Anda di halaman 1dari 3

Potensi Pengembangan Hidrogel Alam dari Enceng Gondok bagi Technopreuner Muda

Indonesia

Berbicara mengenai kontribusi pemuda, banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemuda
Indonesia dalam rangka mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan mandiri. Kontribusi
pemuda Indonesia tidak hanya bisa diukur dari seberapa banyak kegiatan-kegiatan
pengabdian masyarakat maupun seberapa sering turun ke jalan dalam rangka menuntut
kebijakan pemerintah. Salah satu bentuk kontribusi nyata pemuda Indonesia bisa dilakukan
adalah dengan menjadi seorang technopreneur yang membantu mengatasi masalah-masalah
di Indonesia, terutama dalam hal kemandirian energi. Meskipun masalah tentang kemandirian
energi di Indonesia tidak hanya bisa diselesaikan dengan mencetak bibit-bibit technopreuner
muda Indonesia, namun dengan terciptanya bibit-bibit technopreuner yang berfokus pada
masalah energi pemuda Indonesia lebih terdorong untuk mengasah kemampuan ilmiah dan
bisnis yang keduanya bisa dikombinasikan hingga tercipta pola pemikiran praktis dalam
menyelesaikan masalah tersebut.

Jika diartikan dari asal kata, technopreneur itu sendri memiliki makna tentang bagaimana
memanfaatkan teknologi untuk dijadikan peluang usaha. Banyak pihak yang mengartikan
bahwa teknologi di sini memiliki makna sesuatu yang berhubungan dengan internet, digital,
dan komputer. Namun, sebenarnya teknologi juga mencakup arti tentang proses peningkatan
nilai tambah produk sehingga dapat menjadi barang-barang yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana juga
termasuk penggunaan teknologi. Salah satu kebutuhan manusia yang paling esensial dalam
mempertahankan kelangsungan hidup adalah kebutuhan akan energi. Pengolahan sumber
daya alam menjadi salah satu bentuk energi membutuhkan teknologi. Masyarakat secara
khusus sudah mengembangkan berbagai inovasi dan teknologi yang hasilnya telah dirasakan
sekarang ketika memasuki era pengembangan energi terbarukan.

Di era pengembangan energi terbarukan dan ramah lingkungan seperti sekarang ini, salah
satu potensi yang bisa dijadikan obyek penelitian sekaligus bisnis adalah produk polimer.
Produk polimer mulai memiliki banyak peran dalam sektor kehidupan manusia. Hal ini dapat
dilihat dari meningkatnya penggunaan material polimer di negara-negara bagian barat dengan
presentasi peningkatan sebesar 10-20% setiap tahunnya (Lee, 2009). Salah satu produk
polimer yang dimaksud adalah produk hidrogel.
Hidrogel merupakan polimer superabsorben. Polimer jenis ini memiliki daya serap air yang
tinggi, tetapi tidak larut dalam air pada temperatur fisiologis, pH dan kekuatan ionik karena
bentuk jaringan tiga dimensinya (Nasrullah, 2010). Hidrogel juga memiliki kemampuan
untuk mempertahankan bentuk asalnya (Rosiak, 1991). Polimer hidrofilik ini memiliki
kemampuan menyerap cairan sampai 200 kali berat material hidrogel itu sendiri (sumber:
LIPI). Produk polimer ini dikatakan ramah lingkungan sebab hidrogel memiliki kemampuan
terurai melalui pembusukan oleh mikroba.

Karena sifatnya yang unik dan kemampuannya dalam meyerap cairan, hidrogel memiliki
manfaat di berbagai sektor kehidupan. Belakangan ini telah dilakukan penelitian dan
pengembangan secara intensif untuk aplikasi hidrogel di bidang kesehatan, biomedis,
pertanian, farmasi, pengemasan makanan, industri hortikultural dan pengeboran minyak. Di
bidang biomedis dan kesehatan, hidrogel dapat diaplikasikan sebagai media tranplantasi,
media rekayasa genetika, dan sistem pengantar obat (KISHIDA Aer al., 2002; Ravichandran
P et al., 1997; Graham NB, 1990). Dalam sektor pertanian dan perkebunan hidrogel dapat
memastikan ketersediaan air sepanjang tahun, mengurangi frekuensi penyiraman/irigasi 50%
dan sangat sesuai untuk daerah yang kekurangan persediaan air atau daerah yang airnya
mahal (Sudarmaji, 2007). Penggunaan hidrogel lainnya yang dapat ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari adalah sebagai bahan penyusun popok, kontak lensa dan bahan
penyangga pada pembuatan jaringan.

