Anda di halaman 1dari 126

KAJIAN ORGANOLOGIS ALAT MUSIK GAMBUS BUATAN BAPAK SYAHRIAL FELANI

Skripsi Sarjana

Dikerjakan

O

L

E

H

JACKRY OCTORA TOBING NIM: 100707027

Dikerjakan O L E H JACKRY OCTORA TOBING NIM: 100707027 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN

2014

KAJIAN ORGANOLOGIS ALAT MUSIK GAMBUS BUATAN BAPAK SYAHRIAL FELANI

Skripsi Sarjana

Dikerjakan

O

L

E

H

JACKRY OCTORA TOBING NIM: 100707027

Disetujui Oleh:

Pembimbing I

Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D. NIP 196512211991031001

I Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D. NIP 196512211991031001 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA DEPARTEMEN ETNOMUSIKOLOGI MEDAN

2014

ii

Pembibing II

Drs. Fadlin, M.A

NIP196102201989031003

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “Kajian Organologi Alat Musik Gambus Melayu Buatan Bapak Syahrial Felani.” Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui struktur, proses, teknik pembuatan, teknik memainkan, fungsi dari gambus, serta menjadi karya tulis bagi Etnomusikologi. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan penelitian dan terlibat dalam pembuatan gambus. Lalu penulis melakukan wawancara kepada narasumber yang dianggap paham oleh masyarakat pendukung kebudayaan tersebut, juga melakukan rekaman yang dianggap penting untuk mempermudah mengingat hasil wawancara kedalam tulisan tersebut. Gambus adalah salah satu alat musik tradisional Melayu yang masuk dalam klasifikasi kordofon yaitu bunyi yang dihasilkannya melalui senar (dawai) yang digetarkan dengan cara dipetik. Alat musik ini terbuat dari batang pohon (biasanya pohon nangka) dan memiliki lubang resonator yang dilapisi berupa membrane yang terbuat dari kulit sapi/kambing.

Kata kunci: gambus, organologi, struktur, fungsi

iii

KATA PENGANTAR

Segala pujian dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa,

atas kasih dan kemurahanNya yang begitu besar untuk semua umat manusia. Penulis

berterimakasih

atas

segala

berkat,

kekuatan,

penghiburan,

pertolongan

dan

perlindungan Tuhan yang tidak pernah berhenti dalam penyelesaian skripsi ini.

Terimakasih karena Engkau selalu ada ketika saya membutuhkan sahabat untuk

berbagi suka dan duka.

Skripsi ini berjudul “Kajian Organologi Alat Musik Gambus Melayu

Buatan

Bapak

Syahrial

Felani”.

Skripsi

ini

diajukan

sebagai

syarat

untuk

memperoleh gelar Sarjana Seni pada Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu

Budaya Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, banyak hambatan

yang penulis rasakan. Begitu juga dengan kejenuhan yang membuat penulis bosan

dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun, berkat orang-orang yang ada di sekitar

penulis, membuat penulis kembali semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.

Pada

kesempatan

ini

penulis

ingin

mempersembahkan

skripsi

ini

dan

mengucapkan terimakasih kepada orang tua yang sangat saya cintai, Ayahanda Janes

Tobing dan Ibunda Meryda Br Tambunan. Terimakasih buat segala cinta kasih serta

ketulusan kalian sehingga saya bisa seperti sekarang, terimakasih buat perhatian yang

tak pernah putus-putus khususnya selama pengerjaan skripsi ini, terimakasih buat

motivasi-motivasi

yang

kalian

berikan

sehingga

saya

tetap

semangat

dalam

menyelesaikan skripsi ini, terimakasih buat doa-doa yang kalian panjatkan sehingga

saya mendapatkan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan. Penulis juga mengucapkan

rasa terimakasih kepada kakak-kakak dan abang-abang penulis yang penulis sayangi

iv

Lona

Br

Tobing,

Hendrik

Tobing,

Ganda

Simanjuntak,

Andika

Sembiring.

Terimakasih buat doa dan semangat yang kalian berikan kepada saya.

Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada yang terhormat Bapak Dr.

Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Medan. Penulis juga

mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat Bapak Drs. Muhammad Takari,

M.Hum, Ph.D, sebagai Ketua Jurusan Etnomusikologi. Kepada yang terhormat Ibu

Drs. Heristina Dewi, M.Pd selaku sekretaris Jurusan Etnomusikologi.

Kepada

yang

terhormat

Bapak

Drs.

Muhammad

Takari,

M.Hum.,Ph.D.

dosen pembimbing I saya, sekali gus dosen pembimbing akademik, yang telah

membimbing

dan

mengarahkan

penulis

dalam

menyelesaikan

skripsi

ini.

Terimakasih untuk nasehat-nasehat, ilmu serta pengalaman yang telah bapak berikan

selama saya berkuliah. Kiranya Tuhan selalu membalas semua kebaikan yang bapak

berikan.

Kepada yang terhormat Bapak Drs. Fadlin, M.A. dosen pembimbing II yang

telah membimbing dan memberikan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan

skripsi ini. Terimkasih untuk perhatian, ilmu dan semua kebaikan yang bapak

berikan. Kiranya Tuhan membalas semua kebaikan bapak.

Kepada seluruh dosen di departemen Entomusikologi, Bapak Prof. Mauly

Purba,

M.A.,Ph.D,

Bapak

Drs.

Irwansyah

Harahap,

M.A.,

Ibu

Drs.

Rithaony

Hutajulu, M.A., Bapak Drs. Kumalo Tarigan, M.A., Ibu Arifni Netrosa, SST,M.A.,

Ibu Dra. Frida Deliana, M.Si, Bapak Drs. Prikuten Tarigan, M.Si., Bapak Drs.

Dermawan

Purba,

M.Si,

terimakasih

yang

sebesar-besarnya

kepada

bapak-ibu

sekalian yang telah membagikan ilmu dan pengalaman hidup bapak-ibu sekalian.

Sungguh ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan karena telah

belajar dari orang-orang hebat seperti bapak-ibu sekalian. Biarlah kiranya ilmu yang

v

saya dapatkan dari bapak-ibu sekalian bisa saya aplikasikan dalam kehidupan dan

pendidikan selanjutnya. Biarlah Tuhan membalaskan semua jasa-jasa bapak-ibu

sekalian.

Terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak Syahrial Felani dan keluarga

yang banyak memberikan informasi dalam tulisan skripsi ini serta bersedia menjadi

informan kunci, sehingga data yang diperoleh mendukung penulisan skripsi ini, dan

kepada Bapak Retno Ayumi dan Bapak Nazri Effas yang telah memberikan banyak

informasi dan saran yang membangun selama penulis melakukan penelitian.

Terimakasih juga penulis sampaikan teman-teman sekampung saya yang

selalu memberikan nasihat-nasihat baik kepada penulis sehingga membuat penulis

semakin semangat dalam pengerjaan tulisan skripsi ini, serta menjadi teman dalam

suka maupun duka.

Kepada teman-teman seangkatan penulis yakni Etno ‘010, Tribudi Purba,

Ayu

Triana Matondang, Riska Pricilia,

Kezia Purba, Chandra Marbun, Rican

Sianturi, Lido Hutagalung, Luhut Simarmata, Benny Yogi Purba, Andi Farhan,

Khairil

Amri,

Supriadi

Tampubolon,

Tumpak

Sinaga,

Fendri

Marbun,

Agus

Tampubolon, Bang Mario 08, Bobby Situmorang, dan teman-teman yang lain yang

tak bisa penulis jabarkan satu-satu, terimakasih telah menjadi bagian hidup penulis,

kebersamaan yang kita jalin selama ini menjadi memori indah yang tak terlupakan

bagi penulis. Terimakasih teman-teman.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis menyadari masih belum sempurna,

oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi

kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap agar skripsi ini dapat

manfaat

bagi

para

pembaca

dan

dapat

memberikan

sumbangan

memberikan

bagi

ilmu

pengetahuan dalam bidang Etnomusikologi. Semoga saja disiplin etnomusikologi

vi

akan terus berkembang, baik itu di tingkat Sumatera Utara, Indonesia, dan juga

dunia.

vii

DAFTAR ISI

ABSTRAK

 

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

vi

BAB

I PENDAHULUAN

 

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Pokok Permasalahan

6

1.3 Tujuan dan Manfaat

6

 

1.3.1 Tujuan

6

1.3.2 Manfaat

6

 

1.4 Konsep dan Teori yang digunakan

7

 

1.4.1 Konsep yang digunakan

7

1.4.2 Teori yang digunakan

8

 

1.5 Metode Penelitian

 

12

 

1.5.1 Studi Kepustakaan

13

1.5.2 Kerja Lapangan (Field Work)

13

1.5.3 Wawancara

 

13

1.5.4 Kerja Laboratorium

14

1.5.5 Lokasi Penelitian

 

14

BAB II

GAMBARAN

UMUM

WILAYAH PENELITIAN, BIOGRAFI

 

RINGKAS

SYAHRIAL

FELANI SEBAGAI WARGA

MASYARAKAT MELAYU DAN SENIMAN MUSIK MELAYU

16

2.1 Sejarah Berdirinya Kabupaten Deli Serdang

16

 

2.1.1 Letak Geografis Kabupaten Deli Serdang

18

2.1.2 Letak Lokasi Penelitian

19

 

2.2 Latar Belakang Budaya Melayu

20

 

2.2.1 Agama

 

20

2.2.2 Bahasa

24

2.2.3 Mata Pencaharian

25

2.2.4 Pendidikan

26

2.2.5 Teknologi

27

2.2.6 Kesenian

28

2.2.7 Sistem organisasi

30

 

