Anda di halaman 1dari 16

II.

Isi
Komunikasi terapeutik yang terjadi antara perawat dan klien harus melalui empat tahap meliputi
fase pra-interaksi, orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Agar komunikasi terapeutik antara
perawat dan klien dapat berjalan sesuai harapan, diperlukan strategi yang harus dilakukan oleh
perawat pada saat melakukan komunikasi terpeutik dengan kliennya. Berikut ini akan dijelaskan
mengenai strategi pada setiap tahapan komunikasi terapeutik sesuai dengan pemicu 1 yaitu
antara perawat A dan Ny. S yang merupakan klien post-operasi.
a. Fase pra-interaksi
Fase pra-interaksi merupakan masa persiapan sebelum berhubungan dan berkomunikasi dengan
klien. Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara
mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi
tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi
untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan
mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum
melakukan komunikasi terapeutik dengan klien.
Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain
(Ellis, Gates dan Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh adanya
kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat
merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik
(Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening
(mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).
Strategi komunikasi yang harus dilakuakn perawat A dalam tahapan ini adalah:
a. Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan Ny. S.
b. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.
c. Mengumpulkan data dan informasi tentang Ny. S dari keluarga terdekatnya.
d. Merencanakan pertemuan pertama dengan Ny.S dengan bersikap positif dan menghindari
prasangka buruk terhadap klien di pertemuan pertama.
b. Fase orientasi
Fase orientasi atau perkenalan merupakan fase yang dilakukan perawat pada saat pertama kali
bertemu atau kontak dengan klien. Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan
klien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang
telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah
lalu (Stuart.G.W, 1998).
Strategi yang dapat dilakukan perawat A dalam tahapan ini adalah:
a) Membina rasa saling percaya dengan menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka
terhadap Ny.S dengan tidak membebani diri dengan sikap Ny.S yang melakukan penolakan
diawal pertemuan.
b) Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan) bersama-sama
dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati
bersama. Perawat A dapat menanyakan kepada keluarga Ny.S mengenai topik pembicaraan yang
mungkin akan menarik bagi Ny.S.
c) Mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan serta mengidentifikasi masalah klien yang
umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka. Ketika Ny.S
diam saja atau memalingkan muka, perawat A bisa menanyakan apakah Ny.S merasakan sakit
dan apa yang membuat Ny.S merasa tidak nyaman.
d) Merumuskan tujuan interaksi dengan klien. Pada pertemuan awal dengan Ny.S, perawat A
memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dengan kliennya. Maka, perawat A
harus berusaha agar tujuan awal tersebut dapat tercapai.
c. Fase kerja
Fase kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart,1998). Fase
kerja merupakan inti dari hubungan perawat dan klien yang terkait erat dengan pelaksanaan
rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada
fase kerja ini perawat perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari
komunikasi terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara meningkatkan
sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan menggunakan teknik
komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja
sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan
melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, meningkatkan komunikasi klien dan
mengurangi ketergantungan klien pada perawat, dan mempertahankan tujuan yang telah
disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.
Tugas perawat pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan
tepat. Perawat juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian
mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku
adaptif. Strategi yang dapat dilakukan perawat A terhadap Ny.S ialah mengatasi penolakan
perilaku adaptif Ny.S dengan cara menciptakan suasana komunikasi yang nyaman bagi Ny.S
dengan cara:
a) Berhadapan dengan lawan bicara.Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (saya
siap untuk anda).
b) Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan)
Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung terciptanya
komunikasi.
c) Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara
Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-
mendengar).
d) Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural. Dengan posisi mata sejajar perawat
menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.
e) Bersikap tenang. Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan menggunakan
gerakan/bahasa tubuh yang natural.
Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya
perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan
pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal
yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan
dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang
sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.
Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan
klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal
penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama
(Murray,B. & Judith,P,1997 dalam Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan
oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah
disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.
d. Fase terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap terminasi dibagi dua yaitu
terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir
dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan
bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati
bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh
proses keperawatan.
Tugas perawat dalam tahap ini adalah:
a) Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif).
Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang
apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.
b) Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi
dengan perawat. Perawat A bisa langsung menanyakan perasaan Ny. S dalam setiap akhir
pertemuan dengannya.
c) Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang
disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang
akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan
berikutnya.
III. Penutup
Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang perawat serta salah satu upaya
yang dilakukan oleh perawat untuk mendukung proses keperawatan yang diberikan kepada klien.
Untuk dapat melakukannya dengan baik dan efektif diperlukan strategi yang tepat dalam
berkomunikasi sehingga efek terapeutik yang menjadi tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat
tercapai.

