Anda di halaman 1dari 34

Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

BAB V

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

5. 1 Uraian Umum

Metoda konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan pelaksanaan konstruksi yang

mengikuti prosedur serta telah dirancang sesuai dengan pengetahuan atau

standar yang telah diuji cobakan. Cara atau metoda tersebut tidak terlepas dari

penggunaan teknologi sebagai pendukung dan mempercepat proses pembuatan

suatu bangunan, agar kegiatan pembangunan dapat berjalan sebagai mana

mestinya sesuai dengan yang diharapkan dan lebih ekonomis

Berkaitan dengan bangunan sebagai lingkungan buatan, teknologi dibutuhkan

agar berbagai kegiatan pembangunan dapat berjalan secara effisien dan effektif,

juga dengan teknologi akan didapat produk yang lebih berkualitas atau lebih

sesuai dengan kebutuhan pemakai bangunan dan lebih ekonomis dalam

biaya,pemakaian bahan, dan sebagainya.

5. 2 Pekerjaan Persiapan Material Proyek

Bahan bangunan merupakan elemen terpenting dari suatu proyek pembangunan,

karena kumpulan berbagai macam material itulah yang membentuk suatu

struktur yang diinginkan. Karena itu, pasokan material yang berkualitas tinggi

akan dapat menghasilkan struktur yang memenuhi syarat kekuatan, ketahanan,

kekakuan, dan kestabilan.

V-1
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Selain itu faktor kelancaran pengadaan material akan membantu penyelesaian

struktur secara tepat waktu. Bahan-bahan yang digunakan dalam proyek telah

dijelaskan pada bab IV.

5.3 Metode Pelaksanaan

Pelaksanaan pekerjaaan yang akan dibahas pada pelaksanaan pekerjaan ini

meliputi :

1. Pekerjaan Bekisting

2. Pekerjaan Pembesian

3. Pekerjaan Pengecoran

5.3.1.Pekerjaan bekisting

Sebelum memulai pekerjaan bekisting, maka dilakukan terlebih dahulu

beberapa langkah langkah sebagai berikut :

A. Ruang Lingkup

Sebelum dilaksanakan pekerjaan pembesian semua pihak agar benar-

benar terlebih dahulu mengetahui lingkup pekerjaan yang harus

dikerjakan dan spesifikasi material yang digunakan. Adapula lingkup

pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut :

a) Bekisting untuk pekerjaan balok

b) Bekisting untuk pekerjaan plat

c) Bekisting untuk pekerjaan kolom

V- 2
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

B. Penyiapan Shop Drawing

Untuk memudahkan pelaksanaan di lapangan, maka harus dibuat gambar

yang detail dan lengkap, gambar tersebut disebut gambar pelaksanaan

atau shop drawing. Gambar pelaksanaan harus menggambarkan :

a) Gambar tampak, harus dapat memberikan informasi mengenai jenis-

jenis material yang dipakai untuk system bekisting yang akan

digunakan.

b) Gambar detail, harus dapat memberikan informasi mengenai ukuran

ukuran material, jarak pemasangan material tersebut dan detail

penempatan sambungan.

c) Semua gambar pelaksanaan harus mengacu pada gambar

perencanaan yang berstatus for construction spesifikasi dan risalah

lelang. Gambar tersebut harus sudah disetujui pemberi tugas.

Sebelum diedarkan ke lapangan serta gambar yang beredar

merupakan gambar dengan revisi terakhir.

C. Cara Pelaksanaan

Sistem penggunaan bekisting typical dapat dilihat pada gambar. Untuk

efektifitas dan efisiensi pelaksanaan pekerjaan bekisting, areal kerja

dibagi dalam zone.

D. Sistem Bekisting

1. Kolom

a. Bekisting untuk kolom menggunakan plywood 18 mm phenolic

1 muka.

V- 3
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

5.3.1 (a) Gambar plywood 18 mm phenolic 1 muka

b. Sistem adjustable

Gambar 5.3.1 (b) Bekising kolom

2. Balok dan Plat

a. Untuk bekisting plat dan balok menggunakan plywood 12

mm phenolic 1 muka.