2.3 Pengertian Biografi

31

 

2.3.1

Alasan Dipilihnya Syahrial Felani Sebagai Fokus Kajian

33

 

2.4 Biografi Syahrial Felani

 

34

 

2.4.1 Latar

Belakang

Keluarga

34

2.4.2 Latar

Belakang

Pendidikan

35

2.4.3 Keluarga Syahrial Felani

36

2.4.4 Latar Belakang Syahrial Felani Sebagai Seniman Melayu

36

2.4.5 Syahrial Felani Sebagai Pembuat Alat Musik

41

BAB

III

KAJIAN ORGANOLOGI GAMBU

43

3.1 Klasifikasi Gambus

 

44

3.2 Sejarah Singkat Masuknya Gambus DiIndonesia

46

3.3 Konstruksi Gambus

 

48

viii

3.4 Ukuran Bagian – bagian Gambus

49

3.4.1 Bagian

Kepala

 

50

3.4.2 Bagian

Leher

51

3.4.3 Bagian

Perut

51

3.4.4 Bagian

Ekor

52

3.4.5 Jarak Senar

52

3.5 Teknik Pembuatan Gambus

53

3.5.1 Teknik Pembuatan Gambus

53

 

3.5.1.1

Bahan Pembuat Badan Gambus

53

3.5.1.2

Bahan

Pembuat

Tutup Gambus

54

3.5.1.3

Bahan

Pembuat

Setelan

56

3.5.1.4

Bahan

Pembuat

Senar

56

3.5.1.5

Bahan

Pembuat

Pick

57

3.5.2

Bahan

Tambahan

57

3.5.2.1 Lem Kayu

57

3.5.2.2 Melamin dan Thiner

58

3.5.2.3 Cat Pilox

58

3.6 Peralatan yang Digunakan

 

59

3.6.1 Senso Atau Gergaji Mesin

59

3.6.2 Pahat

 

59

3.6.3 Gergaji

60

3.6.4 Ketam

60

3.6.5 Amplas

61

3.6.6 Palu Kayu

61

Penggaris Dan

3.6.7 Meteran

62

3.6.8 Gerinda Listrik

62

3.6.9 Bor Listrik

63

3.6.10 Gergaji Besi

63

3.6.11 Kampak

64

3.6.12 Pisau Dan Spidol

64

3.6.13 Mal/Maltras

65

3.6

14

Kuas

65

3.7 Proses Pembuatan

 

66

3.7.1 Tahap I

67

 

3.7.1.1 Pemilihan Pohon

67

3.7.1.2 Pembentukan Pola Dasar

69

3.7.1.3 Proses Pemotongan Pola

70

3.7.2 Tahap II

 

71

 

3.7.2.1 Pembentukan Dasar

Proses

71

3.7.2.2 Pembuatan Lubang Resonator

Proses

74

3.7.2.3 Merapikan Lubang

Proses

75

3.7.2.4 Pengikisan

Proses

77

3.7.2.5

Membuat Bahan Penutup

78

3.7.3 Tahap III

 

80

 

3.7.3.1

Proses Pembuatan Lubang pada bagian kepala dan ekor

80

3.7.3.2

Memasang Penutup Bagian Perut, Leher, Dan Kepala

81

3.7.3.3

Proses Penghalusan/Pengamplasan

83

3.7.4 Tahap

IV

 

85

 

3.7.4.1

Proses

Pendempulan

85

3.7.4.2

Proses

Pengecatan

86

ix

3.7.4.3 ProsesPembuatan Lubang Suara

87

 

3.7.4.4

Tahap Akhir

88

BAB IV

KAJIAN FUNGSIONAL GAMBUS

91

4.1 Proses Belajar

91

4.2 Posisi Tubuh Dalam Memainkan Gambus

95

4.3 Teknik Memainkan Gambus

97

4.4 Penyajian Gambus Yang Baik

97

4.5 Perawatan Gambus

97

4.6 Nada Yang Dihasilkan Gambus

98

4.7 Wilayah

Nada

98

4.8 Ekstensi Alat Musik Gambus Melayu Di Deli Serdang

101

4.9 Fungsi Musik Gambus

105

4.9.1 Pengungkapan Emosional

Fungsi

!06

4.9.2 Fungsi

Hiburan

107

4.9.3 Fungsi

Per lambangan

107

4.9.4 Kesinambungan Budaya

Fungsi

107

4.9.5 Reaksi Jasmani

Fungsi

108

4.9.6 Penghayatan Estetis

Fungsi

108

 

4.10 Nilai Ekonomi Pada Alat musik Gambus

108

BAB

V

PENUTUP

110

 

5.1 Kesimpulan

110

5.2 Saran

111

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar.1 Pertunjukan Musik DiSingapura

39

Gambar.2 Piala Piala Penghargaan Bidang Seni Untuk syahrial Felani

39

Gambar.3 Piagam Penghargaan di Tahun 2010 di TMMI

40

Gambar.4 Sertifikat Penghargaan Tahun 2010 di Singapura

40

Gambar.5 Beberapa Koleksi Alat-alt Musik Syahrial Felani

43

Gambar.6 Demonstrasi Pembuatan Gambus di Singapura

43

Gambar.7

Konstruksi Gambus

48

Gambar.8 Ukuran Panjang Gambus

50

Gambar.9 Ukuran Bagian Kepala Gambus

50

Gambar 10. Ukuran Bagian Leher Gambus

51

Gambar. 11 Ukuran Bagian Perut

51

Gambar.12 Ukuran Baggian Ekor

52

Gambar.13 Ukuran Jarak Senar

53

Gambar.14 Batang Kayu Nangka

54

Gambar.15 Bahan Penutup Lubang Kulit Kambing

55

Gambar.16 Kayu Nangka Yang Telah Diukur

55

Gambar.17

Kupingan (setelan)

56

Gambar.18 Senar Nilon Untuk Gambus

56

Gambar.19

pick

57

Gambar.20

Lem kayu

57

Gambar.21 Melamin Dan Thiner

58

Gambar.22

pilox

58

Gambar. 23 Senso

 

59

Gambar.24

Pahat

59

Gambar.25

Gergaji

60

Gambar.26

Ketam

60

Gambar.27

Amplas

61

Gambar.28 Palu Kayu

 

61

Gambar.29

Penggaris Dan Meteran

62

Gambar.30

Gerinda Listrik

62

Gambar.31

Bor Listrik

63

Gambar.32

Gergaji Besi

63

Gambar.33

Kampak

64

Gambar.34 Pisau Dan Spidol

64

Gambar.35

Mal/Maltra

65

Gambar.36

kuas

65

Gambar.37 Gudang Tempat Penyimpanan Kayu Nangka

68

Gambar.38 Pengambilan Kayu Dari Penyimpanan

68

Gambar.39

Proses

Pembuatan Kerangka Gambus

69

Gambar.40 Proses Pemotongan Berdasarkan Bentuk Mal

70

Gambar.50 Bentuk Pola Gambus

71

Gambar.51 Proses Pembentukan Bagian leher atas Dan Bawah

72

Gambar.52 Proses Pembentukan Bagian kepala

72

Gambar.53 Proses Pembentukan Bagian Perut

73

Gambar.54 Proses Pembentukan Bagian ekor

73

Gambar.55 Bentuk Kasar Gambus

74

Gambar.56 Membuat Lubang Resonator

75

xi

Gambar.57 Proses Merapikan Lubang Resonator

76

Gambar.58 Ukuran Lubang Resonator

76

Gambar.59

Proses Pengikisan

77

Gambar.60 Bentuk Dasar Gambus Tampak Atas

77

Gambar.61 Bentuk Bagian Dasar Gambus Bagian samping dan belakang

78

Gambar.62 Penutup Kepala

78

Gambar.63 Penutup Leher

79

Gambar.64 Kulit Sebagai Penutup Lubang Resonator

80

Gambar.65 Tampak Lubang Bagian Kepala

81

Gambar.66 Tampak Lubang Pada Bagian Ekor

81

Gambar.67 Pemasangan Bagian Penutup Bagian Kepala, leher, dan Perut

82

Gambar.68 Bagian Penutup Yang Telah Dirapikan

83

Gambar.67 Proses Penghalusan Menggunakan Mesin

84

Gambar.68

Proses

Penghalusan

Secara Manual

84

Gambar.69

Proses

Pendempulan

85

Gambar.70

Proses

Pengamplasan

86

Gambar.71

Proses

Pengecatan Pemberian Warna

87

Gambar.72

Proses

Pengeringan

87

Gambar.73 Bentuk Lubang Suara8

88

Gambar.74 Pengecatan dan Diberi Lubang Pada Kupingan

89

Gambar.75

Kuda-kuda

Sebagai Pembatas Senar

89

Gambar.76, 77 Proses Pemasangan Senar Dan Gambus Yang Telah Siap

90

Gambar.78 Bagian Senar Untuk Mendapatkan Nada

94

Gambar.79 Posisi Duduk Memainkan Gambus

96

Gambar.80, 81 Posisi Tangan Kiri Dan Kanan

96

Gambar.82, 83 Penulis Bersama Informan Dan Rumahnya

112

TABEL I. Tahapan Pengerjaan

66

LAMPIRAN I

112

DAFTAR

PUSTAKA

 

113

DAFTAR

INFORMAN

114

xii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Melayu

merupakan

salah

satu

kelompok

etnik

(ras)

besar

di

dunia.