G.Tahapan Komunikasi Terapeutik

Tahapan komunikasi terapeutik terdiri dari empat taha, yaitu :


1.Tahap Persiapan/ Tahap Pra interaksi
Pada tahap ini perawat :
a.Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan diri sendiri.
b.Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri perawat sendiri.
c.Mengumpulkan data tentang klien
d.Merencanakan pertemuan pertama dengan klien.

2.Tahap Perkenalan
Merupakan saat pertama perawat bertemu dengan klien. Pada tahap ini tugas perawat :
b.Membina hubungan saling percaya
c.Merumuskan kontrak bersama klien
d.Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien.
e.Merumuskan tujuan dengan klien
3.Tahap Kerja
Merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi (Stuart GW., 1998). Pada tahap ini
perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Tahap ini
juga berhubungan dengan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan.

4.Tahap Terminasi
Merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien. Tahap ini dibagi dua, yaitu tahap
terminasi sementara dan terminasi akhir. Pada thap ini tugas perawat adalah :
a.Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan.
b.Melakukan evaluasi subyektif.
c.Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan.
d.Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

1.PRAINTERAKSI
Dimulai sebelum kontak pertama perawat-klien
Tugas perawat : mengeksplorasi diri
Pada pengalaman pertama, perawat masih memiliki miskonsepsi dan image pada umumnya
ditambah dengan berbagai perasaan dan ketakutan yang muncul seperti:
- Takut ditolak klien
- Cemas karena merupakan pengalaman baru
- Memperhatikan klien secara berlebihan
- Meragukan kemampuan diri
- Takut dilukai klien secara fisik
- Gelisah melakukan komter
- Klien dicurigai sebagai orang yang aneh
- Merasa terancam identitasnya sebagai perawat
- Merasa tidak nyaman untuk melakukan tugas secara fisik
- Mudah terpengaruh secara emosional (tersinggung-diejek)
- Takut disakiti secara psikologis

Analisi diri
- Apakah saya menganggap klien sbg orang yang aneh?
- Apakah harapan saya terlalu tinggi sehingga bila klien kasar, bermusuhan, atau tidak kooperatif
saya menjadi marah atau merasa terluka?
- Apakah saya takut terhadap tanggung jawab yang dibebankan pada saya (dalam hubungan
dengan klien)?
- Apakah saya harus menutupi rasa inferior dengan mengedepankan rasa superior?
- Apakah saya harus bersimpati, memberikan kehangatan, dan perlindungan secara berlebihan
bila saya melakukan kekeliruan?

2.ORIENTASI
Perawat dasar: menemukan alasan mengapa klien memerlukan pertolongan pengkajian
keperawatan dan membantu perawat fokus pada masalah klien.
Tugas perawat pada fase ini :
- Membangun trust
- Memahami
- Menerima
- Membuka komunikasi dan membuat kontrak dgn klien

Kontrak pertama dimulai :


- Memperkenalkan diri perawat dan klien
- Menyebutkan nama
- Menjelaskan peran (meliputi tanggung jawab dan harapan baik klien maupun perawat dengan
menjelaskan apa yang perawat dapat atau tidak dapat lakukan).
- Mendiskusikan tujuan hubungan (dengan menekankan pada pengalaman hidup perawat klien
serta konflik)

Perawat dapat menyadari kecemasan dan ketakutan klien, tetapi klien mungkin kesulitan untuk
menerima bantuan perawat. Kemungkinan hal ini disebabkan :
- Sulit mengakui mempunyai kesulitan atau masalah .
- Tidak mudah trust atau terbuka pada seseorang yang baru dikenal.
- Masalah yang dihadapi terlihat sangat besar, rumit, atau unik untuk disharingkan pada orang
lain.
- Mengutarakan masalah dapat mengancam rasa independen, otonomi, dan harga diri.
- Dalam memecahkan suatu masalah melibatkan pemikiran tentang sesuatu yang mungkin tidak
menyenangkan, mereview kenyataan hidup, memutuskan suatu rencana, dan yang terpenting
adalah membawa suatu perubahan