V- 4
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Gambar 5.3.1 (c) plywood 12 mm phenolic 1 muka

b. Perancah ring lock system

Gambar 5.3.1 (d) Perancah ring lock system

V- 5
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

c. Sistem table form untuk pelat dan balok

Gambar 5.3.1 (e) Table form untuk pelat dan balok

(f)

(g)

Gambar 5.3.1 (f) Aplikasi Table Plat Form di Lapangan (g) Aplikasi Table

Plat Form dan Perancah

V- 6
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

E. Bongkar Bekisting

1. Pembongkaran Bekisting Kolom :

Pembongkaran bekisting pada kolom dilakukan setelah

pengecoran berumur 12 jam.

2. Pembongkaran Bekisting Balok dan Plat :

Setelah pengecoran plat lantai dan balok, bekisting balok

dibongkar pada saat beton berumur 7 hari kemudian dan diganti

dengan reproping sampai dengan 21 hari setelah pengecoran.

Untuk bekisting plat dibongkar 7 hari setelah pengecoran

kemudian diganti dengan reporping sampai dengan 21 hari

setelah pengecoran.

F. Cara Pembersihan

Sebelum pekerjaan pengecoran beton dilaksanakan, bekisting dan besi

yang sudah terpasang harus dibersihkan dari dari kotoran, batu, potongan

kayu, potongan besi dan lain-lain. Pembersihan dapat dilakukan dengan

menggunakan air compressor, disiram dengan air atau dengan cara lain.

5.3.2 Pekerjaan Pembesian

Pembesian merupakan bagian dari suatu struktur dalam bangunan, yang

berfungsi menahan gaya tarik akibat beban pada beton. Pekerjaan pembesian

adalah pekerjaan perakitan besi tulangan untuk mendukung kekuatan pada beton

bangunan yang disesuaikan dengan shop drawing yang mengacu pada

standarisasi penulangan sehingga didapat kekuatan bangunan yang sesuai

dengan yang direncanakan. Adapun lingkup pekerjaan pembesian yaitu :


V- 7
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

1. Pembesian kolom

2. Pembesian balok dan slab

1. Pembesian Kolom

A. Flow Chart

V- 8
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

B. Fabrikasi Besi

Proses fabrikasi adalah merupakan tahap pekerjaan pembesian yang pertama

kali, dan merupakan proses perakitan tulangan disuatu tempat yang telah

ditentukan yang meliputi proses pemotongan, pembengkokan dan

penyambungan. Terdapat satu tempat fabrikasi yang terletak di depan kantor.

Peralatan yang digunakan pada saat fabrikasi :

a. Mesin pembengkok besi (bar bender)

Gambar 5.3.2 (a) Bar Bender

b. Mesin pemotong besi (bar cutter)

Gambar 5.3.2 (b) Bar Cutter

V- 9
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

C. Pemasangan tulangan

Dalam pelaksanaan pekerjaan pembesian pada proyek ini, besi-besi tulangan

yang telah datang di lokasi proyek, diletakkan di lokasi penyimpanan yang telah

ditentukan sebagai lokasi fabrikasi besi. Transportasi besi ke tempat yang

diinginkan baik secara vertikal maupun horizontal dapat dipermudah dengan

bantuan tower crane yang telah tersedia di lokasi proyek.

Tahap-tahap pelaksanaan pekerjaan pembesian harus tetap mengacu pada

instruksi yang diberikan, diantaranya membuat dan melaksanakan pekerjaan

pembesian harus sesuai dengan daftar pemotongan dan pembengkokan besi

tulangan yang tidak boleh menyimpang dari gambar kerja yang sesuai dengan

bar banding schedule.

