Anda di halaman 1dari 2

Biodiesel, adalah bahan bakar alternative berasal dari makhluk hidup seperti

minyak nabati (tumbuhan) dan lemak hewani, mudah terdegradasi dan tidak
beracun, emisi (pencemaran) di alam juga kecil (krawczyk, 1996)

Minyak nabati dan lemak hewani diekstrak untuk mendapatkan crude oil dan lemak
(mengandung asam lemak bebas, fosfolipid, sterol, air)asam lemak bebas dan
air berperan signifikan dalam proses transesterifikasi gliserida dengan alcohol
dengan katalis basa atau asam

Beberapa uji telah dilakukan pada minyak nabati (tumbuhan), namun aplikasinya
tidak dapat dilakukan pada lemak hewani karena ada perbedaan property
(kandungan). Minyak dari alga, bakteri, dan jamur juga diinvestigasi. Mikroalga
diperiksa memiliki sumber methyl ester bahan bakar diesel.(nagel and lemke.
1990). Terpene dan lateks (getah) juga dipelajari sebagai bahan bakar diesel (calvin
1985)

Gliserida alam (dari tumbuhan)mengandung asam lemak bebas tak jenuh, cair
dalam suhu kamar. Penggunaannya sebagai biodiesel terhalang (terhambat) karena
viskositasnya tinggi. Lemak, padat dalam suhu ruang (mengandung asam lemak
jenuh. Bentuk padatnya tidak dapat dijadikan biodiesel karena karbon masuk
kedalam mesin,penggunaan mesin dan kontaminasi minyak pelumas,

Langkah-langkahnya ada blending (menghancurkan) minyak, microemulsi, pirolisis,


dan diakhiri dengan.. transesterifikasi

Minyak nabati merupakan trigliserida melalui reaksi transesterifikasi


dengan methanol akan menghasilkan, gliserin, metil stearate, metil oleate.
Metil oleate atau biodiesel dan gliserin harus dipisahkan melalui suatu
tangki-pengendap. Setelah gliserin dipisahkan larutan dicuci dengan air
dan selanjutnya didistilasi sehingga menghasilkan biodiesel sesuai standard
yang diinginkan.
Masalah yang timbul pada proses transestrifikasi dengan metoda relatif
mahal, disamping itu hasil samping gliserin harus diproses lagi agar dapat
dimanfaatkan lagi untuk industri terkait lainnya.
Produk akhir yaitu biodiesel merupakan bahan bakar untuk mesin/motor
menghasilkan emisi NOx lebih sedikit tinggi, tetapi emisi CO yang lebih
rendah dibandingkan dengan emisi yang dihasilkan dalam pemanfaatan
BBM. (Rahayu, Biraha)

transesterifikasi
dimana gliserin dipisahkan dari minyak nabati. Proses ini menghasilkan dua
produk yaitu metil esters (biodiesel)/mono-alkyl esters dan gliserin yang
merupakan produk samping.
Bahan baku utama untuk pembuatan biodiesel
antara lain minyak nabati, lemak hewani, lemak bekas/lemak daur ulang.
Semua bahan baku ini mengandung trigliserida, asam lemak bebas (ALB) dan
zat-pencemar dimana tergantung pada pengolahan pendahuluan dari bahan
baku tersebut. Sedangkan sebagai bahan baku penunjang yaitu alkohol.

pembuatan biodiesel dibutuhkan katalis untuk proses esterifikasi, katalis


dibutuhkan karena alkohol larut dalam minyak. Minyak nabati kandungan
asam lemak bebas lebih rendah dari pada lemak hewani, minyak nabati
biasanya selain mengandung ALB juga mengandung phospholipids,
phospholipids dapat dihilangkan pada proses degumming dan ALB dihilangkan
pada proses refining. Minyak nabati yang digunakan dapat dalam bentuk
minyak Produk biodiesel tergantung pada minyak nabati yang digunakan
sebagai bahan baku seta pengolahan pendahuluan dari bahan baku tersebut.
perlu diperhatikan juga kandungan air dalam alcohol tersebut. Bila kandungan
air tinggi akan mempengaruhi hasil biodiesel kualitasnya rendah, karena
kandungan sabun, ALB dan trig;iserida tinggi. Disamping itu hasil biodiesel
juga dipengaruhi oleh tingginya suhu operasi proses produksi, lamanya waktu
pencampuran atau kecepatan pencampuran alkohol.
Katalisator dibutuhkan pula guna meningkatkan daya larut pada

Katalis yang akan dipilih tergantung minyak nabati yang dipakai

M i n y a k j e l a n t a h m e m p u n y a i kandungan asam lemak bebas yang cukup


tinggi. Oleh karena itu untuk menurunkan
angka asam, pada umumnya diperlukan 2
(dua) tahap konversi minyak jelantah
menjadi biodiesel, yaitu proses esterifikasi dan transesterifikasi (Hambali, dkk,
2008).

Kesulitannya : methanol yang seharusnya bereaksi dengan trigriserida terhalang


oleh reaksi pembentukan sabun.(methanol menjadi 2x, katalis bertambah, sulit
memisahkan biodieselnya dengan gliserol karena terbentuknya sabun

Untuk menghasilkan biodiesel berkualitas tinggi butuh pretreatment yang baik.


Karena hasil biodiesel bisa menurun, butuh katalis dan methanol lebih banyak, atau
metode enzimatis yang mahal, suhu dan tekanan tinggi juga mahal.(gerpen.2005)