Anda di halaman 1dari 35

1.

Nama
Chyello Exsel Andika
- Untuk berkomunikasi dengan pasien supaya tidak tertukar dengan pasien
lain
- Supaya lebih akrab

2. Usia
9 tahun
Berkaitan dgn waktu (kecepatan) erupsi gigi dan memperkirakan prognosa
perawatan
Umur dalam status adalah umur kalender berdasarkan tgl lahir pasien
Mengetahui apakah pasien masih dalam growth spurt atau sudah berhenti
( perempuan 12 tahun, laki-laki 13 tahun)
Untuk memperkirakan waktu/lama perawatan yang dibutuhkan
Mengetahui periode gigi geligi pasien (decidui / mixed dentition /
permanen)
Mengetahui gigi yang sudah erupsi sesuai dengan umur pasien / tidak

3. Alamat
Jalan Anggrek Vanda no 18
Agar operator mudah menghubungi pasien untuk follow up
Mengetahui status ekonomi dari pasien tersebut

4. Nama Orang Tua


Supiah
Sebagiai hub komunikasi dokter dan pasie, identitas membedakan pasien
satu dengan yang lainnya
Harus nama lengkap, bila terdapat marga dalam nama pasien maka akan
membantu kita untuk mengetahui kondisi pasien khususnya yang
berhubungan dengan perawatan ortodontik
a. Contoh : Marinson Hasudungan Hutasoit marga batak tulang
rahang keras dan besar

5. Suku/Warga Negara
Jawa
Untuk mengetahui ciri-ciri fisik tertentu yang masih normal dalam
kelompok tersebut. Contohnya, ciri suku Hasburg di Austria yang memiliki ciri
maloklusi kelas III, ciri suku Batak tulang rahangnya keras dan besar.

6. Jenis Kelamin
Laki-laki
Terdapat perbedaan waktu, kecepatan, ukuran, dan arah pertumbuhan
dan perkembangan antara laki-laki dan perempuan.

7. Tanggal Lahir
4 Maret 2006
Untuk mengetahui usia pasien

8. Nomor Telepon
0822 3482 1933
Untuk menghubungi orang tua pasien saat dibutuhkan follow up
9. Pekerjaan Orang Tua
Supir
Untuk mengetahui keadaan sosial dan ekonomi pasien. Sehingga perlu
dijelaskan semua prosedur beserta biaya perawatan dari awal sampai
akhir agar tidak kaget dengan biaya-biayanya.

10. Keluhan utama kasus Orto


Pasien datang dengan keluhan gigi depannya berantakan, pasien ingin giginya
dirapikan. Pasien belum pernah mendapat perawatan ortodontik sebelumnya.
Untuk mengetahui keadaan geligi yang dirasa mengganggu, terdiri dari:
- Keluhan utama: estetik status sosial, fungsi pengunyahan
- Keluhan tambahan: sakit di TMJ, sakit saat mengunyah
- Motiasi: eksternal, internal
- Riwayat perawatan ortodonti

11. Berat badan dan Tinggi Badan


BB: 30kg, TB: 131cm
Untuk mengetahui apakah perkembangan pasien normal sesuai dengan
umur dan jenis kelaminnya. Jika normal, berarti perkembangannya bagus.
Pemeriksaan bisa dilakukan dengan menghitung status gizi pasien dengan
rumus perimbangan bert badan (dalam kilgram) dan tinggi badan (dalam
meter). Pemeriksaan gizi dilakukan untuk mengetahui adakah keadaan gizi ini
mengganggu proses pertumbuhan, perkembangan rahang dan erupsi normal
gigi-geligi, sehingga diduga menjadi penyebab maloklusi. Lalu apakah
perawatan akan terhambat karena keadaan gizi pasien.

12. Kelainan endokrin


TAK
1 Gangguan pada kelenjar endokrin misalnya glandula hipofise, glandula
tyroida, dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan mengakibatkan
adanya anomali pada gigi-giginya.
2 Ketidakseimbangan kelenjar endokrin mempengaruhi metabolisme zat-zat
yang ada dalam tubuh. Hiperfungsi atau hipofungsi kelenjar endokrin akan
menyebabkan gangguan metabolik dan dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan perkembangan kraniodentofasial. Misalnya : Hipoplasia gigi,
menghambat atau mempercepat pertumbuhan muka tetapi tidak merubah
arah pertumbuhan, menggangu osifikasi tulang, waktu menutupan sutura,
waktu erupsi gigi, waktu resorpsi akar gigi susu, membrana periodontalis dan
gingiva sensitif terhadap gangguan endokrin.
3
13. Penyakit Anak-Anak
Cacar Air
Penyakit anak-anak yang dimaksud adalah penyakit anak yang dapat
mengganggu pertumbuh kembangan normal anak. Misalnya panas badan
tinggi dapat mengganggu jadwal waktu pertumbuhkembangan gigi pada masa
kanak-kanak. Penyakit kronis pada anak-anak dapat mengubah keseimbangan
energi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Pada anak yang menderita
penyakit kronis, hampir semua energi yang didapatkan kadang kurang
mencukupi untuk beraktivitas dan tumbuh.

14. Alergi
TAK
Alergi dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup, disebabkan karena
kualitas tidur yang kurang baik, sakit kepala dan kelelahan. Alergi juga dapat
mempengaruhi perawatan orto terutama dalam hal kepatuhan pasien.
Operator harus mengetahui riwayat alergi pasien, alergi obat-obatan, produk
kesehatan (ex: lateks), lingkungan (debu), alergi bahan orto(nikel, akrilik)
15. Kelainan saluran pernafasan
Bronkitis
Hambatan saluran pernafasan menyebabkan pasien bernafas melalui
mulut sehingga lengkung gigi di rahang atas menjadi lebih sempit. Diagnosis
dan hambatan saluran pernafasan sebaiknya diketahui sedini mungkin
sehingga dapat dikoreksi bukan hanya pola pernafasannya tetapi juga
mencegah terjadinya maloklusi pasien yang belum terjadi maloklusi dan tidak
memperparah maloklusi yang telah ada.
Hambatan saluran pernafasan yang kronis akan membuat pasien bernafas
melalui mulut sehingga akan merubah posisi lidah dan rahang bawah. Jika hal
tersebut terjadi selama masa pertumbuhn aktif, maka akan terjadi
perkembangan sindrom wajah adenoid atau sering disebut sindrom wajah
panjang. Penyebab hambatan saluran pernafasan yang paling sering terjadi
pada anak-anak adalah pembesaran jaringan limfoid yang terletak pada
daerah faring yaitu pembesaran adenoid dan tonsil. Faktor penyebab lainnya
adalah pembengkakan kelenjar mukosa, penyimpangan sekat hidung serta
adanya faktor kebiasaan.

16. Tindakan Operasi


TAK
Untuk mengetahui status kesehatan pasien secara umum. Harus diketahu
apakah pasien pernah mendapat trauma disekitar trauma dan sampai
mendapat operasi, apakah pernah operasi tonsil hambatan saluran
pernafasan.

17. Ciri Maloklusi Keluarga


Ibu: gigi depan protrusi
Ciri keluarga adanya pola-pola tertentu yang selalu ada pada keluarga
(keadaan ini sudah berulang pada suatu keluarga secara turun temurun.

18. Kebiasaan Buruk


Gigit kuku, gigit pensil
tanyakan kepada pasien atau orang tuanya tentang :
- Jenis : Kebiasaan buruk apa yang telah dilakukan ?
- Kapan : Umur berapa kebiasaan buruk dilakukan, apakah sekarang masih
dilakukan ?
- Durasi : Dari sejak kapan sampai kapan dilakukan ?
- Frekuensi : Berapa kali per jam / perhari dilakukan ?
- Intensitas : Seberapa kuat / keras dilakukan ?
- Posisi : Bagaimana dan di bagian mana dilakukan ?
- Apakah ada hubungan anatara kebiasaan buruk yang dilakukan dengan
keadaan maloklusi pasien ?
Kebiasaan buruk yang berhubungan dengan maloklusi antara lain:
1. Menghisap ibu jari/jari lain
Menghisap jari biasa dilakukan pada anak-anak. Jika kebiasaan ini
berlanjut sampai periode gigi tetap dapat menimbulkan:
- Gigi insisif rahang atas protrusif dan gigi insisif rahang bawah
linguoversi.
- Open bite anterior.
- Penyempitan lengkung rahang atas.
- Crossbite posterior.
- Protusif maksila.
2. Mendorong lidah
Tongue trust atau kebiasaan mendorong lidah adalah kebiasaan
menempatkan ujung lidah di antara gigi insisif, baik pada waktu
istirahat ataupun pada waktu menelan. Hal ini menyebabkan open bite
anterior dan protusif maksila.

3. Bernafas melalui mulut


Bernafas melalui mulut biasanya akibat gangguan kronis pada
nasopalatinus, misalnya rhinitis kronis, deviasi septum nasal,
pembesaran kelenjar adenoid, dan polip hidung. Akibatnya:
- Penyempitan lengkung rahang.
- Palaum tinggi dan sempit.
- Gigi berjejal.
- Openbite anterior.
4. Menggigit bibir
Kebiasaan menggigit bibir dapat berdiri sendiri atau bersama-sama
dengan kebiasaan menghisap jari. Akibatnya:
- Gigi insisif rahang atas labioversi.
- Gigi insisif rahang bawah linguoversi.
5. Menggigit kuku
Menyebabkan:
- Openbite anterior.
- Protisif maksila.

