Anda di halaman 1dari 10

KERANGKA ACUAN KERJA

PENYEMPURNAAN DOKUMEN
PERSETUJUAN SUBSTANSI

PEMERINTAH KOTA TANGERANG


DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN
RUANG
Jl. KS Tubun No.
TANGERANG
KERANGKA ACUAN KERJA
PENYEMPURNAAN DOKUMEN PERSETUJUAN SUBSTANSI

I. Latar Belakang

Kota Tangerang berada di bagian Timur Provinsi Banten.Secara


geografis, wilayah Kota Tangerang terletak antara 606' 6013'
Lintang Selatan (LS) dan 106036' 106042' Bujur Timur (BT). Kota
Tangerang berjarak 60 km dari Ibukota Provinsi Banten dan 27
km dari Ibukota Negara Republik Indonesia, DKI Jakarta. Hal ini
menjadikan Kota Tangerang sedikit banyak mendapatkan dampak
positif maupun negatif dari perkembangan Ibukota Negara.
Pesatnya perkembangan Kota Tangerang didukung oleh tersedianya
sistem jaringan transportasi terpadu dengan kawasan Jabodetabek,
serta memiliki aksesibilitas yang baik terhadap simpul transportasi
berskala nasional dan internasional, seperti Bandara Internasional
Soekarno-Hatta, Pelabuhan Internasional Tanjung Priok, Pelabuhan
Merak serta Pelabuhan Bojonegara. Letak geografis Kota Tangerang
yang strategis tersebut telah mendorong pertumbuhan aktivitas
industri, perdagangan dan jasa yang merupakan basis
perekonomian Kota Tangerang saat ini.

Kota Tangerang telah memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah yang


ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 6
Tahun 2015 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang
2012-2032. Sebagai arahan pemanfaatan ruang yang lebih
operasional disusun Rencana Detail Tata Ruang pada setiap
kecamatan yang berpedoman kepada Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota Tangerang 2012-2032.

Dokumen akademik Rencana Detail Tata Ruang di Kota Tangerang


disusun pada periode Tahun 2009 2011, dengan tahapan
penyusunan sebagai berikut :
1) Tahun 2009 : RDTR Kecamatan Tangerang dan
Batuceper;
2) Tahun 2010 : RDTR Kecamatan Benda,
Cibodas, Ciledug, Jatiuwung dan Karang Tengah;
3) Tahun 2011 : RDTR Kecamatan Periuk,
Karawaci, Neglasari, Cipondoh, Pinang dan
Larangan.
Penyusunan dokumen akademik ke 13 (tigabelas) RDTR tersebut
belum mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
20/PRT/M/2011 yang ditetapkan pada tanggal 20 Desember 2011.

Pada periode tahun 2013-2014 dilakukan pembahasan 13 (tiga


belas) Rancangan Peraturan Daerah tentang RDTR dengan DPRD
Kota Tangerang yang hasilnya adalah persetujuan DPRD Kota
Tangerang.
Pada tahun 2014 dilaksanakan serangkaian pembahasan dan proses
asistensi dengan BKPRD Provinsi Banten dan Badan Informasi
Geospasial (BIG), yang hasilnya adalah :
1) Rekomendasi BIG :
RDTR BWP Tangerang, tanggal 5 Februari 2014
RDTR BWP Batuceper, tanggal 13 Mei 2014
RDTR BWP Benda dan BWP Jatiuwung, tanggal 17 Juni 2014
2) Rekomendasi Persetujuan Substansi oleh Gubernur Banten :
Nomor 078/1831.BAPP/2014 tanggal 30 Mei 2014 untuk RDTR
BWP Tangerang, Benda, Batuceper, Ciledug, Jatiuwung, Karang
Tengah dan Cibodas; dan
Nomor 078/3431.BAPP/2014 tanggal 23 September 2014 untuk
RDTR BWP Cipondoh, Pinang, Larangan, Neglasari, Periuk dan
Karawaci.

