Anda di halaman 1dari 41

Modul Brevet Pajak

Jangka waktu penyampaian SPT KPP :


SPT Masa : paling lambat 20 hari setelah akhir masa pajak.
SPT Tahunan : paling lambat 3 bulan setelah akhir tahun pajak.

Terlambat penyampaian SPT, dikenakan sanksi administrasi berupa denda :


Rp 50.000 (SPT Masa).
Rp 100.000 (SPT Tahunan)

Memperpanjang Penyampaian SPT

Wajib Pajak berhak memperpanjang waktu penyampaian SPT Tahunan hingga paling
lama 6 bulan, misalnya karena :
luasnya kegiatan usaha.
Masalah-masalah teknis dalam penyusunan laporan keuangan.

Sehingga sulit untuk memenuhi jangka waktu tersebut.

Pembetulan SPT

Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan SPT yang telah disampaikan
dengan menyampaikan pernyataan tertulis dalam jangka waktu 2 tahun (dengan syarat
sebelum dilakukan pemeriksaan atau penyidikan).

Pembayaran / Penyetoran Pajak

Setiap jenis pajak, ada jatuh tempo (jangka waktu) pembayarannya. Jika lewat jatuh
tempo, dikenakan sanksi perpajakan berupa bunga penagihan, yang besarnya 2% per
bulan.

halaman 1 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Sarana atau Bukti Pembayaran dilakukan dengan :

Surat Setoran Pajak (SSP) untuk PPh, PPN, PPnBM, dan Bunga Penagihan.
Surat Setoran Bea (SSB) untuk BPHTB
Surat Tanda Setoran (STS) untuk PBB.

Tempat pembayaran dilakukan di :


Bank, yang ditunjuk pemerintah.
Kantor Pos.
Tempat lain yang ditetapkan Menteri Keuangan.

Pembukuan Dan Pencatatan

A. Pembukuan

Suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan
informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya serta
jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan
menyusun laporan keuangan (Neraca dan Laba rugi) pada setiap tahun pajak terakhir.

Yang wajib menyelenggarakan pembukuan :


Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas.
Wajib Pajak Badan.

Pembukuan/pencatatan harus diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan


mencerminkan keadaan/kegiatan usaha yang sebenarnya.

Pembukuan/pencatatan harus :
Diselenggarakan di Indonesia.
Menggunakan huruf Latin dan angka Arab.

halaman 2 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Disusun dalam bahasa Indonesia (bahasa asing, izin Menkeu) dan dalam mata uang
Rupiah (mata uang asing, izin Menkeu).
Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau kas.

B. Pencatatan

Pengumpulan data secara teratur tentang peredaran bruto/penerimaan penghasilan


sebagai dasar menghitung jumlah penghasilan neto.

Pencatatan dapat dilakukan :


Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas (dengan
omzet di bawah Rp 600 juta/tahun).
Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas.

Wajib Pajak yang punya lebih dari 1 jenis usaha/tempat usaha, pencatatan harus dapat
menggambarkan secara jelas jumlah peredaran/penerimaan bruto dari masing-masing
jenis usaha / tempat usaha.

HAK DAN KEWAJIBAN FISKUS

Di samping Hak dan Kewajiban Wajib Pajak, Pemerintah yang menyelenggarakan tugas
pelayanan, pembinaan dan penerangan/penyuluhan (Fiskus) juga memiliki Hak dan
Kewajiban.

Hak-Hak Fiskus

Menerbitkan NPWP/Pengukuhan PKP secara jabatan.


Menerbitkan ketetapan pajak (SKP, STP, SPPT).
Menerbitkan Surat Paksa, dan melaksanakan penyitaan.
Melakukan pemeriksaan dan penyegelan.

halaman 3 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Melakukan penyidikan.
Menghapuskan dan mengurangkan sanksi administrasi.

Pengukuhan NPWP/PKP Secara Jabatan

Sesuai dengan self assessment system, WP/PKP harus dengan sukarela/ kesadaran
sendiri mendaftarkan diri sebagai WP/melaporkan sebagai PKP. Jika tidak, berdasarkan
data dan informasi atau ekstensifikasi, dilakukan penetapannya secara jabatan. KPP
akan memberikan NPWP dan NPPKP.

Penerbitan Ketetapan Pajak

Atas pemeriksaan yang dilakukan, KPP akan menerbitkan ketetapan pajak (berupa SKP,
STP, SPPT) sebagai dasar hukum besarnya penetapan pajak yang harus dibayar WP.

Surat Paksa dan Penyitaan

Bila hingga jatuh tempo pembayaran telah dilalui dan telah ditegor, maka atas utang
pajak tersebut KPP (melalui Jurusita) menerbitkan dan melaksanakan Surat Paksa (SP),
maupun Penyitaan (SPMP).

Pemeriksaan dan Penyegelan

Dalam menjalankan fungsi pembinaan, DJP melakukan pemeriksaan pajak terhadap WP


untuk mengetahui tingkat kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakannya atau tujuan
lain.

Dalam hal WP tidak kooperatif, tidak memberikan dokumen/berkas yang diminta


Pemeriksa, maka dilakukan penyegelan atas tempat dokumen/berkas tersebut.

Penyidikan

halaman 4 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Bila WP diduga melakukan tindak pidana perpajakan, maka akan dilakukan penyidikan
terhadap WP tersebut. Penyidikan dilakukan oleh PPNS.
Bila terbukti melakukan tindak pidana perpajakan, akan diajukan ke Pengadilan untuk
kelanjutannya.

Kewajiban Fiskus
Membina Wajib Pajak
Menerbitkan SKPLB.
Merahasiakan data Wajib Pajak.

Pembinaan Terhadap Wajib Pajak

Guna melaksanakan fungsi pembinaan sehubungan dengan penerapan self assessment


system, DJP wajib melakukan pembinaan terhadap WP seperti dalam hal:
Pelaksanaan pembukuan/pencatatan.
Penghitungan besarnya pajak.
Pelaporan kewajiban pajak.
Pembuatan Faktur Pajak.
Administrasi perpajakan.
Dlsb.

