Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH PRESKRIPSI

KONTRASEPSI

DISUSUN OLEH:

Langlang Kurniawan (201410410311220) Aldiala Apriliawati (201410410311244)


Kiki Tazkhiya Amira (201410410311223) Ana Maghfirah (201410410311245)
Anggia Ammar E (201410410311224) Annisa Fitri Nuzulia (201410410311246)
Arina Rahayu (201410410311234) Taufiq Hidayat (201410410311248)
Esti Hardani (201410410311235) Waris Triyono (201410410311249)
Yulinda Setyaningsih (201410410311243) Sahfilda Naylis Surur (201410410311250)

KELOMPOK 4
FARMASI A

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr wb

Alhamdulillah banyak nikmat yang Allah berikan tetapi sedikit sekali yang kita ingat.
Segala puji hanya layak untuk Allah swt, Tuhan semesta alam atas segala berkat dan rahmat serta
hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
judul KONTRASEPSI.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak karena
itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang
membantu penulis menyelesaikan makalah ini. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih
baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan
namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.

Wassalamualaikum wr wb

Malang, 15 April 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN.............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan Makalah.....................................................................................................1
BAB II : PEMBAHASAN...............................................................................................................2
2.1 Pengertian Kontrasepsi..........................................................................................................2
2.2 Tujuan Kontrasepsi................................................................................................................3
2.3 Jenis-jenis Kontrasepsi...........................................................................................................3
2.3.1 Kontrasepsi Pil................................................................................................................3
2.3.2 Kontrasepsi Suntik..........................................................................................................4
2.3.3 Kontrasepsi Implant........................................................................................................5
2.3.4 Alat Kontrasepsi IUD......................................................................................................6
2.3.5 Kontrasepsi mantap.........................................................................................................7
2.4 Metode Kontrasepsi...............................................................................................................8
2.4.1 Kontrasepsi untuk wanita :..............................................................................................8
2.4.2 Kontrasepsi untuk laki-laki :.........................................................................................10
2.5 Siklus menstruasi.................................................................................................................11
2.5.1 Siklus Ovarium..............................................................................................................11
2.5.2 Siklus Endometrium......................................................................................................13
2.5.3 Kehamilan.....................................................................................................................15
2.6 Obat-obatan Kontrasepsi......................................................................................................15
2.6.2 Exlution.........................................................................................................................15
2.6.3 Mycrogynon..................................................................................................................17
2.6.4 Levonorgestrel...............................................................................................................19
2.6.4 Diane 35........................................................................................................................21
2.6.6 Cycloproginova :...........................................................................................................23
2.6.7 Pyridoxine (vit b6).........................................................................................................26
2.7 Pengertian kondom dan kegunaannya..................................................................................28

2
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak . Agar
mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternative untuk mencegah ataupun
menunda kehamilan . Cara- cara tersebut diantaranya termasuk kontrasepsi atau pencegahan
kehamilan dan perencanaan keluarga .
Keluarga berencana merupakan salah satu pelayanan kesehatan prenvetif yang paling
dasardan utama bagai wanita .Meskipun tidaak selalu diakui demikian, peningkatan dan
perluasan KB merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematiaan
ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita . Banyak wanita yang
harus menentukan pemilihan alat kontrasepsi yang sulit, tidak hanya karena terbatasnya jumlah
metode yang tersedia tetapi juga metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima
sehubungan dengan kebijakan nasional KB . Kesehatan individual , dan seksualitas wanita atau
biaya untuk memperoleh kontrasepsi .
Sebelum ibu memilih alat kontrasepsi sebaiknya mencari informasi terlebih dahulu
tentang cara-cara KB berdasarkan informasi yang lengkap benar dan akurat. Semua metode
kontrasepsi mempunyai efek samping yang harus diketahui akseptor sebelum memakainya .Ada
bermacam-macam jenis kontrasepsi yang ada sehingga ibu harus menetukan pilihan kontrasepsi
yang dianggap sesuai.

1.2 Tujuan Penulisan Makalah


1. Mengetahui pengertian, tujuan dan macam-macam kontrasepsi.
2. Mengetahui keuantugan dan kekurangan dari masing-masing Kontrasepsi.
3. Mengetahui bagaimana cara menggunakan Kontrasepsi.

1
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi
adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang
mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindar dan mencegah terjadinya
kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.
Cara kerja kontrasepsi bermacam-macam tetapi pada umumnya mempunyai fungsi
mengusahakan agar tidak terjadi ovulasi, melumpuhkan sperma, menghalangi pertemuan sel
telur dengan sperma. Kontrasepsi yang ideal harus dapat bekerja dalam waktu yang tahan lama,
mempunyai efektifitas yang tinggi, aman, mudah dalam menggunakan dan melepaskannya dan
memiliki beberapa atau tidak sama sekali efek samping (Nancy,1999).
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan upaya itu dapat bersifat
sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel
yang mempengaruhi fertilitas (Prawirohardjo, 2006).
Kontrasepsi adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsidengan menggunakan alat
atau obat-obatan. Keluarga berencana adalah suatu usaha menjarangkan atau merencanakan
jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi (Mochtar, 1998).
Kontrasepsi adalah menghindari / mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma (BKKBN,1999). Keluarga Berencana
(KB) adalah suatu upaya manusia untuk mengatur secara sengaja kehamilan dalam keluarga
secara tidak melawan hukum dan moral Pancasila untuk kesejahteraan keluarga (Ritonga,
2005:87). Menurut WHO (2004) KB suatu usaha untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu,
menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan mengatur
internal diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. Keluarga berencana
adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal
tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun menunda
kehamilan. Cara-cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan
keluarga (Affandi, 2006:26). KB adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami
istri untuk mendapatkan objektif-objketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan,
mengontrol waktu saat kehamilan dalam hubungan dengan umur suami istri dan menentukan

2
jumlah anak dalam keluarga (BKKBN, 2009). KB adalah sebagai suatu usaha yang mengatur
banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta
keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari
kehamilan tersebut (Suratun dkk, 2008:19). Dari beberapa pengertian KB diatas maka dapat
disimpulkan bahwa KB adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan
jarak kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi, untuk mewujudakan keluarga kecil, bahagia
dan sejahtera. Yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu
memenuhi kebutuhan hidup spiritual, material yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, memiliki hubungan serasi, selaras, seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan
masyarakat serta lingkungan.

2.2 Tujuan Kontrasepsi


1. Menunda kehamilan
2. Menjarangkan kehamilan
3. Menghentikan/mengakhiri kehamilan atau kesuburan
4. Kesehatan reproduksi wanita (Hartanto, 2004)

2.3 Jenis-jenis Kontrasepsi


2.3.1 Kontrasepsi Pil
Pengertian : Pil oral akan menggantikan produksi normal estrogen dan progesteron oleh
ovarium. Pil oral akan menekan hormon ovarium selama siklus haid yang normal, sehingga
juga menekan releasing-factors di otak dan akhirnya mencegah ovulasi. Pemberian Pil Oral
bukan hanya untuk mencegah ovulasi, tetapi juga menimbulkan gejala-gejala pseudo
pregnancy (kehamilan palsu) seperti mual, muntah, payudara membesar, dan terasa nyeri
(Hartanto, 2002).
Efektivitas pada penggunaan yang sempurna adalah 99,5-99,9% dan 97% (Handayani,
2010).
Jenis KB Pil menurut Sulistyawati (2013) yaitu:
1. Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengamdung hormon aktif
estrogen atau progestin, dalam dosisi yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif,
jumlah dan porsi hormonnya konstan setiap hari.

