Anda di halaman 1dari 64

I.

JUDUL PERCOBAAN :
Identifikasi Gugus Aldehid, Keton dan Karboksilat
II. TANGGAL PERCOBAAN : Senin, 20 Maret 2017
PUKUL : 09.40 - Selesai
III. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Mengidentifikasi senyawa organik yang mengandung gugus
aldehid.
2. Mengidentifikasi senyawa organik yang mengandung gugus
keton.
3. Mengidentifikasi senyawa organik yang mengandung gugus
karboksilat.
4. Membedakan antara gugus aldehid, keton dan karboksilat yang
terdapat didalam senyawa organik.
IV. DASAR TEORI
Aldehid dan keton merupakan senyawa organik yang kedua-
duanya mempunyai gugus fungsi yang sama, yakni gugus karbonil, C=O,
oleh karena itu aldehid dan keton menjalankan reaksi-reaksi yang sama pula.

O O

R-C-H R-C-R
aldehid keton
(Tim Kimia Organik 1, 2017)

Aldehid dan keton suatu senyawa yang tersusun dari unsur-unsur


karbon, hidrogen dan oksigen. Keduanya dapat diperoleh dari oksidasi
alkohol, aldehida dari alkohol primer, sedangkan keton dari alkohol sekunder
(Ismail Besari, 1982)
Jika kedua gugus yang menempel pada gugus karbonil adalah
gugus-gugus karbon, maka senyawa itu dinamakan keton. Jika salah satu dari
kedua gugus tersebut adalah hidrogen, senyawa tersebut termasuk golongan
aldehid. (Suminar Achmadi, 1989)
Formaldehid, suatu gas tidak berwarna, mudah larut dalam air.
Larutan 40 % dalam air dinamakan formalin, yang digunakan dalam
pembuatan resin sintetik. Polimer dari formaldehid, yang disebut
paraformaldehid, digunakan sabagai antiseptik dan insektisisda.
Aldehidaadalah bahan baku penting dalam pembuatan asam asetat, anhidrida
asetat dan esternya, yaitu etil asetat (Suminar Achmadi, 1989).
Aseton adalah keton yang paling penting. Ia merupakan cairan
volatil (titik didih 56o C) dan mudah terbakar. Aseton adalah pelarut yang
baik untuk macam-macam senyawa organik, banyak digunakan sebagai
pelarut pernis, lak dan plastik. Tidak seperti kebanyakan pelarut organik lain,
aseton bercampur dengan air dalam segala perbandingan. Salah satu metode
pembuatan aseton adalah melalui dehidrogenasi isopropil alkohol dengan
bantuan katalis tembaga (Suminar Achmadi, 1989).
beberapa perbedaan antara aldehid dan keton pada sifat dan
struktur yang mempengaruhinya:
a Aldehid sangat mudah untuk beroksidasi, sedangkan keton mengalami
kesukaran dalam beroksidasi. (Fessenden, 1992)
b Aldehid biasanya lebih reaktif dari keton, terhadap suau reagen yang sama.
Hal ini disebabkan karena atom karbonil dari aldehid kurang dilindungi
dibandingkan dengan keton, begitu pula aldehid lebih mudah dioksidasi
dari keton. (Fessenden, 1992)
c Aldehid jika teroksidasi akan menghasilkan asam karboksilat dengan
jumlah atom yang sama tetapi untuk keton tidak, dikarenakan pada keton
sering mengalami pemutusan ikatan yang menghasilkan 2 ikatan
asamkarboksilat dengan jumlah atom karbon dari keton mula-mula (akibat
putusnya ikatan karbon), keton siklik menghasilkan asam karboksilat
dengan jumlah atom karbon yang sama banyak. (Fessenden, 1992)
Jadi, perbedaan kereaktifan antara aldehid dan keton melalui
oksidator yang dapat digunakan untuk membedakan kedua senyawa tersebut.
(Fessenden, 1992)

Ada beberapa pengujian yang bisa digunakan untuk membedakan aldehid dan
keton, diantaranya:
1 Uji Tollens
Uji Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk
membedakan mana yang termasuk senyawa aldehid dan mana yang
termasuk senyawa keton.
Aldehid merupakan senyawa yang mudah dioksidasi, positif
dengan uji Tollens, gugus C = O polar, terbentuk dari oksidasi alkohol
sekunder. Keton memiliki sifat gugus C = O polar, tidak kuat dioksidasi,
negatif dengan uji Tollens, terbentuk dari oksidasi alkohol sekunder (S.
Riawan, 1990).
Pereaksi Tollens sering disebut sebagai perak amoniakal,
merupakan campuran dari AgNO3 dan amonia berlebihan. Gugus aktif
pada pereaksi tollens adalah Ag2O yang bila tereduksi akan
menghasilakan endapan perak. Endapan perak ini akan menempel pada
tabung reaksi yang akan menjadi cermin perak. Oleh karena itu Pereaksi
Tollens sering juga disebut pereaksi cermin perak (Sudarmo, 2006).

R + 2Ag(NH3)2OH R NH4 + 2Ag + 2NH3 + H2O

cermin perak

2 Uji Fehling atau Benedict

Larutan fehling apabila bereaksi dengan aldehida akan memberikan


endapan berwarna merah bata setelah dipanaskan dari Cu 2O. Tetapi
larutan ini tidak memberikan tes yang positif terhadap aldehida aromatik.
Larutan fehling Cu2+ dalam natrium tartat. (Matsjeh,2003)\

Persamaan reaksinya :

R + 2Cu2+ + 5OH- R O- + Cu2O + 3H2O

endapan merah bata


3 Adisi Bisulfit

Reaksi yang lazim dari senyawa-senyawa karbonil ialah reaksi


adisi kepada ikatan rangkap karbonil. Reagen biasanya adalah suatu
nukleofil. Aklehid dan beberapa keton yang tidak mengandung gugus
yang besar disekeliling atom karbon karbonil bereaksi dengan larutan
pekat natrium bisulfit menghasilkan adisi yang berwujud hablur berwarna
putih. Hasil adisi ini bila beraksi dengan asam akan membebaskan
kembali senyawa karbonil, sehingga reaksi ini kadang-kadang
berguna untuk memisahkan senyawa karbonil dari campurannya dengan
senyawa-senyawa lain. (Tim Kimia Organik 1, 2017)

O O

R C H HSO3- Na+
+ R C

4 Pengujian Fenilhidrazin
Pasangan elektron bebas pada atom nitrogen amoniak dan
senyawa-senyawa lain yang sejenis menyebabkan senyawa-senyawa ini
boleh bereaksi menghasilkan fenil hidrazin setelah hasil reaksi yang mula-
mula terbentuk membebaskan satu mol air. Hasil ini sering kali berwujud
hablur, sehingga ia dapat digunakan (melalui titik lelehnya) untuk
mengenal aldehid dan keton. Reaksi yang sama dengan 2,4-dinitro
fenilhidrazin menghasilkan 2,4-dinitro fenilhidrazin yang biasanya
mempunyai titik leleh yang lebih tinggi. (Tim Kimia Organik 1, 2017)
5 Uji Haloform

Atom hidrogen yang terikat pada atom karbon alfa dari aldehid dan
keton mudah diganti oleh halogen di dalam larutan biasa. Reaksi ini
didasarkan pada reaksi yang cepat antara ion enolat dengan halogen.
Oleh karena pengaruh tarikan elektron dari halogen, maka atom hidrogen
yang masih ada pada atom karbon alfa akan lebih asam dan lebih mudah
tertukar oleh halogen. Oleh karena itu, gugus metil yang terikat pada
atom karbon karbonil mudah sekali diubah menjadi senyawa trihalo metil
oleh halogen dari basa.

Senyawa trihalo yang dihasilkan ini mudah sekali diuraikan oleh basa
menghasilkan haloform. Oleh karena itu, rekasi ini dapat digunakan
untuk menyediakan iodoform, bromoform, dan kloroform. Biassnya
rekasi ini digunakan untuk menunjukkan adanya metil keton (R-CO-
CH3). Senyawa ini bila direaksikan dengan iodium dan basa segera
menghasilkan iodoform yang mengendap sebagai hablur berwarna
kuning dan berbau obat. Oleh karena reagen di dalam reaksi ini ialah
suatu oksidator, maka suatu alkohol yang mengandung suatu gugus (-
CH(OH)3) sehingga akan menghasilkan pengujian yang positif.

R Cl3 + 3OH- R O- + CHI3

Iodoform

(Tim Kimia Organik 1, 2017)


6 Kondensasi Aldol
Kedua molekul yang berkndensasi didalam kondensasi aktif tidak
perlukedua-duanya mempunyai atom hydrogen alfa, mudah
berkondensasi dengan benzaldehid yang tidak mempunyai atom hydrogen
alfa karena benzaldehid sendiri tidak bisa menjalankan reaksi aldol. (Tim
Kimia Organik 1, 2017)
Asam karboksilat adalah senyawa organik yang mengndung gugus
karboksil COOH. Gugus karboksil mengandung gugus karbonil dan sebuah
gugus hidroksi, antar aksi dari kedua gugus ini mengakibatkan suatu
kereaktifan kimia yang unik untuk asam karboksilat. (Fessenden, 1992)
Adapun sifat-sifat yang dimiliki asam karboksilat adalah
1 Reaksi Pembentukan Garam
Garam organik yang membentuk memiliki sifat fisik dari garam anorganik
padatannya, NaCl dan KNO3 adalah garam organik yang meleleh pada
temperatur tinggi larut dalam air dan tidak berbau. (Oulette, 1995)
2 Reaksi Esterifikasi

Ester asam karboksilat ialah senyawa yang mengandung gugus


-COOR dengan R dapat berbentuk alkil. Ester dapat dibentuk berkat
reaksi langsung antara asam karboksilat dengan alkohol.

