) (Persamaan IV.36)
k 23

( q 1)
T 3 T 4= ( x 4x 3 ) (Persamaan IV.37)
k 34

Untuk perpindahan panas pada kedua permukaan dapat ditulis :


(q1 )
T aT 1= (Persamaan IV.38)
h1

(q1 )
T 4T b= (Persamaan IV.39)
h4

Kalau persamaan IV.35 s/d IV.39 dijumlahkan akan diperoleh :

T aT b=q 1 { 1 x2 x1 x 3x 2 x 4 x3 1
h1
+
k 12
+
k 23
+
k 34
+
h4 }
Yang juga dapat ditulis dalam bentuk :
T aT b
q1 =

{ 1 x 2x 1 x 3 x2 x 4 x 3 1
h1
+
k 12
+
k 23
+
k 34
+
h4 } (Persamaan IV.40)

Dalam teknik kimia, persamaan IV.40 biasanya ditulis dalam bentuk :

T aT b
q'=
{ 1
U 1 A1 }
atau

'
q =(T aT b ) U 1 A 1 (Persamaan IV.41)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 84


FENOMENA PERPINDAHAN

Dimana :
q adalah LAJU PINDAH PANAS
U1 adalah KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS KESELURUHAN
A1 adalah LAJU PERMUKAAN

Dalam bentuk yang dinyatakan dalam persamaan IV.41, maka (T aT b)

1
disebut GAYA GERAK PANAS dan U1 disebut TAHANAN PANAS.

Berrdasarkan persamaan (IV.40) dan (IV.41) maka tahanan panas keseluruhan

1
U1 dapat dianggap sebagai jumlah masing-masing tahanan panas setempat.

Untuk penjumlahan itu diperlukan penyesuaian luas permukaan untuk masing-


masing tahanan panas. Untuk konveksi diambil luas permukaan dimana konveksi itu
terjadi, Untuk konveksi diambil luas rata-rata antara kedua permukaan yang membatasi
lapisan. Kalau luas rata-rata antara permukaan 1 dan 2 disebut A12, dst . dapat ditulis :

1
= {
1
+
x 2x 1 x 3x 2 x 4x 3
+ + +
1
U 1 h1 A k 12 A 12 k 23 A 23 k 34 A 34 h4 A 4 } (Persamaan IV.42)

Untuk menghitung penyebaran temperatur dalam masing-masing lapisan, maka


persamaan IV.29 diterapkan pada lapisan yang bersangkutan. Seperti dalam persamaan
IV.32 s/d IV.34

c Konduksi panas melewati dinding pipa

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 85


FENOMENA PERPINDAHAN

SOAL
Dalam hal aliran fluida dalam pipa yang diinsulasi sekurang-kurangnya ada 4
tahanan panas, yaitu permukaan dalam pipa, dinding pipa, lapisan insulasi dan
permukaan luar insulasi. Kalau temperatur fluida pada keadaan mantap lebih tinggi
dari temperatur lingkungan, maka panas berpindah keluar ke arah radial. Buatlah
analisa tantang penyebaran temperature.

ANALISA
Batas-batas sistem diterangkan pada gambar diatas. Dipilihlahsistem koordinat
silinder.

PENYELESAIAN
Karena gradien temperatur pada permukaan selalu tidak diketahui dengan jelas,
maka seluruh sistem seakan-akanterdiri dari padatan. Seperti pada contoh sebelum ini.
Maka berlaku persamaan energi untuk keadaan mantap :
k 2 T =0

Dengan menggunakan sistem silinder dapat diturunkan :


k d dT
r dr
r(dr
=0) (Persamaan IV.43)

dT
ATAU
d r( dr)=0

Integrasu sekali memberikan :


dT
r =C1 (Persamaan IV.44)
dr

Dengan syarat batas :


r=R 1 rq=r 1 q1

r 1 q1=rk
dT
dr |
r=R1

r q
Diperoleh C1 =r
dT
dr|R 1= 1 1
k

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 86


FENOMENA PERPINDAHAN

Maka persamaan IV.44 berubah menjadi :

dT r 1 q1
r = =C 1 (Persamaan IV.45)
dr k

Dalam persamaan IV.45 mengapa yang diambil sebagai harga tetap dalam

r 1 q1 q1
pemilihan syarat batas 1, dan bukannya seperti contoh sebelumnya?.

q1
Dalam hal bentuk, silinder tidak tetap karena luas permukaan lapisan tidak

sama. Luas permukaan itu berbanding seperti jari-jari yang bersangkutan, karena
panjangnya pipa sama. Ke arah nilai r yang besar fluksi panas menurun.
q3 < q2 <q 1

A 3 > A2 > A1

yang tetap ialah:

r 1 q1=r 2 q 2=r 3 q3

r=R 1 T =T 1
Integrasi persamaan IV.45 dan penggunaan syarat batas ,

memberikan penyebaran temperatur sebagai berikut :


r 1 q1 R
T T 1 =
k ( )
ln 1
r (Persamaan IV.46)

Kalau dalam soal ini dilakukan hal yang sama seperti pada contoh IV.3.b, maka
didapat :

r 1 q1 R
T 1 T 2=
k 12 ( )
ln 2
R1 (Persamaan IV.47)

r 1 q1 R3
T 2 T 3=
k 23 ( )
ln
R2 (Persamaan IV.48)

dan

q1 r1 q1
T aT 1=
h1
ln( )
r 1 h1 (Persamaan IV.49)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 87


FENOMENA PERPINDAHAN

q3 r q
T 3 T b =
h3
ln 1 1
r3 h3 ( ) (Persamaan IV.50)

Penjumlahan persamaan IV.47 s/dIV.50 menghasilkan :

T aT b
q' =2r 1 Lq1=

{ }
R2 R3
1
+
ln ( ) ( )
R1
+
ln
R2
+
1
r 1 h1 k 12 k 23 r 3 h3

ATAU

q' =U 1 A1 ( T aT b ) (Persamaan IV.51)

1
2 =( )
(1 - ) =

Syarat batas 1. Pada = 0. =terhingga



Syarat batas 2. Pada =1 . -
=1

Syarat batas 3. Pada =0 . =0

Syarat batas 3 sepintas memang layak dipakai, akan tetapi kalau ditinjau lebih
dalam tidak akan dapat dipenuhi seluruhnya.

Pada z = 0 dan r < R memang T = T0, akan tetapi pada z = 0 dan r = R, ada


k
fluksi panas yang tetap q = r . jadi ada gradien temperatur atau ada

perubahan temperatur, memang hal ini adalah keadaan batas, namun dengan demikian
syarat batas 3 tidak dapat dipenuhi seluruhnya.

Sebagai penggantinya diambil syarat 3 berdasarkan neraca panas :

Panas yang masuk melalui dinding pipa = selisih panas dalam fluida antara z = 0
dan z = 1. Atau
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 88
FENOMENA PERPINDAHAN

2x R

-2 Rzq1 = o c p (T-To) vz rdrd


o o

atau dalam perubahan tanpa dimensi :


2

syarat batas 3 : = ( , ) ( 1 2 ) d
o

persamaan (IV. 71) akan diselesaikan dengan cara pemisahan perubahan dan

dianggap bahwa merupakan jumlah dua fungsi :


=
co +( ) (IV. 72)
Penggunaan persamaan (VI.72) mengubah persamaan (VI.71) menjadi :
1 d d

d d ( )
=c o (1 2 )
(VI.73)

Integrasi dua kali dan penggunaan syarat batas 1, 2 dan 3 menghasilkan :


1 7
=4 2 4
+ 4 + 24

(IV.74)

Dari persamaan (IV.74) dapat dihitung T dan juga dapat diturunkan besaran-

besaran lain. Dalam aliran fluida, dengan Cp tetap, ada dua pengertian temperatur

rata-rata, yaitu :
2x R

T ( r ) rdr d
o o
<T> = 2x R

rdr d
o o

2x R

v z ( r ) T ( r ) rdr d
o o
=T b
<T> = 2x R

v z ( r ) rdr d
o o

Baik <T> maupun Tb merupakan fungsi z. Tb disebut BULX TEMPERATURE,


dan kadang-kadang juga CUP-MIXING TEMPERATURE atau FLOW-AVERAGE
TEMPERATURE.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 89
FENOMENA PERPINDAHAN

b. konveksi bebas
dalam contooh ini, suatu fluida berada antara dua permukaan tgak, yang
berjarak 2b. Dinding pada y = -b temperaturenya din pertahankan pada T1 dan
temperature dinding pada y = +b dipertahankan pada T 2. Fluida mula-mula diam, akan
tetapi karena ada gradien temperatur fluida dekat dindning panas naik dan fluida dekat
dinding dingin turun. Dianggap, bahwa laju alir volum fluida ke atas sama dengan laju
alir volum ke bawah. Kemudian dianggap pula bahwa, bagian dinding yang ditinjau
terletak jauh dari tempat tepinya, sehingga temperatur dapat dianggap merupakan
fungsi y saja.
Untuk k yang tetap penerapan persamaan energi memberikan :
d2T
k 2 =0
dy (IV.75)

syarat batas 1. Pada y = -b, T = T1


syarat batas 2. Pada y = +b, T = T2
dan diperoleh penyelesaian yang berikut :
1 v
T =T m T ( )
2 b (IV.76)

Penyebaran kecepatan dapat diperoleh dengan membuat neraca momentum, yang


menghasilkan :
d 2 v z dp
= + g (IV.77)
dyz dz

Viskositas dianggap tetap.

Fungsi perubahan dicari dengan menggunakan dalam deret taylor


sekitar suatu temperatur bandingan T , yang untuk sementara belum ditentukan :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 90


FENOMENA PERPINDAHAN


= T
( - T ) +........

+ T T

=
g( - T ) +........

(IV.78)


adalah density pada T dan
adalah koefisien pemuaian volume T .

Dalam deret taylor di atas suku ketiga dst. Diabaikan. Jika persamaan (IV.78)
disubstitusikan ke dalam persamaan (IV.77), diperoleh :
2
d vy z dp
2
= + g - g ( - T )
dy dz

(IV.79)
Kalau dianggap, bahwa gradien tekanan itu hanya disebabkan oleh berat fluida di
antara dua dinding itu.
dp
=
Maka : dz g
Dan persamaan (IV.79) berubah menjadi :
2
d v
2z =-
g ( - T )
dy

(IV.80)
Yang berarti, bahwa gya gesekan molekul tepat diimbangi oleh gaya apung. Persamaan
(IV.80) dan menghasilkan :
2
d vz y
2 =- g {( T mT ) T ( ) }
dy p

(IV.81)
Dengan menggunakan kedua syarat batas :
Syarat batas 1 : pada y = -b, vz = 0
Syarat batas 2 : pada y = +b, vz = 0
Persamaan (IV.81) dapat diselesaikan menjadi :

gb2 3
v z= { n An2n+ A } (IV.82)
12

Dalam mana :
y
n= p

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 91


FENOMENA PERPINDAHAN

T m T
A=
T

T atau A dapat dicari, kalau digunakan anggapan, bahwa laju alir volum ke atas

sama dengan ke bawah, atau laju alir volum total ke arah z sama dengan nol.
+1
vz dn =0 (IV.83)
-1
Kalau persamaan (IV.82) disubstitusikan ke dalam persamaan (IV.83) dan dilakukan
integrasinya, maka didapat :

2
A+ 4 A=0
3

Yang menghasilkan A=0 atau T =


T m . Akhirnya penyebaran kecepatan v menjadi :
z

gb2 3
v z= ( n n ) (IV.84)
12

Persamaan (IV.84) dapat juga dinyatakan dalam perubah dan bilangan tanpa dimensi :

b v z
a = , kecepatan tanpa dimensi

y
n = b , jarak tanpa dimensi

2 g b 3 T
Gr = 2 , bilangan grashof

n
1
Sehingga menjadi : = Gr 3- n) (IV.85)
12

c. Persamaan empiris
Koefisien pindah pans permukaan h merupakan sifat kemmampuan
memindahkan panas untuk tempat pertemuan suatu permukaan dan fluida, yang selain
dipengaruhi oleh sifat-sifat permukaan dan fluida, juga masih bergantung pada aliran
dan temperatur. Karena banyaknya faktor yang berpengaruh, tidak ada jalan lain untuk
memperoleh nilai h dari pada melakukan percobaan untuk menentukannya.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 92


FENOMENA PERPINDAHAN

Banyakan sekali percobaan yang telah dilakukan berbagai peneliti dengan


tujuan memeperolah persamaan empiris yang dapat dipakai untuk memperkirakan nilai
h dalam masalah yang serupa, misalnya untuk keperluan perancangan alat.
Dialakukannya percobaan-percobaan itu juga di dorong oleh pentingnya diketahui nilai
h yang dapat diandalkan, untuk keperluan perhitungan perpindahan panas.
Hasil penelitian berbagai orang sudah banyak yang disatukan dalam persamaan
yang telah diterima dan dipakai banyak orang. Persamaan-persamaan itu biasanya
berlaku dalam batas-batas aliaran tertentu atau untuk keadaan tertentu. Persamaan
dinyatakan dalam bilangan Nusselt sebagai fungsi dari bilangan Prandantl dan satu
bilangan tanpa dimensi yang khusu berhubungan dengan sifat aliran : bilangan
Reynold untuk konveksi paksa, dan bilangan Grashof untuk konveksi bebas.
Di bawah inni diberikan ringkasan beberapa bilangan-bilangan tanpa dimensi
dan beberapa contoh persamaan empiris. Dalam menggunakan persamaan empiris
perlu di ingat, bahwa persamaan itu adalah hasil percobaan dan karena itu akan memuat
kesalahan-kesalahan percobaan itu.
hd
Bilangan Nusselt = Nu = k

C p

Bilangan Prandtl = Pr = k
vd G
=
Bilangan Reynolds = Re = rd
2 3 3
gb T gb T
Bilangan Grashof = Gr = =
2 2
untuk aliran berlapis dalam pipa berlaku :
1 /3 0.14
b
Nu = 1.86 ( . Pr .
d
L )( ) w (IV.86)

b Tb w
dihitung untuk temperatur rata-rata fluida dan dihitung

b w
untuk temperatur dinding. jika tidak banyak perbedaan anatara dan , faktor

b / w
boleh dihilangkan.
Untuk aliran yang sangat bergolak (Re > 20.000) :
0.14
1/ 3 b
Nu
0,8
= 1.86 ( ) ( Pr ) w ( ) (IV.87)

Sering juga persamaan empiris itu disajikan dalam bentuk grafik.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 93


FENOMENA PERPINDAHAN

Dalam perhitungan perpindahan panas secara konveksi untuk pipa, dengan


menggunakan hukum pendinginan Newton :
q' =hA ( T permukaanT fluida )

Orang menghadapi beberapa pillihan dalam menentukan T . Karena

T itu berubah sepanjang pipa (lihat persamaan (IV.74)). Definisi untuk h dengan

demikian bergantung pada pemilihan T .


Di bawah ini disebut beberapa definisi untuk h.

L
h1 n
Dalam teknik kimia dipakai karena nilainya makin tetap. Bila d

U1n
makin panjang. Juga koefisien pindan panas keseluruhan yang dipakai dalam

teknik kimia, sehingga persamaan perpindahan panas untuk teknik kimia adalah
:
q' =U 1 n A ( T )1 n (IV.88)

Atau biasanya diakai : q' =UA ( LMTD )

Dalam mana LMTD = logarithmic mean temperature difference.

