Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara

berkembang lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam

usia 28 hari pertama kehidupan per 1000 kelahiran hidup. Angka ini merupakan salah

satu indikator derajat kesehatan bangsa. Tingginya angka kematian bayi ini dapat

menjadi petunjuk bahwa pelayanan maternal dan neonatal kurang baik, untuk itu

dibutuhkan upaya untuk menurunkan angka kematian bayi. 1


ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan alamiah yang ideal untuk bayi, terutama

pada bulan-bulan pertama. Karena mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan untuk

membangun dan menyediakan energi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi secara
2
optimal. Keuntungan yang diperoleh bila menggunakan ASI sangat banyak.

Diantaranya ialah ASI tidak perlu dibeli, bergizi tinggi, selalu tersedia setiap saat dan

selalu siap pakai. Suhunya ideal, selalu segar dan bebas pencemaran kuman sehingga

mengurangi kemungkinan ganggua infeksi saluran pencernaan. 3


Tanaman Katuk mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sehingga

dikatakan bersifat multi-manfaat diantaranya yaitu sebagai sumber gizi dan sebagai

tanaman obat seperti yang telah diketahui masyarakat adalah untuk melancarkan ASI. 4
Penelitian ini merupakan studi pendahuluan untuk menilai Tingkat Pengetahuan Ibu

Menyusui Pada Manfaat Daun Katuk (Sauropus Androgynus) Terhadap Produksi ASI di

Kelurahan Cawang.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu:

Bagaimana Tingkat Pengetahuan Ibu Menyusui Pada Manfaat Daun Katuk (Sauropus

Androgynus) Terhadap Produksi ASI di Kelurahan Cawang?.


1.3. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk Mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Menyusui Pada Manfaat Daun Katuk

(Sauropus Androgynus) Terhadap Produksi ASI di Kelurahan Cawang.

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu menyusui pada manfaat daun katuk

(sauropus androgynus)terhadap produksi asi di Kelurahan Cawang pada tingkat baik.


Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu menyusui pada manfaat daun katuk

(sauropus androgynus) terhadap produksi asi di Kelurahan Cawang pada tingkat

cukup b
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu menyusui pada manfaat daun katuk

(sauropus androgynus) terhadap produksi asi di Kelurahan Cawang pada tingkat

kurang baik.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Ilmu Pengetahuan
Diharapakan dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk

pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya.


1.4.2 Bagi Penulis
Dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dibangku kuliah dan

pengalaman nyata dalam melaksanakan penelitian

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan


Diharapkan dapat menjadi tambahan sumber bacaan di perpustakaan

khususnya tentang tumbuhan herbal untuk ibu menyusui


1.4.4 Bagi Masyarakat
Melalui penelitian ini diharapkan masyarakat khususnya ibu menyusui

mendapatkan pengetahuan tentang manfaat daun katuk terhadap

produksi asi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan

terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,


pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian pengetahuan manusia

diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012).


b. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif menurut

Notoatmodjo (2012) mempunyai 6 tingkatan, yaitu:


1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh

sebab itu, tahu ini adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah.

Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang

dipelajari antara lain dapat menyebutkan, menguraikan,

mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.


2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (Applicattion)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau

kondisi real(sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai

aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip

dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.


4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu objek ke dalam komponen komponen, tetapi

masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya


satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan,

memisahkan, mengelompokkan dan sebainya.


5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian bagian di dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi

formulasi yang ada.


6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian

penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan

sendiri, atau menggunakan kriteria kriteria yang telah ada.


c. Faktor - faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), ada dua faktor yang mempengaruhi

pengetahuan seseorang yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal

meliputi status kesehatan, intelegensi, perhatian, minat dan bakat. Sedangkan

faktor eksternal meliputi keluarga, masyarakat dan metode pembelajaran.


Beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang menurut

Wawan dan Dewi (2010) antara lain:

1. Faktor internal

a. Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang terhadap

perkembangan orang lain menuju ke arah cita cita tertentu yang

menentukan manusia untuk berbuat untuk mencapai keselamatan dan

kebahagian. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi yang


akhirnya dapat mempengaruhi seseorang. Pada umumnya makin tinggi

pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi

b. Pekerjaan
Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk

menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga

c. Umur
Semakin cukup umur individu, tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja

d. Informasi
Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan

mempunyai pengetahuan yang lebih luas

2. Faktor Eksternal

a. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia dan

pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku

orang atau kelompok

b. Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi

dari sikap dalam menerima informasi

d.Cara Memperoleh Pengetahuan


Pengetahuan seseorang biasanya iperoleh dari pengalaman yang

berasal dari berbagai macam sumber, misalnya: media masa, media

elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat

dekat dan sebagainya.


Menurut Notoatmodjo (2012) dari berbagai macam cara yang

telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang

sejarah dapat dikelompokkan menjadi dua yakni:


Cara Tradisional atau non ilmiah
Cara Tradisional terdiri dari empat cara yaitu:

1) Trial and Error


Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin

sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu bila seseorang menghadapi

persoalan atau masalah, upaya yang dilakukan hanya dengan mencoba

coba saja. Cara coba coba ini dilakukan dengan menggunakan

kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan

tersebut tidak berhasil maka di coba kemungkinan yang lain sampai berhasil.

Oleh karena itu cara ini disebut dengan metode Trial(coba) dan Error(gagal

atau salah atau metode coba salah adalah coba coba).

2) Kekuasaan atau otoritas


Dalam kehidupan manusia sehari hari, banyak sekali kebiasaan dan tradisi

yang dilakukan oleh orang, penalaran dan tradisi tradisi yang dilakukan itu

baik atau tidak. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat

tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Kebiasaan

kebiasaan ini seolah olah diterima dari sumbernya berbagai kebenaran

yang mutlak. Sumber pengetahuan ini dapat berupa pemimpin-pemimpin

masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang

pemerintahan dan sebagainya

3) Berdasarkan pengalaman pribadi


Adapun pepatah mengatakan Pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah ini

mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber

pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh

kebenaran pengetahuan
4) Jalan Pikiran
Selain perkembangan kebudayaan umat manusia cara berpikir umat manusia

pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan

penalarannya dalam memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, dalam

memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menjalankan jalan

pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. Induksi dan deduksi pada

dasarnya adalah cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui

pertanyaan pertanyaan yang dikemukakan

Cara Modern atau ilmiah

Cara baru memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis

dan ilmiah yang disebut metode ilmiah. Kemudian metode berfikir induktif

bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan

observasi langsung, membuat catatan terhadap semua fakta sehubungan

dengan objek yang diamati (Notoatmodjo, 2012)

2.2 Ibu Menyusui


a. Pengertian Ibu Menyusui
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan susu kepada bayi atau anak kecil

dengan Air Susu Ibu (ASI) dari payudaranya. Bayi menggunakan refleks menghisap

untuk mendapatkan dan menelan susu. Keberhasilan menyusui tidak diperlukan dari

pemakaian alat-alat khusus dan biaya yang mahal yang diperlukan hanyalah kesabaran,

waktu, sedikit pengetahuan tentang menyusui dan dukungan dari lingkungan terutama

suami (Rachmawati dan Kuntari, 2007)

b.Manfaat Menyusui
Menurut Prasetyono (2011) Menyusui bayi dapat memberikan keuntungan bagi

bayi, ibu, keluarga, masyarakat dan negara. Sebagai makanan bayi yang paling
sempurna, ASI mudah dicerna dan diserap karena mengandung enzim pencernaan. ASI

juga dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi lantaran mengandung zat penangkal

penyakit, yaitu immunoglobulin. ASI bersifat praktis, mudah diberikan kepada bayi,

murah serta bersih. ASI mengandung rangkaian asam lemak tak jenuh yang sangat

penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. ASI selalu berada dalam suhu yang

tepat, tidak menyebabkan alergi, dapat mencegah kerusakan gigi, mengoptimalkan

perkembangan bayi, serta meningkatkan jalinan psikologis antara ibu dan bayi.
Keuntungan bagi ibu, yaitu mencegah pendarahan setelah persalinan,

mempercepat mengecilnya rahim, menunda masa subur, mengurangi anemia, mencegah

kanker ovarium dan kanker payudara, serta sebagai metode keluarga berencana

sementara. Dari tinjauan psikologis, kegiatan menyusui akan membantu ibu dan bayi

untuk membentuk tali kasih. Kontak batin akan terjalin antara ibu dan bayi setelah

persalinan saat ibu menyusui bayinya untuk pertama kali.