Selanjutnya dilakukan proses asistensi dan koordinasi dengan


Kementrian Pekerjaan Umum dalam rangka mendapatkan
Persetujuan Substansi dari Menteri yang menangani tata ruang
(melalui BKPRN). Mekanisme pemberian persetujuan substansi
diselenggarakan oleh Kementrian Agraria dan Tata Ruang (melalui
Direktorat Pembinaan Perencanaan Tata Ruang dan Pemanfaatan
Ruang Daerah, Direktorat Jenderal Tata Ruang). Dalam mekanisme
ini, peta-peta lampiran Perda RDTRK harus dikonsultasikan dan
diasistensikan dengan Badan Informasi Geospasial (BIG). Untuk
mendapatkan persetujuan substansi dimaksud ditekankan pada
proses self assessment oleh daerah.

Dalam pemberian persetujuan substansi juga didasarkan pada


prinsip pemeriksaan :
Materi muatan dan prosedur Rencana Rinci Tata Ruang sesuai
dengan Permen PU No.20 tahun 2011 tentang Pedoman
Penyusunan RDTR, RTR KSK dan pedoman bidang penataan ruang
lainnya
Kepentingan nasional dan provinsi terakomodasi
Rencana Rinci Tata Ruang sesuai dengan RTRW Kab/Kota-nya
Materi muatan naskah Raperda Rencana Rinci Tata Ruang sesuai
dengan Materi Teknisnya dan sesuai dengan format standar
raperda.

Sebagai dokumen pendukung pemberian persetujuan substansi


adalah :
1) Rancangan perda RRTR;
2) Materi Teknis RRTR;
3) Surat Rekomendasi Gubernur;
4) Berita acara konsultasi publik; dan
5) Dokumen KLHS (jika telah diwajibkan).
Dari kelima dokumen pendukung tersebut, Rancangan Perda RRTR
(RDTR) dan Materi Teknis RRTR (RDTR) masih harus disempurnakan.
Penyempurnaan yang masih harus dilakukan meliputi :
1) Rancangan perda RRTR, terdiri dari : naskah Rancangan Perda
RDTR BWP, zoning text dan zoning map. Termasuk peta-peta
lampirannya.
2) Materi Teknis RDTR BWP agar sinkron dengan narasi Rancangan
Perda beserta lampirannya.

Pada Tahun 2015 dan 2016, Kota Tangerang mengikuti klinik


Bimbingan Teknis Penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang yang
diselenggarakan oleh Kementrian Agraria dan Tata Ruang. Pada
umumnya kota-kota yang mengikuti klinik tersebut membuat
Rancangan Peraturan Daerah tentang RDTRK dalam satu peraturan
daerah, dan pihak Kementrian Agraria dan Tata Ruang juga
menyarankan cukup satu perda yang mengatur RDTRK dengan
kedalaman pengaturan sampai dengan skala 1 : 5.000.

Selain itu, pada Tahun 2016 dilakukan revisi terhadap RTRW Kota
Tangerang. memanfaatkan momentum ini maka perlu dilakukan
percepatan penyelesaian Perda RDTRK dengan melakukan
penyempurnaan dokumen persetujuan substansi sebagaimana
disebut di atas dengan menggabungkan dokumen yang sebelumnya
terdiri dari 13 dokumen menjadi 1 dokumen saja sebagai bahan
permohonan persetujuan substansi Raperda RDTRK Kota Tangerang.

