Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan tidak berdaya. Menurut teori John

Locke di abad 17 yang dikenal dengan istilah tabula rasa, menjelaskan bahwa setiap

manusia yang terlahir didunia bagaikan kertas putih yang masih kosong. Dan kertas

kosong tersebut diisi oleh pengalaman. Kertas kosong tersebut dapat diartikan sebagai

perilaku seorang anak. Perilaku seorang anak di pengaruhi oleh beberapa faktor. Dan

faktor yang paling mempengaruhi adalah keluarga, terutama pola asuh orang tua.

Karena seorang anak memperoleh pengalaman dan pendidikan pertama kali dalam

lingkup keluarga. Dan orang tua memiliki kendali terbesar dalam mengisi dan

menulis kertas putih tersebut. Artinya peran orang tua sangat berpengaruh pada

pembentukan perilaku seorang anak.

Maka dari itu, penelitian ini akan membahas tentang pengaruh pola asuh

keluarga terhadap perilaku anak.

1.2

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian perilaku?


2

2. Apakah pengertian pola asuh?


3. Apa sajakah jenis-jenis pola asuh?
4. Bagaimana pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku anak?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian

Adapun maksud dari penelitian ini adalah sebagai referensi mengenai

pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku anak.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pengertian perilaku?


2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pengertian pola asuh?
3. Untuk mengetahui apa sajakah jenis-jenis pola asuh?
4. Untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku anak?
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Kegunaan Akademik
Dari segi kegunaan akademik, hasil penelitian ini diharapkan pembaca

maupun penulis dapat memperluas wawasan mengenai pengaruh pola asuh

orang tua terhadap anak.

1.4.2 Kegunaan Praktis


Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi mahasiswa, diharapkan sebagai referensi untuk lebih memahami

mengenai pengaruh pola asuh orang tua terhadap perilaku anak.


2. Bagi Lembaga, hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan dasar untuk

penelitian selanjutnya
3. Bagi peneliti, diharapkan dapat menjadi bahan untuk memperluas wawasan

dalam bidang pengembangan perilaku anak.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN PERILAKU

Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta

interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan,

sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang

individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon

ini dapat bersifat pasif, tanpa tindakan seperti berpikir, berpendapat, pengetahuan,

persepsi ataupun motivasi. Dan dapat juga bersifat aktif, melakukan tindakan, seperti

berjalan dan melakukan suatu hal atau kegiatan.

Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan

bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau

rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus

terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner

ini disebut teori S-O-R atau Stimulus Organisme Respon.

Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang

diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo,

2003).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah sebuah respon dari manusia

terhadap stimulus yang ada yang kemudian memunculkan suatu kegiatan.

3
4

2.2 PENGERTIAN POLA ASUH

2.3 Secara etimologi, pola berarti bentuk, tata cara, sedangkan asuh

berarti menjaga, merawat dan mendidik. Sehingga pola asuh berarti bentuk

atau system dalam menjaga, merawat dan mendidik. Jika ditinjau dari

terminology, pola asuh anak adalah suatu pola atau system yang diterapkan

dalam menjaga, merawat, dan mendidik seorang anak yang bersifat relative

konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak

dari segi negative atau positif. Seperti contohnya kebiasaan-kebiasaan yang

diajarkan orang tua kepada anaknya.


2.4 Menurut Kohn, pola asuh merupakan sikap orang tua dalam

berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua

memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orang tua

menunjukkan otoritasnya, dan cara orang tua memberikan perhatian serta

tanggapan terhadap anaknya.


2.5 M. Shochib (1998: 14) mengatakan bahwa pola pertemuan

antara orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai terdidik dengan maksud

bahwa orang tua mengarahkan anaknya sesuai dengan tujuannya, yaitu

membantu anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.

Orang tua dengan anaknya sebagai pribadi dan sebagai pendidik, dapat

menyingkap pola asuh orang tua dalam mengembangkan disiplin diri anak

yang tersirat dalam situasi dan kondisi yang bersangkutan.


2.6 Jadi, dapat disimpulkan bahwa pola asuh adalah sebuah cara

orang tua dalam berinteraksi dengan anaknya yang tujuannya memberikan


5

penjagaan, perawatan, pendidikan, dan pembimbingan yang diberikan dalam

intensitas waktu yang cukup konstan dengan maksud mengarahkan anak

sesuai dengan tujuan yang diharapkan orang tua.

2.7 JENIS-JENIS POLA ASUH

2.8 Menurut Hurlock juga Hardy & Heyes pola asuh orang tua

terdiri dari beberapa jenis yaitu: (1) Pola asuh otoriter, (2) Pola asuh

demokratis, dan (3) Pola asuh permisif.

