Anda di halaman 1dari 31

BAB II

ASKEP PADA ANAK DENGAN MASALAH KESEHATAN NUTRISI

A. ASKEP PADA ANAK DENGAN MASALAH OBESITAS


a. Pengertian obesitas
Overweight adalah berat badan melebih standar berat badan menurut tinggi
badan, meningkatnya otot tubuh atau jaringan lemak atau keduanya.
Obesitas adalah akumulasi jaringan lemak dibawah kulit yang berlebihan dan
terdapat di seluruh tubuh. Obesitas seringkali dihubungkan dengan overweight,
walaupun tidak selalu identik oleh karena obesitas mempunyai ciri ciri tersendiri.
Secara klinis obesitas dengan mudah dapat dikenali karena mempunyai tanda
dan gejala yang khas, yaitu: wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif
pendek, dada mengembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan
lemak, perut membuncit, kedua tungkai pada umumnya berbentuk x. Pada anak laki
laki penis tampak kecil karena terkubur dalam jaringan lemak supra-pubik, pada anak
perempuan indikasi menstruasi dini.
Kelebihan berat badan pada anak yang tidak wajar saat seumuran balita yang
disebabkan menumpuknya kadar lemak yang tidak sedikit.orang tua pasti tidak
menyadari bahwa di tubuh anak mereka yang gemuk sudah mengancam kesehatan
anak tersebut.
Namun tidak semua anak yang gemuk dikategorikan sebagai anak yang
memiliki obesitas.banyak juga anak yang memiliki kerangka tubuh lebih besar dari
rata-rata,selain itu juga memiliki kadar lemak yang lebih tinggi pada masa
pertunbuhanya. jadi akan kelihata seperti anak yang memiliki obesitas.perlu
diketahui obesitas pada anak tidak bisa dilihat dari ukuran badan anak tersebut.dalam
hali ini dokter berperan penting untuk memeriksa apakah anak itu termasuk anak yang
memiliki obesitas.
Apakah anak anda termasuk anak yang memiliki obesitas? Dengan bantuan
dokter anda akan tahu anak apakah anak anda memiliki obesitas atau kegemukan.
untuk hal ini dokter akan menghitung indeks masa tubuh anak anda (BMI). BMI akan
menunjukan apakah anak anda memiliki berat yang berlebihan sesuai usia dan tinggi
badannya. Dokter menggunakan grafik pertumbuhan,dengan membandingkan BMI
anak anda dengan BMI anak lain seusianya yang berjenis kelamin sama.Jadi,
misalnya, bila Anda diberitahu bahwa anak Anda berada di persentil 80 artinya 80
persen anak lain seusianya yang berjenis kelamin sama memiliki BMI lebih rendah
darinya. Obesitas atau masalah berat badan termasuk masalah yang yang cukup
mencemaskan tidak hanya pada anak balita namun juga khusunya dikalangan anak
remaja maupun dewasa.kelebihan berat badan menjadi salah satu alasan yang kuat
untuk mereka menarik lawan jenisnya.hal ini semakin diperparah dengan munculnya
berbagai iklan di televisi yang banyak menjual produk yang prioritasnya
menampilkan postur tubuh yang ideal,ramping dan proposional. Berbagai carapun
dilakukan mereka untuk memiliki tubuh yang berotot,kekar dan ideal.hal ini terlihat
dari aktifitas mereka yang menuju kearah untuk menurunkan berat badan seperti
berolahraga.namun tidak sedikit pula mereka yang mengeluarkan uang banyak untuk
membeli obat-obatan,dan peralatan olahraga yang bertujuan untuk menurunkan berat
badan mereka. Obesitas cukup berpengaruh dalam hidup mereka,tidak sedikit pula
anak yang memiliki reaksi berlebihan,sehingga membuat mereka menjadi
frustasi.meskipun banyak cara dilakukan mereka untuk menurunkan berat badan
seperti melakukan diet ketat,membeli obat-obatan dan juga alat untuk
berolahraga.namun berat badan mereka tak kunjung menyusut. Para ahli meneliti
Obesitas disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor genetik, disfungsi salah
satu bagian otak, polamakan yang berlebih, kurang gerak / olahraga, emosi, dan faktor
lingkungan.
b. Etiologi
Ada berbagai penyebab yang membuat seorang anak mengalami berat
berlebih. Mengetahui dan mengenal penyebab tersebut, dapat membantu kita untuk
mencari solusi dan cara penanganan yang tepat untuk masalah yang dihadapi anak.
Berikut beberapa penyebab dan penanganan obesitas untuk Anda pelajari :
1. Kebiasaan Makan yang Buruk
Anak yang tidak atau kurang suka mengkonsumsi buah, sayur dan biji-bijian
(grains) dan lebih memilih fast food, minuman manis maupun makanan kemasan,
memiliki kecenderungan untuk memiliki berat berlebih karena makanan tersebut
merupakan makanan yang tinggi lemak dan kalori tetapi memiliki nilai gizi yang
rendah.
Penanganan: Merubah pola makan menjadi pola makan yang sehat. Batasi tingkat
konsumsi fast food dan semacamnya.Perbanyak konsumsi sayur, buah dan menu
bergizi lainnya.
2. Faktor Keturunan
Obesitas bisa diturunkan oleh orang tua. Jadi seorang anak yang memiliki orang
tua atau keluarga yang mengalami obesitas juga berpotensi untuk mengalami hal
sama. Tetapi perlu Anda ketahui bahwa faktor keturunan tidak lantas membuat
seseorang memiliki berat berlebih. Hal ini akan muncul jika si anak
mengkonsumsi kalori berlebih dari jumlah yang seharusnya ia konsumsi.
Penanganan: Melakukan diet makanan agar jumlah kalori, lemak maupun zat lain
yang dibutuhkan oleh tubuh terpenuhi setiap harinya dan tidak berlebihan.
3. Tidak Aktif Secara Fisik
Teknologi modern banyak memaksa anak-anak kita untuk lebih banyak duduk
diam menghabiskan waktu mereka di depan layar komputer maupun televisi
sehingga mereka tidak banyak bergerak. Jika konsumsi kalori dan lemak mereka
berlebih, padahal tubuh tidak membakarnya, maka obesitas pada anak akan terjadi
pada mereka.
Penanganan: Latih anak untuk aktif bergerak. Kurangi jatah main game atau
nonton TV dan ganti dengan mengikutsertakan mereka dalam kegiatan olahraga
yang mereka sukai.
Obesitas dapat di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
a) Keturunan
b) pola makan
c) obat-obata
d) psikososial
e) ekonomi
f) aktivitas
g) pola pikir dan
h) konsentrasi intake makanan.
c. Patofisiologi pada obesitas
Makanan yang adekuat, yang di sertai dengan ketidak seimbangan antara
intake dan out put yang keluar masuk dalam tubuh akan menyebabkan
akumulasi timbunan lemak pada jaringan adiposa khususnya jaringan subkutan.
Apabila hal ini terjadi akan timbul berbagai masalah, diantaranya
Timbunan lemak pada area abdomen yang emnyebabkan tekanan pada
otot-otot diagfragma meningkat sehingga menggagu jalan nafas , BB yang
berlebihan menyebabkan aktifitas yang terganggu sehingga mobilitas gerak
terbatasi dan timbul perasaan tidak nyaman, obat-obatan golongan steroid yang
memicu nafsu makan tidak terkontrol mengakibatkan perubahan nutrisi yang
berlebih, dan krisis kepercayaan diri karena timbunan lemak pada tubuh telah
mengubah bentuk badannya
a) Pathway
1. Genetik
2. Pola fungsi kesehatan
3. Obat obatan
4. Aktifitas
5. Pola fikir konsentrasi intake makanan
Makanan yang adekuat