Kebiasaan buruk pada mulut anak sudah sejak lama menjadi perhatian
dokter gigi. Anomali yang terjadi pada rongga mulut salah satunya disebabkan
oleh kebiasaan buruk, dimana kebiasaan ini membawa pengaruh yang besar
pada masa gigi bercampur dan kondisi gigi pada masa dewasa sangat
tergantung pada kondisi gigi pada masa kanak-kanak.Kebiasaan buruk yang
sering terjadi pada anak dapat berupa bernafas melalui mulut, bruxism,
menghisap jari, cara menelan yang salah, mendorong lidah, menggigit kuku,
menghisap dan menggigit bibir, kebiasaan berbicara yang abnormal dan
menggigit benda yang keras.
Bernafas melalui mulut
Bernafas melalui mulut merupakan salah satu dari kebiasaan mulut yang
menyimpang dari keadaan normal. Apabila seseorang tidak dapat bernafas
dengan baik karena mengalami gangguan, maka cara lainnya adalah bernafas
melalui mulut ( Massler, 1983). Pada saat bernafas melalui mulut, bibir dalam
keadaan istirahat tidak dapat bertemu dan apabila anak disuruh inspirasi
maka anak akan menarik nafas terus-menerus melalui mulut, walaupun sekali-
kali menarik nafas dari hidung dengan bibir tertutup rapat. Pada pernafasan
melalui mulut anak dapat menghembuskan nafasnya melalui hidung, tetapi
tidak terdapat perubahan ukuran atau bentuk rongga hidung selama inspirasi. 7
Untuk pernafasan mulut diperlukan posisi postural yang berubah dari
mandibula, dimana mandibula diturunkan dan jarak interoklusal meningkat
berlebihan.8
Gambar 1. a.Pernafasan hidung, palatum lunak berkontak dengan lidah
membentuk seal oral posterior. b. Pernafasan mulut. Mandibula bergerak
ke bawah dan palatum lunak naik untuk mempertahankan saluran udara
rongga mulut. (Foster. T.D. Buku ajar orthodonti, 1993: 25)

Pada aksi penelanan diperoleh kontak antara lidah dan bibir bawah, lidah
terletak di insisal insisivus mandibula, dorsum lidah tidak melekat pada
palatum durum, gigi geligi tidak beroklusi sehingga membutuhkan kontraksi
bibir dan dagu sedangkan mandibula dalam keadaan istirahat. Posisi lidah
yang ke depan mengakibatkan lengkung mandibula lebih mendapat pelebaran
ke arah lateral dibanding dengan lengkung maksila yang menjadi sempit oleh
karena pertumbuhannya tidak sempurna sehingga sebagian gigi posterior
miring ke lingual.

Gambar 2. Hubungan antara bibir, gigi dan lidah pada anak yang bernafas
melalui mulut dimana terjadi anomali perkembangan lengkung rahang dan
protusi gigi insisivus atas. (McCoy. J.D. Applied Orthodontics, 7th 1959, 99)
Gambar 3. Hubungan antara lidah, gigi dan leher pada anak yang bernafas
melalui mulut. (McCoy. J.D Applied Orthodontics, 7th ed 1959; 99)

Tipe dan Penyebab


Anak yang bernafas melalui mulut jarang ditemukan walaupun 85% anak
mempunyai masalah dengan pernafasannya. Leech menemukan bahwa dari
500 anak hanya 19% yang mempunyai kebiasaan ini. Finn mengelompokkan
beberapa tipe anak yang bernafas melalui mulut dalam tiga kategori 5 :

a. Tipe Obstruktif
Tipe ini adalah anak yang bernafas melalui mulut karena adanya
penyumbatan pada saluran nafas melalui hidung sehingga mengakibatkan
kesulitan inspirasi dan ekspirasi, akhirnya anak memindahkan kebutuhan
bernafasnya melalui mulut. Inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya
kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak. Sumbatan hidung berlangsung
lama sejak masa kanak-kanak mengakibatkan pernafasan melalui mulut
terlihat nyata, dimana hidung penderita dibanding dengan dengan ukuran
mukanya relatif tampak lebih pendek dari pada hidung normal.
Bayi secara naluriah bernafas dari hidung, dengan pertumbuhan tubuh
anak maka kerja otot pernafasan bertambah untuk menghirup udara melalui
hidung ke dalam paru. Dengan demikian pertumbuhan rongga dada dan
rahang maksila disesuaikan. Dengan bernafas melalui mulut hanya sedikit otot
pernafasan yang bekerja sehingga pertumbuhan rongga hidung tidak sesuai
dengan pertumbuhan tubuh dan pertumbuhan otot paru pun terhalang. Bahu
tampak melengkung, mulut terbuka, biasanya membungkuk dan sering kali
pertumbuhan tulang belulang terganggu dan mempunyai wajah tipe
dolichocephali dimana mukanya panjang, gigi protrusi dan crowded serta
mempunyai lengkung gigi yang sempit. Keadaan inilah yang dinamakan facies
adenoid (wajah adenoid).

Gambar 4. Karakteristik dari wajah adenoid

Tipe obstruktif mengakibatknan anak tidak tidur nyenyak dan bernafas


melalui mulut, ini mengakibatkan udara luar yang dingin langsung menerpa
dinding tenggorok sekaligus paru-paru tanpa terlebih dahulu temperatur dan
kelembabannya disesuaikan dengan temperatur tubuh oleh rongga hidung.
Keadaan ini jika berlanjut mengakibatkan anak sering menderita penyakit
saluran pernafasan bagian atas seperti faringitis, bronkitis, dan tonsillitis.

Hambatan bernafas melalui hidung dapat terjadi oleh karena :


1. Rinitis alergi
Rinitis alergiyaitu suatu reaksi abnormal yang terjadi pada seseorang yang
timbul bila ada kontak dengan substansi seperti perubahan cuaca, asap
rokok atau debu 12,15. Gejalanya adalah bersin-bersin, hidung tersumbat,
rinore dimana sekret encer keluar terus menerus dan mempunyai
gambaran selaput berwarna ungu 11,12. Leech menemukan dari 500 anak
hanya 6% saja yang mengalaminya 6.
2. Polip hidung
Polip hidung adalah pembengkakan mukosa hidung yang berisi cairan
interseluler dan terdorong ke dalam rongga hidungoleh gaya berat.
Penyebabnya akibat reaksi hipersensitif mengakibatkan produksi cairan
interseluler dan membentuk polip. Gejalanya hidung tersumbat, rinore, dan
kehilangan daya penciuman. Polip seperti buah anggur, bilateral dan
menggantung pada konka media 11,12.
3. Deviasi atau penyimpangan septum nasal
Hampir pada semua orang kedua rongga hidung berbeda besarnya
sehingga banyak kasus timbul karena perbedaan pertumbuhan kedua sisi
muka. Penyempitan dapat terjadi karena deviasi septum hidung
menyebabkan disfungsi satu sisi, septum tergeser ke dalam satu rongga
hidung di bagian bawah akibat benturan dari depan pada tulang hidung.
Penderitsa selalu mengeluh rasa tersumbat dan kesukaran timbul pada
waktu inspirasi atau ekspirasi sedangkan penciuman tidak terganggu.
4. Pembesaran adenoid
Adenoid adalah kelompok jaringan limfoid yang terletak di dinding belakang
nasofaring. Pada waktu lahir adenoid berukuran kecil, dan mengalami
hipertropi fisiologis ketika berusia 3 tahun 11. Ukuran maksimum dicapai
pada usia 5-10 tahun,gejala lokalnya adalah nasal obstruksi dimana
adenoid sudah memblokade lubang hidung bagian belakang sehingga anak
sukar bernafas melalui hidung. Akhirnya anak bernafas melalui mulut untuk
memenuhi kebutuhan badan akan oksigen dan apabila dibiarkan terus-
menerus maka akan menjadi suatu kebiasaan yang sukar dihentikan. Leech
menemukan dari 500 anak hanya 13% saja yang mengalaminya.
b. Tipe Habitual
Tipe habitual adalah anak yang terus-menerus bernafas melalui mulutnya
karena kebiasaan, walaupun obstruksi sudah disingkirkan. Ini biasanya
terjadi pada anak setelah perawatan obstruksi pada hidung dihilangkan
misalnya pasca operasi pengangkatan polip13. Untuk menghilangkan
kebiasaan ini diperlukan perawatan yang lebih intensif dengan perawatan
ortodonti seperti oral screen.
c. Tipe Anatomis
Tipe anatomis adalah anak yang mempunyai bibir atas yang pendek atau
lips incompetent sehingga tidak memungkinkan menutup bibir dengan
sempurna tanpa adanya tekanan. Tidak semua anak yang memiliki bibir
pendek bernafas melalui mulut, tetapi anak yang mempunyai kebiasaan
bernafas melalui mulut memiliki bibir atas yang pendek. Bibir jarang
berfungsi secara normal sehingga bibir atas ketinggalan dalam
pertumbuhannya.
Gambar 5. Penampilan khas dari anak yang bernafas melalui mulut

Cara Pemeriksaan Bernafas Melalui Mulut


Pemeriksaan pada pasien dilakukan di dental unit, dimana pasien duduk
tegak dalam keadaan santai. Langkah-langkah pemeriksaannya adalah sebagai
berikut 7 :
1. Observasi pernafasan pasien tanpa disadarinya. Pada pernafasan normal
dari hidung, biasanya bibir saling bertemu.
2. Pasien diminta menarik nafas dalam-dalam. Reaksi yang terbanyak adalah
menarik nafas melalui mulut meskipun kadang kadang bernafas melalu
hidung denan bibir yang tertutup perlahan.
3. Pasien diminta menutup bibir dan menarik nafas dalam-dalam melalui
hidung. Pada pernafasan normal dari hidung menunjukkan adanya reflex
control yang baik pada otot pernafasan. Dalam hal ini dapat dikontrol
ukuran dan bentuk lubang hidung, dimana lubang hidung akan melebar
pada waktu inspirasi atau menarik nafas. Pada pernafasan mulut tidak
terjadi perubahan bentuk dan ukuran lubang hidung, kadang lubang
hidung justru mengecil atau berkontraksi ketika inspirasi.

Gambar 6. Akibat pernapasan melalui mulut terhadap kontrol otot


pernafasan sekitarnya. Adan B. Menghirup dan menghembuskan udara
melalui hidung pada pernafasan mulut. meskipun udara dapat melewati
lubang hidungnya, diameter lubang hidung tidak berubah. C dan D.
Menghirup dan menghembuskan udara pada pernafasan melalui hidung.
Ukuran dan bentuk lubang hidung selama menghirup udara. (Moyers. R. E.
Handboook Of Orthodontics. 1973 : 331-3)
Fungsi hidung dapat didiagnosa dengan menempatkan dua permukaan
kaca pada bibir atas, dimana kaca akan mengabur dan berembun ketika
bernafas. Dapat juga menggunakan kapas berbentuk kupu-kupu, dimana
kapas akan bergetar ketika bernafas melalui hidung dengan bibir
tertutup7.