IV. RADIASI
Berbeda dari konduksi dan konveksi, dalam radiasi energi berpindah tanpa
memerlukan zat pengantar. Radiasi adalah pancaran energi secara gelombang
elektromaknit dengan kecepatan cahaya. Daerah panjang gelombang yang dapat

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 94


FENOMENA PERPINDAHAN

disebut radiasi panas terutama terletak antara 0,1-10 mikron. Daerah ini hanya
sebagian kecil dari keseluruhan radiasi elektromaknit.
Kalau adalah panjang gelombang dan c kecepatan cahaya dan v

frekuensi., maka berlaku hubungan :


c
=
v

(IV.89)
10
c = 2,9979. 10 cm/detik
suatu gelomabang elektromaknit dengan frekuensi v biasanya digambarkan
sebagai gerakan foton, yaitu benda dengan massa nol, muatan nol dan energi sebesar
c, dengan hubungan : c = hv (IV.90)
h = tetapan planck = 6,624.10-27 erg. Detik.
Energi foton itu dapat dipancarkan (emisi). Dapat diserap (absorpsi) oleh suatu
permukaan dan dapat juga dipantulkan (refleksi).
Dalam radiasi panas dikenal beberapa benda bandingan. Suatu benda atau
permukaan yang terkena radiasi panas, biasanya hanya sebagian dari energi yang
sampai, dengan hubungan :
( a)
c a
qv
:
A= q
m av = qv
( m) (IV.91)

a = KOEFISIEN ABSORT
( a)
q =energi yang diserap .

(m )
q =energi yang masuk .

Untuk benda-benda nyata av tidak sama untuk berbagai frekuensi.


BENDA KELABU (gray body) ialah benda hipocetis yang mempunyai a v yang
sama, tetapi lebih kecil dari 1, untuk semua frekuensi dan semua temperatur. BENDA
HITAM (black body) ialah benda hipotetis yang mempunyai a v = 1 untuk semua
frekuensi dan temperatur.
Semua permukaan padat selain menyerap juga memancarkan panas. Jika
dibandingkan dengan pancaran benda hitam, bagian yang dipancarkan oleh suatu
permukaan disebut KOEFISIEN EMISI e
( e)
q (e ) qv
:
e = qb( e ) ev = qbv
(e ) (IV.92)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 95


FENOMENA PERPINDAHAN

(e )
jika q = energi yang dipancarkan benda biasa.
q b( e ) = energi yang dipancarkan benda hitam.

Perpindahan panas secara radiasi untuk benda hitam telah dirumuskan dalam
HUKUM STEFAN-BOLTZMAN sebagai berikut :
q (e ) = 4 (IV.93)
8
Dalam mana =tetapan StefanBoltzman=5,67.10 ,,,/(m2)(oK4).
Untuk benda tak-hitam energi yang dipancarkan ialah :
(e ) 4
q = e

(IV.94)
Hukum stefan-boltzman menyatakan ENERGI TOTAL yang dipancarkan oleh
suatu benda dari seluruh permukaannya ke semua arah. Untuk teknik yang penting
ialah energi yang DIPERTUKARKAN antara dua benda atau dua permukaan. Karena
sering sekali tidak semua permukaan suatu benda menghadap ke benda yang lain,
maka dari pancaran total benda pertama hanya sebagian sampai pada benda kedua.
Benda kedua menyerap sebagian dari energi yang sampai padanya dan bagian
yang lain dipancarkan kembali ke benda pertama. Pancaran benda kedua itu sebagian
di serap oleh benda pertama dan sebagian dipancarkan kembali, begitu seterusnya.
Pertukaran energin antara dua benda hitam dinyatakan oleh persamaan yang
berikut:
q12= A 1 F 12 ( T 14T 24 ) = A2 F21 ( T 14T 24 ) (IV.95)
Keterangan :
q12 = Energi yang dipertukarkan antara benda hitam 1 dan 2.
A1 = Luas permukaan total benda 1.
A2 = Luas permukaan total benda 2.
F12 = Bagian dari radiasi A1 yang sampai pada A2,
F21 = Bagian dari radiasi A2 yang sampai pada A2,
F12 dan F21 disebut faktor penglihatan (view factors).
A1 F12 = A2 F21

Menghitung F sangat sukar. Untuk beberapa hubungan geometri dalam buku


W.H. McAdams, Heat Transmission, McGraw-Hill, 1954, terdapt nomogram-
nomogram untuk F. Jika nilai F diketahui, perhitungan pertukaran radiasi panas
tidaklah sukar.
Untuk dua benda tak-hitam pertukaran radiasi panasnya dapat dihitung seperti
di bawah ini. Perhitungan semacam ini hanya mungkin dilakukan untuk benda kecil
yang CEMBUNG permukaannya (benda 1, temperatur T1), yang SELUPUHNYA

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 96


FENOMENA PERPINDAHAN

DILINGKUNGI oleh permukaan lingkungan pada T2. Laju energi yang di pancarkan
oleh benda 1 :
q12=e1 A 1 T 14

Laju energi yang diserap oleh permukaan 1 dari lingkungan


4
q12=a1 A 1 T 1

Di sini F12 diambil sama dengan 1, karena permukaan 1 itu cembung dan
diliputi oleh permukaan 2 sehingga seluruh pancarannya diterima oleh lingkungan dan
tidak ada yang diterima kembali oleh 1.
Selisih energi yang dipertukarkan menjadi :

q12= A 1 ( e1 T 14 a 1 T 24 ) (IV.96)

e1 ialah nilai koefisien emisi permukaan 1 pada T1, a1 diperkirakan sama dengan
nilai e untukpermukaan 1 pada T.

A. Contoh: kehilangan panas karena radiasi dan konveksi bebas.


SOAL
Sebuah pipa terpasang secara mendatar dalam sebuah ruangan. Pipa itu dari
luar diinsulasi dengan asbes sampai diameter insulasi itu 15 cm. Permukaan insulasi

temperaturnya 37 (310 K ), sedang temperatur udara dalam ruangan dan

dinding ruangan adalah 27oC (300oK). Perkirakan panas yang hilang karena radiasi dan
konveksi bebas per satuan panjang pipa. Konveksi bebas pada pipa mendatar yang
panjang mengikuti persamaan:
1

Nu = 0,525 ( Gr . Pr ) 2 (IV.97)

PENYELESAIAN
Umpamakan, bahwa permukaan insulasi adalah permukaan 1 dan dinding
ruangan adalah permukaan 2. Untuk sistem dari soal ini dapat dipakai persamaan

(IV.96) : q12= A 1 ( e1 T 14 a 1 T 24 )

Keterangan yang dapat dikumpulkan ialah :


=5,67.108 w ( m )2 ( K )4

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 97


FENOMENA PERPINDAHAN

A 1= dL = ,, . 0,15 .1 m2

e1 = 0,93 untuk 310 K

a1 = e1 pada 300 K = 0,93

T1 = 310 K

T2 = 300 K

Jika nilai-nilai din atas dimasukan dalam persamaan (IV.96) diperoleh :


q'r=q '12=5,67.108 . v . 0,15. ( 0,93. 3104 0,93. 3004 ) =28 watt .

Untuk konveksi bebas dapat dikumpulkan keterangan udara (dinilai pada temperatur

lapisan udara sebesar 305 K sebagai berikut :


=17. 10 N . detik m2
6

=1,20 kg m3

c p=1,03. 103 J ( kg )1 (
)1

k =0,025 W ( m)1 (
)1
1 1
= = K 1
T f 305

Keterangan lain yang diperlukan ialah :


d=0,15 m
T =10 K

g = 9,81 m detik-2
jika dimasukan ke dalam persamaan (IV.97) di dapat :
2 3 1
g d T c p 2
hd
Nu= =0,525
k
2 ( .
k )
1
1,202 . 9,81 . 0,153 . 10 1,03 .103
0,525 ( 305 . 17 .106
.
0,025 ) 2

1
6 2
0,525 ( 3,79 .10 )

23,2
k 0,025 2 1
h= Nu= .25,2=3,87 W ( m ) ( K )
d 0,15

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 98


FENOMENA PERPINDAHAN

hilangnya panas karena konveksi bebas per satuan panjang pipa adalah :
'
q k =h . A . T =h . vd T

3,87 . v .0,15 . 10=18 watt .

Panas total yang hilang ialah :


q' =q'r + q'k =28+18=46 watt .

Perhatikan, bahwa panas yang hilang karena radiasi lebih besar cari pada yang
disebabkan konveksi bebas.

IV.8 RINGKASAN DAN SOAL-SOAL


RINGKASAN FASAL IV,5 S/D IV,7.

Konduksi panas gtakmantap :


- Lempeng setengah takterhingga
- Lempeng dengan tebal terhingga
Konveksi panas : Radiasi :
' 4 4
- Konveksi paksa q12= A 1 F 12 ( T 1 T 2 )

- Konveksi bebas q'12= A 1 ( e1 T 14 a 1 T 24 )

q=h ( T pT f )
- Koefisien pindah panas

SOAL-SOAL
1 Dua buah lempeng dari bahan a dan b, masing-masing mempunyai temperatur
merata Ta dan Tb. Kedua lempeng itu dihubungkan secara erat satu dengan
yang lain. Buktikan, bahwa pada saat itu juga terjadi temperatur kontak Tc pada
permukaan itu, yang mengikuti persamaan :
T aT c
T c T b
=

( kC p )b
( kC p )a
2 Dari persamaan (IV.61) turunkan persamaan untuk besarnya flukasi panas pada
permukaan sebuah lempeng setengah tak terhingga pada waktu tertentu.
k
q y y=0 = ( T 1T o )
Jawab : rC
3 Melalui pipa datar yang tidak diinsulasi mengalir dari 50 . Udara sekitar

pipa temperaturnya 20 . Tahanan panas melalui dinding pipa diabaikan.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 99


FENOMENA PERPINDAHAN

Panas yang hilang karena konveksi bebas besarnya 100 w. Kemudian dialirkan

air dengan temperatur 80


. Berapa besarkah panas yang hilang sekarang?

Untuk soal ini berlaku Nu=0,17 ( Gr . Pr )1/3


=1/T f 1
Untuk menghitung Gr. Gunakan
Tf = (Tpipa + Tudara). Semua sifat fisis dinilai pada Tf.
Jawab : 0,24 kW.
4 Pipa yang tidak diinsulasi, panjang 2 m dan diameter 10 cm, berada dalam
udara dingin. Di dalam pipa ada uap yang mengembun. Untuk konveksi panas

g.
( Gr . Pr )1 /2 untuk 103 < 108. Jika =3.10 6 ,
ini berlaku Nu= 0,55 a

hitunglah perbandingan laju pengembunan bila pipa dipasang mendatar dan


tegak lurus.
Jawab : datar : tegaklurus = 2, 1 : 1.
5 Sebuah alat penukar panas terdiri dari dua pipa konsentri, keduanya sepanjang
2 m. Pipa yang dalam berdiameter-dalam 25 mm dan dilewati air dengan Re =

1500, yang pada waktu masuk mempunyai temperatur rata-rata 20 . Di luar

pipa ini mengembun uap air sedemikian hingga temperatur permukaan-luar

pipa merata 100


. Abaikan tahanan panas dinding pipa. Hitunglah

temperatur air waktu keluar.


Jawab : 39,8 .

6 Peluru timbal dibuat dengan meneteskan timbal ( =11.340 kg m3 ) melalui

udara. Jika temperatur udara 20


. Berapa tinggi timbal itu harus di jatuhkan

supaya tetes yang berdiameter 2 mm tepat menjadi padat seluruhnya pada


waktu sampai di bawah? Segera sesudah dilepaskan tetes-tetes itu mencapai
kecepatan akhir yang tetap. Konduktivitas panas untuk timbal begitu tinggi
sehingga temperatur tetes itu merata dan sama dengan titik leleh timbal (=327

).

Panas peleburan timbal = 23,5 . 103 J kg-1.


Gunakan persamaan yang berikut :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 100


FENOMENA PERPINDAHAN

Cp Cp
hd
k
=2,0+ 1,3
k( )
0,15+0,66
vd
( ) ( )
0,50
k
0.33 untuk 1< Ra<104

Jawab : 14,8 m.
7 Suatu cairan dalam sebuah bejana berbentuk silinder mendatar (d = 1m, L =
3m) yang diberi insulasi pada alasnya, diaduk dengan daya 4 kW. Dari bawah
tegaklurus pad aporos bejana dihembuskan udara dengan kecepatan 9 m/detik.
Bejana terisi penuh dengan air. Jika pada waktu t=0, T=T o=Tudara, bagaimanakah
perubahan temperatur air dengan waktu. Gunakan persamaan yang berikut :
Cp Cp
hd
k
=0,42 ( )
k
0,20+0,57 ( ) ( )
vd

0,50
k
0,33untuk 1< <104 .

Jawab : T T o=41,8 { 1exp (9,7. 106 t ) }

8 Sebuah batang yang panjang (diameter 11mm, koefisien emisi 0,8, temperatur

permukaan 327 ) berada secara mendatar dalam udara yang tenang

(temperatur 27 ). Hhitunglah berapa bagian dari laju pindah panas

disebabkan oleh konveksi bebas dan berapa bagian oleh radiasi.


Jawab : Konveksi bebas 47%
Radiasi 53%
9 Jika antara dua lempeng, yang lebar dengan koefisien emisi yang sama,
diletakan lempeng ketiga, maka laju pindah panas karena radiasi menjadi
separuh dari semula. Buktikan.
10 Sifat benda hitam dapat didekati dengan membuat lubang kecil dalam suatu
rongga dengan permukaan yang kasar. Koefisien emisi lubang itu sendiri dapat
ditentukan dengan rumus yang berikut :
e
e lubang=
e+ f (1e)

Jika e = Koefisien emisi permukaan rongga.

f = Perbandingan luas lubang terhadap luas seluruh rongga.

Sebuah bola tipis berongga terbuat dari tembaga yang permukaannya sebelah
dalam telah dioksidasi. Diameter bola 15 cm. Hitunglah berapa besar lubang
yang harus dibuat pada permukaan bola itu untuk mencapai koefisien absorpsi
sebesar 0,999.
e = 0,57 untuk tembaga yang dioksidasi.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 101


FENOMENA PERPINDAHAN

Jawab : jari-jari lubang = 5,5 mm.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 102


FENOMENA PERPINDAHAN

Kalau dalam soal ini dilakukan hal yang sama seperti pada contoh ( IV.3.b ) maka
didapat :
r 1 q1 R2
T 1 T 2= ln
k 12 R1

r 1 q1 R3
T 2 T 3= ln
k 23 R2

Dan

q1 r 1 q 1
T aT 1= =
h1 r 1 h1

q3 r 1 q 1
T 3 T b = =
h3 r 3 h3

Penjumlahan persamaan ( IV. 47 ) s/d ( IV . 50 ) menghasilkan :

T aT b
q' =
R R
ln 2 ln 3
1 R1 R2 1
+ + +
r 1 h1 k 12 k 23 r 3 h 3

T
( aT b )
Atau '
q =U 1 A1

d konduksi panas bersama-sama dengan pembangkitan panas oleh arus listrik.


Dalam penurunan persamaan energi tidak ditinjau pembangkitan panas
lain daripada karena gesekan antara molekul. Sumber pembangkitan panas lain
itu mungkin arus listrik, reaksi kimia atau reaksi inti.

SOAL

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 103


FENOMENA PERPINDAHAN

Seutas kawat listrik mempunyai penampang linkaran dengan jari-jari R

ke (ohm) (cm)
1 1
dan konduktivitas listrik . Kalau kawat ini dilewari

arus sebesar I ampere (cm)2 , maka sebaian dari arus itu diubah menjadi

panas secara irreversible. Laju pembangkitan panas per satuan voum ialah :

I2
Re =
ke

PENYELESAIAN

Persamaan energi ( IV . 21 ) harus ditambah dengan satu suku yaitu

Re
. Penyesuaian dengan batas-batas sistem menghasilkan :

k d dT
0= (r )+ Re
r dr dr

dT Re
d (r ) rdr
dr k

Re 2
Integrasi dua kali menghasilkan : T= r +C 1 lnr +C 2
4k

Dengan syarat batas : 1). r = 0 , T = tak hingga

T0
2). r=R,T= ( temperatur permukaan yang tetap )

2 2
R R r
T T 0 = e ( 1( ) )
4k R

Dari penyebaran temperatur ini dapat diturunkan besaran-besaran lain.