3
2. Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen,
progestin, dengan dua dosis berbeda 7 tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon bervariasi.
3. Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen
atau progestin, dengan tiga dosis yang berbeda 7 tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon
bervariasi setiap hari.
Cara kerja KB Pil menurut Saifuddin (2010) yaitu:
1. Menekan ovulasi
2. Mencegah implantasi
3. Mengentalkan lendir serviks
4. Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi ovum akan terganggu.
Keuntungan KB Pil menurut Handayani (2010) yaitu:
1. Tidak mengganggu hubungan seksual
2. Siklus haid menjadi teratur (mencegah anemia)
3. Dapat digunakam sebagai metode jangka panjang
4. Dapat digunakan pada masa remaja hingga menopouse
5. Mudah dihentikan setiap saat
6. Kesuburan cepat kembali setelah penggunaan pil dihentikan
7. Membantu mencegah: kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker endometrium,
kista ovarium, acne, disminorhea

2.3.2 Kontrasepsi Suntik


Efektivitas kontrasepsi Suntik.Menurut Sulistyawati (2013), kedua jenis kontrasepsi
suntik mempunyai efektivitas yang tinggi, dengan 30% kehamilan per 100 perempuan per
tahun, jika penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.
DMPA maupun NET EN sangat efektif sebagai metode kontrasepsi. Kurang dari 1 per 100
wanita akan mengalami kehamilan dalam 1 tahun pemakaian DMPA dan 2 per 100 wanita
per tahun pemakain NET EN (Hartanto, 2002).
Jenis kontrasepsi Suntik Menurut Sulistyawati (2013), terdapat dua jenis kontrasepsi
suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu :
1. Depo Mendroksi Progesteron (DMPA), mengandung 150 mg DMPA yang diberikan
setiap tiga bulan dengan cara di suntik intramuscular (di daerah pantat).
2. Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat), mengandung 200 mg Noretindron
Enantat, diberikan setiap dua bulan dengan cara di suntik intramuscular (di daerah
pantat atau bokong).
Cara kerja kontrasepsi Suntik menurut Sulistyawati (2013) yaitu:

4
1. Mencegah ovulasi
2. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma
3. Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
4. Menghambat transportasi gamet oleh tuba falloppii.
Keuntungan kontrasepsi Suntik
Keuntungan pengguna KB suntik yaitu sangat efektif, pencegah kehamilan jangka
panjang, tidak berpengaruh pada hubungan seksual, tidak mengandung estrogen sehingga
tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah, tidak
mempengaruhi ASI, efek samping sangat kecil, klien tidak perlu menyimpan obat suntik,
dapat digunakan oleh perempuan usia lebih 35 tahun sampai perimenopause, membantu
mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik, menurunkan kejadian tumor jinak
payudara, dan mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul (Sulistyawati, 2013).

2.3.3 Kontrasepsi Implant


Profil kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:
1. fektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk Jedena, Indoplant, atauImplanon
2. Nyaman
3. Dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi
4. Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan
5. Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut
6. Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak, dan
amenorea
7. Aman dipakai pada masa laktasi.
Jenis kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:
1. Norplant: terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm,
dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 3,6 mg levonorgestrel dan lama kerjanya
5 tahun.
2. Implanon: terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan
diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-Keto-desogestrel dan lama kerjanya 3
tahun.
Keuntungan kontrasepsi implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:
1. Daya guna tinggi
2. Perlindungan jangka panjang
3. Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
4. Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
5. Tidak mengganggu dari kegiatan senggama

5
6. Tidak mengganggu ASI
7. Klien hanya kembali jika ada keluhan
8. Dapat dicabut sesuai dengan kebutuhan
9. Mengurangi nyeri haid
10. Mengurangi jumlah darah haid
11. Mengurangi dan memperbaiki anemia
12. Melindungi terjadinya kanker endometrium
13. Melindungi angka kejadian kelainan jinak payudara

2.3.4 Alat Kontrasepsi IUD


Alat kontrasepsi (IUD) adalah plastik berbentuk T seukuran uang logam yang
ditempatkan di dalam rahim untuk mencegah kehamilan. Tersedia dua jenis IUD satu yang
tertutup dengan tembaga, yang lainnya mengeluarkan hormon progesteron
cara kerja IUD : IUD berlapis tembaga mencegah kehamilan dengan menghalangi sperma
untuk membuahi sel telur. Alat ini juga membuat telur lebih sulit untuk dibuahi di dalam
rahim. Ketika IUD dilapisi dengan progesteron, cara kerjanya sama, tetapi juga tetapi juga
membuat cairan serviks lebih kental, menipiskan lapisan rahim, dan dalam beberapa kasus
menghentikan ovulasi. Hal ini mencegah sperma untuk membuahi telur. Salah satu jenis IUD
progesteron juga bisa digunakan untuk membantu mengurangi aliran darah pada wanita yang
mengalami nyeri menstruasi berat (kadang disebut dismenore).
Efektifitas IUD jenis IUD sangat efektif dalam mencegah kehamilan. Selama beberapa
tahun, hanya 1 dari 100 pasangan yang menggunakan IUD akan mengalami kehamilan.

IUD efektif dari waktu ke waktu dan berlangsung lama. IUD tembaga bisa bertahan hingga
10 tahun. IUD progesteron bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun, tergantung pada merek.
Hal ini membuat IUD pilihan yang baik untuk wanita yang belum siap memulai keluarga.
Walaupun IUD bisa bertahan pada waktu yang lama, ginekologis atau praktisi khusus bisa
mencabutnya kapan saja.

Kemungkinan efek samping

1. perdarahan tidak teratur selama beberapa bulan pertama

2. dengan IUD tembaga, menstruasi akan lebih banyak dan mengalami kram

6
3. menstruasi lebih singkat (atau sama sekali tidak menstruasi) dengan beberapa jenis
IUD progesterone

4. gejala mirip PMS, seperti sakit kepala, jerawat, dan linu pada payudara dengan IUD
hormone

IUD merupakan pilihan KB yang baik bagi hampir semua wanita. Namun, IUD tidak
direkomendasikan bila nda:

menderita penyakit radang panggul atau infeksi penyakit menular seksual aktif

sedang hamil atau mungkin hamil

memiliki masalah dengan rahim seperti penyakit atau malformasi, atau bila
mengalami perdarahan abnormal
Para ahli merekomendasikan IUD sebagai pilihan KB yang baik bagi wanita berusia muda
dan remaja karena mereka bertahan lama, tidak memerlukan perawatan harian, dan sangat
efektif dalam mencegah kehamilan. Jenis terbaru IUD lebih kecil dan penggunaan dosis
rendah progesteron, mungkin membuatnya menjadi pilihan lebih baik bagi wanita yang
belum pernah memiliki bayi.
IUD harus dimasukkan ke dalam rahim oleh dokter atau perawat. Lebih mudah dilakukan
saat mengalami menstruasi, tetapi IUD bisa dimasukkan kapan saja selama tidak hamil. IUD
tembaga perlu diganti setiap 10 tahun, dan IUD progesteron sebaiknya diganti setiap 3-5
tahun, tergantung dengan merek.

2.3.5 Kontrasepsi mantap


pada wanita adalah satu satunya metode kontrasepsi wanita yang permanen. Kontrasepsi
mantap pada wanita biasanya dilakukan dengan menyumbat kedua tuba falopii yang dapat
dicapai baik dengan laparotomi atau mini laparotomi atau, yang lebih sering laparoskopi.
Tubektomi atau sterilisasi adalah cara kontrasepsi permanen dan dipilih jika wanita tidak
ingin hamil. Kontrasepsi mantap pada wanita ditawarkan kepada keluarga yang telah lengkap
setelah berumur 30 tahun dan dapat ditawarkan pada wanita di bawah 30 tahun hanya dalam
keadaan yang sangat. Kontrasepsi mantap adalah cara pengendalian fertilitas yang paling

7
lazim dipakai oleh pasangan umur lebih dari 30 tahun dan adanya rasa takut terhadap resiko
kehamilan pada umur lebih dari 30 tahun. Kontrasepsi mantap adalah upaya untuk
menghentikan fungsi prokreasi, tanpa terdapat gangguan dari fungsi genitalia lainnya.
Kontrasepsi mantap adalah metode kontrasepsi permanen untuk merencanakan masa
reproduksi, metode kontrasepsi ini paling sering digunakan di Amerika Serikat

2.4 Metode Kontrasepsi


2.4.1 Kontrasepsi untuk wanita
1. Metode Mekanis
- Kap serviks (cervical cap)

- Diafragma

- Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / Intra Uterine Device (IUD)

8
2. Metode Hormonal / Kimiawi
- Pil KB

- Suntikan KB

- Implan / Susuk KB

- Spermaticide

9
3. Metode Operatif
- Medis Operatif Wanita ( MOW) / Tubektomi

2.4.2 Kontrasepsi untuk laki-laki :


1. Metode mekanis :
- Kondom KB

10
2. Metode operatif
- Medis Operatif Pria (MOP) / Vasektomi

2.5 Siklus menstruasi


Menstruasi adalah peristiwa pengeluaran darah, lendir dan sisa-sisa sel secara berkala
berasal dari mukosa uterus dan terjadi relatif teratur mulai dari menarche sampai menopause,
kecuali pada masa hamil dan laktasi. lama perdarahan pada menstruasi bervariasi, pada
umumnya 4-6 hari, tapi 2-9 hari masih dianggap fisiologis (Ganong, 2003). Menstruasi
disebabkan oleh berkurangnya estrogen dan progesteron secara tiba-tiba, terutama progesteron
pada akhir siklus ovarium bulanan. Dengan mekanisme yang ditimbulkan oleh kedua hormon
tersebut terhadap sel endometrium, maka lapisan endometrium yang nekrotik dapat dikeluarkan
disertai dengan perdarahan yang normal (Guyton dan Hall, 1996).

