Anda di halaman 1dari 22

PENDAHULUAN

AIR

Berdasarkan jenis sumber/cadangan, air dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu :

1. Air Curah Hujan, terdiri dari air hujan tampungan dan air limpasan.

2. Air Permukaan, terdiri dari mata air, air sungai, air danau/situ alamiah,
air danau/situ buatan, bendungan/bendungan irigasi dan air rawa.

3. Air Tanah, terdiri dari air tanah bebas/air tanah dangkal, air tanah semi
tertekan/semi artesis/air tanah dalam, dan air tanah tertekan/artesis/air
tanah sangat dalam.

Sedangkan penggunanya dapat dikelompokkan menurut sektor pertanian, industri,


rumah tangga dan lainnya. Konsumsi air menurut kelompok tersebut selama tahun 2010
dan tahun 2011 adalah sebagai berikut :

TABEL : II.6.

KONSUMSI AIR MENURUT KELOMPOK PENGGUNA

PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2010-2011

KONSUMSI AIR (Juta M3)


NO KELOMPOK
2010 2011

1 Pertanian 20,28 20,54

2 Industri 20,19 18,96


3 Rumah Tangga/Industri 725,36 815,36

4 Konsumen Lainnya 45,38 50,32

JUMLAH 811,21 905,18

Sumber : BPS Provinsi DKI Jakarta, 2011

Keterangan :

1. Pertanian

Konsumsi air untuk lahan pertanian pada tahun 2011 lebih besar dibandingkan tahun
sebelumnya yaitu sebesar 20,54 juta M3 atau naik 1,28 persen. Kenaikan ini seiring
dengan semakin luasnya lahan sawah di Jakarta pada tahun yang sama (naik 7,98 %).

2. Rumah Tangga dan Industri Kecil

Pada tahun 2011 konsumsi air untuk kelompok rumah tangga sebesar 815,36 juta
M3 atau meningkat sebesar 12,40 persen dibandingkan tahun sebelumnya (725,36
juta M3). Peningkatan jumlah konsumsi air di kelompok ini disebabkan karena
semakin banyaknya jumlah penduduk pada tahun 2011 yaitu tumbuh sebesar 1,81
persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rumah tangga di DKI Jakarta menggunakan
air minum dari berbagai sumber antara lain ledeng (16,64 %), kemasan (62,70 %),
sumur (20,02 %) dan lainnya (0,64 %).

3. Industri (Industri Besar Sedang)

Konsumsi air untuk kelompok industri sedikit menurun dibandingkan tahun


sebelumnya yaitu dari sebesar 20,19 juta M 3 menjadi 18,93 juta M3 atau menurun
6,09 persen yang disebabkan oleh menurunnya jumlah industri besar dan sedang di
DKI Jakarta, serta adanya pembatasan pemakaian air tanah di Provinsi DKI Jakarta.
4. Konsumen Lainnya

Yang tercakup dalam kategori konsumen lainnya ini antara lain : sekolah, niaga,
instansi pemerintah dan fasilitas umum. Pada tahun 2011 konsumsi air untuk
kategori kelompok lainnya juga meningkat menjadi 50,32 juta M3. Peningkatan ini
seiring dengan meningkatnya jumlah sarana dan prasarana di Kota Jakarta.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jaya sebagai salah satu perusahaan yang secara
langsung bertanggung jawab terhadap penyediaan air bagi warga DKI Jakarta melalui
dua mitra kerjanya PT. Palyja dan PT. Aetra harus bisa memenuhi kebutuhan air bersih
bagi warganya. Sampai saat ini PDAM Jaya belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan air
bersih, hal ini dikarenakan masih tingginya tingkat kebocoran air dan sumber air baku
yang makin sulit diperoleh. Namun demikian mengingat bahwa penyediaan air bersih
merupakan hal yang sangat penting maka diperlukan upaya khusus untuk meningkatkan
kapasitas produksi, mengurangi tingkat kebocoran air dan meningkatkan pelayanan air
bersih, dengan demikian diharapkan penggunaan air tanah secara bertahap dapat
dikurangi.

