Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Nasioanalisme berasal dari akar kata nations, yang dalam bahasa latin nasci yang
bermakna dilahirkan. Sedangkan secara istilah nasionalisme adalah sebuah fenomena
yang kompleks yang terbentuk dari faktor-faktor yang bersifat budaya, politik dan
psikologi. Faktor yang bersifat budaya adalah masyarakat yang merasa menjadi satu
karena kesamaan bahasa, agama, sejarah dan tradisi walaupun sebuah negara
menunjukan adanya perbedaan tingkat budaya yang heterogen. Secara politik adalah
sekelompok masyarakat yang termasuk dalam sebuah komunitas politik. Secara
psikologi adalah sekelompok masyarakat yang memberikan loyalitas atau cinta
kepada rasa patriotism (cinta tanah air). Nasionalism muncul karena setiap nation
memiliki jalannya yang berbeda.

Di dunia, sejarah nasionalisme dimulai dari Eropa yang ditandai dengan revolusi
Francis. Selain karena renesainc dengan tokoh-tokohnya seperti Rousseau,
kemunculan kesadaran nasionalism terjadi karena ;

1. Perubahan karakter bahasa latin menjadi bahasa ekslusif yang sebelumnya adalah
bahasa seluruh Eropa.

2. Dampak dari reformasi gereja yang didukung pula oleh perkembangan kapitalisme
percetakan yang mencetak Alkitab dalam bahasa local, tidak dalam bahasa latin.

3. Karena persebaran geografis yang lamban dan tidak merata sehingga membuat
tidak adanya pusat bahasa latin.

Nasionalisme yang terjadi di Eropa menyebar sampai wilayah Asia Tenggara.


Negara-negara di Asia Tenggara seperti: Indonesia, Thailand, Kamboja, Myanmar
dsb.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. THAILAND
Asal mula Thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang
berumur pendek, Kerajaan Sukhothaiyang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan
ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan
abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kebudayaan
Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan
beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun meskipun
mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya
negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa, meski
pengaruh Barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai
perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-
pedagang Britania.
Sebuah revolusi tak berdarah pada tahun 1932 menyebabkan dimulainya monarki
konstitusional. Sebelumnya dikenal dengan nama Siam, negara ini mengganti
namanya menjadi Thailand pada tahun 1939 dan untuk seterusnya, setelah pernah
sekali mengganti kembali ke nama lamanya pasca-Perang Dunia II. Pada perang
tersebut, Thailand bersekutu dengan Jepang; tetapi saat Perang Dunia II berakhir,
Thailand menjadi sekutu Amerika Serikat. Beberapa kudeta terjadi dalam tahun-
tahun setelah berakhirnya perang, namun Thailand mulai bergerak ke arah
demokrasi sejak tahun 1980-an.
a. Sukhothai
Kerajaan Sukhothai adalah salah satu kerajaan tertua di Thailand yang
berpusat di sekitar kota Sukhothai, berdiri sejak tahun 1238 sampai 1438.
Sebelumnya wilayah kerajaan ini adalah bagian dari Kerajaan Khmer.
Pada puncak kejayaannya di bawah raja ketiga Ramkhamhaeng, Sukhothai
diperkirakan terbentang dari wilayah yang sekarang termasuk Myanmar
sampai ke dalam wilayah Laos modern, serta ke arah selatan di Semenanjung
Malaya. Setelah kematian Ramkhamhaeng, Sukhothai melemah dan berbagai

