Anda di halaman 1dari 18

KOMUNIKASI KEPERAWATAN DENGAN PASIEN

BERKEBUTUHAN KHUSUS

KATA PENGANTA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat,

Hidayah, dan Inayah kepada penulis sehingga dapat disusun dan diselesaikannya karya tulis

ilmiah ini yang berjudul KOMUNIKASI KEPERAWATAN DENGAN PASIEN BERKEBUTUHAN KHUSUS.

Dalam penyusunan, kami mendapatkan banyak masukan, pengarahan dan bantuan dari

berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih

kepada yang terhormat :

1. Helda Puspitasari

Kami menyadari bahwa penyusunan proposal ini jauh dari sempurna, maka dengan

segala kerendahan hati penulis mengharapakan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi

kesempurnaan proposal ini. Oleh karena itu demi kesempurnaan, kami mengharapkan adanya

saran dan kritik dari semua pihak.

Akhirnya kami berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Brebes, September 2016

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

BAB1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ......................................................................... 01

1.2. Rumusan Masalah .................................................................... 02

1.3. Tujuan ...................................................................................... 02

1.4. Manfaat .................................................................................... 02

BAB 2 TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian Komunikasi .......................................................... 03

2.2. Pengertian Lansia ................................................................... 03

2.3. Komunikasi Dengan Lansia ................................................... 04

2.4. Kendala dan Hambatan Bila Berkomunikasi Dengan Lansia. 06

2.5. Ketrampilan Komunikasi Teraupetik Pada Lansia.................. 08

2.6. Prinsip-Prinsip Etik Pelayanan Kesehatan Pada Lansia.......... 09

2.7. Peengertian Gangguan Jiwa.................................................... 11

2.8. Komunikasi Dengan Gangguan Jiwa...................................... 13

2.9. Prinsip-Prinsip Etik Pelayanan Kesehatan Pada Pasien Gangguan Jiwa 15

BAB 3 PENUTUP

3.1. Kesimpulan ........................................................................... 20

3.2. Saran ...................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA 22
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang

untuk menetapkan, mempertahankan dan meningkatkan kontrak dengan orang lain karena

komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bahwa

komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang

melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi dengan orang

lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa yang terus berlangsung

secara dinamis yang maknanya dipacu dan ditransmisikan. Untuk memperbaiki interpretasi

pasien terhadap pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan mengurangi kebisingan dan

distraksi. Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk menyampaikan pesan karena

arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada kesulitan dalam mengorganisasi dan

mengekspresikan pikiran. Instruksi yang berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk

mengingatkan pasien dan sering sangat membantu.


Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan perubahan verbal dan non

verbal dari informasi dan ide. Komunikasi mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada

perasaan dan emosi di mana individu menyampaikan hubungan ( Potter-Perry, 301 ).

Komunikasi pada lansia dan pasien gangguan jiwa membutuhkan perhatian khusus. Perawat

harus waspada terhadap perubahan fisik, psikologi, emosi, dan sosial yang mempengaruhi pola

komunikasi. Perubahan yang berhubungan dengan umur dalam sistem auditoris dapat

mengakibatkan kerusakan pada pendengaran. Perubahan pada telinga bagian dalam dan telinga

mengalangi proses pendengaran pada lansia sehingga tidak toleran terhadap suara. Berdasarkan
halhal tersebut kami menulis makalah ini yang berjudul KOMUNIKASI KEPERAWATAN

DENGAN PASIEN BERKEBUTUHAN KHUSUS.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana cara berkomunikasi pada pasien lansia dan pada pasien dengan gangguan jiwa ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui cara berkomunikasi pada pasien lansia dan pada pasien dengan gangguan jiwa.

1.4 Manfaat

1. Digunakan sebagai buku bacaan di perpustakaan agar bisa bermanfaat bagi para pembaca.
2. Perawat lebih memahami tentang pengaplikasian praktik keperawatan di masyarakat
3. Sebagai ilmu pengetahuan tentang praktik keperawatan.
4. Lebih tahu, tentang isi dari paraktik keperawatan
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Komunikasi.