II. Tujuan dan Sasaran

a. Tujuan
Kegiatan Penyempurnaan Dokumen Persetujuan Substansi ini
bertujuan untuk menyempurnakan Dokumen Persetujuan
Substansi yang sebelumnya sudah tersedia dengan
menggabungkannya menjadi satu kesatuan dokumen sebagai
upaya untuk percepatan penyelesaian penetapan Peraturan
Daerah tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota Tangerang.

b. Sasaran
Sasaran Kegiatan Penyempurnaan Dokumen Persetujuan
Substansi ini adalah menyempurnakan dokumen rancangan
Peraturan Daerah beserta lampirannya yang terdiri dari : Peta
Dasar, Peta Rencana (Peta Rencana Pola Ruang dan Peta Rencana
Jaringan Prasarana), Ketentuan pemanfaatan ruang di BWP
Tangerang (indikasi program), Ketentuan peraturan zonasi di BWP
Tangerang (matriks penulisan ketentuan kegiatan dan
pemanfaatan ruang zonasi, zoning text dan zoning map serta
Tabel Persandingan dengan RTRW. Konsultan juga diharapkan
dapat melakukan pendampingan pada saat asistensi ke BIG dan
Kementrian ATR.
III. Ruang Lingkup

Lingkup kajian Pencapaian Ruang Terbuka Hijau meliputi :

a. Ruang Lingkup Wilayah

Pekerjaan Penyempurnaan Dokumen Persetujuan Substansi ini


meliputi seluruh wilayah Kota Tangerang yang terdiri dari 13 (tiga
belas) Bagian Wilayah Perkotaan (BWP), yaitu : BWP Tangerang,
BWP Batuceper, BWP Ciledug, BWP Jatiuwung, BWP Karang
Tengah, BWP Cibodas, BWP Cipondoh, BWP Pinang, BWP
Larangan, BWP Neglasari, BWP Periuk, BWP Karawaci dan BWP
Benda.

Gambar 1.1.
Lokasi Wilayah Pekerjaan

b. Ruang Lingkup Substansi

Pekerjaan Penyempurnaan Dokumen Persetujuan Substansi ini


mencakup substansi tentang materi teknis rencana rinci/detail
tata ruang dan pembuatan peta rencana tata ruang dengan
format arc-GIS, mengacu pada Pedoman Penyusunan Rencana
Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota.

Muatan RDTR terdiri atas:


1) tujuan penataan BWP;
2) rencana pola ruang;
3) rencana jaringan prasarana;
4) penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya;
5) ketentuan pemanfaatan ruang; dan
6) peraturan zonasi.

Tujuan penataan BWP merupakan nilai dan/atau kualitas terukur


yang akan dicapai sesuai dengan arahan pencapaian
sebagaimana ditetapkan dalam RTRW dan merupakan alasan
disusunnya RDTR tersebut, serta apabila diperlukan dapat
dilengkapi konsep pencapaian.

Rencana pola ruang dalam RDTR merupakan rencana distribusi


subzona peruntukan yang antara lain meliputi hutan lindung,
zona yang memberikan perlindungan terhadap zona di
bawahnya, zona perlindungan setempat, perumahan,
perdagangan dan jasa, perkantoran, industri, dan RTNH, ke
dalam blok-blok. Rencana pola ruang dimuat dalam peta yang
juga berfungsi sebagai zoning map bagi peraturan zonasi.

Peta rencana pola ruang (zoning map) digambarkan dengan


ketentuan sebagai berikut:
1) rencana pola ruang digambarkan dalam peta dengan skala
atau tingkat ketelitianminimal 1:5.000 dan mengikuti
ketentuan mengenai sistem informasi geografis
yangdikeluarkan oleh kementerian/lembaga yang berwenang;
2) cakupan rencana pola ruang meliputi ruang darat dan/atau
ruang laut dengan batasan 4(empat) mil laut yang diukur dari
garis pantai wilayah kabupaten/kota atau sampai batasnegara
yang disepakati secara internasional apabila kabupaten/kota
terkait berbatasanlaut dengan negara lain;
3) rencana pola ruang dapat digambarkan ke dalam beberapa
lembar peta yang tersusun secara beraturan mengikuti
ketentuan yang berlaku;
4) peta rencana pola ruang juga berfungsi sebagai zoning map
bagi peraturan zonasi; dan
5) peta rencana pola ruang harus sudah menunjukkan batasan
persil untuk wilayah yangsudah terbangun