Kenaikan temperatur tertinggi adalah pada r =0.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 104


FENOMENA PERPINDAHAN

2
R R
T makaT 0 = e
4k

Kenaikan temperatur rata-rata


2=R
T0
( T(r) - ) rdrd


T T 0=
2=R
rdrd

R e R2
T T 0=
8k

Laju pindah panas pada permukaan


q' =2 RL. q r
r =R r=R

qr r=R di dapat dari integrasi dari persamaan (IV.52), penggunaan syarat batas

pertama dan memberi harga R pada r, sehingga diperoleh :


R R
qr = e
2 r=R

q' =R2 L R e
r =R

Contoh ini memberikan analogi dengan penyelesaian aliran dalam pipa.


Bentuk matematiknya dan bacaannya sama, yang berbeda hanya perubahannya,
sifat fisis dan besaran lainnya. Dengan ini ditunjukan adanya kemungkinan
untuk menggunakan satu soal yang telah diketahui, sebagai penyelesaian soal
lain, yang secara matematis sama, untuk itu hanya diperlukan mengganti
perubahannya.

Perhatikan daftar berikut :

Aliran Arus listrik


dalam dalam kawat
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 105
FENOMENA PERPINDAHAN

pipa
Integrasi pertama
q rz qr
memberikan penyebaran
Integrasi kedua
vz T T 0
memberikan penyebaran

q rz =t erhingga q r=terhingga
Syarat batas pada r = 0
v z=0 T T 0 =0
Syarat batas pada r = R
Sifat fisis mengenai
perpindahan U K
(

P0P L
Re
Suku tentang sumber )/L
k e =tetap
Anggapan U = tetap K,

IV.4 RINGKASAN DAN SOAL-SOAL


RINGKASAN PASAL IV.1 s/d IV.3

Cara-cara panas berpindah ;


- Konduksi : q = k v T
T T f
- Konveksi : q = h ( p )
4
- Radiasi :q= T
Persamaan energi :

DT P
Cv
Dt
=( v . q )T ( )
T
V ( v . v ) uv

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 106


FENOMENA PERPINDAHAN

Penggunaan persamaan energi dalam teknik kimia.


Penyelesaian secara analogi.

1. Carilah bentuk-bentuk persamaan energi yang berlaku umum dalam pasal IV.2
dalam diktat ini ?
Jawab : ada tiga
2. Sebuah pipa logam yang diinsulasi, dilalui uap air yang teap tekanannya.

T1
Temperatur pipa sebelah dalam adalah merata dan tetap . Sedang

T2
temperatur insulasi bagian luar adalah merata dan tetap pada . Besarnya

temperatur ditempat lain tidak diketahui, cari temperatur penyebaran dalam


dinding pipa dan lapisan insulasi.
r 0 q0 R r0 q 0 R 2
Jawab : pipa, T 1T = k p ln R1 ,insulasi , T T 2= k ln R

T 1 =110 C T 2 =40 C
3. Dalam soal nomor 2, diketahui, dan .
a) Hitunglah temperatur permukaan antara pipa dan insulasi
b) Hitunglah rugi-panas per meter pipa
Keterangan : Diameter dalam pipa = 20,0 cm
Diameter luar pipa = 23,0 cm
Tebal insulasi = 11,5 cm
1 1
K logam = 25,0 W m C
1 1
K insulasi = 0.2 W m C

Jawab : a. 109,9 C b. 126,7 W

4. Carilah penyebaran temperatur t(r) dalam suatu fluida taktermampatkan, yang


mengalir berlapis dan mantap,dalam suatu pipa dengan jari-jari R. Temperatur

T0 T0
dinding pipa tetap pada dan < T. Dan k fluida tidak berubah

dengan temperatur nyatakan jawaban anda dnegan menggunakan bilangan


brinkman :
2
a. Br =uV z , maks /k (T makaT 0)
4
r
1( )
R
b. T T 0 Br
=
T makaT 0 4

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 107


FENOMENA PERPINDAHAN

5. Carilah penyebaran temperatur t(r) dalam suatu fluida taktermampatkan, yang

R1
mengalir secara berlapis,dalam suatu saluran anulus dengan jari-jari dan

R2 T1 T2 T 1 <T 2
. Temperatur dinding anulus tetap pada dan ( ,u

dan k fluida tetap abaikan panas yang timbul karena gesekan,


T 1 T ln R1lnr
Jawab =
T 1T 2 ln R1 ln R2

6. Hitunglah panas yang ditimbulkan per meter pipa, oleh gesekan molekular

T 0 =50 C
dalam sistem aliran soal nomor 4, jika fluidanya air, dan R = 5

2
cm, air mengalir dengan selisih tekanan sebesar 100 N m per 1000 m pipa.

Bandingkan jawaban anda dengan besarnya rugi-panas pada soal nomor 3.


Hitunglah bilangan Brinkman
4
Jawab : 2. 10 W, Br = 4
7. Jika udara di sekitar pipa uap air dalam soal nomor 3 mempunyai temperatur
rata-rata sebesar 25C, hitunglah besarnya koefisien pindah panas h untuk
permukaan insulasi.
1
Jawab : 0,058 W m C1
8. Hitunglah selisih temperatur rata-rata dan temperatur maksimun fluida dalam
soal nomor 6
T maksT =0,53 C
Jawab
9. Suatu cairan mengakir secara berlapis dalam sebuah pipa sepanjang L. Yang
dari luar dipanasi oleh uap air. Aliran masuk pipa dengan temperatur yang

T1
merata , uap air memanaskan pipa secara merata, sehingga temperatur

dinding pipa sebelah dalam, di semua tempat dan pada setiap saat, adalah

T ' , T ' >T 2 . Perubahan temperatur ke arah z ( = sepanjang pipa ) di anggap

P0
linear. Tekanan aliran sewaktu masuk pipa = . Dan sewaktu keluar =

PL
.
Kalau keadaan mantap, carilah penyebaran temperatur dalam aliran itu pada
waktu meninggalkan pipa.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 108
FENOMENA PERPINDAHAN

r
2R


r
2R
Jawab :

kz
+
R2 v z .m
T T 1 16
'
=
T T 1 3

10. Dengan menggunakan hasil perhitungan soal nomor 8, hitunglah besarnya


koefisien pindah panas kepada permukaan pipa sebelah dalam dari soal nomor
6.
4 1
Jawab : 5,4 . 10 W m C1

IV.5 KONDUKSI PANAS SECARA TAKMANTAP


Dalam teknik dijumpai beberapa operasi dan masalah yang menyangkut
konduksi panas secara takmantap. Di sini hanya akan dibahas dua contoh yang
sederhana. Dengan bekal pengetahuan ini kiranya tidak sukar untuk
mempelajari soal ini secara lebih mendalam dan lebih luas. Dalam kedua buku
yang dianjurkan atau buku-buku lazim.

a pemanasan lempeng yang stengah takterhingga.

SOAL

Sebuah lempeng padatan yang terletak antara y = 0 dan v = takhhingga,

T0
mula-mula mempunyai temperatur merata . Pada waktu t = 0 permukaan

T1
pada y = 0 mendadak melonjak temperaturnya menjadi dan bertahan

ANALISA
pada temperatur itu untuk seterusnya ( t > 0 ). Carilah fungsi penyebaran
temperatur yang bergantung pada waktu T ( y , t ).

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 109


FENOMENA PERPINDAHAN

Fungsi penyebaran temperatur bergantung pada dua perubahan y dan t.


Karena itu penyelesaian persamaan diferensialnya akan lebih sukar dari yang
jika hanya ada satu perubahan.
Skema sistem adalah seperti pada gambar di bawah ini. Sistem
koordinat dipilih sistem tegak lurus. Batas-batas sistem adalah sebagai berikut ;

- tidak ada aliran, V = 0


P
- tidak ada tekanan, T =0

- densiti tetap

RENCANA

Dalam cara penyelesaian akan diperkenalkan cara penggunaan perubah


tanpa dimensi. Persamaan energi harus disesuaikan dengan batas-batas sistem,
seperti dilakukan dengan persamaan gerak. Persamaan gerak tidak perlu di
analisa. Karena persamaan energi sudah memuat V, rencana penyelesaian
adalah sebagai berikut :

I Sesuaikan persaman energi pada batas-batas sistem.


II Tetapkan syarat-batas.
III Dengan menggunakan perubah tanpa dimensi, susun
persamaan diferensial baru dan syarat-batas baru.
IV Integrasikan dan selesaikan persamaan yang baru.

PENYELESAIAN

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 110


FENOMENA PERPINDAHAN

Dengan memasukan batas-batas sistem ke dalam persamaan energi


diperoleh persamaan diferensial parsial berikut ;
T 2
o CP =k v T
t

Dalam penyelesaian persamaan-persamaan diferensial parsial sering


digunakan penggantian perubah menjadi perubah tanpa dimensi, agar bentuk
persamaan itu menjadi sederhana.
k
=
Disini akan dipakai : o CP

T T 0
=
T 1 T 0

Untuk memasukan perubah-perubah baru kedalam persamaan


sebelumnya, diperlukan persamaan-persamaan pengubah, yakni ;

T
=
T 1T 0

T
=(T 1T 0)
t t

2
T
72 T menjadi
y2

T
=( T 1T 0 )
y y

2 T 2
=(T 1 T 0 )
y2 y2

Persamaan tersebut di subtitusikan ke dalam persaman diatas.


2
=
Dengan demikain persamaan berubah menjadi : t y2

Syarat-syarat batas untuk sistem ini adalah ;

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 111


FENOMENA PERPINDAHAN

- syarat awal : pada t = 0, = 0, untuk semua y


- syarat batas 1 : pada y = 0, = 1, untuk semua t > 0
- syarat batas 2 : pada y = takhingga. = 1, untuk semua t > 0

Persamaan-persamaan diferensial yang mengandung dua perubah bebas


dapat diselesaikan menurut salah satu dari dua cara, yaitu : - penyatuan
perubah, atau
- pemisahan perubah

Contoh ini akan diselesaikan dengan cara PENYATUAN MEMISAH,


yaitu y dan t disatukan menjadi perubah baru, yang dianggap satu fungsi.
Supaya persamaan diatas dapat diubah dengan mudah menjadi persamaan
dalam t dan , maka harus persamaan-persamaan pengubah.

= y / 4 t

1 1
1
d=(4 t ) 2 dy y (4 ) 2 . t 3 /2 dt
2

|ddt |
y=tetap
=
y
=

2 t 4 t 2 t

| |
d
dy y=tetap
=( 4 t ) 2 =

y

' t 2 t
= = =
n t n nt

n '
=
t 2t

2 2 2 2 2
t y y
2
=' ' = 2 2
= 2 2
n y n n y

2 n2 ' '
2
= 2
y y

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 112


FENOMENA PERPINDAHAN

d d n '
= =
dt dt 2t

2 2 n2 ''
2
= 2= 2
y y y

Perubahan persamaan dengan pengubah diatas didapatkan persamaan;

' ' +2 n=0

Syarat batas yang baru dibentuk dengan memasukan syarat awal ke dalam
syarat batas kedua : Syarat batas 1 : pada n = 0, = 1
Syarat batas 2 : pada n = tak hingga, = 0
' '' '
Kalau digunakan : = dan =
Dan di subtitusikan dengan persamaan sebelumnya,akan diperoleh persamaan
diferensial orde kesatu.
'
+2 n=0
Yang sesudah integrasi memberikan penyelesaian :
2
' n
= =C1 e

integrasi kedua memberikan penyelesaian ;

n
2

= C1 en dr +C 2
0

penggunaan kedua syarat batas memberikan :


n
2

T T 0
en n
2 2

==1 0 n =1 en dn
T 1T 0
2

e 0
0

T T 0
Karena = = T 1T 0

Suku kedua dalam ruas kanan persamaan diatas di sebut fungsi


kesalahan (error function) disingkat erf n.Seluruh ruas kanan, jadi 1- erf
n,disebut komplemen fungsi kesalahan (complementary error function),
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 113
FENOMENA PERPINDAHAN

disingkat erfc n. Fungsi kesalahan adalah fungsi kontinu yang nilainya berubah
dari 0 sampai 1 fungsi ini sering di pakai dan nilainya untuk berbagai nilai n
sudah dimasukan daftar yang dimuat dalam beberapa buku, sehingga dapat
dihitung dengan mudah.

b Pemanasan lempang dengan tebal terhingga

SOAL
Sebuah lempeng padat yang terletak antara y = -b dan y = +b, mula-

T0
mula mempunyaitemperatur merata . Pada waktu t = 0 kedua permukaan

T1
pada y = -b dan y = +b mendadak melonjak temperaturnya men jadi dan
PENYELESAIAN
bertahan pada temperatur itu untuk seterusnya, carilah fungsi penyelesaian
temperatur T (y,t).

Karena sama dengan soal IV.5a. ANALISA dan RENCANA ditiadakan.


Lagi pula PENYELESAIAN dibuat singkat. Harap uraian ini diikuti dengan
menghitung sendiri bagian-bagian dilampaui.
Batas-batas sistem pada contoh soal IV.5a berlaku juga disini, dengan
menggunakan perubah-perubah tanpa dimensi yang berikut:
T T 0
= , temperatur tanpa dimensi
T 1 T 0

y
n= , jarak tanpa dimensi
b

2t
t=
b2 , waktu tanpa dimensi

Diperoleh persamaan diferensial yang sederhana bentuknya :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 114


FENOMENA PERPINDAHAN

2

=
T n2

Syarat awal, pada t = 0, = 1


Syarat batas 1&2 pada n = 1, = 0
Persamaan diatas diselesaikan dengan cara PEMISAHAN
PERUBAHAN. Untuk pemisahan itu DI ANGGAP, bahwa fungsi yang di cari
merupakan HASIL PERKALIAN FUNGSI sebagai berikut :

( n , T ) = f (n) . g ( T )

Dengan menggunakan persamaan diatas, persamaan sebeumnya diubah


menjadi :

2
1 dg 1 d f
=
g dT f d n 2

Untuk persamaan diatas dipersilahkan menambahkan dan membaca buku Bird


dkk. Penyelesaiannya berbentuk deret takterhingga, yaitu :
2

T 1 T (1)n (n+ 12 ) 2
t /b2
1 y
=2 I e cos( n+ )
T 1T 0 n 0 1 2 b
( n+ )
2

Deret ini juga disajikan dalam bentuk nomogram, selain untuk lempeng
juga untuk silinder,bola dll. Nomogram-nomogram itu antara lain dimuat dalam
kedua buku yang berikut : - W.H. McAdams, Heat Tranmission,
McGraw-Hill.1954
- H.S Carslaw & J . C Jaeger. Conuuction of Heat in
solids. Oxford University Press. 1959.

IV.6 PERPINDAHAN PANAS SECARA KONVEKSI


Pada pembatasan permuakaan padat dan fluida, panas yang dipindahkan
secara KONVEKSI. Dalam fasal IV.3 hal ini sudah disinggung. Dalam
menyusun syarat batas pada pertemua permukaan padat dan fluida akan
dijumpai salah satu atau lebih dari padat dan fluida akan dijumpai salah satu
atau lebih dari hal-hal di bawah ini.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 115


FENOMENA PERPINDAHAN

T0
I Temperatur permukaan itu diketahui tetap, misalnya T = .
q0
II Fluksi panas pada permukaan itu diketahui, misalnya q = .
III Fluksi panas pada permukaan padat dan fluida, mengikuti persamaan :
T T fluida
q = n ( padat
IV Fluksi panas dan temperatur pada pertemuan dua permukaan padat
diketahui.

Dalam fasal ini akan di bahas hal ke III saja; perpindahan panas secara
konveksi. Dalam konveksi panas dikenal dua cara perpindahan yang
merupakan kedua batas perpindahan secara konveksi yaitu:
Konveksi paksa, dan
Konveksi bebas atau alamiah.

Dalam konveksi paksa sudah tentu konveksi bebas mungkin terjadi


juga, akan tetapi pengaruhnya dapat di abaikan terhadap pengaruh konveksi
paksa. Pada halaman berikut ini kedua cara itu di bandingkan.