Komunikasi merupakan suatau hubungan atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan

masalah hubungan atau dapat diartikan sebaagai saling tukar-menukar pendapat serta dapat

diartikan hubungan kontak antara manusia baik individu maupun kelompok. (Widjaja, 1986 : 13)

Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk

menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontak dengan orang lain. (Potter & Perry,

2005 : 301). Komunikasi yang biasa dilakukan pada lansia bukan hanya sebatas tukar-menukar

perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dan hubungan intim yang terapeutik.

2.2 Pengertian Lansia.


Lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan

fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat

mengenai usia kemunduran yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun.

Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses

menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak

menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. Lansia

juga identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit.

Lansia akan memerlukan obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang

diderita. Semakin banyak penyakit pada lansia semakin banyak jenis obat yang diperlukan.

Banyaknya jenis obat akan menimbulkan masalah antara lain kemungkinan memerlukan ketaatan

atau menimbulkan kebingungan dalam menggunakan atau cara minum obat. Disamping itu dapat

meningkatkan resiko efek samping obat atau interaksi obat.

2.3 Komunikasi Dengan Lansia.


Dalam komunikasi dengan lansia harus diperhatikan faktor fisik, psikologi, (lingkungan

dalam situasi individu harus mengaplikasikan ketrampilan komunikasi yang tepat. disamping itu

juga memerlukan pemikiran penuh serta memperhatikan waktu yang tepat.

1. Ketrampilan komunikasi.

Listening/Pendengaran yang baik yaitu :


1) Mendengarkan dengan perhatian telinga kita.
2) Memahami dengan sepenuh hati, keikhlasan dengan hati yang jernih.
3) Memikirkan secara menyeluruh dengan pikiran jernih kita.

2. Tekhnik komunikasi dengan lansia.


1) Tekhnik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.

Kecepatan dan tekanan suara yang tepat dengan menyesuaikan pada topik pembicaraan dan

kebutuhan lansia, berbicara dengan lansia yang dimensia dengan pelan. Tetapi berbicara dengan

lansia demensia yang kurang mendengar dengan lebih keras hati-hati karena tekanan suara yang

tidak tepat akan merubah arti pembicaraan. Berikan kesempatan orang lansia untuk berbicara

hindari untuk mendominasi, pembicara sebaiknya mendorong lansia untuk berperan aktif.

Merubah topik pembicaaraan dengan jitu menggunakan objek sekitar untuk topik pembicaraan

bila lansia tidak interest lagi.


Contoh : siapa yang membelikan pakaian bapak/ibu yang bagus ini?

Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkrit selain itu gunakan kalimat yang simple dan

pendek, satu pesan untuk satu kalimat.

2) Teknik nonverbal komunikasi.


(1) Perilaku : ramah tamah, sopan dan menghormati, cegah supaya tidak acuh

tak acuh, perbedaan.


(2) Kontak mata : jaga tetap kontak mata.
(3) Expresi wajah : mereflexsikan peraaan yang sebenarnya.
(4) Postur dan tubuh : mengangguk, gerakan tubuh yang tepat, meletakan kursi dengan

tepat.
(5) Sentuhan : memegang tangan, menjabat tangan.
3) Teknik untuk meningkatkan komunikasi dengan lansia.
(1) Memulai kontak saling memperkenalkan nama dan berjabat tangan.
(2) Bila hanya menyentuh tangannya hanya untuk mengucapakan pesan-pesan verbal dan

merupak metode primer yang non verbal.


(3) Jelaskan tujuan dari wawancara dan hubungan dengan intervensi keperawatan yang akan

diberikan.
(4) Mulai pertanyaan tentang topik-topik yang tidak mengancam.
(5) Gunakan pertanyaan terbuka dan belajar mendengar yang efektif.
(6) Secara periodic mengklarifikasi pesan.
(7) Mempertahankan kontak mata dan mendengar yang baik dan mendorong untuk berfokus

pada informasi.
(8) Jangan berespon yang menonjolkan rasa simpati.
(9) Bertanya tentang keadaan mental merupakan pertanyaan yang mengancam dan akan

mengakiri interview.
(10) Minta ijin bila ingin bertanya secara formal.