Rencana jaringan prasarana merupakan pengembangan hierarki


sistem jaringan prasarana yang ditetapkan dalam rencana
struktur ruang yang termuat dalam RTRW kabupaten/kota. Materi
rencana jaringan prasarana meliputi:

1) Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan


Rencana pengembangan jaringan pergerakan merupakan
seluruh jaringan primer dan jaringan sekunder pada BWP yang
meliputi jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, jalan
lingkungan, dan jaringan jalan lainnya yang belum termuat
dalam RTRW kabupaten/kota, yang terdiri atas: jaringan jalan,
jalur kereta api, jalur pelayaran, dan jalur pejalan kaki/sepeda.

2) Rencana Pengembangan Jaringan Energi/Kelistrikan


Rencana pengembangan jaringan energi/kelistrikan
merupakan penjabaran dari jaringan distribusi dan
pengembangannya berdasarkan prakiraan kebutuhan
energi/kelistrikan di BWP yang termuat dalam RTRW, yang
terdiri atas: jaringan substransmisi, jaringan distribusi,
jaringan pipa gas.

3) Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi


Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi terdiri atas:
rencana pengembangan infrastruktur dasar telekomunikasi,
rencana penyediaan jaringan telekomunikasi telepon kabel,
rencana penyediaan jaringan telekomunikasi telepon nirkabel,
rencana pengembangan sistem televisi kabel termasuk
penetapan lokasi stasiun transmisi, rencana penyediaan
jaringan serat optik; dan rencana peningkatan pelayanan
jaringan telekomunikasi.

4) Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum


Rencana pengembangan jaringan air minum berupa rencana
kebutuhan dan system penyediaan air minum, yang terdiri
atas: sistem penyediaan air minum wilayah kabupaten/kota
yang mencakup system jaringan perpipaan dan bukan jaringan
perpipaan; bangunan pengambil air baku; pipa transmisi air
baku dan instalasi produksi; pipa unit distribusi hingga persil;
bangunan penunjang dan bangunan pelengkap; dan bak
penampung.

5) Rencana Pengembangan Jaringan Drainase


Rencana pengembangan jaringan drainase terdiri atas: sistem
jaringan drainase yang berfungsi untuk mencegah genangan;
dan rencana kebutuhan sistem jaringan drainase yang meliputi
rencana jaringan primer, sekunder, tersier, dan lingkungan di
BWP. Dalam hal kondisi topografi di BWP berpotensi terjadi
genangan, maka perlu dibuat kolam retensi, sistem
pemompaan, dan pintu air.

6) Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah


Jaringan air limbah meliputi sistem pembuangan air limbah
setempat (onsite) dan/atauterpusat (offsite).Sistem
pembuangan air limbah setempat, terdiri atas:bak septik
(septic tank); daninstalasi pengolahan lumpur tinja
(IPLT).Sistem pembuangan air limbah terpusat, terdiri
atas:seluruh saluran pembuangan; danbangunan pengolahan
air limbah.
7) Rencana Pengembangan Prasarana Lainnya
Penyediaan prasarana lainnya direncanakan sesuai kebutuhan
pengembangan BWP, misalnya BWP yang berada pada
kawasan rawan bencana wajib menyediakan jalur evakuasi
bencana yang meliputi jalur evakuasi dan tempat evakuasi
sementara yang terintegrasi baik untuk skala kabupaten/kota,
kawasan, maupun lingkungan.

Penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya


bertujuan untuk mengembangkan, melestarikan, melindungi,
memperbaiki, mengkoor-dinasikan keterpaduan pembangunan,
dan/atau melaksanakan revitalisasi di kawasan yang
bersangkutan, yang dianggap memiliki prioritas tinggi
dibandingkan Sub BWP lainnya.