Gambar 7. A. Menggunakan dua permukaan kaca untuk melihat metode


bernafas, jika kaca dipegang dalam posisi ini, pada pernafasan melalui
hidung maka permukaan kaca sebelah atas akan menghabur. Jika
pernafasan melalui mulut maka permukaan kaca bagian bawah akan
mengabur. B dan C. menggunakan kapad berbentuk kupu-kupu untuk
mendiagnosa pernafasan melalui hidung. B. Mempergunakan kedua
lubang hidung. C. bernafas hanya melalui satu lubang hidung saja
(Moyers. R. E. Handboook Of Orthodontics. 1973 : 331-3).
Kelainan yang ditimbulkan
Ada kalanya pernafasan seorang anak melalui hidung tersumbat,
akibatnya anak akan bernafas melalui mulut. Jika kondisi ini dibiarkan maka
menjadi kebiasaan yang menyebabkan beberapa kelainan pada gigi seperti
karies, gingivitis dan maloklusi.

1. Karies
Secara mekanis saliva berfungsi sebagai self cleansing dari gigi,
membasahi rongga mulut dan makanan yang sedang dikunyah. Menurut
Rigolet (1901) bahwa pasien dengan sekresi saliva yang sedikit memiliki
presentase karies gigi yang semakin meningkat 19,20,21.
Pada anak bernafas melalui mulut terjadinya karies dihubungkan
dengan keadaan rongga mulutnya yang kering. Hal ini mengakibatkan
berkurangnya sekresi saliva. Dengan berkurangnya saliva maka
viskositasnya menjadi tinggi atau mucous, sifat self cleansing tidak
berfungsi dengan baik sehingga menambah retensi sisa makanan dan
mempercepat terjadinya pembentukan plak.
Terjadinya karies karena perubahan susunan mikroflora rongga
mulut, perubahan yang paling menyolok adalah penambahan
mikroorganisme kariogenik seperti Streptococcus mutans, Laktobacillus,
Streptococcus mitis, Actinomises viskosus dan Candida albicans.
Sebaliknya terdapat pengurangan Streptococcus sangius, Streptococcus
salivarius, sejumlah spesies Veillonella, Neisseria, Bacteroides dan
Fusobacterium anaerob. Dengan demikian jumlah bakteri yang
menguntungkan akan berkurang dan bakteri yang merugikan akan bekerja
aktif untuk merusak gigi dan mempercepat terjadinya proses karies 1,20.
Inilah yang menyebabkan skor karies tinggi pada anak yang bernafas
melalui mulut.
2. Gingivitis
Kebiasaan bernafas melalui mulut adalah salah satu faktor lokal
fungsional terjadinya gingivitis pada anak. Mulut dipelihara oleh faktor
lokal fungsional yang baik, yaitu oleh otot pipi, bibir dan lidah. Apabila
anak bernafas melalui mulut maka terjadi ketidakseimbangan antara
ketiga otot tersebut dimana bibir terhambat pertumbuhannya dan menjadi
pendek.
Gingivitis dan pembesaran gingiva sering ditemukan pada anak
yang bernafas melalui mulut,6,22,23,24,25. Perubahan gingiva ini termasuk
eritema, edema, pembesaran dan permukaan yang berkilat menyebar
pada daerah yang terbuka, biasanya terlihat pada region depan maksila
7,14,23,24 26 27,28
, , .
Hubungan yang pasti dimana bernafas melalui mulut
mengakibatkan perubahan gingiva tidak dapat ditunjukkan secara pasti.
Umumnya diyakini bahwa keadaan basah dan kering yangberganti-ganti
dari gingiva akibat bibir yang pendek mengakibatkan vasokontriksi
pembuluh darah yang meningkatkan kerentanan gingiva terhadap iritasi
sehingga terjadi inflamasi yang diikuti dengan pembesaran gingival
19,23,24,26,27
. Pada kasus peradangan gingiva yang kronis dapat terjadi suatu
reaksi hipertropik dan halitosis 26,27.

Gambar 8. Gingivitis pada anak yang bernafas melalui mulut. A, garis bibir
yang tinggi pada anak yang bernafas lewat mulut. B. Gingivitis dan
pembesaran gingiva pada daerah gingiva yang terbuka, (Carranza. F. A.
Glickmans Clinical Periodontology. 1984:125)

3. Maloklusi
Menurut Finn (1962) tidak dapat dipastikan bahwa kebiasaan
bernafasmelalui mulut menyebabkan terjadinya maloklusi walaupun
kecenderungan ke arah maloklusi lebih serng kelihatan pada anak yang
bernafas melalui mulut 5,10,18, tetapi berdasarkan riset yang dilakukan di
Eropa, Kanada dan Amerika menunjukkan bahwa kebiasaan bernafas
melalui mulut yang kronis mengakibatkan perubahan pada pertumbuhan
tulang rahang dan keadaan keseimbangan otot-otot wajah 15.
Untuk mendapatkan suatu oklusi yang baik perlu dijaga
keseimbangan dari ketiga otot yang disebut Triangular Force Conceps,
yaitu otot lidah, pipi dan bibir. Apabila terjadi ketidakseimbangan dari
ketiga otot ini maka akan terjadi maloklusi 3.

Maloklusi yang terjadi pada anak yang bernafas melalui mulut adalah :
1. Maloklusi Klas II divisi I
Bentuk bibir berperan penting dalam menentukan posisi gigi. Ballard
berpendapat bahwa lidah me-moulding gigi geligi insisivus terhadap
bibir14. Anak yang bernafas melalui mulut memiliki bibir pendek sehingga
diperlukan usaha otot yang besar untuk mendapatkan penutupan bibir,
maka diperoleh penutupan lidah-bibir bawah dan ini terdapat pada
hubungan Klas II divisi I 14. Akibat dorongan lidah ketika pasien mencoba
membasahi bibir yang kering mengakibatkan mahkota insisivus terdorong
ke labial.
2. Anterior open bite
Penutupan bibir pada anak yang bernafas melalui mulut yaitu penutupan
lidah-bibir bawah, dimana ujung lidah berada pada insisal insisivus
mandibula yang mencegah erupsi lebih lanjut dan menghalangi
perkembangan vertikal dari segmen insisivus tersebut 8,9. Hal ini yang
menyebabkan anterior open bite pada anak yang bernafas melalui mulut.

Menurut Linder-Aronson (1979) banyak anak datang ke klinik THT dengan


keluhan tidak dapat bernafas melalui hidung dalam jangka waktu yang lama,
sehingga pada anak didapati maloklusi Klas II divisi I maupun anterior open bite.
Ketika kebiasaan tersebut dihilangkan penyebabnya maka anomaly dental yang
terjadi dapat dikoreksi dengan perawatan ortodonti 14,16,29.

Perawatan
Untuk memperbaiki kebiasaan bernafas melalui mulut terlebih dahulu
harus ditentukan penyebab megapa anak melakukan kebiasaan tersebut, apakah
karena terjadinya obstruksi pada hidung atau karena kebiasaan. Berikut
perawatan yang tepat pada anak yang bernafas melalui mulut sesuai dengan
tipenya.
dengan tipenya.
1. Tipe Obstruktif
Memperbaiki kebiasaan anak yang bernafas melalui mulut pada tipe
ini adalah dengan menentukan terlebih dahulu penyebab terjadinya
obstruktif. Dokter gigi harus menjelaskan dan meyakinkan orangtua agar
segera membawa anaknya ke ahli THT 1,6,14,15,19. Perawatan pada anak yang
mengalami rhinitis alergi yaitu dengan menghindari allergen penyebabnya
dan terapi simptomatik dengan memakai obat-obatan yang mengandung
anti histamine dan dekongestan. Untuk polip dan deviasi septum hidung
dengan terapi bedah, pada pembesaran adenoid dengan pemberian
antibiotic atau adenoectomy 11,12,13,14,16.
Bernafas melalui mulut dapat sembuh tanpa perawatan,
disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, yaitu :
1. Tonsil-tonsil dan adenoid yang pada awalnya hipertropi pada
masa kanak kanak, kemudian mengalami atropi setelah pubertas.
2. Rongga hidung dan faring membesar pada waktu dewasa.
3. Oral sphincter menjadi lebih kencang dan matang bila anak
menjadi besar.
2. Tipe Habitual
Perawatan pada tipe habitual ini dilakukan setelah obstruksi pada
hidung sudah hilang. Disinilah peran dokter gigi untuk menghentikan
kebiasaan bernafas melalui mulut dengan pembuatan oral screen yang
menghambat jalan udara melalui mulut. Apabila perawatan dari kebiasaan
bernafas melalui mulut dilakukan pada masa tumbuh kembang yang
tepat, maka penyembuhan dapat dicapai dalam jangka waktu yang
pendek dan diperoleh hasil yang memuaskan. Perawatan bernafas melalui
mulut sebaiknya dirawat segera pada masa geligi campuran. Pada
umumnya perawatan dengan memakai alat intra oral yaitu Oral screen,
apabila pasien di dalam perawatannya kooperatif, maka hasilnya akan
sangat memuaskan. Oral Screen merupakan alat yang baik, murah dan
mudah pembuatannya. Pergerakan yang ditimbulkannya merupakan
pergerakan fisiologis dan prinsip kerjanya seakan-akan mulut ditutup
dengan plat akrilik. Oral screen adalah suatu alat yang dipasang pada
bagian vestibula yang menutup jalan udara melalui mulut dan secara
langsung berkontraksi dengan bibir yang berlawanan dengan gigi anterior
dalam keadaan labioversi. Alat ini digunakan untuk melatih kembali bibir,
untuk memperbaiki labioversi pada gigi anterior rahang atas dan sebagai
alat untuk membantu melatih kembali dan memperkuat gerakan bibir. Alat
ini tidak bisa digunakan jika anak tersebut sulit bernapas atau
pernapasannya terhalang. Oral screen bukan alat yang digunakan untuk
memperbaiki maloklusi kelas II (Moyers, 1988).
Menurut Forrester, D.J., (1981), perawatan myofunctional ada dua
jenis yaitu ; dengan menggunakan alat yaitu monoblok (oral screen) dan
tanpa bantuan alat yaitu dengan latihan otot-otot tertentu. Alat
myofunctional yang dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan
bernafas melalui mulut adalah oral screen dan vestibular screen atau
kombinasi dari keduanya.
Menurut Van der Linden (1987), perawatan terhadap kebiasaan
bernafas melalui mulut dengan menggunakan selotip atau pleister
terutama pada waktu malam hari dan alat ini menyebabkan sakit dan
seakan-akan sebagai hukuman sehingga seringkali gagal.

