Anda di halaman 1dari 6

AKUNTANSI SYARIAH

Pembiayaan Sukuk

ANNISA ASBABUN NUZUL


A31114026

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016
A. Pengertian Sukuk
Istilah sukuk berasal dari bentuk jamak dari bahasa Arab sak atau sertifikat.
Secara singkat The Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial
Institutions (AAOIFI) mendefinisikan sukuk sebagai sertifikat bernilai sama yang
merupakan bukti kepemilikan yang tidak dibagikan atas suatu asset, hak manfaat, dan
jasa-jasa atau kepemilikan atas proyek atau kegiatan investasi tertentu. Sukuk pada
prinsipnya mirip seperti obligasi konvensional, dengan perbedaan pokok antara lain
berupa penggunaan konsep imbalan dan bagi hasil sebagai pengganti bunga, adanya suatu
transaksi pendukung (underlying transaction) berupa sejumlah tertentu aset yang menjadi
dasar penerbitan sukuk, dan adanya aqad atau penjanjian antara para pihak yang disusun
berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Selain itu, sukuk juga harus distruktur secara syariah
agar instrumen keuangan ini aman dan terbebas dari riba, gharar dan maysir.

B. Dasar Hukum Sukuk (Obligasi Syariah)

1. Al-Quran
Adapun dalil yang berkenaan dengan kebolehan Sukuk (obligasi syariah)
penyusun sarikan dari Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional. Berikut dalil-
dalilnya:
Firman Allah SWT, QS. Al-Maidah [5]:1:

Hai orang orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu

Firman Allah SWT, QS. Al-Isra [17]: 34:



......dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

Firman Q.S. al-Baqarah [2]: 275 :


orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit
gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang
telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum
datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang
kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.

2. Hadits
Hadis Nabi SAW yang digunakan sebagai dalil dasar sukuk ini ialah hadits
yang diriwayatkan oleh Amar bin Auf,

:
( )

Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian


yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum
muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

3. Qaidah Fikih:
Terdapat tiga kaidah yang digunakan, yaitu :
Pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil
yang mengharamkannya.;
Kesulitan dapat menarik kemudahan;

Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat/ kebiasaan sama dengan sesuatu
yang berlaku berdasarkan syara (selama tidak bertentangan dengan
syariah).

4. Pendapat Ulama
Dengan mempertimbangkan beberapa dalil diatas, akhirnya dikeluarkanlah
Fatwa dewan syari`ah Nasional No. 32/DSN-MUI/IX/2002, tentang Sukuk (Obligasi
syari`ah) adalah surat berharga berjangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang
dikelurkan emitten kepada pemegang obligasi syariah, tersebut berupa bagi
hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo.
Karakteristik dan istilah sukuk merupakan pengganti dari istilah sebelumnya
yang memggunakan istilah bond, dimana istilah bond mempunyai makna loan
(hutang), dengan menambahkan Islamic maka kontradiktif maknanya karena biasanya
yang mendasari mekanisme hutang (loan) adalah interest, sedangkan dalan Islam
interest tersebut termasuk riba yang diharamkan. Untuk itu sejak tahun 2007 istilah
bond ditukar dengan istilah Sukuk sebagaimana disebutkan dalam peraturanm di
Bapepam LK.
Abu Hanifa dan muridnya Abu Yusuf memberikan pandangan bahwa
penjualan sesuatu/properti yang belum diterima oleh si penjual namun sudah jelas
keberadaan fisiknya (dapat dicek keberadaannya) adalah diperbolehkan. Maka dari
sinilah pondasi instrument bernama sukuk di abad modern ini bermula.
C. Tujuan Penerbitan Sukuk Negara (SBSN)
1. memperluas basis sumber pembiayaan anggaran negara;
2. mendorong pengembangan pasar keuangan syariah;
3. menciptakan benchmark di pasar keuangan syariah;
4. diversifikasi basis investor;
5. mengembangkan alternatif instrumen investasi;
6. mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara; dan
7. memanfaatkan dana-dana masyarakat yang belum terjaring oleh
8. sistem perbankan konvensional

D. Karakteristik Sukuk
1. merupakan bukti kepemilikan suatu aset berwujud atau hak manfaat (beneficial title);
2. pendapatan berupa imbalan (kupon), marjin, dan bagi hasil, sesuai jenis aqad yang
digunakan;
3. terbebas dari unsur riba, gharar dan maysir;
4. penerbitannya melalui special purpose vehicle (SPV);
5. memerlukan underlying asset.
6. penggunaan proceeds harus sesuai prinsip syariah.

E. Kelebihan berinvestasi dalam Sukuk Negara, khususnya untuk struktur Ijarah.


1. Memberikan penghasilan berupa Imbalan atau nisbah bagi hasil yang kompetitif
dibandingkan dengan instrumen keuangan lain.
2. Pembayaran Imbalan dan Nilai Nominal sampai dengan sukuk
3. jatuh tempo dijamin oleh Pemerintah.
4. Dapat diperjual-belikan di pasar sekunder.
5. Memungkinkan diperolehnya tambahan penghasilan berupa margin (capital gain).
6. Aman dan terbebas dari riba (usury), gharar (uncertainty), dan maysir (gambling).
7. Berinvestasi sambil mengikuti dan melaksanakan syariah.