Secara umum reaksinya adalah:

RCOOH + ROH RCOOR + H2O (Oulette, 1995)


3 Reaksi Oksidasi
Reaksi terjadi pada pembakaran atau oleh reagen yang sangat kokoh dan
kuat seperti asam sulfat, CrO3, panas. Gugus asam karboksilat teroksidasi
sangat lambat. (Oulette, 1995)
Asam formiat mudah mengalami reaksi oksidasi menghasilkan
CO2 jika direaksikan dengan oksidasi seperti KMnO4. Persamaan reaksinya
adalah

CH3COOH + 2MnO4- 3CO2 + 2MnO2 2OH- + 2H2O

Coklat

(Tim Kimia Organik 1, 2017)


Asam asetat (asam cuka) merupakan asam karboksilat dengan dua karbon.
Seperti halnya asam karboksilat lainnya, zat ini dapat mengalami reaksi
asterifikasi jika direaksikan dengan alkohol menggunakan asam sebagai
katalisator, menghasilkan ester yang berbau harum. Reaksinya secara
umum ialah : (Tim Kimia Organik 1, 2017)

RCOOH + ROH RCOOR + H2O


Asam karboksilat Alkohol Ester
V. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
a. Tabung reaksi 20 buah
b. Rak tabung reaksi 1 buah
c. Gelas kimia 2 buah
d. Gelas ukur 2 buah
e. Termometer 1 buah
f. Erlenmeyer 50 mL 1 buah
g. Corong kaca 1 buah
h. Spatula 1 buah
i. Kertas saring 2 buah
j. Pembakar spirtus 1 buah
k. Kaca arloji 2 buah
l. Desikator 1 buah
m. Melting Block 1 buah
n. Pipa kapiler 1 buah
o. Kaki tiga 1 buah
p. Pipet tetes 20 buah

2. BAHAN
a. Asetaldehid
b. Sikloheksanon
c. N-heptaldehid
d. 2-pentanon
e. Formalin
f. Isopropil alkohol
g. Etanol
h. Reagen Benedict/ Reagen Fehling
i. Larutan NaOH 10 %
j. Larutan NaOH 5 %
k. Larutan perak nitrat 5%
l. Larutan NH4OH 2 %
m. Larutan jenuh natrium bisulfit
n. Asam klorida
o. Reagen fenilhidrazin
p. Hidroksiamin hidroklorida
q. Natrium asetat trihidrat
r. Larutan iodium
s. Es
t. Pipa kapiler
u. Larutan CH3COONa 10 %
v. Larutan KMnO4 1 %
w. Larutan FeCl3 5 %
x. Larutan K4FeCN6 1 M
y. Asam sulfat pekat

VI. ALUR PERCOBAAN


Pembuatan Reagen
a) Reagen Tollens

2 mL larutan perak nitrat 5%

- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi


- Ditambahkan 2 tetes NaOH 5%

Endapan coklat

- Ditambahkan tetes demi tetes NH4OH 2 %


- Dikocok hingga endapan larut

Reagen tollens (larutan jernih tak berwarna)


b) Reagen Fehling

10 mL Fehling A

Dimasukkan kedalam Erlenmeyer


Ditambahkan 10 mL Fehling B
Dikocok
Reagen Fehling
1. Uji Tollens
Uji Aldehid

1 mL reagen Tollens 1 mL reagen Tollens

Dimasukkan kedalam tabung reaksi


Dimasukkan kedalam tabung reaksi
Ditambahkan 2 tetes benzaldehid
Ditambahkan 2 tetes formalin (5 tetes formaldehid + 5 mL H2O)
Dikocok dan didiamkan 10 menitDikocok dan didiamkan 10 menit
Direndam didalam air panas (35-50C)
Direndam
selama
didalam
5 menit
air(bila
panasreaksi
(35-50C)
tidak terjadi).
selama 5 menit (bila reaksi tidak

Hasil pengamatan
Hasil pengamatan
Uji Keton

1 mL reagen Tollens 1 mL reagen Tollens

Dimasukkan kedalam tabung reaksi


Dimasukkan kedalam tabung reaksi
Ditambahkan 2 tetes aseton Ditambahkan 2 tetes sikloheksanon
Dikocok dan didiamkan 10 menitDikocok dan didiamkan 10 menit
Direndam didalam air panas (35-50C) selama
Direndam 5 menit
didalam air(bila
panasreaksi tidak terjadi).
(35-50C) selama 5 menit (bila reaksi tidak

Hasil pengamatan Hasil pengamatan


2. Uji Fehling dan Benedict
Uji Aldehid

5 mL reagen Fehling 5 mL reagen Fehling

Dimasukkan kedalam tabung reaksi kedalam tabung reaksi


Dimasukkan
Ditambahkan beberapa tetes formaldehidbeberapa tetes
Ditambahkan
Ditempatkan dalam air mendidih
n-heptaldehid
Diamati perubahan yangDitempatkan dalam
terjadi sesudah air menit
10-15 mendidih
Diamati perubahan yang terjadi sesudah 10-15 menit

Hasil pengamatan Hasil pengamatan

Uji Keton

5 mL reagen Fehling 5 mL reagen Fehling

Dimasukkan kedalam tabung


Dimasukkan
reaksi kedalam tabung reaksi
Ditambahkan beberapa tetes
Ditambahkan
aseton beberapa tetes sikloheksanon
Ditempatkan dalam air mendidih
Ditempatkan dalam air mendidih
Diamati perubahan yangDiamati perubahan
terjadi sesudah yang
10-15 terjadi sesudah 10-15 menit
menit

Hasil pengamatan Hasil pengamatan

5 ml larutan jenuh NaHSO3


3. Adisi Bisulfit
Dimasukkan dalam Erlenmeyer 50 mL
Didinginkan dalam air es
Ditambahkan 2,5 mL aseton tetes demi tetes sambil dikocok selama 5 menit
Ditambahkan 10 mL etanol
Disaring dengan corong penyaring

Filtrat Residu
Ditambahkan beberapa tetes HCl pekat
Diamati

Hasil pengamatan
4. Pengujian dengan Fenilhidrasin

5 mL fenilhidrasin

Dimasukkan dalam tabung reaksi


Ditambahkan 10 tetes benzaldehid
Tabung reaksi ditutup dan diguncang selama 1-2 menit sampai menghablur
Disaring dengan corong penyaring

Hablur Filtrat

5 mL fenilhidrasin
Dicuci dengan sedikit air dingin
Ditambah sedikit metanol/ etanol
Dimasukkan dalam tabung reaksi
Dibiarkan menjadi kering
Ditambahkan 10 tetes sikloheksanon
Diamati dan ditentukan titik lelehnya
Tabung reaksi ditutup dan diguncang selama 1-2 menit sampai menghablur
Disaring dengan Hasil
corong penyaring
pengamatan

Hablur Filtrat

Dicuci dengan sedikit air dingin


Ditambah sedikit metanol/ etanol
Dibiarkan menjadi kering
Diamati dan ditentukan titik lelehnya

Hasil pengamatan
5 mL 2,4-dinitrofenilhidrasin

Dimasukkan dalam tabung reaksi


Ditambahkan 10 tetes benzaldehid
Tabung reaksi ditutup dan diguncang selama 1-2 menit sampai menghablur
Disaring dengan corong penyaring

Hablur Filtrat

Dicuci dengan sedikit air dingin


Ditambah sedikit metanol/ etanol
Dibiarkan menjadi kering
5 mLDiamati dan ditentukan titik lelehnya
2,4-dinitrofenilhidrasin

Dimasukkan dalamHasil pengamatan


tabung reaksi
Ditambahkan 10 tetes sikloheksanon
Tabung reaksi ditutup dan diguncang selama 1-2 menit sampai menghablur
Disaring dengan corong penyaring

Hablur Filtrat

Dicuci dengan sedikit air dingin


Ditambah sedikit metanol/ etanol
Dibiarkan menjadi kering
Diamati dan ditentukan titik lelehnya

Hasil pengamatan
5. Pembuatan Oksim

1 gram Hidroksilamin Hidroklorida

Dimasukkan dalam Erlenmeyer 50 mL


Ditambahkan 1,5 gram hablur Natrium asetat trihidrat
Dilarutkan dalam 4 mL air
Dipanaskan sampai suhu 35C
Ditambahkan sikloheksanon
Ditutup dan di goncang 1-2 menit
Didinginkan dalam air es
Disaring dengan corong penyaring

Hablur Filtrat

Disiram dengan 2 mL air es


Dipindahkan keatas kertas saring yang kering
Ditentukan titik lelehnya

3 mL larutan NaOH 5% 3 mL larutan NaOH 5%


Titik leleh
ukkan ke dalam tabung reaksiDimasukkan ke dalam tabung reaksi
bahkan 5 tetes aseton Ditambahkan 5 tetes isopropil alkohol
6. Reaksi
bahkan larutan iodium Haloform
Ditambahkan
10 mL larutan iodium
sambil digoncang 10 mL
sampai warna sambil
iodium digoncang
tidak hilang sampai warna iodium

Endapan kuning
Endapan kuning

Dibau Dibau

Hasil Pengamatan Hasil Pengamatan


3 mL larutan NaOH 5% 3 mL larutan NaOH 5%

Dimasukkan
ukkan ke dalam tabung reaksi ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 5 tetes 3-pentanon
bahkan 5 tetes 2-pentanon
Ditambahkan
bahkan larutan iodium larutandigoncang
10 mL sambil iodium sampai
10 mL warna
sambiliodium
digoncang
tidaksampai
hilang warna iodium tidak hi