2
kerajaan bawahannya mulai melepaskan diri. Pada tahun 1438, status
Sukhothai berubah hanya menjadi sekedar provinsi dari Ayutthaya.
b. Ayutthaya
Kerajaan Ayutthaya didirikan pada tahun 1350 Raja Ramathibodi I (Uthong),
yang mendirikan Ayyuthaya sebagai ibu kota kerajaannya dan mengalahkan
dinasti Kerajaan Sukhothai pada tahun 1376. Dalam perkembangannya,
Ayyuthaya sangat aktif melakukan perdagangan dengan berbagai negara asing
seperti Tiongkok, India, Jepang, Persiadan beberapa negara Eropa.
Setelah melalui pertumpahan darah perebutan kekuasaan antar dinasti,
Ayutthaya memasuki abad keemasannya pada perempat kedua abad ke-18. Di
masa yang relatif damai tersebut, kesenian, kesusastraan dan pembelajaran
berkembang. Perang yang terjadi kemudian ialah melawan bangsa luar.
Ayyuthaya mulai berperang melawan dinasti Nguyen(penguasa Vietnam
Selatan) pada tahun 1715 untuk memperebutkan kekuasaan atas Kamboja.
Meskipun demikian ancaman terbesar datang dari Burma dengan pemimpin
Raja Alaungpaya yang baru berkuasa setelah menaklukkan wilayah-wilayah
Suku Shan. Pada tahun 1765 wilayah Thai diserang oleh dua buah pasukan
besar Burma, yang kemudian bersatu di Ayutthaya. Ayutthaya akhirnya
menyerah dan dibumihanguskan pada tahun 1767 setelah pengepungan yang
berlarut-larut.
c. Siam
Setelah serbuan Burma yang membumihanguskan ibukota Ayutthaya, Jenderal
Taksin mendirikan kerajaan baru pada tahun 1769 yang beribukota di
Thonburi (sekarang termasuk dalam Bangkok) dan menyatukan kembali
bekas kerajaan Ayutthaya. Taksin kemudian dianggap gila dan dieksekusi
tahun 1782, dan digantikan oleh Jenderal Chakri, yang menjadi raja pertama
dinasti Chakri dengan nama Rama II. Tahun yang sama dia mendirikan
ibukota baru di Bangkok, di seberang sungai Chao Phrayadari ibukota lama
yang didirikan Jenderal Taksin. Pada tahun 1790-an Burma berhasil diusir dari
Siam.
Para penerus Rama I harus menghadapi ancaman kolonialisme Eropa setelah
kemenangan Britania di Burma tahun 1826. Pada tahun yang sama Siam

3
menandatangani perjanjian dengan Britania Raya, dan tahun 1833 Siam
menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Perjanjian Anglo-
Siam 1909 menentukan batas-batas Siam dengan Malaya, sedangkan
serangkaian perjanjian denganPerancis mematok batas timur dengan Laos dan
Kamboja. Kudeta tahun 1932 mengakhiri monarki absolut di Thailand, dan
mengawali munculnya kerajaan Thailand modern.

B. Nasionalsme Muangthai/Thailand
Kemunculan nasionalisme di Thailand berbeda dengan nasionalisme di Asia
Tenggara yang lain, ini karena nasionalisme di Thailand terbagi kepada dua tahap.
Tahap yang pertama merupakan rasa tidak puas hati rakyat tempatan terhadap
penguasaan politik oleh kerbat diraja dan penentangan terhadap raja berkuasa
mutlak. Perkembangan sistem pendidikan barat telah menbedakan fahaman
liberal, sistem demokrasi dan sistem raja berperlembagaan kepada golongan
intelek Thailand. Kelemahan sistem pentabiran dan sikap boros Raja Vajiravudh
telah membuatkan rakyat tidak berpuas hati. Ini membawa kepada pertubuhan
parti rakyat oleh Nai Pridi Phanamyong dan Field Marshall Phibul Shongram
pada 1932. Partai ini telah melancarkan revolusi Thai pada 1939 yang telah
menamatkan sistem raja berkuasa mutlak.
Nasionalisme tahap kedua pula di Thailand disebabkan rasa tidak puas hati
rakyat terhadap cengkaman ekonomi oleh kapitalis barat dan orang Cina. Semasa
Phibul Shongram menjadi perdana menteri, beliau telah meluluskan undang-
undang untuk menyekat kebebasan orang Cina. Malah akhbar Cina dan sekolah
Cina telah dibubarkan. Phibul Shongram juga telah menukarkan negara Siam
kepada Thailand yang bermaksud tanah bebas. Hasil kerjasama dengan Jepang
pada Perang Dunia Kedua, Thailand telah berjaya menyatukan wilayah-
wilayahnya di Indo China dan Tanah Melayu.

