Anda di halaman 1dari 25

STRATEGI MASUK PASAR INTERNASIONAL

Disusun Sebagai Tugas Perkuliahan


Mata Kuliah Bisnis Internasional

Dosen Pengampu :
Drs. I Ketut Nurcahya, M.M.

Oleh :
AA Bagus Krisnanda (1406205045)
I Komang Satria Warla Putra (1406205067)
Pebriani Efendi (1406205075)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
Semester Ganjil 2016
Kata Pengantar

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan
karunia-Nyalah kami diberi kesempatan dalam menyelesaikan paper Bisnis Internasional ini
dengan tema strategi masuk pasar internasional.

Paper ini sangat penting karena dapat menambah pengetahuan serta wawasan penulis dan
pembaca dalam bidang Bisnis Internasiona;. Diharapkan agar pembaca dapat memahami dan
mengetahui bagaimana strategi masuk pasar internasional untuk aplikasi pada persaingan
perusahaan.

Kami ucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah Bisnis Internasional
karena bimbingan dan petunjuk beliaulah kami dapat menyelesaikan paper ini dengan
sebaiknya.

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca apabila
menemukan kesalahan atau kekurangan dalam karya tulis ini, baik dari segi bahasa maupun
isinya, agar lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang dan paper ini dapat lebih
disempurnakan lagi. Akhir kata penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Badung, 4 November 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................................... i

Daftar Isi.............................................................................................................................. ii

Bab I. Pendahuluan......................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang.................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 1

1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................ 2

Bab II. Pembahasan........................................................................................................ 3

2.1 Strategi Masuk Pasar Internasional..................................................................... 3

2.2 Contractual Entry Modes........................................................... 10

2.3 Investment Entry Modes............................................................................ 13

2.4 Selecting Partners for Cooperations............................................................... 15

2.5 Determinan Menentukan Entry Mode................................................................. 16

Bab III. Penutup............................................................................................................ 20

3.1 Simpulan........................................................................................................... 20

Daftar Pustaka.

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Cara menjalankan roda bisnis di pasar-pasar internasional dapat berupa mengekspor,
merundingkan suatu pemberian lisensi atau pertanian waralaba, mendirikan usaha
patungan, atau mendirikan anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya. Meskipun secara
prinsip pilihan pasar dan cara masuk merupakan keputusan yang terpisah, karakteristik
khusus negara dan juga jalan masuk pasar internasional serta strategi ekspansi akan
berdampak pula atas pilihan cara masuk suatu perusahaan dalam pasar.
Disejumlah negara berbagai karakteristik negara, seperti ukuran pasar, tingkat
pertumbuhan, stabilitas politis, risiko lingkungan, kondisi operasi, dan infrastuktur,
berdampak atas ketersediaan manajemen mengucurkan sumber daya untuk sebuah negara
atau pasar tertentu dan juga cara masuknya. Pasar kecil kerapkali paling baik dilayani
melalui pengeksporan atau pemberian lisensi, sebagai contoh. Demikian pula, manajemen
mungkin menghendaki pembatasan komitmen sumber daya ke negara-negara dengan
tingkat risiko yang tinggi atau infrastruktur yang buruk melalui perjanjian pemberian lisensi
atau usaha patungan dengan mitra lokal. Sama halnya, jika manajemen berharap dapat
memasuki sejurnlah negara secara cepat, sumber daya dan waktu yang dibutuhkan untuk
mendirikan anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya mungkin akan menghambat, yang
mengakibatkan perusahaan menggunakan cara pemberian lisensi atau usaha patungan.
Karakteristik produk, sifat permintaan, hambatan perdagangan, tujuan manajemen, dan
sasaran ekspansi juga mempengaruhi keputusan pernililian cara masuk. Produk-produk
berukuran besar dengan nilai jual rendah, sebagai umpama, membutuhkan lokasi produksi
yang dekat dengan pasar disebabkan biaya pengirimannya-sekalipun biaya ini dapat
diimbangi oleh skala ekonomis produksi..

1.2.Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
a. Startaegi apa yang dapat digunakan perusahaan untuk masuk ke dalam pasar
internasional?
b. Faktor apa yang ditentukan untuk memilih suatu strategi?

1
c. Apa keunggulan dan kekurangan dari strategi yang akan diterapkan?

1.3.Tujuan Penulisan
Tujuan Penulisan paper ini adalah untuk memberikan informasi mengenai :
a. Bebagai jenis strategi yang dapat digunakan perusahaan untuk masuk ke dalam pasar
internasional
b. Faktor yang perlu dipertimbangkan perusahaan untuk memilih suatu strategi
c. Keunggulan dan kekurangan dari masing-masing strategi yang akan diterapkan
perusahaan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Strategi Masuk Pasar Internasional

a. Mengapa Perusahaan Melakukan Ekspor?


