Anda di halaman 1dari 7

Simetidin dalam percobaan ini berfungsi sebagai inhibitor enzim.

Akibat dari penggunaan


simetidin sebagai inhibitor enzim pemetabolisme adalah metabolisme senyawa-senyawa eksogen
seperti pentobarbital lebih lama waktunya. Hal ini ditandai dengan waktu durasi yang
berlangsung lebih lama dibandingkan dengan waktu durasi dari penggunaan pentobarbital yang
tanpa disertai dengan penggunaan simetidin. Dengan demikian waktu durasi dipengaruhi oleh
proses metabolisme dari suatu senyawa eksogen, sedangkan proses metabolism dari suatu
senyawa eksogen dipengaruhi oleh ada/tidaknya inhibitor maupun induktor terhadap senyawa
tersebut. Hasil percobaan menunjukkan bahwa:

1. Pada mencit 1 yang diberi simetidin dengan dosis 80 mg/kgBB secara per oral satu jam
sebelumnya dan diberi pentobarbital dengan dosis 60 mg/kg BB secara intraperitonial.
Data yang di dapatkan adalah pada kelompok 3 tidak didapatkan durasi karena mencit
yang disuntikan pentobarbital mati. Hal ini dapat disebabkan karena saat pemberian intra
peritoneal kemungkinan obat masuk ke saluran ekskresi karena terlihat mencit tersebut
terus-menerus urinasi. Untuk mencit pada kelompok 1, 2, 4 di dapatkan durasi yang
relative sama. Durasi yang diperoleh lebih singkat dari mencit 2 (kontrol). Secara teori,
durasi mencit 1 lebih panjang daripada mencit 2 karena simetidin sebagai inhibitor enzim
yang memetabolisme pentobarbital sehingga proses metabolism terhambat dan ekskresi
menjadi lebih lama dan waktu paruh juga menjadi lebih panjang, hal ini sudah sesuai
dengan teori sebagaimana yang sudah di jelaskan. Maka hasil yang didapat pada
praktikum ini tidak sesuai teori.
2. Pada mencit 2 yang digunakan sebagai kontrol, onset yang didapatkan kelompok 2 ,
kelompok 3 dan 4 relatif sama tetapi kelompok 1 relatif lebih lama. Hal ini dapat
disebabkan oleh banyak factor. Diantaranya fungsi hati, usia, dan factor genetika dapat
mempengaruhi biotransformasi setiap mencit yang berbeda. Sebagaimana yang telah
dijelaskan dalam dasar teori. Sementara untuk durasi yang didapat dari kelompok 1, 2, 3,
4 relatif sama.
3. Pada mencit 3 yang diberi fenobarbital tiga hari sebelumnya tiap 24 jam dan diberi
pentobarbital dengan dosis 60 mg/kg BB, didapatkan data onset yang relatif sama,
kecuali untuk kelompok 3 dengan onset yang paling panjang. Sementara untuk data
durasi didapat hasil yang relatif berjauhan, dengan durasi kelompok 1 yang paling
panjang. Durasi dari mencit 3 jauh lebih singkat daripada mencit 2 (kontrol), karena
fenobarbital menginduksi enzim yang memetabolisme obat pentobarbital sehingga
metabolisme lebih cepat dan ekskresi lebih cepat sehingga T1/2 menjadi lebih pendek dan
memberi efek tidur (durasi) yang relative pendek.

Data tidak sesuai dengan teori ini dapat disebabkan oleh:

1. Dosis simetidin yang diabsorbsi lebih sedikit. Pemberian simetidin dilakukan secara
peroral sehingga obat ini akan melalui rute yang panjang sebelum mencapai tempat
aksinya. Pengrusakan obat oleh enzim-enzim pencernaan dan terjadinya first pass
effect akan semakin mengurangi dosis obat yang mencapai tempat aksinya.
2. Cara pemberian obat secara p.o merupakan cara yang tidak nyaman, karna obat
diberikan dengan menggunakn jarum tumpul dan disemprotkan melalui keronkongan
mencit, sehingga ada beberapa mencit yang memuntahkan kembali obat yang
diberikan. Hal ini menyebabkan molekul simetidin tidak cukup banyak untuk dapat
bersaing dengan molekul pentobarbital dalam berkaitan dengan sitokrom P-450
melalui mekanisme inhibisi kompetitif.

