Anda di halaman 1dari 10

STUDI PETROLEUM SYSTEM DAN ANALISA

POTENSI HIDROKARBON PADA CEKUNGAN BARITO,


KALIMANTAN SELATAN

Noer Esa Muliawarman 1 , Desti Ayu W 1 , Firman Hary N 1 , Micnel Ostias J 1


Dwi Yudistira W 1 , Tiar Priambodo 1 , Bartolomeus Tokoes 1 ,
Putri Ayu SMD 1 , Zafina Amalia R 1
1
Jurusan Teknik Geologi Institut Sains Dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta

SARI

Cekungan Barito terletak bagian tenggara Kalimantan. Cekungan Barito disebelah barat dibatasi
oleh dataran sunda, sebelah timur Pegunungan Meratus, sebelah utara dibatasi oleh Cekungan
Kutai. Sedimen tersier dibawah cekungan ini relatif tipis. Cekungan ini khas asimetris. Dari
sebelah barat dekat paparan sunda terdapat Cekungan Barito dengan kemiringan relatif datar,
ke arah timur menjadi cekungan yang dalam yang dibatasi oleh sesar-sesar naik ke arah barat
dari punggungan Meratus yang merupakan bongkah naik. Cekungan Barito memiliki potensi
besar dalam hal penghasil Hidrokarbon, yang dapat di tinjau dari beberapa aspek pendukung
seperti source rock, reservoir rock, seal rock, dan migrasi hidrokarbon.

Kata Kunci : Cekungan Barito, Kalimantan Selatan

I. PENDAHULUAN kelanjutan dari trend zona sesar


II. Cekungan ini
Adang yang menerus hingga ke
memiliki suksesi tebal dari batuan
darat. Tinggian ini yang memisahkan
sedimen yang tersingkap dengan
Cekungan Barito dari Cekungan
basik sepanjang tepi cekungan
Kutai. Pada bagian timur cekungan
sebelah timur. Cekungan barito
berbatasan dengan Kompleks
dibatasi oleh Kompleks Schwaner di
Meratus. Batas ini menghasilkan
bagian Barat yang merupakan batuan
sabuk ophiolit, metamrf akibat
metamorfik dan batuan granitik
subduksi, dan batuan tipe busur
pluton berumur cretaceous dan juga
dengan rentang umur Jura hingga
batuan vulkanik. Pada Utara
Cretaceous yang tersingkap dengan
berbatasan dengan tinggian Barito
trend Barat Laut Tenggara (Wakita
(Moss, dkk, 1997) yang merupakan
dkk,1998). Kompleks ini yang juga
membatasi Cekungan Barito dengan Kalimantan (Metcalfe, 1996;
cekungan Asam- Asam yang Satyana, 1996).
berukuran lebih kecil dan juga VI. Pada Tersier Awal
Platform Patenosfer di Timurnya. terjadi deformasi ekstensional
Ada kemiripan tratigrafi diantar dua sebagai dampak dari tektonik
area ini sehingga diperkirakan dua konvergen, dan menghasilkan pola
cekungan ini pernah terhubung, rifting Baratlaut Tenggara. Rifting
membentuk depocentre tunggal ini kemudian menjadi tempat
selama Paleogen dan Awal Neogen, pengendapan sedimen lacustrine dan
sebelum pengangkatan Meratus. kipas aluvial (alluvial fan) dari
III. KONDISI REGIONAL Formasi Tanjung bagian bawah yang
IV. Secara tektonik berasal dari wilayah horst dan
Cekungan Barito terletak pada batas mengisi bagian graben, kemudian
bagian dari Schwanner Shield, diikuti oleh pengendapan Formasi
Kalimantan Selatan. Cekungan ini Tanjung bagian atas dalam hubungan
dibatasi oleh Tinggian Meratus pada transgresi.
bagian Timur dan pada bagian Utara VII. Pada Awal Oligosen
terpisah dengan tenggara Cekungan terjadi proses pengangkatan yang
Kutai oleh pelenturan berupa Sesar diikuti oleh pengendapan Formasi
Adang, ke Selatan masih membuka Berai bagian Bawah yang menutupi
ke Laut Jawa, dan ke Barat dibatasi Formasi Tanjung bagian atas secara
oleh Paparan Sunda. selaras dalam hubungan regresi.
V. Cekungan Barito Pada Miosen Awal dikuti oleh
merupakan cekungan asimetrik, pengendapan satuan batugamping
memiliki cekungan depan (foredeep) masif Formasi Berai.
pada bagian paling Timur dan berupa VIII. Selama Miosen
platform pada bagian Barat. tengah terjadi proses pengangkatan
Cekungan Barito mulai terbentuk kompleks Meratus yang
pada Kapur Akhir, setelah tumbukan mengakibatkan terjadinya siklus
(collision) antara microcontinent regresi bersamaan dengan
Paternoster dan Baratdaya diendapkannya Formasi Warukin
bagian bawah, dan pada beberapa XV. Litologinya terdiri
tempat menunjukkan adanya gejala dari batupasir kuarsa berbutir sedang
ketidakselarasan lokal (hiatus) antara terpilah buruk, konglomerat lepas
Formasi Warukin bagian atas dan dengan komponen kuarsa
Formasi Warukin bagian bawah. berdiameter 1-3 cm, batulempung
IX. Pengangkatan ini lunak, setempat dijumpai lignit dan
berlanjut hingga Akhir Miosen limonit, terendapkan sekitar
Tengah yang pada akhirnya lingkungan fluviatil dengan tebal
mengakibatkan terjadinya sekitar 250 meter, dan berumur
ketidakselarasan regional antara Plio-Plistosen.
Formasi Warukin atas dengan Formasi Warukin
Formasi Dahor yang berumur XVI. Litologinya batupasir kuarsa