2.5.1 Siklus Ovarium


Fase Folikuler

Fase folikuler merupakan bagian dari siklus bulanan wanita. Ini dimulai pada hari
pertama periode menstruasi dimulai dan berakhir segera setelah ovulasi terjadi. Tidak ada
panjang waktu tertentu saat fase folikuler berlangsung. Siklus setiap wanita berbeda, dan
panjang fase ini dapat bervariasi dalam beberapa hari.Beberapa wanita mungkin memiliki
fase folikuler yang berlangsung selama hanya seminggu, sementara untuk orang lain itu

11
mungkin berlangsung selama beberapa minggu. Setelah fase ini berakhir, ovulasi dan fase
luteal biasanya mengikuti sebelum siklus dimulai lagi bulan depan.

Fase Ovulasi

Mengenali pola siklus ovulasi adalah kunci untuk memastikan kapan waktu yang
tepat untuk berhubungan seksual agar bisa segera hamil.Kemungkinan hamil semakin
besar jika Anda melakukan hubungan seks satu hingga dua hari sebelum terjadinya
ovulasi, memiliki pemahaman kapan hal itu terjadi akan membantu Anda mengenali masa
subur.Siklus ovulasi (juga dikenal sebagai siklus haid) memiliki empat tahap: haid atau
menstruasi, fase praovulasi (follicular phase), ovulasi, dan fase luteal.Tubuh wanita
melewati proses sistematis tiap bulannya, di mana haid diikuti dengan pembuatan dan
pelepasan sel telur, uterus bersiap untuk masa subur yang kemudian akan diikuti dengan
kehamilan atau luruhnya lapisan rahim. Dan siklus ovulasi dimulai lagi pada hari pertama
haid.Siklus ovulasi berjalan berdasarkan sistem respons di mana beberapa hormon
dilepas tubuh pada tiap fase yang akan memengaruhi kelenjar lain untuk melepaskan
hormon berbeda, memicu terjadinya fase selanjutnya.Semua berawal dari hipotalamus,
bagian otak yang mengontrol sistem kelenjar endokrin, pemicu lepasnya hormon,
umumnya estrogen dan progesteron, dari kelenjar bawah otak hingga terjadilah siklus
ovulasi.

Fase Luteal

Fase luteal merupakan masa saat ovulasi terjadi hingga hari pertama mens. Ini juga
merupakan masa dimana kemungkinan terjadi kehamilan sangat tinggi. Bila terjadi
pembuahan, janin akan menempel di dinding rahim (implantasi). suatu kondisi yang
dinamakan Luteal Phase Defect ( Fase Luteal Cacat) Banyak wanita tidak menyadari
bahwa mereka memiliki Fase Luteal Cacat sampai mereka mencoba untuk hamil. Fase
luteal yang berlangsung kurang dari 10 hari dapat dikategorikan sebagai fase luteal
cacat. Perlu lebih dari 10 hari dalam fase luteal Anda agar implantasi dapat terjadi dan
dipertahankan. Dengan kurang dari 10 hari, lapisan rahim mulai meruntuhkan diri terlalu
dini tidak siap untuk implantasi yang menyebabkan keguguran dini. Sebagaimana
dinyatakan di atas, banyak perempuan tidak menyadari cacat ini sampai mereka mencoba
untuk hamil, tetapi ada beberapa gejala untuk mencari tahu. Beberapa wanita mungkin

12
mengalami periode sering tapi ringan. Wanita yang melacak ovulasi mereka, mungkin
melihat bahwa setelah ovulasi, suhu tubuh basal mereka tidak meningkat selama fase
luteal (padahal seharusnya suhu tubuh basal meningkat, karena terjadi peningkatan
progesteron setelah ovulasi terjadi).

2.5.2 Siklus Endometrium


Fase Menstruasi

Terjadi pada hari ke-29. Fase ini akan terjadi jika ovum yang dibebaskan oleh
folikel tidak terbuahi oleh spermatozoid, di mana korpus luteum meluruh menjadi korpus
albikans. Korpus albikans akan mensekresi esterogen. Sekresi esterogen menyebabkan
progesterone menurun jumlahnya. Dengan menurunnya kadar progesterone maka dinding
endometerium meluruh bersma-sama dengan ovum. Maka terjadilah menstruasi /
perdarahan. Fase menstruasi tidak akan terjadi jika ovum terbuahi oleh sperma, sebab jika
terjadi pembuahan maka korpus luteum akan mensekresikan hormone Human Chorionic
Gonadotropin [ HCG ] Lama siklus mentruasi adalah berbeda-beda antara wanita satu
dengan wanita lainnya. Apa yang dijelaskan di atas adalah sesuatu yang sifatnya umum.
Fase Proliferasi

Pada fase ini hormon pembebas gonadotropin yang dikeluarkan hipotalamus akan
memacu hipofise untuk mengeluarkan FSH. FSH singkatan dari folikel stimulating
hormon. FSH memacu pematangan folikel dan merangsang folikel untuk mengeluarkan
hormon esterogen. Adanya esterogen menyebabkan pembentukan kembali (poliferasi)
dinding endometrium. Peningkatan kadar esterogen juga menyebabkan serviks untuk
mengeluarkan lendir yang bersifat basa. Lendir ini berfungsi untuk menetralkan suasana
asam pada vagina sehingga mendukung kehidupan sperma.Setelah luka sembuh, akan
terjadi penebalan pada sendometrium 3,5 mm. Fase ini berlangsung dari hari ke-5
sampai hari ke-14 dari siklus menstruasi.

Fase proliferasi dibagi menjadi 3 tahap, yaitu :

1. Fase proliferasi dini, terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-7. Fase ini dapat dikenali
dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel.

13
2. Fase proliferasi madya, terjadi pada hari ke-8 sampai hari ke-10. Fase ini merupakan
bentuk transisi dan dapat dikenali dari epitel permukaan yang berbentuk torak yang
tinggi.

3. Fase proliferasi akhir, berlangsung antara hari ke-11 sampai hari ke-14. Fase ini dapat
dikenali dari permukaan yang tidak rata dan dijumpai banyaknya mitosis.

Fase pramenstruasi atau fase sekresi

Fase ini berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28. Fase ini endometrium kira-kira
tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang berkelok-kelok dan
mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata. Bagian dalam sel endometrium
terdapat glikogen dan kapur yang diperlukan sebagai bahan makanan untuk telur yang
dibuahi.

