Anda di halaman 1dari 13

Demam Berdarah Dengue pada Anak

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Semester III Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

keziajslyn@gmail.com

Pendahuluan

Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu penyakit infeksi yang sering ditemui di
Indonesia.DBD merupakan bentuk berat dari infeksi dengue yang ditandai dengan demam
akut, trombositopenia, netropenia dan perdarahan. Permeabilitas vaskular meningkat yang
ditandai dengan kebocoran plasma ke jaringan interstitiel mengakibatkan hemokonsentrasi,
efusi pleura, hipoalbuminemia dan hiponatremia yang dapat menyebabkan syok hipovolemik
yang dapat membahayakan nyawa. Biasanya kasus DBD akan meningkat saat peralihan dan
musim hujan karena di saat-saat inilah banyak terdapat lingkungan air yang merupakan tempat
bertelur dari vector pembawa virus dengue, yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Pada makalah ini akan
dibahas mengenai anamnesis pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang dapat
membantu penegakan diagnosa penyakit DBD. Selain itu, akan dibahas juga mengenai penyakit
demam berdarah itu sendiri dan patogenesisnya, serta komplikasi dan tata pelaksanaan yang
sesuai.

Anamnesis

Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara melakukan
serangkaian wawancara dengan pasien (autoanamnesis), keluarga pasien atau dalam keadaan tertentu
dengan penolong pasien (aloanamnesis). Berbeda dengan wawancara biasa, anamnesis dilakukan
dengan cara yang khas, yaitu berdasarkan pengetahuan tentang penyakit dan dasar-dasar pengetahuan
yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta bertolak dari masalah yang dikeluhkan oleh pasien.
Berdasarkan anamnesis yang baik dokter akan menentukan beberapa hal mengenai hal-hal berikut. 1
1 Penyakit atau kondisi yang paling mungkin mendasari keluhan pasien (kemungkinan diagnosis)
2 Penyakit atau kondisi lain yang menjadi kemungkinan lain penyebab munculnya keluhan pasien
(diagnosis banding)
3 Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tersebut (faktor predisposisi
dan faktor risiko)
4 Kemungkinan penyebab penyakit (kausa/etiologi)
5 Faktor-faktor yang dapat memperbaiki dan yang memperburuk keluhan pasien (faktor
prognostik, termasuk upaya pengobatan)
6 Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medis yang diperlukan untuk menentukan
diagnosisnya
Selain pengetahuan kedokterannya, seorang dokter diharapkan juga mempunyai kemampuan
untuk menciptakan dan membina komunikasi dengan pasien dan keluarganya untuk mendapatkan data
yang lengkap dan akurat dalam anamnesis. Lengkap artinya mencakup semua data yang diperlukan
untuk memperkuat ketelitian diagnosis, sedangkan akurat berhubungan dengan ketepatan atau tingkat
kebenaran informasi yang diperoleh.1

Anamnesis diawali dengan memberikan salam kepada pasien dan menanyakan identitas
pasien tersebut. Dilanjutkan dengan menanyakan keluhan utama, dan untuk setiap keluhan waktu
muncul gejala, cara perkembangan penyakit, derajat keparahan, hasil pemeriksaan sebelumnya dan
efek pengobatan dapat berhubungan satu sama lain. 2

Riwayat penyakit sekarang berhubungan dengan gejala penyakit, perjalanan penyakit dan
keluhan penyerta pasien. Riwayat penyakit terdahulu merupakan penyakit yang pernha diderita pasien
dapat masa lalu. Riwayat sosial ialah kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan kebiasaan pasien sehari-
hari. Riwayat keluarga ialah riwayat penyakit yang pernah dialami atau sedang diderita oleh keluarga
pasien.2

Riwayat keluarga dan kerabat yang berhubungan juga perlu ditanyakan untuk menguatkan
dugaan. Misalnya apakah ada kerabat yang dalam kurun waktu belakangan ini mengalami penyakit
demam berdarah dan apakah ada kontak antara pasien dengan kerbabatnya tersebut. Jika data-data
dari pasien sudah lengkap untuk anamnesi, maka dapat dilakukan pemeriksaan fisik untuk menunjang
anamnesis tadi. 3