Miosen Atas pliosen. dan batulempung sisipan batubara,

X. Tektonik terakhir terendapkan di lingkungan fluviatil dengan

terjadi pada kala Plio-Pliestosen, ketebalan sekitar 400 meter, berumur

seluruh wilayah terangkat, terlipat, Miocene Tengah sampai dengan Miocene

dan terpatahkan. Sumbu struktur Akhir.


Formasi Berai
sejajar dengan Tingg ian Meratus. XVII. Litologinya terdiri dari
Sesar-sesar naik terbentuk dengan batugamping mengandung fosil
kemiringan ke arah Timur, foraminifera besar seperti Spiroclypeus
mematahkan batuan-batuan tersier, orbitodeus, Spiroclypeus sp, dll yang
terutama daerah-daerah Tinggian menunjukkan umur Oligosen- Miocene
Meratus. Awal dan bersisipan napal, terendapkan
XI. III.STRATIGRAFI DAERAH dalam lingkungan neritik, dan mempunyai
CEKUNGAN BARITO
ketebalan sekitar 1000 meter.
XII. Secara umum stratigrafi XVIII.
Cekungan Barito dari muda ke XIX. Formasi Tanjung
tua secara berurut adalah sebagai
XX. Formasi Tanjung terdiri
berikut :
XIII. dari beberapa facies diantaranya :
XXI. o Facies Konglomerat
XIV. Formasi Dahor terdiri dari Konglomerat alas,
dengan komponen sebagian besar
terdiri komponen seperti batuan terutama oleh butiran kuarsa dengan
malihan, batuan beku, batuan sedikit kepingan batuan vulkanik,
klastika, batugamping dan kuarsa rijang, dan feldspar. Facies ini
asap. Komponennya berukuran dari berlapis tebal yaitu antara 50 cm
1 cm sampai 8 cm, berbentuk bulat dan 200 cm. Structure sedimennya
sampai membulat tanggung, adalah lapisan sejajar, lapisan silang-
terpilah buruk, bermassa dasar siur dan lapisan tersusun. Tebal
batupasir. kuarsa berbutir kasar. facies ini terukur di tepi barat
Facies ini merupakan bagian Pegunungan Meratus antara 46 meter
paling bawah dari Formasi Tanjung dan 48 meter, sedangkan di bagian
yang diendapkan tidak selaras tengah dan tepi timurnya antara 30
diatas batuan alas Pra-Tersier, meter dan 35 meter.
tebalnya berkisar antara 8 meter dan o Facies Batulempung Bawah terdiri dari
15 meter. Di tepi barat Pegunungan batulempung berwarna kelabu (kecoklatan
Meratus, Facies Konglomerat lebih sampai kehitaman), dengan sisipan batubara
tebal dari yang di tepi timurnya. Di dan batupasir. Ketebalan facies ini
beberapa tempat di tepi timur berkisar dari 28 meter sampai 68 meter.
ditemukan sisipan batupasir berbutir Structure sedimen di dalam batulempung,
kasar dengan ketebalan antara 75 yang terlihat berupa lapisan pejal, laminasi
cm dan 100 cm, yang sejajar, setempat berlaminasi silang-siur
memperlihatkan structure sedimen dengan ketebalan berkisar antara 3 cm
lapisan silang-siur berskala sampai 5 cm. Batubara berwarna hitam
menengah. Adanya perbedaan mengkilap terdapat sebagai sisipan dengan
ketebalan pada Facies Konglomerat ketebalan berkisar antara 30 cm dan 200 cm.
dan structure perlapisan silang-siur Setempat lapisan batubara berasosiasi
pada batupasir menunjukkan arah dengan batulempung berwarna kehitaman.
arus purba dari barat. Sisipan batupasir berbutir halus sampai
XXII. o Facies Batupasir
sedang dengan ketebalan perlapisan antara 5
Bawah terdiri dari batupasir berbutir
cm dan 25 cm, menyendiri atau
sedang sampai kasar setempat
berkelompok memiliki ketebalan mencapai
konglomeratan.Batupasirini disusun
110 meter.struktur sedimenya adalah
laminasi sejajar dan setempat laminasi 10 meter di temukan sedimentasi.
silang-siur. Setempat ditemukan pula tahap 2 .Kebenyakan hidrokarbon di
sisipan tufa berwarna putih dengan Tanjung raya field diduga terbentuk
ketebalan perlapisan antara 5 cm dan dari tahap 2 ini.
XXVII.
15 cm, sebagian terubah menjadi kaolin.
XXIII. VI. PETROLEUM SYSTEM XXVIII.