Fase sekresi dibagi dalam 2 tahap, yaitu :

1. Fase sekresi dini, pada fase ini endometrium lebih tipis dari fase sebelumnya karena
kehilangan cairan.

2. Fase sekresi lanjut, pada fase ini kelenjar dalam endometrium berkembang dan
menjadi lebih berkelok-kelok dan sekresi mulai mengeluarkan getah yang
mengandung glikogen dan lemak. Akhir masa ini, stroma endometrium berubah
kearah sel-sel; desidua, terutama yang ada di seputar pembuluh-pembuluh arterial.
Keadaan ini memudahkan terjadinya nidasi.Disamping itu dalam siklus menstruasi
hormone sangat berpengaruh diantaranya adalah yang dihasilkan gonadotropin
hipofisis yaitu :

a) Luteinizing Hormon (LH) yang dikeluarkan oleh hipotalamus untuk merangsang


hipofisis mengeluarkan LH. LH merupakan glikoprotein yang dihasilkan oleh sel-
sel asidofilik (afinitas terhadap asam), bersama dengan FSH berfungsi
mematangkan folikel dan sel telur, serta merangsang terjadinya ovulasi. Folikel

14
yang melepaskan ovum selama ovulasi disebut korpus rubrum yang disusun oleh
sel-sel lutein dan disebut korpus luteum.

b) Folikel Stimulating Hormon (FSH) yang dikeluarkan oleh hipotalamus untuk


merangsang hipofisis mengeluarkan FSH. FSH merupakan glikoprotein yang
dihasilkan oleh sel-sel basofilik (afinitas terhadap basa). Hormon ini
mempengaruhi ovarium sehingga dapat berkembang dan berfungsi pada saat
pubertas. FSH mengembangkan folikel sprimer yang mengandung oosit primer
dan keadaan padat (solid) tersebut menjadi folikel yang menghasilkan estrogen.

c) Prolaktin Releasing Hormon (PRH) yang menghambat hipofisis untuk


mengeluarkan prolaktin.Berbeda dengan LH dan FSH, prolaktin terdiri dari satu
rantai peptida dengan 198 asam amino, dan sama sekali tidak mengandung
karbohidrat. Secara pilogenetis, prolaktin adalah suatu hormon yang sangat tua
serta memiliki susunan yang sama dengan hormon pertumbuhan (Growth
hormone, Somatogotropic hormone, TSH, Somatotropin). Secara sinergis dengan
estradia, prolaktin mempengaruhi payudara dan laktasi, serta berperan pada
pembentukan dan fungsi korpus luteum

2.5.3 Kehamilan
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan
sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum, dilanjutkan dengan nidasi
atau implantasi. Dihitung dari saat fertilisasi sampai kelahiran bayi, kehamilan normal
biasanya berlangsung dalam waktu 40 minggu. Usia kehamilan tersebut dibagi menjadi 3
trimester yang masing-masing berlangsung dalam beberapa minggu. Trimester 1 selama
12 minggu, trimester 2 selama 15 minggu (minggu ke-13 sampai minggu ke-27), dan
trimester 3 selama 13 minggu (minggu ke-28 sampai minggu ke-40).

2.6 Obat-obatan Kontrasepsi


2.6.2 Exlution
Aspek Informasi Obat Sumber
Komposisi Linestrenol 0,5 mg Iso vol 46
Indikasi Kontrasepsi Oral dechacare.com
Dosis Satu kali sehari satu tablet pada saat yang sama tanpa terputus Medication store
mulai hari pertama siklus haid

15
Penyajian tidak dipengaruhi oleh atau tanpa makanan.

Kontraindikasi Kehamilan - Penyakit hati berat atau riwayat keadaan inijika dechacare.com
hasil tes fungsi hati gagal untuk kembali normal, ikterus
kolestatik, riwayat ikterus kehamilan atau ikterus karena
penggunaan steroid, sindroma rotor dan sindroma Dubin-
Johnson. - Perdarahan vagina yang tidak terdiagnosa. - Riwayat
dari kehamilan tuba atau salpingitis. - Riwayat selama
kehamilan atau sebelum menggunakan steroid dari pruritus berat
atau herpes gestation
Efeksamping Retensi cairan, perubahan berat badan, kelainan saluran www.situsobat.c
pencernaan, sakit kuning kolestatik, sakit kepala, migren, om
perubahan suasana hati, kloasma (keadaan warna kulit wajah
yang berubah setempat menjadi unggu), ruam kulit, perdarahan
intermenstrual, amenorea (tidak haid) setelah pengobatan,
perubahan sekresi serviks, kandidiasis, menurunkan toleransi
glukose, payudara terlalu lembek.
Interaksi obat Dapat terjadi perdarahan yang tidak teratur dan berkurangnya dechacare.com
reliabilitas bila kontrasepsi oral digunakan bersama-sama
dengan obat-obat seperti misalnya anti-epileptik, barbiturat,
rifampisin, karbon aktif dan laxatif tertentu.
Kontrasepsi oral dapat mengurangi toleransi glukosa dan
meningkatkan kebutuhan akan insulin atau obat-obatan
antidiabetika lainnya.
Perhatian Pengobatan harus dihentikan bila tes fungsi hati menjadi tidak dechacare.com
normal
Pemakaian preparat yang mengandung progestogen dapat
mempengaruhi test-test laboratorium tertentu.
Selama pengobatan jangka panjang dengan progestogen,
disarankan untuk melakukan melakukan pemeriksaan medis
periodic.
Mekanisme kerja : Cara kerja obat golongan ini tidak menghalangi ovulasi, tapi bekerja dengan
cara meningkatkan kekentalan lendir di leher rahim, sehingga menghalangi gerak sperma.
Dengan demikian, kemungkinan terjadi kegagalan akan lebih besar dibandingkan dengan obat
kontrasepsi oral lainnya.

KIE
Setelah kelahiran, pemakaian dapat dimulai pada hari pertama haid spontan pertama. Jika
diperlukan untuk dimuali lebih awal, misalnya segera setelah melahirkan, tindakan
pencegahan kontrasepsi tambahan diperlukan selama 14 hari pertama minum tablet.
Setelah keguguran atau aborsi pemakaian harus dimulai dengan segera. Dalam hal ini
tidak diperlukan tindakan tindakan pencegahan kontrasepsi tambahan. (dechacare.com)

16
Farmakodinamik : Mekanisme Aksi Kehamilan dapat dicegah melalui beberapa mekanisme:
Penebalan lendir serviks, yang menghambat sperma melalui dinding; penghambatan ovulasi, dari
mekanisme umpan balik negatif pada hipotalamus, yang menyebabkan berkurangnya follicle
stimulating hormone (FSH) and luteinizing hormone (LH); dan penghambatan implantasi.
Farmakokinetik : Setelah pemberian lynestrenol oral mudah diserap dan kemudian dikonversi
dalam hati menjadi norethisterone aktif secara farmakologi. Dalam waktu 2-4 jam setelah
konsumsi lynestrenol tingkat puncak plasma norethisterone tercapai. Lynestrenol dan
metabolitnya terutama diekskresikan dalam urin, dan pada tingkat lebih rendah dalam tinja .

2.6.3 Mycrogynon
Komposisi: 21 tablet masing-masing mengandung 0,15 mg Levonorgestrel
dan 0,03 mg Etinilestradiol serta 7 tablet plaseb (ISO Indonesia volume 47
hal. 269).

Indikasi: Mencegah kehamilan dan pasca koitus (DIH 17th Edition).

Dosis: Oral: 1 tablet/hari mulai dari hari pertama siklus haid (ISO Indonesia
volume 47 hal.270).

Kontraindikasi: Hipersensitivitas terhadap etinil estradiol, levonorgestrel,


atau komponen lain dalam formulasi ; tromboflebitis atau gangguan
tromboemboli vena; stroke; penyakit cerebral vascular, penyakit arteri
koroner, penyakit jantung, hipertensi yang tidak terkontrol; diabetes mellitus
dengan keterlibatan pembuluh darah; kanker endometrium, disfungsi hati
atau tumor; perdarahan kelamin yang abnormal yang tidak terdiagnosis;
kehamilan (DIH 17th Edition).

Farmakokinetik:

Absorbsi: Rapid
Distribusi: etinilestradiol: 4.3 L / kg; Levonorgestrel: 1,8 L / kg
Protein yang mengikat:
Etinilestradiol: 95% sampai 97% untuk albumin
Levonorgestrel: 97% sampai 99% terutama untuk hormon seks yang
mengikat globulin (SHBG), jumlah yang lebih kecil untuk albumin
Metabolisme:

17
Etinilestradiol: Hati via CYP3A4; mengalami first pass metabolisme;
bentuk metabolit
Levonorgestrel: Bentuk terkonjugasi di metabolit tak terkonjugasi
Bioavailabilitas: etinilestradiol: 38% sampai 48%; Levonorgestrel:
100%
Paruh eliminasi: etinilestradiol: 12-23 jam; Levonorgestrel: 22-49 jam
Ekskresi:
Etinilestradiol: Urine dan feses
Levonorgestrel: Urine (40% sampai 68%, obat induk dan metabolit);
feses (16% sampai 48% sebagai metabolit) (DIH 17th Edition)

