Anda di halaman 1dari 16

K A TA P E N G A N T A R

Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa, karena bimbingan

dan penyertaan-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini guna

memenuhi tugas yang diberikan oleh Bapak Ahmad Kurnia selaku Dosen mata

kuliah Pendidikan Agama Islam

Makalah ini masih belum sempurna disebabkan karena terbatasnya kemampuan

pengetahuan baik teori maupun praktek. Dengan demikian kelompok ini

mengahrapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna

memperbaiki dan menyempurnakan panulisan makalah ini.

Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharakan

kelompok ini guna tercapainya sebuah makalah yang baik.

Kiranya yang Maha Kuasa tetap menyertai kita sekalian, dengan harapan pula

agar karya ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya.

Jakarta, 16 Oktober 2016

1
Daftar isi

BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................ 3
BAB 2 PEMBAHASAN.............................................................................. 5
A. Akhlak........................................................................................... 5
B. Tasawwuf.................................................................................... 10
C. Hubungan antara akhlak dan tasawuf........................................13
BAB 3 PENUTUP.................................................................................... 15
A. Kesimpulan................................................................................. 15
B. Kritik dan Saran..........................................................................15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 16

2
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah tasawwuf tidak dikenal dalam kalangan generasi umat Islam


pertama, yaitu pada masa (sahabat) dan kedua (tabiin). Sedangkan ilmu
tasawwuf menurut Ibnu Khaldun merupakan ilmu yang lahir kemudian
setelah datangnya Islam, karena sejak masa awalnya para sahabat dan
tabiin serta genearasi berikutnya telah memilih jalan hidayah (berpegang
kepada ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi). Dalam kehidupannya, mereka
gemar beribadah, berdzikir dan beraktifitas rohani lainya. Akan tetapi,
setelah banyak orang Islam berkecimpung dalam mengejar kemewahan
hidup duniawi pada abad kedua dan sesudahnya, maka orang-orang
mengarahkan hidupnya kepada ibadah yang disebut suffiyah dan
mutasawwifin. Dari sinilah kemudian dia mengembangkan dan
mengamalkan tasawuf sehingga diadopsi pemikirannya hingga sekarang.
Akhlak dilihat dari sudut bahasa (etimologi) adalah bentuk jamak
dari kata khulk, dalam kamus Al-Munjid berarti budi pekerti, perangai
maupun tabiat. Di dalam Da`iratul Ma`arif, akhlak ialah sifat sifat
manusia yang terdidik. Selain itu, pengertian akhlak adalah sifat sifat
yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu
ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik, yang disebut
akhlak yang mulia, sedangkan akhlak yang buruk disebut akhlak yang
tercela sesuai dengan pembinaannya.
Pokok pembahasan akhlak tertuju pada tingkah laku manusia untuk
menetapkan nilainya, baik atau buruk dan daerah pembahasan akhlak
meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun
masyarakat. Dalam perspektif perbuatan manusia. Tindakan atau
perbuatan dikategorikan menjadi dua, yaitu perbuatan yang lahir dengan
kehendak dan disengaja (akhlaki) dan perbuatan yang lahir tanpa
kehendak dan tak disengaja. Nah disinilah ada titik potong antara

3
tasawwuf dengan akhlak yang akan dibahas pada makalah ini.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian Akhlak?


2. Apa Pengertian Tasawuf?
3. Bagaimana keterkaitan antara Tasawuf dengan Akhlak?

C. Tujuan Masalah

1. Agar pembaca dapat mengetahui pengertian dari tasaawuf.


2. Supaya pembaca mengetahui pengertian akhlak.
3. Agar pembaca dapat memahami keterkaitan antara tasawuf dengan
akhlak.

4
BAB 2
PEMBAHASAN
A Akhlak

Istilah akhlak berasal dari bahasa arab "akhlaq" yang merupakan bentuk jamak
dari kata "khulqu" yang berarti perangai, budi, tabiat serta adab. Secara istilah,
pengertian akhlak juga berarti sifat yang ada dalam diri seseorang untuk berbuat
baik maupun berbuat buruk, bagus maupun jelek. Sedangkan secara terminologi,
kata akhlak dapat diartikan sebagai salah satu tingkah laku seseorang untuk
mendapatkan dorongan atau keinginan yang timbul dari dalam diri seseorang
tersebut secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan tersebut.