Ketentuan pemanfaatan ruang dalam RDTR merupakan upaya


mewujudkan RDTR dalam bentuk program pengembangan BWP
dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir
tahun masa perencanaan sebagaimana diatur dalam pedoman.
Peraturan zonasi merupakan ketentuan sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dari RDTR. Peraturan zonasi memuat materi
wajib yang meliputi ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan,
ketentuan intensitas pemanfaatan ruang, ketentuan tata
bangunan, ketentuan prasarana dan sarana minimal, ketentuan
pelaksanaan, dan materi pilihan yang terdiri atas ketentuan
tambahan, ketentuan khusus, standar teknis, dan ketentuan
pengaturan zonasi.

Yang menjadi tugas konsultan adalah menyempurnakan sesuai


hasil asistensi :
1) Materi teknis RDTR
2) Naskah Rancangan Peraturan Daerah
3) Lampiran Rancangan Peraturan Daerah termasuk peta-peta
rencana, indikasi program, matriks ITBX, zoning text dan
zoning map

Untuk pekerjaan peta (arc-GIS), lingkup penugasan meliputi :


1) Penyempurnaan Peta Dasar, meliputi pekerjaan :
digitasi bangunan,
pendetailan digitasi perairan,
labeling bangunan-bangunan penting,
labeling perairan,
labeling jalan eksisting;

2) Penyempurnaan Peta Rencana (lihat lampiran), meliputi


perbaikan peta-peta :
Rencana Pola Ruang
Rencana Jaringan Jalan
Rencana Jaringan Drainase
Rencana Jaringan Telekomunikasi
Rencana Jaringan Energi/listrik
Rencana Jaringan Air Minum
Rencana Jaringan BWP Prioritas
Peta Ketinggian Bangunan

3) Penyempurnaan Peta Zonasi, meliputi perbaikan peta-peta :


Perbaikan zoning map
Labeling zoning map/pendetailan sub zona
Perbaikan nama blok dan sub BWP
Penghitungan luas sub zona

IV. SumberPendanaan

Biaya pelaksanaan pekerjaan dibebankan pada DPA Dinas Pekerjaan


Umum dan Penataan Ruang Kota Tangerang Tahun Anggaran 2017, pada
Kegiatan Penyempurnaan Dokumen Persetujuan Substansi. Adapun
anggaran yang dialokasikan untuk belanja Jasa Konsultansi adalah Rp.
471.722.600,- (Empat Ratus Tujuh Puluh Satu Juta Tujuh Ratus Dua Puluh
Dua Ribu Enam Ratus Rupiah). Pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan secara
kontraktual dengan metode seleksi umum.

V. Nama dan Organisasi Pejabat Pembuat Komitmen

Pejabat Pembuat Komitmen : Kepala Bidang Tata Ruang


Unit Kerja : Dinas Dinas Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang

VI. Keluaran

Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah Dokumen Persetujuan


Substansi, yang terdiri dari Laporan Awal, Laporan Antara dan Laporan
Akhir beserta lampiran dan softcopynya. Lampiran Laporan Akhir terdiri
dari :
1) Materi teknis RDTR
2) Naskah Rancangan Peraturan Daerah
3) Lampiran Rancangan Peraturan Daerah termasuk peta-peta
rencana, indikasi program, matriks ITBX, zoning text dan zoning
map

VII. Tenaga Ahli

Tenaga Ahli yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah :


a. Ahli perencanaan wilayah dan kota sebagai Team Leader
b. Ahli perencanaan wilayah dan kota
c. Ahli Pemetaan/GIS
Selain itu dibutuhkan tenaga pendukung berupa operator GIS.
VIII. JangkaWaktuPelaksanaanPekerjaan

Jangka waktu penugasan adalah 6 bulan dimulai sejak ditandatanganinya


SPK.

IX. Penutup
Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini merupakan pedoman dasar yang dapat
dikembangkan lebih lanjut oleh konsultan sepanjang keluaran akhir dapat
dihasilkan secara optimal dan sesuai dengan yang diharapkan.

Pejabat Pembuat Komitmen


Bidang Tata Ruang
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang
Kota Tangerang

RIZNUR MASRUN, ST. MT.


NIP. 19750923 200212 1 007