3. Lingkungan wawancara.
1) Posisi duduk berhadapan.
2) Jaga privasi.
3) Penerangan yang cukup dan cegah latar belakang yang silam.
4) Kurangi keramaian dan berisik.
5) Komunikasi dengan lansia kita mencoba untuk mengerti dan menjaga kita mengekspresikan

diri kita sendiri efek dari kmunikasi adalah pengaruh timbal balik seperti cermin.

2.4 Kendala dan Hambatan Bila Berkomunikasi dengan Lansia.


1. Gangguan neurology serring menyebabkan gangguan bicara dan berkomunikasi dapat juga

karena pengobatan medis, mulut yang kering dan lain-lain.


2. Penurunan daya pikir sering menyebabkan gangguan dalam mendengarkan, mengingat dan

respon pada pertanyaan seseorang.


3. Perawat sering memanggil dengan nenek, sayang, dan lain-lain. Hal tersebut membuat

tersinggung harga dirinya dianjurkan memanggil nama panggilannya.


4. Dianjurkan menegur dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
5. Perbedaan budaya hambatan komunikasi, dan sulit menjalin hubungan saling percaya.
6. Gangguan sensoris dalam pendengarannya.
7. Gangguan penglihatan sehingga sulit menginterprestasikan pesan-pesan non-verbal.
8. Overload dari sensoris, terlalu banyak informasi dalam satu waktu atau banyak orang

berkomunikasi dalam yang sama sehingga kognitif berkurang.


9. Gangguan fisik yang menyebabkan sulit berfokus dalam pembicaraan misalnya focus pada

rasa sakit, haus, lapar, capai, kandung kemih penuh, udara yang tidak enak, dan lain-lain.
10. Hambatan pada pribadi, penurunan sensoris, ketidaknyamanan fisik, efek pengobatan dan

kondisi patologi, gangguan fungsi psikososial, karena depresi atau dimensia, gangguan kontak

dengan realita.
11. Hambatan dalam suasana/lingkungan tempat wawancara, ribut/berisik, terlalu banyak

informasi dalam waktu yang sama, terlalu banyak orang yang ikut bicara, peerbedaan budaya,

perbedaan, bahasa, prejudice, dan strereotipes.

2.5 Ketrampilan Komunikasi Teraupetik Pada Lansia.


1. Keterampilan komunikasi terapeutik, dapat meliputi :
1) Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan

lama wawancara.
2) Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab, berkaitan dengan

pemunduran kemampuan untuk merespon verbal.


3) Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang

sosiokulturalnya.
4) Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam berfikir

abstrak.
5) Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon

nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuh pasien.
6) Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan

distress yang ada.


7) Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari wawancara

pengkajian.
8) Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan

tetap mengobservasi.
9) Tempat mewawancarai diharuskan tidak pada tempat yang baru dan asing bagi pasien.
10) Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat senyaman mungkin.
11) Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif terhadap suara

berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.


12) Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang

lain yang sangat mengenal pasien.


13) Memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara.

2. Prinsip Gerontologis untuk komunikasi.


1) Menjaga agar tingkat kebisingan minimum.
2) Menjadi pendengar yang setia, sediakan waktu untuk mengobrol.
3) Menjamin alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik.
4) Yakinkan bahwa kacamata bersih dan pas.
5) Jangan berbicara dengan keras/berteriak, bicara langsung dengan telinga yang dapat

mendengar dengan lebih baik.


6) Berdiri di depan klien.
7) Pertahankan penggunaan kalimat yang pendek dan sederhana.
8) Beri kesempatan bagi klien untuk berfikir.
9) Mendorong keikutsertaan dalam aktivitas sosial seperti perkumpulan orang tua, kegiatan

rohani.
10) Berbicara pada tingkat pemahaman klien.
11) Selalu menanyakan respons, terutama ketika mengajarkan suatu tugas atau keahlian.