Gambar 5.3.2 (c) Marking Jarak Tulangan Utama dan Sengkang

V- 10
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Gambar 5.3.2 (d) Pemasangan Tulangan Utama dan Sengkang

Gambar 5.3.2 (e) Pemasangan Tulangan Hook

D. Pekerjaan Pengukuran dan Pengecekan

Pekerjaan pengukuran merupakan salah satu proses pengecekan, baik

pengecekan dari sisi penulangan, penempatan beton decking, dimensi kolom dan

tingkat vertikalisasi kolom. Pengukuraan ini dilakukan kontraktor utama,

peralatan yang di gunakan pada pengecekan tersebut meliputi:

1. Lod dan benang

2. Theodolit

3. Meteran.

V- 11
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Marking penentuan sepatu kolom. Dimaksudkan untuk mengetahui jarak

antara tulangan kolom dengan bekisting kolom sebelum dilakukan

pekerjaan bekisting

Gambar 5.3.2 (f) Pekerjaan Pengukuran dan Pengecekan

E. Pekerjaan Pembersihan

Setelah semua pekerjaan telah selesai dan sudah dilakukan pengecekan oleh

pengawas segera dilakukan pembersihan dengan alat bantu kompressor udara.

Hal ini dilakukan agar saat pengecoran tidak terdapat material atau bahan-bahan

yang dapat mengurangi kekuatan beton.

Gambar 5.3.2 (g) Pekerjaan Pembersihan

V- 12
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

2. Pembesian Pelat dan Balok

Pelat dan balok merupakan bagian dari suatu struktur suatu bangunan. Pelat

berfungsi menahan gaya vertikal sedangkan balok sebagai penopang dari pelat

itu sendiri. Tata cara pelaksanaan pekerjaan pelat dan balok adalah sebagai

berikut :

A. Flow Chart

a) Balok

V- 13
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

b) Slab

V- 14
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

B. Pekerjaan Pemasangan Bekisiting

Pada pekerjaan balok dan pelat pertama di lakukan adalah erection material,

pemasangan perancah (scaffolding) yang berguna untuk menahan beban

sementara pada bangunan yang akan di cor setelah dicor sampai umur beton

sudah mencapai 10 hari.

Pada pekerjaan pemasangan perancah dilanjutkan pada pekerjaan pemasangan

bekisting, setelah semua selesai dilakukan pekerjaan perkuatan bekisting.

(h)

(i)

Gambar 5.3.2 (h) Pemasangan Perancah (i) Pemasangan Bekisting

V- 15
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

C. Pekerjaan Pengukuran

Setelah pekerjaan pemasangan perancah bekisting selesai maka dilakukan

pengukuran terhadap elevasi. Pengukuran ini berfungsi sebagai pengecekan

bekisting supaya tetap pada elevasi sesuai gambar shop drawing.

Pengukuraan ini dilakukan kontraktor utama, peralatan yang di gunakan pada

pengecekan tersebut meliputi:

a. Rambu Ukur

b. Theodolit

c. Meteran.

d. Pemukul besi untuk menaik turunkan Jack Base

(j)

(k)

Gambar 5.3.2 (j) Pengukuran Elevasi (k) Proses Setting Jack Base

V- 16
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

D. Fabrikasi Besi

Proses fabrikasi adalah merupakan tahap pekerjaan pembesian yang pertama

kali, dan merupakan proses perakitan tulangan di suatu tempat yang telah

ditentukan yang meliputi proses memotongan, pembengkokan dan

penyambungan. Penentuan tempat fabrikasi ini mengacu pada :

a. Jarak jangkauan Tower crane (TC)

b. Kapasitas tempat fabrikasi.

c. Kemudahan dalam distribusi

Peralatan yang digunakan pada saat fabrikasi :

a. Mesin pembengkok besi (bar bender)

Gambar 5.3.2 (l) Bar Bender

b. Mesin pemotong besi (bar cutter)

Gambar 5.3.2 (m) Bar Cutter

V- 17
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

E. Pemasangan tulangan

Dalam pelaksanaan pekerjaan pembesian pada proyek ini, besi - besi tulangan

yang telah datang di lokasi proyek, diletakkan di lokasi penyimpanan yang telah

ditentukan sebagai lokasi fabrikasi besi. Transportasi besi ke tempat yang

diinginkan baik secara vertikal maupun horizontal dapat dipermudah dengan

bantuan tower crane yang telah tersedia di lokasi proyek.