Dengan membandingkan onset dan durasi dari masing-masing kelompok mencit, maka
dikatakan bahwa baik senyawa inhibitor maupun senyawa induktor hanya berpengaruh
pada durasi, dimana senyawa inhibitor akan memperpanjang durasi, Karena menghambat
proses metabolism pentobarbital, sedangkan senyawa induktor akan memperpendek
durasi Karena laju metabolism meningkat. Onset tidak dipengaruhi oleh senyawa
induktor dan inhibitor, Karena senyawa induktor dan inhibitor tidak mempengaruhi laju
absorbs melainkan hanya mempengaruhi laju metabolisme.

Uji Anova
a Deskriptif data secaralengkpaseperti mean, standardeviasi, standar error,
danrentangkadar.
b Uji ANOVA dilakukanuntukmengetahuiapakahkeempatcarapemberianmemiliki rata-
rata (Mean) yang sama.Jikatarafsignifikansinya> 0,05, maka data
tidakberbedasiginifikan, sedangkanjikatarafsignifikannya< 0,05, maka data
berbedasignifikan. Berdasarkan hasil percobaan, untuk onset taraf signifikansinya
0,599 (> 0,05). Berarti onset tidak dipengaruhi oleh metabolisme, atau dengan kata
lain enzim pemetabolisme tidak mempengaruhi onset. Hal ini sesuai dengan teori,
dimana enzim pemetabolisme yang dipengaruhi oleh pemberian beberapa senyawa
kimia tidak akan memberikan efek yang signifikan pada onset. Sedangkan pada data
durasi, taraf signifikansinya 0,031 (<0,05) artinya data berbeda signifikan, sehingga
durasi dipengaruhi oleh metabolisme. Hal ini sesuai dengan teori, bahwa dengan
adanya penambahan beberapa senyawa kimia akan mempengaruhi enzim-enzim
pemetabolisme obat dengan efek memperpanjang durasi atau memperpendek durasi.

Post Hoc Tests


Multiple Comparisons

Scheffe

Mean 95% Confidence Interval

Dependen Difference Std. Lower Upper


t Variable (I) Mencit (J) Mencit (I-J) Error Sig. Bound Bound

Onset kontrol fenobarbita


-68.500 97.349 .767 -340.30 203.30
l

simetidin 30.500 97.349 .948 -241.30 302.30

fenobarbita kontrol 68.500 97.349 .767 -203.30 340.30


l simetidin 99.000 97.349 .585 -172.80 370.80

simetidin kontrol -30.500 97.349 .948 -302.30 241.30

fenobarbita
-99.000 97.349 .585 -370.80 172.80
l

Durasi kontrol fenobarbita


-68.500* 97.349 .786 -352.54 215.54
l

simetidin 30.500 97.349 .952 -253.54 314.54

fenobarbita kontrol 68.500* 97.349 .786 -215.54 352.54


l simetidin 99.000 97.349 .613 -185.04 383.04

Simetidin kontrol -30.500 97.349 .952 -314.54 253.54

fenobarbita
-99.000 97.349 .613 -383.04 185.04
l

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.


Post Hoc Test

Test ini memperlihatkan letak perbedaan yang terjadi yang ditunjukkan dengan
tanda (*) pada kolom Mean Difference, jika ada tanda (*) menunjukkan adanya
perbedaan signifikan.
Hipotesis : H0 = keempat populasi varians identik, tidak signifikan
H1= keempat varians populasi tidak identik, signifikan
Pengambilan keputusan:
Jika probabilitasnya > 0,05 maka H0 diterima
Jika probabilitasnya < 0,05 maka H1 diterima
Dari hasil Tukey HSD Multiple Comparisons didapatkan :
kontrol
Pada onset kontrol dibandingkan efek pemberian fenobartbital dan simetidin
tidak terdapat perbedaan signifikan karena semua taraf signifikansinya (0,7670
dan,948) > 0,05. Karena probabilitasnya > 0,05 maka H0 diterima.
Pada durasi terdapat tidak perbedaan signifikan dengan adanya pemberian
fenobarbital dan simetidin taraf signifikansi masing-masing (0,786 dan 0,952) >
0.05 sehingga H0 diterima.
fenobarbital
Pada onset fenobarbital tidak terdapat perbedaan signifikan dengan kontrol dan
simetidin taraf signifikansi masing-masing (0,767 dan 0,585) > 0,05 sehingga H0
diterima.
Pada durasi tidak ada perbedaan signifikan dengan kontrol dan pemberian
simetidin probabilitasnya (0,786 dan 0,613) > 0,05 sehingga H0 diterima.
simetidin
Pada onset simetidin tidak terdapat perbedaan signifikan dengan kontrol dan
fenobarbital taraf signifikansinya (0,948 dan 0,585) > 0,05, sehingga H0 diterima.
Pada durasi tidak terdapat perbedaan signifikan dengan kontrol dan pemberian
fenobarbital probabilitasnya (0,952 dan 0,613). karena probabilitasnya > 0,05
maka H0 diterima.
Pada durasi digunakan uji Kruskal Wallis (non parametrik) dikarenakan data
yang membentuk kurva tidak normal, sedangkan pada onset digunakan uji anova
dikarenakan data membentuk kurva normal