Ekspor memberikan beberapa keuntungan ke perusahaan, yakni perusahaan dapat
mengendalikan keterpaparan finansialnya (financial exposure) pada pasar negara
tujuan yang dianggap sesuai dengan keinginan. Hanya sedikit atau tidak ada investasi
modal yang diperlukan jika perusahaan memilih untuk menyewa perusahaan lokal di
negara tujuan itu guna mendistribusikan produknya. Dalam kasus ini, keterpaparan
finansial terbatas hanya pada biaya awal yang berhubungan dengan riset pasar,
penempatan dan pemilihan distributor lokal, dan/atau iklan lokal ditambah nilai produk
dan jasa yang termasuk ke dalam pengapalan ke luar negeri. Alternatif lain, perusahaan
dapat memilih untuk mendistribusikan produknya sendiri agar dapat mengendalikan
pemasarannya dengan lebih baik. Jika perusahaan memilih pendekatan ini, perusahaan
dapat menaikkan biaya penjualan karena peran perantara dihilangkan. Akan tetapi,
biaya investasi dan keterpaparan finansial akan meningkat secara substansial, karena
perusahaan harus melengkapi dan menjalankan sendiri pusat distribusinya, merekrut
pegawai, dan memasarkan produknya.
Alasan mengenai keuntungan ekspor lainnya adalah memungkinkan perusahaan
dapat masuk ke pasar luar negeri secara bertahap, sehingga perusahaan dapat menilai
kondisi lokal dan menyesuaikan produknya untuk memenuhi kebutuhan istimewa
negara tersebut. Jika ekspornya diterima dengan baik oleh konsumen negara tujuan
tersebut, perusahaan dapat memakai pengalaman ini sebagai dasar untuk masuk ke
pasar tersebut dengan lebih ekstensif. Misalnya, perusahaan mungkin memilih untuk
mengambil alih distribusi produknya dari distributor di negara tujuan itu atau
membangun pabrik untuk memasok kebutuhan pelanggan di sana, terutama jika
perusahaan dapat mengurangi biaya produksi dan distribusi dan meningkatkan kualitas
layanan kepada pelanggan.
Perusahaan memiliki motivasi proaktif atau reaktif dalam mengekspor. Motivasi
proaktif adalah motivasi yang menarik perusahaan ke pasar luar negeri karena adanya
3
kesempatan. Perusahaan juga mengekspor secara proaktif untuk mengeksploitasi
keunggulan teknologi atau membagi biaya tetap riset dan pengembangan ke seluruh
basis pelanggan, sehingga perusahaan dapat menetapkan harga produknya dengan lebih
kompetitif baik pada pasar dalam dan luar negeri. Sedangkan motivasi reaktif untuk
mengekspor adalah motivasi yang mendorong perusahaan masuk ke pasar luar negeri,
sering karena kesempatan di pasar domestik semakin menurun. Beberapa perusahaan
beralih ke ekspor karena lini produksi mereka berada di bawah kapasitasnya atau karena
mereka ingin memeroleh profit marjin yang lebih tinggi di luar negeri akibat
permintaan domestik yang semakin menurun. Selain itu karena untuk memenuhi
permintaan dari konsumen luar negeri dan untuk memenuhi persyaratan negara tempat
didirikannya cabang yang mengharuskan cabang tersebu melakukan ekspor [ekspor
cabang lokal]. Sekaligus mengalihkan perhatian pesaing asing yang berada di pasar
dalam negeri perusahaan itu dengan memasuki pasar-pasar dalam negeri mereka,
Contoh: Space-Look, Inc,. pabrik kecil di California yang memproduksi high-
stress fasteners untuk industri luar angkasa yang mulai menginternasionalisasi
operasinya setelah anggaran pertahanan Amerika Serikat menyusut sebagai akibat
berakhirnya Perang Dingin.
b. Pengembangan Strategi Ekspor dengan Ekspor Langsung (Direct Export) dan
Ekspor Tidak Langsung (Indirect Export)
Dalam melakukan ekspor atau memutuskan untuk mengeskpor, perusahaan dapat
memilih apakah mengekspor secara langsung (Direct Exporting) ataukah mengekspor
tidak langsung (Indirect Exporting). Mengekspor langsung adalah ekspor barang-
barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang
memproduksinya. Direct exporting ini biasanya dilakukan dengan mengandalkan sales
representative (perwakilan penjualan) dan distributor. Semua pilihan itu dilayani oleh
personel penjualan yang melakukan perjalanan kepasar atau berbasis didalamnya.
Sedangkan mengekspor tidak langsung lebih sederhana dibandingkan dengan
mengeskpor langsung karena mengekspor langsung memerlukan baik keahlian khusus
maupun penanaman uang tunai yang lebih besar. Mengeskpor tidak langsung adalah
mengekspor barang-barang dan jasa-jasa melalui berbagai jenis eksportir yang berbasis
di dalam negeri,terdapat berbagai jenis perantara dalam Indirect Exporting ini diantara
nya adalah Agents, Export Management Companies, Export Trading Companies. Akan
tetapi para eksportir tidak langsung menghadapi konsekuensi seperti:
4
Mereka akan membayar komisi untuk tiga jenis eksportir seperti agen ekspor
pabrikan, agen komisi ekspor, dan pedagang ekspor.
Bisinis luar negeri bisa rugi apabila para eksportir memutuskan untuk
mengubah sumber pasokan mereka.
Perusahaan memperoleh sedikit pengalaman dari transaksi-transaksi ini. Dan
itulah sebabnya mengapa manajemen yang memulai dengan cara ini
umumnya berubah ke mengekspor langsung.
Ekspor Langsung
Ekspor langsung (direct exporting) terjadi melalui penjualan ke
pelanggan, baik ke distributor maupun pemakai akhir, yang berada di luar
negara asal perusahaan. Riset menunjukkan bahwa dalam sepertiga dari
kasus, ekspor langsung pertama perusahaan merupakan akibat dari pesanan
yang tidak diminta. Namun, ekspor langsung yang berikutnya biasanya
berasal dari usaha yang dimaksudkan untuk memperluas bisnisnya secara
internasional. Dalam kasus seperti itu, perusahaan secara aktif memilih
produk yang akan dijual, pasar luar negeri yang akan dituju, dan alat yang
digunakan untuk mendistribusikan produk ke pasar tersebut. Melalui
aktivitas ekspor langsung, perusahaan memperoleh keahlian yang sangat
bernilai tentang operasi internasional dan pengetahuan khusus tentang setiap
negara tempat perusahaan itu beroperasi. Kesuksesan ekspor sering
menghasilkan kesuksesan ekspor tambahan lainnya. Meningkatnya
pengalaman dalam mengekspor sering membuat perusahaan semakin agresif
dalam mengeksploitasi kesempatan ekspor internasional baru. Pengalaman
seperti itu sering terbukti bermanfaat jika kemudian perusahaan itu
melakukan penanaman modal asing (PMA).
Ekspor Tidak Langsung
Ekspor tidak langsung (indirect export) terjadi ketika perusahaan
menjual produknya ke pelanggan domestik yang kemudian mengekspor
produk tersebut baik dalam bentuk asli maupun dalam bentuk yang sudah
mengalami modifikasi. Sebagai contoh, jika Hewlett-Packard (perusahaan
Amerika Serikat) membeli microchip dari intel (juga perusahaan Amerika
Serikat) untuk dipakai dalam memproduksi komputer dan kemudian
mengekspor komputer yang telah lengkap tersebut ke pasar Eropa, maka chip
5
buatan Intel tersebut sudah diekspor secara tidak langsung. Atau perusahaan
menjual barangnya ke pedagang grosir domestik yang kemudian menjualnya
ke perusahaan asing. Perusahaan juga dapat melakukan penjualan ke anak
perusahaan lokal suatu perusahaan asing yang kemudian mengirim produk
tersebut ke luar negeri. Beberapa aktivitas ekspor tidak langsung
mencerminkan bukan strategi internasionalisasi yang disengaja oleh
perusahaan. Aktivitas ini memberi perusahaan hanya sedikit pengalaman
dalam melakukan bisnis internasional. Bagi perusahaan secara pasif, dapat
mengandalkan tindakan dari pihak lain serta potensi profit jangka pendek dan
jangka panjang yang tersedia dari ekspor tidak langsung biasanya terbatas.
c. Level Keterlibatan dalam Kegiatan Ekspor
Setelah perusahaan memutuskan untuk go international, maka harus diputuskan
level keterlibatan internasionalnya. Ada beberapa level keterlibatan. Di level yang
paling dasar, sebuah perusahaan bisa bertindak sebagai eksportir atau importir. Level
selanjutnya adalah berorganisasi sebagai perusahaan internasional atau beroperasi
sebagai perusahaan multinasional. Sebagian besar perusahaan industri terbesar di
dunia adalah perusahaan multinasional.
Eksportir dan Importir
Eksportir adalah sebuah perusahaan yang membuat produknya di satu negara
dan menjualnya di negara lain. Importir membeli produk dari pasar luar negeri dan
dijual di dalam negeri. Eksportir dan importir cenderung melakukan banyak bisnis
di negara asalnya. Perusahaan tersebut berada pada tingkat keterlibatan terendah
dalam operasi internasional dan mencari jalan mudah untuk mempelajari titik
penting dari bisnis global. Banyak perusahaan besar memulai operasi
internasionalnya sebagai eksportir. IBM dan Coca-Cola melakukan ekspor ke
Eropa selama beberapa tahun sebelum membangun fasilitas produksi di sana.

