Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

HUKUM PERBANKAN

KREDIT BANK

KELOMPOK 6:
ALISA KAMAL
JULISKANDAR NABABAN
NOVIYANTI
ANJU PUTRA
JULIAN SAFARDI
DAFTAR ISI

HALAMAN
JUDUL.......................................................................i
KATA
PENGANTAR.....................................................................ii
DAFTAR
ISI..................................................................................iii

BAB I
PENDAHULUAN..............................................................1
1.1Latar
Belakang............................................................................1
1.2Rumusan
Masalah.......................................................................3
1.3Tujuan.........................................................................................
.4

BAB II
PEMBAHASAN................................................................5
2.1Pengertian
Kredit.........................................................................
2.2Pengertian Perjanjian
Kredit........................................................
2.3Prinsip-prinsip pemberian
Kredit.................................................
2.4Jenis-jenis
Kredit.........................................................................
2.5Kredit
Bermasalah.......................................................................
2.6Jaminan dan Anggunan
Kredit....................................................
2.7Bank Garansi..............................................................................

BAB III PENUTUP........................................................................


3.1Simpulan
3.2Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kredit merupakan salah satu jasa dari berbagai jasa yang
diberikan oleh bank. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan
yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan
atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak
lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Dalam menjalankan fungsi intermediary, bank berfungsi
sebagai lembaga perantara artinya bank menjembatani antara
nasabah yang memiliki kelebihan dana dan nasabah yang
kekurangan dana. Nasabah yang mempunyai dana lebih akan
menyimpan dana tersebut di bank dalam bentuk simpanan,
kemudian bank akan menggunakan uang tersebut untuk
disalurkan kepad nasabah yang membutuhkan dana dalam benuk
kredit . Dalam fungsi intermediary bank berperan sebagai :
1. Lembaga perantara (simpan salur)
2. Lembaga pengelolaan managament risk
3. Lembaga kepercayaan (trust fund)
Bank dalam memberikan kredit, wajib mempunyai
kenyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk
melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan, serta
harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat karena
kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko. Dalam
praktek perbankan untuk adanya pemberian kredit dari bank,
maka pihak bank harus mengadakan perjanjian didalam
penyerahan uang terhadap debitur seperti yang telah disepakati
bersama. Karena biasanya dituangkan dalam suatu perjanjian
kredit yang dibuat sebelum dilakukan penyerahan uang, sehingga
perjanjian kredit ini merupakan perjanjian perdahuluan dari
penyerahan uang.
Kredit yang diberikan oleh bank mempunyai pengaruh
yang sangat penting dalam kehidupan perekonomian suatu
negara, karena kredit yang diberikan secara selektif dan terarah
oleh bank kepada nasabah dapat menunjang terlaksananya
pembangunan sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan
masyarakat. Kredit yang diberikan oleh bank sebagai sarana
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baik secara umum
maupun khusus untuk sektor tertentu.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka
dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
2.1Pengertian Kredit
2.2Pengertian Perjanjian Kredit
2.3Prinsip-prinsip pemberian Kredit
2.4Jenis-jenis Kredit
2.5Kredit Bermasalah
2.6Jaminan dan Anggunan Kredit
2.7Bank Garansi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kredit


Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain
yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Perkreditan, Drs.
Thomas Suyatno, mengemukakan bahwa unsur-unsur kredit
terdiri atas:
1.Kepercayaan, yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa
prestasi yang diberikannya baik dalam bentuk uang, barang, atau
jasa, akan benar-benar diterimanya kembali dalam jangka waktu
tertentu dimasa yang akan dating.
2.Tenggang waktu, suatu masa yang memisahkan antara
pemberian prestasi dengan kontraprestasi yang akan diterima
pada masa yang akan ddatang. Dalam unsur waktu ini,
terkandung pengertian nilai agio dari uang, yaitu uang yang ada
sekarang lebih tinggi nilainya dari uang yang akan diterima pada
masa yang akan dating.
3.Degree of risk, yaitu tingkat resiko yang akan dihadapi
sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan
antara pemberian prestasi dengan kontraprestasi yang akan
diterima kemudian hari. Semakin lama kredit diberikan semakin
tingggi pula tingkat resikonya, karena sejauh-jauh kemampuan
manusia untuk menerobos masa depan itu, maka masih selalu
terdapat unsur ketidaktentuan yang dapat diperhitungkan. Inilah
yang menyebabkan timbulnya unsur resiko. Dengan adanya
unsur resiko inilah, maka timbullah jaminan dalam pemberian
kredit.
4.Prestasi atau objek kredit itu tidak saja diberikan dalam
bentuk uang, tetapi juga dapat berbentuk barang, atau jasa.
Namun, karena kehidupan ekonomi modern sekang ini
didasarkan kepada uang, maka transaksi-transaksi kredit yang
menyangkut uanglah yang setiap kali kita jumpai da lam praktik
perkreditan.
2.2 Pengertian Perjanjian Kredit