Berdasarkan penyebaran dan perpindahannya, asal mula penduduk sebagian besar

di Asia Tenggara dan Polinesia adalah Melayu. Ini dapat ditinjau dari sejarah

persebarannya yang disebut Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu

(Melayu Muda). Etnik Melayu mendiami beberapa negara, seperti Malaysia,

Filipina

(bagian

selatan),

Singapura,

Pattani

Thailand,

Myanmar,

Brunei

Darussalam, dan Indonesia (Muhamamad Husein, 2011:2).

Di Indonesia, etnik Melayu terdapat dibeberapa daerah, yaitu: daerah

Tamiang di Nanggroe Aceh Darussalam, Pesisir Timur Sumatera Utara, Riau

Kalimantan Barat, Jambi, dan Sumatera Selatan. Di Pesisir Sumatera Utara,

dahulu

masuk

wilayah

Timur,

wilayah

budaya

etnik

Melayu

berdasarkan

pemekarannya meliputi kabupaten/kota: Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang,

Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Asahan, Tanjung Balai, Batubara, Labuhan Batu

(termasuk

Labuhan Batu Utara dan Labuhan Batun Selatan), dan Siak Sri

Indrapura (Muhammad Husein, 2011: 3).

Dalam suatu kebudayaan pastilah ditemui unsur kesenian, yang didukung

oleh musik dan tari, yang mana fungsinya adalah sebagai media pendukung

terbentuknya

suatu

kebudayaan.

Pada

prinsipnya,

musik

terdiri

dari

wujud

gagasan, seperti konsep tentang ruang: tangga nada, wilayah nada, nada dasar,

interval, frekuensi nada, sebaran nada-nada, kontur, formula melodi, dan lain-

lainnya. Dimensi ruang dalam musik ini merupakan organisasi suara. Sementara

1

di sisi lain, musik juga di bangun oleh dimensi waktu, yang terdiri dari: metrum

atau birama, nilai not (panjang pendeknya durasi not), kecepatan (seperti lambat,

sedang, cepat, sangat cepat). Kedua dimensi pendukung musik ini, kadang juga

berhubungan dengan seni tari yang diiringinya. Dalam konteks budaya Melayu

sendiri, integrasi musik dengan tari terwujud dalam konsep begitu begitu pula

tarinya. Dengan demikian, budaya musik menjadi bagian yang tak terpisahkan

dengan kebudayaan Melayu pada umumnya (Muhammad Takari dan Heristina

Dewi, 2008:113).

Dalam suatu ensambel musik

Melayu,

biasanya alat-alat

musik atau

instrumen

yang

digunakan

ialah

gendang

(gendang

anak,

gendang

induk),

marwas, biola, akordion, tamburin, rebana, dan gambus. Dalam tulisan ini penulis

berfokus mengkaji aspek organologis alat musik gambus. Alat musik gambus

Melayu ini biasa dimainkan untuk mengiringi pertunjukan

zapin,

yang secara

fungsional musi adalah sebagai pembawa melodi. Gambus Melayu ini merupakan

alat musik petik yang masuk dalam klasifikasi kordofon (salah satu klasifikasi alat

musik yang proses bunyinya berasal dari getaran senar atau dawai).Alat musik ini

juga termasuk pula ke dalam kelompok lute berleher panjang karena alat musik

gambus ini mempunyai leher yang panjang dan bentuk badannya seperti buah pir

yang dibelah dua.

Pada saat awal melihat dan mendengarkan alat musik ini dimainkan,

penulis merasa tertarik baik dari sisi ilmu maupun konteks budaya. Dari segi ilmu

etnomusikologi

adalah

bagaimana

konteksnya

dalam

peradaban

masyarakat

Melayu. Dari sisi konteks budaya, digunakan untuk apa saja alat musik ini,

seterusnya bagaimana fungsinya. Tetapi penulis lebih tertarik untuk mengkaji

2

aspek organologis alat musik gambus, untuk itu penulis

pembuat gambus Melayu ini.

harus mencari siapa

Pada tanggal 10 Februari 2014 di Tanjung Morawa, Kabupaten Deli

Serdang, yang beralamat Jalan Perintis kemerdekaan Nomor 204, Dusun IV,

penulis bertemu dengan seorang pembuat

alat

musik gambus Melayu

yang

bernama

Bapak Syahrial Felani. Ketika penulis mengemukakan maksud akan

mengkaji organologis gambus buatan beliau, maka ia sangat menyambut niat baik

penulis.

Berdasarkan

wawancara

dengan

beberapa

teman

beliau,

termasuk

ia

sendiri, Syahrial Felani juga mahir memainkan gambus, gendang ronggeng,

menarikan tarian Melayu juga tarian Minangkabau. Hingga sampai saat ini Bapak

Syahrial Felani masih aktif di dalam dunia kesenian Melayu. Salah satunya ia

menjadi pengelola seni dan seniman pada sanggar tari yang bernama Tamora 88

yang berlokasi di alamat rumahnya.

Pada saat itu penulis banyak berbincang tentang alat musik gambus,

seperti bagaimana struktur organologis gambus yang dibuat oleh Bapak Syahrial

Felani. Menurut sejarahnya, beliaumengatakan masuknya gambus

di Sumatera

Utara

melalui penyebaran Islam oleh orang-orang Arab

pesisir pantai timur. Salah satunya adalah dengan melalui

di Sumatera Utara di

media kesenian yang

datangnya dari luar, khususnya zapin, telah banyak mempengaruhi masyarakatnya

seperti salah satu alat musik yaitu gambus. Alat musik gambus yang berasal dari

Arab ini dikenal dengan nama ‘ud.Tetapi, gambus Melayu ini

lebih dikenal

dengan gambus belalang karena berbentuk seperti belalang.

Pada

tahun 1976 Bapak Syahrial Felani mulai belajar

berkesenian

Melayu dan di tahun 1982 tertarik dengan alat musik gambus tersebut dan untuk

3

belajar memulai memainkannya serta ditahun 1986

berdasarkan pengamatannya

saja, ia tertarik untuk mencoba membuat sendiri alat musik gambus tersebut

dengan apa adanya. Ternyata hasil karyanya memiliki ciri khas dari mulai bentuk

dan ukuran maupun suara yang dihasilkannya. Bapak Syahrial Felani mengatakan 1

bahwa gambus Melayu biasanya memiliki 7 senar tetapi dengan didasari faktor

kreativitas, gambus yang dibuatnya memiliki 9 senar. Rinciannya adalah dengan

susunan 5 baris, posisi senar 1 hingga 4 berlapis dua, dan senar kelima tidak

berlapis.

Terdapat

ukiran yang dihasilkannya adalah hasil idenya sendiri yang

mempunyai arti simbol yang menandakan hasil karyanya, penuh dengan makna-

makna dalam budaya Melayu. Seperti ukiran berbentuk bunga adalah simbol dari

alam dalam budaya Melayu. Demikian pula pucuk rebung, simbol dari kehidupan,

dan lain-lainnya.

Sampai saat ini, Bapak Syahrial Felani sudah membuat gambus lebih

kurang sebanyak 300 buah hingga tahun 2014 berdasarkan kebutuhan permintaan

pemesanan. Menurut informasi yang penulis dapatkan, ada beberapa pemain

gambus di Sumatera Utara, seperti: Nasri Effas, Hendrik Perangin-angin, Rubino,

dan lain-lain. Mereka adalah orang-orang yang telah memakai gambus buatan

Bapak Syahrial Felani. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Rubino bahwa gambus

yang di buat oleh Syahrial Felani memiliki kualitas yang baik. Apalagi gambus

buatan Syahrial Felani memiliki 9 senar untuk mempermudah memainkannya

pada nada yang tinggi. Bapak Rubino juga mengatakan bahwa Syahrial Felani

sudah menjadi penyalur alat musik gambus di kota Medan. Gambus yang ia

gunakan, sudah dimainkannya hingga ke beberapa wilayah Asia Tenggara seperti,

Singapura, Thailand, Australia, hingga Eropa seperti Prancis dan Inggris. Bahan

1 Hasil wawancara penulis dengan Bapak Syahrial Felani pada tanggal 15 Maret 2014

4

utama untuk membuat alat musik

gambus adalah kayu nangka (Artocarpus

Integra Sp.). Dipilih kayu tersebut karena tekstur kayu yang lebih lunak dan

mudah dipahat, selain itu juga jenis kayu tersebut cukup kuat,bobotnya yang

relative ringan, dan tidak berubah bentuk atau retak ketika kering. Dibutuhkan

kayu nangka yang berusia rata-rata 20 tahun dan memiliki ukuran berdiameter 36

cm. Selanjutnya, kayu tersebut dipotong dengan ukuran panjang 99 cm dan

dibelah menjadi 2 bagian. Gambus juga memiliki lubang resonator, dibuat dengan

cara melakukan pemahatan dan dibutuhkan kulit kambing untuk melapisi atau

menutup pada bagian depan lubang resonator.

Gambus

ini

menurut

wawancara

saya

dengan

beliau,

dalam

proses

pembuatannya dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan keuletan tangan dan

dikerjakan dengan peralatan yang sederhana, seperti gergaji, kampak, martil, serta

berbagai alat pahat dari ukuran kecil hingga besar, juga chinshaw (geraji mesin)

untuk mempermudah pemotongan atau membelah kayu.

Dibutuhkan waktu

gambus.

Menarik

untuk

2 minggu untuk menyelesaikan 1 buah alat musik

dibahas

dari

uraian

di

atas

karena

pembuatannya

membutuhkan proses yang memiliki ciri khas gambus yang dibuat oleh Bapak

Syahrial Felani dan bagaimana struktur organologis gambus

baik

dari segi

struktural maupun fungsional. Dengan demikian penulis memilih judul untuk

penelitian ini yaitu: “Kajian Organologis Alat Musik Gambus Buatan Bapak

Syahrial Felani.”