Nasionalisme dilancarkan oleh raja dan para bangsawan (golongan


konservatif), bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan negeri itu dari
ancaman bangsa Barat. Karena itu nasionalisme Thailand terwujud dalam
diplomasi dan modernisasi. Dengan demikian nasionalismenya tidak bertujuan

4
mengusir penjajah untuk membentuk negara merdeka, melainkan
mempertahankan kemerdekaan dengan jalan memajukan bangsa lewat diplomasi
dan modernisasi.
Pelaksanaan nasionalisme lewat diplomasi bertujuan untuk menjaga
Thailand agar jangan jatuh ke tangan bangsa Barat. Karena itu politik diplomasi
Thailand adalah berusaha jangan sampai keijakan Thailand dapat dijadikan alasan
bagi bangsa-bangsa Barat untuk menyerang Thailand. Itulah sebabnya di
sampingmembina hubungan baik dengan Inggris, Thailand juga membina
hubungan baikdengan Amerika Serikat, Denmark (1858), Belanda (1860), dan
Prusia (Jerman). Di samping Inggris, bangsa Barat yang paling berbahaya bagi
kemerdekaan Thailand adalah Prancis. Untuk mencegah ancaman Prancis, raja
Thailand menghapus sama sekali hak-hak istimewa orang Inggris di Thailand,
misalnya orang Inggris bebas berdagang di Thailand. Hal tersebut dilakukan agar
tidak menimbulkan keirihatian Prancis sehingga dijadikan alasan menyerbu
Thailand. Walaupun hak-hak istimewa Inggris itu sudah ditukar dengan Malaya,
namun Inggris dan Prancis tetap menekan Thailand.
Pada tahun 1896 kedua bangsa Barat itu sepakat untuk menempatkan
Thailand sebagai Negara pemisah antara kekuasaan Inggris di Myanmar dan
Prancis di Indocina. Dengan demikian kedua negara Barat itu sungguh-sungguh
menghormati bahkan menjaga kedaulatan Thailand. Sewaktu Jepang mulai
mengancam Thailand, maka pada tahun 1898 raja Chulalongkorn mengadakan
perjanjian dengan negeri matahari terbit itu. Sedangkan untuk menghindari
bangsa Barat yang lain, maka dalam Perang Dunia I Thailand memihak Sekutu
sehingga negeri itu benar-benar terhindar dari ancaman bangsa Barat. Dalam
rangka untuk mengimbangi kemajuan bangsa Barat maupun Jepang, Thailand
melancarkan modernisasi di segala bidang, terutama politik dan militer.
Tindakan yang pertama yaitu menghapus nama Siam (1939) yang biasa
digunakan banyak negara untuk menyebut Thailand atau Muangthai. Adapun alas
an penggantian nama tersebut karena Siam diartikan sebagai bangsa budak,
sedangkan Muangthai berarti negerinya orang-orang bebas. Proses modernisasi
Thailand dimulai oleh raja Mongkut dan sekaligus sebagai perintis pelaksanaan