2.6 Prinsip-Prinsip Etik Pelayanan Kesehatan Pada Lansia.


Beberapa prinsip etika yang harus dijalankan dalam pelayanan pada derita usia

lanjut yaitu :
1. Empati
Istilah empati menyangkut pengertian : simpati atas dasar pengertian yang mendalam. Dalam

istilah ini diharapkan upaya pelayanan geriatric harus memandang seorang lansia yang sakit

dengan pengertian, kasih sayang dan memahami rasa penderitaan yang dialami oleh penderita

tersebut. Tindakan empati harus dilaksanakan dengan wajar, tidak berlebihan, sehingga tidak

memberi kesan over-protective dan belas kasihan. Oleh karena itu semua petugas geriatric harus

memahami proses fisiologi dn patologik dari penderita lansia.


2. Yang harus dan jangan
Prinsip ini sering dikemukakan sebagai non-malefecience dan beneficence, pelayanan geriatric

selalu didasarkan pada keharusan untuk mengerjakan yang baik untuk penderita dan harus

menghindari tindakan yang menambah penderitaan (harm) bagi penderita. Terdapat adagium

primum non nocere (yang terpenting jangan membuat seseorang menderita). Dalam pengertian
ini, upaya pemberian posisi baring yang tepat untuk menghindari rasa nyeri, pemberian analgesic

(kalau perlu dengan devirat morfin) yang cukup, pengucapan kata-kata hiburan merupakan

contoh berbagai hal yang mungfkin mudah dan praktis untuk dikerjakan.
3. Otonomi
Suatu prinsip bahwa seorang individu mempunyai hak untuk menentukan nasibnya, dan

mengemukakan keinginanya sendiri. Tentu saja hak tersebut mempunyai batasan, akan tetapi

dibidang geriatric hal tersebut berdasar pada keadaan, apakah penderita dapat membuat putusan

secara mendiri dan bebas.


4. Keadilan
Prinsip pelayanan geriatric harus memberikan perlakuan yang sama bagi semua penderita.

Kewajiban untuk memperlakukan seorang penderita secara wajar dan tidak mengadakan

perbedaan atas dasar karakteristik yang tidak relevan.

2.7 Pengertian Gangguan Jiwa


Gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan

otak yang ditandai oleh terganguunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi

(penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi

penderita (dan keluarganya) (Stuart & Sundeen, 1998). Gangguan jiwa adalah suatu ketidak

beresan kesehatan dengan manifestasi-manifestasi psikologis atau perilaku terkait dengan

penderitaan yang nyata dan kinerja yang buruk, yang disebabkan oleh gangguan biologis, sosial,

psikologis, genetik, fisis, atau kimiawi.


Gangguan jiwa mewakili suatu keadaan tidak beres yang berhakikatkan penyimpangan

dari suatu konsep normatif. Setiap jenis ketidakberesan kesehatan itu memiliki tanda-tanda dan

gejala-gejala yang khas.


Setiap gangguan jiwa dinamai dengan istilah yang tercantum dalam PPDGJ-IV

(Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi IV) atau DSM-IV-TR

(Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th edition with text revision).
Kendati demikian, terdapat pula beberapa istilah yang dapat digunakan untuk

mendiskripsikan gangguan jiwa :


1. Gangguan jiwa psikotik
Ditandai hilangnya kemampuan menilai realitas, ditandai waham (delusi) dan halusinasi.
2. Gangguan jiwa neurotik
Tanpa ditandai kehilangan kemampuan menilai realitas, terutama dilandasi konflik intrapsikis

atau peristiwa kehidupan yang menyebabkan kecemasan (anxietas), dengan gejala-gejala obsesi,

fobia, kompulsif.
3. Gangguan jiwa fungsional
Tanpa kerusakan struktural atau kondisi biologis yang diketahui dengan jelas sebagai penyebab

kinerja yang buruk.