Hal-hal yang harus diperhatikan pada anamnesis dengan pasien anak: 4

1. Dengarkan orangtua pasien, tetapi pandang anak.


2. Apabila anak sudah cukup besar untuk berkomunikasi efektif, pandang dan dengarkan anak.
Jangan ragu untuk menanyakan anak tentang gejala yang dialaminya. Untuk membangun rasa
percaya terhadap para petugas kesehatan, anak harus merasa penting dan dihargai.
3. Orangtua atau pengasuh dapat memberikan klarifikasi saat mengenai riwayat penyakit.
4. Bersikap sabar saat berhadapan dengan anak. Bekerjalah dengan sigap dan selalu tenang.
Hindari menunjukkan rasa panik pada orangtua dan anak.
5. Orangtua mengenal anak mereka dengan paling baik, sehingga pendapat mereka harus
didengar dan dipertimbangkan. Jangan pernah menganggap orangtua bersikap berlebihan.
6. Saat merawat pasien anak-anak, perawatan juga harus diberikan pada orangtua/pengasuh.
Apabila orangtua cemas, anak juga akan merasa cemas. Apabila orangtua marah, isu-isu
mengenai kesehatan anak mungkin dapat terganggu.

Pemeriksaan Fisik
1. Tanda-tanda vital

Yang meliputi tanda-tanda vital yaitu : suhu badan, respiratory rate, denyut nadi, dan tekanan
darah. Pada pasien anak, berat badan harus selalu diperiksa. Tabel 1 menunjukkan nilai tanda-
tanda vital normal pada anak.

Tabel 1. Tanda-tanda vital normal pada anak.4

2. Uji tourniquet

Uji ini merupakan manisfestasi pendarahan kulit paling ringan dan dapat dinilai sebagai uji
presumtif oleh karena uji ini positif pada hari-hari pertama demam. Di daerah endemis DBD, uji
tourniquet dilakukan kepada yang menderita demam lebih dari 2 hari tanpa alasan yang jelas.
Pemeriksaan ini harus dilakukan sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO. Pemeriksaan
dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan tekanan darah pasien. Selanjutnya diberikan
tekanan antara sistolik dan diastolic pada alat pengukur yang diletakan dilengan atas siku,
tekanan ini diusahakan menetap selama percobaan. Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit,
perhatikan timbulmya petekie di bagain volar lengan bawah. Uji dinyatakan positif apabila pada
satu inci persegi didapatkan10 atau lebih 10 petekie (WHO1997). Pada DBD uji ini biasanya
menunjukan hasil positif. Namun dapat berhasil negative atau positif lemah pada keadaan syok.
Sesuai dengan skenario didapatkan hasil uji tourniquet postif (+). 5

3. Inspeksi Palpasi Perkusi dan Auskultasi

Dengan melakukan IPPA pada pemeriksaan demam berdarah bisa didapati adanya
hepatomegali. Nyeri tekan sering kali terasa dan pada palpasi didapati konsistensi hepar yang
kenyal. Namun pada DBD dapat disertai atau tanpa hepatomegali.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendekatkan ke arah diagnosis penyakit demam
berdarah ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit serta hapusan darah tepi
untuk melihat gambaran limfosit serta untuk menghitung jumlah leukosit. 6

Leukosit secara normal terdapat dalam jumlah 5.000 10.000/L darah. Kadar trombosit
normal dalam darah ialah 200.000-300.000/l.Kadar normal Hb dan hematokrit dapat dilihat di table
2. Untuk puskesmas misalnya yang tidak ada alat untuk pemeriksaan Ht, dapat dipertimbangkan
estimasi nilai Ht = 3x kadar Hb.

Tabel 2. Kadar hemoglobin dan hematokrit normal.7

Parameter laboratoris yang dapat diperiksa antara lain: 6

Leukosit: dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis relative
(>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total
leukosit yang pada fase syok akan meningkat.

Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.

Hematokrit: kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan hematokrit >


20%ndari hematokrit awal, umumnya dimulai pada hari ke-3 demam.

Hemostasis: dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada keadaan
yang dicurigai terjadi pendarahan atau kelainan pembekuan darah.

Protein/albumin: dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma.

SGOT/SPGT dapat meningkat.


