Anda di halaman 1dari 23

GEOLOGI INDONESIA

Perkembangan Tektonik Lempeng di Sumatera

Disusun Oleh

Vita R. U. Borlak 2014-69-004

Fajar K. Rohmala 2014-69-004

Cattlea B. Rumbekwan 2014-69-015

Nelly N. Ayorbaba 2014-69-018

Pemes Maling 2014-69-039

Brayen E. Mandowen 2014-69-043

Program Studi S1 Teknik Geologi

Jurusan Teknik Geologi

Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan

Universitas Papua

Manokwari

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu
lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia
bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan
Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di
sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul
sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan
energi sehingga lepas berupa gempa bumi.
Pertemuan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia di selatan Jawa hampir
tegak lurus, berbeda dengan pertemuan lempeng di wilayah Sumatera yang
mempunyai subduksi miring dengan kecepatan 5-6 cm/tahun (Bock, 2000).
Pulau Sumatera dicirikan oleh tiga sistem tektonik. Berurutan dari barat ke
timur adalah sebagai berikut: zona subduksi oblique dengan sudut penunjaman
yang landai, sesar Mentawai dan zona sesar besar Sumatera. Zona subduksi di
Pulau Sumatera, yang sering sekali menimbulkan gempa tektonik, memanjang
membentang sampai ke Selat Sunda dan berlanjut hingga selatan Pulau Jawa.
Subsuksi ini mendesak lempeng Eurasia dari bawah Samudera Hindia ke arah
barat laut di Sumatera dan frontal ke utara terhadap Pulau Jawa, dengan kecepatan
pergerakan yang bervariasi. Puluhan hingga ratusan tahun, dua lempeng itu saling
menekan. Namun lempeng Indo-Australia dari selatan bergerak lebih aktif.
Pergerakannya yang hanya beberapa millimeter hingga beberapa sentimeter per
tahun ini memang tidak terasa oleh manusia. Karena dorongan lempeng Indo-
Australia terhadap bagian utara Sumatera kecepatannya hanya 5,2 cm per tahun,
sedangkan yang di bagian selatannya kecepatannya 6 cm per tahun. Pergerakan
lempeng di daerah barat Sumatera yang miring posisinya ini lebih cepat
dibandingkan dengan penyusupan lempeng di selatan Jawa.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana Perkembangan Tektonik Sumatera?

1.3 Maksud dan Tujuan


Mengetahui Perkembangan Tektonik Sumatera.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Kerangka Tektonik Pulau Sumatera

Pulau Sumatra terletak di baratdaya dari Kontinen Sundaland dan merupakan


jalur konvergensi antara Lempeng Hindia-Australia yang menyusup di sebelah barat
Lempeng Eurasia/Sundaland. Konvergensi lempeng menghasilkan subduksi
sepanjang Palung Sunda dan pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatra.

Gambar 1. Pembentukan
Cekungan Belakang Busur di Pulau Sumatra
(Barber dkk, 2005).

Subduksi dari Lempeng Hindia-Australia dengan batas Lempeng Asia pada


masa Paleogen diperkirakan telah menyebabkan rotasi Lempeng Asia termasuk
Sumatra searah jarum jam. Perubahan posisi Sumatra yang sebelumnya berarah E-W
menjadi SE-NW dimulai pada Eosen-Oligosen. Perubahan tersebut juga
mengindikasikan meningkatnya pergerakan sesar mendatar Sumatra seiring dengan
rotasi. Subduksi oblique dan pengaruh sistem mendatar Sumatra menjadikan
kompleksitas regim stress dan pola strain pada Sumatra (Darman dan Sidi, 2000).
Karakteristik Awal Tersier Sumatra ditandai dengan pembentukkan cekungan-
cekungan belakang busur sepanjang Pulau Sumatra, yaitu Cekungan Sumatra Utara,
Cekungan Sumatra Tengah, dan Cekungan Sumatra Selatan (Gambar Diatas).

Pulau Sumatra diinterpretasikan dibentuk oleh kolisi dan suturing dari mikrokontinen
di Akhir Pra-Tersier (Pulunggono dan Cameron, 1984; dalam Barber dkk, 2005).
Sekarang Lempeng Samudera Hindia subduksi di bawah Lempeng Benua Eurasia
pada arah N20E dengan rata-rata pergerakannya 6 7 cm/tahun. Konfigurasi
cekungan pada daerah Sumatra berhubungan langsung dengan kehadiran dari
subduksi yang menyebabkan non-volcanic fore-arc dan volcano-plutonik back-arc.
Sumatra dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi, 2000):

Sunda outer-arc ridge, berada sepanjang batas cekungan fore-arc Sunda dan yang
memisahkan dari lereng trench.