C.Keberhasilan Menyusui
Faktor-Faktor yang mempengaruhi keberhasilan menyusui menurut IDAI (2013),

antara lain adalah sebagai berikut:


1) Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan tentang penerapan 10

langkah menuju keberhasilan menyusui dan melarang promosi PASI


2) Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan untuk staf sendiri atau lainnya
3) Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat ASI dan langkah keberhasilan

menyusui.
4) Melakukan kontak dan menyusui dini bayi baru lahir (1/2 1 jam setelah lahir)
5) Membantu ibu melakukan teknik menyusui yang benar (posisi peletakan tubuh

bayi dan pelekatkan mulut bayi pada payudara)


6) Hanya memberikan ASI saja tanpa minum pralaktal sejak bayi lahir
7) Melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi
8) Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi
9) Tidak memberikan dot/kempeng
10) Menindaklanjuti ibu-bayi setelah pulang dari sarana pelayanan kesehatan
3.Daun Katuk
a. Tumbuhan Katuk, Sauropus Androgynus

Klasifikasi
Divisio : Spermathopyta
Subdivisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Subclassis : Apetalae
Ordo : Euphorbiales
Familia : Euporbiaceae
Genus : Sauropusw
Species : Sauropus androgynus
Tanaman ini dikenal dengan nama daerah : katuk, katuk-katukan, katuk

manuk, babing (Jawa), memata (Sumatra), cekop manis (Melayu), simani

(Minangkabau), kurakur (Madura), katoek (Sunda).


Daerah Tumbuh
Tanaman ini tumbuh pada daerah ketinggian 5 sampai 2.100 m

dari permukaan air laut. Sering dijumpai di pinggir jalan, di pagar pagar

rumah, di hutan jati dan sebagai tanaman budidaya.


Morfologi Tanaman
Daun, bulat panjang sampai hampir bulat kadang kadang hampir

menyerupai belah ketupat. Kebanyakan dasar daun membulat atau bulat

sekali, adapula yang hampir meruncing.


Berwarna hijau tua pada bagian atas dan hijau muda pada bagian bawah.
Panjang : 2,25 7,50 cm
Lebar : 1,25 3,00 cm
Tangkai daun : 2- 4 mm
Bunga betina ( ) lekuk pada calyx memanjang dari ujung ke

ujung, bulat lonjong, bulat telur terbalik, membulat, bulat, dengan

permukaan bergerigi tumpul dan berwarna merah tua atau kuning dengan

noda noda merah tua. Diameter bunga antara 3 sampai 5,5 mm, dengan
tinggi lebih dari 0,75 mm dan lebar lebih dari 1,75 mm, tangkai putik

berwarna merah.
Bunga Jantan () Calyx berombak sepanjang tepinya dengan

enam lekukan (lobus).


Manfaat (Kegunaan) 8
Tanaman Katuk mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan sehari

hari sehingga dikatakan bersifat multi manfaat. Beberapa manfaat

tanaman katuk adalah sebagai berikut:


1. Sebagai Sumber Gizi
Produk utama tanaman katuk berupa daun yang masih muda (pucuk).

Pucuk katuk sangat potensial sebagai sumber gizi karena memiliki

kandungan gizi yang setara dengan daun singkong, daun pepaya dan

sayuran lainnya. Adapun kandungan gizi daun katuk ditunjukan di

tabel berikut

Jenis Zat Gizi Daun Katuk Daun Daun Pepaya

Singkong
Kalori 59,00 73,00 79,00
Protein 4,80 6,80 8,00
Lemak 1,00 1,20 2,00
Karbohidrat 11,00 13,00 11,90
Kalsium 204,00 165,00 353,00
Fosfor 83,00 54,00 63,00
Zat Besi 2,70 2,00 0,80
Vitamin A 10.370,00 11.000,00 18.250,00
Vitamin B-1 0,10 0,12 0,15
Vitamin C 239,00 275,00 140,00
Air 81,00 77,20 75,40