1. Pola Asuh Otoriter

2.9 Pola asuh otoriter adalah pola asuh dimana orangtua

memaksakan anak untuk selalu memenuhi apa yang orang tua harapkan dan

inginkan. Dan orangtua memasang beberapa peraturan dimana anak tersebut

wajib menaati peraturan tersebut dan akan memberi hukuman atau ancaman

apabila sang anak melanggarnya atau tidak mematuhi hukuman tersebut.

Misalnya saat sang anak tidak tidur siang, maka orangtua akan marah dan

tidak memberikan uang jajan.


2.10 Pola asuh otoriter mempunyai ciri orangtua membuat semua

keputusan, anak harus tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya. Kekuasaan

orangtua dominan, Anak tidak diakui sebagai pribadi, Kontrol terhadap

tingkah laku anak sangat ketat, membatasi perilaku kasih sayang, sentuhan,

dan kelekatan emosi orangtua anak sehingga antara orang tua dan anak

seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan si otoriter (orang tua)


6

dengan si patuh (anak). Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah,

1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan tingkat

kenakalan keluarga, di mana keluarga yang broken home, kurangnya

kebersamaan dan interaksi antar keluarga, dan orang tua yang otoriter

cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. Pada akhirnya, hal ini akan

berpengaruh terhadap kualitas karakter anak dan perilaku keseharian sang

anak.
2.11 Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang

penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, kurang

tanggungjawab, tidak mandiri suka melanggar norma, berkepribadian lemah,

cemas dan menarik diri. Menurut Senada dengan Hurlock, Dariyo dalam

Anisa (2005), menyebutkan bahwa anak yang dididik dalam pola asuh

otoriter, cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.

2. Pola Asuh Demokratis

2.12 Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan

kepentingan anak, namun orangtua juga masih tetap mengendalikan dan

mengontrol anak. Orang tua tipe ini juga bersikap hangat, memposisikan diri

seperti teman untuk sang anak, realistis terhadap kemampuan anak, menerima

apa adanya anak dan tidak berharap yang berlebihan yang melampaui

kemampuan anak serta memberikan kebebasan pada anak untuk memilih dan

melakukan suatu tindakan. Selalu mendorong anak untuk membicarakan apa


7

yang ia inginkan, dan orangtua selalu memberikan dorongan dan bimbingan,

menunjukan mana yang baik dan mana yang buruk.


2.13 Anak yang diasuh dengan pola asuh demokratis akan

menghasilkan karakter anak-anak yang mandiri, dapat mengontrol diri,

mempunyai hubungan baik dengan teman-temannya, mampu menghadapi

stres, mempunai minat terhadap hal-hal yang baru, dan kooperatif terhadap

oranglain. Dan cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-

tindakan konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara

saja.

3. Pola Asuh Permisif

2.14 Hurlock (2006) mengemukakan bahwa orang tua yang

menerapkan pola asuh permissif memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:

orang tua cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak tanpa ada

batasan dan aturan dari orang tua, tidak adanya hadiah ataupun pujian meski

anak berperilaku sosial baik, tidak adanya hukuman meski anak melanggar

peraturan.
2.15 Prasetya dalam Anisa (2005) menjelaskan bahwa pola asuh

permisif atau biasa disebut pola asuh penelantar yaitu di mana orang tua

lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri, perkembangan kepribadian

anak terabaikan, dan orang tua tidak mengetahui apa dan bagaimana kegiatan

anak sehari-harinya.
2.16 Dariyo dalam Anisa (2005) juga menambahkan bahwa pola

asuh permissif yang diterapkan orang tua, dapat menjadikan anak kurang
8

disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Namun bila anak mampu

menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab, maka dapat menjadi

seorang yang mandiri, kreatif, dan mampu mewujudkan aktualitasnya.


2.17 Jadi, dapat disimpulkan bahwa pola asuh permissive

merupakan bentuk pengasuhan dimana orang tua memberikan kebebasan

sebanyak mungkin pada anak untuk mengatur dirinya.


2.18

2.19 PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERILAKU

2.20 Pola asuh orangtua sangat berpengaruh bagi perilaku anak

dimasa kecil yang akan terus dibawa hingga anak tersebut dewasa. Dan

diantar ketiga tersebut memang paling baik adalah pola asuh demokrasi. Pola

asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak.

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang

menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung

perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab.