Cekungan
Fore-arc Sunda, terbentang antara akresi non-vulkanik punggungan outer-
arc dengan bagian di bawah permukaan dan volkanik back-arc Sumatra.
Cekungan Back-arc Sumatra, meliputi Cekungan Sumatra Utara, Tengah, dan
Selatan. Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian
bawah Bukit Barisan.
Bukit Barisan, terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama
pada Perm-Karbon hingga batuan Mesozoik.
Intra-arc Sumatra, dipisahkan oleh uplift berikutnya dan erosi dari daerah
pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip pada fore-
arc dan back-arc basin.

2.2 Perkembangan Tektonik Pulau Sumatra


Peristiwa Tektonik yang berperan dalam perkembangan Pulau Sumatra dan
Cekungan Sumatra Selatan menurut Pulonggono dkk (1992) adalah:

Fase kompresi yang berlangsung dari Jurasik awal sampai Kapur. Tektonik
ini menghasilkan sesar geser dekstral WNW ESE seperti Sesar Lematang,
Kepayang, Saka, Pantai Selatan Lampung, Musi Lineament dan N S trend.
Terjadi wrench movement dan intrusi granit berumur Jurasik Kapur.

Gambar 3 Fase Kompresi Jurasik Awal Sampai Kapur dan Elipsoid Model

(Pulonggono dkk, 1992).


Fase tensional pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal yang menghasilkan
sesar normal dan sesar tumbuh berarah N S dan WNW ESE. Sedimentasi
mengisi cekungan atau terban di atas batuan dasar bersamaan dengan
kegiatan gunung api. Terjadi pengisian awal dari cekungan yaitu Formasi
Lahat.
Gambar 4 Fase Tensional Kapur Akhir Sampai Tersier Awal dan Elipsoid Model (Pulonggono dkk,
1992).

Fase ketiga yaitu adanya aktivitas tektonik Miosen atau Intra Miosen
menyebabkan pengangkatan tepi-tepi cekungan dan diikuti pengendapan
bahan-bahan klastika. Yaitu terendapkannya Formasi Talang Akar, Formasi
Baturaja, Formasi Gumai, Formasi Air Benakat, dan Formasi Muara Enim.

Fase keempat berupa gerak kompresional pada Plio-Plistosen menyebabkan


sebagian Formasi Air Benakat dan Formasi Muara Enim telah menjadi
tinggian tererosi, sedangkan pada daerah yang relatif turun diendapkan
Formasi Kasai. Selanjutnya, terjadi pengangkatan dan perlipatan berarah
barat laut di seluruh daerah cekungan yang mengakhiri pengendapan Tersier
di Cekungan Sumatra Selatan. Selain itu terjadi aktivitas volkanisme pada
cekungan belakang busur.
Gambar 5 Fase Kompresi Miosen Tengah Sampai Sekarang dan Elipsoid Model

(Pulonggono dkk, 1992).

2.3 Pola Tektonik Pulau Sumatera

Pola tektonik yang berkembang di Pulau Sumatera dipengaruhi oleh aktivitas


tektonisme yang bekerja yaitu subduksi. Ada 2 (dua) subduksi yang bekerja di Pulau
Sumatera yaitu utara dan selatan. Sejak zaman Permian, terjadi interaksi konvergen
dari arah selatan (lempeng India-Australia) dan dari arah utara ke selatan (lempeng L.
China selatan) membentuk jalur subduksi dan magmatik yang berkelanjutan dari
zaman Permian yang semakin muda ke arah selatan dan utara. Ada 3 sistem tektonik
yang terdapat di Pulau Sumatera yaitu sistem subduksi Sumatera, sistem sesar
Mentawai (Mentawai Fault System) dan sistem sesar Sumatera (Sumatera Fault
System).
Gambar 6. Peta Struktur Sumatera

Sistem Subduksi Sumatera

Pada akhir Miosen, Pulau Sumatera mengalami rotasi searah jarum jam. Pada
zaman Pliopleistosen, arah struktur geologi berubah menjadi barat daya-timur
laut, di mana aktivitas tersebut terus berlanjut hingga kini. Hal ini disebabkan
oleh pembentukan letak samudera di Laut Andaman dan tumbukan antara
Lempeng Mikro Sunda dan Lempeng India-Australia terjadi pada sudut yang
kurang tajam. Terjadilah kompresi tektonik global dan lahirnya kompleks
subduksi sepanjang tepi barat Pulau Sumatera dan pengangkatan Pegunungan
Bukit Barisan pada zaman Pleistosen.