Mekanisme: Kombinasi kontrasepsi hormonal menghambat ovulasi melalui


mekanisme umpan balik negatif pada hipotalamus, yang mengubah pola
normal sekresi gonadotropin dari follicle-stimulating hormone (FSH) dan
luteinizing hormone oleh hipofisis anterior. FSH fase folikuler dan gelombang
pertengahan siklus gonadotropin dihambat. Selain itu, kombinasi kontrasepsi
hormonal menghasilkan perubahan dalam saluran kelamin, termasuk
perubahan lendir serviks, sehingga lendir tersebut tidak akan
menguntungkan untuk penetrasi sperma bahkan jika ovulasi terjadi.
Perubahan endometrium juga dapat terjadi, menghasilkan lingkungan yang
tidak menguntungkan untuk nidation. Kombinasi obat kontrasepsi hormonal
dapat mengubah transportasi tuba ovum melalui tuba falopi. Agen
progestasional juga dapat mengubah kesuburan sperma (DIH 17 th Edition).
Microgynon merupakan kombinasi levonorgestrel (progestogen) dan
ethinyloestradiol (estrogen). Bekerja dengan mencegah ovulasi

1. Kadar LH dan FSH ditekan


2. Lonjakan LH pada pertengahan siklus tidak ada
3. Kadar steroid endogen menurun
4. ovulasi tidak terjadi (Goodman & Gilman Manual Farmakologi dan
Terapi, hal. 960)
Efek Samping:

o CV: bradikardia, hipertensi

18
o SSP: Sakit kepala; kegugupan; pusing
o DERM: Dermatitis; jerawat; kulit kepala rambut rontok; nyeri,
gatal atau infeksi di dekat lokasi implan.
o GI: Mual; muntah; perubahan nafsu makan; ketidaknyamanan
perut, perubahan berat badan.
o GU: perdarahan yang tidak teratur, sering, atau hanya sedikit;
bercak; amenore; servisitis; leukorrhea; vaginitis.
o RESP: infeksi saluran pernapasan atas, sinusitis.
o (A to Z Drug Facts)

Interaksi Obat:

Carbamazepine: Mengurangi efektivitas kontrasepsi.


Fenitoin: Mengurangi efektivitas kontrasepsi.
Rifampisin: Kemungkinan mengurangi efektivitas kontrasepsi (A
to Z Drug Facts).

Perhatian:

Kehamilan: Kategori X. Laktasi: diekskresikan dalam ASI (A to Z


Drug Facts).
Merokok meningkatkan risiko efek samping yang serius
kardiovaskular dari kombinasi penggunaan kontrasepsi hormonal
(Medscape).

KIE:

Jelaskan bahwa metode kontrasepsi akan efektif selama 5 tahun;


kapsul harus dihentikan setelah periode itu, tetapi dapat
dihentikan setiap saat yang harus dilakukan oleh dokter.
Mendorong rendah lemak, diet rendah kolesterol.
Ajarkan pasien untuk mengidentifikasi dan melaporkan tanda-
tanda infeksi luka setelah insersi.
Anjurkan pasien untuk memberitahu dokter jika kapsul jatuh.
Anjurkan pasien untuk melaporkan gejala berikut ke dokter:
penyakit kuning, retensi cairan, depresi, perubahan penglihatan,
perdarahan abnormal, dan penambahan berat badan.

19
Tekankan bahwa periode menstruasi yang terlewat bukan
merupakan indikator kehamilan yang akurat.
Jelaskan bahwa ketidakteraturan menstruasi adalah umum,
terutama selama tahun pertama terapi.
2.6.4 Levonorgestrel
Levonorgestrel merupakan obat khusus wanita yang dapat digunakan untuk mencegah
kehamilan. Obat ini bekerja dengan cara menangkal pembuahan telur oleh sperma setelah
berhubungan seksual. Apabila telur tersebut terlanjur terbuahi, maka levonorgestrel mampu
mencegah menempelnya telur pada rahim dengan cara mengubah lapisan organ tersebut.
Komposisi : Hormon progestin
Mekanisme kerja :Secara biologis progestin aktif yang mengubah endometrium proliferasi ke
sekretori endometrium dan menghambat sekresi gonadotropin hipofisis, mencegah pematangan
folikel dan ovulasi.
Indikasi : Mencegah kehamilan
Kontraindikasi
Hipersensitivitas pada levonogestrel atau komponen dalam formulasi, kehamilan
- Subedermal implan : pada kelainan tromboembolis, perdarahan kelamin yang abnormal
yang tidak terdiagnosis; yang diketahui atau dicurigai kehamilan; penyakit hati akut;
tumor hati jinak atau ganas; diketahui atau diduga karsinoma payudara
- Alat kontrasepsi : Kehamilan atau kecurigaan kehamilan; Penyakit akut radang panggul
(PID) kecuali telah terjadi kehamilan intrauterin berikutnya; endometritis postpartum
atau keguguran yang terinfeksi di 3 bulan terakhir; perdarahan kelamin demgan etiologi
tidak diketahui; servisitis akut yang tidak diobati atau vaginitis, termasuk vaginosis
bakteri atau infeksi saluran lainnya lebih rendah genital sampai infeksi dikendalikan;
kondisi yang berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap infeksi dengan
mikroorganisme. (contohnya : leukimia, AIDS, penggunaan obat secara IV). Sebelumnya
menggunakan IUD yang belum diganti. Riwayat kehamilan ektopik atau kondisi yang
akan mempengaruhi kehamilan ektopik; hipersensitivitas terhadap komponen produk ini.

Dosis :
- Kontrasepsi darurat : tablet pertama oral 0,75 mg 1 tablet secepatnya dalam 72 jam
hubungan seksual tanpa kondom. Tablet kedua 0,75 mg harus diambil 12 jam setelah
dosis pertama; dapat digunakan setiap saat selama siklus menstruasi.
- Dewasa : Subdermal 6 kapsul dimasukkan ke dalam midportion dari lengan atas selama
7 hari pertama dimulainya menstruasi. Ganti setelah 5 tahun pemakaian
- Alat kontrasepsi
Dewasa : Masukkan ke dalam rongga rahim dalam waktu 7 hari dari mulainya menstruasi
atau segera setelah kegugurandi trimester pertama. Ganti setelah 5 tahun.
Efek samping :

20
Alat kontrasepsi :
Kardiovaskular :>5% hipertensi, kepala pusing, depresi, gelisah.
Dermatologi : jerawat
Sistem endokrin dan metabolisme : sakit pada payudara, dismenore, penurunan libido,
amenore (20% di tahun pertama), folikel membesar (12%), kista ovarium
GIT : nyeri pada perut, mual, penambahan berat badan
Tablet oral :
>10% SSP : 17% kelelahan, 17% sakit kepala, 17% pusing
Endokrin dan metabolisme : 14% perdarahan berat saat menstruasi
GIT : 23% mual, 18% sakit perut, 1-10% muntah, 5% diare

Interaksi
Karbamazepin : dapat mengurangi efek kontrasepsi
Fenitoin : dapat mengurangi efek kontrasepsi
Rifampin : sangat mungkin dapat mengurangi efek kontrasepsi.
Griseofulvin : dapat mengurangi efek kontrasepsi. Kemungkinan akan terjadi kegagalan
kontrasepsi
Perhatian : Kehamilan kategori X, laktasi diekskresikan melalui ASI. Folikel dapat tumbuh dari
ukuran biasanya dan dapat menyebabkan kista pada ovarium
Sumber : A to Z drug Facts, Drug Information Handbook 17th edition

2.6.4 Diane 35
Komposisi : Siproteron 2 mg, etinilestradiol 0,035 mg ( ISO vol 47)

Indikasi : Pengobatan pada dengan jerawat parah, tidak responsif terhadap terapi lain, dengan
gejala yang terkait dari androgenisasi (termasuk hirsutisme ringan atau seborrhea). Tidak boleh
digunakan semata-mata untuk kontrasepsi; Namun, akan memberikan kontrasepsi diandalkan
jika digunakan seperti yang direkomendasikan untuk indikasi yang disetujui. ( DIH, Ed 17th)

Dosis : Jerawat: Oral: Satu tablet sehari selama 21 hari, diikuti dengan periode istirahat selama 7
hari; siklus pertama harus dimulai pada hari pertama menstruasi. Terapi berhenti 3-4 siklus
setelah gejala hilang. (DIH, Ed 17th)

Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap etinil estradiol, cyproterone, atau komponen lain


dalam formulasi; sedang atau pernah mengalami proses tromboembolik pada arteri atau vena;
penyakit cerebral vascular, penyakit arteri koroner, penyakit jantung katup dengan komplikasi,
hipertensi berat (DIH, Ed 17th)

21
Efek Samping : Sakit kepala, gangguan lambung, mual, rasa tertekan pada payudara, perubahan
berat badan & libido, perdarahan intermenstrual, depresi suasana hati, kloasma.
(Medicastore.com)

Perhatian : Kehamilan factor resiko X; Pertimbangan Kehamilan harus dikesampingkan


sebelum pengobatan dan dihentikan jika kehamilan terjadi; Laktasi: tidak direkomendasikan.
(DIH, Ed 17th)

Farmakodinamik/Kinetik
Cyproterone Acetate
Penyerapan : Oral: cepat dan lengkap
Metabolisme : Hati, beberapa metabolit memiliki aktivitas

Paruh eliminasi : Oral: 38 jam; injeksi: 4 hari, Waktu puncak, plasma: Oral: 3-4 jam.

injeksi : 3 hari

Ekskresi : Urin (35%, sebagai metabolit); feses (60%) (DIH, Ed 17th)

Ethinyl estradiol

Absorpsi
Oral etinilestradiol cepat diserap. Konsentrasi serum puncak sekitar 80 pg / ml dicapai dalam
waktu 1-2 jam. Selama penyerapan etinilestradiol dimetabolisme secara luas, sehingga rata-rata
bioavailabilitas sekitar 45% dengan besar variasi antar sekitar 20-65%.

Distribusi
proses distribusi sangat tinggi tapi tidak secara khusus terikat dengan albumin serum (sekitar
98%), dan menginduksi peningkatan konsentrasi serum SHBG. Volume jelas distribusi sekitar
2,8-8,6 l / kg yang dilaporkan.

Metabolisme
Metabolisme etinilestradiol tergantung pada konjugasi sistemik kedua ion dalam mukosa kecil
dan usus dan hati. Etinilestradiol terutama dimetabolisme oleh hidroksilasi aromatik. Tingkat
clearance dilaporkan menjadi 2.3- 7ml / min / kg.

Eliminasi

22
Etinilestradiol serum menurun dalam dua tahap disposisi, ditandai dengan waktu paruh masing-
masing sekitar 1 jam dan 10-20 jam. Obat dalam bentuk aktif tidak diekskresikan, metabolit
etinilestradiol diekskresikan pada urin dengan rasio empedu dari 4: 6. Waktu paruh ekskresi
metabolit adalah sekitar 1 hari. (DIH, Ed 17th)

Mekanisme Kerja
Etinil estradiol : Estrogen bertanggung jawab untuk pengembangan dan pemeliharaan
sistem reproduksi wanita dan karakteristik seksual sekunder. Estrogen memodulasi
sekresi pituitary gonadotropin, hormon luteinizing, dan merangsang kantong hormon
melalui sistem umpan balik negatif. Estrogen meningkatkan kadar hormon seks pengikat
globulin (SHBG) dan dapat mengurangi tingkat androgen terikat. Etinil estradiol
merupakan turunan sintetis dari estradiol. Penambahan kelompok etinil mencegah
degradasi cepat oleh hati.

Siproteron : senyawa steroid dengan antiandrogenik, aktivitas antigonadotropik dan


aktivitas seperti progestin. ( DIH, Ed 17th)

2.6.6 Cycloproginova
Kandungan: estradiol valerat 2 mg dan norgestrel 0,5 mg
komposisi
Satu pack berisi 11 tablet ( putih ) dengan 2 mg estradiol valerat dan 10 tablet (light brown)
dengan estradiol valerat 2 mg dan 0,5 mg norgestrel.
tindakan terapeutik Hormon produk untuk pengobatan efek kegagalan ovarium.
indikasi Sindrom perimenopause , gejala kekurangan setelah ovariektomi atau pengebirian oleh
iradiasi untuk gangguan non-kanker, amenore primer dan sekunder (setelah tidak termasuk
kemungkinan kehamilan ; di amenore sekunder di awal setelah 8 minggu dari periode menstruasi
terakhir), lainnya gangguan menstruasi .
arahan :Pada siklus pertama dari salah satu tablet per hari ke-5 sampai hari ke-25 dari siklus
kemudian 7 hari istirahat, karena akan mulai mengikuti administrasi foil. Dalam kasus amenore
dapat mulai kapan saja.
Peringatan: terapi tidak diperbolehkan untuk menginstal tugas.
Aksi: Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan sistem reproduksi wanita dan karakteristik
seks sekunder; mempengaruhi pelepasan gonadotropin hipofisis; menghambat ovulasi dan

23
mencegah postpartum payudara pembengkakan; menghemat kalsium dan fosfor dan mendorong
pembentukan tulang; menimpa efek stimulasi dari testosteron.
Indikasi: Manajemen sedang sampai gejala vasomotor parah terkait dengan menopause,
hipogonadisme perempuan, pengebirian perempuan, kegagalan ovarium
primer, pembengkakan payudara pasca melahirkan dan kondisi atrofi
disebabkan oleh produksi endogen estrogen kekurangan; uretritis atrofi;
pengobatan paliatif dari payudara metastatik atau kanker prostat pada
wanita dan laki-laki yang dipilih; pencegahan dan pengobatan osteoporosis;
perdarahan uterus abnormal karena ketidakseimbangan hormon dalam
ketiadaan patologi organik dan hanya jika terkait dengan hipoplasia atau
endometrium atrofi.
Kontraindikasi: sKanker payudara (kecuali pada pasien yang dirawat karena penyakit
metastasis); estrogen-dependent neoplasia; perdarahan kelamin yang abnormal yang tidak
terdiagnosis; tromboflebitis atau gangguan tromboemboli yang terkait dengan penggunaan
estrogen sebelumnya; diketahui atau diduga hamil.

Gejala vasomotor

ESTRADIOL: DEWASA: PO 1 sampai 2 mg / hari, menyesuaikan diri dengan mengontrol


gejala; Terapi siklik dianjurkan. Transdermal 0,025-0,1 mg / hari. Mulailah dengan 0.025 sistem
mg diterapkan pada kulit dua kali seminggu dan menyesuaikan dosis yang diperlukan untuk
mengontrol gejala. Valerat INJEKSI: DEWASA: IM 10 sampai 20 mg q 4 minggu. INJEKSI
Cypionate: DEWASA: IM 1 sampai 5 mg q 3 sampai 4 minggu. Etinil estradiol: DEWASA: PO
0,02-1,5 mg / hari siklis.

Hipogonadisme perempuan

ESTRADIOL: DEWASA: PO 1 sampai 2 mg / hari, menyesuaikan diri dengan mengontrol


gejala, terapi siklik direkomendasikan. Transdermal 0,025-0,1 mg / hari. Mulailah dengan 0.025
sistem mg diterapkan pada kulit dua kali seminggu dan menyesuaikan dosis yang diperlukan
untuk mengontrol gejala. Valerat INJEKSI: DEWASA: IM 10 sampai 20 mg q 4 minggu
diberikan siklis. Cypionate INJEKSI: DEWASA: IM 1,5 sampai 2 mg q mo diberikan siklis.

24
Etinil estradiol: DEWASA: PO 0,05 mg 1 sampai 3 kali / hari selama pertama 2 minggu dari
siklus menstruasi teoritis. Berikan siklis.

Vulva / vagina Atrofi Terkait dengan Menopause, Perempuan Pengebirian, Kegagalan


ovarium Primer

ESTRADIOL: DEWASA: PO 1 hari 2 mg; menyesuaikan diri dengan mengontrol gejala; Terapi
siklik dianjurkan. Transdermal 0,025-0,1 mg / hari. Mulailah dengan 0.025 sistem mg
diterapkan pada kulit dua kali seminggu dan menyesuaikan dosis yang diperlukan untuk
mengontrol gejala. Berikan terus menerus pada wanita tanpa uterus utuh; sebaliknya memberikan
siklis.

Intravaginal Insert 2 sampai 4 g / hari selama 1 sampai 2 minggu. Cincin: 2 mg dirilis harian
secara bertahap selama 90 hari. Valerat INJEKSI: DEWASA: IM 10 sampai 20 mg q 4 minggu.

prostatic Karsinoma

ESTRADIOL: DEWASA: PO 1 sampai 2 mg tid. Valerat INJEKSI: DEWASA: IM 30 mg atau


lebih q 1 hingga 2 minggu. Etinil estradiol: DEWASA: PO 0,15-2 mg / hari.