Endapan kuning Endapan kuning

Dibau Dibau

Hasil Pengamatan Hasil Pengamatan


7. Kondensasi Aldol
a.
4 mL larutan NaOH 1%

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi


Ditambahkan 0,5 mL asetaldehid
Digoncang dan dibau

Bau

Didihkan selama 3 menit dan di catat baunya

Bau tengik
(bau krotonaldehid)
b. Dengan cara refluks
10 mL etanol + 1 mL aseton + 2 mL benzaldehid + 5 mL NaOH 5%

Dimasukkan kedalam labu 50 mL


Labu disambungkan pada kondensor dan refluks campuran selama 5 menit
Didinginkan

Hablur
Dikumpulkan dengan penyaring Buchner
Dihablurkan lagi dengan etanol
Hablur

Dicatat titik lelehnya


8. Identifikasi Karboksilat
a.
Titik Leleh
5 mL asam cuka

Dimasukkan kedalam tabung reaksi


Ditambahkan 3 mL larutan KMnO4
Diamati perubahan yang terjadi

Hasil pengamatan

b. 5 mL larutan natrium asetat encer (10%)

Dimasukkan kedalam tabung reaksi


Ditambah 3 mL larutan FeCl3 5% sampai terjadi warna merah

Larutan berwarna merah


Dipanaskan sampai terjadi endapan bergumpal berwarna merah coklat
Disaring

Filtrat Residu

Dibandingkan dengan
Ditambah K4FeCN6

Hasil pengamatan FeCl3


VII. HASIL PENGAMATAN
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
1. Uji Tollens Sebelum Reaksi : 2AgNO3 (aq) + 2NaOH (aq) Reagen Tollens dapat
Pembuatan Reagen Tollens AgNO3 5% : larutan tidak digunakan untuk
Ag2O (s) + NaNO3 (aq) + H2O
2 mL larutan perak nitrat 5% berwarna membedakan
Air suling : larutan tidak (l) senyawa yang
Ag 2O (s) + NH4OH (aq) mengandung gugus
n ke dalam tabung reaksi berwarna
an 2 tetes NaOH 5% NaOH 5% : larutan tidak 2Ag(NH3)2OH (aq) aldehid dan keton.
an tetes demi tetes NH4OH 2 % sampai endapan tepat larutberwarna
sambil dikocok
NH4OH 2% : larutan
tidak berwarna

Sesudah Reaksi :
AgNO3 5% + NaOH
Reagen tollens 5% : larutan berwarna
abu-abu terbentuk
endapan.
AgNO3 5% + NaOH 5%
+ NH4OH 2% : larutan
tidak berwarna, endapan O
larut
Reagen Tolens : larutan C
jernih tidak berwarna pada H
jumlah tetesan NH4OH 2%
sebanyak 120 tetes.
Tabung 1 (aq) + Benzaldehid dapat
1 mL reagen Tollens 2Ag(NH3)2OH (aq) bereaksi dengan
Sebelum Reaksi :
Reagen Tolens : larutan Reagen Tollens. Hal
ukkan kedalam tabung reaksi ini dapat dibuktikan
tidak berwarna
ahkan 2 tetes benzaldehid dengan terbentuknya
Benzaldehid : larutan
k dan didiamkan 10 menit 2 lapisan (endapan
m didalam air panas (35-50C) selama 5 menit (bila reaksi tidaktidak berwarna
terjadi). purtih) pada
permukaan larutan
Sesudah Reaksi :
Hasil pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Reagen Tolens + O
benzaldehid : larutan
tidak berwarna C
Setelah didiamkan : OH
terbentuk 2 lapisan (atas
putih, bawah keruh)
Setelah dipanaskan : (aq) +
larutan berwarna putih 2Ag (s) + 3NH3 (aq) + H2O (l)
keruh, tidak terbentuk
cermin perak.

Tabung 2 Sebelum Reaksi ; Aseton tidak dapat


Reagen Tolens : larutan 1 mL reagen bereaksi dengan
Tollens
tidak berwarna Reagen Tollens
Aseton : larutan tidak Dimasukkan kedalam tabungdikarenakan
reaksi reagen
berwarna Ditambahkan 2 tetes aseton Tollens merupakan
O
Dikocok dan didiamkan 10 menitoksidator lemah,
Direndam didalam air panas (35-50C)
sedangkanselama
keton 5 menit (bil
Sesudah Reaksi : C tidak dapat
Reagen Tolens + aseton :
H3C CH3 dioksidasi dengan
larutan tidak berwarna Hasil pengamatan
(aq) + oksidator lemah.
2Ag(NH3)2OH (aq)

Tabung 3
Sebelum Reaksi ;
Sikloheksanon
1 mL reagen Tollens tidak
Reagen Tolens : larutan
dapat bereaksi
tidak berwarna Dimasukkan kedalam tabungdenganreaksiReagen
Sikloheksanon : larutan Ditambahkan 2 tetes sikloheksanon
Tollens dikarenakan
tidak berwarna Dikocok dan didiamkan 10 menitreagen Tollens
Direndam didalam air panas (35-50C)
merupakanselama 5 menit (bil
oksidator
Sesudah Reaksi : lemah, sedangkan
Reagen Tolens + keton tidak dapat
Hasil pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
sikloheksanon : larutan O dioksidasi dengan
berwarna abu-abu oksidator lemah.
Setelah didiamkan :
larutan berwarna hitam
Setelah dipanaskan : Formalin dapat
(aq) +
Tabung 4 larutan berwarna hitam bereaksi dengan
Sebelum Reaksi ; 2Ag(NH3)2OH (aq) Reagen
1 mL reagen Tollens. Hal
Tollens
Reagen Tolens : larutan ini dibuktikan
tidak berwarna Dimasukkan kedalam tabungdenganreaksiterbentuknya
Formalin : larutan tidak Ditambahkan 2 tetes formalin cermin perakformaldehid
(5 tetes pada +5m
berwarna Dikocok dan didiamkan 10 menit
dinding tabung
Direndam didalam air panas (35-50C)
reaksi. selama 5 menit (bi
Sesudah Reaksi :
Reagen Tolens +
formalin : larutan Hasil pengamatan
berwarna abu-abu O
Setelah didiamkan :
larutan berwarna abu-abu H C H
Setelah dipanaskan : (aq) +
terbentuk cermin perak 2Ag(NH3)2OH (aq)

H C OH
(aq) + 2Ag (s) +
2NH3 (aq) + H2O (l)
2. Uji Fehling Sebelum Reaksi ; 2KNaC4H4O4 (aq) + 2Cu2+ (aq) + Reagen Fehling
Pembuatan Reagen Fehling Fehling A : larutan 2OH- (aq) Cu[C4H2O6]2 (aq) + dapat digunakan
10 mL Fehling A + 10 mL Fehling B berwarna biru untuk membedakan
Fehling B : larutan tidak Cu(OH)2 + 2Na+ (aq) + 2K+ (aq) + senyawa yang
Dimasukkan kedalam tabung reaksi berwarna +
2H (aq) mengandung gugus
Dikocok hingga homogen Sesudah Reaksi : aldehid dan keton.

Reagen Fehling
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Reagen Fehling : larutan
berwarna biru keunguan

O
Sebelum Reaksi ;
Tabung 1 Reagen Fehling : larutan H C H Formaldehid dapat
(aq) + 2Cu2+ (aq) +
berwarna biru keunguan 5 mL reagen Fehling bereaksi dengan
Formaldehid : larutan Reagen Fehling. Hal
tidak berwarna Dimasukkan kedalam tabung reaksi
ini dibuktikan
O
Sesudah Reaksi : Ditambahkan beberapa tetes formaldehid
dengan terbentuk
Fehling + formaldehid : Ditempatkan dalam air mendidih
endapan merah bata
H C H
2OH (aq)
- Diamati(aq)yang+ terjadi sesudah
pada dasar 10-15 menit
tabung
larutan berwarna merah
terbentuk endapan merah reaksi.
Cu2O (s) + 3H2O Hasil
(l) pengamatan
bata setelah dididihkan
selama 5 menit Aseton tidak dapat
Tabung 2 bereaksi dengan
Sebelum Reaksi ; O
Reagen Fehling : larutan 5 mL reagen Fehling Reagen Fehling
C dikarenakan reagen
berwarna biru keunguan
Dimasukkan kedalam Fehlingtabung
merupakanreaksi
Aseton : larutan tidak H3C CH3 Ditambahkan beberapa oksidator lemah, aseton
tetes
berwarna (aq) + 2Cu 2+
(aq) +
Ditempatkan dalam air mendidih
sedangkan keton
Sesudah Reaksi : -
4OH (aq) Diamati yang terjadi tidak sesudah
dapat 10-15 menit
Fehling + formaldehid :
dioksidasi dengan
larutan berwarna biru Hasil pengamatan
oksidator lemah.
keunguan. Tidak terjadi
perubahan setelah
dididihkan.
Tabung 3 Sikloheksanon tidak
O5 mL reagen Fehling dapat bereaksi
Sebelum Reaksi ; dengan Reagen
Reagen Fehling : larutan Dimasukkan kedalam Fehling dikarenakan
tabung reaksi
berwarna biru keunguan reagen Fehling
Ditambahkan beberapa tetes sikloheksano
Sikloheksanon : larutan Ditempatkan merupakan
dalam oksidator
air mendidih
2+
tidak berwarna (aq) + 2Cu (aq)
Diamati yang terjadi lemah, sedangkan
sesudah 10-15 menit
Hasil pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
-
Sesudah Reaksi : + 5OH (aq) keton tidak dapat
Fehling + formaldehid : dioksidasi dengan
larutan berwarna biru oksidator lemah.
keunguan. Tidak terjadi
perubahan setelah
dididihkan.
Tabung 4
5 mL reagen Fehling
TIDAK DILAKUKAN
PERCOBAAN Dimasukkan kedalam tabung reaksi
Ditambahkan beberapa tetes n-heptaldehi
Ditempatkan dalam air mendidih
Diamati yang terjadi sesudah 10-15 menit
Hasil pengamatan