Perusahaan Internasional
Ketika perusahaan mendapatkan pengalaman dan kesuksesan sebagai
eksportir dan importir, mereka bergerak ke level keterlibatan selanjutnya yaitu
perusahaan internasional. Sebuah perusahaan internasional melakukan banyak
6
bisnisnya di luar negeri. Perusahaan internasional juga memiliki fasilitas produksi
di luar negeri. Contohnya, Wal-Mart adalah sebuah perusahaan internasional.
Sebagian besar toko retailernya berada di Amerika Serikat, tetapi perusahaan
tersebut telah melakukan ekspansi internasional dengan pesat.
Meski perusahaan internasional dapat besar dan berpengaruh dalam ekonomi
global, perusahaan ini pada dasarnya adalah perusahaan domestik dengan operasi
internasional. Pertimbangan utamanya adalah tetap pasar domestik. Contohnya,
Wal-Mart masih mendapatkan 90% pendapatannya dari penjualan di Amerika
Serikat.
Perusahaan Multinasional
Sebagian besar perusahaan multinasional tidak berfikir bahwa dirinya
memiliki divisi domestik dan internasional. Perencanaan dan pembuatan
keputusannya diarahkan ke pasar internasional. Bahkan, lokasi kantor pusatnya
bisa di negara lain. Royal Dutch/Shell, Nestle, IBM dan Ford adalah perusahaan
multinasional yang terkenal. Beberapa perusahaan menggunakan perantara untuk
mendapatkan produk mereka di pasar luar negeri. Perusahaan lain melakukan
semua kegiatan ekspor mereka sendiri, dengan infrastruktur yang menjembatani
kesenjangan antara dua pasar.
Langsung Pengekspor
Perusahaan menjual langsung ke pembeli di pasar sasaran. Tidak perlu
menjual langsung ke pengguna akhir, dapat mengandalkan perwakilan lokal atau
distributor.
a. Penjualan perwakilan mewakili produk perusahaan mereka sendiri, bukan
dari perusahaan lain. Mempromosikan produk dengan menghadiri pameran
perdagangan dan melakukan kunjungan pribadi ke pengecer lokal dan grosir.
Jangan mempunyai hak untuk memiliki barang dagangan.
b. Distributor mengambil kepemilikan barang dagangan mereka ketika
memasuki negara. Menerima risiko yang terkait dengan penjualan lokal dan
menjual kepada pengecer dan pedagang grosir atau pengguna akhir melalui
mereka sendiri saluran distribusi. Menggunakan distributor mengurangi
risiko eksportir,tetapi mengurangi kontrol eksportir atas harga.
Tidak Langsung Pengekspor