Secara terminologi, ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh pakar yaitu:

Ibn Miskawaih
keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-
perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (terlebih dahulu).

Imam Ghazali
adalah sesuatu yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-
perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran
(terlebih dahulu).

Prof. Dr. Ahmad Amin


Akhlaq merupakan kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu ketika
membiasakan sesuatu, kebiasaan tersebut dinamakan akhlaq.

Akhlaq berkaitan erat dengan tarbiyyah atau pembinaan jiwa. Akhlaq merupakan
produk, Akhlaq yang kita miliki berhubungan erat dengan pembinaan yang kita
lakukan kepada diri kita, jika pembinaannya baik, maka akhlaq kita baik dan
sebaliknya.

5
Secara garis besar akhlak terdiri dari dua sifat, yaitu:

Akhlak terpuji atau sering disebut juga Al-Akhlaku Mahmudah yaitu


akhlak yang diridai oleh Allah SWT, akhlak terpuji dapat berupa
pendekatan diri hamba dengan sang pencipta dengan cara mentaati atau
menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan semua yang di larang-Nya,
mengikuti semua ajaran yang diajarkan oleh Rosulullah, serta
mendekatkan diri kepada perbuatan ma'ruf dan menjahui hal-hal yang
mungkar. Menurut Imam Ghazali akhlah mulia mempunyai empat perkara
yang diantaranya:

1. Berperilaku bijak.
2. Menghindari dari sesuatu yang buruk atau tercela.
3. Keberanian untuk melawan hawa nafsu.
4. Dapat bersifat adil.

Akhlak tercela atau buruk sering disebut juga dengan Al-Akhlakul


Mazmummah yang merupakan sumber penyakit hati yang keji
dan menimbulkan iri hati, dengki, sombong, hasut, berprasangka buruk,
dan penyakit hati lainya. Dimana akhlak tercela tersebut dapat
mengakibatkan kerusakan pada diri manusia, orang lain hingga masyakat
sekitarnya.

Ada beberapa faktor pembentuk akhlak, yang terpenting diantaranya:


Adat atau kebiasaan. Akhlak itu dibentuk melalui praktek, kebiasaan,
banyak mengulangi perbuatan dan terus-menerus pada perbuatan
itu.seseorang misalnya belum disebut pemberani jika beraninya hanya
muncul sewaktu-waktu.
Sifat keturunan. Yaitu berpindahnya sifat-sifat orang tua kepada anak cucu.
Sifat keturunan ini bukan yang tampak saja, tetapi juga yang tidak tampak
seperti kecerdasan, keberanian, kedermawanan dan lain-lain.

6
Lingkungan. Yang dimaksud adalah lingkungan masyarakat yang
mengitari kehidupan seseorang dari rumah, lembaga pendidikan, hingga
tempat bekerja. Demikian pula hal-hal yang berupa kebudayaan dan
nasihat-nasihat sekitarnya.

Adapun ruang lingkup ilmu akhlak meliputi :


Akhlak terhadap Allah

a. Mengabdi hanya kepada Allah

Bertaqwa dan mengabdi hanya kepada Allah, tidak akan mempersekutukan-


Nya dengan apa pun dalam bentuk apa pun, serta dalam keadaan situasi dan
kondisi yang bagaimanapun.

Artinya: Dan Aku (Allah) tidak ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya
mereka menyembah kepada-Ku.(QS. Adz-Dzariyat: 56).

b. Tunduk dan patuh kepada Allah

Artinya: Taatlah kepada (perintah) Allah dan (perintah) Rasul-Nya supaya


kalian mendapat rahmat.(QS. Ali Imran: 132(

c. Tawakkal

Artinya: Yang apabila terjadi terhadap mereka satu kesusahan, mereka


berkata; sesungguhnya kami ini milik Allah, dan sesungguhnya kepada-
Nyalah kami akan kembali. (QS. Al-Baqarah: 15)

d. Bersyukur kepada Allah

Artinya: Dan (ingatlah), tatkala Tuhan kamu memberitahu; jika kamu


berterima kasih, niscaya Aku tambah nikmat bagi kamu, apabila kamu tidak
bersyukur, maka adzab-Ku itu sangat pedih.(QS. Ibrahim: 6-7)

e. Penuh harap kepada Allah

Artinya: Sesungguhnya ummat yang beriman dan berhijrah serta bekerja


keras (berhijrah) di jalan Allah, mereka itu (ummat yang) berharap rahmad
Allah; dan Allah itu Pengampun, Penyayang.(Al-Baqarah: 218)