Intake yang berlebih out put yang kurang

Non balance intake and out put

Akumulasi lemak pada seluruh jaringan adiposa (subkutan)

Timbunan lemak BB yg berlebih obat-obatan steroid krisis kepercayaan diri


Pada area abdomen mobilitas terbatas nafsu makan meningkat karena sangatgemuk
Menekan difragma
d. Manifestasi klinis
Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak
biasanya timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita,
selain berat badan meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan
lebih cepat (ternyata jika periksa usia tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja
yang cepat tumbuh dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relative
rendah dibandingkan dengan anak yang sebayanya.
Bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas :
a. Paha tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil dengan
jari jari yang berbentuk runcing.
b. Kelainan emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan dagu
yang berbentuk ganda.
c. Dada dan payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara yang
telah tumbuh pada anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang
kurang menyenangkan.
d. Abdomen, membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul
lonceng, kadang kadang terdapat strie putih atau ungu.
e. Lengan atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan biasanya
pada biseb dan trisebnya
e. Mencegah Obesitas Anak
a) Tujuan
Tujuan utama tata laksana obesitas pada anak dan remaja adalah
menyadarkan tentang pola makan yang berlebihan dan aktivitas yang kurang
serta memberikan motivasi untuk memodifikasi perilaku anak dan orang tua.
Tujuan jangka panjang adalah perubahan gaya hidup yang menetap.
b) Pengaturan Makanan
a. Pada bayi.
Sebaiknya diberikan ASI eksklusif, bila menggunakan susu formula
perhatikan takaran dan volume pemberian susu.
makanan padat tidak boleh diberikan kurang dari 4 bulan; bayi mulai
diperkenalkan minum dengan cangkir umur 7 -8 bulan, botol mulai
dihilangkan umur 1 tahun.
Pemberian sayur dan buah jangan sampai terputus.
b. Anak usia pra sekolah (1 - 3 th).
Hindari makan gorengan (krupuk, keripik, dll) dan penambahan lemak
untuk memasak. (mi sal : santan, minyak, margarine)
Pilih daging yang tidak berlemak.
Lebih baik gunakan margarine, keju yang rendah lemak
Hindari penambahan gula pada makanan dan minuman, pemanis
buatan (mis : aspartame) bisa digunakan bila perlu.
Hindari coklat, permen, cake, biskuit, kue kue dan makanan lain
sejenis.
Berikan sayuran setiap makan dan buah untuk makanan selingan.
Gunakan susu rendah lemak atau tanpa lemak.
Pada usia ini (0 - 3 th) tidak perlu diberikan pengurangan kalori
dari kebutuhannya, bayi/anak akan mengalami penurunan BB secara
spontan sesuai dengan pertumbuhannnya. Pengurangan kalori dibawah
kebutuhan jika tidak dirancang dengan baik dapat menimbulkan defisiensi
zat gizi yang mungkin dapat menghambat tumbuh kembang anak yang
masih pesat terutama tumbuh kembang otak.
c. Anak usia sekolah (4 - 6 th).
Hal hal yang dianjurkan sama dengan anak usia pra sekolah.
Energi diberikan sesuai kebutuhan. Dalam keadaan yang terpaksa,
misal pernafasan terganggu, susah bergerak diberikan pengurangan
kalori dengan pengawasan yang ketat.
d. Anak usia remaja
Target penurunan berat badan dapat direncanakan setiap
kunjungan, biasanya 1 - 2 kg/ bulan. Penurunan asupan kalori
diberikan bertahap sekitar 300 - 500 Kalori dari asupan makanan
sehari-hari
Penurunan berat badan tidak perlu menghilangkan seluruh
kelebihan berat abdan karena pertumbuhan linier masih berlangsung,
penurunan berat badan cukup sampai berat badan berada 20 % diatas
berat badan ideal.
c) Modifikasi Perilaku
Monitor diri sendiri, anak dilatih untuk memonitor asupan makan dan
aktivitas fisik, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak dan
keluarga terhadap gizi dan kegiatan fisik
Stimulus kontrol, bermacam macam kejadian yang memicu keinginan
makan atau makan berlebihan, contoh : makan sambil menonton TV,
Makanan dihidangkan di meja. Strategi: TV tidak dipasang di kamar
makan, makanan disimpan di lemari untuk meminimalkan penglihatan
terhadap makanan.
Perubahan perilaku, contoh: kebiasaan makan cepat dirubah perlahan
lahan, mengontrol besar porsi sehingga merasa puas dengan besar porsi
sedang dan meminimalkan snack.
Memberikan imbalan apabila anak berhasil menurunkan berat badan.
Tehnik perilaku kognitif, yaitu mengembangkan teknik pemecahan
masalah, seperti merencanakan untuk situasi dengan resiko tinggi, misal
pada waktu liburan, atau pesta/ pertemuan untuk menekankan agar tidak
makan berlebihan.
d) Aktifitas Fisik dan Olahraga
Frekuensi olah raga 3-5 kali per minggu.
Lama olah raga, pemanasan 15 menit, ditambah 30-40 menit.
jenis olah raga : jalan, berenang.
sesuai dengan hobi anak, tennis, menari, basket, dll.
menambah kegiatan/aktifitas fisik, misal berangkat sekolah jalan kaki,
lebih baik naik tanga dari pada menggunakan lift.
mengurangi aktifitas yang pasif, misal menonton TV, bermain videogame,
membaca buku, dll. (maksimal 2 jam sehari)
e) Partisipasi Orang Tua
Orang tua adalah contoh yang terbaik bagi anak. Sekurang kurangnya
salah satu orang tua ikut secara intesif dalam program perawatan anak.
Penelitian menapatkan bahwa kelompok anak yang orang tua ikut
berpartisipasi, berat badannya turun lebih banyak dan tetap stabil.
f. Proses keperawatan pada anak dengan obesitas
a) Pengkajian
1. Identitas Pasien : Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor
register.