CEKUNGAN BARITO Maturasi
XXIX.
XXIV. Pada area Tanjung raya XXX.
hidrokarbon terbentuk dari source XXXI. Dari analisi maturasi Lower

rock lower Tanjung dan lower Tanjung source rock diketahui Pada

Warukin. Hidrokarbon terjebak pada bagian baratlaut matursi

struktural trap yang mengandung hidrokarbonnya immature early

lower Tanjung dan Upper Warukin mature, dan pada bagian tengahnya

sand. mature, sedangkan dibagian

XXV. tenggaranya maturasinya


Source Rock overmature ( bagian paling
XXVI. Tahap pertama, Sedimen
dalam basin ini).
diendapkan di graben paleogen
XXXII.
berupa alluvial channel dan fan
mengalami progradasi hingga ke Reservoar
XXXIII.
XXXIV.
lingkungan lacustrine. Sejumlah
XXXV. Reservoar utama
lapisan tipis batubara diduga
berupa synrift sand tahap 1, post rift
diendapkan sepanjang tepi danau.
sag fill tahap 2 dan 3. batu pasir
Lingkungan lacustrine dalam
synrift pada tahap 1 ( disebut
terbentuk pada bagian sumbu
batupasir A dan B atau Z 1015 dan
graben. Lingkungan ini
Z950 ) diendapkan dilingkungan
menghasilkan lingkungan reduksi
alluvial fan dan lingkungan
yang baik bagi akumulasi algae.
delta front lacustrine. Memiliki
Lapisan source rock berupa
ketebalan 30 50 meter.
Lacustrine alga dapat membentuk
XXXVI. Batupasir pada tahap
prolific oil. Carbonaceous clay/ shale
2 ( batupasir c dan d atau Z.860 dan
dan lapisan tebal batubara lebih dari
Z.825 ) mewakili batupair alluvial
fan. Reservoar properties pada sealing yang efektif bagi reservoir
batupasir Z.860 ini lebih baik di Lower Tanjung. Tersusun atas 800
bandingkan batupasir pada formasi meter dengan dominasi neritic
Lower Tanjung, Batupasir ini shale dan silty shale.
memiliki sorting yang bagus dan Traping Mechanism
XLIII.
mineralogy maturity yang bagus,
XLIV. Hydrocarbon terbentuk,
ketbalan 25 30 meter, dengan nilai
bermigrasi dari Lower-middle
porisitas dan permeabilitas rata- rata
tanjung coals, carbonaceous shales,
yang bagus. Tidak seperti Z.860,
dan lower warukin carbonaceous
batupasir Z.825 tipis dan
shales. Kitchen utama terletak pada
diskontinyu ( melensa ) dengan
depocentre basin sekarang. Sealing
ketebalan 3 5 meter.
rocks dihasilkan dari intra-
XXXVII. Tahap 3 reservoarnya
formational shales. Generation,
terdiri dari Batupasir e ( Z.710
migration, dan pemerangkapan
dan Z. 670 ). Batupasir-E di
hydrocarbon terjadi sejak middle
endapakn pada pantai/ barrier bar
early miocene (20 Ma).
pada lingkungan garis pantau yang
XLV. Barito basin merupakan
terus mengalami regresi.Ketebalan
contoh dari efek interaksi tektonik
maksimum dari batupasir- E ini 30
terhadap tempat pembentukan
meter.
hydrocarbon (petroleum system).
XXXVIII.
Extensional tectonics pada early
XXXIX.
tertiary membentuk rifted basin, dan
XL.
grabennya diisi oleh lacustrine
Sealing Rock
XLI.
tanjung shales dan coals.
XLII. Pase postrifting dari XLVI. Lingkungan lacustrine inilah
transgresi regional/ subsidence yang akan membentuk tanjung
setelah pengendapan dari sag-fill source rocks. Karena subsidence