Penerbitan SKPLB

Jika dalam suatu masa pajak, atau tahun pajak ternyata menurut penghitungan WP
terjadi lebih bayar, WP dapat mengajukan permohonan pengembaliannya (restitusi).

Setelah melalui proses penelitian/pemeriksaan oleh Fiskus, bila ternyata menurut


ketentuan UU Perpajakan lebih bayar, maka Fiskus akan menerbitkan SKPLB untuk
pengembalian lebih bayar pajak.

halaman 5 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Kerahasiaan Data Wajib Pajak

Atas data WP yang ada dan disampaikan kepada Fiskus, dirahasiakan untuk
kepentingan di luar DWP.

Sanksi-sanksi Perpajakan Yang Diatur Dalam KUP

Sanksi-sanksi di bidang perpajakan sebagaimana yang diatur dalam ketentuan umum


dan tata cara perpajakan (KUP) dapat berupa :
1. Sanksi administrasi
2. Sanksi Pidana

ad1. Sanksi administrasi terdiri;


a. sanksi administrasi berupa bunga
b. sanksi administrasi berupa denda
c. sanksi administrasi berupa kenaikan

ad.1a. Sanksi administrasi berupa bunga.


Sanksi administrasi yang dikenakan berupa bunga dihitung dalam bentuk persentase
tertentu pada umumnya sebesar 2% (dua persen) sebulan. Untuk lebih jelas diberikan
contoh sebagai berikut :

(1) Dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% sebulan atas jumlah pajak yang
kurang dibayar dihitung sejak saat penyampaian SPT berakhir sampai dengan tanggal
pembayaran karena wajib pajak membetulkan sendiri SPT yang mengakibatkan utang
pajak menjadi lebih besar.

(2) Pemerintah memberikan bunga 2% (dua persen) sebulan atas kelambatan


pembayaran kelebihan pembayaran pajak kepada Wajib Pajak.

(3) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang

halaman 6 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

tidak dibayar atau kurang dibayar, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan SKPKB
ditambah sanksi administrasi berupa bunga 2% (dua persen) sebulan, paling lama dua
puluh empat bulan, dihitung saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak bagian
tahun pajak atau tahun pajak sampai diterbitkannya Surat Keputusan Pajak Kurang
Bayar.

ad.1b. Sanksi Administrasi Berupa Denda


Sanksi administrasi yang dikenakan kepada Wajib Pajak berupa denda adalah dihitung
dalam bentuk jumlah uangnya atau dalam persentase.
Untuk lebih jelasnya diberikan contoh sebagai berikut :

(1) Apabila SPT tidak disampaikan atau disampaikan melewati batas waktu yang telah
ditentukan dalam undang-undang maka di kenakan sanksi administrasi berupa denda,
untuk SPT masa sebesar Rp 25.000,- dan untuk SPT tahunan sebesar Rp 50.000,-

(2) Surat Tagihan Pajak (STP) dapat diterbitkan apabila pengusaha tidak melaporkan
kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak (PKP). Terhadap
PKP tersebut dikanakan sanksi administrasi berupa denda 2% dari Dasar Pengenaan
Pajak (DPP).

(3) Surat tagihan pajak dapat diterbitkan apabila pengusaha tidak dikukuhkan sebagai
PKP tetapi membuat faktur pajak atau tidak mengisi selengkapnya faktur pajak
dikenakan sanksi administrasi berupa benda sebesar 2% (dua persen) dari Dasar
Pengenaan Pajak.

Ad.1c. Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan


Sanksi administrasi yang dikenakan kepada Wajib Pajak berupa kenaikan adalah
terhitung dalam bentuk persentase yang besarnya 50% atau lebih. Untuk lebih jelas
diberi contoh sebagai berikut;

(1) Jumlah pajak dalam surat ketetapan pajak kurang bayar (SKPKB) sebagai mana

halaman 7 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

dimaksud pada pasal 13 ayat (1) huruf b, huruf c dan huruf d undang-undang KUP
ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar.

a. 50% dari pajak penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam satu tahun pajak.

b. 100% dari pajak penghasilan yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau kurang
dipungut, tidak atau kurang disetorkan dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau
kurang disetorkan.

c. 100% dari pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang
mewah yang tidak atau kurang dibayar.

(2) Surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan dapat diterbitkan dalam jangka waktu
sepuluh tahun, apabila ditemukan data baru dan/atau data semula belum terungkap yang
menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang, ditambah dengan sanksi
administrasi berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

ad.2 Sanksi Pidana Terdiri dari :


a. alpa
b. sengaja
c. pengulangan
d. percobaan

ad.2a. Sanksi pidana karena alpa


Barang siapa karena kealpaannya tiak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT
tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya satu tahun dan
denda setingginya dua kali jumlah pajak yang terutang yang tidak atau kurang dibayar.

ad.2b. Sanksi pidana dengan sengaja.


Barang siapa dengan sengaja :

halaman 8 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

1. Tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP), atau nomor pengukuhan pengusaha kena pajak (NPPKP),
atau
2. Tidak menyampaikan SPT; atau
3. Menyampaikan SPT dan atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap,
atau
4. Memperlihatkan pembukuan pencatatan atau dokumen lain yang palsu atau
dipalsukan seolah-olah benar, atau
5. Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak memperlihatkan dan
meminjamkan buku catatan atau dokumen lainnya; atau.
6. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut, sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara diancam dengan pidana penjara selama-
lamanya enam tahun dan dengan setinggi-tingginya empat kali jumlah pajak yang
terutang yang tidak atau kurang dibayar.

ad. 2c Sanksi Pidana Karena Melakukan Pengulangan.


Apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat
satu tahun terhitung sejak selesai menjalani pidana penjara yang dijatuhkan terhadapnya
karena dilakukan dengan sengaja, maka ancaman pidana yang dikenakan lagi
terhadapnya dilipat dua.
Hal ini dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya pengulangan tindak
pidana di bidang perpajakan.

ad. 2d Sanksi Pidana Karena Melakukan Percobaan


Barang siapa melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana penyalahgunaan
atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau Nomor
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP), atau menyampaikan SPT dan/atau
keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap dalam rangka mengajukan
permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak, dipidana dengan pidana
penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun dan denda setinggi-tingginya 4 kali jumlah

halaman 9 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi yang dilakukan oleh Wajib Pajak.
Percobaan untuk melakukan tindak pidana di bidang perpajakan tertentu sebagai delik
yang berdiri sendiri, karena tidak selesainya kejahatan tersebut bukan atas kemauan
mereka.