7
Perusahaan menjual produknya kepada perantara yang menjual kembali
kepada pembeli dalam pasar sasaran. Pemilihan perantara tergantung pada rasio
internasional penjualan untuk total penjualan, sumber daya tersedia, dan
pertumbuhan tingkat target pasar.
a. Agen
Individu atau organisasi yang mewakili satu atau lebih tidak langsung
eksportir di target pasar. Dikompensasikan dengan komisi penjualan.
Mewakili eksportir tidak langsung dan beberapa mungkin fokus
mereka promosi upaya pada produk-produk perusahaan membayar
komisi tertinggi.
b. Ekspor Perusahaan Manajemen
EMC ekspor atas nama eksportir tidak langsung, operasi kontrak, baik
sebagai agen atau sebagai distributor.
Menyediakan layanan secara punggawa: mengumpulkan pasar
informasi, merumuskan strategi promosi, melakukan tugas promosi,
penelitian kredit pelanggan, mengatur pengiriman, dan
mengkoordinasikan dokumen ekspor. Keuntungan: pemahaman
mendalam tentang, budaya politik, hukum, dan ekonomi dari target
pasar. Kerugian: luas dan kedalaman layanan sebuah EMC
menghambat pembangunan internasional eksportir keterampilan.
Setelah kontrak berakhir EMC, perusahaan dapat pergi di itu sendiri
dalam mengekspor produk-produknya.
c. Ekspor Trading Company
ETC menyediakan layanan selain yang langsung berkaitan dengan
kegiatan ekspor klien: impor, ekspor, dan countertrade pelayanan,
saluran distribusi, penyimpanan fasilitas, perdagangan / investasi
proyek dan manufaktur.
Konsep bertemu keberhasilan yang terbatas di AS, tetap kecil dan
dikerdilkan oleh rekan-rekan Asia.
Pemerintah, lembaga keuangan, dan perusahaan memiliki lebih dekat
hubungan kerja di Asia. AS peraturan lingkungan adalah waspada
terhadap pengaturan tersebut, dan garis antara perusahaan dan industri
jelas ditarik.
8
d. Ekport Blunders
Menghindari Ekspor dan Impor Blunder:
1. Perusahaan baru untuk mengekspor sering membuat kesalahan, banyak
gagal melakukan pasar yang memadai penelitian dan mendapatkan
nasihat ekspor yang memadai.
2. Perusahaan dapat menyewa forwarder-sebuah angkutan spesialis di
exportrelated seperti kegiatan sebagai kebiasaan kliring, jadwal tarif,
dan pengiriman dan asuransi biaya. Dapat paket pengiriman untuk
ekspor dan mengambil tanggung jawab untuk mendapatkan kiriman
dari pelabuhan ekspor ke pelabuhan dari impor.
e. Countertrade
Countertrade atau imbal dagang adalah pola perdagangan luar negeri
yang dilakukan dengan mengekspor sejumlah barang dan jasa tertentu dan
sebagai imbalannya memperoleh sejumlah barang dan jasa tertemtu pula.
Terdapat beberapa jenis Countertrade antara lain:
1. Barter yaitu pertukaran langsung antara barang dan jasa satu dengan
barang dan jasa yang lain tanpa adanya pemindahan dana
2. Counterpurchase yaitu penjualan barang atau jasa kepada negara lain
oleh perusahaan yang menjanjikan untuk melakukan pembelian masa
depan produk tertentu dari negara tersebut.
3. Offset, berlangsung dalam tataran pemerintah. Sebagai contoh: jet F-16
akan dirakit di Eropa dengan kerjasama dari perusahaan lokal.
Komponen-komponen utama akan diproduksi dibawah lisensi, dan
eksportir AS setuju membeli komponen-komponen tersebut dari
perusahaan di negara yang membeli.
4. Switch trading adalah perjanjian dagang tiga belah pihak. Pada saat
barang, sebagian atau seluruhnya, dari negara yang membeli sulit
digunakan atau dijual, maka penjualan barang tersebut perlu dialihkan
ke pihak ketiga. Pihak ketiga membayar dengan hard currency untuk
barang yang tidak dikehendakinya, dengan diskon yang sangat besar.
5. Buyback: pemasok menyediakan mesin, pabrik, atau teknologi, dan
membeli produk yang dihasilkan dari mesin atau teknologi tersebut
sepanjang periode waktu yang telah disepakati.
9
f. Export and Import Financing
Perdagangan international juga menimbulkan risiko bagi eksportir dan
importir, eksportir berisiko untuk tidak mendapatkan pembayaran setelah
keikutsertaannya dalam penyerahan barang sedangkan importir memiliki
risiko gagalnya pengiriman barang atau pengiriman barang tidak terjadi
sementara pembayaran sudah dilakukan.
Terdapat sejumlah metode pembayaran ekpor dan impor yang
dirancang untuk mengurangi risiko yang dapat menimpa para eksportir dan
importir seperti:
Advance Payment
Pembayaran yang dilakukan sebelum barang dikirim. Pada umumnya
pembayaran dengan menggunakan cara ini resiko transaksi lebih banyak
dipihak importir
Documentary Collection
Pembayaran harga barang secara documentary collection yaitu lewat
penggunaan dokumen yang disebut Bills Of Exchange. Dalam hal ini pihak
importir harus membayar harga barang setelah Shipping Document tiba di
bank nya importir
Letter of Credit (L/C)
Letter of credit, atau sering disingkat menjadi L/C, LC, atau LOC,
adalah sebuah cara pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir
menerima pembayaran tanpa menunggu berita dari luar negeri setelah barang
dan berkas dokumen dikirimkan keluar negeri (kepada pemesan).
Open Account
Open Account adalah kebalikan dari Advance Payment dimana
pembayaran dilakukan dalam periode waktu tertentu setelah barang dikirim.
Pada umumnya pembayaran dengan cara ini risiko transaksi lebih banyak
dipihak eksportir.