5

1.2

Pokok Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, pokok

permasalaan yang menjadi topik bahasan didalam tulisan ini adalah sebagai

berikut ini.

1. Bagaimana struktur organologis gambus Melayu buatan Bapak Syahrial

Felani baik dari segi struktural maupun fungsional?

2. Bagaimana proses pembuatan gambus Melayu buatan Bapak Syahrial

Felani?

1.3 Tujuan dan Manfaat penelitian

1.3.1

Tujuan Penelitian

 

Tujuan penelitian alat musik gambus adalah:

 

1.

Untuk

mengetahui

dengan

cara

meneliti

langsung

di

lapangan

dan

mendeskripsikan bagaimana struktur organologis gambus Melayubuatan

Bapak Syahrial Felani baik dari segi struktur maupun fungsi (musikal).

 

2.

Untuk menganalisis dan memahami proses pembuatan gambus Melayu

buatan Bapak Syahrial Felani.

 

1.3.2

Manfaat Penelitian

 

Manfaat penelitian terhadap aspek organologis alat musik gambus Melayu

buatan Bapak Syahrial Felani adalah sebagai berikut.

1. Sebagai

bahan dokumentasi untuk

gambus di Departemen Etnomusikologi

menambah refrensi mengenai

2. Sebagai bahan masukan dan perbandingan bagi penelitian selanjutnya

yang berkaitan dengan gambus.

6

3.

Sebagai suatu proses pengaplikasian ilmu yang di peroleh penulis

selama perkuliahan di Departemen etnomusikologi.

4. Memberikan informasi tentang alat musik gambus kepada masyarakat

umum khususnya Melayu diSumatera Utara.

5. Untuk

memenuhi

syarat

memnyelesaikan

studi

progam

S-1

di

Departemen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya USU.

1.4 Konsep dan Teori

1.4.1 Konsep

Ada beberapa konsep dan teori yang dibutuhkan dalam membicarakan

permasalahan terhadap objek penelitian ini, studi organologi yang dimaksud

adalah sesuai dengan konsep yang dikemukakan oleh Mantle Hood (1982:124),

bahwa organologi yang digunakan adalah berhubungan dengan alat musik. Istilah

tersebut mempunyai tendensi untuk dijadikan batasan dalam mendeskripsikan

penampilan fisik, properti akustik, dan sejarah alat musik. Selanjutnya menurut

beliau organologi adalah ilmu pengetahuan alat musik, yang tidak hanya meliputi

sejarah dan deskripsi alat musik, akan tetapi sama pentingnya dengan “ilmu

pengetahuan’’ dari alat musik itu sendiri antara lain: teknik pertunjukan, fungsi

musikal, dekoratif, dan variasi dari sosial budaya.

Dari konsep di atas, dapat disimpulkan bahwa kajian organologis gambus

di Tanjung Morawa buatan Bapak Syahrial Felani,

adalah penelitian secara

mendalam mengenai sejarah dan deskripsi instrumen, juga mengenai teknik-

teknik pembuatan, cara memainkan, dan fungsi dari alat musik gambus tersebut.

Selanjutnya, istilah chordopone adalah klasifikasi alat musikyang ditinjau

berdasarkan penggetar utamanya sebagai penghasil bunyi yaitu berasal dari senar

7

(klasifikasi alat musik oleh Curt Sachs dan Hornbostel, 1961). Berdasarkan

konsep

di atas,

maka dalam tulisan

ini penulis

mengkaji

mengenai proses

pembuatan instrumen gambus Melayu, termasuk juga teknik pembuatan, proses

pembuatannya,

di

Kecamatan

Tanjung

Morawa,

Kabupaten

Deli

Serdang

tepatnya

di

Desa

Tanjung

Morawa

B,

juga

mengenai

teknik-teknik

dalam

memainkan,

fungsi

musik,

ornamentasi

(hiasan

yang

dibedakan

dengan

konstruksi),dan beberapa pendekatan sosial budayanya.

 

1.4.2 Teori

 

Teori

mempunyai

hubungan

yang

erat

dengan

penelitian

dapat

meningkatkan arti dari penemuan penelitian. Tanpa teori, penemuan tersebut akan

menjadi keterangan-keterangan empiris yang berpencar (Moh. Nazir, 1983:22-25)

Dalam tulisan ini, penulis membahas tentang pendeskripsian alat musik

gambus Melayu yang mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Susumu

Khasima di dalam APTA (Asia Performing Traditional Art, 1978 :74), yaitu dua

pendekatan yang

dapat

dilakukan untuk

membahas alat

musik,

yakni teori

struktural dan fungsional. Secara struktural yaitu: aspek fisik instrumen musik,

pengamatan,

mengukur,

merekam,

serta

menggambar

bentuk

instrumen,

ukurannya, konstruksinya, dan bahan yang dipakai. Di sisi lain, secarafungsional,

yaitu

fungsi

instrumen

sebagai

alat

untuk

memproduksi

suara,

meneliti,

melakukan pengukuran dan mencatat metode, memainkan instrumen, penggunaan

bunyi yang diproduksi, (dalam kaitannya dengan komposisi musik) dan kekuatan

suara.”

8

Menurut teori yang dikemukakan oleh Curt Sachs dan Hornbostel (1961)

yaitu sistem pengklasifikasian alat musik berdasarkan sumber penggetar utama

bunyinya. Sistem klasifikasi ini terbagi menjadi empat bagian yaitu:

1. Idiofon, penggetar utama bunyinya adalah badan dari alat musik itu

sendiri,

2. Aerofon, penggetar utama bunyinya adalah udara,

3. Membranofon, penggetar utama bunyinya adalah membran atau kulit,

4. Kordofon, penggetar utama bunyinya adalah senar atau dawai.

Mengacu pada teori tersebut, maka gambus Melayu adalah instrumen

musik kordofon dimana penggetar utama bunyinya melalui senar atau dawai.

Untuk gambus digolongkan kepada jenis lute, pada prinsipnya berarti gambus

menggunakan kotak resonator suara. Selain itu jenis lute mempunyai leher (neck)

yang berfungsi sebagai papan jari (fingerboard)atau juga sebagai penyangga

dawai (string bearer).

Dalam tulisan ini juga dibahas mengenai gambus yang merupakan proses

hasil perkembangan secara akulturasi dalam Dunia Islam. Oleh karena itu, maka

penulis

mengacu

pada

teori

akulturasi

dalam

kebudayaan,

seperti

yang

dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1986:247).

Akulturasi adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia

dengan

suatu

kebudayaan

tertentu

dihadapkan

dengan

unsur

dari

suatu

kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan

asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa

menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

Selain itu juga digunakan teori difusi atau persebaran.Proses penyebaran

manusia yang membawa unsur kebudayaan, dalam hal ini berkaitan dengan

9

pengaruh ajaran Islam yang

disampaikan

melaui permainan gambus adalah

merupakan proses difusi. Penulis mengacu pada teori difusi yang dikemukakan

oleh Koentjaraningrat (1986:244), yaitu: difusi adalah penyebaran dan migrasi

kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan ke

seluruh penjuru dunia.

Kajian organologi atau kebudayaan material musik dalam etnomusikologi

telah dikemukakan oleh Merriam (1964) sebagai berikut. Wilayah ini meliputi

kajian terhadap alat musik yang disusun oleh peneliti dengan klasifikasi yang

biasa digunakan, yaitu: idiofon, membranofon, aerofon, dan kordofon.

Selain itu

pula, setiap alat musik harus diukur, dideskripsikan, dan digambar dengan skala

atau difoto;

prinsip-prinsip pembuatan, bahan yang digunakan, motif dekorasi,

metode dan teknik pertunjukan, menentukan nada-nada yang dihasilkan, dan

masalah teoretis perlu pula dicatat. Selain masalah deskripsi alatmusik, masih ada

sejumlah masalah analitis lain yang dapat menjadi sasaran penelitian lapangan

etnomusikologi.

Apakah ada konsep untuk memperlakukan secara khusus alat-

alat

musik

tertentu

di

dalam

suatu

masyarakat?

Adakah

alat

musik

yang

dikeramatkan?

Adakah alat-alat musik yang melambangkan jenis-jenis aktivitas

budaya atau sosial alain selain musik? Apakah alat-alat musik tertentu merupakan

pertanda bagi pesan-pesan tertentu pada masyarakat luas?

Apakah suara-suara

atau bentuk-bentuk alat musik tertentu berhubungan dengan emosi-emosi khusus,

keberadaan manusia, upacara-upacara, atau tanda-tanda tertentu?

Nilai ekonomi alat musik juga penting. Mungkin ada beberapa spesialis yang

mencari nafkahnya dari membuat alat musik.

Apakah ada atau tidak spesialis

pada suatu masyarakat? Apakah proses pembuatan alat musik melibatkan waktu

pembuatnya?

Alat musik dapat dijual dan dibeli, dapat dipesan; dalam keadaan

10

apa pun, produksi alat musik merupakan bagian dari kegiatan ekonomi di dalam

masyarakatnya secara luas. Alat

musik

mungkin dianggap sebagai lambang

kekayaan; mungkin dimiliki perorangan; jika memilikinya mungkin diakui secara

individual akan tetapi untuk kepentingan praktis diabaikan; atau mungkin alat-alat

musik ini menjadi lambang kekayaan suku bangsa atau desa tertentu. Penyebaran

alat musik mempunyai makna yang sangat penting di dalam kajian-kajian difusi

dan di dalam rekonstruksi sejarah kebudayaan, dan kadang-kadang dapat memberi

petunjuk atau menetukan perpindahan penduuduk melalui studi alatmusik.