Ureum, kreatinin: bila didapatkan gangguan fungsi ginjal.

Elektrolit: sebagai parameter pemantauan pemberian cairan.

Golongan darah dan cross match (uji cocok serasi): bila akan diberikan transfuse darah atau
komponen darah.

Immunoserologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue.

IgM; terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3, menghilang setelah 60-90
hari.

IgG: pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada infeksi sekunder IgG
mulai terdeteksi pada hari ke-2.

Uji HI: dilakukan pengambilan bahan pada hari pertama serta saat pulang dari perawatan, uji
ini digunakan untuk kepentingan surveilans.

NS1: antigen NS1 dapat dideteksi pada awal demam hari pertama sampai hari ke delapan.
Sensitivitas antigen NS1 berkisar 63% - 93,4% dengan spesifitas 100% sama tingginya
dengan spesifitas gold standart kultur virus. Hasil negative antigen NS1 tidak menyingkirkan
adanya infeksi virus dengue.

Pemeriksaan Radiologis

Pada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi
perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai pada kedua hemitoraks. Asites dan efusi pleura
dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.6

Diagnosis

Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal di bawah ini dipenuhi: 6

Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik.
Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut :
- Uji bendung positif
- Petekie, ekimosis, atau purpura.
- Perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi), atau perdarahan dari
tempat lain.
- Hematemesis atau melena.
Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000/ul).
Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma) sebagai berikut:
peningkatan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan nilai
hematokrit sebelumnya.
Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.

Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari), timbul gejala prodromal
yang tidak khas seperti: nyeri kepala, nyeri tulang belakang dan perasaan lelah. 6

Pada sindom syok dengue (SSD) didapati seluruh kriteria di atas untuk DBD disertai kegagalan
sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah turun (< 20 mmHg), hipotensi
dibandingkan standar sesuai umur, kulit dingin dan lembab serta gelisah. Klasifikasi derajat penyakit
infeksi virus dengue dapat dilihat di tabel 3.

Tabel 3. Klasifikasi derajat penyakit infeksi virus dengue. 6

Diagnosis Banding

Diagnosis banding perlu dipertimbangkan bilamana terdapat kesesuaian klinis dengan demam
tifoid, campak, influenza, chikungunya dan leptospirosis.

Demam Dengue(DD)
Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi
klinis sebagai berikut: nyeri kepala, nyeri retro-orbital, miaglia, artaglia, ruam kulit,
manifestasi pendarahan (petekie atau uji bending positif), leukopenia (leuko < 5000),
trombosit <150000, hematokrit naik 5-10%.6Perbedaan yang paling penting antara DD dan
DBD adalah pada DD tidak terjadi plasma leakage.

Demam Tifoid
Pada demam tifoid terdapat gejala yang mirip dengan demam berdarah yaitu adanya gejala
demam, nyeri otot, mual, muntah, dan batuk. Selain itu juga dapat ditemukan hepatomegali
dan gangguan kesadaran berupa berupa somnolen hingga koma. Namun ciri khas dari demam
tifoid ialah ditemukan lidah tifoid yaitu lidah yang kotor di tengah, tepi dan ujung merah.
Selain itu pada demam tifoid tidak ditemukan adanya bercak-bercak merah seperti pada
demam berdarah. Pada demam tifoid tidak dapat ditemukan gejala panas yang naik turun
yang sangat khas pada demam berdarah. Untuk lebih spesifiknya pada demam tifoid
ditemukan biakan tinja positif Salmonella typhi.

Masa tunas demam tifoid berlangsung 10-14 hari. Gejala gejala klinis yang timbul sangat
bervariasi dari ringan sampai dengan berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang
khas disertai komplikasi hingga kematian.

Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serupa dengan
penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia,
mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada
pemeriksaan fisik hanya didapatkan pada suhu badan meningkat. Sifat demam adalah
meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam hari. Dalam minggu kedua
gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia relative, lidah yang berselaput,
hematomegali, splenomegaly, koma, delirium atau psikosis.