AIR TANAH

LATAR BELAKANG

Sebagian besar penduduk di Provinsi DKI Jakarta sampai saat ini masih menggunakan
air tanah sebagai sumber air bersih maupun air minum, hal ini disebabkan karena masih
terbatasnya penyediaan air bersih yang disediakan oleh PD. PAM Jaya, sehingga air
tanah merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan warga disamping air
sungai dan situ. Dengan pertimbangan ini, maka di lakukan riset terhadap kualitas air
tanah.

Kualitas air tanah di Provinsi DKI Jakarta umumnya tergantung pada kedalaman
aquifer-nya, yaitu pada kedalaman 40 m umumnya kondisi air tanah masih
baik/memenuhi persyaratan air bersih yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.

Akan tetapi, tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di Provinsi DKI Jakarta
menyebabkan letak sumur - sumurnya berdekatan dengan septic tank, sehingga
umumnya sumur - sumur di Provinsi DKI Jakarta tercemar oleh rembesan dari septic
tank penduduk yang kondisinya tidak memenuhi syarat. Banyaknya penduduk yang
memanfaatkan air sumur dangkal yang tercemar, hal ini berdampak buruk terhadap
kesehatan masyarakat akibat kontaminasi dan buruknya sanitasi.

Kondisi semacam ini tentunya tidak sejalan lagi dengan Undang undang Kesehatan
No. 23 tahun 1992 ayat 3 yang menyebutkan bahwa air minum yang dikonsumsi oleh
masyarakat, harus memenuhi persyaratan kualitas maupun kuantitas, dimana persyaratan
ini tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) Nomor 416 Tahun
1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum yang ditetapkan dalam peraturan
diantaranya meliputi parameter fisik, kimiawi, mikrobiologi, dan radioaktif.

Dalam rangka upaya memenuhi kondisi persyaratan air minum/ air bersih sebagaimana
yang ditetapkan dalam peraturan maka diperlukan berbagai kebijakan yang menyangkut
pelestarian air bersih. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pihak BPLHD Provinsi DKI
Jakarta melaksanakan pemantauan kualitas air tanah setiap tahunnya sebagai bahan
dalam upaya pengendalian lingkungan di provinsi DKI Jakarta. Dari pertimbangan
tersebut diatas, untuk pemantauan kualitas air tanah di Provinsi DKI Jakarta pada tahun
2011 di lakukan riset di 15 kelurahan pada Jakarta Barat.

Untuk masing-masing kelurahan diambil 1 (satu) sampel sumur sehingga diperoleh


contoh sumur sebanyak 15 sumur. Parameter yang dipantau yaitu parameter fisik, kimia,
dan biologi yang disesuaikan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 416/MenKes/Per/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, sebagai
bahan informasi lokasi pengambilan air sumur/air tanah dangkal di provinsi DKI Jakarta
di tentukan berdasarkan hal - hal sebagai berikut :

a. Terletak di daerah permukiman penduduk


b. Kondisi lingkungan
c. Dekat dengan sumber pencemaran
d. Keadaan topografi
e. Mewakili region air tanah

Dari pertimbangan lokasi diatas, ditentukan jumlah sumur sebanyak 15 lokasi yang
terdapat di wilayah Jakarta Barat, dengan 15 kelurahan dimana masing - masing
kelurahan diwakili oleh 1 sumur dangkal, yaitu :