Sesuai pendapat Merriam tersebut, gambus Melayu, termasuk kajian budaya

material

musik.

Alat

musik

ini

termasuk

ke

dalam

klasifikasi

kordofon.

Selanjutnya adalah music lute. Dipetik dengan plectrum yang diapit jari telunjuk

dan ibu jari tangan kanan, dan jari-jari tangan kiri sebagai penghasil nada-nada

yang berfungsi sebagai modus penjarian (asabi).

Alat musik ini akan penulis

ukur, difoto, baik bagian eksternal maupun internalnya. Seterusnya penulis akan

memperhatikan dekorasi, pengecatan, warna, dan seterusnya. Selain itu, penulis

akan bertanya bagaimana persepsi pemain musik, seniman musik Melayu, dan

masyarakat Melayu mengenai gambus ini. Apakah ia memiliki lambang? Semua

yang dipertanyakan Merriam mengenai alat musik akan penulis teliti dalam

penelitian ini. Aspek kedua adalah mengenai sisi ekonomi dalam alat musik,

dalam hal ini gambus Melayu. Penelitian tentang

hal ini berkaitan dengan

distribusi dan penjualannya, terutama di Tanjung Morawa, Medan, Lubuk Pakam,

Sumatera Utara, dan sekitarnya. Apakah bapak SyahrialFelani mengutamakan sisi

ekonomi atau mengutamakan sisi budaya, atau gabungan keduanya dalam konteks

pembuatan gambus Melayu ini.

11

1.5 Metode Penelitian

Metode adalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi

sasaran ilmu yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1997:16). Dalam penelitian ini

penulis

menggunakan

metode

penelitian

kualitatif

(Kirk

dan

Miller

dalam

Moleong,1990:3) yang mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi

tertentudalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada

pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-

orang

dalam

permasalahan

bahasanyadan

yang

terdapat

dalam

peristilahannya.

Untuk

memahami

dalam

pembuatanalat

musik

gambus

Melayu

diperlukan tahap-tahap, yaitu tahap sebelum kelapangan (pra lapangan), tahap

kerja lapangan, analisis data, dan penulisan laporan(Maleong, 2002:109). Di

samping

itu,

untuk

mendukung

metode

penelitian

yangdikemukakan

oleh

Moleong, penulis juga menggunakan metode penelitian lainnya,

yaitu kerja

lapangan (field work) dan kerja laboratorium (laboratory work). Hasil dari

keduadisiplin ini kemudian digabungkan menjadi satu hasil akhir (a final study)

(Meriam, 1964 :37).

Untuk memperoleh data dan keterangan yang dibutuhkan dalam penulisan

ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data, umumnya ada dua macam,

yakni:

menggunakan

daftar

pertanyaan

(questionnaires)

dan

menggunakan

wawancara (interview).

Untuk

pertanyaan

maupun

wawancara

melengkapi pengumpulan data dengan daftar

tersebut

dapat

pula

digunakan

pengamatan

(observation)

dan

penggunaan

catatan

harian

(Djarwanto,

1984:25).

Dalam

melakukan

penelitian,

penulis

menggunakan

tiga

tahap

yaitu:

(1)

studi

kepustakaan; (2) kerja lapangan; dan (3) kerja laboratorium.

12

1.5.1

Studi Kepustakaan

Pada tahap sebelum ke lapangan (pra-lapangan), dan sebelum mengerjakan

penelitian, penulis terlebih dahulu mencari dan membaca serta mempelajari buku-

buku, tulisan-tulisan ilmiah, literatur, majalah, situs internet, dan catatan-catatan

yang berkaitan dengan objek penelitian. Studi pustaka ini diperlukan untuk

mendapatkan konsep-konsep dan teori juga informasi yang dapat digunakan

sebagai pendukung penelitian pada saat melakukan penelitian dan penulisan

skripsi ini.

1.5.2 Kerja Lapangan

Dalam hal ini, penulis langsung ke lokasi penelitian untuk melakukan tiga

hal yang telah diketahui sebelumnya yaitu, observasi, wawancara, dan pemotretan

(pengambilan gambar) dan langsung

melakukan wawancara bebas dan juga

wawancara mendalam antara penulis dengan informan yaitu dengan mengajukan

pertanyaan

yang

telah

dipersiapkan

penelitian terdapat

juga hal-hal baru,

sebelumnya,

walaupun

saat

melakukan

yang

menjadi bahan pertanyaan yang

dianggap mendukung dalam proses penelitian ini, semua ini dilakukan untuk tetap

memperoleh keterangan-keterangan dan data-data yang dibutuhkan dan data yang

benar, untuk mendukung proses penelitian.

1.5.3 Wawancara

Dalam

proses

melakukan

wawancara

penulis

beracuan

pada

metode

wawancara yang dikemukakan oleh Koenjaraningrat (1985:139), yaitu wawancara

berfokus (focused interview), wawancara bebas (free interview), dan wawancara

sambil lalu (casual interview).

13

Dalam hal ini penulis terlebih dahulu menyiapkan daftar pertanyaan yang

akan ditanyakan saat wawancara, pertanyaan yang penulis ajukan bisa beralih dari

satu topik ke topik lain secara bebas. Sedangkan data yang terkumpul dalam suatu

wawancara bebas sangat beraneka ragam, tetapi tetap materinya berkaitan dengan

topik penelitian. Menurut Harja W. Bachtiar (1985:155), wawancara adalah untuk

mencatat keterangan-keterangan yang dibutuhkan dengan maksud agar data atau

keterangan tidak ada yang hilang. Untuk pemotretan dan perekaman wawancara

penulis menggunakan kamera dan handphone bermerk blackberry

sebagai alat

rekam Sedangkan untuk pengambilan gambar (foto) digunakan kamera digital

bermerk Canon x-3s, di samping tulisan atas setiap keterangan yang diberikan

oleh informan.

1.5.4 Kerja Laboratorium

Keseluruhan data yang telah terkumpul dari lapangan, selanjutnya diproses

dalam

kerja

laboratorium.

Data-data

yang

bersifat

analisis

disusun

dengan

sistematika penulisan ilmiah. Data-data berupa gambar dan rekaman diteliti

kembali sesuai ukuran yang telah ditentukan kemudian dianalisis seperlunya.

Semua hasil pengolahan data tersebut disusun dalam satu laporan hasil penelitian

berbentuk skripsi (Meriam, 1995:85).

1.5.5 Lokasi Penelitian

Adapun

lokasi

penelitian

yang

penulis

pilih

adalah

di

lokasi

yang

merupakan tempat tinggal narasumber yaitu Bapak Syahrial Felani di Desa

Tanjung

Morawa

B,

Jalan

Perintis

Kemerdekaan

Nomor

204

Dusun

IV,

Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang yang juga merupakan lokasi bengkel

14

instrumen beliau. Selain di kediaman beliau, penulis melakukan penelitian

pada

hari senin, tanggal 13 januari 2014 di pantai cermin dirumah kediaman Bapak

Nasri Effas, pada hari kamis tanggal 26 juni 2014 di Taman Budaya dan Pada hari

kamis 23 September 2014 di Taman Budaya.

15

BAB II

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN, BIOGRAFI RINGKAS

SYAHRIAL FELANI SEBAGAI WARGA MASYARAKAT MELAYU

DAN SENIMAN MUSIK MELAYU

Pada bab ini penulis akan menjelaskan gambaran umum tentang lokasi

penelitian dan biografi ringkas tentang beliau, yang menyatakan dirinya

sebagai

orang

Melayu,

yang

pada dasarnya secara keturunan (darah)

beliau

adalah

keturunan Jawa dan Mandailing. Ini juga menjadi salah satu fenomena menarik

tentang identitas etnik di dalam kebudayaan Melayu. Beliau, karena lama berada

dilingkungan masyarakat Melayu mulai dari bahasa, adat istiadat dan apalagi

berbagai kesenian yang Beliau pelajari dari tari-tariannya, membuat instrumen

musik, dan memainkan lat musik tersebut.

2.1 Sejarah Berdirinya Kabupaten Deli Serdang

Kabupaten Deli Serdang yang dikenal sekarang ini, sebelum Proklamasi

Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 merupakan dua wilayah

pemerintahan yang berbentuk kerajaan (kesultanan) yaitu Kesultanan Deli yang

berpusat di Kota Medan dan Kesultanan Serdang

berpusat di Perbaungan (lebih

kurang 38 km dari Kota Medan menuju Kota Tebing Tinggi). Dalam masa

pemerintahan

Republik

Indonesia

Serikat

(RIS),

keadaan

Sumatra

Timur

mengalami pergolakan yang dilakukan oleh rakyat secara spontan menuntut agar

Negara Sumatera Timur yang dianggap sebagai prakarsa Van Mook (Belanda)

dibubarkan

dan

wilayah

Sumatera

Timur

kembali

masuk

Negara

Republik

Indonesia.

Para

pendukung

NST

membentuk

Permusyawaratan

Rakyat

se

16

Sumatera Timur menentang Kongres Rakyat Sumatera Timur yang dibentuk oleh

Front

Nasional.

Negara-negara

bagian

dan

daerah-daerah

istimewa

lain

di

Indonesia

kemudian

bergabung

dengan

Negara

Republik

Indonesia

(NRI),

sedangkan Negara Indonesia Timur (NIT) dan Negara Sumatera Timur (NST)

tidak bersedia. Akhirnya Pemerintah NRI meminta kepada Republik Indonesia

Serikat (RIS) untuk mencari kata sepakat dan mendapat mandat penuh dari NST

dan

NIT

untuk

bermusyawarah

dengan

NRI

tentang

pembentukan

Negara

Kesatuan dengan hasil antara lain Undang-Undang Dasar Sementara Kesatuan

yang berasal dari UUD RIS diubah sehingga sesuai dengan Undang-Undang

Dasar 1945.