Berdasarkan Pasal 1754 Kitab Undang-undang Hukum


Perdata (KUHPerdata) terdapat istilah perjanjian pinjam-
meminjam, yang dinyatakan sebagai berikut:
Pinjam-meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang
satu memberikan pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-
barang yang menghabis karena pemakaian,dengan syarat bahwa
pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang
sama dari macam dan keadaan yang sama pula.
Perjanjian Kredit adalah perjanjian pendahuluan dari penyerahan
uang. Perjanjian pendahuluan ini merupakan hasil permufakatan
antara pemberi dan penerima pinjaman mengenai hubungan-
hubungan hukum antar keduanya

2.3 Prinsip-prinsip Pemberian Kredit

1. Prinsip kepercayaan
Yaitu suatu asas yang melandasi hubungan antara bank dan
nasabah bank.
a. Nasabah percaya bahwa bank akan mengelola dananya
dengan sebaik- baiknya.
b. Bank yakin terhadap kredit yang diberikan kepada debitur
akan bermanfaat dan digunakan sebaik-baiknya
c.Bank yakin terhadap semua data yang diberikan nasabah
(know your costumer)
Indikator nasabah dapat dipercaya dilihat dari transaksi
nasabah tersebut apakah transaksi yang dilakukan
mencurigakan atau tidak. Transaksi dianggap tidak
mencurigakan apabila anatar uang yang diterima nasabah
dalam rekening banknya sesuai dengan profil nasabah
tersebut. Sedangkan transaksi dianggap mencurigakan dapat
dilihat dari laporan hasil analisis yang dapat
mengkategorikan transaksi tesebut sebagai suatu tindak
pidana.
2. Prinsip Kehati-hatian (prudent banking)
Suatu prinsip yang menegaskan bahwa bank dalam
menjalankan kegiatan usaha baik dalam penghimpun dana
dan penyaluran dana, terutama dalam penyaluran dana atau
pemberian kredit. Usaha pengawasan yang dilakukan bank
dapat berupa:
a. Internal
Berupa SOP (Standard Operational Procedure)
b. Eksternal
Bank ketika melayani nasabah khususnya dibidang kredit
harus melihat ketentuan yang diatur Bank Indonesia
Bank ketika memberikan kredit kepada nasabah harus
memperhatikan 5Cs of Credit .
3. Prinsip 5C (5Cs of credit)
1. Character
Pemberian kredit pada dasarnya adalah kepercayaan
sehingga penilaian Karakter memiliki peringkat pertama dari
yang lain, namun dalam menilai karakter ini sangat sulit
dilakukan dalam waktu singkat, kareana kita harus
memahami benar sifat-sifat dan kebiasaan, gaya hidup serta
hubungan sosial nasabah kita dan nasabah ini harus dapat
dipercaya (Willingness to Pay).
Informasi mengenai karakter dapat diperoleh:
- Meminta Informasi Bank Indonesia, dimana dalam
informasi tersebut akan teriformasi jumlah pinjaman berikut
kualitas pinjaman (apakanh nasabah dalam memenuhi
kewajibanya selalu tepat waktu atau terlambat) , jangka
waktu kredit dan agunan.
- Melakukan trade Checking kepada sesama pengusaha atau
pelangga serta suplyer nasabah, dengan harapan memperoleh
informasi mengenai pribadi maupun perusahaan atau bisnis
yang dimiliki.