Daun Katuk kaya akan vitamin A. Kebutuhan vitamin A setiap orang

dipengaruhi oleh pertumbuhan, berat badan dan umur. Meskipun


demikian WHO dan FAO menganjurkan konsumsi vitamin A sebesar 12

mikrogram/berat badan untuk setiap orang dewasa. Menurut Daftar

Komposisi Bahan Makanan (DKBM) Direktorat Gizi, satu mikrogram

karoten (provitamin A) adalah sama dengan satu Satuan Internasional (SI)

aktivitas vitamin A. Di kalangan masyarakat masih banyak ditemukan

masalah gizi, termasuk masalah kekurangan vitamin A. Dalam jangka

pendek, kekurangan vitamin A dapat diatasi dengan pemberian paket

kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 SI). Namun, penanggulangan

jangka panjang memerlukan penyuluhan secara intensif dan meluas

tentang pemanfaatan pekarangan sebagai sumber vitamin A (dengan

sayuran hijau, antara lain tanaman katuk).


2. Sebagai Tanaman Obat
Hasil penelitian Kelompok Kerja Nasional Tumbuhan Obat

Indonesia menunjukan bahwa tanaman katuk mengandung beberapa

senyawa kimia antara lain, alkaloid papaverin, protein, lemak,

vitamin, mineral, saponin, flavonoid dan tanin. Beberapa senyawa

kimia yang terdapat dalam tanaman katuk diketahui berkhasiat obat.

Salah satu khasiat tanaman katuk yang telah diketahui masyarakat

adalah untuk melancarkan Air Susu Ibu (ASI). Cara sederhana untuk

melancarkan ASI adalah dengan mengonsumsi daun katuk sebagai

lalap atau sayuran. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menyiapkan

300 g daun katuk segar, kemudian direbus dengan 1 gelas air


selama 15 menit. Setelah dingin, air rebusan segera disaring dan

diminum.
Dalam perkembangan selanjutnya, dibuat ekstrak daun katuk

dalam bentuk pil bulat sebesar kelereng kecil sebagai obat untuk

melancarkan ASI. Hasil penelitian Subagus dan Walyono dari jurusan

Biologi Farmasi. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada,

menunjukan bahwa daun katuk dapat melancarkan ASI karena

mengandung beberapa senyawa asam seskuiterna.


Puslibang Biologi LIPI dan Fakultas Farmasi Universitas Gajah

Mada melakukan analisis dengan metode Gas Krematografi dan

Spektrometri menemukan tiga senyawa utama dalam daun katuk,

yaitu cis-2 metil siklopentanol asetat.


Menurut Sihotang (2010) daun katuk mengandung zat aktif yaitu

Sauropi Folium dalam daun katuk dapat meningkatkan aliran nutrien

ke dalam kelenjar mammae dan mempengaruhi aktivitas sel

sekretorik. Daun katuk kaya asam amino yang dapat merangsang

produksi susu.16
Arindhini (2012), melaporkan bahwa Sauropi Folium daun katuk

dapat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh hal ini terdapat pada tabel

1. Ketujuh senyawa tersebut bila bekerja bersama-sama maka akan

berkhasiat sebagai pemacu produksi ASI.17


Tabel 1. Tujuh senyawa aktif tanaman katuk dan pengaruhnya

terhadap fungsi fisiologis dan jaringan

N Senyawa Aktif Pengaruhnya Pada Fungsi Fisiologi


o
1. Octadenoic acid
2. 9-Eicosine
3. 5, 8, 11 Heptadecatrienoic acid Sebagai prekursor dan terlibat dalam

methyl ester biosintesis senyawa Eicosanoids


4. 9, 12, 15 Octadecatrienoic acid ethyl Prostaglandin, liposins, thrombosan,

ester prostaciclin, leukotrienes


5. 11, 14, 17 Eicosatrienoic acid methyl Sebagai prekursor atau intermediate-step