Gambar 9. Oral Screen

3. Tipe Anatomis
Pada anak yang mempunyai bibir pendek maka perawatannya
dengan melakukan latihan otot untuk memperbaiki struktur bibir ke
ukuran yang normal, tetapi latihan ini harus dilakukan secara rutin.
Latihan yang diterapkan adalah latihan memperpanjang bibir dan latihan
otot orbicularis oris.
a. Latihan memperpanjang bibir
1. Tarik bibir ke bawah sekuat mungkin sampai melingkupi gigi depan
atas bahkan sampai belok ke belakang.
2. Biarkan bibir atas pada keadaan ini dan pasien disuruh menghitung
dengan perlahan sampai 20, setelah itu bibir harus istirahat.
3. Latihan ini diulang kembali sampai 25 kali berturut-turut dan
dikerjakan sekjurang-kurangnya 3 kali dalam sehari dan lebih baik
dikerjakan selama 10-25 menit dalam satu latihan. Latihan ini juga
sangat berguna sekali untuk membantu memperbaiki gigi anterior
yang maju ke depan dengan bibir atas yang pendek dan terangkat.

b. Latihan otot orbicularis oris


1. Rapatkan gigi atas dan gigi bawah perlahan-lahan dalam oklusi
sentral.
2. Ambil kaca kecil dan tujukan pandangan pada mulut.
3. Katupkan bibir perlahan-lahan dan kontraksikan (kerutkan) sudut
mulut sebelah kiri dan tahan sampai hitungan ke-10 lalu istirahat.
Kerutkan sudut mulut sebelah kanan dan tahan sampai hitungan ke-
10.
4. Ulangi dan tukar pengkerutan ini sampai 1 menit, istirahatkan
beberapa detik dan ulangi selama 1 menit.
5. Latihan ini dikerjakan sekurang-kurangnya 3 kali dalam sehari dan
sebanyak mungkin kalau memungkinkan.
6. Sesudah 1 minggu, latihan ini dilakukan 3 menit setiap 1 periode
dengan 2 kali istirahat.

19. Tipe Kepala


Brakisefalik
Bentuk kepala Klasifikasi indeks kepala menurut Sukadana (1976) :
1 a. Dolicochepali 70,0 74,9
2 b. Mesochepali 75,0 79,9
3 c. Brachicephali 80,0 84,9
Pengelompokan bentuk kepala berdasarkan indeks kepala dengan jalan
pengukuran lebar kepala dan panjang kepala (Martin, 1954 cit. Salzmann,
1966 : Olivier, 1971 : Sukadana, 1976), dengan rumus : Jarak kepala
maksimum
Indeks kepala = x 100 Panjang kepala maksimum Panjang kepala adalah
diameter terbesar dari glabellaophistthocranium

(Gb 1 A). Lebar kepala adalah ukuran transversal paling besar pada bidang
horisontal di atas puncak supramastoid dan zygomatik (Gb. 1B). Gambar 1. A.
panjang kepala (jarak grabella-occipital), B. lebar kepala (ukuran transversal
paling besar pada bidang horisontal di atas puncak supramastoid dan
zygomatik) (Salzmann, 1966)
20. Tipe Muka
Lebar
(a) Berdasarkan analisis frontal perbandingan panjang dan lebar dengan
menggunakan perhitungan
Indeks Morfologi Fasial = Tinggi Morfologi Wajah/ Lebar Bizigomatik

Tinggi morfologi fasial adalah tinggi nasion sampai gnation


Lebar bizigomatik adalah lebar antara kedua arkus zigomatikus
Klasifikasi tipe muka yaitu ;
i) Hypereuryprosop : x 78,9
ii) Euryprosop Skeletal Fasial : 79 83,9
iii) Mesoprosop Skeletal Fasial Normal :84 87,9
iv) Leptoprosop : 88 92,9
v) HyperleptoprosopSkeletal Fasial Sempit : 93 x

21. Tipe profil


Cembung
Profil muka ditentukan berdasarkan titik :
(a) Jaringan lunak : glabela, ujung terluar bibir atas, dan pogonion
(Rakosi), atau
(b) Jaringan keras : nasion, subnasion, dan pogonion (Profit)
Klasifikasinya :
(a) Datar : jika garis yang dibentuk titik acuan relatif lurus
(b) Cembung/ konveks : jika garis yang dibentuk titik acuan membentuk
sudut lebih ke belakang (posterior divergen, kelas II hubungan rahang)
(c) Cekung/ konkaf : jika garis yang dibentuk titik acuan membentuk sudut
lebih ke depan (anterior divergen, kelas III hubungan rahang)

22. Bentuk kepala/muka


Simetris
Pada arah frontal, dilihat kesimetrisan bilateral wajah dalam lima bagian
dan kesesuaian dari lebar mata, hidung dan mulut (gambar 6-8).

Gambar 6-8. Proporsi dan simetri wajah pada bidang frontal. Wajah yang
proporsional idealnya dapat dibagi ke dalam garis sentral, medial
dan seperlima lateral yang seimbang. Pemisahan kedua mata dan
lebar mata yang seimbang menentukan garis sentral dan seperlima
medial. Hidung dan dagu harus berada di antara seperlima sentral,
dengan lebar hidung berada sama atau lebih lebar dari seperlima
sentral. Jarak interpupil harus sejajar dengan lebar mulut.
23. Tonus bibir atas dan bawah
Kompeten (atas dan bawah)
Pada pemeriksaan bibir, pasien harus dalam keadaan rileks
Competent lips : bibir kontak saat otot dalam keadaan istirahat

Incompetent lips : bibir tidak dapat berkontak saat otot dalam


keadaan istirahat. Bibir akan bertemu jika otot orbikularis oris dan
mentalis kontraksi. Postur bibir saat biasa : secara anatomis bibir
pendek dengan adanya celah yang lebar antara bibir atas dan bawah
pada posisi istirahat.
24. Kebersihan Mulut
Sedang
Dapat ditetapkan dengan indeks OHIS, pasien yang kebersihan mulutnya
jelek kemungkinan besar kebersihan mulutnya akan lebih jelek lagi selama
perawatan dilakukan, oleh karena itu motivasi kebersihan mulut perlu
dilakukan sebelum perawatan ortodontik dilakukan.

25. Jaringan Mukosa Mulut


Normal
Pemeriksaan pada gingiva dapat dilihat dari tipe gingiva, inflamasi gingiva,
dan lesi mucogingival. Jika terdapat gingivitis dapat dilakukan perawatan
scaling dan root planing, kuretase maupun bedah mukogingival, tergantung
dari etiologinya. Gingivitis dan oral hygiene yang buruk merupakan kontra
indikasi untuk perawatan periodontal.
1. Sehat
Tidak terdapat inflamasi gingiva.
2. Gingivitis
Dapat disebabkan karena oral hygiene yang buruk. Bentuk oedem, warna
terlihat merah, interdental papil membulat, konsistensi lunak, pitting test
positif, permukaan licin.
3. Periodontitis
Ditandai dengan hilangnya perlekatan, kdang disertai dengan perkusi tes
positif, terdapat kegoyangan gigi, penurunan tulang alveolar.

26. Frenulum Labii Superior dan Inferior


Sedang
Frenulum labii adalah ikatan yang menghubungkan bibir dengan mukosa
yang meliputi dengan mukosa yang meliputi tulang alveolar. Pemeriksaan
frenulum dapat dilakukan dengan Blach test. Blach test dilakukan dengan cara
menarik bibir ke atas kemudian dipertahankan sehingga regio tersebut
menjadi pucat. Frenulum normal 2-3 mm dari puncak papila incisivum.
Di antara kelainan frenulum, frenulum labialis rahang atas pada gigi
campuran memiliki kekhususan tersendiri. Frenulum labial yang tebal dapat
menyebabkan diastema sentral. Indikasi frenektomi tergantung dari
diferensial diagnosis. Hal itu hanya diindikasikan ketika perlekatan dalam
dengan perluasan jaringan fiber ke interdental papil. Pada frenulum labialis
jarang menyebabkan diastema, hanya saja menyebabkan resesi gusi anterior
(Rakosi, 1993).

Macam-macam kelainan frenulum labial :


(a) Frenulum labial yang melekat dalam pada gigi sulung. Pada tahap ini tidak
diindikasikan frenektomi sampai incisive permanennya erupsi.
(b) Frenulum labial rahang atas yang melekat dalam. Eksisi dengan membedah
tidak hanya jaringan lunak tetapi juga serat interosesus.
(c) Anomaly frenulum labial rahang bawah. Frenulum labialis yang dalam
menimbulkan tarikan yang kuat pada perlekatan mukosa gigi rahang bawah
anterior dan memicu timbulnya lesi mukogingiva.
Frenulum rendah rahang atas

27. Lidah
Normal
Bentuk, warna, dan konfigurasi dilihat saat pemeriksaan klinis. Lidah dapat
kecil, panjang, atau luas. Penemuan ini tidak memberikan kesimpulan
mengenai ukuran relative lidah. Lidah yang panjang dan luas tidak berarti
makroglosia. Perubahan posisi lidah dan mobilitas kemungkinan berkaitan
dengan kelainan frenulum lingual. Penilaian kasar mengenai ukuran lidah
dalam hubungannya dengan ukuran rongga mulut dapat terlihat dari
mempelajari foto sepalometrik lateral. Diagnosis makroglosia membutuhkan
pemeriksaan diagnostik yang lebih detail dan dapat dilakukan setelah analisis
yang tepat dari posisi lidah dan mobilitas lidah, dan pengamatan fungsi
fisiologis (bicara dan menelan).
Lidah yang besar akan meluas sampai ke arkus dental. Adanya cetakan
gigi pada margin lateral lidah mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara
lebar arkus dentalis dan lebar lidah.

