Anda di halaman 1dari 48

ACARA I

PENGATURAN JARAK TANAM

A. Pelaksanaan Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada :
Hari : Kamis.
Tanggal : 05 November 2015.
Tempat : Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman,Yogyakarta.

B. Tujuan
1. Mengetahui kebutuhan ruang untuk tumbuh dan berkembang tanaman.
2. Mengetahui luasan minimal yang dibutuhkan tanaman agar tanaman
mampu berproduksi.

C. Dasar Teori
Jarak tanam merupakan pengaturan pertumbuhan dalam satuan luas
yang patut diperhitungkan tapi jarang diperhatikan oleh petani. Jarak tanam
sangat erat kaitannya dengan jumlah anakan yang akan dihasilkan. Ini berarti
jarak tanam erat kaitannya dengan jumlah hasil yang akan diperoleh dalam
sebidang tanah. Karena itu pengaturan jarak tanam perlu diperhatikan untuk
memenuhi sasaran agronomi yaitu produksi yang maksimal (Rubatzky, 1998).
Jarak Tanam menentukan efisiensi pemanfaatan ruang tumbuh,
mempermudah tindakan budidaya lainnya, tingkat dan jenis teknologi yang
digunakan yang dapat ditentukan oleh : Jenis tanaman, Kesuburan tanah,
kelembaban tanah, dan tujuan pengusahaan, Teknologi yang digunakan
(manual atau mesin). Pengaturan jarak tanam terbagi menjadi beberapa yaitu :
baris tunggal (single row), baris rangkap (double row), bujur sangkar (on the
square), sama segala penjuru (equidistant), atau hexagonal, dan sebagainya
(Mahdi, 2011).
Tanjuk tanaman, perakaran serta kondisi tanah menentukan jarak tanam
antar tanaman. Hal ini berkaitan dengan penyerapan sinar matahari dan
penyerapan unsur hara oleh tanaman, sehingga akan mempengaruhi

1
2

pertumbuhan dan produksi tanaman. Tanaman dengan jarak yang lebih luas
mendapatkan sinar matahari dan unsur hara yang cukup karena persaingan
antar tanaman lebih kecil (Pima, 2000).
Semakin banyak tanaman per satuan luas maka semakin tinggi indeks
luas daun sehingga persen cahaya yang diterima oleh bagian tanaman yang
lebih rendah menjadi lebih sedikit akibat adanya penghalang cahaya oleh daun-
daun diatasnya (Hanafi, 2005). Peningkatan produksi akibat pengaturan jarak
tanam juga didapat oleh (Andrade, 2002) yaitu ketika jarak antar tanaman
berkurang, persentase pe-ningkatan produksi per lahan secara nyata ditentukan
oleh persentase peningkatan intersepsi cahaya. Hasil panen kacang tanah yang
tinggi juga di tentukan oleh populasi tanaman, jumlah populasi tanaman per
satuan luas ditentukan oleh jarak tanamnya.
Pengaturan jarak tanam sangat mendukung pertumbuhan tanaman dan
produksi. Jarak tanam juga sangat berpengaruh terhadap kondisi iklim mikro
disekitar tanaman dan penerimaan sinar matahari. Jarak tanam yang rapat dapat
menyebabkan kelembapan udara yang tinggi disekitar tanaman. Kondisi ini
tidak menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman karena tanaman mudah
terserang penyakit (Cahyono, 2003).
Jarak tanama yang tidak tepat akan menimbulkan pengaruh negatif dan
beberapa kerugian. Jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan pertumbuhan
dahan terhambat sehingga mahkota pohon yang tidak rimbun. Jarak tanam
yang terlalu rapat juga menyebabkan cahaya matahari tidak dapat diterima
dengan baik oleh tanaman sehingga proses fotosintesis terhambat dan produksi
buah tidak maksimal, meskipun tanaman diberikan pupuk yang cukup yang
banyak mengandung fosfor (Sarpian, 2003).
Kusandryani dan Luthfy (2006), di Indonesia terdapat dua tipe
kangkung, yaitu kangkung darat dan kangkung air. Kangkung darat tumbuh di
lahan tegalan dan lahan sawah, sedangkan kangkung air tumbuh di air, baik air
balong maupun air sungai. Kultivar lokal yang dikenal adalah kangkung
Lombok dan kangkung Sukabumi, keduanya memiliki kualitas yang tinggi
dengan ciri khas daun berwarna hijau muda cerah, menarik, dan lebar
3

(biasanya jenis kangkung darat) serta batangnya renyah (Abidin et al, 1990).
Kangkung mengandung senyawa phytol 37% dan asam palmitat 11% yang
bermanfaat untuk farmasi, sehingga dalam dunia kedokteran kangkung disebut
tanaman obat (Tseng et al, 1992).
Kangkung termasuk suku Convolvulaceae (keluarga kangkung-
kangkungan). Kedudukan tanaman kangkung dalam sistematika tumbuhan
diklasifikasikan ke dalam :
Divisio : Spermatophyta
Sub-divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea
Species : Ipomoea reptans (Ware, 1975).
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung
darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin.
Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara
500-5000 mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya
sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar.
Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar,
sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun atau ladang yang
agak rimbun. Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau
mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi)
tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus.
Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang.
Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan
lemas sehingga disukai konsumen. Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian
tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat
C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan
daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen (Djuariah,
2007).
D. Alat dan Bahan
4

1. Alat
a. Cangkul.
b. Garu.
c. Tugal.
d. Mal jarak tanam.
2. Bahan
a. Benih kangkung.
b. Pupuk kandang,

E. Cara Kerja
1. Membuat bedengan masing-masing seluas 200 cm x 300 cm sebanyak 2
buah bedengan.
2. Memberi pupuk kandang karung tiap bedengan.
3. Cara penanamannya adalah sebagai berikut :
a. Melubangi lahan dengan menggunakan tugal dengan jarak tanam 10
cm x 10 cm dan 15 cm x 15 cm (untuk membuat jarak tanam gunakan
mal jarak tanam).
b. Masukan sedikit pupuk furadan dilubang tanam yang telah di buat lalu
tutup dengan sedikit tanah.
c. Memasukkan benih kangkung kedalam lubang tersebut sebanyak 2
buah benih setiap lubangnya , kemudian tutup lubang dengan tanah.
d. Melakukan penyiraman minimal 1 kali dalam sehari, yaitu pada pagi
hari atau sore hari. Penyiraman ini dilakuakan agar pertumbahan
tanaman yang diteliti tidak terganggu, dan produksi yang dihasilkan
lebih banyak.
e. Melakukan penyiangan ketika tanaman yang diteliti ditumbuhi gulma,
yaitu dilakukan secara manual menggunakan tangan dengan mencabut
setiap gulma yang tumbuh disekitar tanaman yang diteliti (di dalam
plot).
f. Mengendalikan hama dan penyakit apabila tanaman terserang oleh
hama atau penyakit, yaitu bisa dilakukan dengan cara mekanik. Secara
mekanik yaitu dengan mengusir atau membuang langsung hama yang
ada pada tanaman seperti ulat misalnya.

F. Data dan Hasil Pengamatan


Tabel 1.1 Pengamatan Pengaturan Jarak Tanam Kangkung.
10 cm x 10 cm 15 cm x 15 cm
Sample Tinggi Berat Jumlah Tinggi Berat Jumlah
(cm) (gram) Daun (cm) (gram) Daun
5

I 52 34,5 34 34,5 22,7 40


II 50 39 31 31 17,3 38
III 47 44,3 41 34 26,5 39
Total 149 117,8 106 99,5 66,5 117
Rata-rata 49,6 39,2 35 33,1 22,1 39

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan kangkung dapat diketahui bahwa rata-
rata tinggi tanaman kangkung dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm lebih tinggi
dibanding dengan rata-rata tinggi tanaman kangkung dengan jarak 15 cm x 15
cm. Ini menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam 10 cm x 10 cm lebih baik
untuk pertumbuhan tinggi kangkung dibandingkan dengan perlakuan lainnya
yaitu dengan jarak tanam 15 cm x 15 cm. Hal tersebut mencerminkan bahwa
pada jarak tanam rapat terjadi kompetisi dalam penggunaan cahaya yang
mempengaruhi pula pengambilan unsur hara, air dan udara. Kompetisi cahaya
terjadi apabila suatu tanaman menaungi tanaman lain atau apabila suatu daun
memberi naungan pada daun lain. Tanaman yang saling menaungi akan
berpengaruh pada proses fotosintesis. Dengan demikian tajuk-tajuk tumbuh
kecil dan kapasitas pengambilan unsur hara serta air menjadi berkurang.
Disamping itu, jarak tanam rapat akan memperkecil jumlah cahaya yang dapat
mengenai tubuh tanaman, sehingga aktifitas auksin meningkat dan terjadilah
pemanjangan sel-sel.
Sedangkan rata-rata berat tanaman kangkung dengan jarak 10 cm x 10
cm juga lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata berat tanaman kangkung
dengan jarak tanam 15 cm x 15 cm. Hal ini dikarenakan penanaman tanaman
kangkung dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm pada tempat yang lebih dekat
dengan saluran irigasi, sehingga kebutuhan air tercukupi dan mempengaruhi
berat tanaman kangkung itu sendiri. Air berfungsi untuk proses fotosintesis,
mengaktifkan reaksi enzimatik, menjaga kelembapan dan membantu
perkecambahan biji
Rata-rata jumlah daun pada tanaman kangkung dengan jarak 15 cm x
15 cm lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata jumlah daun dengan jarak
6

tanam 10 cm x 10 cm. Hal tersebut dikarenakan jarak tanam yang lebih jarang
dibandingkan dengan yang lainnya, dan menyebabkan persaingan diantara
tanaman, baik itu berupa unsur hara, oksigen, ruang tumbuh, dan lainnya lebih
sedikit dibandingkan jarak tanam yang lebih rapat, dan berakibat tumbuhan
tersebut pertumbuhannya lebih bagus dibandingkan dengan jarak tanam yang
lebih rapat.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengematan pengaturan jarak tanam kangkung dapat
disimpulkan bahwa :
1. Setiap tanaman membutuhkan ruang yang berbeda-beda untuk tumbuh dan
berkembang. Kebutuhan ruang erat kaitannya untuk mengetahui produksi
tanaman.
2. Jarak tanam yang baik dan ideal untuk pertumbuhan tanaman kangkung
adalah 10 cm x 10 cm.