2. Riwayat kesehatan

Riwayat Kesehatan sekarang : keluhan pasien saat ini


Riwayat Kesehatan masa lalu : kaji apakah ada keluarga dari pasien yang
pernah menderita obesitas
Riwayat kesehatan keluarga : kaji apakah ada ada di antara keluarga yang
mengalami penyakit serupa atau memicu
Riwayat psikososial,spiritual : kaji kemampuan interaksi sosial , ketaatan
beribadah, kepercayaan

3. Pemerikasaan fisik :
Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya
distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
Sistem respirasi : untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesulitan napas
Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit
yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan.
Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit
pinggang.
Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam
pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar
getah bening.
4. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan metabolik / endokrin dapat menyatakan tak
normal, misal : hipotiroidisme, hipopituitarisme, hipogonadisme, sindrom cushing
(peningkatan kadar insulin).
5. Pola fungsi kesehatan
1) Aktivitas istirahat
Kelemahan dan cenderung mengantuk, ketidakmampuan / kurang
keinginan untuk beraktifitas.
2) Sirkulasi
Pola hidup mempengaruhi pilihan makan, dengan makan akan dapat
menghilangkan perasaan tidak senang : frustasi
3) Makanan / cairan
Mencerna makanan berlebihan
4) Kenyamanan
Pasien obesitas akan merasakan ketidaknyamanan berupa nyeri dalam
menopang berat badan atau tulang belakang
5) Pernafasan
Pasien obesitas biasanya mengalami dipsnea
6) Seksualitas
Pasien dengan obesitas biasanya mengalami gangguan menstruasi dan
amenouria

b) Diagnosa keperawatan
1. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake
makanan yang lebih
2. Gangguan pencitraan diri yang berhubungan dengan biofisika atau psikosial
pandangan px tehadap diri
3. Hambatan interaksi sosial yang berhubungan dengan ungkapan atau tampak
tidak nyaman dalam situasi social
4. Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru,
nyeri , ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial
c) Perencanaan dan Implementasi

Diagnosa Tujuan Kriteria Intervensi Rasional

1. Perubahan Kebutuhan Perubahan pola a) Kaji penyebab a) Mengidentifikasi


nutrisi: lebih nutrisi kembali makan dan kegemukan dan buat /mempengaruhi
dari kebutuhan normal keterlibatan individu rencana makan penentuan
tubuh yang dalam program dengan pasien intervensi
b) Timbang berat badan b) Memberikan
berhubungan latihan
Menunjukan secara periodic informasi tentang
dengan intake
c) Tentukan tingkat
penurunan berat keefektifan
makanan yang
aktivitas dan rencana
badan program
lebih
program latihan diet c) Mendorong px
d) Kolaborasi dengan
untuk menyusun
ahli gizi untuk
tujuan lebih
menentujan keb
nyata dan sesuai
kalori dan nutrisi
dg rencana
untuk penurunan d) Kalori dan nurtisi
berat badan terpenuhi secara
e) Kolaborasi dengan
normal
dokter dalam e) Penurunan berat
pemberian obat badan
penekan nafsu makan
(ex.dietilpropinion)

2. Gangguan Menyatakan Menunjukkan a) Beri privasi kepada a) Individu


pencitraan diri gambaran diri beberapa penerimaan px selama perawatan biasanya sensitif
b) Diskusikan dengan px
b.d biofisika lebih nyata diri dari pandangan terhadap
tentang pandangan
atau psikosial idealism tubuhnya sendiri
Mengakui indiviu menjadi gemuk dan b) Pasien
pandangan px
yang mempunyai apa artinya bagi px mengungkapkan
tehadap diri
tanggung jawab trsebut beban
c) Waspadai mitos px /
sendiri psikologisnya
orang terdekat c) Keyakinan
d) Tingkatkan
tentang seperti
komunikasi terbuka
apa tubuh yang
dengan px untuk
ideal atau
menghondari kritik
motifasi dapat
e) Waspadai makan
menjadi upaya
berlebih
f) Kolaborasi dengan penurunan berat
kelompok terapi badan
d) Meningkatkan
rasa kontrol dan
meningkatkan
rasa ingin
menyelesaikan
masalahnya
e) Pola makan
terjaga
f) Kelompok terapi
dapat
memberikan
teman dan
motivasi

3. Hambatan Mengungkapka Menunjukan a) Kaji perilaku hubungan a. Keluarga


interaksi sosial n kesadaran peningkatan keluarga dan perilaku dapat membantu
b.d ungkapan adanya perasaan perubahan positif sosial merubah perilaku
b) Kaji penggunaan
atau tampak yang dalam perilaku sosial sosial pasien
ketrampilan koping b. Mekanisme
tidak nyaman menyebabkan dan interpersonal
pasien koping yang baik
dalam situasi interaksi sosial
c) Rujuk untuk terapi
dapat melindungi
sosial yang buruk
keluarga atau individu
pasien dari
sesuai dengan indikasi.
perasaan
kesepian isolasi
c. Pasien
mendapat
keuntungan dari
keterlibatan
orang terdekat
untuk memberi
dukungan

4. Pola napas tak Mengembalikan Mempertahankan a) Awasi, auskultasi a) Peranapasan


efektif yang pola napas ventilasi yang bunyi napas mengorok/
b) Tinggikan kepala
berhubungan normal adekuat pengaruh
Tidak mengalami tempat tidur 30 derajat
dengan anastesi
c) Bantu lakukan napas
penurunan sianosis atau tanda menurunkan
dalam, batuk menekan
ekspansi paru, hipoksia lain ventilasi,
insisi
nyeri ,ansietas d) Ubah posisi secara potensial
,kelemahan dan periodik atelektasis,
e) Berikan O2
obstruksi hipoksia
tambahan / alat b) Mendorong
trakeobronkial
pernapasan lain pengembangan
diafragma
sehingga
ekspansi paru
optimal, pasien
lebih nyaman
c) Ekspansi paru
maksimal,
pembersihan
jalan napas,
resiko atelektasis
minimal
d) Memaksimalkan
sediaan O2 untuk
pertukaran dan
penurunan kerja
napas

e) Evaluasi
- Kebutuhan nutrisi kembali normal
- Menyatakan gambaran diri lebih nyata
- Mengungkapkan kesadaran adanya perasaan yang menyebabkan interaksi
sosial yang buruk
- Mengembalikan pola napas normal

B. ASKEP PADA ANAK DENGAN MASALAH KEP (KURANG ENERGY


PROTEIN), MARASMUS DAN KWARSIOKOR
a. Pengertian
Zat gizi adalah zat yang diperoleh dari makanan dan digunakan oleh tubuh
untuk pertumbuhan, pertahanan dan atau perbaikan. Zat gizi dikelompokkan
menjadi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. (Arisman,
2004:157).
Energi yang diperoleh oleh tubuh bukan hanya diperoleh dari proses
katabolisme zat gizi yang tersimpan dalam tubuh, tetapi juga berasal dari energi
yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi.
Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber energi, disamping
membantu pengaturan metabolisme protein. Protein dalam darah mempunyai
peranan fisiologis yang penting bagi tubuh untuk :
Mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.
Sebagai cadangan protein tubuh.
Mengontrol perdarahan (terutama dari fibrinogen).
Sebagai transport yang penting untuk zat-zat gizi tertentu.
Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.

Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi
menahun. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan
membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang
badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan
menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di
bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi
buruk Gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut marasmus atau
kwashiorkor (Dorland, 2000).

Kurang Energi Protein (KEP)/Kurang Kalori Protein adalah keadaan


kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam
makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kebutuhan gizi/AKG
(Mansjoer, 2000).

Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori


protein. (Suriadi, 2001:196).

Marasmus adalah bentuk malnutrisi energy protein terutama disebabkan


oleh kekurangan kalori berat dalam jangka lama, terutama terjadi selama satu
tahun pertama kehidupan, yang ditandai dengan retardasi pertumbuhan dan
pengurangan lemak bawah kulit dan otot secara progresif, tetapi biasanya masih
ada nafsu makan dan kesadaran mental .(kamus Kedokteran Dorland)

Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan
makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada
pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan
kalori.(Nelson)

Kwashiorkor ialah gangguan yang disebabkan oleh kekurangan protein


( Ratna Indrawati, 1994)

Kwashiorkor ialah defisiensi protein yang disertai defisiensi nutrien


lainnya yang biasa dijumpai pada bayi masa disapih dan anak prasekolah (balita).
(Ngastiyah, 1995)

Kwashiorkor adalah gangguan nutrisional pada bayi dan anak-anak kecil


jika diet protein esensial secara persisten kurang; sering di temukan pada
masyarakat yang makanan pokoknya jagung. Gambaran khas klinisnya adalah
anemia,atrofi ,edema dependen dan fatty liver. Jika tidak di obati , penyakit
khwasiokor akan membawa kematian. Aflatoxin pernah di temukan dalam
pemeriksaan postmortem terhadap pasien yang meninggal karena penyakit
khawsiokor.(kamus keperawatan,1999).

Suatu bentuk malnutrisi energy protein yang ditimbulkan oleh defisiensi


protein yang berat; masukan kalori mungkin adekuat, tetapi biasanya juga
defisiensi. Ini ditandai dengan hambatan pertumbuhan, perubahan pigmen rambut
dan kulit, edema, pembesaran perut, imunodefisiensi, dan perubahan patologik
pada hati termasuk infiltrasi lemak, nekrosis, dan fibrosis. (kamus Kedokteran
Dorland)

Marasmus Kwasiorkor : Suatu keadaan defisiensi kalori dan protein,


dengan penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak subkutan, dan biasanya
dehidrasi.(kamus Kedokteran Dorland)

b. ETIOLOGI
a) Marasmus
Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat
terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat
seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan
metabolik, atau malformasi congenital.
Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering
dijumpai pada bayi yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi
makanan penggantinya atau sering diserang diare. Marasmus juga dapat
terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti infeksi, kelainan bawaan
saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik,
penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat
b) Kwasiorkor
Diare yang kronik
Malabsorbsi protein
Sindrom nefrotik
Infeksi menahun
Luka bakar
Penyakit hati
c. PATOFISIOLOGI
a) Marasmus
Pertumbuhan yang kurang atau terhenti disertai atrofi otot dan
manghilangkan lemak di bawah kulit. Pada mulanya kelainan demikian
merupakan proses fisiologis. Untuk kelangsungan hidup jaringan tubuh
memerlukan energi, namun tidak didapat sendiri dan cadangan protein digunakan
juga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut. Penghancuran jaringan pada
defisiensi kalori tidak saja membantu memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga
untuk memungkinkan sintesis glukosa dan metabolit esensial lainnya seperti asam
amino untuk komponen homeostatik. Oleh karena itu, pada marasmus berat
kadang-kadang masih ditemukan asam amino yang normal, sehingga hati masih
dapat membentuk cukup albumin. (Ngastiyah, 2005 : 259).
b) Kwasiorkor
Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang
sangat lebih, karena persediaan energy dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam
dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolic dan perubahan sel
yang menyebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein
dalam diet akan terjadi kekurangan asam amino esensial dalam serum yang
diperlukan untuk sintesis dan metabolisme. Makin kekurangan asam amino dalam
serum ini akan menyebabkan kekurangan produksi albumin oleh hepar yang
kemudian berakibat edema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan
pembentukan beta lipoprotein sehingga transport lemak dari hati kedepot
terganggu dengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati.
d. MANIFESTASI KLINIS
a) Marasmus
Tampak sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit
Wajah seperti orang tua
Cengeng, rewel
Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada
Perut cekung
Sering disertai: penyakit kronik, diare kronik
b) KWASIORKOR
Edema, umumnya seluruh tubuh dan terutama pada kaki (dorsum pedis)
Wajah membulat dan lembab
Pandangan mata sayu
Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut
tanpa rasa sakit, rontok
Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis
Pembesaran hati
Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri
atau duduk
Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah
warna menjadi coklat kehitaman dan terkupas (crazy pavement
dermatosis)
Sering disertai: infeksi, anemia, diare
c) MARASMUS KWASIORKOR
Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik
kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/U < 60% baku median WHO-NCHS
disertai edema yang tidak mencolok. Cirri ciri anak yang mengalami
marasmu kwashiorkor ini yaitu Sangat kurus, Rambut jagung dan mudah
rontok, Perut buncit, Punggung kaki bengkak dan Rewel

e. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a) PEMERIKSAAN FISIK
Mengukur tinggi badan dan berat badan
Menghitung indeks massa tubuh yaitu BB (dalam kilogram) dibagi
dengan TB (dalam meter)
Mengukur ketebalan lapisan kulit lengan atas sebelah belakang (lipatan
trisep) ditarik menjauhi lengan sehingga lapisan lemak dibawah kulitnya
dapat diukur, biasanya menggunakan jangka lengkung (kapiler). Lemak
dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh. Lapisan normal
sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk
memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (Lean Body Massa,
massa tubuh yang tidak berlemak).

b) PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Albumin
Kreatinin
Nitrogen
Elektrolit
Hb
Ht
Transferin
c) PENATALAKSANAAN
Prinsip pengobatan adalah pemberian makanan yang mengandung protein
bernilai biologik tinggi, tinggi kalori, cukup cairan, vitamin dan mineral.
Makanan tersebut dalam bentuk mudah dicerna dan diserap, diberikan secara
bertahap.
Dalam keadaan dehidrasi dan asidosis pedoman pemberian parenteral adalah
sebagai berikut :
Jumlah cairan adalah : 200ml/kg BB/ hari untuk kwashiorkor atau
marasmus kwashiorkor
250 ml/kg BB/ hari untuk marasmus
Makanan tinggi kalori tinggi protein : 3,0 5.0 g/kg BB
Kalori 150- 200 kkal/ kg BB/ hari
Vitamin dan mineral, asam folat peroral 3x5 mg/ hari pada anak besar
KCL oral 75-150 mg/ kg BB/ hari
Bila hipoksia berikan KCL intravena 3-4 mg/ kg BB/ hari
f. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dst
b. Keluhan utama
Kwashiorkor : ibu mengatakan anak mengalami bengkak pada kaki dan
tangan, kondisi lemah, tidak mau makan, BB menurun, dll
Marasmus : ibu pasien mengatakan anaknya rewel, tidak mau makan,
badan kelihatan kurus.
c. Riwayat kesehatan sekarang
o Kapan keluhan mulai dirasakan
o Kejadian sudah berapa lama
o Apakah ada penurunan BB
o Bagaimana nafsu makan pasien
o Bagaimana pola makannya
o Apakah pasien pernah mendapat pengobatan, dimana, oleh siapa,
kapan dan jenis obatnya
d. Riwayat penyakit dahulu
Apakah dulu pasien pernah menderita penyakit seperti sekarang.
e. Riwayat penyakit keluarga
Apakah anggota keluarga pasien pernah menderita penyakit yang
berhubungan dengan kekurangan gizi atau kekurangan protein.
f. Riwayat penyakit social
o Anggapan salah satu jenis makanan tertentu
o Apakah kebutuhan pasien terpenuhi
o Bagaimana lingkungan tempat tinggal pasien
o Bagaimana keadaan social ekonomi keluarga
g. Riwayat spiritual
Adanya kepercayaan yang melarang makanan tertentu
a) Pengkajian Fisik
a. Inspeksi
Meliputi observasi sistemik keadaan pasien sehubungan dengan
status gizi meliputi :
o Penampilan umum pasien menunjukkan status nutrisi atau gizi
pasien
o Pada kwashiorkor, apakah ada edema, rambut rontok, BB menurun,
muka seperti bulan.
o Pada marasmus, badan kurus, atrofi otot, rambut kemerahan dan
kusam, tampak sianosis dan perut membuncit.
b. Palpasi
Pada marasmus terdapat turgor kulit yang jelek dan pada
kwashiorkor terdapat pembesaran hati.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan
Marasmus-Kwashiorkor adalah:
a) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak
adekuat, anoreksia dan diare.
b) Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan
peningkatan kehilangan akibat diare.
c) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan
protein yang tidak adekuat.
d) Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan
peningkatan sekresi trakheobronkhial.
e) Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi
trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
f) Resiko tinggi infeksi b/d rendahnya daya tahan tubuh
g) Kerusakan integritas kulit b/d gangguan nutrisi/ status metabolik
h) Kurang pengetahuan b/d kurang terpajannya informasi
3. INTERVENSI
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat,
anoreksia dan diare.
Tujuan & kriteria hasil :
Klien akan menunjukkan peningkatan status gizi.
Kriteria:
1. Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien, kebutuhan
nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang.
2. Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per
sonde/per oral) sesuai program dietetik.
Intervensi rasional
Jelaskan kepada keluarga tentang Meningkatkan pemahaman ke-luarga
penyebab malnutrisi, kebutuhan tentang penyebab dan kebutuhan
nutrisi pemulihan, susunan menu nutrisi untuk pemulihan klien
dan pengolahan makanan sehat sehingga dapat meneruskan upaya
seimbang, tunjukkan contoh jenis terapi dietetik yang telah diberikan
sumber makanan ekonomis sesuai selama hospitalisasi
status sosial ekonomi klien.
Tunjukkan cara pemberian Meningkatkan partisipasi keluarga
makanan per sonde, beri dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
kesempatan keluarga untuk klien, mempertegas peran keluarga
melakukannya sendiri. dalam upaya pemulihan status nutrisi
klien.
Laksanakan pemberian robo-rans Roborans meningkatkan nafsu
sesuai program terapi. makan, proses absorbsi dan
memenuhi defisit yang menyertai
keadaan malnutrisi.
Timbang berat badan, ukur lingkar Menilai perkembangan masa-lah
lengan atas dan tebal lipatan kulit kesehatan klien.
setiap pagi.

2. Kekurangan volume cairan tubuh b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan
kehilangan akibat diare.
Tujuan & kriteria hasil :
Klien akan menunjukkan keadaan hidrasi yang adekuat.
Kriteria:
1. Asupan cairan adekuat sesuai kebutuhan ditambah defisit yang terjadi.
2. Tidak ada tanda/gejala dehidrasi (tanda-tanda vital dalam batas normal, frekuensi defekasi
1 x/24 jam dengan konsistensi padat/semi padat).
Intervensi rasional
Lakukan/observasi pemberian Upaya rehidrasi perlu dilakukan untuk
cairan per infus/sonde/oral sesuai mengatasi masalah kekurangan
program rehidrasi. volume cairan.

Jelaskan kepada keluarga tentang Meningkatkan pemahaman keluarga


upaya rehidrasi dan partisipasi yang tentang upaya rehidrasi dan peran
diharapkan dari keluarga dalam keluarga dalam pelaksanaan terapi
pemeliharan patensi pemberian rehidrasi.
infus/selang sonde.

Kaji perkembangan keadaan Menilai perkembangan masalah klien.


dehidarasi klien.

Hitung balanance cairan. Penting untuk menetapkan program


rehidrasi selanjutnya.

3. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang
tidak adekuat.
Tujuan & kriteria hasil :
Klien akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai standar usia.
Kriteria:
1. Pertumbuhan fisik (ukuran antropometrik) sesuai standar usia.
2. Perkembangan motorik, bahasa/ kognitif dan personal/sosial sesuai standar usia.
Intervensi rasional
Ajarkan kepada orang tua tentang Meningkatkan pengetahuan ke-luarga
standar pertumbuhan fisik dan tentang keterlambatan pertumbuhan
tugas-tugas perkembangan sesuai dan perkembangan anak.
usia anak.
Lakukan pemberian makanan/ Diet khusus untuk pemulihan
minuman sesuai program terapi diet malnutrisi diprogramkan secara
pemulihan. bertahap sesuai dengan kebutuhan
anak dan kemampuan toleransi sistem
pencernaan.

Lakukan pengukuran antropo- Menilai perkembangan masalah


metrik secara berkala. klien.
Lakukan stimulasi tingkat Stimulasi diperlukan untuk mengejar
perkembangan sesuai dengan usia keterlambatan perkembangan anak
klien. dalam aspek motorik, bahasa dan
personal/sosial.
Mempertahankan kesinam-bungan
Lakukan rujukan ke lembaga program stimulasi pertumbuhan dan
pendukung stimulasi per-tumbuhan perkem-bangan anak dengan mem-
dan perkembangan berdayakan sistem pendukung yang
(Puskesmas/Posyandu) ada.

4. Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan sekresi


trakheobronkhial
Tujuan & kriteria hasil :
Klien tidak mengalami aspirasi.
Kriteria:
1. Pemberian makan/minuman per sonde dapat dilakukan tanpa mengalami aspirasi.
2. Bunyi napas normal, ronchi tidak ada.
Intervensi rasional
Periksa dan pastikan letak selang Merupakan tindakan preventif,
sonde pada tempat yang semestinya meminimalkan risiko aspirasi.
secara berkala.