Daluwarsa Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, setelah lampau waktu 10 tahun sejak
saat terutangnya pajak, berakhirnya masa pajak, berakhirnya bagian tahun pajak atau
berakhirnya tahun pajak yang bersangkutan.
Sanksi Pidana di Bidang Perpajakan Bagi Aparat Negara

Pejabat yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan segala


sesuatu yang diketahui/ diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak karena jabatannya,
diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 tahun dan denda.

Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya merahasiakan segala


sesuatu yang diketahui/diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak karena jabatannya,
diancam dengan pidana selama-lamanya 2 tahun dan denda.

Tuntutan pidana bagi aparat negara terhadap pelanggaran kewajiban merahasiakan


segala sesuatu yang diketahui atau yang diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak
karena jabatannya adalah merupakan delik aduan atau dijadikan tindak pidana
pengaduan.

Sanksi Pidana di Bidang Perpajakan Bagi Pihak Ketiga

Barang siapa yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau bukti, atau memberi
keterangan atau bukti yang tidak benar termasuk yang menyuruh atau menganjurkan
atau membantu melakukannya diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 1 tahun
dan denda.

Barang siapa dengan sengaja menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana

halaman 10 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

di bidang perpajakan, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 3 tahun dan


denda.

Materi Brevet A dan B


Brevet A

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan


(KUP)

PPh Orang Pribadi & SPT OP

Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak


Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM)

PBB dan BPHTB

Brevet B

PPh Pemotongan dan Pemungutan

PPh Badan

e-SPT

Akuntansi Pajak

D efi nisi PAJAK

halaman 11 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Pengertian Pajak

1. Menurut Prof. Rochmat Soemitro, SH. (dalam bukunya : Dasar-dasar Hukum


Pajak dan Pajak Pendapatan 1944, hal. 22) menyatakan : Pajak ialah iuran
rakyat kepada Kas Negara (peralihan kekayaan dari sektor partikelir ke sektor
pemerintah) berdasarkan Undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tiada
mendapat jasa timbal (tegen prestatie) yang langsung dapat ditunjuk dan yang
digunakan untuk membiayai pengeluaran umum (public intgaven).
2. Menurut Dr. Soeparman Soemahamidjaja (dalam desertasinya yang berjudul :
Paja berdasarkan azas gotong royong) menyatakan : Pajak adalah iuran wajib,
berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-
norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektip
dalam mencapai kesejahteraan umum.
3. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro (merupakan koreksinya dari definisi
sebelumnya, dalam bukunya Pajak dan Pembangunan, hal. 8) menyatakan :
Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk
membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving
yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.
4. Menurut Prof. SI Djajadiningrat menyatakan : Pajak sebagai suatu kewajiban
menyerahkan sebagian daripada kekayaan kepada negara disebabkan suatu
keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi
bukan sebagai hukuman, menurut peraturan-peraturan yang ditetapkan
pemerintah, serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa balik dari negara secara
langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum.

Menurut Undang-undang Perpajakan :


Pajak adalah kontribusi Wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi
atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang - undang dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

halaman 12 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Ciri-ciri Pajak :
1. Pajak dipungut oleh Negara berdasarkan kekuatan undang-undang serta
aturan pelaksanaannya.
2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontra-prestasi
individual oleh pemerintah.
3. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran pembayaran pemerintah, yang bila
dari pemasukannya masih terdapat surplus dipergunakan untuk membiayai
public investment , sehingga tujuan utama dari pemungutan pajak adalah
sebagai sumber keuangan negara.
4. Pajak dipungut disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang
memberikan kedudukan tertentu pada seseorang.

FUNGSI PAJAK
1. Sebagai sumber keuangan negara (budgetair)
2. Sebagai pengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan
ekonomi dan sosial.

P ENGELOMPOKAN PAJAK :

1) Pembagian Berdasarkan Golongannya :


a) Pajak Langsung adalah pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak
yang bersangkutan dan tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
b) Pajak tak Langsung adalah suatu pajak yang pada akhirnya dapat
dilimpahkan kepada pihak lain.

2) Pembagian Berdasarkan Lembaga Pemungutnya :


a) Pajak Negara (pusat) adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat
yang penyelenggaraan pemungutannya di daerah dilakukan oleh Kantor
Pelayanan Pajak (KPP) setempat.

halaman 13 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

b) Pajak Daerah adalah pajak yang wewenang pemungutannya berada pada


pemerintah daerah.

3) Pembagian Menurut Sifatnya :


a) Pajak Subyektif yaitu pajak yang pemungutannya berpangkal pada diri
orangnya (subyeknya).
b) Pajak Obyektif adalah pajak yang pemungutannya berpangkal pada
obyektifnya.

TIMBULNYA UTANG PAJAK

Menurut Ajaran Formil : Utang pajak baru timbul kalau sudah ada Surat
Ketetapan Pajak yang dilakukan oleh fiscus
Menurut Ajaran Materiil : Utang pajak timbul karena undang-undang yang
berlaku seluas wilayah nasional

BERAKHIRNYA HUTANG PAJAK

1) Adanya pembayaran
2) Kompensasi
3) Penghapusan utang pajak
4) Lewat waktu
5) Pembebasan

SISTEM PEMUNGUTAN PAJAK

1) Official Asesment System


Yaitu suatu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan
besarnya pajak yang terutang oleh seseorang berada pada pemungut pajak
(fiscus)

halaman 14 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

2) Semi Self Assesment System


Yaitu suatu sistem pajak dimana wewenang untuk menentukan besarnya pajak
yang terhutang oleh seseorang berada pada dua pihak yaitu wajib pajak dan
fiscus.
3) Full Self Assesment System
Yaitu suatu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan
besarnya pajak yang terutang oleh seseorang berada pada orang itu sendiri.
4) With holding System
Yaitu suatu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan
besarnya pajak yang terutang oleh seseorang berada pada pihak ketiga (bukan
fiscus maupun wajib pajak).