Atas dasar tersebut terbentuklah Kabupaten Deli Serdang seperti tercatat

dalam sejarah bahwa Sumatera Timur dibagi atas 5 (lima) afdeling, salah satu di

antaranya adalah Deli en Serdang. Afdeling ini dipimpin oleh seorang Asisten

Residen beribukota di Medan serta terbagi atas 4 (empat) Onder Afdeling yaitu

Beneden Deli beribukota Medan, Bovan Deli beribukota Pancur Batu, Serdang

beribukota

Lubuk

Pakam,

dan

Padang

Bedagei

beribukota

Tebing

Tinggi.

Masing-masing afdeling ini dipimpim oleh seorang kontelir.

Selanjutnya dengan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Timur

tanggal 19 April 1946, Keresidenan Sumatera Timur dibagi menjadi 6 (enam)

Kabupaten ini terdiri atas 6 (enam) kewedanaan, yaitu: Deli Hulu, Deli Hilir,

Serdang Hulu, Serdang Hilir, Bedagei, Padang (Kota Tebing Tinggi) pada waktu

itu ibukota berkedudukan di Perbaungan. Kemudian dengan Besluit Wali Negara

tanggal 21 Desember 1949 wilayah tersebut adalah Deli Serdang dengan ibukota

Medan, meliputi Lubuk Pakam, Deli Hilir, Deli Hulu, Serdang, Padang, dan

Bedagei.

17

Pada tanggal 14 November 1956, Kabupaten Deli dan Serdang ditetapkan

menjadi Daerah Otonom dan namanya berubah menjadi Kabupaten Deli Serdang

sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1948 yaitu Undang-undang

Pokok-pokok Pemerintahan Daerah dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun

1956.

Untuk

merealisasinya

dibentuklah

Dewan

Perwakilan

Rakyat

Daerah

(DPRD) dan Dewan Pertimbangan Daerah (DPD). Namun, tahun demi tahun terus

berlalu merubah perjalanan sejarah dan setelah melalui berbagai usaha penelitian

dan seminar-seminar oleh para pakar sejarah dan pejabat Pemerintah Daerah

Tingkat II Deli Serdang pada waktu itu (sekarang Pemerintah Kabupaten Deli

Serdang), akhirnya disepakati penetapan Hari Jadi Kabupaten Deli Serdang

tanggal 1 Juli 1946.

Berdasarkan

Peraturan

Pemerintah

Nomor

7

Tahun

1984,

ibukota

Kabupaten Deli Serdang dipindahkan dari Kota Medan ke Lubuk Pakam dengan

lokasi perkantoran di Tanjung Garbus yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera

Utara tanggal 23 Desember 1986.

2.1.1 Letak Geografis Kabupaten Deli Serdang

Kabupaten Deli Serdang secara geografis, terletak diantara 2°57’ - 3°16’

Lintang Utara dan antara 98°33’ - 99°27’ Bujur Timur, merupakan bagian dari

wilayah pada posisi silang di kawasan Palung Pasifik Barat dengan luas wilayah

2.497,72 km2. Dari luas Propinsi Sumatera Utara, dengan batas sebagai berikut:

(a)

Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Sumatera,

(b)

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo,

(c)

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai, dan

18

(d) Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten

Langkat.

Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari Badan Pusat Statistik

Kabupaten

Deli

Serdang,

secara

administratif

terdapat

dua puluh

dua

(22)

Kecamatan yang ada di Kabupaten Deli Serdang salah satunya adalah Kecamatan

Tanjung Morawa.

Berdasarkan hasil sensus penduduk

2013,

penduduk

Kabupaten Deli

Serdang mayoritas bersuku bangsa Jawa (51,77 %), Karo (10,84 %), Toba (10,78

%), Mandailing (6,71%), Melayu (6,22 %), Minangkabau (2,91%) Simalungun

(1,68 %), dan lain lain (1,24 %). Sedangkan Agama yang dianut oleh masyarakat

Deli Serdang beragama Islam paling besar (78,22%), Kristen (19,30 %), Budha

(2,03 %), Hindu (0,17 %), dan lainnya (0,29 %).

2.1.2 Letak Lokasi Penelitian

Kecamatan Tanjung Morawa merupakan tempat tinggal Bapak Syahrial

Felani, secara administratif kecamatan Tanjung Morawa mempunyai luas wilayah

13.175 ha yang terdiri atas 26 Desa. Adapun batas-batas wilayah kecamatan

Tanjung Morawa adalah sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Batang

Kuis, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan STM Hilir, sebelah Barat

berbatasan dengan

Kecamatan Patumbak,

sebelah

Timur

berbatasan dengan

Kecamatan Lubuk Pakam.

Dari

26

desa

tersebut,

beliau

tinggal

di

Desa

Tanjung Morawa B, tepatnya berada di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 204

Dusun IV. Di lokasi tersebutlah beliau membuka bengkel instrumen gambus,

membuka sanggar tari bernama Tamora 88 dan tinggal bersama keluarganya.

19

2. 2 Latar Belakang Budaya Melayu

Deskripsi Melayu bisa dilihat kedekatannya dengan agama Islam. Melayu

memang sangat erat

hubungannya

dengan

Islam, sehingga adapun sebuah

ungkapan ataupun gagasan adat yang bersendikan syarak syarak besendikan

kitabbulah, yang artinya asas kebudayaan Melayu adalah hukum Islam (syarak).

Sehinnga untuk menjadi orang Melayu harus mengikuti adat isriadat Melayu dan

beragama Islam (Takari dan Fadlin, 2009).

Syahrial Felani adalah seorang seniman Melayu yang asalnya bukan dari

Melayu asli. Beliau adalah keturunan

Jawa dan Mandailing, akan tetapi dia

menyatakan bahwa dirinya adalah orang Melayu, dengan kemampuannya bisa

berbahasa Melayu, beradat istiadat Melayu dan beragama Islam.

Di

samping itu identitas Melayu juga dapat dilihat melalui unsur-unsur

kebudayaan Melayu.

Secara antropologis,

unsur-unsur

mencakup

:

agama,

bahasa, organisasi, mata pencaharian hidup, kesenian, pendidikan, dan teknologi.

Di bawah ini terdapat tujuh unsur berikut.

2.2.1 Agama

Islam

adalah

kepercayaan setiap

warga masyarakat Melayu, karena

Melayu sendiri pun berlandaskan Islam.

Untuk itu saya akan menjelaskan

bagaimana proses masuknya agama islam ke peradaban Melayu. Jika di Indonesia

Islam berkembang pada Zaman kerajaan Hindu-Budha berkat hubungan dagang

dengan Negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, Tiongkok,

dan wilayah Timur Tengah. Agama hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada

awal Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya,

yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para

20

musafir dari Tiongkok yakni musafir Budha Pahien. Pada abad IV di Jawa Barat

terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Budha, yaitu kerajaan Taruma Negara

yang dilanjutkan dengan kerajaan Sunda sampai abad XVI (Luckman Sinar,

1986).

Pada masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan

Majapahit. Pada masa abad VII hingga abad XIV,kerajaan Budha Sriwijaya

berkembang pesat di Sumatera.

Hal ini di deskripsikan oleh seorang penjelajah

Tiongkok yang bernama I-Tsing,

yang mengunjungi ibukotanya Palembang

sekitar

tahun 670. Pada saat puncak kejayaannya Sriwijaya menguasai daerah

sejauh Jawa Tengah, dan Kamboja (Luckman Sinar, 1986:65).

Di abad XIV juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di

Jawa Timur, yaitu Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada

berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah

Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari Gajah Mada

termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang

terlihat dari Wiracarita Ramayana(sejarah dari Ramayana).

Masuknya ajaran Islam pada sekitar abad ke XII, melahirkan kerajaan-

kerajaan bercorakan Islam, seperti Samudra Pasai di Sumatera dan Demak di

Jawa. Munculnya kerajaan-kerajaan tersebut, secara perlahan-lahan mengakhiri

kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sekaligus menandai akhir dari era ini (Takari

dan Fadlin 2009).

Di samping itu ada pendapat dari yang Mansur menyatakan: “Besar

kemungkinannya bahwa Islam dibawah oleh para wirausahawan Arab ke Asia

Tenggara pada abad pertama dari tarikh Hijriyah atau abad ke VII-M. hal ini

menjadi lebih kuat, menurut Arnold dalam The Preaching of Islam

21

sejarah

dakwah Islam dimulai pada abad II Hijriah, yaitu para pedagang Islam melakukan

perdagangan

dengan

sailan

atau

Srilangka.

Pendapat

yang

sama

juga

dikemukakanoleh Burger dan Prajudi (2004). Mansur menambahkan Van leur

dalam bukunya Indonesian Trade and Society (2003), menyatakan pada 674 di

pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan (koloni) Arab Islam.

Perkampungan perdagangan ini dimulai dibicarakan lagi pada 618 dan

626.

Tahun-tahun

berikutnya

perkembangan

perdagangan

ini

dimulai

mempraktekan ajaran agama Islam. Hal ini mempengaruhi

pula perkampungan

Arab yang terdapat disepanjang jalan perdagangan di Asia Tenggara. Mansur juga

mengkritik keras adanya upaya sebagian sejarawan yang menyatakan bahwa Islam

baru masuk ke Indonesia setelah runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit (1478) dan

ditandai berdirinya kerajaan Demak.