Konveksi paksa Konveksi bebas


Panas dipindahkan karena Panas dibawa serta oleh fluida
dibawa oleh massa yang yang bergerak ke atas karena
dialirkan oleh satu alat pembacaan temperatur.
Sifat aliran ditentukan oleh satu Sifat aliran ditentukan oleh gaya
alat. apung fluida yang berbeda
desinti.
Penyebaran kecepatan dicari Penyebaran kecepatan dan
lebih dulu, kemudian baru dicari temperatur saling berhubungan.
penyebaran temperatur.
Bilangan nusselt bergantung Bilangan nusselt bergantung pada
pada bilangan Reynolds dan bilangan Grashof dan bilangan
bilangan Prandtl. Prandtl.

A. konveksi paksa.

Sebagai contoh akan dibahas perpindahan panas secara konveksi paksa


dalam KEADAAN MANTAP dari suatu fluida dalam pipa. Suatu fluida dengan
sifat-sifat fisis yang tetap mengalir secara berlapis dalam pipa dengan jari-jari

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 116


FENOMENA PERPINDAHAN

T0
R. Pada daerah z < 0, temperatur fluida itu merata . Dalam daerah z > 0

sampai z = L pada permukaan dinding pipa masuk fluksi panas yang tetap

q1
. Karena mendapat pemanasan tetap sepanjang L. Bagaimanakah

penyebaran temperatur dalam fluida sepanjang L itu ?.

Lebih dahulu dicari penyebaran kecepetan. Hal itu dapat diperoleh


dengan mudah dengan menggunakan persamaan gerak. Hasilnya ialah :

r
R

1( 2 )
2
( P0P L ) R
v z=
4 L

r
R

Atau
1( 2 )
v z=v zmaks

Dalam menerapkan persamaan energi harus diingat, bahwa panas selain

qr
berpindah secara berpindah secara RADIAL ( juga berpindah secara

qz
AKSIAL ( sehingga belaku kedua komponen hukum Acurier.
T
q r=k
r

T
q z=k
z

Persamaan diferensial yang diperoleh ialah :

T 1 q
= ( r qr)= z
z r r z

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 117


FENOMENA PERPINDAHAN

Dengan pertolongan persamaan (II.24),(IV.66) dan (IV.67) maka persamaan


(IV.68) diubah menjadi ;
r
q

T 1 T 2 T
1( 2 )
z
=k ( r + ( )
r r r z2
)
C p v m

v m =v z .maks

Pengaruh konduksi ke arah z biasana kecil jika di bandingkan dengan

2
T T
konveksi ke z. Kerena itu z 2 dapat di abaikan terharap r . ( ingat

bahwa hal ini tidak selalu dapat dilakukan).


Hal ini sebenarnya sama dengan menganggap bahwa perubahan
temperatur ke-z liniar. T(z)=z + f. Maka diperoleh;
r
q

T k T
1( 2 ) =
z r r r
r ( )
C p v m

Syarat batas 1. Pada r = 0, T= takhingga


T
k =q 1=tetap
Syarat batas 2. Pada r = R, - r
T0
Syarat batas 3. Pada z = 0, T =

Dengan menggunakan perubah-perubah tak berdimensi yang berikut.


Persamaan (IV.70) diubah menjadi persamaan (IV.71).
T T 0
=
R
q1
K
r
=
R
zk
=
C p v m R 2

1
(1 - 2
) = =( )

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 118


FENOMENA PERPINDAHAN

Syarat batas 1. Pada = 0. =terhingga



Syarat batas 2. Pada =1 . -
=1

Syarat batas 3. Pada =0 . =0

Syarat batas 3 sepintas memang layak dipakai, akan tetapi kalau ditinjau
lebih dalam tidak akan dapat dipenuhi seluruhnya.
Pada z = 0 dan r < R memang T = T 0, akan tetapi pada z = 0 dan r = R,


k
ada fluksi panas yang tetap q = r . jadi ada gradien temperatur atau

ada perubahan temperatur, memang hal ini adalah keadaan batas, namun
dengan demikian syarat batas 3 tidak dapat dipenuhi seluruhnya.
Sebagai penggantinya diambil syarat 3 berdasarkan neraca panas :
Panas yang masuk melalui dinding pipa = selisih panas dalam fluida
antara z = 0 dan z = 1. Atau
2x R

-2 Rzq1 = o c p (T-To) vz rdrd


o o

atau dalam perubahan tanpa dimensi :


2

syarat batas 3 : =
o
( , ) ( 1 2 ) d

persamaan (IV. 71) akan diselesaikan dengan cara pemisahan perubahan dan dianggap

bahwa merupakan jumlah dua fungsi :

= c +( ) (IV. 72)
o

Penggunaan persamaan (VI.72) mengubah persamaan (VI.71) menjadi :

1 d d

d d( )
=c o (1 2 )
(VI.73)

Integrasi dua kali dan penggunaan syarat batas 1, 2 dan 3 menghasilkan :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 119


FENOMENA PERPINDAHAN

1 7
=4 2
+ 4
+
4 24

(IV.74)

Dari persamaan (IV.74) dapat dihitung T dan juga dapat diturunkan besaran-

besaran lain. Dalam aliran fluida, dengan Cp tetap, ada dua pengertian temperatur

rata-rata, yaitu :
2x R

T ( r ) rdr d
o o
<T> = 2x R

rdr d
o o

2x R

v z ( r ) T ( r ) rdr d
o o
=T b
<T> = 2x R

v z ( r ) rdr d
o o

Baik <T> maupun Tb merupakan fungsi z. Tb disebut BULX TEMPERATURE,


dan kadang-kadang juga CUP-MIXING TEMPERATURE atau FLOW-AVERAGE
TEMPERATURE.

b. konveksi bebas
dalam contoh ini, suatu fluida berada antara dua permukaan tgak, yang berjarak
2b. Dinding pada y = -b temperaturenya din pertahankan pada T1 dan temperature
dinding pada y = +b dipertahankan pada T2. Fluida mula-mula diam, akan tetapi karena
ada gradien temperatur fluida dekat dindning panas naik dan fluida dekat dinding
dingin turun. Dianggap, bahwa laju alir volum fluida ke atas sama dengan laju alir
volum ke bawah. Kemudian dianggap pula bahwa, bagian dinding yang ditinjau
terletak jauh dari tempat tepinya, sehingga temperatur dapat dianggap merupakan
fungsi y saja.
Untuk k yang tetap penerapan persamaan energi memberikan :
d2 T
k 2 =0
dy

(IV.75)
syarat batas 1. Pada y = -b, T = T1
syarat batas 2. Pada y = +b, T = T2

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 120


FENOMENA PERPINDAHAN

dan diperoleh penyelesaian yang berikut :


1 v
T =T m T ( )
2 b (IV.76)

Penyebaran kecepatan dapat diperoleh dengan membuat neraca momentum,


yang menghasilkan :
d 2 v z dp
= + g (IV.77)
dyz dz
Viskositas dianggap tetap.
Fungsi perubahan dicari dengan menggunakan dalam deret taylor


sekitar suatu temperatur bandingan T , yang untuk sementara belum ditentukan :

= T
( - T ) +........

+ T T

=
g( - T ) +........

(IV.78)

adalah density pada T dan adalah koefisien pemuaian volume

T .

Dalam deret taylor di atas suku ketiga dst. Diabaikan. Jika persamaan (IV.78)
disubstitusikan ke dalam persamaan (IV.77), diperoleh :
2
d vy z dp
2
= + g - g ( - T )
dy dz

(IV.79)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 121


FENOMENA PERPINDAHAN

Kalau dianggap, bahwa gradien tekanan itu hanya disebabkan oleh berat fluida
di antara dua dinding itu.
dp
=
Maka : dz g
Dan persamaan (IV.79) berubah menjadi :
2
d vz
2 =- g ( - T ) (IV.80)
dy

Yang berarti, bahwa gaya gesekan molekul tepat diimbangi oleh gaya apung.
Persamaan (IV.80) dan menghasilkan:

d2 v z y
2 =- g {( T mT )
T ( )
dy p }

(IV.81)

Dengan menggunakan kedua syarat batas :


Syarat batas 1 : pada y = -b, vz = 0
Syarat batas 2 : pada y = +b, vz = 0

Persamaan (IV.81) dapat diselesaikan menjadi :

gb2 3
v z= { n An2n+A } (IV.82)
12

y
Dalam mana : n= p

T m T
A=
T

T atau A dapat dicari, kalau digunakan anggapan, bahwa laju alir volum ke

atas sama dengan ke bawah, atau laju alir volum total ke arah z sama dengan nol.
+1
vz dn =0 (IV.83)
-1
Kalau persamaan (IV.82) disubstitusikan ke dalam persamaan (IV.83) dan

2
A+ 4 A=0
dilakukan integrasinya, maka didapat: 3
Tm
Yang menghasilkan A=0 atau T = .

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 122


FENOMENA PERPINDAHAN

Akhirnya penyebaran kecepatan vz menjadi :


gb2 3
v z= ( n n ) (IV.84)
12

Persamaan (IV.84) dapat juga dinyatakan dalam perubah dan bilangan tanpa dimensi :
b v z
a = , kecepatan tanpa dimensi

y
n = b , jarak tanpa dimensi

2 g b 3 T
Gr = 2 , bilangan grashof

n
1
Sehingga menjadi : = Gr 3- n) (IV.85)
12

c. Persamaan empiris
Koefisien pindah pans permukaan h merupakan sifat kemmampuan
memindahkan panas untuk tempat pertemuan suatu permukaan dan fluida, yang selain
dipengaruhi oleh sifat-sifat permukaan dan fluida, juga masih bergantung pada aliran
dan temperatur.
Karena banyaknya faktor yang berpengaruh, tidak ada jalan lain untuk
memperoleh nilai h dari pada melakukan percobaan untuk menentukannya.
Banayakm sekali percobaan yang telah dilakukan berbagai peneliti dengan
tujuan memeperolah persamaan empiris yang dapat dipakai untuk memperkirakan nilai
h dalam masalah yang serupa, misalnya untuk keperluan perancangan alat.
Dialakukannya percobaan-percobaan itu juga di dorong oleh pentingnya diketahui nilai
h yang dapat diandalkan, untuk keperluan perhitungan perpindahan panas.
Hasil penelitian berbagai orang sudah banyak yang disatukan dalam persamaan
yang telah diterima dan dipakai banyak orang. Persamaan-persamaan itu biasanya
berlaku dalam batas-batas aliaran tertentu atau untuk keadaan tertentu. Persamaan
dinyatakan dalam bilangan Nusselt sebagai fungsi dari bilangan Prandantl dan satu
bilangan tanpa dimensi yang khusu berhubungan dengan sifat aliran : bilangan
Reynold untuk konveksi paksa, dan bilangan Grashof untuk konveksi bebas.
Di bawah inni diberikan ringkasan beberapa bilangan-bilangan tanpa dimensi
dan beberapa contoh persamaan empiris. Dalam menggunakan persamaan empiris
perlu di ingat, bahwa persamaan itu adalah hasil percobaan dan karena itu akan
memuat kesalahan-kesalahan percobaan itu.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 123


FENOMENA PERPINDAHAN

hd
Bilangan Nusselt = Nu = k

C p

Bilangan Prandtl = Pr = k
vd G
=
Bilangan Reynolds = Re = rd

Bilangan Grashof = Gr =
2 gb3 T gb3 T
=
2 2

untuk aliran berlapis dalam pipa berlaku :


1 /3 0.14
b
Nu = 1.86 ( . Pr .
d
L )( ) w (IV.86)

b Tb w
dihitung untuk temperatur rata-rata fluida dan dihitung

b w
untuk temperatur dinding. jika tidak banyak perbedaan anatara dan , faktor

b / w
boleh dihilangkan.
Untuk aliran yang sangat bergolak (Re > 20.000) :
0.14
1/ 3 b
Nu = 1.86 ( )
0,8
( Pr )
w( ) (IV.87)

Sering juga persamaan empiris itu disajikan dalam bentuk grafik.

Dalam perhitungan perpindahan panas secara konveksi untuk pipa, dengan


menggunakan hukum pendinginan Newton :
q' =hA ( T permukaanT fluida )

Orang menghadapi beberapa pillihan dalam menentukan T . Karena

T itu berubah sepanjang pipa (lihat persamaan (IV.74)). Definisi untuk h dengan

demikian bergantung pada pemilihan T . Di bawah ini disebut beberapa definisi

untuk h.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 124


FENOMENA PERPINDAHAN

L
h1 n
Dalam teknik kimia dipakai karena nilainya makin tetap. Bila d

U1n
makin panjang. Juga koefisien pindan panas keseluruhan yang dipakai dalam

teknik kimia, sehingga persamaan perpindahan panas untuk teknik kimia adalah
:
q' =U 1 n A ( T )1 n (IV.88)
Atau biasanya diakai :
'
q =UA ( LMTD )

Dalam mana LMTD = logarithmic mean temperature difference.


IV. RADIASI
,,
Berbeda dari konduksi dan konveksi, dalam radiasi energi berpindah tanpa
memerlukan zat pengantar. Radiasi adalah pancaran energi secara gelombang
elektromaknit dengan kecepatan cahaya. Daerah panjang gelombang yang dapat
disebut radiasi panas terutama terletak antara 0,1-10 mikron. Daerah ini hanya
sebagian kecil dari keseluruhan radiasi elektromaknit.
Kalau adalah panjang gelombang dan c kecepatan cahaya dan v frekuensi., maka

berlaku hubungan :

c
=
v

(IV.89)
c = 2,9979. 1010 cm/detik

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 125


FENOMENA PERPINDAHAN

suatu gelomabang elektromaknit dengan frekuensi v biasanya digambarkan


sebagai gerakan foton, yaitu benda dengan massa nol, muatan nol dan energi sebesar
c, dengan hubungan :
c = hv (IV.90)
h = tetapan planck = 6,624.10-27 erg. Detik.

Energi foton itu dapat dipancarkan (emisi). Dapat diserap (absorpsi) oleh suatu
permukaan dan dapat juga dipantulkan (refleksi).
Dalam radiasi panas dikenal beberapa benda bandingan. Suatu benda atau
permukaan yang terkena radiasi panas, biasanya hanya sebagian dari energi yang
sampai, dengan hubungan :
( a)
c a
qv
A = qm : av = qv
( m) (IV.91)

Keterangan : a = KOEFISIEN ABSORT


q ( a) =energi yang diserap .

q (m )=energi yang masuk .

Untuk benda-benda nyata av tidak sama untuk berbaai frekuensi.


BENDA KELABU (gray body) ialah benda hipocetis yang mempunyai a v yang
sama, tetapi lebih kecil dari 1, untuk semua frekuensi dan semua temperatur. BENDA
HITAM (black body) ialah benda hipotetis yang mempunyai a v = 1 untuk semua
frekuensi dan temperatur.
Semua permukaan padat selain menyerap juga memancarkan panas. Jika
dibandingkan dengan pancaran benda hitam, bagian yang dipancarkan oleh suatu
permukaan disebut KOEFISIEN EMISI e :
( e)
q (e ) qv
:
e = qb( e ) ev = qbv (e ) (IV.92)

jika q (e ) = energi yang dipancarkan benda biasa.


(e )
qb = energi yang dipancarkan benda hitam.

Perpindahan panas secara radiasi untuk benda hitam telah dirumuskan dalam
HUKUM STEFAN-BOLTZMAN sebagai berikut :
(e ) 4
q =
(IV.93)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 126


FENOMENA PERPINDAHAN

8
Dalam mana =tetapan StefanBoltzman=5,67.10 ,,,/(m2)(oK4).

Untuk benda tak-hitam energi yang dipancarkan ialah :


q (e ) = e 4

(IV.94)
Hukum stefan-boltzman menyatakan ENERGI TOTAL yang dipancarkan oleh
suatu benda dari seluruh permukaannya ke semua arah. Untuk teknik yang penting
ialah energi yang DIPERTUKARKAN antara dua benda atau dua permukaan. Karena
sering sekali tidak semua permukaan suatu benda menghadap ke benda yang lain,
maka dari pancaran total benda pertama hanya sebagian sampai pada benda kedua.
Benda kedua menyerap sebagian dari energi yang sampai padanya dan bagian
yang lain dipancarkan kembali ke benda pertama. Pancaran benda kedua itu sebagian
di serap oleh benda pertama dan sebagian dipancarkan kembali, begitu seterusnya.
Pertukaran energin antara dua benda hitam dinyatakan oleh persamaan yang berikut:

q12= A 1 F 12 ( T 14T 24 ) = A2 F21 ( T 14T 24 ) (IV.95)

Keterangan :
q12 = Energi yang dipertukarkan antara benda hitam 1 dan 2.
A1 = Luas permukaan total benda 1.
A2 = Luas permukaan total benda 2.
F12 = Bagian dari radiasi A1 yang sampai pada A2,
F21 = Bagian dari radiasi A2 yang sampai pada A2,
F12 dan F21 disebut faktor penglihatan (view factors).