halaman 15 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

K ETENTUAN UMUM DAN TATA CARA


PERPAJAKAN
DASAR HUKUM PERPAJAKAN
Dasar hokum perpajakan telah mengalami beberapa kali perubahan sejak
Undang-undang No. 6 tahun 1983 yang telah dirubah dengan UU No. 9 tahun
1994, dan terakhir dirubah dengan UU No. 28 Tahun 2007 dan telah dirubah
dengan Undan-undang no. 36 tahun 2008

PENGERTIAN UMUM PERPAJAKAN


Wajib Pajak (WP) adalah orang atau badan yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan di tentukan untuk melakukan
kewajiban perpajakan termasuk pemungut pajak atau pemotong
pajak tertentu.
Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang
meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan
dalam bentuk apapun, firma, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi
sosial politik atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha
tetap serta bentuk badan lainnya.
Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam
kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang,
mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha
perdagangan, memanfaatkan barang tidak berujud jasa dari luar
daerah pabean, melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa
dari luar daerah
Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan Penyerahan Barang
Kena Pajak dan atau Penyerahan Jasa Kena Pajak yang
dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang Pajak

halaman 16 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Pertambahan Nilai tahun 1984 dan perubahannya tidak termasuk


Pengusaha Kecil yang batasannya ditentukan berdasarkan
keputusan Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha kecil yang
memilih untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak
Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan takwim
atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan keputusan
Menteri Keuangan paling lama tiga bulan takwim.
Tahun Pajak adalah waktu satu tahun takwim kecuali jika wajib pajak
menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim
Pajak Terutang adalah Pajak yang harus dibayar pada suatu saat , dalam masa
pajak , dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak
menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan
pajak
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada wajib
pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang
dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib
pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajaknnya.
Surat Setoran Pajak (SSP) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk
melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke
kas negara melalui kantor pos dan atau bank badan usaha milik
negara atau bank usaha milik daerah atau tempat pembayaran
lain yang ditunjuk oleh menteri keuangan.
Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk
melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak, obyek
pajak dan atau bukan obyek pajak dan atau harta dan kewajiban,
menurut ketentuan peraturan perundan-undangan perpajakan.
Ada 2 macam SPT :
SPT Masa
SPT Tahunan

halaman 17 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Surat Ketetapan Pajak (SKP) adalah surat ketetapan yang meliputi surat ketetapan
pajak kurang bayar atau surat ketetapan pajak kurang bayar
tambahan atau surat ketetapan pajak lebih bayar atau surat
ketetapan pajak nihil
Surat Tagihan Pajak (STP) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau
sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.
Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan
mengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka
pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.

SASARAN PEMERIKSAAN :
- Interpretasi undang-undang yang tidak benar
- Kesalahan hitung
- Penggelapan secara khusus dari penghasilan
- Pemotongan dan pengurangan tidak sesungguhnya

KEWAJIBAN DAN HAK WAJIB PAJAK

A. Kewajiban Wajib Pajak


- Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP
- Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar
- Mengisi dengan benar SPT dan mengirimkan ke KPP dalam batas waktu
yang ditentukan
- Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan
- Jika diperiksa wajib :
o Memperlihatkan dan atau menunjukkan buku atau catatan
dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang
berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha
wajib pajak

halaman 18 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

o Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan


yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran
pemeriksaan
o Memberika keterangan yang diperlukan

B. Hak Wajib Pajak


- Mengajukan surat keberatan dan surat banding
- Menerima tanda bukti pemasukan SPT
- Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan
- Mengajukan permohonan penundaan pemasukan SPT
- Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran
pajak
- Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat
ketetapan pajak
- Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak ( RESTITUSI )
- Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya
- Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi serta
pembetulan SPT yang salah
- Apabila wajib pajak dipotong oleh pemberi kerja, wajib pajak berhak
meminta tanda bukti pemotongan PPh pasal 21 kepada pemotong pajak

Kelebihan Pembayaran Pajak

Wajib Pajak yang dalam 1 tahun pajak (PPh) atau PKP yang dalam 1 masa pajak (PPN),
bila pajak yang telah dibayar melebihi pajak yang seharusnya terutang dan dilaporkan
dalam SPT, berhak memperoleh pengembalian kelebihan pembayaran pajak tersebut.

Pengurangan Penghasilan Bruto

Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usaha, berhak mengurangi penghasilan bruto

halaman 19 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

yang diterima dengan biaya yang telah dikeluarkan (biaya fiskal yang diatur dalam
Pasal 6 UU PPh).

Norma Penghitungan

Untuk dapat menghitung besarnya kewajiban pajak dalam suatu tahun pajak, pada
dasarnya Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas harus membuat
Pembukuan. Untuk Wajib Pajak tertentu, dapat menyelenggarakan Pencatatan dan
penghitungan pajak dilakukan dengan Norma Penghitungan.

WEWENANG APARATUR PAJAK :


1. Menerbitkan Surat Ketetapan yang meliputi Surat Tagihan Pajak, Surat
Ketetapan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Tambahan, Surat Keputusan
Kelebihan Pembayaran dan Surat Pemberitaan.
2. Melakukan penagihan
3. Mengadakan pemeriksaan
4. Melakukan penyidikan

KEWAJIBAN APARATUR PAJAK


1. Menerbitkan NPWP
2. Menerbitkan kartu NPWP
3. Menerbitkan Surat Keputusan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
4. Menerbitkan Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak
5. Menerbitkan Surat Keputusan Angsuran / penundaan diajukan wajib pajak
6. Memberikan keputusan atas keberatan yang
7. Memberikan keputusan atas pengurangan / penghapusan bunga
8. Merahasiakan data pribadi wajib pajak

SANKSI PERPAJAKAN

halaman 20 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

- Sanksi Administrasi merupakan pembayaran kewajiban kepada negara ,


khususnya yang berupa denda, bungan dan kenaikan
- Sanksi Pidana merupakan siksaan atau penderitaan. Merupakan alat
terakhir atau benteng hukum yang digunakan fiskus agar norma
perpajakan dipatuhi. Sanksi pidana dapat berupa denda pidana, kurungan
penjara

P AJAK PENGHASILAN ( PPh )

Pengertian :Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subyek pajak
atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak.