4.Capacity
Capacity adalah menilai kapasitas atau kemampuan nasabah
dalam mengelola usahanya sehingga dapat memenuhi kewajiban
atau mengembalikan pinjaman Bank dari hasil usaha yang
dijalankan. (abilty to Pay) Dalam hal ini dinilai seberapa besar
skala usaha yang dijalankan dan seberapa besar usaha tersebut
dapat menghasilkan laba serta kemampuan usaha untuk terus
berjalan dalam kondisi ekomoni normal atau kurang baik.

5.Capital
Melihat sebearapa besar modal atau kekayaan yang dimiliki
nasabah untuk menjalankan usaha, hal ini dapat dilihat dari
laporan keuangan berupa Neraca dan laba Rugi perusahaan
termasuk ratio keuangan.

6.Collateral
Menilai seberapa besar nilai jaminan atau agunan yang
diserahkan ke Bank dan nilai tersebut harus dapat mencover
fasilitas Kredit yang diberikan oleh Bank, dalam hal ini Bank
juga harus menilai tingkat marketabilitas (mudah dijual) agunan
dimaksud, serta meneliti keabsahan atas legalitas bukti
kepemilikan agunan, agunan yang dapat diterima Bank dapat
berupa Barang Bergerak maupun barang Tidak Bergerak yang
harus dilakukan pengikatan secara Yuridis Sempurna. Contoh :
1.Barang Tidak bergerak berupa Tanah dan bangunan harus
dilakukan pengikatan Hak Tanggungan.
2. Barang Bergerak berupa Mesin-mesin dan kendaraan
termasuk Kapal dengan bobot >30Ton diikat dengan Fiducia.

5. Condition of economic
Condition of economic dalam pengertian Pemberian fasilitas
kredit juga harus mempertimbangkan kondisi ekonomi yang
dikaitkan dengan usaha yang dijalakan nasabah termasuk regulasi
atau perturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah terhadap
usaha yang dijalankan nasbah.

2.4 Jenis-jenis Kredit


Ditinjau dari jangka waktu, kredit bank dapat berbentuk :
1. jangka pendek
Apabila tenggang waktu yang diberikan bank kepada nasabah
untuk melunasi pinjaman tidak lebih dari 1 tahun
2. jangka menengah
Apabila kredit yang diberikan berjangka waktu lebih dari 1 tahun
sampai dengan 3 tahun.
3.Jangka panjang
Waktu pengembalian pinjaman yang diberikan lebih dari 3 tahun
Ditinjau dari sifat penggunaannya
1. Pinjaman konsumtif
Apabila kredit yang diberikan oleh bank digunakan nasabah
untuk membiayai barang-barang konsumtif
2. Pinjaman komersial
Pinjaman yang digunakan oleh nasabah untuk membiayai
kegiatan usaha. Sumber pembayaran berasal dari usaha yang
dibiayai.
Ditinjau berdasarkan keperluannya.
1.Kredit modal kerja
Kredit yang dipergunakan untuk menambah modal kerja suatu
perusahaan, seperti pembelian bahan baku, biaya produksi,
pemasaran dan modal kerja untuk operasional
2.Kredit investasi
Kredit jangka menengah atau panjang yang digunakan untuk
membeli barang-barang modal beserta jasa yang diperlukan
untuk rehabilitasi, modernisasi maupun ekspansi proyek yang
akan ada.
3.Kredit pembiayaan proyek
Kredit yang digunakan untuk pembiayaan investasi maupun
modal kerja proyek baru.
Ditinjau dari sifat penarikannya
1.kredit langsung (cash loan)
Kredit yang langsung menggunakan dana bank dan secara
efektif merupakan hutang nasabah kepada bank (kredit investasi
dan kredit modal kerja)
2.kredit tidak langsung (non cash loan)
Kredit yang tidak langsung menggunakan dana bank dan belum
secara efektif meupakan hutang nasabah ke bank.