A1 F12 = A2 F21

Menghitung F sangat sukar. Untuk beberapa hubungan geometri dalam buku


W.H. McAdams, Heat Transmission, McGraw-Hill, 1954, terdapt nomogram-
nomogram untuk F. Jika nilai F diketahui, perhitungan pertukaran radiasi panas
tidaklah sukar.
Untuk dua benda tak-hitam pertukaran radiasi panasnya dapat dihitung seperti
di bawah ini. Perhitungan semacam ini hanya mungkin dilakukan untuk benda kecil
yang CEMBUNG permukaannya (benda 1, temperatur T1), yang SELUPUHNYA
DILINGKUNGI oleh permukaan lingkungan pada T2. Laju energi yang di pancarkan

oleh benda 1 : q12=e1 A 1 T 14

Laju energi yang diserap oleh permukaan 1 dari lingkungan


4
q12=a1 A 1 T 1

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 127


FENOMENA PERPINDAHAN

Di sini F12 diambil sama dengan 1, karena permukaan 1 itu cembung dan
diliputi oleh permukaan 2 sehingga seluruh pancarannya diterima oleh lingkungan dan
tidak ada yang diterima kembali oleh 1.

Selisih energi yang dipertukarkan menjadi :


q12= A 1 ( e1 T 14 a 1 T 24 ) (IV.96)
e1 ialah nilai koefisien emisi permukaan 1 pada T1, a1 diperkirakan sama dengan nilai e
untukpermukaan 1 pada T.
a Contoh: kehilangan panas karena radiasi dan konveksi bebas.

SOAL
Sebuah pipa terpasang secara mendatar dalam sebuah ruangan. Pipa itu
dari luar diinsulasi dengan asbes sampai diameter insulasi itu 15 cm.

Permukaan insulasi temperaturnya 37 (310 K ), sedang temperatur

udara dalam ruangan dan dinding ruangan adalah 27 oC (300oK). Perkirakan


panas yang hilang karena radiasi dan konveksi bebas per satuan panjang pipa.
Konveksi bebas pada pipa mendatar yang panjang mengikuti persamaan :
1

Nu = 0,525 ( Gr . Pr ) 2 (IV.97)

PENYELESAIAN
Umpamakan, bahwa permukaan insulasi adalah permukaan 1 dan dinding
ruangan adalah permukaan 2. Untuk sistem dari soal ini dapat dipakai persamaan

(IV.96) : q12= A 1 ( e1 T 14 a 1 T 24 )

Keterangan yang dapat dikumpulkan ialah : =5,67.108 w ( m )2 ( K )4

A 1=
dL = ,, . 0,15 .1 m2

e1 = 0,93 untuk 310 K


a = e pada 300 K = 0,93
1 1

T1 = 310 K
T = 300 K
2

Jika nilai-nilai din atas dimasukan dalam persamaan (IV.96) diperoleh :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 128


FENOMENA PERPINDAHAN

q'r=q '12=5,67.108 . v . 0,15. ( 0,93. 3104 0,93. 3004 ) =28 watt .

Untuk konveksi bebas dapat dikumpulkan keterangan udara (dinilai pada

temperatur lapisan udara sebesar 305 K sebagai berikut :


6 2
=17. 10 N . detik m
3
=1,20 kg m
3 1 1
c p=1,03. 10 J ( kg ) (
)
1 1
k =0,025 W ( m) (
)
1 1 1
= = K
T f 305

Keterangan lain yang diperlukan ialah : d=0,15 m


T =10 K

g = 9,81 m detik-2

jika dimasukan ke dalam persamaan (IV.97) di dapat :


1
2 g d3 T c p 2
hd
Nu= =0,525
k
2 ( .
k )
1
1,202 . 9,81 . 0,153 . 10 1,03 .103
0,525 ( 305 . 17 .106
.
0,025 ) 2

1
6 2
0,525 ( 3,79 .10 )

23,2

k 0,025
h= Nu= .25,2=3,87 W ( m )2 ( K )1
d 0,15

hilangnya panas karena konveksi bebas per satuan panjang pipa adalah :

q'k =h . A . T =h . vd T

3,87 . v .0,15 . 10=18 watt .

Panas total yang hilang ialah :


' ' '
q =qr + qk =28+18=46 watt .

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 129


FENOMENA PERPINDAHAN

Perhatikan, bahwa panas yang hilang karena radiasi lebih besar cari pada yang
disebabkan konveksi bebas.

IV.8 RINGKASAN DAN SOAL-SOAL


RINGKASAN FASAL IV,5 S/D IV,7.

1 Konduksi panas tak mantap :


- Lempeng setengah takterhingga
- Lempeng dengan tebal terhingga
2 Konveksi panas : Radiasi :
' 4 4
- Konveksi paksa q12= A 1 F 12 ( T 1 T 2 )

- Konveksi bebas q'12= A 1 ( e1 T 14 a 1 T 24 )

q=h ( T pT f )
- Koefisien pindah panas

SOAL-SOAL

11. Dua buah lempeng dari bahan a dan b, masing-masing mempunyai temperatur
merata Ta dan Tb. Kedua lempeng itu dihubungkan secara erat satu dengan
yang lain. Buktikan, bahwa pada saat itu juga terjadi temperatur kontak Tc pada
permukaan itu, yang mengikuti persamaan :
T aT c
T c T b
=
( kC p )b
( kC p )a
12. Dari persamaan (IV.61) turunkan persamaan untuk besarnya flukasi panas pada
permukaan sebuah lempeng setengah tak terhingga pada waktu tertentu.
k
q y y=0 = ( T 1T o )
Jawab : rC
13. Melalui pipa datar yang tidak diinsulasi mengalir dari 50 . Udara sekitar

pipa temperaturnya 20 . Tahanan panas melalui dinding pipa diabaikan.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 130


FENOMENA PERPINDAHAN

Panas yang hilang karena konveksi bebas besarnya 100 w. Kemudian dialirkan

air dengan temperatur 80


. Berapa besarkah panas yang hilang sekarang?

Untuk soal ini berlaku Nu=0,17 ( Gr . Pr )1/3


=1/T f 1
Untuk menghitung Gr. Gunakan
Tf = (Tpipa + Tudara). Semua sifat fisis dinilai pada Tf.
Jawab : 0,24 kW.
14. Pipa yang tidak diinsulasi, panjang 2 m dan diameter 10 cm, berada dalam
udara dingin. Di dalam pipa ada uap yang mengembun. Untuk konveksi panas

g.
( Gr . Pr )1 /2 untuk 103 < 108. Jika =3.10 6 ,
ini berlaku Nu= 0,55 a

hitunglah perbandingan laju pengembunan bila pipa dipasang mendatar dan


tegak lurus.
Jawab : datar : tegak lurus = 2, 1 : 1.
15. Sebuah alat penukar panas terdiri dari dua pipa konsentri, keduanya sepanjang
2 m. Pipa yang dalam berdiameter-dalam 25 mm dan dilewati air dengan Re =

1500, yang pada waktu masuk mempunyai temperatur rata-rata 20 . Di luar

pipa ini mengembun uap air sedemikian hingga temperatur permukaan-luar

pipa merata 100


. Abaikan tahanan panas dinding pipa. Hitunglah

temperatur air waktu keluar.


Jawab : 39,8
.

16. Peluru timbal dibuat dengan meneteskan timbal ( =11.340 kg m3 ) melalui

udara. Jika temperatur udara 20


. Berapa tinggi timbal itu harus di jatuhkan

supaya tetes yang berdiameter 2 mm tepat menjadi padat seluruhnya pada


waktu sampai di bawah? Segera sesudah dilepaskan tetes-tetes itu mencapai
kecepatan akhir yang tetap. Konduktivitas panas untuk timbal begitu tinggi
sehingga temperatur tetes itu merata dan sama dengan titik leleh timbal (=327

).

Panas peleburan timbal = 23,5 . 103 J kg-1.


Gunakan persamaan yang berikut :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 131


FENOMENA PERPINDAHAN

Cp Cp
hd
k
=2,0+ 1,3
k( )
0,15+0,66
vd
( ) ( )
0,50
k
0.33 untuk 1< Ra<104

Jawab : 14,8 M
17. Suatu cairan dalam sebuah bejana berbentuk silinder mendatar (d = 1m, L =
3m) yang diberi insulasi pada alasnya, diaduk dengan daya 4 kW. Dari bawah
tegaklurus pad aporos bejana dihembuskan udara dengan kecepatan 9 m/detik.
Bejana terisi penuh dengan air. Jika pada waktu t=0, T=T o=Tudara, bagaimanakah
perubahan temperatur air dengan waktu. Gunakan persamaan yang berikut
Cp C p
hd
k
=0,42 ( )
k
0,20+0,57 ( ) ( )
vd

0,50
k
0,33 untuk 1< <10 4

Jawab : T T o=41,8 { 1exp (9,7. 106 t ) }

18. Sebuah batang yang panjang (diameter 11mm, koefisien emisi 0,8, temperatur

permukaan 327 ) berada secara mendatar dalam udara yang tenang

(temperatur 27 ). Hhitunglah berapa bagian dari laju pindah panas

disebabkan oleh konveksi bebas dan berapa bagian oleh radiasi.


Jawab : Konveksi bebas 47%
Radiasi 53%
19. Jika antara dua lempeng, yang lebar dengan koefisien emisi yang sama,
diletakan lempeng ketiga, maka laju pindah panas karena radiasi menjadi
separuh dari semula. Buktikan.
20. Sifat benda hitam dapat didekati dengan membuat lubang kecil dalam suatu
rongga dengan permukaan yang kasar. Koefisien emisi lubang itu sendiri dapat

e
e lubang=
ditentukan dengan rumus yang berikut : e+ f (1e)

Jika e = Koefisien emisi permukaan rongga.


f = Perbandingan luas lubang terhadap luas seluruh rongga.

Sebuah bola tipis berongga terbuat dari tembaga yang permukaannya sebelah
dalam telah dioksidasi. Diameter bola 15 cm. Hitunglah berapa besar lubang
yang harus dibuat pada permukaan bola itu untuk mencapai koefisien absorpsi
sebesar 0,999.
e = 0,57 untuk tembaga yang dioksidasi.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 132


FENOMENA PERPINDAHAN

Jawab : jari-jari lubang = 5,5 mm.

V PERPINDAHAN MASSA

V.1 DIFUSI
Juga dalam perpindahan massa dikenal dua cara perpindahan,yaitu konveksi dan
difusi. Massa berpindah secara konveksi karena terbawa aliran dan aliran disebabkan
oleh gaya dari luar sistem. Dalam difusi molekul-molekul bergerak satu terhadap yang
lain karena adanya gaya penggerak di dalam sistem, yaitu perbedaan konsentrasi .
Perpindahan massa karena konveksi sudah dijumpai lebih dulu dalam
pembahasan perpindahan momentum. Pangkal analisa adalah hukum kekalan massa
yang sudah diturunkan menjadi persamaan kontinuitas (III.2). Dalam semua masalah
aliran ada perpindahan massa karena konveksi. Analisa soal aliran selalu dimulai
dengan persamaan kontinuitas (lihat contoh II. 1 dalam fasal III.4).
Akan tetapi selama ini yang ditinjau hanya massa secara makro secara
eseluruhan. Dalamm persamaan (III.2) laju perpindahan masaa dinyatakan sebagai

fluksi massa d ( vz) dan laju akumulasi sebagai perubahan density. Kalau dihadapi

suatu campuran dari dua penyusun atau lebih. Maka lebih sesuai kalau semua besaran
dinyatakan secara molar :
laju akumulasi zat A dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi.
dc A
dt

laju perpindahan zat A sebagai fluksi A. NA. mol (luas)-1 (waktu)-1


Kalau diinginkan hanya meninjau neraca massa zat A. Maka persamaan (III.2)
perlu di ubah dengan jalan membagi semua suku dengan berat molekul zat A.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 133
FENOMENA PERPINDAHAN

Sehingga diperoleh persammaan kontinuitas untuk Zat A (dalam kordinat tegak


lurus) :
C A N AX N AY N AZ
+ + + = RA
X Y Z

(V.1)

Dalam persamaan (V.1) selain ditinjau akumulasi zat A berdasarkan


konveksi. Juga dimuat perubahan banyaknya zat A itu oleh suatu reaksi R A yang
menyatakan besarnya laju pembangkitan atau pengurangan A dalam satuan
volume. Untuk mendapat pengertian yang lebih baik dari
masalahperpindahan sering memperlihatkan kemiripan antara perpindahan
ketigajenis besaran itu. Kemiripan- kemiripan ini akan dibahas kemudian.
Gambaran pertama dapat diperoleh dengan meninjau perbedaan antara
ketiga perpindaha itu. Perhatikan contoh contoh dibawah ini.

1. Pembangkitan massa (karena reaksi kimia) bergantung secara rumit sekali


pada konsentrasi molar dan temperatur pada pembangkitan momentum dan
panas tidak besar.
2. Permukaan antarafasa yang dilewati oleh massa biasanya bergerak (antara
dua cairan, atau antara gas dan cairan) sedangkan pada perpindahan
momentum sering sekali dan pada perpindahan panas hampir selalu ditemui
permukaan antar fasa yang berupa dinding padat.
3. Tingkat besarnya nilai koefisien difusi D untuk cairan dan padatan lebih

kecil dari difusivitas termal atau viskositas kinematis v. Ini berarti

bahwa menjalarnya massa dalam cairan dan padatan lebih kecil dari pada
menjalarnya momentum atau panas. Contoh contoh dibawah ini mungkin
dapat menjelaskan sifat diatas.

Perbandingan ketiga perpindahan

=k /oCp (m2 det v= / (m2 det


2 -1
DH (m det )
Zat -1 - 1
) )

Udara 2. 10-5 20.10-6 14,2 . 10-6

Air 5.10-9 0.143. 10-6 1. 10-6


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 134
FENOMENA PERPINDAHAN

Baja tahan karat - 7,45 . 10-6 -

Untuk dapat melihat keasaman antara ketiga perpindahan. Marilah kita tinjau
lebih dalam mekanisme difusi. Molekul-molekul zat A bergerak satu arah diantara
molekul-molekul zat B umpamanya. Sedangkan molekul-molekul zat B mungkin diam
atau bergerak dengan arah yang berlawanan. Gerakan molekul-molekul ini ditimbulkan
oleh adanya perbedaan konsentrasi dan menuju dari tempat dengan konsentrasi tinggi ke
tempat dengan konsentrasi rendah. Kalau perpindahan massasecara konveksi dikuasai
oleh sifat aliran.
C CA
Difusi tergantung pada besarnyan gradien konsentrasi dx . untuk difusi berlaku

hukum fick yang pertama.


dcA
NAX = - DA DX (7.2)

Sekali lagi dijumpai satu hukum dalam bentuk persamaan laju alir :
Fluksi = koefisien x gradien

Dalam persamaan (V.2) DA merupakan sifat fisis molekul-molekul zat A. Dan


persamaan (V.2) merupakan definisi koefisien difusi atau difusivitas. Sebenarnya D
didefinisikan sedemikian hingga hasil neto perpindahan itu melalui suatu bidang yang
tetap adalah nol. Jika hal ini diterapkan pada campuran berpenyusuan dua (biner). Maka
dapat disimpulkan bahwa untuk setiap mol zat A yang melewati bidang x = x. Ada satu
mol zat B yang melalui bidang itu ke arah yang berlawanan.