1 Rawa Buaya (Kacamatan Cengkareng)


2 Kalideres (Kecamatan Kalideres)
3 Sukabumi Utara (Kecamatan Kebon Jeruk)
4 Jelambar (Kecamatan Grogol Cengkareng Barat)
5 Pinangsia (Kecamatan Taman Sari)
6 Sukabumi Utara (Kecamatan Kebon Jeruk)
7 Duri Kepa (Kecamatan Kebon Jeruk)
8 Sukabumi Selatan (Kecamatan Kebon Jeruk)
9 Meruya Utara (Kecamatan Kembangan)
10 Tegal Alur (Kecamatan Kalideres)
11 Duri Kosambi (Kecamatan Cengkareng)
12 Kembangan Selatan (Kecamatan Kembangan)
13 Tambora (Kecamatan Tambora)
14 Duri Kepa (Kecamatan Kebon Jeruk)
15 Sukabumi Selatan (Kecamatan Kebon Jeruk)
TUJUAN

Untuk mengetahui gambaran mengenai baku mutu kualitas air tanah di Jakarta Barat
sesuai dengan persyaratan air bersih yang telah ditetapkan pemerintah dalam SK Menteri
Kesehatan No. 416/MenKes/PER/IX/1990 dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
No. 115 Tahun 2003.

SASARAN

- Menganalisis kualitas parameter fisik dan kimia.


- Menganalisis kualitas mikrobiologis air tanah.

- Menganalisis mutu air tanah (indeks pencemaran) yang terjadi di Jakarta Barat.
METODE PENELITIAN

1. Kualitas Fisik Air Tanah


Tujuan dari ini untuk mengetahui kekeruhan dari air tanah tersebut dan zat padat
terlarut (TDS). Dan dari data yang dikumpulkan, kualitas fisik air tanah daerah
Jakarta Barat sebagai berikut :

TDS (mg/L) Kekeruhan


WILAYAH
September November September November

Jakarta Barat 1,015.80 645.80 17.58 11.89

Tabel 1.1 Rata-rata kualitas fisik air tanah di Jakarta Barat

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa nilai rata-rata untuk parameter zat padat terlarut
(TDS) di Jakarta Barat masih memenuhi baku mutu. Gambaran nilai zat padat terlarut
(TDS) di wilayah Jakarta Barat dapat dilihat pada Grafik berikut ini :

Grafik 1.1 Parameter Zat Padat Terlarut


Gambaran nilai kekeruhan di wilayah Jakarta Barat dapat dilihat pada Grafik dibawah
ini

Grafik 1.2 Parameter Kekeruhan

2. Kualitas Kimia Air Tanah


Kualitas kimia air tanah terdiri dari :
1. Kualitas kimia an-organik
Kadar kimia an-organik dapat dilihat dari parameter Fe (besi), F (Fluorida),
Total Hardness, Cl (Chlorida), Mn (Mangan), Nitrat.

2. Kualitas kimia organik

Kadar kimia organik air tanah dilihat dari parameter Zat Organik
(KMnO4). Untuk lebih jelasnya tentang hasil pemeriksaan kualitas air tanah
yang meliputi para meter Fe (besi), F (Fluorida) di Jakarta Barat dapat dilihat
pada Tabel dibawah :

Besi(Fe) (mg/L) Flourida (F) (mg/L)


WILAYAH
September November September November

Jakarta Barat 0.27 0.23 0.62 0.15

Tabel 2.1 Rata-rata kualitas kimia air tanah di Jakarta Barat


Untuk Parameter an-organik, maka Gambaran nilai Besi(Fe) di Jakarta Barat dapat
dilihat pada Grafik berikut ini.

Grafik 2.1 Parameter Kandungan Besi(Fe)

Sedangkan nilairata-rata parameter flourida(F) air sumur di Jakarta Barat umumnya


masih dalam kondisi baik, gambaran lengkapnya dapat di lihat pada grafik berikut.