I. Daftar Pustaka
Abidin, Z., A. Sumarna, Subhan, dan K.V. Veggal. 1990. Pengaruh cara
penanaman, jumlah bibit, dan aplikasi nitrogen terhadap pertumbuhan
dan hasil kangkung darat pada Tanah Latosol. Penelitian Hortikultura
19(3): 14-26.

Andrade, F.H, P. Calvino, A.Carilo and P. Barbieri., 2002. Yield response to


narrow row depend on increased radiatin interseption.
7

Cahyono, B., 2003. Kacang Buncis Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani.
Kanisius. Yogyakarta. Hal : 42.

Djuariah, D. 2007. Evaluasi Plasma Nutfah Kangkung Di Dataran Medium


Rancaekek. Jurnal Hortikultura 7(3):756-762.

Hanafi,M. Arief. 2005. Pengaruh Kerapatan Tanam Terhadap Pertumbuhan


dan Hasil Tiga Kultivar Jagung (Zea mays L) Untuk Produksi Jagung
Semi.

Kusandryani dan Luthfy. 2006. Karakterisasi Plasma Nutfah Kangkung.


Buletin Plasma Nutfah 12 (1 ): 15-19.

Mahdi, R., 2011. Teknik Budidaya http://rizalmahdi.files.wordpress.com /


2011/01/bab-9.pdf. Diakses pada tanggal 26 November 2015. Pukul
22.00 WIB.

Pima, D., 2009. Pengaruh Sistem Jarak Tanam dan Metode Pengendalian
Gulma Terhadap Pertumbuhan dan Produksi. http://repository.usu.ac.id
/bitstream/123456789/7592/1/09E0129.pdf. Diakses pada tanggal 26
November 2015. Pukul 22.00 WIB.

Rubatzky.1998. Pengaruh Kekurangan Nutrisi Pada Pertumbuhan Tanaman


kangkung air. Universitas Cendrawasi. Jayapura. http://id.wikipedia.org
Diakses pada tanggal 10 November 2015 pukul 20.00 WIB.

Sarpian, T., 2003. Pedoman Berkebun Lada dan Analisis Usaha Tani. Kanisius.
Yogyakarta. Hal : 71.

Tseng, C.F., S. Iwahami, A. Mikajiri, K.M. Shibuya, M.F. Haraoka, Y. Ebisuka,


K. Padmawirata, and U. Sankawa. 1992. Inhibition of in vitro
protalgladin and leucotviene biossyntheses by linnamoyl-
betephenthylamine and -N-acydopamine detrevatives. Chemical and
pharmaceutical (Tokyo) 40(2): 396- 400.

Ware, E.W. 1975. Producting Vegetable Crops. The Interstate Printer


Phublisher Inc : England.
ACARA II
PESEMAIAN

A. Pelaksanaan Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada :
Hari : Kamis.
Tanggal : 5 November 2015.
Tempat : Kebun Pertanian Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
8

B. Tujuan
Mengetahui Kriteria bibit sawi yang siap dipindah tanam.

C. Dasar Teori
Pesemaian adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyemaikan
benih atau bagian vegetative dari jenis tanaman tertentu sehingga dapat
menghasikan bibit yang memenuhi persyaratan umur, ukuran dan pertumbuhan
yang cukup baik untuk ditanam di lapangan. Memilih lokasi pesemaian harus
memperhatikan persyaratan sebagai berikut : lokasi pesemaian sedekat
mungkin dengan lokasi penanaman atau jalan angkutan (aksesibilitas),
lapangan harus datar, cukup tersedia air, mudah mendapatkan media, keadaan
lingkungan baik, sirkulasi udara lancar dan sinar matahari dapat masuk
kepermukaan tanah untuk mengurangi kerusakan bibit dari insecta dan jamur,
dekat dengan tenaga kerja (Fahrudin, 2009).
Pada umumnya pesemaian digolongkan menjadi 2 jenis atau tipe yaitu
pesemaian sementara dan pesemaian tetap. Pesemaian sementara (Flyng
nursery) biasanya berukuran kecil dan terletak di dekat daerah yang akan
ditanami. Pesemaian sementara ini biasanya berlangsung hanya untuk beberapa
periode panenan (bibit atau semai. Sedangkan Pesemaian Tetap. biasanya
berukuran (luasnya) besar dan lokasinya menetap disuatu tempat, untuk
melayani areal penanaman yang luas (Andini, 2006).
Benih dapat langsung disebar ditempat tanam permanen (direct
seeding) atau mula-mula dalam tempat dimana tanaman muda dapat
dipindahkan (transplanting) sekali atau dua kali sebelum pananaman
permanen. Penyemaian atau pembibitan ditujukan untuk menanam bibit atau
semai untuk memberikan pengaturan lingkungan yang lebih tepat selama tahap
perkecambahan yang gawat dan awal pertumbuahan bibit. Pembibitan
merupakan bagian khusus dari pembiakan dengan biji (Oschse, 2003).
Tempat pesemaian adalah sepetak tanah yang sengaja di buat untuk
menyemaikan bibit-bibit yang tidak dapat atau sukar untuk ditanam langsung
di kebun. Hampir semua bibit sayuran memerlukan persemaian itu. Hanya
bayam, lobak, bakung, bawang merah, bawang putih, seledri, radis, wortel dan
9

semua jenis kacang dapat langsung ditanam (disebarkan) pada petakan-petakan


pesemaian yang agak luas dapat dibuat pada tanah yang khusus disediakan
untuk keperluan itu. Untuk berkebun di halaman cukup dipergunakan sebuah
bak yang dibuat dari kayu (Rismunandar, 2003).
Tempat dilakukannya pembibitan atau pesemaian hendaknya mudah
dijangkau dengan memudahkan upaya pengairan, pemberian naungan atau hal-
hal rutin lain yang diperlukan oleh tanaman muda. Ada dua bentuk utama dari
bedengan pesemaian yang ditinggikan (raised beds) dan yang direndahkan
(sunken beds). Bed yang ditinggikan merupakan bentuk bedengan pesemaian
yang lebih banyak dilakukan oleh petani di wilayah yang sering banjir
(Muningsjah dan Setiawan. 2000).
Pesemaian tidak memerlukan tanah yang terlalu subur. Tanah subur
mengakibatkan pertumbuhan bibit yang terlalu cepat. Sebaiknya tanah
pesemaian yang kurang subur, maka pertumbuhan akar bibit relatif lebih besar
dari pada batangnya. Tanaman pesemaian dapat dipelihara dalam kotak-kotak
tanah dan dalam kantong-kantong kertas atau di bedengan untuk pesemaian
yang berjarak cukup didalam barisan agar mudah dipisahkan atau dipindahkan
(Fiandika, 2006).

Sawi hijau atau Caisin (Brassica sinensis L.) adalah tanaman jenis
sayuran yang dapat ditanam disepanjang tahun. Sawi juga dapat hidup di
berbagai tempat, baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Namun, sawi
kebanyakan dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian antara 5-
1200m dpl, baik di sawah, ladang, maupun pekarangan rumah. Sawi termasuk
tanaman yang tahan terhadap cuaca, pada musim hujan tahan terhadap terpaan
air hujan, sedang pada musim kemarau juga tahan terhadap panasnya cuaca
yang menyengat, asalkan dibarengi juga dengan penyiraman secara rutin
(Karida, 2007).
Klasifikasi tanaman sawi dalam(Rukmana, 2002) sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Sub-kelas : Dicotyledonae
10

Ordo : Papavorales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea L.
Sebagai sayuran, caisim atau dikenal dengan sawi hijau mengandung
berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan yang terdapat pada caisim adalah
protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C.
Manfaat caisim atau sawi bakso sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di
tenggorokan pada penderita batuk, penyembuh sakit kepala, bahan pembersih
darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta memperbaiki dan memperlancar
pencernaan. Daun B. juncea berkhasiat untuk peluruh air seni, akarnya
berkhasiat sebagai obat batuk, obat nyeri pada tenggorokan dan peluruh air
susu, bijinya berkhasiat sebagai obat sakit kepala (Syafri, 2009).

D. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Ember plastik.
b. Bak plastik.
2. Bahan
a. Benih sayuran sawi.
b. Pupuk kandang.
c. Tanah.

E. Cara Kerja
1. Membuat media pesemaian yang terdiri dari tanah dan pupuk kandang
dengan perbandingan 1:1 menggunakan ember plastik lalu dipindahkan ke
dalam bak plastik.
2. Menyiram media sampai basah dan meletakkan dibawah tempat teduh.
3. Menyebarkan benih sawi diatas media persemaian.
4. Menaburkan sedikit tanah sebagai penutup.
5. Menyiram persemaian setiap hari.
11

F. Hasil Pengamatan
Tabel 2.1 Hasil Pengamatan Tanaman Sawi
Parameter Pengamatan
Sampel Persentase hidup
Tinggi sawi (cm) Jumlah Daun
1 4 2
2 5 3 100%
3 5,5 2
Total 14,5 7
Rata-rata 4,83 2

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pada pesemaian sawi dapat diketahui
bahwa rata-rata tinggi batangnya adalah 4,83 cm dan rata-rata jumlah daun
adalah 2. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan jika pertumbuhan tanaman
pesemaian masih kurang baik dan belum bisa optimal. Hal ini disebabkan
karena kurangnya intensitas penyiraman yang dilakukan dan kurangnya
intensitas cahaya. Terjadinya etiolasi juga mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan bibit. Penyebab etiolasi, karena tidak ada cahaya menyebabkan
auksin tidak terurai dan aktif memperbesar dan memperpanjang sel batang
lebih cepat secara terus menerus. Selain itu terjadinya serangan hama ulat
yang memakan daun dan hanya tersisa rangka dan tulang daunnya saja.
Berkurangnya jumlah daun akan mengurangi laju fotosintesis pada tumbuhan
karena klorofil berkurang. Tumbuhan yang nutrisinya tidak terpenuhi karena
kekurangan makanan pertumbuhannya akan terhambat. Pesemaian dilakukan
guna mendapatkan bibit tanaman yang baik. Sebuah bibit bisa dikatakan
unggul apabila memiliki beberapa ciri umum diantaranya adalah pertumbuhan
bibit seragam, tahan saat di pindah tanam, tumbuh lebih cepat, memiliki akar
yang banyak, kokoh dan menghijau, tahan terhadap hama, tahan terhadap
perubahan iklim dan mempunyai produktivitas yang tinggi.