ester dalam sintesis senyawa hormon


6. Androstan- 17 one, 3-ethyl-3- Ptogesteron, estradiol, testosteron dan

hydroxy- 5 alpha glucocorticoid


senyawa 1-6 secara bersamaan Memodulasi hormon hormon laktasi

dan laktogenesis serta aktivitas fisiologi

yang lain
7. 3, 4-Dimethyl-2 oxocyclopent- 3- Sebagai eksogenus asam asetat dari

enylacetatic acid saluran pencernaan dan terlibat dalam

metabolisme selular melalui siklus Krebs

Pidada dan Rai (2007) menambahkan bahwa daun katuk juga telah

diketahui mengandung steroid. Steroid dan Vitamin A berperan merangsang

proliferasi epitel alveolus sehingga akan terbentuk alveolus yang baru, dengan

demikian terjadi peningkatan jumlah alveolus dalam kelenjar ambing.18

A. Kerangka Teori

PENGETAHUAN

SIKAP
IBU MENYUSUI DAUN KATUK
PERILAKU
FAKTOR FAKTOR MENGENAI DAUN
YANG KATUK:
MEMPENGARUHI 1. KLASIFIKASI
PENGETAHUAN, 2. DAERAH TUMBUH
SIKAP DAN 3. MORFOLOGI
PERILAKU TANAMAN
4. MANFAAT

B. Kerangka Konsep Penelitian

KARAKTERISTIK
PENGETAHUAN
IBU MENYUSUI
PADA MANFAAT SIKAP
DAUN KATUK
TERHADAP
PRODUKSI ASI BAB III PERILAKU
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif kuantitatif, yang bertujuan

untuk menggambarkan dan mengungkapkan suatu masalah, keadaan, peristiwa

sebagaimana adanya atau mengungkap fakta secara lebih mendalam. Penelitian

deskriptif ini adalah penelitian yang berusaha menggambarkan kegiatan penelitian atau

dapat disebut juga penelitian pra eksperimen, karena dalam penelitian ini dilakukan

eksplorasi, menggambarkan dengan tujuan untuk dapat menerangkan dan memprediksi

terhadap suatu gejala yang berlaku atas dasar data yang diperoleh dilapangan. Penelitian

kuantitatif adalah penelitian yang hasilnya berbentuk angka atau data yang diangkakan

(Notoatmodjo, 2010).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat dimana penelitian tersebut dilaksanakan

(Notoatmodjo, 2010). Lokasi penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Ibu Anak Budi

Kemuliaan.
Waktu Penelitian adalah jangka waktu yang dibutuhkan penulis untuk memperoleh data

penelitian yang dilaksanakan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016.

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

(Sugiyono, 2011). Populasi penelitian ini adalah semua ibu menyusui di Rumah

Sakit Ibu Anak Budi Kemuliaan dengan jumlah 50 orang ibu menyusui.

2. Sampel
Sampel adalah bagian atau jumlah dan karakterikstik yang dimiliki oleh populasi

tersebut (Sugiyono, 2011). Jika populasi kurang dari 100 lebih baik diambil semua,

tetapi jika populasi lebih dari 100 dapat diambil 10% - 15% atau 20% - 25% atau

lebih. Jumlah populasi dalam penelitian ini kurang dari 100 orang ibu menyusui,

maka jumlah sampel yang akan digunakan adalah 50 orang ibu menyusui.

3. Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah total

sampling. Menurut Sugiyono (2007), total sampling adalah teknik penentuan sampel

bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.


D. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup yang diisi oleh

responden. Menurut Notoatmodjo (2010), kuesioner tertutup adalah sejumlah pernyataan


tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan

tentang hal-hal yang ia ketahui dan sudah disediakan pilihan jawabannya.