Kanker payudara

ESTRADIOL: DEWASA: PO 10 mg tid untuk 3 mo. Etinil estradiol: DEWASA: PO 1 mg tid.

Pencegahan osteoporosis

ESTRADIOL: DEWASA: PO 0,5 mg / hari (3 minggu, 1 minggu off). Transdermal 0,025-0,1


mg / hari. Mulailah dengan 0.025 sistem mg diterapkan pada kulit dua kali seminggu dan
menyesuaikan dosis yang diperlukan untuk mengontrol gejala.

Payudara Pembesaran Pencegahan

Valerat INJEKSI: DEWASA: IM 10 sampai 25 mg pada akhir tahap pertama persalinan.

interaksi

25
Antidepresan, trisiklik: Estradiol dapat mengubah efek dan meningkatkan toksisitas agen ini.
Barbiturat, rifampin: Dapat menurunkan konsentrasi estradiol. Kortikosteroid: Peningkatan efek
farmakologis dan toksikologi dari kortikosteroid dapat terjadi. Hydantoins: Kehilangan kontrol
kejang atau penurunan efek estrogenik mungkin terjadi.

kewaspadaan

Kehamilan: Kategori X. Laktasi: diekskresikan dalam ASI. Anak-anak: Keamanan dan


kemanjuran tidak didirikan. Kalsium dan fosfor metabolisme: Gunakan obat dengan hati-hati
pada pasien dengan penyakit tulang metabolik. Retensi cairan: Gunakan obat dengan
pengamatan yang cermat ketika kondisi yang mungkin akan terpengaruh oleh faktor ini hadir
(misalnya, asma, disfungsi jantung atau ginjal, epilepsi). Penyakit kandung empedu: Resiko
penyakit kandung empedu dapat meningkatkan pada wanita yang menerima estrogen
pascamenopause. Gangguan hati: Metabolisme mungkin terganggu; menggunakan obat dengan
hati-hati. Induksi neoplasma ganas: Dapat meningkatkan risiko endometrium atau karsinoma
lainnya. Familial hyperlipoproteinemia: Mungkin berhubungan dengan peningkatan besar
trigliserida plasma. Uterine leiomyomata: sudah ada sebelumnya leiomyomata rahim dapat
meningkatkan ukuran selama penggunaan estrogen. Sensitivitas tartrazine: Beberapa produk
mengandung tartrazine, yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada pasien yang rentan.
Administrasi dilawan estrogen (misalnya, tanpa progesteron): resiko Meningkatkan kanker
rahim. Karena itu, ketika menggunakan estrogen secara jangka panjang pada wanita dengan
rahim utuh, pertimbangkan terapi siklik dengan progesteron (misalnya, estrogen pada hari 1
sampai 25 dari mo dengan progesteron ditambahkan selama 12 hari terakhir) atau pemberian
bersamaan harian estrogen plus progesteron pada hari dasar. Pada wanita tanpa uterus,
penggunaan terapi siklik dan / atau terapi dengan progesteron tidak diperlukan.

2.6.7 Pyridoxine (vit b6)


Aspek Informasi Obat Pustaka
Komposisi 1. Piridoksin Global Multi Pharmalab ISO Vol 48 Hal 586
Piridoksin HCl 10 mg
2. Pyridoxine Soho
Vitamin-B6 25 mg
Indikasi Defisiensi piridoksin (Vit b6), termasuk diet yang A to Z
tidak memadai. Penggunaan berlabel (s):
Pengobatan keracunan hidrazin, PMS,

26
hiperoksaluria type I, mual dan muntah dalam
kehamilan, anemia sideroblastik terkait dengan
besi serum yang tinggi, carpal tunnel syndrome,
tardive dyskinesia.
Dosis Dewasa : sehari 50-100 mg ISO vol 48 Hal 586
Anak : dosis menyesuaikan umur, dianjurkan
diberikan bersama makanan

Recommended daily allowance (RDA): DIH ed 17


Laki-laki: 1,7-2,0 mg
Perempuan: 1,4-1,6 mg
Kontraindikasi Hipersensitif terhadap komponen pyridoxine atau DIH ed 17
formulasi
Efek samping Neuropati, kantuk, mati rasa kaki; penurunan A to Z
sensasi untuk menyentuh, suhu atau getaran;
paresthesia; serum rendah kadar asam folat;
Interaksi obat Cycloserine, INH, hydralazine, kontrasepsi A to Z
oral, penicillamine: Peningkatan kebutuhan
untuk piridoksin.
Levodopa: Penurunan efek levodopa.
(Interaksi tidak terjadi dengan levodopa /
carbidopa dalam kombinasi dengan
pyridoxine.)
Fenitoin: kadar serum fenitoin mungkin
akan menurun.
Parenteral: tidak kompatibel: Tidak
kompatibel dengan larutan alkali, garam
besi dan agen pengoksidasi.
Perhatian Kehamilan: Kategori A. (Kategori C dalam dosis A to Z
yang melebihi RDA.)
Laktasi: diekskresikan dalam ASI; dapat
menghambat laktasi.
Anak-anak: Keamanan dan kemanjuran tidak
didirikan dalam dosis melebihi kebutuhan gizi

Assesement (a to z)
1. Apakah terdapat tanda-tanda kekurangan vitamin b6? Seperti kejang, anemia, mual,
muntah, dermatitis?
KIE (a to z)
1. Obat ditelan secara utuh, tidak boleh di gerus
2. Sarankan makanan yang tinggi kandungan vitamin b6 nya, seperti sereal gandum,
daging, kentang, sayuran hijau
3. Obat disimpan pada suhu kamar dalam wadah tertutup rapat, terhindar dari cahaya
Mekanisme aksi (DIH ed 17)

27
Prekursor untuk piridoksal, yang berfungsi dalam metabolisme protein, karbohidrat, dan
lemak; piridoksal juga membantu dalam pelepasan hati dan glikogen otot-disimpan dan
dalam sintesis GABA (dalam sistem saraf pusat) dan heme
Farmakodinamik / Kinetics
Penyerapan: Enteral, parenteral: diserap dengan baik
Metabolisme: Via asam 4-pyridoxic (bentuk aktif) dan metabolit lainnya
Paruh eliminasi: 15-20 hari
Ekskresi: Urin
(DIH ed 17)
2.7 DRP

2.8 Pengertian kondom dan kegunaannya

Kondom merupakan alat kontrasepsi yang digunakan saat berhubungan seksual, untuk
menghindari terjadinya kehamilan. Kondom paling banyak digunakan oleh para pria. Namun,
sekarang ini banyak pula wanita yang menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Selain
dapat mencegah kehamilan, penggunaan kondom pun berfungsi untuk menghindari seseorang
dari penyakit menular seksual, seperti HIV.

Cara kerja kondom wanita sama dengan cara kondom lelaki, yaitu mencegah sperma
masuk ke dalam alat reproduksi wanita. Manfaat, keterbatasan maupun efek samping yang
ditimbulkan kondom wanita, hampir sama dengan kondom lelaki. Tingkat efektifitas kondom

28
wanita akan tinggi, apabila cara menggunakannya benar. Angka kegagalan kontrasepsi kondom
sangat sedikit yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun.

29
Cara Menggunakan Kondom Pria

1. Pastikan kondom yang dimiliki tidak kadaluwarsa. Kondom yang kadaluwarsa tentu tidak
berfungsi lagi. Kondom bisa disimpan hingga lima tahun. Jika lebih dari itu, kondom
akan kehilangan efektivitasnya. Sebelumnya, simpan kondom di tempat yang lapang.
Sebaiknya jangan menyimpan kondom di dompet atau tempat sempit yang banyak
mengalami gesekan. Hal tersebut akan meningkatkan potensi kondom untuk sobek atau
bocor.
2. Buka bungkus kondom dengan hati-hati tanpa menggunakan benda tajam; silet,
gunting, cutter,dan sebagainya. Bukalah bungkus dari pinggir dengan menggunakan jari.
Membuka bungkus kondom di bagian tengah bisa membuat kondom sobek
3. Pasang kondom ketika mulai ereksi.
4. Pastikan kondom tidak bocor. Tiup dan gembungkan sedikit untuk mengecek apakah
kondom bocor atau tidak.
5. Pemakaian kondom yang benar dimulai dari ujung dengan menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk secara perlahan hingga ke pangkal. Usahakan tidak menyentuh kuku. Caranya
adalah dengan menggulung kondom ke bawah, jepit ujung kondom dan gulung ke bawah
hingga ke pangkal penis. Ujung kondom yang dijepit tersebut berguna sebagai tempat
sperma saat ejakulasi.