H. Kesimpulan
12

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa bibit yang


dihasilkan dari praktikum pesemaian kurang baik, karena belum ada beberapa
kriteria bibit unggul yang belum terpenuhi salah satunya adalah terserang hama
ulat dan terjadinya etiolasi pada tumbuhan karena kekurangan cahaya matahari.

I. Daftar Pustaka
Andini.2006.Holtikultura danPesemaiann ya.http//holtikultura2006danpesemai
annyammkiu. Diakses pada tanggal 22 November 2015 pukul 19.15
WIB.

Fahrudin Fuat 2009. Budidaya Caisim (Brassica Juncea L.) Menggunakan


Ekstrak Teh Dan Pupuk Kascing. Jurnal Pertanian.Vol.5 (2):8-14.

Fiandika.2006.Ayo Tanam Sayur. http://ayotanamsayurbbjkgjgjaqj.2006.


Diakses pada tanggal 22 November 2015 pukul 20.00 WIB.

Karida 2007. Bercocok Tanam Sawi atau Caisin. Riau : Departemen Pertanian
LIPTAN Press.

Midhat.2013. "Jurnal Cara Mudah Budidaya Tanaman Slederi".


http://transnjournal.net. Diakses pada tanggal 22 November 2015 pukul
19.45 WIB.

Muningsjah dan setiawan.2000.Petani dan Budidaya Holtikultura.


http://anandirablogspot.aadnmjiawadl;. Diakses pada tanggal 22
November 2015 pukul 18.49 WIB.

Oschse J J 2003. Vegetables The Duth East Indies. New York: Macmillan Co.
Ltd.

Rismunandar.2003.Pesemaian Sayuran.Jakarta : Pustaka Abadi.

Syafri Edi dan Yusri Ahmad. 2009. Budidaya Sawi Secara Semi Organik.
Bogor : Agroinovasi Press.
13

ACARA III
PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF

A. Pelaksanaan Praktikum
Hari : Kamis
Tanggal : 12 November 2015
Tempat : Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui cara-cara perbanyakan tanaman secara vegetatif.
2. Mengetahui pengaruh pemberian clonex pada pertumbuhan cangkok.
3. Mengetahui jenis media yang sesuai untuk pertumbuhan stek jambu air.
4. Mengetahui letak bahan tanam yang baik untuk pertumbuhan sensivera.

C. Dasar Teori
Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan dengan menggunakan
bagian vegetatif tanaman,misalnya bagian cabang,ranting,mata tunas,akar
cabang atau anakan. Perbanyakan vegetative dilakukan dengan cara
setek,cangkok,tempel mata atau dengan menyambung. Perbanyakan ini hanya
dilakukan pada tanaman-ta naman yang sulit diperbanyak dengan biji
(Joesoef,1989).
Keuntungan penggunaan teknik pembibitan secara vegetatif antara lain
keturunan yang didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan
induknya, tidak memerlukan peralataan khusus, alat dan teknik yang tinggi
kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar. Produksi bibit tidak
tergantung pada ketersediaan benih/musim buah, bisa dibuat secara kontinyu
14

dengan mudah sehingga dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang cukup
banyak, meskipun akar yang dihasilkan dengan cara vegetatif pada umumnya
relatif dangkal, kurang beraturan dan melebar, namun lama kelamaan akan
berkembang dengan baik seperti tanaman dari biji.Umumnya tanaman akan
lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji
(Adinugraha et.al, 2007).
Mencangkok adalah mengembangbiakkan tanaman agar cepat berbuah
dan mempunyai sifat-sifat yang sama dengan induknya. Jika tanaman
induknya berbuah manis, maka cangkokannya menghasilkan buah yang
manis pula. Selain itu, mencangkok lebih cepat memberikan hasil jika
dibandingkan dengan menanam bijinya. Tanaman yang dapat dicangkok
adalah tanaman yang mempunyai batang kayu dan berkambium, seperti
jambu, rambutan, dan mangga. Namun tanaman hasil cangkokan memiliki
beberapa kelemahan. Tanaman hasil cangkokan hanya memiliki akar serabut,
sehingga mudah tumbang/roboh dan umur tanaman lebih pendek
dibandingkan tumbuhan yang di tanam dari biji (Anonim, 2012)
Buah sirsak yang normal dan sudah cukup tua / matang mempunyai
berat 500 gr, warna kulit agak terang, hijau agak kekuningan dan
mengkilap. Bentuk buah bagian ujung agak membulat dengan diameter 5
cm, diameter bagian tengah 7 cm, serta panjang buah 17 cm. Kerapatan
duri maksimal 2- 3 buah per 4 cm (diukur pada bagian buah yang durinya
paling jarang), kekerasan daging buah empuk merata, rasa manis atau manis
asam segar dan beraroma khas (Anonim, 2013).
Sirsak (Annona muricata Linn) berasal dari Amerika Selatan. Tanaman
sirsak dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai
berikut :
Kingdom : Plantae.
Divisio : Spermatophyta.
Sub Divisio : Angiospermae.
Class : Dicotyledonae.
Ordo : Polycarpiceae.
15

Famili : Annonaceae.
Genus : Annona.
Species : Annona muricata Linn.
Berbagai manfaat sirsak untuk terapi antara lain pengobatan batu
empedu, antisembelit, asam urat dan meningkatkan nafsu makan. Dengan
mengkonsumsi buah sirsak dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan
memperlambat proses penuaan (sebagai obat agar awet muda). Selain itu,
kandungan seratnya juga berfungsi untuk memperlancar pencernaan, terutama
untuk pengobatan sembelit. Sari buah sirsak di dalam sistem pencernaan akan
meningkatkan rangsangan nafsu makan. Kegunaan lain dari sari buah ini
adalah untuk pengobatan pinggang pegal dan nyeri, penyakit kandung air seni
dan wasir (Anonim, 2013).
ZPT merupakan faktor pendukung yang dapat memberikan kontribusi
besar dalam keberhasilan usaha budidaya pertanian. Namun, penggunaan
hormon ini harus dilakukan dengat tepat. Pemahaman mengenai fungsi dan
peran hormon terhadap laju pertumbuhan maupun perkembangan tanaman
sangat penting. Oleh karena itu, pada artikel ini akan kami uraikan mengenai
ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) dengan harapan bisa memberikan kontribusi
dalam usaha agribisnis pertanian. ZPT dalam kadar sangat kecil mampu
menimbulkan suatu reaksi atau tanggapan baik secara biokimia, fisiologis
maupun morfologis, yang berfungsi untuk mempengaruhi pertumbuhan,
perkembangan, maupun pergerakan taksis tanaman atau tumbuhan baik
dengan mendorong, menghambat, atau mengubahnya. "Kadar kecil" yang
dimaksud berada pada kisaran satu milimol per liter sampai satu mikromol
per liter. ZPT berbeda dengan unsur hara atau nutrisi tanaman, baik dari segi
fungsi, bentuk, maupun senyawa penyusunnya (Tanjionegoro. 2012 )
Stek adalah cara mengembangbiakkan tanaman dengan menggunakan
bagian dari batang tumbuhan tersebut. Bagian tanaman yang dapat ditanam
dapat berupa batang, tangkai, atau daun. Tidak semua tumbuhan dapat
disetek. Stek daun dapat dilakukan pada tanaman cocor bebek dan begonia.
Stek akar dapat dilakukan pada tanaman sukun dan stek batang dapat
16

dilakukan pada tanaman singkong. Stek tangkai dapat dilakukan pada


tanaman mawar. Contoh tanaman yang dikembangbiakan dengan stek adalah
ubi kayu, tebu, kangkung, dan mawar (Anonim, 2012).
Bagian batang, cabang atau pucuk yang ditanamkan disebut stek,.Stek
dibedakan menjadi stek batang, stek cabang, stek ranting, stek pucuk, stek
daun, dan stek tunas . Stek yang dilakukan pada bagian atas tanaman seperti
stek pucuk, stek batang dan lain-lain, bertujuan untuk mengoptimalkan
pembentukan sistem perakaran baru. Sementara stek yang dilakukan pada
bagian bawah tanaman seperti stek akar bertujuan untuk mengoptimalkan
pembentukan sistem bagian atas tanaman. Sementara stek daun bertujuan
untuk pembentukan sistem perakaran dan batang tanaman.(Jumin,1994)
Zat pengatur tumbuh Atonik merupakan salah satu zat pengatur
tumbuh yang beredar di pasaran. Zat pengetur tumbuh ini dapat
meningkatkan proses fotosintesis, meningkatkan sintesis protein dan juga
meningkatkan daya serap unsur hara dari dalam tanah (Anonymous, tt). Zat
pengatur tumbuh Atonik mengandung bahan aktif triakontanol, yang
umumnya berfungsi mendorong pertumbuhan, dimana dengan pemberian zat
pengatur tumbuh terhadap tanaman dapat merangsang penyerapan hara oleh
tanaman (Kusumo, 1984).
Klasifikasi Lidah mertua (Sansevieria trifasciata Prain) (Anonim,
2012).
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Super Divisi : Spermatophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Agavaceae
Genus : Sansevieria
Spesies : Sansevieria trifasciata Prain
Oasis banyak digunakan oleh penyedia rangkaian bunga segar karena
mempunyai beberapa kelebihan : daya simpan airnya yang sangat tinggi serta
mempunyai ruang pori yang sangat banyak. Jika digunakan sebagai bahan
17

cangkok, pertumbuhan akar akan mudah terjadi karena ketersedian air yang
sangat tinggi di dalam media cangkok disertai kemudahan akar untuk tumbuh
karena pada dasarnya secara fisik, material oasis cukup rapuh dan lembut
untuk ditembus oleh akar-akar muda sekalipun. Dengan demikian,
pertumbuhan akar juga akan sangat cepat sekaligus mudah diamati. Oasis
terbagi menjadi dua, tipe kering dan tipe basah. Disebut tipe kering karena
sama sekali tidak menyerap air sedangkan Oasis basah adalah media tanam
pengganti tanah yang berbentuk seperti spons, mudah dipotong, namun keras
dan akan remuk jika ditekan serta mudah menyerap air (Anonim, 2012).
Tumbuhan jambu air berbentuk pohon, Batang jelas terlihat, berkayu
(lignosus), silindris, tegak, kulit kasar, batang berwarna coklat kehitaman,
percabangan simpodial. Arah tumbuh batang tegak lurus. Arah tumbuh
cabang condong keatas dan ada pula yang mendatar (Anonim, 2013).
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Eugenia
Spesies : Eugenia aquea Burm.F
18

D. Alat Dan Bahan


1. Alat
a. Pisau steril.
2. Bahan
a. Batang sirsak.
b. Daun sansivera.
c. Batang jambu air.
d. Polybag.
e. Cocopit.
f. Botol air mineral.
g. Tali rafia.
h. Tanah.
i. Oasis (floral foam)
j. ZPT (clonex, atonik).
k. Plastik.