sedimen menghasilikan shallow yang terus berlangsung dan rifted
marine mudstone pada tahao 4 structure makin turun, shale
formasi Upper Tanjung. Batuan diendapkan semakin melebar, dan
mudstone marine ini menyediakan
akan membentuk seal untuk kedalaman dari oil window selama
reservoir yang ada dibawahnya. plio-pleistocene. Minyak terbentuk
XLVII. Kondisi ini juga yang dan bermigrasi ke structural traps
menyebabkan penyebaran dibawah warukin sand
pengendapan reservoir rocks. L. Migrasi
Hidrokarbon
Extensional faults merupakan media
LI. Inversi struktural yang
untuk migrasinya hydrocarbon yang
terjadi di Awal Miosen dan sangat
terbentuk dibagian terbawah dari
mempengaruh cekungan pada akhir
graben. Selama late miocene, basin
Miosen sampai Pliosen telah
mengalami permbalikan akibat
menurunkan Batuan Induk dari
naiknya Meratus, membentuk
Formasi Tanjung bagian bawah ke
asymmetric basin, Barito basin
kedalaman dimana hidrokarbon
mengalami dipping kearah NW dan
dapat dihasilkan Hidrokarbon yang
makin ke SE semakin curam.
bermigrasi terperangkap pada
Akibatnya bagian tengah dari
antiklin yang terbentuk selama
mengalami subsidence, sehingga
inveri. Inversi Plio- Pleistosen juga
tanjung source rocks semakin
menghasilkan jebakan baru atau
terkubur, dan menghasilkan
merusak akumulasi hidrokarbon
kedalaman yang cukup bagi source
sebelumnya, sehingga hidrokarbon
rock untuk menjadi hydrocarbon.
kembali bermigrasi dan
XLVIII. Hydrocarbon mengisi
terperangkap pada stuktru inversi
jebakan melalui patahan dan melalui
yang lebih baru.
permeable sands. Pada awal LII. V. KESIMPULAN
LIII. Cekungan Barito terletak
Pliocene, Tanjung source rocks
bagian tenggara Kalimantan,
kehabisan liquid hydrocarbon,
disebelah barat dibatasi oleh
sehingga membentuk gas dan
dataran sunda, sebelah timur
bermigrasi mengisi jebakan yang
Pegunungan Meratus, sebelah utara
telah ada.
dibatasi oleh Cekungan Kutai.
XLIX. Lower Warukin shales pada
depocentre basin mencapai
LIV.
LV. DAFTAR PUSTAKA
LVI.
- http://www.geologinesia.com/2016/03/geologi-regional-cekungan-barito.html
- http://suarageologi.blogspot.co.id/2014/05/geologi-cekungan-barito.html
- http://smiagisttmigas.blogspot.co.id/2014/08/tektonik-regional-wilayah-kalimantan.html.
- https://www.academia.edu/17270984/ISI_PAPER_CEKUNGAN_BARITO
- https://www.google.com/search?
q=GEOLOGI+REGIONAL+CEKUNGAN+BARITO&ie=utf--8&oe=utf-8&client=firefox-
b&gfe_rd=cr&ei=GdJOWMDhBubH8gee0IngBw
LVII. GAMBAR
LVIII.

LIX. Gambar 1. Stratigrafi Tidak Resmi Cekungan Barito (anonim,2016)


LX.
LXI.
LXII.
LXIII.
LXIV.
LXV. Gambar 2. Sejarah Geologi cekungan Barito (anonim,2016)
LXVI.
LXVII.
LXVIII.
LXIX.
LXX.
LXXI.
LXXII.
LXXIII.
LXXIV.
LXXV.
LXXVI.
LXXVII. Gambar 3. Peta geologi Cekungan barito (anonim,2016)
LXXVIII.
LXXIX.
LXXX.
LXXXI.
LXXXII.

LXXXIII.
LXXXIV. Gambar 4 . Sejarah Tektonik Pembetukan Cekungan Barito (anonim,2016)
LXXXV.
LXXXVI.
LXXXVII.
LXXXVIII.

Ga
mbar 5 . Sayatan Geologi Cekungan Barito (anonim,2016)
LXXXIX.
XC.