Subyek Pajak Penghasilan :


1. Orang pribadi yang bertempat tinggal dan berpenghasilan di
Indonesia.
2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan
yang berhak.
3. Badan , adalah badan usaha berbetuk apapun yang didirikan dan
berpenghasilan di Indonesia.
4. Bentuk Usaha Tetap ( BUT ) adalah bentuk usaha yang
dipergunakan oleh orang pribadi/badan yang tidak bertempat
tinggal/didirikan di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan.

Tidak Termasuk Subyek Pajak :


1. Badan Perwakilan Negara Asing.
2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-
pejabat lain dari negara asing.
3. Orang-orang yang diperbantukan kepada mereka.

halaman 21 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

4. Organisasi-organisasi internasional dengan syarat :


a. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut
b. Tidak menjalankan usaha kegiatan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia.
5. Pejabat perwakilan organisasi internasional

Cara Menghitung Penghasilan Kena Pajak ( PKP ) :


Besarnya Penghasilan Kena Pajak ditentukan oleh penghasilan bruto dikurangi :
Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.
Penyusutan dan Amortisasi
Iuran kepada dana Pensiun
Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki
Kerugian dari selisih kurs mata uang asing
Biaya penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia
Piutang yang nyata-nyata tak tertagih

Dasar Penghitungan Penghasilan Kena Pajak ( PKP ) :

Untuk Wajib Pajak Badan


PKP = Penghasilan sebagai obyek pajak Biaya

Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi (Perorangan)


PKP = Penghasilan Biaya - PTKP

Obyek Pajak Penghasilan :


1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima.
2. Hadiah dari undian/pekerjaan/kegiatan dan penghargaan
3. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta
4. Laba Usaha

halaman 22 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya


6. Bunga
7. Deviden
8. Royalti
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan penggunaan harta
10. Penerimaan atau perolehan berkala
11. Keuntungan karena pembebasan utang
12. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing
13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva
14. Premi asuransi
15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri
dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
16. Tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum
dikenakan pajak.

Tidak Termasuk Obyek Pajak :


1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat
2. Harta hibahan
3. Warisan
4. Harta termasuk setoran tunai
5. Penggantian atau imbalan sehubungan pekerjaan atau jasa yang diterima
dalam bentuk natura.
6. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, dan beasiswa.
7. Deviden atau bagian laba dengan syarat :
a. Deviden berasal dari cadangan laba yang ditahan
b. Bagi perseroan terbatas (PT), BUMN dan BUMD yang menerima
deviden, kepemilikan saham pada badan yang memberikan deviden
paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan harus
mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut.
8. Iuran yang diterima dana pensiun

halaman 23 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

9. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun


10. Bagian laba yang diterima anggota perseroan komnaditer yuang modalnya
tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi.
11. Bunga obligasi yang diterima perusahaan reksa dana selama 5 tahun pertama
sejak pendirian perusahaanatau pemberian ijin usaha
12. Penghasilan yang diterima perusahaan modal ventura dengan syarat :
a. Perusahaan kecil, menengah yang menjalankan kegiatan dalam sektor-
sektor usaha yang ditetapkan Menteri Keuangan
b. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia

halaman 24 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

P Ph PASAL 21 dan 26

Pengertian PPh Pasal 21 dan 26


PPh pasal 21 adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, upah,
honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan ayang dilakukan Wajib Pajak Orang
Pribadi dalam Negri.
PPh pasal 26 adalah pajak yang mengatur tentang penghasilan ayang diperoleh
Wajib Pajak Luar Negri berupa deviden, bunga, sewa, royalty, imbalan

Subyek PPh Pasal 21:


1. Pegawai
2. Penerima pensiun
3. Penerima honorarium
4. Penerima upah
5. Orang pribadi lain ayang menerima penghasilan sehubungan pekerjaan.

Penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 :


1. Penghasilan yang diterima secara teratur berupa gaji, uang pensiun, premi
bulanan dll.
2. Penghasilan yang diperoleh secara tidak teratur berupa ajasa produksi, bonus
dll.
3. Upah harian, mingguan, satuan dll.
4. Uang tebusan pensiun
5. Honorarium, uang saku, hadiah dll.

Penghasilan yang tidak dipotong PPh pasal 21 :


1. Pembayaran asuransi
2. Pembayaran THT
3. Uang tebusan pensiun

halaman 25 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

4. Uang pesaangon
5. Penerimaan Natura
6. Iuran pensiun
7. Pajak yang ditanggung pemberi kerja
8. Penghasilan pegawai yang totalnya dibawah PTKP
9. Penghasilan yang tidak melebihi UMP

Penghasilan yang dipotong PPh pasal 21 Final :


1. Uang tebusan pensiun
2. Uang pesangon
3. Hadiah undian
4. Honorarium/komisi yang dibayarkan kepada penjaja barang

Biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto :


1. Biaya jabatan
2. Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepada dana
pensiun
3. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) :
Wajib pajak Rp 24.300.000,-/th
Status Kawin Rp 2.025.000,-/th
Tanggungan (maks. 3) Rp 2.025.000,-/th
Istri bekerja Rp 24.300.000,-/th
Mulai 1 Juli 2015 PTKP berubah menjadi :
Wajib pajak Rp 36.000.000,-/th
Status Kawin Rp 3.000.000,-/th
Tanggungan (maks. 3) Rp 3.000.000,-/th
Istri bekerja Rp 36.000.000,-/th

Tarip PPh Orang Pribadi dalam Negri :

Lapisan PKP Tarip PPh

halaman 26 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

> Rp 0 Rp 50.000.000,- 5%
> Rp50.000.000,- Rp 250.000.000,- 15%
> Rp250.000.000,- Rp 500.000.000,- 25%
Diatas Rp 500.000.000,- 30%

Cara menghitung PPh Pasal 21 :