Pada

umumnya

keruntuhan

Kerajaan

Hindu

Majapahit

sering

didongengkan akibat serangan dari kerajaan Islam Demak. Pada hal realitas

sejarahnya yang benar adalah Kerajaan Hindu Majaphit runtuh akibat serangan

raja Girindrawirdhana dari kerajaan Hindu Kediri pada tahun 1478 M. al-Atts

mengatakan sarjana Barat melangsungkan penelitian ilmiah terhadap sejarah dan

kebudayaan

Kepulauan

Melayu-Indonesia

telah

lama

menyebarkan

bahwa

masyarakat kepulauan ini seolah-olah merupakan masyarakat penyaring, penapis,

serta penyatu unsur-unsur berbagai kebudayaan.

Banyak pertanyaan mengatakan kenapa Melayu sangat erat hubungan

dengan Islam? Atau apa pengaruh yang diberikan Islam kepada masyarakat

Melayu harus berdasarkan Islam. Al-Attas menguraikan bahwa ajaran Islam selalu

memberikan keterangan dan memiliki sifat asasi insan itu ialah akal, dan unsur

hakikat

inilah

yang

menjadi

perhubungan

22

antara

dia

dan

hakikat

semesta.

Sebagaimana kegelapan lenyap dipancari sinar surya yang membuat setiap umat

Islamselalu mencari kebenaran berdasarkan akal. Demikian juga kedatangan Islam

dikepulauan Melayu di Indonesia yang membawa Rasionalisme dan pengetahuan

akhlakserta menegaskan suatu sistem masyarakat

yang terdiri rari individu-

individu. Jadi Islam membawa peradaban yang mudah diterima, intelektualitasme,

dan ketinggian budi insane ditanah Melayu. Al-Attas juga menunjukan bukti

bahwa dari tangan ulama-ulama Islam lahirlah budaya sastra, tulisan, falsafah,

buku, dan lain-lain,yang tidak dibawa peradaban sebelumnya. Islam memang

tidak meninggalkan kebudayaan patung (candi) sebagaimana kebudayaan Pra-

Islam (sumber: www.wikipedia.com).

Disisi lain ada juga disebut dengan ras Proto-Melayu pedalaman, yaitu

orang Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak-Dairi, yang memiliki kepercayaan

adat istiadat sendiri. Memang pada dasarnya orang luar mengenal sebagian orang

Asia itu adalah orang Melayu, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan

lain sebagainya. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak mengatakannya mereka

sebagai orang Melayu, karena mereka memiliki agama, bahasa dan kebudayaan

yang tidak sama dengan konsep kebudayaan Melayu.

Seperti contoh penulis. saya beragama Kristen Protestan, saya berasal dari

suku Batak Toba, saya menggunakan bahasa Batak dan bercampur dengan bahasa

Indonesia, dan saya juga melakukan adat istiadat suku saya sendiri. Namun

demikian, jika orang luar menyatakan saya orang Melayu

saya pasti akan

menjawab saya juga orang Melayu, karena pada dasarnyabahasa Indonesia berasal

dari bahasa Melayu. Begitu juga dengan objek penelitian saya, Syahrial Felani

adalah seorang yang bukan berasal dari Melayu asli melainkan suku Jawa, akan

tetapi beliau memyatakan dirinya Melayu, karena beliau menggunakan adat

23

istiadat Melayu, beragama Islam, dan juga paham betul tentang kesenian budaya

Melayu.

2. 2.2 Bahasa

Bahasa Melayu menjadi bahasa nasional dan bahasa pengantar di semua

lembaga publik di sebagian Asia, seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Bahasa Melayu yang menjadi lingua franca

penduduk Nusantara

sejak sekian

lama.

Bahasa Melayu

juaga

telah

termasuk etnik Melayu.

dipergunakan

oleh

mayarakat

Indonesia,

Akan tetapi dalam kebudayaan Melayu penggunaan bahasa khususnya

dialek

memiliki

perbedaan

dari lima kabupaten, jika orang Melayu di pesisir

Timur, Serdang Bedagai,

Pangkalan Dodek,

Batubara,

Asahan,

dan

Tanjung

Balai,

memakai bahasa Melayu dengan mengalihkan

huruf vokal “o” di ujung

kosa-kosa kata yang baku menggunakan vocal “a,” sebagai contoh kemano

(kemana), siapo (siapa).

Di Langkat dan di Deli mengalihkan

hurufvokal “a”

menjadi “e” di ujung kosa-kosa katanya, seperti contoh, kemane (kemana), siape

(siapa).

Dari sini kita bisa melihat meskipun akar kebudayaan

etnik

Melayu

itu

satu

rumpun, namun ada juga

perbedaan-perbedaan kecil yang membedakan

etnik

Melayu.

Adapun

perbedaan-perbedaan

tersebut

dikarenakan adanya

kebiasaan yang sudah dibawa

dari nenek moyang yang

pada saat

itu

mereka

memiliki satu pengelompokan yang berbeda-beda (Zein, 1975:89).

Bahasa yang digunakan dan difungsikan oleh Syahrial Felani adalah

bahasa Indonesia. Biarpun

beliau

sendiri

orang

Jawa,

akan

tetapi

dia lebih

senang menggunakan dalam pergaulan sehari-hari.Beliau juga dalam berkesenian

24

selalu menggunakan bahasa Melayu dialek Deli dan Serdang, terutama untuk

pertunjukan teater.

2.2.3 Mata Pencaharian

Bagi orang Melayu yang tingal di desa, mayoritas mereka menjalankan

aktivitas pertanian.

Aktivitas pertanian termasuk mengusahakan tanaman padi,

karet, kelapa sawit, kelapa,

dan tanaman campuran (mixed farming). Dikawasan

pesisir

pantai,

umumnya

orang

Melayu

bekerja

sebagai

nelayan,

yaitu

menangkap

ikan dilaut dengan menggunakan

alat-alat penangkap ikan.

Orang

Melayu yang tinggal di kota kebanyakannya bekerja dalam sektor dinas, sebagai

pekerja disektor perindustrian, perdagangan, pengangkutan, dan lain-lain.

Penguasaan ekonomi dikalangan orang Melayu

perkotaan relatif

masih

rendah dibandingkan dengan penguasaan ekonomi oleh penduduk non-pribumi,

terutama orang Tionghoa. Banyak yang tinggal di kota-kota besar dan mampu

hidup

berkecukupan.

Selain

itu

banyak

orang

Melayu

yang

mempunyai

pendidikan yang tinggi, seperti di universitaas di dalam maupun di luar negeri.

Di

samping

itu

menurut

Metzger

(dalam

Takari

dan

Fadlin

2009)

kelemahan orang Melayu dalam ekonomi adalah kurangnya mayarakat Melayu

menghargai budaya lama, pemalas, dan kurangnya sifat ingin tahu.

Untuk itu,

sekarng ini tidak semua masyarakat Melayu hidup bertani, berkebun dan menjadi

nelayan saja.

Banyak juga orang Melayu yang profesinya menjadi guru, dosen,

musisi, dan pejabat-pejabat tinggi. Orang Melayu di Sumatera Utara mempunyai

pola hidup untuk mengejar ilmu setinggi-tingginya, bersaing dengan kelompok

etnik lain.

Bahkan ada juga yang belajar ke luar negeri,

karena orang Melayu

menjunjung tinggi pendidikan. Mereka ini ingin pintar dan cerdas, untuk dapat

25

membantu

semua

orang.

Bagi sebahagian besar orang Melayu,

mereka

mengamalkan ajaran agama Islam untuk terus mencari ilmu, yang sangat berharga

yang tidak bisa hilang sampai mati.

Syahrial Felani sebelumnya pernah terjun ke dunia transportasi

sebagai

supir ataupun

kernek. Namun pada saat ini, mata pencaharian Syahrial Felani

adalah seorang musisi, selain seorang musisi beliau juga mengajar sebagai guru

tari di Binjai, pembuat alat musik gambus, dan menjual beberapa asesoris seperti

pakaian perlengkapan pertunjukan kesenian Melayu.

2.2.4 Pendidikan

Sebelum penjajahan Belanda, orang Melayu mendapat pendidikan Agama.

Selama

penjajahan,

peluang

pendidikan ala

Eropa

terbatas

untuk

orang

Melayu di pedesaan, dan terpusat di daerah perkotaan, Pendidikan gaya Eropa

sendiri hanya di kembangkan setelah Indonesia merdeka.

 

Orang Melayu mengalami sebuah

perkembangan

yang

pesat

dalam

dunia

pendidikan.

Karena

seperti

kita

ketahui,

orang Melayu

sangat

menjunjung

tinggi

yang

namanya

pendidikan

ataupun

ilmu.

Inilah yang

mereka bisa maju ke depan lebik baik, karena mereka juga ingin di hormati

bukan dilecehkan.

Dalam pendidikan formal, Syahrial Felani sendiri

menyatakan nasibnya

kurang baik, dikarenakan hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD) saja. Namun

beliau

mempunyai alasan yang

cukup

kuat

untuk tidak melanjutkan tingkat

pendidikan selanjutnya, demi kebutuhan ekonomi dalam keluarga.

26

2.2.5 Teknologi

Etnik Melayu pada dasarnya

ingin terus berusaha menguasai teknologi,

yang

di antaranya bisa kita lihat dari

pemakaian

alat

musik

keyboard yang

mereka gunakan

dalam

memainkan

lagu-lagu Melayu.

Sama

halnya dengan

teknologi-teknologi

lainnya seperti alat komunikasi

yang

dikenal

dengan

hanphone yang lazim digunakan semua masyarakat di Indonesia termasuk suku

Melayu.