4. Gangguan jiwa organik
Ketidakberesan kesehatan disebabkan oleh suatu penyebab spesifik yang membuahkan

perubahan struktural di otak, biasanya terkait dengan kinerja kognitif, delirium, atau demensia,

misalnya pada penyakit Pick. Istilah ini tidak digunakan dalam DSM-IV-TR karena ia

merangkum pengertian bahwa beberapa gangguan jiwa tidak mengandung komponen biologis.
5. Gangguan jiwa primer
Tanpa penyebab yang diketahui disebut pula idiopatik atau fungsional.
6. Gangguan jiwa sekunder
Diketahui sebagai manifestasi simtomatik dari suatu gangguan sistemik, medis atau serebral.
Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun

status ekonomi sosial. Gangguan jiwa bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi. Di masyarakat

banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai gangguan jiwa, ada yang percaya

bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat

guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya

merugikan penderita dan keluarganya karena pengidap gangguan jiwa tidak mendapat

pengobatan secara cepar dan tepat (Notosoedirjo, 2005).

2.8 Komunikasi Dengan Gangguan Jiwa


Berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah tehnik khusus, ada

beberapa hal yang membedakan berkomunikasi antra orang yang gangguan jiwa dengan

gangguan akibat penyakit fisik. Perbedaannya adalah :


1. Penderita gangguan jiwa cenderung mengalami gangguan konsep diri, penderita gangguan

penyakit fisik masih memiliki konsep diri yang wajar


2. Penderita gangguan jiwa cenderung asik dengan dirinya sendiri sedangkan penderita penyakit

fisik membutuhkan support dari orang lain.


3. Penderita gangguan jiwa cenderung sehat secara fisik, penderita penyakit fisik bisa saja jiwanya

sehat tetapi juga ikut terganggu.


Sebenarnya ada banyak perbedaan, tetapi intinya bukan pada mengungkap perbedaan

antara penyakit jiwa dan pemnyakit fisik tetapi pada metode komunikasinya.
Komunikasi dengan penderita gangguan jiwa membutuhkan sebuah dasar pengetahuan

tentang ilmu komunikasi yang benar, ide yang mereka lontarkan terkadang melompat, fokus

terhadap topik bisa saja rendah, kemampuan menciptakan dan mengolah kata-kata bisa saja

kacau balau.
Ada beberapa trik ketika harus berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa :
1. Pada pasien halusinasi maka perbanyak aktivitas komunikasi, baik meninta klien berkomunikasi

dengan klien lain maupun dengan perawat, pasien halusinasi terkadang menikmati dunianya dan

harus sering harus dialihkan dengan aktivitas fisik.


2. Pada pasien harga diri rendah harus banyak diberikan reinforcement.
3. Pada pasien menarik diri sering libatkan dalam aktivitas atau kegiatan yang bersama-sama, ajari

dan contohkan cara berkenalan dan berbincang dengan klien lain, beri penjelasan manfaat

berhubungan denngan orang lain dan akibatnya jika dia tidak mau berhubungan dll.
4. Pasien perilaku kekerasan, khusus pada pasien perilaku kekerasan maka harus direduksi atau

ditenangkan dengan obat-obatan sebelum kita support dengan terapi-terapi lain, jika pasien

masih mudah mengamuk maka perawat dan pasien lain bisa menjadi korban.

2.9 Prinsip-Prinsip Etik Pelayanan Kesehatan Pada Pasien Gangguan Jiwa


1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap

pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.

Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi,

faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang

dimiliki klien (Stuart dan Sundeen, 1995). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi

yaitu fisik, emosional, intelektual, social dan spiritual.


Isi pengkajian meliputi:
1) Identitas klien.

2) Keluhan utama/alasan masuk.

3) Faktor predisposisi.

4) Aspek fisiologis/biologis.

5) Aspek psikososial.

6) Status mental.

7) Kebutuhan persiapan pulang.

8) Mekanisme koping.

9) Masalah psikososial dan lingkungan.

10) Pengetahuan.

11) Aspek medis

Proses pengumpulan data dalam pengkajian dengan menerapkan etika dan prinsip etika

keperawatan harus benar-benar dipahami.

(1) Otonomi.

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan

memutuskan. Ketika kita sebagai perawat melakukan pengkajian kepada klien, jangan terlalu

memaksa jawaban yang diinginkan. Karena klien berhak menolak dengan hak otonominya.
Namun, perawat harus mencari cara agar klien dapat menjawab segala pertanyaan yang

dibutuhkan, bisa dengan mengalihkan pembicaraan klien tetapi tetap pada topik tersebut.