Periksa residu lambung setiap kali Penting untuk menilai tingkat


sebelum pemberian makan- kemampuan absorbsi saluran cerna
an/minuman. dan waktu pemberian
makanan/minuman yang tepat.

Tinggikan posisi kepala klien Mencegah refluks yang dapat


selama dan sampai 1 jam setelah menimbulkan aspirasi.
pemberian makanan/minuman.

Ajarkan dan demonstrasikan


tatacara pelaksanaan pem-berian Melibatkan keluarga penting bagi
makanan/ minuman per sonde, beri tindak lanjut perawatan klien.
kesempatan keluarga melakukan-
nya setelah memastikan keamanan
klien kemampuan keluarga.

Observasi tanda-tanda aspirasi


Menilai perkembangan masalah klien.

5. Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder
terhadap infeksi saluran pernapasan.
Tujuan & kriteria hasil :
Klien akan menunjukkan jalan napas yang efektif.
Kriteria:
1. Jalan napas bersih dari sekret, sesak napas tidak ada, pernapasan cuping hidung tidak ada,
bunyi napas bersih, ronchi tidak ada.
Intervensi rasional
Lakukan fisioterapi dada dan Fisioterapi dada meningkatkan
suction secara berkala. pelepasan sekret. Suction diperlukan
selama fase hipersekresi
trakheobronkhial.

Lakukan pemberian obat mukolitik Mukolitik memecahkan ikatan


ekspektorans sesuai program mukus; ekspektorans meng-encerkan
terapi. mukus.

Observasi irama, kedalaman dan Menilai perkembangan maslah klien.


bunyi napas.

6. Resiko tinggi infeksi b/d rendahnya daya tahan tubuh


Tujuan & kriteria hasil :
Tujuan :
a. Mencegah komplikasi
Intervensi Rasional
Memberikan makanan cukup gizi Makanan yang cukup gizi
TKTP (tinggi kalori tinggi protein) mempengaruhi daya tahan tubuh.

Personal hygiene mem-pengaruhi


Menjaga personal hygiene pasien status kesehatan pasien.

Pendidikan gizi menentukan status


Memberikan penkes tentang
gizi dan status kesehatan pasien.
pentingnya gizi untuk kesehatan.
Kolaborasi pemberian cairan Mengganti/ memenuhi zat-zat
parenteral. makanan secara cepat melalui
parenteral.

7. Kerusakan integritas kulit b/d gangguan nutrisi/ status metabolic.


Tujuan & kriteria hasil :
Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil :
1. kulit tidak kering, tidak bersisik, elastisitas normal
Intervensi Rasional
Monitor kemerahan, pucat, Kemerahan, pucat ekskoriasi
ekskoriasi merupakan tanda dari kerusakan
integritas kulit

Untuk menjaga kebersihan kulit


Dorong mandi 2xsehari dan
gunakan lotion setelah mandi
Untuk memberikan rasa nyaman

Massage kulit Kriteria


hasilususnya diatas penonjolan
tulang

8. Kurang pengetahuan b/d kurang terpajannya informasi.


Tujuan & kriteria hasil :
Tujuan : pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
Kriteria hasil:
1. Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup,mengidentifikasi hubungan tanda dan
gejala.
Intervensi Rasional
Tentukan tingkat pengetahuan Untuk menentukan intervensi
orangtua pasien selanjutnya

Makanan yang tinggi serat banyak


Dorong konsumsi makanan tinggi
serat dan masukan cairan adekuat mengandung protein dan dapat
mencegah dehidrasi
Berikan informasi tertulis untuk
Sebagai pegangan orang tua.
orangtua pasien

C. ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KERACUNAN


a. Pengertian
Racun adalah zat atau bahan yang bila masuk ke dalam tubuh melalui
mulut, hidung, suntikan dan absorpsi melalui kulit atau digunakan terhadap
organisme hidup dengan dosis relatif kecil akan merusak kehidupan atau
mengganggu dengan serius fungsi hati atau lebih organ atau jaringan.(Mc
Graw-Hill Nursing Dictionary)
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorbsi, menempel
pada kulit, atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil
menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia. Keracunan
melalui inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena
kesengajaan, merupakan kondisi bahaya yang mengganggu kesehatan bahkan
dapat menimbulkan kematian. Sekitar 7% dari semua pengunjung departemen
kedaruratan datang karena masalah toksik.
Keracunan atau intoksikasi adalah keadaan patologik yang disebabkan
oleh obat, serum, alkohol, bahan serta senyawa kimia toksik, dan lain-lain.
Keracunan dapat diakibatkan oleh kecelakaan atau tindakan tidak disengaja,
tindakan yang disengaja seperti usaha bunuh diri atau dengan maksud tertentu
yang merupakan tindakan kriminal. Keracunan yang tidak disengaja dapat
disebabkan oleh faktor lingkungan, baik lingkungan rumah tangga maupun
lingkungan kerja.
Keracunan adalah masuknya zat racun kedalam tubuh baik melalui
saluran pencernaan, saluran nafas, atau melalui kulit atau mukosa yang
menimbulkan gejala klinis.
Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, terdapat perbedaan -
perbedaan baik fisik, fisiologis maupun psikologis dengan orang dewasa.
Fungsi organ-organ tubuh belum matang, demikian pula dengan fungsi
pertahanan tubuh yang belum sempurna.
b. Faktor-Faktor Yang Mempermudah Terjadinya Keracunan
Secara umum factor-faktor yang mempermudah terjadinya keracunan antara
lain :
a) Perkembangan kepribadian anak usia 0 - 5 tahun masih dalam fase oral
sehingga ada kecenderungan untuk memasukkan segala yang dipegang
kedalam mulutnya.
b) Anak-anak masih belum mengetahui apa yang berbahaya bagi dirinya
(termasuk disini anak dengan retardasi mental
c) Anak-anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
d) Anak-anak pada usia ini mempunyai sifat negativistik yaitu selalu
menentang perintah atau melanggar larangan.
c. Etiologi
Pada dasarnya semua bahan dapat menyebabkan keracunan tergantung
seberapa banyak bahan tersebut masuk kedalam tubuh. Bahan-bahan yang
dapat menyebabkan keracunaan adalah :
a. Obat-obatan : Salisilat, asetaminofen, digitalis, aminofili
b. Gas toksin : Karbon monoksida, gas toksin iritan
c. Zat kimia industri : Metil alkohol, asam sianida, kaustik, hidrokarbon
d. Zat kimia pertanian : Insektisida
e. Makanan : Singkong, Jengkol, Bongkrek
f. Bisa ular atau serangga
d. Manifestasi klinik
a) Rasa terbakar di tenggorokan dan lambung.
b) Pernafasan yang cepat dan dalam, hilang selera makan, anak terlihat lemah.
c) Mual, muntah, haus, buang air besar cair.
d) Sakit kepala, telinga berdenging, sukar mendengar, dan pandangan kabur.
e) Bingung.
f) Koma yang dalam dan kematian karena kegagalan pernafasan.
g) Reaksi lain yang kadang bisa terjadi ; demam tinggi, haus, banyak
berkeringat, bintik merah kecil di kulit dan membran mukosa.
e. Tanda Tanda Khusus Pada Keracunan
Tanda-tanda khusus pada keracunan tertentu antara lain :
1) B A U
- Aceton : Methanol, isopropyl alcohol, acetyl salicylic acid
- Coal gas : Carbon monoksida
- Buah per : Chloralhidrat
- Bawang putih : Arsen, fosfor, thalium, organofosfat
- Alkohol : Ethanol, methanol
- Minyak : Minyak tanah atau destilat minyak
2) K U L I T
- Kemerahan : Co, cyanida, asam borax, anticholinergik
- Berkeringat : Amfetamin, LSD, organofosfat, cocain, barbiturate
- Kering : Anticholinergik
- Bulla : Barbiturat, carbonmonoksida
- Ikterus : Acetaminofen, carbontetrachlorida, besi, fosfor, jamur
- Purpura : Aspirin, warfarin, gigitan ular
- Sianosis : Nitrit, nitrat, fenacetin, benzocain
3) SUHU TUBUH
- Hipothermia : Sedatif hipnotik, ethanol, carbonmonoksida, clonidin,
fenothiazin
- Hiperthermia : Anticholinergik, salisilat, amfetamin, cocain, fenothiazin,
theofilin
4) TEKANAN DARAH
- Hipertensi : Simpatomimetik, organofosfat, amfetamin
- Hipotensi : Sedatif hipnotik, narkotika, fenothiazin, clonidin, beta-blocker
5) N A D I
- Bradikardia : Digitalis, sedatif hipnotik, beta-blocker, ethchlorvynol
- Tachikardia : Anticholinergik, amfetamin, simpatomimetik, alkohol, cokain,
aspirin, theofilin
- Arithmia : Anticholinergik,organofosfat, fenothiazin, carbonmonoksida,
cyanida, beta-blocker
6) SELAPUT LENDIR
- Kering : Anticholinergik
- Salivasi : Organofosfat, carbamat
- Lesi mulut : Bahan korosif, paraquat
- Lakrimasi : Kaustik, organofosfat, gas irritant
7) RESPIRASI
- Depressi : Alkohol, narkotika, barbiturat, sedatif hipnotik
- Tachipnea : Salisilat, amfetamin, carbonmonoksida
- Kussmaull : Methanol, ethyliene glycol, salisilat
8) OEDEMA PARU : Salisilat, narkotika, simpatomimetik
9) SUS. SARAF PUSAT
- Kejang : Amfetamin, fenothiazin, cocain, camfer, tembaga, isoniazid,
organofosfat, salisilat, antihistamin, propoxyphene.
- Miosis : Narkotika ( kecuali demerol dan lomotil ), fenothiazin, diazepam,
organofosfat (stadium lanjut), barbiturat,jamur.
- Midriasis : Anticholinergik, simpatomimetik, cocain, methanol, lSD,
glutethimid.
- Buta,atropi optik : Methanol
- Fasikulasi : Organofosfat
- Nistagmus : Difenilhidantoin, barbiturat, carbamazepim, ethanol, carbon
monoksida, ethanol
- Hipertoni : Anticholinergik, fenothiazin, strichnyn
- Mioklonus,rigiditas : Anticholinergik, fenothiazin, haloperidol
- Delirium/psikosis :Anticholinergik, simpatomimetik, alkohol, fenothiazin,
logam berat, marijuana, cocain, heroin, metaqualon
- Koma : Alkohol, anticholinergik, sedative hipnotik, carbonmonoksida,
Narkotika, anti depressi trisiklik, salisilat, organofosfat
- Kelemahan,paralise : Organofosfat, carbamat, logam berat
10) SAL.PENCERNAAN
- Muntah,diare, : Besi, fosfat, logam berat, jamur, lithium, flourida,
organofosfat
- Nyeri perut
f. PENATALAKSANAAN
1) Tindakan emergensi
2) Airway : Bebaskan jalan nafas, kalau perlu lakukan intubasi.
Breathing : Berikan pernafasan buatan bila penderita tidak bernafas
spontan atau pernapasan tidak adekuat.
Circulation : Pasang infus bila keadaan penderita gawat dan perbaiki perfusi
jaringan.
3) Identifikasi penyebab keracunan.
Bila mungkin lakukan identifikasi penyebab keracunan, tapi hendaknya
usaha mencari penyebab keracunan ini tidak sampai menunda usaha-usaha
penyelamatan penderita yang harus segera dilakukan.
4) Eliminasi racun.
1. Racun yang ditelan
a) Rangsang muntah
Akan sangat bermanfaat bila dilakukan dalam 1 jam pertama
sesudah menelan bahan beracun, bila sudah lebih dari 1 jam tidak perlu
dilakukan rangsang muntah kecuali bila bahan beracun tersebut mempunyai
efek yang menghambat motilitas ( memperpanjang pengosongan ) lambung.
Rangsang muntah dapat dilakukan secara mekanis dengan merangsang
palatum mole atau dinding belakang faring,atau dapat dilakukan dengan
pemberian obat- obatan :
- Sirup Ipecac
Dapat diberikan pada anak diatas 6 bulan. Pada anak usia 6 - 12 bulan 10
ml. dan anak usia 1 12 tahun 15 ml > 12 tahun 30 ml. Pemberian sirup
ipecac diikuti dengan pemberian 200 ml air putih. Bila sesudah 20 menit
tidak terjadi muntah pada anak diatas 1 tahun pemberian ipecac dapat
diulangi.
- Apomorphine
Sangat efektif dengan tingkat keberhasilan hampir 100%,dapat
menyebabkan muntah dalam 2 - 5 menit. Dapat diberikan dengan dosis
0,07 mg/kg BB secara subkutan.
Kontraindikasi rangsang muntah :
- Keracunan hidrokarbon, kecuali bila hidrokarbon tersebut mengandung
bahan-bahan yang berbahaya seperti camphor, produk-produk yang
mengandung halogenat atau aromatik, logam berat dan pestisida.
- Keracunan bahan korossif
- Keracunan bahan-2 perangsang CNS (CNS stimulant, seperti strichnin)
- Penderita kejang
- Penderita dengan gangguan kesadaran
b) Kumbah lambung
Kumbah lambung akan berguna bila dilakukan dalam 1-2 jam sesudah
menelan bahan beracun, kecuali bila menelan bahan yang dapat
menghambat pengosongan lambung.
Kumbah lambung seperti pada rangsang muntah tidak boleh dilakukan
pada :
- Keracunan bahan korosif
- Keracunan hidrokarbon
- Kejang
c) Pemberian Norit (activated charcoal)
Jangan diberikan bersama obat muntah, pemberian norit harus
menunggu paling tidak 30 - 60 menit sesudah emesis. Dosis 1 gram/kg
BB dan bisa diulang tiap 2 - 4 jam bila diperlukan, diberikan per oral
atau melalui pipa nasogastrik.
Indikasi pemberian norit untuk keracunan :
Obat2 analgesik/ antiinflammasi : acetamenophen, salisilat,
antiinflamasi non steroid,morphine,propoxyphene.
Anticonvulsants/ sedative : barbiturat, carbamazepine,
chlordiazepoxide, diazepam phenytoin, sodium valproate.
Lain-lain : amphetamine, chlorpheniramine, cocaine, digitalis,
quinine, theophylline, cyclic anti depressants Norit tidak efektif
pada keracunan Fe, lithium, cyanida, asam basa kuat dan alcohol.