F. Jenis-Jenis Sukuk
Berbagai jenis struktur sukuk yang dikenal secara internasional dan telah
mendapatkan endorsement dari The Accounting and Auditing Organisation for Islamic
Financial Institutions (AAOIFI) antara lain:
1. Sukuk Ijarah, yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Ijarah di
mana satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menjual atau menyewakan
hak manfaat atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan harga dan periode yang
disepakati, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Sukuk
Ijarah dibedakan menjadi Ijarah Al Muntahiya Bittamliek (Sale and Lease Back)
dan Ijarah Headlease and Sublease. Adalah suatu sertifikat yang memuat nama
pemilik nya (investor) dan melambangkan kepemilikan terhadap aset yang bertujuan
untuk disewakan, atau kepemilikikan manfaat dan kepemilikan jasa sesuai jumlah
efek yang dibeli denagn harapan mendapatkan keuntungan dari hasil sewa yang
berhasil direalisasikan berdasar transaksi ijarah.
Ketentuan akad ijarah sebagai berikut:
Objeknya dapat berupa barang (harta fisik yang bergerak, tak bergerah, harta
perdagangan) maupun berupa jasa
Manfaat dari objek dan nilai manfaat tersebut diketahui dan disepakati oleh kedua
belah piahak.
Ruang lingkup dan jangka waktu pemakaiannya harus dinyatakan secara spesifik.
Penyewa harus membagi hasil manfaat yang diperolehnya dalam bentuk imbalan
atau sewa/upah
Pemakaian manfaat harus menjaga objek agar manfaat yang diberikan oleh objek
tetap terjaga
Pembeli sewa haruslah pemilik mutlak.
Secara teknis, obligasi ijarah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Investor dapat bertindak sebagai penyewa , sedangkan emiten dapat bertindak
sebagai wakil investor.
Setelah investor memperoleh hak sewa, maka investor menyewakan kembali
objek sewa tersebut kepada emiten.

2. Sukuk Mudharabah, yaitu yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau
akad mudarabah yang merupakan satu bentuk kerjasama, yang satu pihak
menyediakan modal (rabb al-mal) dan pihak lain menyediakan tenaga dan keahlian
(mudarib), keuntungan dari kerjasama tersebut akan dibagi berdasarkan perbandingan
yang telah disetujui sebelumnya. Kerugian yang timbul akan ditanggung sepenuhnya
oleh pihak penyedia modal. sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad
Mudharabah di mana satu pihak menyediakan modal (rab al-maal) dan pihak lain
menyediakan tenaga dan keahlian (mudharib), keuntungan dari kerjasama tersebut
akan dibagi berdasarkan perbandingan yang telah disetujui sebelumnya. Kerugian
yang timbul akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak yang menjadi penyedia modal.

3. Sukuk Musyarakah, yaitu Adalah obligasi syariah yang diterbitkan berdasarkan


perjanjian atau akad musyarakah di mana dua pihak atau lebih bekerja sama
menggabungkan modal untuk pembangunan proyek baru, mengembangkan proyek
baru, mengembangkan proyek yang telah ada atau membiayai kgiatan usaha.sukuk
yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Musyarakah di mana dua pihak
atau lebih bekerjasama menggabungkan modal untuk membangun proyek baru,
mengembangkan proyek yang telah ada, atau membiayai kegiatan usaha. Keuntungan
maupun kerugian yang timbul ditanggung bersama sesuai dengan jumlah partisipasi
modal masing-masing pihak.

4. Istisna, yaitu Adalah obligasi syariah yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau
akad istishna di mana para pihak menyepakati jual beli dalam rangka pembiayaan
suatu proyek/barang. Sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Istisna
di mana para pihak menyepakati jual-beli dalam rangka pembiayaan suatu
proyek/barang. Adapun harga, waktu penyerahan, dan spesifikasi barang/proyek
ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan.Di dalam negeri sendiri, pasar
keuangan syariah, termasuk pasar sukuk juga tumbuh secara cepat, meskipun
proporsinya dibandingkan pasar konvensional masih relatif sangat kecil. Untuk
keperluan pengembangan basis sumber pembiayaan anggaran negara dan dalam
rangka pengembangan pasar keuangan syariah dalam negeri, Pemerintah telah
menyusun RUU tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). UU SBSN tersebut
akan menjadilegal basis bagi penerbitan dan pengelolaan Sukuk Negara atau SBSN.

G. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Penerbitan Sukuk


Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan sukuk adalah (Depkeu:2010),
1. Obligor, adalah pihak yang bertanggung jawab atas pembayaran imbalan dan nilai
nominal sukuk sampai dengan sukuk jatuh tempo.
2. Special Purpose Vehicle (SPV), adalah badan hukum yang didirikan khusus untuk
penerbitan sukuk dengan fungsi: a. sebagai penerbit sukuk; b.
menjadi counterpart(rekan/teman imbangan) dalam transaksi pengalihan aset; c.
bertindak sebagai wali amanat (trustee) untuk mewakili kepentingan investor.
3. Investor, adalah pemegang sukuk yang memiliki hak atas imbalan, margin, dan
nilai nominal sukuk sesuai partisipasi masing-masing.