E. Cara Kerja
1. Cara stek sansivera
a. Menyediakan bahan stek daun sansivera.
b. Memotong menyerong permukaan daun sansivera dan merendam daun
dalam atonik.
c. Menanam pada media campuran tanah dan pupuk kandang.
d. Menyiram setiap hari, jangan sampai becek.
2. Cara stek jambu air
a. Menyediakan bahan stek batang jambu air.
b. Memotong menyerong permukaan batang jambu air.
c. Mengoleskan clonex pada bagian yang telah dipotong.
d. Merendam batang jambu air dalam atonik.
e. Menanam batang jambu air dalam botol dengan media tanah dan oasis.
f. Membungkus botol dalam satu plastik, memendam sebagian dalam
tanah namun jangan terlalu dalam, mengikat plastik.
3. Cara cangkok
a. Memilih pohon induk, menentukan 4 cabang yang pertumbuhannya
baik.
b. Mencampurkan pupuk dan tanah dengan perbandingan 1 : 1.
c. Membuat keratan melingkar batang (cabang) sebanyak dua buah
keratan dengan jarak antar keratan 5 cm dengan menggunakan pisau
steril.
d. Mengupas kulit batang yang berada diantara dua keratan tersebut,
membersihkan kambiumnya sampai bersih dengan cara mengeroknya
dengan pisau.
19

e. Mengoleskan clonex pada 2 cabang tanaman yang telah di kupas kulit


batangnya.
f. Mengambil media tanah yang sudah dibasahi dan membalutkan pada
bagian cabang yang telah dikupas.
g. Membungkus segera cabang yang sudah dikupas tersebut dengan
plastik kemudian mengikatnya.
h. Menyiram setiap hari media cangkok, jangan sampai kering.

F. Hasil Pengamatan
Tabel 3.1 Pengukuran Tanaman pada Stek Daun Lidah Mertua
Sampel Pangkal Ujung
JA PA(cm) JA PA(cm)
1 16 2,5 - -
2 - - - -
3 - - 14 1

= 33,3 %

Tabel 3.2 Pengukuran Stek Batang Tanaman Jambu Air


Media Tanam Oasis Media Tanah Kompos
Sampel PA TT PA TT
JA JT JA JT
(cm) (cm) (cm) (cm)
1 - - - - - - - -
2 - - - - - - - -
3 - - - - - - - -
4 - - - - - - - -
5 - - - - - - - -
Tabel 3.3 Pengukuran Cangkok Tanaman Sirsak
20

Dengan Clonex Tanpa Clonex


Sampel Jumlah Akar terpanjang Jumlah Akar terpanjang
Akar (cm) Akar (cm)
1 - - - -
2 - - - -
Keterangan :
JA : Jumlah akar.
PA : Panjang akar.
JT : Jumlah tunas.
TT : Tinggi tunas.

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pertumbuhan stek sansivera dapat
diketahui bahwa jumlah akar dan panjang akar stek bagian pangkal lebih
besar daripada stek bagian ujung. Hal ini dikarenakan Pada stek daun bagian
tengah memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dibandingkan dengan
bagian atas. Pada awal penyetekan karbohidrat berperan penting dalam
metabolisme tanaman yang menghasilkan energi kemudian digunakan untuk
pertumbuhan akar.
Sedangkan hasil pengamatan stek batang pada jambu air dapat
diketahui tidak adanya pertumbuhan pada stek jambu air yang menggunakan
media tanam tanah dan media tanam oasis. Hal in dikarenakan media yang
digunakan untuk yang digunakan tidak cocok dan media tanam terlalu lembab
yang membuat jamur dan lumut mudah untuk tumbuh sehingga batang stek
yang digunakan menjadi busuk dan mati. Jamur dan lumut yang tumbuh akan
menyerap makanan yang ada di dalam stek sehingga makanan yang
dibutuhkan oleh tanaman menjadi habis. Namun seharusnya pertumbuhan
tanaman yang di stek pada media tanam tanah lebih bagus dibandingkan pada
21

stek dengan media tanam oasis karena pada media tanam tanah lebih banyak
mengandung unsur hara dan zat lain yang dibutuhkan tanaman.
Pada hasil pengamatan cangkok tanaman sirsak dapat diketahui bahwa
sirsak tanpa clonex dan sirsak dengan clonex tidak menunjukkan adanya
pertumbuhan. Hal ini dikarenakan ke empat batang sirsak yang dicangkok
patah sehingga akar tidak bisa tumbuh pada batang yang dicangkok tersebut.
Batang sirsak patah karena cabang masih terlalu muda dan kecil pada saat
dibungkus dengan tanah cabang tidak kuat sehingga patah dan media yang
digunakan kurang baik dalam menjaga kelembaban, sehingga media terlalu
banyak air yang mengakibatkan cangkok busuk. Namun seharusnya cangkok
yang menggunakan clonex akan mendapatkan hasil yang lebih baik karena
kandungan clonex yang berupa auksin dapat merangsang tumbuh akar,
sehingga kemungkinan berhasil lebih tinggi.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pertumbuhan perbanyakan tanaman
secara vegetatif dapat di simpulkan bahwa :
1. Perbanyakan tanaman secara vegetatif yaitu dengan cara stek dan
cangkok.
2. Clonex mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena dapat merangsang
pertumbuhan akar tanaman.
3. Media yang sesuai untuk pertumbuhan stek jambu air adalah media tanah,
karena banyak mengandung zat yang dibutuhkan tanaman.
4. Bahan tanam yang baik untuk stek sansivera yaitu pada bagian pangkal.
22

I. Daftar Pustaka
Adinugraha H,A., Sugeng P., dan Toni H., 2007. Teknik Perbanyakan
Vegetatif Jenis Tanaman Acacia mangium. Balai Besar penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanman Hutan 5(2):1

Anonim, 2012. Mencangkok Dengan Bahan Flolar Foam http://leira-


fruit.blogspot.co.id/2012/12/mencangkok-dengan-bahan-floral-
foam.html. Diakses pada tanggal 12 Desember 2015. Pukul 10.30 WIB.

Anonim, 2013. Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Sirsak (Annona muricata


Linn) http://www.petanihebat.com/2013/03/klasifikasi-dan-
morfologi-tanaman.html Diaksess pada tanggal 24 November 2015.
Pukul 20.00 WIB

Anonim, 2013. Klasifikasi dan Morfoogi Tanaman Jambu Air


http://www.petanihebat.com/2013/05/klasifikasi-dan-
morfoogitanaman -jambu.html. Diakses pada tanggal 24 November
2015. Pukul 20.05 WIB.

Anonim, 2013. Peranan Zat Pengatur Tumbuhan Atonik http://pertanian


457.blogspot.com/2011/11/peranan-zat-pengatur-tumbuh-atonik.html.
Diakses pada tanggal 12 Desember 2015. Pukul 10.30 WIB.

Joesoef, M. 1989. Penuntun Berkebun Jeruk. Bharata. Jakarta. 78 p.

Jumin, Hasan. Basri, 1994, Dasar-Dasar Agronomi, PT. Raja Garfindo,


Jakarta. 140p

Tanjionegoro, 2012. Hormon Tumbuhan atau ZPT Zat Pengatur.


http://www.tanijogonegoro.com/2012/11/hormon-tumbuhan-atau-zpt-
zat-pengatur.html. Diakses tanggal 24 November 2015. Pukul 20.00
WIB
23

ACARA IV
VERTIKULTUR DAN BUDIDAYA TANAMAN DALAM POT

A. Pelaksanaan Praktikum
Hari : Kamis.
Tanggal : 12 November 2015.
Tempat : Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui kriteria tanaman yang dapat dibudidayakan dengan sistem
vertikultur.
2. Mengetahui jenis limbah yang dapat digunakan untuk vertikultur.
3. Mengetahui jenis tempat vertikultur yang baik terhadap pertumbuhan
sawi.