30
6. Apabila diperlukan, dapat menambahkan pelumas yang berbahan dasar air. Jangan
oleskan cairan yang sembarangan karena bisa merusak lateks dan membuat resiko
kondom untuk sobek.

Cara Melepaskan Kondom

1. Jauhkan kondom dari vagina, agar sperma tidak menetes ke vagina ketika kondom
dilepas.
2. Lepaskan kondom dari pangkal dengan menggulungnya hingga ke ujung.
3. Lepas kondom perlahan dengan memutar agar sperma tidak tumpah.
4. Setelah pemakaian kondom, masukkan ke dalam wadah yang tidak terlihat seperti plastik
dan kertas tebal, kemudian buang ke tempat sampah.

Cara Menggunakan Kondom Wanita

31
1. Buka kemasan kondom secara hati-hati dari tepi, dan arah robekan ke arah tengah.
Jangan menggunakan gigi, benda tajam saat membuka kemasan

2. Sebelum hubungan seksual, perhatikan kondom wanita. Kondom wanita punya ring yang
lebar (outer ring) untuk bagian luar dan ring yang kecil (inner ring) untuk bagian dalam.

3. Pegang inner ring kondom, lalu tekan dengan ibu jari pada sisi ring, dan dengan jari lain
pada sisi yang berseberangan, kemudian tekan sehingga sisi ring yang berseberangan
akan bersentuhan dan bentuk inner ring menjadi lonjong.

4. Atur posisi yang nyaman. Posisi dapat dilakukan secara berdiri satu kaki di atas kursi,
jongkok maupun berbaring.

5. Masukkan inner ring ke dalam vagina dengan hati-hati. Sewaktu kondom masuk ke
dalam vagina, gunakan jari telujuk untuk menekan inner ring lebih jauh ke dalam vagina.
Pastikan kondom jangan sampai berputar, dan outer ring (ring yang besar) tetap berada di
luar.

6. Berikan sedikit minyak pelicin pada penis atau bagian dalam kondom. Bantu penis masuk
ke dalam kondom

7. Pasca coitus, keluarkan kondom secara hati-hati dengan memutar bagian outer ring untuk
menjaga air mani yang tertampung di dalam kondom tidak tumpah. Keluarkan kondom

32
secara hati-hati. Buang kondom bekas pakai ke tempat yang aman (tempat sampah).
Jangan buang di toilet

Cara Meminum Pil KB

Pil KB (Keluarga Berencana) atau bahasa lebih umumnya dikenal dengan istilah pil
kontrasepsi merupakan preparat hormon untuk mencegah atau menunda kehamilan. Para ahli
memperkirakan bahwa pil KB akan efektif hingga 99 persen mencegah kehamilan apabila
digunakan dengan tepat. Ingat, harus tepat penggunaannya yaitu benar cara minum pil KB nya,
kapan memulainya, kapan minumnya, dan harus konsisten.

Mengenal Jenis-Jenis pil KB

Pil KB ada banyak macamnya, namun terutama dibagi menjadi dua, yaitu pil KB
Kombinasi (mengandung preparat hormon estrogen dan progesteron) dan pil KB tunggal (hanya
mengandung preparat hormon progesteron). Mengenai kemasan atau sediaan juga ada dua
macam, yaitu satu blister berisi 21 tablet dan 28 tablet. Perbedaannya, 21 tablet merupakan
bahan aktif semua, sedangkan yang 28 tablet terdiri dari 21 tablet bahan aktif dan 7 tablet sisanya
merupakan bahan tak aktif disebut plasebo (hanya berisi tepung, dsb.) fungsinya untuk pengingat
agar setiap hari minum. Dengan demikian, cara minum pil KB nya akan seperti berikut ini: Pada
kemasan yaang berisi 21 tablet, diminum setiap hari dari awal hingga hari ke 21, setelah itu libur
atau tidak minum pil KB selama 7 hari sebelum mengambil blister yang baru.Sedangkan pada
sediaan satu blister berisi 28 tablet minum terus hingga habis (tidak ada libur), dan langsung
mengambil blister yang baru.

Cara Mulai Minum Pil KB

Waktu terbaik untuk memulai menggunakan pil KB kombinasi adalah saat terjadinya
menstruasi, yaitu pada rentang waktu hari pertama menstruasi sampai hari kelima. Dengan cara
seperti ini, maka ketika sudah selesai menstruasi akan terlindungi dari kehamilan (kontrasepsi
langsung bekerja). Boleh juga mulai minum pil KB kombinasi kapan saja selain waktu di atas,
namun efek kontrasepsi tidak bekerja saat itu juga, sehingga harus menggunakan metode
kontrasepsi cadangan selama seminggu, misalnya menggunakan kondom untuk suami, kondom
wanita, diafragma, dan sebagainya atau tidak melakukan hubungan selama seminggu pertama.
Bagi ibu yang baru melahirkan atau sedang menyusui biasanya diresepkan pil progestin-only

33
khusus menyusui, atau disebut minipill. Pil ini bisa mulai digunakan setiap saat, tetapi perlu
menggunakan alat kontrasepsi tambahan selama dua hari sesudahnya.

Cara Minum Pil KB Sehari-hari

Cara terbaik dalam minum pil KB adalah menggunakan waktu yang sama setiap hari
untuk memaksimalkan efektivitasnya. Sebagai contoh jika pertama kali minum jam 7 malam,
maka sebaiknya gunakan waktu itu setiap hari. Dengan cara ini, tubuh akan terbiasa menerima
dorongan hormonal yang sama secara teratur. Selain itu, dapat membantu agar ibu selalu ingat,
terutama jika melakukannya beriringan dengan rutinitas sehari-hari misalnya setiap pagi setelah
menyikat gigi atau malam setiap sebelum tidur.

Bagaimana jika lupa?

Jika lupa jamnya saja sehingga tidak sama, maka boleh tetap minum asalkan tidak lebih
dari 12 jam. Jika terlupa 1 hari (24 jam) maka masih boleh minum langsung 2 tablet pada saat
ingat. Jika lupa lebih dari 24 jam (1 hari) bisa saja dilanjutkan minum pil KB ketika ingat. Tapi
ingatlah bahwa efektifitas pil KB akan berkurang sehingga pada kasus seperti ini diperlukan
tambahan metode kontrasepsi lain seperti kondom atau tidak melakukan hubungan selama
seminggu pertama.

Apa sajakah efek samping pil KB ?

Beberapa orang mengalami efek ringan seperti mual, nyeri payudara, perubahan berat
badan, sakit kepala ringan, pusing, atau ngeflek (spotting) selama tiga bulan pertama
menggunakan pil KB. Efek samping tersebut biasanya akan hilang dalam waktu tiga bulan
pertama minum pil KB. Jika gejala ini berlanjut setelah tiga bulan, maka kembalilah ke dokter
untuk tidak melanjutkannya.

34
DAFTAR PUSTAKA
A To Z Drugs Fact
Drug Information Handbook 7th Ed
http://www.sfatulmedicului.ro/medicamente/cyclo-proginova-drajeuri_8280

http://www.obs.com.pk/files/Orgametril.pdf

https://hellosehat.com/alat-kontrasepsi-semua-yang-perlu-kamu-tahu-tentang-iud/

Nancy, JA. 1999. Contraception : Present and Future.Medical Journal of Indonesia. Vol. 8:
No. 1 .
Prawirohardjo, S., 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Mochtar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta, EGC
BKKBN, 1999. Informasi pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: BKKBN.
Ritonga, Abdurrahman dkk. 2003. Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Cetakan Kedua.
Jakarta : Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Affandi, Biran, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta:Yayasan Bina Pustaka,
2006.
BKKBN. 2009. Jumlah Peserta KB aktif.
https://meetdoctor.com http://doktersehat.com
https://carapedia.com
Cara Benar Minum Pil KB | Mediskus.com

35