Tahap-tahap pelaksanaan pekerjaan pembesian harus tetap mengacu pada

instruksi yang diberikan, diantaranya membuat dan melaksanakan pekerjaan

pembesian harus sesuai dengan daftar pemotongan dan pembengkokan besi

tulangan yang tidak boleh menyimpang dari gambar kerja yang sesuai dengan

bar banding schedule.

(n)

(o)

Gambar 5.3.2 (n) Penulangan Balok (o)Penulangan Pelat

V- 18
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

F. Pekerjaan Pembersihan

Setelah semua pekerjaan telah selesai dan sudah dilakukan pengecekan oleh

pengawas segera dilakukan pembersihan dengan alat bantu kompressor udara.

Hal ini dilakukan agar saat pengecoran tidak terdapat material atau bahan-bahan

yang dapat mengurangi kekuatan beton.

Gambar 5.3.2 (p) Proses Pembersihan Pelat dan Balok

5.3.3 Pekerjaan Pengecoran

1. Persiapan

Sebelum memulai pekerjaan pengecoran, semua bagian yang terlibat harus

terlebih dahulu memahami bahwa semua kegiatan yang berhubungan dengan

pekerjaan pengecoran harus didasarkan pada :

a. Spesifikasi

b. Gambar perencanaan

Lingkup pekerjaan pengecoran ini meliputi pengecoran :

a. Kolom

b. Pelat

V- 19
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

c. Balok

A. Penyiapan shop drawing

Untuk memudahkan pelaksanaan dilapangan, maka harus dibuat gambar yang

detail dan lengkap, gambar tersebut disebut gambar pelaksanaan atau shop

drawing. Gambar pelaksanaan harus menggambarkan :

a. Gambar denah, yang menggambarkan dimensi/ukuran balok, kolom serta

notasi penulangannya dan juga elevasi.

b. Gambar potongan harus dapat menginformasikan ukuran, detail

penulangannya, elevasi, mutu beton dan mutu besi yang dipakai.

c. Gambar skematik penulangan harus dapat menginformasikan jenis, jumlah

dan diameter besi serta jarak besi baik besi utama maupun besi sengkang.

Semua gambar pelaksanaan harus mengacu pada gambar perencanaan yang

berstatus for construction spesifikasi dan risalah lelang. Gambar tersebut

harus sudah disetujui pemberi tugas. Sebelum diedarkan ke lapangan serta

gambar yang beredar merupakan gambar dengan revisi terakhir.

B. Mempersiapkan bahan, tenaga kerja dan alat

a) Mempersiapkan bahan

Material yang digunakan harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu

dari pemberi tugas atau konsultan. Jenis material yang perlu

mendapatkan persetujuan adalah sebagai berikut :

Besi tulangan

Beton melalui trial mix / job mix

Mempersiapkan peralatan yang dipakai


V- 20
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

b) Peralatan yang dipakai untuk mengerjakan pekerjaan pengecoran antara

lain :

Gerobak Alat Bekisting

Ember Cor Vibrator

Genset / Penerangan Concrete Bucket

Kerja Air Compressor

Concrete Pump Alat Bantu lainnya.

C. Pelaksanaan pengecoran

1. Test Slump

A. Flow chart

V- 21
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

B. Bahan

Beton yang digunakan untuk pengecoran di lapangan.

