Anda di halaman 1dari 4

1

KARAKTERISTIK KEBUDAYAAN
1

Kebudayaan yang bersifat paradoksal telah dimaklumi, yaitu:


1. kebudayaan merupakan pengalaman universal umat manusia, tetapi
manifestasi lokal dan regionalnya bersifat unik
2. kebudayaan bersifat stabil, tetapi juga bersifat dinamis dan memperlihatkan
perobahan yang terus menerus dan tetap.
3. Kebudayaan mengisi dan menentukan jalan hidup kita, tetapi kebudayaan
tersebut jarang mengusik alam sadar kita
Kebutuhan dasar adalah kondisi-kondisi lingkungan dan biologis yang
harus dipenuhi bagi kesinambungan hidup individu dan masyarakat. Malinowski
mengemukakan adanya 7 macam basic needs yaitu :
a. Metabolisme
b. Reproduksi
c. Kesenangan tubuh
d. Keamanan
e. Gerakan
f. Pertumbuhan
g. Kesehatan.
Kebutuhan dasar ini akan dipenuhi dalam bentuk respons, budaya
penyediaan makanan, kekerabatan, perlindungan, aktifitas, pendidikan dan
higieni.
Pola respon yang tersandar ini biasanya ddinamakan institusi budaya atau
institusi sosial. Institusi budaya atau institusi sosial secara ringkas dapat
didefenisikan sebagai perilaku terpola yang digunakan oleh suatu masyarakat
untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar. Antropologi mengenal paling kurang
delapan institusi, yaitu kekerabatan, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan,
estetika dan rekreasi, politik, kesehatan, jasmani, dan agama. Semua kebudayaan
berbagai masyarakat yang ada di muka bumi ini mempunyai unsur-unsur yang
universal, yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial,
sistem pengetahuan, sistem religi, dan sistem kesenian.
Kebudayaan memiliki sifat yang paradoksal, yaitu stabil dan dinamis.
Unsur-unsur dan institusi-institusi budaya biasanya bertahan dan stabil untuk
beberapa waktu. Tetapi kontak budaya dan perubahan lingkungan akan
menyebabkan terjadinya perubahan. Kontak budaya akan menyebabkan terjadinya
proses akulturasi atau pinjam-meminjam unsur-unsur kebudayaan. Kemudian juga
menciptakan elemn baru yang akan memperkaya suatu kebudayaan. Sifat
2

paradoksal lainnya dari kebudayaan yaitu bahwa kebudayaan mengisi kehidupan


sehari-hari, tetapi jarang untuk dipertanyakan.
G.F. Kneller mengemukakan beberapa sifat dari kebudayaan, yaitu:
1. Organik, karena kebudayaan berakar pada organisme manusia dan karena tanpa
manusia berpikir, merasa dan membuat benda-benda lainnya maka tidak akan
ada kebudayaan.
2. Superorganik, karena kebudayaan hidup berkesinambungan melampaui
generasi tertentu dan karena isinya lebih merupakan karya manusia dari pada
hasil unsur biologis.
3. Overt (terlihat), dalam bentuk tindakan-tindakan dan benda-nemda serta
pembicaraan yang dapat diamati secara langsung.
4. Covert (tersembunyi), dalam berbagai sikap dasar terhadap alam dan dunia
makhluk halus yang mesti diinterpretasikan dari apa yang dikatakan dan
dilakukan anggota-anggota suatu masyarakat.
5. Eksplisit, terdiri dari semua cara bertindak yang dapat tergambar secara
langsung dari orang-orang yang melaksanakannya
6. Implisit, terdiri dari hal-hal yang dianggap telah diketahui dan hal-hal tersebut
tak dapat diterangkan.
7. Ideal, terdiri dari cara-cara bagaimana segala sesuatunya harus dilakukan, atau
cara-cara berbuat yang disetujui secara umum, atau cara-cara yang benar dalam
mengerjakan sesuatu.
8. Manifes

Kebudayaan bersifat stabil tetapi juga berubah, logis bahwa sebenarnya


masing-masing kualitas mengandung hal-hal yang berlawanan, karena perubahan
hanya dapat diukur terhadap elemen-elemen budaya yang berubah dengan cepat.
Murdock mengidentifikasikan beberapa karakteristik kebudayaan yang
bersifat universal, antara lain:
1. Kebudayaan dipelajari dan bukan bersifat instingtif, karena itu kebudayaan
tak dapat dicari asal usulnya dari gen atau kromosom.
2. Kebudayaan ditanamkan, generasi baru tak punya pilihan tentang kurikulum
kebudayaan. Hanya manusia yang bisa menyampaikan warisan sosialnya dan
anak cucunya hanya dapat menyerapnya bukan merubahnya.
3. Kebudayaan bersifat sosial dan dimiliki bersama oleh manusia dalam
berbagai masyarakat yang terorganisir.
3

4. Kebudayaan bersifat gagasan (ideational), kebiasaan-kebiasaan kelompok


dikonsepkan atau diungkapkan sebagai norma-norma ideal atau pola-pola
perilaku.
5. Kebudayaan memuaskan individu-individu, memuaskan kebutuhan-
kebutuhan biologis dan kebutuhan-kebutuhan ikutan atau yang secara budaya
didefinisikan.
6. Kebudayaan bersifat integratif, selalu ada tekanan kearah konsistensi dalam
setiap kebudayaan, kalau tidak maka konflik akan dengan cepat
menghancurkannya. Kebudayaan yang terintegrasi dengan baik mempunyai
kepaduan sosial diantara institusi-institusi dan kelompok-kelompok sosial
yang mendukung kebudayaan tersebut.