Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian
Managemen krisis adalah sebuah situasi kegawat daruratan pada klien
penderita gangguan jiwa, rata-rata pasien yang masuk dalam kategori
managemen krisis adalah pasien yang mengalami kondisi labil, terjadi pada
pasien baru, pasien yang mengalami kekambuhan, pasien dengan regimen
terapeutik tidak efektif, pasien amuk, pasien gaduh gelisah, pasien putus obat
dan beberapa penyebab lain.
Krisis adalah gangguan internal yang diakibatkan oleh suatu keadaan yang
dapat menimbulkan stress, dan dirasakan sebagai ancaman bagi individu.
Krisis terjadi jika seseorang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan hidup
yang penting, dan tidak dapat diatasi dengan penggunaan metode pemecahan
masalah (koping) yang biasa digunakan.
Krisis adalah gangguan internal yang disebabkan oleh kondisi penuh stres
atau yang dipersepsikan oleh individu sebagai ancaman. Selama krisis, individu
kesulitan dalam melakukan sesuatu, koping yang biasa digunakan tidak efektif
lagi dan terjadi peningkatan kecemasan.

B. Tanda dan gejala


1. Pasien Mondar - mandir
2. Tatapan mata tajam
3. Pasien susah tidur
4. Pasien menggangu pasien lain
5. Pasien berteriak - teriak
6. Pasien memukul benda atau tempat tidur
7. Pasien menimbulkan suasana gaduh
8. Pasien menolak instruksi
9. Pasien menyerang pasien lain, menyerang perawat atau tenaga kesehatan yang
lain

C. Penatalaksanaan
1. Kolaborasi medis pemberian psikofarmaka

1
2. Melakukan pemberian psikofarmaka sesuai order
3. Melakukan restrain
4. Managemen krisis
5. Pertimbangan melakukan ECT
6. Managemen lingkungan
7. Beri instruksi pada pasien lain terkait kondisi pasien kritis
8. Monitoring kondisi klien

D. Konsep krisis
1. Krisis terjadi pada semua individu, tidak selalu patologis
2. Krisis dipicu oleh peristiwa yang spesifik
3. Krisis bersifat personal
4. Krisis bersifat akut, tidak kronis, waktu singkat (4-6 minggu)
5. Krisis berpotensi terhadap perkembangan psikologis atau bahkan membaik

E. Faktor yang berpengaruh


1. Pengalaman problem solving sebelumnya
2. Persepsi individu terhadap suatu masalah
3. Adanya bantuan atau bahkan hambatan dari orang lain
4. Jumlah dan tipe krisis sebelumnya
5. Waktu terakhir mengalami krisis
6. Kelompok beresiko
7. Resilence: Faktor perlindungan yang berkonstribusi terhadap keberhasilan
koping dengan stress lain. Faktor perlindungan antara lain kompetnsi sosial,
keterampilan memecahkan masalah, otonomi, berorientasi pada tujuan, ide
belajar, dukungan keluarga, dukungan sosial. Resilient (individu yang tabah
dan ulet) mempunyai harga diri tinggi, berdaya guna, mempunyai
keterampilan memecahkan masalah, mempunyai kepuasan dalam hubungan
interpersonal

F. Macam-macam krisis
1. Krisis maturasi/krisis perkembangan

2
Dipicu oleh stressor normal dalam perkembangan. Terjadi pada masa transisi
proses pertumbuhan dan perkembangan. Setiap tahap perkembangan
merupakan tahap krisis bila tidak difasilitasi untuk dapat menyelesaikan
tugas perkembangan
2. Krisis situasional
Merupakan suatu respon terhadap peristiwa traumatik yang tiba-tiba dan
tidak dapat dihindari, yang mempunyai pengaruh besar terhadap peran dan
identitas seseorang. Cenderung mengikuti proses kehilangan, seperti
kehilangan pekerjaan, putus sekolah, putus cinta, penyakit terminal,
kehamilan/kelahiran yang tidak diinginkan. Respon yang muncul terhadap
kehilangan adalah depresi. Kesulitan dalam beradaptasi dengan krisis
situasional ini berhubungan dengan kondisi dimana seseorang sedang
berjuang menyelesaikan krisis perkembangan
3. Krisis sosial
Krisis yang terjadi di luar kemampuan individu. Adanya situasi yang
diakibatkan oleh kehilangan multiple dan perubahan lingkungan yang luas,
contoh: terorisme, kebakaran, gempa bumi, banjir, perang.

G. Tipe krisis (Townsend, 2006)


1. Dispisiotional crises, merupakan respon akut terhadap stressor eksternal
2. Crises of anticipated life transition, suatu transisi siklus kehidupan yang
normal yang diantisipasi secara berlebihan oleh individu saat kehilangan
kendali.
3. Crises resulting from traumatic stress, krisis yang dipicu oleh stressor
eksternal yang tidak diharapkan sehingga individu merasa menyerah karena
kurangnya atau bahkan tidak mempunyai kontrol diri.
4. Developmental crises, crises yang terjadi sebagai respon terhadap situasi yang
mencetuskan emosi yang berhubungan dengan konflik kehidupan yang tidak
dapat dipecahkan.
5. Crises reflecting psycopathology misalnya neurosis, schizophrenia, borderline
personality.
6. Psychiatrik emergency, crises secara umum telah mengalami kerusakan yang
parah terhadap fungsi kehidupan. Misalnya acute suicide, overdosis, psikosis

3
akut, marah yang tidak terkontrol, intoksikasi alkohol, reaksi terhadap obat-
obatan halusinogenik

H. Tahap perkembangan krisis


Fase 1
- Individu dihadapkan pada stressor pemicu
- Kecemasan meningkat, individu menggunakan teknik problem solving
yang biasa digunakan
Fase 2
- Kecemasan makin meningkat karena kegagalan penggunan teknik
problem solving sebelumnya
- Individu merasa tidak nyaman, tak ada harapan, bingung
Fase 3
- Untuk mengatasai krisis individu menggunakan semua sumber untuk
memecahkan masalah, baik internal maupun eksternal
- Mencoba menggunakan teknik problem solving baru, jika efektif terjadi
resolusi
Fase 4
- Kegagalan resolusi
- Kecemasan berubah menjadi kondisi panic, menurunnya fungsi kognitif,
emosi labil, perilaku yang merefleksikan pola pikir psikotik

I. Daftar pustaka
Budi, Ana Keliat. (2009). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta:
EGC
DepKes RI. (2010). Pedoman Perawatan Psikiatrik. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Iyus, Yosep. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: Rafika Aditama
Niven, Neil. (2010). Psikologi Kesehatan. Jakarta. EGC.
Maramis. (2008). Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta: FKUI
Townsend, Mary C. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing : Concept of
Care in Evidence-Based Practice 6th ed. Philadelphia : F.A. Davis Company