7
f. Ikhlas menerima keputusan Allah

Artinya: Dan alangkah baik jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan
Rasul-Nya berikan kepada mereka, sambil mereka berkata: cukuplah Allah
bagi kami, sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya akan member kepada kamu
karunia-Nya, sesungguhnya kami mencintai Allah.(QS. At-Taubah: 59)

g. Tadlarru dan khusyu

Artinya: Beruntunglah orang-orang yang beriman. Mereka yang khhusyu


dalam shalatnya. (QS. Al-Mukminun: 1-2)

Bermohonlah kepada Tuhan kalian dengan rendah hati dan dengan rahasia
(suara hati). Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar
batas.(QS. Az-Zumar: 53)

h. Husnud-dhan

Artinya: Janganlah mati salah seorang dari kalian, melainkan dalam keadaan
baik sangka kepada Allah.(H.R. Muslim)

i. Taubat dan istighfar

Artinya: Hai orang-orang beriman! Hendaklah kalian benar-benar taubat


kepada Allah, agar segala dosa kalian diampuni dan kalian dimasukkan ke
dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.(QS. At-Tahrim: 8)

Akhlak terhadap Makhluk

a. Akhlak kepada Manusia


1) Rasulullah meliputi mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti
semua sunnahnya, menjadikan Rasulullah sebagai idola dalam hidup dan
kehidupan, menjalankan apa yang diperintah dan menjauhi larangannya.

2) Akhlak terhadap orang tua meliputi mencintai mereka melebihi cinta kepada
kerabat lainnya, merendahkan diri kepada keduanya diiringi rasa kasih sayang,
berkomunikasi dengan orang tua dengan khidmat, pergunakan kata-kata lemah
lembut, berbuat baik kepada keduanya sebaik-baiknya dan mendoakan

8
keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-
duanya telah meninggal dunia.

3) Akhlak terhadap diri sendiri meliputi: Memelihara kesucian diri, baik


jasmaniah maupun rohaniah, Memelihara kerapihan diri, Berlaku tenang,
Menambah ilmu pengetahuan, Membina disiplin pribadi, Pemaaf dan
memohon maaf, Sikap sederhana dan jujur dan Menghindari perbuatan
tercela.

4) Akhlak terhadap keluarga dan karib kerabat, antara lain : saling membina rasa
cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga, saling menunaikan
kewajiban untuk memperoleh hak, berbakti kepada ibu bapak, mendidik anak-
anak dengan kasih sayang dan memelihara hubungan silaturrahim.

5) Akhlak terhadap tetangga, antara lain: saling mengunjungi, saling bantu


diwaktu senang lebih-lebih tatkala susah, saling beri member, saling hormat
menghormati, saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.

6) Akhlak terhadap masyarakat, meliputi memuliakan tamu, menghormati nilai


dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, saling
menolong dalam melakukan kebajikan dan taqwa, menganjurkan anggota
masyarakat termasuik dirin sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan
mencegah orang lain melakukan perbuiatan jahat dan munkar dan
bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.

b. Akhlak kepada bukan manusia atau lingkungan hidup


antara lain : sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup, menjaga
dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, fauna dan flora yang
sengaja diciptakan tuhan untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya,
sayang pada sesame makhluk.

B. Tasawwuf

9
Secara ethimologi, tasawwuf berasal dari bahasa Arab yaitu kata shuuf yang
berarti bulu. Pada waktu itu para ahli tasawwuf memakai pakaian dari bulu domba
sebagai lambang merendahkan diri. Sedangkan secara terminology, para sufi
dalam mendefinisikan tasawwuf itu sendiri sesuai dengan pengalaman batin yang
telah mereka rasakan masing-masing. Dan karena dominannya ungkapan batin ini,
maka menjadi beragamnya definisi yang ada. Sehingga sulit mengemukakan
definisi yang menyeluruh.