2.2 Contractual Entry Modes


Sebuah cara masuk (entry mode) adalah pengaturan kelembagaan dimana
perusahaan mendapatkan produk, teknologi, keterampilan, atau sumber daya lainnya
untuk memasuki pasar baru. Keputusan tentang bagaimana untuk memasuki pasar baru
10
diluar negeri (internasional) dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk lingkungan bisnis
lokal dan kompetisi inti perusahaan itu sendiri. Mengenai mode spesifik yang akan dipilih
oleh perusahaan dalam melakukan binis di luar negeri hal ini juga tergantung pada banyak
faktor, termasuk diantaranya pengalaman dipasar, keinginan tentang kontrol manajemen,
dan potensi pasar. Terdapat 2 kategori entry modes yaitu:
1) Contractual Entry Modes
2) Investment Entry Modes
Ketika manajemen memutuskan untuk terlibat dalam proses manufaktur diluar
negeri, pada umumnya ada empat alternatif beberbeda yang tersedia, meskipun tidak
semuanya layak dinegara tertentu. Alternatif-alternatif tersebut adalah:
a. Franchising atau Waralaba
Suatu bentuk pemberian lisensi dimana sebuah perusahaan mengadakan
kontrak dengan perusahaan lain untuk mengoperasikan jenis usaha tertentu
dibawah nama yang dibentuk sesuai dengan aturan-aturan tertentu. Waralaba
berbeda dari lisensi, setidaknya dalam tiga hal yaitu:
- Waralaba memberikan perusahaan kontrol yang lebih besar atas penjualan
produk di pasar sasaran dibandingkan dengan lisensi
- Waralaba terutama banyak digunakan di sektor jasa, sedangkan lisensi
umumnya di industri manufaktur
- Waralaba membutuhkan bantuan berkelanjutan dari pemberi waralaba,
sedangkan lisensi biasanya melibatkan transfer satu kali properti.
Terdapat beberapa keuntungan dan kerugian dalam Franchising ini antara lain:
i. Keuntungan:
Low-cost dan low-risk
Penyebaran ekspansi bisnis yang cepat.
Dapat menggunakan budaya dan pengetahuan manajer lokal.
ii. Kerugian :
Franchisers mungkin merasa rumit untuk mengelola sejumlah besar
franchisees dalam berbagai pasar nasional
Dapat mengalami kehilangan fleksibilitas organisasi dalam perjanjian
waralaba.
b. Licensing atau Pemberian Lisensi

11
Dengan perjanjian pemberian lisensi sebuah perusahaan pemegang lisensi
akan memberikan kepada perusahaan lain (penerima lisensi) hak untuk
menggunakan suatu jenis keahlian, seperti proses pemanufakturan, teknologi,
prosedur pemasaran, hak paten, hak cipta, nama cap atau merek dagang untuk satu
atau lebih produk-produk lisensor. Penerima lisensi biasanya membayarkan suatu
royalti selama masa kontrak.
Terdapat beberapa keuntungan dan kerugian dalam Licensing ini antara lain:
i. Keuntungan:
Pemberi lisensi dapat menggunakan lisensi untuk membiayai ekspansi
internasional mereka
Lisensi dapat mengurangi kemungkinan bahwa produk lisensi akan
muncul di black market
Pemegang lisensi dapat memperoleh keuntungan dari lisensi.
ii. Kerugian:
Dapat membatasi kegiatan pemegang lisensi
Kehilangan kontrol langsung dalam produksi, marketing dan strategi.