Kuisioner yang digunakan dalam penelitian berisi tentang informasi manfaat

daun katuk terhadap produksi asi. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini

adalah skala Guttman. Menurut Sugiyono (2012), skala Guttman digunakan apabila ingin

mendapatkan jawaban yang jelas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Variabel

yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut

dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa

pertanyaan atau pernyataan. Seperti benar dan salah, ya dan tidak serta setuju dan tidak

setuju. Kuesioner pada penelitian ini terdapat 2 pernyataan yaitu pernyataan positif dan

negatif. Untuk pernyataan positif jawaban benar mendapat nilai 1 dan jawaban salah

mendapat nilai 0. Untuk pernyataan negatif jawaban benar mendapat nilai 0 dan jawaban

salah mendapat nilai 1. Pengisian kuesioner tersebut dengan memberi tanda () pada

jawaban yang dianggap benar.


Untuk mengetahui apakah kuesioner yang kita gunakan sebagai alat ukur yang sahih atau

tidak, maka perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas di tempat yang karakteristik

populasinya sama dengan tempat penelitian. Uji validitas dan reliabilitas ini akan

dilakukan di Rumah Sakit Ibu Anak Budi Kemuliaan. Uji validitas akan dilakukan

sebanyak 50 orang, karena sudah cukup mewakili populasi beberapa ahli

mengungkapkan 50 orang sebagai sampel uji coba. (Sugiyono, 2011)

1. Uji Validitas
Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukan kevalidan atau kesahihan

suatu instrument. Jadi pengujian validitas itu mengacu pada sejauh mana suatu

instrument dalam menjalankan fungsi. Instrument dikatakan valid jika instrument

tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2008)
Uji Validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing-masing

pernyataan dengan skor total, dengan rumus Product Moment (Sugiyono, 2008)

Keterangan:
r : Korelasi antara masing-masing butir pernyataan
N : Jumlah responden
X : Skor pernyataan
y : Skor total pernyataan
xy : Skor pernyataan dikalikan skor total
2. Uji Reliabilitas
Menurut Sugiyono(2012), reliabilitas sama dengan konsistensi atau keajegan. Suatu

instrument penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila test

yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur apa yang hendak

diukur. Untuk analisis reliabilitas internal dapat digunakan metode Alfha cronbacht.

Rumus tersebut menurut Arikunto (2010) ditunjukan sebagai berikut:

E. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan lembar pernyataan

persetujuan dan membagikan kuesioner pada ibu menyusui di Rumah Sakit Ibu Anak

Budi Kemuliaan, kemudian menjelaskan tentang cara pengisiannya. Responden diminta

mengisi kuesioner sampai selesai dan kuesioner diambil pada saat itu juga oleh peneliti.
Data yang diperoleh terdiri dari:
1. Data Primer
Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti. Menurut

Sugiyono (2012) yang menyatakan bahwa Sumber primer adalah sumber data yang
langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data primer dalam penelitian

ini berupa identitas responden dan pengetahuan responden tentang manfaat daun

katuk terhadap produksi ASI. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner oleh

responden.
2. Data Sekunder
Pengertian dari data sekunder menurut Sugiyono (2012) adalah Sumber data yang

tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain

atau lewat dokumen.


Data sekunder yang digunakan berupa jumlah ibu menyusui pada bulan Januari 2016

di Rumah Sakit Ibu Anak Budi Kemuliaan.


F. Variabel Penelitian
Variabel adalah subjek atau objek yang akan diteliti yang bervariasi antara satu

subjek atau objek yang akan yang satu dengan yang lain (Riwidikdo, 2010). Variabel

dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu tingkat pengetahuan tingkat

pengetahuan ibu menyusui pada manfaat daun katuk terhadap produksi asi.

G. Definisi Operasional

No Variabel Indikator Skala Alat Ukur Kategori


1 Variabel Segala Sesuatu Ordinal Kuesioner 1.Baik (x) >

Tunggal: yang diketahui mean + 1 SD


Pengetahuan 2. Cukup Mean
oleh ibu
Ibu Menyusui 1 SD X
menyusui
Pada Manfaat mean + 1 SD
tentang manfaat 3. Kurang (x) <
Daun Katuk
daun katuk Mean 1 SD
Terhadap
terhadap (Riwidikdo,
Produksi ASI
produksi ASI: 2010)