Ditinjau dari sifat pelunasannya


1.kredit dengan angsuran
Kredit yang pembayaran kembali pokok pinjamannya diatur
secara bertahap menurut jadwal
yang telah ditetapkan di dalam perjanjian kredit.
2.kredit dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo
Kredit yang pembayaran kembali pokok pinjamnya tidak diatur
secara bertahap melainkan harus dikembalikan secara sekaligus
pada saat tanggal jatuh tempo yang telah ditetapkan dalam
perjanjian kredit

Ditinjau dari metode pembayaran


1.kredit bilateral
Kredit yang dibiayai oleh hanya satu bank
2.kredit sindikasi
Kredit yang diberikan 2 atau lebih lembaga keuangan untuk
membiayai suatu proyek/usaha dengan syarat-syarat dan
ketentuan yang sama, menggunakan dokumen yang sama dan
diadmininstrasikan oleh agen yang sama.

Dintinjau dari lokasi bank


1.kredit onshore
Kredit yang diberikan kepada nasabah di dalam negeri dalam
bentuk valuta asing dan dilaksanakan melalui cabang di dalam
negeri
2.kredit offshore
Kredit yang diberikan kepada nasabah di dalam negeri dalam
bentuk valuta asing dan melalui cabang bank di luar negeri.

Ditiinjau dari cara penarikan


1.Penarikan sekaligus
Penarikan kredit yang dilaksanakan satu kali sebesar limit kredit
yang disetujui setelah seluruh ketentuan dipenuhi, dengan cara
tunai atau dipindah bukukan ke rekening tabungan/giro milik
debitur
2.penarikan bertahap sesuai jadwal
Penarikan dilaksanakan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh
bank baik berdasarkan tingkat penyelesaian proyek maupun
kebutuhan pembiayaan debitur.
3.Rekening koran (revolving)
Penarikan sesuai kebutuhan yaitu penarikan kredit yang dapat
dilaksanakn lebih dari satu kali sebesar kebutuhan debitur pada
saat setelah seluruh ketentuan dipenuhi, dengan cara tunai atau
dipindahbukukan ke tabungan/giro debitur.

2.5 Kredit Bermasalah


Kualitas Kredit :
Supervisi dan Monitoring pasca pemberian kredit sangat penting
untuk tetap menjaga kualitas kredit, penetapan kualitas kredit
atas dasar PBI (Peraturan Bank Indonesia). No. 14/15/PBI/2012
dan SE BI No. 7/3/DPNP tanggal 31 Januari 2005
Penetapan Kualitas kredit ini ditetapkan berdasarkan 3 factor
penilaian :
1.Prospek Usaha.
2.Kinerja Debitur (performace).
3.Kemampuan membayar.

Penilaian terhadap prospek usaha, kinerja debitur dan


kemampuan membayar antara lain dengan melihat potensi
pertumbuhan usaha, Kondisi pasar dan posisi debitur dalam
persaingan, termasuk sensitivitas terhadap resiko pasar, kualitas
manajemen dan permasalahn tenaga Kerja, perolehan laba,
struktur modal , ketepatan membayar kewajiban Bank.
Atas hal-hal tersebut kualitas kredit dibagi dalam 5 katagori
1.Kolektibilitas Lancar (L)
2.Kolektibilitas Dalam Perhatian Khusus (DPK)
3.Kolektibilitas Kurang Lancar (KL)
4.Kolektibilitas Diragukan (D)
5.Kolektibilitas Macet (M)

Kolektibilitas kredit berdasarkan ketepatan pembayaran :


1.Kolektibilitas Lancar (Kol-1) yaitu apabila tidak terdapat
tunggakan pembayaran pinjaman baik Pokok maupun Bunga.
2.Kolektibilitas Dalam Perhatian Khusus (Kol-2) yaitu apabila
terdapat tunggakan pinjaman pembayaran pokok dan atau bunga
dengan umur tunggakan sampai dengan 90 hari.
3.Kolektibilitas Kurang Lancar (Kol-3) yaitu apabila
terdapat tunggakan pinjaman pembayaran pokok dan atau bunga
dengan umur tunggakan sampai dengan 120 hari.
4.Kolektibilitas Diragukan (Kol-4) yaitu apabila terdapat tunggakan
pinjaman pembayaran pokok dan atau bunga dengan umur tunggakan
sampai dengan180 hari.
5.Kolektibilitas Macet (Kol-5) yaitu apabila terdapat tunggakan
pinjaman pembayaran pokok dan atau bunga dengan umur tunggakan
lebihdari 180 hari.