3.KERJA
Selama fase ini
- Prwt-klien mengekplorasi stressor yang berkaitan dan terus meningkatkan perkembangan
insight klien (yang berkaitan dengan persepsi, pikiran, perasaan, dan tindakan)
- Insights harus diwujudkan dalam tindakan dan diintegrasikan ke dalam pengalaman hidup klien
- Perawat membantu klien : menghilangkan kecemasan, meningkatkan rasa kebebasan dan
tanggung jawab terhadap diri sendiri mengembangkan mekanisme koping yang positif. (Fokus
fase ini : perubahan perilaku secara nyata)

4.TERMINASI
- Pemahaman antara perawat-klien lebih dioptimalkan
- Saling tukar pikiran dan memori
- Mengevaluasi perkembangan klien (berkenaan dengan tujuan asuhan keperawatan)
- Perawat-klien bersama-sama mereview perkembangan yang tercapai selama perawatan
- Perasaan rejeksi, kehilangan, sedih, dan marah diekspresikan dan diekplorasi

Tugas prwt dlm tiap-tiap fase

Prainteraksi :Mengekplorasi perasaan, harapan, dan rasa takut diri sendiri.


Menganalisa kemamp. & kekurangan diri
Mengumpulkan data klien (bila mungkin)
Merencanakan pertemuan pertama dgn klien

Orientasi :Mengidentifikasi alasan klien meminta bantuan


Membangun trust, menerima, dan membuka komunikasi
Bersama-sama membuat kontrak
Mengekplorasi pikiran, perasaan, dan tindakan klien
Mengidentifikasi masalah klien
Menetapkan tujuan dgn klien

Kerja :Mengekplorasi stressor yg berkaitan


Meningkatkan insight dan mekanisme koping klien

Terminasi :Mereview perkembangan terapi dan tujuan yg tercapai


Mengekplorasi perasaan satu sama lain;rejeksi,
kehilangan, kesedihan, dan kemarahan dan dihubungan dgn perilaku.

TAHAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Telah disebutkan sebelumnya bahwa komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang


terstruktur dan memiliki tahapan-tahapan. Stuart G. W, 2009 menjelaskan bahwa dalam
prosesnya komunikasi terapeutik terbagi menjadi empat tahapan yaitu tahap persiapan atau tahap
pra-interaksi, tahap perkenalan atau orientasi, tahap kerja dan tahap terminasi.

a. Tahap Persiapan/Pra-interaksi
Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara
mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi
tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi
untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan
mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum
melakukan komunikasi terapeutik dengan klien.
Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang
lain (Ellis, Gates dan Kenworthy, 20011 dalam Suryani, 2009). Hal ini disebabkan oleh adanya
kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat
merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik
(Brammer, 2007 dalam Suryani, 2009) sehingga tidak mampu melakukan active listening
(mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian). Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:
1. Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan.
2. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.
3. Mengumpulkan data tentang klien.
4. Merencanakan pertemuan pertama dengan klien.

b. Tahap Perkenalan/Orientasi
Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien dilakukan. Tujuan
dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan
keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart. G. W, 2009).
Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:
1. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka.
2. Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan) bersama-sama dengan
klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama.
3. Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan
dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka.
4. Merumuskan tujuan interaksi dengan klien.
Sangat penting bagi perawat untuk melaksanakan tahapan ini dengan baik karena tahapan ini
merupakan dasar bagi hubungan terapeutik antara perawat dan klien.

c. Tahap Kerja
Tahap kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart, G. W,
2009). Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena
didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan
perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal
dan non verbal yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara
aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan
masalah yang sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.
Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya
dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan
hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide
yang sama (Murray, B. & Judith, P, 2011 dalam Suryani, 2010). Dengan dilakukannya penarikan
kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan
yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.

d. Tahap Terminasi
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap terminasi dibagi dua
yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart, G. W, 2009). Terminasi sementara adalah
akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih
akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah
disepakati bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan
seluruh proses keperawatan. Tugas perawat dalam tahap ini adalah:
1. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif).
Brammer dan McDonald (2009) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang
apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.
2. Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi
dengan perawat.
3. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang disepakati
harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan
dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan
berikutnya.