1. Menghitung Penghasilan Bruto
Gaji
Tunjangan-tunjangan
Uang pengganti natura
2. Menghitung penghasilan bersih
Potongan yang diperkenankan dalam perhitungan PPh Pasal 21 :
Biaya jabatan : 5% X Penghasilan Bruto
Atau maksimal 6.000.000,- setahun atau Rp 500.000,- sebulan
Termasuk apabila ada Biaya jabatan atas penghasilan Bonus atau THR dll
Iuran dana pensiun : 5% X Penghasilan Bruto
Atau maksimal Rp 432.000,00 setahun atau Rp 36.000,00 sebulan
3. Menghitung PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)
4. Menghitung PKP
PKP = Penghasilan Bruto Potongan PTKP
5. Menghitung PPh terutang dengan tarif yang telah ditentukan (Tarif PPh
Perorangan)

KARYAWAN TETAP MENDAPAT BONUS


Langkah-langkah untuk menghitung besarnya PPh. Atas Bonus, atau pemberian-
pemberian lain yang sifatnya tidak tetap dan biasanya diberikan setahun sekali :

halaman 27 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

a) Menghitung penghasilan Netto setahun secara keseluruhan, yaitu penghasilan


teratur dan bonus yang diterima.
b) Menghitung Penghasilan Kena Pajak dan PPh. Terutang atas penghasilan
teratur dan bonus yang diterima saat itu.
c) Menghitung PPh atas penghasilan teratur
d) Menghitung PPh. Atas bonus, yaitu selisih antara PPh. Secara total dengan
PPh. Penghasilan teratur.

PPH ATAS UANG PESANGON


Penerima pesangon, tebusan pensiun, Tunjangan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua
yang dibayarkan sekaligus dikenakan tarif PPh final sebagai berikut:

Jumlah Penghasilan Bruto Tarip PPh


> Rp 25 juta sd. Rp 50 juta 5%
> Rp 50 juta sd. 100 juta 10 %
> Rp 100 juta sd. 200 juta 15 %
> Rp 200 juta 25 %
Dikecualikan dari pemotongan Pajak bila Penghasilan Bruto maksimal
sampai dengan Rp 25.000.000,-

PPH PASAL 26

Adalah Pajak penghasilan yang dikenakan bagi WNA yang menerima penghasilan
di Indonesia, meskipun tidak bertempat tinggal di Indonesia.

TARIP PPh PASAL 26


20 % X Penghasilan Bruto
Penghasilan yang dipotong PPh pasal 26 yang tidak bersifat final :
1. Pemotongan atas penghasilan kantor pusat dari usaha/kegiatan penjualan
barang, atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan
atau dilakukan oleh BUT di Indonesia.
2. Pemotongan atas penghasilan yang diterima/diperoleh orang pribadi/badan
luar negri yang berubah status menjadi Wajib Pajak Dalam Negri.

halaman 28 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

K REDIT PAJAK

PAJAK PENGHASILAN PASAL 22

Pajak Penghasilan pasal 22 adalah merupakan Kredit Pajak, dimana pada satu
tahun kemudian bisa diperhitungkan untuk mengurangi kewajiban membayar
pajaknya.
Badan-badan yang ditunjuk untuk melakukan pemungutan PPh. Pasal 22 adalah :
1. Direktorat Jendral Bea dan Cukai
2. Direktorat Anggaran
3. Bendaharawan rutin dan bendaharawan proyek, baik di tingkat
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
4. Badan-badan lain yang melakukan pembayaran barang dan jasa dari
belanja negara dan belanja daerah.

PPH Pasal 22 Bea Cukai


Yang dimaksud dengan PPh Pasal 22 Bea dan Cukai adalah importir yaitu para
pengusaha yang dalam usahanya memasukkan barang-barang dari luar negeri ke
dalam wilayah pabean Indonesia. Importir tersebut wajib membayar PPh. Pasal
22 , sedangkan yang memungutnya adalah Direktorat Jendral Bea dan Cukai.

Istilah-istilah :
API : Angka Pengenal Impor
CIF : Cost Insurance and freight

Tarip yang dikenakan : 2,5% X Nilai Impor


Sedangkan kalau importir tersebut tidak memiliki API/S/T maka Tarip yang
dikenakan menjadi :
7,5% X Nilai Impor

PPH PASAL 22 BENDAHARAWAN


PPh pasal 22 Bendaharawan ini obyeknya berupa penyerahan barang dan jasa
yang dibiayai dari APBN/D. Pemungutnya adalah Direktorat Anggaran,
Bendaharawan rutin dan Proyek, baik di tingkat Pusat maupun Daerah.

Tarif pemungutannya adalah : 1,5% X Nilai Barang/Jasa.

halaman 29 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Tarip tersebut dikenakan apabila Nilai Barang/Jasa belum terkena PPN maupun
PPn BM. Tetapi jika Nilai barang sudah termasuk PPN atau PPn BM, maka harus
dikeluarkan terlebih dahulu.

PPH PASAL 23

PPh pasal 23 merupakan pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan


berupa deviden, bunga, royalty, hadiah atau penghargaan, sewa dan penghasilan
lain sehubungan dengan penggunaan harta dan imbalan dari penyerahan jasa
ayang dilakukan di Indonesia.

TARIF
Besarnya tarif PPh pasal 23 untuk Deviden, bunga, royalty, hadiah dan
penghargaan, dan bunga simpanan yang dibayar koperasi aadalah sebesar
15% X Penghasilan Bruto
Besarnya tarif PPh pasal 23 untuk Sewa dan imbalan jasa adalah 2 % X
Penghasilan bruto

PPH PASAL 24

PPh pasal 24 merupakan pajak yang terutang atau dibayar di Luar Negri atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Luar Negri. PPh pasal 24 yang
dibayar di Luar Negri ini dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang
terutang atas seluruh penghasilaan wajib pajak dalam negri.