1.Pengetahuan
daun katuk
2.Manfaat daun

katuk pada

produksi ASI
3. Kandungan

daun katuk pada

ASI
4.Mengenai ASI

H. Metode Pengolahan dan Analisis Data


1. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, maka langkah yang dilakukan berikutnya adalah

pengolahan data. Proses pengolahan data menurut Notoatmodjo (2010), adalah:


a. Editing
Kegiatan ini adalah memeriksa data hasil jawaban dari kuesioner yang

telah diberikan kepada responden dan kemudian dilakukan koreksi apakah

telah terjawab dengan lengkap. Editing dilakukan di lapangan sehingga bila

terjadi kekurangan atau tidak sesuai dapat segera dilengkapi.

b. Coding
Kegiatan ini adalah memberi kode angka terhadap tahap-tahap dari

jawaban responden agar lebih mudah dalam pengolahan data selanjutnya.

c. Data Entry
Data Entry adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke

dalam master tabel atau data base komputer, kemudian membuat distribusi

frekuensi sederhana atau dengan membuat tabel kontigensi.

d. Tabulating
Kegiatan ini adalah proses menghitung data dari jawaban kuesioner

responden yang sudah diberi kode, kemudian dimasukkan ke dalam tabel.

e. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai

dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-

kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan

sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.


2. Analisis Data
Pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan

komputer menggunakan software SPSS. Sedangkan jenis analisis yang akan

digunakan adalah analisis Univariat, yaitu menganalisis terhadap tiap variabel dari

hasil tiap penelitian untuk menghasilkan distribusi frekuensi dan prosentase dari tiap

variabel (Notoatmodjo, 2010).


Menurut Riwidikdo (2010), hasil untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu

menyusui ditunjukan pada skala pengukuran sebagai berikut:


a. Pengetahuan baik : (x) > mean + 1 SD
b. Pengetahuan cukup : Mean 1 SD x mean + 1 SD
c. Pengetahuan kurang: (x) < mean 1 SD

Sebelum menentukan tingkat pengetahuan ibu menyusui pada manfaat

daun katuk terhadap produksi asi terlebih dahulu peneliti menghitung nilai

Mean dan Standard Deviation.

Menurut Riwidikdo (2010), rumus untuk menghitung nilai Mean dan

Standard Deviation yaitu:

a. Mean

b. Standard Deviation
Adapun rumus untuk memperoleh skor prosentase masing-masing

responden menurut Riwidikdo (2010), adalah:

Setelah dipakai hasil nilai Mean dan Standard Deviation tiap

responden kemudian hasil tersebut dimasukkan dalam skala

pengetahuan yang sudah tercantum diatas. Adapun rumus prosentase

untuk jumlah ibu menyusui tentang manfaat daun katuk terhadap

produksi ASI menurut tingkat pengetahuan (Riwidikdo, 2010):

I. Etika Penelitian
Sebelumnya peneliti membuat Informed Consent atau persetujuan

kepada responden dengan menuliskan jati diri, identitas peneliti, tujuan peneliti, serta

permohonan kesediaan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian. Dalam


melaksanakan penelitian ini, peneliti mendapat ijin

dari ............................................................................................ dan dari responden sendiri

melalui informed consent yang terjamin kerahasiaannya:


1. Informed Consent
Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti

dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed

consent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar

persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan Informed Consent adalah agar subjek

mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Apabila responden

bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut.


2. Anonimity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga identitas responden, peneliti tidak mencantumkan

nama responden pada lembar observasi yang diisi oleh peneliti, tetapi lembar

tersebut hanya diberi kode nomor.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan yang diberikan kepada responden di jamin oleh

peneliti. Informasi yang telah dikumpulkan oleh peneliti dijamin kerahasiaannya.

Hanya pada kelompok tertentu saja yang peneliti sajikan atau laporkan sebagai hasil

penelitian.

4. Keadilan dan keterbukaan


Prinsip keterbukaan dan adil perlu dijaga oleh peneliti dengan

kejujuran, keterbukaan, dan kehati-hatian. Lingkungan penelitian dikondisikan

sehingga memenuhi prinsip keterbukaan, yakni dengan menjelaskan prosedur dari

penelitian. (Notoatmodjo, 2010)