3. Adisi Bisulfit Sebelum Reaksi ; H3C C CH3 Aseton dapat


NaHSO3 jenuh : larutan bereaksi dengan
5 ml larutan jenuh NaHSO3 tidak berwarna O larutan NaHSO3
(aq) + NaHSO3
Aseton : larutan tidak jenuh ditambah
imasukkan dalam Erlenmeyer 50 mL berwarna dengan etanol. Hal
(aq)
idinginkan dalam air es Etanol : larutan tidak ini ditunjukan
itambahkan 2,5 mL aseton tetes demi tetes sambil dikocok berwarna
selama 5 menit OH O dengan terbentuknya
itambahkan 10 mL etanol HCl pekat : larutan tidak hablur berwarna
isaring dengan corong penyaring H3C C S O Na putih.
berwarna

Sesudah Reaksi : CH3 O Hablur/endapan


(aq) ketika direaksikan
NaHSO3 + aseton :
dengan larutan HCl
Filtrat Residu larutan tidak berwarna
pekat akan
NaHSO3 + aseton +
Ditambahkan beberapa tetes HCl pekat membedakan
etanol : terbentuk endapan
Diamati kembali senyawa
berwarna putih
karbonil menjadi

Hasil pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Endapan + HCl pekat : OH O keton kembali. Hal
endapan larut ini ditandai dengan
H3C C S O Na endapan yang telah
terbentuk menjadi
CH3 O larut ketika
(aq) direaksikan dengan
+ HCl (aq) HCl pekat.
OH O

H3C C S OH

CH3 O
(aq) +
NaCl (aq)

4. Pengujian dengan Fenilhidrasin Sebelum Reaksi ; O Fenilhidrasin dapat


5 mL fenilhidrasin
Tabung 1 Fenilhidrasin : larutan digunakan untuk
berwarna kuning pudar C mengidentifikasi
asukkan dalam tabung reaksi H
Benzaldehid : larutan senyawa yang
mbahkan 10 tetes benzaldehid
tidak berwarna mengandung gugus
ng reaksi ditutup dan diguncang selama 1-2 menit sampai menghablur
Etanol : larutan tidak aldehid dan keton
ring dengan corong penyaring
berwarna (aq) + berdasarkan titik
leleh dari masing-
H
Sesudah Reaksi : masing senyawa.
Hablur
Fenilhidrasin + H2N N
Filtrat
benzaldehid : larutan
Dicuci dengan sedikit air dingin berwarna kuning,
(aq)
terbentuk 2 lapisan,
Ditambah sedikit metanol/ etanol
terbentuk endapan
Dibiarkan menjadi kering
berwarna kuning.
Diamati dan ditentukan titik lelehnya

Hasil pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
Endapan + etanol :
endapan larut (hanya
sedikit)
Titik leleh : 1400C

HN

HC

(aq) + H2O (l)

5 mL fenilhidrasin
Tabung 2 Sebelum Reaksi ; Dimasukkan dalam tabung reaksi
Fenilhidrasin : larutan Ditambahkan 10 tetes sikloheksanon
berwarna kuning pudar O
Tabung reaksi ditutup dan diguncang selama 1-2 menit sam
Sikloheksanon : larutan Disaring dengan corong penyaring
tidak berwarna
Etanol : larutan tidak
berwarna (aq) +
Hablur Filtrat
Sesudah Reaksi : H
Fenilhidrasin + Dicuci dengan sedikit air dingin
H2N N
sikloheksanon : larutan Ditambah sedikit metanol/ etanol
berwarna kuning, Dibiarkan menjadi kering
terbentuk 2 lapisan, (aq)
Diamati dan ditentukan titik lelehnya

Hasil pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
terbentuk endapan
berwarna kuning.
Endapan + etanol :
endapan larut (hanya
sedikit)
Titik leleh : 800C

NH
N

1 gram Hidroksilamin Hidroklorida (aq) + H2O (l)

Dimasukkan dalam Erlenmeyer 50 mL


Ditambahkan 1,5 gram hablur Natrium asetat trihidrat
Dilarutkan dalam 4 mL air
Dipanaskan sampai suhu 35C
Ditambahkan sikloheksanon
Ditutup dan di goncang 1-2 menit
5. Didinginkan dalam air es
Pembuatan Oksim TIDAK DILAKUKAN
Disaring dengan corong penyaring PERCOBAAN

Hablur Filtrat

Disiram dengan 2 mL air es


Dipindahkan keatas kertas saring yang kering
Ditentukan titik lelehnya

Titik leleh
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan

3 mL larutan NaOH 5%
6. Reaksi Haloform Sebelum Reaksi ; CH3COCH3 (aq) + 3I2 (aq) + 4OH- Reaksi Haloform
e dalam tabung reaksi
Tabung 1 NaOH 5% : larutan tidak 2CHI3 (aq) + CH3COO- (aq) + dapat digunakan
5 tetes aseton berwarna untuk membedakan
larutan iodium 10 mL sambil digoncang sampai warna iodium tidak :hilang
Aseton larutan tidak 3H2O (l) + 3I- (aq) senyawa aldehid dan
berwarna keton berdasarkan
Iodium : larutan berwarna kemampuan untuk
Endapan kuning merah kecoklatan membuat senyawa
haloform yang
Sesudah Reaksi : tersusun atas
Dibau

Hasil Pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
NaOH + aseton : larutan trihalometil berupa
tidak berwarna iodoform dalam
NaOH + aseton + iodium suasana basa
: terbentuk endapan
berwarna kuning, bau Aseton dapat
seperti obat bereaksi dengan
NaOH dan I2. Hal ini
CH3CH(CH3)OH (aq) + 3I2 (aq) + ditandai dengan
terbentuknya
4OH- (aq) CH3COCH3 (aq) + 3I2
Tabung 2 Sebelum Reaksi ; endapan berwarna
NaOH 5% : larutan tidak (aq) + 4OH- (aq) 2CHI3 (aq) +3 mL larutan
kuning (iodoform).
NaOH 5%
berwarna CH3COO- (aq) + 3H2O (l) + 3I- (aq)
Isopropil alkohol : Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Iosopropil alkohol
larutan tidak berwarna Ditambahkan 5 tetes isopropil alkohol
dapat bereaksi
Iodium : larutan berwarna Ditambahkan larutan iodium 10 mL sambil digoncang samp
dengan NaOH dan I2.
merah kecoklatan Hal ini ditandai
dengan terbentuknya
Sesudah Reaksi :
endapan berwarna
NaOH + isopropil Endapan kuning
kuning (iodoform).
alkohol : larutan tidak
Dibau
berwarna
NaOH + isopropil Hasil Pengamatan
alkohol + iodium :
terbentuk endapan 3 mL larutan NaOH 5%
berwarna kuning, bau
seperti obat
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Tabung 3 Ditambahkan 5 tetes 2-pentanon
TIDAK DILAKUKAN Ditambahkan larutan iodium 10 mL sambil digoncang samp
PERCOBAAN

Endapan kuning

Dibau

Hasil Pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan

Tabung 4
TIDAK DILAKUKAN 3 mL larutan NaOH 5%
PERCOBAAN
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 5 tetes 3-pentanon
Ditambahkan larutan iodium 10 mL sambil digoncang samp

Endapan kuning

Dibau

Hasil Pengamatan

4 mL larutan NaOH 1%

7. Dimasukkan
Kondensasi Aldol ke dalam tabung reaksi Sebelum Reaksi ; O Asetaldehid memiliki
a. Ditambahkan 0,5 mL asetaldehid NaOH 1% : larutan tidak OH
hidrogen alfa yang
Diguncang dengan baik dan dibau berwarna H3C C H
berfungsi sebagai

Didihkan selama 3 menit Asetaldehid : larutan kondensasi
Di catat baunya tidak berwarna dan berbau

Bau tengik
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
tengik O Kondensasi aldol
terjadi karena adanya
Sesudah Reaksi : H3C C H penambahan NaOH
NaOH + asetaldehid :
O
larutan berwarna kuning
dan berbau tengik
H3C C H
+
O
b. Dengan cara refluks TIDAK DILAKUKAN
PERCOBAAN
H3C C H

10 mL etanol + 1 mL aseton + 2 mL benzaldehid + 5 mL
O- O

H2
H3C Dimasukkan
C C kedalam
C H labu 50 mL
Labu
H disambungkan pada kondensor dan refluks campura
Didinginkan
OH O

H2 Hablur
H3C C C C H
H Dikumpulkan dengan penyaring Buchner
Dihablurkan lagi dengan etanol
panas

Residu Filtrat
O
Dicatat titik lelehnya
H3C C C C H Leleh
Titik
H H
+
5 mL asam cuka H2O
8. Identifikasi Karboksilat Sebelum Reaksi ; CH3COOH (aq) + 2MnO4- (aq) Karboksilat dapat
a. Dimasukkan kedalam tabung reaksi CH3COOH : larutan tidak diidentifikasi dengan
Ditambahkan 3 mL larutan KMnO4 3CO2 (g) + 2MnO2 (aq) + 2OH-
berwarna mereaksikan larutan
Diamati perubahan yang terjadi