Dengan demikian laju alir neto = 0 dan = tetap.

Kalau diartikan, bahwa :


DAB = koefisien difusi untuk gerakan zat A diantara zat B
Maka : DBA = koefisien difusi untuk gerakan zat B diantara ra zat A.

Untuk difusi dalam campuran berpenyusun dua, persamaan (V.2) dapat ditulis
sebagai berikut:
dc A
Untuk A : NA = - DAB dx (V.3)

dc B
Untuk A : NB = - DBA dx (V.4)

Berdasarkan definisi maka :


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 135
FENOMENA PERPINDAHAN

NA + NB = 0
Dan
DAB = DBA
Dari persamaan (V.3) dapat disimpulkan bahwa D merupakan dimensi L2 t-1 atau
dalam sistem SI m2 detik -1
. dalam hubungan itu dapat diperhatikan kemiripan antara
ketiga perpindahan momentum. Panas dan massa. Hukum yang berlaku untuk masing-
masing perpindahan dapat dinyatakan dalam persamaan fluksi yang serupa.
z
v

Hukum Newton( tetap): d (V.5)
yz=v

pT
c

Hukum Fourier( CP Tetap) : qy = d
(V.6)

A
Hukum Fick ( Tetap) : N Ay = DAB d c (V.6)
dy

Dari persamaan-persamaan itu dapat disimpulkan sebagai berikut :


a. Suku dalam ruas kiri merupakan fluksi : fluksi momentum. Fluksi panas dan fluksi
molar zat A
b. Ruas kanan berupa hasil kali suatu koefisien dan suatu gradien
k
c. Semua koefisien berdimensi sama m2 detik -1, yaitu v = , = dan
c p

DAB
d. Semua gradien adalah gradien konsentrasi besaran-besaran yang disebut pada a.

V. 2 PERPINDAHAN MASSA
Dalam operasi teknik kimia hampir selalu terjadi perpindahan massa karena
konveksi dan difusi. Hukum fick pertama. Yang dalam bentuk persamaan ( V.7) hanya
berlakuuntuk difusi dapat diubah kedalam bentuk lain yang meliputi konveksi dan
difusi
Kalau : v = kecepatan aliran campuran yang tetap
c = konsentrasi total campuran.

Maka : NAX = VAX CA = Fluksi A mol. (luas)-1 (waktu)-1


vc = NAX + NBX
Sehingga :
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 136
FENOMENA PERPINDAHAN

dC A
VAX CA = -DAB dx (V.8)

Dalam persamaan (V.8) vA dinyatakan dengan system koordinat yang


tetap tempatnya dalam ruang. Kalau diambil sebagai bandingan suatu titik yang
ikut bergerak sama cepat dengan kecepatan campuran v, maka kecepatan
molekul-molekul A menjadi (vA-v) dan persamaan (V.8) berubah menjadi :
dC A
(VAX-V) CA = -DAB dx (V.9)

ATAU
dC A
VAX CA-NAX = -DAB dx + (NAX + NBX ) (V.10)

(difusi) (konveksi)
Persamaan (V.10) disebut hukum fick yang kedua. Suku pertama dalam
ruas kanan persamaan (V.10) menyatakan besarnya perpindahan massa oleh
difusi dan suku kedua ialah banyaknya mol A yang dipindahkan oleh aliran.
Supaya dapat menyelesaikanpersamaan (V.10), perlu diketahui hubungan antara
NA dan NB. dalam hal ini diketahui ada dua bacaan kemungkinan, yaitu:

1. NAX + NBX = 0. Keadaan ini disebut equimolar counter diffusion(difusi


jumlah mol yang sama dalam arah yang berlawanan).
II. NBX = 0. Keadaan ini disebut difusi zat A melalui zat B yang diam.

Dalam praktek sering dijumpai keadaan di antara kedua batas itu. Akan
tetapi karena perbedaan antara kedua keadaan itu sering kecil. Sering dapat
diadakan perkiraan dengan menggunakan salah satu dari kedua keadaan itu.

I. NAX + NBX = 0

Persaamaan (V.10) dapat disederhanakan menjadi:


dC A
NAX = -DAB dx

(V.3)
Persamaan (V.3) diatas dapat juga diturunkan dari persamaan kontinuitas
untuk penyusun A (V.1).

dengan menggunakan syarat- syarat berikut : - Keadaan mantap


- Hanya ditinjau difusi ke arah x
- Tidak ada reaksi

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 137


FENOMENA PERPINDAHAN

Hasil yang diperoleh ialah :


d N AX
dX =0 (V.11)

Yang sesudah integrasi memberikan:


NAX = c1 = tetap (V.12)
Jika persamaan (V.12) dibandingkan dengan persamaan (V.3) dapat
diambil kesimpulan bahwa DAB = tetap dan gradient konsentrasi juga tetap
Penyebaran konsentrasi dapat diperoleh dengan jalan mengintegrasikan persamaan (V.3)
dengan menggunakan syarat batas:

Syarat batas 1: pada x = x1 =CA = CA1


Syarat batas 2 : pada x = x2 CA = CA2

Yang menghasilkan fungsi linear yang berikut :


C A C A2
X 2 X
C A 1C A 2 = X 2X 1
(V.13)

Dari persamaan (V.13) dapat diturunkan besarnya fluksi A kea rah x, NAX

dC A
dengan jalan menghitung gradient konsentrasi dx dari persamaan (V.13)

dan memasukkannyake dalam persamaan (V.3) menjadi :


C A 1C A2

NAX = DAB X 2X 1
(V.14)

Ternyata, Bahwa difusi searah dapat dipersamakan dengan konduksi


panas,asal dilakukan pergantian perubah seperti berikut:

Q NA
CP T CA
A DAB
Analogi konduksi dan difusi :

Konduksi panas Difusi searah


dT dCA
Cy = - k dy NAy = -DAB dy

C A 1C A2

NAX = DAB X 2X 1

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 138


FENOMENA PERPINDAHAN

T

1T 2
C1-2 = k12


Kesamaan itu berlaku untuk konduksi panas searah dan difusi searah.
Persamaan-persamaannya dapat dipertukarkan dengan melakukan pergantian
perubah seperti di atas. Cara-cara berdasarkan analogi ini dapat diperluas dengan
keadaan lain, umpamanya memperoleh sifat-sifat difusi di sekeliling bola atau
silinder dari persamaan-persamaan konduksi di sekitar benda yang sama untuk
itu harap dibaca buku-buku yang dianjurkan.
II. NBX = 0

Persamaan (V.10) dalam hal ini berubah menjadi


dC A CA
NAX = -DAB dx + NAX C

ATAU
C dC A
NAX = -DAB CC A dx (V.15)

Jika diturunkan dari neraca massa persamaan (V.1) diperoleh hal yang
sama dengan difusi ekuimolar, yaitu persamaan (V.12). jadi juga di sini fluksi A
itu tetap , yang sesuai dengan keadaan mantap
Dengan mengintegrasikan persamaan (V.15) dan menggunakan syarat batas
yang sama :

Syarat batas 1 : pada x = x1 =CA = CA1


Syarat batas 2 : pada x = x2 = CA = CA2
X X1
CC A CC A 2
Diperoleh penyebaran konsentrasi A CC A 1 = ( CC A 1 ) X 2X1

Kedua penyebaran konsentrasi (V.13) dan (V.16) digambarkan pada gambar (V.1)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 139


FENOMENA PERPINDAHAN

Gambar V.I Penyebaran Konsentrasi Pada Difusi Ekimolar (I) dan pada Difusi
Melalui Fluida yang Diam (II).
V.3 KOEFISIEN PINDAH MASSA
Bahwa terdapat kemiripan (analogi) antara perpindahan momentum, panas dan
massa sudah dijumpai lebih dahulu dalam fasal V.1 tentang difusi. Dalam fasal ini dan
fasal berikutnya akan dibahas kemiripan yang lebih lanjut
Untuk perpindahan panas antara sebuah permukaan padat dan fluida di
sekitarnya, dikenal hukum pendinginan newton
Q = h (Tpermukaan Tfluida)
Dimana h disebut koefisien pindah panas
Untuk perpindahan massa antara suatu permukaan antarfasa dan fluida sekitarnya,
dapat juga digunakan suatu KOEFISIEN PINDAH MASSA k yang didefinisikan dalam
persamaan yang berikut : NA = KA (CAB-CAF)
Dalam mana :
N
A - fluksi molzat A. Mol m-2 det-1
k
A - koefisien pindah massa zat A. M det-1
c
Aa - konsentrasi zat A dalam fluida. Mol m-3
Persamaan (IV.2) berlaku untuk konversi panas, begitu juga persamaan (V.17)
berlaku untuk konveksi massa. Baik h maupun kA adalah besaran-besaran yang nilainya
harus ditetapkan dengan percobaan, bukan suatu sifat fisis tetapi menyatakan besarnya
perpindahan pada permukaan tempat pertemuan dua fase.
Dari selisih temperatur dalam persamaan (IV.2) dan selisih konsentrasi dalam
persamaan (V.17) , satu besaran terdapat pada permukaan antar fasa itu sendiri ( Tp,
c
Ab) , sedang yang lain diukur di tengah fluida. Dengan anggapan bahwa keadaan
dalam fluida itu homogen, yaitu sama di semua tempat. Baik untuk temperatur maupun
untuk konsentrasi hal diatas adalah sama dengan menganggap bahwa gradien itu lurus
dan terletak dekat permukaan antar fase dan penyebaran dalam fluida adalah merata.
Penyebaran yang sebenarnya adalah kontinu, seperti digambarkan pada gambar V.2
untuk perpindahan massa . untuk menampung kesalahan yang ditimbulkan oleh
perbedaan penyebaran ini maka h dan kA harus ditentukan secara percobaan.
Antara perpindahan panas dan perpindahan massa terdapat perbedaan jika
dihadapi beberapa tahanan berturut-turut seperti dalam perpindahan antar fase. Untuk
perpindahan panas temperatur pada permukaan antar fase berlaku untuk kedua fase. Jadi
kalau fasenya dan maka pada pemukaan antar fase itu.
Ta - Ta

Gambar V.2 Penyebaran Konsentrasi

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 140


FENOMENA PERPINDAHAN

Karena itu tahanan panas keselurahan adalah jumlah dari masing-masing


tahanan panas parsial Tidak demikianlah pada perpindahan massa. Konsentrasi dalam
kedua fasa seberang-menyeberang permukaan antar fasa biasanya tidak sama, kalu
kedua fasa itu berada dalam keadaan setimbang maka hubungan kedua konsentrasi
dapat diperoleh dari percobaan.
Utnuk perpindahan massa antar fasa yang sudah mantap penyebaran konsentrasi
dapat digambarkan pada gambar V.3.

Gambar v.3 Penyebaran konsentrasi seberang-menyebrang permukaan


antar fasa.
Dalam masing-masing fasa berlaku :
Fasa G : NAG = kAG (cAG - cAaG)
Fasa L : NAL = kAL (cAaL - cAaL)
Karena keadaan mantap, maka :
NAG = NAL = kAG (cAG - cAaG) = kAL (cAL - cAaL) (V.18)
Umpamakan hubungan kesetimbangan antara kedua fasa dapat dinyatakan dengan :
C mc
AaG - AaL (V.19)
Hubungan yang sama dengan persamaan (V.19) itu dapat dijumpai pada
campuran yang encer, seperti dinyatakan oleh hukum henry y* mx.
Dengan menggunakan persamaan (V.19) persamaan (V.18) dapat diubah
menjadi. :
NA = kAG (CAG - mc
AaL )= kAL (cAL - cAaL)
c
Kemudian AaL dihilangkan karena tidak dapat diukur.
C AG C AG
mc AL c AL
m m
NA = 1 1 = 1

mk AG k AL k AL

(V.20)
Dengan cara yang sama dapt diperoleh juga.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 141


FENOMENA PERPINDAHAN

C AG C AG
c AL c AL
m m
NA = 1 1 = 1 (V.21)

mk AG k AL k AL

Coba lakukan sendiri penurunan persamaan (V.20) dan (V.21).


Dalam bentuk persamaan (V.20) dan (V.21) semua suku yang merupakan
penyebut dinamakan tahanan difusi atau tahanan pindah massa.

1 1
Tahanan dalam fasa gas kAG dan mk AG
m 1
Tahanan dalam fasa cair k AG dan k AL
1 1 m
Tahanan keseluruhan k AG - k AG + k AL

1 1 1
Atau k AL mk AG + k AL

Jadi dari persamaan (V.20) dan (V.21) ternyata bahwa kalau selisih konsentrasi
dinyatakan secara keseluruhan maka tahanan pindah massa merupakan jumlah tertentu
dari tahanan parsial. Dengan menggunakan hubungan kesetimbagan. Jumlah ini
dinamkan tahanan pindah massa keseluruhan 1/K. Juga bahwa K harus dinyatakan
terhadap salah satu fasa., jadi kAG atau kAL.
Dalam operasi teknik kimia teknan parsial sudah biasa digunakan orang untuk
mrnyatakan konsentrasi dalam fasa gas. Pada konsentrasi molar. Umpamanya :
N
A kAg (PAag - PAg) (V.22)
Dalam mana :
k AG
k
Ag - RT

Karena itu dengan maksud supaya persamaan tetap homogen dimensinya, maka
untuk perpindahan cairan-gas konsentrasi dalam fluida diganti dengan konsentrasi semu
kesetimbangan berikut :
C G mc AL
- (V.23)
C AG mc L
- (V.24)
Dengan persamaan kesetimbangan (V.23) dan (V.24) ruas terakhir persamaan (V.20) dan
(V.21) dapat diubah menjadi :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 142


FENOMENA PERPINDAHAN

C A GC G
NA = kAG ( (V.25)
C AL C L
NA = kAL ( (V.26)
V. 4 Teori Lapisan ( Film Theory)
Dalam masalah aliran dan perpindahan panas dipakai TEORI LAPISAN
BATAS,yang menyatakan bahwa dapat dianggap ada lapisan tips zat dekat permukaan
antarfasa, yang memuat seluruh tanaman terhadap perpindahan itu. Juga dalam hal
perpindahan massa teori ini digunakan, biasanya dengan teori lapisan.
Lapisan batas setebal itu dapat diturunkan mempunyai hubungan yang berikut:
d f
Perpindahan momentum : V = 2 Re

(V.28)
d
Perpindahan panas : T = Nu

(V.29)
d
Perpindahan massa: C = Sh

(V.30)

Dalam perpindahan massa antara dua fluida, umpamanya cairan-gas, lapisan


batas itu dianggap ada pada kedua belah sisi permukaan antarfasa dan tahanan terhadap
perpindahan massa ada pula dalam masing-masing lapisan

dalam kedua fasa. Karena adanya dua lapisan yang sebelah-menyebelah


itu teori tadi juga disebut TEORI DUA-LAPISAN (TWO-FILM THEORY).