5
pendidikan Barat. Mongkut inilah yang dikenal sebagai peletak dasar atau perintis
modernisasi Muangthai. Upaya modernisasi pemerintahan (politik), keuangan dan
pendidikan mengandung unsur strategis yang lebih luas bertujuan melestarikan
kemerdekaan dan persatuan Thailand dengan memperkuat kemampuan negeri itu
untuk menanggulangi segala kemungkinan yang dapat terjadi dari perkembangan
baru di wilayah yang berdekatan.
Modernisasi Thailand mencapai puncaknya pada masa pemerintahan raja
Chulalongkorn (1868-1910). Dengan adanya modernisasi itu, maka absolutism
sedikit demi sedikit ditinggalkan, rakyat makin dilibatkan dalam pemerintahan,
serta demokrasi semakin dikibarkan. Pada masa pemerintahannya, ia melakukan
pembaharuan besar-besaran. Ia mengorganisasi pemerintahan dengan menghapus
kekuasaan raja-raja lokal. Raja-raja itu diangkat menjadi pegawai negeri dan
pemerintahan disentralkan22. Adapun upaya untuk membentuk Thailand yang
demokratis, maka dibentuklah UUD (1874). UUD tersebut bertujuan untuk
membatasi kekuasaan raja yang bersifat absolute, sehingga lahirlah monarki
konstitusional. Sepeninggal Chulalongkorn (1910), irama modernisasi tersendat.
Penggantinya, Vajiravudh yang lulusan Universitas Cambrigde dan pernah dinas
militer Inggris, tidak mau melanjutkan modernisasi. Ia selalu mengambil
keputusan sendiri dan mengangkat pejabat dari orang-orang yang disukainya,
sehingga terjadi pemborosan dan korupsi yang dilakukan oleh kelompoknya.
Absolutisme dibangkitkan kembali.
Meskipun banyak kelemahan, Vajiravudh memiliki keunggulan juga. Ia
berusaha keras meletakkan sistem hukum seperti yang digunakan bangsa Barat.
Pada tahun 1921 ia memberlakukan wajib belajar di tingkat SD, dilanjutkan
dengan mendirikan Universitas Chulalongkorn, dan membangun sekolah-sekolah
berasrama. Di bidang sosial budaya, ia memerintahkan rakyatnya menggunakan
nama keluarganya. Kepada kaum wanita diperintahkan untuk menggunakan
model rambut orang Eropa serta rok sebagai ganti pakaian model Thailand yang
tertutup rapat yang dinilai mengganggu kegesitan kerja. Organisasi Palang Merah
didirikan pula dan mempopulerkan sepak bola.

6
Ditilik dari semua kebijaksanaan yang dilakukan, maka dapat dilihat bahwa
selama masa pemerintahannya, Vajiravudh melakukan tindakan yang serba
kontradiktif. Di satu sisi dia membiarkan berlangsungnya praktek pemborosan
anggaran negara, korupsi, tindak tidak bertanggung jawab dari aparatnya,
mengembalikan absolutisme, dan peniadaan dewan penasehat. Namun di pihak
lain ia melakukan reformasi sosial yang bersifat penyadaran kepada rakyatnya
atas hak-hak yang dimilikinya. Dengan kata lain, reformasi sosial yang dilakukan
Vajiravudh pada hakekatnya suatu usaha untuk meletakkan dasar bagi terciptanya
suatu cara pikir dan sekaligus mentalitas masyarakat modern.
Sepeninggal Vajiravudh, Thailand diperintah adik bungsunya, Prajadhipok
(1925-1935). Ketika itu krisis ekonomi mulai melanda dunia, sehingga Thailand
kesulitan keuangan. Ia mencari bantuan ke Inggris dan Prancis, tetapi gagal.
Karena itu ia lalu mengurangi pegawai istana dari 3000 orang menjadi 300 orang,
pegawai negeri dan militer juga dirasionalisasi dengan pemotongan gaji sehingga
mengecewakan banyak pihak. Sedangkan uang yang ada digunakan untuk
membangun stasiun radio, pangkalan udara Dong Muang, dan kebijakan lain yang
berpihak rakyat. Namun kelompok yang dipotong gajinya merasa terpukul dan
jumlah kalangan yang kecewa semakin besar.
Kelompok yang kecewa terhadap pemerintah terdiri dari kaum intelektual
pimpinan Pridi Banomyong dan kelompok militer muda pimpinan Phibun
Songgram, keduanya menamakan diri kelompok revolusioner. Ketidakpuasan
dikalangan kaum revolusioner yang berpendidikan Barat, elite birokrasi dan
pemerintahan dan kepemimpinan angkatan bersenjata yang lebih muda meningkat
selama tahun-tahun krisis dunia, sehingga dengan dukungan militer pada tanggal
24 Juni 1932, Pridi melakukan revolusi tak berdarah. Revolusi Thailand tahun
1932 itu berhasil memaksa raja untuk menerima konstitusi baru yang
menghilangkan hak-hak prerogatif raja (kecuali hak memberi pengampunan),
kedaulatan penuh di tangan rakyat dengan ditentukan adanya lembaga-lembaga
kenegaraan yaitu raja, kabinet dan parlemen. Untuk melunakkan kaum
konservatif (pendukung raja), Pridi tidak mengangkat dirinya menjadi perdana