Grafik 2.2 Parameter Kandungan Flourida(Fe)


Sedangkan untuk nilai rata-rata parameter Total Hardness dan Chlorida masih memenuhi
baku mutu. Sementara untuk pengambilan sampel bulan Nopember yang hasil
pemeriksaan laboratoriumnya masih melebihi baku mutu. Secara lengkapnya dapat di
lihat pada grafik di bawah

Grafik 2.3 Parameter Total Hardness

Untuk parameter Chlorida (Cl) yang hasil pemeriksaan sampelnya masih melebihi baku
mutu pada bulan September ada di titik 304 (Jelambar, Grogol Cengkareng Barat) nilai
755,09 mg/L. Sementara hasil pengambilan sampel bulan Nopember untuk lokasi yang
nilai parameter Chlorida (Cl) yang melebihi baku mutu ada di titik 310 (Tegal Alur,
Kalideres) nilai 805,42 mg/L. Gambaran secara lengkap dapat dilihat pada Grafik
berikut ini

Grafik 2.4 Parameter Chlorida

Sedangkan untuk Mangan, dapat dilihat bahwa rata-rata nilai kualitas Mangan (Mn)
banyak yang melebihi baku mutu yang telah ditetapkan. Untuk hasil pengambilan
sampel bulan September, titik 301 (Rawa Buaya, Cengkareng) nilai 2,59 mg/L; titik 302
(Kalideres, Kalideres) nilai 1,00 mg/L; titik 304 (Jelambar, Grogol Cengkareng Barat)
nilai 1,25 mg/L. Sementara untuk hasil sampel bulan Nopember, lokasi yang hasil
sampel untuk parameter Mangan (Mn) melebihi baku mutu ada di titik 301 (Rawa
Buaya, Cengkareng) nilai 2,21 mg/L; titik 304 (Jelambar, Grogol Cengkareng Barat)
nilai 1,15 mg/L. Gambaran lengkap dari titik lokasi pengambilan sampel yang melebihi
baku mutu dapat dilihat pada Grafik di bawah ini.

Grafik 2.5 Parameter Mangan


Untuk nilai rata-rata parameter Nitrat (NO3) air sumur di Jakarta Barat umumnya masihdalam
kondisi baik, gambaran lengkap nilai parameter Nitrat (NO 3) pada lokasi pengambilan sampel
dapat dilihat pada Grafik berikut

Grafik 2.6 Parameter Nitrat


Untuk hasil pemeriksaan laboratorium kadar kimia organik dengan menggunakan
metode nilai permanganat (KMnO4) pada sampel air tanah dangkal dapat dilihat pada
data di bawah ini

Organik (KMnO4)(mg/L)
WILAYAH
September November

Jakarta Barat 3.05 3.55

Tabel 2.2 Rata-rata kualitas kimiaorganik pada air tanah di Jakarta Barat

Dari data diatas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kualitas organik (KMnO4) masih
dalam kondisi relatif baik.Gambaran lengkapnya dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik 2. Parameter Zat Organik

3. Kualitas Biologis Air Tanah


Kualitas biologis air tanah menunjukkan banyaknya mikroba yang terdapat di
air tanah. Mikroba yang menjadi indikator apabila ingin mengetahui kualitas
air tersebut tercemar atau tidak adalah bakteri koli. Nilai rata-rata kualitas
biologis air tanah hasil pemantauan dapat dilihat di Tabel berikut ini.
Bakteri Koli (Jml/100ml)
WILAYAH
September November

Jakarta Barat 4,897 15,388

Tabel 2.3 Rata-rata kualitas biologis air tanah di Jakarta Barat

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa rata-rata kualitas biologis air tanah di Jakarta
Barat sudah sangat buruk. Lokasi pemantauan yang kualitasnya buruk pada bulan
September ada di titik 303 (Sukabumi Utara, Kebon Jeruk) nilai 1.300 Jml/100 ml; titik
304 (Jelambar, Grogol Cengkareng Barat) nilai 13.000 Jml/100 ml; titik 305 (Pinangsia,
Taman Sari) nilai 800 Jml/100 ml; titik 307 (Duri Kepa, Kebon Jeruk) nilai 130 Jml/100
ml; titik 309 (Meruya Utara, Kembangan) nilai 50.000 Jml/100 ml; titik 313 (Tambora,
Tambora) nilai 2.800 Jml/100 ml; titik 314 (Duri Kepa, Kebon Jeruk) nilai 500 Jml/100
ml.