Kredit dapat digolongkan bermasalah Non Performing Loan (NPL)


apabila telah masuk dalam kualitas/Kolektibilitas Kurang Lancar
(Kol3), Kolektibilitas Diragukan (Kol-4) dan Kolektibilitas Macet
(Kol-5)
Tujuan dilakukan klasifikasi kualitas kredit tersebut antara lain untuk
menetapkan tingkat cadangan potensi kerugian Bank akibat kredit
bermasalah. Atau dengan kata lain Bank harus mencadangkan atau
menyisihkan dari laba usahanya untuk menutup kerugian akibat kredit
bermasalah yang tidak dapat dikembalikan oleh peminjam.
Langkah-langkah Perbankan untuk menjaga kualitas kredit antara lain
dengan menetapkan Kebijakan Perkreditan antara lain dengan selalu
mengupdate Portofolio Guidelines atau menetapkan sector-sektor
mana saja yang tidak dapat dibiayai antara lain:
- Usaha bertentangan dengan norma-norma social, seperti usaha
Judi, Narkoba Pornografi dll.
- Tanpa Informasi Keuangan yang cukup
- Keahlian Khusus yang tidak dimiliki Bank.
- Tercatat sebagai debitur Macet di Bank Lain.
- Debitur tercatat atau masuk dalam daftar Hitam
- Fasilitas Kredit dipergunakan untuk kepetingan Politik.
- Personal dengan kekebalan Diplomatik.
- Melakukan Kegiatan Ekspor Impor diluar ijin Resmi
- Menjalankan usaha yang merusak Lingkungan.
- Usaha tidak sesuai ketentuan Perbankan.

Penyelesaian kredit bermasalah


Adalah suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah
melalui lembaga hukum. Yang dimaksud dengan lembaga hukum
dalam hal ini adalah Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) dan
Direktorat Jendral Piutang dan Lelang Negara (DJPLN), melalui
Badan Peradilan, dan melalui Arbitrase atau Badan Alternatif
Penyelesaian sengketa.
Apabila penyelesaian sebagaimana tersebut diatas tidak berhasil
dilaksanakan, pada umumnya upaya yang dilakukan bank
dilakukan melalui prosedur hukum. Sehubungan dengan hal
tersebut, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku terdapat beberapa lembaga dan berbagai sarana hukum
yang dapat dipergunakan untuk mempercepat penyelesaian
masalah kredit macet perbankan.
Penyelesaian Kredit Bermasalah dilakukan melalui2 (dua) cara,
yaitu sebagai berikut:

1. Penyelesaian Kredit Bermasalah Secara Damai.


Penyelesaian kredit bermasalah secara damai dapat dilakukan
terhadap debitur yang beritikad baik untuk menyelesaikan
kewajibannya dan cara yang ditempuh dalam penyelesaian ini
dianggap lebih baik dibandingkan alternatif penyelesaian melalui
saluran hukum.
Jenis-Jenis dan Ketentuan Penyelesaian Kredit Secara Damai,
meliputi:
Pemberian fasilitas keringanan bunga, Pemberian fasilitas
keringanan bunga hanya diberikan kepada penunggak dengan
kolektibilitas Diragukan, Macet dan Kredit yang telah dihapus
bukukan.
Penjualan agunan di bawah tangan, Penjualan agunan di
bawah tangan dilakukan agar debitur masih diberikan
kesempatan untuk menawarkan/menjual sendiri agunannya.

Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Saluran Hukum


Penyelesaian kredit bermasalah melalui saluran hukum ini
apabila upaya restrukturisasi/ penyelesaian secara damai
sudah diupayakan secara maksimal dan belum memberikan
hasil atau debitur tidak menunjukkan itikad baik (onwill)
dalam menyelesaikan kewajibannya, maka penyelesaian dapat
ditempuh melalui saluran hukum yakni Badan Urusan Piutang
Lelang Negara (BUPLN) atau Panitia Urusan Piutang Negara
(PUPN) atau Pengadilan Negeri.