Dari beberapa definisi para sufi, Noer Iskandar mendefinisikan bahwa


tasawwuf adalah kesadaran murni (fitrah) yang mengarahkan jiwa yang benar
kepada amal dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat
mungkin. Secara bahasa tasawuf diartikan sebagai Sufisme (bahasa arab: )
adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan
akhlaq,

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata "Sufi". Pandangan yang
umum adalah kata itu berasal dari Suf (), bahasa Arab untuk wol, merujuk
kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak
semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain
menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (), yang berarti kemurnian.
Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori
lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu
ketuhanan.

Pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di dunia Islam dapat dikelompokan ke


dalam beberapa tahap:

1. Tahap Zuhud

Zuhud menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului
tasawuf. Menurut Harun Nasution, station yang terpenting bagi seorang calon sufi
ialah zuhd yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sebelum
menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi

10
zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid,
tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi

2. Tahap Tasawuf Falsafi (Abad ke 6 H)

Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian


pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi
merupakan tokoh utama aliran ini, disamping juga Al Qunawi, muridnya.
Sebagian ahli juga memasukan Al Hallaj dan Abu (Ba) Yazid Al Busthami dalam
aliran ini. Aliran ini kadang disebut juga dengan Irfan (Gnostisisme) karena
orientasinya pada pengetahuan (ma'rifah atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat
segala sesuatu.

3. Tahap Tarekat (Abad ke 7 dan seterusnya)

Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnya, seperti tarekat


Junaidiyyah yang didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H)
atau Nuriyyah yang didirikan oleh Abu Hasan Ibn Muhammad Nuri (w. 295 H),
baru pada masa-masa ini tarekat berkembang dengan pesat.
Seperti tarekat Qadiriyyah yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H)
dari Jilan (Wilayah Iran sekarang); Tarekat Rifa'iyyah didirikan oleh Ahmad Rifai
(w. 578 H) dan tarekat Suhrawardiyyah yang didirikan oleh Abu Najib Al
Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling
luas, tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi, pada mulanya didirikan di
Bukhara oleh Muhammad Bahauddin Al Uwaisi Al Bukhari Naqsyabandi.

Berdasarkan objek dan sasarannya tasawuf diklasifikasikan menjadi tiga


macam yaitu:

11
a. Tasawuf Akhlaqi

Yaitu tasawuf yang sangat menekankan pada moral atau akhlak yang
hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna meperoleh kebahagiaan
yang nyata. Ajaran yang terdapat dalam tasawuf ini meliputi ; Takhalli, yaitu
penyucian diri dari sifat-sifat tercela. Tahalli, yaitu menghiasi dan membiasakan
diri dengan sikap perbuatan yang terpuji. Dan Tajalli, yaitu melakukan
tersingkapnya nur ilahi seiring dengan hilangnya sifat-sifat kemanusiaan pada diri
manusia setelah tahapan kedua diatas atau takhalli dan tahalli.

b. Tasawuf Amali

Yaitu tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan beribadah, sehingga


tujuannya agar diperoleh penghayatan spiritual dalam setiap melakukan ibadah.
Dan tasawuf ini juga sering disebut tasawuf Syari, yaitu berupa tuntunan praktis
tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Ini identik dengan
tharikat, sehingga bagi mereka yang masuk tarikat akam memperoleh bimbingan
dari mursyid.

c. Tasawuf Falsafi

Yaitu tasawuf yang menekankan pada masalah-masalah yang berhubungan


dengan metafisik.