7
menteri tetapi yang diangkat Phya Manomakorn (seorang revolusioner tetapi tidak
teribat kudeta 1932).
Dalam perkembangannya, pemerintahan Manumakorn makin konservatif,
sebab mulai mengembalikan kekuasaan prerogatif raja, lalu menuduh Pridi
sebagai komunis dan membuangnya ke luar negeri. Ketika itu paham komunis
memang sudah masuk Thailand yang disusupkan oleh agen Cina. Kelompok
komunis Thailnad ini menganut paham Marxisme dan Leninisme.
Sewaktu akan membersihan angkatan bersenjata dari unsur-unsur radikal,
ia justru dikudeta oleh militer pimpinan Phya Bahol (Phahon) yang kemudian
memerintah Thailand 1933-1938, tetapi bersifat otoriter dan anti komunis. Tahun
1938 ia dikudeta oleh Phibun Songgram. Pemerintahannya bersifat anti Cina dan
komunis, serta agresif. Setelah PD II undang-undang anti komunis dihapuskan
agar Thailand tidak diveto Uni Soviet masuk PBB (1948).

8
BAB III
KESIMPULAN
Kudeta tahun 1932 mengubah Siam menjadi Thailand modern yang berupa monarki
konstitusional. Perubahan nama dari Siam menjadi Thailand sendiri baru diumumkan
Perdana Menteri Plaek Pibul songgram (Phibun) pada tahun 1939. Pemerintahan
Perdana Menteri Phibun ini ditandai dengan bangkitnya nasionalisme Thai.

Pada bulan Januari 1941, Thailand menginvasi Indocina Perancis dan memulai
perang Thai-Perancis. Thailand berhasil merebut Laos, sedangkan Perancis
memenangkan pertempuran laut Koh-Chang. Perang tersebut berakhir lewat mediasi
Jepang. Perancis dipaksa Jepang untuk melepaskan wilayah sengketa kepada
Thailand.

Dalam perang dunia II Thailand memberi hak kepada Jepang untuk menggerakkan
pasukannya dalam wilayah Thailand menuju Malaya, yang pada saat itu dikuasai
Inggris. Pada bulan Desember 1941 Thailand dan Jepang menyetujui persekutuan
militer yang berisi persetujuan Jepang untuk membantu Thailand untuk merebut
kembali wilayah yang diambil Britania dan Perancis (Shan,Malaya, Singapura,
sebagian Yunnan, Laos dan Kamboja). Sebagai imbalannya, Thailand akan membantu
Jepang menghadapi Sekutu.

Setelah kekalahan Jepang, Thailand diperlakukan sebagai negara yang kalah oleh
Britania dan Perancis. Namun dukungan Amerika Serikat terhadap Thailand
membatasi kerugian yang diderita Thailand. Thailand harus mengembalikan wilayah
yang diperolehnya dari kedua negara Eropa tersebut, namun Thailand sendiri tidak
diduduki. Thailand kemudian menjadi sekutu Amerika Serikat menghadapi ancaman
komunisme dari negara-negara tetangganya.

Masyarakat Thailand sangatlah menghargai bangsanya. Mereka sangat menjunjung


tinggi ragam identitas negara. Tingginya rasa cinta mereka membawa pada
kesimpulan bahwa masyarakat Thailand merupakan masyarakat dengan rasa
nasionalisme yang tinggi.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/197101011999031-
WAWAN_DARMAWAN/NASIONALISME_ASIA_TENGGARA.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kerajaan_Thai

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kerajaan_Thai

http://saku30.tripod.com/bab_1tkt5.pdf

Soebantardjo. 1957. Sari Sedjarah,Asia~Australia, djilid 1. Jogjakarta: Bopkri

10