Anda di halaman 1dari 3

MANAGING ETHICS RISKS AND OPPORTUNITIES

Nama : Walter Rinaldy Tuhumury


NIM : 000211/Reg/XVII/2010

Ethics Risk and Opportunity Management


Resiko etis merupakan kondisi tidak dipenuhinya harapan dari stakeholders, yang mana
akan menyebabkan potensi kehilangan dukungan terhadap tercapainya tujuan perusahaa.
Sebaliknya, terpenuhinya harapan tersebut akan mampu mengumpulkan dukungan guna
menciptakan keunggulan kompetitif.
Over-reliance on External Auditors-New Fraud Standart
Komisaris dan eksekutif seringkali berasumsi bahwa eksternal auditor, yang mereview
resiko, akan menemukan setiap resiko yang menjadi perhatian manajemen dan komisaris.
Kepercayaan yang berlebihan ini tidak pada tempatnya. Sebagai bagian dari proses audit, auditor
melakuan pengujian terhadap resiko, tetapi tidak berharap untuk menemukan setiap masalah.
Dengan adanya SOX dan standar audit yang baru, eksternal auditor harus lebih peduli dan
memperhatikan tentang adanya penyimpangan.
Resiko Etis
Dalam pandangan akuntabilitas perusahaan terhadap stakeholders, sistem tatakelola
moderen memerlukan refleksi pentingnya memuaskan kepentingan stakeholders. Tanpa adanya
dukungan perspektif dari stakeholders, investigator mungkin tidak dapat menemukan resiko.
Ethics Risk and Opportunity Identification and Gap Assesment
Proses identifikasi resiko etis dan keuntungan melalui tiga fase, yaitu:
1. Fase 1, mengembangkan proyek, memeringkat pemahaman atas kepentingan stakeholders
2. Fase 2, membandingkan aktifitas dengan harapan, untuk mengidentifikasi resiko etis dan
keuntungan.
3. Fase 3, menyiapkan laporan oleh: kelompok stakeholders, produk dan jasa, tujuan perusahaan,
nilai hypernorm, dan reputasi.
Ethics Strategies and Tactics foe Effective Stakeholders Relations
Tactik dan strategi dalam hubungannya dengan stakeholders dapat di kelompokkan dalam
empat tipe yaitu:
1. Tipe 1 supportive, kondisi: potensi kerjasama tinggi dan potensi ancaman rendah,
strateginya adalah melibatkan stakeholders.

2. Tipe 2 Marginal, kondisi: potensi kerjasama rendah dan potensi ancaman juga rendah,
strateginya adalah memantau stakeholders.

3. Tipe 3 Nonsupportive, kondisi: potensi kerjasama rendah dan potensi ancaman tinggi,
strateginya adalah bertahan.

4. Tipe 4 collaborate, kondisi: potensi kerjasama tinggi dan potensi ancaman juga tinggi,
strateginya adalah berkolaborasi.

Workplace Ethics a Significant Ethical Problem Area


Tekanan dari para aktifis berdampak pada kegiatan operasi perusahaan. Akibantnya,
pelaku bisnis mengapresiasi tema etis utama yang berkaitan dengan pegawai dan tempat kerja.
Beberapa tema etis utama antara lain:

1. Hak-hak pegawai menjadi lebih diperhatikan terutama berkaitan dengan keamanan kerja
dan kesehatan.

2. Hak privasi karyawan juga mendapatkan perhatian yang luas, hal ini didasari oleh
pemahaman bahwa hak-hak individu lebih penting daripada mereka sebagai karyawan.

3. Perhatian terhadap pentingnya perlakuan yang adil terutama yang berkaitan dengan
jender dan ras.

4. Kesehatan dan keamanan lingkungan kerja juga lebih diperhatikan.

International Operations- a Significant Ethical Problem Area


Perusahaan multinasional yang melakukan operasi di beberapa tempat di dunia akan
menghadapi kultub dan budaya yang berbeda. Kultur dan budaya tersebut sering bertentangan
dengan nilai-nilai etis, seperti praktek suap, eksploitasi pekerja anak-anak, kurangnya kebebasan
berkelompok dan lain sebagainya. Seringkali perusahaan multinasional tersebut terjebak dan
mengikuti kultur yang ada tersebut. Akibatnya, timbul boikot dan kecaman dari seluruh belahan
dunia, seperti kasus Nike, Adidas dan lain-lain. Namun tidak sedikit pula perusahaan seperti
Citybank yang berhasil tanpa melakukan praktik-praktik penyuapan semacam itu.
Corporate Social Responsibility Performance and Accountability
Untuk mengembangkan rencana komprehensive atau kerangka kerja CSR, perusahaan
harus menentukan tujuan stratejik baik sebagai operasi maupun sebagai corporate citizen. Dan
adalah sangat penting bagi perusahaan bahwa dalam rencana stratejiknya mempertimbangkan
nilai-nilai etis dan menghargai kepentingan stakeholders. Salah satu hal yang penting adalah
bagaimana mengukur kinerja CSR.
Crisis Management a Significant Ethical Problem Area
Krisis adalah suatu kejadian yang membawa, atau mempunyai potensi untuk membawa
perusahaan ke dalam kondisi yang buruk dan membahayakan profitabilitas, pertumbuhan
perusahaan di masa depan. Tujuan utama dari manajemen krisis adalah mencegah krisis itu
sendiri. Apabila tidak memungkinkan, maka upaya selanjutnya adalah meminimalkan dampak
dari krisis tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan mengantisipasi krisis secara dini untuk
selanjutnya meresponnya untuk mengurangi dampak negatifnya. Untuk mencapai hal tersebut
dapat dilakukan dengan perencanaan, pengawasan dan pengambilan keputusan yang tepat dan
cepat selama krisis.