C. Tenaga kerja

a) Pekerja

b) Pengawas lapangan / Quality Control.

c) Tenaga Pembersihan.

d) Safety & K3

D. Peralatan

a) Kerucut Abrams

b) Sekop

c) Batang Pemadat / Besi Beton

d) Sendok Semen

e) Mistar pengukur / meteran

f) Plat alas

g) Palu karet

E. Metode pelaksanaan

a) Pembersihan alat-alat kerucut Abrams

b) Ambil adukan beton yang baru saja dikeluarkan dari truk mixer

c) Letakkan alat kerucut diatas pelat

d) Masukkan ke dalam kerucut lebih kurang 1/3 bagian nya lalu

dipadatkan dengan cara ditusuk dengan batang pemadat secara

merata sebanyak 25 kali

V- 22
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

e) Lakukan hal yang sama untuk lapisan kedua dan ketiga, penusukkan

batang pemadat hanya untuk lapisan bersangkutan saja dan tidak

mengenai lapisan sebelumnya .

f) Ratakan permukaan atasnya dengan batang pemadat

g) Selanjutnya diukur penurunan yang terjadi yaitu perbedaan antara

tinggi awal dengan tinggi akhir.Dengan ketentuan slump 14 +/- 2

Gambar 5.3.3 (a) Slump Test 14 +/- 2

2. Penuangan Beton

Untuk mendapatkan hasil beton yang baik maka cara penuangan harus benar-

benar yaitu :

a. Pengecoran dituang langsung dan atau dengan menggunakan concrete

pump.

b. Beton harus dituang vertikal dan sedekat mungkin dengan bagian yang

dicor

c. Beton tidak boleh dituangkan kedalam bekisting dengan jarak yang tinggi

(maksimum 1.50 m) karena akan menagkibatkan segregasi. Apabila tinggi

lebih dari 1.5 m, maka harus memakai concrete pump/ concrete bucket.

V- 23
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

d. Beton tidak boleh dicorkan pada saat hujan lebat tanpa penutup di atasnya,

karena air hujan akan menyebabkan turunnya mutu beton.

3. Pemadatan

Disamping cara penuangan yang benar, cara pemadatan yang benar juga

merupakan faktor penting guna mencapai tujuan pembetonan. Cara pemadatan

dengan vibrator yang benar yaitu :

a. Besarnya kepala vibrator harus disesuaikan dengan jenis struktur beton

yang akan dicor dan jarak antar tulangan terkecil.

b. Vibrator harus dapat dimasukan ke dalam jaringan/anyaman besi beton

dan harus diusahakan sedikit mungkin menempel pada besi. Menggetarkan

besi beton dapat menyebabkan turunnya mutu beton. Dimana terjadi

pengumpulan pasir disekitar besi. Bahkan apabila besi digetarkan terus-

menerus dapat menyebabkan retak atau terjadinya rongga antar besi dan

beton yang telah mengeras rongga ini dapat menyebabkan korosi pada

tulangan.

c. Tidak boleh meletakan kepala vibrator terlalu lama dalam beton karena

akan menyebabkan segregasi dan bleeding terutama untuk beton dengan

slump tinggi. Lama penggetaran cukup antara 10 s/d 15 detik.

d. Kepala vibrator jangan terlalu dekat dengan bekisting, karena apabila

bekisting bergetar akan terbentuk lapisan pasir lepas dan juga dapat

merusakan bekisting. Jarak minimal kebekisting adalah 10 cm.

e. Beton tidak boleh digetarkan berulang-ulang pada tempat yang sama,

karena dapat mengakibatkan rongga-rongga didalam beton.

V- 24
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

f. Vibrator harus dimasukan kedalam beton yang belum terpadatkan secara

tepat dan dicabut pelan-pelan. Kecepatan memasukan vibrator diperlukan

agar tidak sempat terjadi pemadatan awal pada beton lapis atas sehingga

menyulitkan lolosnya udara dan air yang terperangkap di bawahnya.

Sedangkan pencabutan harus dilakukan pelan-pelan untuk memberikan

kesempatan vibrator menyalurkan secara penuh energi pemadatan pada

beton. Kecepatan pencabutan berkisar antara 4cm/dt s/d 8 cm/dt.

g. Lapisan beton harus dicor secara rata sejak permulaan untuk memudahkan

pengaturan sistem pemadatan dengan vibrator.

4. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pengecoran

A. Kolom

I. BAHAN

Concrete Fc 50 MPa

II. TENAGA KERJA

1. Juru ukur / Surveyor

2. Pembantu juru ukur

3. Pekerja

4. Pelaksana Pengecoran

5. Quality control

6. Tenaga pembersihan

7. Safety & K3

III. PERALATAN

1. Alat Ukur : Waterpass, Theodolite, Benang, Roll

V- 25
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

meter, Lot.

2. Alat Kerja Tukang: Sekop, Ember,Alat Perata

3. Alat Test Beton : Cetakan Silinder, Kerucut Abrams

4. Alat Pengecoran : Concrete mixer, Concrete pump, Concrete

Vibrator, Talang Cor, Compressor

5. Perlengkapan : Lampu, Selang, Palu besi 8 kg dan palu

besi 1 kg

IV. METODE PELAKSANAAN

1. Pekerjaan persiapan

a. Mempelajari shop drawing

b. Mempelajari tenaga kerja, alat kerja dan bahan yang

akan diperlukan.

2. Pelaksanaan

a. Lokasi Pengecoran kemudian dibersihkan kotoran

kotoran terlebih dahulu menggunakan air compressor

b. Membuat campuran beton sesuai dengan mutu yang

disyaratkan

c. Test slump dengan kerucut Abrams oleh tim pengawas

lapangan

d. Pembuatan silinder beton sebanyak 5 buah dan satu

untuk cadangan

e. Pengecoran pelat lantai dilakukan menggunakan

concret bucket. Beton yang akan dituang harus

V- 26
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

ditempatkan sedekat mungkin pada lokasi pengecoran

dalam posisi lapisan horizontal, kira-kira setinggi 30

cm

f. Selama pengecoran dilakukan pemadatan

menggunakan vibrator untuk mencegah timbulnya

rongga-rongga kosong dan beton yang keropos.

g. Setelah beton dituangkan ke lokasi pengecoran, beton

disebarkan pada sebagian area pelat lantai dan

kemudian permukaan pelar lantai diratakan, setelah

diratakan permukaan pelat lantai kemudian dihaluskan.

h. Selesai Pengecoran harus diadakan perawatan beton

(curing) dengan cara curing compound dengan bahan

sika.

Gambar5.3.3 (b) Pengecoran Kolom

V- 27
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

B. Pelat dan Balok

Flow chart

V- 28
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

I. BAHAN

Concrete Fc 35 MPa

II. TENAGA KERJA

1. Juru ukur / Surveyor

2. Pembantu juru ukur

3. Pekerja

4. Pelaksana Pengecoran

5. Quality control

6. Tenaga pembersihan

7. Safety & K3

III. PERALATAN

1. Alat Ukur : Waterpass, Theodolite, Benang, Roll

meter, Lot.

2. Alat Kerja Tukang : Sekop, Ember,Alat Perata

3. Alat Test Beton : Cetakan Silinder, Kerucut Abrams

4. Alat Pengecoran : Concrete mixer, Concrete pump, Concrete

Vibrator, Talang Cor, Compressor

5. Perlengkapan : Lampu, Selang, Palu besi 8 kg dan palu

besi 1 kg

IV. METODE PELAKSANAAN

1. Pekerjaan persiapan

a. Mempelajari shop drawing

V- 29
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

b. Mempelajari tenaga kerja, alat kerja dan bahan yang akan

diperlukan.

2. Pelaksanaan

a. Lokasi Pengecoran kemudian dibersihkan kotoran kotoran

terlebih dahulu menggunakan air compressor

b. Membuat campuran beton sesuai dengan mutu yang

disyaratkan

c. Test slump dengan kerucut Abrams oleh tim pengawas

lapangan

d. Pembuatan silinder beton sebanyak 4 buah

e. Pengecoran pelat lantai dilakukan menggunakan concrete

pump. Beton yang akan dituang harus ditempatkan sedekat

mungkin pada lokasi pengecoran dalam posisi lapisan

horizontal, kira-kira setinggi 30 cm

f. Selama pengecoran dilakukan pemadatan menggunakan

vibrator untuk mencegah timbulnya rongga-rongga kosong

dan beton yang keropos.

g. Setelah beton dituangkan ke lokasi pengecoran, beton

disebarkan pada sebagian area pelat lantai dan kemudian

permukaan pelar lantai diratakan, setelah diratakan

permukaan pelat lantai kemudian dihaluskan.

h. Selesai pengecoran harus diadakan perawatan beton

(curing) dengan cara pemberian air sebanyak dua kali.