Hasil pengamatan
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
KMnO4 : larutan (aq) + 2H2O (l) CH3COONa encer
berwarna ungu 10% dengan larutan
FeCl3 : larutan berwarna FeCl3 5%
orange CH3COONa (aq) + FeCl3 (aq) menghasilkan filtrat
-
3CH3COO (aq) NaCl (aq) + Fe 3+ yang tidak
Sesudah Reaksi : mengandung ion
(aq) Ferri. Hal ini
CH3COOH + KMnO4 :
b. larutan berwarna merah dibuktikan dengan
kecoklatan - perbandingan warna
5 mL
3CHlarutan
3COO (aq) + Fe3+asetat
natrium (aq) + Hencer
2O (10%)
Setelah dipanaskan : FeCl3 dan warna
(l) Fe(OH)2CH3COO + filtrat yang ditambah
Dimasukkan kedalam tabung reaksi
terbentuk endapan
Filtrat + KDitambah
4FeCN6 : 3 mL2CH 3COOH
larutan (aq) 5% sampai terjadidengan
FeCl3 warna K4merah
FeCN6.
Dipanaskan
larutan berwarna hijau sampai terjadi endapan bergumpal berwarna merah coklat
kebiruan Disaring
[Fe(OH)2CH3COO]+ (aq) + 4H2O
(l) Fe(OH)2CH3COO (s) +
3CH3COOH (aq) + H+ (aq)

Filtrat Residu
K4FeCN6 (aq) + FeCl3 (aq)
Ditambah K4FeCN6 K4Fe[FeCN6] (aq) + 3KCl (aq)
Dibandingkan dengan warna Ferri klorida dalm jumlah yang sama

Hasil pengamatan
VIII. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

1 Uji Tollens
Percobaan yang pertama adalah uji tollens, percobaan ini bertujuan untuk
membedakan antara aldehid dan keton. Prinsip dari uji tollens adalah reaksi redoks.

Dimana aldehid akan dioksidasi menjadi asam karboksilat, sedangkan ion Ag + dalam
reagen tollens direduksi menjadi logam Ag. Sebelum melakukan percobaan dengan uji
tollens semua alat yang akan digunakan seperti pipet dan tabung reaksi dicuci sampai
bersih dan dibilas dengan aquades, kemudian dikeringkan dengan cara dipanaskan
dalam oven. Hal ini dilakukan agar alat yang digunakan steril. Setelah tabung reaksi
dan pipet sudah kering, Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat reagen
tollen dengan cara memasukkan 2 mL larutan AgNO 3 5% (larutan tidak berwarna)
kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 2 tetes larutan NaOH 5% (larutan tidak
berwarna). Fungsi dari penambahan NaOH adalah memberi suasana basa pada larutan.
Didapatkan dari campuran antara larutan AgNO3 dan larutan NaOH adalah larutan
berwarna abu-abu (larutan yang tidak homogen) dimana terdapat enadapan pada
larutan. Reaksi yang terjadi adalah:
2AgNO3(aq) + 2NaOH(aq) Ag2O(s) + 2NaNO3(aq) + H2O(l)

Kemudian campuran antara larutan AgNO3 dan larutan NaOH ditetesi dengan
larutan NH4OH 2% (larutan tidak berwarna) sampai endapan tepat larut. Fungsi dari
penambahan larutan NH4OH adalah untuk mencegah terjadinya endapan pada larutan,
sehingga ketika larutan NH4OH ditambahkan endapan akan tepat larut. Reaksi yang
terjadi adalah:
Ag2O(s) + 2NH4OH(aq) 2Ag(NH3)2OH(aq) + 3H2O(l)

Setelah membuat reagen tollens, selanjutnya disiapkan 4 tabung reaksi dan


setiap tabung reaksi disi dengan 1 mL reagent tollens. Selanjutnya pada masing-
masing tabung diberi dua tetes sampel uji yakni, larutan benzaldehid untuk tabung
pertama, larutan aseton untuk tabung kedua, larutan sikloheksanon untuk tabung
ketiga, dan larutan formalin untuk tabung keempat. Kemudian keempat tabung
dikocok dan ditunggu sampai 10 menit. Selanjutnya setelah sepuluh menit
semua tabung
dipanaskan pada suhu 50oC didalam penangas air. Fungsi dari pemanasan ini adalah
untuk mempercepat terjadinya reaksi pada larutan. Setelah pemanasan didapatkan
cermin perak pada tabung keempat yakni, campuran antara reagen tollens dan
larutan formalin. Terbentuknya cermin perak ini membuktikan bahwa formaldehid

dioksidasi menjadi asam karboksilat, sedangkan ion Ag + dalam reagen tollens


direduksi menjadi logam Ag (cermin perak). Sedangkan pada tabung dua dan tiga
tidak terbentuk cermin perak, karena aseton dan sikloheksanon merupakan turunan
dari gugus keton. Sesuai dengan dasar teori bahwasannya reagen tollens tidak dapat
mengoksidasi gugus keton melainkan reagen tollens dapat mengoksidasi gugus
aldehid. Reaksi yang terjadi pada setiap tabung adalah:
1 Tabung 1 : reagen tollen + larutan benzaldehid

O
O
C H(aq) + 2Ag(NH3)2OH(aq)
C O NH4

+ 2Ag(s) + 2NH3(aq) + H2O(l)

2 Tabung 2 : reagen tollen + larutan aseton


O

H3C C CH3 + 2Ag(NH3)2OH

3 Tabung 3 : reagen tollen + larutan sikloheksanon


O

(aq) + 2Ag(NH3)2OH (aq)

4 Tabung 4 : reagen tollen + larutan formalin


O O
H C H(aq) + 2Ag(NH3)2OH(aq) H C ONH4(aq) + 2Aq(s) +
2NH3(aq) + H2O(l)
2 Uji Fehling dan Benedict
Percobaan ini bertujuan untuk dapat membedakan senyawa aldehid dan keton
dengan mereaksikannya menggunakan reagen fehling. Sedangkan prinsip dari
percobaan ini adalah reaksi redoks (Reduksi-Oksidasi), dimana gugus aldehid

dioksidasi membentuk asam karboksilat sementara ion Cu 2+ akan tereduksi menjadi

Cu+. Dalam percobaan ini yang pertama dilakukan adalah membuat reagen fehling, 10
ml Fehling A (CuSO4) berwarna biru ditambahkan 10 ml Fehling B (KNaC4H4O64H2O)
tidak berwarna dan menghasilkan larutan berwarna biru pekat. Reaksi ini membentuk
senyawa kompleks bistartratocuprate (II). Berikut persamaan reaksinya:

2KNaC4H4O6(aq)+2Cu2+(aq)+2OH(aq) Cu[C4H2O6]22(aq) +
Cu(OH) (aq) + 2Na+(aq) + 2K+(aq) + 2N+(aq)
2

Selanjutnya, dilakukan uji fehling pada tiga senyawa yaitu formaldehid, aseton,
dan sikloheksanon. Pertama dimasukkan masing-masing 5ml reagen fehling ke dalam
3 tabung reaksi kemudian pada tabung reaksi 1 ditambahkan 5 tetes larutan
formaldehid tidak berwarna kemudian di didihkan selama 5 menit menghasilkan
endapan berwarna merah bata dan larutan berwarna biru keunguan. Selanjutnya pada
tabung reaksi 2 ditambahkan 5 tetes larutan aseton tidak berwarna kemudian di
didihkan selama 5 menit tidak ada perubahan pada larutan. Kemudian pada tabung
reaksi 3 ditambahkan 5 tetes larutan sikloheksanon, kemudian di didihkan selama 5
menit menghasilkan larutan berwarna biru keunguan tidak ada endapan.
Pada tabung reaksi 1 terbentuk endapan merah bata, disini menunjukkan bahwa
larutan formaldehid dapat bereaksi dengan reagen fehling. Sesuai dengan teori bahwa

reagen fehling mengandung ion Cu2+ yang bersifat oksidator lemah. Ion tersebut
dapat mengoksidasi gugus aldehid menjadi karboksilat dan menghasilkan endapan
merah bata yang menunjukkan terbentuknya Cu2O. Berikut adalah persamaan
reaksinya:
CH2O(aq) + 2CuO(aq) CH2O2(aq) + Cu2O(s)
Endapan merah bata
Sedangkan pada tabung reaksi 2 dan 3 tidak mengalami suatu
perubahan. Disini menunjukkan bahwa senyawa aseton dan senyawa
sikloheksanon tidak dapat bereaksi dengan reagen fehling. Sesuai teori bahwa
fehling yang bersifat oksidator lemah tidak dapat mengoksidasi gugus keton.
Berikut persamaan reaksi senyawa aseton dengan reagen fehling:
O

CH3 C CH3 + 2Cu2+ (aq) + 5OH-(aq)


Berikut persamaan reaksi senyawa sikloheksanon dengan
reagen fehling:
O

+ 2CU2(aq) + 5OH-(aq)

3 Adisi Bisulfit
Percobaan ini bertujuan untuk menguji adanya gugus keton pada
senyawa aseton dengan cara mereaksikannya dengan reagen natrium bisulfit.
Prinsip dari percobaan ini adalah adisi bisulfit pada ikatan rangkap karbonil.
Dalam percobaan kami menggunakan 5 ml NaHSO3 tidak berwarna
dimasukkan dalam erlenmeyer 50 ml. Kemudian didinginkan di dalam air es.
Hal ini bertujuan untuk membentuk kristal NaHSO3. Selanjutnya ditambahkan
2,5 ml aseton tidak berwarna, tetes demi tetes sambil dikocok yang tidak
menghasilkan perubahan warna. Setelah itu ditambahkan 10 ml etanol tidak
berwarna dan menghasilkan hablur berwarna putih. Fungsi penambahan etanol
adalah untuk mempermudah terjadinya pengahabluran. Berikut adalah
persamaan reaksinya:
O OH