c. Management Contracts atau Kontrak Manajemen


Adalah suatu perjanjian dimana sebuah perusahaan memberikan
pengetahuan manajerial dalam beberapa atau seluruh bidang fungsional kepada
pihak lain, dengan mendapatkan bayaran yang berkisar antara 2 sampai 5 persen
dari penjualan.
i. Keuntungan:
Bagi pemberi akan memperoleh informasi tentang peluang bisnis tanpa
biaya
Bagi penerima akan memperoleh pengalaman dan percepatan investasi
Bagi penerima akan dapat mentransfer keahlian.
ii. Kerugian:
Akan merugikan tenaga ahli yang dikirim kedaerah konflik
Dalam jangka panjang, kemungkinan perusahaan penerima akan
menjadi kompetitor.
d. Turnkey Project

12
Pelaksanaan proyek atau industri tertentu yang dilakukan oleh sebuah
perusahaan mulai dari membuat, design, konstruksi dan start up sampai siap
dioperasikan.
i. Keuntungan:
Perusahaan mengkhususkan diri dalam kompetensi inti dan
memanfaatkan peluang yang tidak bisa dilakukan sendiri
Memungkinkan pemerintah untuk mendapatkan desain infrastruktur
proyek dari perusahaan-perusahaan terkemuka didunia.
ii. Kerugian:
Seperti kontrak manajemen, turnkey project dalam jangka panjang
dapat membuat persaingan
Perusahaan dapat diberikan suatu proyek karena alasan politik, bukan
karena perkembangan teknologi.

2.3 Investment Entry Modes


Kategori lainnya dari entry modes. Terdapat 3 bentuk umum investment entry
antara lain: Wholly Owned Subsidiaries, Join Venture, dan Strategic Alliances.
a. Wholly Owned Subsidiaries (Anak Perusahaan yang Dimiliki secara
Keseluruhan)
Mendirikan perusahaan atau industri atau pabrik milik sendiri diluar negeri
secara penuh tanpa bekerja sama dengan pihak lain.
i. Keuntungan:
Tidak kehilangan kontrol terhadap keunggulan atau keunikan yang
dimiliki
Anak perusahaan sebagai bagian yang mudah dikordinasikan dalam
menentukan strategi global
Memberikan keuntungan dalam sistem global.
ii. Kerugian:
Mahal, jadi sulit untuk perusahaan kecil dan menengah untuk
menggunakan cara ini
Perusahaan sendiri menanggung semua beban biaya dan risiko
Membutuhkan sumber daya yang substansial.
b. Joint Ventures
13
Usaha kerjasama diantara dua atau lebih organisasi yang berbagi kepentingan
bersama dalam usaha atau kegiatan bisnis.
i. Keuntungan:
Keuntungan pajak yang ditawarkan oleh pemerintah kepada
perusahaan yang menggandeng mitra lokal
Dapat mengurangi risiko investasi
Mendapatkan keahlian baru
Dapat menembus pasar internasional yang dinyatakan terlarang dengan
menggandeng mitra lokal/pemerintah daerah.
ii. Kerugian :
Dapat mengakibatkan konflik antar mitra
Keuntungan harus dibagi
Kekurangan kontrol atas usaha patungan, terlebih ketika mitra usaha
patungan adalah pemerintah daerah.

c. Strategic Alliances (Aliansi Strategis)


Strategic alliances adalah kesepakatan (agreement) antara dua atau lebih
mitra untuk berbagi pengetahuan atau sumber daya sehingga akan mendatangkan
manfaat bagi pihak-pihak yang melakukannya. Hampir sama dengan joint venture,
strategic alliances dapat dibentuk dalam waktu yang relatif singkat atau selama
bertahun-tahun, tergantung pada tujuan dari masing-masing peserta. Contoh
perusahaan yang menerapkan strategic alliances ini adalah alliances antara
perusahaan siemens (Germany) dan Hewlett-Packard (United States) dengan
mendirikan dan membuat perangkat untuk sistem telekomunikasi.
i. Keuntungan:
Perusahaan dapat menggunakan strategic alliances untuk membagikan
biaya dari proyek investasi internasional.
Perusahaan dapat menggunakan strategic alliances untuk memasuki
kekuatan khusus yang dimiliki oleh pesaing.
ii. Kerugian:
Strategic Alliances dapat menimbulkan pesaing lokal atau bahkan
global di masa depan.

14
Strategic Alliances disusun untuk menutupi kemungkinan-
kemungkinan yang akan terjadi, tetapi perbedaan bahasa dan
perbedaan budaya masih dapat timbul dan tidak bisa ditutupi.
Terdapat beberapa faktor strategis dalam memilih entry mode, pemilihan entry
mode ini memiliki banyak implikasi strategis yang penting untuk operasi masa depan
suatu perusahaan, untuk itu dalam memilih entry mode ini perusahaan haruslah
berhati-hati dan harus memperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan budaya, politik
dan hukum, ukuran pasar, biaya produksi serta pengalaman internasional supaya dapat
berhasil dalam memasuki pasar internasional.