C. Dasar Teori
Sesuai dengan asal katanya dari bahasa inggris, yaitu vertical dan
culture maka vertikultur adalah system budidaya pertanian yang dilakukan
secara vertical atau bertinggkat, baik indoor maupun outdoor. Sistem
budidaya pertanian secara vertical ini merupakan konsep penghijauan yang
cocok untuk daerah perkotaan dan lahan terbatas misalnya, lahan 1 meter
mungkin hanya bisa menanam 5 tanaman dengan, sistem vertical bisa untuk
20 batang tanaman. Vertikultur tidak hanya kebun vertikal namun ide ini
sangat merangsang seseorang untuk menciptakan khasanah biodiversitas
dipekarangan yang sempit sekalipun struktur vertikal memudahkan pengguna
membuat dan memeliharanya (Liverdi. 2011).
Pemanfaatan teknik vertikultur ini memungkinkan untuk berkebun
dengan memanfaatkan tempat secara efisien. Secara estetika, tanaman
vertikultur berguna sebagai penutup pemandangan yang tidak menyenangkan
24

atau sebagai latar belakang yang menyuguhkan pemandangan yang indah


dengan berbagai warna. Dalam perkembangan selanjutnya, teknik vertikultur
juga dimanfaatkan untuk bercocok tanam di pekarangan yang sempit bahkan
tidak memiliki pekarangan sedikitpun (Anya P Damastuti. 1996).
Persyaratan vertikultur adalah kuat dan mudah dipindah-pindahkan.
Tanaman yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan
memiliki nilai ekonomis yang tinggi, berumur pendek dan berakar pendek.
Tanaman yang sering dibudidayakan secara vertikultur antara lain, selada,
kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat, pare, pace, kacang,
panjang, mentimun dan tanaman sayuran daun lainya. Untuk tujuan
komersial, pengembangan vertikultur ini perlu dipertimbangkan aspek
ekonominya agar biaya produksinya jangan sampai melebihi pendapatan dari
hasil penjualan tanaman (Subagyo. 2009).
Perlu diketahuai bahwa terdapat beberapa jenis vertikultur. Masing-
masing memiliki karekteristik yang berbeda. Jenis yang pertama adalah
vertikultur jenis vertikal, biasanya kita temui dalam bentuk wadah-wadah
kokoh berbentuk kolom yang tegak berdiri dilahan. Jenis yang kedua adalah
jenis horizontal, yang umumnya kita temui dalam bentuk rak-rak atau tangga
bertingkat. Selain itu ada pula jenis vertikultur yang bergatung. Jenis ini
umumnya dalam bentuk pot-pot atau wadah yang diikat oleh tali atau kawat
dan digantung pada atap (Avicenna, 2011).
Sistem bertanam secara vertiultur memiliki beberapa kelebihan baik
dari segi teknik maupun ekonomis. Namun memiliki dua kekurangan ddari
segi investasi dan teknik budidaya. Berikut ini akan dijelaskan kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan sistem vertikultur jika ditinjau dari segi teknik
diantaranya adalah populasi tanaman persatuan luasan jauh lebih besar,
dengan melakukan sterilisasi media tanam, dapat dihindari pemakaian
pestisida yang dapat mencemari tanaman dan menggangu kesehatan,
kehilangan pupuk yang terbawa aliran air hujan dapat dikurangi karena
jumlah media tanam yang digunakan sudah diperhitungkan cukup di sekitar
perakaran tanaman saja dan dalam struktur wadah terbatas, mudah dibuat
25

dengan menggunakan bahan dasar yang disesuaikan dengan bahan yang


tersedia, bahan dasar yang dipakai dapat menggunakan barang bekas atau
sudah tidak dipakai, sepert pipa paralon, talang air, bambu, kayu, pot plastik
atau botol bekas kemasan air mineral, dapat menambah nilai estetika lahan
pekarangan, dapat dipindah-pindah sesuai dengan keinginan. Syarat
kebutuhan cahaya matahari, kelembapan udara dan temperatur yang sesuai
dpat terpenuhi, dapat mendatangkan keuntungan ekonomis karena investasi
bangunan unit vertikultur di media tanam dapat dipakai lebih dari satu kali
penanaman, tanaman yang ditanam secara vertikultur sperti sayuran yang
dihasilkan memiliki nilai jual tinggi karena bebas dari pnggunaan pestisida
kimiawi, kuantitas dan kualits produk lebih tinggi, kontinuitas produksi dapat
dipertahankan jika menginginkan teknik ini dipakai untuk produksi sayurana
atau tanaman obat-obatan secara komersial, dapat juga digunakan untuk
daerah yang tempatnya kering dan kurang baik untuk pertumbuhan tanaman
khususnya sayuran (Batharai dkk, 2011).
Sedangkan kekurangan dengan menggunakan teknik budidaya sistem
vertikultur diantaranya adalah memerlukan investasi awal cukup tinggi, Jika
sistem vertikultur menggunakan struktur bangunan utama berupa rumah
plastik, waktu yang dibutuhkan untuk persiapan lebih lama, karena
membuthkan konsep terlebih dahulu, tanaman rentan terhadap serangan
jamur. Diakibatkan tingkat kerapatan tanaman lebih tinggi, sehingga
menciptakan kondisi kelembapan udara yang tinggi. Akan tetapi serangan
jamur yang tinggi dapat dikendalikan dengan menerapkan beberapa tindakan
yang mrupakan konsep pengendalian hama terpadu. Contohnya dengan
menggunakan pestisida alami, melakukan pergiliran tanaman atau
menerapkan pengelolaan air yang tepat (Sutarminingsinh dkk, 2003 ).
26

D. Alat Dan Bahan


1. Alat
a. Cethok.
b. Cangkul.
c. Ember.
d. Pot
e. Paralon
f. Alat vertikultur
2. Bahan
a. Bibit sawi.
b. Pupuk kandang.

E. Cara Kerja
1. Mencampur tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1 pada
ember yang telah disedaikan.
2. Menyiapkan peralatan vertikultur yang akan digunakan
3. Mengisi peralatan vertikultur dengan campuran media tanam yang sudah
dibuat.
4. Menanam setiap lubang wadah dengan bibit yang telah dipersiapkan.
5. Menyirami media tanam dengan gembor .

F. Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Hasil pengamatan Vertikultur Sawi
Sempel Paralon Pot
TT (cm) JD TT (cm) JD
1 13 4 17 5
27

2 16 4 15 4
3 13,5 4 15 5
Total 42,5 12 47 14
Rata-rata 14,17 4 15,67 4
Keterangan :
TT : Tinggi tanaman
JD : Jumlah daun

Paralon

= 86,67%
Pot

= 80%
G. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan budidaya tanaman sistem vertikultur
rata-rata tinggi tanaman dan jumlah daun sawi dalam pot lebih tinggi daripada
tanaman sawi dalam paralon. Hal ini disebabkan karena pada tanaman sawi
dalam pot nutrisi yang ada dalam media hanya digunakan untuk satu tanaman
sawi saja, sehingga tidak terjadi perebutan atau pembagian nutrisi antar
tanaman. Sedangkan pada tanaman sawi dalam paralon nutrisi yang ada dalam
media digunakan untuk beberapa tanaman sawi yang ditanam, sehingga terjadi
perebutan atau pembagian nutrisi antar tanaman yang menyebabkan
pertumbuhannya kurang optimal. Persentase hidup tanaman dalam paralon
lebih besar dari presentase hidup tanaman sawi dalam paralon.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan budidaya tanaman dengan system
vertikultur pada pot dan paralon dapat disimpulkan bahwa :
1. Kriteria tanaman yang dapat daibudidayakan dengan system vertikultur
adalah tanaman yang berumur pendek dan berakar pendek.
2. Jenis limbah yang dapat digunakan untuk budidaya dengan system
vertikultur sepert pipa paralon, talang air, bambu, kayu, pot plastik atau
botol bekas kemasan air mineral.
28

3. Jenis tempat vertikultur yang baik untuk pertumbuhan tanaman sawi yaitu
pot.

I. Daftar Pustaka
Anya P Damastuti, 1996. Teknik Budidaya Dengan Sistem Vertikultur
http://riseuays.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 10 Desember
2015 Pukul 22.00 WIB.

Avicenna, 2011. Sistem Vertikultur http://jurnal.unsyiah.ac.id .Diakses pada


tanggal 22 Desember 2015 Pukul 22.15 WIB.

Batharai, 2011. Teknik Budidaya Dengan Sistem Vertikultur


http://riseuays.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 10 Desember
2015 Pukul 22.00 WIB.
29

Liverdi, 2011. Penerapan Sistem Budidaya Vertikultur http://paknilaia.


blogspot.com. Diakses pada tanggal 10 Desember 2015 pukul 22.15
WIB.

Subagyo. 2009. Teknik Bertanam di Lahan Sempit.

Sutarminingsinh, 2003. Teknik Budidaya Dengan Sistem Vertikultur


http://riseuays.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 10 Desember
2015 Pukul 22.00 WIB.

ACARA V
APLIKASI PEMUPUKAN PADA TANAMAN

A. Pelaksanaan Praktikum
Hari : Kamis
Tanggal : 19 November 2015
Tempat : Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui jenis aplikasi pemupukan pada tanaman.
30

2. Mengetahui pengaruh pupuk kimia terhadap pertumbuhan tanaman


jagung.
3. Mengetahui jenis formulasi pupuk yang baik untuk pertumbuhan buah
naga.