Pada akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir, terjadi kompresi pada Laut
Andaman. Sebagai akibatnya, terbentuk tegasan yang berarah NNW-SSE
menghasilkan patahan berarah utara-selatan. Sejak Pliosen sampai kini, akibat
kompresi terbentuk tegasan yang berarah NNE-SSW yang menghasilkan sesar
berarah NE-SW, yang memotong sesar yang berarah utara-selatan.
Di Sumatera, penunjaman tersebut juga menghasilkan rangkaian busur pulau
depan (forearch islands) yang non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P. Banyak, P.
Nias, P. Batu, P. Siberut hingga P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan
dengan jalur vulkanik di tengahnya, serta sesar aktif The Great Sumatera Fault
yang membelah Pulau Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh.
Sesar besar ini menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif
Semangko ini diperkirakan bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan
merupakan daerah rawan gempa bumi dan tanah longsor.

Penunjaman yang terjadi di sebelah barat Sumatra tidak benar-benar tegak


lurus terhadap arah pergerakan Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia.
Lempeng Eurasia bergerak relatif ke arah tenggara, sedangkan Lempeng India-
Australia bergerak relatif ke arah timurlaut. Karena tidak tegak lurus inilah maka
Pulau Sumatra dirobek sesar mendatar (garis jingga) yang dikenal dengan nama
Sesar Semangko.

Penunjaman Lempeng India Australia juga mempengaruhi geomorfologi


Pulau Sumatera. Adanya penunjaman menjadikan bagian barat Pulau Sumatera
terangkat, sedangkan bagian timur relatif turun. Hal ini menyebabkan bagian
barat mempunyai dataran pantai yang sempit dan kadang-kadang terjal. Pada
umumnya, terumbu karang lebih berkembang dibandingkan berbagai jenis bakau.
Bagian timur yang turun akan menerima tanah hasil erosi dari bagian barat (yang
bergerak naik), sehingga bagian timur memiliki pantai yang datar lagi luas. Di
bagian timur, gambut dan bakau lebih berkembang dibandingkan terumbu karang.

Sistem Sesar Sumatra


Di pulau Sumatera, pergerakan lempeng India dan Australia yang
mengakibatkan kedua lempeng tersebut bertabrakan dan menghasilkan
penunjaman menghasilkan rangkaian busur pulau depan (forearch islands) yang
non-vulkanik (seperti: P. Simeulue, P. Banyak, P. Nias, P. Batu, P. Siberut hingga
P. Enggano), rangkaian pegunungan Bukit Barisan dengan jalur vulkanik di
tengahnya, serta sesar aktif The Great Sumatera Fault yang membelah Pulau
Sumatera mulai dari Teluk Semangko hingga Banda Aceh. Sesar besar ini
menerus sampai ke Laut Andaman hingga Burma. Patahan aktif Semangko ini
diperkirakan bergeser sekitar sebelas sentimeter per tahun dan merupakan daerah
rawan gempa bumi dan tanah longsor.

Di samping patahan utama tersebut, terdapat beberapa patahan lainnya, yaitu:


Sesar Aneuk Batee, Sesar Samalanga-Sipopok, Sesar Lhokseumawe, dan Sesar
Blangkejeren. Khusus untuk Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar
dihimpit oleh dua patahan aktif, yaitu Darul Imarah dan Darussalam. Patahan ini
terbentuk sebagai akibat dari adanya pengaruh tekanan tektonik secara global dan
lahirnya kompleks subduksi sepanjang tepi barat Pulau Sumatera serta
pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan. Daerah-daerah yang berada di
sepanjang patahan tersebut merupakan wilayah yang rawan gempa bumi dan
tanah longsor, disebabkan oleh adanya aktivitas kegempaan dan kegunungapian
yang tinggi. Banda Aceh sendiri merupakan suatu dataran hasil amblesan sejak
Pliosen, hingga terbentuk sebuah graben. Dataran yang terbentuk tersusun oleh
batuan sedimen, yang berpengaruh besar jika terjadi gempa bumi di sekitarnya.