28. Palatum
Normal
Kedalaman palatum dapat diukur dengan menggunakan kaca mulut nomor
3 yang diletakkan di dasar palatum. Jika kedalaman palatum kurang dari
setengah kaca mulut maka palattum tersebut dangkal dan jika lebih dari
setengah kaca mulut maka palatum tersebut tinggi. Palatum normal setinggi
setengah kaca mulut.
Kedalaman palatum pada model studi dapat diukur dengan 3D Korkhaus.
Kedalaman palatum menurut Korkhaus didefinisikan sebagai garis vertikal
yang tegak lurus midpalatal raphe. Garis vertikal tersebut berjalan dari
permukaan palatum sampai dengan oklusal plane. Kedalaman palatum ini
diukur di midsagital plane di daerah molar pertama rahang atas.
Palatal heigh index = Palatal height X 100
Posterior arch width

29. Fonetik
Normal
Terdapat hubungan maloklusi dengan kelainan bicara akan tetapi karena
adanya mekanisme adaptasi, anak dengan maloklusi yang parah tetap dapat
berbicara tanpa gangguan. Suara bilabial: p, b; konsonan ujung lidah t, d;
suara sibilant (mengahruskan penempatan lidah dekat tetapi tidak menyentuh
palatum) s, z; penempatan bagian posterior lidah yang tepat r.

30. Garis tengah geligi atas dan bawah


Garis tengah geligi atas: normal
Garis tengah geligi bawah: bergeser ke kanan 2mm
Garis median merupakan pertengahan di antara lengkung rahang kiri dan
lengkung rahang kanan. Garis median pada model rahang atas dibentuk dari
papila incisivum dengan digabungkan lagi dengan 2 titik anatomi di bagian
palatum rahang atas. Titik ini dibagi menjadi 2, yaitu titik anterior yang ada di
cross section rugae palatine kedua dengan palatine raphe. Titik posterior yaitu
batas antara palatum lunak-keras di pertengahan foveolae. Garis median
rahang bawah merupakan proyeksi dari garis median rahang bawah.
31. Keadaan gigi geligi
Karies gigi 55, 84. Sisa akar gigi 65.
Gigi karies merupakan penyebab utama maloklusi lokal. Karies merupakan
penyebab terjadinya tanggal prematur gigi sulung sehingga terjadi
pergeseran gigi permanen, erupsi gigi permanen terhambat, dll.

32. Freeway Space


Freeway space pasien: 2.3 mm
Cara pengukurannya adalah pasien didudukkan dalam posisi istirahat,
kemudian ditarik garis yang menghubungkan antara titik di ujung dagu
(paling anterior) dan dihitung berapa jaraknya. Kemudian pasien dalam
keadaan oklusi sentris lalu ditarik garis antara garis yang menghubungkan
antara titik ujung hidung dan ujung dagu paling anterior dan dihitung berapa
jaraknya.
Nilai FWS= jarak pada saat istirahat dikurangi jarak pada saat oklusi
sentris. Nilai normal menurut Houston = 2-3mm
Nilai FWS digunakan sebagai panduan untuk melakukan atau pemberian
peninggian gigit di posterior sehubungan dengan adanya gigitan terbalik
anterior. Nilai FWS > tumpang gigit maka tidak perlu diberi peninggian gigit
posterior. FWS < tumpang gigit maka perlu diberi peninggian gigit posterior.

33. Path of Closure


Normal
Adalah arah gerakan mandibula dari posisi istirahat ke oklusi sentrik.
Idealnya path of closure dari posisi istirahat ke posisi oklusi maksimum
berupa gerakan engsel sederhana melewati freeway space yang besarnya 2-
3 mm, arahnya ke atas dan ke depan.
Ada 2 macam perkecualian path of closure yang bisa dilihat adalah deviasi
mandibula dan displacement mandibula, yaitu:
- Path of closure yang berawal dari posisi kebiasaan mandibula akan tetapi gigi
mencapai oklusi maksimum mandibula dalam posisi relasi sentrik. Ini disebut
deviasi mandibula.
- Path of closure yang berawal dari posisi istirahat, akan tetapi oleh karena
adanya halangan oklusal maka didapatkan displacement mandibula.

34. Sendi TMJ


Normal
Pada panduan umum bila pergerakan mandibula normal berarti fungsinya
tidak terganggu, sebaliknya bila pergerakan mandibula terbatas biasanya
menunjukkan adanya masalah fungsi. Oleh karena itu satu indikator penting
tentang sendi temporomandibula adalah lebar pembukaan maksimal, yang
pada keadaan normal berkisar 35-40 mm, 7 mm gerakan ke lateral dan 6
mm ke depan. Palpasi pada otot pengunyahan dan sendi temporomandibula
merupakan bagian pemeriksaan rutin dan perlu dicatat tanda-tanda adanya
masalah pada sendi temporomandibula, misalnya adanya rasa sakit pada
sendi, suara dan keterbatasan pembukaan
Cara pemeriksaaanya adalah penderita didudukkan pada posisi istirahat,
diletakkan kedua jari telunjuk operator dibagian luar meatus accuticus
externus kiri dan kanan penderita dan penderita diinstruksikan untuk
membuka dan menutup mulutnya. Apabila tidak terasa adanya krepitasi saat
palpasi bagian luar meatus accustucus evternus atau bunyinclicking pada
saat mandibula membuka dan menutup mulut BERARTI pola pergerakan TMJ
normal

35. Pola Atrisi


Normal
Adalah permukaan oklusal gigi yang datar atau rata karena faktor
pemakaian atau oleh karena kebiasaan jelek seperti bruxism sehingga
menyebabkan bentuk wajah yang lebih pendek dan fungsi kunyah akan
menjadi terganggu. Bila hal tersebut tidak dirawat, maka akan dapat
menimbulkan ngilu pada gigi serta rasa sakit pada sendi rahang.
Pola atrisi dikatakan normal apabila terjadinya atrisi gigi yang disebabkan
oleh karena pemakaian gigi yang telah lama, misalnya gigi atrisi pada orang
yang telah lanjut dan atrisi gigi susu pada anak-anak yang telah memasuki
fase gigi permanen. Sedangkan bila dikatakan pola atrisi tidak normal
apabila terjadinya atrisi gigi oleh karena adanya kebiasaan jelek, misalnya
bruxism. Contohnya atrisi gigi permanen pada penderita usia muda atau
pada anak-anak pada fase gigi pergantian.

36. Foto Sefalometri


SNA 81 = normal
SNB 77 = normal
ANB 4 = Pola Skeletal kelas I
U1 SN 112 = Proklinasi insisiv
L1 GoMe 97 = Normal
Kesimpulan sefalometri: Pola skeletal kelas i dengan proklinasi insisiv atas
dan inklinasi insisiv bawah normal.
37. Foto Panoramik
Dilakukan untuk mengetahui kondisi gigi geligi yang belum/sudah erupsi
dan kondisi jaringan periodontal dan tulang sekitar. Foto panoramik jga bisa
untuk memprediksi urutan erupsi, kondisi akar gigi, kematangan benih gigi,
besar dan posisi benih gigi, adanya supernumerary teeth maupun agenisi
gigi.

38. Relasi gigi anterior


Overjet: 3.5 mm, Overbite: 2mm
Overjet

Overjet adalah jarak horizontal antara incisal edge gigi incisive sentral
rahang atas dengan permukaan labial gigi incisive sentral rahang bawah.
Nilai rata-rata overjet pada oklusi normal kurang lebih sebesar 2 mm atau 1-
3 mm.
(a) Normal
(b) Protrusi
Overjet lebih dari 3 mm.
(c) Edge to edge
Overjet nol atau permukaan incisal gigi incisive rahang atas berkontak
dengan permukaan incisive rahang bawah.
(d) Crossbite
Overjet kurang dari 0, nilai negatif (-)

Besarnya overjet ditentukan oleh posisi gigi anterior maksila dan mandibula.
Iregularitas pada overjet dikaitkan dengan fungsi lidah dan bibir yang
abnormal atau ada ketidaksesuaian ukuran gigi antara lengkung anterior
maksila dan mandibula.
Overbite
Over bite adalah jarak vertikal antara ujung incisal gigi incisive rahang
atas dengan ujung incisal gigi incisive rahang bawah dalam keadaan oklusi
sentrik.
(a)Normal
Overbite normal dimana permukaan gigi akan menutupi - incisal gigi
incisive rahang bawah.
(b)Dalam
Deep bite adalah suatu keadaan dimana jarak menutupnya bagian incisal
incisivus maksila terhadap incisal incisivus mandibula dalam arah vertikal
melibihi . Ada dua jenis deep bite, yaitu :
(1) Incomplete deep bite :bila hubungan incisivus mandibula tidak
beroklusi dengan incisivus maksila
(2) Complete deep bite :hubungan incisivus mandibula berkontak
dengan permukaan palatal incisivus maksila atau jaringan palatal
ketika gigi dalam oklusi sentrik.
(c) Openbite
Open bite adalah keadaan adanya ruangan oklusal atau incisal dari gigi
saat rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi sentrik. Open
bite terbagi dua jenis, yaitu :
(1) Openbite dental
Terjadi akibat infraposisi anterior atau supra posisi gigi molar
Pada masa transisi gigi sulung ke gigi tetap akan mengalami
perbaikan spontan tanpa perawatan
(2) Openbite skeletal
Terdapat kelainan pertumbuhan dalam arah vertikal
Antero inklinasi basis maksila
Perawatan sulit dilakukan dengan alat lepasan
Pada kasus yang parah diperlukan tindakan pembedahan

(d)Edge to edge
Permukaan incisal incisive rahang atas berkontak dengan incisive rahang
bawah.