C. Dasar Teori
Pupuk adalah semua bahan yang ditambahkan pada tanah dengan
maksud untuk memperbaiki sifat fisis, kimia dan biologis. Sebagai tempat
tumbuhnya tanaman, tanah harus subur, yaitu memiliki sifat fisis, kimia, dan
biologi yang baik. Sifat fisis menyangkut kegemburan, porositas, dan daya
serap. Sifat kimia mennyangkut pH serta ketersedian unsur- unsur hara.
Sedangkan sifat biologis menyangkut kehidupan mikroorganisme dalam
tanah. Tumbuhan memerlukan nutrisi baik zat organik maupun zat anorganik.
Nutrisi organik diperoleh melalui proses fotosintesis, sedangkan nutrisi
anorganik semuanya diperoleh melalui akar dari dalam tanah dalam bentuk
zat-zat terlarut berupa kation dan anion yang mampu masuk ke dalam
pembuluh xilem akar (Sulanjana, Agung dkk. 2005).
Pemupukan adalah penambahan pupuk ke dalam tanah agar tanah
menjadi lebih subur. Pemupukan dalam arti luas adalah penambahan bahan-
bahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. Contoh penambahan pasir
pada tanah liat, penambahan tanah mineral pada tanah organik, pengapuran
dan sebagainya (Sutejo, 2002).
Pupuk urea adalah pupuk buatan senyawa kimia organik dari
CO(NH2)2, pupuk padat berbentuk butiran bulat kecil (diameter lebih kurang 1
mm). pupk ini mempunyai kadar N 45%-46%. Urea larut sempurna di dalam
air, dan tidak mengasamkan tanah. Sifat urea lain yang tidak menguntungkan
adalah sangat higroskopis dan mulai menarik air dan udara pada kelembaban
nisbi 73 persen (Hasibuan, 2006).
Pupuk kandang tergolong dalam pupuk organis yang berasal dari sisa
(kotoran) hewan. Pupuk kandang bermanfaat untuk kesuburan tanah, apabila
dipelihara dengan baik, selain itu juga mengandungbenih hama penyakit dan
gulma. Sebelum dimanfaatkan tanaman, pupuk kandang terlebih dahulu
31

mengalami proses mineralisasi dan humifikasi dengan bantuan mikro pengurai


(Jumin, 2005).
Pupuk NPK adalah pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang
mengandung unsur hara utama nitrogen, fosfor, dan kalium. Pupuk NPK
merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang paling umum digunakan.
Ketiga unsur dalam pupuk NPK membantu pertumbuhan tanaman dalam tiga
cara, yaitu (1) Nitrogen, membantu pertumbuhan vegetatif, terutama daun, (2)
Fosfor, membantu pertumbuhan akar dan tunas, (3) kalium, membantu
pembungaan dan pembuahan (Anonim, 2015).
Pemupukan bertujuan mengganti unsur hara yang hilang dan
menambah persediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk
meningkatkan produksi dan mutu tanaman. Ketersediaan unsur hara yang
lengkap dan berimbang yang dapat diserap oleh tanaman merupakan faktor
yang menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman (Nyanjang,2003).
Dalam budidaya pertanian, keberadaan pupuk merupakan faktor yang
sangat penting untuk menunjang optimalisasi produksi yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan usaha budidaya pertanian secara
intensif, diperlukan pemahaman yang benar mengenai pupuk dan cara
memupuk. Ada beberapa cara yang digunakan dalam pemupukan, seperti
contohnya adalah ditabur atau disebar, memupuk cara ini dilakukan pada
tanaman yang jarak tanamnya rapat atau tidak teratur. Cara larikan yaitu
memupuk, dengan memasukkan ke dalam larikan kemudian tutup lagi dengan
tanah agar tidak mudah menguap. Yang ketiga dimasukkan ke lubang tanah,
digunakan untuk tanaman tahunan yang sebelumnya diawali dengan
pembuatan lubang tanam. Masukkan ke dalam lubang kemudian tutup lagi
dengan tanah. Yang terakhir pengocoran, diterapkan jenis cair atau padat yang
pemberiannya dilarutkan dulu dalam air (Kurnianti, 2013).

D. Alat Dan Bahan


1. Alat
a. Tugal.
b. Cangkul.
c. Garu.
d. Ember.
32

e. Mal jarak tanam.


2. Bahan
a. Benih jagung dan tanaman buah naga.
b. Pupuk NPK tablet.
c. Pupuk Kandang.
d. Pupuk phonska

E. Cara Kerja
Penanaman Jagung
1. Membersihkan lahan terlebih dahulu dari gulma di areal yang akan dibuat
bedengan. Lahan dapat dibersihkan secara manual yaitu dengan mencabuti
tanaman pengganggu hingga bersih, kemudian melakukan pengolahan
tanah dengan mencangkul, diikuti dengan garu sampai lahan siap ditanami.
2. Mencampur tanah dengan pupuk organik sebanayak 5kg per petak lahan
tanam (200 cm x 300 cm).
3. Membuat lubang dengan cara ditugal sedalam 5 cm. jarak tanam yang
dianjurkan yaitu jarak tanam 75 cm x 40 cm dan masukkan pupuk ponska
sebanyak 100gr untuk satu bedengan kedalam lubang.
4. Masukkan sebanyak 2 benih jagung setiap satu lubang
Pemupukan Buah Naga
1. Memberikan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 2 ember kecil
per tanaman.
2. Membuat 6 lubang per tanaman lalu tanam pupuk NPK tablet.

F. Hasil Pengamatan
Tabel 5.1 Pengamatan Tanaman Jagung dengan Pupuk dan Tanpa Pupuk
Dengan Pupuk Tanpa Pupuk
Tinggi Jumlah Daun Tinggi
Sampel Jumlah Daun
Tanaman (Helai) Tanaman
(Helai)
(cm) (cm)
1 11 123 8 99
2 11 119 9 99
3 10 108 10 108
Total 32 350 27 306
Rerata 10,6 116,6 9 102
Tabel 5.2 Pengamatan Tanaman Buah Naga Sebelum dan Setelah Pemupukan
Sebelum Pemupukan Setelah Pemupukan
Sampel Jumlah Warna Bunga Jumlah
Warna Bunga
Tunas Tunas
- Kuning - Hijau
1 - -
kehijauan kekuningan
33

- Kuning - Hijau
2 1 -
kehijauan kekuningan
- Kuning - Hijau
3 - -
kehijauan kekuningan
- Kuning - Hijau
4 1 2
kehijauan kekuningan
- Kuning - Hijau
5 3 -
kehijauan kekuningan

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pemupukan pada tanaman jagung dapat
diketahui bahwa kualitas tanaman jagung yang diberi pupuk lebih baik dengan
melihat rata-rata jumlah daun dan tinggi tanaman jagung yang diberi pupuk
lebih besar dibanding tanaman jagung yang tanpa diberi pupuk. Manfaat dari
pemupukan sendiri adalah meningkatkan dan mempercepat proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatkan hasil produksi
tanaman, meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk ponska mengandung
berbagai unsur yang dibutuhkan tanaman serta menambah daya tahan tanaman
terhadap gangguan hama, penyakit dan kekeringan.
Sedangkan hasil pengamatan tanaman buah naga dapat diketahui bahwa
tanaman buah naga mengalami perubahan warna, pertumbuhan tunas dan
bunga setelah tanaman diberi pupuk kandang dan pupuk npk tablet. Warna
sulur tanaman yang sebelumnya berwarna kuning kehijauan kini berubah
menjadi hijau kekuningan. Hal ini dikarenakan pupuk yang digunakan yaitu
pupuk NPK yang masing-masing unsurnya memiliki peran dan fungsi tertentu.
Unsur nitrogen berfungsi untuk membantu pertumbuhan vegetatif terutama
daun, fosfor untuk membantu pertumbuhan akar dan tunas dan kalium untuk
membantu pembungaan dan pembuahan.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan aplikasi pemupukan tanaman jagung dan
buah naga dapat disimpulkan bahwa :
34

1. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara ditabur atau disebar, larikan dan
dimasukan kedalam lubang tanam.
2. Pemberian pupuk kimia ponska membuat tanaman jagung lebih tinggi dan
jumlah daun banyak.
3. Pupuk kandang dan pupuk npk tablet membantu pertumbuhan tunas dan
bunga tanaman buah naga.

I. Daftar Pustaka
Anonim. 2015. Pupuk NPK. https://id.m.wikipedia.org. Diakses pada tanggal
30 November 2015. Pukul 20.06 WIB.

Hasibuan. 2006. Laporan Pupuk Dan Pemupukan. http://saiful-abbas


.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 30 November 2015. Pukul 20.00
WIB.

Jumin. 2005. Dasar-dasar Agronomi. Pekanbaru:PT. RajaGrafindo Persada.

Kurnianti, Novik. 2013. Pemupukan. http://www.tanijogonegoro.com. Diakses


30 November 2015. Pukul 20.00 WIB.

Nyanjang, R., A. A. Salim., Y. Rahmiati. 2003. Penggunaan Pupuk Majemuk


NPK 25-7-7 Terhadap Peningkatan Produksi Mutu Pada Tanaman Teh
Menghasilkan di Tanah Andisols. PT. Perkebunan Nusantara XII.
Prosiding Teh Nasional. Gambung. Hal 181-185.

Sulanjana, Agung dkk. 2005. Makalah Industri Pupuk dan Amonia. Bandung;
Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI.

Sutejo.2002. Laporan Pupuk Dan Pemupukan http://saiful-abbas


.blogspot.co.id. Diakses pada tanggal 30 November 2015. Pukul 20.00
WIB.
35

ACARA VI
PENGUKURAN INTENSITAS CAHAYA

A. Pelaksanaan Praktikum
Hari : Kamis
Tanggal : 19 November 2015
Tempat : Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

B. Tujuan Praktikum
Mengetahui pengaruh letak daun terhadap banyaknya cahaya yang diloloskan.

C. Dasar Teori
Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu
tanaman persatuan luas dan persatuan waktu (kal/cm2/hari). Pengertian
intensitas disini sudah termasuk di dalamnya lama penyinaran, yaitu lama
matahari bersinar dalam satu hari, karena satuan waktunya menggunakan hari.
Intensitas cahaya dan lamanya penyinaran mempengaruhi sifat
tanaman.Besarnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman tidak sama
untuk setiap tempat dan waktu. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu
Jarak antara matahari dan bumi, tergantung pada musim, lamanya periode
cahaya matahari atau panjang hari, letak geografis (Anonim, 2012).
Untuk menghasilkan berat kering yang maksimal, tanaman memerlukan
intensitas cahaya penuh. Namun demikian intensitas cahaya yang sampai pada
permukaan kanopi tanaman sangat bervariasi, hal ini merupakan salah satu
sebab potensi produksi tanaman aktual belum diketahui (Anonim, 2012).
Proses fotosintesis tidak lepas dari peran cahaya matahari. Respon
tanaman terhadap intensitas cahaya yang berbeda tergantung dari sifat adaptif
tanaman tersebut. Respon terhadap intensitas cahaya tinggi dapat
36