Penunjaman Lempeng India Australia juga mempengaruhi geomorfologi


Pulau Sumatera. Adanya penunjaman menjadikan bagian barat Pulau Sumatera
terangkat, sedangkan bagian timur relatif turun. Hal ini menyebabkan bagian
barat mempunyai dataran pantai yang sempit dan kadang-kadang terjal. Pada
umumnya, terumbu karang lebih berkembang dibandingkan berbagai jenis bakau.
Bagian timur yang turun akan menerima tanah hasil erosi dari bagian barat (yang
bergerak naik), sehingga bagian timur memiliki pantai yang datar lagi luas. Di
bagian timur, gambut dan bakau lebih berkembang dibandingkan terumbu karang.

Sejarah tektonik Pulau Sumatera berhubungan erat dengan dimulainya


peristiwa pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar
45,6 juta tahun lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari
pergerakan relatif lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif
antar lempengnya berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng
India-Australia yang semula mempunyai kecepatan 86 milimeter / tahun menurun
secara drastis menjadi 40 milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan
tersebut.

Penurunan kecepatan terus terjadi sehingga tinggal 30 milimeter/tahun pada


awal proses konfigurasi tektonik yang baru (Char-shin Liu et al, 1983 dalam
Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan mengalami kenaikan yang mencolok
sampai sekitar 76 milimeter/tahun (Sieh, 1993 dalam Natawidjaja, 1994). Proses
tumbukan ini, menurut teori indentasi pada akhirnya mengakibatkan
terbentuknya banyak sistem sesar geser di bagian sebelah timur India, untuk
mengakomodasikan perpindahan massa secara tektonik (Tapponier dkk, 1982).

Keadaan Pulau Sumatera menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman,


punggungan busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat
proses yang terjadi. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans-
tension) Paleosoikum tektonik Sumatera menjadikan tatanan tektonik Sumatera
menunjukkan adanya tiga bagian pola (Sieh, 2000). Bagian selatan terdiri dari
lempeng mikro Sumatera, yang terbentuk sejak 2 juta tahun lalu dengan bentuk,
geometri dan struktur sederhana, bagian tengah cenderung tidak beraturan dan
bagian utara yang tidak selaras dengan pola penunjaman.
2.4 Manifestasi Tektonik Pulau Sumatera

Gambar 7. zona penunjaman di selatan Pulau Sumatera

Pulau Sumatera tersusun atas dua bagian utama, sebelah barat didominasi oleh
keberadaan lempeng samudera, sedang sebelah timur didominasi oleh keberadaan
lempeng benua. Berdasarkan gaya gravitasi, magnetisme dan seismik ketebalan
sekitar 20 kilometer, dan ketebalan lempeng benua sekitar 40 kilometer (Hamilton,
1979).Sejarah tektoik Pulau Sumatra berhubungan erat dengan dimulainya
peristiwa pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar
45,6 juta tahun yang lalu, yang mengakibatkan rangkaian perubahan sistematis dari
pergerakan relatif lempeng-lempeng disertai dengan perubahan kecepatan relatif antar
lempengnya berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Gerak lempeng India-
Australia yang semula mempunyai kecepatan 86 milimeter/tahun menurun menjaedi
40 milimeter/tahun karena terjadi proses tumbukan tersebut. (Char-shin Liu et al,
1983 dalam Natawidjaja, 1994). Setelah itu kecepatan mengalami kenaikan sampai
sekitar 76 milimeter/ tahun (Sieh, 1993 dalam Natawidjaja, 1994). Proses tumbukan
ini pada akhirnya mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar sebelah timur
India.

Keadaan Pulau Sumatra menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman,


punggungan busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat proses
yang terjadi. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans-tension)
Paleosoikum Tektonik Sumatra menjadikan tatanan Tektonik Sumatra menunjukkan
adanya tiga bagian pola (Sieh, 2000). Bagian selatan terdiri dari lempeng mikro
Sumatra, yang terbentuk sejak 2 juta tahun lalu dengan bentuk geometri dan struktur
sederhana, bagian tengah cenderung tidak beraturan dan bagian utara yang tidak
selaras dengan pola penunjaman.

A. Bagian Selatan Pulau Sumatra memberikan kenampakan pola tektonik:


Sesar Sumatra menunjukkan sebuah pola geser kanan en echelon
dan terletak pada 100-135 kilometer di atas penunjaman.
Lokasi gunung api umumnya sebelah timur-laut atau di dekat sesar.
Cekungan busur muka terbentuk sederhana, dengan ke dalaman 1-
2 kilometer dan dihancurkan oleh sesar utama.
Punggungan busur muka relatif dekat, terdiri dari antiform tunggal
dan berbentuk sederhana.
Sesar Mentawai dan homoklin, yang dipisahkan oleh punggungan
busur muka dan cekungan busur muka relatif utuh.
Sudut kemiringan tunjaman relatif seragam.