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 143


FENOMENA PERPINDAHAN

Dari persamaan (V.20) dan (V.21) dapat diturunkan:


l l m
= +
K AG K AG K AL

(V.31)
l l m
= +
K AG mK AG K AL

(V.32)
Dalam kedua persamaan di atas masing-masing suku di ruas kanan
merupakan tahanan dalam fasa yang bersangkutan.
Untuk keperluan perhitungan dan percobaan, perlu dikemukakan adanya
pengaruh nilai m terhadap persamaan (V.31) dan (V.32). Dalam grafik dengan
konsentrasi dalam fasa gas sebagai ordinat dan konsentrasi dalam fasa cair
sebagai absis, m merupakan kemiringan (slope) garis grafik yang bersangkutan.
Untuk sistem gas yang mudah larut, seperti HCl-Air, m merupakan
sedemikian kecil nilainya sehingga suku kedua dalam ruas kanan persamaan
(V.31) dapat diabaikan. Hal ini merubah persamaan (V.31) menjadi:

l l
=
K AG K AG

Dalam perpindahan massa yang menyangkut sistem semacam ini,


TAHANAN DALAM FASA GAS YANG MENENTUKAN. Sebaliknya, untuk
sistem gas yang sukar larut, seperti O2-Air, nilai m besar sekali, yang membuat
tahanan dalam fasa gas kecil sekali dan dapat diabaikan. Karena itu dalam
sistem semacam ini TAHANAN DALAM FASA CAIR YANG MENENTUKAN dan
persamaan (V.32) dapat ditulis:

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 144


FENOMENA PERPINDAHAN

l l
=
K AG K AL

V.5 Penyebaran Konsentrasi


Penyebaran konsentrasi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
kontinuitas (V.1). Untuk itu persamaan ini harus dijabarkan lebih lanjut.
Persamaan (V.1) dalam bentuk singkat adalah :

C A
v N A =R A
t +

(V.1)

Dari persamaan (V.9) dapat diturunkan bentuk umum:

v
( v A c A = - DAB v cA

NA v A cA cA D AB v c A
= =v =

(V.33)

Substitusi persamaan (V.33) ke dalam persamaan (V.1) memberikan :

C A v v
+ v D AB v c A =R A
t cA) (V.34)

Kalau densiti massa dan densiti molar, begitu juga koefisien difusi,
dianggap tetap, maka persamaan (V.34) dapat diubah menjadi:

C A v v 2
+ D AB v c A =R A
t cA) (V.35)

Perlu diingat, bahwa ( v . v) = 0 untuk fluida yang tak termampatkan (

tetap). Akhirnya didapat untuk sistem koordinat tegaklurus:

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 145


FENOMENA PERPINDAHAN

C A cA cA cA
+ vX + v y + v Z =
t X y Z

2 2 2
CA CA CA
D AB
{ X
2 + y
2 + z
2 } + RA

(V.36)

Untuk sistem koordinat silinder:

C A cA v0 c A cA
t + { vr r + r + vZ Z =

2 2
1 C A 1 CA CA
D AB
{ r r (r r ) + r2
2 + z } +
2

RA (V.37)

Untuk sistem koordinat bola:

C A cA v0 c A v cA
+{ v + +
t r
r r r sin ) =

2
1 2 C A v cA 1 cA
D AB { (r )
r2 r r + 2
r sin (sin ) + 2 2
r sin
2 }

+Ra (V.38)
Persamaan (V.36).(V.37) dan (V.38) adalah bentuk-bentuk persamaan
kntinuitas untuk penyusunan A. yang dapat digunakan untuk mencari
penyebaran konsentrasi.
Jika diterapkan terhadap difusi searah yang mantap melalui fluida yang diam, tanpa
reaksi kimia, maka persaan (V.36) menjadi:
2
d cA
D AB 2
=0 (V.19)
dx

Inilah adalah keadaan perpindahan massa yang tersederhana. Jika


diintergrasika dan digunakan syarat batas:
c A =c A 0
Syarat batas 1: pada x = 0 -

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 146


FENOMENA PERPINDAHAN

c c A=c A 1
Syarat batas 2: pada x =

Diperoleh penyebaran konsentrasi yag berikut:


c A c A 1 x
=1 (V .40)
c A 0c A 1 c

Jika ingin dihitung dalam system ini, maka dari persamaan ( V.17) dan (V.3) diperoleh:
dc
N A =k A ( c A 0c A 1 ) =D AB A |x =0 (V.41)
dx
Subsitusi persamaan (V.40) ke dalam persamaan (V.41) menghasilkan:
D
k A AB
c

Yang seterusnya memberikan:


k d d
Sh= A = (V .30)
D AB c

Jika persamaan (V.38) diterapkan terhadap difusi yang serupa disekitar suatu permukaan
yang berbentuk bola. Maka diperoleh:
Sh = 2 (V.42)
Penerapan persamaan energy terhadap konsuksi panas sekitar sebuah bola memberikan
persamaan yangm mirip
Nu = 2 (V.43)

V.6 DIFUSI SECARA TAKMANTAP


Jika persamaan kontinuitas untuk zat A persamaan (V.36) dibandingkan
dengan persamaan energy (IV.21) dalam sisitem koordinat tegaklurus untuk
fluida yang tak termanpatkan:
2 c A 2 c A 2 c A
cA
t
c
x
c
y
c
+ v x A + v y A + v z A =D AB
z
+ ( +
x2 y2 z2
+ RA ) (V.36)

2 T 2 T 2 T
o p ( T

+ vx
T
+v
T
+v
T
x y x z z
=k ) ( + +
x 2 y 2 z2
+q H ) (V .21)

Maka terlihat adanya kemiripan. Persamaan (V.36) dapat diubah dari


persamaan (IV.21) dengan membuat pergantian perubah yang berikut:
p T c A

k
= D AB
p

qH RA

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 147


FENOMENA PERPINDAHAN

Berdasarkan kemiripan ini DIFUSI SECARA TAKMANTAP dapat


dibahas denga cara nalogi dengan masalah KONDUKSI SECRA TAKMANTAP.
Hasil penyelesaia yang telah diperoleh untuk konduksi takmantap akan diterima
sebagi peyelesaian difusi takmantap yang sesuai systemnya, dengan
mengadakan pergantian perubah yang berikut:
p T o c Ao p T 1 c AB

Perlu diingat, bahwa permukaan antar fase dalam hal difusi harus
dianggap TETAP dan TIDAK BERGERAK, seperti pada konduksi panas.
Dalam contoh-contoh dibawah ini fluida I, yang dimisalkan cairan, semula

c Ao
mempunyai konsentrasi merata .
pada t=0 konsentrasi pada permukaan sekonyong-konyong berubah menjadi :

a Difusi ke dalam lempeng yang setengah takterhingga


Dalam hal ini diperoleh persamaan diferensial:
2
cA cA
=D AB 2 (V.44)
t y

Dengan syarat-syarat batas:

Syarat awal: pada t = 0, c A =c Ao( untuk semua y )

Syarat Batas 1: pada y = 0, c A =c Ao( t>0)

Syarat Batas 2: pada y = =, c A =c Ao( t>0)

Lihat persamaan (IV.57) dengan syarat batasnya. Hasil penyelesaiannya menjadi:

c A c Ao v
=1erf ( ) (V.45)
c AB c Ao 4 D AB

Bandingkan dengan persaman (IV.61). kalau hendak dihitung koefisien


pindah massa , ditempuh cara yang berikut:
dc A
N A =D AB | y =0
dy
1
+ D AB . (c AB c Ao)
D AB 0

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 148


FENOMENA PERPINDAHAN


D AB
( c c ) (V .46 )
t AB Ao
Dari persamaan (V.46) didapat :

k A=
D AB
t (V .47)

Persamaan (V.47) dapat dipakai untuk memperkirakan WAKTU

td
PENETRAS , yang diperlukan untuk mencapai kedalam tertentu dalam

kA
lempeng itu. Dari , yang besarnya tergantung pada waktu, dapat dihitung

nilai rata-ratanya sebagai berikut:


td
1
k A

D AB
t d o t
dt=2

D AB
t d (V.48)

Jika dari persamaan (V.65) digamgar grafiknya, maka ternyata bahwa


grafik komplemen fungsi kesalahan ini pada awalnya lurus. Kalau dibuat garis
singgung pada titik awalya (y=0) dan dihitung tangens sudut arah garis singgung
itu, diperoleh:

dc A c c c c
| y =0= Aa Ao = Aa Ao (V .49)
dy 4 D AB t 0 4 D AB t

Seperti yang telah digunakan untuk persamaan (V.46). persamaan (V.49),


memperlihatkan, bahwa garis singgung itu memotong sumbu absis pada titik

4 D AB t , c Ao . Jarak y= 4 D AB t adalah jarak yang dicapai oleh difusi itu

td
selama waktu t. kalau seluruh difusi berlangsung selama waktu ,maka

jarak penetrasi adalah:

y= 4 D AB t d (V .50)

Karena kecilnya nilai dan pendeknya waktu kontak, maka biasanya jarak
peentrasi itu kecil sekali. Jika jarak penetrasi ini lebih kecil dari pada separuh

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 149


FENOMENA PERPINDAHAN

d
1
ukuran benda yang terkecil ( , benda tadi dapat dianggap sebagai
4

benda yang setengah takterhingga, dan uraian diatas berlaku juga dalam hal ini.
Jadi syarat untuk sifat setengah tektehingga itu ialah:
1

D AB t d
4

Yang sering ditulis dengan bilangan fourier, Fo :

D AB 2

Fo= 2
0,1
d

Atau fo 0,05

2
jarak penetrasi
Fo mengandung arti ( tebal bahan )

t = Waktu kontak
untuk waktu kontak yang pendek dan terutama dalam hal
PERMUKAAN ANTAR FASA itu SELALU DIPERBAHARUI karena ada
aliran, lebih baik dipakai teori penetrasi daripada teori dua lapisan untuk
menerangkan mekanisme kejadian difusi. Persamaan ( v. 48) memang juga dapat
diturunkan berdasarkan teori penetrasi. Teori penetrasi tidak dibahas di sini.
Berdasarkan kemiripan itu, maka perpindahan massa dengan waktu kontak yang
pendek, dapat dihitung dengan menggunakan persamaan konduksi tak mantap yang

sesuai. Sifat tak mantapnya difusi dapat dilihat dari apakah dipenuhi : Fo 0,05

V.7 perpindahan massa secara konveksi

a) anologi antara perpindahan massa dan panas


perpindahan massa secara konveksi antara suatu permukaan dan aliran
dapat diperlakukan dengan cara analisa yang sama dengan perpindahan panas
secara konveksi paksa. Asalkan campuran yang tersangkut ancer dan tiada reaksi
kimia, pergantian perubah dilakukan sebagai berikut :
C P T C A

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 150


FENOMENA PERPINDAHAN

D AB

Q=N A

H
KA
C P

anologi ini dapat dilanjutkan dengan penggunaan persamaan-persamaan


tanpa dimensi perpindahan panas untuk perhitungan perpindahan massa dengan
susunan geometri yang sama. Dengan memakai pergantian

Nu Sh


Pr Sc = D = D

bilangan schmidt sc merupakan perbandingan antara lapisan batas


hidrodinamis dan lapisan batas konsentrasi. Nilai Sc berkisar antara 100-1000
dan cepat mengecil jika temperatur naik.
Bilangan-bilangan tanpa dimensi dibawah ini digunakan baik untuk
perpindahan panas maupun perpindahan massa.

Re Gr
x
Fo Gz = v >d 2 = bilangan graetz

Dalam pengguanaan hasil analisa perpindahan panas untuk perpindahan


massa, harus diperiksa dengan teliti apakah perpindahan massa itu seluruhnya
berjalan mirip dengan perpindahan panas. Untuk dapat melakukan pergantian
perubah maka batas-batas nilai Re untuk berlakunya persamaan itu harus
samadengan batas-batas nilai Pr.
Untuk perpindahan massa dalam fasa gas pergantian perubah itusering

dapat dilakukan, karena Sc Pr. Untuk perpindahan massa dalam fasa cair Sc

Pr dengan akibat hanya kadang-kadang dapat dilakukan pergantian

perubah itu. Salah satu persoalan semacam itu ialah perpindahan massa antara
5
permukaan padat dengan aliran bergolak untuk 2 x 103 re 10 dalam

pipa.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 151


FENOMENA PERPINDAHAN

8 1 /3
Nu =0,026 ( ) (Pr) (IV.87)
8 1/ 3
Sh =0,026 ( ) (Sc) (V.52 )

Contoh lain ialah kemiripan antara konduksi panas dan difusi sekitar
sebuah permukaan berbentuk bola. Jika tiada aliran, telah dijumpai terlebih dulu.

Nu = 2 (V.43)
Sh = 2 (V.42)

Jika ada aliran sekitar bola itu :

1/ 2 1 /3
Nu =2+ 0,60 () (Pr) (V.53)
1/ 2 1/ 3
Sh =2+ 0,60 () (Sc ) (V.54)

Contoh-contoh diatas dapat diperluas dengan beberapa lagi yang dapat


dicari dalam pustaka. Dalam hal keadaan perpindahan panas tidak mirip benar
dengan perpindahan massa yang bersangkutan. Maka sekurang-kurangnya
persamaan Dimensi perpindahan panas itu dapat dipakai untuk memperkirakan
besarnya koefisien pindah massa.
Seperti yang diperlihatkan oleh contoh-contoh persamaan diatas.
Perhitungan berdasarkan analogi dapat juga untuk menghitung koefisien pindah
massa rata-rata dengan menggunakan data percobaan pindah panas dan
sebaliknya, jika nilai Re tidak terlalu rendah persamaan-persamaan dari jenis
yang berikut dapat digunakan untuk perhitungan koefisien perpindahan dalam
susunan geometri yang sama.

Nilai m berubah dari 1/3( untuk aliran berlapis dalam pipa), 0,5 ( untuk
aliran sekitar bola) sampai 0,8(untuk aliran bergolak dalam pipa), nilai n
biasanya agak tetap dan berkisar sekitar 1/3. Kemiripan ini telah digunakan oleh
chilton dan colburn untuk mengembangkan cara penyajian yang lebih

JH
menonjolkan analogi. Telah didefinisikan suatu besaran. Pindah panas

JD
dan suatu besaran pindah massa . Yang berikut

JH 1 1/ 3
= Nu ( ) ( Pr) (V.55)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 152


FENOMENA PERPINDAHAN

JD 1 1/ 3
= Nu () (Pr) (V.56)

Dengan kedua besaran diatas, analogi antara perpindahan panas dan


massa untuk susunan geometri yang sama, dan nilai Re yang tidak terlalu
rendah, dapat ditulis

m1
JH JD
= = =C ()

(V.57)

Untuk aliran bergolak dalam pipa dan aliran melewati lempeng datar dapat ditulis pula:
JH J
= D = =1/2 (V.58)

Dalam mana f ialah faktor gesekan fanning

b). perpindahan massa sekitar bola


1. fluida diam
Sebagai contoh akan ditinjau perpindahan massa sekitar permukaan yang
berbentuk bola. Masalah perpindahan massa sekitar suatu bola dalam fluida
yang diam sudah dibahas lebih dahulu secara anologi.
Persamaan neraca massa dalam hal ini menjadi :

1 d 2
( r N AR )=0 (V.59)
r dr
2

Integrasi dua kali dan penggunaan syarat batas :

CA C Aa
Syarat batas 1: pada r = R= =
CA C Aa
Syaat batas 2 : pada r= =

CA
Memberikan penyebaran konsentrasi A.
dc A
NA N B =0, N A =D AB
Untuk + dr
CA C A R
= r (V.60)
C Aa Ca

Sehingga :

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 153


FENOMENA PERPINDAHAN

D AB
N A= (C AaC A )
R
D AB
K A= Sh=2
R
Untuk:
NB=0,

C dc A
N A =D AB
CC A dr
C dcA
D AB
Jika dalam aliran berlapis NB = 0 dan NA = ccA dr akan

diperoleh persamaan neraca massa penyusun A yang berikut :


D AB d r2 d c A
(
r 2 r 2 cc A dr )=0
(V.65)

Dengan syarat batas : 1) pada r = R, CA= CAa
2) pada r = , CA= CA
Persamaan V.65 akan memberikan penyebaran CA seperti dalam masalah
fluida yang diam :
R
cc A cc Aa r
=
(
cc A c c A )
Juga disini perhitungan fluksi A dilakukan dengan mengambil persamaan
V. 54.
Untuk melihat apakah difusi di sekitar bola itu mantab, harus dihitung Fo. Untuk t
waktu yang diperlukan untuk melewati 1 x diameter bola. Selain soal-soal tersebut di
atas, keadaan perpindahan massa selalu menjadi lebih rumit, yang penyelesaiannya
secara analisa menjadi lebih sukar. Keadaan-keadaan yang disebut di bawah ini yang
sering dijumpai dalam perpindahan massa sekitar bentuk bola, sehingga menyebabkan
bertambahnya kerumitan itu.