CH3 C CH3 + Na+HSO3- CH C SO3-Na+

CH3 CH3

OH OH
C2H5OH
CH SO -Na
3 CH3 C SO3-Na+
PPF CH3

Selanjutnya hablur disaring dengan kertas saring dan corong saring untuk
memisahkan residu dan filtrat. Residu dimasukkan ke dalam tabung reaksi
kemudian ditambah beberapa tetes HCl pekat sampai hablur larut. Dalam
percobaan kami membutuhkan 6 tetes HCl untuk melarutkan residu. Ketika
direaksikan dengan HCl pekat endapan (residu) yang terbentuk akan
membebaskan senyawa karbonil menjadi keton kembali. Berikut adalah
persamaan reaksinya:
OH O

CH3 C CH3 + HCl CH3 C CH3

CH3

4 Pengujian dengan Fenilhidrasin


Percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi aldehid dan keton dengan
prinsip kerjanya mengamati perbedaan titik lelehnya dengan cara
mereaksikannya dengan fenilhidrasin. Pada percobaan kami menggunakan
benzaldehid sebagai aldehid dan sikloheksanon sebagai keton. Dalam
percobaan ini, pertama kami memasukkan 5 ml fenilhidrasin yang berwarna
kuning dengan bau menyengat ke dalam masing- masing tabung reaksi, disini
kami menggunakan dua tabung reaksi. Kemudian pada tabung 1 ditambahkan
10 tetes benzaldehid tidak berwarna dan ditutup kemudian diguncang kuat
selama 1-2 menit yang menghasilkan endapan kuning. Selanjutnya disaring
dengan kertas saring dan corong penyaring untuk memisahkan residu dari
filtratnya. Residu dicuci dengan sedikit air dingin untuk melarutkan zat-zat
yang tidak diinginkan. Kemudian ditambah sedikit etanol tidak berwarna
melalui kertas saring. Hal ini bertujuan untuk menghablurkan Fenilhidrasin
yang terbentuk. Selanjutnya residu dituang diatas kaca arloji. Sedangkan pada
tabung 2 ditambahkan 10 tetes sikloheksanon tidak berwarna dan ditutup
kemudian diguncang kuat selama 1-2 menit yang menghasilkan endapan putih
kekuningan. Selanjutnya disaring dengan kertas saring dan corong penyaring
untuk memisahkan residu dari filtratnya. Residu dicuci dengan sedikit air
dingin untuk melarutkan zat-zat yang tidak diinginkan. Kemudian ditambah
sedikit etanol melalui kertas saring. Hal ini bertujuan untuk menghablurkan
Fenilhidrasin yang terbentuk. Selanjutnya residu dituang diatas kaca arloji.

Berikut persamaan reaksi pada tabung 1:

Berikut persamaan reaksi pada tabung 2:

Proses selanjutnya masukkan kaca arlogi pada desikator, kira-kira


membutuhkan waktu 4 hari untuk dapat mengeringkan residu tersebut sampai
residu menjadi padatan. Setelah residu kering fenilhidrazin benzaldehid
berwarna jingga dan padatan fenilhidrazon sikloheksanon berwarna kuning
kemerahan, percobaan kami lanjutkan dengan menguji titik leleh aldehid dan
keton. Dalam uji titik leleh hal yang pertama kami lakukan adalah dengan
memasukkan residu yang sudah berbentuk padatan ke dalam pipa kapiler
dengan cara menyocok-nyocokkan pipa kapiler pada sampel tersebut,
selanjutnya masukkan pipa kapiler ke dalam lubang melting blok. Melting blok
sudah dalam posisi diatas kompor listrik dan sudah terdapat termometer pada
lubangnya. Hasil yang diperoleh pada fenilhidrazon benzaldehid diperoleh titik

leleh pada 1400C, sedangkan pada fenilhidrazon sikloheksanon 800C.

6 Reaksi Haloform
Percobaan keenam adalah reaksi haloform, prinsip dari percobaan ini
adalah penggantian atom hidrogen yang terikat pada atom karbon alfa dari
aldehid dan keton oleh halogen dalam larutan basa. Langkah pertama yang
dilakukan dalam percobaan ini adalah menyiapkan dua tabung reaksi, pada
tiap-tiap tabung reaksi diisi dengan 3 mL larutan NaOH 5% (larutan tidak
berwarna). Selanjutnya pada tabung satu ditambahkan 5 tetes larutan
aseton(larutan tidak berwarna) dan pada tabung dua ditambahkan 5 tetes larutan
isopropyl(larutan tidak berwarna). Pada masing-masing tabung tidak terjadi
perubahan warna larutan. Kemudian pada tiap-tiap tabung ditambahkan dengan
larutan iodium(larutan berwarna merah kecoklatan). Banyaknya larutan iodium
yang ditambahkan sebanyak sampai iodium tidak hilang lagi. Dari penambahan
larutan iodium didapatkan pada masing-masing tabung yakni, terbentuknya
endapan berwarna kuning dan bau khas seperti obat. Hal ini terjadi karena atom
hidrogen yang terikat pada atom.karbon alfa dari aseton dan isopropyl
digantikan oleh halogen yakni I2 di dalam larutan yang bersuasana basa.
Reaksi yang terjadi didasarkan pada reaksi yang cepat antara ion enolat dengan
halogen. Karena adanya pengaruh tarikan elektron dari I2, maka atom hidrogen
yang masih ada pada atom karbon alfa akan lebih asam, dan lebih mudah
tertukar oleh halogen. Selanjutnya senyawa trihalo yang dihasilkan akan
diuraikan oleh basa menjadi haloform, dalam praktikum ini haloform yang
terbentuk adalah iodoform. Reaksi yang terjadi adalah :
a. Tabung 1
CH3COCH3 (aq) + 3I2 (aq) + 4OH- 2CHI3 (aq) + CH3COO- (aq)
+ 3H2O (l) + 3I- (aq)
b. Tabung 2
CH3CH(CH3)OH (aq) + 3I2 (aq) + 4OH- (aq) CH3COCH3 (aq) +
3I2 (aq) + 4OH- (aq) 2CHI3 (aq) + CH3COO- (aq) + 3H2O (l) +
3I- (aq)

7 Kondensasi Aldol
Percobaan ketujuh adalah kondensasi aldol, prinsip dari percobaan
ini adalah gugus aldehid akan berkondensasi dengan sesamanya setelah
bereaksi dengan larutan basa encer dan menghasilkan aldol yang bila
dipanaskan akan menyingkirkan air menghasilkan aldehid tak jenuh, yakni
krotonaldehid.

Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukkan 4 mL larutan


NaOH 1% kedalam tabung reaksi. Larutan NaOH 1 % adalah larutan tidak
berwarna. Kemudian ditambahkan 0,5 mL asetaldehid (larutan tidak berwarna
dan mempunyai bau yang khas) dan dikocok kemudian di panaskan dalam
penangas air sampai mendidih. Didapatkan larutan berwarna kuning
mudah(keruh) dan bau tengik seperti bau asetaldehid. Reaksi dari percobaan
ini adalah :
O O

OH
H3C C H H3C C H

O- O
O O
H2
H3C C C C H
H3C C H H3C C H H
+

OH O O
H2
H3C C C C H panas H C C C C H
3
H H H

+H2O

8 Identifikasi Karboksilat
Percobaan yang terakhir adalah identifikasi karboksilat. Asam
karboksilat merupakan golongan senyawa organik yang mengandung gugus
fungsional karboksil (-COOH). Dengan demikian rumus umumnya adalah
RCOOH.

Percobaan pertama yang dilakukan adalah mereaksikan asam cuka


dengan larutan KMnO4 dilakukan dengan cara memasukkan 5 mL asam cuka
(larutan tidak berwarna) kedalam tabung reaksi dan ditambahkan larutan
KMnO4 1 N sebanyak 3 mL. Larutan KMnO 4 adalah larutan yang berwarna
ungu. Hasil dari campuran antara asam cuka dan larutan KMnO 4 adalah
larutan berwarna ungu tua. Pada percobaan ini asam stearat(asam cuka)
mengalami oksidasi dan menghasilkan CO2. Reaksi yang terjadi adalah :
CH3COOH(aq) + 2MnO4-(aq) 3CO2(g) + 2MnO2(s) + 2OH-(aq) +
2H2O(l)
Percobaan kedua adalah mereaksikan larutan natrium asetat dengan
larutan FeCl3. Yang pertama dilakukan adalah memasukkan 5mL larutan
CH3COONa encer 10% (larutan tidak berwarna) kedalam tabung reaksi.
Kemudian ditambahkan 3mL larutan FeCl3 5% (larutan berwarna orange)
kemudian larutan dipanaskan dalam penangas. Didapatkan dari hasil
pemanasan yakni, larutan berwarna merah dan endapan merah kecoklatan.
Selanjutnya larutan disaring dengan menggunakan kertas saring dan filtrat
yang dihasilkan ditampung kedalam tabung reaksi. Filtrat yang dihasilkan
adalah larutan berwarna jingga pudar. Reaksi yang terjadi adalah:
3CH3COONa(aq) + FeCl3(aq) + H2O(l) Fe(OH) 2[(CH3COO)3](s) +
CH3COOH(aq) + 2NaCl(aq)
Filtrat yang didapat kemudian ditambahkan dengan K4FeCN6.
Didapatkan perubahan warna larutan dari larutan yang berwarna jingga
menjadi larutan yang berwarna hijau kebiruan. Penambahan larutan K4FeCN6
berguna untuk menguji adanya ion ferri atau tidak dalam larutan. Dengan
terjadinya perubahan warna larutan menjadi hijau membuktikan bahwa dalam
larutan sudah tidak terkandung lagi ion ferri melainkan yang terkandung
dalam larutan filtrat adalah ion ferro. Reaksi yang terjadi adalah :
Fe3+ + [Fe(CN)6]3- Fe3+ + [Fe(CN)6]4-

IX. DISKUSI

Uji Tollens
Pada uji tollen terdapat percobaan yang gagal yakni pada tabung pertama
yang merupakan campuran antara reagen tollens dan larutan benzaldehid.
Dimana dalam percobaan ini tidak terbentuk cermin perak. Hal ini tidak
sesuai dengan dasar teori dimana seharusnya benzaldehid akan dioksidasi

menjadi asam karboksilat, sedangkan ion Ag+ dalam reagen tollens


direduksi menjadi logam Ag, sehingga terbentuklah cermin perak. Hal-hal
yang mungkin mengakibatkan terjadinya kegagalan dalam percobaan ini
adalah kurang sterilnya peralatan yang dipakai seperti pipet dan tabung
reaksi atau pemanasan yang kurang maksimal atau zat yang digunakan
sudah terkontaminasi atau kurangnya ketelitian praktikan dalam
menambahkan larutan. Dari berbagai kemungkinan itu mengakibatkan tidak
terbentuknya cermin perak pada percobaan ini.