Maqamat dalam Tasawuf

Menurut abu Nasr As-Sarraj maqamat dalam tasawuf yaitu:

a. Tobat, yaitu memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan
kesalahan serta berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi
perbuatan dosa yang telah dilakukan.

b. Wara, yaitu menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal-hal yang

12
tidak baik atau subhat. Dalam pengertian sufi wara adalah menghindari jauh-jauh
segala yang didalamnya terdapat keragu-raguan antara halal dan haram (syubhat).

c. Zuhud, yaitu menjauhi dari perkara yang bersifat keduniawian.

d. Fakir, yaitu tidak meminta lebih dari pada yang menjadi haknya, tidak banyak
mengharap dan memohon rizqi, kecuali hanya untuk menjalankan kewajiban-
kewajiban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

e. Sabar, yaitu menghindari diri dari hal-hal yang bertentangan dengan apa yang
dilarang Allah SWT, tenang ketika mendapat cobaan, dan menampakkan sikap
perwira walaupun sebenarnya berada dalam kafakiran dalam bidang ekonomi.

f. Tawakal, yaitu penyerahan diri seorang hamba kepada Allah SWT setelah ada
usaha maksimal.

g. Ridha, yaitu menerima qadha dan qadar Allah SWT dengan hati senang,
mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal didalamnya hanya
perasaan senang dan gembira.

C. Hubungan antara akhlak dan tasawuf

Sebenarnya, tiga macam tasawwuf yang sudah disebutkan sebelumnya


mempunyai tujuan yang sama, yaitu sama sama mendekatkan diri kepada Allah
dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri
dengan perbuatan yang terpuji (al-akhlaq al-mahmudah), karena itu untuk menuju
wilayah tasawuf, seseorang harus mempunyai akhlak yang mulia berdasarkan
kesadarannya sendiri. Bertasawuf pada hakekatnya adalah melakukan serangkaian
ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Ibadah itu sendiri sangat
berkaitan erat dengan akhlak. Menurut Harun Nasution, mempelajari tasawwuf
sangat erat kaitannya dengan Al-Quran dan Al-Sunnah yang mementingkan

13
akhlak. Cara beribadah kaum sufi biasanya berimplikasi kepada pembinaan
akhlak yang mulia, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di kalangan kaum
sufi dikenal istilah altakhalluq bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi
pekerti Allah, atau juga istilah al-ittishaf bi sifatillah, yaitu mensifati diri dengan
sifat sifat yang dimiliki oleh Allah.

Jadi akhlak merupakan bagian dari tasawwuf akhlaqi, yang merupakan salah
satu ajaran dari tasawwuf, dan yang terpenting dari ajaran tasawwuf akhlaki
adalah mengisi kalbu (hati) dengan sifat khauf yaitu merasa khawatir terhadap
siksaan Allah.

14
BAB 3
PENUTUP

A Kesimpulan
Tasawuf adalah melakukan pengabdian kepada Allah dengan cara
mensucikan diri, meningkatkan ahlaq dan ketaqwaan kepada Allah SWT,
membangun kehidupan jasmani dan rahani untuk mencapai kebahagiaan abadi
atau hakiki. Maqamat tasawuf terdiri dari tobat, wara, zuhud, fakir, sabar,
tawakal, ridho.

Akhlak adalah perbuatan yang tertanam didalam jiwa seseorang secara


kuat sehingga menjadi kepribadian, dilakukan secara sepontan tanpa paksaan atau
tekanan dari luar diri seseorang, dan dilakukan dengan ikhlas hanya mengharap
ridho Allah SWT. Akhlak ada dua yaitu madzmumah (akhlak yang tercela) dan
akhlak Mhmudah (akhlak yang terpuji).

Akhlak merupakan bagian dari tasawwuf akhlaqi, yang merupakan salah


satu ajaran dari tasawuf, dan yang terpenting dari ajaran tasawuf akhlaki adalah
mengisi kalbu (hati) dengan sifat khauf yaitu merasa khawatir terhadap siksaan
Allah SWT. Kemudian, dilihat dari amalan serta jenis ilmu yang dipelajari dalam
tasawuf amali, ada dua macam hal yang disebut ilmu lahir dan ilmu batin yang
terdiri dari empat kelompok, yaitu syariat, tharikat, hakikat, dan ma`rifat.

D. Kritik dan Saran


Kami yakin dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurang dan
kesalahan oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan. Saran kami setelah membuat makalah ini, agar bagi pembaca
menerapkan apa yang telah kami tulis dalam makalah ini dalam kehidupan sehari-
hari.

15
DAFTAR PUSTAKA

M.A, Asmaran As. 2000. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT RajaGrafindo


Persada.

Busro, Ali. Dkk. 2013. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Mitra Wacana
Media.

16