Pendekatan Kredit Bermasalah


Pendekatan dan penetapan strategi dalam penanganan kredit
bermasalah yaitu sebagai berikut:
1.Pendekatan Secara Tertulis, dengan cara yaitu:
Pemberian Surat Tagihan
Pemberian Surat Peringatan
Pemberian Surat Tagihan I, II, dan III
2. Pendekatan Secara Lisan.
Pihak Bank / Lembaga Keuangan dalam melaksanakan
pendekatan ini dengan cara berkunjung ke tempat usaha debitur
untuk segera melunasi kewajibannya sebelum diberikan surat
tagihan.
Apabila setelah diberi Surat Peringatan III,tetapi debitur belum
melunasi kewajibannya maka pihak Bank / Lembaga Keuangan
melakukan kunjungan untuk menilai usaha debitur.
Pihak Bank / Lembaga Keuangan melakukan pembinaan
kepada debitur yang mempunyai kategori prospek baik dan itikad
baik, prospek tidak baik dan itikad baik, dan prospek tidak baik
dan itikad tidak baik supaya menjadi kooperatif dan mau segera
melunasi kewajibannya.

2.6 Jaminan dan Anggunan Kredit


JAMINAN KREDIT adalah keyakinan atas kemampuan &
kesanggupan debitor untuk melunasi kreditnya meliputi :
1.Character
2.Capacity
3.Capital
4.Condition
5.Collateral

(Agunan)
AGUNAN adalah bagian dari jaminan kredit dan dibedakan
AGUNAN POKOK dan AGUNAN TAMBAHAN

Dalam pemberian kredit, maka diwajibkan untuk adanya jaminan


pembayaran oleh debitur, hal itu bisa berupa usaha yang
dijalankan dalam kondisi yang mampu untuk membayar pokok
dan bunga pinjaman. Sedangkan agunan tidak diwajibkan untuk
ada pada setiap proses kredit. Apabila bank merasa tidak yakin
akan kemampuan usaha dari debitur, maka agunan menjadi
mutlak diperlukan.
Agunan pokok : adalah agunan yang dibiayai dari kredit yang
diberikan bank
Agunan tambahan adalah agunan yang tidak dibiayai dari kredit
yang diberikan bank
contoh :
suatu perusahaan ingin membeli mesin baru untuk menambah
kapasitas produksi perusahaannya.
Bank tersebut melakukan pengikatan terhadap bangunan dan
tanah perusahaan serta mesin-mesin yang dibeli oleh perusahaan
tersebut.

Bangunan dan tanah perusahaan tersebut adalah agunan


tambahan
Mesin-mesin adalah agunan pokok

Meskipun nilai bangunan dan tanah perusahaan tersebut jauh


lebih besar daripada mesin-mesin yang dibeli, namun tidak
mempengaruhi hakikat dari agunan pokok dan agunan tambahan.
Apabila kredit macet maka agunan pokok berupa mesin wajib
dijual terlebih dahulu untuk menutupi hutang dari perusahaan
tersebut, baru kemudian apabila masih tidak cukup, bank akan
menjual tanah dan bangunan perusahaan tersebut.

2.7 Bank Garansi

Menurut Bank Indonesia, Bank Garansi adalah jaminan


pembayaran yang diberikan kepada pihak penerima jaminan,
apabila pihak yang dijamin tidak memenuhi kewajibannya.

Jadi dalam pemberian Bank Garansi ada tiga pihak yang terlibat ,
yaitu sebagai berikut :

1. Bank sebagai pihak pemberi jaminan disebut Penjamin( Bank


penerbit / issuing bank ).
2. Nasabah sebagai pemohon ( Applicant ) pihak yang dijamin
disebut Terjamin.

3. Pihak ketiga yang menerima jaminan disebut Penerima


jaminan ( Beneficiary).