2.4 Selecting Partners for Cooperations


Dalam membangun sebuah bisnis memang lebih baik dilakukan secara mandiri
(atau berdiri sendiri). Namun tak semua orang dapat membangun bisnisnya secara
mandiri. Ada beberapa kendala yang menyebabkan mereka harus menjalin kerjasama
dengan orang lain. Kendala-kendala tersebut dapat berupa keterbatasan modal,
keterampilan yang belum memadai, jaringan bisnis yang sempit dan sebagainya. Oleh
karena itulah bekerjasama dengan orang lain merupakan pilihan yang terbaik.
Dalam memilih mitra kerja dalam sebuah bisnis bukanlah merupakan hal yang
mudah. Salah dalam menentukan pilihan akan mengganggu program bisnis, finansial
perusahaan dan lainnya. Oleh karena itu dalam memilih mitra bisnis yang baik dapat
dilakukan dengan cara :
1. Melihat catatan personal
Sebelum memutuskan untuk bekerjasama dengan mitra bisnis, hal pertama yang
harus kita lihat adalah catatan kepribadiannya. Apakah mitra bisnis tersebut pernah
terlibat kasus atau tidak. Selain itu juga perhatikan latar belakang, pendidikan dan
pengalamannya selama ini.
2. Memiliki visi dan misi serta semangat bisnis yang sama.
Dalam membangun sebuah bisnis yang melibatkan banyak orang, harus diikat
dengan sebuah visi maupun misi yang sama. Pada saat awal merencanakan sebuah
usaha terjadi perbedaan dan perdebatan dengan mitra bisnis tersebut, sebaiknya
kita harus menunda dulu untuk melakukan kerjasama tersebut.
3. Mempunyai kompetensi

15
Jika ingin memilih mitra bisnis, maka personal mitra bisnis yang mempunyai
kompetensi yang berbeda dengan diri kita adalah pilihan yang tepat. Namun hal ini
bukanlah suatu keharusan, karena sulit mengharapkan mitra bisnis yang memiliki
kompetensi yang dapat menutupi kekurangan kita dalam menjalankan bisnis.
4. Mitra bisnis dengan kondisi finansial yang mapan
Menjalin kerjasama dengan mitra bisnis yang telah mapan tentu memiliki nilai
tambah tersendiri. Ketika perusahaan mengalami kesulitan modal, mungkin mitra
bisnis tersebut dapat memberikan bantuan secara finansial untuk perusahaan.
5. Memilih mitra bisnis yang komunikatif
Mitra bisnis yang baik akan selalu terbuka dan saling membagi informasi dan
berdiskusi untuk mencapai kesepatan bersama. Mitra bisnis yang komunikatif dan
bersedia sharing akan membuat usaha besama tersebut selalu dalam situasi yang
jelas.
Jadi, mitra yang cocok adalah mitra yang harus memiliki sesuatu yang bernilai
untuk ditawarkan.