Campak
Campak memiliki kemiripan dengan DBD dalam hal munculnya bercak-bercak merah pada
badan dan adanya demam. Namun, pada campak bercak-bercak disertai demam tinggi, batuk,
pilek, dan konjungtivitis. Selain itu, khas pada penyakit campak dapat ditemukan koplik
spotpada bagian dalam pipi di level premolar 1-4 hari sebelum bercak-bercak muncul. Juga
khas pada penyakit cacar adalah Warthin-Finkeldey giant cells.

Influenza
Influenza merupakan penyakit dengan gejala demam, sakit kepala, sakit otot, batuk, pilek
hingga suara serak. Hal ini sama dengan gejala demam yang lain pada umumnya. Tapi tentu
saja pada influenza tidak ditemukan gambaran khas demam berdarah seperti petekie maupun
ekimosis, adanya penumpukan cairan yang bisa menyebabkan asites dan hal lain yang
mendukung ke arah diagnosis demam berdarah.

Chikungunya
Chikungunya memiliki gejala yang khas berupa nyeri pada sendi lutut, pergelangan kaki serta
persendian tangan dan kaki, demam mendadak yang dapat mencapai 39 o C, ruam pada kulit
seperti pada demam berdarah, sakit kepala dan sedikit fotofobia. Meskipun terjadi ruam,
namun yang harus diperhatikan bahwa pasien tidak mengalami nyeri yang menusuk hingga
tulang dan persendian pada demam berdarah. Selain itu pada chikungunya jarang dijumpai
pendarahan sebagai manifestasi kebocoran plasma yang dapat terlihat pada penderita demam
berdarah. Chikungunya biasanya tidak akan diikuti shock seperti akral yang tiba-tiba terasa
dingin. Penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa harus menggunakan obat.

Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Leptospira interrogans. Penderita
yang terinfeksi leptospirosis biasanya akan mengalami meningitis, hepatitis, nefritis, maupun
influenza. Gejala yang didapati ialah berupa demam yang muncul mendadak, sakit kepala
bagian frontal, nyeri otot, mata merah, mual dan muntah. Gejala laboratorium yang mirip
demam berdarah ialah didapatinya trombositopenia (pada 50% kasus leptospirosis) dan
leukopenia yang relatif sedikit. Perbedaan utamanya ialah tidak ditemukannya manifestasi
pendarahan seperti petekia maupun manifestasi kebocoran plasma (misalnya pada perut) pada
penderita leptospirosis.

Etiologi

Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk
dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm
terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106. 6

Terdapat 4 serotip virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 yang semuanya dapat
menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Keempat serotype ditemukan di
Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara serotype
dengue dengan Flavivirus lain seperti Yellow fever, Japanese encehphalitis dan West Nile virus.6

Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti tikus,
kelinci, anjing, kelelawar dan primate. Survey epidemiologi pada hewan ternak didapatkan antibody
terhadap virus dengue pada hewan kuda, sapid an babi. Penelitian pada artropoda menunjukkan virus
dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus Aedes dan Toxorhynchites.6

Epidemiologi

Demam darah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik barat dan Karibia. Indonesia
merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Insiden DBD di Indonesia
antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga
35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998, sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun hingga
mencapai 2% pada tahun 1999.

Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk genus aedes (terutama A.
aegypti dan A. albopicus). Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan
dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak
mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya). 3
Beberapa factor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi biakan virus dengue yaitu:
1) vektor: perkembangbiakan vektor, kebiasan menggigit, kepadatan vektor di lingkungan,
transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain; 2) pejamu : terdapatnya penderita di
lingkungan/keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin; 3) lingkungan:
curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.6

Patogenesis

Patogenesis terjadinya demam berdarah sampai saat ini masih diperdebatkan. Berdasarkan
data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya
demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue. 6

Respons imun yang diketahui berperan dalampatogenesis DBD adalah: a) respons humoral
berupa pembentukan antibody yang berperan dalam proses netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi
komplemen dan sitotoksisitas yang dimediasi antibody. Antibodi terhadap virus dengue berperan
dalam mempercepat replikasi virus pada monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut antibody
dependent enchanment (ADE); b) limfosit T baik T-helper (CD4) dan T-sitotoksik (CD8) berperan
dalam respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T helper yaitu TH1 akan memproduksi
interferon gamma, IL-2 dan limfokin, sedangkan TH-2 memproduksi IL-4, IL-5, IL-6 dan IL-10; c)
monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi antibody. Namun proses
fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag; d) selain
itu aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a. 6

Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary heterologous infection yang
menyatakan bahwa DHF terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang
berbeda. Re-infeksi menyebabkan reaksi amnestic antibodi sehingga mengakibatkan konsentrasi
kompleks imun yang tinggi.6

Kurane dan Ennid pada tahun 1994 merangkum pendapat Halstead dan peneliti lain;
menyatakan bahwa infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang memfagositosis
kompleks virus-antibodi non-netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag. Terjadinya infeksi
makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T-helper dan T-sitotoksik sehingga diproduksi
limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi
berbagai mediator inflamasi seperti TNF-a, IL-1, PAF (platelet activating factor), IL-6, dan histamin
yang mengakibatkan terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma. Peningkatan c3a
dan C5a terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus antibody yang juga mengakibatkan terjainya
kebocoran plasma.6Imunopatogenesis demam berdarah dengue dapat dilihat di gambar 1.
Gambar 1. Imunopatogenesis demam berdarah dengue.6

Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme: 1) supresi sumsum tulang,
2) destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit. Gambaran sumsum tulang pada fase awal infeksi
(< 5 hari) menunjukkan keadaan hiposelular dan supresi megakariosit. Setelah keadaan nadir tercapai
akan terjadi peningkatan proses hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar trombopoietin
dalam darah pada saat terjadi trombositopenia justru menunjukkan kenaikan, hal ini menunjukkan
terjadinya stimulasi trombopoiesis sebagai mekanisme kompensasi terhadap keadaan trombositopenia.
Dekstrusi trombosit terjadi melalui pengikatan fragmen C3g, terdapatnya antibodi virus dengue,
konsumsi trombosit selama proses koagulopati dan sekuestrasi di perifer. Gangguan fungsi trombosit
terjadi melalui mekanisme gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin dan PF4
yang merupakan pertanda degranulasi trombosit.6

Koagulapati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang menyebabkan
disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukkan terjadinya koagulapati konsumtif pada demam
berdarah dengue stadium III dan IV. Aktivasi koagulasi pada demam berdarah dengue terjadi melalui
aktivasi jalur ekstrinsik (tissue factor pathaway). Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi factor
XIa namun tidak melalui aktivasi kontak (kalikrein C1-inhibitor complex).6

Komplikasi

Infeksi primer demam dengue dan penyakit-penyakit sejenis yang disebabkan virus dengue
biasanya self-limited dan jinak/tidak berbahaya. Kehilangan cairan dan elektrolit, hyperpyrexia, dan
kejang demam adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada anak-anak. Mimisan, petechiae, dan
lesi purpura tidak sering ditemukan namun dapat terjadi di tingkatan manapun. Tertelannya darah dari
mimisan yang dimuntahkan atau dikeluarkan melalui rectum, sering disalahartikan sebagai
pendarahan gastrointestinal. Pada orang dewasa dan kemungkinan pada anak-anak, kondisi-kondisi
dasar dapat menyebabkan pendarahan klinis yang signifikan. Kejang dapat terjadi pada suhu tinggi,
dan pada kasus yang jarang setelah kejang diikuti dengan asthenia berkepanjangan, depresi mental,
brakikardia, dan extrasitol ventricular pada anak-anak. 8

Penatalaksanaan

Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi suportif.
Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam penanganan
kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral
pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena untuk
mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara bermakna. 6Antipiretik harus digunakan untuk
menjada suhu tubuh dibawah 40oC. Analgesik atau sedative ringan mungkin diperlukan untuk
mengontrol rasa sakit. Aspirin bersifat kontraindikasi dan tidak seharusnya digunakan karena efeknya
terhadap hemostasis.8