Besarnya kredit Pajak Luar Negri adalah sebesar

Penghasilan LN
X Pajak Terutang
Penghasilan Kena Pajak

Atau setinggi-tingginya sama dengan pajak yang terutang atas seluruh


penghasilan kena pajak di Luar Negri.

halaman 30 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

PENGHITUNGAN PPh PASAL 25

PPh pasal 25 adalah Kredit pajak yang dibayar (diangsur) wajib pajak setiap
bulannya. Besarnya PPh pasal 25 yang harus dibayar tergantung pada besarnya
pajak yang terutang periode (tahun) sebelumnya.

halaman 31 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

M ENGHITUNG PPh UNTUK BADAN

Dalam menghitung PPh Badan harus diperhatikan hal-hal yang menyebabkan


adanya perbedaan antara Laporan Keuangan (Neraca dan Rugi Laba) yang
dibuat Perusahaan (disebut Laporan Keuangan Bisnis) dengan Laporan
Keuangan Fiskal, yaitu Laporan keuangan yang digunakan untuk melaporkan
pajak berdasarkan pada ketentuan perpajakan.
Laporan Keuangan yang dibuat Perusahaan biasanya untuk kepentingan
perusahaan itu sendiri, hal ini disebut sebagai Laporan Keuangan Bisnis.
Sedangkan Laporan Keuangan yang dipakai sebagai dasar perhitungan PPh.
adalah Laporan Keuangan Fiskal.
Oleh karena itu harus dilakukan penyesuaian terlebih dahulu sebelum
menghitung PPh Badan disebut Rekonsiliasi Fiskal

Adapun hal-hal yang menyebabkan perbedaan bisa dibagi menjadi dua (2) hal,
yaitu :
1. Yang menambah dalam Laporan Keuangan Fiskal ( biaya yang tidak
diakui dalam pajak )
Biaya untuk kepentingan pemegang saham
Pemupukan dana cadangan
Pemberian natura kepada karyawan
Pemberian yang melebihi kewajaran kepada pemegang saham
sehubungan dengan pekerjaannya
Bantuan atau sumbangan (mulai th 2009 diperkenankan)
Pajak penghasilan yang telah dibayarkan
Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan yang modalnya
tidak terbagi atas saham
Sanksi administrasi
Selisih Penyusutan atau Amortisasi
Biaya yang ditangguhkan pengakuannya

halaman 32 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

2. Yang mengurangi
Selisih Penyusutan atau Amortisasi
Pendapatan yang ditangguhkan pengakuannya
Pendapatan yang sudah dikenai PPh.

Setelah dilakukan penyesuaian maka bisa dihitung PPh. Badan tersebut dengan
menggunakan perhitungan Tarip Badan.

Beda Tetap (Permanen) Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan


Menurut Fiskal

Jenis Perbedaan Menurut SAK Menurut Fiskal


1. Penghasilan Bunga Merupakan penghasilan di Sudah dipotong PPh yang
Bank luar usaha bersifat final
2. Penghasilan Deviden Merupakan penghasilan di Masuk dalam
luar usaha pengecualian objek pajak
3. Biaya Sumbangan/ Merupakan biaya Tidak mengurangi
hadiah penghasilan
4. Keuntungan dari Merupakan penghasilan di Tidak menambah
penyertaan saham di luar usaha penghasilan
bursa efek
5. Penghasilan dari Merupakan penghasilan di Tidak menambah
sumbangan/ hibah luar usaha penghasilan
6. Biaya sumbangan/ Merupakan biaya di luar Tidak mengurangi
bantuan usaha penghasilan
7. Tunjangan pegawai Merupakan penghasilan Tidak mengurangi
dalam bentuk (bagi pegawai) dan biaya penghasilan
natura bagi (pemberi kerja)
Dapat dimasukkan sebagai Sebagai deductible
8. Biaya Entertainment biaya expense jika ada daftar
nominatifnya dan sebagai
non deductible expense
jika tidak ada daftar
Merupakan pengurang nominatifnya
9. Biaya denda dan penghasilan Non deductible expense
bunga pajak Dapat diperhitungkan
10. Hibah/warisan sebagai biaya/penghasilan Non deductible expense

halaman 33 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

diluar usaha

PENYUSUTAN
Penyusutan adalah berkurangnya nilai suatu aktiva dikarenakan untuk keperluan
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 tahun.

KELOMPOK AKTIVA BERUJUD DAN TARIF PENYUSUTANNYA


Kelompok Harta Masa manfaat Tarif dg metode Tarif dg metode
berujud Garis Lurus Saldo Menurun
Bukan Bangunan :
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 tahun 5% 10%
Bangunan :
Permanen 20 tahun 5%
Tidak 10 tahun 10%
permanen

JENIS-JENIS AKTIVA BERUJUD DALAM KELOMPOK I


1. Mebel dan peralatan kayu/rotan tms meja,bangku, kursi, almari
2. Mesin kantor
3. Perlengkapan RT
4. Sepeda Motor
5. Alat perlengkapan khusus bagi industri
6. Alat Dapur

JENIS-JENIS AKTIVA BERUJUD DALAM KELOMPOK II


1. Mebel dan peralatan dari logam termasuk meja, bangku dll., kipas angin, AC
dsb.
2. Komputer, printer, scanner dsb.

halaman 34 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

3. Mobil, bus, truk, speed boat, dsb.


4. Container dsb.

JENIS-JENIS AKTIVA BERUJUD DALAM KELOMPOK III


Mesin-mesin untuk eksploitasi pertambangan, pemintalan, pengolah kayu,
penggergajian kayu, pengolah produk kimia, mesin penghasil mesin, perangkat
radio navigasi, radar, kapal penumpang, barang, tangki, perahu layar pakai atau
tanpa motor dengan berat > 250 DWT, pesawat terbang dan helikopter.

JENIS-JENIS AKTIVA BERUJUD DALAM KELOMPOK IV


Mesin-mesin berat untuk konstruksi, lokomotif uap, kereta gerbong penumpang
dan barang termasuk kontainer khusus, kapal penumpang, barang atau yang
lainnya dengan berat > 1.000 DWT.

AMORTISASI
Amortisasi adalah penyusutan yang dilakukan terhadap aktiva tetap tidak
berujud. Misalnya : Hak paten, royalti, trade mark dll.