2.21 Namun, sebaiknya kita dapat mengkombinasikan ketiga pola

asuh tersebut dengan disesuaian pada situasi dan kondisi yang ada. Misalnya

saat sang anak ingin melakukan hal-hal yang buruk, orangtua harus bisa

melarang dengan tegas atau dengan menggunakan pola asuh otoriter, namun

juga harus tetap diberikan pengertian alasan kenapa hal tersebut dilarang. Dan

juga cara penyampaian larangan harus dengan kata-kata yang halus dan bisa

diterima oleh nalar sang anak.


9

2.22
2.23 BAB III

2.24 METODE PENELITIAN

2.25

3.1 Metode Penelitian

2.26 Secara umum metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah

untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sugiyono (2011: 6)

berpendapat bahwa:

2.27 Metode penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai cara ilmiah


untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan,
dikembangkan, dan dibuktikan suatu pengetahuan tertentu sehingga pada
gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahan dan mengantisipasi
masalah dalam bidang pendidikan.

2.28 Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Tahap

pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan kuisioner yang selanjutnya

dianalisis dan dikembangkan menjadi sebuah argument.

3.2 Operasional Variabel

2.29 Dalam penelitian ini terdapat definisi operasional yang digunakan,

untuk memberikan batasan dan ruang lingkup agar tidak terdapat salah penafsiran

dalam penggunaannya. Adapun definisi operasional yang digunakan pada skripsi ini

adalah sebagai berikut: (1) pola asuh, (2) perilaku anak.

2.30

10
11

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

3.4 Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2013 hal 117).

Adapun populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Psikologi

Universitas Islam Bandung (UNISBA) angkatan 2016 kelas D dengan jumlah 49

orang.

3.3.2 Sampel

3.5 Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut. Dengan mengambil taraf kesalahan 5%, dengan menggunakan table

penentuan jumlah sampel (Sugiyono, 2013, hal 128) untuk jumlah populasi 50 orang,

maka diambil sampel 44 orang. Dari data tersebut maka dalam penelitian ini diambil

sampel 44 orang.

3.6 Validitas dan Reliabilitas

3.7 Validitas dan Reliabilitas diujikan untuk mengetahui apakah alat uji

yang dipergunakan dapat dipertanggung jawabkan atau tidak. Sehingga alat uji yang
12

digunakan layak untuk digunakan di lapangan. Sehingga data yang didapatkan dapat

diperoleh dengan sebaik mungkin.

3.8 Teknik Analisis

3.9 Teknik analisis yang digunakan dalam penelitain ini, yaitu dengan

menggunakan proses analisis data terlebih dahulu, dari hasil yang didapatkan

dilakukan penelitian ke lapangan, selanjutnya data hasil lapangan diolah dan

dikembangkan kembali menjadi sebuah argument.

3.10 Jadwal Penelitian

3.11 Adapun jadwal penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

3.12 Tabel 3.1 Waktu Penelitian


3.14 Waktu Penelitian

3.18
Febr
3.16 u
3.13 3.20
Januari ar
Tahap Maret,
, i,
Peneli 3.21
3.17 3.19
tian pekan
pekan peka
ke-
ke- n
k
e-
3.233.243.253.263.273.283.293.303.313.323.333.343.353.36
3.37 3.46 3.51
3.383.393.403.413.423.433.443.45 3.473.483.493.50
Persiapan
3.52 3.61 3.66
Pelaksana 3.533.543.553.563.573.583.593.60 3.623.633.643.65
an
3.67 3.683.693.703.713.723.733.743.753.763.773.783.793.803.81
13

Akhir
3.82

3.83
3.84 DAFTAR PUSTAKA

3.85

3.86

3.87 Angga, Aditya. 2012. Pengertian dan Ciri-ciri Struktur Sosial. Artikel.

Diakses dari http://sosiologika.blogspot.com pada tanggal 29 Desember 2016.

3.88 Fikri, Ahmad. 2013. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Anak.

Artikel. Diakses dari https://ahmadfikriand.wordpress.com pada tanggal 29

Desember 2016.

3.89 Hurlock, Elisabeth. 2006. Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Jakarta :

Erlangga

3.90 Hurlock, Elisabeth. 1999. Psikologi perkembangan Jilid 2. Jakarta: Erlangga

3.91 Ipah. 2011. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Anak. Artikel.

Diakses dari http://apahipeh.blog.fisip.uns.ac.id pada tanggal 29 Desember

2016.

3.92 Munib, Achmad. Dkk. 2010. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Ennes

Press

3.93 Saputra, Chaderi. 2012. Pola Asuh. Artikel. Diakses

darihttps://chaderinsaputra.wordpress.com pada tanggal 29 Desember 2016.

3.94 Sarlito Wirawan. (2010). Pola Asuh (www.sarlito.net.ms)

3.95 Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

3.96

14