Dialog Komunikasi terapeutik (KOMTER) pada Anak


Pada Komter anak ini perawat harus memberikan kesan yang ramah dan adanya komunikasi
melalui transisi objek permainan. Senyum dan pandangan mata yang bersahabatan.
Menggunakan kata-kata yang di mengerti oleh anak.

Proses Komter dibagi 4 tahap yaitu :

Tahap Persiapan/ Pra Orientasi


Tahap Perkenalan /Orientasi
Tahap Kerja
Tahap Terminasi

Tahap pertama Persiapan / pra Interaksi ini dilakukan sebagai Perawat melapor / meminta ijin
untuk melekukan praktek komter kepada dosen pembimbing.

Contoh dialog
Perawat mengenalkan diri Sendri.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Perkenalkan nama saya Yuyun Yuningsih, saya seorang mahasiswi dari STIKes BHAKTI
KENCANA BANDUNG.
Insya Allah pada kesempatan ini saya akan melaksanakan ujian komter terhadap klien saya
saudari A dan saya menjalani komter ini pada seorang anak.
Adapun harapan saya : Saya ingin komunikasi yang dilakukan oleh saya berjalan sesuai dengan
waktu yang telah disepakati (kontrak) dan saya dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Norma : saya adalah seorang anak dari kedua orang tua saya, status saya masih sendiri dan saya
masih pelajar yang masih dalam tahap pembelajaran. Hal ini tidak sama dengan klien saya
karena klien saya seorang anak yang masih berumur 8 tahun dan juga ada ibu klien yang
mendampinginya, sehingga secara normatif kedudukan kita tidak sama dan saya akan memanggil
kilen saya dengan sebutan kesayangan yaitu ade dan kepada orang tuanya yaitu ibu, hal ini telah
adanya persetujuan dari klien saya sendiri.
Nilai : Nilai yang kami anut sama, yaitu klien beragama Islam dan kebetulan klien saya sesama
jenis (muhrim), sehingga klienpun tidak menolak jika dilakukan sentuhan.
Kekuatan : Adapun kekuatan saya dalam melakukan komter ini adalah saya telah membaca
buku tentang kesehatan dan tahu akan pengetahuan kesehatan, saya juga telah mencoba
melakukan komter dengan teman-teman saya di kampus.
Kelemahan : saya mempunyai kelemahan yaitu sering bloking dan mengalami kesulitan dalam
penyusunan kata-kata.
Perasaan saya saat ini saya cemas dan tegang jika saya dan klien tidak bisa menyelesaikan
komter ini sesuai dengan waktu yang telah disepakati.
Penyebabnya yaitu saya harus melakukan komter ini didepan penguji sehingga hal ini membuat
saya jadi stress.
Adapun untuk mengatasi hal tersebut, saya akan diam dulu sejenak untuk menenangkan diri,
kemudian menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan-lahan untuk rileks.

Tahap kedua perkenlan / orientasi : Tahap ini dilkukan langsung kepada klien.

Memberi salam kepada klien :


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Perawat : Perkenalkan nama saya Yuyun Yuningsih, saya senang di panggil Rista. Boleh saya
tahu nama ibu dan ade siapa? Apa panggilan kesayangan ibu dan ade?
Ibu Pasien : Nama saya Dessy, saya senang dipanggil bu Dessy.
Pasien Anak : Namaku Nissa, aku senangnya dipanggil Icha kak.
Perawat : Oh, baiklah kalau ibu senang dipanggil nama bu Dessy dan nama ade kecil yang lucu
ini kakak panggil ade Icha.
Ibu Pasien : Baiklah sus.
Perawat : Pertama saya akan membuat persetujuan dengan ibu, kita akan mulai komunikasi
ini dengan waktu juga tempat yang ibu sepakati. Bagaimana bu Dessy setuju kalau komunikasi
terapeutiknya kita mulai dimana dan kapan?
Ibu Pasien : Saya pikir komunikasi terapeutiknya dilakukang sekarang dan diruangan ini saja
supaya situasinya kondusif.
Perawat : Oh...baiklah bu, menurut ibu sendiri waktu yang tepat untuk melakukan komunikasi
ini berapa lama?
Ibu Pasien : Menurut saya lebih baik 10 menit ya sus supaya tidak terlalu lama karena saya
takut anak saya akan merasa bosan.
Perawat : Iya bu Dessy tentu, dengan senang hati.
Ibu Pasien : Baiklah.
Tahap ketiga : Tahap Kerja