2.5 Determinan Menentukan Entry Mode


Terdapat beberapa faktor strategis dalam memilih entry mode, pemilihan entry
mode ini memiliki banyak implikasi strategis yang penting untuk operasi masa depan
suatu perusahaan, untuk itu dalam memilih entry mode ini perusahaan haruslah berhati-
hati dan harus memperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan budaya, politik dan
hukum, ukuran pasar, biaya produksi serta pengalaman internasional supaya dapat
berhasil dalam memasuki pasar internasional
1. Cultural Environment
Dalam bisnis lintas budaya, sebuah bisnis akan dihadapkan pada perbedaan
dalam lingkungan budaya yang berbeda yang ditandai dengan perbedaan bahasa,
sistem nilai yang unik, keyakinan serta sikap masyarakat yang berbeda. Faktor-
faktor ini jelas mempengaruhi dimensi bisnis internasional.
Untuk menghindari kesalahan fatal yang diakibatkan oleh kesalahfahaman
budaya atau salah pengertian yang dapat merugikan serta dapat menghancurkan
bisnis lintas budaya maka pelaku bisnis diharapakan agar selalu meningkatkan
pengertian dan penghargaan atas perbedaan-perbedaan pola budaya yang akan
dihadapi serta meningkatkan sensitifitas atas segala perbedaan yang ada.
16
2. Political dan Legal Environment
Lingkungan politik telah diakui sebagai faktor penting dalam banyak
keputusan perdagangan dan bisnis internasional.
Aspek politik tergolong kritis dalam perluasan operasi perusahaan di dunia
internasional dan perlu diadakannya analisis khusus terhadap rIsiko politik
operasinya. Terdapat isu manajemen terkini dimana lingkungan politik dan hukum
mempengaruhi kebijakan migrasi di suatu negara yang secara tidak langsung
mempengaruhi perdagangan internasional. Terdapat empat aspek penting dari
lingkungan politik dan hukum dalam manajemen internasional sebagai dasar yang
perlu diperhatikan dalam perdagangan internasional, yaitu : stabilitas pemerintah,
insentif untuk perdagangan internasional, pengendalian atas perdagangan
internasional serta komunitas ekonomi
3. Market size
Perusahaan dapat memperluas ukuran potensi pasar mereka dengan
memasuki pasar internasional. Ukuran dari pasar yang potensial juga
mempengaruhi pilihan mode entri. Meningkatnya pendapatan mendorong mode
investasi masuk karena perusahaan dapat mempersiapkan diri untuk memperluas
permintaan pasar dan meningkatnya pemahaman mengenai target pasar. Contonya:
Perusahaan-perusahaan farmasi telah melakukan investasi asing yang signifikan
langsung ke kedua pasar berkembang dan muncul dalam upaya untuk
meningkatkan potensi pasar untuk obat baru.
4. Production and Shipping Cost
Dengan membantu untuk mengontrol biaya total, produksi berbiaya rendah
dan pengiriman dapat memberikan perusahaan keuntungan. Dengan demikian,
pengaturan produksi di pasar ini diinginkan bila total biaya produksi di wilayah
tujuan lebih rendah daripada pasar wilayah asal.
a) Biaya Ekspor
Adanya perbedaan harga antara negara pengekspor dan negara pengimpor
disebut dengan istilah kenaikan harga, yang merupakan biaya tambahan yang
muncul akibat mengekspor produk dari negara yang satu ke negara yang lain.
b) Biaya, Pajak, Tarif, Administrasi
Tarif adalah sejumlah biaya yang dikenal ketika barang dibeli dari Negara
lain dan masuk ke dalam negeri. Sebagai tambahan pajak maupun tarif,
17
sebuah varian biaya administrasi dihubungkan secara langsung pada sebuah
produk ekspor dan impor. Lisensi ekspor dan impor, dokumen lain, serta
pengaturan fisik untuk membawa produk dari pelabuhan tempat masuknya
barang ke lokasi pembeli berarti timbulnya tambahan biaya.
c) Inflasi
Inflasi adalah suatu keadaan di mana harga barang-barang secara umum
mengalami kenaikan dan berlangsung dalam waktu yang lama terus-
menerus. Inflasi dapat menyebabkan gangguan pada stabilitas ekonomi dan
mengakibatkan kenaikan harga konsumen yang pada akhirnya memperburuk
tingkat kesejahteraan masyarakat akibat menurunnya daya beli masyarakat
d) Deflasi
Deflasi didefinisikan sebagai meningkatnya permintaan terhadap uang
berdasarkan jumlah uang yang berada di masyarakat. Dalam ekonomi, deflasi
adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang
bertambah. Deflasi menghasilkan penurunan harga terus-menerus dan
menciptakan hasil yang positif bagi konsumen.
e) Cukai
Cukai adalah pungutan oleh negara secara tidak langsung kepada konsumen
yang menikmati/menggunakan obyek cukai.
f) Pabean
Pabean adalah kegiatan yang menyangkut pemungutan bea masuk dan pajak
dalam rangka impor. Filosofi pemungutan bea masuk adalah untuk
melindungi industri dalam negeri dari limpahan produk luar negeri yang
diimpor, dalam bahasa perdagangan sering disebut tarif barier yaitu besaran
dalam persen yang ditentukan oleh negara untuk dipungut oleh DJBC
[Direktorat Jendral Bea Cukai] pada setiap produk atau barang impor.
Sedang untuk ekspor pada umumnya pemerintah tidak memungut bea demi
mendukung industri dalam negeri dan khusus untuk ekspor pemerintah akan
memberikan insentif berupa pengembalian restitusi pajak terhadap barang
yang diekspor.
5. International Experience
Banyak perusahaan memasuki pasar internasional melalui aktivitas ekspor.
Sebagai perusahaan yang mendapatkan pengalaman internasional, akan memilih
18
mode entri yang memerlukan keterlibatan lebih dalam. Ini juga berarti bahwa
perusahaan tersebut harus menerima risiko yang lebih besar.

19
BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Perusahaan yang ingin lebih mengembangkan pasarnya terutama pasar internasional
tentu harus memilih strategi yang efektif. Ekspor memberikan beberapa keuntungan ke
perusahaan, yakni perusahaan dapat mengendalikan keterpaparan finansialnya (financial
exposure) pada pasar negara tujuan yang dianggap sesuai dengan keinginan.
Sebuah cara masuk (entry mode) adalah pengaturan kelembagaan dimana perusahaan
mendapatkan produk, teknologi, keterampilan, atau sumber daya lainnya untuk memasuki
pasar baru. Keputusan tentang bagaimana untuk memasuki pasar baru diluar negeri
(internasional) dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk lingkungan bisnis lokal dan
kompetisi inti perusahaan itu sendiri.
Dalam membangun sebuah bisnis memang lebih baik dilakukan secara mandiri (atau
berdiri sendiri). Namun tak semua orang dapat membangun bisnisnya secara mandiri. Ada
beberapa kendala yang menyebabkan mereka harus menjalin kerjasama dengan orang lain.
Tidak ada suatu hal yang hanya memberikan kebaikan, tentu ada keburukan atau
kelemahan dari kebaikan tersebut. Terdapat beberapa faktor strategis dalam memilih entry
mode seperti lingkungan budaya, politik dan hukum, ukuran pasar, biaya produksi serta
pengalaman internasional supaya dapat berhasil dalam memasuki pasar internasional

20
Daftar Referensi

Wild J. John and Wild Kenneth L. 2011. International Business Management, The Challenges
of Globalization,., Sixth Edition. London: Prentice Hall.

Griffin, Ricky,W., dan Pustay, Michael, W. 2006. Bisnis Internasional Edisi Keempat Jilid 2.
Jakarta : Indeks.

http://www.scribd.com/doc/172030566/Strategi-Masuk-Pasar-Internasional. Diakses pada


tanggal 8 November 2016.

http://businesinternational.blogspot.co.id/. Diakses pada tanggal 9 November 2016.

Anda mungkin juga menyukai