Pencegahan

Pencegahan utama yang dilakukan ialah berusaha mengurangi vektor virus dengue, yaitu
nyamuk Aedes aegypti. Seperti telah dibahas, nyamuk ini senang hidup didalam segala macam jenis
benda yang dapat menampung air yang jernih di sekitar rumah. Oleh karena itu sangat diperlukan bagi
masyarakat untuk selalu membersihkan dan membuang barang-barang bekas seperti kaleng, plastik
maupun ban yang dapat dijadikan tempat perindukan nyamuk tersebut.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah berjangkitnya demam berdarah ialah sebagai
berikut:
Makan, minum dan berolahraga secara teratur.
Apabila memasuki musim pancaroba selalu perhatikan kebersihan lingkungan dan lakukan cara
3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah tempat penampungan air serta mengubur barang
bekas sehingga tempat-tempat tersebut tidak dijadikan tempat perkembangan jentik-jentik
nyamuk. Sebenarnya penguburan barang bekas dapat menyebabkan polusi tanah sehingga bila
masih ada barang bakas yang bisa didaur ulang tentu saja akan jauh lebih berguna dan tidak
mengganggu ekosistem.
Pakaian mengurangi resiko tergigit nyamuk jika pakaian itu cukup tebal dan longgar. Baju lengan
panjang dan celana panjang dengan kaus kaki dapat melindungi tangan dan kaki yang paling
sering terkena gigitan nyamuk.
Menggunakan repellant atau obat nyamuk bakar, maupun semprot untuk menghindari gigitan
nyamuk.
Fogging atau pengasapan untuk mematikan nyamuk dewasa. Usahakan untuk melakukan
fogging pada waktu aktif nyamuk Aedes aegypti yaitu pada selang waktu antara jam 08.00
10.00 ataupun pada 15.00 - 17.00.
Tidak menggantung pakaian didalam rumah secara sembarangan karena dapat menjadi tempat
peristirahatan nyamuk.
Memberi saluran keluar air pada pot atau vas bunga. Serta membuang dan mengganti air dalam
pot atau vas bunga setiap minggu dan membersihkan vas atau pot bunga sebelum dipakai
kembali.
Wadah penampungan hasil kondensasi di bawah lemari es, dan AC harus diperiksa dan
dibersihkan secara teratur.
Memberi obat penurun panas bila ada anggota keluarga yang demam dan segera membawa
pasien ke rumah sakit maupun tempat praktek dokter bila didapati gejala panas yang naik turun
dan kemerahan pada kulit.9
Kesimpulan

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus
ini biasanya ditularkan ke manusia melalui vector nyamuk Aedes aegypti. DBD merupakan bentuk
berat dari infeksi dengue yang ditandai dengan demam akut, trombositopenia, netropenia dan
perdarahan. Permeabilitas vaskular meningkat yang ditandai dengan kebocoran plasma ke
jaringan interstitiel mengakibatkan hemokonsentrasi, efusi pleura, hipoalbuminemia dan
hiponatremia yang dapat menyebabkan syok hipovolemik yang dapat membahayakan nyawa.
Dalam penatalaksanaannya, difokuskan pada terapi suportif dan terjaganya cairan tubuh.
Penyakit DBD dapat dicegah dengan memberantas vektornya melalui berbagai cara, dimana
yang paling umum dilakukan adalah 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah tempat
penampungan air serta mengubur barang bekas sehingga tempat-tempat tersebut tidak dijadikan
tempat perkembangan jentik-jentik nyamuk.

Daftar Pustaka

1. Gleadle, Jonathan. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta : Penerbit Erlangga;
2007. h. 1-17.
2. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta : EGC; 2009. h. 2-7.
3. Tumbelaka AR, Darwis D, Gatot D, dkk. Demam berdarah dengue. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2005.
4. Grossman VGA. Quick reference to triage. 2 nd Edition. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2003. p. 200-2.
5. Soedarmo SS, Garna H, Hadinegoro SRS, Satari HI. Buku ajar infeksi dan pediatri tropis. Ed
ke 2. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI; 2002. h. 155-75.
6. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid
IIIs. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h. 2773-79.
7. Perkin RM, Swift JD, Newton DA, Anas NG. Pediatric hospital medicine: textbook of
inpatient management. 2nd Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008. p.
332.
8. Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF, Geme J, et al. Nelson textbook of pediatrics. 19 th
Edition.Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2011. p. 1149.
9. World Health Organization. Pencegahan dan pengendalian dengue dan demam berdarah
dengue: panduan lengkap. Jakarta: EGC.;2005.