- Selain ke arah r, adapula gradien konsentrasi ke arah


- Dalam aliran bergolak ada kecepatan v dan v r
- Kecepatan yang besar menimbulkan riak pada permukaan bola sehingga luas
permukaan sulit diperkirakan
- Permukaan mengalami perputaran (rotasi), jadi Ada V
- Koefisien difusi bertambah besar karena perubahan kecepatan
- Kecepatan yang makin besar mengubah bentuk bola menjadi gepeng, setengah
bola, mangkok terbalik, dst.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 154
FENOMENA PERPINDAHAN

Semua keadaan di atas membuat semua penyelesaian soal perpindahan


massa menjadi sukar dan tidak dapat dilakukan dengan analisa semata-mata.

E. Contoh soal
Soal
Penguapan tetes Yang jatuh secara bebas
Suatu tetes air Yang berbentuk bulat dengan diameter 2,0 cm sedang
jatuh dengan kecepatan akhir 200 cm/detik melalui udara Yang kering pada
tekanan 1 atmosfer. Temperatur permukaan tetes adalah 20C dan temperatur
udara adalah 30C. Tekanan uap pada temperatur 20C adalah 0,0231 atm.
Perkirakan laju penguapan dengan menganggap keadaan mantap.
Analisa
Campuran uap air Dan udara dianggap sebagai campuran penyusun (A:
Air , B : Udara). Kelarutan udara dalam air sangat kecil Dan dapat diabaikan,
sehingga NB = 0. Jika dianggap pula, bahwa konsentrasi uap air itu kecil sekali,
maka sifat sifat fisis udara tidak dipengaruhi oleh adanya uap air.
Rencana
Penyebaran konsentrasi A dapat diperkirakan seperti yang dinyatakan
oleh persamaan V. 61 dan koefisien perpindahan massa dapat dihitung dark
persamaan V. 54. Semua besaran harus dinyatakan sesuai dengan persaman
fluksi Yang dipakai,
yaitu : N AB = k AG (PAa PA~) (V. 52)
Penyelesaian
Persamaan V. 54 harus dinilai pada.temperatur lapisan batas. Ketentuan-
ketentua yang Sudah diketahui adalah :
Ta=20 P AB=0,0231 atm

T =30
P A =0 atm

20+ 30
Tl= =25
2

Untuk substitusi ke dalam persamaan (V.54) telah diperoleh keterangan


dari pustaka sebagai berikut :
Sifat-sifat fisis udara pada 25C
=1,18 kg m3

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 155


FENOMENA PERPINDAHAN

5 1
=1,837. 10 Ndet m
5 1
v =1,552.10 m det
5 2 1
D AB=2,58. 10 m det

Substitusi memberikan :
3
vd 2,1.10
= = =1,29. 102
1,552.10 5

1,552. 105
S C= =
D AB 1,18.2,58 . 105

129


0,6


2+0,60
Sh. D 2,58. 105
k A= =
AB

d 103

R=8,2.105 m3 atm . mol K 1


kA 0,2
k Ag= = =8,18 mol det 1 m2 atm1
R T l 8,2. 105 .298

N A =8,18 ( 0,02310 ) =0,1890 mol de t 1 m2


2
Laju penguapan = NA.d = 0,1890.10-6 = 5.94.10-7 mol.det-1

V.8 PERPINDAHAN PANAS DAN MASSA SECARA BERSAMAAN


Perpindahan massa dari satu fasa ke dalam fasa yang lain selalu diikuti oleh
sejumlah panas. Misalnya jika suatu gas melarut dalam cairan, akan dilepaskan panas
pelarutan. Juga jika cairan, berubah menjadi uap akan diperlukan panas penguapan. Jika
terjasi reaksi kimia akan ditimbulkan atau diserap panas reaksi.
Terjadinya perubahan panas itu akan berakibat pada temperatur permukaan antar
fasa. Selanjutnya temperatur permukaan antar fasa akan mempengaruhi umpamanya
kecepatan absorpsi gas ke dalam cairan, karena kelarutan gas itu tergantung pada
temperature. Dalam hal-hal seperti ini perpindahan panas dan massa bergantung satu
pada yang lain. Jika sudah tercapai keadaan mantap perubahan panas akan sama besar
dengan jumlah panas Yang timbul atau diserap pada perpindahan massa.
Dua operasi teknik kimia yang termasuk jenis kejadian ini ialah:
PENGERINGAN dan HUMIDIFIKASI.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 156
FENOMENA PERPINDAHAN

a Pengeringan
Dalam pengeringan biasanya padatan yang basah diberi aliran udara,
yang tidak jenuh dengan uap air. Karena udara itu belum jenuh, maka akan
terjadi penguapan cairan dari permukaan cairan-gas. Untuk penguapan itu
diperlukan panas penguapan, yang diambil dari cairan itu sendiri, sehingga
temperatur cairan turun. Penurunan temperatur cairan memperbesar selisih
temperatur antara cairan dan gas, dan akan memperbesar pulapanas yang
dipindahkan. Akhirnya akan tercapai KEADAAN MANTAP, yang akan
mengakibatkan semua temperatur menjadi tetap dan tidak ada lagi, perubahan
entalpi terhadap waktu. Dalam hal ini seluruh panas yang diperlukan untuk
penguapan diberikan oleh fasa gas dan LAJU PENGUAPAN TETAP. Maka
berlaku neraca energi yang berikut :
Q = NA . A (V.63)
Dalam mana A = panas penguapan 1 mol. A pada temperatur permukaan Ta
Untuk perpindahan panas antara cairan dan gas. Jika Tg , Ta dan udara
dianggap tidak mendifusi, dapat ditulis :
Q = h ( Tg . Ta) (V.64)
Untuk perpindahan massa dapat ditulis :
NA = kAg (PAa Pag) (V.65)
Dalam mana : kAg = dan Tm = (Ta + Tg).

Kalau persamaan (V.64) dan (V.65) disubstitusikan Ke dalam persamaan (V.63) ,


diperoleh :
(Tg Ta) = ( PAa PAg) (V.66)

Dalam mana PAa adalah tekanan uap zat A pada temperatur Ta .


Pada pengeringan keadaan mantap akan berlangsung terus, selama masih
terdapat AIR YANG TAKTERIKAT, yaitu jumlah air yang mempunyai tekanan
uap yang sama dengan tekanan uap cairan murni. Selama tahap ini laju
pengeringan , yaitu banyaknya air yang teruapkan per satuan waktu persatuan
luas, akan tetap pula.
Jika pengeringan dilanjutkan, pada sesuatu saat laju pengeringan akan
berkurang, yaitu kalau air yang takterikat sudah habis teruapkan dan tinggal AIR
YANG TERIKAT. Air yang terikat mempunyai tekanan uap kesetimbangan
kurang dari tekanan uap jenuh, dan besarnya tekanan uap itu tergantung pada
kadar air padatan pada temperatur padatan, berdasarkan kurva kesetimbangan
kelembaban :
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 157
FENOMENA PERPINDAHAN

Dalam mana :
PA = f (x) (V.67)
P A= tekanan uap kesetimbangan
X = kadar air, gram air/gram padatan kering
Pengeringan dalam tahap ini mengalami LAJU PENGERINGAN YANG
MENGURANG. Air yang menguap dalam hal ini mengurangi kadar air padatan,
dan hal ini menurunkan pula tekanan uap kesetimbangan. Yang selanjutnya
MEMPERKECIL FLUKSI uap air yang pindah ke fasa gas.
Menurunnya banyaknya air yang menguap disebabkan karena makin
lamanya waktu yang diperlukan air untuk berdifusi melalui pori-pori padatan,
dari lapisan yang makin dalam. Hal ini akan berlangsung terus sampai besarnya
kadar air padatan mencapai nilai KADAR AIR KESETIMBANGAN yang sesuai
dengan kelembaban nisbi udara yang melewati permukaan. Di sini laju
pengeringan menjadi nol.
Jika dalam pengeringan itu fluksi uap air kecil, sehingga PAg dan Tg boleh
dianggap tidak begitu berubah, maka dalam persamaan (V.66) perbandingan h/k Ag dapat
diganti dengan perbandingan nilai rata-rata masing-masing koefisien meliputi seluruh
luas permukaan, <h> / <kAg>. Nilai perbandingan yang terakhir dapat dihitung
berdasarkan analogi antara perpindahan panas dan massa. Karena keduanya berlaku
untuk system geometri yang sama dan keadaan aliran yang sama.
Kalau persamaan (IV.87) dibagi oleh persamaan (V.52) akan diperoleh :
2/3
= Cp ( atau

2/3
= Cp (Le)

(V.68)
Dalam mana :
2/3
Le = bilangan Lewis = = atau =

R = 8,2 . . at = mol-1 K-1

= (Tg + Ta)

Dan semua sifat fisis dinilai pada Tm


Grafik pengeringan biasanya digambarkan sesuai dengan kurva
kesetimbangan (V.67) antara tekanan, parsial uap air dalam udara, yang

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 158


FENOMENA PERPINDAHAN

dinyatakan sebagai kelembaban nisbi , dan kadar air dalam padatan

X, Seperti pada Gambar V.6.

k
Gambar V.6 Grafik Pengeringan

b Temperatur bola-basah dan bola-kering


Pengaruh pendinginan pada penguapan cairan terdapat pada peristiwa
lain. Dua buah termometer dialiri udara yang sama seperti pada gambar V.7.
aliran udara ini sudah mengandung uap air. Tetapi tidak jenuh. Sebuah
termometer diselubungi sehelai perca basah, yang selalu berhubungan dengan
tempat persediaan air. Air baru akan terus mengalir dengan gaya kapilar dan
membuat parca itu selalu basah. Dari keadaan ini dapat diturunkan persamaan
antara komposisi udara dan kedua temperatur termometer itu.
Jika temperatur air semula sama dengan temperatur udara, maka oleh
penguapan temperatur air akan turun, dan akhirnya akan mencapai temperatur
yang tetap, pada mana panas yang diperlukan untuk penguapan tepat diimbangi
oleh panas yang dipindahkan secara konveksi dari udara ke permukaan air
(perca basah). Termometer yang diselubungi akan menunjukkan temperatur
kesetimbangan ini (yang disebut TEMPERATUR BOLA-BASAH) dan
termometer yang tidak diselubungi menunjukkan temperatur udara (yang disebut
TEMPERATUR BOLA-KERING) . dalam hal ini berlaku neraca massa yang
berikut :
NA . xdL . A = h x dL (Tg Tb) (V.69)
KAg A (PAb - PAg) = h (Tg Tb) (V.70)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 159


FENOMENA PERPINDAHAN

( P AbP Ag ) h
=
(T gT b ) k Ag A

Persamaan (V.70) sama dengan persamaan (V.69). perasamaan (V.70) digunakan


untuk menentukan PAg, jika PAb adalah tekanan uap air jenuh pada Tb, secara sudah
penentuan kelembaban udara secara ini dapat dilakukan dengan diagram kelembaban
udara-air.

Gambar V.7 Temperatur bola-basah dan bola-kering.

Jika PAb atau PAa diangap kecil bila dibandingkan dengan tekanan total. Maka
dalam persamaan (V.70) dan (V.66) dapat diadakan anggapan, bahwa sifat udara tidak
berubah dan untuk perhitungan h/kAg dapat digunakan sifat sifat udara murni. Dengan
anggapan ini persamaan (V.70) dapat digambarkan grafiknya dengan mudah, dengan
mengambil tekanan parsial PA sebagai ordinat dan temperatur T sebagai absis, menurut
persamaan yang disederhanakan :

h
(PAb PAg) = - k Ag A (Tb Tg) (V.70)

h
Persamaan (V.70) adalah persamaan garis lurus den gan kemiringan k A g A ,

yang melalui titik titik (Tg . PAb) dan (Tg . PAg) karna selalu PAb > PAg dan Tg > Tb , maka
kemiringan itu selalu negatif.
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 160
FENOMENA PERPINDAHAN

Untuk memudahkan pemakaian, maka dalam teknik kimia persamaan (V.70)


diubah sehingga tekanan parsial dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, yaitu gram uap
pergram udara kering, H.
(Hb Hg) = - (Tetapan) (Tb Tg) (V.71)

Gambar V.5 Digram kelembaban udara-air (disederhanakan)

Penggunaan persamaan (V.71) dilakukan dengan diagram kelembaban udara-air.


Dalam suatu operasi teknik kimia yang dinamakan humidifikasi. Dalam humidifikasi
udara dan air dihubungkan dengan maksud mencapai salah satu dari dua tujuan di
bawah ini :
- Memberi kelembaban tertentu udara untuk keperluan proses atau
ruangan (alat pengatur udara).
- Mendinginkan air dalam jumblah yang banyak (menara pendingin
dalam pabrik).

Gambar V.8 menggambarkan diagram kelembaban urada-air yang


disederhanaka. Garis garis yang tidak tersangkut dalam pembicaraan di bawah
ini, sengaja dihilangkan, karana dalam operasi teknik kimia diagram ini akan
dipelajari lebih mendalam.
Umpamakan, bahwa udara ingin dijenuhkan dengan uap air untuk itu udara
dihubungkan dengan tetes tetes air selama waktu tertentu. Keadaan udara semula
dinyatakan dengan titik G pada Gambar V.8 , yaitu kelembaban Hg , temperatur Tg ,

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 161


FENOMENA PERPINDAHAN

sewaktu sudah jenuh kedaan udara dinyatakan dengan titik B (kelembaban H b ,


temperatur Tb)
Garis BG menyatakan jalannya operasi penjenuhan itu persamaan (V.71) adalah
persaan untuk garis BG. Keadaan udara yang dicapai pada titik B adalah sama dengan
keadaan sekitar dicapai perca basah pada termometer bola-basah. Kedua kedaan itu
jenuh, dengan tekanan total yang sama, yaitu tekanan udara.
Untuk memecahkan penentuan kelembaban udara, maka dalam diagram
kelembaban dibuat banyak garis garis semacam BG, untuk memungkinkan interpolasi
dengan mudah garis garis itu hampir sejajar satu dengan yang lain.

V.9 RINGKASAN DAN SOAL SOAL


RINGKASAN BAB V.

1 Difusi :
Dc A
+ . NA = RA
1 Dt
dcA
2 NAX = - DAB dx
2 Analongi :
a Perpindahan massa molekular

NAX + NBX = 0 NA = ?
NBX = 0 NA = ?

b Perpindahan massa konveksi


NA = KAg (PAg PAg)
3 Teori dua-lapisan.
a Persamaan kontinuitas untuk A :
Dc A
= DA
2
c A+ RA
Dt

b Analongi perpindahan massa-panas.


Difusi takmantap - komduksi takmantap
Konveksi massa - konveksi paksa
c Perpindahan panas dan massa.
Pengeringan : makanisma
Humidifikasi : temperatur bola basah temperatur bola kering
diagram kelembaban.

Soal Soal

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 162


FENOMENA PERPINDAHAN

1 Jika konsentrasi dinyatakan sebagai fraksi mol, tulislah lagi persamaan (V.13)
untuk cairan.
2 Carilah penyebaran konsentrasi dalam fasa cair, gas NH 3 yang mendifusi ke
dalam air. NH3 berada dalam campuran dengan udara. Air yang tidak mengalir
mendak berhubungan dengan campuran NH3- udara. Lakukan baik dengan
anilisa, maupun analong,
Jawab : c/c = erfc y/ 4 Dt , dalam mana
c = konsentrasi NH3 dalam air
c = konsentrasi NH3 dalam air yang setimbang dengan
tekanan parsial NH3 dalam udara.
D = koefisien difusi NH3 H2O dalam cairan.
3 sebuah buret gas yang tertutup, telah diisi dengan gas murni dan cairan murni
dalam jumlah volume yang sama. Mula- mula tekanannya 1 asmofir dan
temperaturnya temperatur kamar. Sesudah dikocok baik baik tekannya menjadi
2/3 atmosfir pada temperatur yang tetap. Hitunglah koefisien penyebaran m dan
gas itu dalam cairan.
Konsentrasi dalam cairan
Jawab : m= Konsentrasi cairan gas = 0.5

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 163


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA 164