menguntungkan atau merugikan. Hal ini karena tanaman memiliki ambang


batas terhadap intensitas cahaya yang harus diterima. Intensitas cahaya yang
tinggi menyebabkan rusaknya struktur kloroplas yang membantu proses
metabolisme tanaman, sehingga menyebabkan produktifitas tanaman menurun
(Salisbury, l992).
Pada dasarnya intensitas cahaya matahari akan berpengaruh nyata
terhadap sifat morfologi tanaman. Hal ini dikarenakan intensitas cahaya
matahari dibutuhkan untuk berlangsungnya penyatuan CO2 dan air untuk
membentuk karbohidrat. Berdasarkan ekologi terhadap kemampuan
penerimaan cahaya, secara garis besar tanaman dapat dibedakan menjadi dua
tipe, yang pertama heliofit, tanaman yang tumbuh baik jika terkena cahaya
matahari penuh. Lalu yang kedua skiofit, tanaman yang tumbuh baik pada
intensitas cahaya yang rendah (Lukitasari, 2010).
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yaitu
faktor makro dan mikro. Yang termasuk dalam faktor makro adalah : cahaya
matahari, suhu, kelembaban, awan, angin, serta pencemaran udara. Sedangkan
faktor mikro meliputi media tumbuh dan kandungan O2 dan CO2 yang ada di
udara (Suryowinoto. 1988).
Luxmeter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kuat
penerangan (tingkat penerangan) pada suatu area atau daerah tertentu. Alat ini
didalam memperlihatkan hasil pengukurannya menggunakan format digital.
Alat ini terdiri dari rangka, sebuah sensor dengan sel foto dan layar panel.
Sensor tersebut diletakan pada sumber cahaya yang akan diukur intenstasnya.
Cahaya akan menyinari sel foto sebagai energi yang diteruskan oleh sel foto
menjadi arus listrik. Makin banyak cahaya yang diserap oleh sel, arus yang
dihasilkan pun semakin besar.(Hasan, 2014 )
Kangkung memiliki tangkai daun melekat pada buku-buku batang dan di
ketiak daunnya terdapat mata tunas yang dapat tumbuh menjadi percabangan
baru. Bentuk daun umumnya runcing ataupun tumpul, permukaan daun sebelah
atas berwarna hijau tua, dan permukaan daun bagian bawah berwarna hijau
muda. Helai daun terbanyak terletak pada -2/3 dari ujung batang, di ujung
batang helai daun jarang atau kecil. Bentuk bervariasi, memanjang atau
37

jantung, ujung runcing, meruncing atau tumpul. Pangkal daun berlekuk, tepi
daun rata dan pertulangan menyirip atau menjari. Daun berdaging
lunak/herbaseus,permukaan licin atau berambut halus. Warna helai atas dan
bawah sama yaitu hijau, terkadang warna helai bawah lebih muda (Anonim,
2013).

D. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Alat pengukur intensitas cahaya (Lux meter)
2. Bahan
a. Tanaman kangkung

E. Cara Kerja
1. Dalam mengoperasikan atau menjalankan lux meter sangat sederhana.
Adapun prosedur penggunaan alat ini adalah sebagai berikut:
a. Menggeser tombol off/on ke arah on
b. Memilih kisaran range yang akan diukur (300 lux, 1.000 lux atau 3.000
lux) pada tombol range
c. Mengarahkan sensor cahaya dengan menggunakan tangan pada
permukaan daerah yang akan diukur kuat penerangannya
d. Melihat hasil pengukuran pada layar panel
2. Mengukur intensitas cahaya pada tanaman kangkung pada bagian atas dan
bawah kanopi daun.
3. Mencatat hasil pengukuran intensitasnya.

F. Hasil Pengamatan
Tabel 6.1 Pengamatan Intensitas Cahaya Pada Tanaman

Sempel Daun Bagian Atas Daun Bagian Bawah


1 740 640
2 820 580
3 800 660
Total 2360 1880
Rata-rata 786,67 626,67

G. Pembahaan
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengukuran intensitas cahaya
menggunakan luxmeter intensitas cahaya terbesar pada daun bagian atas.
Intensitas cahaya yang diterima oleh daun bagian atas lebih besar dibanding
38

dibagian bawah daun. Hal ini karena pada bagian atas daun terkena sinar
matahari secara langsung tanpa terhalang apapun, sedangkan pada daun
bagian bawah tidak terkena sinar matahari langsung karena terhalang oleh
daun bagian atas, sehingga cahaya yang diterima daun bagian bawah kurang
maksimal dan laju fotosintesis menjadi lambat mempengaruhi proses
pembuatan bahan makanan menjadi lebih sedikit. Cahaya diperlukan dalam
proses fotosintesis untuk berlangsungnya penyatuan CO2 dan air untuk
membentuk karbohidrat. Semakin besar jumlah energi yang tersedia akan
memperbesar jumlah hasil fotosintesis sampai dengan optimum (maksimal).
Letak daun kangkung yang bersilang yaitu dalam satu buku terdapat satu helai
daun membuat cahaya yang diloloskan menjadi lebih rendah, karena tajuk
daun bagian atas menutupi daun bagian bawah.

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengukuran intensitas cahaya dapat disimpulkan
bahwa intensitas cahaya yang diterima oleh bagian atass daun lebih besar
dibandingkan daun bagian bawah. Letak daun kangkung yang bersilang dan
bentuk daun yang tersebar spiral membuat cahaya yang diloloskan cukup
banyak, karena daun bagian bawah tetap mendapatkan cahaya yang cukup.

I. Daftar Pustaka
Anonim, 2012. Laporan Dasar-Dasar Budidaya Tanaman. http://www.asik-
asik.blogspot.com. Diakses 30 November 2015 pukul 17.25 WIB.

Anonim, 2013. Morfologi Tanaman Kangkung. https://agroekoteknologi08


.wordpress.com/2013/07/12/morfologi-tanaman-kangkung. Diakses
pada tanggal 10 Desember 2015. Pukul 22.00 WIB
39

Basri Hasan, 2014. Lux Meter Alat Pengukur Cahaya.


http://hasanbasri93.blogspot.co.id/2014/12/lux-meter-alat-pengukur-
cahaya.html. Diakses 7 Desember 2015 pukul 17.30 WIB

Lukitasari, 2010. Pengaruh Intensitas Cahaya Matahari Terhadap


Pertumbuhan Tanaman Kedelai PKM AI. http://ikippgrimadiun.ac.id.
Diakses 29 November 2015. Pukul 19.30 WIB.

Sallisbury, F. B. And Ross, C. W. l992. Plant Physiologi. Wadsworth


Publishing Company Belmont, California. http://riskyridhaagriculture
.blogspot.co.id/2011/12/intensitas-cahaya-terhadap-pertumbuhan.html
Diakses 7 Desember 2015. Pukul 17.20 WIB.

Suryowinoto, 1988. Pengaruh Intensitas Cahaya Matahari Terhadap


Pertumbuhan Tanaman Kedelai PKM AI. http://ikippgrimadiun.ac.id.
Diakses 29 November 2015. Pukul 19.30 WIB.

ACARA VII
PENGAMATAN PARAMETER KUALITAS DAN KUANTITAS TANAMAN

A. Pelaksanaan Praktikum
Hari : Kamis
Tanggal : 19 November 2015
Tempat : Kebun Percobaan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
40

B. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui bagian semangka yang memiliki kadar kemanisan paling
tinggi.
2. Mengetahui cara pengukuran luas daun.
3. Mengetahui cara pendugaan hasil panen tanaman per hektar.

C. Dasar Teori
Kualitas ialah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat sesuatu
(Wikipedia, 2013). Beberapa contoh dari pengertian kualitas adalah
kesesuaian dengan persyaratan, kecocokan untuk pemakaian, perbaikan
berkelanjutan, bebas dari kerusakan/cacat, pemenuhan kebutuhan pelanggan
sejak awal dan setiap saat, melakukan segala sesuatu secara benar, sesuatu
yang bisa membahagiakan pelanggan (Tjiptono, 1996:55). Kuantias, yakni
banyaknya atau jumlah. ontohnya jumlah suatu benda, jumlah penduduk, dan
lain-lainl (Anonim, 2013).
Peningkatan produksi pertanian dalam suatu penelitian dapat diketahui
dari mengukur beberapa parameter. Cara mengukur parameter pada tanaman
dapat dilakukan pada saat vegetatif (pertumbuhan) dan fase generatif
(pembuahan). Untuk menentukan kuantitas tanaman dapat di ukur melalui
parameter, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot hasil, sedangkan
untuk mengukur kualitas dapat diukur melalui parameter kadar gula, vit C,
dan karbohidrat (Anonim. 2015)
Pengukuran kadar gula total dapat menggunakan alat yang digunakan
untuk mengukur kadar / konsentrasi bahan terlarut (refractometer).
Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi
bahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dan sebagainya. Prinsip kerja
dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi
cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe seorang ilmuan dari
Jerman pada permulaan abad 20 (Adiya Sayogi, 2015).
Semangka adalah salah satu jenis tanaman yang merambat yang
termasuk kedalam suku Cucurbitaceae (Labu-labuan). Buah semangka
berbentuk bulat/lonjong dengan warna kulit luar berwarna hijau. Jika sudah
41

masak, dalam buah semangka berwarna merah dan banyak biji yang
menempel. Biji semangka berbentuk pipih lonjong dengan ukuran panjang
sekitar 1 cm dan lebar sekitar 0,5 cm. Daun semangka berukuran cukup besar,
berlekuk-lekuk tepinya, berwarna hijau dan bunga berwarna kuning.
Kasifikasi ilmiah dari semangka (Citrullus Lanatus Tunb) (Anonim, 2013):
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Dilleniidae
Ordo : Violales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Citrullus
Spesies : Citrullus lanatus (Tunb)
Peningkatan luas daun berhubungan erat dengan peningkatan tinggi
tanaman dan bobot bahan kering. Di samping itu, indeks luas daun makin
meningkat sehingga makin banyak daun yang terlindungi dan dengan
demikian pada akhir pertumbuhan Laju Tumbuh Tanaman Rata-Rata (LTT)
lebih cepat menurun. LTT maksimum diperoleh pada saat daun berkembang
penuh sehingga dapat mengkonvensi radiasi matahari dan hara secara
maksimal untuk menghasilkan bahan kering yang potensial (Wareing dan
Cooper. 1971).
Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam mengukur luas daun
adalah ketepatan hasil pengukuran dan kecepatan pengukuran. Untuk
pengukuran indek luas daun tentunya kecepatan pengukuran yang diperlukan.
Namun demikian ketepatan dan kecepatan pengukuran sangat tergantung pada
alat dan cara atau teknik pengukuran (Bambang dan Haryadi. 2008).
Terdapat beberapa cara untuk menentukan luas daun yaitu metode kertas
millimeter dan gravimetri.
Metode kertas milimeter ini menggunakan kertas milimeter dan
peralatan menggambar untuk mengukur luas daun. Metode ini dapat diterapkan
cukup efektif pada daun dengan bentuk daun relatif sederhana dan teratur. Pada
dasarnya, daun digambar pada kertas milimeter yang dapat dengan mudah
dikerjakan dengan meletakkan daun diatas kertas milimeter dan pola daun
42