Perawat : Ibu bagaimana kalau anak ibu diberikan kesempatan untuk berbicara tanpa disertai
oleh ibu supaya saya lebih jelas untuk menggali permasalahan yang anak ibu hadapi.
Ibu Pasien : Oh, tentu sus silahkan.
Perawat : Terima kasih ibu.
Perawat : Salamat pagi, apa kabar ade Icha yang cantik. Bagaimana kabar ade sekarang? Coba
ade bisa ceritakan sama kakak apa yang ade rasakan saat ini?
Pasien anak : Pagi juga kakak, keadaan ade saat ini sakit perut kak.
Perawat : Perut yang sebelah mana?
Pasien Anak : Perut yang sebelah kiri.
Perawat : Coba ceritain sama kakak kira kira kenapa perut ade Icha bisa sakit seperti itu ?
Pasien Anak : Aku sendiri gak tau kak, sebelumnya aku susah makan.
Perawat : Hmm kenapa coba ade susah makan ? Apa penyebabnya?
Pasien Anak : Rasanya tuh mual kak kalo makan.
Perawat : Oh...kakak pikir ade ini ada gangguan pencernaan yah.
Pasien Anak : Sepertinya emang gitu kak, soalnya aku gak nafsu makan dan selalu mual
mual.
Perawat : Oh, sepertinya ade ini terkena gejala maag. Ade Icha sendiri tau gak apa itu penyakit
maag?
Pasien aanak : Gak tau kak, memangnya maag itu apa?
Perawat : Maag itu semacam penyakit yang menyerang lambung. Penyebabnya kebanyakan
karena sering makan yang pedas dan terutama jarang makan.
Pasien Anak : Oh begitu ya kak, jadi aku sakit maag?
Perawat : Iya ade sayang, karena ini baru gejala saja jadi lebih baik ade Icha lebih menjaga
pola makan supaya penyakit maagnya bisa sembuh.
Pasien Anak : Iya kak kalo begitu Icha sekarang mau rutin makan yang teratur .
Perawat : Bagus sekali ade Icha pinter, ini kakak bawa boneka untuk ade mau?
Pasien Anak : Mau sekali kakak

Tahap keempat : Terminasi

Perawat : Bagaimana perasaan ade sekarang?


Pasien Anak : Baik kak, Icha merasa senang dan nyaman.
Perawat : Anak yang pintar.
Perawat : Baiklah kalau begitu saya ucapakan terima kasih kepada ibu sudah memberikan
kesempatan kepada saya untuk melakukan komunikasi dengan anak ibu. Seperti waktu yang
telah kita sepakati diawal yaitu 15 menit dan sekarang waktunya sudah habis. Semoga cepat
sembuh yah de Icha jangan lupa obatnya diminum juga jangan telat makan lagi yah. Kita akan
bertemu lagi kapan bu? Apakah ibu bersedia untuk dilakukan komunikasi terapeutik kembali
dengan saya?
Ibu Pasien : Iya terima kasih kembali, tentu sus saya sangat bersedia.
Perawat : Dengan senang hati, mungkin untuk waktu dan tempatnya kita sepakati kembali
disini atau bagaimana menurut ibu?
Ibu Pasien : Iya sus saya setuju dengan pendapat suster.
Perawat : Baiklah, sampai jumpa besok yah ade Icha dan ibu Dessy. Assalamualakum.
Ibu Pasien : Waalaikumsalam.

Komunikasi Terapeutik pada pasien dewasa dengan kasus pre operasi penyakit hemoroid.

Suatu hari di Rumah Khusus Bedah Rama Hadi , disalah satu ruangan yaitu ruangan Mawar, ada
seorang pasien dewasa berumur 30 tahun bernama Nunik Nurawaliyah ,Sebelumnya Klien
berobat ke Dokter dan Klien dirujuk oleh dokter untuk ke Rumah Sakit khusus bedah untuk
segera dilakukan operasi.