Penggunaan hidrogel saat ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu hidrogel yang berasal dari
polimer sintesis dan polimer alam. Contoh dari hidrogel polimer sintetik yang terdapat di
pasaran yaitu polyhydroxyethyl methacrylate (pHEMA) dan polyacrylamide. Penggunaan
hidrogel sintesis ini tidak biodegradable dimana akan menambah polusi karena 90% hidrogel
yang sudah terpakai dihancurkan dengan cara dibuang di lahan atau insenerasi.
(Kiatkamjornwong, et al. 2002). Hal ini tentu akan berdampak negatif terutama pada
pemanfaatan hidrogel di dunia kesehatan. Terlebih lagi penggunaan hidrogel dan polimer
sintetik lebih dari satu juta ton per tahun di dunia. Sehingga untuk mendukung perkembangan
energi terbarukan yang bersifat biocompatible dan biodegradable, hidrogel saat ini disintesis
dengan polimer alam.

Contoh dari 2 polimer alam yaitu pati, amilopektin, glikogen, selulosa, kitin, protein, asam-
asam inti dan karet alam. Polimer alam yang dipilih dalam pembuatan hidrogel ini adalah
selulosa. Selulosa adalah senyawa organik yang paling banyak melimpah di bumi sebagai sisa
tanaman atau dalam bentuk sisa pertanian. Selulosa juga memiliki sifat yang tidak beracun,
mudah didegradasi dan termasuk ke dalam sumber daya alam yang dapat diperbaharui.

Dalam aplikasinya, untuk membuat hidrogel, selulosa perlu dimodifikasi menjadi turunannya
yaitu Carboxymethyl Celluose (CMC). Hal ini dikarenakan selulosa merupakan rantai
polimer yang tidak larut dalam air sedangkan CMC ini mampu larut dalam air (Adel, et al.
2010) Kandungan selulosa dapat ditemukan di tanaman eceng gondong dengan komposisi
kandungannya 60% selulosa, 8% hemiselulosa dan 17% lignin (Ahmed, 2012 dalam Dirga
Rizki 2012). Selain itu pemanfaatan eceng gondok ini dapat meningkatkan nilai guna dari
eceng gondok, sebab eceng gondok merupakan tumbuhan air dan lebih sering dianggap
sebagai tumbuhan pengganggu perairan atau gulma. Eceng gondok memiliki tingkat
pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga tumbuhan ini termasuk salah satu tumbuhan yang
sangat sulit diberantas.

Supaya hidrogel ini memiliki karakteristik penyerapan air yang maksimal, maka polimer
CMC perlu digabungkan dengan polimer lainnya yaitu polimer yang bersifat hidrofilik yaitu
Polyvinyl Alcohol (PVA). PVA tidak hanya memiliki sifat ketahanan serta stabilitas termal
dan kimia yang baik namun juga biodegradable dan tidak beracun (Reis, et al. 2006). PVA
juga dapat memberikan sifat translucent (tembus cahaya), tidak berbau dan tidak berasa, sifat
ini yang menjadikan hidrogel dapat dimanfaatkan sebagai lapisan pelindung kelembapan
pada tablet supleman makanan atau pada makanan kering yang dijaga kondisinya dari air.

Dari uraian tentang hidrogel, mulai dari karakteristik, kegunaan, jenis, dan pembuatannya,
yang pada akhirnya memanfaatkan gulma enceng gondok sebagai bahan baku, maka dapat
dilihat sebuah potensi dan peluang untuk dimanfaatkan. Pemanfaatan tersebut bisa dimulai
dari tahap penelitian, berlanjut ke tahap produksi, hingga pengkomersialan. Konversi enceng
gondok menjadi hidrogel memang memerlukan tahap dan waktu penelitian yang cukup lama.
Diperlukan proses berulang-ulang juga untuk melakukan uji coba hingga tercipta sebuah
prototipe. Dari prototipe inilah kemudian dikembangkan menjadi sebuah produk layak jual.