diikuti. Luas daun ditaksir berdasarkan jumlah kotak yang terdapat dalam pola
daun. Sekalipun metode ini cukup sederhana, waktu yang dibutuhkan untuk
mengukur suatu luasan daun relatif lama, sehingga ini tidak cukup praktis
diterapkan apabila jumlah sampel banyak. Sedangkan metode gravimetri ini
menggunnakan timbangan dan alat pengering daun (oven). Pada perinsipnya
luas daun ditaksir melalui perbandingan berat (gravimetri). Ini dapat dilakukan
pertama dengan menggambar yang akan di taksir luasnya pada sehelai kertas,
yang menghasilkana replika (tiruan) daun. Replica daun kemudian digunting
dari kertas yang berat dan luasnya sudah diketahui. Luas daun kemudian
ditaksir berdasarkan berat replika daun degan berat totel kertas (Anonim.
2012).
Kebutuhan air suatu tanaman dapat didefinisikan sebagai jumlah air
yang diperlukan untuk memenuhi kehilangan air melalui evapotranspirasi (ET-
tanaman) tanaman yang sehat, tumbuh pada sebidang lahan yang luas dengan
kondisi tanah yang tidak mempunyai kendala (kendala lengas tanah dan
kesuburan tanah) dan mencapai potensi produksi penuh pada kondisi
lingkungan tumbuh tertentu. Pendugaan hasil panen per hektar dilakukan
dengan cara ubinan yaitu kegiatan pengukuran hasil panen tanaman pertanian
dalam suatu lokasi atau luasan tertentu. Ubinan dilakukan untuk menghitung
produktivitas tanaman pertanian (padi dan palawija). Satuan ini terutama
dipakai untuk mengestimasi hasil atau produksi hasil tanaman pangan, seperti
padi atau kedelai. Pada suatu lahan diberi batas yang dinamakan petak
ubinan, berukuran satu ubin (Soemarno, 2004).

D. Alat Dan Bahan


1. Alat
a. Alat refraktometer
b. Timbangan analitis
c. Penggaris
d. Kertas millimeter
e. Gunting
f. Pensil
2. Bahan
a. Semangka untuk pengukuran kadar gula total
43

b. Bahan daun jambu monyet, kelengkeng dan ubi jalar

E. Cara Kerja
1. Mengukur kadar gula total menggunakan alat refraktometer
2. Menentukan luas daun berdasarkan berat kertas
Untuk masing-masing daun dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menggambar bentuk daun yang akan dicari luasnya pada kertas
millimeter
b. Memotong gambar daun tersebut di atas sesuai dengan bentuk daunnya
c. Menimbang gambar daun tersebut dan mencatatnya (A g)
d. Memotong kertas millimeter dengan ukuran 10 cm x 10 cm kemudian
ditimbang (misal B g)
e. Menghitung luas daun yang akan diukur dengan rumus:

LUAS DAUN = X 100 cm2

3. Menentukan luas daun berdasarkan luasan pada kertas millimeter


Untuk masing-masing daun dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menggambar bentuk daun yang akan dicari luasnya pada kertas
millimeter
b. Memotong gambar daun tersebut diatas sesuai dengan bentuk daunnya
c. Menghitung luasan kotak millimeter dengan mengelompokkan sesuai
dengan besar kotak (1 cm2) yaitu 80%-100%; 60%-80%; 40%60%;
20%-40% dan <20%.
d. Menghitung luas daun berdasarkan jumlah persentase masing-masing.
4. Pendugaan hasil per hektar
a. Memanen tanaman kangkung luas petak yaitu 1,5 m x 1,5 m tiap
bedengan.
b. Menimbang hasil panen tiap bedengan.
c. Memberi nama A untuk hasil panen pada jarak tanam 10 cm x 10 cm
dan B untuk hasil panen pada jarak tanaam 15 cm x 15 cm.
d. Menghitung pendugaan hasil per hektar dengan rumus :
44

F. Hasil Pengamatan
Tabel 7.1 Hasil Pengamatan Kadar Kemanisan Semangka (brix)
Ulangan Ujung Tengah Pangkal
1 13,5 13 10,1
2 15 13 10
3 13 11,3 10
Total 41,5 37,3 30,1
Rata-rata 13,83 12,43 10,03
Tabel 7.2 Hasil Pengamatan Pengukuran Luas Daun (cm)
Ulangan Gravimetri Milimeter
JM UJ K JM UJ K
1 16,6 33,3 33,3 23 28 32,2
2 33,3 33,3 50 32 32,4 40
Total 49,9 66,6 83,3 55 60,4 72,2
Rata-rata 24,95 33,3 41,65 27,5 30,2 36,1
Keterangan
JM : Jambu monyet
UJ : Ubi jalar
K : Kelengkeng
Berat kangkung dalam satu petak panen (1,5 m x 1,5 m) :
1. Jarak tanam 10 cm : 8 kg
2. Jarak tanam 15 cm : 6 kg

= 7 x 4.444,44
= 31.111,08 kg/ha
= 31,11 ton/ha
45

G. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan kadar kemanisan pada tiga bagian
semangka yaitu ujung, tengah, pangkal dapat diketahui adanya perbedaan hasil
pengukutran pada setiap bagian semangka. Perbedaan ini di akibatkan Hal ini
disebabkan karena pada saat buah semangka masih dalam kondisi bulat,
bagian tengah dari buah semangka tersebut mendapatkan nutrisi terlebih
dahulu dan mengandung banyak likopen yang menyebabkan buah berwarna
merah dan terasa manis. Likopen ini akan menyebar dari tengah ke pinggir.
Sehingga ketika buah semangka dipotong menjadi bentuk segitiga, bagian
tengah dari semangka pada saat kondisi bulat akan menjadi bagian ujung.
Maka kadar gula teringgi setelah semangka dipotong segitiga adalah ada pada
bagian ujung.
Mengetahui kualitas tanaman juga dapat dilakukan dengan pengukuran
luas daun. Pengukuran luas daun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
mengguakan kertas millimeter blok dan gravimetri. Metode pengukuran luas
daun yang akurat yaitu menggunakan metode kertas millimeter blok. Hal ini
dikarenakan pada metode kertas millimeter blok luas daun di taksir
berdasarkan jumlah kotak yang terdapat dalam pola daun. Sedangkan metode
gravimetri kurang teliti karena luas daun ditaksir berdasarkan perbandingan
berat replika daun dengan berat total kertas dan dipengaruhi oleh faktor
ketelitian pada saat pengukuran berat daun.
Mengetahui kuantitas tanaman dilakukan dengan cara pendugaan hasil
panen tanaman perhektar. Pendugaan hasil panen perhektar dilakukan dengan
cara ubinan yaitu dengan mengambil luas petek 1,5 m x 1,5 m pada jarak
tanam 10 cm x 10 cm dan 15 cm x 15 cm. Pendugaan hasil panen pada jarak
10 cm x 10 cm lebih besar dari pendugaan hasil panen pada jarak 15 cm x 15
cm, hal ini dikarenakan pada jarak tanam 10 cm x 10 cm popolasi tanaman
lebih banyak dan tinggi tanaman juga lebih tinggi.
46

H. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada pengukuran kemanisan buah, bagian termanis adalah pada bagian
ujung buah (tengah buah).
2. Pengukuran luas daun dengan menggunakan metode kertas millimeter
blok lebih teliti dan akurat.
3. Pendugaan hasil panen menggunakan cara ubinan yaitu kegiatan
pengukuran hasil panen tanaman pertanian dalam suatu lokasi atau luasan
tertentu.

I. Daftar Pustaka
Anonim, 2013. Perbedaan/Definisi/pengertian Kualitas dan Kuantitas.
http://nbcgeonair.blogspot.co.id/2013/04/perbedaandefinisipengertia
nkualitas.html. Diakses pada tanggal 10 Desember 2015 pukul 22.30
WIB.

Anonim, 2015. Petunjuk Praltikum Teknologi Budidaya Tanaman Prodi


Agroteknologi.
47

Anonim. 2012. Metode Pengukuran Luas Daun http://staff.unila.ac.id


/janter/2012/09/07/metode-pengukuran-luas-daun/ Diakses pada
tanggal 20 November 2015 Pukul 13.10 WIB.

Anonim. 2013. Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman


http://www.petanihebat .com/2013/05/klasifikasi-dan-morfologi-
tanaman_28.html. Diakses pada tanggal 20 November 2015 Pukul
13.45 WIB.

Sayogi, A. 2015. Laporan Praktikum Budidaya Tanaman


http://adiyasayogi.blogspot.co.id/2015/06/laporan-praktikum-
budidaya-tanaman.html. Diakses pada tanggal 22 November 2015
Pukul 15.05 WIB.

Soemarno.2004.Panen Kangkung Organik http://mahiraratnayuhaaa


.blogspot.com. Diakses pada tanggal 10 Desember 2015 pukul 22.00
WIB.

Tjiptono, Fandi. 1996. Pemasaran Jasa, Malang: Banyumedia, Publishing.


Diakses pada tanggal 10 Desember 2015 pukul 22.00 WIB.

Wareing dan Cooper,1971. Laporan praktikum fisiologi. http://hafifah-


go.blogspot.com. Diakses 22 November 2015. Pukul 15.30 WIB.

Wikipedia, 2013. Kualitas. https://id.wikipedia.org/wiki/Kualitas. Diakses


pada tanggal 10 Desember 2015 pukul 22.30 WIB.
48

LAMPIRAN