1. 1. Fase Perkenalan
(Masuk perawat ke ruang Mawar)

P : Assalamualaikum

K :Waalaikumsalam

P :Selamat pagi bu (BROAD OPENING)

K :Pagi sus

P :Ibu, perkenalkan nama saya Mery Mawarni, saya Mahasiswi Akper Pemda Garut,
kebetulan hari ini sedang dinas pagi diruangan ini dari pukul 07.00 sampai pukul 14.00. jika
butuh bantuan ibu bisa menghubungi saya atau perawat lainnya.

K :Iya sus

P :Ibu bolehkan saya duduk?

K :Silahkan sus

P :Kalau boleh tahu siapa nama ibu?

K :Nama saya Nunik Nurawaliyah

P :Wah nama yang cantik seperti orangnya (HUMORING)

K :Ah suster bisa saja

P :Supaya lebih akrab ibu maunya dipanggil apa?

K :Panggil ibu saja sus

P :Baiklah, Ibu umurnya berapa tahun bu?

K :Umur saya 30 tahun sus

P :Ibu dengan siapa disini bu?

K :Sama suami saya, tapi sekarang lagi keluar mengurus administrasi

P :Oh begitu ya bu,,Ibu tinggal dimana bu?

K :Saya tinggal di Talaga loa sus


P :Oh, yang dekat Darajat itu ya bu?

K :Iya sus, kok suster tau?

P :Iya bu saya sering main kesana, Ibu bekerja dimana bu?

K :Saya sih ibu rumah tangga

P :Oh begitu ya bu

K :Iya sus

2.Fase Orientasi

P :Ibu bagaimana keadaan ibu hari ini? (OPEN ENDEED QUESTION)

K :Ya beginilah sus

P :Maaf ibu keadaan seperti apa yang ibu maksud? (FOCUSSING)

K :Saya merasa sakit dan gatal dibagian anus (SILENCE)

P :Oh, lalu ? (ACTIVE LISTENING)

K :jika BAB ada darahnya juga sus

P :Oh jadi ibu merasa sakit dan gatal di bagian anus, dan jika BAB akan keluar darah
(RESTATING) , lalu apa yang membuat ibu bisa masuk Rumah Sakit ini bu?

K :Kemarin saya berobat ke dokter, setelah diperiksa dokter bilang saya menderita hemoroid
dan harus segera dilakukan operasi, dan saya dirujuk ke Rumah Sakit Khusus bedah ini untuk
dilakukan operasi

P :Oh jadi ibu sudah tau bahwa ibu menderita hemoroid dan harus segera dioperasi?

K :Iya sus saya juga baru tau kemarin, tapi apakah penyakit hemoroid itu sus?

P : Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih pembuluh darah vena
hemoroidales pada poros usus dan anus yang disebabkan karena otot & pembuluh darah sekitar
anus atau dubur kurang elastis sehingga cairan darah terhambat dan membesar
(INFORMING)

K :Lalu apakah penyebab dari hemoroid ini sus?


P :Penyebabnya bisa karena sering makan makanan yang pedas, lalu bisa juga karena jarang
minum, dan penyebab lainnya bisa karena sering menahan BAB (INFORMING)

K :Oh begitu yah, mungkin karena saya suka pedas jadi seperti ini

P :Nah setelah ibu sembuh nanti ibu jangan makan pedas lagi ya bu, dan sebaiknya ibu
banyak minum air putih (INFORMING)

P :Baik ibu, Ibu kan sudah tau akan dilakukan operasi, apakah ibu sudah siap?

K :Sebenarnya saya takut, ini operasi pertama kali dalam hidup saya

P :Ibu tenang saja, ibu kan mau sembuh jadi operasi ini jalan terbaik untuk ibu (SARAN)

K :Ya sekarang saya sudah pasrah dengan keadaan saya ini

P :Ibu, karena ibu harus dilakukan operasi jadi sebelum dilakukan operasi saya akan
mengambil sample darah ibu untuk dilakukan pemeriksaan lab untuk mengetahui apakah ibu
sudah bisa dioperasi secepatnya. Apakah ibu bersedia?

K :Iya silahkan sus

P :Kalo begitu saya tinggal dulu ya bu untuk mempersiapkan alatnya. Assalamualaikum

K :Waalaikumsalam

(Perawat meninggalkan pasien untuk menyiapkan alat)

1. 3. FASE KERJA

Tidak lama kemudian perawat datang membawa alat untuk phelebotomy.