MANFAAT DAN KEGUNAAN BANK GARANSI

Bank Garansi diterbitkan atas permintaan nasabahnya


(Applicant) yang akan digunakan untuk keperluan beragam
sesuai kebutuhan transaksi bisnis nasabahnya, manfaatnya secara
umum adalah Sebagai sarana untuk memperlancar lalu lintas
barang dan jasa, meringankan Cash Flow dll. Penerima jaminan
(Beneficiary) tidak akan menderita kerugian bila pihak yang
dijamin (Applicant) melalaikan kewajiban karena penerima
jaminan (Beneficiary) akan mendapat ganti rugi (pembayaran)
dari bank.

Jenis-jenis Bank Garansi

Bank Garansi untuk Tender (Bid Bond/Tender Bond)

Bank Garansi untuk Penerimaan Uang Muka Kerja


(Advance Payment Bond)
Bank Garansi untuk Pelaksanaan Pekerjaan (Performance
Bond)

Bank Garansi untuk Pemeliharaan (Retention Bond)

Bank Garansi kepada Maskapai Pelayaran (Shipping


Guarantee)

Bank Garansi untuk Pita Cukai Tembakau

Bank Garansi untuk Perdagangan (Agen, Dealer)

Bank Garansi untuk Penangguhan Bea Masuk

Bank Garansi untuk Pembelian Aktiva Tetap

Bank Garansi kepada Departemen Pertambangan dan


Energi

Bank Garansi untuk menjamin Pemberi Kredit

Bank Garansi untuk Pembelian/Pengadaan Bahan Baku

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Fungsi kredit dalam kehidupan perekonomian , perdagangan, dan
keuangan secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Kredit dapat meningkatkan daya guna (utility) dari uang.
b. Kredit dapat meningkatkan daya guna (utility) dari barang.
c. Kredit meningkatkan peredaran uang dan lalu lintas uang.
d. Kredit adalah salah satu alat stabilisasi ekonomi.
e. Kredit menimbulkan kegairahan berusaha masyarakat.
f. Kredit adalah jembatan untuk meningkatkan pendapatan
nasional.
g. Kredit adalah sebagai alat penghubung ekonomi
internasional.
Jenis-Jenis Kredit :
1. Menurut jangka waktunya, kredit dibedakan menjadi :
a. Kredit jangka pendek
b. Kredit jangka menengah
c. Kredit jangka panjang.
2. Menurut sifat penggunaannya, kredit dibedakan menjadi:
a. Kredit konsumtif
b. Kredit produktif
c. Kredit perdagangan
3. Menurut jaminan atas kredit, dibedakan menjadi:
a. Unsecured Loans (kredit tanpa jaminan atau kredit blanko)
b. Secured Loans ( kredit dengan jaminan )
Ketentuan-Ketentuan Penentuan Besarnya Kredit:
a. Reserve Requirement (RR)
b. Loan to Deposit Ratio (LDR)
c. Batas Maksimum Pemberian Kredit
d. Portofolio Investment
Secara garis besar kegiatan yang dilakukan oleh Bagian Kredit
sehubungan dengan pemberiaan kredit untuk pelanggan atau
calon pelanggannya, meliputi :
Mengidentifikasi pelanggan atau calon pelanggan
Menganalisa kelayakan pemberian kredit

3.2 Saran
Sebaiknya debitur menggunakan kreditnya untuk keperluan
usahanya agar tidak terjadi kesalahgunaaan dan memberikan
jaminan yang dapat membuat pihak Bank percaya atas pinjaman
yang diberikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arthesa, Ade dan Edia Handiman, 2006, Bank dan Lembaga
Keuangan Bukan Bank, Jakarta: PT. Indeks.

Ghozali, Imam, 2005, Aplikasi Analisis Multivariate dengan program


SPSS, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Santoso, Totok Budi dan Sigit Triandaru, 2006, Bank dan Lembaga
Keuangan Lain, Jakarta: Salemba Empat.

Sukmayani, Ratna, dkk, 2008, Ilmu Pengetahuan Sosial 3, Jakarta:


Pusat PerbukuanDepartemen Pendidikan Nasional.