B. Bagian Utara Pulau Sumatra memberikan kenampakan pola tektonik:


Sesar Sumatra berbentuk tidak beraturan, berada pada posisi 125-
140 kilometer dari garis penunjaman.
Busur vulkanik berada di sebelah utara sesar Sumatra.
Kedalaman cekungan busur muka 1-2 kilometer.
Punggungan busur muka secara struktural dan kedalamannya
sangat beragam.
Homoklin di belahan selatan sepanjang beberapa kilometer sama
dengan struktur Mentawai yang berada di sebelah selatannya.
Sudut kemiringan penunjaman sangat tajam.

C. Bagian Tengah Pulau Sumatra memberikan kenampakan tektonik:


Sepanjang 350 kilometer potongan dari sesar Sumatra
menunjukkan posisi memotong arah penunjaman.
Busur vulkanik memotong dengan sesar Sumatra.
Topografi cekungan busur muka dangkal, sekitar 0.2-0.6 kilometer,
dan terbagi-bagi menjadi berapa blok oleh sesar turun miring
Busur luar terpecah-pecah.
Homoklin yang terletak antara punggungan busur muka dan
cekungan busur muka tercabik-cabik.
Sudut kemiringan penunjaman beragam.

2.5 Evolusi Tektonik Pulau Sumatera

Selama Zaman Karbon sampai Perm, terdapat subduksi di sebelah barat


Sumatera yang menghasilkan batuan vulkanik dan piroklastik dengan komposisi
berkisar antara dasit sampai andesit di daerah Dataran Tinggi Padang, Batang Sangir
dan Jambi (Klompe et all., 1961; dalam Hutchison, 1973). Batuan intrusif yang
bersifat granitik terbentuk di Semenanjung Malaysia, melewati Pulau Penang, dan
diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau.
Gambar 8 Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari

Karbon Akhir sampai Perm Awal

Selama Zaman Perm, tidak ada perubahan penyebaran keterdapatan batuan


plutonik dan volkanik dari Karbon Akhir. Sistem busur-palung yang bekerja di
Sumatra masih tidak mengalami perubahan (Gambar 3.1 dan 3.2). Batuan volkanik
dan piroklasik berkomposisi andesitik sampai riolitik menyebar di bagian barat dari
Sumatera Tengah. Dari Trias Akhir sampai Jura Awal, subduksi di Sumatra terus
berlangsung dan menghasilkan kompleks ofiolit Aceh di bagian utara dan kompleks
ofiolit Gumai-Garba di selatan. Kedua ofiolit tersebut menurut Bemmelen (1949;
dalam Hutchison, 1973) berumur Trias. Pada Jura Tengah sampai Kapur Tengah,
terjadi pengangkatan di wilayah Semenanjung Malaysia, menyebabkan perubahan
lingkungan sedimentasi pada daerah tersebut dari lingkungan laut menjadi lingkungan
darat, ditandai dengan endapan tipe molasse dan sedimentasi fluviatil. Volkanisme di
kawasan Sumatra dan sekitarnya kurang aktif pada selang waktu ini. Selama Jura dan
Kapur, kawasan Sumatra dan sekitarnya terkratonisasi, dan sistem pensesaran strike
slip terbentuk (Tjia et. All, 1973; dalam Hutchison, 1973).

Gambar 9. Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari

Perm ke Trias Awal


Pada Kapur Akhir, zona subduksi bergerak ke arah barat Sumatra, sepanjang
pulau-pulau yang saat ini berada di barat Sumatra seperti Siberut. Ofiolit dari
subduksi ini sendiri oleh Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) diperkirakan
berumur Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Di bagian utara Sumatra terdapat Intrusi
Granitik Tersier sedangkan di selatan terdapat Adesit Tua dan Intrusi Granit Miosen
Awal. Pola dari sistem palung busur di Sumatra pada saat itu digambarkan pertama
kali oleh Katilli (1971; dalam Hutchison, 1973) seperti pada gambar 3.3. Subduksi
yang berada di barat Sumatra menerus ke selatan Jawa Barat, lalu berbelok ke timur
laut menuju arah Pegunungan Meratus di Kalimantan.