X. REAKSI-REAKSI
1. Percobaan 1 Uji Tollens
a. Pembuatan Reagen Tollens
2AgNO3 (aq) + 2NaOH (aq) Ag2O (s) + NaNO3 (aq) + H2O (l)
Ag2O (s) + NH4OH (aq) 2Ag(NH3)2OH (aq)

b. Reaksi antara Reagen Tollens dan Benzaldehid


O

C
H

(aq) + 2Ag(NH3)2OH (aq)


O

C
OH

(aq) + 2Ag (s) + 3NH3 (aq) + H2O (l)

c. Reaksi antara Reagen Tollens dan Aseton

C
H3 C CH3
(aq) + 2Ag(NH3)2OH (aq)

d. Reaksi antara Reagen Tollens dan Sikloheksanon


O

(aq) + 2Ag(NH3)2OH (aq)

e. Reaksi antara Reagen Tollens dan Formalin


O O

H C H H C OH
(aq) + 2Ag(NH3)2OH (aq) (aq) +
2Ag (s) + 2NH3 (aq) + H2O (l)

2. Percobaan 2 Uji Fehling


a. Pembuatan Reagen Fehling
2KNaC4H4O4 (aq) + 2Cu2+ (aq) + 2OH- (aq) Cu[C4H2O6]2 (aq) +
Cu(OH)2 + 2Na+ (aq) + 2K+ (aq) + 2H+ (aq)
b. Reaksi antara Reagen Rehling dan Formaldehid

O O

H C H H C H
(aq) + 2Cu2+ (aq) + 2OH- (aq) (aq)
+ Cu2O (s) + 3H2O (l)
c. Reaksi antara Reagen Fehling dan Aseton
O

C
H3 C CH3
(aq) + 2Cu2+ (aq) + 4OH- (aq)
d. Reaksi antara Reagen Fehling dan Sikloheksanon
O

(aq) + 2Cu2+ (aq) + 5OH- (aq)


3. Percobaan 3 Adisi Bisulfit
H3C C CH3

O
(aq) + NaHSO3 (aq)
OH O

H3C C S O Na

CH3 O
(aq)

OH O

H3C C S O Na

CH3 O
(aq) + HCl (aq)

OH O

H3C C S OH

CH3 O
(aq) + NaCl (aq)
4. Percobaan 4 Pengujian dengan Fenilhidrasin
a. Reaksi antara Fenilhidrasin dan Benzaldehid
O

C H
H
H2N N

(aq) + (aq)
H H
C N
N

(aq) + H2O (l)


b. Reaksi antara Fenilhidrasin dan Sikloheksanon
O H

H2N N

(aq) + (aq)

N
N
H

(aq) + H2O (l)


5. Percoban 6 Reaksi Haloform
c. Tabung 1
CH3COCH3 (aq) + 3I2 (aq) + 4OH- 2CHI3 (aq) + CH3COO- (aq)
+ 3H2O (l) + 3I- (aq)
d. Tabung 2
CH3CH(CH3)OH (aq) + 3I2 (aq) + 4OH- (aq) CH3COCH3 (aq) +
3I2 (aq) + 4OH- (aq) 2CHI3 (aq) + CH3COO- (aq) + 3H2O (l) +
3I- (aq)
6. Percoban 7 Kondensasi Aldol
O O

OH
H3C C H H3C C H

O- O
O O
H2
H3C C C C H
H3C C H H3C C H H
+

OH O O
H2
H3C C C C H panas H C C C C H
3
H H H

+H2O

7. Percobaan 8 Identifikasi Karboksilat


CH3COOH (aq) + 2MnO4- (aq) 3CO2 (g) + 2MnO2 (aq) + 2OH- (aq)
+ 2H2O (l)

CH3COONa (aq) + FeCl3 (aq) 3CH3COO- (aq) NaCl (aq) + Fe3+ (aq)

3CH3COO- (aq) + Fe3+ (aq) + H2O (l) Fe(OH)2CH3COO +


2CH3COOH (aq)

[Fe(OH)2CH3COO]+ (aq) + 4H2O (l) Fe(OH)2CH3COO (s) +


3CH3COOH (aq) + H+ (aq)

K4FeCN6 (aq) + FeCl3 (aq) K4Fe[FeCN6] (aq) + 3KCl (aq)


XI. KESIMPULAN

1. Prinsip uji Tollens yaitu reaksi reduksi dan oksidasi. Reagen tollens
bereaksi dengan senyawa aldehid menghasilkan cermin perak. Reagen
tollens memberikan hasil positif dengan senyawa aldehid yaitu pada
pengujian menggunakan benzaldehid dan formalin, namun kelompok
kami tidak sesuai dengan teori tersebut. Untuk senyawa keton
menunjukkan hasil negatif sehingga saat direaksikan tidak terbentuk
cermin perak.
2. Prinsip Uji Fehling yaitu reaksi reduksi dan oksidasi. Dimana aldehid

akan dioksidasi membentuk asam karboksilat, sementara ion Cu 2+

akan tereduksi menjadi Cu+. Reagen fehling akan memberikan hasil


positif pada senyawa aldehid yaitu formaldehid dengan menghasilkan
endapan merah bata. Namun memberikan hasil negatif pada senyawa
keton yaitu aseton dan sikloheksanon.

3. Adisi Bisulfit memiliki prinsip yaitu reaksi adisi pada keton. Senyawa
bisulfit mengadisi keton berupa aseton sehingga membentuk hablur
yang berwarna putih. Dalam suasana asam dengan ditambahkan
larutan HCl pekat, membuat gugus karbonil terpisah dari
campurannya sehinggs menghasilkan hablur putih yang larut sehingga
larutan menjadi jernih.

4. Reaksi Fenilhidrazin dengan senyawa aldehid menggunakan bahan uji


yaitu benzaldehid dihasilkan fenilhidrazon dengan titik leleh sebesar

1400C, sedangkan untuk bahan uji Sikloheksanon dihasilkan titik

leles sebesar 800C.

5. Reaksi haloform digunakan untuk membuktikan adanya senyawa


metil keton. Aseton dan isopropil alkohol dapat bereaksi dengan
NaOH dan larutan Iodium yang membentuk iodoform, ditunjukkan
dengan terbentuknya endapan kuning.

6. Asetaldehid mempunyai atom hidrogen pada atom C alfa yang


berfungsi sebagai kondensasi terjadi karena adanya penambahan
NaOH.

7. a) Reaksi karboksilat bertujuan untuk mengetahui reaksi pada asam


asetat. Asam asetat tidak dapat dioksidasi menggunakan KMnO4 yang
dibutikan dengan larutan tetap berwarna ungu.

b) filtrat tidak lagi mengandung ion Fe karena setelah ditambahkan


K4Fe(CN)6 menghasilkan larutan warna hijau kebiruan, berbeda dengan
FeCl3 yang berwarna kuning .

XII. JAWABAN PERTANYAAN


1. Buatlah pertanyaan penelitian praktikum diatas !
a. Apakah reagen tollens dapat bereaksi dengan senyawa aldehid ?
b. Apakah reagen tollens dapat bereaksi dengan senyawa keton ?
c. Apakah reagen fehling dapat bereaksi dengan senyawa aldehid ?
d. Apakah reagen fehling dapat bereaksi dengan senyawa keton ?
e. Apakah senyawa aldehid dapat mengalami reaksi adisi ?
f. Apakah senyawa keton dapat mengalami reaksi adisi ?
g. Apakah senyawa aldehid dapat mengalami reaksi haloform ?
h. Apakah senyawa keton dapat mengalami reaksi haloform ?
i. Apakah senyawa aldehid dapat mengalami reaksi kondensasi ?
j. Apakah senyawa keton dapat mengalami reaksi kondensasi ?
k. Bagaimana cara mengidentifikasi senyawa yang mengandung
gugus karboksilat ?