Sementara untuk hasil pemantauan bulan Nopember, lokasi yang hasil sampelnya
melebihi baku mutu ada di titik 301 (Rawa Buaya, Cengkareng) nilai 130.000 Jml/100
ml; titik 302 (Kalideres, Kalideres) nilai 80 Jml/100 ml; titik 303 (Sukabumi Utara,
Kebon Jeruk) nilai 5.000 Jml/100 ml; titik 304 (Jelambar, Grogol Cengkareng Barat)
nilai 30.000 Jml/100 ml; titik 305 (Pinangsia, Taman Sari) nilai 1.700 Jml/100 ml; titik
307 (Duri Kepa, Kebon Jeruk) nilai 1.300 Jml/100 ml; titik 311 (Duri Kosambi,
Cengkareng) nilai 800 Jml/100 ml; titik 313 (Tambora, Tambora) nilai 350 Jml/100 ml.
Gambaran lengkapnya dapat dilihat pada Grafik di bawah ini
Grafik 3.1 Parameter Zat Organik

PENGOLAHAN DATA STATUS MUTU AIR TANAH

Status mutu air tanah digambarkan dengan Indeks pencemaran (Pollution Index) yang
merupakan indeks yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif
terhadap parameter kualitas air yang diijinkan. Pengelolaan dengan Indeks Pencemar
dapat memberi masukan pada pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas air serta
melakukan tindakan tertentu untuk memperbaiki kualitas air jika terjadi penurunan
kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar

Kondisi Indeks Pencemaran secara keseluruhan di wilayah DKI Jakarta sebagaimana


yang terdapat pada tabel di atas menggambarkan kondisi air tanah di DKI Jakarta rata-
rata sudah dalam kondisi tercemar (80%) baik itu tercemar ringan, sedang, ataupun
berat. Kondisi pada saat musim penghujan menunjukkan adanya peningkatan
pencemaran dari kondisi tercemar ringan menjadi tercemar sedang, ataupun berat

Kondisi Indeks Pencemaran air tanah di DKI Jakarta untuk setiap wilayah di Provinsi
DKI Jakarta memiliki hasil yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi
status mutu air tanah di wilayah Jakarta Barat dapat dilihat pada pembahasan sebagai
berikut

STATUS MUTU JUMLAH PERSENTASE


Musim Kemarau
Baik 3 20%
Tercemar Ringan 7 47%
Tercemar Sedang 3 20%
Tercemar Berat 2 13%
Musim Penghujan
Baik 3 20%
Tercemar Ringan 6 40%
Tercemar Sedang 4 27%
Tercemar Berat 2

Tabel 3.1 Status Mutu (Indeks Pencemaran) Air Tanah

Status mutu air tanah Jakarta Barat berdasarkan hasil pemantauan dengan 2 (dua) kali
pengambilan sampel menunjukkan bahwa pada saat musim kemarau kualitas air tanah di
daerah yang dipantau sebagian besar sudah dalam keadaan tercemar ringan, sedang,
ataupun berat (80%). Pada saat pemantauan pada musim penghujan terjadi peningkatan
status tercemar sedang dari 20 persen menjadi 27 persen.