39. Relasi Sagital


Relasi kaninus kanan dan kiri: tidak ada relasi
Relasi molar kanan dan kiri: Neutroklusi
Neutroklusi: canine rahang atas beroklusi pada ruang buccal antara canine
rahang bawah dan premolar satu rahang bawah

Distoklusi: canine rahang atas oklusi di anterior sampai ruang buccal di


antara canine rahang bawah dan premolar satu rahang bawah.
kelas II caninus
Mesioklusi: canine rahang atas oklusi di posterior sampai ruang buccal di
antara canine rahang bawah dan premolar satu rahang bawah.

Netroklusi (Klas I Angle), yaitu hubungan antara gigi-gigi rahang bawah


terhadap gigi-gigi rahang atas di mana tonjol mesiobukal (mesiobuccal cusp)
molar satu permanen atas berkontak dengan lekuk mesiobukal (mesiobuccal
groove) molar satu permanen bawah.
1

Distoklusi (Klas II Angle) = post normal, yaitu hubungan antara gigi-gigi


rahang bawah terhadap gigi-gigi rahang atas di mana lekuk mesiobukal
molar satu permanen bawah berada lebih ke distal dari tonjol mesiobukal
molar satu permanen atas.

Mesioklusi Klas III Angle) = pre normal, yaitu hubungan antara gigi-gigi
rahang bawah terhadap gigi-gigi rahang atas di mana lekuk mesiobukal
molar satu permanen bawah berada lebih ke mesial dari tonjol mesiobukal
molar satu permanen atas.

Gigi kaninus dan molar diktakan tidak ada relasi jika salah satu gigi masih
gigi sulung, atau keduanya masih gigi sulung.

40. Relasi Transversal


Normal/Gigitan fisura luar RA
Pada keadaan normal relasi transversal gigi posterior adalah gigitan fisura
luar rahang atas, oleh karena rahang atas lebih lebar daripada rahang bawah.
Apabila rahang atas terlalu sempit atau terlalu lebar dapat menyebabkan
terjadinya perubahan relasi gigi posterior dalam jurusan transversal.
Perubahan yang dapat terjadi adalah : gigitan tonjol, gigitan fisura dalam atas,
dan gigitan fisura luar atas.

A. gigitan fisura luar rahang atas, B. gigitan silang total luar rahang
atas, C. gigitan

41. Relasi Vertikal


Normal
Kelainan dalan jurusan vertical dapat berupa gigitan terbuka yang berarti
tidak ada kontak antara gigi atas dan bawah pada saat oklusi. Dan gigitan
dalam yang berarti nilai dari gigitan lebih dari normal.

42. Bentuk Lengkung Gigi


Normal (Parabola)
Bentuk lengkung rahang normal maksila berdasarkan
kontak palatal
mahkota gigi.

Bentuk lengkung rahang mandibula dengan


gigi anterior yang berjejal.

43. Pergeseran Gigi Arah Sagital Dan Transversal


Rahang atas:
11 lebih distal dan lebih palatal dari 21
12 lebih distal dan lebih palatal dari 22
13 lebih distal dan lebih labial dari 23
14 lebih distal dan lebih palatal dari 24
16 lebih distal dan lebih palatal dari 26
Rahang Bawah:
41 lebih distal dan lebih labial dari 31
42 lebih distal dan lebih labial dari 32
84 lebih distal dan lebih lingual dari 34
Cara pemeriksaanya adalah dengan menggunakan simetroskop yang
diletakkan ditengah garis median gigi pada model studi, kemudian
dibandingkan antara gigi senama kiri dan kanan.

44. Posisi Gigi pada Lengkungnya


Rahang Atas:
21 labioversi
12 mesiolabio rotasi sentris
22 mesiolabio rotasi sentris
23 distopalato rotasi eksentris
14 mesiopalato rotasi sentris
24 mesiopalato rotasi sentris
26 mesio palato rotasi sentris
Rahang Bawah:
31 mesiolinguo rotasi sentris
41 mesiolinguo rotasi sentris
32 linguoversi
42 linguoversi
34 mesiolabio rotasi sentris

Penyebutan letak gigi yang digunakan diantaranya adalah sbb :


Mesioversi : mesial terhadap posisi normal gigi.
Distoversi : distal terhadap posisi normal gigi.
Linguoversi : lingual terhadap posisi normal gigi.
Labioversi : labial terhadap posisi normal gigi.
Rotasi : gigi berputar pada sumbu panjang gigi, bisa sentries atau eksentris.
45. Kelainan Kelompok Gigi
Letak berdesakan: RA=12,11,21,22 RB=32,31,41,42
Diastema: RA= 13-23, 22-23 RB= 43-44
Supraposisi: RA= 63, RB= TAK
Infraposisi: RA=TAK, RB=TAK
Protrusi: RA=12,11,21,22 RB=31,41
Retrusi: RA=TAK, RB=TAK
Kelainan letak gigi dapat juga merupakan kelainan sekelompok gigi :
a. Protrusi : kelainan kelompok gigi anterior atas yang sudut inklinasinya
terhadap garis maksila > 110 untuk rahang bawah sudutnya > 90
terhadap garis mandibula.
b. Retrusi : kelainan kelompok gigi anterior atas yang sudut inklinasinya
terhadap garis maksila < 110 untuk rahang bawah sudutnya < 90
terhadap garis mandibula.
c. Berdesakan : gigi yang tumpang tindih.
d. Diastema : terdapat ruangan diantara dua gigi yang berdekatan.
e. Infraversi : inferior terhadap garis oklusi.
f. Supraversi : superior terhadap garis oklusi.
46. Kurva Spee
Datar, 1.5mm
Adalah kurva dengan pusat pada titik di tulang lakrimal dengan radius
pada orang dewasa 65-70 mm. kurva ini berkontak di 4 lokasi, yaitu
permukaan anterior kondili, daerah kontak distoklusal molar ketiga, daerah
kontak mesioklusal molar pertama, dan tepi insisal. Lengkung yang
menghubungkan insisal insisiv dengan bidang oklusal molar terakhir pada
rahang bawah. Pada keadaan normal kedalamannya tidak melebihi 1,5 mm.
Pada kurve spee yang positif (bentuk kurvanya jelas dan dalam) biasanya
didapatkan gigi insisiv yang supra posisi atau gigi posterior yang infra posisi
atau mungkin gabungan kedua keadaan tadi.
Kurva Spee

47. Diskrepansi Model


Available Space: RA = 77.0mm RB = 70.8 mm
Required Space: RA= 80.2mm RB = 72.8mm
Kekurangan tempat: RA= -3.2mm RB= -2.0 mm
Perbedaan antara tempat yang tersedia (available space) dengan tempat
yang dibutuhkan (required space) disebut diskrepansi. Diskrepansi pada
model digunakan untuk menentukan macam perawatan pasien, apakah
termasuk perawatan pencabutan gigi atau tanpa pencabutan gigi. Tempat
yang tersedia atau available space adalah tempat di sebelah molar pertama
permanen kiri sampai mesial molar pertama permanen kanan yang akan
ditempati gigi geligi permanen dalam kedudukan atau letak yang benar.
Pengukuran available space pada diskrepansi model dalam diagnosis ortodonti
pada umumnya menggunakan analisis Nance dan analisis Moyers.
Cara mengukur Available Space:
RA :dengan membuat lengkungan kawat tembaga ( brass wire ) dari mesial
M1 kiri melewati fisura gigi didepannya terus melewati insisal incisive yg
letaknya benar terus melewati fisura gigi posrerior smp mesial M1 kanan
RB : lengkung kawat tdk melewati fisura gigi posterior tp lewat tonjolbukal
gigi posterior
Cara Mengukur Required Space
Perkiraan ukuran gigi menggunakan table probabilitas
Dilakukan pengukuran lebar mesio distal keempat gigi insisif rahang bawah
dan berdasarkan ukuran ini ditentukan jumlah ukuran mesiodistal gigi 345
RA dan RB
Gigi insisif rahang bawah telah dipilih untuk pengukuran analisis moyers
karena gigi ini muncul lebih dulu pada masa geligi campuran, mudah diukur
secara akurat dan secara langsung seringkali terlibat dalam masalah
penanganan ruangan. Insisif rahang atas tidak digunakan karena memiliki
banyak variasi dalam ukuran.
Prosedur analisis :
1. Mengukur lebar mesiodistal terbesar gigi keempat insisif rahang bawah satu
per satu
2. Menentukan ruangan insisif yang sudah dirapihkan.
3. Mengukur sisa ruangan yang tersisa dari distal insisif lateral sampai mesial
molar pertama
4. Prediksi ukuran gigi kaninus, premolar pertama dan premolar kedua
menggunakan tabel moyers.

Tabel Moyers

48. Kemungkinan Etiologi Maloklusi


Faktor Keturunan : ibu gigi diastema dan gigi depan maju
Kehilangan Prematur: 54, 52, 62, 64
Letak Benih Salah : 21, 32, 31, 41
Lain-Lain : Karies gigi 84
Etiologi Maloklusi
Keadaan ini terjadi pada awal pertumbuhan atau saat proses pematangan
selanjutnya. Menurut Graber, menentukan klasifikasi faktor-faktor etiologi
maloklusi yang meliputi:

A. Faktor Umum
1. Herediter
Faktor keturunan juga berperan pada keadaan-keadaan sebagai berikut
ini:
a. kelainan kongenital
b. asimetri muka
c. macrognatia dan micrognatia
d. oligodonti dan anodonti
e. variasi ukuran gigi
f. cleft palate dan harelip
g. frenulum
h. deep overbite
i. gigi berdesakan dan rotasi
j. retrusi mandibula
k. prognansi mandibula
Pada ras yang berbeda memiliki bentuk kepala yang berbeda. Pada individu
dengan bentuk muka yang lebar memiliki bentuk lengkung rahang yang lebar
pula, demikian juga pada bentuk muka sempit terdapat lengkung rahang yang
sempit pula.
2. Kelainan kongenital
Kelainan kongenital sangat berhubungan dengan keturunan. Contoh
kelainan kongenital: celah palatum dan celah bibir. Pada unilateral celah gigi-
gigi ada daerah/sisi celah ters tetapi biasanya terdapat cross bite, gigi rahang
atas malposisi, gigi insisiv lateral mungkin missing tau bentuknya tidak
normal. Contoh lain: cerebral palsy, torticollis, cleidocranial dysostosis, dan
syphilis congenital.
3. Disharmoni Dento Maxilar ( DDM )
Disharmoni dentomaksiler merupakan disproporsi besar gigi dengan
lengkung geligi. Faktor utama penyebab DDM adalah faktor herediter atau
keturunan, misalnya seorang anak mewarisi ukuran gigi ibunya yang
cenderung berukuran kecil dan anak tersebut mewarisi ukuran lengkung geligi
ayahnya yang berukuran relatif besar. Sehingga terjadi diastema menyeluruh
dikarenakan disproporsi ukuran gigi dan lengkung geligi. Selain itu ada
beberapa faktor lain yang juga mendukung timbulnya kelainan ini, yaitu faktor
lokal seperti gaya hidup, misalnya anak tersebut kurang mengkonsumsi
makanan keras sehingga pertumbuhan rahang kurang maksimal, dan ukuran
rahang menjadi lebih kecil dari ukuran yang seharusnya. Hal ini menyebabkan
DDM tipe transitoir. Pada DDM tidak harus terjadi pada kedua rahang ataupun
pada kedua sisi, DDM bisa terjadi hanya pada salah satu sisi ataupun pada
salah satu rahang. Namun pada umumnya DDM lebih sering terlihat pada
rahang atas, karena lengkung rahang untuk tempat erupsi gigi permanen
pada rahang atas hanya terbatas pada tuberositas maksila saja, sedangkan
pada rahang bawah sampai pada ramus ascenden. DDM dibagi menjadi tiga
tipe, yaitu:
a. Tipe berdesakan, merupakan keadaan yang sering dijumpai yaitu ukuran
gigi-gigi yang berukuran besar pada lengkung geligi yang normal, atau
ukuran gigi normal pada lengkung geligi yang kecil sehingga menyebabkan
letak gigi berdesakan.
b. Diastema menyeluruh, tidak adanya harmoni antara besar gigi dan
lengkung gigi yaitu ukuran gigi kecil dengan lengkung geligi normal
ataupun ukuran gigi normal dengan lengkung geligi yang besar.
c. Tipe transitoir, ketidakharmonisan erupsi gigi dengan pertumbuhan tulang,
yang menyebabkan gigi berdesakan. DDM tipe transitoir ini bias terkoreksi
seiring bertambahnya usia karena pertumbuhan tulang rahang dan ukuran
gigi tetap, sehingga keterlambatan pertumbuhan, maka tidak dianjurkan
melakukan pencabutan karena dapat menyebabkan diastema. Untuk
mendiagnosa DDM tipe transitoir bias dilakukan perbandingan antara
gambaran normal gigi geligi saat itu dengan gambaran dari gigi pasien.
4. Kebiasaan jelek (abnormal pressure habits)
Tulang merupakan jaringan yang responsive terhadap tekanan. Peranan
otot sangat menentukan. Bila terjadi malrelasi RA dan RB fungsi normal otot
terganggu, akan terjadi aktivitas adaptasi dari otot-otot. Gangguan
kseimbangan tekanan intra dan ekstra oral akan menyebabkan maloklusi.
Penelanan abnormal dapat menyebabkan gigi anterior terbuka dan gigi
anterior terdorong ke labial.
5. Posisi tubuh
Posisi tubuh yang kurang baik dapat menimbulkan maloklusi. Posisi
dimana kepala menggantung dengan dagu menempel di dada, menyebabkan
mandibula retrusi. Kepala diletakkan pada tangan, tidur pada lengan dan
guling dapat menyebabkan maoloklusi.
B. Faktor local
1. Anomali jumlah gigi
Kelainan jumlah gigi merupakan salah satu penyebab terjadinya maloklusi
gigi, dibandingkan dengan faktor etiologi yang faktor ini relatif lebih jarang
ditemukan karena etiologi dari adanya kelainan jumlah gigi sangat terpaut
dengan adanya faktor herediter atau keturunan. Kelainan jumlah gigi secara
garis besar terdiri dari:
a. Kelebihan jumlah gigi
Kelebihan jumlah gigi pada lengkung rahang biasanya dapat menyebabkan
suatu keadaan yang crowded atau berdesakan. Frekuensi terbesar dari
kelainan ini adalah adanya kelebihan jumlah gigi yang terdapat diantara
kedua insisvus sentral yang biasanya disebut dengan mesiodens, gigi ini bila
erupsi tepat pada sutura palatine maka akan menyebabkan terjadinya
diastema sentral yang cukup besar, namun bila mesiodens erupsinya
dibagian palatinal maka akan menyebabkan crowded.
Terkadang ditemukan pula mesiodens yang tidak erupsi, jika terjadi hal
yang demikian maka biasanya disebut dengan dentigerous cyst, apabila
keberadaannya tidak mengganggu dan tidak terjadi keluhan oleh penderita
maka keadaan ini dibiarkan saja. Mesiodens yang mampu erupsi terkadang
memiliki bentuk dan ukuran yang tidak normal (konus).
Selain mesiodens gigi syang sering mengalami kelainan kelebihan jumlah
gigi dalah latordens (terdapat diantara insisivus sentral dan insisivus lateral),
para premolar (terdapat diantara gigi premolar) dan para molar (terdapat
diantara gigi-gigi molar).
b. Kekurangan jumlah gigi
Kekurangan jumlah gigi atau hipodonsia adalah tidak tumbuhnya satu atau
lebih elemen gigi yang secara normal dijumpai pada gigi geligi akibat
agenesis yaitu tidak terbentuknya benih gigi. Agenesis dapat terjadi pada
satu atau lebih elemen dimana bila terjadi pada beberapa gigi disebut
dengan agenesis soliter (satu atau dua gigi) dan dikatakan oligodonsia bila
agenesis terjadi pada multi elemen. Namun kekurangan jumlah gigi yang
disebabkan oleh karena retensi (tidak dapat erupsi), ekstraksi atau trauma
tidak dikategorikan dalam hipodonsia.
Umumnya kelainan ini disebut dengan aginisi. Aginisi yang paling sering
terjadi secara berurutan adalah molar ketiga pada rahang atas dan rahang
bawah, insisivus lateral rahang atas, premolar kedua rahang bawah, insisivus
lateral rahang bawah, dan terakhir premolar kedua rahang atas, namun tidak
menutup kemungkinan terjadinya aginisi pada gigi-gigi yang lain mengingat
etiologi dari kelainan ini adalah faktor keturunan.
Kekurangan jumlah gigi selain aginisi dapat juga disebabkan oleh faktor
trauma sehingga gigi permanen tanggal pada usia muda, biasanya sering
terjadi pada insisivus sentral rahang atas.
2. Anomali ukuran gigi
Sama dengan kelainan jumlah gigi, kelainan ukuran gigi juga disebabkan
oleh faktor keturunan. Kelainan ini dapat mempengaruhi perkembangan
oklusi gigi geligi karena terdapat ketidakharmonisan antara ukuran gigi
dengan ukuran rahang. Secara garis besar kelainan dapat dikelompokkan
menjadi:

a. Makrodonsi
Istilah makrodonsi dapat diartikan gigi yang ukurannya melebihi ukuran
gigi normal. Kelainan ini menyebabkan kekurangan tempat pada lengkung
rahang sehingga elemen-elemen pengganti terakhir tidak dapat tumbuh
pada tempat yang salah. Maloklusi yang ditimbulkan oleh kelainan ini
adalah gigi geligi akan tumbuh saling berdesakan.
b. Mikrodonsi
Merupakan kebalikan dari makrodonsi, gigi-gigi yang mengalami
mikrodonsi adalah gigi-gigi yang ukurannya lebih kecil dari normal,
biasanya kelainan mikrodonsi ini diikuti oleh kelainan bentuk gigi. Maloklusi
yang diakibatkan adalah diastema patologis pada daerah gigi yang
mengalami mikrodonsi, bahkan apabila terjadi lebih satu gigi maka akan
menyebabkan diastema multiple.
3. Anomali bentuk gigi
Kelainan ini sangat erat hubungannya dengan kelainan ukuran gigi.
Frekuensi paling sering terjadi adalah insisivus sentral rahang atas dan
premolar kedua rahang bawah biasanya terdapatnya extra lingual cusp.
Etiologi dari kelainan ini adalah faktor keturunan dan faktor-faktor kelainan
pertumbuhan misalnya delelopmental defect, amelogenesis imperfect,
hipoplasia, germination dan Hutchinsons.
4. Frenulum labial yang tinggi
Frenulum labial yang tinggi pada rahang atas terkadang dapat
menyebabkan malposisi dari gigi, terutama pada kedua gigi insisivus
sentral. Frenulum labial pada masa bayi, normalnya mempunyai daerah
perlekatan yang rendah di dekat puncak prosesus alveolaris diatas garis
tengah. Pada fase geligi sulung frenulum labial sering terlihat melekat pada
prosesus alveolaris diantara gigi-gigi insisisvus sentral rahang atas.
5. Tanggal premature gigi sulung
Salah satu fungsi dari gigi sulung adalah menyediakan tempat bagi gigi
permanen penggantinya dan secara tidak langsung juga mempertahankan
panjang lengkung geligi. Penyebab kelainan ini adalah karies dan trauma.
6. Letak salah benih
Pada umumnya letak salah benih menyababkan erupsi gigi yang
bersangkutan tidak pada lengkung yang benar. Secara klinis letak salah
benih biasanya ditandai dengan adanya rotasi atau versi, dimana rotasi
merupakan sumbu gigi pada arah vertical sedangkan versi adalah
perputaran sumbu gigi dalam arah horizontal.
7. Persistensi
Persistensi dapat didefinisikan sebagai gigi sulung yang tidak tanggal
dimana gigi permanen penggantinya sudah mulai erupsi, jadi jelas kelainan
ini haya terjadi pada gigi sulung saja.
8. Karies proksimal
Karies pada daerah proksimal merupakan etiologi local dari terjadinya
maloklusi karena apabila daerah proksimal mengalami karies dan tidak
dirawat maka akan terjadi pergeseran gigi-gigi sebelahnya menuju daerah
yang kosong dan hal ini akan mengakibatkan terjadinya pemendekan
lengkung rahang sehingga apabila gigi permanen pengganti telah erupsi
semua akan terjadi kekurangan tempat.
9. Pengaruh jaringan lunak
Tekanan dari otot bibir, pipi dan lidah memberi pengaruh yang besar
terhadap letak gigi. Meskipun tekanan dari otot-otot ini jauh lebih kecil
daripada tekanan otot pengunyah tetapi berlangsung lebih lama. Menurut
penelitian tekanan yang berlangsung selama 6 jam dapat mengubah letak
gigi. Dengan demikian dapat dipahami bahwa bibir, pipi dan lidah yang
menempel terus pada gigi hampir selama 24 jam dapat sangat
mempengaruhi letak gigi. Tekanan dari lidah, misalnya karena letak lidah
pada posisi istrahat tidak benar atau karena adanya makroglosi dapat
mengubah keseimbangan tekanan lidah dengan bibir dan pipi sehingga
insisivus bergerak ke labial. Dengan demikian patut dipertanyakan apakah
tekanan lidah dapat mempengaruhi letak insisivus karena meskipun
tekanannya cukup besar yang dapat menggerakkan gigi tetapi berlagsung
dalam waktu yang singkat. Bibir yang telah dioperasi pada pasien celah
bibir dan langit-langit kadang-kadang mengandung jaringan parut yang
selain tekanannya yang besar oleh karena bibir pada keadaan tertentu
menjadi pendek sehingga memberi tekanan yang lebih besar dengan akibat
insisivus tertekan ke palatal.
10. Faktor iatrogenic
Pengertian kata iatrogenik adalah berasal dari suatu tindakan
profesional. Perawatan ortodontik mempunyai kemungkinan terjadinya
kelainan iatrogenik. Misalnya, pada saat menggerakkan kaninus ke distal
dengan peranti lepasan tetapi karena kesalahan desain atau dapat juga
saat menempatkan pegas tidak benar sehingga yag terjadi gerakan gigi
kedistal dan palatal. Contoh lain adalah pemakaian kekuatan yang besar
untuk menggerakkan gigi dapat menyebabkan resobsi akar gigi yang
digerakkan, resobsi yang berlebihan pada tulang alveolar selain kematian
pulpa gigi. Kelainan jaringan periodontal dapat juga disebabkan adanya
perawatan ortodontik, misalnya gerakkan bibir kearah labial/bukal yang
berlebihan dapat menyebabkan terjadinya dehiscence dan fenestrasi.