Dari seluruh percobaan yang dilakukan, dapat diamati hal-hal sebagai berikut :

a. Pada penyuntikkan Pentobarbital, mula-mula timbul Hiperalgesi diikuti


analgesi bila dosis terus ditingkatkan. Akibatnya akan timbul gejala kejang-
kejang pada mencit. Gejala ini merupakan tahap eksitasi pada pemberian obat,
dimana mencit tampak gelisah, kecepatan dan volume napas tidak beraturan.
Selain itu, mencit mengalami depresi otot jantung. Terjadi pula depresi
pernapasan yang diikuti dengan udema paru-paru, sehingga badan mencit
tampak membesar. Semua gejala tersebut merupakan efek samping
Pentobarbital.
b. Mencit sering buang air besar dan mengeluarkan urine. Pentobarbital pusat
kerja sebagian diperifer dan sebagian di pusat, tergantung dosisnya. Obat ini
cenderung mempercepat tonus otot usus dan mempercepat amplitude gerakan
kontraksinya. Dosis hipnotik mempercepat waktu pengosongan lambung.
Seringnya mencit mengeluarkan urine disebabkan efek Pentobarbital terhadap
ginjal yang merupakan organ esksresi utama. Olliguri dapat terjadi akibat
keracunan akut barbiturate.
Metabolisme dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu :
1. Metabolisme Presistemik
Obat yang diberikan per oral bila obat melintasi dinding usus kecil dan
melalui hati (sirkulasi portal) akan mengalami metabolisme sebelum
mencapai jantung dan selanjutnya mengalami sirkulasi sistemik.
Metabolism obat presistemik sangat berpengaruh terhadap ketersediaan
hayati obat, seperti Isoprenalin, Propanolol, Imipramin, dan Lignokain.
2. Bentuk stereoisomer
Obat yang mempunyai bentuk isomer mengalami rute dan kecepatan
metabolism. Obat dapat berbeda diantara bentuk-bentuk isomernya,
misalkan Heksobarbital dan Warfarin akan mengalami metabolisme yang
lebih cepat daripada bentuk isomernya.
3. Metabolisme tergantung dosis
Metabolisme obat merupakan suatu fraksi obat yang tetap dan mengalami
metabolisme dalam satuan waktu. Bebeapa dosis terapi suatu obat
mengakibatkan penjenuhan kadar enzim metabolisme.
4. Umur
Waktu paruh beberapa obat bayi adalah lebih lama dibandingkan pada
orang dewasa. Hal ini disebabkan pada bayi yang baru lahir kekurangan
enzim microsomal termasuk sitokrom P-450 dan UDP-Glukuronil-
transferase. Oleh karena itu obat memiliki waktu yang lama dan kuat serta
reaksi yang berlawanan dapat pula baik.
5. Inhibisi dan Induksi Metabolisme
Adanya interaksi bersaing dua substrat untuk enzim menimbulkan
hambatan enzim memetabolisme obat. Efek keseluruhan interaksi
tergantung pada kadar relatif dari dua macam substrat dan afinitasnya pada
letak aktifnya.

Kesimpulan :

1. Obat yang digunakan pada praktikum ini adalah pentobarbital sebagai variable
tetap, simetidin dan fenobarbital sebagai variable bebas.
2. Aktifitas pentobarbital dipengaruhi oleh adanya induktor dan inhibitor
3. Adanya suatu indicator menyebabkan durasi obat menjadi lebih singkat,
sebaliknya adanya inhibitor menyebabkan durasi obat menjadi lebih lama.
4. Uji ANOVA untuk waktu durasi dan onset dari obat berdasarkan tiap
kelompok memiliki perbedaan yang tidak signifikan.
5. Onset tidak dipengaruhi oleh adanya suatu inhibitor dan induktor enzim
pemetabolisme obat.