Kemudian ada lampu sebagai alat penerang dirumah, kebanyakan mereka

tidak menggunakan

lampu

teplok

yang digunakan pada zaman dahulu untuk

menerangi rumahnya.

Kemudian

ada

komputer

mempermudah

dalam menyimpan data, dan terkadang

sebaagai

alat

untuk

laptop juga dipakai atau

alat yang lebih canggih di bandingkan dengan komputer dipergunakan pada saat

bersekolah, karena alat ini mudah untuk di bawa.

Kendaraan

juga sebagai

teknologi

yang sudah

ada

pada

masyarakat

Melayu. Untuk mempermudah perjalanan seperti

sepeda motor,

yang dulunya

mereka

menggunakan sepeda sebagai alat

kendaraan untuk

mencapai tujuan.

Tetapi sekarang mereka sudah beralih ke sepeda motor atau yang lebih dikenal

dengan “kereta,’’

bahkan ada juga yang menggunakan

transportasi

kendaraan

mobil yang mempermudah perjalanan serta memiliki fasilitas yang baik untuk

menepuh perjalanan jauh.

Televisi juga sudah dimiliki oleh masyarakat Melayu untuk mengetahui

berita-berita dari luar daerah dan dapat mengetahui keadaan Negara. Radio juga

menjadi salah satu yang sudah ada dimiliki oleh masyrakat Melayu bahkan ada

radio yang sudah memiliki kaset sehingga

saja dan didengarkan.

27

mereka tinggal memasukan kasetnya

Jika

musisi

Melayu sudah

dari dulu diperkenalkan alat rekam,

seperti

merekam suara penyanyi, bunyi instrument musik Melayu, Syarial Felani sudah

menggunakan teknologi

yang cukup canggih. Beliau menggunakan

laptop

untuk

mengolah untuk mencoba hal-hal yang

baru dalam proses pembahaasan

lagu-lagu.

Beliau

juga

membuat

suatu alat bantu seperti spull guitar untuk

membantunya agar suara yang dihasilkannya cukup kuat untuk didengar. Karena

suara alat musik

gambus yang begitu

lembut,

sulit

untuk

didengar

jika tidak

menggunakan alat

bantu.

Pada saat proses pembuataan

alat

musik

gambus,

dulunya beliau menggunakan

gergaji

manual

untuk

pemotongan

pada

kayu.

Akan tetapi, sekarang ini beliau sudah

menggunakan gergaji mesin (senso,

chinshaw) untuk mempermudah pemotongan kayu. Jika dilihat kondisi saat ini

beliau sudah mengikuti perkembangan zaman dan sudah menikmati teknologi

yang sudah ada untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari serta alat-alat

rekaman yang digunakannya

untuk kepentingannya sebagai seniman Melayu.

2.2.6

Kesenian

Kesenian yaitu sebuah hasil karya

yang diciptakan oleh penciptanya

sendiri untuk menghasilkan sebuah keindahan. Adapun seni musik yaitu salah

satu media ungkapan

hati (sumber: www. wikipedia.com).

Untuk itu

kesenian

ini menjadi warisan

yang

Melayu

dapat

dikenal

masyarakat lain.

diturunkan secara turun-temurun,

agar masyarakat

dan memiliki identitas untuk diperkenalkan

pada

Musik mencerminkan kebudayaan masyarakat pendukungnya, didalam

musik terkandung

nilai-nilai

dan

norma-norma

yang

menjadi

bagian

dari

pada proses enkulturasi juga yang terjadi dalam musik kebudayaan masyarakat

28

Melayu

Sumatera

Utara.

Pertunjukan musik

tradisisonal

megikuti

aturan-

aturan tradisional. Pertunjukan ini, selalu berkaitan dengan penguasaan alam,

mantera (jampi)

setan.

Musik

transmisi.

yang

tradisi

tujuannya

Melayu

menjauhkan

berkembang

bencana,

mengusir

hantu

atau

secara

improvisasi berdasarkan

Eric

Berdasarkan sistem klasifikasi

yang

ditawarkan oleh Curt Sachs dan

M. Von Horn bostel (1914),

maka keseluruhan

alat-alat musik

Melayu

Sumatera Utara dapat dikelompokan kedalam klasifikasi (1) idiofon penggetar

utamanya badannya sendiri, (2) membranofon, penggetar utamanya membrane,

(3)

kordofon, penggetar utamanya

senar,

(4) aerofon,

penggetar

utamanya

kolom udara. Instrument musik Melayu itu sendiri ialah gendang ronggeng,

gendang rebana

(hadrah, taar),

kompang,

gendang silat (gendang dua muka),

gedombak, tabla, dan baya (membranofon). Tetawak, gong, canang, calempong,

ceracap (kesi), dan gambang (idiofon).

Ud,

Gambus, biola,

dan rebab

(kordofon). Akordion, bangsi, seruling, nafiri, dan puput batang padi (aerofon).

Dalam sistem klasifikasi diatas, gambus merupakan

alat musik Melayu

yang berpengaruh pada masa masuknya

Islam terjadinya kontak budaya, yang

dianggap musik dari luar menjadi bagian dari tradisi musik Melayu. Gambus

merupakan salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik

ini identik

dengan

bernafaskan

Islam,

alat musik ini juga

memiliki fungsi

sebagai pengiring tarian zapin dan nyanyian pada waktu diselenggarakan pesta

pernikahan atau acara syukuran. Begitu juga dengan bapak Syahrial Felani yang

merupakan musisi Melayu juga pembuat alat musik gambus.

29

2.2.7

Sistem Organisasi

Sistem

politik

Melayu adalah musyawarah,

yang

dijalankan

konteks

kebudayaan.

Musyawarah yang dijalankan,

biasanya

membahas

mengenai

berbagai

hal

seperti

pengelolaan sistem tanah

adat

berdasarkan

budaya

dan

adat

setempat.

Sehingga sistem musyawarah

yang

dijalankan akan

memiliki

corak dan karakter yang berbeda antara daerah yang lain. Di sini kita dapat

melihat bahwa suku Melayu telah mengenal system politik

kepada kebudayaan.

yang mengakar

Tidak

mengherankan

bahwa

suku

Melayu

mempunyai

ikatan

persaudaraan

yang

kuat,

sebab

musyawarah

memaknakan

adanya tolong

menolong

dan

kesetiakawanan

social,

sebagai

suatu

pemufakatan.

Musyawarah juga merupakan sarana, dimana rakyat dapat diposisikan untuk

membangun aturan-aturan dasar

adat hukum setempat.

dalam kehidupannya yang bersumber kepada

 

Sama

halnya

dengan

organisasi ataupun

perkumpulan

yang

sudah

dibuat

oleh

orang

Melayu

itu

sendiri.

Mereka selalu

mengutamakan

yang

namanya

musyawarah

yang

bertujuan

untuk

menghargai

adanya

pendapat-

pendapat,

dan

masukan-masukan

yang ingin

disampaikan

oleh

anggota-

anggota dalam organisasi tersebut. Salah satu organisasi yang dibentuk oleh

masyarakat

Melayu

adalah

MABMI

yaitu

Majelis

Adat

Budaya

Melayu

Indonesia.

Organisasi

ini

bukan

semata-mata

hanya

sebuah

kumpulan

orang-

orang

Melayu

yang hanya

duduk

saja,

akan

tetapi

organisasi ini

memiliki

tujuan

untuk

melestarikan

budaya

Melayu.

Sehingga

organisasi

ini tidak

30

sungkan-sungkan

mengeluarkan

melestarikan kebudayaan.

2.3 Pengertian Biografi

biaya

sebesar

apapun

yang

namanya

Dalam disiplin sejarah biografi dapat didefinisikan sebagai sebuah riwayat

hidup seseorang. Sebuah tulisan biografi dapat berbentuk beberapa baris kalimat

saja, namun juga dapat berupa tulisan yang lebih dari satu buku. Perbedaannya

adalah

biografi

singkat

hanya

memaparkan

tentang

fakta-fakta

kehidupan

seseorang dan peranan pentingnya dalam masyarakat. Sedangkan biografi yang

lengkap

biasanya

memuat

dan

mengkaji

informasi-informasi

penting,

yang

dipaparkan lebih detail dan tentu saja dituliskan dengan penulisan yang baik dan

jelas.

Sebuah

biografi

biasanya

menganalisis

dan

menerangkan

kejadian-

kejadian pada hidup seorang tokoh yang menjadi objek pembahasannya. Dengan

membaca bografi, pembaca akan menemukan hubungan keterangan dari tindakan

yang

dilakukan dalam kehidupan

seseorang

tersebut,

juga

mengenai cerita-

ceritaatau pengalaman-pengalaman selama hidupnya.

Suatu karya biografi biasanya bercerita tentang kehidupan orang terkenal

dan orang tidak terkenal, dan biasanya biografi tentang orang yang tidak terkenal

akan menjadikan orang tersebut dikenal secara luas, jika didalam biografinya

terdapat sesuatu yang menarik untuk disimak oleh pembacanya. Namun demikian

biasanya biografi hanya berfokus pada orang-orang atau tokoh-tokoh terkenal

saja.

Tulisan biografi biasanya bercerita mengenai seorang tokoh yang sudah

meninggal dunia, namun tidak jarang juga mengenai orang atau tokoh yang masih

31

hidup. Banyak biografi yang ditulis secara kronologis atau memiliki suatu alur

tertentu, misalnya memulai dengan menceritakan masa anak-anak sampai masa

dewasa, namun ada juaga beberapa biografi yang lebih berfokus pada suatu topik-

topik pencapaian tertentu.