TARIP PPh BADAN :

Tarip PPh badan yang berlaku sampai tahun 2008 adalah :


Penghasilan Kena Pajak (PKP) sd. Rp 50 jt. Tarip PPh : 10%
PKP diatas Rp 50 juta sd. Rp 100 juta Tarip PPh : 15%
PKP > Rp 100 juta Tarip PPh : 30%
Mulai tahun 2009 Tarip PPh badan adalah sebesar 28%
Sedangkan mulai tahun 2010 Tarip PPh badan adalah sebesar 25%

halaman 35 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

PPN dan PPn BM


(PAJAK PERTAMBAHAN NILAI dan PAJAK PENJUALAN BARANG
MEWAH)

PPN dan PPn BM adalah dua macam pajak yang merupakan satu kesatuan
sebagai pajak yang dipungut atas konsumsi dalam negeri.

Istilah-istilah yang ada :


1. Barang Kena Pajak ( BKP )
Adalah barang berujud yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa
barang bergerak maupun barang tidak bergerak sebagai hasil proses
pengolahan (pabrikasi) yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN
2. Jasa Kena Pajak ( JKP )
Adalah semua kegiatan usaha dan pemberian pelayanan berdasarkan suatu
perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang, fasilitas,
atau hak tersedia untuk dipakai, yang dikenakan PPN.
3. Penyerahan Jasa Kena Pajak
Adalah kegiatan melaksanakan pemberian Jasa Kena Pajak yang dilakukan
dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya termasuk Jasa Kena Pajak
yang dilakukan untuk kepentingan sendiri.
4. Pengusaha Kena Pajak ( PKP )
Adalah orang atau badan dalam bentuk apapun yang dalam lingkungan
pekerjaan atau perusahaannya menghasilkan barang, mengimpor barang,
mengekspor barang , melakukan usaha perdagangan atau melakukan usaha
jasa yang dikenakan PPN.
5. Menghasilkan
Adalah kegiatan mengolah melalui proses mengubah bentuk atau sifat suatu
barang dari bentuk aslinya menjadi barang baru atau mempunyai daya guna
baru.
6. Harga Jual

halaman 36 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

Adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang seharusnya diminta oleh
penjual.
7. Penggantian
Adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta oleh pemberi
jasa.
8. Nilai Impor
Adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk
ditambah pungutan lainnya berdasarkan ketentuan kepabeanan.
9. Faktur Pajak
Adalah bukti pemungutan pajak yang dibuat oleh PKP.
10. Pajak Masukan
Adalah PPN yang dibayar oleh PKP pada waktu pembelian Barang Kena
Pajak
11. Pajak Keluaran
Adalah PPN yang dipungut oleh PKP pada waktu penjualan barang kena
pajak.
12. Masa Pajak
Adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan takwim.

Obyek Pajak
a. Penyerahan BKP di dalam daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha
b. Impor BKP
c. Penyerahan JKP yang dilakukan di dalam daerah Pabean oleh Pengusaha

Tarif
Tarif PPN adalah sebesar 10%, berdasarkan pertimbangan perkembangan
ekonomi dan atas peningkatan dana untuk pembangunan, dengan peraturan
pemerintah tairf PPN dapat diubah serendah-rendahnya 5% dan setinggi-
tingginya 15%.
Sedangkan tarif PPn BM serendah-rendahnya 10% dan setinggi-tingginya 75%.

halaman 37 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

halaman 38 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

PENGERTIAN :
Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya.
Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk hewan-
hewan tumbuhan perairan) serta laut wilayah Republik Indonesia.
Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap
apada tanah dan atau perairan untuk tempat tinggal, tempat usaha dan tempat
yang diusahakan.
Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) adalah harga rata-rata ayang diperoleh dari
transaksi jual beli. NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan
obyek lain ayang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai jual obyek pajak
pengganti.
Surat Pemberitahuan Obyek Pajak (SPOP) adalah surat yang digunakan oleh
wajib pajak untuk melaporkan data obyek menurut ketentuan UU Pajak Bumi
dan Bangunan.
Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) adalah surat yang digunakan
oleh Dirjen Pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terutang kepada
wajib pajak.

OBYEK PAJAK
Yang menjadi obyek Pajak adalah Bumi dan atau Bangunan

PENGECUALIAN OBYEK PAJAK :


1. Apabila digunakan semata-mata untuk kepentingan umum dan tidak untuk
mencari keuntungan.
2. Digunakan untuk makam, peninggalan purbakala, atau yang sejenis
3. Hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman nasional dan tanah
negaraaaaaa aaayang belum dibebani suatu hak.
4. Digunakan oleh perwakilan diplomatik , konsulat dan organisasi internasional.

halaman 39 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

CARA MENGHITUNG PAJAK :

TARIF PAJAK X NJKP


0,5% X 20% (NJOP NJOPTKP)

Keterangan :
Tarif Pajak = 0,5%
NJKP = Nilai Jual Kena Pajak ditentukan serendah-rendahnya 20% dan setinggi-
tingginya 100% dari Nilai Jual Obyek Pajak
NJOPTKP = Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak yang berlaku adalah
sebesar Rp 8.000.000,- (Delapaan juta rupiah).

halaman 40 Handry Yulianto, SE


Modul Brevet Pajak

BEA METERAI

PENGERTIAN
Dokumena adalah kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan
maksud tentang perbuatan , keadaan atau kenyataan bagi seseorang dan atau
pihak-pihak yang berkepentingan.
Bea Meterai adalah meterai tempel adan kertas meterai ayang dikeluarkan
oleh pemerintah Republik Indonesia
Tanda Tangan adalah tanda tangan sebagaimana lazimnya dipergunakan,
termasuk pula paraf atau cap paraf sebagai pengganti tanda tangan.

PEMAKAIAN METERAI
Materai dengan tarif Rp 6.000,-
Surat perjanjian aaaaaadan surat lainnyaa yang dibuat dengan tujuan untuk
digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan
Akta-akta notaris termasuk salinannya
Akata yang dibuat pejabat PPAT ternmasuk salinannya
Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp 1.000.000,-
Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum
dalam surat kolektif yang mempunyai nilai nominal lebih dari Rp 1.000.000,-

Materai dengan tarif Rp 3.000,-


Surat yang memuat jumlah nominal lebih besar dari Rp 250.000,- sampai Rp
1.000.000,-

halaman 41 Handry Yulianto, SE