P :Assalamualaikum

K :Waalaikumsalam sus

P :Bu saya kembali lagi, sekarang saya akan mengambil sampel darah ibu apakah ibu
bersedia?

K :Iya silahkan sus


(Perawat pun mengambil darah pasien)

P :Sudah selesai bu, sampel darah ini akan saya bawa ke laboratorium, mungkin hasilnya
akan keluar siang nanti. Nanti pukul 12.00 siang saya akan kembali untuk memberikan obat
kepada ibu

K :Iya sus

P :Baiklah saya tinggal dulu ya bu

K :Iya sus, terimakasih

4.A TERMINASI SEMENTARA

Pada pukul 12.00 perawat kembali keruangan Mawar untuk memberikan obat sesuai janji
pertemuan sebelumnya, dan perawat juga membawa hasil lab

P :Assalamualaikum bu

K :Waalaikumsalam

P : ibu masih ingat dengan saya?

K :Masih sus, perawat Mery kan

P :Ibu sesuai janji saya tadi pagi , sekarang saya datang kesini untuk memberikan obat
kepada ibu. Ini nama obatnya Ultraproct untuk mengurangi rasa gatal, nyeri, atau kerusakan kulit
di daerah anus dan ini satu lagi obat Psyllium untuk menghentikan pendarahan di dinding
pembuluh darah , obat ini dalam bentuk injeksi atau disuntikan, saya berikan lewat Intra Vena
atau ke pembuluh darah, namun karena ibu menggunakan infuse jadi akan saya suntikan melalui
selang infuse ibu. Apakah ibu bersedia?

K :Iya silahkan sus

(perawat pun memberikan obat melalui selang infuse)

K :Kenapa harus lewat injeksi tidak berbentuk tablet dan diminum?

P :Karena agar efeknya cepat dan langsung masuk ke pembuluh darah

K :Oh gitu ya sus


P :Ibu saya datang kesini juga membawa hasil lab tadi pagi

K :Wah bagaimana hasilnya sus?

P :Hasilnya ibu sudah siap untuk dilakukan operasi

K :Lalu kapan saya akan dioperasinya sus?

P :Sekitar pukul 20.00 nanti, jadi mulai sekarang pukul 12.00 ibu harus berpuasa selama 8
jam ya bu

K :Kenapa saya harus puasa sus?

P : supaya saat operasi nanti tidak terjadi kerja usus yang berlebihan dan operasinya berjalan
dengan lancar (INFORMING)

K :Oh begitu yah sus, baiklah saya akan berpuasa. Tapi tiba tiba saja saya merasa gugup dan
takut

P :Agar ibu tidak merasa gugup, coba ibu lakukan relaksasi yaitu menarik nafas dari hidung
lalu keluarkan melalui mulut, seperti ini bu (perawat mencontohkannya)

(Pasien pun mengikuti apa yang perawat sarankan)

P :Bagaimana bu perasaannya setelah melakukan relaksasi? (SHARING PERSEPTION)

K :Lumayan Agak mendingan sus

4. b FASE TERMINASI AKHIR

P :Ibu apakah ibu masih ingat dengan apa yang kita bicara tentang penyakit ibu
(MENYIMPULKAN / SUMMERIZING)

K :Ingat, jadi saya tidak boleh makan makanan yang pedas lagi, harus banyak minum, dan
jangan sering menahan BAB, supaya nanti penyakit saya tidak kambuh lagi

P :Baiklah ibu bagaimana perasaan ibu setelah saya rawat? (SHARING PERSEPTION)

K :Saya merasa senang dirawat oleh suster mery yang baik

P :Ah ibu bisa aja


P :Baiklah ibu, jadwal dinas saya hanya sampai pukul 14.00, jadi nanti malam ibu akan
ditemani oleh perawat lain .Nanti akan ada teman saya yang menggantikan dinas saya sekarang
ibu istirahat yang cukup jangan banyak fikiran dan saya akan mengurus surat persetujuan operasi
dengan keluarga ibu. Baiklah ibu saya tinggal dulu ya bu. Assalamualaikum

K :Terimakasih sus. Waalaikumsalam

(Perawat pun meninggalkan ruangan, dan pasien merasa senang dirawat oleh perawat Mery
walaupun hanya beberapa kali pertemuan)