2. Jelaskan perbedaan cara menguji secara kualitatif antara senyawa yang


memiliki gugus aldehid, keton, dan karboksilat !
Untuk menguji senyawa yang memiliki gugus aldehid dan keton dapat
digunakan beberapa pereaksi, antara lain :
a. Pereaksi Tollens
Pereaksi tollens berfungsi sebagai oksidator lemah yang
mengoksidasi senyawa aldehid menjadi asam karboksilat, yang
ditandai dengan terbentuknya cermin perak.
b. Pereaksi Fehling
Pereaksi fehling merupakan kompleks Cu(II) tartrat dalam larutan
asam. Ion Cu(II) direduksi menjadi ion Cu 2O yang merupakan
endapan berwarna merah bata
c. Pereaksi Benedict
Aldehid alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan
pereaksi benedict (kompleks ion Cu(II) sitrat dalam larutan basa).
Ion Cu(II) direduksi menjadi Cu2O (endapan berwarna merah bata).
Aldehid aromatik dan keton tidak bereaksi dengan perekasi
benedict
d. Tes dengan NaOH
NaOH yang berfungsi sebagai sumber ion OH yang akan berikatan
dengan rantai aldehid. Uji positifnya yaitu larutan berwarna kuning

3. Jelaskan untuk menguji perbedaan gugus fungsi antara aldehid dan


keton digunakan uji Fehling dan Benedict !
1. Uji Fehling
Senyawa yang mengandung gugud aldehid dapat bereaksi dengan
pereaksi fehling ditandai dengan terbentuk endapan berwarna
merah bata, sedangkan senyawa yang mengandung gugus keton
tidak dapat bereaksi dengan pereaksi fehling. Endapan merah bata
dapat terbentuk karena aldehid mampu mereduksi ion Cu(II)
menjadi Cu(I) oksida. Sedangkan pada gugus keton tidak memiliki
gugus OH atau H bebas sehingga tidak bereaksi dalam uji fehling.
2. Uji Benedict
Pereaksi benedict merupakan yang mengandung Cuprisulfat,
natrium karbonat dan natrium sitrat. Jika pereaksi ini bereaksi
dengan dengan senyawa yang mengandung gugud aldehid dan
dipanaskan akan menghasilkan endapan berwarna merah bata yang
merupakan pereaksi benedict yang telah mengalami reduksi
menjadi Cu2O yang mengendap pada bagian dasar tabung reaksi.
Sedangkan senyawa aldehid akan terjadi oksidasi menjadi asam
karboksilat(aldehid aromatik tidak dapat bereaksi dengan perekasi
benedict). Sedangkan pada gugus keton tidak dapat bereaksi
dengan pereaksi benedict, karena keton tidak dapat teroksidasi
dengan pereaksi benedict (keton tidak mempunyai atom hidrogen
yang menempel pada atom karbonil).

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, S. (1989). Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi keempat
Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Besari, I. (1982). Kimia Organik Untuk Universitas. Bandung: Amico.
Fessenden, & Fessenden. (1992). Kimia Organik Edisi ketiga. Jakarta : Erlangga.
I, T. K. (2017). Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Surabaya: FMIPA UNESA.
Matasjeh, S. (2003). Kimia Organik Dasar I . Yogyakarta: FMIPA UGM.
Ouelette, R. J. (1995). Organic Chemistry. New York: Macmillan Publishing
Company.
Riawan, S. (1986). Kimia Organik Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara.

LAMPIRAN FOTO
ALAT
Rak tabung reaksi dan tabung reaksi

Gelas Ukur

Corong kaca Erlenmeyer Pembakar spirtus

Termometer Pipet tetes Gelas kimia

BAHAN
NaOH 0,1N ; I2 0,01M ; FeCl3 5% ; Fehling A ; AgNO3 1% ; Benzaldehid
NaOH 5% Fehling B ; KMnO4 1N

Etanol Fenilhidrazin; Na-Asetat 10% ; H2SO4


K4Fe(CN)6 : H2SO4 3N 1N

Formaldehid Isopropil alkohol Asetaldehid ; NH4OH 2%


100 mL

UJI TOLLENS
MEMBUAT REAGEN TOLLENS
Mengambil larutan AgNO3 5% Memasukkan larutan AgNO3 kedalam
sebanyak 2 mL tabung reaksi

Menambahkan 2 tetes larutan NaOH Hasil reaksi antara AgNO3 dengan


5% NaOH

Menambahkan larutan NH4OH 2% Diperoleh reagen Tollens yang tidak


sampai endapan tepat larut berwarna
Memasukkan 1 mL Menambahkan 2 tetes Reagen Tollens setelah
reagen Tollens kedalam benzaldehid pada tabung ditambah dengan
4 tabung reaksi reaksi 1 benzaldehid

Menambahkan 2 tetes Reagen Tollens setelah Reagen Tollens setelah


aseton pada tabung ditambah dengan aseton ditambah dengan
reaksi 2 sikloheksanon (tabung
reaksi 3)

Menambahkan 2 tetes Reagen Tollens setelah Menempatkan keempat


formalin pada tabung ditambah dengan tabung reaksi pada air
reaksi 3 formalin panas (35-50)0C selama
5 menit

Setelah ditempatkan Pada tabung reaksi 4 Tabung reaksi 3 (aseton)


pada air panas, (Formalin) terbentuk tidak terbentuk cermin
benzaldehid dan cincin perak perak
sikloheksanon tidak
terbentuk cermin perak
UJI FEHLING

Mengukur larutan fehling A sebanyak 10 mL


menggunakan gelas ukur
Menuang fehling A dari
gelas ukur kedalam
tabung reaksi

Mengukur larutan fehling B sebanyak 10 mL


menggunakan gelas ukur
Menuang fehling B dari
gelas ukur kedalam
tabung reaksi yang
sudah berisi fehling A
Memasukkan 5 mL
Reagen Fehling Mengukur reagen reagen fehling kedalam
fehling sebanyak 5 mL 3 tabung reaksi

Menambahkan 2 tetes Menambahkan 2 tetes Menambahkan 2 tetes


formaldehid kedalam aseton kedalam tabung sikloheksanon kedalam
tabung reaksi 1 reaksi 2 tabung reaksi 3

Perubahan warna larutan setelah ditempatkan pada


air mendidih selama 10-15 menit
Ditempatkan pada air
mendidih selama 10-15
menit
Pada tabung reaksi yang berisi reagen fehling
ditambah dengan formaldehid terjadi perubahan
warna larutan menjadi merah kecoklatan dan
terbentuk endapan berwarna merah bata.

ADISI BISULFIT

5 mL larutan Didinginkan dalam air


NaHSO3 es 5 mL larutan
dimasukkan dalam NaHSO3
erlenmeyer

Ditambah 2,5 mL Ditambah etanol


aseton

Disaring Terjadi endapan


berwarna putih

Residu dimasukkan Ditambah beberapa


dalam tabung reaksi tetes HCl pekat

Perubahan yang
terjadi endapan larut
PENGUJIAN DENGAN FENILHIDRASIN
a. Tabung 1

Setelah ditambahkan 10 tetes


5 mL Fenilhidrasin dimasukkan dalam benzaldehid
tabung reaksi yang berwarna kuning
disaring
5 mL fenilhidrasin setelah diguncankan
selama 1-2 menit terbentuk 2 lapisan

Dicuci dengan sedikit air dingin Ditambah sedikit etanol

Larutan dipindakan dalam kaca arloji Dikeringkan dalam desikator

b. Tabung 2
5 mL fenilhidrasin dimasukkan 5 mL fenilhidrasin ditambah
dalam erlenmeyer sikloheksanon

Dicuci dengan sedikit air dingin


Setelah itu disaring dan ditambah sedikit etanol

Setelah disaring Fenihidrasin Dikeringkan dalam desiktor


+ sikloheksanon dipindahkan
dalam kaca arloji
UJI TITIK LELEH

Kedua sampel setelah diletakkan dalam


desikator
Sampel 1 (benzaldehid)
dimasukkan dalam pipa
kapiler

Suhu awal sebelum Proses pemanasan Suhu akhir saat tepat


dipanaskan meleleh (1400C)

Hasil lelehan Sampel 2 Suhu awal


(sikloheksanon)
dimasukkan dalam pipa
kapiler

Suhu akhir (800C) Hasil lelehan

REAKSI HALOFORM

Mengukur 3 mL larutan Memasukkan larutan Menambahkan 5 tetes


NaOH 5% menggunakan NaOH kedalam 2 tabung aseton pada tabung
gelas ukur reaksi reaksi 1
Menambahkan 5 tetes Menambahkan larutan Menambahkan larutan
isopropil alkohol pada iodium pada tabung iodium pada tabung
tabung reaksi 2 reaksi 1 reaksi 1

Terbentuk endapan kuning (iodoform)

KONDENSASI ALDOL

Mengukur 4 mL larutan NaOh 1 % Memasukkan larutan NaOH kedalam


menggunakan gelas ukur tabung reaksi
Menambahkan 0,5 mL asetaldehid Dididihkan selama 3 menit
kedalam tabung reaksi yang berisi Terjadi perubahan warna dari tidak
larutan NaOH 1% berwarna menjadi berwarna kuning

Hasil akhir larutan berwarna kuning dan berbau tengik

IDENTIFIKASI KARBOKSILAT
a.
Mengukur 5 mL asam Memasukkan asam Mengukur 3 mL larutan
asetat menggunakan asetat kedalam tabung KMnO4 1 N
gelas ukur reaksi menggunakan gelas ukur

Memasukkan larutan KMnO4 1 N Hasil akhir terbentuk warna ungu


kedalam tabung reaksi yang berisi
asam cuka

b.
Mengukur asam asetat Memasukkan asam Mengukur larutan FeCl3
encer 10% sebanyak 5 asetat kedalam tabung 5% sebanyak 3 mL
mL menggunakan gelas reaksi menggunakan gelas ukur
ukur

Memasukkan larutan Perubahan warna yang Memanaskan hasil


FeCl3 kedalam tabung terjadi setelah asam reaksi antara asam asetat
reaksi yang sudah berisi asetat bereaksi dengan dengan FeCl3
asam asetat FeCl3

Terbentuk endapan Menyaring hasil reaksi Filtrat hasil penyaringan


setelah dipanaskan yang sudah terbentuk tidak berwarna dan
endapan FeCl3 berwarna kuning

Menambahkan K4FeCN6 kedalam Perbandingan filtrat+K4FeCN6 dengan


filtrat larutan FeCl3

Anda mungkin juga menyukai