Dari hasil pemantauan kualitas air tanah di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2011 dapat
disimpulkan adalah sebagai berikut :

1. Parameter Fisik

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa rerata nilai parameter fisik air tanah
yang berupa TDS (Total Dissolved Solids) dan kekeruhan di seluruh wilayah
DKI Jakarta masih dalam kondisi baik, dari lima wilayah Kotamadya di
Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Utara memiliki nilai rerata TDS dan kekeruhan
yang paling tinggi dan memiliki nilai prosentase wilayah yang hasil
sampelnya melebihi baku mutunya paling besar.
2. Parameter Kimia

Kondisi parameter kimia air tanah mengalami trend yang bervariasi antara
lain sebagai berikut :

Parameter besi (Fe) : Nilai rata-rata parameter besi masih berada dalam
kondisi yang relatif baik yaitu sebagian besar masih berada dibawah baku
mutu. Akan tetapi ada dua wilayah Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta yang
nilai rata-ratanya melebihi baku mutu yaitu Jakarta Pusat (September) dan
Jakarta Timur (Nopember), dengan wilayah Jakarta Pusat merupakan wilayah
yang nilai prosentase wilayah yang melebihi baku mutunya paling besar.

Parameter Fluorida (F) : Nilai rata-rata parameter Fluorida air tanah di


seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta masih memenuhi baku mutu, dan dari
semua titik pantau tidak ada yang melebihi baku mutu.

Parameter total hardness : Nilai rata-rata parameter total hardness air


tanah di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta masih memenuhi baku mutu,
akan tetapi ada beberapa titik pantau di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta
Utara yang hasil sampelnya melebihi baku mutu.

Parameter Chlorida (Cl) : Nilai rata-rata parameter Chlorida air tanah

di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta masih memenuhi baku mutu, akan
tetapi ada beberapa titik pantau di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan
Jakarta Utara yang hasil sampelnya melebihi baku mutu.

Parameter Mangan (Mn) : Untuk parameter ini seluruh wilayah


Kotamadya DKI Jakarta yang nilai rata-ratanya melebihi baku mutu sangat
banyak dan tersebar disemua wilayah. Hanya di wilayah Jakarta Selatan
yang nilai rata-rata untuk parameter Mangan masih memenuhi baku mutu.

Parameter Nitrat (NO3) : Nilai rata-rata parameter Nitrat air tanah di


seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta masih memenuhi baku mutu, dan dari
semua titik pantau tidak ada yang melebihi baku mutu.

Parameter Organik (KMnO4) : Nilai rerata parameter Organik air

tanah di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta masih memenuhi baku mutu.
Wilayah Jakarta Utara memiliki jumlah titik terbanyak yang hasil sampelnya
melebihi baku mutu.
3. Parameter mikrobiologi

Bakteri koli rata-rata di semua wilayah Kotamadya DKI Jakarta telah


melebihi baku mutu. Nilai rata-rata yang didapat berdasarkan hasil
pengukuran sangat jauh dari nilai baku mutu. Dengan wilayah yang paling
banyak tercemar bakteri koli berada di wilayah Jakarta Utara.

4. Indeks Pencemaran

Status mutu air tanah di DKI Jakarta pada tahun 2011 termasuk dalam
kategori baik sampai tercemar berat, dengan rincian kategori baik sebesar 20
persen, tercemar ringan 51 persen, tercemar sedang 16 persen, dan tercemar
berat 13 persen. Kondisi ini menjadi lebih buruk pada saat masuk musim
penghujan dimana kategori baik menjadi sebesar 20 persen, tercemar ringan
40 persen, tercemar sedang 21 persen dan tercemar berat 19 persen.

Sumber pencemaran air tanah dilihat dari hasil analisa laboratorium terhadap
sampel di beberapa titik, dapat diperkirakan berasal air limbah domestik
(rumah tangga). Hal ini terlihat dari nilai bakteri koli yang sangat jauh di atas
baku mutu. Dengan kondisi permukiman yang berada di lokasi yang sangat
padat, baik teratur maupun tidak teratur, tidak dapat diperkirakan saluran
sanitasi masyarakat dan kondisinya. Hal ini juga dikarenakan belum adanya
pelayanan pembuangan dan pengolahan air limbah secara komunal.