(2) Benefisiensi.

Tujuan perawat saat pengkajian adalah mencari informasi/data yang dibutuhkan untuk

kesembuhan klien. Benefisiensi berarti hanya mengerjakan sesuatu yang baik. Klien dengan

masalah gangguan halusinasi sensoris, terkadang bisa mengamuk dan atau berhalusinasi yang

aneh-aneh ketika ditanya sesuatu. Klien menolak ketika diajak wawancara mengenai

kehidupannya, sedangkan perawat membutuhkan datanya sesegera mungkin. Maka, perawat

mencari tahu kenapa. Agar proses anamnesa ini berjalan demi kebaikannya.

(3) Nonmalefisien.

Saat melakukan pengkajian, perawat meminimalisir cedera atau bahkan jangan menimbulkan

cedera. Namun, ketika klien memiliki tingkat cemas tinggi hingga ia mengamuk, maka perawat

harus melakukan tindakan yang tidak menimbulkan cedera, disuntik obat penenang misalnya.

(4) Kerahasiaan (confidentiality).

Saat pengkajian, perawat berjanji pada klien bahwa data rahasianya tidak akan diberitahukan

pada orang lain.

(5) Akuntabilitas (accountability).


Perawat bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya pada klien, agar terjadi

hubungan saling percaya antara klien dan perawat. Sehingga memudahkan perawat untuk

mendapatkan data yang dibutuhkan.

2. Intervensi Yang Dapat Dilakukan

1) Menciptakan lingkungan terapeutik.

Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan, ketakutan akibat halusinasi, sebaiknya

pada permulaan pendekatan dilakukan secara individual dan diusahakan agar terjadi kontak

mata. Kalau perlu disentuh atau dipegang pendekatan harus dilakukan secara teratur tetapi tidak

secara terus menerus.

Dirumah harus disediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien

untuk berhubungan dengan realita, misalnya jam dinding, kalender, gambar atau hiasan dinding,

majalah dan mainan.

Penderita diajarkan untuk mengenali rangsangan halusinasi, membuktikan apakah

rangsangan itu nyata atau tidak, misalnya dengan menanyakan pada orang lain dan cara

mengurangi timbulnya halusinasi, antara lain dengan selalu menyibukan diri dan mengurangi

waktu untuk berkhayal.

2) Mengali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada.

Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif mengatasi masalah yang ada. Permasalahan

penderita yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah

yang ada.
3) Memberi aktifitas.

Penderita diajak beraktifitas/mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik misalnya

olahraga, bermain atau melakukan kegiatan lain. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan

penderita ke kehidupan nyata dan memilih kegiatan yang sesuai.

4) Melibatkan keluarga lain dalam proses perawatan.

5) Melaksanakan program terapi dokter.

Seringkali penderita menolak obat yang diberikan sehubungan dengan halusinasi yang

diterimanya. Pendekatan sebaliknya persuasive. Keluarga harus mengerti agar obat yang

diberikan benar-benar ditelan atau masuk.


BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang

untuk menetapkan, mempertaankan dan meningkatkan kontrak dengan oran lain karena

komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa

komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang

melibatkan tingka laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi denan orang lain

dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara

dinamis yan maknanya dipacu dan ditransmisikan.

Komunikasi pada lansia tidaklah begitu sulit dibutuhkan teknik-teknik tersendiri untuk

melakukan komunikasi pada lansia banyak hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya :

1. Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik.

2. Tehknik untuk wawancara.

3. Kendala dan hambatan dalam komunikasi.

4. Mood dan privasi.

5. Aspek-aspek yang harus diperhatikan.

3.2 Saran
Komunikasi pada lansia baiknya dilakukan secara bertahap supaya mudah dalam

pemahamannya. Lansia merupakan kelompok yang sensitive dalam perasaannya oleh sebab itu,

saat komunikasi harus berhati-hati agar tidak menyinggung perasaannya.