d) Catharsis
Efektivitasnya masih dipertanyakan. Jangan diberikan bila ada gagal
ginjal, diare yang berat ( severe diarrhea ), ileus paralitik atau trauma
abdomen.
e) Diuretika paksa ( Forced diuretic )

Diberikan pada keracunan salisilat dan phenobarbital (alkalinisasi


urine). Tujuan adalah untuk mendapatkan produksi urine 5,0
ml/kg/jam,hati-hati jangan sampai terjadi overload cairan. Harus
dilakukan monitor dari elektrolit serum pada pemberian diuresis paksa.
Kontraindikasi : edema otak dan gagal ginjal

f) Dialysis

Hanya dilakukan bila usaha-usaha lain sudah tidak membawa hasil.


Bermanfaat hanya pada bahan beracun yang bisa melewati filter dialisis (
dialysa ble toxin ) seperti phenobarbital, salisilat, theophylline,
methanol, ethylene glycol dan lithium.

Dialysis dilakukan bila :

- Asidosis berat

- Gagal ginjal

- Ada gejala gangguan visus

- Tidak ada respon terhadap tindakan pengobatan.

g) Hemoperfusi masih merupakan kontroversi dan jarang digunakan.

2. Racun yang disuntikkan atau sengatan

a) Immobilisasi

b) Pemasangan torniquet diproksimal dari suntikan

c) Berikan antidotum bila ada

3. Racun pada kulit dan mata

Lepaskan semua yang dipakai kemudian bersihkan dengan sabun dan


siram dengan air yang mengalir selama 15 menit. Jangan diberi
antidotum.

4. Racun yang dihisap melalui saluran nafas


Keluarkan penderita dari ruang yang mengandung gas racun. Berikan
oksigen. Kalau perlu lakukan pernafasan buatan.

4) Pengobatan Supportif

1. Pemberian cairan dan elektrolit

2. Perhatikan nutrisi penderita

3. Pengobatan simtomatik (kejang, hipoglikemia, kelainan elektrolit


dsb.)

Proses keperawatan pada anak dengan keracunan


A.PENGKAJIAN

1.Data Subjektif

1) Pengkajian difokuskan pada masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan sirkulasi yang
mengancam jiwa, adanya gangguan asam basa, keadaan status jantung dan status kesadaran
2) Riwayat kesadaran : riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama
diketahui setelah keracunan, ada masalah lain sebagai pencetus keracunan dan sindroma
toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya.

2. Data Obyektif
1) Saluran pencernaan : mual, muntah, nyeri perut, dehidrasi dan perdarahan saluran
pencernaan.
2) Susunan saraf pusat : pernafasan cepat dan dalam tinnitus, disorientasi, delirium, kejang
sampai koma.
3) BMR meningkat : tachipnea, tachikardi, panas dan berkeringat.
4) Gangguan metabolisme karbohidrat : ekskresi asam organic dalam jumlah besar,
hipoglikemi atau hiperglikemi dan ketosis.
5) Gangguan koagulasi : gangguan aggregasi trombosit dan trombositopenia.
6) Gangguan elektrolit : hiponatremia, hipernatremia, hipokalsemia atau hipokalsemia

B.DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Tidak efektifnya pola nafas b.d hipoventilasi/hiperventilasi
2) Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d mual dan muntah
3) Tidak efektifnya koping individu b.d kecemasan

C.INTERVENSI
1) Tidak efektifnya pola nafas b.d hipoventilasi/hiperventilasi
Intervensi :
- Jika pernafasan depresi ,berikan oksigen dan lakukan suction. Ventilator mungkin bisa
diperlukan
- Pertolongan pertama yang dilakukan meliputi : tindakan umum yang bertujuan untuk
keselamatan hidup,mencegah penyerapan dan penawar racun ( antidotum ) yang meliputi
resusitasi, : Air way, breathing, circulasi eliminasi untuk menghambat absorsi melalui
pencernaaan dengan cara kumbah lambung, emesis, atau katarsis dan keramas rambut.
- Perawatan suportif; meliputi mempertahankan agar pasien tidak sampai demam atau
mengigil, monitor perubahan-perubahan fisik seperti perubahan nadi yang cepat, distress
pernafasan, sianosis, diaphoresis, dan tanda-tanda lain kolaps pembuluh darah dan
kemungkinan fatal atau kematian.

Rasional :

- jalan nafas menjadi lebih efektif atau kembali normal

- merupakan langkah awal dari keselamatan pasien

- dengan adanya perawatan suportif, akan lebih memudahkan proses pemulihan kesehatan

pasien

2) Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh b.d mual dan muntah


Intervensi :
- Monitir vital sign setiap 15 menit untuk beberapa jam dan laporkan perubahan segera
kepada dokter.
- Catat tanda-tanda seperti muntah,mual,dan nyeri abdomen serta monitor semua muntah
akan adanya darah.
- Observasi feses dan urine serta pertahankan cairan intravenous sesuai pesanan dokter.

Rasional :

- untuk lebih memudahkan perawat, dokter, dan petugas kesehatan lainnya dalam
memberikan perawatan kesehatan kepada klien

- untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri yang dirasakan klien serta perubahan yang
terjadi

- mengetahui pola perkembangan eliminasi

3) Tidak efektifnya koping individu b.d kecemasan


Intervensi :
- Memberikan penjelasan pada orang tua sehubungan dengan yang sedang dialami anak
- Memberikan health education pada orang tua tentang penyebab keracunan
- Memberikan teknik relaksasi pada anak.

Rasional :
- Orang tua dapat ikut berperan serta dalam proses perawatan pada anak sakit
- Menambah pengetahuan atau wawasan orang tua
- Merupakan salah satu cara yang dapat mengatasi rasa nyeri, membuat klien merasa lebih
nyaman dan tenang

DAFTAR PUSTAKA

Behrman dkk. 2000. Ilmu kesehatan anak edisi 15. Jakarta : EGC
Carpenito, Lynda Juall.2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10.
Jakarta:EGC
Dorlan,W.A Newman .2002. Kamus Kedokteran Dorlan Edisi 29. Jakarta:EGC
Dr.Soetjiningsih,SpAk.1995. Tumbuh Kembang Anak.Jakarta.EGC
NANDA, Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2005-2006
Suryo. (1990). Obesitas Anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Wong,Donna L.2003.Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4.Jakarta:EGC