V- 30
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

Gambar 5.3.3 (c) Pengecoran Pelat dan Balok

5. Pembukaan Bekisting

Cetakan beton baru boleh dibuka setelah beton mengeras. Beton biasa dianggap

mengeras apabila sudah mencapai kurang 70% dari kekuatan karateristiknya,

yaitu umumnya 7 hari setelah pengecoran dilaksanakan. Setelah umur 7 hari

tersebut, panel-panel bekisting balok sudah boleh dibuka, namun scaffolding

masih harus dipasang, yang berarti bekisting untuk pelat lantai, balok, masih

belum dibuka. Baru setelah 21 hari atau 2 lantai berada diatasnya, yang sudah

mencapai sekitar 90% dari kekuatan karateristiknya.

1. Bongkar Bekisting Kolom & Wall 12 Jam setelah pengecoran.

2. Bongkar Bekisting Balok 10 Hari setelah pengecoran.

3. Bongkar Bekisting Pelat 5 Hari setelah pengecoran

6. Perawatan Curing

Perawatan beton dapat diartikan semua kegiatan yang bertujuan agar struktur

tetap memenuhi atau mempunyai keadaan yang baik. Pada hari-hari pertama

selama 2 x 24 jam setelah selesai pengecoran, proses pengerasan tidak boleh

terganggu terutama oleh getaran-getaran, lantai tidak boleh digunakan untuk

V- 31
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

penimbunan bahan/ barang ataupun untuk melakukan kegiatan kerja dengan

beban berat. Selain itu, permukaan beton yang masih basah harus dijaga dan

dilindungi dari air hujan yang dapat menyebabkan terbukanya permukaan yang

masih lunak.Untuk mencegah terjadinya kekurangan air yang diperlukan untuk

pengerasan beton permukaan beton harus disiram air. Hal ini dilakukan untuk

mencegah penguapan air yang berlebihan yang dapat menyebabkan penyusutan

yang besar sehingga dapat mengurangi kekuatan beton dan menimbulkan retak-

retak.

1. Metode kerja curing kolom

I. BAHAN

1. Air Compon ( antisol)

Gambar 5.3.3 (d) Antisol

II. TENAGA KERJA

1. Pekerja

2. Quality control

3. Pelaksana Pengecoran

4. Tenaga pembersihan

5. Safety & K3

III. PERALATAN

V- 32
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

1. Rol

IV. METODE PELAKSANAAN

1. Mempersiapkan tenaga kerja, alat kerja, dan bahan yang akan

diperlukan.

2. Curring beton dilakukan setelah bongkar bekisting

3. Proses curing beton kolom dilaksanakan dengan antisol

4. Proses curing ini dilakukan 2 kali dalam satu hari

Gambar 5.3.3 (e) Proses Curing Kolom

2. Metode kerja curing balok dan pelat

I. BAHAN

1. Air

II. TENAGA KERJA

1. Pekerja

2. Quality Control

3. Pelaksana Pengecoran

V- 33
Bab V Metode Pelaksanaan Pekerjaan

4. Tenaga Pembersihan

5. Safety & K3

III. PERALATAN

1. Selang

2. Pompa

IV. METODE PELAKSANAAN

1. Mempersiapkan tenaga kerja, alat kerja, dan bahan yang

akan diperlukan.

2. Curing beton dilakukan setelah beton setting

3. Proses Curing beton plat dan balok dilaksanakan secara

teratur dengan cara penyiraman air compon dipermukaan

beton selama 2 hari.

4. Jika terjadi hujan maka tidak perlu dilakukan pekerjaan

penyiraman beton plat dan balok.

Gambar 5.3.3 (f) Proses Curing Pada Pelat dan Balok

V- 34