Gambar 10. Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari

Trias Akhir sampai Jura Awal


Gambar 11. Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari

Kapur Akhir sampai Tersier Awal

Dari Tersier sampai sekarang, subduksi terus mundur ke arah barat melewati
kepulauan yang terdapat di sebelah barat Sumatra dan menerus ke timur di selatan
melewati Pulau Jawa (Gambar 3.4). Busur gunung api di sepanjang zona subduksi
tersebut terdapat di Pegunungan Barisan di Sumatera dan menerus ke Pulau Jawa.
Volkanisme basalt hadir di Sukadana, Sumatra Selatan dan diperkirakan berhubungan
dengan pensesaran ekstensi dalam yang dihasilkan sebagai interaksi dari lempeng-
lempeng Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik.
Gambar 3.5 Skema Tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya saat ini

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pulau Sumatera dicirikan oleh tiga sistem tektonik. Berurutan dari barat ke
timur adalah sebagai berikut: zona subduksi oblique dengan sudut penunjaman
yang landai, sesar Mentawai dan zona sesar besar Sumatera. Zona subduksi di
Pulau Sumatera, yang sering sekali menimbulkan gempa tektonik, memanjang
membentang sampai ke Selat Sunda dan berlanjut hingga selatan Pulau Jawa.
Subsuksi ini mendesak lempeng Eurasia dari bawah Samudera Hindia ke arah
barat laut di Sumatera dan frontal ke utara terhadap Pulau Jawa, dengan kecepatan
pergerakan yang bervariasi. Puluhan hingga ratusan tahun, dua lempeng itu saling
menekan. Namun lempeng Indo-Australia dari selatan bergerak lebih aktif.
Pergerakannya yang hanya beberapa millimeter hingga beberapa sentimeter per
tahun ini memang tidak terasa oleh manusia. Karena dorongan lempeng Indo-
Australia terhadap bagian utara Sumatera kecepatannya hanya 5,2 cm per tahun,
sedangkan yang di bagian selatannya kecepatannya 6 cm per tahun. Pergerakan
lempeng di daerah barat Sumatera yang miring posisinya ini lebih cepat
dibandingkan dengan penyusupan lempeng di selatan Jawa.
Pola tektonik yang berkembang di Pulau Sumatera dipengaruhi oleh aktivitas
tektonisme yang bekerja yaitu subduksi. Ada 2 (dua) subduksi yang bekerja di
Pulau Sumatera yaitu utara dan selatan. Ada 3 sistem tektonik yang terdapat di
Pulau Sumatera yaitu sistem subduksi Sumatera, sistem sesar Mentawai
(Mentawai Fault System) dan sistem sesar Sumatera (Sumatera Fault System).
Sumatra dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi, 2000):
Sunda outer-arc ridge, berada sepanjang batas cekungan fore-arc Sunda dan yang
memisahkan dari lereng trench.
Cekungan Fore-arc Sunda, terbentang antara akresi non-vulkanik
punggungan outer-arc dengan bagian di bawah permukaan dan volkanik back-
arc Sumatra.
Cekungan Back-arc Sumatra, meliputi Cekungan Sumatra Utara, Tengah, dan
Selatan. Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian
bawah Bukit Barisan.
Bukit Barisan, terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama
pada Perm-Karbon hingga batuan Mesozoik.
Intra-arc Sumatra, dipisahkan oleh uplift berikutnya dan erosi dari daerah
pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip pada fore-
arc dan back-arc basin.
DAFTAR PUSTAKA/REFERENSI

Rahmat,I .2015. Tektonik Sumatra Model Tektonik Kuarter Sumatra. University of


Padjadjaran (UNPAD). https://unpad.academia.edu/IndrajatiRahmat (diakses tanggal
24 Maret 2017)

http://ceritageologi.wordpress.com/2013/02/01/evolusi-tektonik-pulau-sumatera/
(Diakses pada 24 Maret 2017 20.00 WIT)

http://one-geo.blogspot.com/2010/01/sejarah-terbentuknya-pulau-sumatera.html
(Diakses pada 24 Maret 2017 20.00 WIT)

http://blog.ub.ac.id/bettyagustina/proses-geologi-pulau-sumatra/ (Diakses pada 24


Maret 2017 20.00 WIT)

http://smile-nd.blogspot.com/2012/12/kondisi-fisis-dan-potensi-fisik-pulau.html
(Diakses pada 24 Maret 2017 20.00 WIT)
http://smiatmiundip.wordpress.com/2012/05/17/perkembangan-tektonik-pulau
sematera/ (Diakses pada 24 Maret 2017 20.00 WIT)