49. Diagnosa Maloklusi


Maloklusi kelas I Angle dengan protrusi dan berdesakan anterior posterior RA
dan berdesakan anterior RB disertai pergeseran garis median RB serta
modifikasi Dewey kelas I tipe I (gigi anterior berdesakan)
Klasifikasi maloklusi
Klasifikasi Angle:
1. Kelas I : terdapat relasi lengkung anteroposterior yang normal dilihat dari
relasi molar pertama permanen (neutroklusi). Kelainan yang menyertai
dapat berupa, misalnya, gigi berdesakan, gigitan terbuka, protrusi, dll.
2. Kelas II : lengkung rahang bawah paling tidak setengah tonjol lebih ke distal
daripada lengkung atas dilihat dari relasi molar pertama permanen
(distoklusi).
- Kelas II divisi 1 : insisivi atas protrusi sehingga didapatkan jarak gigit
besar, tumpang gigit besar, dan kurva spee positif.
- Kelas II divisi 2 : insisivi sentral atas retroklinasi, insisivi lateral atas
proklinasi, tumpang gigit besar (gigitan dalam). Jarak gigit bias normal
atau sedikit bertambah.
Kelas III : lengkung rahang bawah paling tidak setengah tonjol lebih ke
-
mesial terhadap lengkung atas dilihat dari relasi molar pertama
permanen (mesioklusi) dan terdapat gigitan silang anterior.
Dewey mengusulkan modifikasi maloklusi Angle kelas I menjadi 5 tipe dan
maloklusi Angle kelas III menjadi 3 tipe.
1. Kelas I Angle memiliki 5 tipe modifikasi, yaitu :
a. Tipe 1 : Gigi anterior berjejal
b. Tipe 2 : Gigi anterior Protrusi
c. Tipe 3 : Gigi anterior crossbite
d. Tipe 4: Gigi posterior crossbite
e. Tipe 5 : Mesial drifting gigi posterior

2. Kelas III Angle memiliki 3 tipe modifikasi, yaitu :


a. Tipe 1: Lengkung gigi atas dan bawah jika dilihat secara terpisah berada
dalam alignment yang normal. Tetapi jika lengkung gigi dibuat beroklusi
pasien menunjukkan alignment insisivus edge to edge, menunjukkan
lengkung gigi mandibula bergerak ke depan.
b. Tipe 2 : Insisivus mandibula berjejal dan berada dalam hubungan lingual
terhadap insisivus maksila.
c. Tipe 3 : Insisivus maksila berjejal dan dalam posisi crossbite terhadap
anterior mandibula.

50. Rencana Perawatan


Perawatan Pendahuluan
- Pro Pedodonsia: Ekstraksi SA 65, 74. Restorasi direk 84. Fissure sealent.
Koreksi kekurangan tempat RA RB dengan sekrup ekspansi
Koreksi gigi berdesakan RA RB
Fase evaluasi
Fase retensi
51. Prognosa Perawatan
- Baik, pasien dan orang tua pasien kooperatif
52. Peranti yang digunakan
- Peranti lepasan rahang atas dan rahang bawah
53. Ringkasan
Pasien laki-laki 9 tahun
Keluhan utama: pasien datang dengan keluhan gigi depannya
berdesakan. Pasien ingin giginya dirapikan. Pasien belum pernah
mendapat perawatan ortodonti sebelumnya.
Tipe kepala brakisefalik, tipe muka lebar, tipe profil cembung.
Jarak gigit normal, tumpang gigit normal.
Kemungkinan etiologi: faktor keturunan, kehilangan prematur 54, 52, 64,
62; letak benih salah 21, 32, 31, 41; karies 84.
Rencana perawatan: perawatan pendahuluan (pro pedo: ekstraksi SA 65,
74; restorasi direk 84; Fissure Sealent); koreksi kekurangan tempat RA RB
dengan sekrup ekspansi, koreksi gigi berdesakan RA RB, fase evaluasi,
fase retensi.
54. Desain Peranti Lepasan
Komponen peranti lepasan RA
Cangkolan adam 16, 26 (komponen retentif)
Busur labial (komponen retentif)
Peninggian gigit posterior
Sekrup ekspansi
Basis akrilik
Komponen peranti lepasan RB
Cangkolan adam 36, 46
Busur labial
Peninggian gigit posterior
Sekrup ekspansi
Basis akrilik

Ekspansi
Elemen-elemen plat ekspansi:
1. Plat dasar akrilik
2. Klamer yang mempunyai daya retensi tinggi, misalnya Adams clasp
atau Arrowhead clasp.
3. Elemen ekspansif, dapat berupa sekrup ekspansi maupun coffin spring
4. Busur labial ( labial arch )
5. Kadang dilengkapi juga dengan spur / taji, tie-bar dan pir-pir penolong
( auxilliary spring ).

1. Plat dasar
Plat dasar akrilik tidak boleh terlalu tebal dan harus dipoles licin supaya
enak dipakai dan mudah dibersihkan. Bagian verkeilung plat harus
menempel pada permukaan lingual/ palatinal gigi-gigi, karena dapat
menambah daya penjangkar Antara plat yang menempel pada gigi
penjangkar ( anchorage ) dan gigiattachment terdapat belahan/ separasi.
2 Klamer
Plat ekspansi memerlukan retensi dan stabilitas yang tinggi sehingga
maksud pelebaran lengkung gigi dapat tercapai. Stabilitas diperoleh dengan
menggunakan klamer yang mempunyai daya retensi tinggi misalnya Adams
clasp atau Arrowhead clasp yang dibuat dari kawat stainless steel diameter
0,7 mm.
3. Elemen ekspansif
Elemen ekspansif dapat berupa sekrup ekspansi ( expansion screw ) yang
dibuat oleh pabrik atau berupa coffin spring yang dibuat sendiri dari kawat
stainless diameter 0,9 1,25 mm. Sekrup ekspansi terdapat bermacam-
macam, tapi dasar kerjanya sama. Tersedia berbagai tipe, a.l. :
- tipe Badcock
- tipe Fisher
- tipe Glenross
- tipe Wipla dll.
Tiap sekrup mempunyai 4 lubang, dilengkapi dengan kunci pemutar.
Kekuatan yang dihasilkan sekrup bersifat intermittent ( berselang-seling ).
Gambar anak panah pada sekrup menunjukkan arah pengaktifan.
Sekrup ekspansi dibuat untuk pembukaan 0,18 mm 0,20 mm setiap
seperempat putaran ( 900 ).
Pemutaran sekrup dilakukan putaran setiap hari atau 2 X putaran
setiap minggu, tergantung pada setiap kasus dan arah pelebaran yang
diharapkan,
Busur labial pada plat ekspansi dibuat dari kawat stainless steel diameter
0,7 mm. Di samping dapat menambah daya retensi alat, Busur labial ini dapat
digunakan untuk meretraksi gigi-gigi anterior yang protrusi. Pada pelebaran
lengkung gigi ke anterior, misalnya pada kasus di mana terdapat gigitan
silang pada gigi-gigi depan ( anterior crossbite ), busur labial ini tidak
diperlukan dan untuk menambah retensi alat ditam-bahkan spur/ taji yang
dipasang di sebelah distal insisivi lateral atau Adams clasp untuk keempat
insisivi atas.
Peninggian gigit
Membebaskan halangan dapat dilakukan dengan memberikan peninggian
gigit posterior. Peninggian gigit meliputi permukaan oklusal gigi-gigi
posterior, harus cukup lebar untuk berkontak dengan tonjol bukal dan palatal
gigi-gigi posterior rahang bawah. Bidang peninggian gigit harus tipis,
terutama pada daerah molar sehingga oklusi hanya terpisah secukupnya.
Peninggian gigit dikurangi apabila sudah terkoreksi.